JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Masih dalam suasana Syawal setelah sebelumnya menyerap spirit Ramadhan selama sebulan penuh, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Pleno selama 3 hari di Jakarta yang dibuka pada hari Senin, 25 Syawal 1444 (15/5/2023).
Sidang Pleno ini dihadiri oleh segenap pengurus DPP Hidayatullah. Rapat berlangsung di meeting room Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.
Pada rapat pleno ini juga dilakukan diskusi membahas isu strategis bidang dakwah dan pelayanan umat, tarbiyah, bendahara, ekonomi, kesekretariatan, pengembangan dan pembinaan organisasi, dan juga kuliah peradaban.*/Fadli Al Mutawakkil
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pekan-pekan bakda Ramadhan ini, ramai digelar Silaturahim Syawal 1444 Hijriyah di berbagai kampus Hidayatullah se-Indonesia. Di antaranya yang digelar di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
Perhelatan Silaturahim Syawal 1444H, menurut salah seorang pembimbing Hidayatullah Gunung Tembak, Ustadz Abdul Latief Usman, merupakan ajang pemanasan menuju Silaturahim Nasional Hidayatullah.
“(Silaturahim Syawal) ini warming up, pemanasan untuk 5 bulan yang akan datang (Silatnas Hidayatullah 2023). Silaturahim Syawal ini gladi resik, baik bagi panitia maupun peserta,” ujar Ustadz Abdul Latief Usman dalam rangkaian Silaturahim Syawal di Masjid Ar-Riyadh, 23 Syawal 1444H, Ahad (14/5/2023) bakda ashar.
Menurut Sekretaris Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini, hasil yang diperoleh dari kerja keras selama pelaksanaan Silaturahim Syawal 1444H, menggambarkan hasil kerja seandainya Silatnas digelar saat ini.
“Alhamdulillah! Kalau Silatnas kita laksanakan hari ini, insya Allah hasilnya ya seperti saat ini,” ujarnya di depan ratusan jamaah mulai dari peserta Silaturahim Syawal hingga santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) yang baru masuk kampus lagi bakda liburan.
Gasspoll
Oleh karena itu, Ustadz Abdul Latief mengajak warga Hidayatullah khususnya di Kalimantan untuk meningkatkan persiapannya jelang silatnas. Gasspoll, istilah populernya saat ini.
Ustadz Abdul Latief mengajak segenap warga Hidayatullah untuk lebih nge-gas menyongsong silatnas. Ibarat kendaraan, jika selama ini berjalan biasa saja dengan bahan bakar bensin, misalnya, maka mulai saat ini hingga silatnas mendatang, laju ‘kendaraan’ harus dinaikkan drastis. Hal demikian, tambahnya, yang diharapkan KH Abdurrahman Muhammad.
“Pemimpin Umum (Hidayatullah) ingin mengajak ‘kendaraan’ kita ganti bahan bakarnya dengan bahan bakar pesawat. Kalau kemarin lajunya mencapai 70-80 km per jam, maka (sampai) 4 bulan ke depan menempuh jaraknya mencapai 800 km,” ujar Ustadz Abdul Latief Usman sembari berilustrasi.
“Semoga Allah berikan kekuatan kepada kita semua,” tambahnya.* (SKR/MCU)
SEBAGAIMANA yang telah menjadi pemahaman kita bersama bahwa tujuan akhir yang semestinya diraih oleh para shaim (orang yang berpuasa) adalah ketakwaan.
Allah akan memuliakan orang-orang yang bertaqwa, Allah telah mempersiapkan hadiah terindah bagi orang yang bertakwa. Dalam Al Qur an menjamin kebaikan dan keberuntungan atas orang orang yang bertakwa, inilah tujuh diantranya:
Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Iwan Abdullah, Unduh sekarang:
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. HM. Tasmin Latif membagi tiga tingkatan generasi Hidayatullah yaitu Generasi Perintis,Generasi Tengah, dan Generasi Belakangan.
Kata Ust. Tasmin, ketiganya memiliki kekhasannya masing masing yang harus disyukuri dan menjadi cemeti untuk terus bertumbuh. Dan, yang paling penting, menurutnya, adalah bagaimana mengarahkan serta menjaga mutu dan kualitas khususnya generasi kekinian baik dari aspek spiritual, intelektual, dan keandalan tandang ke gelanggang.
