Beranda blog Halaman 255

Mushida Gelar Diklat Guru Se-Kaltimteng Tingkatkan Profesionalisme PAUD

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi tuan rumah penyelenggaraan pendidikan dan latihan (diklat) Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selama 6 hari di Balikpapan, 7-11 Rabi’ul Awal 1445 (23-27/09/2023).

Acara yang digelar di Asrama Haji Manggar, Batakan, Balikpapan, ini mengusung tema, “Meningkatkan Kompetensi Profesionalitas Kepala Sekolah dan Guru PAUD Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Tauhid Pada Proses Pembelajaran”.

Diklat yang digelar di bawah koordinasi Departemen Pendidikan (Depdik) Wilayah Mushida Kalimantan Timur ini bekerja sama dengan Ikatan Kepala Sekolah PAUD Mushida (IKPM) dan Ikatan Guru PAUD Mushida (IGPM) Kaltim. Diklat ini merupakan pelatihan Tahap 1 & 2 yang diikuti oleh Kepala Sekolah dan Guru Se-Kaltim dan Tengah (Kaltimteng).

Ketua Panitia, Ustadzah Muthmainnah, dalam keterangannya mengatakan kegiatan ini merupakan follow up dari pelatihan serupa yang selenggarakan oleh Tim Badan Pengembangan Mutu (BPM) PAUD Mushida di Yogyakarta dan Surabaya beberapa bulan lalu yang diikuti oleh Kepala Sekolah dan Waka Kurikulum perwakilan wilayah dari seluruh Indonesia.

“Output dari pelatihan ini melahirkan instruktur instruktur yang diterjunkan langsung di wilayahnya masing-masing dengan terlebih dahulu di-coaching oleh pendamping dari Tim BPM PAUD Mushida Pusat,” kata Muthmainnah.

Untuk Wilayah Kaltim sendiri pendamping dari PP Mushida Pusat adalah Ustadzah Rita Sahara, S.Psi., M.Pd. Tercatat sebanyak 46 peserta dari Kaltim, ditambah 7 peserta dari Kalteng yang hadir pada kegiatan tersebut.

Muthmainnah menambahkan, ada beberapa tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini, yaitu meningkatkan profesionalitas dan kompetensi kepala sekolah dan guru PAUD se-Kaltimteng, penguatan standardisasi layanan dan mutu PAUD se-Kaltim, sosialisasi kurikulum KIBT PAUD yang telah disempurnakan, dan diharapkan semakin meningkatkan pemahaman kurikulum KIBT.

Meski kegiatan ini amat padat dari pagi sampai malam, namun peserta di ruang guru dan di ruang kepala sekolah tampak begitu antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Bisa dikatakan kegiatan lima hari merupakan pelatihan dengan materi paket komplet, apalagi peserta juga diberi kesempatan untuk observasi langsung ke TK Mardhatillah Karang Bugis untuk melihat Proses KBM berlangsung.

“Harapannya seluruh materi yang telah didapatkan pada pelatihan ini, dapat diterapkan secara merata di seluruh PAUD yang ada di Kaltim dan Kalteng,” kata Muthmainnah.

Pada dua hari terakhir, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman sebanyak banyaknya kepada dua pemateri dari Surabaya, yaitu Ustadzah Wida Almaida, M.Pd (Tim BPM Paud Pusat, Direktur PAUD Hidayatullah Surabaya) dan Ustadzah Fifien Wahyu Wulandari, S.Pd (Waka Akademik KB-TK Yaa Bunayya Surabaya). Peserta tampak memanfaatkan momen sharing ini sebaik mungkin.*/Mujtahidah, Guru KB-RA Ummulqura Balikpapan

Sinergi Tokoh Adat, Budaya, Agama dan Pemerintah untuk Sumsel Zero Conflict

0

PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel) bersama tokoh adat, budaya, dan agama menggelar dialog untuk mendorong kondusivitas dan stabilitas daerah di Kota Palembang, Senin, 9 Rabi’ul Awal 1445 (25/9/2023).

Dialog yang diprakarsai Sekretariat Daerah Pemprov Sumsel ini digelar di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, bertema “Dialog Tokoh Adat, Budaya, dan Agama dalam Mendukung Kondusivitas dan Stabilitas Daerah Mewujudkan Sumsel Zero Conflict”.

