USTADZ Fur Adi Mansyur (43) telah malang melintang di dalam dunia dakwah. Pria kelahiran 1980-an itu telah bertugas di berbagai lokasi, termasuk Ketapang Kalimantan Barat, Pontianak, Cirebon, Indramayu, Kota Banjar, Jawa Barat, Tasikmalaya, dan saat ini di Bangka Belitung.
Sejak tiba di Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Fur Adi Mansyur merasakan nuansa spiritualitas yang kuat.
Selain selalu mendambakan bisa shalat di di Baitullah yaitu Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa, Fur Adi Mansyur mengaku selalu merindukan dapat shalat berjamaah di Masjid Ar Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak.
“Shalat jama’ah di Masjid Ar-Riyadh itu kerinduan kami,” kata Ustadz Fur Adi Mansyur kepada media center Silatnas Hidayatullah, Ahad, 5 Jumadil Ula 1444 (19/11/2023).
“Alhamdulillah, karena ini (tahajjud, shubuh berjama’ah dan wirid pagi serta tadabbur Al Qur’an) memang bagian dari pergerakan. Sehingga yang kita rasakan itu adalah penambahan spirit untuk berjuang, penambahan ilmu, dan penambahan keberkahan,” ungkapnya melanjutkan.
Ketika ditanya mengenai pengalaman shalat berjamaah di masjid Ar-Riyadh ternyata ia sangat merindukan suasana itu.
“Semua juga akan merindukan shalat berjamaah di Masjid Ar-Riyad ini, khususnya yang sudah pernah di sini. Bahkan yang mungkin pernah menyantri di sini,” katanya.
“Dan, ini luar biasa yang pada waktu itu belum seperti ini. Dengan perubahan ini sangat-sangat luar biasa, dan ini sangat indah untuk dirasakan,” ulas suami Octaviani Mulyani ini.
Ustadz Fur Adi Mansyur juga berbicara tentang energi positif yang dibawa pulang dari kampus ini,
“Sebagai kader yang diamanahkan untuk menegakkan peradaban, maka spirit inilah yang akan kita berikan dan kita sampaikan kepada santri-santri yang ada di sana, yaitu bagaimana yakin kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” imbuhnya.
“Pesantren Hidayatullah Balikpapan selalu membangkitkan kebersamaan, keimanan, dan semangat untuk berjuang demi peradaban yang lebih baik,” harapnya menandaskan.
Fur Adi Mansyur adalah salah satu dari seribuan tamu yang sudah hadir di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, untuk mengikuti acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan digelar pada 23-26 November 2023.
Selain Silatnas yang terbuka diikuti oleh jamaah dan segenap kader, kegiatan ini juga dirangkai dengan helatan Pernikahan Mubarak 40 pasang santri yang telah digelar pada Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023), Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah dan Rakernas Hidayatullah pada 19-21 November 2023. (min/hidayatullah.or.id)
SETIAP organisasi, senantiasa dibersamai dengan seperangkat komponen yang telah dirumuskan dalam bentuk peraturan, regulasi juga code of conduct, serta kebijakan lainnya dalam rangka untuk mengimplementasikan visi, misi, dan tujuan organisasi tersebut.
Berikutnya dirumuskan rencana strategis jangka panjang, menengah, dan pendek. Dari sini selanjutnya dituangkan dalam program kerja tahunan, atau dalam periode tertentu, yang lebih spesifik dan detail serta disertai dengan target pencapaian baik kualitatif maupun kuantitatif dengan time frame yang ketat.
Dalam pelaksanaannya, sudah barang tentu tidak semua program yang sudah direncanakan itu berjalan sesuai dengan perencanaan yang disusun. Sehingga diperlukan alat atau mekanisme monitoring dan evaluasi yang memadai, dalam rangka untuk mengawal setiap program-program itu. Bahkan lebih jauh dapat melihat apakah semua aktifitas dalam organisasi itu, sebagai derivasi dari renstra organisasi, atau terjadi penyimpangan.
Banyak pakar telah menyusun bagaimana melakukan kontrol terhadap organisasi. Kita dengan mudah dapat menemukan banyak alat ukur untuk memonitor organisasi tersebut.
Alat ukur ini sebenarnya bisa dikembangkan menjadai kerangka assessment (penilaian) dan audit sebuah organisasi, apakah berjalan sesuai dengan koridor dan atau tidak.
Dengan adanya alat ukur ini, setiap organisasi bisa melakukan diagnosa mandiri. Sehingga dapat mengetahui sejauhmana kesehatan dari organisasi itu sendiri.
Dalam perspektif organisasi sosial/non profit (non government organization), dan juga terhadap organisasi Islam, maka sangat memungkinkan untuk merumuskan alat ukur sendiri.
Sebuah framework (kerangka) yang disusun berdasarkan benchmarking dari organisasi modern, termasuk organisasi bisnis, yang kemudian dikombinasikan dalam konteks organisasi Islam.
Sehingga kita mendapatkan sebuah alat ukur hybrid yang kemudian dapat dipakai sebagai pisau analysis bagi setiap organisasi, apakah berjalan dalam trek yang benar (on the right track) atau menyimpang dari visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan.
Lima Alat Ukur
Dalam perspektif organisasi non profit, terutama berkenaan dengan gerakan/ormas Islam, dapat diajukan lima alat ukur untuk mendiagnosa kesehatan sebuah organisasi. Sebuah indikator sederhana yang membawa organisai menuju keberlanjutannya.
Kelima indikator dan alat ukur tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pertama, kebijakan dari pusat harus sampai dan dipahami hingga anggota ke paling bawah. Salah satu parameternya adalah ketika anggota di level bawah setidaknya tahu dan berlanjut kepada mengerti atas kebijakan tingkat pusat.
Organisasi yang baik akan mampu mengkomunikasikan seluruh kebijakan organisasi kepada semua lapisan anggota, hingga sampai yang paling bawah.
Dengan memanfaatkan keberadaan struktur organisasi yang ada ataupun dengan menggunakan berbagai jenis media yang tersedia. Sehingga desiminasi kebijakan ini, meminimalisis disparitas pemahaman kebijakan anggota pada semua level dan tingkatan.
Kedua, struktur disemua tingkatan berjalan dengan efektif dan efisien. Salah satu alat ukurnya adalah ketika kepemimpinan di semua level itu menjalankan program-program organisasi, yang setidaknya ditandai dengan adanya rapat rapat koordinasi dan koordinasi berjalan secara rutin.
Hal ini akan menegaskan bahwa masing-masing level struktural tersebut dalam satu garis komando dan satu garis kebijakan. Sehingga program-program organisasi disemua level dapat dieksekusi dan diimplementasikan sesuai dengan level/tingkatan strukturnya.
Ketiga, pembinaan secara kultural sebagai transformasi nilai berjalan dengan tertib dan baik. Pada organisasi Islam, transformasi manhaj dan juga jatidiri yang menjadi DNA organisasi dapat berupa halaqah-halaqah, taklim, kajian, dan lainnya yang sifatnya lebih kultural.
