Beranda blog Halaman 497

Syabab Hidayatullah Gelar Diskusi Ilmiah Bertajuk Pancasila dan Pemuda

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Syabab Hidayatullah Surabaya menggelar diskusi ilmiah bertajuk “Urgensi Islam, Pancasila dan Pemuda untuk NKRI berdaulat” bertempat di Aula Luqman Al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (23/03/2019).

Ketua panitia acara, Dwi Agus, menuturkan acara ini diselenggarakan bertujuan untuk menghadirkan eksistensi organisai pemuda yang peduli bangsa, agama dan lebih-lebih kaum muda.

“Acara ini diadakan agar kita sebagai pemuda di tengah hiruk pikuk persoalan bangsa bisa menjadi refleksi kita bersama,” tutur mahasiswa STAIL program reguler ini.

Acara yang menghadirkan pakar sosiologi hukum dan filsafat Pancasila Prof Dr Suteki ini dibuka langsung oleh Dr Mashud selaku perwakilan Badan Pengurus Harian Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Dalam sambutannya, Mashud berkata, forum diskusi ini menjadi titik tolak untuk memulai perubahan melalui wadah syabab (pemuda) dalam menghadapi krisis kesadaran pada tahun politik ini.

“Di tengah tahun politik bagaimana peran pemuda dalam menghadapi dinamika dengan mengadakan diskusi seperti yang sekarang ini. Harapan saya, syabab menjadi pion penggagas untuk hadirnya syabab-syabab di daerah lain,” kata Mashud yang juga dosen STAIL.

Diskusi ilmiah ini dipandu oleh dosen filsafat Islam STAIL Hidayatullah Surabaya, Muhammad Idris. Ia memberi prolognya bahwa pada masa reformasi ini Pancasila mulai cair didengungkan yang berbeda pada masa Orba ketika orang takut membicarakan ihwal kebebasan dan keadilan yang tertuang dalam substansi dasar negara.

“Membicarakan Pancasila sekarang mulai tak dikekang oleh rezim di era reformasi namun berbeda dengan masa Orba ketika otokritk dibungkam karena dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa waktu itu,” cerita Idris di hadapan peserta yang hadir.

Pemateri Suteki dalam mengulas tema (Islam, Pancasila, dan Pemuda) mengutip pernyataan dari Samuel P Huntington bahwa agama menjadi sentral penentu peradaban dunia yang mana relasi agama dengan negara tidak bisa dipisahkan.

“Sejak tahun 1945 ketika para pemuda mayoritas pemeluk agama Islam melakukan perlawanan terhadap para penjajah guna memerdekakan negaranya Indonesia,” terang Suteki, Guru Besar UNDIP Semarang itu.

Namun, lanjut pria yang pernah menjadi saksi ahli kebijakan presiden dalam Perppu Ormas itu menjelaskan, posisi Pancasila di NKRI yang masih menimbulkan beragam persepsi terkait kontradiktifnya terhadap penerapan sila-sila dalam Pancasila.
Contohnya, kata dia, sila pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) dan sila yang kelima (Keadilan sosial) yang belum begitu terimplementasi dengan maksimal.

“Fungsi Pancasila yang menjadi pandangan hidup (way of life) mesti diterapkan secara kaffah sehingga tak luput darinya. NKRI kokoh bilamana Islam menjadi triger (penyemangat) berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Acara ini kemudian diselingi dengan sesi tanya jawab dari peserta yang hadir dan ditutup dengan pemberian cenderamata dari panitia kepada pemateri dan para sponsor yang mendukung acara tersebut.* Dhani El-Muchardy

Ust Nashirul Pesan Mushida Fokus Mainstream Gerakan

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Dr Nashirul Haq, MA, mendorong organisasi pendukung Muslimat Hidayatullah (Mushida) terus meningkatkan kiprahnya dalam memajukan dakwah dan tarbiyah sebagai mainstream gerakan Hidayatullah.

“Semua program yang disusun harus mengacu pada mainstream gerakan; dakwah dan tarbiyah,” katanya di hadapan ratusan peserta acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Mushida III Tahun 2019 di Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/3/2019).

Beliau mengatakan, Hidayatullah adalah harakah al jihadiyah al islamiyah yang meliputi segala aspek kehidupan dimana kesemuanya dikolektifasi dalam arus utama program yakni dakwah dan pendidikan (tarbiyah).

“Selain program dakwah dan tarbiyah adalah hanya program pendukung mencapai program mainstream,” ingatnya.