Dalam dialog tersebut, para tokoh adat, budaya, dan agama, dan pemerintah bersepakat untuk berperan aktif dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di Sumsel. Mereka juga berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan Sumsel Zero Conflict.

“Kami akan bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah. Kami juga akan terus menebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi,” kata Ustadz Lukman Hakim, Ketua DPW Hidayatullah Sumsel saat dimintai komentar terkait kegiatan tersebut.

Mewakili Pemprov Sumsel, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumsel, Drs. H. Edward Chandra, M.H. menyambut baik dialog tersebut. Ia berharap dialog ini dapat menjadi forum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat Sumsel.

“Dialog ini sangat penting untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat Sumsel. Saya berharap para tokoh adat, budaya, dan agama dapat terus bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan Sumsel Zero Conflict,” ujarnya.

Selain dihadiri oleh Sekda Prov Sumsel, dialog tersebut juga dihadiri oleh Kapolda Sumsel, Pangdam II/Sriwijaya, BNN Provinsi Sumsel Kejaksaan Tinggi, Pengadilan Tinggi, dan jajaran Pemprov Sumsel.

Dalam dialog tersebut, para tokoh adat, budaya, dan agama juga membahas berbagai hal terkait dengan upaya menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah. Mereka juga membahas berbagai permasalahan sosial yang dapat berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat.

Para tokoh adat, budaya, dan agama bersepakat untuk terus bersinergi dalam upaya menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah Sumsel. Mereka juga berkomitmen untuk terus menebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi.

Peran Tokoh Adat, Budaya, dan Agama

Tokoh adat, budaya, dan agama memiliki peran penting dalam menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah. Mereka memiliki pengaruh yang besar terhadap masyarakat dan dapat menjadi teladan dalam menjaga kerukunan dan kedamaian.

Dalam dialog tersebut, para tokoh adat, budaya, dan agama bersepakat untuk terus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam upaya menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah. Mereka juga berkomitmen untuk terus menebarkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi.

Contoh Peran Tokoh Adat, Budaya, dan Agama

Ada banyak contoh peran tokoh adat, budaya, dan agama dalam menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah.

Berikut ini adalah beberapa contohnya:

Mediasi konflik

Tokoh adat, budaya, dan agama dapat berperan sebagai mediator dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di masyarakat. Mereka dapat menggunakan pengaruh mereka untuk meredam ketegangan dan mencari solusi yang adil bagi kedua belah pihak.

Penyebaran pesan perdamaian dan toleransi

Tokoh adat, budaya, dan agama dapat berperan sebagai agen perdamaian dan toleransi. Mereka dapat menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi melalui berbagai media, seperti ceramah, khotbah, dan kegiatan sosial.

Pemberdayaan masyarakat

Tokoh adat, budaya, dan agama dapat berperan sebagai pemberdaya masyarakat. Mereka dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan potensinya dan meningkatkan kesejahteraannya.

Sumsel Zero Conflict

Sumsel Zero Conflict adalah program pemerintah Provinsi Sumsel untuk mewujudkan daerah yang kondusif dan stabil. Program ini bertujuan untuk mencegah dan mengatasi konflik sosial yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.

Dialog tokoh adat, budaya, dan agama yang digelar pada 25 September 2023 merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Sumsel Zero Conflict.

Dialog ini diharapkan dapat menjadi forum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat Sumsel, serta mendorong upaya menjaga kondusivitas dan stabilitas daerah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Terus Kuatkan Sinergi, Kedekatan TNI dengan Pesantren Hidayatullah

0
Kampus Induk Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak dijadikan sebagai salah satu lokasi peringatan HUT Ke-78 TNI Angkatan Laut (AL) lewat kegiatan Ekspedisi Maritim 2023, Sabtu (9/9/2023).* [Foto: SKR/Media Silatnas Hidayatullah/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Bulan Oktober 2023 merupakan hari ulang tahun ke-78 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selama ini, Hidayatullah dikenal dekat dan turut berpartisipasi aktif bersama TNI dalam membangun NKRI.

Begitu pula di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Misalnya, awal tahun ini, Panglima TNI Laksamana TNI H. Yudo Margono, S.E., M.M., C.S.F.A. menyambangi Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak (20/1/2023).

Beberapa waktu lalu, pengurus Ponpes Hidayatullah bersama Panitia Silatnas Hidayatullah bersilaturahim dengan Kodim 0905/Balikpapan.

