Beranda blog Halaman 213

Mukjizat Al Qur’an dan Orang Buta Huruf Mendapat Kiriman Surat

0

SUFYAN al-Wasithi (atba’ tabi’in, w. 150-an H) berkata, “Sesungguhnya perumpamaan seseorang yang membaca Al-Qur’an dan tidak mengetahui maknanya adalah seperti seseorang yang kedatangan surat dari manusia paling mulia. Dia sangat bergembira, lalu ia mencari orang yang bisa membacakannya untuknya, tapi ia tidak menemukannya, sementara ia sendiri buta huruf. Demikianlah orang membaca Al-Qur’an namun tidak mengerti apa isinya.” (Tafsir Muqatil, muqaddimah, I/5-6)

Begitulah. Ketika bimbingan dari Allah tergelar dalam 114 surah, lengkap mencakup segenap persoalan kehidupan, akan tetapi kita tidak mengerti apa isinya.

Sebagian kita mungkin sangat fasih melafalkan huruf-hurufnya atau begitu merdu melantunkan ayat-ayatnya, namun tidak tahu-menahu apa yang difirmankan Allah di dalamnya. Tentu saja yang seperti ini belum memenuhi tujuan penurunan Al-Qur’an.

Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran itu mendapat pelajaran.” (QS Shaad: 29).

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir mengutip perkataan al-Hasan al-Bashri, “Demi Allah, tidaklah disebut mentadabburi Al-Qur’an itu dengan cara menghafal huruf-hurufnya dan menelantarkan batasan-batasan hukumnya; sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan: ‘Aku telah membaca Al-Qur’an seluruhnya’. Tapi, tidak terlihat pada dirinya (pengaruh) Al-Qur’an, baik berupa akhlak maupun perbuatan.” Na’udzu billah!

Membaca Al-Qur’an memang sangat utama, bahkan setiap hurufnya dijanjikan pahala satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kalinya (Riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).

Akan tetapi, kita mesti sadar bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat akhir zaman yang diturunkan bukan untuk dijadikan bahan bacaan semata. Ia bukan novel penghibur hati yang dibaca di kala senggang demi menghapus kejenuhan. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk untuk diamalkan.

Fudhail bin ‘Iyadh (atba’ tabi’in, w. 187 H) berkata, “Al-Qur’an turun hanya untuk diamalkan, namun manusia justru menjadikan membacanya sebagai pengamalannya.” Ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana mengamalkannya?” Beliau menjawab, “Maksudnya, agar dia menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an, mengharamkan apa yang diharamkannya, melaksanakan perintah-perintahnya, menahan diri dari larangan-larangannya, dan berhenti pada keajaiban-keajaibannya (untuk merenunginya).” (Riwayat al-Khathib dalam Iqtidha’ul ‘Ilmi al-‘Amal, hal. 75 no. 116).

Bahkan, dalam nada yang lebih keras, Ibnu ‘Umar berkata:

“Kami telah hidup sekian lama dari usia kami, dan salah seorang dari kami diberi iman sebelum diberi Al-Qur’an. Sebuah surah turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia pun mempelajari apa yang halal, haram, perintah, larangan, dan hal-hal lain yang harus diperhatikan darinya, sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an pada hari ini. Kemudian, sungguh saya telah melihat beberapa orang pada hari ini, dimana salah seorang dari mereka telah diberi Al-Qur’an sebelum iman. Maka, dia pun membaca apa yang ada diantara pembukaannya sampai penutupnya, namun dia tidak tahu-menahu apa yang diperintahkannya, apa yang dilarangnya, dan apa yang harus dia perhatikan darinya. Dia membacanya sebagaimana berjatuhannya kurma jelek ketika pohonnya diguncangkan.” (Sunan al-Baihaqi no. 5496) – yakni, dibaca dengan cepat, hurufnya saling bertumpang-tindih, dan tanpa pemahaman maupun perenungan.

Maka, bila kita perhatikan riwayat hidup generasi Salaf, terlihat bahwa merenungi dan melatih diri untuk mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an merupakan kesibukan yang mereka tekuni setiap hari. Ini pula rahasia mengapa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam masa 23 tahun.

Sebenarnya, tidak sulit bagi Allah untuk menurunkannya sekaligus lengkap sebagaimana kitab-kitab terdahulu. Namun, hikmah Allah menghendaki penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur, agar para Sahabat memiliki cukup kesempatan menata diri mengikuti panduan yang digariskan-Nya.

Al-Qur’an menegaskan hikmah di balik pola penurunan ini dalam surah al-Furqan: 32, “Berkatalah orang-orang kafir: ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).”

