Beranda blog Halaman 492

Makna Bulan Dzulhijjah dan Momentum Kemajuan Umat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pada bulan Dzulhijjah 1440 Hijriyah ini kita menjalani hari-hari yang memiliki keutamaan seperti ibadah puasa tarwiyah, puasa arafah, hari raya Idul Adha/ qurban dan secara umum penyelenggaraan ibadah haji ke Baitullah yang diikuti oleh jutaan kaum muslimin dari seluruh dunia.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH DR Nashirul Haq, MA, mengajak segenap kaum muslimin untuk memaknai helatan tersebut bukan saja semata ritual tetapi bisa menarik hikmah yang mendalam dari khazanah Islamiyah tersebut.

Tentang momen haji, misalnya. Kata beliau, selain sebagai ibadah ritual (‘ubudiyah) haji juga mengandung dimensi sosial (ijtima’iyah)

“Rukun Islam yang merupakan ibadah tahunan ini sungguh menjadi momen yang sangat strategis dari aspek sosial, ekonomi dan politik,” katanya kepada media ini beberapa waktu lalu.

Menurutnya, berhimpunnya jutaan kaum musilimin di tanah suci seharusnya dimanfaatkan untuk konsolidasi dan koordinasi dalam menghadapi problematika keummatan secara global.

Rangkaian pelaksaan ibadah haji dan ritual Qurban sejatinya memuat pesan penting tentang spirit yang dibawa oleh Islam sebagai agama yang meninggikan martabat manusia serta membawa pesan-pesan kemanusiaan untuk memanusiakan manusia.

“Seandainya musim haji dijadikan momen untuk menggalang persatuan ummat, menyatukan visi dan membangun sinergi, maka ummat Islam akan memiliki kekuatan dalam mewujudkan peradaban Islam yang agung di seluruh dunia,” imbuhnya.

Beragam ritual Islam dengan segala keutamaannya di bulan Dzulhijjah ini di samping sebagai ajang mendulang pahala dan menghapus dosa setiap pribadi muslim, juga merupakan momentum kebangkitan umat untuk kebaikan semesta. (ybh/hio)

Pimpinan Umum Hidayatullah: Pemuda Jangan Cengeng

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Bagi pemuda, banyak cara memaknai Hari Kemerdekaan RI ke-74 yang baru saja berlalu. Seperti yang diadakan oleh puluhan mahasiswa di Kota Balikpapan. Mereka memperingati momen pembacaan Proklamasi itu dengan kegiatan Silaturahim Tokoh.

Hadir dalam acara tersebut Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, sekaligus menyampaikan taushiyah kebangsaan (Sabtu, 17/8/2019).

“Kalian para pemuda harus jadi inspirasi generasi pelanjut. Orangtua dan pahlawan dahulu sudah melewati perjuangan penuh heroik. Bukan cuma tetes air mata tapi juga hingga tetes darah ditumpahkan,” ungkap Ustadz Abdurrahman Muhammad dalam acara yang digelar di Aula Masjid Ar-Riyadh, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Berkaca kepada sejarah, menurut Pimpinan Umum, peran pemuda berada pada titik strategis baik di masa penjajahan atau pascakemerdekaan bangsa Indonesia. “Ini penting disadari untuk melahirkan semangat kontribusi kepada umat dan bukan selalu minta dilayani dan diberi,” ujarnya.

Lebih jauh, ustadz yang terbilang sudah malang melintang di dunia dakwah itu berkisah soal Pesantren Hidayatullah di masa perintisan dahulu.

“Jadi prinsip santri itu pokoknya semua keras. Ibadah keras, kerja keras, berpikir keras, berdoa keras,” ungkapnya sambil menceritakan beberapa kisah ringan yang diingatnya.

”Jadi tidak ada cerita santri atau pemuda bisa santai-santai seolah tidak ada pekerjaan,” lanjutnya memberi semangat.

Ustadz yang pernah berdakwah di daerah minoritas Sulawesi Utara dan Papua tersebut juga menceritakan soal ibadah, bahwa para santri wajib shalat tahajjud selama empat jam di malam hari.

“Jadi semua serba keras. Termasuk lapar keras. Kalau orang tua bilang lapar, lapar betul itu, sudah bergetar-getar dia. Tapi kalau anak muda bilang lapar, ah belum lapar itu, cuma mau makan saja itu,” ucapnya yang disambut tawa peserta silaturahim.