Fokus program Mushida, kata beliau, mengacu kepada pencapaian program mainstream tarbiyah dan dakwah dalam rangka mewujudkan ketahanan keluarga serta pembentukkan keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam.

Sebagai bagian dari jamaah muslimin, kata beliau, Hidayatullah dan berbagai organisasi pendukung (orpen) seperti Mushida mendukung dan mengupayakan kerjasama dengan organisasi eksternal yang mempunyai misi dakwah yang sama diatur dengan peraturan organisasi yang ditetapkan.

Dalam rangka mendukung ketahanan keluarga Indonesia yang bersumber kepada nilai–nilai Islami, maka segala upaya buruk dari pihak luar yang berusaha menghancurkan tata nilai keluarga Islami sudah seharusnya ditolak.

Muslimat Hidayatullah telah melaksanakan rangkaian acara Rapat Kerja Nasional yang dihadiri oleh 31 Pengurus Inti Wilayah berjumlah 110 orang, diselenggarakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang ditutup pada Kamis.

Rakernas Muslimat Hidayatullah tersebut menelurkan sejumlah rekomendasi diantaranya program kerja Muslimat Hidayatullah menjadi program nasional yang akan dilaksanakan di pusat dan wilayah sesuai program dan jadwal yang telah disepakati

Muslimat Hidayatullah tegas menolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Mushida setelah mempelajari dan mencermati, menemukan banyak pasal dan ayat dalam RUU P-KS yang merupakan salah satu rancangan produk hukum, yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam.

“Maka dengan penuh kesadaran Mushida menolak RUU P-KS untuk dijadikan Undang–undang di bumi Indonesia,” tegasnya dalam pernyataannya diterima media ini.

Mushida menghimbau kepada seluruh anggota Mushida untuk senantiasa selalu berdoa, bermunajat kepada Allah SWT agar ummat Islam Indonesia khususnya dan ummat Islam dunia, selalu berada dalam lindungan dan mendapat pertolongan Allah SWT. (ybh/hio)

Bantu Korban Banjir Sentani, Mushida Ajak Jaga Lingkungan

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Muslimat Hidayatullah menyalurkan bantuan dana jutaan rupiah untuk korban banjir bandang Distrik Sentani, Jayapura, Papua, yang disalurkan Bendahara Umum PP Mushida Dede Agustina melalui Laznas BMH dalam acara penutupan Rapat  Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah yang diselenggarakan di Kota Surabaya, Jawa Timur,  Kamis (21/3/2019).

Selain memberikan bantuan dana, Sekretaris Jenderal PP Muslimat Hidayatullah, Leny Syahnidar Djamil, mengatakan pihaknya mengajak semua pihak untuk bersama-sama merawat lingkungan agar tak terjadi bencana alam seperti yang melanda Sentani yang diduga kuat karena deforestasi.

“Keluarga adalah yang paling terdampak jika sudah terjadi bencana seperti di Sentani. Perekonomian macet, proses pendidikan terhambat, para ibu pun harus berjuang memastikan keamanan  dan kesehatan anak dan anggota keluarga lainnya,” kata Leny dalam keterangannya kepada media.

Mengutip temuan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua, Leny menyebutkan banjir bandang di Sentani bukan hanya disebabkan faktor alam melainkan disebabkan deforestasi atau pembalakan hutan di cagar alam Cycloop, Jayapura.

Penyerahan bantuan dana untuk korban banjir bandang Sentani, Papua.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap bahwa kerusakan di Pegunungan Cycloop sudah terjadi sejak tahun 2003. Disebutkan pada tahun itu, tercatat sekitar 43.030 orang atau 753 keluarga merambah cagar alam dengan membuka lahan permukiman dan pertanian lahan kering pada daerah aliran sungai Sentani.

Berangkat dari keprihatinan atas kondisi tersebut, Leny mengajak kader Muslimat Hidayatullah dan khalayak secara luas untuk selalu menjaga lingkungan dari pencemaran.

Dengan demikian, lanjut dia, Muslimat Hidayatullah berkomitmen untuk  turut mencegah pengrusakan alam yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggungjawab yang memaksakan pemenuhan kerakusan duniawinya.

“Sebagai wadah berhimpun kaum wanita, Mushida perlu untuk terus menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan. Minimal lingkungan terdekat di sekitar kita,” katanya seraya menukil ayat Al Qur’an Surah Ar Ruum ayat 41 yang artinya berbunyi:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Diantara program pelestarian lingkungan yang telah digalakkan oleh Muslimat Hidayatullah sejak lama adalah adanya anjuran setiap rumah-rumah yang ditinggali agar menyediakan ruang untuk beragam jenis tanaman seperti bunga. Bahkan di berbagai daerah kerap dilakukan perlombaan kebersihan lingkungan.  