Maka, para Sahabat tidak pernah terburu-buru dalam upayanya untuk memahami Kitabullah. Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khattab menghabiskan masa 12 tahun untuk mengkaji surah al-Baqarah saja, dan ketika khatam beliau menyembelih seekor unta (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 1805).

Dalam al-Muwattha’ (no. 695) diriwayatkan pula bahwa Ibnu ‘Umar menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk mempelajari surah al-Baqarah. Menurut Imam az-Zarqani dalam Syarah al-Muwattha’ (II/21-22), hal itu dikarenakan Ibnu ‘Umar tidak hanya membaca huruf-hurufnya, namun sekaligus mempelajari hukum-hukum yang dikandungnya, kewajiban-kewajiban yang disyariatkan di dalamnya, dan hal-hal lain yang berkenaan dengannya.

Keseriusan seperti itu juga ditunjukkan generasi Tabi’in. Misalnya, Mujahid bin Jabr berkata, “Saya telah membaca Al-Qur’an di hadapan Ibnu ‘Abbas sebanyak 3 kali setoran (sampai khatam). Saya berhenti pada setiap ayat untuk bertanya kepada beliau: ‘dalam masalah apa ayat itu turun, dan bagaimana hal itu terjadinya.’” (Tahdzibut Tahdzib X/43).

Seorang Tabi’in lainnya, yaitu Qatadah bin Di’amah berkata, “Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an melainkan saya benar-benar telah mendengar sesuatu (riwayat/tafsir) terkait dengannya.” (Siyaru A’lamin Nubala’ V/271).

Oleh karena itu, bila kita ingin mendapatkan keberkahan Al-Qur’an sebagaimana dulu generasi Salaf mendapatkannya, maka kita harus menempuh jalan yang sama.

Mari memulai dari diri sendiri, dengan berusaha memahami dan merenungi ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca.

Mohonlah kepada Allah agar membukakan hikmah-hikmah yang ada di dalamnya, dan membimbing kita untuk mengamalkannya. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Santri Pesantren Hidayatullah Bollangi Berhasil Jinakkan Ular Piton 4 Meter

0

GOWA (Hidayatullah.or.id) – Santri di Pesantren Hidayatullah Bollangi, Desa Timbuseng, Kecamatan Patalassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, digegerkan dengan penemuan ular piton besar sekira pukul 17.30 Wita pada Selasa, 17 Sya’ban 1445 (27/02/2024).

Ular yang diperkirakan berukuran 4 meter lebih tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang santri bernama Fajri saat tengah melakukan pembersihan di pekarangan pesantren.

Kronologi penemuan hewan melata bermula saat kepala kampus bersama dengan santri membersihkan pekarangan.

Saat santri membersihkan semak-semak, ia dikagetkan dengan adanya ular. Santri tersebut kemudian berteriak meminta rekan-rekannya membantu menjinakkan.

“Awalnya saat membersihkan, ada ular besar di dalam semak-semak. Saya berteriak meminta teman-teman mendekat,” ungkap, Fajri.

Kepala Produksi Kelor Pesantren Hidayatullah Bollangi, Rasman mengatakan, sebelum ditemukan ular piton besar tersebut dirinya sempat menemukan ular kecil.

“Sebelum kejadian, sempat saya menangkap anakan ular pas depan kamarku dan bersamaan dengan itu seorang tukang disekitar TKP juga menemukan anakan dengan ukuran yg sama,” ungkapnya, dilansir Timur Kota.

Rasman meminta kepada santri dan warga yang kerap beraktivitas di sekitar lokasi agar terus meningkatkan kewaspadaan.

“Tetap waspada karena ular ini ditemukan tak jauh dari jalan raya juga,” tutupnya.[]

‘Matan’ Hidayatullah Jambi dalam Kuatkan Fullday School Pendidikan Dasar

0

JAMBI (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga pendidikan Islam yang menerapkan sistem Fullday School atau sekolah sehari penuh untuk Sekolah Dasar (SD), Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Jambi selalu berupaya meningkatkan kualitas dan mutunya guna melahirkan output yang mumpuni sebagai sumber daya muslim yang memiliki daya saing, terutama dengan bekal iman, ilmu, dan tradisi amal yang dimilikinya.

Salah satu ikhtiar tersebut adalah dengan rutin menggelar kegiatan yang mendorong kreatifitas dan merangsang kepekaan relijuisitas peserta didik. Kali ini kegiatan tersebut bertajuk “Malam Taszkiyatun Nafs” atau, disingkat Matan.

