Beranda blog Halaman 297

[Download Khutbah Jumat] Sikap Terbaik Menghadapi Penjajahan Masjidil Aqsha

KEBERADAAN negara penjajah bernama Israel. Penjajahan Masjidil Aqsha, kota Baitul Maqdis, dan Palestina bukan penjajahan biasa. Yang dijajah ini salah satu Pusat Peradaban Tauhid bagi seluruh insan. Kiblat Pertama manusia. Masjid Suci Ketiga. Markaznya Para Nabi dan Rasul. Pintu Langit pada Peristiwa Israa’ Mi’raj.

Penjajahan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis ini juga bukan baru pertama kali terjadi. Dari zaman ke zaman, penjajahan ini merupakan bagian dari cara Allah mendidik umat Islam. Agar lahir dan bangkit kesadaran aqidahnya, kesadaran ilmunya, kesadaran martabat atau ‘izzahnya, yang kemudian melahirkan generasi baru Umat Islam yang lebih kuat dan berwibawa.

Lalu bagaimana sikap terbaik kita menghadapi penjajahan atas Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis dan Palestina?

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Dzikrullah W. Pramudya, Unduh sekarang:

Posdai Dampingi Tim IERA Kunjungi Suku Togutil Pedalaman Tidore Kepulauan

MALUKU UTARA (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bersama BMH dampingi kunjungan tim Islamic Education & Research Academy (iERA) iera.org menjumpai muallaf suku Togutil di Tidore Kepulauan, Maluku Utara, beberapa waktu lalu.

iERA merupakan sebuah badan amal yang dikomandai oleh Ustadz Abdul Green dan berpusat di Inggris. Dengan lingkup kerja yang bersakla internasional, saat ini iera.org telah membantu mengislamkan puluhan ribu orang dari segala penjuru dunia.

Selain mendakwahkan Islam, iERA.org juga melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan yang bertujuan membantu memudahkan kerja para dai dan para muallaf di seluruh dunia.

Mendampingi iERA, Posdai adalah lembaga swadaya yang diinisiasi dalam rangka pengarusutamaan program pengembangan kapasitas dan kuantitas dai, khususnya untuk keterpenuhan kebutuhan dai yang siap bertugas dakwah di daerah-daerah terpelosok, terpencil, tertinggal dan minoritas.

Posdai telah lama mengabdikan kerjanya dalam pembinaan suku Togutil dan masyarakat kawasan terluar di pedalaman Maluku Utara.

Sebagai bentuk sinergi program, pada Sabtu (11/03/2023) Posdai Maluku Utara (Malut) mendampingi tim dakwah iera.org yang datang berkunjung ke Maluku Utara dalam rangka melihat langsung kegiatan Posdai Malut di suku Togutil.

Ketua Posdai Malut, Ust. Fadhlul Anshari, mengatakan kedatangan tim iera.org ini merupakan bentuk kepedulian mereka kepada para mualaf yang berada di Maluku Utara.

“Alhamdulillah sahabat dakwah iera.org berkesempatan hadir untuk mengunjungi dan menyaksikan langsung dakwah dai pelosok yang berkonsentrasi pada pembinaan suku Togutil,” kata Anshari.

Anshari berharap semoga dengan kunjungan iera.org ini semakin memperluas kerjasama Posdai dengan berbagai lembaga baik skala lokal maupun internasional.

Dengan demikian, lanjut dia, program dakwah suku Togutil bisa dikerjakan secara bersama-sama dan lintas lembaga. “Agar semakin banyak lagi masyarakat suku Togutil dapat bersyahadat menikmati indahnya berislam”, ungkap Anshari.

Untuk diketahui, saat ini Posdai Malut telah menempatkan beberapa dai di pedalaman untuk pembinaan keummatan baik untuk suku Togutil maupun untuk masyarakat pada umumnya.

“Sedangkan untuk program terbaru yang saat ini sedang digarap adalah pembangun pesantren tahfidz di daerah Sidangoli tepatnya di Kampung Hijrah dan akan dimulai perintisan pada Ramadhan tahun ini,” tandas Anshari.*/Yacong B. Halike

Menekuni Pendidikan dari Allah agar Kita Terhindar dari Kejahiliyahan

KITA hidup di zaman di mana meniti jenjang pendidikan adalah suatu kelaziman, bahkan merupakan kewajiban dan hak yang dijamin undang-undang. Berbagai paket bantuan dan beasiswa dikucurkan untuk memastikan lebih banyak generasi muda yang bisa belajar dan membekali diri menyongsong masa depan.

