Beranda blog Halaman 371

Sinergi Dakwah Hidayatullah Provinsi Maluku Cerdaskan Kehidupan Bangsa

LIANG (Hidayatullah.or.id) — Program dai tangguh Laznas BMH menjadi program unggulan untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Guna mencapa tujuan program tersebut, pada tahun 2022, BMH Maluku mewujudkannya dengan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku.

Penandatanganan MoU kerja sama ini dilakukan di Pondok Pesantren Hidayatullah Liang Maluku Tengah dan disaksikan langsung oleh Gubernur Maluku yang diwakili oleh Karo Kesra Setda didampingi Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Candra Kurnianto.

MoU program dai tangguh ini ditandatangani oleh Ketua BMH Perwakilan Maluku, Supriyanto dan Ketua DPW Hidayatullah Maluku, Ustadz Sulaiman Ismail.

Ketua Perwakilan BMH Maluku, Supriyanto menjelaskan bahwa melalui MoU ini target pendayagunaan dana ZIS yang langsung mendorong kemajuan dakwah sekaligus dai dapat dilakukan secara sistemik dan berkelanjutan.

“Salah satu tugas BMH sebagai Laznas adalah menghadirkan perubahan di tengah-tengah umat dan mendukung para dai yang berdakwah di pedalaman Maluku. Agar ada peningkatan kualitas ruhiyah dan jasadiyah saat berdakwah,” ungkapnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima media ini, Sabtu (5/2).

Ia menambahkan, program ini mewujud dalam berbagai bentuk, di antaranya pengiriman dai tangguh ke titik-titik pedalaman, upgrading dai dan kafalah dai.

Kampus Hidayatullah Distrik Oransbari jadi Tuan Rumah Rakerda se-Manokwari Raya

0

MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Kendati masih berupa kawasan perintisan baru dan dengan infrastruktur yang umumnya belum representatif, Kampus Hidayatullah Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel) sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) se-Manowari Raya pada tanggal 4-5 Rajab 1443/ 05-06 Februari 2022.

Ketua DPD Kabupaten Manokwari Selatan yang sekaligus ketua Yayasan Peduli Insan Pondok Tahfidz Hidayatullah Mansel, Ust. Magfhuri AM, S.Pd, mengaku bangga telah dipercaya menjadi tuan rumah dalam helatan Rakerda gabungan yang berlangsung khidmat dan intensif selama 2 hari itu.

“Kami merasa sangat terhormat karena pesantren yang baru dirintis ini dijadikan tuan rumah pelaksanaan Rakerda,” kata Magfhuri dalam sambutannya.

Magfhuri berharap rakerda pertama ini menjadi penyemangat para pengurus dalam menyusun program program kerja dalam memajukan organisasi dan pesantren serta terus melakukan evaluasi untuk penyempurnaan berbagai hal.

Ia pun mengemukakan perihal kampus Hidayatullah yang berlokasi di Distrik Oransbar ini. Pada Rakerda ini, acara dipusatkan di sebuah bangunan yang sekaligus sebagai mushalla untuk shalat jamaah 5 waktu.

“Mushallah ini bantuan dari salah satu donatur yang bernama Haji Arsyat sehingga musholla dinamakan Musholla Baitul Arsyad,” kata Magfhuri seraya meminta jamaah untuk mendoakan semoga tercurah keberkahan dan amal abadi kepada para donatur.

Acara rakerda ini pun menjadi peresmian penyelenggaraan perdana shalat berjamaah di mushalla ini dimana bangunan yang dipakai sebelumnya tidak mampu lagi menampung banyak santri.

Rakerda dibuka langsung oleh Ketua Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah Papua Barat Ust. Muhammad Sanusi, S.Pd.

Dalam arahannya, Sanusi mengatakan bahwa rakerda adalah merupakan salah satu keharusan yang harus dilaksanakan oleh organisasi tingkat daerah (DPD) untuk menderivasi program dari wilayah dan rakernas berdasarkan PDO organisasi.

Hadir dalam acara rakerda Ust Ahmad Sodri, S.Pd selaku bendahara wilayah beserta jajaran DPW lainnya dan para pengurus DPD se- Manokwari Raya.*/Muhammad Rusdan

Wejangan Nabi tentang Orang Terbaik dan Orang Terburuk

SETIAP orang memiliki karakter dan ciri khas, yang dengan itu ia dikenal di tengah-tengah masyarakat dan mudah dibedakan dari orang lain. Ada orang yang dikenal karena kelucuannya, ada juga keseriusannya.

Ada lagi yang dikenal karena kebaikannya, ada pula kejahatannya. Daftar ciri khas dan karakter ini dapat terus diperpanjang, misalnya jenis kelamin, usia, ciri fisik, gelar, suara, cara berpakaian, tindak-tanduk, profesi, tempat tinggal, daerah asal, dan masih banyak lagi.