Kegiatan dikemas dalam bentuk perkemahan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Lintas Sumatra, Bukit Baling, Sangeti, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, pada Jum’at dan Sabtu, 12-13 Sya’ban 1445 (22-23/2/2024).

Kepala SD Integral Hidayatullah Jambi, Ustazah Gina Fernandez S.Pd, mengatakan agenda ini bagian dari upaya penguatan sistem full day school yang memungkinkan eksplorasi lebih dalam terhadap mata pelajaran akademik, termasuk kemungkinan menawarkan program pengayaan tambahan atau kelas perbaikan.

“Harapannya, dari kegiatan seperti Matan ini sebagai kegiatan ekstrakurikuler dapat memberikan pengembangan holistik bagi siswa. Melalui kegiatan perkemahan yang dibarengi mabit, tidak saja merangsang spiritualitas anak tetapi juga terdapat potensi peningkatan disiplin dan lingkungan yang lebih terstruktur bagi siswa,” imbuhnya.

Kegiatan Matan ini, jelas Gina, bertujuan untuk membentuk akhlak Islami dan jiwa leadership pada peserta didik sebagai salah satu upaya dalam membangun generasi penerus bangsa yang berkarakter dan bermoral.

Dalam pendidikan Islam full day school Hidayatullah Jambi, siswa mendapatkan kesempatan untuk mendalami ilmu agama Islam secara menyeluruh. Mereka belajar tentang ajaran Islam, nilai-nilai moral, serta praktik ibadah secara intensif.

Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang agama mereka sambil juga mendapatkan pendidikan umum yang seimbang.

Disamping itu dengan menekankan pengembangan akhlak mulia dan etika Islam dalam kehidupan sehari-hari, hal ini diharapkan akan mengantar peserta didik menjadi individu yang bertanggung jawab, jujur, dan berempati, yang merupakan nilai-nilai penting dalam Islam.

Melalui kegiatan eksrakurikuler yang ada di SD Integral Hidayatullah Jambi, Gina berharap, hal ini akan menumbuhkan kesadaran sosial dan kemanusiaan dengan mengajarkan murid untuk peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

“Semoga dengan ikhtiar ini yang terus kita tingkatkan ini akan membantu murid untuk menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan berkompeten dalam berbagai aspek kehidupan dengan mengembangkan kapasitas dan potensinya secara menyeluruh, baik dari segi akademik maupun keagamaan serta karakter dan kepribadian yang Islami,” tandasnya.

Adapun rangkaian kegiatan Matan ini ada lomba pionering, game, tausyiah. api unggun, dan hiking/jalan sehat. Kegiatan Matan SD Integral Hidayatullah Jambi ini berlangsung seru yang diikuti antusias oleh para murid.

Ketua Panitia, Ustadzah Dhiyaul Mutmainah S.Pd, menyampaikan terimakasih kepada semua pihak khususnya para wali murid yang telah turut mensukseskan kegiatan ini. (malik/hidayatullah.or.id)

Posdai Komitmen Terus Perkuat Peran Vital Dakwah Pedalaman

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dakwah di wilayah pedalaman merupakan sebuah usaha mulia yang menjembatani masyarakat dengan ajaran Islam. Namun, dakwah di area terpencil ini seringkali menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses yang sulit hingga minimnya sumber daya.

Di sinilah peran penting Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) dalam memperkuat dakwah pedalaman dan membangun negeri.

“Posdai, sebagai lembaga swadaya mandiri yang berfokus pada pengembangan dan pemberdayaan dai, memahami bahwa dakwah di pedalaman memerlukan sistem dan jaringan yang kuat,” kata Ketua Posdai Pusat, Ust. Abdul Muin, dikutip dari laman Posdai.or.id, Rabu, 18 Sya’ban 1445 (28/2/2024).

Muin menekankan bahwa keberadaan sistem yang baik akan memastikan kelancaran program dakwah.

Dia menerangkan, setidaknya ada 2 pilar utama dalam membangun sistem dakwah yang efektif yaitu simpel dan aplikatif. Menurutnya, sistem yang sederhana dan mudah dipahami akan membantu para dai di lapangan untuk menjalankan program dakwah dengan optimal.

“Di sisi lain, aspek aplikatif memastikan bahwa program dakwah dapat diterapkan secara nyata dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat,” terang Muin.

Oleh karena itu, lanjut dia, Posdai terus berupaya membangun sistem dakwah yang mumpuni, dengan fokus pada, Pertama, pengembangan platform digital yang terintegrasi untuk memudahkan koordinasi, pendataan, dan penyebaran informasi antar dai dan jaringan Posdai.