Gagasan ini sangat tepat mengingat mereka adalah calon pemimpin dan anggota masyarakat di masa mendatang. Kualitas bangsa kita esok hari sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan mereka sekarang.

Namun, tersisa satu pertanyaan kritis: “Pendidikan seperti apakah yang kita berikan kepada mereka?”

Pertanyaan tersebut mengemuka di tengah realitas memprihatinkan yang sudah sama-sama kita ketahui. Media massa dipadati berita-berita tawuran pelajar dan mahasiswa, bentrokan antar kampung dan kelompok masyarakat, korupsi dan intrik kotor di tingkat elit politik, juga eskalasi kejahatan yang terus tumbuh.

Jika kita berkaca kepada sejarah, sebagian situasi yang kita alami sekarang mirip dengan Zaman Jahiliyah, atau terindikasi kuat sedang menuju ke sana. Walaupun Jahiliyah Umum sudah lenyap dengan sempurnanya Risalah Islam, tetapi masih terdapat sisa-sisa wataknya dalam skala tertentu.

Benarkah demikian? Ya, karena sebetulnya istilah “jahiliyah” memiliki dua lawan kata.

Pertama, al-jahlu – yaitu: akar kata jahiliyah – adalah kebalikan dari al-‘ilmu, artinya pengetahuan. Ciri utama jahiliyah jenis ini adalah keterbelakangan peradaban, buta huruf, hidup berpindah-pindah, dan sejenisnya.

Kedua, lawan kata lain dari al-jahlu adalah al-hilmu, artinya kesantunan, kendali diri, dan akal sehat. Fenomena umum jahiliyah jenis kedua adalah ketiadaan moral, agama yang rusak, kekacauan masyarakat, dan berlakunya hukum rimba.

Pengertian kedua ini memberi kita suatu wawasan baru, bahwa jahiliyah sebenarnya bukan watak zaman tertentu, dalam hal ini era sebelum diturunkannya Al-Qur’an. Jahiliyah lebih merupakan gambaran karakter orang-orang yang hidup di dalamnya. Kesimpulan ini diperkuat oleh catatan Siroh Nabawiyah yang justru menggambarkan zaman jahilyah dengan maraknya perbudakan, pelacuran, miras, perampokan, ketimpangan distribusi kesejahteraan, penyembahan berhala, penguburan anak perempuan hidup-hidup, penindasan pihak yang kuat atas kaum lemah, dst.

Dengan kata lain, manakala fenomena yang mendominasi periode tersebut terulang kembali di zaman mana pun, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan sisi lain dari kejahiliyahan, walaupun – bisa jadi – ilmu pengetahuan telah berkembang pesat. Dari sudut pandang ini, peradaban-peradaban raksasa yang musyrik seperti Mesir Kuno, Yunani Kuno, Babilonia, Persia, Romawi, dan seluruh fotokopinya di dunia modern sekarang, pada kenyataannya adalah peradaban jahiliyah.

Dalam situasi seperti itulah kehadiran seorang Nabi mutlak diperlukan. Diutusnya Nabi Ibrahim ke Babilonia, Nabi Musa ke Mesir, Nabi ‘Isa di zaman Romawi, dan Nabi Muhammad di akhir zaman adalah bagian dari misi pencerahan atas kejahiliyahan yang mendominasi dunia di masanya masing-masing.

Kebangkitan mereka memiliki satu misi yang jelas, yakni mengembalikan umat manusia ke jalan yang benar, agar eksistensi mereka membuahkan kebaikan bagi alam semesta, bukan justru merusaknya. Allah berfirman,

“Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah). Padahal sungguh mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. al-Jumu’ah: 2).

Ayat ini menegaskan bahwa tugas seorang Rasul adalah membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan umatnya, serta mengajarkan Kitabullah dan Hikmah. Saat ini, ketika kenabian telah tertutup, maka tugas tersebut berpindah ke pundak para ulama’, guru, dan orangtua. Inilah pendidikan yang sebenarnya, yang akan memperbaiki manusia dan menyemai kebaikan-kebaikan.