“Generasi ini kiriman Allah untuk Hidayatullah, Allah sudah memformat organisasi kita untuk itu,” katanya sambil menambahkan disinilah peran penting murabbi untuk melakukan penguatan tersebut. “Disinilah tugas dan peran penting dewan murabbi,” tandasnya.
Kegiatan digelar kerjasama antara Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta ini, menghadirkan juga narasumber Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA., Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, dan Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Fathul Adhim.
Selain itu, pada kesempatan tersebut ketua DPW Hidayatullah Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, dan Provinsi DKI Jakarta berkesempatan menyapa hadirin di lokasi seraya berbagi inspirasi pengembangan dakwah dan layanan umat di kawasan masing masing. Mereka masing masing adalah Taufik Wahyudiono, Ahmad Maghfur Gunawan, dan Muhammad Isnaini.
Tidak hanya hadirin dewasa, anak anak pun mengikuti rangkaian acara tersendiri yang digelar terpisah di lokasi yang sama. Mereka menikmati berbagai permainan yang dipandu oleh kakak kakak dari BMH dan mengikuti acara mendongeng yang dibawakan oleh Kak Danang.
Hadir dari berbagai daerah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, ribuan hadirin memadati kampus Hidayatullah Depok. Selain saling bercengkrama dan menikmati berbagai sajian makanan yang disediakan panitia, helatan acara ini juga menjadi momen melepas rindu antar sahabat dan saling mengenal satu sama lain. (ybh/hio)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Fathul Adhim menekankan bahwa kultur organisasi yang termaktub dalam Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) adalah kunci untuk terus lestarinya kerja kerja dakwah pengembangan umat dan sebagai support system bagi kader dalam menjalani amanahnya sebagai hamba dan khalifah-Nya.
“Jaga kualitas spiritual dan juga terutama infaq nawafilnya,” katanya saat menyampaikan taushiah dalam acara halal bihalal silaturrahim Syawal 1444 berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jln Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 17 Syawal 1444 (7/5/2023).
GNH sendiri adalah gerakan yang dicetuskan pada penutupan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah, Ahad (25/11/2018). Gerakan Nawafil Hidayatullah memuat enam nilai komitmen gerakan yakni setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid dengan shalat fardhu berjamaah dan shalat sunnah Rawatib; membaca kita suci Al-Quran setiap hari minimal satu juz; rutin mendirikan shalat malam; membaca wirid pagi dan petang; dan dakwah fardiyah setiap hari Sabtu atau hari lain sepekan sekali serta merutinkan infaq.
“Semoga dengan madrasah Ramadhan kemarin, ibadah kita mudah-mudahan bisa dipertahankan,” katanya dalam acara yang betajuk “Mempertahankan Nilai dan Spirit Kemuliaan Ramadhan” tersebut.
Dengan nilai nilai tersebut, diharapkan kedepan memberikan spirit untuk lahirnya berbagai terobosan yang lebih progresif dengan menghadirkan lebih banyak lagi khidmat kepada umat seperti pendirian universitas, rumah sakit, dan kampus kampus pendidikan yang berkualitas dan terjangkau.
“Program kita ini bisa memberikan spirit juga untuk kader-kader di seluruh Indonesia sehingga Hidayatullah dimanapun berada juga akan menjadi semangat untuk berkorban dan berjuang lewat lembaga ini,” tandasnya. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hiayatullah.or.id) — Bulan Mei 2023 ini (bertepatan dengan Syawal 1444H), majalah dakwah nasional, Suara Hidayatullah, berusia 35 tahun.
Mengambil momentum itu, Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, sebagai wadah media di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak menyampaikan ucapan selamat.
“Barakallah! Selamat atas Majalah Suara Hidayatullah yang telah berusia 35 tahun, sebuah usia yang dirasa cukup panjang untuk ukuran media Islam,” ujar Ketua MCU, Muhammad Abdus Syakur di Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 16 Syawal 1444 (06/05/2023).
Menurutnya, merupakan sebuah kebanggaan sekaligus kesyukuran bahwa Majalah Suara Hidayatullah masih tetap eksis di tengah gempuran media sosial.
Hal itu mengingat belakangan ini sudah banyak media massa, terutama media cetak, yang tutup usia karena berbagai faktor. Baik media yang berskala lokal, nasional, maupun internasional.