Terakhir, Pimpinan Umum Hidayatullah berpesan agar para pemuda tidak boleh cengeng. “Jangan cengeng. Kalian ini pemuda Islam. Punya tanggung jawab besar atas umat,” tegasnya.

Adapun tipsnya, lanjutnya, pemuda itu harus banyak mendekatkan diri kepada Allah, rajin ke masjid, rutin baca al-Qur’an, dan membiasakan diri bersedekah kepada orang lain.

Para mahasiswa juga diimbau menghafal dan mengkaji hadits Nabi tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah. “Baca hadits itu. Di sana terkandung kriteria pemuda tangguh yang diinginkan oleh Rasulullah,” tutupnya.

Untuk diketahui, acara Silaturahim Tokoh di atas diinisiasi oleh Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Mereka bekerja sama dengan Takmir Ar-Riyadh, Balikpapan dan Panitia #TC40Hari STIS yang sedang mengadakan kegiatan daurah sejak awal Agustus lalu.*/Masykur Suyuthi

Seumur Hidup Baru Pertama Kali Nikmati Daging Qurban

SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Menikmati daging kurban bukanlah hal yang biasa dialami oleh masyarakat Desa Dowora. Sebuah desa dalam Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan itu begitu jauh dari pusat kehidupan propinsi Maluku Utara.

“Ke Dowora ini sangat panjang perjalanan. Dari Ternate menyeberang ke Sofifi dua jam pakai feri, kemudian lanjut darat 7 jam lamanya. Setelah itu, menyeberang lagi 3 jam dan tim diombang-ambingkan ombak yang memang lagi tinggi,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara Arif Ismail (18/8).

Kondisi itu menjadikan mereka tak pernah tersentuh penyaluran hewan kurban, sehingga pada saat BMH ke desa yang warganya pelaut tangguh itulah, mereka merasakan lezatnya masakan daging.

Hamadun, salah seorang warga desa menuturkan bahwa selama puluhan tahun sejak keberadaan desa tersebut sampai saat ini, belum pernah sama sekali warga menikmati daging kurban.

“Alhamdulillah baur ini kami melaksanakan ibadah kurban. Dan, sekarang inilah kami merasakan masakan daging,” ucapnya.

“Sejak moyang kami, sampai sekarang baru pertama kali menikmati Lebaran Idul Adha dengan hewan kurban sebanyak ini,” imbuh Hamadun penuh kebahagiaan.

Penyaluran hewan kurban ke Desa Dowora benar-benar menjadi berkah tersendiri bagi warga. “Alhamdulillah, setelah diguncang gempa kita dapat berlebaran. Inilah mungkin satu hikmahnya,” seloroh Hamadun yang disambut tawa warga lainnya.

Momentum Idul Adha yang sempurna dengan hewan kurban benar-benar menjadi kabar gembira bagi seluruh warga desa.

“Syukur, Alhamdulillah, kami sangat apresiasi dan ucapan terima kasih tak terhingga kepada BMH dan SAR Hidayatullah atas kepeduliaannya kepada warga Desa Dowora khususnya, dan desa-desa lainnya yang terdampak gempa. Kami tidak bisa membalas yang lebih, hanya berdoa semoga Allah membalas yang lebih baik, BMH semakin maju, semakin dipercaya masyarakat dan pahala amal ibadahnya terus mengalir kepada petugas BMH dan para donatur,” ungkap Kepala Desa Dowora, Eli Saleh.

Masyarakat Desa Dowora memang terkenal tangguh, sebab mereka hidup di sebuah pulau yang tidak menyediakan sumber air bersih.

“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga Dowora harus menyeberang ke Halmahera, waktu tempuh enam jam pulang pergi,” tutup Arif Ismail.*/Herim

Dai Hidayatullah Kenalkan NKRI kepada Suku Terasing

TOGUTIL (Hidayatullah.or.id) — Dai adalah penjaga garis depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itulah yang selalu menjadi spirit bagi segenap kader dai Hidayatullah yang ditugaskan di mana saja terutama mereka yang mengabdi di daerah pedalaman, terpencil dan terasing.

Dengan berbekal itu pula, Nur Hadi, dai Hidayatullah yang bertugas membina masyarakat muallaf pedalaman Suku Togutil, Halmahera, Maluku, memberikan materi wawasan kebangsaan untuk mengajak suku terasing ini lebih mengenal negerinya tercinta.

“Alhamdulillah di bulan Agustus ini kami bisa berkunjung ke orang-orang suku terasing di pedalaman Halmahera. Mereka adalah saudara kita,” kata Nur Hadi.

Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-74, Nur Hadi dan sejumlah rekannya beberapa waktu lalu kembali menemui masyarakat pedalaman tersebut seraya membawa pakaiandan sembako dari umat yang dititipkan kepadanya. Tak lupa ia juga membawa bendara Merah Putih.

Pada kesempatan tersebut Nur Hadi memperkenalkan bendera Merah Putih beserta muatan makna yang terkandung di dalamnya kepada suku Togutil yang masih terasing ini. Nurhadi mengajak mereka untuk mencintai Indonesia dan menegaskan mereka sebagai bagian yang tak terpisahkan dari NKRI.

“Kedatangan kita kali ini ingin menegaskan bahwa kita ini tinggal di Indonesia. Walaupun kita berbeda suku, bahasa dan tempat tinggal, tetapi kita ini saling bersaudara dan saling bantu membantu satu sama yang lainnya,” kata Nur Hadi.

Nur Hadi mengatakan, meskipun suku Togutil masih terasing di pedalaman, namun mereka adalah warga negara Indonesia saudara-saudara kita yang juga ingin turut memperingati Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-74 seraya memperkenalkan kepada mereka tentang negeri gemah ripah loh jinawi ini.

“Bersama ini pula kita bawakan pakaian layak pakai untuk mereka. Ada selimut, baju koas, celana dan pakaian lainnya. Bantuan pakaian ini merupakan sumbangan dari para muhsinin yang selalu membantu kegiatan kami di pedalaman Halmahera,” pungkas Nur Hadi. (ybh/hio)

Kemerdekaan Ilmu

MERDEKA lawan dari terpasung atau terkungkung. Orang yang terkungkung berarti terkurung. Dia tidak bebas menjalankan sesuatu. Kalaupun berbuat, ia hanya bisa mengerjakan apa yang diperintahkan. Meski terkadang, tidak lagi sesuai dengan kehendak nuraninya. Dia sebagai budak yang terjajah. Bukan manusia merdeka.

Contoh sederhana bisa dilihat pada sekawanan kerbau yang dicocok hidungnya. Kemana-mana ia hanya bisa mengikuti teriakan dan cemeti tuannya. Hewan itu hanya bisa bekerja menarik bajak di sawah. Menuruti tekanan kata pemiliknya. Tak mampu bergerak semaunya. Layaknya kawan-kawannya yang asyik menikmati mandi lumpur di ladang sebelah.

Bagi orang beriman, merdeka itu wajib. Dalam fiqh, status merdeka termasuk syarat menjalankan beberapa syariat agama. Hukum orang merdeka berbeda dengan hukum budak sahaya. Lain hal secara akidah, hamba yang merdeka berarti bebas menjalankan keyakinannya. Ia memang budak tapi untuk menyembah Tuhannya. Bukan budak bisikan setan atau nafsu yang menungganginya.

Soal ilmu, punya keyakinan kuat itu pertanda merdekanya jiwa. Sebab tujuan ilmu adalah menancapkan keyakinan makhluk kepada Khalik, Sang Pencipta. Ilmu yang benar akan memerdekakan pemiliknya dari pasungan tipu daya dunia.

Diakui, dunia begitu indah untuk dinikmati dan sangat asyik dijalani. Tak sedikit manusia terjerat dalam perangkapnya. Demikian itu kebanyakan orang-orang yang tidak punya ilmu. Anehnya, di antara mereka ada juga yang berilmu. Sayang, jiwanya rupanya tak mampu memerdekakan dirinya.

Sampai di sini, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) menasihatkan sebuah doa terindah. Agar manusia terjaga dari fitnah. Senantiasa mengingat tujuan ilmu, yang juga inklud sebagai visi dan garis besar kehidupan manusia. Bahwa manusia dipersilakan untuk bekerja sesuai dengan potensi yang diberikan.

Raihlah ilmu setinggi-tingginya. Kejarlah cita-cita sebentang samudera sekalipun. Berkreasi dan berkaryalah. Tumbuhkan jiwa-jiwa inovatif yang selalu solutif untuk kehidupan manusia. Tapi ingat, itu semua tidak untuk melalaikan manusia dari dzikir mengingat Allah. Apalagi sampai memalingkan dan menentang perintah serta larangan agama.

Allahumma la taj’al mushibatana fi dinina, wa la taj’alid dunya akbara hammina wa la mablagha ilmina. “Ya Allah janganlah Engkau timpakan musibah kami pada urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita terbesar kami dan pucak dari (tujuan) ilmu kami.” Demikian nasihat indah sekaligus resolusi kemerdekaan seorang Mukmin tersebut.

