Beranda blog Halaman 486

Capai Keseimbangan Hidup Dunia dan Akhirat dengan Dakwah yang Membangun

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Untuk mencapai keseimbangan dunia dan akhirat, seorang muslim selain harus maju dalam agama dan akhlaknya, juga harus maju dalam perekonomiannya. Oleh karena itu, diperlukan dakwah yang mengajak umat muslim mencapai keseimbangan tersebut.

“Masyarakat [muslim] bukan hanya rajin ke masjid, tapi perlu rajin ke pasar juga untuk berusaha, rajin ke perdagangan, karena barulah seimbang kehidupan di dunia dan akhirat. Apabila tidak seimbang, maka terjadilah ketidakadilan, dan apabila terjadi ketidakadilan, maka terjadilah perbedaan-perbedaan pandangan, serta konflik. Dengan kemajuan agamanya, kemajuan ekonominya, kemajuan moralnya, barulah kita mencapai tujuan daripada dakwah,” ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla ketika menghadiri acara Peresmian Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Cipinang Cimpedak, Jakarta Timur, Jumat (11/10/2019).

Wapres mengakui, berdakwah bukanlah perkara mudah karena harus berisi hal-hal yang membangun, seperti membangun perekonomian Islam. Sehingga, banyak pengusaha yang tergerak hatinya dalam memajukan masyarakat muslim.

“Jadi bagaimana kita memulai suatu kemajuan di dunia dan di akhirat, artinya adalah kita masih untung, Alhamdulillah, bisa terbangun karena ada pengusaha-pengusaha yang membantu, disamping tentunya seluruh jamaah. Maka, untuk mencapai kemajuan dunia Islam di negeri ini, haruslah lebih banyak para pengusaha, karena salah satu kekurangan kita ialah ekonomi. Kalau kemampuan ekonomi kurang, bagaimana membayar zakat bisa banyak? Jadi muzakki (pembayar zakat)-nya yang banyak, mustahik (penerima zakat)-nya kurang. Jadi harus seperti itu. Jadi dakwah itu dakwah yang membangun,” tegasnya.

Wapres mengungkapkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Pusat Dakwah Hidayatullah bekerja sama dengan organisasi Islam lainnya, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Makassar. Dakwah yang disampaikanpun menggambarkan dakwah yang luar biasa, penuh kedamaian, membangun harapan, meningkatkan keimanan, serta menciptakan persaudaraan.

Menyinggung peristiwa yang terjadi di Indonesia dalam sebulan terakhir, Wapres menekankan agar dakwah dapat menjadi media yang menenangkan dan memberikan kedamaian.

Ia kemudian mencontohkan, ketika terjadi masalah di Papua, masyarakat diharapkan memberikan solidaritas untuk menjaga perdamaian di sana, karena tanpa perdamaian, masyarakat tidak dapat bersatu.

Melalui dakwah, ia berharap selain konten tentang bagaimana meningkatkan keimanan, konten tentang perdamaian, wasatiyah (jalan tengah) dan moderasi juga dapat digaungkan.

“Itulah yang kita harapkan dalam setiap dakwah, mengajarkan masyarakat ke jalan yang lebih baik, memajukan masyarakat yang makmur,” pesannya.

Mengakhiri sambutannya, Wapres mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kontribusi yang diberikan Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim untuk memajukan dakwah dan dunia Islam di Indonesia.

“Semoga semua mendapat hidayah dari Allah SWT,” pungkasnya.

Sebelumnya Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq melaporkan bahwa pembangunan Masjid Baitul Karim dan Pusat Dakwah Hidayatullah relatif singkat, karena dapat diselesaikan dalam kurun waktu 1 tahun dengan biaya Rp 14 Miliar berasal dari swadaya masyarakat, infaq jamaah dan sumbangan para donatur.

“Masjid Baitul Karim adalah masjid berkapasitas sekitar 400 jamaah yang terdapat di lantai 1. Sedangkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini terdapat ruang pertemuan, ruang pelatihan, tempat menginap para dai, dan ruang produksi konten-konten publikasi untuk sarana dakwah,” jelasnya.

Menurut Nashirul, gedung ini akan difungsikan untuk kegiatan dakwah, seperti belajar dan mengajar Alquran, pelayanan konsultasi keluarga, kajian keislaman, pelatihan para dai, dan tempat pertemuan para tokoh Islam guna membicarakan solusi atas persoalan umat.

Ia menambahkan, Pusat Dakwah Hidayatullah telah menetapkan kegiatan dakwah dan pendidikan sebagai program arus utama organisasi. Program dakwah dilakukan oleh para dai yang tersebar di 352 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah, sedang program pendidikan telah dijalankan oleh seluruh penyelenggara pendidikan Hidayatullah, dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MPR Bambang Soesatyo, Walikota Jakarta Timur M. Anwar, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua DPPUH KH DR Abdul Mannan, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq, perwakilan keluarga besar pewakaf Haji Abdul Karim Loebis, sesepuh Hidayatullah H. Susilo dan H. Fuad Hasan Masyhur, para ulama dan tokoh masyarakat, serta seluruh ketua DPW Hidayatullah dari 34 provinsi di Indonesia.

Sementara Wapres didampingi Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin serta Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah (YZ/AF/SK-KIP, Setwapres).