Transformasi ini melampaui pola hubungan dan hierarki struktural serta masalah-masalah program organisasi semata. Ia juga akan memberikan penguatan yang lebih mengakar lagi, yaitu mengapa sebuah organisasi dibentuk dan kemana akan dibawa, sebagaimana yang dituangkan dalam visi, misi, dan tujuan organisasi itu sendiri. Pembinaan kultural ini menjadi perekat dan menjadi satu kesatuan dari budaya organisasi itu sendiri.
Keempat, struktur demografis penggerak organisasi (pengurus dan anggota), komposisinya melibatkan kaum muda. Organisasi yang hanya diisi oleh kelompok tua (senior) akan segera mengalami decline, disebabkan tidak adanya regenerasi.
Dalam perspektif ini, maka melibatkan anggota/kader muda dalam sebuah organisasi, selain menjadi bagian dari rejuvenasi, juga memberikan kepercayaan kepada generasi muda dalam membangun dan mengembangkan Organisasi.
Interaksi antara senior dan junior disini akan mengakibatkan transformasi knowledge sekali transformasi nilai, yang mengantarkan kaum munda ini menjadi pemimpin dimasa medatang, untuk menggantikan yang ada. Bisa jadi ditengah jalan, karena intens-nya proses transformasi ini, yang muda malah yang memimpin.
Kelima, kemandirian anggota dan pembiayaan organisasi. Kemandirian disini, lebih bersifat finansial. Dimana organisasi bertugas memberdayakan setiap anggotanya, sehingga memiliki kemandirian yang di maksud.
Sementara dari sisi organisasi, maka pembiayaan organisasi berasal dari sumber internal organisasi yang berasal iuran anggota, amal usaha serta kegiatan ekonomi lainnya.
Organisasi semestinya menghindar dari meminta bantuan dari pihak eksternal. Sehingga diperlukan rekayasa serius bagi setiap organisasi disemua level untuk memandirikan dirinya sendiri.
Sudah barang tentu masih dapat ditambahkan aspek lain yang bisa dipergunakan sebagai tambahan atas indikator di atas. Namun, kelima alat ukur tersebut meskipun nampaknya sederhana, jika dijalankan dengan baik dan terukur, akan mengantarkan organisasi memiliki izzah yang kokoh dan pada gilirannya akan terjaga eksistensinya sehingga selain menjamin keberlangsungan organisasi, juga akan memiliki posisi tawar yang tinggi. Wallahu a’lam.
*) ASIH SUBAGYO,penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerja sama dengan Delima School mengadakan acara “Indonesia Bercerita” yang dimaksudkan menyentuh hati anak bangsa untuk peduli dan mau berbagi, digelar di Jakarta, Kamis, 2 Jumadil Awal 1445 (16/11/2023).
Kepala Sekolah, Qastalany, menyampaikan terima kasih kepada BMH atas kolaborasi yang menghadirkan Storyteller Nasional untuk mengajarkan sikap empati dan disiplin kepada siswa melalui dongeng. Semoga sinergi kebaikan ini terus berlanjut.
Dalam acara tersebut, Kak Tony menjadi pengisi dongeng yang menginspirasi. Antusiasme siswa dan guru sangat tinggi, mereka dengan senang hati berbagi rezeki untuk saudara-saudara kita di Palestina.
Amil BMH Ahmadi juga memberikan apresiasi yang tinggi untuk kebaikan yang telah diselenggarakan.
“Semoga kebaikan ini membantu para siswa memiliki karakter yang positif untuk Indonesia ke depan peduli kepada dunia,” tuturnya.*/Herim
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pernikahan Mubarak yang diselenggarakan Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, yang diselenggarakan pada Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023) tak hanya membawa kebahagiaan kepada keluarga mempelai dan keluarga besar, tetapi juga dirasakan oleh para santri Hidayatullah.
“Mereka yang hadir dan merasakan langsung suasana yang ada menyadari bahwa menikah tidak semestinya dilakukan dengan cara susah payah apalagi harus dengan konsep yang wah dengan biaya yang benar-benar tidak murah,” terang Ustadzah Umi Salami, perwakilan dari panitia.
Pernikahan Mubarak adalah pernikahan perjuangan yang bertujuan untuk memberikan solusi terhadap budaya masyarakat di sekitar.
“Pernikahan ini diselenggarakan dengan biaya yang terjangkau, sehingga dapat membantu para santri yang ingin menikah. Sebab memang menikah itu fitrah dan Islam memberikan jalan mudah. Menikah bukan karena gengsi tetapi ibadah kepada Ilahi,” sambungnya.
Dalam pernikahan Mubarak kali ini, sebanyak 40 pasang santri melangsungkan pernikahan. Para santri ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kebahagiaan para santri terlihat jelas saat menghadiri pernikahan tersebut. Mereka berkesempatan untuk merasakan kebahagiaan pernikahan, sekaligus bersilaturrahim dengan sesama.
“Alhamdulillah, saya sangat senang hari ini karena dapat merasakan kebahagiaan dan menikmati berbagai sajian makanan dan minuman yang menyenangkan hati,” kata Maghfirah, seorang santri yang mengahadiri pernikahan tersebut.
“Saya sangat bahagia menyaksikan bagaimana proses Pernikahan Mubarak yang indah, tanpa pacaran. Karena menikah memang soal kemantapan hati dan keyakinan kebaikan ke depan dengan melalui jalur kebaikan,” ujar Maghfirah menambahkan.
Selain itu, para pemilik rumah pun tak segan-segan menawarkan para santri untuk membawa sesuatu yang dapat dibawa pulang ke asrama. Hal ini membuat para santri semakin bahagia.
“Terima kasih banyak atas kebaikannya, Pak dan Bu. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu,” ujar salah satu santri lainnya.
Pernikahan Mubarak ini menjadi momen yang sangat berharga bagi para santri Hidayatullah. Mereka tidak hanya mendapatkan kebahagiaan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk belajar tentang pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Acara pernikahan massal mubarak ini merupakan sebuah momen yang sangat penting bagi para santri. Acara ini menjadi simbol bahwa mereka telah siap untuk menapaki masa depan yang baru.*/Anggun Annisa
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pernikahan Mubarak merupakan wadah dari manifestasi cinta dalam bingkai iman berdasarkan nilai-nilai Alquran. Demikian disampaikanm Ust. H. Hamzah Akbar saat menyempaikan sambutan pada acara Akad dan Walimatul ‘Urs Pernikahan Mubarak 40 Pasang Santri Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023).
Ia menekankan, Hidayatullah memandang bahwa menikah adalah bagian dari urusan utama kehidupan manusia dan karena itu harus dijalankan dengan proses yang sebaik-baiknya.
“Acara Pernikahan Mubarak ini adalah wadah bagi para santri untuk menikah dan membangun keluarga. Melalui hal ini kita berharap para santri mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat, menguatkan program pembangunan umat dan bangsa,” terang Ketua Yayasan Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan ini.
Pernikahan Mubarak ini menghadirkan para santri yang akan tugas dakwah di berbagai daerah di Indonesia.
“Selepas menikah, mereka akan kembali bertugas ke berbagai pulau di Indonesia, seperti Kepulauan Riau, Kalimantan, Maluku, Ternate, Sulawesi, dan lainnya,” tegasnya.