MCU pun menyampaikan sejumlah harapannya kepada pengelola Majalah Suara Hidayatullah terkait media dakwah nasional yang didirikan oleh Allahuyarham KH Abdullah Said (Pendiri Hidayatullah).
Semakin Eksis, Inovatif, & Kreatif
Pertama, MCU berharap semoga Majalah Suara Hidayatullah semakin eksis pada era kekinian.
“Mampu tampil di hadapan publik dengan semakin inovatif dan kreatif,” ujar Abdus Syakur yang pernah sekitar 10 tahun berkecimpung langsung di kantor Majalah Suara Hidayatullah di Jakarta.
Ia menilai, beberapa tahun belakangan ini, Majalah Suara Hidayatullah tampil dengan berbagai kreasi, berkesesuaian dengan perkembangan zaman.
“Misalnya, Majalah Suara Hidayatullah sudah merambah dunia digital, hadir menyapa pembaca lewat aplikasi berbasis gadget –tanpa harus bersentuhan dengan majalah cetak,” sebutnya.
Selain itu, Suara Hidayatullah juga sudah merambah dan memperkuat dakwah di media sosial.
“Kita lihat belakangan ini akun Youtube Majalah Sahid @MajalahSahid cukup intens mengudara dengan berbagai siaran programnya,” ujar Abdus Syakur yang saat ini masih tercatat sebagai dewan redaksi majalah itu.
Kaderisasi Jurnalistik-Multimedia
Kedua, MCU berharap Majalah Suara Hidayatullah mampu melahirkan kader-kader jurnalis dan pegiat multimedia dari rahim Hidayatullah. Setidaknya, mengkoordinasikan proses pencetakan kader-kader tersebut.
“Kita punya santri dan mahasiswa di berbagai kampus Hidayatullah di Indonesia. Banyak di antara mereka yang memiliki bakat dan potensi pada bidang jurnalistik/multimedia. Ini merupakan salah satu potensi Majalah Suara Hidayatullah untuk merekrut kader-kader jurnalistik-multimedia,” ujarnya.
Silaturahim ke Kampus-kampus
Oleh karena itu, MCU mengusulkan agar pengelola Majalah Suara Hidayatullah rajin-rajin bersilaturahim, menyapa langsung para pemangku kepentingan di berbagai kampus Hidayatullah.
“Ada 1 Kampus Induk di Gunung Tembak dan 7 Kampus Utama di 7 kota berbeda. Minimal itu dulu bisa dikunjungi pengelola Majalah Suara Hidayatullah,” ujarnya.
Dalam kunjungan ke berbagai Kampus tersebut, Abdus Syakur meyakini akan ada banyak hal yang bisa diselaraskan dan disinergikan.
Menurut Syakur, kaderisasi jurnalis dan pegiat multimedia adalah harga mati saat ini, bahkan sebenarnya sejak jauh waktu sebelumnya.
“Kita sudah punya banyak ustadz dan dai penceramah di mimbar-mimbar masjid. Tapi kita masih sangat minim dai-dai yang mampu berdakwah lewat tulis menulis dan multimedia serta bersedia lebur ke media resmi Hidayatullah,” katanya.
“Kampus Induk Gunung Tembak insya Allah siap terus mendukung berbagai program demi eksistensi dakwah melalui media massa, termasuk Majalah Suara Hidayatullah,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia menambahkan, terkait kaderisasi tersebut, perlu melibatkan berbagai pihak pada 8 kampus itu, terutama dari pengurus Yayasan dan pengelola pendidikan termasuk Perguruan Tinggi Hidayatullah.
Untuk diketahui, Majalah Suara Hidayatullah didirikan oleh KH Abdullah Said bersama dua perintis lainnya yaitu (Almarhum) Ustadz Manshur Salbu dan Ustadz Abdul Latief Usman.
Meskipun dirintis di Balikpapan pada awal-awal berdirinya lembaga Hidayatullah, namun Majalah Suara Hidayatullah dicatatkan secara resmi berdiri pada Mei 1988. Saat itu, pengelolaan majalah ini dipindahkan dari Balikpapan ke Kota Surabaya agar bisa dikelola secara profesional.
“Salah satu faktor penentu eksisnya dakwah Majalah Suara Hidayatullah adalah jamaah. Oleh karena itu, mari kita beli majalahnya, baca isinya dan amalkan semampu kita,” ujar Abdus Syakur yang nyaris seusia majalah ini -beda tiga bulan saja.* (SKR/MCU)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah KH. Hamim Thohari, M.Si mengungkapkan dahsyatnya efek meredam kemarahan dan memberi maaf. Mengelola amarah dan memberi maaf menjadi bagian yang akan membangun ketahanan serta harmoni keluarga dan bangsa.