Ilmu dan Bianglala Kehidupan, Upaya Teguh Meresap Hikmah

0

NABI Muhammad, semoga shalawat dan salam terbaik selalu tercurah untuknya dan keluarga yang mulia, hanya bisa diam mematung. Tepat di hadapannya terbujur kaku manusia tercinta, Abu Thalib.

Sedihnya terasa makin berlipat karena pengganti orangtuanya sejak masa kecil itu justru meninggal dunia dalam keadaan kufur. Ia memilih bertahan dalam kesyirikan, menuruti nasihat sahabat-sahabat jahiliah yang turut menjenguknya saat sakaratul maut.

Jika boleh mengira, adakah iris kesedihan di atas lapis duka ini? Setiap waktu Nabi mengitari lorong-lorong kota Makkah untuk mendakwah. Bahkan risalah Tauhid yang diembannya dimaksudkan menjamah seluruh manusia dan semesta alam tanpa kecuali.

Nahas, orang terkasihi Nabi tersebut justru mati berkalang tanah. Lidahnya tak pernah sekalipun dibasahi dengan istighfar, memohon ampun kepada Penciptanya. Itulah yang dialami oleh manusia terbaik sekaligus teladan sepanjang masa. Jiwa Rasulullah benar-benar terpukul lagi terguncang.

Kurang apa usahanya membujuk saudara ayahnya itu untuk mengeja dua kalimat syahadat? Satu ucapan yang telah digaransi langsung dari langit niscaya memberi keberuntungan bagi pemiliknya. Tak hanya keselamatan di dunia, tapi juga kebahagiaan hakiki di Akhirat kelak.

Lara yang melanda Nabi Muhammad tersebut segera mendapatkan terapi khusus. Allah menghadiahinya hiburan yang menenangkan jiwa. Menerangkan hakikat sebenarnya tentang perjalanan hidup manusia di dunia.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai. Tapi Allah Yang Maha Memberi hidayah kepada sesiapa saja yang dikehendakinya,” (Al-Qashash [28]: 56).

Hikmahnya, begitulah kehidupan mengajarkan. Terkadang ada ratusan warna-warni di benak seorang manusia. Ada hati yang suka membisik dan membujuk. Ada akal memilih dan membenarkan dengan analisis logisnya.

Ucapan dan tingkah laku manusia kemudian menjatuhkan pilihan yang dimaksud. Namun realitasnya, rona terindah itu tetap milik Yang Maha Bijak. Pilihan Allah ialah warna terbaik bagi semuanya.

Bagi orang yang lalai dari agama, apalagi ingkar kepada Sang Khaliq, demikian itu selalu meresahkan dan jadi biang masalah. Ia bahkan bisa frustasi dibuatnya. Bagaimana mungkin takdirnya selalu berseberangan dengan keinginan orang itu. Kenapa bisa, yang direncanakan tak sesuai dengan hasil yang didapatkan?

Padahal, ia mengaku, telah merancangnya dengan kehebatan ilmu dan keluasan kompetensi yang dimiliki. Lalu kenapa mesti ada Tuhan dan doktrin kewajiban beragama? Demikian imajinasinya kian liar merambah kemana-mana.

Uniknya, orang beriman lain juga cara menyikapi ragam pilihan tersebut. Warna warni itu malah membuat dirinya makin hidup dan kian ceria. Menurutnya itulah tanda yang paling utama akan kebodohan manusia.

Tak punya ilmu kecuali sedikit saja. Ini sekaligus memicu semangatnya untuk giat menuntut ilmu dan bertawakkal. Bahwa tugas manusia adalah berusaha dan bekerja maksimal. Setelah itu mari merayakan status hamba itu dengan memperbanyak doa dan sujud kepada Sang Khalik di waktu-waktu sunyi.

Justru aneh, jika ada orang hanya mematok warna tertentu dalam hidupnya. Seolah akalnya begitu cerdas dan ilmunya sedemikian hebat dalam memastikan semua hajat hidupnya. Ia merasa sebagai penguasa yang punya kehendak mutlak. Layaknya raja-raja zalim yang mesti dituruti semua keinginannya. Sedang yang lain ditampik begitu saja.

Sejatinya, orang-orang seperti itu termasuk merugi dan pantas dikasihani. Imam Zarnuji, pengarang kitabTaklim Muta’allim, menyebut mereka sebagai golongan yang tak kunjung sampai dengan cita-cita ilmunya.

Semua yang dimiliki telah dikorbankan untuk mengejar ilmu. Tapi yang diperoleh menjadikan dia makin kehausan. Ibarat orang yang tertipu dengan fatamorgana. Menyangka ada setetes air yang bisa direguknya. Tapi justru bayangan itu tiba-tiba menghilang. Dirinya letih berjalan. Sedang dahaga itu makin menjadi-jadi.

Lebih parah lagi, manusia demikian bisa berubah menjadi sosok yang berbahaya. Gagasan dan pikirannya jadi rusak dan merusak di sekitarnya. Karena apa yang diperbuatnya selalu dianggap benar dan dibenarkan. Ia bisa berdalih dengan dalil-dalil agama yang dikuasainya. Bahkan kadang lisannya lebih fasih saat membacakan dalil yang melegitimasi amal perbuatannya.