Misalnya, ketika kita bertanya alamat seseorang, terkadang orang yang kita tanyai – atau, kita sendiri – akan menambahkan ciri dan karakter tertentu pada orang yang kita cari. Bisa jadi kita berkata, “Dimana alamat Pak Musa guru?” Atau, “Pak Hasan, aslinya dari Kediri?” Biasanya, dengan ciri khas itulah alamat yang kita tuju lebih cepat ditemukan dan tidak salah atau nyasar kepada orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang-orang terbaik diantara kalian?” Mereka menjawab, “Mau, ya Rasulullah.” Beliau melanjutkan, “Yaitu, orang-orang yang jika mereka terlihat (oleh kalian), maka mengingatkan kepada Allah ta’ala.”

Beliau kemudian bersabda lagi, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang-orang terburuk diantara kalian? Yaitu, orang yang kesana-kemari menebar fitnah, yang suka merusak kesetiaan diantara orang-orang yang saling mencintai, dan yang mengusahakan timbulnya kerusakan serta dosa di tengah-tengah orang-orang yang bersih (kehidupannya).” (Hadits riwayat Ahmad, sanad-nya hasan li ghairihi).

Menurut beliau, ciri khas orang terbaik adalah jika kita melihat mereka maka kita akan teringat kepada Allah. Berapa banyak orang-orang yang seperti ini di sekitar kita? Berapa banyak orang-orang yang kepribadian dan tindakannya menyejukkan hati dan meningkatkan keimanan, menambah rasa syukur, dan menenangkan jiwa?

Atau, justru sebaliknya, dimana justru lebih banyak orang-orang yang membuat kita semakin jauh dari Allah, bertambah gila kepada dunia, merongrong jiwa, mengotori hati, mengobarkan syahwat, dan mengerdilkan taqwa? Atau, termasuk kelompok manakah kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengukur kebaikan seseorang dari harta atau rupa, namun komitmen kepada agama dan keteguhannya berpegang pada syariat. Komitmen itu pasti akan tampak nyata dalam pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatannya.

Orang yang pikiran maupun perasaannya penuh kesia-siaan dan main-main, pastilah mudah dikenali dari kata-kata dan tindak-tanduknya. Agenda kegiatan hariannya pun penuh kesia-siaan, sejak pagi, siang, sore, malam, hingga pagi kembali. Tema perbincangan yang disukainya pun tidak akan jauh dari senda-gurau dan main-main itu. Sebab, hati adalah raja, dan seluruh tubuh adalah tentaranya.

Mau apa dan bagaimana tentara itu sangat tergantung apa dan bagaimana rajanya. Jika hidupnya penuh kesia-siaan, adakah kita langsung teringat kepada Allah begitu melihatnya?

Maka, sangat wajar jika Allah menyuruh kita menutup aurat dan menjaga penampilan. Sebab, itu akan menentukan apakah kita ini termasuk orang terbaik atau justru terburuk. Betapa banyak orang yang cara berpakaiannya justru menebar fitnah, merusak rumahtangga orang lain, dan memicu perzinaan serta dosa. Sungguh, betapa buruk perbuatan mereka. Na’udzu billah!

Sangat beralasan pula kiranya jika para ulama’ melarang kita berteman dengan orang-orang yang tidak membuat kita segan bermaksiat di dekatnya. Tentu saja, akan lebih terlarang lagi jika teman tersebut justru merupakan sumber kemaksiatan dan bencana pada agama kita. Inilah seburuk-buruk orang!

Diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah berteman dengan orang jahil (tidak bermoral); jauhkan dirimu darinya dan hati-hati kepadanya; Berapa banyak orang jahil yang menjatuhkan martabat orang yang baik-baik saat mereka berteman dengannya; Sebab, seseorang itu akan diukur dengan teman seperjalanannya”.

Dengan demikian, sudah selayaknya kita selalu berusaha untuk menjadi orang yang baik; sosok yang membuat orang lain teringat Allah dimana pun kita berada. Bukan karena ingin dipuji dan dicap sebagai orang shalih, namun agar hidup kita benar-benar terpuji dan shalih di hadapan Allah.

Sebab, seorang muslim adalah saksi bagi sesamanya. Siapa yang baik di mata mereka adalah baik di mata Allah, demikian pula sebaliknya. Karena, seorang muslim sejati akan menilai dengan apa yang digariskan oleh Allah, tentang baik dan buruk, benar dan salah, bukan semata-mata menurut selera pribadi maupun tren yang berkembang.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, bahwa suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekelompok sahabat berpapasan dengan iring-iringan jenazah, lalu mereka pun memuji kebaikan orang yang sudah meninggal itu. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan iring-iringan jenazah lainnya, dan mereka menyebut-nyebut jenazah itu sebagai orang yang tidak baik.

Ketika itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sudah pasti!” Mendengar kalimat itu, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apanya yang sudah pasti?” Beliau menjawab, “Orang yang ini kalian puji kebaikannya, maka sudah pasti baginya surga; dan yang satunya lagi kalian nyatakan sebagai orang yang buruk, maka sudah pasti baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.” (Hadits riwayat Bukhari-Muslim. Redaksi ini milik Bukhari).