“Tugas Kita Luruskan Niat dan Mengajak Umat kepada Tauhid”

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ust H Abdul Rahman, mengatakan keberadaan kita di ormas Hidayatullah harus meluruskan tujuan hidup yakni istiqomah di jalan Allah SWT dan selalu memuhasabah diri dalam mengajak kepada Tauhidullah.

“Keberadaan kita di sini adalah untuk bertaubat. Berharap selalu istiqomah di jalan Allah walau bagaimanapun rintangan yang dihadapi,” kata Ust Rahman saat mengisi materi wawasan kelembagaan dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/3/2019).

Beliau menegaskan, mainstream dakwah dan tarbiyah mengharuskan kita mengajak umat bersama untuk kembali kepada Allah, meluruskan tujuan hidup di dunia ini dan bersama istiqomah di jalan-Nya.

“Hidup ini adalah amanah, dan karena amanah itulah kita bersama dalam kerangka perjuangan Islam. Agar amanah hidup ini terlaksana,” imbuhnya.

Ia mengatakan, krisis kehidupan yang melingkupi manusia semua bermuara pada rusaknya kesadaran tentang Tauhidullaah

Karena itu dia menegaskan kesadaran tentang Tauhid harus selalu ditumbuhkan, disebarkan dan ditanamkan ke dada-dada anak-anak kita dan semua manusia.

“Karena tanpa Tauhid, semua yang ditemukan di dunia ini akan diberhalakan. Jika Tauhid Uluhiyyah benar, orang yang bertauhid akan menempatkan pemikiran manusia hanya sebagai pemikiran, walau pemikiran itu dihasilkan dari Al Quran dan Sunnah,” katanya.

Karena itu, lanjut beliau, Muslimat Hidayatullah memiliki tugas untuk mengembalikan mereka kepada pemahaman Tauhidullah.

“Mengembalikan mereka kepada satu tujuan dalam menjalankan kehidupan ini,” kata mantan Ketua Umum Hidayatullah periode pertama ini.

Lebih jauh beliau menerangkan, Tauhid Rububiyah mengharuskan kita mengembalikan segala bentuk kekuasaan dunia ini kepada Pemiliknya, Allah SWT. Sedangkan Tauhid Asma Washshifat membentuk karakter muslim yang bertauhid.

“Tiga prinsip Tauhid ini adalah basic pendidikan Islam yang harus ditanamkan kepada generasi Islam dan semua manusia,”  terangnya.

Tauhidullah yang merupakan risalah kenabian yang diwariskan kepada kita hari ini, lanjut beliau, harus disampaikan dengan seni tingkat tinggi.

“Ibu-ibu menata dan menghias rumahnya dengan baik, menjadi tempat singgah yang nyaman, menyajikan jamuan yang memanjakan lidah, membuat orang di sekelilingnya tertarik dengan keindahan Islam, adalah seni yang membuka pintu penyadaran Tauhid,” imbuhnya.

Beliau menambahkan, hukum wajibnya tugas dakwah harus menjdi profesi utama kita dalam rangka membawa objek dakwah kepada Tauhiidullaah karena jalan dakwah ini kita telusuri untuk mengundang ridho Allah Ta’ala.

“Tauhid adalah satu kata yang menghimpun kata cinta dan rela yang dihasilkan dari perkataan dan perbuatan. Jika Allah ridha, kehidupan yang dirasakan di dunia ini adalah kehidupan surga,” pungkasnya.

KH Ma’ruf Amin Silaturrahim ke Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis (21/3/2019). Dalam silaturahmi ini, Ma’ruf Amin memberikan motivasi kepada ratusan santri yang hadir.

Kehadiran Kiai Ma’ruf disambut oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, KH Hamzah Akbar dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah, KH Hasyim HS. Silaturrahmi tersebut juga dihadiri para ulama Balikpapan dan santri serta masyarakat.

“Saya kan pernah diundang ke ponpes ini oleh beliau ini belum sempat. Hari ini kita sempatkan untuk juga bersilaturahmi, memberi motivasi selain pimpinan pondok juga santri-santri untuk mempersiapkan diri,” ujar Kiai Ma’ruf dalam tausiyahnya.

Kiai Ma’ruf menekankan kepada para santri agar menghargai perbedaan di bumi pertiwi. Ia juga berpesan kepada para pengasuh pesantren untuk menyiapkan santrinya agar mampu menghadapi tantangan 10 tahun ke depan.

