Beranda blog Halaman 520

Hijrah dan Tradisi Menulis

0

MOMENTUM Muharram, bagi umat Islam sangat lekat dengan peristiwa Hijrah. Muharram adalah bulan pertama sedang peristiwa hijrah menjadi patokan tahun pertama menurut penanggalan umat Islam.
.
Sebagai peristiswa besar dalam sejarah Islam, hijrah kerap dijadikan landasan pacu atau titik loncat bagi satu perubahan yang diinginkan. Meski untuk diketahui, Nabi hijrah ke Madinah terjadi pada akhir bulan Shafar, bukan di bulan Muharram.
.
Dikisahkan, saat itu, dakwah kaum Muslimin di kota Makkah, tempat pertama turunnya wahyu, nyaris seperti stagnan alias tIdak mulus berkembang.
.
Intimidasi yang tiada henti dari pembesar masyarakat Makkah, kian diperparah dengan resistensi penduduk kota tersebut dalam menerima risalah Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam terindah selalu tercurah bagi sosok manusia paling mulia di dunia.
.
Parahnya, ancaman itu bukan lagi sekadar teror psikis tapi sudah sampai menyebabkan fisik para sahabat ikut terluka hingga meregang nyawa.
.
Hingga akhirnya turunlah titah dari langit yang mengizinkan umat Islm hijrah ke kota Madinah. Memulai hidup baru di sana. Meski resikonya, tak satupun harta yang bisa dibawa kecuali pakaian yang melekat pada badan generasi manusia terbaik itu.
.
Singkat kata, mari belajar menulis dari kisah hijrah di atas. Pelajaran pertama, setiap orang, apalagi yang mengaku masih pemula, biasanya dihantui dengan “block writers”.
.
Jika itu terjadi, maka langkah pertama, silakan hijrah ala penulis. Hijrah kemana? Ya kemana saja yang disukai atau setidaknya beralih ke pekerjaan lain sementara waktu dulu. Durasinya tentu saja bersifat relatif, sebab intinya hijrah itu untuk menemukan momen dan semangat baru dalam menulis.
.
Pelajaran kedua, biasanya penulis diperhadapkan kepada rutinitas harian yang kian menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Apa? menulis setiap hari? Ini saja (pekerjaan) tidak pernah kelar, apalagi disuruh menulis.
.
Nah, demikian itu tanpa sadar seringkali terucap, secara lisan ataupun terbetik dalam hati. Untuk penyakit yang sejenis ini juga bisa diterapi dengan hijrah ala penulis.
.
Tidak perlu kemana-mana, cukup kamu ada dimana-mana. Maksudnya, silakan bergabung dengan komunitas penulis yang saat ini begitu banyak berserak (PENA, misalnya). Jadikan mereka sebagai kawan yang seiring sejalan, segendang sepenarian bersama mereka.
.
Sekurangnya, pilih sahabat untuk dijadikan sebagai mentor, tutor atau minimalnya sebagai auto reminder untuk menjaga ghirah menulis tersebut.
.
Layaknya Nabi yang mengangkat sahabat karibnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam menemani perjalanannya berjalan kaki ke kota Madinah. Mereka berdua saling menguatkan hingga akhirnya tiba di Madinah, negeri penuh barakah.
.
Pelajaran ketiga, hijrah ala penulis berarti kerjakan dulu. Menulis saja. Apapun itu tulislah dulu. Sebab hal yang paling memberatkan bagi penulis adalah mengawali tulisan.
.
Ada orang kadang mengaku punya ide atau gagasan hebat. Tapi apa hasilnya kalau yang dibilang hebat itu cuma tersimpan di angan-angan saja.
.
Layaknya para sahabat Nabi yang memilih realitas dakwah dan berislam meski hanya bermodal yang melekat di badan saja.
.
Sebagaimana ketika menulis mungkin yang dihasilkan apa adanya saja. Bahkan dianggap tidak layak, bagi sebagian orang lain. Tulisan dicibir itu biasa. Bedanya, kamu sudah menulis sedang dia masih asyik jadi pengamat saja.
.
Dengan obsesi yang membuncah dalam jiwa. Dengan niat dakwah bil qalam yang kuat, niscaya itu sudah cukup untuk menjemput kemenangan. Kelak ia bukan cuma disebut penulis tapi juga akan dikenang sebagai pejuang. Sebab menulis adalah memperjuangkan idealitas menuju alam realitas.