Lalu bagaimana Mukmin yang berilmu? Seharusnya, semua ketetapan Allah mengandung hikmah dan pelajaran. Segala sesuatu mesti ditimbang dengan iman yang memenuhi rongga jiwanya. Kata Nabi mengingatkan, orang beriman itu adalah manusia beruntung sepanjang waktu.

Asal ia mau bersabar dan bersyukur dalam menjalani warna pelangi dalam kehidupannya. Ibarat pelangi yang indah dengan kumpulan warna-warninya. Lukisan itu terbit setelah hujan yang membasahi permukaan bumi.

MASYKUR SUYUTHI

AQM pada Mahasiswa di Mesir: Kita Perlu Diskusi

0

KAIRO (Hidayatullah.or.id) — Suasana Baitul Hadhoroh (Rumah Peradaban) Hidayatullah Mesir pada Rabu (2/10/2019) malam waktu setempat terasa lebih hangat. Pasalnya, salah seorang anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Dr Ir H Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M.Si bersama istri berkunjung untuk pertama kalinya ke tempat ini.

Acara yang bertajuk Silaturahmi Kader ini dimulai selepas shalat maghrib hingga sekitar pukul 20.00 CLT. Sejumlah 35 anggota Himayah yang terdiri dari 29 ikhwan dan 6 akhwat turut mengisi aula Baitul Hadhoroh sebagai markas Hidayatullah Mesir yang beralamat di Hay Asyir, Nasr City, Kairo.

Dalam penyampaiannya, ustadz yang karip disapa AQM ini menekankan perlunya menghubungkan generasi pendahulu dengan generasi baru lembaga Hidayatullah melalui diskusi-diskusi.

Sebab, lanjut dia, lahirnya SDM melalui pendidikan tinggi seperti di Mesir ini juga merupakan salah satu harapan besar lembaga.

“Sayangnya ada banyak hal yang masih kurang tersambungkan antar beberapa generasi ini baik secara manhaj maupun secara spirit perjuangannya,” katanya.

Peraih gelar doktor dari UIKA Bogor ini menceritakan sedikit sejarah pendahulu Hidayatullah dalam membuka cabang pesantren dengan modal yang minim. Meski begitu, kesuksesannya terbukti dengan berdirinya 300 lebih cabang Hidayatullah dari Sabang sampai Merauke.

Dia menerangkan, kunci dari sejarah pendahulu itu adalah adanya spirit yang sangat tinggi.

“Antum ini bisa dibilang sudah cukup ilmunya dibanding pendahulu-pendahulu Hidayatullah yang membuka cabang di banyak tempat. Tapi pertanyaannya, apakah spiritnya ini masih berlanjut,” papar beliau seraya memotivasi.

Dalam kalam penutup, AQM berharap selagi beliau di Mesir selama sebulan ini bisa diadakan kembali beberapa kali pertemuan bersama kader Hidayatullah di Mesir.

Menurut anggota DPD RI perwakilan Sulsel 2004-2019 ini, masih banyak sekali pembahasan yang perlu didiskusikan seputar kiprah yang Hidayatullah di masa yang akan datang. Tema ini kata beliau belum termasuk materi dakwah Islam secara umum dan lebih lagi tentang politik umat di Indonesia.

“Ini saya baru bicara Hidayatullah ya, itu pun baru sedikit. Saya belum bicara dakwah Islam Indonesia, saya juga belum bicara politik umat, karena ini (Hidayatullah) masih menjadi soal besar kita,” pungkasnya.*/Himayah Mesir

Duo Azzahra Dapat Predikat Penghafal Terbaik dan Tercepat

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidz Quran Hidayatullah Ternate selalu mengirimkan penghafal Al Quran terbaik mereka untuk melanjutkan pendidikan di Yaman. Tahun ini, dua diantaranya diwisuda dengan predikat membanggakan.

Sinergi antara Pondok Pesantren Tahfidz Quran Hidayatullah Ternate dengan Ma’had Tahfidzul Quran Arraudah Goiil di Yaman telah melahirkan banyak hafidz dari Maluku Utara.

Tahun ini, dua hafidz putri diwisuda, yakni Fatimah Azzahra dan Salsabila Azzahra. “Ini hasil kerjasama Pesantren Hidayatullah dengan Ma’had Arraudah Goiil,” ungkap Ustadz Saleh, pimpinan Ponpes Hidayatullah Ternate kepada Malut Post, Selasa (8/9).

Fatimah dan Salsabila baru berusia 14 tahun. Namun keduanya telah menyeelsaikan hafalan mutqin 30 juz. Dalam wisudah tahun ini, Fatimah dan Salsabila dianugerahi predikat sebagai hafidz terbaik dan hafalan tercepat.

“Untuk santri putri, Fatimah dan Salsabila adalah satu-satunya yang mewakili Indonesia. Mereka melanjutkan studi di Provinsi Hadhramaut, Yaman,” sambung Saleh.

Ponpes Hidayatullah mengirimkan 15 santri ke Yaman pada tahun 2018. Saat ini baru Salsabila dan Fatimah yang diwisuda sebagai hafidz. Duo Azzahra ini diwusuda bersama dengan 24 hafidz dari seluruh dunia.

