Beranda blog Halaman 442

Antusias Kolektif untuk Munas Virtual yang Sukses dan Progresif

0

Siaran pers perihal helatan Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah telah beredar luas di beragam media online Tanah Air. Hal ini mengindikasikan dua hal setidaknya.

Pertama, pandemi bagi Hidayatullah tidak boleh menghalangi “agenda” penting organisasi. Memang tak bisa seutuhnya, seperti biasanya digelar, namun tetap bisa dilakukan dengan adaptasi gaya baru dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, sehingga Munas V Hidayatullah digelar secara virtual.

Kedua, kesiapan menghadapi perubahan dan kondisi tak terduga merupakan hal yang harus ditanamkan secara kuat di dalam diri kader dan anggota Hidayatullah, terutama jika itu berkaitan dengan hal-hal yang secara pokok, prinsip, dan mendasar benar-benar harus dijalankan.

Jika kita merujuk pada dua makna tersirat yang melatarbelakangi mengapa Munas V tetap digelar meski secara virtual, maka terang dapat kita ambil pelajaran bahwa sejauh ada ruang bagi optimisme untuk ditanam, sebisa mungkin kita semua harus mengupayakannya.

Pada saat yang sama ada tantangan baru yang jika ini berhasil, yakni penyelenggaraan secara virtual maka akan memantik kesadaran seluruh kader dan fungsionaris Hidayatullah kian akrab bahkan tertantang untuk menguasai Teknologi Informasi yang di dunia digital ini benar-benar telah menggerus banyak sektor dalam kehidupan umat manusia.

Dalam waktu yang sama ini juga menantang dua hal setidaknya bagi segenap kader dan fungsionaris Hidayatullah. Pertama, kesiapan. Kedua, konsentrasi.

Menyelenggarakan sebuah even dalam bentuk virtual tentu memiliki sisi positif yang cukup besar, mulai dari waktu hingga anggaran. Namun, sisi lain, ini membutuhkan frekwensi yang sama antara penyelenggara dengan seluruh “peserta” yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, sehingga ada semacam azam, sedetik pun tak mau ketinggalan siaran Munas V Hidayatullah.

Selanjutnya konsentrasi, ini bukan perkaran ringan untuk diwujudkan. Terlebih secara kasat mata kita mudah sekali dapati bahwa dalam tempo tidak kurang dari 5 menit, orang sudah “tergoda” untuk terus melihat Handphone.

Hasil studi Microsoft menyebut jika rataan rentang perhatian orang terhadap sesuatu cuma bertahan delapan detik.

Hasil studi yang dirilis 2015 itu menunjukkan rataan rentang perhatian pendek ini mulai terjadi sejak awal milenium, tepatnya saat revolusi digital dimulai.

Studi tersebut juga mengonfirmasi kecenderungan Gen Z gelombang awal dan milenial penghabisan untuk menggunakan gadget-nya saat tak ada aktivitas yang dilakukan. Sedikitnya 77% orang berusia 18-24 mengatakan bakal meraih gadget-nya jika tak ada hal yang menarik perhatian di sekelilingnya.

Jika berani jujur, coba cek berapa kali dalam setiap pertemuan virtual diri tak bisa lepas dari menatap layar handphone di luar kebutuhan dan kepentingan pertemuan yang diikuti?

Namun sejatinya, menjawab dua tantangan di atas juga bisa disolusikan dari kesiapan panitia penyelenggara untuk memantik perhatian dan konsentrasi yang hadir secara virtual. Jika dahulu ada istilah publicspeaking, maka sekarang muncul istilah yang lebih dibutuhkan digitalspeaking, dimana seseorang akan kurang mampu menarik konsentrasi orang jika dalam berbicara sama seperti ia sedang bertemu secara offline.

Seorang praktisi merekomendasikan bahwa salah satu hal yang perlu diperhatikan pada komunikasi digital adalah teknik “Claps” atau Clear, Loud and Powerful Speaking.

Beberapa aspek dalam Claps ini termasuk intonasi, aksentuasi atau penekanan, kecepatan (110-130 kata per menit), serta artikulasi.

Artinya, para narasumber yang berbicara harus benar-benar mampu mengeluarkan kalimat-kalimat yang berenergi sekaligus jelas di dengar. Ada asumsi bahwa apabila kita berbicara tidak jelas atau terdengar seperti bergumam, maka pendengar akan dengan mudah kehilangan konsentrasi.

Di era digital, penyampaian harus ekstra jelas. Karena audiens hanya melihat medium close up dan bahasa tubuh tidak dapat terlihat dengan jelas, sebagaimana pertemuan langsung atau offline.

Uraian dari naskah ini mungkin tak seperti biasanya, lebih dominan nuansa teknis, akan tetapi ini sangat penting menjadi perhatian semua pihak, setidaknya panitia dan peserta, sehingga Munas V Hidayatullah yang saya katakan pada tulisan sebelumnya adalah Munas Istimewa benar-benar memberikan daya ungkit signifikan terhadap kesadaran diri bahwa Hidayatullah adalah ormas yang istimewa dan karena itu, mulai dari sekarang, sisi niat, komitmen, hingga cara beradaptasi dalam pertemuan virtual benar-benar dikondisikan dengan sebaik mungkin demi terwujudnya antuasiasme kolektif yang benar-benar melahirkan gelombang progresivitas lembaga dan umat.