________
*)MASYKUR ABU JAULAH, penulis adalah dosen dan pegiat literasi. Sehari-hari mengabdi di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan

Hidayatullah Diharap Menjadi Penggerak Ekonomi di Sulbar

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Selain fokus pada dakwan dan pendidikan sebagai mainstream gerakan, Hidayatullah juga diharapkan harus mampu menjadi penggerak ekonomi khususnya di kawasan Sulawesi Barat.

Demikian disampaikan Ketua Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawes Barat H. Dadal Angkoro ketika memberikan materi dalam bincang-bincang Program Pengembangan Kemandirian Ekonomi Pesantren bersama Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat beserta seluruh pengurus daerah se Sulawesi Barat dan Baitul Maal Hidayatullah perwakilan Sulbar di Kota Mamuju, Senin (17/9/2018).

“Kami menginginkan ekonomi ini bangkit dari pesantren apalagi kondisi masyarakat hari ini mengalami banyak pergeseran nilai dan jumlah dan ini seharusnya menjadi motifasi,” kata Dadal Angkoro.

Acara yang diadakan di lantai dua gedung BI di Mamuju itu berlangsung cukup hangat dengan sambutan dan pelayanan BI selaku tuan rumah yang menyenangkan peserta yang juga dai di daerah.

Dalam materi juga disinggung tentang pengembangan kesejahtaeraan yang isa diukur dari pendapatan serta pengentasan kemiskinan dimana hal itu sejalan dengan program dakwah yang dialankan para petugas Hidayatullah yang intens memberikan pencerahan sebagai penyuluh agama di masyarakat.

Dalam kegiatan yang menurut rencananya dilakukan secara rutin itu ia menginginkan juga Hidayatullah sebagai penggerak ekonomi sehingga diperlukan aturan main melalui ekonomi berbasis pesantren.

Keinginan kuat dalam mendorong pesantren mandiri pihaknya juga akan turut memediasi kembali dialog tersebut dilakukan secara reguler hingga menentukan daerah mana dengan kelayakan usaha tertentu untuk selanjutnya mendukung dengan modal dan pembinaan.

“Silakan didiskusikan di internal daerah mana yang sangat berpotensi untuk selanjutnya kita tindaki pada dialog mendatang dengan alokasi sesuai realitasnya,” pungkasnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Imran M Djufri sangat mengapresiasi dialog yang diinisiasi oleh BI perwakilan Sulawesi Barat tersebut.

Imron M Djufri menekankan, “Berbisnis ini adalah sunnah Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam. Dalam salah satu fasenya sebelum menjadi Nabi beliau adalah pebisnis”.

Kata dia, selama ini baik secara pribadi-pribadi dan lembaga sudah dilakukan upaya kemandirian melalui peningkatan ekonomi namun baru tumbuh danbelum berkembang.

“Sadar akan minimnya bakat dagang di setiap dai, namun tuntutan untuk mandiri adalah pokok sehingga dimulailah usaha seadanya,” kata Imron.

Bersama pengurus daerah se Sulawesi Barat termasuk kabupaten Mamasa yang kini dalam masa perintisan pihaknya sangat menekankan agar Hidayatullah lebih bisa mandiri secara finansial karena faktor ini sangat mendukung dalam mensukseskan program–programnya.*/Muhammad Bashori

Tegaknya Peradaban Dimulai dari Membangun Mindset

0

BOYOLALI (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust Suharsono, mengatakan tegaknya peradaban harus dimulai dengan membangun kebiasaan berfikir atau mindset.

“Sebab, dengan mindset yang benar dan unggul, umat ini akan menemukan izzah, yang pada akhirnya akan memuaskan kenikmatan material, intelektual dan terakhir adalah kenikmatan spritualitas yang tinggi,” katanya dalam acara Silaturahim Dai di Masjid An Nursawitri, Boyolali, Jawa Tengah, Ahad, 6 Muharram 1440 H
(16/9/18).

Kegiatan ini terlaksana kolaborasi Hidayatullah Jawa Tengah, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Jawa Tengah dan Takmir Masjid An Nursawitri Boyolali.

Lebih lanjut, Ust Suharsono memberikan penekanan kepada para dai yang hadir dalam kesempatan silaturahim ini bahwa Hidayatullah sejak awal oleh pendirinya sudah memasang “target tinggi” terhadap organisasi ini.

“Karena pendiri gerakan ini sudah mempunyai kedirian yang kokoh dan unggul,” imbuhnya.

Dengan kedirian yang kokoh, unggul dan transformatif itulah, pendiri Hidayatullah almarhum Abdullah Said pernah mengatakan Hidayatullah hadir dengan coraknya yang khas sehingga tidak sekadar hadir menambah jumlah firqah (kelompok) dalam Islam semata. Tapi hadir dengan semangat mempersatukan dan merangkul segenap elemen umat.