Yang menarik pula, baru-baru ini, wilayah Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak dijadikan sebagai salah satu lokasi peringatan HUT Ke-78 TNI Angkatan Laut (AL) lewat kegiatan Ekspedisi Maritim 2023, Sabtu (9/9/2023).

Tampak ratusan peserta Ekspedisi Maritim 2023 bermotor dan bermobil meramaikan kegiatan itu.

“Mereka kumpul depan masjid ini (kapsul kampus),” ujar salah seorang petugas keamanan Ponpes Hidayatullah Balikpapan, Abu Bakar.

Para peserta Ekspedisi Maritim 2023 dalam rangka HUT Ke-78 TNI AL itu berkumpul sejak sekitar pukul 14.00 WITA di Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura.

Pesantren tersebut dijadikan titik kumpul sebelum para peserta Ekspedisi Maritim 2023 menuju titik finish ekspedisi di Pantai Lamaru Balikpapan. Mereka sebelumnya berangkat dari dua titik start, yaitu Kota Tarakan (Kalimantan Utara) dan Kota Pontianak (Kalimantan Barat).

Tak pelak, kehadiran para pemotor dan pemobil itu menarik perhatian warga pesantren, mulai dari bapak-bapak, para ustadz, mahasiswa, hingga santri cilik.

Pelepasan rombongan Ekspedisi Maritim 2023 dari Pesantren Hidayatullah ke Pantai Lamaru dihadiri langsung oleh Danlanal Balikpapan Kolonel Laut (P) Hendriman Putra, sore hari.

Hadir menyambut kehadiran para tamu yaitu sejumlah pengurus pesantren, antara lain Ketua YPPH Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar dan Kabiro Humas YPPH Ustadz Hidayat Jaya Miharja.

“Kegiatan ekspedisi ini dalam rangka semarak HUT TNI AL ke-78,” ujar Danlanal Balikpapan Kolonel Laut (P) Hendriman Putra saat diwawancarai Media Silatnas Hidayatullah usai beramah tamah dengan pengurus Pesantren Hidayatullah bakda acara tersebut.

Ia mengungkapkan, dipilihnya Pesantren Hidayatullah sebagai tempat pelepasan peserta Ekspedisi Maritim itu karena ormas Hidayatullah dekat dengan TNI, baik Angkatan Darat, Angkatan Udara, maupun Angkata Laut.

“Hidayatullah yang kita pilih sebagai tempat untuk melepas 200 orang dari komunitas motor ini, karena memang kita merasa kedekatan dengan Hidayatullah itu sendiri. Dan Hidayatullah juga dikenal baik oleh kalangan TNI,” pungkasnya.* (Abana/Media Silatnas Hidayatullah/MCU)

Podcast Bersama Penyelenggara Zakat Wakaf Kemenag Kota Gorontalo

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Program podcast atau siniar spesial yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo menghadirkan tiga tokoh penting dalam bidang zakat, wakaf, dan pemberdayaan ekonomi ummat telah sukses diselenggarakan, Rabu, 24 Rabi’ul Awal 1445 (10/10/2023).

Acara tersebut mempertemukan Qohar, Penyelenggara Zakat Wakaf Kemenag Kota Gorontalo, Hasyrul, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Dungingi, serta Akbar Novit Daud, perwakilan dari Lembaga Amil Zakat Nasional BMH Perwakilan Gorontalo.

Podcast ini mengangkat topik yang sangat relevan, yaitu Program Pemberdayaan Ekonomi Ummat melalui dana zakat dan wakaf.

Diskusi dalam podcast ini diharapkan dapat memberikan pandangan yang lebih jelas kepada masyarakat tentang peran zakat dan wakaf dalam memajukan ekonomi umat.

Qohar, sebagai Penyelenggara Zakat Wakaf Kemenag Kota Gorontalo, membuka podcast dengan memberikan wawasan tentang pengelolaan dana zakat dan wakaf di wilayahnya.

Ia menjelaskan berbagai program yang telah dijalankan untuk memanfaatkan dana tersebut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Qohar juga berbagi kisah sukses beberapa individu yang berhasil meraih pemberdayaan ekonomi melalui bantuan zakat dan wakaf.

Selanjutnya, Hasyrul, Kepala KUA Dungingi, memberikan perspektif dari sudut pandang agama dan keislaman.