“Kita harus menyiapkan santri-santri yang punya wawasan luas. Makanya dalam debat saya sampaikan kita harus mengantisipasi 10 years challenge, 10 tahun tantangan ke depan,” kata Ma’ruf Amin.

BACA JUGA: Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno Kunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah

Sementara, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan KH. Hamzah Akbar mengatakan, pihaknya sebelumnya memang mengundang Kiai Ma’ruf ke pesantrennya bertepatan perhelatan Silaturrahim Nasional III Hidayatullah pada bulan November tahun lalu. Namun Kia Ma’ruf baru berkesempatan berkunjung saat ini.

Bukan saja Kiai Ma’ruf, panitia Silatnas kala itu juga mengundang Prabowo Subianto dan tokoh bangsa lainnya termasuk Wapres Jusuf Kalla yang sekaligus membuka acara tersebut.

Terkait dukungan Pilpres, Hamzah menegaskan secara organisasi Hidayatullah netral dan independen. Hidayatullah juga mengacu pada rekomendasi Rapimnas beberapa waktu lalu, yang menyerukan segenap kader dan umat untuk mengedepankan politik silaturrahim yang sejuk dan bermartabat.

“Yang jelas tokoh terbaik bangsa ini ada empat, beliau (Ma’ruf Amin) salah satu di antaranya. Saya kira sangat mencerahkan beliau menyampaikan tadi, bahwa bukan karena perbedaan ini lalu ada hal-hal yang negatif, semuanya biasa, berjalan dengan baik,” ujarnya usai pertemuan.

Hamzah menyebut, Hidayatullah secara organisasi tidak menyatakan sikap politik. Pihaknya terbuka bagi siapa saja calon presiden atau calon wakil presiden jika ingin bersilaturahmi.

“Secara organisasi kan kalau digolongkan begini semua terbuka pada siapa saja, apalagi orangtua kita pak Ma’ruf Amin untuk berkunjung,” ujarnya. (ybh/hio)

Penulis Buku “Nawaitu Menulis” Ajak Berliterasi Berbasis Qur’an

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Penulis buku ‘Nawaitu Menulis’ Ust Masykur Suyuthi mengajak anak muda untuk mengembangkan gerakan literasi Islam dengan menulis yang memuat pesan-pesan Al Qur’an. Hal itu diutarakan dia kala menjadi narasumber dalama acara Training Dai Jurnalistik diselenggarakan Ikatan Alumni STIS Hidayatullah (IAS-Hida) bekerjasam dengan komunitas Penulis Muda Indonesia (PENA) di Kota Samarinda, Ahad (17/03/19).

“Jika kita berpartisipasi memberikan kebaikan, meski dengan sebuah kalimat atau se-ayat dua ayat maka disitulah kontribusi kita sebagai seorang muslim. Hal ini sangat penting karena nanti kita akan sampai pada sebuah pertanyaan, mengapa saya harus menulis,” kata Masykur yang juga redaktur Majalah Suara Hidayatullah ini.

Masykur menerangkan, jika kita ingin sebuah karya terbaik, maka bersentuhanlah dengan al Qur’an. Artinya, terang dia, karya yang lahirnya didasari dengan al Qur’an akan menjadi karya yang istimewa, menyegarkan dan membahagiakan.

“Begitupun dalam sebuah tulisan jika berangkat dari Al Qur’an sebagai sumber inspirasi pasti bernilai. Baik itu secara konten ataupun semangat dalam menulis. Sebab interaksi indera kita merupakan sumber kebaikan,” imbuhnya.

Kolumnis di sejumlah kanal media ini mengatrakan, kita tidak bisa lagi dipisahkan yang namanya informasi terutama platform digital seperti tulisan. Dunia litersi hari ini, kata dia, merupakan suatu keniscayaan dan ia adalah impact daripada kecepatn teknologi informasi.

“Pertanyaannya, apa yang kita dapat dari media sosial. Siapa yang mendominasi. Kalau yang aktif mengisinya kebanyakan keburukan, maka akan berdampak pada banyak pengguna. Namun jika kita berpartisipasi memberikan kebaikan, meski dengan sebuah kalimat atau seayat dua ayat Al Qur’an,” ujar editor senior Keluargapedia.com ini.

Masykur dalam materinya mengajak kepada seluruh peserta untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya jurnalistik. Pemaparannya ia berangkt dari bukunya “Nawaitu Menulis” yang memang terlahir untuk mengajak kepada setiap muslim terlibat aktif dalm dakwah bil qolam.