“Pernyataan almarhum itu justru tersampaikan disaat awal-awal perlangkahan Hidayatullah yang belum ada wujud nyata seperti sekarang ini,” jelas Ust. Suharsono.

Suharsono menggugah nalar dan semangat intelektual para dai untuk membangun mindset sesuai dengan ajaran Islam.

“Sebagai dai, lucu kalau tidak cerdas. Sebab, dai adalah penyampai, pelanjut dan pemberi pencerahan di tengah-tengah umat,” tegas beliau.

“Lha, kalau dainya tidak cerdas, bagaimana dapat hadir untuk mentransfer nilai-nilai peradaban yang tinggi ini di tengah-tengah umat,” tambah beliau.

Sebab, lajutnya, bagi sebagian masyarakat level menengah ke atas yang sudah hidup mapan akan menemui dua kendala dalam hidupnya. Dua masalah itulah yang harusnya para dai Hidayatullah ini hadir dan mengisinya.

Dua masalah yang membelit umat menengah ke atas, jika mampu di-manage oleh para penyulug agama ini maka kalangan elit di negeri ini akan mudah untuk dirangkul. Pada akhirnya akan melahirkan percepatan-percepatan gerak langkah dakwah ditengah-tengah umat.

Olehnya itu, sambung beliau, saatnya tampilkan sosok-sosok intelektual Hidayatullah untuk memberikan transformasi kepada kalangan menengah atas. Sebab, sampai kapan pun, mereka akan tetap haus akan dua hal diatas yakni kekeringan nilai-nilai Spritual dan Intelektual.

“Jadi, mulai saat ini, asah kader-kader ini di dalam halaqah-halaqah untuk memberikan kesempatan latihan menyampaikan apa yang sudah dirasakan selama bergabung dan sejauh mana pemahaman tentang manhaj Sistematika Wahyu ini,” ujarnya.

Karena, lanjut beliau, “tingginya nilai suatu peradaban tidak akan dinikmati jikalau tidak ada yang menyampaikan. Apalagi dapat disampaikan secara massif dengan narasi pembawanya sangat baik dan ikhlas”.

Suharsono mengatakan, karena dengan keikhlasan dalam penyampaian itulah yang menjadi modal awal generasi awal Hidayatullah ini dibergerak. Sebab dengan keikhlasan yang tulus akan lebih mudah diterima jauh dilubuk hati orang yang kita dakwahi.

“Banyak contoh di Hidayatullah ini yang sudah membuktikan. Sebab, yang langsung memberikan pemahaman dan masuk dalam hati mad’u-mad’u kita itu Allah SWT. Itulah yang membuat banyak keajaiban-keajaiban yang sudah dibuktikan dalam perjalanan panjang Hidayatullah hingga hari ini”, gugah penulis buku Islam dan Transformasi Sosial ini.

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Jateng, Ust. Ahmad Suwarno, M.PI dalam kesempatan yang sama dihadapan peserta Silaturahim Dai Hidayatullah Boyolali mengajak hadirin untuk terus mengembangkan kapasitas diri baik intelektual, emosional dan terlebih lagi spiritual.

“Biasakan berbuat baik. Sering-seringlah bersama orang-orang baik dan teruslah belajar. Semoga Kita akan menjadi orang baik,” tutup Suwarno.*/Muhammad Yusran Yauma

Lomba Karya Tulis Kader Muda Sambut Silatnas III Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah dan didukung oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar lomba menulis ilmiah dalam rangka menyambut Silaturrahim Nasional III Hidayatullah bertema “45 Tahun Hidayatullah Berkhidmat untuk Bangsa” yang akan digelar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 12-16 Rabiul Awall (20-25 November 2018).

Ketua Panitia Lomba Menulis Essay Ilmiah Hidayatullah, Imam Nawawi, mengatakan sebagai lembaga pergerakan, lembaga dakwah dan lembaga pendidikan, Hidayatullah sudah semestinya menjadikan forum sebesar itu sebagai wadah edukasi yang tepat bagi generasi muda, terutama dalam hal menjaring potensi kader yang memiliki kemampuan berpikir dalam bentuk tulisan.

“Sehingga ke depannya, kader-kader muda Hidayatullah semakin banyak yang terdorong untuk memiliki keahlian menulis, riset, dan publikasi, sehingga derap langkah Hidayatullah dari Sabang hingga Merauke dapat tersyiarkan secara cepat, tepat dan akurat,” kata Imam.