Oleh: Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

Strategi Hidayatullah Tangkal Krisis Akidah Saat Wabah

0

JAKARTA (Hidayatullah.o.id) — Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah, Candra Kurnianto, mengatakan, untuk menangkal krisis ekonomi yang berpotensi pada bergesernya krisis akidah, PP Hidayatullah melakukan sejumlah strategi.

Pertama, yakni dari lingkup internal. Lembaga dakwah ini membangun imunitas kesehatan ekonomi. Solidaritas dan kerja sama berbagai pihak pun dibutuhkan untuk mengeksekusinya.“Kita bangun kepedulian. Rujukan kita adalah surah al-Ashr. Pesannya jelas di situ bahwa kepedulian harus kita lakukan. Ini pesan agama,” ujar dia.

Di Jabodebek, kata dia, PP Hidayatullah berupaya memberikan dukungan material kepada para pengajar Alquran di 150 Rumah Quran. Caranya dengan memberikan upah mengajar sebesar Rp 750 ribu setiap bulan kepada para tenaga pengajar Alquran. Dia menegaskan, sektor ini yang berupaya mentransfer ilmu-ilmu agama dari jenjang usia yang berbeda.

“Dari anak-anak sampai kalangan orang dewasa, ibu-ibu juga. Artinya, sekecil apa pun yang kami lakukan, mudah-mudahan dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita,” ujar dia.

Lewat para tenaga pengajar Al-quran, dia meyakini, upaya untuk meneguhkan akidah umat pun juga tersampaikan. Harapannya, pandemi Covid-19 ini diharapkan mampu dipahami sebagai ladang ujian dan kesabaran yang harus pandai-pandai dijalankan. Bersama dengan Baitul Maal Hidayatullah, dia mengungkapkan, program edukasi dan filantropi tersebut diupayakan mampu menjembatani umat agar dapat melewati pandemi dengan sebaik-baiknya.

Dengan kekuatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), PP Hidayatullah berupaya menggandeng sejumlah pihak untuk mengembangkan ekonomi produktif,“ kata dia. Tak hanya dari PP Hidayatullah, Candra menyebut, kerja sama pun dibuka seluas-luasnya kepada lembaga amil zakat (LAZ) lainnya ataupun instansi. “Kita ajak juga pemda dan Baznas untuk berkolaborasi.”

Ormas Hidayatullah Akan Gelar Munas V Secara Virtual Oktober 2020

0
Drs. Wahyu Rahman, Ketua Panitia Munas V Hdayatullah.

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Oraganisasi masyarakata (Ormas) Islam di Indonesia, Hidayatullah telah memutuskan akan menggelar acara musyawarah nasional (Munas) V secara virtual pada bulan Oktober 2020. Hal ini berdasarkan hasil keputusan musyawara majelis syura Hidayatullah pada 2-4 Agustus 2020.

Ketua Panitia Munas V Hidayatullah, Ustad Drs Wahyu Rahman, menjelaskan, Munas Hidayatullah kali ini akan dilaksanakan secara daring. Adapun pusat kegiatan bertempat di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dengan 34 titik lain sebagai perwakilan tiap-tiap DPW Hidayatullah yang ada di daerah.

“Munas Hidayatullah kali ini akan kita lakukan secara online berdasarkan hasil keputusan Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah,” kata Wahyu Rahman dalam keterangannya kepada kami, Selasa (01/09/2020).

Perhelatan nasional ini digelar secara virtual dengan mempertimbangkan banyak hal terutama pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum berakhir. Kondisi saat ini, jelasnya, sangat tidak memungkinkan mengumpulkan orang banyak.

Wahyu Rahman menegaskan akan adanya pemberlakuan ketat protokol kesehatan pada acara Munas ini selama di lokasi acara, baik yang berpusat di Kampus Hidayatullah Depok, maupun di titik-titik lainnya.

Munas V Hidayatullah pada tahun 2020 ini akan digelar pada tanggal 29-31 Oktober 2020, dengan mengusung tema “Meneguhkan Komitmen Keummatan Menuju Indonesia Bermartabat”.

Wahyu Rahman menjelaskan, panitia Munas telah melakukan berbagai upaya dan menyiapkan segala kebutuhan agar Munas daring ini berjalan sebagaimana diharapkan. “Namun kita tetap memperhatikan dinamika yang terjadi terkait wabah covid-19 dari sekarang sampai akhir Oktober nanti.  Segala sesuatu masih bisa berubah menyesuaikan kondisi,” tegasnya.

“Dengan banyaknya jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia, dibutuhkan kesiapan yang matang. Seluruh panitia dan tim pekerja Munas Hidayatullah telah berusaha untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan sehingga acara berlangsung sebaik-baiknya,” jelasnya.

Wahyu Rahman menjelaskan, segenap DPW Hidayatullah juga terus bekerja dalam rangka bergegas menyambut acara yang kali pertama digelar secara online ini.

Pihaknya juga menyiapkan segala kebutuhan untuk sukses penyelenggaraan acara ini, seperti kelengkapan perangkat teknis termasuk memaksimalkan jaringan data maya.

“Kita juga telah berkoordinasi ke masing masing perwakilan DPW untuk menyiapkan segala sesuatunya,” ujarnya.

Departemen Aset Hidayatullah Adakan Pelatihan Secara Daring

0
Kordinasi Secara Daring Departemen Aset

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bagi kebanyakan pengurus Hidayatullah yang terbiasa melakukan pertemuan secara langsug dalam rangkaiannya selalu saja ada diskusi dan silaturahmi tatap muka sudah menjadi adatnya.

Kali ini berbeda dari lazimnya, Departemen Wakaf dan Kehartabendaan melakukan Rapat Kordinasi Aset yang dilakukan secara daring dengan peserta para ketua departemen aset DPW Hidayatullah se-Indonesia.

Menggunakan aplikasi Google Meet berlangsung selama tiga hari, yakni Sabtu hingga Senin tanggal 29, 30 dan 31 Agustus. Tentu saja peserta memilih tempat  yang berbeda beda. Dari latar belakang tempat duduknya terlihat ada yang di rumah apalagi sesekali ada anak kecil melintas dan bahkan ada yang ikut nimbrung di layar dan selanjutnya pergi setelah diminta pergi orangtuanya.  

Beberapa yang lain terlihat formal di kantor yang identik latar belakakng lemari arsip dan alat tulis kantor lainnya.


Ketua Departemen Wakaf dan Kehartabendaan Syaiful Hamid, SH. MH. menjelaskan dengan keragaman kondisi ruang dan kekuatan sinyal jaringan internet di setiap daerah berbeda hal itu  jangan mengurangi semangat mengikuti rapat kordinasi ini.

Menyoal kepengurusan aset ini menjadi hal yang harus diprioritaskan meskipun bukan sebagai program mainstream organisasi namun ini menjadi pokok ketika dianggap bisa menopang lancarnya aplikasi program utamanya.

“Kita kembali ke kaidah usul, sesuatu yang bisa memudahkan kewajiban itu berjalan lancar maka sesuatu itu mrnjadi utama dalam hal ini pengurusan aset itu sendiri” jelas Syaiful Hamid.

Diterangkan, dalam kepengurusan aset ini membutuhkan banyak ketelatenan dan kesabaran, kreatifitas karena kalau tidak sabar bisa mundur  dengan tantangan yang banyak baik secara fisik maupun psikis.

Rakor ini adalah langkah awal, saya yakin secara keilmuan tidak banyak yang diserap tapi  learning by do it dengan kata lain menambah ilmu dari praktek kepengurusan aset adalah efektif karena semua akan menemui pengalaman baru dalam prosesnya.

Selain ketua departemen wakaf dan Kehartabendaan juga ikut memberikan materi  ketua Bidang Perokonomian Asih Subagiyo, S.Com  dan H. Abdul Rasyid Ridho praktisi aset yang berpengalaman mengalihkan nama sertifikat tanah dari pribadi atau yayasan menuju Badan Perkumpulan Hidayatullah di Indonesia.

Paska diadakannya  Rapat Kordinasi Nasional Aset DPP Hidayatullah ini diharapkan dalam setiap tahunnya di setiap wilayah dan daerah ada saja yang sukses mengalihkan nama ke Badan Perkumpulan Hidayatullah.

Hal ini dijelaskan secara mendasar bahwa dalam menjaga amanah hibah tanah umat kepada Hidayatullah lebih aman dan  tidak disalah gunakan, sekaligus ikut memelihara amal jariyah pewakaf dan keluarga besarnya  agar pahalanya tidak terputus lantaran di kemudian hari ada gugatan dari salah satu ahli warisnya.

“Nah hal itu yang kita lakukan agar pewakaf dan keluarganya bisa menikmati pahalanya” tutup Abdul Rasyid Ridho dalam penyampaiannya di hadapan peserta.*BashoriSulbar

Kepemimpinan

0

Tahun 2020 sejatinya tahun yang bisa diibaratkan seperti musim buah-buahan. Berbagai ormas bahkan daerah akan memasuki masa-masa gelaran pergantian pemimpin puncak melalui beragam nama forum, seperti muktamar, musyawarah nasional, musyawarah besar dan mungkin yang lainnya.


Sekalipun beberapa di antaranya, seperti Muhammadiyah dan juga NU telah memutuskan melaksanakan agenda lima tahunan mereka di masa pandemi telah pergi, alias tidak di tahun 2020 ini. Namun tidak demikian halnya dengan Hidayatullah bahkan pemerintah melalui program Pilkada serentaknya.


Ketua Panitia Munas V Hidayatullah, Wahyu Rahman melalui meme yang beredar luas menyebutkan, “Munas Hidayatullah kali ini akan kita lakukan secara online. Berdasarkan hasil keputusan Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah.”


Semua agenda di tahun 2020 nampaknya akan menjadi kenangan tak terlupakan, mengingat di tahun ini semua hal dibatasi, mulai dari sekolah hingga menikah, mulai dari keluar rumah hingga beramah-tamah. Namun, masih ada satu alternatif yang belakangan booming di tengah-tengah masyarakat, yakni pertemuan virtual alias online.


Ini berarti, Munas Hidayatullah V juga hampir bisa dipastikan akan menjadi Munas yang “istimewa” dan karena itu tidak akan terlupakan. Ibarat sebuah musim panen, bisa dikatakan ini adalah panen yang mengesankan, karena tetap bisa dilakukan, walau pun dengan cara yang berbeda dan memerlukan begitu banyak macam adaptasi di dalam memanennya.


Kepemimpinan


Ada beragam definisi tentang kepemimpinan, Griffin dan Ebert misalnya memahami kepemimpinan (leadership) sebagai proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pandangan Huges Ginnett dan Curphy menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah sebuah fenomena yang kompleks meliputi tiga elemen yaitu pemimpin, yang dipimpin dan situasi.


Artinya, bagi sebagian pemikir Barat, kepemimpinan lebih pada sisi permukaan yang menyentuh aspek manajemen, teknis dan budaya yang memang memenuhi syarat dalam kajian ilmiah versi mereka. Namun, sejatinya kepemimpinan lebih dari sekedar apa yang mereka pahami.


Dalam Islam, pada kepemimpinan level satu saja (keluarga) sudah terang bahwa kepemimpinan adalah perihal tanggung jawab seorang suami dan sekaligus ayah memastikan keluarganya tidak tersentuh api neraka.

Postulat ini memberikan pemahaman terang bahwa kepemimpinan adalah keteladanan, komitmen dan pengorbanan untuk sebuah progresivitas.


Jika kemudian postulat itu kita bentangkan dalam ruang sejarah peradaban Islam, maka kita akan mudah temukan, bagaimana peran-peran kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ beserta para sahabatnya lebih mengarah pada kekuatan teladan, komitmen kebenaran, dan progresivitas dakwah dan tarbiyah.


Dengan demikian, hal yang harus selalu ada dalam kehidupan ini adalah soal kepemimpinan. Sebab dalam perspektif Barat maupun Islam, kepemimpinan mutlak diperlukan. Bagi Barat kepemimpinan diperlukan untuk pemecahan masalah sosial yang kompleks. Dalam Islam, kepemimpinan menentukan rahmat dan berkah dari Allah Ta’ala kepada pendudu sebuah negeri (QS. 7: 96).


Oleh karena itu kemudian dikenal istilah kepemimpinan profetik, yang diharapkan mampu menggeser skala motivasi manusia dari sekedar aspek-aspek permukaan seperti bagaimana bertahan hidup, hidup aman menuju pada kebutuhan substansial sekaligus mulia dalam kehidupan manusia itu sendiri, yang meliputi manivestasi iman, martabat diri, aktualisasi diri sebagai hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi.


Kepemimpinan profetik dalam kajian manhaj Hidayatullah dapat dirujuk pada bagaimana kehendak Allah di dalam Surah Al-Mudatstsir yang berbicara tentang kepemimpinan diri yang dasar dan tujuan dari sebuah gerakan dakwah-tarbiyah yang terorganisir adalah dalam rangka membesarkan Allah dan menyepikan hati dari beragam pretensi duniawi yang fana. Kriterianya pun semakin terang dan mudah untuk dimengerti saat merujuk keterangan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ.


“Barangsiapa memilih seorang pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah daripada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”(HR. Hakim).


Pendek kata, musim kepemimpinan adalah momentum dimana seluruh umat Islam, kader pergerakan dan pemuda pegiat dakwah dapat melihat bahwa ini berarti semua harus siap dengan sebuah perubahan besar sekaligus mendasar, yakni bagaimana memproses diri, menempa, hingga menentukan pandangan dan pilihan pada sosok-sosok yang secara eksplisit memiliki lebih banyak kecenderungan pada iman, tanggung jawab, cita-cita dan keteladanan dalam kebaikan-kebaikan.


Dalam kata yang lain, momentum Munas V Hidayatullah harus menjadi medan pembelajaran penting sekaligus “pemberi warna” tersendiri dalam bentuk pengalaman yang menjaga sekaligus menguatkan visi organisasi terinternalisasi dalam diri, sehingga progresivitas dakwah dan tarbiyah benar-benar dapat diraih untuk selanjutnya ditransformasikan dalam ragam media pencerahan, sehingga ormas berbasis pesantren ini dapat berkontribusi besar di dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat. Dan, tidak lama lagi, musim kepemimpinan ini akan hadir dan mari kita “panen” dengan penuh kesyukuran dan komitmen menjadi lebih baik di masa mendatang, sekalipun pandemi seakan tak kendur menghadang. Allahu a’lam.*

Hidayatullah Akan Gelar Munas V Secara Virtual Oktober Mendatang

0
Drs. Wahyu Rahman

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah telah memutuskan menggelar acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-V secara virtual yang akan digelar pada bulan Oktober 2020 mendatang.

Ketua Panitia Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah, Ust Drs Wahyu Rahman, mengemukakan bahwa untuk Munas Hidayatullah kali ini akan dilaksanakan secara daring dengan pusat kegiatan bertempat di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dengan 34 titik lain sebagai perwakilan tiap-tiap DPW Hidayatullah yang ada di daerah.

“Munas Hidayatullah kali ini akan kita lakukan secara online berdasarkan hasil keputusan Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah,” kata Wahyu Rahman saat kami temui di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Dia menerangkan, helatan nasional ini digelar online mempertimbangkan banyak hal terutama pandemi yang hingga saat ini masih pademik. Karena itu, dia mengatakan sangat tidak memungkinkan mengumpulkan orang banyak di masa krisis seperti ini.

Wahyu Rahman menjelaskan panitia Munas telah berbagai upaya dan menyiapkan segala kebutuhan agar Munas daring ini berjalan sebagaimana diharapkan.

“Dengan banyaknya jaringan Hidayatullah diseluruh Indonesia dibutuhkan kesiapan yang matang. Seluruh pantia dan tim pekerja Munas Hidayatullah telah berusaha untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan sehingga acara berlangsung sebaik-baiknya,” jelasnya.

Wahyu Rahman menjelaskan, segenap DPW Hidayatullah juga terus bekerja dalam rangka bergegas menyambut acara yang kali pertama digelar secara online ini. Menyiapkan segala kebutuhan untuk sukses penyelenggaraan acara ini seperti kelengkapan perangkat tekhnis seperti pemaksimalan jaringan data maya.

“Kta juga telah berkoordinasi ke masing masing perwakilan DPW untuk menyiapkan segala sesuatunya,” tukasnya.

Tidak lupa, dia menegaskan akan adanya pemberlakuan ketat protokol kesehatan pada acara Munas ini luring di lokasi acara yang berpusat di Kampus Hidayatullah Depok.*AmanjiKefron

Tasmi’ Jama’i Santriwati Pondok Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Bulan Muharram sebagai bulan awal tahun dalam kalender Islam sering diidentikan dengan bulan Hijrah. Bulan Evaluasi setahun yang lalu untuk dikuatkan pada tahun berjalan.

Di Al Burhan, Khususnya santriwati dibawah asuhan Ustadzah Khotimah dan Ustadzah Rumayyah menggagas satu program untuk mengukur seberapa kemampuan anak-anak asuhnya dalam mempertahankan hafalan Al-Qur’annya.

Semenjak hari Jum’at, para santriwati ini secara bergantian menyetorkan hafalannya di depan ustadzah, untuk tahap awal ini diadakan dua kategori yakni parade Tasmi 3 Juz dan 5 Juz sekali setoran. Puncaknya Ahad pagi ini, Ungkap Ustadzah Rumayyah dalam laporan kepada para tamu undangan sekaligus panitia Tasmi Jama’i. Ahad, (23/8/20).

“Program tasmi jama’i ini merupakan event perdana selama hampir setahun mengemban amanah di kepengasuhan Putri setelah lulus dari STIS Hidayatullah Balikpapan dan diamanahi di kepengasuhan Putri. Saya yakin kedepan santriwati Al Burhan ini akan semakin maju.” jelas Ustadzah Rumayyah penuh optimis.

“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah, hari ini santriwati telah melewati ujian untuk dikuatkan hafalannya, walau baru dimulai untuk kategori tiga dan lima Juz, tetapi peserta diantara 29 orang ini sudah ada yang 10, 15 bahkan 20 Juz hafalannya. Subhanallah. Teruslah istiqomah menjaga hafalannya. Demikian Motivasi Ust. Masrukin dalam taujih kepada para santriwati yang telah ikut serta dalam tasmi jama’i.

Lebih lanjut, Ust. Masrukin menekankan akan pentingnya mengamalkan Al-Quran karena Al-Qur’an adalah jaminan kesuksesan yang telah Allah gariskan secara sempurna, mau kejar dunia sudah ada formulanya, tetapi Allah sangat senang apabila umat-nya mau kejar akhirat yang tentunya dunia akan ikut di dalamnya. Tegas beliau.

Ghosyiah Anbar salah satu santriwati yang didaulat sebagai pemenang sangat bersyukur hasil kesungguhannya dalam mewujudkan hafalannya diapresiasi oleh pengasuh di Pondok.

“Senang bisa melewati tantangan dari Ustadzah untuk murojaah hafalan kembali, lebih bersyukur lagi dari Ustadzah ditetapkan sebagai terbaik pertama. Alhamdulillah. Cerita Ghosyiah Anhar penuh haru.*Yusran

Energi Hijrah dalam Gerakan Pemuda

0

Nyaris sepekan lamanya, saya bersama dua kepala departemen Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah melakukan silaturahmi daerah dengan dua agenda. Pertama, silaturahmi itu sendiri. Kedua, menghadiri helatan Musyawarah Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Bagian Selatan, yang menetapkan Bang Fazwa Auliya sebagai nahkodanya.


Entah mengapa, tak begitu kusadari bahwa dalam momentum perjalanan itu umat ini akan masuk detik-detik pergantian tahun, dari 1441 H menuju 1442 H. Hijrah seperti kita ketahui adalah tonggak perubahan, starting point tegaknya peradaban Islam. Pada saat yang sama, hijrah juga kehidupan yang kaya akan energi besar yang mampu menjadi generator perubahan zaman.


Secara historis jamak dipahami hijrah dalam konteks sosial dipicu oleh kebencian dan kebiadaban kaum kafir Quraisy yang terus melancarkan siksaan dan intimidasi terhadap umat Islam. Dalam kata yang lain, hijrah adalah jalan penyelamatan jiwa dan raga umat Islam, lebih jauh juga mengarah pada kebebasan umat Islam untuk memanivestasikan nilai-nilai keyakinannya dalam segenap aspek kehidupan.


Jadi, secara gamblang dapat kita temukan hikmah besar bahwa hijrah dari Mekah ke Madinah adalah untuk menumbuhkan semangat juang dalam menghadapi tekanan kaum kafir yang membabi buta dan biadab.

Sisi lain, hijrah juga momentum pembuktian iman yang sesungguhnya, sebab tidak lama setelah hijrah, Nabi dan para sahabatnya harus berulang kali terjun ke medan perang.


Oleh karena itu, derajat tertinggi seorang hamba di hadapan Allah adalah yang beriman, yang berjihad dan berhijrah dan tidak sedikit pun memiliki celah keraguan baik di dalam pikiran, hati, maupun keyakinannya. Pantas jika kemudian hijrah bukan sekedar pengulangan kalender dan pergantian tahun, tetapi energi yang abadi, sepanjang nafas kehidupan umat Islam. Sebab setiap kali bertemu hijrah, 1 Muharram pada tiap tahunnya, seketika meomori, kesadaran, visi, dan tujuan hidup seakan segera berbenah, ditata ulang, dikokohkan dengan semangat hidup iman, jihad dan sabar.


Saat ini, energi ini sangat diperlukan, terutama oleh kaum muda yang berhimpun di dalam sebuah gerakan. Hal ini mudah dimengerti jika melihat dua aspek sekaligus. Aspek internal umat Islam masih dirundung inferiorisme.


Aspek eksternal, kekuatan global nampaknya kian mengarah pada dua kutub sekaligus, pro dan kontra terhadap nilai-nilai Islam, yang ditandai dengan gesekan panas antara dua negara besar saat ini, Amerika dan China, yang boleh jadi benar-benar demikian atau sebaliknya tak lebih dari sekedar peramai isu di media, sehingga banyak waktu dan umur umat manusia tersita untuk mengulasnya.


Dengan memperhatikan dua kondisi tersebut maka jelas, kaum muda Islam yang berhimpun dalam gerakan harus mendowload energi hijrah itu dalam dua hal sekaligus. Pertama mengarahkan mindset, perilaku, dan visi hidup seperti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ bersama para sahabatnya, sehingga lahir dan terjaga optimisme, ketangguhan, serta watak kepeloporan dalam perjuangan.


Kedua, memandang beragam wacana dan isu global secara memadai, sehingga waktu, energi dan hidup kaum muda tidak terseret pada arus sampah informasi yang begitu berjibun di era digital ini. Kita tidak boleh hanyut oleh permainan media yang tidak substansial.

Kita justru harus melihat bagaimana Amerika memandang Islam dan sikapnya kini terhadap China. Sebaliknya, juga mesti memahami langkah-langkah China secara global dan strateginya dalam menghadapi umat Islam. Kesadaran akan dua hal itu akan mendorong energi dan waktu kita lebih berharga dalam upaya ikut serta memajukan umat dan mencerdaskan bangsa.

Jika tidak demikian, boleh jadi, apa yang kita ucapkan setiap tahun dengan selamat tahun baru Hijrah hakikatnya tidak ada energi, alias nol. Meminjam istilah dalam pemilu, tak ubahnya kotak kosong. Inilah tantangan kaum muda kekinian, mampukah menjadikan momentum hijrah sebagai energi atau itu hanya cukup menjadi tradisi dan basa-basi. Allahu a’lam.*

Karakteristik Hijrah adalah Menjadikan yang Baik Menjadi Lebih Baik

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Drs. H. Ahkam Sumadiana anggota  Dewan Mudzakarah didapuk menjelaskan Spirit Hijrah dalam Pendidikan Integral di Pesantren Hidayatullah Mamuju 20 Agustus bertepatan dengan tahun baru hijriyah 1 Muharram 1442.

Dihadiri seluruh warga dan kader Hidayatullah se-Mamuju sekira 100an hadirin yang memadati ruang utama masjid Al-Walidain di bilangan Pasar Baru Mamuju.

Menyinggung kondisi masyarakat merayakan pergantian tahun baru hijriyah yang lebih kepada nilai seremonial semata tanpa memiliki kandungan nilai hijrah itu sandiri.

Menjabarkan tema yang diusung pengurus pesantren di atas, menurutnya, luar biasa berbobot yang tidak ada dalam konsep pendidikan selain Pendidikan Integral.

“Contoh spirit hijrah adalah ketika kader itu bisa melakukan hal hal yang susah dikerjakan oleh orang umumnya” terang ustadz Suma, sapaan ramah para santri santrinya.

Menguatkan argumen yang diutarakan ustadz Suma mengutip ayat ke 74 dalam Al-Quran surah Al-Anfaal :

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَا جَرُوْا وَجٰهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَا لَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْۤا اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا ۗ لَّهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ 

Artinya :
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.”

Jelas pada ayat di atas penekannya adalah orang yang beriman  dan orang yang berhijrah.

Kalau orang yang punya spirit hijrah pasti mereka mereka tidak akan puas dalam berjuang terus berbuat kepada umat karena menginginkan perubahan dari yang baik menjadi lebih baik dari sekarang ini. Dan dari yang lebih baik menjadi yang terbaik.

Tentu saja proses itu membutuhkan spirit luar biasa dan itu hijrah jalan keluarnya, spirit hijrah itu mahal selalu ingin melihat yang lebih baik. Aktifitas mereka di atas rata rata karena termotivasi dengan jalan jihad.

Mengutip juga penjelasan Imam ibnu Qayyim Al-Jauzi bahwa jihad itu butuh pengorbanan dan bersiaplah untuk bersusah payah.

Sehingga dalam melakukan hijrah itu harus terawat niatnya agar selalu lillahi taa’la tidak kepada yang lain. Itulah cerminan karakteristik orang yang beriman yang memiliki semangat hijrah karena ingin berubah yang spektakuker dan hijrah itu sendiri memiliki resiko.

Ustadz Abdullah Said di awal rintisan Hidayatullah selalu mengintrodusir semangat hijrah, makanya lembaga ini sempat akan dinamai Darul Hijrah karena ingin mengambil spirit hijrahnya Nabiullah Muhammad saw.

Pertanyaannya (yang paling mendasar) bagaimana implementasi spirit hijrah dalam dunia Pendidikan Integral?.

Secara epistemologi Islam memandang manusia sesuatu yang fitrah atau berpotensi bukan sebagai tabularasa yang bermakna bersih belum punya warna dan akan mengikut warna lingkungannya.

Maka institusi pendidikan dalam Islam inilah intsitusi integral karena menggabungkan dari semua potensi manusia baik sebagai hamba ataupun khalifah-Nya.

Setiap orang akan berbuat sesuai maqam spiritual dan intelektualnya dan ini kekayaan konsep integral kita di saat bisa mengakomodir semuanya. Makanya jangan berharap anak kecil akan melaksanakan sholat secara tenang apalagi khusuk bisa jadi mereka sholatnya sambil berlarian sekitar kita dan seperti itulah perbuatan yang sesuai dengan maqam spiritualitas dan intelektualitas anak anak.

Bisa jadi, menurutnya, intelektualnya tinggi tapi spiritualnya lemah semisal seorang profesor yang belum bisa mengaji atau contoh kasus lain ada orang yang bagus spiritualnya namun rendah intelektualitas yang ia miliki.

Di sini perlunya pendidikan yang menggabungkan kecerdasan keduanya yang memiliki jaminan yang lebih baik dan sempurna karena makna integral itu sendiri meliputi bagian dan mencakup keseluruhan aspek bukan pada transformation of knowledge (transformasi ilmu pengetahuan) semata namun transformation of value (transformasi nilai), mencakup dua duanya.

Konsep ini sudah kita ramu sejak 15 tahun silam atas dasar agar  terciptanya pendidikan yang memiliki hasil spektakuler.

Hasil spektakuler yang dimaksud tentu diproses dengan beberapa tahap di antaranya adalah:

Tilawah

Pendidikan Integral harus berstandar pada tilawah atau pembacaan tanda tanda atau ayat ayat qauniyah atau fenomena fenomena yang ada di dunia sebagai wasilatul hayat dan pembacaan tanda tanda atau ayat ayat qauliyah sebagai pola dasar minhajul hayat/jalan hidup manusia.

Dicontohkan, kasus paradigma ilmu yang tidak memiliki integritas adalah rusaknya tatanan hukum itu dilakukan oleh orang orang pakar hukum.

Taklimah

Memgapa anak kecil lebih mudah menghafal Quran dibanding orang dewasa. Karena mereka lebih bersih  hatinya belum banyak dosanya dan secara umum orang dewasa yang banyak  doaanya susah menghafal quran.

Dibutuhkan model pendidikan dengan pendekatan hati yang mampu menjadikan hati ini kembali pada fitrahnya yakni tidak memiliki nuktoh atau noda dan dosa di dalamnya.

Hikmah

Maksudnya adalah dengan Al-Quran, semua perilakunya berdasar pada nilai nilai Al-quran, yang dikuatkan dalam proses di lingkungan rumah tangganya, mendesainkan masyarakat yang islami segingga tidak terjadi dikotomi pendidikan. Tidak heran ketika ada pesantren muridnya dilarang merokok tapi gurunya merokok.

Makanya guru harus memiliki konsep integral agar bisa menggabungkannya kecerdasan spiritual (ruhiyyah), intelektual (takliyah) dan skill (jasadiyah). Bashori Sulbar

Paralisis

0
Asih Subagyo

Hari-hari ini, ada tambahan kosa kata baru berkenaan melihat situasi saat ini, yaitu statemen dari Prof. Dr. Boediono, mantan Wakil Presiden dan seorang akademisi itu. Meski sudah lama bertengger di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi terkesan baru, karena jarang mendengar. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Terasa asing di telinga kita. Diksi yang dimaksud adalah paralisis.

Menurut KBBI, paralisis adalah hilangnya kemampuan untuk bergerak karena cedera atau penyakit pada bagian saraf; kelumpuhan. Sehingga hal ini menggambarkan bahwa, situasi Indonesia (dan juga negara lain), yang hampir semuanya terdampak COVID-19 itu, bukan sekedar krisis, resesi, atau depresi sekalipun tetapi lebih dari itu.

Dan oleh karenanya, hal ini memicu krisis saat ini akan bersifat multidimensional. Menurut mantan Menko Perekonomian ini, pandemi Covid-19 ini tidak hanya menimbulkan resesi maupun depresi melainkan sebuah kelumpuhan atau paralisis. “Ini bukan sekedar resesi, bukan sekedar depresi, ini paralisis. Suatu sistem yang tiba-tiba saja beku dan ini yang perlu kita pahami” (Sumber Tempo).

Dari sini dapat dijelaslan bahwa paralisis adalah sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan, karena hampir semua aspek kehidupan menjadi tidak berfungsi secara optimal, dan ini akan menjadi berdampak sistemik, dimana satu sama lain akan saling berpengaruh, sehingga menciptakan “kelumpuhan” aktifitas kehidupan.

Pendapat tersebut di atas, sesungguhnya memepertegas dan memperjelas sekaligus tafsir yang mutakhir dari data yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik, beberapa waktu lalu, bahwa pertumbuhan ekonomi kwartal II tahun 2020 adalah minus -5,32%. Sedangkan pada kwartal I, ekonomi tumbuh 2,97%. Dan data ini, sejatinya menunjukkan grafik menurun jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kwartal IV tahun 2019 yang 4,97%. Dengan pertumbuhan yang negatif pada kuartal II 2020, secara teori, Indonesia sudah otomatis masuk ke dalam resesi teknikal.

Dimana resesi teknikal merupakan kondisi pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Dan ini sudah terbukti. Selanjutnya, dengan melihat fondasi ekonomi yang ada, dan juga dipicu ole situasi global yang sama-sama mengalami konstraksi, maka sangat memungkinkan bahwa pada kwartal III tahun 2020, juga akan mengalami penurunan atau pertumbuhan negatif lagi. Jika kondisi demikian yang terjadi, maka Indonesia akan memasuki jurang resesi yang sesungguhnya, bahkan tidak menutup kemungkinan mengarah kepada depresi ekonomi, jika berlanjut hingga akhir 2020.

Hal ini diperparah dengan kondisi pandemic COVID-19, yang masih belum diketahui kapan berakhirnya. Dari sekian prediksi yang ada, yang paling bisa diterima adalah COVID-19 akan berakhir jika vaksin COVID-19 telah diproduksi secara komersial. Dimana secara teoiritis, vaksin akan diketemukan sekitar 1,5 hingga 2 sejak virus ini mulai menyebar di Wuhan China akhir tahun 2019 lalu.

Artinya, tahun ini dan tahun depan kontraksi akan terus terjadi. Hal inilah sesungguhnya yang bisa menjelaskan mengapa tidak hanya resesi ekonomi yang terjadi. Akan tetapi bisa mengarah dan memicu terjadinya krisis multidimensi, sebagaimana yang di prediksi oleh para ahli, yang selanjutnya terjadi paralisis itu.

Secara teori, krisis multidimensional adalah suatu situasi dimana bangsa dan negeri dilanda oleh beraneka-ragam permasalahan dan pertentangan besar maupun kecil dan berbagai keruwetan di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan juga kebobrokan moral. Krisis ini, saat ini telah dan sedang terus memporak-porandakan berbagai sendi-sendi penting kehidupan bangsa.

Begitu hebatnya krisis yang bersegi banyak ini, sehingga banyak orang kuatir dan jika penanganannya tidak tepat, tidak menutup kemungkinan akan memicu terjadinya disintegrasi negara dan bangsa. Atau dengan kata lain membayangkan masa yang serba gelap di kemudian hari. Karena begitu besarnya kekacauan yang akan timbul di berbagai bidang itu.

Melihat realitas di atas, kita harus memposisikan diri sebagai aktor, merepresentasikan diri sebagai subyek, bukan obyek. Karena, sebagai salah satu komponen umat maka sudah selayaknya kita mampu meresponse kondisi ini dengan kapasitas diri kita masing-masing. Kita harus bergerak, tidak bisa tinggal diam dan abai dengan permasalahan kebangsaan, karena ini adalah realitas permasalahan umat.

Sebab, krisis multimensional ini, pasti juga akan berpengaruh terhadap diri kita. Sehingga dalam merespon situasi kekinian itu, semestinya dibingkai dalam kerangka membangun kekuatan umat dan menjaga keutuihan bangsa dan negara. Dengan demikian maka, kita tidak shock (gagap) lagi ketika terjadi turbulensi diberbagai bidang, dikemudian hari. Karena, sejak jauh hari kita sudah mengantisipasi dan mempersiapkan diri.

Kesadaran ini harus dibangun disetiap individu, sehingga menjadi kesadaran kolektif dan seterusnya. Karena, ke depan, problematika diberbagai sektor itu, akan menwarnai dan membersamai kehidupan kita. Sehingga tidak cukup hanya berdamai dengan kehidupan baru (new normal) itu, namun bagaimana kita menjadi lolos sekaligus jadi pemenangnya.

Kembali ke masalah paralisis, jika terjadi kondisi stroke atau kelumpuhan sebagaimana yang digambarkan di atas, maka kita berusaha semaksimal mungkin, untuk tidak ikut-ikutan lumpuh. Sebenarnya ini kewajiban Negara, tetapi secara umat dan warga negara tidak bisa kita berlepas tangan. Karena secara langsung atau tidak, dampaknya akan sampai juga ke Kita. Oleh karenanya, Kita harus tetap berdiri kokoh. Siap bertarung dan memenangkannya. Meski ketika mengalami kondisi ini, mungkin kita akan terhuyung-huyung juga.

Namun kita harus senantiasa “waras” dan waspada. Karena sebagaimana dijelaskan di atas, situasi yang uncertainly ini berpotensi akan berkepanjangan. Dan sekali lagi, karena masalahnya multidimensi, maka kita juga harus mempersiapkan diri melampaui apa yang dihadapi. Secara sunatullah, masing-masing kita mesti ber-ikhtiar mempersiapkan diri dengan pendekatan kekinian dan komprehensip, sesuai dengan tantangan dan problematika yang dihadapi.

Agar tetap survive, sudah barang tentu menjaga imunitas tubuh dan melaksanakan protokol kesehatan tetap menjadi prioritas. Demikian halnya model kemandirian dalam ekonomi dengan memproduksi dan menkonsumsi produk local, terutama milik orang-orang terdekat, dan sebagainya.

Selanjutnya setelah ikhtiar kita lakukan semaksimal mungkin, maka bertawakal dan berserah diri kepada Allah SWT adalah sebuah keharusan. Sehingga takdir apapun yang kita terima, itulah yang terbaik buat kita. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo, Ketua Bidang Perekoniam DPP Hidayatullah