Siapa yang tidak kenal JK Rowling, pengarang tokoh fiktif Harry Potter sang penyihir yang disajikan dalam berjilid-jilid buku. Dalam syariat islam, sihir merupakan kemusyrikan dan hukumnya haram. Namun sang penulis sangat termotivasi menelurkan karya yang pada akhirnya menjadi salah satu karya fenomenal dalam dunia literasi.

Masykur lantas menantang peserta untuk “berjihad” lebih dari apa yang dilakukan JK Rowling. Apalagi peserta umumnya adalah alumni STIS Hidayatullah yang setiap saat dijejali amal dan ilmu agama. Karena itu, tegas dia, sudah saatnya kitalah yang harus mencerahkan dalam literasi.

“Bahwa misi utama dalam tulisan itu adalah berdakwah. Bukan sekedar seperti yang JK Rowling lakukan yang berbekal motivasi dapat uang, bukunya best seller dan seterusnya. Begitu meninggal maka terputus semuanya,” ujar lelaki jebolan LIPIA Jakarta ini.

Masykur menukil sebuah adagium populer bahwa siapa yang membaca maka dia akan mengetahui, siapa yang  menulis dia tidak akan mati.

Artinya, dia menjelaskan, bahwa tulisan bukan sekedar disimpan sebagai karya pribadi atau jejak digital semata. Tetapi hakekat dari tulisan yaitu seperti apa kekuatan ruhnya, apakah dia bisa mempengaruhi atau tidak.

“Tidak ada tulisan yang jelek selama literasi tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran.  Soal polesan tulisan biar terlihat lebih apik dan menarik dalam membaca, itu hanya perlu terus berlatih,” pungkas penulis yang sudah menerbitkan belasan buku ini. .

Training yang diikuti puluhan dai/daiyah dari berbagai daerah ini juga diampu Abdul Ghofar Hadi, pembina PENA yang juga telah menulis beberapa karya.

Dalam pemaparannya, Abdul Ghofar lebih mendalami training dengan praktek langsung menulis buku. Abdul Ghofar mengajak peserta untuk bersama menghasilkan sebuah buku antologi yang ia istilahkan dengan menulis buku secara keroyokan.

Menurut Abdul Ghofar, bagi penulis pemula dalam menulis butuh suasana. Sebab jika tidak terkondisikan dijamin akan berantakan disebabkan karena berbagai faktor, kadang lupa dan kebanyakan malas.

Alasan peserta harus memulai dengan membuat buku antologi karena, menurut Ghofar, itu lebih praktis sebab menceritakan pengalaman yang dialaminya sendiri yang dirangkai dalam sebuah tulisan.

Pengalaman baik dan sarat makna seyogyanya tidak dinikmati sendiri melainkan juga bisa dinarasikan kepada generasi selanjutnya, setidaknya keturunan kita kelak.

“Pengalaman merupakan guru terbaik. Pengalaman setiap kita tidak ada yang sia-sia. Apa yang sudah terjadi harus diyakini merupakan skenario takdir ilahiyah. Pengalaman yang terjadi itulah seharusnya menjadi pelajaran bagi kita pribadi dan orang lain” bebernya.

Ghofar juga meyakinkan peserta bahwa setiap tulisan akan ada keajaibannya masing-masing. Sejelek apapun tulisannya. Karena setiap tulisan itu ada nyawa dan ruh. Tinggal diperkuat redaksi tulisannya.

Ghofar memandu peserta dengan membuat kisi-kisi berupa pertanyaan dari pengalaman kehidupan peserta saat menjalani proses perkaderan sebagai mahasiswa dan mahasiswi STIS Hidayatullah. Sebab kebetulan seluruh dai/daiyah yang hadir merupakan satu almamater.

Di akhir sesi praktik yang berlangsung 90 menit, dalam list panitia terkumpul 40 naskah tulisan dari peserta training. Kumpulan naskah inilah yang akan diterbitkan menjadi buku. Buku antologi karya para dai daiyah ini rencana akan terbit sebelum Ramadhan.*/Rizky Kurnia Syah

Muslimat Hidayatullah Gelar Rakernas III di Surabaya

SURABAYA – Muslimat Hidayatullah yang merupakan organisasi otonom pendukung (orpen) Hidayatullah, menyelenggarakan Rapat Kerjas Nasional (Rakernas) III Tahun 2019 di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, yang dibuka pada Selasa (19/3/2019).

Pada Rakernas ini, tema yang diangkat adalah “Menguatkan Mainstream Tarbiyah Dakwah Muslimat dalam Mendukung Ketahanan Keluarga Indonesia”. 

Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Reni Susilowaty, mengatakan ketahanan keluarga menjadi isu sentral yang menjadi prioritas gerakan Muslimat Hidayatullah.

Karena itu, lanjut dia, target-target kegiatan Muslimat Hidayatullah tidak saja penyadaran terhadap peran penting wanita atau ibu dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Tetapi juga berupaya mempromosikan nilai-nilai agung peradaban Islam dalam membangun ketahanan keluarga yang mengintegrasikan keterlibatan anggota keluarga khususnya ayah dan masyarakat secara luas.

“Dalam hal ini, antara wanita dan pria bukan sebagai mitra setara, melainkan sebagai mitra sinergis dalam rangka mewujudkan ketahanan keluarga yang berkeadaban dan berketuhanan dengan menjunjung tinggi ajaran agama,” kata Reny dalam keterangannya kepada media, Rabu (20/3/2019).

Reny mengatakan, penguatan tarbiyah dakwah Muslimat Hidayatullah bersesuaian dengan tuntutan zaman di mana kita menghadapi tantangan yang dinamis dengan kompleksitasnya masing-masing. Tentu hal itu merupakan rintangan yang tidak ringan. 

Sehingga, lanjut Reny, fenomena tersebut mesti dihadapi dengan satu sikap kedewasaan namun tetap  dengan kewaspadaan. Seperti dalam menghadapi dinamika  gaya hidup seperti –misalnya- dengan lahirnya istilah generasi millenial dan kaitannya dengan ledakan bonus demografi  bangsa kita.  

“Karena itu dalam melakukan pembinaan generasi millenial, penting juga menyertakan pengetahuan dan pemahaman keagamaan. Ini penting untuk menguatkan imunitasnya sebagai generasi muda yang memilliki prinsip yang teguh,” ujar Reny. 

Pemerintah melalui Undang-undang yang ada pun, sebut Reny, telah mengamanatkan pentingnya melakukan upaya mengokohkan ketahanan  keluarga sebagaimana dinukil Pasal 48 UU No. 52 Tahun 2009, tentang Pembinaan Ketahanan Remaja dilakukan dengan memberikan akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga.

Membangun keluarga yang berkualitas, menurut Reny,  bukan saja soal memahami kesehatan reproduksi, ketercukupan ekonomi apalagi menuntut kesetaraan antar laki-laki dan perempuan.

“Keluarga berkualitas adalah terbangunnya harmoni, terjalinnya hubungan yang sinergis dan tersemainya kasih sayang dalam keluarga serta tegaknya nilai-nilai luhur Islam dalam keseharian. Bahagianya dunia akhirat,” tukasnya.

Melalui Rakernas ini, Reny mengatakan, Muslimat Hidayatullah ingin terus meneguhkan kiprah dalam rangka mengokohkan ketahanan keluarga Indonesia dan menghindarkan bangsa ini dari pengaruh negatif globalisasi seperti permisifisme, feminisme, liberalisme dan sekularisme. 

“Kokohnya negeri yang kita cintai ini diawali dengan kokohnya ketahanan setiap keluarga Indonesia. Dan yang amat berperan penting di sini adalah orangtua khususnya ibu sebagai madrasatul ula, pendidik yang pertama dan utama. Bersama Mushida, insya Allah, kita tegakkan peradaban bangsa,” tukasnya. 

Pada kesempatan pembukaan tersebut, Reni Susilowaty menyapa para ibu-ibu senior Muslimat Hidayatullah dan para ibu senior pengawal Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Reny berharap Rakernas III yang juga menjadi Rakernas terakhir di tahun kepengurusan 2015-2020 ini berjalan lancar.

Ketua Panitia Rakernas III Mushida, Retnowati, mengatakan, Rakernas ini dirangkai dengan dua acara yang akan dilaksanakan secara paralel, yaitu Trainng For Trainer (TOT ) Sirah Nabawiyah dan Pelatihan Kepemimpinan Ummahat.

Dia menambahkan, dari 33 Pengurus Wilayah, ada 3 PW Muslimat Hidayatullah yang berhalangan hadir, yakni Sumatera Barat-Riau, Sumatera Selatan dan Maluku Utara.

Tim SAR Hidayatullah Lakukan Pencarian dan Evakuasi Korban Banjir Distrik Sentani Papua

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa korban jiwa akibat banjir bandang yang melanda Distrik Sentani, Jayapura Papua terus bertambah menjadi 89 orang. Sementara 74 orang lainnya masih dinyatakan hilang, demikian dilansir laman Prokal.

