Beranda blog Halaman 600

Hidayatullah untuk Nusantara

0
Dokumentasi Pembukaan MUnas IV Hidayatullah
ILUSTRASI: Wakil Presiden Republik Indonesia H Jusuf Kalla membuka acara Musyawarah Nasional IV Hidayatullah, 7 November lalu di Balikpapan / DOKUMENTASI SEKRATARIAT WAPRES

Oleh Dr Abdurrahim*

MUSYAWARAH Nasional (Munas) IV Hidayatullah baru saja berlalu. Hiruk-pikuk, kemeriahan, juga atmosfir kesyahduan yang melingkupinya menyisakan memori dan kesan yang mendalam bagi para santri dan kader-kader ormas Islam Hidayatullah.

Atmosfir kesyahduan kian terasa karena seluruh penyelenggaraan acara musyawarah nasional tersebut dilaksanakan di masjid, sehingga suasana batin para peserta munas adalah suasana ibadah. Jauh dari hiruk-pikuk negatif seperti sikut menyikut diantara masing-masing kubu yang memiliki tendensi dan kepentingan tertentu terhadap kekuasaan, sebagaimana yang sering terjadi pada penyelenggaraan musyawarah nasional institusi tertentu lainnya.

Kesan mendalam juga dapat dirasakan oleh peserta Munas yang berdatangan dari seluruh penjuru Nusantara karena pelaksanaan munas dilakukan di pusat sejarah Hidayatullah; Gunung Tembak Balikpapan.

Gunung Tembak menjadi nama yang melegenda di sanubari para kader Hidayatullah seperti yang pernah dipidatokan oleh Allahuyarham Abdullah Said ketika itu, bahwa dari Gunung Tembak ini akan ditembakkan kader-kader Islam yang digembleng di Hidayatullah ke seluruh penjuru Nusantara.

Kehadiran para kader Hidayatullah ke Gunung Tembak, menjadi oase yang menyejukkan di tengah lelah dan penat para kader berjibaku dalam baktinya untuk nusantara menjadi pendidik dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru, pelosok, dan daerah terluar Republik Indonesia.

Sehingga, wajar adanya, munas kali ini tidak sekedar ajang suksesi kepemimpinan baru di ormas Hidayatullah, tapi menjadi media temu-kangen, mengeratkan ikatan silaturrahim antar kader.

Dan, yang tidak kalah penting ada recharging spirit perjuangan Islam melalui taushiyah-taushiyah menyentuh dari Pimpinan Umum Hidayatullah, serta salat tahajjud bersama yang dipimpin langsung oleh beliau.

Poin penting pertama dari munas Hidayatullah kali ini adalah suksesi kepemimpinan Hidayatullah. Suksesi kepemimpinan adalah pada level manapun, apalagi dalam dunia politik adalah persoalan yang krusial, di mana terkadang menimbulkan konflik berlarut-larut yang tak berujung, dan tak kunjung usai. Bahkan ditengah konflik itu terkadang menimbulkan pertumpahan darah dan bencana kemanusiaan, sebagaimana konflik politik atas suksesi kepemimpinan di Timur Tengah saat ini.

Oleh karena itu, proses suksesi kepemimpinan pada level manapun juga dapat menimbulkan kerawanan sosial, dan potensi-potensi konflik laten lainnya. Ketika menengok ke dalam sejarah Islam pun kita dapat menemukan bahwa tidak sedikit terjadi konflik dan pertumpahan darah sesama kaum muslimin yang disebabkan oleh suksesi kepemimpinan.

Munas Hidayatullah kali ini mengalami sukses besar karena proses suksesi kepemimpinan berjalan mulus tanpa ada hambatan dan riak-riak politis tertentu.

Hal tersebut terjadi karena Hidayatullah sedari awal didirikan dalam format pesantren dan organisasi sosial menisbatkan diri sebagai organisasi keumatan milik umat dan bukan miliki pribadi dan keluarga tertentu.