Beliau menyoroti pentingnya zakat dan wakaf dalam Islam dan bagaimana pengelolaan dana ini dapat membantu masyarakat yang membutuhkan.

Hasyrul juga menggambarkan upaya KUA Dungingi dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi umat melalui kerja sama dengan lembaga zakat dan wakaf.

Akbar Novit Daud, sebagai perwakilan BMH Gorontalo, memberikan gambaran lebih luas tentang peran BMH dalam proses Pendampingan Program Permberdayaan Ekonomi Ummat.

Novit membagikan beberapa studi kasus dan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi ummat hasil dari pendampingan yang telah dilakukan oleh BMH di Gorontalo.

Diskusi yang hangat dan penuh wawasan ini mencerminkan semangat kolaborasi antara Kementerian Agama, KUA, dan Laznas BMH dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi.

Podcast ini juga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana zakat dan wakaf dapat menjadi instrumen yang efektif dalam memerangi kemiskinan dan ketidaksetaraan ekonomi.

“Diharapkan podcast ini akan menginspirasi lebih banyak pihak untuk berperan aktif dalam mendukung program pemberdayaan ekonomi umat melalui zakat dan wakaf, serta memotivasi masyarakat untuk berkontribusi dalam upaya ini guna menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan berkeadilan di Kota Gorontalo,” tutur Novit optimis.*/Herim

OJK Gandeng Mushida-BMOIWI Gelar Sicantik Tingkatkan Indeks Literasi Keuangan Syariah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Sakinah Finance menggandeng organisasi Muslimat Hidayatullah yang tergabung dalam Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) dengan menggelar Program Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (SICANTIKS) yang digelar di Hotel Vertu Harmoni, Jalan Hayam Wuruk, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 24 Rabi’ul Awal 1445 (10/9/2023).

Sebelumnya, helatan SICANTIKS ini telah sukses digelar di Kota Bandung pada 14 September 2023 dengan jumlah peserta muslimah sebanyak 600 orang.

Pada SICANTIKS Batch 2 ini, penyelenggara menambah kapasitas peserta hingga 1200 orang. Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan literasi dan inklulsi keuangan syariah di Indoneisa khususnya bagi para ibu.

Gelaran di Jakarta ini diikuti sebanyak 1000 orang secara tatap muka dan 200 peserta secara daring yang terdiri dari pimpinan, pengurus, penceramah (mubalighah/ ustadzah) serta perwakilan anggota aktif kelompok Majelis Taklim serta Organisasi Massa Nasional Muslimah berkedudukan di Jakarta.

Pada acara tersebut hadir Asisten Daerah Bidang Perekonomian Dan Keuangan Provinsi Dki Jakarta Sri Haryati, Direktur Manajemen Strategis dan Kemitraan Pemerintah Daerah Kantor Regional 1 DKI Jakarta dan Banten Sabarudin serta Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi.

Helatan ini kian semarak dengan kehadiran perwakilan dari organisasi serta majelis muslimah seperti Musimat Hidayatullah (Mushida), Salimah, Al Irsyad Al Islamiyyah, MT Al Ikhlas, DPP Al Hidayah, MT Baitus Salam Pasar Minggu, Aisiyah DKI Jakarta, Aisiyah PCA Tugu, Al Hidayah, Al Irsyad Al Islamiyyah Depok, Aliansi Perempuan Peduli Indonesia, Alisha Khadijah, Anggota Koperasi Kemensos, dan Anggota Muslimat Mathlaul Anwar.

Berikutnya ada Angkatan Putri Alwashliyah, Aromil Jakbar, BKMM, BKMT, Daiyat Parmusi, Bunda Sholiha Kota Bekasi, Bundo Kandung Tangsel, DPP Al Hidayah, Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) dan masih banyak lagi yang turut mensukseskan acara SICANTIKS Bacth 2 Jakarta.

Tak hanya itu, di acara SICANTIKS dilakukan Penandatanganan Deklarasi Perempuan/Ibu untuk siap mendukung, berkolaborasi, dan berperan aktif untuk meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah bersama OJK.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyematan Selempang Duta Literasi Perempuan Keuangan Syariah oleh KE PEPK, Friderica Widyasari Dewi kepada 5 orang, diantaranya Ustadzah Hani Akbar (PP Muslimat Hidayatullah), Hajjah Mirna Rafki (Majelis Muslimah Andalusia), Ustadzah Sinta Santi Usmandin (PP Salimah), Hajjah Lea Sri Endari Irawan (Kemanusiaan ESQ), dan Ustadzah Hj Latifah Abdussomad (Yayasan Rumah Bunda).