Para santri yang menikah ini juga akan bergegas berangkat ke tempat tugas. Soal bulan madu, sepertinya akan sangat bervariasi.
“Boleh jadi para santri ini akan menjalani masa bulan madu di kapal, di pesawat, atau berbulan madu dengan tugas dakwah mereka di tempat mereka ditugaskan,” sambungnya.
Acara pernikahan Mubarak ini merupakan sebuah momen yang sangat penting bagi para santri. Acara ini menjadi simbol bahwa mereka telah siap untuk menapaki masa depan yang baru. (min/hidayatullah.or.id)
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Masjid Al-Wihdah, Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat, menggelar penggalangan dana peduli Palestina pada Jumat, 3 Jumadil-Ula 1445 (17/11/2023). Kegiatan ini diikuti oleh ratusan jamaah salat Jumat.
Donasi yang terkumpul sebesar Rp. 2.245.000 akan disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
Ustadz Eyep Suparyo, Ketua DKM Masjid Al-Wihdah, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk solidaritas umat Islam Indonesia terhadap saudara-saudaranya di Palestina.
“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa umat Islam Indonesia peduli dengan penderitaan rakyat Palestina,” ujar Ustadz Eyep.
Kegiatan penggalangan dana ini disambut antusias oleh jamaah salat Jumat. Banyak jamaah yang memberikan sumbangan untuk membantu rakyat Palestina.
“Saya merasa tergerak untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Mereka sedang mengalami penderitaan yang sangat berat,” ujar Bapak Dedy Alamsyah, Ketua RW setempat.
Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jabar, Yusep Suhendar, mengaku bahwa dukungan umat untuk membantu Palestina sangat luar biasa.
“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian umat Islam Indonesia terhadap Palestina khususnya kepada Jamaag Masjid Al-Wihdah. Semoga donasi ini dapat membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita di sana,” ujar Yusep.
Donasi yang terkumpul dari penggalangan dana tersebut akan digunakan untuk membantu warga Palestina yang menjadi korban kebiadaban tentara Israel. Bantuan tersebut meliputi bantuan pangan, medis, dan pendidikan.*/Herim
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Mayjen TNI Tri Budi Utomo, memberikan nasihat pernikahan kepada para mempelai putra dalam acara Pernikahan Mubarak yang digelar di Masjid Ar-Riyadh, Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Sabtu, 4 Jumadil Ula 1444 (18/11/2023).
Dalam nasihatnya, Pangdam VI Mulawarman menekankan pentingnya menyelesaikan masalah rumah tangga sendiri tanpa melibatkan orang tua. Menurutnya, jika hal tersebut terjadi, maka justru akan menambah beban orang tua.
“Masalah harus diatasi sendiri, jangan dibawa ke orang tua, karena itu malah menambah beban orang tua. Orang tua itu akan senang kalau anak-anaknya itu hidup rukun dan bahagia, berusahalah untuk mampu mengatasi rumah tangga sendiri,” kata Pangdam VI Mulawarman.
Pangdam juga mengingatkan para mempelai putra untuk selalu membimbing istri. Hal ini penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
“Otomatis dengan membawa seorang istri hendaknya istri mengikuti imamnya. Berada dalam kondisi apapun, keputusan imam, istri harus mengikuti,” kata Pangdam VI Mulawarman.
Usai memberikan nasihat, Pangdam VI Mulawarman memberikan hadiah kepada para mempelai putra sebagai bentuk apresiasi atas pernikahan mereka.
Seperti diketahui, Kampus Ummulqura Hidayatullah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak kembali menggelar pernikahan massal mubarak yang dikuti 40 pasang santri/ santriwati yang digelar hari ini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang puncak acaranya digelar pada 23-26 November mendatang. (min/hidayatullah.or.id)
SALAH satu ciri arus gelombang disrupsi yang kini santer diperbincangkan adalah VUCA yang merupakan singkatan dari Volatility (Volatilitas), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kompleksitas), dan Ambiguity (Ambiguitas), era ini menciptakan tantangan sosial yang unik untuk kita kaji.
Volatility adalah perubahan yang cepat dan tidak terduga dalam konteks sosial menciptakan ketidakstabilan. Dalam sosiologi, volatilitas ini dapat mengarah pada perubahan mendalam dalam norma-norma sosial, nilai-nilai, dan struktur masyarakat.
Uncertainty, era VUCA juga membawa ketidakpastian yang tinggi. Hal ini menciptakan ketidakjelasan mengenai bagaimana masyarakat merespons perubahan, bagaimana lembaga-lembaga sosial beradaptasi, dan bagaimana individu meresapi perubahan tersebut.
Complexity, adalah kondisi dimana kompleksitas sosial meningkat dengan perubahan teknologi, globalisasi, dan dinamika politik. Kita harus memahami hubungan yang semakin rumit antara berbagai elemen masyarakat dan dampaknya terhadap interaksi sosial.
Ambiguity, yakni adanya ambiguitas menyulitkan interpretasi situasi sosial. Ini menciptakan tantangan dalam memahami pergeseran budaya, makna sosial, dan identitas masyarakat.
Dalam menghadapi era VUCA, kita dihadapkan pada tugas untuk memahami, menjelaskan, dan merespons dinamika sosial yang kompleks dan seringkali tidak terduga. Hal ini melibatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana interaksi sosial, lembaga-lembaga, dan struktur masyarakat beradaptasi dengan perubahan yang terus menerus.
Selain itu, juga perlu menjembatani kesenjangan dalam pemahaman dan adaptasi antara berbagai kelompok masyarakat, mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang dinamika sosial di era VUCA.
Sebuah karunia terbesar hidup di akhir zaman ini adalah ditakdirkan menikmati hidup dalam naungan konsep imamah jama’ah ala Hidayatullah. Mungkin ini dianggap subyektif, namun sebagai kader yang menulis risalah ini merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikannya sebagai wujud pertanggung jawaban intelektual akademik sesuai disiplin ilmu yang penulis miliki.
Ibarat sebuah rumah, tentu kita akan menjumpai bagian-bagian tertentu dari rumah tersebut yang dianggap butuh maintainance, memerlukan rehabilitasi, renovasi bahkan rejuvenasi – satu kosakata yang pernah viral dalam alam bawah sadar kader Hidayatullah beberapa waktu silam— Begitu pulalah dengan Hidayatullah.
Alhamdulillah, alaa kulli hal dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ormas ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang tarbiyah, dakwah dan layanan sosial keumatan sebagai sentrum gerakannya.
Dalam menapaki derap langkah perjuangan, Hidayatullah lahir bermula hanya dari mimbar ke mimbar pengajian, lalu berkembang menjadi pesantren dan panti asuhan, kemudian tumbuh berkembang menjadi organisasi sosial dan kini berubah menjadi ormas, adalah sebuah proses metamorfosis sistem sosial yang lengkap dan paripurna.