Kedua, penyusunan modul pelatihan yang komprehensif dan aplikatif untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan para dai.

Dan, Ketiga, penguatan dan memperluas jaringan relawan yang siap membantu kelancaran program dakwah di berbagai wilayah.

Manajemen Dakwah

Lebih jauh, Muin, menyebutkan, Posdai juga terus berupaya menerapkan prinsip manajemen dakwah yang efektif melalui pendekatan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).

Tidak saja para dai dan struktural, penerapan POAC ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti masyarakat, pemerintah, dan lembaga terkait.

Langkah-langkah dalam penerapan POAC, jelas Muin, yaitu merumuskan visi, misi, tujuan, dan strategi dakwah yang jelas dan terukur. Lalu membangun struktur organisasi yang efektif dan mendistribusikan tugas-tugas dakwah dengan tepat.

Langkah selanjutnya adalah melaksanakan program dakwah dengan penuh dedikasi dan profesionalisme. Kemudian melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan program dakwah berjalan sesuai rencana.

Penting Kolaborasi

Muin menegaskan, setiap kerja kerja besar membutuhkan kerjasama antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula dalam menggerakkan dakwah. Karenanya, dia mengatakan, Posdai tidak dapat bekerja sendiri dalam memperkuat dakwah pedalaman.

“Kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan mulia ini,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Muin menyebutkan, masyarakat merupakan mitra utama dalam dakwah, dengan memberikan dukungan dan partisipasi aktif dalam program-program yang dijalankan.

Selain itu yang tak kalah penting adalah bersinergi dengan pemerintah selaku instrumen penting yang akan memberikan dukungan kebijakan dan regulasi yang kondusif untuk kelancaran dakwah di wilayah pedalaman.

Sama halnya dengan pemerintah, lembaga terkait yang sejenis juga merupakan pihak yang harus selalu dirangkul dalam bekerja sama dengan lembaga dakwah, organisasi sosial, dan pihak-pihak lain yang memiliki tujuan serupa.

“Peran bersama dalam memperkuat dakwah pedalaman tidak dapat dipungkiri. Dengan sistem yang mumpuni, manajemen yang efektif, dan kerjasama yang solid, Posdai terus berkontribusi dalam membangun negeri melalui penyebaran dakwah yang mencerahkan dan memberdayakan masyarakat di wilayah terpencil,” jelas Muin.

Dia menambahkan, dakwah pedalaman bukan hanya tanggung jawab Posdai, tetapi juga tanggung jawab bersama. Olehnya, ia mengajak semua pihak terlibat bersama Posdai dalam membangun negeri dengan dakwah yang mencerahkan dan memberdayakan. (mss/pos)

Sambut Ramadhan, PP Mushida Gelar Lailatul Muhasabah dan Tasmi Al-Quran

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut bulan Ramadhan dan menghidupkan Al-Qur’an, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menyelenggarakan kegiatan Lailatul Muhasabah dan Tasmi’ di Kantor PP Muslimat Hidayatullah, Cipinang, Cempedak, Jakarta, Jum’at, 28 Rajab 1445 (9/2/2024).

“Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (QS. Al-Hijr: 1-2)

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP Mushida, Ustadzah Hani Akbar mengingatkan jangan sampai menjadi orang rugi dan menyesal.

Ia merujuk pada ayat Al Hijr tersebut yang didahului dengan ahruf muqotho’ah yang diikuti dengan berita tentang Al- Qur’an.

“Orang-orang kafir berandai-andai dan berangan-angan sekiranya dulu menjadi muslim. Kelak orang yang tidak menyatakan keislaman dan kurang mushohabah dengan Al-Qur’an akan merugi, kelak ingin sekali kembali untuk berdekat-dekat dengan Al-Qur’an,” terangnya.

Tekadkan dalam hati untuk bisa senantiasa bersama Al-Qur’an dengan belajar, menghafalkan, mengajarkan, muraja’ah, mendakwahkan dan mengamalkan Al-Qur’an.

“GNH tidak hanya cukup tilawah, namun juga tadabbur dan tafsir. Semoga Allah memberikan perlindungan dan Al Qur’an memberikan syafaat kepada kita,” harapnya.

Rangakaian dari kegiatan ini di antaranya sholat berjama’ah, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan tasmi’ memperdengarkan bacaan Al-Qur’an.*/Arsyis Musyahadah

Simpul Sinergi Beri Bantuan Logistik untuk Warga Penyintas Kebakaran di Berau

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Kebakaran besar terjadi di kawasan permukiman padat penduduk di Kampung Pegat Bukur, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Ahad, 8 Sya’ban 1445 (18/2/2024) pagi.

