Beranda blog Halaman 549

Posdai Bimbing Syahadat 90 Warga Suku Wana

MOROWALI (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Hidayatullah melakukan penuntunan pembacaan ikrar syahadat tanda masuk Islam sedikitnya 90 warga suku Wana di Dusun Fatumarando, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Sabtu (25/11/2017).

Kegiatan pembacaan ikrar ini turut didukung lembaga Islamic Medical Service (IMS) yang juga turut langsung ke lokasi guna memberikan bantuan layanan kesehatan bagi warga setempat yang membutuhkan.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, IMS menggelar khitanan (sunat) massal untuk muallaf suku Wana. Tidak saja anak-anak, pesertanya pun ada yang sudah dewasa.

Kepala Divisi Pemberdayaan Posdai, Samani Harjo, mengatakan kegiatan ini diikuti warga suku Wana yang mengaku dengan suka rela masuk Islam dan mengikrarkan syahadat.

“Ikrar syadahat oleh warga Suku Wana ini dilaksanakan berkat permintaan masyarakat dusun sendiri dengan penuh kerelaan dan bukan karena paksaan,” kata Samani.

Kegiatan yang berlangsung dengan penuh keharuan ini disambut baik oleh Nyudi. Nyudi adalah tokoh setempat yang pertama kali menjadi muallaf di dusun itu.

Nyudi mewakili masyarakat setempat mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada mereka, termasuk dalam prosesi warga suku Wana masuk Islam.

Semangat warga suku Wana juga terlihat saat satu persatu dari mereka bermunculan dari hutan sambil menggendong anak mereka masing-masing, dalam rangka menghadiri acara itu.

Para mualaf kemudian dibagikan pakaian Muslimah atas bantuan berbagai pihak dalam kegiatan itu.

Setelah dilaksanakan ikrar di balai dusun tersebut, para mualaf langsung menuju ke Sungai Bongka untuk mandi dan diajarkan bersuci (thaharah).

Samani mengatakan, suku Wana yang berlatar belakang animis dan umumnya masih hidup nomaden tertarik kepada agama Islam karena melihat praktik hidup keseharian warga lainnya yang lebih dulu masuk Islam.

Selain itu, kepercayaan suku Wana sebelumnya (halaik) memiliki banyak kesamaan dengan agama Islam.

Samani berharap, keinginan kuat warga suku Wana untuk hidup lebih baik dan mendapatkan pengajaran agama, menjadi tantangan tersendiri. Sebab, beratnya medan alam di kawasan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para dai.

Karenanya, dia berharap, Posdai Hidayatullah dapat semakin menguatkan perannya terutama dalam melakukan pengembangan dakwah dan pembinaan di kawasan dengan memasok tenaga dai atau guru agama Islam.

“Kondisi ekonomi masyarakat yang masih sangat terbatas juga perlu menjadi perhatian bersama. Kita berharap dengan semangat keswadayaan masyarakat terlebih dukungan pemerintah, akan turut mendukung program pembinaan dan pengembangan masyarakat di pedalaman seperti ini,” Samani.

Samani menambahkan, pengikraran syahadat oleh suku Wana ini saja belum cukup. Masih terdapat banyak tugas yang perlu dilakukan untk melanjutkan langkah awal tersebut untuk memajukan mereka agar semakin berdaya.

“Diantara yang penting diperhatikan adalah pendidikan anak-anak suku Wana yang masih sangat tertinggal,” kata pungkas Samani.

Sebelum ini, Posdai juga telah mengislamkan sekitar 200 orang dari Suku Ta’a Wana bersama kepala sukunya yang bernama Yumi, di Desa Opo, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, diberi rahmat oleh Allah SWT untuk menjadi mualaf pada Selasa (13/12/2016) lalu.

Ratusan warga Suku Ta’a Wana itu rela berjalan kaki dari tempat tinggalnya selama 18 jam untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari Dai di Morowali bahwa sejumlah masyarakat asli Suku Wana ingin memeluk agama Islam, namun karena jumlahnya begitu banyak, maka tidak sekadar disyahadatkan dan selesai. Diperlukan pembinaan awal agar ada pemahaman dasar soal Islam. Mereka juga memerlukan sarana shalat seperti masjid dan baju muslim,” tutur Samani Harjo. */Zainal

Pemuda Hidayatullah Jatim dan Pemuda Al Irsyad Jalin Sinergi

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Organisasi pendukung Hidayatullah yang mewadahi pemuda, Syabab Hidayatullah, menjalin sinergi dengan Pemuda Al Irsyad dalam berbagai aspek diantaranya bidang pengembangan ekonomi.

Kesepakatan kerjasama itu ditandai dengan gelaran silaturrahim PW Syabab Hidayatullah Jawa Timur dengan Pemuda Al Irsyad di Rumah Makan Ayla Jln. KH Mas Mansyur, Ampel Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.

Upaya untuk membangun kerjasama dengan berbagai elemen dan organisasi kepemudaan di Jawa Timur terus diupayakan oleh pengurus Syabab Hidayatullah Jawa Timur.

Setelah bertandang menjalin silaturrahim antar pengurus Pemuda Muhammadiyah Jatim, belum lama ini. Kali ini PW Syabab Hidayatullah Jatim bertandang ke Pemuda Al-Irsyad Jawa Timur.

Hadir dalam pertemuan itu Ketua PW Syabab Hidayatullah Jatim Muhammad Syahri Shauma beserta jajarannya. Sedangkan dari pihak Pemuda Al-Irsyad dihadiri Ketua Pemuda Al Irsyad Jatim Usman Bahmid, Ketua Pemuda Al Irsyad Surabaya Samir dan beberapa pengurus Pemuda Al Irsyad baik Jatim maupun Surabaya.

Setelah berdiskusi banyak hal masalah keumatan. Dalam obrolan itu, pengurus Syabab Hidayatullah Jatim dan Pemuda Al Irsyad sepakat untuk menjalin kerja sama dalam beberapa hal.

“Kita memiliki kesepahaman, bahwa perlu adanya proses penyatuan gerakan pemuda Islam di Jawa Timur. Rekomendasinya, langsung berada di bawah naungan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim, ” kata Shauma.

Selain itu, imbuhnya, juga terjalin kesepakatan untuk mengembangkan ekonomi keummatan secara bersama-sama.

“Langkah ini dipandang urgent, demi kemandirian umat dalam ekonomi di masa depan, khususnya bagi para pemuda Jatim,” pungkas Shauma. (ybh/hio)

SDI Hidayatullah Surabaya Harumkan Nama Indonesia di Kompetisi Sains Internasional

BANGKOK (Hidayatullah.or.id) – Murid Sekolah Dasar Integral Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi matematika internasional di Bangkok, Thailand, dan Singapura, belum lama ini.

Dalam sepekan terakhir, santri Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya berhasil membawa pulang 2 medali Internasional di ajang berbeda.

Jika pada Juli ananda Erin Laily Fathima Rahmato meraih Silver Medal di ajang Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary Schools (ASMOPS) 2017 Thailand, kali ini murid SD Hidayatullah Surabaya yakni ananda Aldyto Rafif Abhinaya berhasil membawa pulang Bronze Medal dalam ajang (The International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) 2017 di Singapura, 23 November 2017.

Kedua ajang ini merupakan kompetisi tertinggi dan bergengsi untuk jenjang primary school internasional dengan reputasi tinggi karena mempertemukan siswa jenius dari berbagai negara dunia. Tahun ini, IMSO digelar di Suntec Singapura, 20-24 November 2017.

IMSO 2017 kali ini merupakan penyelenggaraan yang ke-14. Diikuti tidak kurang dari 20 negara peserta, antara lain: Thailand, Taiwan, Filipina, Vietnam, China, Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Nepal, India, Sri Lanka, Rumania, Bulgaria, Belanda, Rusia dan berbagai negara di dunia. Bisa dibayangkan betapa sengitnya persaingan.

Tim Indonesia di IMSO 2017 pastilah bukan siswa biasa. Mereka adalah siswa terbaik hasil seleksi dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi serta tingkat nasional. Mereka siswa terbaik dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

Aldyto bisa dibilang merupakan murid spesialis kompetisi nasional dan internasional.
Tidak sekali ini saja Aldyto berhasil menyabet predikat juara. Puluhan event regional berhasil dia menangkan. Istimewanya, 2 kali berlaga di ajang internasional semuanya berbuah medali.

Ditanya bagaimana kesannya, Aldyto pun mengaku meraskan ketegangan. Wajar saja, sebab selain sangat kompetitif, ajang yang diikutinya diikuti oleh peserta yang juga sudah teruji.

“Yang paling berkesan adalah di hari ketiga. Sungguh luar biasa, deg-degan pasti ada. Karena pada hari itu semua negara mengikuti tes eksplorasi dan eksperimen” kata Aldyto.

“Paling seru dan berkesan ketika kami jalan-jalan ke science center dan tour campus ke National University of Singapore,” kisah Aldyto.

Aldyto becerita kala dirinya mengikuti acara culture night. Dia bersama teman-teman peserta lainnya sebagai wakil negara Republik Indonesia tampil full team dan dengan penuh haru menyanyikan lagu nasional, yaitu Rayuan Pulau Kelapa.

“Merinding. Menyanyikan lagu ini tentu kami semakin bangga menjadi anak Indonesia, karena disaksikan ratusan peserta dari berbagai negara,” akunya.

Tim guru dari SD Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya pun menyampaikan rasa syukur dan bangga serta berkomitmen untuk terus membangun Indonesia dan agama Islam dengan prestasi. (ybh/hio)

Posdai Hidayatulah Papua Barat Sebagai Perekat Persatuan

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) – Guna meluaskan kiprahnya dalam berkhidmat menaungi kiprah para dai yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, kini Posdai membuka kantor perwakilan di Papua Barat yang berkedudukan di Kabupaten Manokwari.

Acara peresmian dan pelantikan pengurus dilakukan di Aula Ponpes Hidayatullah Manokwari Jln Trikora KM 19 Arfai II, Kelurahan Anday, Kecamaan, Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Selasa (21/11/2017).

Direktur Posdai Pusat Ahmad Suhail hadir meresmikan langsung sekaligus melantik Pengurus Cabang Posdai Papua Barat periode 2017-2022.

Turut hadir dalam acara ini Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Muhammad Sulthon dan jajarannya, Ketua BMH Papua Barat Wasmanto dan jajaran, Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Manokwari Muhammad Sanusi dan jajaran serta Pengurus LPIH Manokwari dan undangan.

Dalam sambutannya, Ahmad Suhail menjelaskan kedudukan dan struktur Posdai dalam organisasi Hidayatullah bahwa Posdai adalah amal usaha Departemen Dakwah Hidayatullah.

“Tujuan dibentuknya Posdai yakni sebagaimana motto ‘Bersama Dai Membangun Negeri’. Dengan menjadi lembaga dakwah yang profesional, diharapkan Posdai menjadi perekat persatuan umat dan memberi andil dalam membangun negeri,” kata Suhail.

Dikatakan Suhail, menjadi dai itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, lanjutnya, sangat jarang orang yang mau mengambil peran ini walaupun yang meniti jalan ini adalah para Nabi dan Rasul.

Beliau menganalogikan, dai ibarat seorang anak kecil sedang berusaha mengangkat pohon tumbang di tengah jalan yang mengakibatkan arus kendaraan macet total dan dibawah guyuran hujan deras.

Para pengguna kendaraan yang ada di dalam kendaraan semuanya sudah paham bahwa pohon tumbang adalah penyebab utama dari kemacetan itu. Namun semuanya enggan untuk memindahkannya.

Lalu, lanjutnya, tergugahlah mereka yang melihat anak kecil itu dan keluar dari “comfort zone” dalam kendaraan masing-masing untuk membantu seorang anak kecil tadi.

“Terkadang orang merasa enggan untuk berdakwah sebab merasa minim akan ilmu, tetapi sebenarnya ilmu yang sedikit akan terasa berguna jika diberikan kepada orang lain dan orang lainpun akan tergerak untuk saling bahu-membahu mengemban tugas yang berat ini,” jelas Suhail.

Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Muhammad Sulthon yang juga turut memberikan sambutan, mengatakan pihaknya sangat senang dengan dibentuknya Posdai di Papua Barat. Sebab, terang Sulthon, tugas dakwah akan berjalan lebih maksimal dan tentunya peran Hidayatullah akan semakin dirasakan oleh masyarakat terkhusus d Papua Barat.

Adapun susunan Pengurus Posdai Papua Barat baru yang telah dilantik yaitu Ketua Miftahuddin, Sekretaris Jamaluddin Tafalas, Bendahara Fathurrahman dan akan dibantu oleh sejumlah divisi atau departemen.

Ketua Posdai Papua Barat, Miftahuddin, mengatakan pihaknya akan terus meneguhkan peran Posdai sebagai lembaga pendukung dalam memajukan dakwah dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia di bidang keagamaan yang elementer dengan visi Hidayatullah.

“Dakwah yang diantaranya mencakup pengajaran baca-tulis abdjad atau aksara Al-Qur’an, adalah salah satu program sinergis Posdai yang sejalan dengan kewajiban pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana bait alenia keempat pembukaan UUD 1945,” kata Miftahuddin.

Selain itu, Miftahuddin mengatakan pihaknya terbuka menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah yang memiliki visi serupa dalam rangka berperan serta dalam kebersamaan membangunan sumber daya insani masyarakat Indonesia khususnya di Papua Barat yang bertakwa, maju, dan berkepribadian luhur. (ybh/hio)

Pengabdian Diemban Alumni Putri STIS Hidayatullah

Salah satu kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah / dok

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Ikatan Alumni putri Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (IA-STIS) Hidayatullah Balikpapan menggelar acara temu silaturrahim alumni yang domisili wilayah Balikpapan dengan tema, “Dedikasi Alumni terhadap Nama Baik Almamater”, beberapa waktu lalu.

Acara yang berlangsung di di Aula Serbaguna Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak lokasi STIS Hidayatullah ini menghadirkan narasumber Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Balikpapan Abdul Ghofar Hadi.

Dalam pengarahannya Abdul Ghofar mengatakan bahwa sebagai alumni dari Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) yang memiliki suasana belajar yang khas dan tidak sama seperti pada umumnya, hendaknya menjadi teladan dalam pengabdian masyarakat.

“Alumni STIS Hidayatullah adalah bagian dari sejarah akan terwujudnya cita-cita besar yaitu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga ketika sudah menjadi alumni STIS bukan sekedar teori, wacana, tetapi sudah waktunya akan pembuktian akan kekaderan itu dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ghofar.

Ghofar menegaskan, perjalanan kekaderan dan pengabdian masyarakat tidak mengenal istilah pensiun. “Dalam Islam perjuangan itu berakhir tatkala sudah menemui titik akhir yaitu kematian,” ungkapnya.

Master Studi Islam Pascasarjana UIN Yogyakarta ini menyampaikan, bahwa sebagai sarjana kader putri yang terlahir dari rahim Sekolah Tinggi Ilmu Syariah, maka ada tiga tugas minimal yang harus ditunaikan, yaitu:

Pertama, fungsi sebagai istri. Yakni menjadi istri yang kader, bahkan butuh kerja keras tatkala pasangan belum memahami sepenuhnya visi dalam berlembaga dengan kultur Kehidayatullahan yang juga sebagai mata kuliah.

Ghofar juga menekankan pentingnya peran alumni STIS Hidayatullah putri dalam mendukung sang suami untuk tetap menjadi anak yang shaleh buat orangtuanya. Pembuktian bahwa bakti itu selalu ada untuknya.

“Jangan sampai membuat suami dalam kebingungan karena adanya tuntutan memilih antara istri atau ibunya. Karena orang tuanya masih memiliki hak atas anak laki-lakinya, dan suami masih memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orangtuanya,” pesannya.

Kedua, fungsi sebagai ibu bagi anak-anaknya. Mendidik anak dengan baik adalah kewajiban. Sebagai ibu yang kader harus melahirkan kader yang lebih baik.

Menurut Ghofar, peran ibu sangat besar untuk pendidikan putra putrinya. Apalagi ibu yang sarjana diharapkan mengantarkan anak-anaknya menjadi generasi masa depan yang kelak bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, agamanya, umat secara luas, dan berdedikasi tinggi untuk pembangunan bangsa.

Ketiga, fungsi sebagai Muslimat Hidayatullah (Mushida). Kata Ghofar, sebagai sarjana jebolan perguruan tinggi Hidayatullah, tentu tak semua alumni dapat semua ikut terlibat dalam institusi Hidayatullah. Akan tetapi, lanjut dia, sebagai bagian dari Muslimat Hidayatullah minimal selalu ikut andil dalam mengikuti kegiatan Mushida.

“Jangan sampai ada suara yang terdengar, bahwa ada Alumni STIS yang enggan atau berat dalam mengikuti kegiatan Mushida yang ada dalam lembaga ini,” katanya.

Sistematika Wahyu Corak Khas PTH

STIS Hidayatullah sebagai salah satu PTH berkomitmen mencetak alumni yang tidak saja cakap dalam lifeskill dan meneguhkan pengabdian pada masyarakat, namun juga diharapkan memiliki wawasan Kehidayatullahan.

Selain menganut nilai yang dituju pada “tri dharma” meliputi pendidikan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. PTH juga mengamanatkan satu tugas lagi yang mesti diemban oleh civitas akademika yakni Sistematika Wahyu (SW) sehingga menjadi “catur dharma”. Dharma keempat ini menjadi warna khas tersendiri PTH.

Sebagai bagian yang terintegrasi dengan visi Hidayatullah sebagai induknya, PTH mengemban tugas untuk mengembangkan SW sebagai kekhasan karena PTH merupakan wadah bagi Hidayatullah untuk melakukan dakwah amar makruf dan nahi munkar.

Oleh karena itu, dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi, PTH tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik semata, tetapi juga sebagai institusi dakwah, terutama dalam penanaman nilai aqidah sebagai landasan hidup.

PTH memandang penting penanaman aqidah yang kokoh sebagai instrumen utama lahirnya sarjana yang tidak saja intelek dan memiliki lifeskill, tetapi juga menjalankan perannya sebagai sarjana dai yang menjadi teladan di tengah masyarakat (khairah ummah) dengan menyampaikan dakwah yang mencerahkan (mau’izah al-hasanah) untuk segenap manusia dan alam semesta (kaffatan linnas rahmatan lil ‘aalamiin).

Dakwah PTH terutama ditujukan kepada sivitas akademikanya yang terdiri atas karyawan, dosen, dan mahasiswa di samping masyarakat secara luas.

Adapun materi dakwah tersebut meliputi konseptualisasi urutan tertib turunya mukjizat Al Qur’an atau Sistematika Wahyu sebagai landasan aqidah dan akhlak serta panduan berislam. Materi tersebut sebagaimana dalam kurikulum institusional PTH yaitu mata kuliah Kehidayatullahan (Kelembagaan).*/ Sahlah al-Ghumaishaa’

Wabup Purwakarta Apresiasi Training Pra-Nikah Syabab

PURWAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Daerah (PD) Syabab Hidayatullah Kabupaten Purwakarta menggelar acara Training Pra-Nikah diikuti sedikitnya 200 peserta laki-laki dan wanita pra-keluarga yang digelar di Gedung Dakwah Pemkab Purwakarta, Ahad (19/11/2017).

Pemerintah Kabupaten melalui Wakil Bupati Purwakarta Dadan Koswara yang hadir membuka acara tersebut dalam sambutannya mengatakan kaum muda harus tampil sebagai generasi bangsa yang memiliki ketahanan diri agar tak terjerembab ke dalam pergaulan yang keliru.

Wabup Dadan Koswara pun mengapresiasi Syabab Hidayatullah yang menginisiasi kegiatan training pra-nikah tersebut yang menurutnya akan turut mengokohkan ketahanan keluarga serta menanamkan bekal pengetahuan kepada generasi muda sebelum memasuki jenjang pernikahan.

“Harapannya, generasi muda zaman sekarang harus lebih baik lagi dan bagaimana umat Islam selalu mengutamakan agama sebagai landasan kekokohan,” kata Wabup Dadan Koswara.

Ratusan peserta training pranikah ini dihadiri lebih oleh kalangan mahasiswa dan masyarakat luas yang umumnya belum menikah. Selain dari Purwakarta sendiri, peserta juga datang dari daerah lain seperti Bekasi dan Karawang.

Acara yang digelar bekerjasama dengan beberapa pihak seperti Muslimat Hidayatullah ini menghadirkan pembicara yakni Naspi Arsyad (Direktur Ma’had Al Humairah Sukabumi/ Pakar Biro Jodoh Islami), Ida S. Widayanti (Penulis dan Pegiat Parenting) dan Suhardi Sukiman (Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah).

Dalam pemaparannya, Naspi menyampaikan tentang adab-adab taaruf. Pria paruh baya dengan pembawaan materi yang sesekali diseli joke menjadikan suasana acara semakin penuh gairah.

Sementara pembicara kedua, Teh Ida, menyampaikan pentingnya membangun cinta yang dilandasi dengan iman, bukan nafsu semata yang memang merupakan hasrat manusiaswi.

Teh Ida mengajak peserta untuk merenungkan kembali tujuan pernikahan. Teh Ida mengungkapkan bahwa sejatinya pernikahan adalah fitrah manusia, yang karenanya dilakukan dengan tuntunan adab yang luhur sebagaimana tuntunan Islam.

Peserta tampak khidmat menyimak penyampaian Teh Ida yang sarat dengan ilmu pengetahuan dengan menyodorkan beragam fakta-fakta yang bisa menjadi renungan bersama.

Pembicara ketiga, Suhardi Sukiman, memaparkan tentang persiapan menyongsong rumah tangga syurgawi. Ayah 4 anak ini berbagi tips tentang tekhnik membangun harmoni dalam rumah tangga sehingga dapat menggapai kehidupan yang penuh cinta surgawi.

Rumah tangga yang dibangun berlandaskan visi dan orientasi yang sejalan antar pasangan adalah merupakan kunci sukses kebahagiaan surgawi.

Suhardi melanjutkan, dengan landasan iman karena Allah Ta’ala, rumah tangga yang terbangun akan selalu langgeng penuh kegembiraan. Tidak saja di dunia, melainkan juga berdimensi akhirat.

Sementara itu, Ketua PD Syabab Hidayatullah Purwakarta, Rudi Syafaat, selaku penyelenggara acara mengatakan diadakannya kegiatan selain memang merupakan core program Syabab Hidayatullah, sekaligus sebagai bentuk kepeduliaan Syabab Hidayatullah dalam mengentaskan problem gejala angka perceraian yang relatif tinggi setiap tahunnya.

Di Purwakarta misalnya. Rudi menyebutkan, hingga medio Oktober 2017 lalu, Pengadilan Agama Purwakarta mencatat kenaikan angka perceraian hingga 15 persen dibanding tahun sebelumnya.

Dari data tersebut ditemukan permasalahan ekonomi dan perselingkuhan menjadi faktor dominan penyebab terjadinya perceraian di masyarakat perkotaan di Kabupaten Purwakarta.

“Ini fenomena yang perlu sama-sama kita atasi. Salah satunya adalah dengan menggelar madrasah pernikahan Syabab Hidayatullah seperti ini agar pemuda mendapatkan pemahaman yang benar tentang pernikahan. Bahwa menikah itu juga perlu bekal pengetahuan yang kemudian diinternalisasi dalam praktik keseharian,” jelas Rudi.

Rudi berharap, gelaran training pra nikah seperti ini dapat terus dilakukan secara berkesinambungan. Dia mengatakan pihaknya siap menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat dan institusi terkait lainnya yang memiliki visi serupa dalam rangka memasyarakatkan tradisi cinta harmoni Lillaahi Ta’ala dalam kehidupan berkeluarga.

Acara training pra-nikah Syabab Hidayatullah Purwakarta ini terselenggara atas dukungan banyak pihak diantaranya Laznas Baitul Maal Hidayatullah, CV Panca Teknik Cikampek, PayTren, Oishi Teh Tarik, Pustaka Bagus Cikampek, Klinik As Salam dan Lia Soraya. (ybh/hio)

Efektifkan Dakwah dengan Sinergi dalam Beramal Jama’i

0

BATANG (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Sholeh Hasyim mengatakan dakwah lebih efektif jika dilakukan secara tertata, terencana, dan sinergis. Karenanya, dia mengajak kepada komponen umat khususnya seluruh kader untuk mampu bersinergi dalam beramal jama’i.

“Sinergi ini akan saling menguatkan,” ujarnya mengingatkan ketika menyampaikan taushiyah dalam acara Silaturrahim Bersama Dewan Mudzakarah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batang, Jawa Tengah, Ahad (19/11/2017).

Ust Sholeh mengatakan, ada hal yang lumrah di Hidayatullah namun boleh jadi dianggap berat dilakukan oleh kalangan eksternal yakni berupa tradisi penugasan. Sebab, sejatinya, tegas dia, penugasan adalah salah satu wasilah untuk memahami manhaj Sistematika Wahyu.

Lebih jauh beliau mencontohkan bagaimana keefektifan para sahabat dalam mengemban risalah dakwah.

Beliau menyebutkan, ada 3 fase dalam kehidupan para sahabat yang harusnya menjadi contoh bagi kita semua. Dimana setiap saat para sahabat akan selalu membagi waktunya dalam aktivitas berhalaqah, berdakwah dan berjihad.

Ditambah lagi dengan kebersihan hati-hati para sahabat inilah. Maka, terang dia, tidak mengherankan bagaimana efektifnya para sahabat memperluas jaringan dakwahnya.

“Sebab, para sahabat akan berebut untuk saling mengisi waktunya dengan amal-amal sholeh. Sahabat Nabi merasa rugi kalau dalam setiap pergantian waktu tidak menambah derajat keimanan mereka. Olehnya itu, para sahabat ini akan terus berinovasi dalam semangat berfastabiqul khairat dalam kebaikan,” ujarnya.

Hal tersebut, lanjut Sholeh, dalam kamus kehidupan mereka adalah bagaimana umur yang diamanahkan Allah selalu termanfaatkan dengan beragam kebaikan-kebaikan untuk kebaikan diri mereka dan masyarakat di sekitarnya.

“Motto para sahabat yakni bertambahnya umur harus berbanding lurus dengan amal kebajikan yang dikerjakan untuk kemaslahatan manusia,” imbuhnya.

Dengan pemahaman yang dalam dan kebersihan hati para sahabat serta apapun masalah yang dihadapi antar sahabat, jika sudah Al Qur’an yang dijadikan hujjah dalam menyelesaikan silang sengketa diantara sahabat, maka dengan segera masalah itu akan selesai sendirinya. “Inilah karakter kelebihan para sahabat,” urai Shaleh.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al Aqso Hidayatullah Batang, Ahmad Jihad, dalam sambutannya selaku panitia membuka acara tersebut, mengatakan sebuah gerakan akan terus membesar dan berpengaruh jika landasannya kokoh serta mampu mengerakkan orang-orang yang terlibat didalamnya.

“Hal itulah nilai sebuah visi. Visi sebuah organisasi merupakan inti sumber gerak dan panduan operasional yang akan diturunkan,” kata Ahmad.

Menurut Ahmad, gerak langkah menuju pencapaian visi akan terus diperbaharui hingga selalu dinamis dan efisien menghadapi pancaroba perilaku umat. Olehnya itu, kata dia, Hidayatullah sebagai ormas dakwah harus selalu berbenah.

“Kader-kader Hidayatullah sebagai penggerak organisasi harus terus mengupgrade diri dengan beragam kemampuan,” ujar Ahmad.

Ahmad menambahkan, sebagai organisasi kader, Hidayatullah mengusung visi berjamaah dan bersyariah yang diantara upaya tersebut adalah dengan mengajak pemerintah dan elemen umat untuk mewujudkan masyarakat yang berperadaban, menjalankan kegiatan dakwah, pendidikan, sosial ekonomi, kepemudaan, kewanitaan dan lain-lain secara profesional serta membangun sinergi dengan segenap komponen umat.

Olehnya itu, lanjut Ahmad, hendaknya perlu dan penting untuk terus dilakukan evaluasi bersama sejauh mana pencapaian visi tersebut.

“Penilaian yang jujur akan diketahui posisi organisasi sudah sejauh mana penerapannya di dalam diri kader-kadernya. Visi berjamaah ini akan terukur dengan baik jika kita mampu menaati seluruh konsensus-konsensus yang berlaku di Hidayatullah. Alat ukurnya harus ada dan menjadi azzam bersama yang tertulis sebagai dasar evaluasi yang terukur, terencana dan sistematis,” katanya.

Seperti visi berjamaah, visi kedua yang ingin disukseskan adalah bersyariah dalam segala aspek kehidupan. Ciri umat telah bersyariah dapat dilihat sejauhmana tingkat ketauhidan umat, karena dasar tauhid adalah Iman.

“Iman yang akan rindu penerapan ajaran-ajaran Islam yang luhur. Hal itu hanya dapat terbentuk jika umat sudah mentransformasi adab dalam keseharian hidupnya,” imbuh Ahmad.

Olehnya itu, agar tarbiyah sukses, perlahan namun pasti kita harus berusaha untuk memenuhi syarat-syarat di atas dengan cara mewajibkan setiap kader berada dan mengikuti  halaqah-halaqah pembinaan.

“Itulah sebabnya Hidayatullah mewajibkan seluruh cabang-cabangnya agar mampu menghadirkan kampus sebagai miniatur peradaban Islam,” pungkas beliau.*/Yusran Yauma

 

 

Ratusan Peserta Ikuti Training Aqidah Hidayatullah Baras

0

BARAS (Hidayatullah.or.id) – Sekira 150 binaan Hidayatullah yang berasal dari 10 afdeling di antaranya Balanti, Kuma, Too, Amazon dan lainnya, mengikuti acara Training Bina Aqidah yang diselenggarakan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Mamuju Utara di Kampus Hidayatullah Baras, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat (Sultra), Ahad (19/11/2017).

Peserta dari perwakilan sepuluh afdeling ini memadati ruang aula acara gedung Sekolah Islam Terpadu Lukmanul Hakim Baras. Afdeling adalah istilah kata ganti “wilayah administratif” yang berasal dari bahasa Belanda yang masih umum digunakan warga di wilayah tersebut.

Kegiatan ini sendiri merupakan rangkaian tindaklanjut program dakwah Hidayatullah yang sudah terintis sejak pertengahan tahun 1993 lalu di Baras, guna meningkatkan pemahaman masyarakat tentang dasar-dasar Islam.

Acara ini digelar di desa Motu, salah satu desa di Kecamatan Baras di Kabupaten Mamuju Utara yang tidak asing lagi dengan dakwah dai Hidayatullah.

Di ruangan sekolah yang juga dibangun atas pembiayaan dana sosial perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Unggul Widya Tekonologi Lestari ini, peserta mengaku merasakan keseimbangan padatnya kerja dengan penyegaran melalui taklim-taklim yang dikemas dengan training bina aqidah ini.

Peserta trianing berasal dari berbagai latar pendidikan dan profesi, meski terbanyak adalah karyawan mulai dari keamanan, permanen, mekanik, operator pabrik hingga asisten kepala di perusahaan tersebut.

“Terasa lelahnya. Tapi demi (taklim) ini saya harus datang,” ujar Abdul Rauf peserta asal afdeling Amazon yang rumahnya berjarak 8 kilometer dari tempat acara.

Pada kesempatan ini pihak panitia mengundang Anwari Hambali, Anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, yang telah sejak lama juga ikut menguatkan gerakan dakwah di wilayah tersebut.

Mengawali materinya, Anwari menyitir al-Quran surah Al Quraisy sebagai bahan pembahasan yang erat dengan penyembahan kepada Allah yang memberi makan, memberi rasa aman dari ketakukan bukan karena kerja yang mereka lakukan. Sekaligus menggambarkan model kelompok manusia yang selamat dan yang celaka dari tipu daya dunia.

Beliau menjelaskan, kelompok celaka adalah mereka yang hidupnya hanya berorientasi pada keperluan dan tujuan kehidupan dunia semata. Dan, adapun yang selamat, adalah mereka yang menjadikan surga sebagai tujuan melalui penerapan gaya hidup sesuai dengan gayanya Nabiyullah Muhammad SAW.

Sementara itu, Abdurrahman Hasan, selaku ketua Departemen Pembinaan Anggota DPW Hidayatullah Sulbar mendorong kepada peserta memaksimalkan waktu dan perhatian selama mengikuti jalannya acara yang dikemas dalam sehari.

“Bina aqidah ini adalah upaya penjenjangan taklim untuk selanjutnya membentuk jamaah taklim dengan kriteria pesertanya bahkan bisa diproses menuju jenjang kaderisasi dasar yakni training marhalah uula,” pungkasnya.

Menerangkan tujuan diadakannya acara tersebut, Ketua DPD Hidayatullah Mamuju Utara, Habibi Nursalam, bersama pengurus lainnya mengungkapkan pihaknya akan terus melakukan acara serupa dalam setiap tahunnya seiring dengan tingginya permintaan masyarakat dalam pembinaan keagamaan.

Kata dia, sejatinya acara serupa dilakukan pada pertengahan tahun ini akan tetapi dikarenakan hal teknis sehingga dilakukan pada akhir tahun.

“Semoga pertengahan tahun depan bisa kita lakukan kembali karena masih banyak jamaah yang belum bisa hadir sekarang, ini tantangan bagi kami” terangnya.

Habibi menambahkan, kondisi jamaah dari beberapa tempat seputaran perusahaan kelapa sawit Baras khususnya sangat membutuhkan pembinaan ruhani rutin.*/Muhammad Bashori

 

Hidayatullah Banjarbaru Dorong Peserta Didik Cinta Lingkungan

0

BANJARBARU (Hidayatullah.or.id) – Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mendorong segenap santri peserta didiknya untuk cinta alam dan peduli kelesetarian lingkungan.

Salah seorang pembina santri, Ust Harmoko, yang juga sebagai Kepala Sekolah SD Islam Integral Hidayatullah Banjarbaru, mengatakan menanamkan rasa cinta kepada lingkungan dapat dimulai dari hal yang kecil.

Salah satu yang dilakukan Kampus Hidayatullah Banjarbaru adalah dengan memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos dan kegiatan menanam pohon di lingkungan. Hal ini telah diajarkan kepada segenap anak-anak muridnya.

“Udara yang dihirup tetap bersih, ketersediaan air tanah tetap terjaga, dan pohon dapat menjaga kita dari bencana banjir dan longsor. Oleh karena itu sangat penting mengajarkan cinta lingkungan sejak dini,” kata Harmoko.

Beberapa waktu lalu perwakilan dosen dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan para mahasiswanya melakukan anjangsana ke Kampus Hidayatullah Banjarbaru sekaligus menggelar kegiatan sosialiasi pentingnya merawat lingkungan. Acara ini diikuti oleh dewan guru TK Yaa Bunayya dan SD Islam Integral Hidayatullah Banjarbaru yang bertempat di TK Yaa Bunayya Hidayatullah Banjarbaru.

Acara yang melibatkan siswa TK Yaa Bunayya dan SD Islam Integral Hidayatullah Banjarbaru ini diselenggarakan oleh mahasiswa Komunikasi UMY yang tergabung dalam komunitas Creative Event Organizer.

Kepala Sekolah TK Yaa Bunayya Hidayatullah Banjarbaru Hijratul Lu’lu menjelaskan, kegiatan menanam pohon dan mengelola sampah menjadi pupuk kompos ini bertujuan untuk mengajarkan cara membuat kompos dan menanam pohon yang benar, sekaligus memberikan pengetahuan tentang pentingnya menjadikan sampah sebagai pupuk kompos dan menanam pohon serta sayur-sayuran.

“Kita ingin sejak dini anak-anak dididik untuk tahu fungsi dan manfaat dari membuat dan mengelola sampah untuk dijadikan kompos, sehingga tertanam dalam diri mereka untuk selalu melestarikan dan menjaga lingkungan sekitar. Selain itu, mereka juga diajari cara menanam pohon yang benar, cara memindahkan bibit pohon ke pot, juga memupuk tanaman setelah dipindahkan,” jelasnya.

Sementara itu mahasiswa ULM yang menggelar kegiatan berharap, ini menjadi awal bagi kegiatan-kegiatan membuat pupuk kompos dan penanaman pohon selanjutnya. (ybh/hio)

40 Tahun Shalat Berjama’ah di Shaf Terdepan

0

AL HAFIDZ IBNU ASAKIR adalah seorang ulama hadits bermadzhab Asy Syafi’i yang tersohor di masanya. Disamping memiliki banyak karya, Ibnu Asakir termasuk ulama yang banyak melakukan ibadah.

Ia istiqamah dalam beribadah, dimana selama 40 tahun tidak meninggalkan shalat berjama’ah dan berdiri di shaf terdepan, kecuali jika ada udzur. (Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 7/220)

Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa Ibnu Asakir istiqamah dalam shalat berjama’ah, tilawah, hingga menghatamkan Al Qur`an setiap Jum’at dan menghatamkan Al Qur`an di bulan Ramadhan setiap hari, tanpa dihitung tilawah dalam shalatnya. Ibnu Asakir banyak berdzikir dan melakukan ibadah sunnah. (Siyar A’lam An Nubala, 20/562)

THORIQ