Hingga saat ini tim SAR Hidayatullah bersama Laznas BMH dan tim SAR Gabungan lainnya terus melakukan upaya pencarian dan evakuasi. BNPB menyebutkan sebanyak 1.613 personil tim gabungan dari 23 instansi dan lembaga masih melakukan penanganan darurat bencana banjir bandang di Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.

Hingga Selasa kemarin (19/3) pagi, Posko Induk Tanggap Darurat mencatat total korban meninggal dunia sebanyak 89 orang. Dengan rincian 82 korban meninggal akibat banjir bandang di Kabupaten Jayapura dan 7 korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Ampera, Kota Jayapura.

Tim SAR gabungan pada Senin (18/3) berhasil menemukan 13 jenazah yaitu 4 jenasah di Kampung Sereh Tua, 2 jenasah di Danau Sentani, 3 jenasah di BTN, 2 jenasah di BTN Nauli 2, 1 jenasah di BTN Citra Buana, dan 1 jenasah di Kampung Hobong.

Jumlah korban hilang sesuai laporan dari keluarga dan masyarakat sebanyak 74 orang yaitu 34 orang dari Kampung Milinik, 20 orang dari BTN Gajah Mada, 7 orang dari Komplek Perumahan Inauli, 4 orang dari Kampung Bambar, 2 orang dari BTN Bintang Timur, 1 orang dari Sosial, 1 orang dari Komba dan 3 orang dari Taruna Sosial.

Sementara itu sebanyak 159 orang luka-luka dengan rincian 84 orang luka berat dan 75 orang luka ringan. Jumlah pengungsi juga terus bertambah. Banyak masyarakat yang memilih tinggal di pengungsian karena trauma dan takut akan adanya banjir bandang susulan. Beberapa titik pengungsian juga telah berjubel oleh pengungsi. Tercatat ada 6.831 orang pengungsi yang tersebar di 15 titik pengungsian.

Data dampak kerugian dan kerusakan juga terus bertambah seiring masuknya data laporan ke posko. Kerugian sementara akibat bencana banjir bandang di Sentani meliputi 350 unit rumah rusak berat 3 unit jembatan rusak berat, 8 unit drainase rusak berat, 4 jalan rusak berat, 2 unit gereja rusak berat, 1 unit masjid rusak berat, 8 unit sekolah rusak berat, 104 unit ruko rusak berat dan 1 unit pasar rusak berat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan total korban terdampak adalah 11.725 KK yang terdapat di tiga distrik (kecamatan) yaitu Distrik Sentani, Waibu dan Sentani Barat

Kepala Basarnas Bagus Puruhito menjelaskan akan terus membantu dalam pencarian orang hilang dan akan mengecek dan meningkatkan pencarian korban. Sementara ini dibutuhkan peralatan berat (eksavator) untuk evakuasi dan pencarian korban.

Kepala Operasi SAR Hidayatullah Ahmad Hamim dari lokasi bencana melaporkan tim pihaknya bersama dengan SAR gabungan terus bekerja untuk melakukan pencarian korban yang belum ditemukan. (ybh/hio)

Bahagianya Mulyani Fatahannah Raih Sarjana Usia 53 Tahun

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Menempuh pendidikan di universitas atau perguruan tinggi menjadi idaman banyak orang. Bagi kalangan yang berstatus ekonomi kelas menengan ke atas, tentu kuliah merupakan perkara gampang.

Namun, berbeda mereka yang kebetulan masih terbatas dalam ekonomi. Seringkali menempuh pendidikan tinggi apalagi hingga meraih gelar sarjana bagi mereka, hanya jadi sebatas impian semata.

Bukan saja persoalan ekonomi, kesempatan menempuh pendidikan juga seringkali karena faktor kesempatan. Tersebab berada di lokasi yang jauh atau kendala berat lainnya seperti mendapatkan amanah lain, akhirnya impian untuk menempuh pendidikan mengalami hambatan.

Demikianlah pula yang pernah dirasakan oleh Mulyani Fatahannah. Ibu yang sudah beranak pinak ini baru dapat memenuhi hasrat belajarnya di usianya yang tidak muda lagi.

Alhamdulillah, kata dia, mengaku bersyukur dengan kehadiran Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan. Melalui kampus STIS Hidayatullah, dia akhirnya berkesempatan menjalani aktifitas perkuliahan dengan sedikit leluasa tanpa harus memikirkan biaya.

Mulyani baru dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi tinggi setelah keinginan tersebut tertunda kurang lebih 34 tahun lalu karena kesibukannya menjalankan amanah lainnya. Di STIS Hidayatullah, Mulyani bergabung pada perkuliahan non reguler.