Bencana amukan si jago merah itu timbulkan dampak yang cukup serius. Sebanyak 98 rumah ludes terbakar dan ratusan kepala keluarga terancam kehilangan tempat tinggalnya.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama simpul sinergi yang ada bergerak segera membantu warga penyintas kebakaran itu pada Sabtu, 14 Sya’ban 1445 (24/2/2024).

BMH Kaltim Gerai Berau melakukan distribusi kebutuhan logistik untuk membantu masyarakat terdampak kebakaran hebat di Kampung Pegat Bukur, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau.

Musibah kebakaran yang terjadi itu telah menghanguskan 98 rumah dan membuat 148 Kepala Keluarga (KK) dengan total 205 jiwa kehilangan tempat tinggal. Kerugian yang ditimbulkan mencapai miliaran rupiah, memperlihatkan betapa mendesaknya bantuan untuk membantu mereka yang terdampak.

Dalam upaya merespons kebutuhan mendesak tersebut, BMH berhasil menggalang dana dari simpul simpul organisasi dan berbagai lapisan masyarakat, termasuk sekolah-sekolah seperti LPPH Hidayatullah, Mushida Hidayatullah, SD Annisa TG. Redeb, SMAN 4 Sambaliung, Tk-Paud Darul Ulum Tg. Redep, dan para Sahabat Donatur.

“Dengan kerja keras dan kolaborasi ini, bantuan yang telah terkumpul dapat diwujudkan dalam bentuk yang bermanfaat bagi para korban,” kata Sabriansyah, Koordinator BMH Gerai Berau.

Dia menyebutkan, Alhamdulillah, amanah donatur telah disalurkan dalam bentuk 50 dus rice cooker, 20 dus sembako yang berisi beras, minyak goreng, mie, gula, susu, tepung, kecap, dan saos, serta 4 dus air mineral, 12 dus sabun cuci, dan 4 dus sabun mandi.

Sabriansyah menambahkan, tindakan ini tidak hanya merupakan bantuan materi, tetapi juga menunjukkan bahwa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama adalah pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Kolaborasi antara BMH dengan pihak desa, seperti Kepala Kampung Bapak Suhariadi Kusuma, Babinsa, dan aparat desa lainnya, merupakan contoh nyata betapa bersatu kita bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh sesama

Pak Suhariadi dan Babinsa setempat menyampaikan terima kasih kepada BMH, karena bantuan tersebut sangat dibutuhkan, terutama rice cooker untuk membantu memasak nasi bagi para korban.

“Semoga Allah membalas kebaikan yang telah dilakukan. Sungguh warga sangat bahagia penuh haru,” tambah Sabriansyah.*/Herim

Mengapa Allah Tak Menolong Gaza?

Seorang ibu memeluk jenazah putranya untuk terakhir kalinya, yang menjadi syahid dalam pemboman Israel saat mengumpulkan kayu bakar untuk keluarganya (Foto: Belal Khaled/ Instagram)

DITENGAH rentetan peristiwa mencekam yang sedang dialami keluarga kita di Gaza dan juga terjadi di tempat lain pada umat Islam yang sedang dalam kondisi lemah, ada celah bagi setan menyusup ke dalam diri seorang Muslim untuk menggoyahkan keimanannya.

Semoga Allah menolong kita semua menampik bisikan setan itu dan mengembalikannya kepada yang menghembuskannya.

Sebagaimana disebutkan di dalam Hadis ketika ada sahabat Radhiyallahu ‘Anhu yang mengadukan bisikan setan, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam berucap kepadanya:

“Segala puji hanya milik Allah yang telah mengembalikan bisikan kepada si pembisik.”

Di dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu: Beberapa sahabat mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami menemukan dalam diri kami sesuatu yang ingin kami bicarakan. Kami tidak suka bahwa kami memiliki dunia dan itu kami membicarakannya!

Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam berkata kepada mereka: ‘Sudahkah kalian menemukannya?’

Mereka berkata: ‘Ya!’

Nabi bersabda kepada mereka: ‘Itu adalah iman yang nyata!’”

Ujian dan fitnah adalah tempat bermain setan, dan terbuka peluang besar bagi mereka untuk merusak keimanan orang beriman dengan cara menggoyahkan kedudukan Allah di dalam hatinya.

Kita adalah manusia biasa, yang sulit menyadari kebesaran Hikmah Allah yang sengaja Allah sembunyikan di setiap peristiwa yang kita alami.