“Dari total 2000-an santri dunia saat itu, mereka berhasil wisuda lebih dulu dengan predikat terbaik,” turut Saleh.

Harunya, dalam momentum membanggakan itu, orangtua Salsabila, H Bustam Amin dan Hj Nurkumala Rahman, dan orangtua Fatimah, Nurdin Abdullah dan Nurlela, tak bisa hadir. Jarak jadi kendala.

“Karena tidak ada yang mendampingi, makanya istrinya Syeikh pimpinan Ma’had di Yaman yang mendampingi langsung keduanya,” tambah Saleh.

“Setelah wisuda 30 Juz mutqin dengan gelar mumtaz, Fatimah dan Salsabila kini tengah persiapan pengambilan sanad hafalan,” ujarnya.

Sanad adalah perwarisan hafalan Al Quran 30 juz langsung dari Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para tabiin, para tabiut tabien, para imam qiraah (qiraah sab’ah) dan terus bersambung hingga generasi sekarang.

Dengan adanya sanad maka keaslian dan keotentikan AL Quran selalu terjamin sekar era hidupnya Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat kelak.

Untuk mendaaptkan sanad qiraah AL Quran, seorang hafidz harus menyetor hafalan di depan syaikh pemegang sanad qiraah penuh 30 juz, dengan dengan tajwid dan dan qiraah yang benar.

Untuk memberangkatkan para santri ke Yaman, Ponpes Hidayatullah mendapatkan dukungan anggaran dari Pemerintah Kota Ternate.

Menurut Ustadz Saleh, salah satu ujian menghafal Al Quran di Yaman dimulai sejak pukul 3 pagi hingga 8 malam.

“Untuk ujiannya, satu kali duduk setor dari juz 1 sampai 30, mulai dari jam 3 subuh sampai sesudah Isya dengan rehat makan dan shalat. Nah, untuk Salsabila, tidak ada satupun kesalahan setoran,” jelasnya.

Ayah Salsabila, H Bustam Amin yang dihubungi Malut Post mengucapkan rasa syukur atas prestasi yang diraih puterinya.

Bustam yang tahun lalu ikut mengantar Salsa hingga ke Yaman juga menyatakan terimakasihnya kepada pihak pondok.

“Kepada Ustadz Shaleh dan semua civitas di Pondok Pesantren Hidayatullah serta semua yang terlibat, saya ucapkan terima kasih. Anak saya berupaya tapi tetapi semua juga berkat dukungan doa dari teman teman, sahabat, bahkan dari orantua kami juga. Semoga Salsa bisa tetap mempertahankan ketekunannya,” imbuhhnya.

Bustam menuturkan, Salsabila sudah jatuh cinta dengan hafalan Al Quran sejak kecil.

“Sewaktu masih duduk di bangku sekolah kelas 3 SD itu sudah terinspirasi dari acara hafalan Al Quran di salah satu stasiun TV,” kenangnya.

Selaku orangtua, Bustam dan istrinya pun memberikan dukungan penuh. Mereka mengirimkan Salsabila belajar ke salah satu taman baca Quran di Tangerang.

“Baru saat SMP masuk ke Pondok Pesantren Hidayatullah,” kata Bustam. Bustam dan sang istri berharap Salsabila dan Fatimah bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama anak perempuan lain.

“Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Maluku Utara, terutama bagi anak perempuan, karena kebanyakan orang tahunya anak laki-laki ya yang jadi hafidz,” pungkasnya.*/Malut Post, Kamis 10 Oktober 2019

Wapres Akan Resmikan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Jumat 11 Oktober, rencananya akan meresmikan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim yang terletak di jalan Cipinang Cempedak I No 14, Jakarta Timur. Kepastian acara peresmian ini diungkap oleh Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir Candra Kurnianto.

“Kemarin (Selasa, 8 Oktober 2019) kami sudah bersilaturahim ke kantor Wapres, dan Pak JK (Jusuf Kalla) insya Allah bisa datang meresmikan gedung ini,” jelas Candra ketika dihubungi, Rabu (09/10/2019).

Acara peresmian ini juga dihadiri oleh Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Nashirul Haq, para ulama dan tokoh masyarakat, serta seluruh ketua DPW Hidayatullah dari 34 propinsi di Indonesia.

Acara peresmian akan dimulai pukul 10.00 hingga tiba waktu shalat Jumat. “Pak JK (Jusuf Kalla) rencananya akan shalat Jumat di Masjid Baitul Karim,” kata Candra lagi. Yang bertindak sebagai khatib adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia, Dr. Sofyan A. Djalil.

Masjid Baitul Karim adalah masjid berkapasitas sekitar 400 jamaah yang terdapat di lantai 1 Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah. Selain masjid, di gedung ini juga terdapat ruang pertemuan dan ruang produksi konten-konten publikasi untuk sarana dakwah.

Gedung ini, menurut Candra, akan betul-betul difungsikan untuk kegiatan dakwah. Di gedung ini akan berlangsung proses belajar dan mengajar al-Qur’an, pelayanan konsultasi keluarga, kajian keislaman, dan tempat pertemuan para tokoh Islam guna membicarakan solusi atas persoalan umat.