Sekretaris Jenderal PP Syabab Hidayatullah ini menambahkan, upaya ini tidak saja strategis dalam menjawab tantangan kini dan ke depan dengan kian maraknya narasi dan literasi secara online. Tetapi pada saat yang sama, upaya ini juga merupakan penajaman strategi dakwah, dimana Allahuyarham Ustadz Abdullah Said telah memberikan keteladanan luar biasa dalam hal dakwah bil qolam ini dengan mendirikan media umat bernama Majalah Hidayatullah.

“Dengan adanya lomba ini diharapkan ke depannya akan semakin banyak kader muda Hidayatullah yang terdorong menekuni dunia intelektualitas ini secara lebih serius, yang sesungguhnya ini juga dapat memicu dan memacu Perguruan Tinggi Hidayatullah melakukan upaya lebih sistematis dan fokus perihal bagaimana menjadikan para alumninya memiliki kesadaran sekaligus kemampuan berjihad dengan pena,” katanya.

Dalam pada itu, Imam mengatakan dengan diselenggarakannya lomba menulis essay kader muda ini diharapkan semakin terbangunnya kesadaran akan pentingnya dunia literasi dan narasi semakin massif di dalam diri para kader, dai dan jama’ah Hidayatullah, sehingga pelan namun pasti, jika ajang-ajang seperti ini bisa terus dihadirkan, lahirnya kader yang memiliki kemampuan menulis, riset dan berpikir akan semakin besar.

“Dimana, pada saat yang sama, juga akan mendorong kultur intelektual yang lebih baik di lembaga ini di tengah-tengah kian kuatnya kesadaran dan kultur spiritual,” ujar penulis buku Mindset Surga ini.

Adapaun waktu pelaksanaan lomba ini terangkai dalam proses sebagai berikut: sosialisasi 15–20 September 2018, pengiriman Naskah 1–30 Oktober 2018, pengujian dan penilain naskah 1–10 November, penentuan Naskah Terbaik 11–15, pengumuman Naskah Terbaik 24 November, dan Penyerahan reward kepada peserta 24 November 2018 yang bertepatan dengan helatan akbar Silatnas III Hidayatullah.

Sementara ketentuan peserta kegiatan lomba menulis essay ini adalah seluruh kader muda Hidayatullah usia 15 hingga 30 tahun dengan syarat peserta yang berhak mengikuti lomba ini adalah seluruh santri, simpatisan Hidayatullah yang berusia minimal 15 tahun dan maksimal 30 tahun pada Desember 2018. Peserta juga harus melampirkan kartu identitas KTA Hidayatullah, KTP, Kartu Pelajar atau lainnya.

Lomba ini tidak dipungut biaya. Peserta dalam perlombaan ini adalah individu tidak berkelompok, peserta lomba dibolehkan memilih tema yang selaras dengan tema Silatnas III Hidayatullah: “45 Tahun Hidayatullah Berkhidmat untuk Bangsa”.

Bagi peserta yang dinayatakan juara dalam perlombaan karya tulis ilmiah ini akan mendapatkan hadiah dan surprise menarik dari panitia.

Ketentuan Lomba

Peserta Kegiatan
Peserta kegiatan lomba menulis essay ini adalah seluruh kader muda Hidayatullah usia 15 hingga 30 tahun.

Ketentuan Peserta
Peserta yang berhak mengikuti lomba ini adalah seluruh santri, simpatisan Hidayatullah yang berusia minimal 15 tahun dan maksimal 30 tahun pada Desember 2018. Peserta melampirkan kartu identitas, KTP, Kartu Pelajar atau lainnya.

Ketentuan Umum
Pendaftaran tidak dipungut biaya
Peserta adalah individu tidak berkelompok
Peserta lomba dibolehkan memilih tema
Karya merupakan karya sendiri dan belum pernah diikutkan lomba atau dipublikasikan di manapun
Karya dibuat berdasarkan sistematika yang termaktub dalam ketentuan khusus
Karya tidak mengandung SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Satu peserta hanya berhak mengirimkan satu karya
Mengisi formulir yang disedikana panitia

Kriteria Penilaian
– Kesesuaian dengan judul
– Ide atau gagasan
– Format penulisan
– Keaslian (orisinilitas)

Konsep Penilaian
1. Proses penyeleksian pemenang:
– Setelah seluruh peserta mengumpulkan karyanya maka tim juri akan memilih empat karya terbaik dan panitia mengumumkannya.
– Penulis keempat karya tersebut akan dipanggil ke Gunung Tembak untuk mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan dewan juri.
– Dari hasil ini dewan juri akan mengumumkan siapa juara 1, 2, 3, dan 4 dari keempat makalah tersebut.