Walaupun, dalam prosesnya tersebut, sejumlah masalah hadir, seperti diantaranya; masalah kepemimpinan, manhaj, mutasi jabatan, manajemen dan struktur organisasi tentu tak dapat kita hindari bahkan oleh sebagian dari kader merasakan itu sebagai sebuah “turbulensi” yang membuncah adrenalin.
Harus disyukuri, agar kita tidak termasuk orang yang kufur nikmat, bahwa dengan segala problematika yang melingkupi dari masa transisi hingga saat ini, Hidayatullah tetap on the track dalam prinsip utamanya yang nilainya tak terhingga yakni wujud eksistensi Jatidiri Hidayatullah yang hadir bukan hanya sekadar pedoman organisasi, melainkan juga suatu arah dalam meretas jejak peradaban Islam berbasis manhaj Nabawi.
Melalui kesungguhan dalam menjalankan manhaj Nabawi, mengkosolidasi dan mengkapitalisasi kekuatan dalam jihad besar, dan membangun jama’ah yang solid, Hidayatullah bersama elemen ummat dan bangsa lainnya bergandeng tangan berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita agung tersebut.
Dengan keyakinan yang bulat, Hidayatullah mengemban tanggung jawab suci untuk membawa cahaya Islam menerangi langkah umat manusia menuju peradaban yang adil dan sejahtera.
Prinsip ini adalah harta karun peradaban berbasis manhaj Nabawi yang berhasil ditemukan oleh Allahuyarham Ustad Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, yang dijaga serta dirawat oleh ustad-ustad senior di lembaga ini dan senantiasa berkobar dalam diri setiap kader muda milenial yang siap menjadi “kayu bakar” demi memastikan suluh api perjuangan ini tetap menyala hingga akhir zaman.
Adapun soal struktur, manajemen, regulasi, dan kebijakan administrasi dan keuangan boleh dikata itu urusan bentuk dan kemasan saja. Tapi walaupun sifatnya hanya kemasan, tidak pantas kita aggap sepele, karena fakta sosialnya, kita hidup di era masyarakat yang masih mendahulukan “bungkus” ketimbang “isi”.
Kita masih berhadapan dengan masyarakat “kemasan”. Masyarakat yang rela membeli mahal popcorn yang dijual di bioskop atau mall tanpa menawar, beda jika ia membeli benno di pasar tradisional, sudah murah, masih ditawar setengah harga pula. Padahal sumber bahan bakunya sama-sama dari jagung.
Wujud eksistensi Jatidiri Hidayatullah yang harusnya dijadikan bekal para kader untuk percaya diri terjun dan tarung ke gelanggang juang, siap berinteraksi dalam sistem sosial mana pun juga.
Dengan catatan bahwa setiap kader haruslah terlebih dahulu bertekad dan mampu memantaskan diri untuk mengemban amanah itu, amanah untuk menjadi “burung kicau” dengan celupan khas Jatidiri Hidayatullah.
Kemampuan Adaptasi di Era VUCA
Disadari atau tidak, era VUCA telah mengubah secara signifikan sistem sosial masyarakat, baik pada sistem ekonomi, sosial, politik serta dunia pendidikan.
Dengan perubahan itu penduduk bumi, tidak terkecuali Indonesia telah mengalami persoalan hidup yang semakin kompleks dan ruwet, ibarat benang kusut yang susah ditemukan ujung pangkalnya.
Dalam dunia pendidikan misalnya, IPTEK yang seolah telah dipertuhankan oleh manusia modern saat ini telah terbukti gagal mengantarkan manusia keluar dari segala macam persoalan hidup. Akar masalah dari persoalan ini menurut analisis Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah problem ilmu pengetahuan, orientasi orang menuntut ilmu.
Kalau ilmu itu digunakan untuk orientasi materi semata, maka ilmu itu nantinya akan digunakan dengan segala macam cara untuk mencapai tujuan tersebut yang tidak sesuai dengan adab. Jadi akar masalah yang sedang kita hadapi saat ini adalah di sekitar pengertian ilmu.
Ada kecendrungan orang tersesat dalam menuntut ilmu, mereka menyekolahkan anaknya masuk di kedokteran supaya nanti jadi dokter dan menjadi kaya, mereka menyekolahkan anaknya menjadi insinyur agar nanti dapat kerja proyek dan dapat uang dan menjadi kaya, atau masuk ke fakultas ilmu pemerintahan dan politik agar kelak bisa jadi politisi dan kaya raya.
Tapi, sayangnya, tidak terpikir sama sekali jika harta dan jabatan yang mereka dapatkan itu dari hasil sogok, atau hasil korupsi. Ilmu bahwa sesuatu itu dicapai harus sesuai tuntunan syariat tidak ada sama sekali terbetik dalam pikiran orang saat ini. Ini tentang pengetahuan, akal pikiran kita telah diliputi oleh masalah sifat dan tujuan ilmu yang salah, ilmu semata untuk materi.
Inilah yang dikatakan “los of adab”. Ilmu tanpa adab, yang dimaksud adab bukan semata moral sopan santun, adab adalah kombinasi iman, ilmu dan amal. Kalau ilmu kita ini tidak mengantarkan kita pada keimanan, berarti ilmu kita ini salah.
Tak sedikit orang Islam terperdaya dan secara tidak sadar menerima pengertian ilmu yang dianggap sama dengan pengertian dalam kebudayaan Barat yang materialis, ini yang terjadi. Jadi suap, korupsi, pelanggaran hukum, ujung-ujungnya adalah penggunaan ilmu untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan worldview Islam.
Man Izdada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad Minallahi illa bu’dan: siapa yang tambah ilmunya tapi tidak tambah petunjuknya atau imannya dia akan tambah jauh dari tuhanNya. Berarti ilmu harus menambah iman, ilmu kalau akhirnya meninggalkan iman berarti ilmunya salah.
Alhamdulillah dalam proses tumbuh kembangnya, berangkat dari semangat dan kesadaran tersebut, ritme dan denyut nadi pergerakan selama setengah abad Hidayatullah hingga saat ini telah dirasakan seantero pelosok tanah air.
Baik secara internal maupun eksternal, hingga saat ini Hidayatullah untuk skala nasional hadir dan telah berkiprah di 38 Provinsi, 353 Kabupaten/Kota dan 621 pondok pesantren yang tersebar di seantero nusantara.
Di bidang pendidikan pada level nasional, Hidayatullah telah mampu berkiprah serta mengukir prestasi gemilang. Kita telah memiliki sekian banyak sekolah dan madrasah, mulai dari PAUD, TK hingga Perguruan Tinggi.
Di beberapa daerah, sekolah Hidayatullah menjadi tempat favorit dan unggulan yang cukup diminati oleh masyarakat. Bahkan hingga saat ini Hidayatullah banyak dikenal oleh masyarakat identik dengan lembaga pendidikannya.
Era VUCA yang kita dihadapi saat ini, mau tak mau telah memaksa kita untuk terus berbenah dan memaksimalkan segala resources yang telah Allah Swt anugerahkan kepada Hidayatullah.