Bahwa jiwa-jiwa yang merdeka dengan ilmu, seharusnya mendapati hatinya bahagia, bukan gelisah. Wa la khaufun alaihim wa la hum yahzanun. Tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidaklah bersedih hati. Orang-orang tersebut, jiwa raganya tak lagi terkurung dengan orientasi fisik atau materi dunia semata.

Dadanya terasa lapang. Hatinya ridha (puas) dan qana’ah (menerima) apapun nikmat yang diberikan oleh Allah. Dirinya tumbuh menjadi pribadi yang optimis. Tak mudah menyalahkan orang lain. Apalagi langsung memvonis mereka.

Ia sibuk meng-upgrade dan mengoptimalkan diri. Berbagi manfaat sekaligus siap menerima nasihat. Baginya menatap masa depan menjadi hari-hari yang menggairahkan dan penuh semangat. Membalas nikmat dengan bersyukur. Menukar anugrah dengan karya dan kontribusi penuh maslahat.

Ilmu yang memerdekakan senantiasa mendorong kepada amal shaleh. Ada panggilan jiwa penuh empati. Ada kepekaan dan kepedulian sosial. Dia bertranformasi dari pribadi shalih menjadi sosok mushlih di lingkungannya.

Sukma yang merdeka, sekali lagi, senantiasa fokus pada tujuan hidupnya. Sebagai khalifah yang mengatur dunia dengan misi keselamatan umat manusia dan sebagai hamba yang hanya menyembah kepada Allah.

MASYKUR SUYUTHI, penulis pendidik di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan

Kuasa Hukum Harap Majelis Hakim Kabulkan Penangguhan Penahanan Ridwan Andjali

0

PRESS RELEASE
KISAH DIBALIK KORBAN SALAH TANGKAP AKSI DAMAI 21-22 MEI

”Saat Ibunda wafat hanya bisa menangis, tidak bisa menyolatkan dan mengantar ke liang lahat”

Mochamad Ridwan Andjali, lelaki berusia 60 tahun hanya bisa menangis hebat. Air matanya tumpah menahan rasa duka yang mendalam saat petugas dari Polda Metro Jaya pada hari senin (19 Agustus 2019) menyampaikan kabar dari Bandung bahwa ibunda tercintanya, ibu Hj Eroh wafat.

Kondisinya yang berada dalam tahanan tak bisa berbuat banyak, selain menangis. Hasratnya untuk melihat wajah terakhir sang bunda, Hj. Eroh, menyolatkan dan melepas ke peristiraatan terakhir tak bisa ia lakukan.

Mohammad Ridwan Andjali adalah satu dari sekian orang yang ditahan di Mapolda Metro Jaya sejak peristiwa 21-22 Mei yang lalu. Kejadian bermula ketika Ridwan datang dari Bandung untuk mengikuti Aksi Damai. Ketika memasuki waktu maghrib yang bersangkutan sholat di mushola Sarinah dan berlanjut hingga isya.

Selepas Isya ia hendak keluar guna mencari bis menuju Bandung, tapi dicegah oleh Satuan Pengamanan gedung, yang menjelaskan bahwa di luar sedang terjadi kerusuhan. Ridwan memutuskan untuk kembali ke mushola untuk menunggu suasana mereda.

Sekitar Pukul 21.00, saat Ridwan sedang rebahan di mushola tiba-tiba datang aparat menangkap dan mengira bahwa Ridwan adalah pelaku kerusuhan yang bersembunyi di mushola.

Kasusnya kini sudah memasuki persidangan kedua dengan agenda pemeriksaan saksi dari JPU. Sidang pertama digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada hari Selasa 13 Agustus 2019.

Penasehat Hukum Ridwan, Advokat DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, dari LBH Hidayatullah, membenarkan perihal musibah yang menimpa kliennya tersebut. Dudung menyampaikan bahwa ia mendapatkan informasi dari putri kliennya yang bernama Santi Susianti pada pukul 11.00 hari Senin (19 Agustus 2019).

Dirinya langsung berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum yang menangani perkara tersebut, agar kliennya bisa diizinkan untuk ke Bandung guna menghadiri pemakaman ibundanya. Namun karena status Ridwan kini tahanan Pengadilan, maka izin untuk itu harus atas perintah pengadilan.

Dudung menyampaikan bahwa sebelumnya ia sudah sepakat dengan pihak keluarga untuk kembali mengajukan Penangguhan Penahanan, yang akan diajukan pada Majlis Hakim pada persidangan Selasa 20 Agustus 2019.