Bukankah seorang mukmin adalah cermin bagi sesamanya, tempat saling menimbang, memberi nasihat dan memperbaiki diri? Maka, berhati-hatilah agar jangan sampai mereka bersaksi di hadapan Allah bahwa kita adalah seburuk-buruk manusia! Na’udzu billah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Raker Gabungan Sukoharjo – Wonogiri Launching Apps Pondok Roja dan Perwira

0

SUKOHARJO (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Hidayatullah Sukoharjo dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sukoharjo meluncurkan (launching) aplikasi digital berupa Apps Pondok Roja serta Pesantren Wirausaha (Perwira) Tebar Salam dalam rangkaian acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) gabungan Hidayatullah Sukoharjo – Wonogiri, Ahad, 5 Rajab 1443 (6/2/2022).

Direktur Perwira Tebar Salam Izzul Muslimin pada sambutannya dalam peluncuran tersebut mengatakan peluncuran aplikasi ini merupakan salah satu ikhtiar menjawab tantangan zaman baik di bidang kewirausahaan maupun penguatan jatidiri bagi setiap muslim ditengah tantangan yang ada.

“Untuk menjawab hal itu maka, Pesantren Wirausaha atau Perwira Tebar Salam didirikan,” kata Izzul.

Izzul melanjutkan, pihaknya melalui program dan pengembangan apps ini ingin mewadahi generasi muda sehingga apa yang menjadi minat dan kompetensi mereka dapat tersalurkan dengan baik.

Menurut Izzul, pewadahan dan pemantapan skil sumber daya insani di bidang industri kreatif digital sangat perlu dilakukan apalagi sektor ini telah menjadi tren dewasa ini.

“Penyiapan sumber daya insani untuk menyokong digitalisasi pesantren yang memiliki skill visual grafis, web development. dan lain sebagainya yang berbasis teknologi informasi harus dilakukan,” kata Izzul yang juga content creator yang membesut film pendek “Cadar” ini.

Di kesempatan yang sama, Ketua DPD Hidayatullah Sukoharjo, Ust Sumardi di hadapan hadirin Rakerda dari seluruh Dewan Pengurus Cabang Hidayatullah Sukohajro mengapresiasi ide dan langkah yang telah digulirkan oleh Izzul dan rekan rekan muda lainnya.

Sumardi mendorong agar terus dilakukan inovasi dan melahirkan terobosan demi terobosan yang bermanfaat selaras dengan perkembangan zaman dan teknologi.

“Di era digital ini, pesantren harus berani mendisrupsi diri, supaya pendidikan integral mudah diakses oleh siapapun,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjut Sumardi, DPD Hidayatullah Sukoharjo menginisiasi lahirnya satu aplikasi manajemen pesantren Pondok Roja yang nantinya juga bisa diterapkan dalam menejemen pesantren-pesantren di seluruh nusantara.

Rakerda ini digelar di Pesantren Mahasiswa Tahfidzul Qur’an (Pesmaqu) Pondok Roja yang beralamat di Jln. Veteran Barat no. 75 Combongan, Sukoharjo, Jawa tengah.*/Imam Nawawi

Ponpes Hidayatullah Timika Gelar Penyerahan Syahadah untuk Santri Penghafal

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Timika gelar acara penyerahan syahadah (ijazah) tahfidzul Qur’an kelas takhassus Sekolah Integral Hidayatullah Timika sebagai bentuk penghargaan kepada para ananda yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sampai 10 juz, berlangsung di aula yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Sabtu, 4 Rajab 1443 (05/02/22).

Disamping pemberian syahadah, pada kegiatan itu juga ada sesi uji publik hafalan yang di test langsung oleh hadirin yang hadir.

Dalam sambutannya, ketua LPIH Ponpes Hidayatullah Timika, Ust Abdul Sakir, S.Pd. I menyampaikan terimakasih kepada semua yang terlibat atas terlaksananya kegiatan tersebut serta dukungannya selama ini baik secara moril dan materil.

Dalam sambutan lain, perwakilan dari komite SD Integral Al Amiin juga menyampaikan amanahnya kepada ananda-ananda penghafal Qur’an untuk tetap menjaga hafalan dan mengamalkan isi Al Quran baik kepada sesama, serta menjaga nama baik sekolah dan mengurangi main games gadget.

Sementara itu, Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Timika, Ustad Al Djufri Muhammad mengatakan bahwa Hidayatullah memiliki 3 program inti yaitu pendidikan, dakwah dan sosial.

“Pendidikan di sini dibangun pada semua tingkatan mulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan sampai perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk melahirkan generasi untuk meneruskan estafet dakwah ke depannya,” ungkap Al Djufri Muhammad.

Di akhir kegiatan, Ketua MUI Mimika, KH Muhammad Amin, S. Ag., MM. dalam tausiyahnya mengatakan bahwa “Kita tidak akan kekurangan penghafal Qur’an dan Insya Allah Hidayatullah menjadi wadah untuk mencetak kader penghafal Qur’an”.

Ia menambahkan, ada 3 jenis penghafal Qur’an yaitu pertama menghafal Qur’an tapi zalim tehadap perilakunya; Kedua, menghafal Qur’an tapi tidak mengamalkan, dan, Ketiga, menghafal Qur’an sekaligus mengamalkannya. “Jadilah yang ketiga,” tutup Ketua MUI Mimika berpesan.

Acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua DMI Mimika, Qori senior Mimika, ketua DPD Hidayatullah, ketua yayasan, pengurus dan karyawan Hidayatullah, Ketua komite sekolah dan seluruh dewan guru dari semua tingkatan, serta wali murid utamanya dari ananda-ananda takhassus.*/Abdul Ghaffar Hadi

Hidayatullah Resmikan RA Al Kautsar di Perbatasan RI – Papua New Guinea

ABEPURA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah terus meluaskan kiprah melayani umat melalui program utamanya yaitu dakwah dan pendidikan. Salah satu yang menjadi binaan saat adalah di Abepura, dimana Hidayatullah telah hadirkan gedung Rumah Qur’an sekaligus taman pendidikan Raudhatul Athfal (RA) Al Kautsar di kawasan tersebut yang diresmikan hari ini.

Ketua DPW Hidayatullah Papua Ust Muallimin Amin hadir langsung meresmikan RA Al Kautsar Hidayatullah Koya Koso yang berlokasi tidak jauh dar tapal batas negara RI – Papua New Guinea (PNG), Jl. Trans Papua, Kampung Koya Koso, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Sabtu, 4 Rajab 1443 (5/2/2022).

Dalam sambutannya, Muallimin menyampaikan bahwa sebagaimana program nasional Hidayatullah adalah membuka rumah-rumah Qur’an di seluruh Indonesia.

“Program ini adalah turunan dari program pusat Hidayatullah yaitu berdirinya rumah-rumah Qur’an di seluruh Indonesia dan termasuk di Koya Koso ini,” kata Muallimin.

Muallimin menambahkan, sangat bersyukur dengan adanya tanah wakaf dari H. Jontong almarhum dan nenek Hj. Amma seluas 20.000 m2 di kampung Koya Koso ini dan akhirnya bisa menjadi pusat pendidikan dan pembinaan penghafal Qur’an di Jayapura.

“Kami bersyukur dengan adanya tanah wakaf ini yang kami jadikan sebagai tempat pendidikan Al-Qur’an walau saat ini baru kami awali dengan pendidikan RA (taman kanak-kanak),” ujarnya.

Dia menambahkan, dukungan dari masyarakat sekitar pun sangat dibutuhkan, baik berupa dukungan moril maupun materil. “Karena ini adalah aset umat Islam dan kami selaku pelaksana amanah dari umat,” tandas Muallimin.

Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Jayapura, Ust Indra Rizki, S.Pd yang ditunjuk sebagai penanggunjawab dari Yayasan Tahfidz Hidayatullah Abepura dalam sambutannya menyampaikan rasa sangat bersyukur.

“Berkat dukungan penuh dari masyarakat Kampung Koya Koso sekolah RA Al-Kautsar Hidayatullah Abepura bisa berdiri. Terima kasih bapak-bapak masyarakat Koya Koso yang telah membantu kami dalam pembangunan sekolah ini. Semoga dari sekolah ini lahir para generasi penghafal al-Qur’an,” tandas Indra.

Kepala Kampung Koya Koso, Gidion Waskay, yang memberikan sambutan mengaku sangat mengenal dengan Hidayatullah dan mengerti kerja Hidayatullah sebab telah berinteraksi sejak kecil.

“Saya sudah sangat kenal Hidayatullah, karena sejak kecil saya sudah bersama dan berinteraksi dengan santri-santri disana,” kata Gidion.

Gidion mengatakan, sebagai kepala kampung, pihaknya adalah perpanjangan tangan dari pemerintah kota Jayapura yang sangat berkomitmen untuk memperhatikan kegiatan keagamaan.

“Buatlah program kerja, nanti akan kami masukkan didalam anggaran desa saat Musrembang. Mari kita semua dukung program-program keagamaa terutama Hidayatullah yang bergerak dalam bidang pendidikan dan keagamaan,” kata Gidion seraya menyatakan sebagai wujud nyata dari dukungannya, dia menyerahkan tanah seluas 20.000 m2.

Senada dengan itu, mewakili masyarakat, sebagai tokoh Koya Koso, H. Bakri mengatakan sangat berterima kasih kepada Hidayatullah karena telah menghadirkan sekolah penghafal Al-Qur’an.

“Saya mewakili masyarakat Koya Koso mengapresiasi dan berterima kasih kepada Hidayatullah, sudah menghadirkan sekolah untuk anak-anak kami,” ujarnya.

Haji Bakri menambahkan realita yang ada di kampung ini, walaupun mayoritas muslim namun banyak yang belum bisa membaca Al-Qur’an. “Semoga dengan hadirnya sekolah yang dibuat oleh Hidayatullah, masyarakat disini bisa terbina agamanya,” harapnya.

Acara peresmian ditutup dengan doa dan ramah tamah bersama. Hadir pula dalam acara ini, Pengurus Wilayah Mushida Papua, Pengurus DPW Hidayatullah Papua Barat, Para Asatidz & Asatidzah ponpes Hidayatullah Jayapura serta Masyarakat Koya Koso.*/Miftahuddin

Safari Cinta ke Kampung Muallaf Suku Laut

0
Oleh Mujahid M. Salbu*

FAJAR senja di langit Daik, Lingga, menyambut kami; rombongan tim sinergi BMH dan DPW, diantaranya Abdul Aziz (GM BMH Kepri), Ust Darmansyah (ketua DPW Hidayatullah Kepri), penulis serta tim dari BMH belum lama ini.