Di bidang pendidikan misalnya, ada ekspektasi dari masyarakat akan tersedianya sekolah berkualitas sesuai selera mereka dan selerah pasar dan di satu sisi juga ada kebutuhan yang tak kalah pentingnya menyiapkan konsep sekolah yang menjadi model institusi pendidikan yang sesuai dengan “isi kepala” dan “isi dompet” para orang tua anak-anak warga dan jama’ah Hidayatullah sebagai pewaris dan pelanjut gerakan Hidayatullah di masa yang akan datang.
Di bidang layanan sosial keummatan dituntut untuk menghadirkan satu program yang dapat dijadikan sebagai “role model”. Alhamdulillah pada ajang Munas Hidayatullah yang digelar Oktober 2020 telah menetapkan program Rumah Qur’an sebagai salah satu program prioritas yang dihadirkan sebagai wujud layanan ummat.
Kita berharap Rumah Qur’an ini segera berkembang pesat dengan harapan dapat diterima dengan baik kehadirannya oleh masyarakat. Satu yang menjadi masukan bagi kita semua, bahwa Rumah Qur’an ini idealnya bukan hanya hadir dalam rangka membenahi baca tulis Alqur’an saja, tetapi juga hadir sebagai solusi atas basic need masyarakat di tingkat struktur masyarakat paling bawah dalam segala aspek kehidupan.
Rumah Qur’an diharapkan hadir sebagai solusi masalah ekonomi rumah tangga, solusi terhadap masalah kesehatan dan sanitasi dan lain sebagainya. Dengan pola ini, insya Allah Hidayatullah dapat masuk dalam alam bawah sadar masyarakat dengan cepat dan mudah.
Di bidang ekonomi, kita belum menemukan formula yang efektif untuk menjadikan Hidayatullah sebagai organisasi yang mandiri dalam hal pendanaan. Seyogianya kita mampu melahirkan sebuah model fundraising yang membuat lembaga ini bukan hanya sekedar mandiri secara internal tapi juga bisa menjadi lembaga donor bagi kemaslahatan masyarakat secara umum.
Mental proposal untuk memenuhi kebutuhan lembaga secara perlahan harus kita tinggalkan karena baik langsung atau tidak langsung akan berdampak pada muru’ah Hidayatullah. Alhamdulillah semangat dan upaya menuju ke sana sudah mulai terasa dan nampak di pelupuk mata kita saat ini.
Di bidang politik untuk skala nasional memang selama ini masih sangat minim, tapi bukan berarti tak diperhitungkan sama sekali. Pada setiap momentum kontestasi politik di tanah air ini, Hidayatullah tetap berperan memberi warna dan arah ke jalur politik keummatan.
Juga menjadi catatan, khusus di Sulsel, Hidayatullah hadir sebagai sebuah entitas politik yang layak diperhitungkan dalan setiap event politik dan walaupun kita belum mampu mengkapitalisasi kondisi ini menjadi sesuatu yang menopang suksesnya ekspansi dakwah Hidayatullah di Sulsel secara sistemik.
Sistematika Wahyu: Dasar-dasar Konstruksi Sosial Peradaban Islam
Dalam perspektif sosiologi, realitas didefenisikan sebagai kualitas yang melekat pada fenomena-fenomena yang diakui memiliki keberadaan yang tidak tergantung pada kehendak diri sendiri. Sedangkan kenyataan merupakan fakta sosial yang bersifat eksternal, umum, dan mempunyai kekuatan memaksa kesadaran masing-masing individu.
Terlepas dari individu itu suka atau tidak, mau atau tidak mau, realitas itu tetap ada. Sedangkan pengetahuan diartikan sebagai keyakinan bahwa fenomena-fenomena itu nyata dan mempunyai karakteristik. Pengetahuan merupakan realitas yang hadir dalam kesadaran individu.
Bahwa dialektika antara individu dengan dunia sosio-kultural yang berlangsung dalam suatu proses yang mengandung tiga momen yang bergerak secara simultan, yakni eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi.
Dalam perspektif yang lebih luas, dengan memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam ketiga momen tersebut serta masalah legitimasi yang berdimensi kognitif dan normatif, maka realitas sosial tak lain adalah suatu konstruksi sosial upaya masyarakat sendiri dalam perjalanan sejarahnya, dari masa silam ke masa kini menuju masa depan sesuai misi yang diemban oleh mereka.
Tiga moment dialektika individu dengan dunia sosio-kultural yang berproses secara simultan ini telah sukses dipraktekkan oleh masyarakat Madinah.
Di bawah arahan Rasulullah Saw atas tuntunan lima surah yang pertama kali diturunkan secara bertahap oleh Allah Swt melalui perantaraan malaikat Jibril as. Dan, oleh Hidayatullah, proses itu dipopulerkan dan dijadikan manhaj gerakan dengan istilah Sistimatika Wahyu.
Sesuai pengalaman empirik dan aktual Hidayatullah memaknai peradaban Islam sebagai manifestasi nilai-nilai keimanan dalam kehidupan nyata. Sebagai visi dan misi gerakan, membangun peradaban Islam seharusnya dipahami secara sadar dan baik oleh setiap kader dan jama’ah Hidayatullah.
Bahkan, tidak hanya itu, selain harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata, juga harus percaya diri membahasakannya secara tepat dan benar kepada pihak esternal Hidayatullah sebagai bagian dari kewajiban dakwah fardiah masing-masing kader Hidayatullah.
Ketiga moment dialektika yang beproses secara simultan pada setiap interaksi individu dengan sosio-kulturalnya jika dimerujuk pada pola Sistimatika Wahyu dapat kita tarik benang merahnya. Bahwa kita sebagai kader Hidayatullah dalam mengemban visi dan misi gerakannya tentu akan berhadapan dengan kenyataan sosial yang dalam pandangan sosiologi pengetahuan – salah satu cabang sosiologi kontemporer— kenyataan sosial merupakan hasil (eksternalisasi) dari internalisasi dan obyektivasi manusia terhadap pengetahuan.
Atau bahasa simpelnya, eksternalisasi dipengaruhi oleh stock of knowledge (cadangan pengetahuan) yang dimilikinya. Cadangan sosial pengetahuan adalah akumulasi dari common sense knowledge (pengetahuan akal sehat). Common sense adalah pengetahuan yang dimiliki individu bersama individu-individu lainnya dalam kegiatan rutin yang dirumuskan secara sadar dalam ikatan struktur kehidupan sehari-hari.
Tiga surah pertama dalam pola Sistimatika Wahyu, yakni Al Alaq, Al Qalam dan Al Muzammil dapat dimaknai sebagai proses internalisasi dan menjadi bekal untuk masuk pada moment dialektika interaksi setiap individu dengan sosio-kulturalnya. Sedangkan Al Mudatsir dapat dimaknai sebagai proses ekternalisasi dan dijadikan spirit setiap individu berinteraksi dengan sosio-kulturalnya.
Untuk menjaga nilai-nilai wahyu yang sudah terinternalisasi pada setiap individu itu dibutuhkan sejumlah perangkat dan regulasi sehingga dapat melekat kuat bagi setiap individu yang hidup dalam ikatan struktur nilai dalam kehidupan sehari-hari yang mereka telah buat sendiri.