2. Tema karya adalah: Apa yang harus dilakukan Hidayatullah agar bisa maju dan bersaing di bidang ekonomi (1), pendidikan (2), dakwah (3), dan pengkaderan (4)? Peserta dipersilahkan memilih salah satu dari 4 pilihan di atas.

3. Karya-karya yang masuk menjadi milik panitia. Jika dimungkinkan, 20 karya terbaik akan dikumpulkan menjadi sebuah buku sebagai sumbangsih pemikiran kaum muda Hidayatullah untuk memajukan organisasi.

Penentuan Pemenang
Pemenang ditentukan oleh dewan juri yang ditetappkan oleh Panitia Silatnas Hidayatullah yang keputusannya bersifat final alias tidak bisa diganggu gugat.

Ketentuan Khusus
Format penulisan karya sebagai berikut;
Cover, Daftar Isi, Ringkasan (Abstraksi), Pendahuluan, Gagasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Naskah diketik di kertas A4 dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5 (satu setengah), dan margin atas 4 cm, kiri 4 cm, kanan dan bawah 3 cm.

Naskah dikirim ke alamat email [email protected]. Pengiriman naskah paling lambat, 30 Oktober 2018. Hasil karya yang lolos akan diumumkan di hidayatullah.or.id

Meneguhkan Lima Gerakan Nawafil Hidayatullah

0

Taushiah Ust Ahmad Jihad (anggota DPW Hidayatullah Jawa Tengah) bertema “Lima Gerakan Nawafil Hidayatullah”. Ceramah disampaikan dalam rangka acara pembinaan guru dan karyawan Yayasan Al Aqsho Pesantren Hidayatullah Kudus di Kalilopo Kudus, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”GyomZpR4kVk”][/youtube]

Hidayatullah Hadirkan Program Pesantren Mahasiswa

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka menjembatani kebutuhan mahasiswa terhadap pengajaran diniyah (agama) di tengah kesibukan mereka mempelajari ilmu sains serta beragam ilmu umum lainnya, Hidayatullah menggulirkan program dan mendirikan Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai).

Pesmadai kini telah hadir di berbagai kota seperti di Jakarta, Surabaya, Palu, Yogyakarta dan lain-lain. Pesantren Mahasiswa Dai Daarul Arqam Surabaya, misalnya, kini menampung puluhan mahasiswa dari berbagai kampus perguruan tinggi di Surabaya.

Cikal bakal Pesantren Mahasiswa Dai Daarul Arqam Surabaya sendiri berdiri karena dorongan banyak pihak dan tokoh yang mengharapkan agar Hidayatullah terus berandil memberikan penyuluhan kependidikan keagaman bagi mahasiswa dari jurusan umum non-diniyah.

Diantara tokoh yang turut merangsang, menggagas, mendukung dan mendirikan Pesantren Mahasiswa Dai Daarul Arqam Surabaya adalah Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA yang juga mantan Menteri Pendidikan. Usulan pendirian Pesma diajukan Muhammad Nuh saat masih menjadi rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

“Beliau mendorong sekali agar Hdayatullah aktif lagi mendidik mahasiswa seperti yang pernah kita lakukan dulu,” kata pendiri sekaligus pembina Pesantren Mahasiswa Dai Daarul Arqam Surabaya Drs. Ec. H. Abdul Rahman yang juga sahabat Prof Muhammad Nuh saat membuka Rakornas Pesantren Mahasiswa Hidayatullah di Surabaya, Jatim, belum lama ini.

Sejumlah tokoh turut mengawal Pesantren Mahasiswa yang beralamat di Jl. Keputih Gg. III No.51-53, Keputih, Sukolilo, Kota SBY, Jawa Timur. Mereka ada Prof. Dr. H. M. Roem Rowi, M.A, Dr. H. M. Yusuf Harun, M.A dan Ir. H. Abdul Kadir Baraja, Prof. Dr. Ir. H. Daniel M. Rosyid, M. Sc dam Ir. H. Saiful Anwar, M.B.A.

Abdul Rahman mengatakan, keberadaan Pesma ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan spiritual mahasiswa. Terlebih, iklim akademis di lingkungan kampus perjuangan ini sangat berat. Dari pagi sampai sore digunakan untuk menuntut Ilmu dan Pengetahuan (Iptek). Di sini kondisi Iman dan Taqwa (Imtaq) tidak dibangun.

“Tentunya kondisi ini sunggung mengkhawatirkan dan mencemaskan”, tutur mantan Ketua Umum DPP Hidayatullah ini.

Melalui pembangunan Pesma ini diharapkan mahasiswa yang dibina didalamnya selain bisa membangkan Ipteknya juga lebih dalam Imtaqnya. Dari situ kami berharap adik-adik mahasiswa ini bisa menjadi tulang punggung masyarakat, katanya.