Alhasil, jika seseorang atau sebuah generasi tidak memahami ayat-ayat Allah, tidak tersucikan jiwanya, serta terjauh dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka sebenarnya mereka belum terdidik; atau meminjam istilah Al-Qur’an: “mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (lafi dhalalin mubin),” biar pun telah terlepas dari buta huruf dan sangat melek sains & teknologi!

Dalam konteks senada, Ibnu Syihab az-Zuhri (w. 125 H) pernah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini (yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah) adalah pendidikan dari Allah (adabullah) yang dengannya Allah mendidik Nabi-Nya, dan dengannya pula beliau mendidik umatnya. Ia adalah amanah Allah (amanatullah) kepada Rasul-Nya agar ditunaikan kepada yang seharusnya menerimanya. Maka, barangsiapa yang mendengar suatu ilmu hendaklah ia menjadikan ilmu itu di depannya sebagai hujjah antara dirinya dengan Allah ta’ala.” (Riwayat al-Khathib dalam Al-Jami’, no. 7).

Bila kita kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, tampaknya kita harus menata ulang elemen-elemen kunci sistem pendidikan kita. “Pembacaan ayat-ayat Allah” berarti seluruh proses dan materi pendidikan harus diarahkan untuk menyadari peran Allah di balik fenomena apa pun di alam semesta, yang melahirkan kekhusyu’an dan ketundukan.

“Pensucian jiwa” menuntut berpusatnya pendidikan di masjid, sebab tidak ada cara terbaik membersihkan jiwa kecuali dengan mendekatkan manusia kepada Allah melalui ibadah. Lalu, “pengajaran Al-Qur’an dan Sunnah” mengharuskan bukan hanya pelafalan dan keindahan suara, tetapi bagaimana ia diamalkan dan diteladankan dalam kehidupan.

Pendidikan Allah ini sudah terbukti memperbaiki kerusakan bangsa Arab di zaman Nabi, dan semestinya pula untuk zaman dan bangsa kita, sebab Risalah beliau ditujukan untuk seluruh generasi di belakang beliau hingga tibanya Hari Kiamat. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Dandim TNI Boven Digoel Papua Selatan Buka Puasa Bersama Santri Hidayatullah

BOVEN DIGOEL (Hidayatullah.or.id) — Komandan Kodim (Dandim) Boven Digoel 1711/BVD Letkol Czi Agustinus Ressa Sala’pa, S.T M.I.P gelar acara silaturrahim sekaligus buka puasa bersama santri Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, Selasa, 13 Ramadhan 1444 (04/04/2024).

Kegiatan yang digelar di Aula Bung Hatta, Kampung Mawan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, ini juga mengundang anggota dan komponen masyarakat lainnya.

Kegiatan silaturahmi ini dilaksanakan dengan buka puasa bersama yang diikuti oleh Tamtama, Bintara, dan Perwira Staf Kodim 1711/BVD beserta masyarakat Boven Digoel yang beragama Muslim.

Pada kesempatan tersebut Letkol Czi Agustinus Ressa Sala’pa, S.T M.I.P mengatakan bahwa kegiatan ini mempunyai maksud dan tujuan untuk meningkatkan silaturahmi dengan masyarakat Kabupaten Boven Digoel.

“Tujuan kegiatan ini intinya untuk meningkatkan silaturahmi di bulan suci Ramadhan dan hubungan baik antara TNI dan masyarakat, sekaligus melaksanakan buka puasa bersama sehingga lebih saling mengenal dan meningkatkan kebersamaan,” kata Dandim yang rutin menggelar kegiatan kerja bakti di Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel ini.

Baru baru ini ia bersama anggotanya membantu pelaksanaan pengecoran asrama putri Yayasan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Kampung Persatuan Distrik Mandobo. Dukungan tersebut diterangkan dia sebagai wujud pengabdian dan kerja nyata TNI dalam hal membantu masyarakat yang berada di wilayah teritorialnya.

Selanjutnya Ustadz Mahfudin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dandim Boven Digoel sekaligus ia memimpin doa makan bersama usia berbuka puasa.

“Kita bersyukur sekaligus sangat mengucapkan terimakasih kepada Dandim Boven Digoel yang mana telah menyelenggarakan kegiatan silaturahmi untuk mempererat ikatan silaturahmi ini, sekaligus melaksanakan buka puasa bersama,” ucapnya.