”Kami berharap, Majlis Hakim mengabulkan penangguhan penahanan klien kami, selain karena musibah duka tersebut, juga karena alasan kesehatan yang bersangkutan”, pungkas Dudung. (LBHH)

Press Release LBHH Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum Bahas SKT FPI

0

Press Release
Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum
Legalitas FPI dan Dakwah Khilafah dalam Tinjauan Hukum:

”nilai-nilai yang sudah terkristal menjadi idiologi tidak ada lagi kemampuan negara untuk membubarkan”

Hiruk pikuk opini tentang perpanjangan Surat Keterangan Terdaftar bagi Ormas Front Pembela Islam (FPI) terus ramai dibicarakan diruang public, seiring dengan Perpanjangan SKT Ormas FPI yang tak kunjung dikeluarkan oleh Kemendagri RI. Tema ini yang diangkat dalam Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum edisi 12 (dua belas).

Bertempat di Hotel Amaris Tebet Jakarta Selatan Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum berlangsung hari Ahad (18 Agustus 2019). Diskusi yang dipandu oleh Ahmad Khozinudin, SH ini menghadirkan para pembicara lintas organisasi hukum, antara lain Dr. Dudung Amadung Abdullah (Direktur LBH Hidayatullah), DR. Taufikurrahman (Direktur LBH Sahid), KH. Ali Bayanulloh (Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Bayan Sumedang), Candra Purna Irawan, SH MH (Sekjen LBH Pelita Ummat) serta KH. Awit Masyhuri (Ketua Bidang Penegakan Khilafah DPP FPI). Acara yang dimulai pukul 09.00 diawali dengan Narasi Pemancing dari Ust. Wahyusi AlMaroky (Ketua Dewan Pembina LBH Pelita Ummat). Seyogyanya, Ust. Akhmad Michdan, SH (Wakil Ketua Dewan Pembina TPM) juga hadir, namun sampai dengan acara usai tepat pukul 12.30, yang bersangkutan tidak nampak datang.

Dalam paparan pertama, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H, MH, Direktur LBH Hidayatullah, menjelaskan bahwa apa yang terjadi sekarang sesungguhnya memiliki hubungan historis dengan apa yang terjadi sebelum Indonesia merdeka, saat Indonesia masih terjajah oleh Belanda.

Dudung melihat sisi pendirian lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal perlawanan rakyat terhadap Belanda. Saat itu, kata Dudung, Belanda hanya mampu memberikan layanan pendidikan 6% di tengah masyarakat, sehingga sebagian besar anak Indonesia tidak bisa mengenyam Pendidikan.

Saat itulah para Kyai dan Ustadz mendirikan lembaga pendidikan alternatif bagi anak Indonesia. Mereka mendirikan pondok pesantren, madrasah, surau, menasah, langgar, tajug dan mushola, dimana didalamnya dididik anak-anak Indonesia.

Lewat pendidiaknnya, para Kyai menanamkan semangat cinta tanah air dan mengobarkan jiwa nasionalisme. Ini lanjut Dudung, membuat Belanda khawatir sehingga para Kyai dan ustadz pun anggap musuh.

Terkait dengan apa yang terjadi sekarang ini, Dudung mengkhawatirkan adanya hubungan historis antara masa kolonial dahulu dengan rezim sekarang dalam memperlakukan para kyai.

FPI menurut Dudung adalah organisasi yang taat hukum. Setiap kali akan melakukan tindakan, FPI selalu kordinasi dengan pihak keamanan. Bahkan untuk mengurus administrasi organisasinya, ia mengikuti aturan resmi yang ditetapkan negara. Selain itu, tambahnya, FPI juga sangat peduli sosial dengan menurunkan anggotanya di setiap bencana yang terjadi di tanah air.

FPI juga sangat pancasilais dan menghormati kebhinekaan, buktinya FPI tidak pernah menyerang rumah ibadah atau memusuhi orang atas nama suku tertentu. Dudung menjelaskan bahwa Disertasi S3 Habib Rizieq Shihab justeru mengambil tema Pancasila.

Bahkan, Dudung menambahkan, dalam cerita Permadi yang tersebar di beberap media, HRS telah menunjukkan jiwa Pancasilaisnya secara ril saat berjumpa dengan Permadi, S.H.