“Meminta maaf itu mulia tetapi memberi maaf itu jauh lebih mulia,” katanya saat menyampaikan taushiah dalam acara halal bihalal silaturrahim Syawal 1444 berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jln Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 17 Syawal 1444 (7/5/2023).
Dengan spirit keduanya, menahan amarah dan memberi maaf, kita semakin dapat melakukan lompatan gerakan dengan menegasikan berbagai sematan sematan negatif yang tidak perlu seperi cebong.
“Istilah cebong sudah lama kita tinggalkan, kita ingin melakukan lompatan jauh menuju Allah. Saariuu ilaa magfiratim mir rabbikum wa jannatin,” katanya seraya menukil surah Ali ‘Imran ayat 133.
Orang yang dengan kemarahan dan tanpa pemaafan cenderung akan mengecilkan segala hal. Padahal, risiko atau dampak dari reaksi atas kemarahannya bisa jadi amat besar tidak saja untuk dirinya tetapi juga bagi orang lain.
“Ketika orang sudah dilanda emosi semuanya kecil. Pembunuhan adalah sesuatu yang besar, tapi bagi orang yang sedang dalam keadaan marah semua itu kecil, barula resikonya nanti,” katanya.
Demikian pula dalam kehidupan dalam rumah tangga, acapkali amarah tak terkendali hanya karena interaksi yang salah persepsi atau karena komunikasi yang tak terhambat.
“Membina rumah tangga itu luar biasa beratnya, tapi enak saja kadang-kadang laki-laki mengatakan saya pulangkan kamu ke rumah orang tuamu. Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu, begini kalau orang sudah marah,” katanya.
Oleh karenanya, KH. Hamim Thohari menekankan pentingnya mengendalikan marah dan mengelolanya menjadi sesuatu yang semakin mencerdaskan dan mendewasakan. Tentu ini tak mudah, sebab itu ia butuh proses. Salah satu kuncinya adalah memadu padankan dengan jiwa yang rela untuk memaafkan.
“Mari memaafkan. Bahkan kita tidak diperintahkan untuk meminta maaf, tetapi diperintah untuk memaafkan. Anjuran Alquran juga adalah memaafkan. Meminta maaf itu mulia tetapi memberi maaf itu jauh lebih muia,” tandasnya.
Jadi suami jangan seenaknya saja, kalau marah asal main tangan, ucapan pun tak terjaga. Suami sebagai pemimpin harus berjuang keras jadi teladan ketakwaan.
“Seorang suami kadang enak saja mengatakan, saya pulangkan kamu ke rumah orang tuamu, pulang saja kamu ke rumah orang tuamu. (Begitulah) kalau orang sudah marah, padahal rumah tangga telah lama dibina,” tandasnya.(ybh/hio)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — BMH hadirkan penguatan dakwah dengan mendukung program silaturrahim dai dan daiyah se-Jakarta, Banten dan Jawa Barat (Jabanjab) yang berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jln Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 17 Syawal 1444 (7/5/2023).
Hadir dalam forum yang dihadiri 1000 lebih hadirin itu Ketua Pembina BMH Pusat, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc.,MA.
“Jadi bersegera, bergegas dan berkompetisi dalam melakukan ibadah dan amal sholeh, itu spirit kita pada Ramadhan,” tegasnya.
“Dan, pada bulan Syawal tema kita adalah bagaimana bisa muhasabah, memelihara dan merawat apa yang telah kita capai (dalam Ramadhan) dan memudawamahkan (terus melakukan amal). Paling tidak konsistensinya terpelihara,”sambungnya.
Dalam kesempatan itu hadir para dai dan daiyah dari Garut, Bandung Barat, Cirebon, Serang, Pandeglang, dan Jabodebek.
“Kita berharap para dai dan daiyah semakin terpelihara spirit dakwahnya, sehingga selepas Ramadhan giat dakwah tetap berlangsung bahkan lebih baik lagi,” ungkap Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Figur Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo atau populer dengan nama Buya Hamka merupakan pejuang Islam sekaligus negarawan yang membaktikan hidupnya untuk agama, bangsa, dan negara.
Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Ir. Abu A’la Abdullah, mengatakan dengan kepribadiannya tersebut, Buya Hamka layak menjadi teladan bagi generasi muda masa kini. Ia pun mengajak untuk menyerap spirit perjuangan ulama ini melalui film layar terbaru yang telah tayang dalam tiga skuel bertajuk Buya Hamka.
“Alhamdulillaah, film Buya Hamka sangat bagus dan sangat penting bagi generasi muda, umat, masyarakat, para tokoh, pemimpin, pejabat, dai, muballigh, cendekiawan, bahkan ulama,” kata Abdullah dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.i.id, Senin, 18 Syawal 1444 (8/5/2023).
Menurut Abdullah, sebagai pahlawan nasional sosok Hamka adalah pribadi komplit yang sejak masa muda hingga akhir hidupnya diwakafkan untuk perjuangan membela agama dan bangsa.
Bukan saja sebagai ulama yang lembut dan tegas, Hamka juga merupakan filsuf, penulis, pengajar, sastrawan, bahkan pernah berkarier sebagai wartawan yang setiap tulisannya tak jarang bikin gusar penjajah.
“Kecintaan Buya Hamka kepada Islam, umat Islam, bangsa, dan negara sangat tinggi. Tak pernah lemah dan tak pernah lelah karena berjuang menggapai kemerdekaan sejati dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala yang abadi,” kata Abdullah.
Bahkan bagi Abdullah, Buya Hamka adalah murabbi dan mu’allim Bangsa dan negara Indonesia. “Beliau teladan umat dan generasi muda,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan Abdullah, generasi muda Islam mesti memahami dan menghayati baik-baik pernyataan Buya Hamka ini, bahwa, “jika hidup hanya sekedar hidup maka Babi juga hidup, jika bekerja hanya sekedar bekerja, maka kera juga bekerja”.
Oleh karena itu, Abdullah menegaskan bahwa hidup dan bekerja adalah semata-mata untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Jangan hidup hanya bersenang bernafsu duniawi semata,” katanya seraya menjelaskan tamsil hidup layaknya hewan seperti disebutkan Hamka, yakni jangan sampai generasi muda dijangkiti mentalitas babi (kotor) dan bermentalitas kera (rakus).
“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan dan menjaga generasi muda Islam dan umat Islam,” katanya.
Ia pun mengajak untuk menyelami dan meneladani perjuangan Buya Hamka, termasuk bisa melalui film Buya Hamka dengan menonton, menyimak, dan mencermatinya.
“Teladani nilai-nilai utama dalam film Buya Hamka. Semoga mengispirasi dan menjadi teladan generasi muda bangsa dan negara,” tandasnya.
Sekedar diketahui, film Buya Hamka merupakan drama biografi yang disutradarai oleh Fajar Bustomi dan dibintangi oleh sejumlah aktor papan atas tanah air seperti Vino Bastian, Laudya Cynthia Bella, Donny Damara, Desy Ratnasari, dan lainnya.
Buya Hamka Vol. II yang menjadi sekuel bagi volume pertama telah ditayangkan kali pertama pada momen liburan Idul Fitri 2023 dan masih terus bertengger sebagai totonan populer di bioskop hingga hari ini.
Rencana penggarapan film Buya Hamka ini sendiri terungkap pada 2015 dalam pertemuan antara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Din Syamsuddin dengan Ir. Chand Parwez Servia. Produksinya dilakukan oleh Falcon Pictures dan Starvision Plus, bekerja sama dengan MUI selaku penasihat pembuatan film.*/Ainuddin Chalik
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Semarak gelaran halal bihalal silaturrahim Syawal 1444 berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jln Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 17 Syawal 1444 (7/5/2023).
Kegiatan digelar kerjasama antara Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta ini, menghadirkan narasumber Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA.
Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, dalam sambutannya mengatakan pada bulan Ramadhan lalu tema yang diangkat Hidayatullah adalah “al mubadarah al musara’ah wal musabaqah”. Yakni, visi Ramadhan untuk bersegera, bergegas, dan berkompetisi dalam ibadah untuk meraih kualitas Ramadhan terbaik.
“Pada bulan Ramadhan tema kita adalah al mubadarah al musara’ah wal musabaqah. Bersegera, bergegas, dan berkompetisi dalam melakukan ibadah dan amal saleh,” katanya.