Proses inilah yang kemudian dalam teori konstruksi sosial dikenal sebagai proses obyektivasi sehingga melahirkan tatanan kehidupan bermasyarakat sesuai yang digambarkan dalam Surah Al Fatihah. Gerakan Nawafil Hidayatullah adalah salah satu cotoh kongkrit bahwa proses obyektivasi itu berlansung.
Dari uraian di atas, beberapa hal penting yang perlu perhatian serius adalah bahwa asas peradaban Islam adalah Tauhid dan upaya membangun peradaban Islam haruslah dimulai dari sebuah komunitas kecil. Dari komunitas kecil inilah yang menjadi katalisator dan dinamisator mewujudkan komunitas yang lebih besar dan berkembang lebih luas.
Membangun peradaban Islam juga tidak dapat dipisahkan dengan ilmu pengetahuan, karena Islam adalah satu satunya peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual.
Dalam kajian dan literatur perubahan sosial, semua ahli sepakat dengan sejumlah persyaratan yang harus dimiliki oleh sebuah komunitas atau organisasi sosial jika ingin melakukan perubahan sosial. Dan apa yang dipersyaratkan tersebut semuanya Hidayatullah miliki.
Bahkan, apa yang dimiliki Hidayatullah oleh komunitas atau organisasi lain tidak mereka miliki dan luput dari analisa para ahli yaitu basis nilai dan konsep kepemimpinan. Adapun syarat terjadinya perubahan sosial yang sering dipaparkan oleh para ahli yaitu: basis komando, basis teritorial, basis massa, investasi pendidikan dan investasi politik.
Semua syarat itu dimiliki oleh Hidayatullah dan dua syarat lainnya yang justru harusnya menjadi syarat utama dalam teori perubahan sosial, yakni basis nilai (manhaj) dan konsep basis komando (imamah) tidak dimiliki dan luput dari perhatian para ahli.
Hadirnya kampus-kampus Hidayatullah menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk menata kelola sistem kehidupan yang layak dan refresentatif. Sebuah kampus yang idealnya menjadi etalase peradaban Islam. Bukan cuman itu, hadirnya kampus juga diharapkan sebagai basis kultur dan tradisi intelektual khususnya bagi generasi muda milenial Hidayatullah.
Semangat ulil albab dengan konsep Islamic worldview, konsep ilmu (epistemology) menurut Islam harus terus digelorakan dan dipahamkan secara baik oleh generasi muda milenial Hidayatullah agar menjadi asas lahirnya islamisasi ilmu yang berlandaskan tauhid.
Kita merindukan lahirnya para pemikir, intelektual sekaligus ideolog muslim yang lahir dari rahim kampus-kampus peradaban milik Hidayatullah. Sejarah peradaban telah mencatat bahwa perubahan yang terjadi di masyarakat banyak ditentukan oleh hasil olah pemikiran para ilmuwan dan intelektual.
Sejarah ulama Imam Mazhab telah mewariskan hasil pemikiran (ijtihad) yang kini dianut oleh ummat Islam di seluruh belahan dunia. Juga dalam sejarah kebudayaan Barat para intelektual sekaliber Karl marx, Auguste Comte, Emile Durkheim, Emmanuel Kant, Adam Smit dll telah menjadi rujukan dan banyak mempengaruhi pemikiran masyarakat, terkhusus masyarakat kampus.
Blue Print Gerakan untuk Mewujudkan Misi Hidayatullah
Untuk mewujudkan misi Hidayatullah, diperlukan sebuah blue print dan strategi planning gerakan Hidayatullah kini, esok, dan akan datang serta mampu “berselancar” di era VUCA saat ini.
Bonus demografi yang dianugerahkan bangsa ini, dapat kita jadikan sebagai peluang dan tantangan bagi gerakan Hidayatullah untuk melakukan rekruitmen kader “setengah matang” berbasis kampus-kampus besar di setiap daerah. Kader merupakan aset utama dan ujung tombak dalam sebuah gerakan.
Memproyeksikan bagaimana wajah Hidayatullah setengah abad ke depan dapat dilihat pada kualitas kader yang ada saat ini. Hidayatullah harus berani melakukan ekspansi gerakan ke kampus-kampus yang terkemuka di setiap wilayah melalui diskusi-diskusi lepas, training, seminar hingga halaqah taklim, hingga masuk melebur dalam sistem tersebut.
Sebagaimana sejarah gemilang pergerakan Hidayatullah berbasis aktivis kampus ini pernah kita jumpai pada masa perintisan awal Hidayatullah Makassar, Surabaya dan juga Jakarta.
Selanjutnya, aspek yang cukup penting menjadi perhatian serius kita berikutnya adalah pada konsep pendidikan. Paradigma pendidikan yang dibangun tidak boleh lepas dari akar filosofis tentang manusia, karena sesungguhnya fokus perhatian pendidikan itu intinya pada manusia.
Olehnya itu Hidayatullah hadir menjadikan gerakan tarbiyah sebagai salah satu fokus gerakannya mengusung konsep pendidikan yang integral, kombinasi potensi yang diberikan kepada manusia dua sekaligus yakni potensi kehambaan dan potensi kekhalifaan.
Di sinilah urgensinya manhaj Sistimatika Wahyu, sebuah proses tarbiyah nubuwwah yang telah sukses menorehkan tinta emas sejarah peradaban Islam yang tiada taranya hingga akhir zaman.
Untuk mengimplementasikan konsep pendidikan nubuwwah ini dibutuhkan uswah dan bi’ah yang kondusif. Sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw. Periode awal membangun peradaban Islam di Madinah. Beliau sendiri menjadi uswah bagi sahabat dan para pengikutnya dan Madinah sebagai lingkungan yang paling kondusif pada waktu itu.
Demikianlah seharusnya, Hidayatullah harus percaya diri tanpil menonjolkan ciri khas konsep pendidikan manhaj nubuwwah ini dan tidak larut dengan konsep pendidikan yang sedang trend di tengah masyarakat, walaupun harus tetap menyesuaikan pada batas-batas tertentu.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian khusus Hidayatullah untuk ekspansi gerakannya adalah capacity building untuk peningkatan mutu sumber daya insani. Sumber daya insani adalah salah satu faktor penentu dalam upaya percepatan ekspansi gerakan.
Dibutuhkan kader-kader yang berkualifaid, baik dari aspek spiritual, intelektual, leadership, tangguh dan militan. Sebagai pabrikan harus digencarkan program pengkaderan jalur formal dan informal yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
Berikutnya hal yang penting dan mendesak adalah aspek ekonomi dan keuangan. Gerakan fundraising harus segera dicarikan formatnya. Sudah menjadi sunnatullah bahwa dana merupakan faktor utama dan penentu dalam suksesnya perjuangan Islam.
Gerakan entrepreneurship perlu digalakkan untuk mencetak entrepreneur-entrepreneur handal dari kalangan kader Hidayatullah. Untuk menopang laju pergerakan organisasi dan diri kader dan keluarga masing-masing. Mental proposal harus secara perlahan kita tinggalkan. Kita cetak Khadijah-Khadijah baru di kalangan ummahat Hidayatullah, kita lahirkan Abdurrahman Bin ‘Auf- Abdurrahman Bin ‘Auf baru dari kalangan kader dan jama’ah Hidayatullah.