Saat Permadi berkunjung ke rumah HRS dan tiba waktu shalat, HRS justru meminta izin kepada Permadi untuk sholat berjamaah, dan mempersilahkan Permadi memasuki ruang perpustaan pribadinya. “Pak Permadi silakan duduk di dalam kantor saya,” ujar Dudung menirukan perkataan HRS dengan Permadi.

Dudung menyampaikan bahwa jika pemerintah tidak memberikan SKT bagi FPI padahal seluruh prasayarat administrasi sudah dipenuhi, maka pemerintah sudah melanggar Undang-Undang, terutama pasal 28 UUD 45, selain itu pemerintah juga akan rugi karena selama ini banyak mendapatkan manfaat dengan adanya FPI. Coba tengok kerjasama FPI dengan Kemensos dalam menangani sigap bencana selama ini, demikian halnya dengan kemenhan.

Pada closing statementnya Dudung menyampaikan bahwa nilai-nilai yang sudah terkristal menjadi idiologi tidak ada lagi kemampuan negara untuk membubarkan, secara formal organisasi mungkin dibubarkan, tapi idiologi tidak bisa. (LBHH)

Santri Ar-Rohmah Putri Malang Sembelih Sendiri Qurbannya

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Seperti Idul Fithri, Hari Raya Idul Adha pun menjadi hari istimewa bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk bagi para santri SMP-SMA Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.

Seperti siaran pers diterima media ini, Rabu (14/8), seusainya melaksanakan shalat Idul Adha 1140 H pada Ahad lalu, para santriwati tersebut berduyun-duyun menyaksikan penyembelihan hewan kurban di halaman gedung Saudah. Lantunan takbir pun bergema mengiringi setiap penyembelihan hewan kurban yang berupa sapi dan kambing tersebut.

Yang luar biasa adalah, santri putri SMP-SMA Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah diajarkan untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri. Salah satunya adalah Amas Salsabila Yasri, santri kelas 12 SMA, yang mengungkapkan pengalamannya menyembelih hewan kurban atas namanya sendiri.

“Rasanya cukup deg-degan. Ini pertama kalinya saya menyembelih hewan,” ujarnya.

Salsabila menuturkan, ia merasa lega bisa menyembelih hewan kurbannya sendiri. Tak butuh waktu lama. Golok yang ia gunakan sangat tajam sehingga kambingnya pun tewas seketika. Meski tangan dan bajunya terkena lumuran darah, kesempatan itu menjadi pengalaman berharga sepanjang hidupnya.

Senada dengan Khalisa Azalia Defri Bangun, santri kelas 8 SMP yang juga menyembelih kambing kurbannya sendiri. Awalnya ia sempat ragu, antara berani dan tidak. Setelah diyakinkan, akhirnya ia mau dan berhasil menunaikannya.

Ustadz Alimin Muhtar, Kepala Madrasah Diniyah Ar-Rohmah Putri, mengatakan bahwa penyembelihan hewan kurban oleh pengkurban sendiri merupakan bagian dari pembelajaran untuk para santri.

“Sejak lama tradisi itu dilakukan di Ar-Rohmah Putri tiap tahunnya,”ujarnya.

Menurutnya, penyembelihan hewan kurban oleh wanita dibenarkan oleh syariat. Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnahnya (III/324-325) menyatakan bahwa, disunnahkan bagi orang yang bisa menyembelih untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya. Jika tidak bisa menyembelih, maka hendaknya ia menyaksikan dan menghadiri penyembelihannya.

Mayoritas ulama dari empat madzhab pun membolehkan wanita menyembelih hewan kurban. Meski di sana masih ada laki-laki yang mampu. Daging sembelihannya halal dan tindakan itu tidak makruh.

Ustadz Alimin, demikian akrab dipanggil menambahkan, Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (IX/76) menyatakan pula, dihalalkan hewan yang disembelih oleh wanita, tanpa ada perbedaan pendapat.

Pun demikian Imam Bukhari yang menyitir secara mu’allaq dalam shahih-nya (VII/101), dan ditelusuri sanad aslinya oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taghliqut Ta’liq (V/11). Bahwa Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menyuruh anak-anak perempuannya untuk menyembelih sendiri hewan kurban mereka.

“Tentu saja dalam pelaksanaannya, mereka diajari terlebih dahulu tata caranya dan dibimbing selama prosesnya,”pungkasnya. (ybh/hio)

Nasihat Ilmu

0

AGAMA itu nasihat. Demikian pesan singkat Kanjeng Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam terindah senantiasa tercurah kepadanya, kepada setiap umatnya.