Tujuan utama menuju kampung muallaf selat Kongki. Sepanjang perjalanan, beberapa pemandangan menakjubkan terpampang di depan mata, diantaranya bebatuan yang seolah terbentuk dari pahatan alam dengan struktur lanset berdiri kokoh menghadap selat Berhala.

Ustadz Awwalin, Ustadz Hamka dan beberapa pengurus Hidayatullah Lingga telah menanti di pelabuhan. Kelelahan dan ketegangan menerjang ombak selaba sepanjang jalan mulai reda, berganti kebahagiaan bertemu saudara seperjuangan. Seperti teks yang bergerak dinamis lalu menemukan jeda untuk memulai paragraf baru.

Dari Daik ke selat Kongki harus menggunakan speedboat atau kapal carter, sebab, selat Kongki tidak terkoneksi dengan moda transportasi reguler dari pulau ke pulau.

Qadarullah, Hidayatullah Lingga, mengenal seorang ansharullah, bang Andika, demikian kami memanggilnya, seorang nelayan yang memiliki armada kapal berukuran besar. Bersama bang Andika kami berangkat membawa kerinduan pada para muallaf, sebuah safari penuh cinta pada saudara-saudara seiman.

Berdasarkan data geografi dan demografi pemkab Lingga, di kabupaten ini terdapat 531 buah pulau besar dan kecil, serta 447 buah pulau diantaranya belum berpenghuni. Beberapa di antara pulau berpenghuni itu masyarakatnya muslim muallaf, aqidah mereka sangat rentan dipengaruhi, karena pemahaman yang masih minim, sehingga perlu terus di kawal dan dibimbing.

Betapa indah perjalanan hidayah Allah Subhana wa ta’ala menuju perkampungan nelayan Suku Laut yang terpencil itu, sebuah kampung yang nyaris tak mengenal peradaban, seindah pemandangan sepanjang perjalanan, yang kami saksikan dari kapal yang membawa kami dan para da’i menyusuri lipatan-lipatan ombak, mengarungi lautan tarbiyah dan dakwah yang tak bertepi.

Kebahagiaan terukir di lubuk hati, saat kapal tiba, melempar sauh dan berlabuh di bibir kampung muallaf, selat Kongki, sebuah pemandangan eksotis ketika menyaksikan saudara seiman menyeruak dari bilik-bilik rumah kayu menuju mushollah untuk menunaikan sholat fardhu. Perkampungan nelayan yang sangat sederhana itu terlihat seperti serpihan mutiara yang memancarkan kemilau indahnya hidayah Allah Subhana Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

‎ۗ مَنْ  يَّهْدِ  اللّٰهُ فَهُوَ  الْمُهْتَدِ   ۚ وَمَنْ  يُّضْلِلْ  فَلَنْ  تَجِدَ  لَهٗ  وَلِيًّا  مُّرْشِدًا

“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya”. QS Al Kahfi (18):17.

Derit kayu terdengar riuh, saat para da’i Hidayatullah menapakkan kaki di perkampungan atas air. Kampung yang dihuni sekira 14 KK atau 60 jiwa itu terletak di sudut peradaban yang sunyi, hanya ada debur ombak, kicau burung yang hinggap di dahan-dahan bakau serta desau angin yang berembus dari musim ke musim.

Sejak mengucapkan dua kalimat syahadat pada 1996 silam, tidak ada lagi pembinaan, para muallaf terabaikan. Di kampung itu tak ada mushollah, tak ada ustadz yang membimbing. Islam hanya tengiang di telinga mereka, terpampang di mata sebagai bayangan semu.

Hidayatullah melalui BMH Kepri, DPW Hidayatullah Kepri dan para da’i di Hidayatullah Lingga terpanggil menyambangi, menebar simpati dan empati, alhamdulillah mereka tetap teguh menggenggam erat agama yang telah mereka pilih, meski godaan silih berganti menghampiri.

Hidayatullah bersama para dermawan dan muhsinin, kini telah menghadirkan mushollah yang representatif, fasilitas air bersih dan memenuhi kebutuhan alat sholat seperti baju koko dan mukena. Para muallaf tak lagi berwudhu dengan air asin atau air hujan yang ditampung, air bersih telah mengucur dari keran.

Selain itu, Hidayatullah juga atas kebaikan para dermawan telah membeli dua unit pompong (perahu berukuran sedang) untuk sarana transportasi da’i dan da’iyah untuk pembinaan di pulau-pulau sekitar Lingga khususnya di selat Kongki.

Sejak kehadiran para da’i, suku Laut yang muallaf itu tidak lagi hanya mendengar debur ombak, kicau burung dan desau angin, karena setiap waktu shalat tiba, kumandang azan mengalun menembus dinding-dinding rumah, di sore hari, terdengar suara terbata-bata dari anak-anak dan orang tua yang sedang mengeja alif ba ta. Mereka dibimbing ustadz Sabrian dan ustadzah Juli dari pulau tetangga.