Yang tak kalah menarik, Pembicara yang mengisi Acara inti SICANTIKS, yaitu Ismail Riyadi, selaku Kepala Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah, Henky Oktavianus, selaku Direktur Ritel dan Syariah PT Bank DKI, Beni Martina Maulan selaku Senior Vice President PT Pegadaian, serta Murniati Mukhlisin (Madam Ani), selaku Pendiri Sakinah Finance. (ybh/hidayatullah.or.id)

Maulid Nabi Muhammad di Masjid Baitul Anwar Komplek Kantor Pemprov Sulbar

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Majene, KH. Abdul Rahman Hasan, S.Pd.I, menyampaikan hikmah maulid pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam tahun 1445 H/2023 M dengan tema “Meraih Syafaat dengan Aktualisasi Cinta Nabi” di Masjid Baitul Anwar, Kompleks Kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov), Jalan Abdul Malik Pattana Endeng, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Sabtu, 21 Rabi’ul Awal 1445 (7/10/2023).

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Pj Gubernur Sulbar Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh S.H., M.H. Pada perayaan maulid tersebut juga hadir Ketua DPRD Sulbar, Suraidah Suhardi , para Asisten, Staf Ahli , pimpinan OPD lingkup Pemprov Sulbar dan lainnya. Tampak juga hadir Danrem 142/Tatag Brigjen TNI Deni Rejeki, S.E., M.Si .

Dalam sambutannya Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh mengatakan bahwa Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momen untuk senantiasa mengingatkan dan meneladani nilai-nilai kenabian, termasuk kedermawanan Rasulullah SAW.

Dia menjelaskan, tema maulid tahun ini adalah Meraih Syafaat dengan Aktualisasi Cinta kepada Nabi. Dari tema itulah Prof Zudan mengharapkan seluruh umat mengaktualisasikan cinta kepada nabi.

Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh menyebutkan empat sifat wajib Rasulullah yang sangat perlu diteladani yaitu Shiddiq artinya selalu benar dan jujur, tablig adalah sifat wajib bagi rasul yang menyampaikan, dan sikap fathanah adalah berarti pintar, cerdik, dan cerdas, serta amanah yaitu menjaga sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) orang lain dengan penuh tanggung jawab.

“Dengan aktualisasi pada rasul. Amanah ini tidak ringan. Mari kita implementasikan nilai nilai kenabian dalam kehidupan kita dengan menyayangi sesama. Jaga keluarga, jaga tetangga kita.” katanya.

Berikutnya, terang Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh, adalah meneladani kedermawanan Rasulullah SAW dengan selalu membangun budaya berbagi.

“Yang tidak bisa sekolah kita bantu, yang stunting kita bantu, yang tidak bisa makan kita bantu. Inilah keteladanan Rasulullah yang perlu kita bumikan,” tutupnya.

Menegaskan apa yang diutakakan Pj Gubernur Sulbar Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh S.H., M.H., dalam ceramahnya KH. Abdul Rahman Hasan menyampaikan bahwa kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW hendaknya dapat meneladani ajaran-ajaran yang disampaikan olehnya.

“Mari kita meneladani kehidupan Rasulullah dan mencontoh akhlak beliau dalam kehidupan bernegera dan bermasyarakat serta selalu meningkatkan keimanan dan Ketaqwaan kehadirat Allah Ta’ala,” kata Abdul Rahman.

Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat ini mengatakan kalau kita meneladani sifat Rasulullah Insya Allah di Sulawesi Barat tidak ada yang miskin, kenapa, karena Rasulullah itu adalah sosok dermawan.

Acara yang berlangsung semarak penuh khidmat tersebut juga diisi dengan lantunan lagu-lagu Islami oleh Group Marawis Sulbar. (ybh/hidayatullah.or.id)

Gaza, Blokade 17 Tahun, dan Satu dari Tiga Masjid Suci Kita

0
Foto: Ahmad Gharabli/AFP

Oleh Tim Peneliti ISA*

SAAT ini perhatian dunia kembali tertuju pada Gaza, Baitul Maqdis, dan Masjidil Aqsha. Apa yang terjadi saat ini tidak bisa dilihat sebagai suatu peristiwa terpisah sebagai serangan dan reaksi balasan dari pihak rakyat Palestina dan penjajah Zionis ‘Israel’ saja. Akan tetapi, ini adalah bagian dari lapisan konteks sejarah panjang, geopolitik, hukum internasional, kemanusiaan, termasuk juga bagian dari akidah.