Banyak peristiwa yang kita saksikan, dan memunculkan banyak sekali pertanyaan, dan sulit bagi kita untuk mengungkapkannya dengan kata-kata sehingga hanya kalimat istighfar yang terucap.

Itu bukanlah tanda kurangnya keimanan kita, justru lambang kesempurnaannya. Ketika kita kesulitan menemukan hikmah di setiap kejadian, pasrahkanlah kepada Allah, satu-satunya Dzat yang ada di balik semua itu, karena yang demikian lebih bijaksana dan lebih menyelamatkan kita dari kesilapan, dan lebih jauh dari itu karena kita semua adalah hamba di dalam kerajaan-Nya.

”Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (Terjemah surah Al Anbiya ayat 23)

Subhaanallah!

Sebelum kita menyebutkan apa yang menenangkan jiwa dan menghilangkan bisikan tersebut, kami perlu menyampaikan bahwa kita sebagai umat Islam telah diberikan oleh Allah sebab-sebab untuk memenangkan saudara-saudara kita di Gaza.

Kita mempunyai daya ekonomi, strategi, dan pasukan, serta semua perangkat kekuatan, namun umat ini terpecah-belah.

Lantas, bagaimana kemenangan Allah dapat tercapai bila kita tidak menolong saudara-saudara kita dan justru di antara kita ada yang membantu musuh menyerang mereka?

Jawaban dari bisikan-bisikan setan yang mengganggu hati seorang Muslim terangkum dalam beberapa poin berikut:

Pertama:

Dunia ini tempat ujian, bukan balasan. Dan Allah-lah yang mengajukan pertanyaan kepada hamba-Nya bagaimana ia bersikap atas ujian yang diberikan kepadanya, dan bukan hamba yang bertanya balik kepada Allah: “Ya Allah, mengapa Engkau berikan ujian ini kepada hamba?” Beradablah kepada Allah!

Kedua:

Segala sesuatu itu diambil berdasarkan hasil akhirnya dan bukan berdasarkan keadaannya saat ini. Jika Anda menyaksikan Firaun melemparkan anak-anak Al-Masyitah ke dalam minyak mendidih hingga tulang-tulangnya terbakar, lalu melemparkan ibu mereka bersama-sama hingga tulang-tulangnya ikut terbakar, lantas Anda berlagak seperti seorang hamba yang ingin membalas dendam dan bertanya:

“Di manakah Allah? Apa kesalahan anak-anak ini sehingga dibunuh dengan begitu mengenaskan? Mengapa Allah tak menyelamatkan wanita malang ini?”

Lalu, apa yang terjadi setelah itu?

Allah Yang Maha Kuasa menenggelamkan Firaun ke dalam laut, dan dia abadi di Neraka, sedangkan Al-Masyitah dan anak-anaknya, Rasulullah mencium aroma wangi mereka di Surga saat perjalanan Mi’raj!

Ketiga:

Sesungguhnya Allah memberikan ketetapan kepada pelaku kezaliman, lalu berkuasa penuh untuk mengangkatnya kembali.

Jika ada yang berkata kepada Anda bahwa segala bentuk kezaliman akan mendapatkan balasan di dunia, lantas buat apa ada Kiamat, Shiratal Mustaqim, Hisab, Timbangan, dan untuk apa diciptakan Surga dan Neraka?

Ashabul Ukhdud semuanya dibakar di dunia, dan Allah tetapkan kepada seorang bayi untuk berbicara kepada ibundanya: “Bertahanlah Ibu sesungguhnya kamu berada dalam kebenaran,” lalu bergabunglah sang ibu ke dalam lautan api.

Namun, Allah tidak memberikan keterangan telah memberikan balasan kepada mereka, karena semua itu akan terjadi sesudah hari Kiamat.

Pertempuran bukan dinilai dari hasil yang tampak, jika Anda menang dan mendapatkan keuntungan lalu semua keuntungan itu terbakar lenyap maka Anda merugi. Namun, jika Anda kalah dan dibakar di atas kebenaran maka sesungguhnya Anda pemenang.

Keempat:

Seandainya Allah memberikan balasan langsung kepada setiap bentuk kezaliman, maka tidak berguna adanya ujian di dunia. Jika kebenaran selalu memenangkan pertempuran melawan kebatilan, maka barisan pasukannya akan diisi oleh mereka pemuja hasil.

Allah menetapkan dunia penuh dengan guncangan perasaan karena jika tidak ada kezaliman dan kejahatan, bagaimana Allah menguji hamba-Nya dengan syariat Jihad? Bagaimana Allah memisahkan Mujahidin dari para pengecut? Penolong dari para penghina? Orang-orang yang berinfaq di jalan Allah dari orang-orang pelit di jalan setan?