Diakhir Kegiatan Letkol Czi Agustinus Ressa Sala’pa, S.T M.I.P memberikan tali asih kepada anak anak Pondok Pesantren Hidayatullah sebagai bentuk kepedulian Dandim Boven Digoel.*/Miftahuddin

Walikota Safari Ramadhan di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Walikota Bontang Basri Rase melakukan anjangsana safari Ramadhan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kaltim, Ahad, 11 Ramadhan 1444 (2/4/2023). Kedatangan Walikota beserta istri ini juga dibersamai oleh segenap jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) kota Bontang.

Kedatangan rombongan Walikota diterima langsung oleh pembina Yayasan Hidayatullah Bontang KH. Jamaluddin Nur didampingi ketua yayasan Ust. Firdaus Darwin dan Ust. H. Usman Sulaiman selaku humas Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang.

Berikut cuplikannya:

Pondok Tahfidzul Qur’an Hidayatullah Ditengah Eks Lokalisasi Kalisari Bojonegoro

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) – Suasana tenang terasa di area kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah yang berwarna serba hijau di Jalan TPA Banjarsari, Dusun Kalisari, Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad, 11 Ramadhan 1444 (2/4/2023).

Sayup-sayup terdengar suara santri menghafal Al-Quran. Awak media disambut oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Putri Hidayatullah Ustadz Ahmad Rifa’i, S.Pd.I.

“Santri tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah yang reguler masing-masing wajib menghafal Al-Quran 15 Juz di sini “, kata Ahmad Rifa’i.

Situasi itu berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun silam.

Pada lokasi yang sama, saat itu, keramaian didominasi suara dentuman musik dari rumah karaoke dan bordil. Lokasi ini memang berada di dekat kawasan yang dulu dikenal dengan nama lokalisasi Kalisari.

“Dulu, kalau anak-anak ngaji, kalah dengan suara musik. Namun, kini hanya dalam waktu delapan bulan sudah dapat menghafal Al-Quran 30 Juz pada program Takhasus Al-Qur’an di sini”, tambah pria asal Pulau Lombok itu, pengasuh Kampus 2 Hidayatullah sejak 2019 lalu.

Hidayatullah sengaja mendirikan di dekat kawasan lokalisasi Kalisari yang paling laris pada saat itu.

Pembangunan pesantren menurut Ahmad Rifa’i, salah satunya adalah untuk mengingatkan para pengunjung lokalisasi itu. Rifa’i pernah menemui kisah itu secara nyata.

“Waktu itu ada seorang paruh baya, saat saya tanya dia mengaku mau mencari hiburan di Kalisari, tapi sekarang orang-orang malah teringat Pondok Pesantren di Kalisari, ” kata dia seperti dilansir nnews.

Lokalisasi itu, sambung Achmad Rifa’i sudah ditutup pemerintah beberapa tahun silam, tapi masih saja ada yang buka praktek setiap hari.

Kini, di atas area lahan 5 ribu meter persegi sudah berdiri selain pesantren, dibangun masjid dan gedung berlantai 2 sebagai ruang untuk belajar.

“Hingga kini tercatat sebanyak 100 santri berasal dari Bojonegoro dan daerah lain di Indonesia”, ucapnya.*/Siti Rahayu

Momen Ramadhan Kepala Kejari Aru Anjangsana ke Kampus Hidayatullah

ARU (Hidayatullah.or.id) — Memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai bulan yang penuh kebaikan dengan segala keistimewaan di dalamnya, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, Parada PT Situmorang, melakukan anjangsana silaturrahim ke kampus perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah Dobo, Kepulauan Aru, Ahad, 11 Ramadhan 1444 (2/4/2023).

Kunjungan rutin Parada Situmorang tersebut merupakan salah satu komitmen dirinya untuk membangun silaturahmi dengan para ulama dan umat Muslim di kawasan itu.

Dalam sambutannya, Parada mengatakan memanfaatkan momen Ramadhan tahun ini untuk merajut silaturrahim dan mengajak para pegawai dan jaksa di Kejari Kepulauan Aru untuk membangun toleransi antar umat beragama, baik dilingkungan kerja maupun dalam berinteraksi dengan warga Kabupaten Kepulauan Aru.

Parada pun merasakan sendiri secara langsung tidak mudahnya medan jalan yang dilalui untuk sampai ke pondok pesantren perintisan yang berada di pedalaman Dobo ini.