Gedung berlantai 4 ini berdiri di areal seluas 6 ribu meter per segi. Pembangunan gedung ini dimulai pada Februari 2018. Peletakan batu pertama ketika itu dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Hidayatullah, kata Candra, telah menetapkan kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan sebagai program arus utama organisasi. Program dakwah dilakukan oleh para dai yang tersebar di 352 DPD Hidayatullah, sedang program pendidikan telah dijalankan oleh seluruh penyelenggara pendidikan Hidayatullah, dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.*/Mahladi/Hidcom

“Sulbar Butuh Pendidik Berkarakter, Hidayatullah Pelopornya”

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Asisten Administrasi Umum Sekretariat Provinsi Sulbar, Hj. Jamila, SH, mengatakan Provinsi Sulawesi Barat semakin membutuhkan sentuhan pengembangan pendidikan karakter dan hal itu telah dipelopori oleh Hidayatullah sebagai organisasi Islam yang memiliki dua arus gerakan utama (mainstream) yaitu dakwah dan pendidikan (tarbiyah).

“Sulbar membutuhkan pendidik berkarakter, Hidayatullah telah menjadi pelopornya,” kata Asisten Administrasi Umum Sekretariat Provinsi Sulbar, Hj. Jamila, SH, ketika memberikan sambutan dalam acara workshop parenting digelar di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulawesi Barat, belum lama ini (5/10/2019).

Menurut, Jamila, Sulbar sangat membutuhkan pendidik pendidik berkarakter yang mampu menghadirkan cinta dalam mengawal tumbuh kembang anak baik di rumah, sekolah dan lingkungannya.

Menurutnya, dalam sambutan tersebut, kegiatan serupa harus diadakan di daerah lainnya di Sulbar jika perlu setiap tahun.

“Nanti kita komunikasikan lebih lanjut karena (parenting dan workshop) ini penting untuk diketahui masyarakat luas. Saya kawal nanti pelaksanaannya tahun depan” tandasnya.

Dinamika kepengasuhan anak di rumah itulah yang mendasari pengelola TK dan Rumah Tahfidz Al-Furqon Hidayatullah Mamuju bersinergi di bawah koordinasi Pesantren Hidayatullah untuk mengadakan workshop dan parenting ini sebagai upaya pengembangan mendidik anak di rumah agar proses pendidikan di sekolah berimbang dan tidak berlainan.

Acara ini sendiri mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Dalam waktu lima hari tiket masuk yang dibanderol 50.000 itu habis terjual bahkan panitia kelabakan harus mengadakan kembali mengingat pada hari pelaksanaan masih ada 50-an peserta yang baru mendaftar.

“Awalnya acara ini untuk kebutuhan orangtua dan wali murid TK Integral Al-Furqon dan Rumah Tahfidz Al-Furqon saja namun setelah kami evaluasi justru warga Mamuju banyak yang meminta dibuka untuk umum saja” terang Miftahussadah pengelola rumah tahfidz yang ada di depan pasar baru Mamuju itu.

Hajrawati Syam, ibu rumahtangga peserta workshop dan parenting yang bertema “Mengelola Emosi Orangtua dan Anak Menyongsong Keluarga Milenial yang Kompak dan Kokoh” ini, sangat girang dan bahagia bisa bertemu langsung penulis buku yang selama ini ia baca di rumahnya.

Adapun pemateri dalam acara ini adalah Irawati Istadi yang juga dikenal sebagai penulis produktif diantaranya buku berjudul “Mendidik dengan Cinta”.

Bersama 400 peserta lainnya bahkan ada juga beberapa saudara kita dari umat Kristiani, seluruhnya terkesima dengan pemaparan pemateri yang sudah menulis belasan buku parenting dan laris di pasaran.

“Anak anak itu tahu kalau kita marah dan kita harus bisa menjelaskan kepada mereka apa penyebab marah agar mereka bisa faham kalau perbuatannya tidak patut untuk diulang,” kata penulis buku Ayo Marah ini ketika menjawab beberapa penanya yang senada menyoal marahnya orangtua.

Antusiasme peserta semakin tinggi ketika dibuka sesi tanya-jawab. Bahkan beberapa bertanya yang bersifat pribadi.*/Muhammad Bashori

Kapolda: TNI dan Polri Jamin Keamanan Wamena


Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Paulus Waterpauw saat mengunjungi korban kerusuhan Kota Wamena, yang berada di Sentani, Senin (1/10/19). / Photo credit: Papuasatucom

WAMENA (Hidayatullah.or.id) — Menurut Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw, aparat akan menjamin keamanan di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua. Menurutnya, masyarakat di tempat pengungsian telah berkurang.

Kapolda pun mengimbau masyarakat agar kembali ke rumah masing-masing.

“Jangan khawatir, aparat keamanan TNI dan Polri akan jamin keamanan di Kota Wamena ini,” ujar Kapolda ketika mengunjungi pengungsi kerusuhan Wamena di Mapolres Jayawijaya, Ahad (06/10/2019) INI-Net semalam.

Imbauan kembali ke rumah juga disampaikan kepada warga yang telah terlanjur mengungsi keluar Wamena. Sebab, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya telah mengintruksikan agar aktivitas sekolah kembali berjalan.