Al Qur’an telah hadir menyapa muallaf Suku Laut, dengan penuh semangat mereka menatap huruf demi huruf lalu berusaha mengeja dengan lidah yang digerakkan oleh kerinduan pada kitab sucinya. Mereka juga belajar berwudhu sebab lima kali sehari mereka akan ruku dan sujud di atas papan yang disusun dari kebaikan-kebaikan para dermawan yang digerakkan hatinya oleh Allah Subhana wa ta’ala.

Saat kami berkunjung, salah seorang warga, Abdullah (46 tahun) mendekati seorang pengurus, menyampaikan dengan raut wajah bahagia, bahwa dirinya sudah sampai Iqra 3, ia bahagia karena telah mengenal huruf demi huruf, bahagia karena mulai dapat membaca al Qur’an, kitab suci yang puluh tahun lenyap dari kehidupannya. Kami bahagia bercampur haru mendengar informasi itu, berharap kemuliaan al Qur’an senantiasa meliputi kehidupan mereka.

Jika dulu, dalam sejarah disebutkan bahwa Suku Laut bertugas menjaga selat-selat, mengusir bajak laut sebagai penjaga perairan kesultanan, hingga memandu para pedagang ke pelabuhan kesultanan di Melayu, maka kini, mereka menjadi penjaga risalah Islam di selat-selat dan pulau.

Menjelang senja, kami pamit, mengulurkan tangan dan menggenggam erat tangan-tangan yang hitam legam dan kasar yang insya Allah kelak di akhirat menjelma tangan yang seputih kapas dan selembut salju.

Semoga para da’i diberi kekuatan untuk terus membersamai para muallaf di selat Kongki dan di tempat lain, menggandeng tangan mereka bersama-sama menuju jannatun na’im, tempat yang penuh kenikmatan yang dijanjikan Allah Subhana wa ta’ala.

Kapal mulai bergerak pelan, warga kampung selat Kongki berbaris di bibir dermaga, mengantar kepulangan kami kembali ke Daik, Lingga, kecepatan kapal semakin tinggi, lamat-lamat perkampungan di atas air itu hilang dari pandangan, jarak kami semakin jauh tetapi hati dan jiwa kami masih tetap menyatu dalam ikatan ukhuwah yang kukuh.

*) Mujahid M. Salbu, penulis adalah wartawan yang juga Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Dewan (HAL) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepri

Meneguhkan Tauhid sebagai Pondasi Utama dalam Ketaatan

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pembina Yayasan Pesantren Hidayatullah Batam KH Jamaluddin Nur, M.Pd, mengatakan Tauhid sebagai dasar agama Islam yang telah dipersaksikan dalam frasa “Lā ilāha illallāh” haruslah diteguhkan karena ia adalah pondasi utama dalam ketaatan kepada Allah SWT.

“Pertama menjadikan Tauhid sebagai pondasi penting dari awal perlangkahan sebagai pijakan dalam bertindak serta hal yang sangat penting dalam menjalankan ketaatan,” kata Ustadz Jamal, sapaan akrabnya, pada acara pengajian rutin yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam di Masjid Agung Hidayatullah Kampus 1 Batu Aji, Sabtu pagi, 4 Rajab 1443 (05/02/22).

Ustadz Jamal mengatakan, mereka yang memiliki Tauhid yang kuat selalu ada keikhlasan yang menyertainya, dan ini tidak akan lahir kecuali ada upaya yang sungguh sungguh (riyadhah) serta mengilmuinya.

“Oleh karenanya proses iqra’ harus terus digalakkan baik formal maupun non formal,” katanya.

Lebih lanjut Ustadz Jamal menjelaskan ideologi menjadi poin inti yang harus terus diasah bahwa kita hidup penuh dengan pertarungan.

Memantapkan ideologi, jelas beliau, adalah sebuah keharusan sebab ia sebagai tameng dari serangan ideologi-ideologi hari ini bahkan senjata untuk melakukan pertahanan pemikiran yang sumber inspirasinya dari Al Qur’an.

Di waktu yang sama, kata Ustadz Jamal, kekuatan spiritual juga dibutuhkan oleh mereka yang ingin menyongsong kebangkitan umat serta bisa menjadi salah satu wasilah untuk penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik secara individu maupun jamaah.

Peraih penghargaan Tokoh Pendidikan Agama Islam terbaik di kota Batam dari Dewan pendidikan kota Batam (DPKB) ini mengungkapkan bahwa kesadaran ketauhidan akan mengantarkan pelakunya kepada kedewasaan dan kebijaksanaan bersikap.

“Ketika telah melewati proses tersebut dengan dibarengi spritual yang mapan sebagai salah satu wasilah upaya menghidupkan malam-malam untuk bersujud kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang dicontohkan oleh orang-orang shalih terdahulu,” ungkapnya.

Jika sudah seperti demikian, maka kita akan merasakan kenikmatan dalam menjalankan shalat malam walaupun harus dengan posisi yang perlu disesuaikan seperti yang dirasakan oleh beliau saat ini.

Penerima Anugerah Batam Madani dari sembilan tokoh Batam pada tahun 2015 ini menambahkan bahwa jika kita telah memiliki Tauhid yang kuat, ideologi, serta spiritual yang mapan maka sebagai wujud dari keberimanan kita harus mendakwahkannya.