Untuk menuju lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah Dobo ini, rombongan Kejari Kepulauan Aru harus dibagi, hanya dengan mengenderai sepeda motor.

Rombongan Kejari Kepulauan Aru harus ekstra hati-hati, sebab akses jalan rawan masuk jurang karena berada di atas tebing dan juga jalanan yang becek, dikarenakan hujan mengguyur daerah ini. Selain itu, jalan menuju pondok juga sempit.

Tiba di Pondok Pesantren Hidayatullah Dobo, rombongan saat itu langsung disambut penuh ramah dan kehangatan oleh pengasuh pondok Ustadz Sulaiman. Para tamu juga disambut dan puluhan santri putra dan putri yang sedang mondok di pesantren ini.

“Kehadiran kita saat itu penuh makna yang mendalam dalam merajut silaturahmi diantara kita sesama manusia,” kata Parada.

Dia mengatakan, ada kerinduan saling mendukung dan menguatkan masing-masing pihak dalam keadaan sehat dan sukses dalam pekerjaan.

Parada juga memotivasi para santri untuk sellau semangat berlajar dan terus belatih untuk meraih cita cita meskipun berada di lingkungan yang sepenuhnya belum memadai seperti keterbatasan fasilitas.

“Semoga para santri mampu menyelesaikan proses belajar selama mondok dan meraih cita-citanya,” katanya.

Terharu

Mantan Koordinator Kejaksaan Tinggi Gorontalo itu mengaku terharu saat berada di tengah-tengah kehidupan pondok dan bertemu dengan para santri. Perjuangan rombongannya dalam perjalanan menuju pondok terobati saat disambut penuh cinta pengasuh pondok dan santri.

Saat itu, rombongan Kejari Kepulauan Aru membawa bantuan berupa makanan dan bahan pokok berupa beras, telur, minyak goreng, mi instan, dan perlengkapan mandi untuk para santri.

“Momen Ramadhan ini kita manfaatkan untuk menunjukkan komitmen kita agar selalu merajut silaturahmi dan meniadakan sekat perbedaan sesama manusia ciptaan Allah. Membangun toleransi antar-umat beragama selalu tertanam dalam diri kita,” tutur pria asal Pulau Samosir, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tersebut.*/Arief Ismail Hanafi

Ramadhan 1444, Jusuf Kalla Kembali Salurkan Paket Bingkisan Lebaran

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tokoh bangsa yang juga dikenal sebagai saudagar nasional Dr. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla kembali menyalurkan paket bingkisan lebaran pada momen bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1444 yang didistribusikan kepada ormas dan lembaga Islam termasuk kepada Hidayatullah.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (Wasekjen DPP) Hidayatullah Ust. Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi mengatakan tidak hanya sekarang, Jusuf Kalla bahkan telah melakukan kebiasaan memberi ini sejak puluhan tahun lalu tanpa henti.

Tahun ini, DPP Hidayatullah mendapat sebanyak 1500 paket bingkisan lebaran yang selanjutnya didistribusikan ke jejaring di kawasan Jabodetabek. Dalam setiap paketnya berisi kebutuhan konsumsi seperti beras, kecap, susu kaleng, abon, teh, biskuit, gula pasir, dan ada juga sarung.

“Kita harus salut dan iri dalam artian positif serta menjadi motivasi bagi kita atas kedermawanan Bapak Jusuf Kalla. Beliau secara konsisten terus berbagi kepada masyarakat khususnya kaum muslimin termasuk dengan jumlah yang luar biasa,” kata Ust. Ghofar saat ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Selasa, 13 Ramadhan 1444 (4/4/2023).

Ghofar mengatakan, tokoh gerakan filantropi pertama di Indonesia ini dapat menjadi teladan bagi siapa saja dalam keluwesan dan sikap kedermawanan.

“Tidak mudah bisa berbagi secara konsisten dan dengan jumlah yang luar biasa dalam waktu yang panjang. Kalau bukan karena keyakinan dan dan karakter suka berbagai, ini sulit. Beliau betul betul meneladani apa yang diwasiatkan Rasulullah bahwa di bulan Ramadhan adalah pembukitan kedermawanan bagi orang beriman,” kata Ghofar.

Ia pun mengajak untuk meneladani inspirasi kebaikan mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12 tersebut pada setiap aspek kehidupan yang digeluti sehari hari dengan mengerahkan sedaya upaya yang dimiliki.