Pesantren Mahasiswa Darul Arqam Surabaya diapresiasi Ketua Umum MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori. Ia manuturkan, dengan adanya Pesma ini ada harapan besar yang diinginkan oleh masyarakat terhadap lulusan yanga ada.

“Saya berharap anak-anak yang ada di Pesma ini bisa menjadi alumni yang terbaik,” katanya.

Abdussshomad menekankan pentingnya pembekalan manusia dengan nilai-nilai dasar ketuhanan (tauhid). Pada dasarnya, terang dia, pembangunan masyarakat atau negara yang harus dibangun dulu adalah manusia atau orangnya.

Pesantren Mahasiswa Dai juga telah dibuka di beberapa titik di Jakarta seperti Ciputat, Depok dan Jakarta Selatan yang berlokasi tidak jauh dari kampus perguruan tinggi.

Program Pesmadai menyelenggarakan kegiatan pendidikan diniyah berasrama dengan empat program unggulan: Al Qur’an, Hadits, Bahasa Arab dan Entrepreneuer dan target output diharapkan menguasai beragam keterampilan praktis sebagai bekal menghadapi bursa kerja.

Direktur Pesmadai Pusat, Ahmad Muzakky, mengatakan satu di antara amanah konsitutsi negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 45.

Menurutnya, pemerintah telah berupaya dengan kebijakan dan kewenangan yang dimilikinya. Akan tetapi, mengharapkan pemerintah saja tidaklah cukup dalam mengentaskan persoalan ini.

“Dibutuhkan kerja kolektif segenap elemen bangsa untuk ikut bergerak mencerdaskan kehidupan bangsa. Pun kita semua, sebagai warga negara juga punya kesempatan luas untuk turut andil mewujudkan amanah besar negeri ini,” kata Zaky.

Dan, sebagai wujud komitmen dan kesungguhan melibatkan diri dalam program visioner bangsa ini, Pesmadai membuka program pendidikan mahasiswa dai yang dibina di sentra-sentra pendampingan guna mendorong kaum muda tak sekedar cakap secara intelektual, tetapi juga peduli terhadap kondisi bangsa dan negaranya.

“Mereka adalah generasi muda bangsa yang akan ikut serta memberikan warna dan arah perjalanan bangsa dan negara,” tuturnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak segenap kita, kaum muslimin, para dermawan, para pemerhati, para relawan, semua, untuk bisa terlibat dalam program Pesmadai dengan beragam model donasi, seperti beasiswa, biaya konsumsi, fasilitas centra pembinaan, hingga support program penanaman skill dan kemandirian mahasiswa.

“Mari bersama, bersinergi membangun masa depan bangsa dan negara melalui pendidikan bermutu generasi muda di pesmadai. Semoga dapat menjadi bukti kecintaan kita kepada Ilahi dan NKRI,” pungkasnya. (ybh/hio)

Tasmin Latif Ajak Masyarakat Kolaka Jaga Spirit Hijriyah

0

KOLAKA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasmin Latif mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga spirit Hijriyah.

Hal tersebut disampaikan beliau sewaktu memenuhi undangan sebagai pemateri dalam acara Pengajian Umum 1 Muharram 1440 masyarakat Kolaka yang diselenggarakan di Ponpes Tahfidz Putri Hidayatullah Desa Ulukalo, Kecamatan Iwoimenda, Selasa, 1 Muharram 1440 (11/9/2018).

“Semoga momentum 1 Muharram tahun baru Islam ini 1440 ini, kita mampu menangkap dan menjaga spirit tahun baru hijriyah sebagai momen bersejarah dalam Islam,” kata ayah 11 anak yang kerap disapa Ustadz Tasyrif Amin ini.

Dia menjeaskan, salah satu spirit 1 Muharram adalah “hijrah”, yaitu perubahan mendasar dalam diri seseorang dengan meninggalkan segala sifat dan prilaku negatif dan menumbuh kembangkan sifat dan prilaku positif.

“Perubahan tersebut mencakup aqidah, akhlak, dan mindset kita terhadap keseluruhan realitas yang ada -ghoib ataupun nyata,”. jelas Tasmin yang juga bakal calon anggota DPD RI asal Provinsi Sulawesi Selatan ini.

Lebih jauh Ustadz Tasmin mengatakan bahwa, “Dalam hal kepemimpinan, kita sudah seharusnya memperbaiki mindset kita, dari sekedar memilih menjadi pemilih kritis dan berdasarkan ilmu”.