Penting untuk dicatat bahwa jarak antara Gaza dan Masjidil Aqsha di kota Baitul Maqdis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jarak antara Jakarta dan Bogor. Akan tetapi, selama 17 tahun ini, rakyat Gaza hampir tidak mungkin memasuki Masjidil Aqsha karena Gaza dikepung ketat, menjadi penjara terbesar di dunia. Hampir dua dekade, Zionis memblokade Gaza dari segala arah, baik dari darat, laut, maupun udara.

Meski dalam kondisi seperti ini, Gaza adalah wujud sesungguhnya dari Murabith (penjaga) Masjidil Aqsha, tidak tunduk berlutut dengan makar-makar dari para penjajah, termasuk makar Deal of the Century yang bertujuan mengubah fungsi Masjidil Aqsha sebagai tempat peribadatan antarumat beragama. Gaza melanjutkan perjuangan Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam yang tidak tinggal diam saat Masjidil Aqsha dalam kondisi dijajah dan dinistakan.

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam mengemban amanah kenabian di Mekkah, beliau baru mengenal dua masjid suci bagi umat Islam. Masjid yang lokasinya di kota tempat beliau tinggal, yaitu Masjid Al-Haram. Serta masjid lain di tempat yang sangat jauh dari tempat kelahirannya, di sebelah utara Jazirah Arab, yakni Masjid Al-Aqsha. Kemudian, setelah berhijrah ke Madinah, beliau mendirikan masjid suci lainnya di kota Nabi yang dinamakan, Masjid Nabawi.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam terhubung dengan Masjid Al-Aqsha sejak awal periode kenabiannya, sebab merupakan kiblat salat beliau. Inilah masjid suci yang menjadi kiblat pertama Nabi kita dan juga umatnya. Jika kita menganalisis sejarah kehidupan beliau hingga wafatnya, mayoritas usia beliau salat menghadap masjid di wilayah Baitul Maqdis ini.

Perintah pemindahan arah kiblat, yang tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 144, turun pada waktu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam sudah tinggal di Madinah. Bahkan, sebuah Hadis Sahih memerinci informasinya, yaitu arah kiblat berubah setelah 16 atau 17 bulan beliau hijrah, atau bisa dihitung kurang lebih 1,5 tahun. Apa maknanya? Selama 13 tahun periode Mekkah beliau terhubung secara spiritual ke Masjid Al-Aqsha.

Kemudian ditambah lagi 1,5 tahun sesudah hijrah, baginda Nabi kita di Madinah tetap salat menghadap kiblat pertamanya. Maka, bisa kita hitung bersama bahwa Nabi salat menghadap ke Masjid Al-Aqsha selama 14,5 tahun. Ini artinya sebagian besar dari 23 tahun periode kenabiannya, beliau salat menghadap Masjid Al-Aqsha. Oleh karena itu, jelas betapa kuatnya ikatan keimanan antara Nabi kita dengan masjid lokasi peristiwa Isra Mi’raj ini.

Seorang Murabith di Masjidil Aqsha pernah berkata, “Ketika kita memiliki tiga orang anak, maka cinta kita sebagai orang tua akan merata kepada semuanya. Namun, ketika salah satu dari tiga anak kita ada yang sakit, maka kita akan mencurahkan perhatian kepada satu anak itu sampai dia sembuh. Alhamdulillah, saat ini dua masjid suci umat Islam, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam keadaan aman. Tetapi, sadarkah kita bahwa tahun ini Masjid Al-Aqsha sudah 106 tahun dalam kondisi terjajah dan dinistakan oleh Zionis?”

Jadi, sudah seharusnya saat ini kita mencurahkan perhatian ke Masjidi Al-Aqsha yang “sedang sakit” dan ikut berusaha untuk menyembuhkannya dengan apa pun yang kita mampu. Tentunya dengan mengikuti apa yang dicontohkan oleh teladan utama kita Rasullullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Itulah pegangan kita, pegangan rakyat Gaza, pegangan pejuang Baitul Maqdis dalam melihat apa yang terjadi pada satu dari tiga masjid suci dalam Islam.