Demikianlah sekelumit catatan dalam risalah ini, sekedar sumbang pemikiran dalam perspektif kelimuan penulis yang mungkin masih kurang familiar di lingkungan internal Hihayatullah. Dengan segala khilaf dan kedhaifan yang penulis miliki, berharap agar catatan risalah ini menjadi bagian dari keragaman khazanah intelektual kita di Hidayatullah. Wallahualam.
*) Dr Irfan Yahya ST MSi,penulis adalah aktivis Hidayatullah, dosen Magister Sosiologi FISIP Unhas, dan peneliti Puslit Opini Publik LPPM Unhas
SEBAGAIMANA dipahami dari beberapa penjelasan sebelumnya, maka perlu ditegaskan kembali bahwa organisasi masa depan bukan sekadar yang berevolusi; akan tetapi entitas yang sanggup menghadapi perubahan serta mampu beradaptasi secara proaktif dan kemudian menjadi pemenangnya.
Sebab, di era dan zaman yang terus berubah dengan teknologi yang maju, tuntutan umat yang terus dinamis, dan kebutuhan stakeholder yang selalu berkembang, maka masa depan organisasi terletak pada kemampuan seluruh elemen organisasi untuk bertransformasi, berinovasi, dan menjalani siklus hidup yang berkelanjutan.
Sehingga dalam perspektif organisasi masa depan, dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat dan tepat terhadap perubahan yang bersumber dari kesadaran internal dan kemudian dipadukan dengan dinamika lingkungan eksternal organisasi.
Kemampuan untuk membaca zaman baik dalam kerangka mengenali tren, teknologi, dan perubahan orientasi umat adalah inti dari adaptabilitas itu sendiri. Hal ini tidak hanya melibatkan respons cepat terhadap perubahan, tetapi juga prediksi dan persiapan untuk perubahan di masa depan.
Kesadaran internal dalam organisasi sendiri, tidak bisa lepas dengan apa yang terjadi dalam lingkungan eksternal. Sehingga keduanya saling berhubungan. Sebab, organisasi masa depan, juga mesti mampu untuk memberikan kontribusi nyata yang relevan dengan kebutuhan umat/masyarakat di sekitarnya.
Ia bukan hanya sebagai obyek dari perkembangan zaman, namun mesti menjadi subyek sekaligus penentu yang memberikan pengaruh dan determinasi bagi peradaban umat manusia.
Gambaran organisasi masa depan yang demikian itu juga tidak saja memiliki kemandirian serta indpendensi yang kuat. Akan tetapi selalu mampu membaca arah zaman untuk memberikan solusi kehidupan umat manusia.
Sehingga, sekali lagi, dia tidak disibukkan dengan urusan domestik (internal) organisasinya sendiri, akan tetapi setiap program dan kerja-kerjanya, akan bersinggungan dan memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya, sesuai dengan skala dan tingkatan organisasi tersebut eksis.
Faktor Utama
Beberapa faktor yang dapat mengantarkan sekaligus menjadi panduan bagi sebuah organisasi menjadi leader sebagai organisasi di masa mendatang setidaknya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, Kepemimpinan yang Kuat dan Progresif
Kepemimpinan yang kuat dan progresif memiliki peran krusial dalam membimbing organisasi menuju masa depan yang dinamis dan berkelanjutan. Pemimpin yang mampu menggabungkan ketegasan dengan adaptabilitas akan memimpin tim melalui perubahan, merumuskan visi yang memotivasi, dan menggerakkan inovasi.
Dengan memprioritaskan pengembangan bakat internal, menciptakan budaya inklusif, dan berfokus pada tanggung jawab sosial, kepemimpinan progresif menciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Dalam menghadapi kompleksitas masa depan, pemimpin yang memadukan kebijakan berbasis nilai, etika bisnis, dan responsibilitas sosial dapat membentuk organisasi yang tidak hanya tangguh dan sukses, tetapi juga memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan lingkungan.
Kedua, Visi, Misi dan Tujuan yang jelas dan terukur
Visi, misi, dan tujuan yang jelas dan terukur memainkan peran kunci dalam membimbing organisasi menuju masa depan yang sukses dan berkelanjutan. Visi yang inspiratif memberikan arah dan motivasi, memandu organisasi melalui perubahan dan tantangan.
Misi yang terdefinisi dengan baik memberikan landasan bagi kegiatan sehari-hari, menegaskan identitas organisasi, dan memberikan arah strategis.
Tujuan yang terukur memungkinkan pemantauan kinerja yang efektif, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil mendukung pencapaian visi dan misi.
Dengan mengintegrasikan visi, misi, dan tujuan yang jelas, organisasi tidak hanya dapat mengoptimalkan kinerja operasionalnya tetapi juga merancang langkah-langkah strategis yang relevan dan responsif terhadap perubahan lingkungan, menjadikan langkah-langkah tersebut langkah yang signifikan menuju keberlanjutan dan kesuksesan jangka panjang.
Ketiga, Inovasi sebagai Pendorong Utama
Organisasi masa depan harus mendorong inovasi sebagai budaya inti. Inovasi bukan sekadar tentang menciptakan produk baru, tetapi juga tentang menciptakan sistem, proses, dan pendekatan baru. Perusahaan yang sukses akan mendorong kreativitas dan pemecahan masalah dalam semua aspek operasionalnya.
Keempat, Teknologi dan Transformasi Digital
Teknologi merupakan tulang punggung dari organisasi masa depan. Transformasi digital bukanlah pilihan, tetapi keharusan. Mengadopsi dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keterhubungan internal dan eksternal adalah kunci keberhasilan.
Kemampuan untuk menggunakan dan juga menciptakan teknologi tepat guna, yang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tuntutan Organisasi, akan menjadi faktor utama dalam proses transformasi digital ini. Pada saat yang sama juga melahirkan SDI (Sumber Daya Insani) yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam hal teknologi ini.
Kelima, Anggota sebagai Aset Utama
Organisasi masa depan memahami bahwa anggota, adalah aset terbesar. Investasi, melalui pelatihan yang sistemis dan berjenjang dalam pengembangan anggota serta menciptakan organisasi yang inklusif (terbuka), dan mendorong keseimbangan kerja hidup akan menjadi prioritas utama.
Demikian juga melibatkan anggota dalam dinamika organisasi, akan mempertegas bahwa keberadaan Anggota merupakan aset utama organisasi demi keberlangsungan organisasi.
Keenam, Keberlanjutan Nilai-nilai Organisasi
Organisasi masa depan tidak hanya memikirkan keuntungan finansial saat ini, atau hal-hal yang sifatnya material semata. Akan tetapi juga melihat dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dalam saat yang sama juga setiap program yang diangkat harus sejalan dengan nila-nilai (karakter/jatidiri) sebuah organisasi. Karena organisasi masa depan sesungguhnya merupakan manifestasi dari visi serta nilai-nilai dasar dari organisasi itu sendiri.