“Harus siap dan menyiapkan diri menjadi duta dakwah apatahlagi dengan kondisi hari ini sudah ada sarana media sosial, Hidupkan dakwah di sosial media, agar konsumsi media tersebut bisa berimbang dengan informasi-informasi kebaikan,” pesannya.

Dalam pada itu, Ustadz Jamal menambahkan, penguasaan konsep dalam pemaparan pada surat Al Fatihah menjadi sebuah konsep ideal yang ingin dituju agar visi unggul, profesional, dan sejahtera dapat kita raih.

“Kita harus berupaya unggul pada seluruh sendi kehidupan. Kader Hidayatullah adalah petarung yang kesiapan fisik dan mentalnya perlu ditopang dan disiapkan oleh masing-masing kita,” tutupnya.*/Ilman Abdullah

Terima KMA, Kemenag Harap STAI Al Bayan Hidayatullah Inklusif dan Wasathiyah

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar secara resmi menerima dokumen Keputusan Menteri Agama (KMA) izin pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar.

KMA institusi dan prodi untuk STAI Al Bayan diserahkan secara langsung oleh Direktur Pendisikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kemenag RI, Prof Dr Suyitno MAg dan diterima Ketua Yayasan Al Bayan Suwito Fatah MM pada kegiatan silaturahmi dan penyerahan KMA di Hotel Teras Kita Jl AP Pettarani, Makassar, Kamis, 2 Rajab 1443 (3/2/2022).

Secara resmi, KMA STAI Al Bayan telah terbit sejak 2 September 2021 lalu untuk menyelenggarakan tiga program studi (prodi) Ekonomi Syariah, Tadris Matematika dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtadaiyah (PGMI).

Dalam pidatonya, Prof Suyitno menjelaskan sebuah bahwa perguruan tinggi prinsipnya didirikan untuk memberikan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat, tidak eksklusif untuk kelompok tertentu saja, tapi harus inklusif.

“Selain itu, Kemenag menegaskan agar STAI Al Bayan harus memperhatikan betul pengajaran kurikulum wasathiyah. Sehingga sarjana keluaran STAI menjadi duta-duta bangsa yang membawa nilai Islam wasatiyah dan inklusif,” tegasnya dalam rilisnya diterima media ini.

Senada dengan harapan pihak Kemenag, Suwito dalam sambutan sebelumnya lebih dahulu menegaskan STAI Al Bayan digagas dan didirikan untuk membawa misi Islam kaffatan linnas Rahmatan lil ‘alamin

“Yakni menjadi perguruan tinggi yang akan mencetak para sarjana yang akan memberikan kemanfaatan dan kemajuan Islam di NKRI,” jelasnya.

Mewakili Dewan Pembina dan jajaran pengurus Yayasan Al Bayan maupun Badan Pengelola STAI Al Bayan, Suwito, mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Kemenag yang memberikan izin dan akreditasi untuk STAI Al Bayan.

“Kami juga mengharapkan bimbingan dan arahan agar STAI Al Bayan menjadi perguruan tinggi yang unggul dan mendapat kepercayaan dari masyarakat maupun pemerintah,” tambahnya.

Hadir mendampingi penyerahan KMA bagi STAI Al Bayan Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama PTKI Kemenag RI Muh Adib Abdushomad MAg MEd PhD dan Kasi Penjaminan Mutu Kelembagaan PTKI Kemenag RI Ahmad Mahfud MAg. “Agar STAI tumbuh dan tangguh jangan eksklusif dan perbanyak silaturahmi,” tambah Muh Abid.

Penyerahan KMA tersebut disambut antusias oleh seluruh pengurus Hidayatullah di Sulsel. Hadir jajaran Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Ust Ir H Abd Majid MA yang juga sebagai Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel dan Ust Drs H Ahkam Sumadiana MA, sekaligus mewakili Ketua Dewan Pembina Ust Dr H Abd Qahhar Mudzakkar MSi.

Nampak bahagia pula Dewan Pengawas Ust Drs Nasri Bukhari yang merupakan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel yang hadir bersama jajaran pengurus DPW dan DPD serta anggota dewan pengawas Ust Drs Muhammad Kaisar juga merupakan Ketua DPD Hidayatullah Maros.

Dari unsur pemerintah hadir sebagai undangan menyaksikan penyerahan KMA tersebut pihak Kanwil Kemenag Sulsel, Dir Binmas Polda Sulsel, Kabag Binmas Kapolrestabes Makassar, Danramil Tamamanrea, Kepala Kemenag Makassar, Camat dan Kapolsek Tamalanrea.*/

Prof Nuh Kunjungi Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Berbagi Nasihat Kebangsaan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. Ir. K.H. Mohammad Nuh, DEA, berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan di Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 30 Jumadil Akhir 1443 (01/02/2022).

Sebelumnya, Prof Nuh menghadiri acara Pengukuhan PBNU dan Harlah ke-96 Nahdlatul Ulama di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (31/01/2022). Acara ini turut dihadiri oleh Presiden Ir Joko Widodo dan Wapres KH Ma’ruf Amin.