Tanyakan apa yang akan kita lakukan jika hal yang sama terjadi pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Apakah kita akan diam? Lihatlah semua peristiwa dengan kacamata pemahaman ini, kacamata keimanan, kacamata kemanusiaan. Maka, pendirian kita pun tidak akan goyah, meski media dan makar-makar mengatakan sebaliknya.

*) Ditulis oleh Tim Peneliti Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) yang dikutip dari laman sahabatalaqsha.com dan Instagram institutalaqsha

Hidayatullah Bintan Gelar Pengajian dan Makan Siang bersama Wali Santri

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok pesantren Hidayatullah kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, tidak hanya fokus pada pendidikan dan pembinaan para santri tetapi juga aktif melakukan pembinaan kepada para orang tua santri. Ahad, 7 Oktober 2023,

Para santri dan orang tua menyesaki masjid Al Mujahadah di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan.

Semarak silaturrahim ini dirangkai juga pengajian rutin bulanan yang dibawakan Ust. Humeydi, S.Pd.I, pimpinan Ponpes Hidayatullah Bintan.

Dalam paparannya, pria yang akrab disapa Ustadz Meydi ini menekankan pentingnya mendahulukan adab daripada ilmu.

“Kita biasakan para santri untuk hormat dan patuh pada guru, ustadz dan murabbi di pondok, dan adab lainnya, agar kebiasaan ini bisa dibawa ke rumah, sehingga mereka juga menghormati orang tua atau orang yang lebih tua,” terang Meydi.

Setelah pengajian, dilanjutkan makan bersama orang tua santri dan para santri serta pengurus.

Tampak kebahagiaan para orang tua dan para santri serta pengurus yang berbaur di teras masjid dan di bawah pohon yang rindang untuk menikmati hidangan santap siang.

Salah seorang wali santri, Ricky, menyambut antusias kegiatan yang telah rutin dilakukan ini.

Alasannya, kata Ricky, dapat mempererat hubungan antara pengurus dan wali santri dan sesama wali santri. Demikian juga dengan pengajian yang memberikan pencerahan dan pengetahuan kepada para wali santri.

Ponpes Hidayatullah Bintan dihuni sekira 100 santri putra, berbagai prestasi baik alademik tingkat kabupaten maupun provinsi berhasil diukir para santri, termasuk di bidang olahraga, prestasi para santrinya juga menonjol.

Beberapa pekan lalu salah seorang santrinya tampil di kejurnas silat di Padang, Sumatera Bara.

“In sya Allah bulan depan salah seorang santri kita akan menamatkan hafalannya 30 juz setelah 1 tahun lebih nyantri di Hidayatullah Bintan,” pungkas ustadz Meydi.*/Jihos Andy

Dua Peserta Peraih Predikat Mumtaz DMW Jatim Diganjar Tiket Gratis ke Silatnas

MAGETAN (Hidayatullah.or.id) — Gelaran Daurah Marhalah Wustha (DMW) Jawa Timur yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah Magetan menyudahi sesi urgen itu dengan memberikan hadiah berupa tiket gratis ke acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2023 di Balikpapan pada 23-26 November 2023 bagi dua peserta peraih predikat mumtaz.

“Mereka berdua adalah Nashrullah Zuhdi dari Madiun dan Sulaiman Hasan dari Surabaya,” terang Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ustadz Sholeh Usman,M.I.Kom, Ahad, 22 Rabi’ul Awal 1445 (8/10/2023).

Sulaiman Hasan pun menuturkan bahwa dirinya tidak menyangka dan tidak menargetkan apa yang diraihnya dalam DMW.

“Cuma semalam, Abah Zain menunjuk saya. Beliau katakan saya tunggu di Silatnas. Alhamdulillah, paginya dapat hadiah ini, luar biasa sekali rasanya,” tutur pria murah senyum itu.

Sementara Nashrullah Zuhdi juga tampak sangat bahagia begitu mendalam. Baginya ini hadiah yang tak pernah ia dua.

Ketua DPW HIdayatullah Jawa Timur, Ustadz Amun Rowi menuturkan bahwa hadiah itu sebagai apresiasi atas upaya kader memahami jati diri dan manhaj dengan baik.