Kelima:

Proses persalinan seorang ibu bercampur antara rasa sakit dan darah, ini baru proses lahirnya seorang bayi! Lantas, bagaimana dengan proses persalinan satu umat? Bagaimana lahirnya satu negara berdaulat?

Seandainya Anda berada di antara kaum Quraisy ketika Abu Jahl menancapkan Sumayyah ke tanah dan mengikatnya, lalu menusukkan tombaknya ke dalamnya, Anda mungkin akan berkata seperti yang Anda katakan sekarang: Di manakah Allah?

Sekarang saya bertanya balik kepada Anda: Di mana Sumayyah sekarang dan di mana Abu Jahl?

Pada saat itu, jika Anda melihat Bilal di pasir Makkah dengan batu di dadanya, dan Umayyah bin Khalaf memerintahkannya menyebutkan Lata dan Hubal, sedangkan Bilal mengulangi satu kata dengan segenap jiwa yang tersisa di dalam dirinya: Ahad! Ahad!

Anda mungkin berkata: Di mana Allah Al-Ahad itu?

Sekali lagi saya bertanya kepada Anda: Di mana Bilal sekarang dan di mana Umayyah?

Jika Anda melihat kemenangan itu hanya ada di dunia ini, dan Anda tidak membayangkan bahwa kemenangan itu akan datang! Namun, sekarang Anda tahu bahwa Makkah telah dibebaskan, dan orang-orang yang dahulu disiksa di sana memasukinya melalui empat gerbangnya di tengah siang hari!

Sesungguhnya Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai ketetapan waktu untuk semua kejadian, jika Anda paham, ikatkan ikat pinggang. Dan jika Anda tak paham, pasrahkanlah.

*) Diterjemahkan oleh Sahabat Al Aqsha dari tulisan Adham Sharqawi (Twitter: @adhamsharkawi)

Bupati Bursel Kunjungi Lokasi Pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah

0

BURSEL (Hidayatullah.or.id) — Bupati Buru Selatan (Bursel) Safitri Malik Soulisa, mengunjungi lokasi pembangunan Pondok Pesatren Hidayatullah di Desa Labuang, Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku, Senin, 9 Sya’ban 1445 (19/2/2024).

Saat kunjungan itu, tampak orang nomor satu di Pemkab Bursel tersebut didampingi sejumlah pimpinan OPD lingkup pemerintah daerah setempat.

Pimpinan Pesantern Hidayatullah, Ust. Sulaiman Ismail, mengaku bersyukur atas kunjungan Bupati Bursel tersebut.

“Alhamdulilah kami sangat bersyukur atas kunjungan ini ke lokasi pembangunan pondok pesantren yang kami rintis,” kata Sulaiman.

Ia berharap dengan kehadiran pondok pesantren tersebut, dapat bersinergi dengan Pemkab Bursel untuk memajukan dunia pendidikan di wilayah Lolik Lalen Fedak Fena khususnya di bidang keagamaan.

“Kami hadir di daerah ini tentunya untuk memajukan pendidikan dan bisa bersinergi dengan pemerintah daerah,” pungkasnya.

Ditambahkan nantinya pembangunan pondok pesanteren ini akan dirancanang sebaik baik dan juga dilengkapi asrama untuk para santriwan dan santriwati. (ktn/hio)

Bersama Masyarakat Bersihkan Rumah Ibadah Pasca Banjir

0

DEMAK (Hidayatullah.or.id) — Di balik reruntuhan yang ditinggalkan oleh banjir, terbersit kisah-kisah kebersamaan yang membelah hati dan menghangatkan jiwa. Begitu juga yang terjadi di dua musholla di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang terkena dampak banjir.

Di tengah duka, cahaya harapan menyinari setiap sudut ketika masyarakat bersatu untuk membersihkan kedua rumah ibadah itu dari lumpur dan kotoran yang tertinggal.

Tidak sendirian, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) – SAR Hidayatullah bersama Forum TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Kabupaten Demak turut berperan sebagai mitra sinergi dalam menjalankan misi bersih-bersih pasca banjir.

Dua rumah ibadah itu dibersihkan dari timbunan lumpur dampak banjir. Pertama Musholla Darul Fattah, Dukuh Karanganyar, dan Kedua, Musholla Al Hidayah, Dukuh Kedung Banteng, Wonorejo. Sebanyak 250 warga bergotong-royong membersihkan tempat ibadah mereka.