“Kepada saudara-saudara yang sudah turun dan kembali ke daerah masing-masing kita bisa melihat situasi sudah mulai normal kembali. Mulai besok bapak bupati dan pemerintah daerah sudah mulai aktifkan sekolah,” sebutnya.

Kapolda juga meminta kepada para pengungsi agar membantu aparat kepolisian dengan mendoakan semoga aktor kerusuhan di Wamena dapat segera tertangkap.

“Saya mengimbau kepada bapak-ibu untuk tidak mendengar isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Kemudian membantu kami dan berdoa agar pelaku segera tertangkap,” ujarnya.

Kapolda menegaskan, pengembangan penyelidikan kerusuhan di Wamena akan tetap dilakukan sampai aktor di balik semua rangkaian kerusuhan di Wamena terungkap.

“Kami akan kembangkan penyelidikan sampai aktor di balik kerusuhan tertangkap,” tegasnya.

Sedangkan Kapolres Jayawijaya, AKBP Tonny Ananda Swadaya menyebut, pengungsi di Wamena saat ini didominasi masyarakat yang berasal dari kabupaten pemekaran. Kapolres memastikan bahwa infrastruktur di Wamena sudah mulai membaik.

“Pengungsi di Jayawijaya sudah berkurang dan yang ada justru warga dalam kota ditambah masyarakat dari wilayah pemekaran. Kemarin kita sudah melaksanakan pembersihan puing puing,” sebutnya. (hidcom)

Tasyrif Amin: Jadilah Kader Harapan Agama dan Bangsa

0

Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I (pramuka) menyerahkan bingkisan hadiah kepada Nurhayati Jamil (Ummi Hindong) sebagai pendamping tertua yang juga kader daiyah senior dari Kaltim dalam Jamnas II Pandu Hidayatullah/ Photo Credit: Rahiq Mahtum Abdullah

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I, berpesan kepada generasi muda yang menjadi kontingen Jambore Nasional (Jamnas) II Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Pandu Hidayatullah dari berbagai daerah se-Indonesia agar selalu menempa diri dalam kebaikan sehingga kelak menjadi kader dakwah yang menjadi harapan agama dan bangsa.

Hal itu disampaikan beliau dikala menutup rangkaian acara Jambore Nasional II Satuan Komunitas Pramuka Pandu Hidayatullah yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Jawa Timur, Ahad (29/09/2019).

“Indonesia ke depan. Dakwah Indonesia ke depan, besar harapannya kepada Pandu Hidayatullah,” ujarnya di hadapan ribuan peserta jambore.

Kegiatan yang diikuti oleh 3.757 peserta putra-putri dari 221 perwakilan sekolah-sekolah Hidayatullah ini yang ditutup oleh Ketua Departemen Dakwah DPP Hidayatullah Tasyrif Amin, ini juga berlangsung semarak dengan beragam kegiatan.

Selain itu, Tasyrif mengingatkan bahwa tantangan ke depan bagi generasi Pandu Hidayatullah jauh lebih besar. Selain itu, ke depannya, ia mendorong Jambore Pandu Hidayatullah akan dilaksanakan dengan target 10 ribu peserta.

“Kami berharap akan menghadirkan dua kali lipat dari pada hari ini. Kenapa makin banyak, karena tantangan kita makin besar,” tambahnya.

Dalam acara yang bertema “Berkhidmat untuk Indonesia lebih Bermartabat”, Syarif Daryono sebagai Panglima Pusat Pandu Hidayatullah juga memberi sambutan.

Syarif Daryono menyeru untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan para anggota Pandu peserta Jambore Nasional II itu.

“Saat di sini kalian sudah mendapatkan hal-hal yang bermanfaat. Saat kalian pulang mari menularkan kebaikan. Kalau bisa dapat menginspirasi daerah kalian,” ujarnya.

Acara penutupan ini sekaligus pembagian hadiah. Ada puluhan cabang perlombaan Jambore, termasuk Hidayatullah Islamic Competition (HIC) yang diumumkan.

Perwakilan Balikpapan berhasil membawa 3 piala juara umum, yaitu MI dan MTs Putra Raadhiyatan Mardhiyyah untuk tingkat SD/MI dan SMP/MTs serta MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri untuk tingkat SD/MI putri.

Sedangkan juara umum lainnya, MTs Hidayatullah Putri Yogyakarta dan MA Nurul Iman Suarakarta untuk tingkat SMP/MTs dan SMA/MA Putri. SMA Arrahmah Malang berhasil menjadi juara umum tingkat SMA/MA Putra Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah.*/Rofi Munawwar

“Kecanduan” Al-‘Alaq

Oleh Ustadz Dr Nashirul Haq, Lc, MA*

BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.(al-‘Alaq 1-5).

Berawal dari pertanyaan yang sering muncul dalam benak Ustadz Abdullah Said, “Mengapa Nabi Muhammad SAW begitu cepat mencapai hasil sedang kita tidak”?

Dalam jangka hanya 23 tahun beliau betul-betul dapat merampungkan hal-hal yang mendasar dalam perjuangan. Berhasil mengubah peta sejarah. Berhasil merombak kultur jahili menjadi kultur Islami. Kita, sudah berapa kali 23 tahun, belum ada perubahan yang signifikan ke arah perbaikan yang kita buat.