“Mereka meraih mumtaz hari ini di DMW Magetan adalah hasil upaya yang tidak biasa. Jadi, sebagai calon penerus perjuangan dakwah, saya rasa mereka berhak mendapatkan apresiasi itu,” tuturnya usai acara semringah.

Sesi penutupan DMW Magetan menghadirkan Anggota Dewan Pertimbangan Pusat Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman. Beliau berpesan kader itu harus berperean bukan jadi korban.

“Kader itu harus menjadi fa’il, bukan maf’ulun bih,” tegasnya menggetarkan suasana.* (ybh/hidayatullah.or.id)

DMW di Magetan Kuatkan Kekaderan dan Bangun Perspektif Konstruktif

0

MAGETAN (Hidayatullah.or.id) — Daurah Marhalah Wustho (DMW) yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Magetan, Jawa Timur, memberikan kesan mendalam bagi para peserta.

Hal itu tergambar dari sesi diskusi kelompok yang secara bahasa menunjukkan peningkatan gagasan dan cara menjelaskan gagasan.

“Lebih jauh, substansi dari gagasan peserta mulai tajam dan applicable,” ungkap Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ustadz Sholeh Usman, M.I.Kom.

Materi jati diri dan manhaj berhasil membentuk kemampuan berpikir komprehensif peserta, sehingga bisa memberikan pandangan terhadap fenomena dan realita keummatan dan kebangsaan dalam perspektif yang konstruktif.

Salah seorang peserta, M. Fadlillah, mengatakan kita sebagai dai harus mampu melihat fenomena politik sebagai bahan belajar dan pencerahan keummatan.

Karena, lanjutnya, politik sangat dinamis, sedangkan masyarakat ada yang apatis ada yang optimis dan ada yang oportunis. Menurut Fadlillah, prinsip politik sama dengan prinsip hidup, yakni harusnya mengendepankan kejujuran dan tanggungjawab.

“Kalau umat paham seperti itu, maka umat tidak akan mudah terprovokasi kepentingan politik yang destruktif,” tutur dai muda asal Ngawi ini, Sabtu, 21 Rabi’ul Awal 1445 (6/10/2023).

Sementara itu dari sisi peningkatan pemahaman akan jati diri dan manhaj juga terekam sangat baik. Usai mengikuti rangkaian kegiatan, peserta banyak yang meningkat pemahamannya. Demikian misalnya dirasakan Imam Muslim.

“Saya bersyukur, ikut DMW di Magetan. Karena saya semakin paham tentang jati diri Hidayatullah dan manhaj, menjadikan saya sangat bahagia dan mantap. Semua tentu karena ilmu yang disampaikan oleh para instruktrur di sini,” ungkap Imam Muslim, peserta asal Surabaya ini.

Tidak hanya peserta, Dewan Murobbi Wilayah Jawa Timur, Ust. Baihaqi Abdul Wahid,, Lc, juga menyampaikan bahwa Daurah Marhalah Wustho kali ini berjalan optimal dan peserta berhasil fokus maksimal.

“Alhamdulillah peserta sangat antusias dan berhasil disiplin dengan maksimal. Ini bisa dilihat dari perkembangan pemahaman yang terekam dan terdata, sampai pada ujian sesi akhir, peningkatan itu tampak sekali dari hasil jawaban mereka,” tuturnya.

Pada kesempatan ini Nashrullah Zuhdi, berhasil menjadi peserta terbaik dengan predikat Mumtaz, disusul oleh Sulaiman Hasan, pria asli NTT.

Kemudian ada Indokhul Makmun, Agung Budi Setiawan, Dedi Eko Susilo, semuanya mendapat peredikan Jayid Ziddan.

Pada sesi pamungkas pemberian penghargaan peserta terbaik, Ust. Zainuddin Musaddad memberikan penguatan terhadap forum DMW itu.

“Selama tiga hari kita telah sama-sama belajar. Jati diri dan manhaj itu teori. Tetapi malam ini kita temukan orang yang siap memanivestasikannya,” kata Abah Zain, panggilan akrabnya.

“Antum berlima di depan dan seluruh peserta adalah gambaran nyata bahwa hari ini ada orang yang siap menjalani hidup dengan jati diri dan manhaj lembaga. Akan menjadi kuat konsep dan teori jika ada yang siap memperjuangkannya. Nah, kita semua punya tanggungjawab itu,” terangnya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)