Nah, lanjutnya, pada bulan Syawal ini, Ustadz Nashirul mengatakan tema yang diangkat adalah “al-muhafazah wal mudawamah”. Tema tersebut sebagai cemeti untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan merawat tradisi ibadah yang telah dijalankan di bulan Ramadhan.
“Agar apa yang telah kita capai di bulan Ramadhan ini bisa kita jaga, paling tidak konsistensinya,” pesannya.
Ia menjelaskan, kalau dari segi kualitas dan kuantitas, ibadah pada bulan Ramadan tidak ada tandingannya diantara 11 bulan. Oleh sebab itu, menjaga kualitas tersebut diperlukan konsistensi untuk merutinkan amalan.
Itulah sebabnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berpesan bahwa sebaik-baik atau amalan yang paling disukai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala itu adalah yang rutin meskipun sedikit.
“Karena ibadah yang banyak dan berkesinambungan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu, bahkan para sahabat pun saya rasa tidak mungkin sama kualitas amaliahnya di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan,” katanya.
Ia menyampaikan keutamaan ibadah yang dilakukan secara berkelanjutan kendatipun kuantitasnya sedikit, namun dengan konsistensi ia akan menjadi dahsyat.
“Apapun yang kita lakukan secara konsisten itu pasti dahsyat dan bahkan itu lebih baik dibandingkan kebaikan yang dilakukan hanya sesekali tetapi kuantitasnya banyak. Sepakat ulama bahwa amalan yang kontinyu meskipun sederhana itu lebih baik dibandingkan dengan amalan besar namun hanya dilakukan sesekali,” katanya.
Menyerap Spirit Lailatul Qadr
Masih dalam kesempatan yang sama, Ustadz Nashirul mengajak untuk menyerap energi Lailatul Qadr. Menurutnya, spirit Lailatul Qadr adalah berbicara tentang kualitas satu malam yang setara dengan 1000 bulan.
“Umat Islam memang sejak awal perlangkahannya mengedepankan yang namanya kualitas,” katanya seraya menyebutkan sejumlah pertempuran yang berhasil dimenangkan Rasulullah kendati jumlah pasukannya sedikit namun dengan kualitas yang berkelas.
“Maka, untuk mendapatkan kualitas dalam hal ibadah itu syaratnya dua. Pertama, al-ikhlas. Dan, kedua, ittiba’, yaitu dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,” katanya.
Oleh sebab itu, terangnya, untuk menjadi kader yang berkualitas itu pun syaratnya juga dua yakni fokus dan mengikuti konstitusi. “Mengikuti regulasi dan mengikuti petunjuk dan arah yang ada,” imbuhnya.
Dalam pada itu, Ustadz Nashirul menekankan hendaknya setiap setiap diri kader Hidayatullah senantiasa melakukan perbaikan diri, sebelum kemudian terjun ke gelanggang mencerahkan umat.
“Melakukan internalisasi sebelum eksternalisasi, itulah kenapa Al-Muzzammil itu mendahului Al Muddatsir. Dan kalau kita membaca penjelasan-penjelasan ulama, di sana dikatakan bahwa memang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sengaja melakukan tarbiyah ruhiyah Rasulullah dan para sahabat sebelum diberikan amanah dakwah yang lebih besar,” katanya.
Ia mengatakan, pada bulan Ramadan kemarin itu kita sudah full melakukan Al Muzzammil dengan internalisasi spirit melalui berbagai ibadah. Maka, saatnya sekarang sejak satu Syawal energi Al Muzzammil harus tersalurkan dengan tandang ke gelanggang untuk mengajak khalayak luas untuk turut merasakan keindahan dan kenikmatan berislam.
“Dahsyat kalau kita membaca penjelasan ulama tentang surah Al Muzzammil ini. Jangan terlalu banyak dengan keluargamu, harus tandang ke gelanggang. Rasa rasanya menggelora terus semangat berdakwah,” katanya.
Diakhir materinya, Ustadz Nashirul baik atas nama pribadi dan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyampaikan ucapan mohon maaf lahir dan batin serta mendoakan semoga amal ibadah Ramadhan yang telah dilalui diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Semoga kita bertemu lagi pada kesempatan berikutnya dalam keadaannya lebih baik,” tandasnya.
Pada kesempatan tersebut hadir pula narasumber lainnya yaitu Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Fathul Adhim, dan Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. HM. Tasmin Latif. */Ainuddin Chalik