Hadits tersebut disalin oleh Imam an-Nawawi dalam Kitab Arbain Nawawiah yang berisi kumpulan empat puluh hadits pokok di kehidupan manusia.

Yakni, jika ilmu adalah agama maka sumber ilmu adalah nasihat itu sendiri. Bahwa sebentang masa kehidupan manusia, hakikatnya sehampar itu pula nasihat demi nasihat hadir di sekelilingnya.

Dalam kehidupan ini, manusia hanyalah berpindah dari satu nasihat kepada nasihat berikutnya. Dari satu pelajaran kepada pelajaran selanjutnya. Itulah mengapa hidup di dunia harus senantiasa dihiasi dengan ilmu dan menjadi manusia pembelajar.

Karena, menuntut ilmu masanya tak berbilang dan tiada berbatas. Tak kenal tepi apalagi tapi. Ilmu mesti dicari dan terus dipelajari. Penuh kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran yang indah.

Jelasnya, mari simak kembali hadits yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut. “Agama itu adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya: “Untuk siapa ?” Nabi bersabda: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-Imam kaum Muslimin dan bagi kaum Muslimin umumnya”.

Jadi sesungguhnya tak perlu risih dengan kata nasihat. Apalagi sampai alergi atau antipati. Tak elok pula berkata bosan menyimak nasihat. Hidup manusia memang tak lepas dari lingkaran nasihat yang memagarinya.

Realitasnya, manusia butuh pengingat selalu. Itu fitrah. Jika urusan ini diingkari, justru tampaklah kebodohannya. Itu berarti ia senang terkungkung. Bersembunyi di balik dalam tempurung keegoannya. Hanya karena suka menampik kebaikan yang ditawarkan pada dirinya. Hanya karena bukan namanya yang duluan disebut, atau receh-receh keangkuhan lainnya.

Inilah rahasia di balik keberuntungan yang disuguhkan kepada orang-orang beriman dalam hidupnya. Karena jiwa mereka selalu terasah dengan nasihat yang dikumpulkan. Di sana ada ibrah dan uswah, ada basyiran dan nadziran dari nasihat tersebut.

Manusia yang imannya hidup, juga tidak membatasi nasihat sepagar ceramah di mimbar atau pengajian di majelis taklim semata. Bahkan yang tak bersuara pun bisa jadi pengingat yang berguna. Asal dirinya peka dan jiwanya bersih dalam menerima asupan hati.

Perhatikan saja, gigi-gigi yang mulai keropos, sendi tulang yang perlahan mengilu, uban yang kian bercahaya, hingga kematian itu sendiri. Semuanya secara bergantian terus mengingatkan manusia dalam bisu.

Olehnya, terkadang nasihat tersebut bukan persoalan suka atau senang. Bukan asal cocok atau tidak cocok. Tapi selayaknya manusia memang butuh untuk selalu diingatkan. Kehidupan ini berputar dan akan tiba masanya roda itu berhenti di tempat yang ditentukan.

Maka beruntunglah manusia yang selalu ingat kepada Penciptanya. Sebagaimana rugi dan celakalah dia yang masih saja lalai dengan berbagai alasan yang dibuatnya. Penuh sesal nanti, ia cuma bisa berucap. Duhai, kiranya saya hanyalah sebutir debu saja di dunia ini.

Bagaimana dengan manusia yang tak kunjung mempan dengan nasihat? Nyatanya demikian. Ada orang yang berratus-ratus judul buku telah dilahapnya. Tak berbilang kajian, seminar, ceramah agama pernah dikunjunginya.

Titel ilmunya pun adalah sarjana tentang ilmu agama. Pun dari lulusan sekolah atau kampus berlabel agama pula. Atau mungkin ia berkawan dan bertetangga dengan orang-orang shaleh di sekitarnya. Tapi dirinya sendiri cuma bisa larut menikmati hidup foya-foya, penuh kesia-siaan.

Dalam hal ini, selain faktor hidayah sebagai hak kuasa Allah, Nabi Muhammad juga mengingatkan, bahwa nasihat yang bermanfaat adalah yang datangnya dari hati dan diterima melalui hati pula. Itulah adab.

Adab bagi yang memberi nasihat dan adab bagi yang menerima nasihat. Sama-sama butuh saling mengoreksi diri. Khawatir dia bermaksud menyampaikan nasihat atau menerima nasihat (menuntu ilmu), namun keduanya lupa untuk membersihkan hati terlebih dahulu.