Ketika memproklamirkan diri sebagai ormas pun demikian, sehingga Hidayatullah adalah representasi dari umat, dan orang-orang di dalamnya menyatu bersama umat untuk membangun kembali peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah. Euphoria suksesi yang dibangun pun adalah upaya mencontoh sistem kepemimpinan Islam, yaitu dengan prinsip syura’.

Karena itu dalam munas Hidayatullah kali ini menjadikan sesepuh Hidayatullah sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk memilih pucuk pimpinan pengurus pusat Hidayatullah. Dari proses suksesi ini, sebuah proses langkah maju dan upaya untuk memegang teguh prinsip sistem kepemimpinan Islam telah dilakukan.

Poin penting kedua dari penyelenggaraan munas kali ini adalah kaderisasi, dalam artian Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam berbasis kader telah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi yang menitik beratkan pada upaya mencetak kader-kader dakwah Islam yang tangguh untuk ditempatkan di medan-medan dakwah Islamiah di seluruh Indonesia.

Hal tersebut terlihat dari peserta munas yang hadir, di mana rata-rata mereka adalah para kader Hidayatullah yang telah melalui proses penggemblengan di pusat-pusat perkaderan Hidayatullah di Balikpapan, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Sekalipun demikian, ada pula yang melalui proses perkaderan secara informal pada cabang-cabang Hidayatullah yang ada.

Dari proses ini, terlihat bahwa Hidayatullah sebagai ormas menjadikan perkaderan sebagai basis pengembangan dan ekspansi secara kelembagaan.

Salah satu ciri khas dari kader Muslim di Hidayatullah adalah memiliki militansi yang tinggi untuk mendakwahkan Islam dan tidak terpengaruh oleh situasi dan keadaan ekstrim tertentu di daerah, karena memiliki keyakinan Ilahiah yang sangat tinggi dalam berdakwah.

Keyakinan tersebut bertumbuh dan semakin kuat, karena kencangnya mujahadah dan ibadah para santri sehingga menumbuhkan spiritualitas pada diri pribadi para santri, atau yang sering disebut dengan “spirit al-Muzammil”. Yakni proses internalisasi spiritual ke dalam diri para santri melalui ibadah yang tekun seperti salat berjamaah, salat tahajjud, baca quran, dzikrullah, dan lain-lain.

Proses kaderisasi di Hidayatullah juga tidak dapat dilepaskan dari peran besar basis ideologi yang mendasarinya, yakni pembacaan secara ideologis terhadap al-Quran dengan pendekatan metode “sistematika wahyu”.

Kekuatan kaderisasi yang didukung oleh infrastruktur lingkungan dan suprastruktur ideologis yang memadai, membuat Hidayatullah mengalami akselerasi dan peningkatan yang cepat secara organisatoris.

Sebagaimana ditegaskan oleh Wapres Jusuf Kalla dalam pembukaan Munas IV Hidayatullah (7/11/2015), bahwa Hidayatullah satu-satunya organisasi massa Islam lokal kedaerahan yang bergerak dari pinggir, dan mengalami lompatan kemajuan yang paling cepat secara organisatoris, ketimbang organisasi-organisasi massa lokal kedaerahan lainnya.

Terbukti dengan menyebarnya ormas Hidayatullah ke seluruh penjuru Nusantara dengan membawa semangat dakwah yang Rahmatan Lil Aalamin, sehingga mudah diterima oleh masyarakat dan turut menjadi perekat keutuhan berbangsa dan bernegara.

Point penting lainnya adalah proses regenerasi. Dari Munas yang telah dilangsungkan, Ahlul Halli Wal Aqdi Hidayatullah bersepakat untuk memilih dan mengangkat salah satu kader tulen Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq.