Padahal, kalau berbicara tentang konsep perjuangan, bukankah al-Qur’an yang digunakan Nabi Muhammad SAW masih itu juga yang ada sekarang? Tanpa perubahan sedikit pun. Kalau soal berpedoman kepada al-Qur’an, semua lembaga perjuangan Islam mengaku al-Qur’an sebagai pedomannya.

Lalu di mana letak masalahnya?

Setelah melalui pencarian dan perenungan yang cukup panjang, akhirnya Ustadz Abdullah Said menyimpulkan bahwa letak masalahnya adalah karena al-Qur’an tidak didakwahkan secara sistematis berdasarkan urutan-urutan diturunkannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Proses menjadikan Sistematika Wahyu sebagai manhaj dan pola gerakan Hidayatullah telah melalui periode yang cukup panjang. Dirintis dan dipimpin oleh Ustadz Abdullah Said sejak beliau masih mengawali pendirian Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Pertanyaan dasar yang selalu menggangu perasaan dan pemikiran beliau adalah darimana atau dengan apa Rasulullah SAW memulai gerakan perjuangannya?

Sejak kapan beliau menemukan jawaban terhadap kegelisahan dan kegundahan hatinya menyaksikan maraknya penyembahan berhala, hancurnya tatanan sosial masyarakat serta kerusakan akhlaq yang sudah tidak dapat diterima oleh akal sehat lagi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditemukan jawabannya pada wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW.

Kesimpulan ini mempunyai alasan sederhana: sebagai seorang Rasul yang baru saja diutus oleh Allah SWT, secara logika, wahyu-wahyu yang pertama kali beliau terima merupakan pokok dan inti dari gerakan Islam yang ditugaskan kepadanya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahwa hanya dengan wahyu pertama yaitu Surat al-‘Alaq ayat 1-5, Rasulullah SAW sudah menjadi seorang beriman, seorang Rasul, bahkan sudah mempunyai pengikut yaitu istri beliau (Khadijah) dan sepupu beliau (Ali).

Artinya, wahyu pertama itu adalah wahyu yang berisikan saripati jawaban terhadap pertanyaan besar umat manusia tentang hakikat penciptaan dan kekuasaan di alam semesta raya ini. Hanya dengan wahyu pertama saja, sudah mampu menjadikan Muhammad SAW sebagai seorang yang beriman dan seorang Rasulullah.

Bagaimanakah Muhammad dapat menjadi seorang beriman dengan wahyu pertama tersebut, padahal tidak ada satu kata pun dalam wahyu pertama yang memerintahkan untuk beriman? Bahkan perintah wahyu pertama dimulai dengan “Bacalah, dengan nama Rabb-mu yang menciptakan.”

Bagaimana pula, melalui wahyu pertama ini Muhammad dapat mengerti bahwa ada kewajiban pada dirinya untuk memulai suatu gerakan yang bahkan namanya pun belum beliau ketahui?

Dengan luasnya pikiran dan lapangnya jiwa yang telah dimiliki oleh seorang Muhammad, beliau langsung paham dan mengerti. Wahyu pertama ini adalah suatu jawaban terhadap berbagai pertanyaan mendasar yang telah “membebani” beliau selama lima tahun terakhir pulang-pergi berkhalwat ke Gua Hira’.

Beliau tidak menyangka, jawaban terhadap semua kegelisahannya adalah dalam wujud penugasan kepada beliau sendiri untuk menerima wahyu dan risalah dari Allah SWT.

Di sinilah daya tarik wahyu pertama ini. Nuansanya sangat filosofis dan penuh daya spiritual. Kalimatnya singkat namun mengandung makna yang begitu padat dan mendalam. Belum lagi berdasarkan sejarah, hanya inilah wahyu yang diantarkan langsung oleh Jibril kepada Rasulullah SAW dalam keadaan menunjukkan wujudnya. Dalam arti Rasulullah SAW dapat melihat dengan mata beliau keberadaan Jibril AS.

Demikianlah yang dialami oleh Ustadz Abdullah Said ketika mencoba menyelami wahyu pertama ini, dimana beliau telah menemukan bahwa muatan wahyu pertama ini begitu memukau. Baik dari sisi pandangan filsafat maupun secara spiritual.

Beliau merasa seperti menemukan kembali khazanah wahyu yang begitu lama terpendam dan tenggelam oleh perdebatan-perdebatan di kalangan umat. Baik perdebatan yang bersifat teologis maupun fiqih yang telah menyita energi umat selama berabad-abad.

Kegembiraan itu begitu luar biasa dan itu dapat kita serap dari cerita para pendiri dan perintis (founding fathers) yang sering mengungkapkan bahwa pada waktu awal dimunculkannya Sistematika Wahyu ini, diskusi dan kajian intensif dilakukan. Bahkan pernah sampai sebulan penuh tanpa henti.

Wahyu pertama ini telah digali dan dikaji sedemikian rupa untuk menghasilkan suatu keimanan yang mendekati keutuhan dan kesempurnaan kepada Allah SWT.