Dia mengungkapkan, pelajaran penting dalam kehidupan nabi Ibrahim terkait memilih pemimpin bahwa tidak boleh memilih pemimpin yang zhalim.

Sebelum menutup acara pengajian umum tersebut, Ustadz Tasmin menitip pesan khusus kepada segenap warga masyarakat yang hadir, agar aktif dan ikut dalam kegiatan keagamaan.*/Andi Alfian Salassa

 

Hidayatullah Tomohon Perkuat Kemitraan dengan Polri

0

TOMOHON (Hidayatullah.or.id) – Keluarga Besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Resor Tomohon menggelar silahturahmi dan sosialisasi di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kelurahan Kinilow Kecamatan Tomohon Utara.

Sosialisasi yang dilaksanakan Jumat (07/09/2018) lalu ini mengangkat tema memperkuat kemitraan Polri dan Pondok Pesantren Hidayatullah demi menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari ancaman radikalisme-terorisme.

Dalam sosialisasi di hadapan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon ini menghadirkan mantan teroris Nasir Abbas yang dalam kesempatan tersebut mengatakan agar umat Islam menjaga silahturahmi dan hubungan kekeluargaan serta selalu menciptakan suasana damai dengan sesama manusia berdasarkan Pancasila karena sesungguhnya ajaran keislaman kita berdasarkan Pancasila.

Abbas yang didampingi tim dari Mabes Polri juga memberikan pemahaman tentang radikalisme dan terorisme kepada anak-anak pondok pesantren agar tak mudah dimasuki oleh ajaran yang bertentangan dengan Pancasila serta ajaran agama Islam yang hanya memecah belah bangsa dan negara.

Hadir dalam sosialisasi ini AKBP Dadang dari Binmas Mabes Polri, AKBP Saleh Patimura dari Densus 88, AKBP Bambang dari Binmas Polda Sulut, Kasat Binmas Polres Tomohon Iptu Ryan SIk, Kapolsek Tomohon Utara Iptu Yulianus Samberi SIk, KBO Intelkam Ipda Joko Lolono dan pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Ustadz Nuryadin Majid. (bmc/hio)

Esensi Peradaban: Menjadi dan Memberi yang Terbaik

0
Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad pada acara Silaturahim Syawal 1438 H di Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Senin, 10 Juli 2017‎ (Foto: Abdus Syakur / Hidayatullah)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pergantian tahun baru Islam Hijriyah (1439-1440) menjadi momentum spesial untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam rangka meneguhkan kembali perjalanan hidup. Demikianlah pula yang dilakukan oleh Kampus Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam kesempatan taushiahnya memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah beberapa waktu lalu, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, mengatakan spirit momentum Muharram adalah menjadi yang terbaik agar bisa memberi yang terbaik.

“Itulah esensi peradaban,” katanya saat memberi taushiah di Masjid Ar Riyadh Kampus Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 1 Muharram 1440 (10/9/2018).

Ia mengungkapkan, spirit kita dalam momentum Muharram ini adalah menjadi yang terbaik. Narasi kita, terangnya, adalah menjadi yang terbaik. Kenapa? “Agar bisa memberi yang terbaik; itulah esensi peradaban,” kata Ust Rahman, demikian ia karib disapa.

Menguraikan hikmah QS At-Tin ayat 4, Ust Rahman mengatakan bahwa Allah adalah pemilik kebaikan, dan Allah menciptakan memberikan yang terbaik. Dan, “hijrah”, jelasnya, “adalah momentum kebangkitan semangat untuk berubah menjadi lebih baik”.

Beliau menjelaskan, narasi hijrah adalah (هذا بيان للناس) penjelasan Allah yang sangat jelas bagi manusia. Ketika koalisi 100% kekafiran Makkah bersepakat untuk membunuh atau mengeluarkan Nabi dari Makkah dengan pagar betis terbaik di titik yang tidak mungkin ada peluang untuk lari.

Makar Allah menidurkan pagar betis dan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bisa keluar rumah dengan selamat. Pelajaran terbaiknya adalah Nabi masih bisa memberi yang terbaik kepada orang-orang yang mau membunuhnya.

“Kesempatan tersebut tidak membuat beliau menyerang balik, malah memberi yang terbaik, yaitu debu. Debu itu tanda kebaikan untuk bersuci dalam tayammum. Debu sebagai hadiah dari Muhammad -shallallahu alaihi wasallam-, sebagai tanda bahwa tadi ada orang baik lewat di sini,” katanya.

Kembali kepada (هذا بيان للناس). Setelah Nabi keluar rumah dengan selamat, ternyata masih terus dikejar, hingga singkatnya dicurigai ada di dalam gua. Lagi-lagi ketika Abu Bakar -radhiyallahu anhu- panik, maka Nabi menguatkan agar jangan bersedih, Allah pasti bersama kita.

(إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ)

Lantas, ketika Nabi tiba di Yatsrib yang saat itu adalah negeri yang dipenuhi sistem liberalis dan materialis, karena di dalamnya ada neneknya liberal, Yahudi. Di antara sistem liberal adalah mengadu pribumi, suku Aus dan Khazraj selama bertahun-tahun.

Setiba di Yatsrib, Nabi tidak terlihat pernah susah dan sulit selama perjalanan hijrah. Tidak menampakkan keluh kesah akibat tekanan dan ancaman selama perjalanan. Tapi langsung tampil membuat Deklarasi Madinah dengan narasi terbaik: (أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا بالليل والناس نيام؛ تدخلوا الجنة بسلام) Sebarkan salam! Beri makan! Shalat malam! Masuk surga!.

Pimpinan pula menyinggung gelaran Silaturrahim Nasional (Silatnas) III Hidayatullah yang rencananya akan digelar pada bulan November mendatang. Ia mengatakan, kita masih terus mencari inspirasi terbaik untuk memberi layanan terbaik bagi tamu-tamu Silatnas yang akan datang.

“Kenapa harus yang terbaik? Karena mereka adalah pelaku sejarah kebaikan yang telah membuktikan tawakkal mereka di medan perjuangan,” imbuhnya.

Untuk memberi pelayanan terbaik di Silatnas nanti, katanya, harus dipersiapkan yang terbaik dari sekarang.

“Tidak cukup satu hari Ahad dalam sepekan untuk kerja bakti, tidak cukup hanya gali parit. Harus berhari-hari, harus berjam-jam kerja bakti,” tukasnya.*/Muhammad Dinul Haq

Mengubah Perilaku Jahiliyah Menuju Ahlaqul Karimah

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Pembina Murabbi Hidayatullah Jawa Timur yang juga anggota DPPU Hidayatullah Drs Abdul Rahman menyampaikan taushiah memperingati masuknya 1 Muharram 1440 Hijriyah di Masjid Aqshal Madinah Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Senin (10/9/2018) malam.

Di hadapan ratusan santri dan jamaah, beliau mengatakan spirit tahun baru Hijriah itu adalah spirit perubahan. Karena itu ia mengajak menjadikan momentum ini untuk melakukan evaluasi dan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

“Namun, bukan berubah karena dunia, tapi berubah untuk Allah. Mengubah perilaku jahiliyah menuju ahlaqul karimah,” pesannya.

Beliau mengatakan, hijrah itu adalah proses revolusi yang dimulai dari proses evolusi.

“Didik pribadi-pribadi kita dengan akhlak mulia. Bersihkan pikiran-pikiran kita dari pemikiran selain bismirabbikalladzi kholaq (atas nama Allah yang menciptakan),” imbuhnya.

Hal itulah, menurutnya, yang dimaksud pribadi bertauhid. Pribadi bertauhidlah yang mampu membangun masyarakat, bangsa, bahkan dunia ini menjadi Rumah Allah.

“Siapa yang tidak mampu membangun rumah Allah di dunia ini maka tidak akan mampu mendapatkan Surga Allah di akhirat,” pesannya.

Beliau menyebutkan, membangun pribadi bertauhid itu adalah dengan melalui proses Tilawah, Tazkiyah, Ta’limah dan Hikmah.

Proses Tilawah adalah proses membangun paradigma Tauhid, memandang sesuatu karena Allah dan untuk Allah. Tazkiyah adalah proses pensucian diri dengan cara menjalankan syariat Allah dalam kehidupan kita. Sedangkan Ta’limah adalah proses menyebarkan ke seluruh alam semesta dengan penuh kegembiraan dan cara yang arif bijaksana (hikmah).

“Inilah yang disebut peradaban Islam. Peradaban yang bertujuan merubah pribadi manusia dari tidak mengenal Allah menjadi tunduk patuh kepada-Nya semata. Merubah pandangan menjadi paradigma Tauhid,” ujarnya.

Ia menambahkan, suatu kemuliaan bagi yang menerapkan pandangan tersebut ke dalam sisi kehidupan nyata dalam bentuk syariat dan akhlak serta menyebarkan ke seluruh alam menjadi rahmatan lil alamin.

“Inilah makna Hijrah. Ayo revolusi dengan proses Tilawah, Tazkiyah Ta’limah dan Hikmah demi terwujudnya Peradaban Islam di muka bumi ini,” pungkasnya.*/Muhammad Idris