Di usianya yang ke-53, Mulyani akhirnya sukses menuntaskan pendidikan strata satu dengan gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Balikpapan.

Pada usia 60-an tahun saat ini, ia pun tetap semangat tergabung dan berpartisipasi dalam silaturrahim alumni kali ini.

Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-I Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (IAS-Hida) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Al Izaah Samarinda, beberapa waktu lalu, Mulyani menyempatkan waktu sharing pengalaman dan motivasi dengan alumni lainnya.

Pada kesempatan tersebut, pendidik di Madrasah Aliyah Radhiyatan Mardhiyah (MA-RM) Balikpapan ini mendorong peserta Rakernas sesama alumni untuk memegang teguh nilai Tridharma Perguruan Tinggi sebagai wujud kontribusi kampus dan alumni terhadap pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

“Harus lebih semangat dan semakin berkualitas,” kata Mulyana yang menyisipkan pesan disela-sela bernostalgia mengenang masa-masa studinya di lingkungan Kampus Ummul Quro tersebut.

Pada kesempatan tersebut, para alumni secara bergantian menyampaikan brainstorming seraya bercerita pengalaman dalam mengaktualisasi Tridharma Perguruan Tinggi di masyarakat serta bagaimana upaya-upaya yang mesti dipersiapkan selama di tempat tugas, khususnya bagi alumni yang mengabdi di daerah-daerah.

Para peserta juga berkesempatan mendapatkan motivasi kontemplatif dari pegiat kajian filsafat Ust. Dr. Abdurrohim, M.Si, yang juga dosen STIS Hidayatullah. Banyak hal yang beliau sampaikan, terutama bagaimana mempersiapkan skill selama di medan dakwah masing-masing.*/Rizky Kurnia Syah

Santri SMA Ar-Rohmah Putri Hafal 30 Juz Al-Qur’an dalam 4,5 Bulan

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Satu lagi santri SMA Ar-Rohmah Putri Boarding School Pondok Pesantren Hidayatullah Malang menorehkan prestasi di bidang Al-Qur’an, Jum’at (15/3). Bey Fitria Salsabila, santri ‘Program Kelas Takhassus’, mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an dalam waktu 4,5 bulan saja.

Alumni SMP Ar-Rohmah Putri tersebut, menjadi santri tercepat yang menuntaskan target hafalannya. Sedianya hafalan Al-Qur’an 30 juz itu selesai dalam 8 bulan.

Penanggung Jawab ‘Program Kelas Takhassus’ Abidatul Muthi’ah mengatakan, kunci keberhasilan Bey menyelesaikan hafalan dalam waktu singkat itu adalah ketekunan dan kesabarannya.

“Tekadnya menjadi seorang hafizhah sangat kuat,” ujarnya.

Menurutnya, Bey memiliki motivasi yang tinggi untuk mengafal Al-Qur’an. Sejak awal santri asal Surabaya itu, telah berazam segera menuntaskan target hafalannya.

Prinsipnya, lebih baik berpayah-payah di awal dari pada di akhir. Meski tak mudah, berbagai halangan dan rintangan dalam menghafal 30 juz Al-Qur’an itu, bisa ia lewati.

Dalam satu bulan, santri yang masih berusia 15 tahun itu bisa menghafal lebih dari empat juz. Agar kualitas hafalan tetap terjaga, ia menghindari berbagai hal yang dapat merusak hafalannya.

Tangis haru dan bahagia pun tampak dari wajah putri pasangan Yasna Mochamad Arifin dan Ida Mulyati itu. Saat setoran hafalan terakhir ia selesaikan. Menggenapi jumlah hafalan Al-Qur’annya menjadi 30 juz.

Wakil Kepala Madrasah Diniyah Ar-Rohmah Putri, Utifah mengemukakan, ‘Program Kelas Takhassus’ itu ditempuh selama empat tahun. Di tahun pertamanya para santri fokus menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Tidak ada pelajaran akademik maupun diniyah. Pembelajaran yang diterima hanya terkait dengan Al-Qur’an dan adab.

Di tahun kedua barulah mereka tercatat sebagai santri kelas 10 SMA. Mengikuti pembelajaran akademik maupun diniyah. Masuk di jurusan IPA atau IPS. Di tahun itu pula, meraka fokus memuraja’ah hafalan Al-Qur’an 30 juz yang dimiliki. Hingga memperoleh sanad di tahun keempat atau kelas 12 SMA.*/Hery Purnama