Beliau senantiasa menekankan betapa kejayaan Islam hanya dapat dibangun di atas pondasi keimanan dan tauhid yang kuat. Dalam bahasa sederhana, beliau selalu mengulang-ulang kepada para kadernya untuk mengingat bahwa Allah SWT yang ada di Gunung Tembak juga Allah SWT yang ada di Irian Jaya. Dia juga Allah SWT yang ada di manapun para kader akan ditugaskan.

Ibarat kata pepatah, dengan wahyu pertama ini beliau merasa telah membangkitkan kembali batang terendam. Yaitu telah menemukan kembali pusaka Islam yang telah begitu lama hilang, yang akibatnya adalah terpuruknya posisi kaum Muslimin di seluruh dunia selama berabad-abad.

Substansi al-Alaq ayat 1-5 begitu mempengaruhi pemikiran dan kehidupan beliau dan didoktrinkan kepada para jamaah dan santrinya.

Saking seringnya beliau mengulang-ulang ayat-ayat tersebut sehingga muncul istilah “keracunan” al-Alaq, da’i-da’inya Hidayatullah digelari Ustadz al-Alaq atau Ustadz Iqra’. Surah ini diyakini merupakan sumber kandungan falsafah dari bangunan Islam secara keseluruhan yang terartikulasi dalam kalimah tauhid: laa ilaaha illallah.

Dalam kajian fiqih, rukun Islam yang pertama atau syarat pertama seorang menjadi Islam adalah kalimat tauhid ini. Sehingga lebih memberikan keyakinan kepada beliau bahwa lima ayat pertama inilah yang menjadi falsafah Islam yang menghasilkan kesimpulan lahirnya kalimat tauhid.

Bahkan menurut Ustadz Abdullah Said, untuk melakukan perubahan mendasar di tubuh umat Islam harus berangkat dari masalah yang paling mendasar yaitu syahadat. Beliau menyatakan, “Memperbaiki kualitas umat Islam harus dimulai dari perbaikan kualitas syahadatnya. Di sini kuncinya. Inilah yang perlu dikondisikan lebih dahulu.”

Manhaj Gerakan Hidayatullah ini kemudian dalam perkembangannya disebut sebagai Sistematika Wahyu. Wallahu a’lam.

*)Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Naskah diambil dari rubrik Khiththah Majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2019

Mabit Kampus Pondok Tahfidz Jeneponto Ajang Silaturrahim

JENEPONTO (Hidayatullah.or.id) — Salah satu agenda malam bina iman dan takwa yang lazim disingkat dengan Mabit itu adalah menemani anak membersihkan halaman pondok, setelah mereka murojaah atau mengulang ulang hafalannya tadi usai shalat subuh berjamaah di masjid.

Mabit yang diikuti seluruh walisantri ini dilakukan setiap akhir bulan di Pondok Tahfidz Cilik Hidayatullah Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Termasuk salah satu sesi diisi dengan bermain bersama keluarga yang dilakukan di halaman asrama tentunya dengan game yang edukatif dan menyenangkan semua peserta karena dipandu trainer berpengalaman.

“Sampai hilang perasaan murungnya anakku sejak kami datang katanya dia mau ikut pulang tapi pas main game jadi suka dia” ungkap salah seorang ibu, Halijah, mengenai anaknya.

Sebagaimana mabit lainnya, rangkaian shalat tahajud, kerjabakti dan makan bersama juga disempurnakan dengan tausiah oleh pimpinan pondok, Ayah Armin. Sapaan familiarnya di lingkungan pondok tersebut.

Dalam tausiahnya ayah menyebutkan, “Sungguh indah urusan orang beriman diberi kesusahan ia sabar dapat pahala sebagaimana ketika orang beriman itu dapat rejeki iapun bersyukur dan dapat pahala”.

Disitirnya, mengirim anak ke pondok membutuhkan kesabaran yang berlipat. Jangan terlalu cepat merespon keluhan anak lalu menyikapinya sepihak tanpa mengomunikasikan dengan pihak pondok dan pengasuh. Ia pun bersyukur karena indikasi tersebut belum terjadi karena kepercayaan walimurid sangat bagus kepada pihak pengelola.

Dan pada kesempatan mabit kali ini digunakan untuk rapat bersama murobbi tiap tiap tingkatan membahas perkembangan hafalan anak dengan segala problematikanya.

Mengingat santri yang rata rata berumur 7 sampai 14 tahun itu membutuhkan perhatian khusus sehingga metode pengajarannyapun membutuhkan improvisasi yang baik.

“Tidak jarang kami harus memposisikan diri sebagai teman mainnya,” ungkap Misbah salah satu pengasuh.

Sehingga materi tausiah lanjutan yang dibawakan oleh ustadz Sholeh Usman sangat mengena dalam kehidupan berasrama dan mengasramakan anak itu.

“Allah subhanahu wa taala itu pasti menolong orang yang menolong agamanya Allah, lalu, mujahadah memondokkan anak itu bagian dari menjaga Al-Qur’an maka yakinlah atas pertolonganNya”.

Himbaunya, agar semua masyarakat tetap percaya diri dengan amalan agamanya dan selalu ingat orientasi hidup tidak sekedar mencari kehidupan dunia saja yang bisa membawa kepada penyakit hubbud dunya wa karahyatul maut atau cinta dunia dan takut mati.*/Muhammad Bashori