“Resik kabeh,” begitulah tema yang mereka sandang. Artinya, semua bersatu, tanpa terkecuali, untuk meresapi betapa pentingnya kebersihan, terutama di tempat ibadah.

Nasir Jali, Ketua TBM Kabupaten Demak, menyampaikan apresiasi atas semangat dan kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan musholla.

Salah satu penerima manfaat, Mudhofar, yang juga menjadi takmir musholla, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima. “Senang dibantu musholla menjadi bersih, sholat jadi lebih khusyu,” ujarnya dengan penuh rasa terima kasih.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma, menegaskan komitmen untuk terus mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini. “Ini adalah awal dari perubahan yang nyata, ketika kita saling bergandengan tangan demi kebaikan bersama,” tuturnya.

Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya solidaritas dan kebersamaan dalam menghadapi musibah. Semoga semangat gotong-royong ini terus mengalir, mencerahkan setiap sudut kehidupan, dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.*/Herim

Lahirkan Pemimpin Muda, LTC Pemuda Hidayatullah Digelar di Surabaya dan Pemekasan

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meneguhkan ikhtiar membina dan melahirkan pemimpin brilian, Pemuda Hidayatullah Rayon Surabaya dan Madura, Jawa Timur, menggelar Leadership Training Center (LTC) di Kampus Utama Hidayatullah Surabaya dan Kampus Darul Hijrah Pamekasan Madura.

Acara yang digelar selama dua hari, 24-25 Februari 2024 tersebut diikuti puluhan utusan peserta yang terdiri dari anggota pemuda Hidayatullah Surabaya, Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Sumenep dan juga Mahasiswa STAIL serta pengurus PD Pemuda Hidayatullah di kelima wilayah tersebut.

Kegiatan kian terasa semarak dengan kehadiran Ketua Umum Pengurus Pusat (Ketum PP) Pemuda Hidayatullah Rasfiuddin Sabaruddin yang membersamai langsung acara ini.

Tak hanya Ketum, kehadiran Rasfiuddin juga turut didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjend) Bustanol Arifin. Tampak pula Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jawa Timur Adib Nursyahid beserta jajaran.

Peserta juga mendapatkan injeksi spirit kelembagaan dari Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Surabaya Dr. Mashud, M.Si.

Dalam sambutannya di acara pembukaan, Rasfi, panggilan Rasfiuddin, membeberkan tujuan gelaran LTC sebagai program nasional Pemuda Hidayatullah.

“Jadi tujuan LTC ini adalah untuk mengembalikan pemuda pada fitrahnya,” ujar Rasfi.

Kandidat doktor International Islamic University Malaysia (IIUM) menuturkan bahwa Al Qur’an menggarisbawahi pemuda sebagai fase di antara dua kelemahan. Yaitu masa kanak-kanak dan masa orang tua.

“Sehingga pemuda waktu produktif, jadi kalau ada anak muda yang matanya sayup, gerakannya lunglai, jangan-jangan itu bukan anak muda,” ujarnya, memantik semangat pemuda.

Sementara itu, ketua DPD Hidayatullah Surabaya, Dr. Mashud, berpesan agar pemuda terus berkiprah di masyarakat dan selalu menjaga integritas dan moralitas sebagai modal utama seorang pemimpin.

“Apalagi tema besar kegiatan ini adalah tentang progresif bersama Al Qur’an, insya Allah akan membentuk pemuda luar biasa,” katanya.

Digelar Intensif

Helatan LTC yang digelar di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dan Pamekasan ini berlangsung intensif selama 2 hari. Sesinya sendiri dibagi menjadi 5 pertemuan.

Sesi pertama Literasi dan Kekuatan Syahadat, sesi kedua Filsafat Dasar dan Hakikah Hidup, sesi ketiga Ideologi Gerakan Hidayatullah dan GNH, sesi keempat Nilai Dasar dan Sejarah Gerakan Organisasi Kepemudaan dan sesi terakhir terkait Manajemen Diri, Aksi dan Konflik.

Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jawa Timur Adib Nursyahid mengatakan kegiatan ini merupakan program nasional Pemuda Hidayatullah sebagai ikhtiar pendampingan dan pelejitan potensi pemuda sebagai pilar mengokohkan peradaban Islam.

“Semoga dengan bekal nilai nilai keislaman dan skil kepemimpinan yang termuat dalam materi LTC, kelak melahirkan generasi muda dari Pemuda Hidayatullah yang siap berkhidmat untuk kemajuan agama, bangsa, dan negara,” tandas Adib.*/Muhammad Faruq