Sehingga seluruh elemen organisasi akan memperhatikan praktik dalam berorganisasi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Tantangan Menuju Organisasi Masa Depan
Tidaklah mudah untuk menjadi organisasi masa depan. Dalam perjalanannya akan menghadapi sejumlah tantangan baik yang sifatnya internal maupun eksternal Organisasi itu sendiri. Beberapa tantangan yang perlu diperhatikan setidaknya dapat diuraikan di bawah ini.
Resistensi: Resistensi internal merupakan hambatan krusial menuju organisasi masa depan. Menghadapi ketidaknyamanan perubahan, resistensi terhadap inovasi dan adaptasi sering muncul di internal organisasi. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan manajemen perubahan yang efektif, komunikasi terbuka, dan budaya organisasi yang mendukung fleksibilitas dan pertumbuhan.
Kepemimpinan Adaptif: Kepemimpinan masa depan harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan menghadapi tantangan yang belum terduga. Kepemimpinan adaptif melibatkan keterampilan membaca tren, mengelola ketidakpastian, dan memimpin tim melalui transformasi organisasional untuk mencapai tujuan jangka panjang, akan tetapi tetap memandu Organisasi agar tetap berjalan dalam koridor, visi, misi, dan tujuan serta mempertahankan nilai-nilai dasar dan jatidiri organisasi.
Kekurangan Sumber Daya: Ketersediaan sumber daya, baik finansial maupun manusia, menjadi tantangan utama. Organisasi perlu mengembangkan strategi untuk mengelola secara efisien dan berkelanjutan sumber daya yang terbatas, sekaligus memastikan kesejahteraan karyawan dan kontribusi positif pada masyarakat.
Perubahan Budaya Organisasi: Menciptakan dan mempertahankan budaya organisasi yang responsif, kolaboratif, dan inovatif menjadi tantangan kunci. Disini, pemimpin dalam semua level, harus mampu membentuk budaya yang memfasilitasi adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan.
Perubahan Teknologi: Organisasi masa depan dihadapkan pada perubahan teknologi yang cepat dan konstan, memerlukan adaptasi terus-menerus agar tetap relevan dalam lingkungan bisnis yang semakin digital.
Tantangan Keberlanjutan: Tekanan untuk beroperasi secara berkelanjutan semakin meningkat. Organisasi masa depan perlu mempertimbangkan dampak lingkungan, tanggung jawab sosial, dan praktik bisnis berkelanjutan untuk memenuhi harapan pemangku kepentingan.
Ketidakpastian Global: Perubahan politik, krisis kesehatan, dan perubahan dinamika global menciptakan ketidakpastian yang signifikan. Organisasi perlu memiliki strategi manajemen risiko yang tanggap dan fleksibel untuk menghadapi ketidakpastian ini.
Kesimpulan
Masa depan organisasi akan menjadi refleksi dari bagaimana mereka beradaptasi dan inovatif dalam menghadapi tantangan yang ada.
Organisasi yang mampu memeluk dan bersenyawa secara efektif dan selektif terhadap perubahan, mendorong inovasi, menghargai anggota dan elemen organisasi, serta berfokus pada keberlanjutan akan menjadi pionir dalam mewujudkan visi organisasi masa depan. Transformasi tidak hanya diperlukan; itu adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi dunia yang terus berubah.
Waallahu a’lam.
*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)
BULAN November 2023 membawa kebahagiaan tersendiri bagi para kader, jama’ah, dan simpatisan Hidayatullah. Organisasi Islam yang telah mengakar selama setengah abad ini akan menggelar Silaturrahmi Nasional (Silatnas), sebuah hajatan 5 tahunan yang digelar di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Hidayatullah, dengan lebih dari 600 cabang pondok pesantren di seluruh Indonesia, mensyukuri pencapaian besar ini, dan Silatnas menjadi puncaknya.
Acara yang akan berlangsung dari tanggal 23 hingga 26 November mendatang ini diharapkan menjadi momen kultural yang mengakar kuat, memberikan harapan baru, dan mentransformasikan ukhuwah islamiyah ke dimensi yang lebih luas.
Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, dalam wawancara dengan majalah Suara Hidayatullah edisi November 2023, menegaskan bahwa Silatnas bukan hanya sekadar pertemuan rutin.
Ia melihat Silatnas sebagai momentum bagi para kader, jama’ah, dan simpatisan untuk merenung, mengafirmasi diri, dan menguatkan ukhuwah islamiyah, baik secara pribadi maupun sebagai komunitas.
Menurut KH. Abdurahman Muhammad, jatidiri Hidayatullah yang esensial adalah menjadi “jama’atul minal muslimin,” di mana kekuatan sebuah jama’ah terletak pada kualitas ikatan di antara anggotanya dan bagaimana ia dialirkan ke dimensi yang lebih luas dalam kehidupan.
Silatnas diharapkan menjadi panggung inspirasi di mana para peserta dapat merasakan kekuatan ukhuwah dan memahami urgensi peran masing-masing dalam dakwah.
Namun, apa yang diperlukan untuk mempersiapkan diri menuju Silatnas? Ini saya pikir satu pertanyaan penting, dan, menariknya, Pemimpin Umum Hidayatullah juga memberikan wejangannya yang dinukil masih dari sumber yang sama.
Proses memperkuat ukhuwah bukanlah perkara sebentar. KH. Abdurrahman Muhammad memberikan kiat berharga, seperti saling memberi nasehat, berbagi pengalaman, bahkan memberikan hadiah sederhana seperti gula-gula, karena kebersamaan bukan hanya pada saat kesulitan tetapi juga dalam keceriaan. Bahkan, sekadar senyum saja, sesuai ajaran Rasulullah, juga sebagai bentuk sedekah.
Dengan perkiraan partisipasi 20.000 kader, jama’ah, dan simpatisan Hidayatullah dari seluruh Indonesia, Pemimpin Umum berharap agar setiap tamu dapat maksimal dalam mengikuti rangkaian acara yang telah disusun oleh panitia. Silatnas diharapkan menjadi tonggak inspiratif yang meninggalkan jejak positif dalam diri setiap peserta.
Namun, sambil mensyukuri dan merefleksi keberhasilan setengah abad yang telah lalu, Hidayatullah juga harus menatap masa depan. Menuju 50 tahun kedua, persiapan yang lebih matang diperlukan.
Tantangan zaman yang semakin kompleks memerlukan para da’i yang berkualitas. Untuk itu, semangat tinggi, peningkatan pengetahuan melalui membaca dan menulis, serta partisipasi aktif dalam forum diskusi ilmiah menjadi kunci.
Melalui langkah-langkah tersebut, para da’i diharapkan dapat tampil lebih percaya diri, menghadapi tantangan zaman, dan tetap relevan dalam dakwah di tengah masyarakat yang semakin inklusif.
Silatnas bukan hanya sebagai puncak perayaan, tetapi juga sebagai batu loncatan menuju perjalanan Hidayatullah yang lebih cemerlang dan berdaya tahan dalam menguatkan ikatan ukhuwah dan meneguhkan khidmatnya untuk agama, bangsa, dan dunia.
*) Adam Sukiman At Tiniji,penulis adalah Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta