MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Pada momen Halah Bi Halal yang diselenggarakan di Hidauatillah Mamuju, Sabtu 20 Juni ini ustadz Soleh Usman, S.Pd.I berkesempatan memberikan tausiahnya di hadapan seluruh warga dan kader Hidayatullah Mamuju. Disampaikannya, Tausiah ini adalah indikator utama kebaikan, apalagi yang memberikannya adalah lakon. Rasanya kita mau lompat saja.
“Beda kalau yang bicara itu orang yang masih berat untuk taat dan selalu memberikan contoh tidak baik maka yang disampaikannya akan hampa makna” jelasnya.
Menurutnya kita ini sering sekali mengikuti majelis ilmu dan selalu ada gerakan infaqnya. Ada tidak peningkatan iman yang terjadi dengan seringnya mengikuti halaqah?.
Dicontohkannya betapa ruginya ia menyetir sendiri mobil dari makassar jauh jauh kalau ke Mamuju hanya untuk tertawa tertawa, makan makan lalu tidak punya efek peningkatan iman.
Padahal ayat tentang ukhuwah, imbuhnya, sudah berulang ulang dibaca sejak 1400 tahunan sampai hari ini, jadi kalau ada orang yang bosan tidak suka dengan majelis kerjanya hanya manggut manggut tapi tidak mencoba untuk paham
“Sebelumya ke Mamuju ini saya telpon langsung ustadz Tarif; datanglah bawakan nasehat. Pesan ini yang menjadi spirit hadir bermajelis ilmu” Ucapnya. Lanjut beliau “terkait ukhuwah sering kita mendengarkan kata kunci dari Allahuyarham Abdullah Said; Bersaudaranya para dai itu tanpa syarat tanpa memandang kepentingan karena berdasar pada keimanan”.
Sulit dikatakan imannya seseorang begitu baik tetapi ukhuwahnya hancur hancuran karena kedua hal ini identik tidak bisa dipisahkan.
Ilustrasi persaudaraan para sahabat Muhajirin dan Anshar sangat menginspirasi kita dalam merajut ukhuwah ini. Dalam Islam sampai sampai diuraikan secara teknis oleh hadits Mabiullah Muhammad saw. salah satunya saling memberikan hadiah agar saling mencintai, cintailah saudaramu karena Allah lalu doakan dia agar dicintai oleh Allah karena mencintaimu karena Allah.
Soleh Usman juga menjelaskan dalam merawat ukhuwah di proses kepemimpinan kita butuhkan bimbingan Ilhaiyah yang bisa mengedepankan khusnu zhan. Perlunya kita menata persaudaraan ini dengan pertolongan Allah karena memang takliful qulub adalah kuasaNya Allah.
“Ingat, tidak ada jaminan di hati kemudian pemimpin itu lebih baik dari yang dipimpin. Amal itu itu tidak ditentukan posisi struktural melainkan ketaqwaan dan di sinilah dibutuhkan berlomba lomba dalam kebaikan” ucap beliau
Kaitannya dengan ukhuwah, orang yang beriman itu harus mampu menjadikan temannya jadi partner masuk surga, itu gampangnya. Kita harus menjadikan orang yang kita jumpa sebagai partner ke surga. Hati hati dengan komitmen sebagai orang yang beriman apalagi sebagai mujahid. Hatta, pandanglah dengan pandangan ukhuwah mereka yang baru memulai ikut berhijrah.
“Orang yang bisa memandang temannya sebagai partner menuju surga adalah orang yang terhindar dari pandangan syaithoniah. Dan itulah yang dicontohkan oleh Nabiullah Muhammad Saw. yang mampu memandang dengan pandangan Rahman Rahimnya Allah”.*Bashori
SUARA pemuda di tengah pandemi dan isu nasional yang memanas, utamanyaa perihal RUU HIP memang tidak begitu lantang terdengar. Sekalipun respon secara langsung sudah pasti berjalan melalui diskusi dan koordinasi mengenai apa pun yang terjadi di negeri ini. Akan tetapi, di dunia digital seperti ini, eksis kerapkali kalau “sering” muncul di media.
Dalam tataran tertentu tepat, namun tidak
berarti seluruh elemen muda bangsa harus seluruhnya tumpah ruah di ruang publik
yang kini sangat cepat berubah. Pemuda Hidayatullah satu di antaranya yang memiliki
jati diri tersendiri, dimana gerakan sejatinya bukanlah pada ranah yang bukan
menjadi core atau DNA-nya, melainkan pada apa yang menjadi spirit pendiri itu
sendiri, yakni bergerak di bidang dakwah dan pendidikan.
Gerakan semacam ini cenderung tidak populer,
namun sejarah mencatat, dakwah dan pendidikan adalah biang perubahan besar yang
mengagumkan. Lihat bagaimana Nabi ﷺ menempa para sahabat muda, lantas mengirim mereka sebagai delegasi
dakwah dan pendidikan.
Mush’ab bin Umair misalnya, sebagai juru
dakwah dan pendidikan ia mampu menyiapkan anak-anak muda Madinah dekat dengan
Al-Qur’an, sehingga kala Nabi ﷺ tiba dalam perjalanan hijrah, tidak sedikit anak-anak Madinah yang
telah hafal banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Peran Mush’ab ini nantinya memudahkan
transformasi ilmu dan budaya Islam di dalam kehidupan masyarakat Muslim di
Madinah. Lebih dari itu, kesigapan gerak di segala bidang dapat dengan mudah
diwujudkan. Jadi, ini poin penting bahwa pergerakan paling inti dalam membangun
masyarakat yang cerdas dan religius adalah dakwah dan pendidikan.
Oleh karena itu, Pemuda Hidayatullah harus
benar-benar konsentrasi pada amanah gerakan dakwah dan pendidikan tersebut.
Sembari terus mengupgrade kemampuan diri untuk memberikan respon yang cerdas
dan memadai dalam segala perubahan yang terjadi, terutama pergiliran isu yang
beredar di media massa maupun media sosial.
Memahami “Kerja” Media
Jika ditarik garis persamaan, maka ruang
publik yang erat kaitannya dengan dunia pendidikan adalah media. Media inilah
yang membentuk diskusi-diskusi orang, mulai di warung kopi sampai ruang
menteri, dari meja makan hinga grup whatsapp. Diakui atau tidak orang akan
“terseret” pada tema-tema yang disuguhkan oleh media.
Fakta ini menunjukkan bahwa kaum muda milenial
ini harus memahami bagaimana media “bekerja.” Pada sisi yang memang penting
direspon kita berikan respon.
Namun, jangan dengan sekedar lalu, respon
secara serius, entah melalui diskusi yang mendalam hingga menuliskan sebuah
artikel yang dikirim ke media massa baik online maupun cetak, sehingga ada
peningkatan kecerdasan dalam sisi bagaimana menanggapi, menyanggah, atau bahkan
membantah sebuah pemikiran dalam isu yang menggelinding.
Pada saat yang sama, dasar dari respon itu
sendiri harus dilandasi oleh cara pandang kita sebagai Muslim, sehingga yang
terjadi bukan sekedar adu data dan argumentasi, tetapi juga ada dimensi
pencerahan. Maknanya di sini, kalau memang tidak mampu serius merespon, lebih
baik konsentrasi pada apa yang menjadi amanah dan tanggungjawab. Tetapi jika
mampu, berikan respon terbaik, karena spirit hidup kita sebagai hamba Allah
adalah bagaimana melakukan yang terbaik.
Media massa selain memiliki kepentingan sudah
pasti akan “memainkan”isu-isu yang menurut mereka menarik sehingga potensial
dibaca publik. Namun jangan lupa, semakin seorang pemuda kerap merujuk media
dan tidak memiliki basis bernalar kritis yang memadai, cara berpikir kita cepat
atau lambat disadari atau tidak cenderung akan tersetting sebagaimana kehendak
pemilik media.
Jika demikian, berinteraksi dengan media
sebenarnya membutuhkan nalar kritis daripada sikap oh, begitu, oh, begini.
Karena dalam banyak hal, kerapkali apa yang besar di media tidak benar-benar
hidup di tengah masyarakat.
Dalam kata lain, masyarakat tidak butuh
bahasan-bahasan media yang ada. Masyarakat sederhana butuh harga BBM murah,
listrik murah, dan sembako murah, kesehatan murah dan pendidikan yang murah,
selesai. Tetapi apakah ada media mengulas ini dengan sungguh-sungguh?
Cerdas Literasi
Lantas langkah apa yang bisa dilakukan oleh
kaum muda? Sekarang era digital, semua bisa menjadi wartawan, semua bisa jadi
pembuat berita, maka jadikan kesempatan luas digital ini sebagai sarana
mengajak masyarakat mengetahui apa yang kaum muda lakukan di berbagai daerah di
Tanah Air.
Pekan lalu saya berdialog secara online dengan
seorang dai muda Hidayatullah di Langkat Sumatera Utara yang berhasil membangun
masjid (kini masuk tahap membuat teras) murni dari status media sosial.
Artinya, betapa dahsyat akun Facebook,
Twitter, dan lainnya jika digunakan untuk menguatkan gerakan dakwah dan
pendidikan di tempat kita berkiprah di tengah-tengah masyarakat, yang memang
penduduknya butuh anaknya bisa mengaji dan mereka sangat butuh masjid untuk
bisa beribadah.
Saat yang sama ada juga dai muda Hidayatullah
di Maluku Utara yang nyaris setiap saat memposting keadaan, kegiatan, dan
keberadaan masyarakat suku terasing di Halmahera. Faktanya masyarakat merespon.
Ini yang saya sebut sebagai sebuah kecerdasan yang harus dihadirkan di era
digital. Lebih jauh bagaimana menghadirkan kecerdasan literasi.
Jadi, kita hadirkan konten yang edukatif,
objektif, cerdas, dan sekaligus mengajak masyarakat mendukung program dakwah
dan pendidikan, sehingga kita secara langsung atau pun tidak membantu
pemerintah menghadirkan konten yang positif, dibutuhkan, dan lebih jauh
mendorong terwujudnya semangat gotong-royong.
Kolaborasi
Langkah terakhir, bagaimana kolaborasi
diciptakan. Dua dai muda Hidayatullah telah berhasil menjadikan media sosial
sebagai wadah masyarakat bergotong royong menguatkan program dakwah dan
pendidikan. Tetapi itu masih parsial, sekaligus sangat baik sebagai pemantik.
Perlu wadah besar yang satu sama lain saling mendukung. Pemuda Hidayatullah
telah menyediakan ruang itu bernama www.pemuda.org
Sekarang sedang gencar dikampanyekan program
Wakaf Qur’an untuk masyarakat dan masjid di pedalaman Kaimana Papua Barat,
berikut dengan program qurban dan lanjutannya. Wadah ini tidak besar untuk saat
ini. Tetapi kalau kaum muda seluruh Indonesia menggerakkan dengan jempol mereka
melalui status media sosial, sudah bisa kita tebak, betapa gerakan ini akan
sangat luar biasa.
Namun, menuju ke sana bukan butuh intruksi, melainkan kesadaran dan kecerdasan. Ketika kedua hal ini dimiliki, maka insya Allah gerakan kaum muda Hidayatullah di era ditigal ini akan sangat signifikan. Mungkin tidak di headline media massa, tapi di hati masyarakat dan umat. Dan, kelak cepat atau lambat, hal ini akan sangat berguna untuk bisa membantu pemerintah dan negara mewujdukan program pendidikan dan dakwah di seluruh Indonesia. Allahu a’lam.*
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah secara resmi mengirimkan surat kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada Kamis, 18 Juni 2020.
Surat yang ditembuskan kepada Presiden Republik Indonesia dan Ketua MPR RI tersebut berisi permintaan kepada DPR agar tidak melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Surat tersebut ditandatangani Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, dan Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ir Candra Kurnianto.
Selain itu, dalam surat tersebut, DPP Hidayatullah meminta agar DPR mencabut RUU HIP dari daftar Program Legislasi Nasional 2020. Adapun materi haluan ideologi Pancasila, tertulis dalam surat itu, sebaiknya dimasukkan dalam usulan perubahan UUD 1945.
Menurut Sekjen DPP Hidayatullah, Candra Kurnianto, surat ini dilayangkan mengingat respon masyarakat yang demikian besar atas RUU ini. “Surat ini merupakan tanggung jawab kami sebagai bagian dari elemen bangsa yang menginginkan terwujudnya cita-cita berbangsa dan bernegara sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945,” jelasnya kepada Hidayatullah.or.id Jumat (19/6).
Isi surat tersebut ada 4 hal. Pertama, menyoroti judul dan substansi RUU HIP yang dinilai oleh DPP Hidayatullah sebagai tafsir atas Pancasila yang normanya diatur dalam Pembukaan UUD 1945. “Seharusnya, substansi demikian diatur dalam batang tubuh UUD 1945, bukan dalam peraturan perundangan setingkat undang-undang, jelas Candra.
Kedua, muatan undang-undang seharusnya menjadi penjabaran lebih lanjut dari ketentuan di dalam batang tubuh UUD 1945, bukan materi muatan yang ada dalam pembukaan UUD RI 1945.
Ketiga, Pancasila sebagai dasar negara, filosofi negara, ideologi negara, dan sumber dari segala sumber hukum, sudah dikukuhkan dalam berbagai macam peraturan perundangan-undangan. “Jadi kedudukan Pancasila sudah sangat kuat. Seluruh peraturan perundangan-undangan seharusnya menjadi pengejewantahan dari nilai-nilai Pancasila, jelas Candra lagi.
Kalaupun dalam praktiknya ada hal yang dianggap berlainan, maka itu bukan problem norma, tapi problem pelaksanaan. Yang diperlukan bukan membuat norma baru seperti RUU HIP, namun memperbaiki dan meluruskan tata kelola bernegara.
Adapun butir keempat dalam surat tersebut menjadi kesimpulan dari tiga butir sebelumnya. Kesimpulan tersebut berupa permintaan agar DPR tidak melanjutkan pembahasan RUU HIP. (Mahladi)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menyatakan penolakannya terhadap Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).
“Mengajak organisasi massa dan semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menolak RUU HIP, karena berpotensi rancunya implementasi dalam menjaga kemurnian Pancasila, dalam kehidupan bernegara dan kehidupan sosial di masyarakat,” ujar Ketua Umum PP Mushida Reny Susilowati bersama Sekretaris Jenderal Leny Syahnidar Djamil dalam pernyataan sikap di Jakarta, Selasa (16/06/2020).
Oleh karena itu, PP Mushida meminta dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah untuk menghentikan pembahasan RUU HIP karena secara substantif, filosofis, yuridis mereduksi kedudukan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara.
“Meminta dengan hormat kepada DPR untuk lebih asertif serta akomodatif terhadap desakan aspirasi masyarakat Indonesia yang menolak RUU HIP , karena RUU HIP hanya untuk memenuhi kepentingan kelompok tertentu saja,” ujarnya.
PP Mushida menilai, RUU HIP tidak bersifat mendesak dan tidak diperlukan bagi hajat hidup rakyat Indonesia.
Dengan demikian, PP Mushida mengimbau sebaiknya DPR dan pemerintah lebih fokus terhadap permasalahan besar bangsa dan rakyat Indonesia saat ini.
“Seperti mengawal atau mencari solusi yang tepat terhadap penanganan pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang sangat merosot drastis, pendidikan anak sekolah yang terganggu dan tertunda akibat pandemi tersebut, serta masalah-masalah berat lainnya yang perlu segera dicarikan penyelesaian akar masalahnya,” imbuhnya.
PP Mushida meminta pemerintah dan penegak hukum di Indonesia untuk menindak tegas dan memberi sanksi hukum kepada pihak-pihak yang dengan sengaja telah menyebarkan dan menumbuhsuburkan ajaran terlarang Komunisme/Marxisme/Leninisme di Indonesia.
“Tap MPRS No. XXV /MPRS/1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah merupakan ketetapan final. Dan berdasarkan Tap MPR No 1 Tahun 2003 dijelaskan bahwa tidak ada ruang hukum untuk mengubah dan mencabut Tap MPRS No XXV /MPRS/1966 tersebut.
Oleh karena itu, sambungnya, dengan tidak dicantumkannya Tap MPRS No XXV/MPRS/1966 dalam salah satu pertimbangan perumusan RUU HIP adalah masalah besar dan serius karena dinilai telah mengabaikan fakta sejarah betapa kejam dan sadisnya perlakuan PKI terhadap para pahlawan bangsa dan juga seluruh rakyat Indonesia.
PP Mushida pun mengimbau kepada kaum Muslimin dan Muslimat, keluarga Muslimin untuk selalu mengupayakan terwujudnya ketahanan keluarga yang kokoh dan kuat.
“Memberikan pendidikan agama serta nilai-nilai dan norma Islami kepada putra putri sekalian sehingga putra putri tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus yang lebih baik serta mampu menjadi imam dan ibu di masyarakat dan bangsanya,” imbuhnya.*
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Semakin meluasnya pandemi mengharuskan proses penyelenggaraan pendidikan dilakukan dari rumah guna menahan laju penularan wabah virus corona.
Ditambah lagi transformasi digital era revolusi industri 4.0 merupakan bentuk kemajuan teknologi yang mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis, sehingga terjadi perubahan mendasar dalam cara hidup manusia.
Penyelenggaraan penilaian akhir semester genap (PAS) tahun ajaran akademik 2019-2020, SMA Al-Bayan Makassar kembali dilakukan berbasis online
“Alhamdulillah untuk penilaian akhir semester genap tahun ini kembali kita selenggarakan secara daring,” kata Wakasek bagian Kurikulum SMA Al-Bayan Imran SPd MPd.
Karena daerah asal peserta didik bervariasi dari wilayah perkotaan sampai pelosok sampai pada wilayah non akses internet merupakan kendala tersendiri membuat pihak penyelenggara ujian berusaha mencarikan solusi
“Dengan segala upaya yang dikomunikasikan pihak sekolah terhadap wali siswa, semua bisa teratasi,” kata Imran.
Riswanto SPd. I, salah seorang panitia ujian merasa terharu melihat kondisi siswa yang keaulitan akses internet, membuat bersangkutan harus turun gunung cari sinyal.
Setelah dikonfirmasi Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Drs Muhammad Alimin MSi memberikan apresiasi dari penyelenggaraan ujian online dan memberi dukungan penerimaan calon peserta didik semakin bertambah.
SMA Al Bayan juga mengucapakan terima kasih banyak serta memberikan apresiasi kepada panitia ujian dan guru-guru atas upaya sehingga ujian bisa terlaksana dengan baik dan lancar dan juga terkhusus kepada bapak pengawas terus memberikan bimbingan kepada kami dengan demikian sekolah ini bisa terus maju dan berkembang.
SULSEL (Hidayatullah.or.id) — Hujan deras yang melanda Kabupaten Jeneponto dan Bantaeng, Sulawesi Selatan, mengakibatkan banjir bandang dan longsor.
Di Bantaeng aliran Sungai Calendu yang meluap membawa material lumpur dan menggenangi rumah warga, pertokoan, dan fasilitas umum lainnya di sepanjang aliran sungai.
Area terdampak banjir di beberapa titik terjadi di Kelurahan Pallantikang, Tappanjeng dan Malilingi, Kelurahan Bonto Rita, Bonto sunggu, Bonto Atu, Bonto Lebang dan Desa Bonto Jai, Desa Bonto Majannang.
Di bawah koordinasi gabungan Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah dan Search and Resceu (SAR) Hidayatullah bergerak menurunkan tim untuk memberikan bantuan kepada para korban.
Tim SAR Hidayatullah yang tiba lebih awal memetakan kondisi lapangan untuk melakukan bantuan recovery. Tim yang berjumlah 20 orang melakukan pembersihan lumpur rumah, fasilitas ibadah dan pengadaan air bersih bagi warga terdampak.
Sedangkan tim kedua, yakni relawan Laznas BMH Perwakilan Sulsel yang datang dengan membawa logistik berupa bahan makanan pokok siap saji untuk dapur umum dan penyaluran beras sebanyak 250 kg.
“Alhamdulillah, relawan BMH bersama SAR Hidayatullah terus bergerak dan sampai hari ini masih berjibaku di lapangan untuk membantu masyarakat korban banjir segera pulih keadaannya.
Nyaris semua warga yang menerima bantuan menyampaikan senyum dan doa terbaik, semoga Allah memberikan balasan berlipat ganda kepada kita semua,” terang Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Perwakilan Sulawesi Selatan, Syamsuddin.
“Siang ini (Ahad, 14/06/2020), tim melakukan aksi bagi-bagi air bersih untuk warga terdampak banjir di Jalan Khayangan, Bontorita, Bantaeng yang merupakan sinergi BMH dengan PDAM Kabupaten Bantaeng.
Sejak banjir melanda warga tidak punya akses air bersih sama sekali, sehingga tidak bisa bersih-bersih, memasak dan kebutuhan lainnya,” imbuh Syamsuddin.
Kalau kita bertanya, mengapa Indonesia seakan kian jauh dari idealitas kemerdekaannya? Maka jawaban paling mendasar adalah, karena dasar dari berbangsa dan bernegara dari sisi nilai dan spirit juang bukan lagi tidak dipahami, tetapi telah jauh ditinggalkan. Akibatnya kebingungan dan kerancuan menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.
Demikian pula kala kita bertanya bagaimana sebuah kemenangan dakwah diperoleh, maka jawabannya bukan pada kekuatan kekuasaan, militer, atau pun ekonomi. Melainkan kekuatan ilmu. Oleh karena itu, perintah Iqra’ Bismirabbik di dalam Al-Qur’an menyingkap sebuah rahasia fundamental perihal strategi meraih kemenangan sejati.
Terkait hal ini, menarik apa yang diuraikan oleh Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi dalam Buku Emas Baitul Maqdis.
“Sebagaimana kita ketahui bahwa “kemenangan” pengetahuan selalu mendahului kemenangan politik dan militer. Karena, pengetahuan, yang berarti persepsi, harus dimiliki sebelum melakukan pergerakan politik dan militer, bahkan urusan politik dan militer yang tidak didasari ilmu pengetahuan pasti hasilnya adalah kegagalan. Oleh karena itu, aksi politik dan militer tanpa fondasi pengetahuan yang terstruktur, terorganisir dan disiplin adalah sebuah bencana.”
Jika kita tarik dalam konteks yang lebih spesifik, perihal iman dan Islam diri ini, maka jelas tidak mungkin akan lahir sebuah kekuatan besar dari dalam diri untuk berpikir dan bertindak nyata di dalam kehidupan, tanpa kuatnya ilmu tentang bagaimana Islam ini menuntun kehidupan kita sebagai manusia sebagai hamba dan khalifah Allah dari langkah yang paling mendasar hingga teknis dan “budaya.”
Oleh karena itu, bagi seorang Hamid Fahmy Zarkasyi ilmu pengetahuan mesti menjadi prioritas utama bagi umat muslim sekarang. Sebab tanpa ilmu, pemikiran dan gerakan umat akan tercerai-berai, emosional, reaktif, dan sudah barang tentu tidak sistematis dan mudah dipatahkan lawan.
Sistematika Wahyu sebagai “Ilmu”
Menariknya, Hidayatullah memiliki sebuah manhaj yang dikenal dengan istilah Sistematika Wahyu, sebuah konsep dasar perihal bagaimana membentuk kepribadian diri sebagai Muslim yang tidak saja siap ibadah, tapi juga siap dakwah, dengan basis historis kenabian itu sendiri, mulai masa Muhammad yatim, menggembala, berdagang, berkhadijah dan ber-Gua Hira hingga akhirnya menerima wahyu dari Surah Al-Alaq, Al-Qolam, Al-Muzzammil, Al-Mudatstsir dan Al-Fatihah.
Masing-masing fase itu dilihat sebagai sebuah “cara” Allah membentuk kepribadian Nabi Muhammad ﷺ untuk membawa risalah Islam. Menjadi yatim membuat Muhammad tidak ada tempat mengadu, bergantung. Oleh karena itu harus memiliki mental yang kuat, tangguh, alias tidak cemen, tidak cengeng.
Artinya, seorang Muslim harusnya memiliki mental untuk survive, mandiri, dan tidak mudah menyerah. Segala kelemahan diri dan ketidakberdayaan harusnya menjadikan diri memiliki etos kerja dan etos ilmu yang tinggi. Faktanya, fase ini menjadi semacam kaidah pembentukan mental tangguh, terutama jika melihat masa kecil kebanyakan ulama yang yatim namun penuh heroisme dalam banyak sisi, terutama dalam menuntut ilmu.
Jelas tulisan ini tidak akan membahas satu demi satu apa yang ada di dalam Sistematika Wahyu, namun dari fase keyatiman saja kita sudah jelas mendapatkan sebuah kesadaran bahwa seorang Muslim hakikatnya adalah sosok yang tangguh. Secara garis besar, fase berdagang berarti bagaimana membentuk mental dan kemampuan mandiri secara finansial, sehingga tidak menjadi beban orang dan mampu berkontribusi dalam pembangunan. Ustadz Nasirul Haq pernah mengatakan bahwa umat Islam tidak wajib (tidak dituntut) menjadi kaya, namun, amalan seperti sedekah dan zakat, serta wakaf, tidak mungkin diamalkan melainkan oleh sosok Muslim yang kaya.
Sekarang kita bisa saksikan bersama bagaimana sebuah negara menjadi adi daya karena menguasai perdagangan? Bahkan umat Islam harus rela menjadi jajahan Eropa karena “kalah” dalam “pertarungan” dagang. Oleh karena itu, jika sistematika wahyu dipahami sebagai ilmu maka menjadi pedagang, pengusaha, pebisnis atau apapun istilah di bidang ekonomi akan menjadikan setiap jiwa sadar bahwa semua itu dilakukan bukan untuk berbangga-bangga, tetapi membela umat Islam.
Dan, sebagai sebuah pamungkas agar tidak terlalu panjang ulasan ini, ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah Iqra’ Bismirabbik. Maknanya jelas, bahwa kalau umat Islam mau menang jangan kalah dalam hal membaca, apalagi sampai salah dalam membaca.
Menurut Adian Husaini dalam bukunya Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam umat Islam telah terseret pada cara berpikir Orientalis di dalam memahami Islam. Akibatnya jelas, sarjana syariah namun tidak mendakwahkan syariah. Sarjana Al-Qur’an, namun justru mengkritik Al-Qur’an.
Sebuah fakta nyata bahwa umat Islam ini masih belum menang di dalam banyak bidang kehidupan. Dan, sumber kemenangan itu tidak lain dengan mengamalkan nilai dan makna dari Iqra’ Bismirabbik secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari.
Jika tiba-tiba bergerak ini dan itu, tapi tidak matang dari sisi Iqra’ Bismirabbik, maka bisa diprediksi, gerakan itu akan mudah patah dan menjadi sebuah trauma bagi banyak kalangan, yang akhirnya menjadikan etos jihad lemah dan layu. Allahu a’lam.
Semangat Ramadhan masih membara dalam diri kita. Itulah modal utama yang dimiliki sahabat hijrah untuk melakukan perubahan tidak hanya untuk mereka tetapi mengajak teman-teman mereka yang masih berada dijalanan.
Kegiatan kajian syawalan anak punk yang dikemas dalam Jum’at Berkah ini menjadi pijakan perubahan ruhaniah sekaligus memberikan solusi kemandirian ekonomi bagi mereka.
“Alhamdulillah, Allah masih sayang kepada saya karena digerakkan hati ini melalui kejadian-kejadian di jalanan. Saya ingin berubah, karena sudah punya anak umur 8 bulan.” Ungkap Icank salah satu anggota punk kajian dengan mata berkaca-kaca.
“Meskipun memiliki masa lalu yang kelam, tidak ingin anak-anak saya seperti saya. Mereka harus lebih baik dari saya”. Tambahnya.
“Tujuan kami, mengajak teman-teman yang dijalanan untuk kembali ke jalan Allah. Meskipun memiliki banyak keterbatasan ilmu, dan tempat belajar kami hanya di trotoar atapun di samping perempatan jalan raya, tetapi kami punya tekad untuk berubah” tutur Iwan Dai Punk.
“Untuk keberlangsungan program, kami melakukan inventarisir jumlah anggota mereka, dengan tujuan untuk ketepatan sasaran program yang bersifat jangka panjang” ungkap Muhajirin Divisi Program IMS.
Pada kesempatan kali ini, dr Fifi dari RSIJ Sukapura memberikan tips dan materi tentang “Tetap Menjaga Protokol PSBB dalam Setiap Kegiatan”
Disampaikan secara online menggunakan zoom Meeting.
Kajian online ini diikuti oleh beberapa orang dengan berbagai latar belakang dan sekitar 15 orang anak punk. Jumlah anak punk sendiri ketika hari biasa sejumlah 50 an orang, namun karena masih massa PSBB sehingga jumlah peserta dibatasi.
Bagi anak-anak punk, baru pertama kalinya mendapatkan materi tentang kesehatan langsung secara online dari ahlinya. Tanya jawab interaktifpun berlangsung cukup seru diantara seluruh peserta yang ikut tanpa kecuali anak punk.
Oleh beberapa sponsor diberikan voucher menarik bagi para peserta yang aktif selama acara berlangsung.
“Alhamdulillah ‘ala nikmatillah Islamic Medical Service (IMS) bersama LazisMU, Manthab, Jannahqu, PT.Pin, RSIJ Sukapura, madu RR, Sarung Al Aqso, MT Al-Kautsar Lebak Bulus menginisiasi Kajian Syawalan sekaligus Sharing Session secara online 05/06/20 langsung dari basecame punk di Cileungsi” Jelas Imron Faizin direktur IMS.
“Kegiatan kumpul-kumpul online ini memiliki semangat kolaborasi untuk aksi nyata bagi perubahan teman-teman punk agar tidak kembali ke jalanan, dan yang paling mendesak adalah menghapus masa lalu berupa tato yang ada di tubuh mereka” imbuh faiz panggilan akrab imron faizin.
Kegiatan sederhana tapi membawa misi perubahan bagi kehidupan yang lebih baik.*Amanjikefron
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah mengadakan Majelis Online bersama Ustad Asih Subgyao selaku Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah pada Sabtu (6/6/2020). Pada majelis online tersebut membahas bagaimana tantangan pemuda pada masa new normal yang akan segera dihapi.
Asih menjelaskan bahwa sementara ini new normal di masa pandemi Covid-19 dipahami sebagai adaptasi dalam beraktivitas, bekerja, dan bersosialisasi dengan mengurangi kontak (phisical distancing dan mengatur jarak (social distancing). Asih yang juga selaku Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) lebih jauh mengemukakan bahwasanya new normal adalah “berhijrah” untuk menjalankan gaya hidup Islami.
“Dalam konteks Islam, menurut saya lebih tepat istilah new normal adalah hijrah. Dalam arti meninggalkan cara hidup yang tidak Islami, menuju kehidupan yang lebih Islami,” kata Asih, Sabtu (6/6).
Sehingga, lanjut Asih, new normal merupakan penerapan dan penguatan kembali menuju gaya hidup muslim (islamic life style) dari berbagai aspeknya meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial (pendidikan), budaya, muamalah dan lain sebagainya.
Asih menjabarkan rentetan perubahan era mulai dari old normal, new normal (hijrah), next normal (islamic lifestyle) dan true normal dengan terejawantahkannya nilai-nilai keteraturan sebagaimana tuntunan Islam (Islamic civilization). Menurutnya tahapan kehidupan Rasulullah bisa menjadi contoh untuk para pemuda melakukan entrepreneurship.
” Tahapan Pra-Wahyu, seharusnya mengantarkan Kita sebagai entrepreneur, Selama hidupnya usia terlama Rasulullah adalah menjadi entrepreneur (25 tahun), dibanding menjadi nabi/rasul (23 tahun), anak/remaja (12) tahun dan bertahanuts (3 tahun)” jelas Asih.
Sementara itu, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi yang juga turut didapuk memberikan catatan membaca realita yang ada saat ini, mengatakan pemuda harus siap beradaptasi secara progresif beradab.
“Kembali pada nilai manhaj nubuwwah (manhaj kenabian), ada yang terlompat (fase berdagang) di masa hidup Nabi Muhammad pada usia remaja hingga dewasa yang sekarang harus diisi, tapi tetap terkoordinir dan sistematis. Contohnya, Abdurrahman bin Auf yang menguasai betul bagaimana mandiri dengan dagang. Sehingga, umat Islam tidak pernah kekurangan dana,” imbuhnya.
“Jadilah pembaca ulung, karena orang bisa kaya, survive bahkan memengaruhi dunia karena kuatnya bacaan. Tapi jangan berhenti membaca. Harus action, inilah makna dan kandungan dari Surah Al-Mudatstsir,” lanjutnya.
Dia mengatakan, saat ini Pemuda Hidayatullah telah membuat crowdfunding Pemuda.org dan mengajak segenap anak anak muda untuk bersama-sama mendukungnya secara berjamaah.
“Mari kembangkan program, aplikasi, hingga sistem yang menjadikan kita survive dan berpengaruh secara kelembagaan,” tukasnya.
Dia menambahkan, demografi lembaga atau gerakan kepemudaan ke depan harus berkembang dari guru dan dai, bertambah menjadi pengusaha, ahli, profesional, dan tentu saja ulama dan teknokrat. “Karena mandiri bukan semata ekonomi, tetapi juga teknologi dan energi,” pungkasnya.
Majelis Online Pemuda (MOP) Pemuda Hidayatullah merupakan kegiatan seminar online (webinar) dan talk show virtual yang diselenggarakan dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang.
MOP dimaksudkan sebagai wadah brainstorming dan penguatan diri generasi muda untuk dapat berkiprah lebih luas.*Amanjikefron
Jika diibaratkan sinar matahari, pemuda adalah masa di mana sinarnya benar-benar menyengat bahkan membakar, bisa dikatakan pukul 10.00 hingga pukul 14.00 adalah masa dimana sinar mentari benar-benar terasa dan bermanfaat besar bagi kehidupan umat manusia. Itulah masa pemuda, yang seharusnya mendorong jiwa dan cara berpikir mereka menjadi pemenang bukan pecundang.
Kala kita hubungkan dengan kehidupan sehari-hari, menjemur pakaian, padi, atau apapun yang butuh sinar kuat di luar jam 10.00 – 14.00 adalah kerugian, karena sinar mentari sudah melewati masa terkuatnya.
Oleh karena itu patut kita merenugnkan dengan mendalam apa yang Imam Syafi’i uraikan dalam bentuk syair.
“Barangsiapa tidak merasakan pahitnya belajar walau hanya sekejap maka ia akan menanggung hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Barangsiapa yang terlambat menuntut ilmu pada masa mudanya, takbirlah empat kali atas kematiannya. Pemuda sejati, demi Allah sesuai kadar ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam diri seorang pemuda maka tiada nilai dalam dirinya.”
Demikianlah pemuda sejatinya, ia momentum, ia kesempatan, ia keunggulan, yang jika tidak disadari hanya akan menjadi beban hidup dan beban masa depan. Padahal, saat ini kita tidak saja diminta sadar sekedar sebagai pemuda, tetapi lebih dari itu, yakni pemuda pembangkit peradaban.
Pembangkit artinya orang yang membangunkan sesuatu bisa berdiri tegak, berjalan, dan berfungsi. Dalam konteks peralatan, pembangkit bisa berupa alat yang menjadikan rangkaian sistem hidup dan berjalan dengan baik, seperti pembangkit listrik dan lain sebagainya. Artinya, kita harus bisa menjadi pemuda yang membangkitkan peradaban.
Belajar dari Al-Fatih
Satu di antara indah dan sempurnanya ajaran Islam adalah selalu ada figur yang bisa kita teladani. Sebuah realitas ajaran yang tidak dimiliki oleh agama lain atau pun isme-isme di dunia. Rata-rata ada idealita dan pemikiran, namun tidak jelas harus merujuk kepada siapa. Islam tidak, semua yang diajarkan ada figur yang bisa diteladani. Dalam konteks pemuda pembangkit peradaban kita bisa belajar kepada Muhammad Al-Fatih yang kemenangannya tetap dirasakan kuat oleh umat Islam setiap 29 Mei.
Ternyata, setelah rangkaian sejarah dan persiapan futuhat Konstantinopel, terbukalah rahasia keberhasilan Al-Fatih mampu menjadi sosok pembangkit kemenangan peradaban Islam. Kala itu, penaklukkan telah tuntas, tiba waktunya untuk sholat berjama’ah. Maka Al-Fatih meminta sang guru menjadi imam, namun ia menolak. Hingga akhirnya diumumkan, sebuah kriteria penting untuk bisa menjadi imam sholat.
Berserulah Al-Fatih, “Siapakah di antara kalian yang dari sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu?” Semua tentara berdiri. Pertanyaan selanjutnya, “Siapakah di antara kalian yang sejak baligh tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berikut sunnah-sunnahnya?” Hanya separuh yang berdiri. Pertanyaan terakhir, “Siapakah di antara kalian yang sejak usia akil balig tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu beserta sunnahnya seta shalat malam?”
Tidak ada yang berdiri kecuali Muhammad Al-Fatih. Akhirnya dialah yang menjadi imam shalat.
Riwayat ini mungkin masih sulit dicerna oleh sebagian pemuda, bagaimana hal itu berpengaruh dalam sebuah kemenangan besar. Sistem penjelas mengenai hal ini dijabarkan oleh Adian Husaini dalam bukunya Hegemoni Kirsten Barat dalam Studi Islam pada bahasan bagaimana pengaruh ilmu dan peran Imam Al-Ghazali dalam kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis.
Sebuah hadits menyebutkan bahwa jika sholat beres, maka kelak hisab di hadapan Allah akan mudah. Ternyata ini juga berlaku dalam kehidupan saat ini, dimana tidak mungkin seorang pemuda bisa menjadi pembangkit kebaikan jika sholatnya buruk, apalagi tidak sholat. Sedangkan saat ini, kita tidak tahu apakah para pemimpin yang ada di negeri ini benar-benar menjaga sholatnya. Artinya, sederhana sekali kalau kita ingin menjadi pemuda pembangkit peradaban, perhatikan sholat kita.
Saat sholat tidak menjadi perhatian, maka soal lain akan luput pula. Akibatnya sering salah kaprah di dalam hampir semua konsep hidup. Mulai dari waktu, kedisiplinan, hingga ibadah dan produktivitas. Al-Fatih bisa itu semua bukan ujug-ujug, tapi karena kedekatannya dengan ulama rabbani.
Dr. Ahmad Shalabi dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menjelaskan bahwa semua itu diraih dari pendidikan sejak kecil.
“Sejak kanak-kanak Muhammad Al-Fatih sudah dididik oleh ulama-ulama Rabbani. Misalnya Ahmad bin Ismail Al-Kurani, sosok ulama yang sholeh dan takwa. Dia adalah pembimbingnya di masa kekuasaan ayahnya, Sultan Murad II. Saat itu Muhammd ditunjuk untuk menjadi penguasa di wilayah Magnesia.
Dengan demikian dua kunci kita temukan, pertama adalah kedekatan diri dengan ulama rabbani, kedua menjalankan prinsip dasar agama sesuai sistematikanya, dalam hal ini adalah penekanan kedisiplinan, kesungguhan, dan komitmen di dalam mendirikan sholat. Jika ada pemuda ingin menjadi sosok pembangkit, maka dua hal harus jadi nafasnya, yakni sholat dan duduk berlama-lama bersama ulama yang Rabbani.
Spirit Ustadz Abdullah Said
Sisi yang menjadikan para Pemuda Hidayatullah beruntung adalah karena sosok pendiri, Allahuyarham Ustadz Abdullah Said mampu menjadi peraga spirit serupa. Beliau malah berpesan sangat tegas kepada kita semua.
“Umat Islam harus aktif mengambil prakarsa pada setiap perubahan menuju perbaikan nasib.” (Kuliah Syahadat halaman: 84).
Perbaikan nasib, tentu saja tidak dalam konteks miskin atau kaya, tetapi lebih jauh adalah superioritas peradaban dan tegaknya keindahan nilai Islam itu sendiri. Oleh karena itu narasi Ustadz Abdullah Said sederhana namun mendasar, yakni bagaimana menampilkan keindahan Islam ini. Sebuah ungkapan yang tak mungkin lahir melainkan dari panjangnya perenungan dan kiprah dalam dakwah membangkitkan kesadaran umat untuk sama-sama menegakkan peradaban.
Kini, pemuda itu adalah kita. Bersiaplah menjadi pemuda pembangkit, jika tidak sampai pada tegaknya peradaban, setidaknya mampu menjadi pembangkit lahirnya generasi yang bervisi peradaban. Jadikan ini spirit, kesadaran, bahkan nafas kehidupan kita semua.*