“Di satu sisi kita senang mendapat bingkisan dari beliau, sekaligus ini harus menginspirasi kita untuk pada suatu saat mengikuti jejak beliau. Ini juga bisa diteladani oleh pegusaha lainnya,” tandasnya.*/Yacong B. Halike

25 Dai Diterjunkan di Lorong Wisata Pemkot Makassar Selama Ramadhan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 25 orang da’i Hidayatullah diterjunkan di berbagai Lorong Wisata untuk mengisi tausiyah jelang buka puasa, selama Ramadhan ini.

Lorong Wisata merupakan program Pemkot Makassar dan Dakwah Lorong Wisata digagas oleh Pemkot Makassar memberi nilai tambah yang diadakan serentak di 100 titik diberbagai kelurahan yang ada di Makassar.

“Kegiatan ini akan berjalan selama tiga pekan setiap hari Selasa. Kami bersyukur bahwa da’i-da’i di Hidayatullah dipercaya oleh Pemkot Makassar untuk bersinergi dengan Hidayatullah dalam pembinaan ummat,” ujar da’i senior Hidayatullah Makassar yang juga Ketua STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar, Abdul Qadir Mahmud MA, dilansir Hidayatullahmakassar.id.

Komposisi da’i yang diturunkan cukup berwarna, selain melibatkan da’i senior seperti Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar ustadz Ahkam Sumadiana MA, Ketua DPD Hidayatullah Makassar Dr Nasrullah Sapa Lc MM juga diturunkan da’i-da’i muda Hidayatullah seperti Ketua Divisi Dakwah Yayasan Al Bayan Ahmad Zaky Ibrahim Lc, Ketua Pemuda Hidayatullah Sulsel Ust Abdurahman Abid Lc maupun Muhammad Firdaus Umar dan lain-lain.

“Kita berharap dengan kerjasama dengan Pemkot Makassar jaringan dakwah Hidayatullah Makassar bisa semakin meluas,” ucap Ketua Departemen Dakwah Yayasan Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar tersebut.

Dakwah Lorong Wisata juga dimaksudkan mempererat tali silaturrahim warga lorong. Ke 25 da’i Hidayatullah yang diterjunkan tersebut didampingi oleh pihak Biro Kesra Pemkot Makassar.*/Firmansyah Lafiri

Berbagi Bahagia Sesama Laznas Bagikan Paket Buka Puasa OTR

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan sebagai bulan terbaik untuk saling membahagiakan, Laznas BMH wujudkan dengan menggelar program Buka Puasa Berkah On The Road (OTR). Tentu saja ini untuk memudahkan masyarakat kecil, seperti penjual opak di pinggir jalan berbuka puasa, tanpa harus meninggalkan aktivitas dagangnya.

Buka Puasa OTR itu dilangsungkan di sepanjang Jl. A.H Nasution, Medan Johor belum lama ini.

“Alhamdulillah, program Takjil Berkah on the Road bisa terlaksana karena dukungan donatur dan masyarakat. Tujuannya membantu warga yang berjualan opak, pemulung dan pembecak dapat buka puasa dengan segera,” tutur Osman Ali, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sumut.

Mereka para pejuang rupiah, tetap melaksanakan aktivitasnya di tengah ibadah puasa, meski penghasilannya tidak menentu setiap harinya.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka para pejuang rupiah di tengah berpuasa. sehingga BMH hadir menjadi setitik penyemangat dalam aktivitas mencari rezeki dan ibadah puasa mereka,” tambah Osman.

Paket Buka Puasa OTR itu berupa nasi bungkus dan air mineral gelas. Sekalipun sederhana, masyarakat sangat bersyukur mendapatkannya.

“Terima kasih BMH dan donatur. Program Buka puasa Berkah ini membantu kami yang sedang mengais rezeki dari profesi pembecak ini. Semoga Allah membalas kebaikan dengan keberkahan,” tutur salah satu penerima manfaat sembari memacu becaknya untuk mengejar shalat Maghrib di tujuan.

Hal senada juga disampaikan Ibu Rahmini, salah satu penjual opak yang sudah 2 tahun di Jl. A.H Nasution.

“Terima kasih, saya senang sekali dapat nasi ini, untuk buka puasa bersama anak dan suami di sini,” ujarnya penuh haru.*/Herim