Jika itu terjadi, maka nasihat yang diberi hanya sampai di lidah dan kerongkongan semata. Sebagaimana nasihat yang diterima cukup tertampung sebagai kumpulan pengetahuan di otak saja. Tak mampu menembus hati.

MASYKUR SUYUTHI, penulis pendidik di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan

Press Release: LBH Hidayatullah Dampingi Remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Korban Salah Tangkap Aksi Damai 21-22 Mei

0

Hari Selasa (13 Agustus 2019) kemarin, Tim Advokat dari LBH Hidayatullah Pusat, yang terdiri dari Advokat DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, Advokat Agus Gunawan, SH, Advokat Hidayatullah, SH dan Advokat Fahrul Ramadan, SH melakukan pendampingan terhadap Muhammad Said Hasnan dalam Sidang Pertama di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait kasus 21-22 Mei beberapa waktu lalu.

Muhammad Said Hasnan didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum Rianiully Raneta, S.Kom, SH, MH. dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat karena dianggap melanggar Pasal 212 KUHP juncto Pasal 214 ayat (1) KUHP atau Pasal 218 KUHP, tentang melawan aparat yang sedang menjalankan tugas. Muhammad Said Hasnan adalah Aktifis Remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta yang hadir pada 21-22 Mei 2019 untuk mengikuti Aksi Damai diseputaran Sarinah Jakarta Pusat. Muhammad Said Hasnan didakwa secara bersamaan dengan terdakwa lain sebanyak sepuluh orang dalam berkas yang sama. Karena yang lain belum didampingi Tim Penasehat Hukum, akhirnya mereka secara bersama-sama mempercayakan LBH Hidayatullah sebagai Tim Penasehat Hukumnya.

Hasnan dan kawan-kawan mengaku bahwa mereka adalah korban salah tangkap, karena sejatinya mereka sudah mau pulang dan membubarkan diri dari arena aksi. Akan tetapi, karena suasana memanas akibat ulah masa yang tiba-tiba datang melakukan provokasi dan pelemparan mereka terjebak tidak bisa menghindar. Hasnan sendiri mencari aman dengan berlindung diantara mobil crew media televisi yang melakukan peliputan. Saat suasana semakin memanas dan dilakukan penangkapan terhadap pelaku kerusuhan, Hasnan yang berada diantara wartawan tidak bisa menunjukan kartu pers, sehingga dianggap pelaku kerusuhan yang menyusup ketengah-tengah wartawan. Secara kebetulan didepan hasnan ada orang yang diamankan, sehingga hasnan dianggap temannya.

Hal tersebut diamini oleh Mochamad Ridwan Andjali. Lelaki berusia 60 tahun tersebut datang dari Bandung untuk mengikuti Aksi Damai. Ketika memasuki waktu maghrib yang bersangkutan sholat di mushola Sarinah dan berlanjut hingga isya. Selepas Isya ia hendak keluar guna mencari bis menuju Bandung, tapi dicegah oleh Satuan Pengamanan gedung, yang menjelaskan bahwa diluar sedang terjadi kerusuhan. Ridwan memutuskan untuk kembali ke mushola untuk menunggu suasana mereda. Sekitar Pukul 21.00, saat Ridwan sedang rebahan di mushola tiba-tiba datang aparat menangkap dan mengira bahwa Ridwan adalah pelaku kerusuhan yang bersembunyi di mushola.

Terdakwa lainya mengiyakan sebagai korban salah tangkap, karena diantara mereka juga ada yang mengaku sebagai driver ojol yang sedang melntas tapi tiba-tiba ditangkap. Ada juga yang mengaku dirinya sebagai Juru Foto dan Tukang Parkir disekitar sarinah.

Sidang pertama ditutup Majlis Hakim setelah Tim Penasehat yang dipimpin langsung Direktur LBH Hidayatullah Advokat Dr. Dudung Amadung Abdullah, SH. menyatakan bahwa tidak akan melakukan eksepsi. Sidang Selanjutnya akan gelar pada selasa pekan depan (20 Agustus 2019) dengan agenda menghadirkan para saksi dari pihak JPU.

Turut menghadiri persidangan, keluarga dari para terdakwa termasuk keluarga Hasnan hadir ibu mertua serta kakak ipar Hasnan. Abdul Azis, kakak ipar Hasnan menyampaikan bahwa kehadirannya adalah bentuk dukungan moril bagi adik iparnya yang sedang duduk sebagai pesakitan. Azis berharap agar pengadilan segera bisa membebaskan para terdakwa yang sejatinya adalah korban. (LBHH)