Komisaris Utama Bank Mega Syariah ini hadir dengan penampilan khas kiai Nahdliyin, berpeci hitam, berbatik coklat, dan bersarung warna sepadan, mengenakan sandal kulit model jepit. Tak lupa ia bermasker. Prof Nuh datang ke kampus Hidayatulah didampingi Kepala Cabang Bank Mega Syariah Balikpapan, Yudiyanto.

Prof Nuh mengapresiasi keberadaan dan peran Hidayatullah selama ini bagi umat, bangsa, dan negara. Termasuk dalam dunia pendidikan yang menjadi salah satu arus utama Hidayatullah.

Pada kesempatan tersebut Prof Nuh menyampaikan nasihat kebangsaan dan berharap Hidayatullah terus meningkatkan perannya dalam membangun Indonesia.

“Indonesia itu kan besar sekali, tidak mungkin diselesaikan oleh kelompok tertentu, sama sekali tidak mungkin. Semangat kita pun juga semangat Bhinneka Tunggal Ika, jadi siapapun yang ada di masyarakat ini, yang memiliki cita-cita yang sama, cita-cita NKRI, maka itu harus bekerja sama, harus bersinergi,” ujarnya kepada hidayatullah.com Balikpapan di sela-sela acara itu.

Cita-cita tersebut, urai Prof Nuh, yaitu mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.

“Jadi kita dulu itu waktu merdeka punya janji, namanya janji kemerdekaan. Janji kemerdekaan itulah yang harus kita tunaikan. Karena sebaik-baik orang itu orang yang menunaikan janjinya. Sejelek-jelek orang yaitu orang yang abai terhadap janjinya. Kita semua sebagai warga negara komitmen untuk menunaikan janji kemerdekaan itu,” ujarnya didampingi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Ummulqura Balikpapan Hamzah Akbar.

Demikian itulah yang Prof Nuh harapkan kepada Hidayatullah dalam membangun sinergi dengan berbagai elemen kemasyarakatan lainnya termasuk tentu ormas-ormas Islam. “(Hidayatullah) TOP,” ujarnya mengapresiasi dengan memberikan penekanan singkat dan khusus pada tiga huruf terakhir itu.

Dalam agenda silaturahim itu, mantan Rektor Institut Sepuluh November (ITS) Surabaya tersebut menyempatkan diri melaksanakan shalat ashar berjamaah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan.

Setelah itu ia bertaaruf dan memberikan taushiyah kepada seluruh warga, santri, dan jamaah masjid. Ketua YPPH Ummulqura Balikpapan Hamzah Akbar merasa sangat senang menyambut kedatangan Prof Nuh.

“Terima kasih kepada Pak Prof, bisa bermuwajahah dengan kita semua di kampus Ummulqura Indonesia,” ucap Hamzah Akbar yang berpeci hitam dan berbatik saat memberikan sambutan dari podium masjid, di hadapan ratusan jamaah shalat ashar.

Selain itu, Hamzah juga menjelaskan sekilas profil Prof Nuh agar semakin dikenal oleh para santri. “Dulu (beliau) satu periode menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika, setelah itu diangkat jadi Mendikbud lagi,” ungkapnya memperkenalkan sosok Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) itu.

Dalam taushiyahnya, Prof Nuh menyampaikan rasa syukur dan bahagianya bisa mengunjungi Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan itu.

Prof Nuh juga merasa senang bisa berjumpa dan melihat wajah-wajah para santri.

“Jika saya memandang adek-adek semua ini bukan dengan pandangan biasa, tapi dengan pandangan hati, In sya Allah adek-adek ini selalu menjadi orang yang memberi kemanfaatan kepada bangsa dan negara,” tuturnya di podium masjid.

Suasana silaturahim Prof Nuh itu berlangsung hangat. Para Pengawas serta Pembina YPPH, warga, dan santri Hidayatullah Ummulqura Balikpapan menyambut dengan penuh antusias.

Kehangatan itu tampak pula ketika Prof Nuh bercerita terkait pemuda-pemuda zaman dahulu yang alim lagi cerdas. Setiap menceritakan kisah seorang pemuda, Prof Nuh menunjuk santri secara acak lalu memanggilnya untuk berdiri di samping mimbar.

“Adek coba ke sini, kita contohkan ya,” ujar Ketua Dewan Pers 2019-2022 ini seraya menunjuk seorang santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH).

“Namanya siapa?” tanya Prof Nuh kepada santri.

“Abdul Hakim,” jawab santri itu.

“Asalnya dari mana?”

“Dari Kalimantan Utara!”

“Kalimantan Utara jauh kah (dari Kalimantan Timur)?”

Santri itu pun geleng-geleng.

“Loh Timur ke Utara kan jauh,” canda Pak Prof disambut tawa oleh seluruh jamaah.

Acara di Masjid Ar-Riyadh itu ditutup dengan pembacaan doa yang dibawakan oleh Ketua Bidang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan, KH Irwan Budiana.

Setelah Prof Nuh melakukan ta’aruf dan memberi taushiyah di hadapan seluruh jamaah Hidayatullah Ummulqura Balikpapan, dilakukan ramah tamah bersama para pengurus YPPH, dosen STIS Hidayatullah, serta guru SMH, MI RM Putra, dan Ahlus Shuffah di Kantor YPPH.

Sumber: ummulqurahidayatullah.id