Beliau adalah jebolan pengkaderan di Gunung Tembak, Balikpapan, dan berkuliah di kota Nabi (Jamiah Islamiyah Madinah). Beliau kemudian meningkatkan kapasitas intelektual dan keulamaannya dengan menempuh jenjang Magsiter di Universitas Kebangsaan Malaysia dan kini beliau sedang dalam proses menyelesaikan program doktoralnya di Internasional Islamic University Malaysia (IIUM).

Dari proses ini terjadi proses alih generasi atau regenerasi yang sukses untuk mendukung suksesi kepemimpinan Hidayatullah. Selain itu juga terlihat proses yang dinamis dan alamiah dalam proses regenerasi tersebut.

Era baru kepemimpinan Hidayatullah yang dipimpin oleh kader muda dengan kualitas yang mumpuni menandakan proses regenerasi telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan para sesepuh dan pendiri Hidayatullah.

Proses regenerasi yang terlihat dalam munas kali ini diharapkan tidak hanya terjadi top level kepemimpinan hidayatullah, akan tetapi pasca munas, pada kegiatan keorganisasian dan keormasan seperti musyawarah wilayah, musyawarah daerah.

Juga memperlihatkan alih generasi dan pengalihan tongkat estafeta kepemimpinan Hidayatullah kepada kader-kader muda Hidayatullah, yang tentunya menjadi motor perubahan ormas Hidayatullah ke arah yang lebih baik dan spektakuler.Karena melalui para pemuda Hidayatullah yang memiliki semangat, progresivitas, dan idealisme, masa depan Hidayatullah dipertaruhkan.

Bayangan dan visi kebangkitan Islam dan terbangunnya peradaban Islam yang salah satunya akan dimotori oleh Hidayatullah pada masa-masa mendatang, semakin jelas dan terang benderang, setelah melihat kader-kader Hidayatullah yang telah bertebaran di negara-negara seperti Arab Saudi, Sudan, Mesir, dan Turki untuk menuntut ilmu-ilmu Syar’i.

Sehingga visi besar ormas Hidayatullah pada tahun 2020 nanti, yaitu Berjamaah, Bersyariah, Maju, Sejahtera dan Bermartabat akan tercapai dengan mudah, berkat hidayah dan quwwah ilahiah yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua, Amiin Ya Mujibassaailii. Wallahu A’lam Bishawwwab.*

________
*) DR ABDURRAHIM, penulis adalah Ketua STIS Hidayatullah. Pria peminat tema sosial dan sejarah ini merupakan salah satu alumni Madrasah Aliyah Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

 

 

Khitanan Massal 100 Santri dan Muallaf Pedalaman Papua

Khitanan Massal 100 Santri dan Muallaf Pedalaman PapuaHidayatullah.or.id – Islamic Medical Service (IMS) menggelar serangkaian kegiatan sosial di pedalaman Papua pada Sabtu-Ahad, 16-17 Januari 2015 lalu.

Bakti nusantara khitanan massal ini didukung oleh Badan Pengelola Zakat, Infaq, Sedekah Bank Mandiri (BPZIS Mandiri). Selain dikhitan secara cuma-cuma, setiap peserta memperolah bingkisan alat shalat serta uang saku.

Kegiatan sosial yang diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatullah Sorong ini meliputi penyuluhan kesehatan, pengobatan dan khitanan massal bagi para santri dan muallaf.

Menurut dr Syaifuddin Hamid, Ketua Tim IMS untuk khitanan massal, peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 100 mualaf, terdiri dari 20 mualaf dewasa serta 80 mualaf usia anak-anak dan remaja..

“Meski bukan liburan sekolah, namun antusias peserta dan orangtua untuk menkhitankan anak-anaknya cukup tinggi. Padahal tempat tinggal sebagian besar peserta jaraknya lumayan jauh,” terang Syaifuddin.

Saat prosesi khitan berlangsung, sesekali terdengar suara tangis para peserta anak-anak yang menahan sakit. Kepada seluruh peserta, tim medis IMS tidak lupa memberi arahan tentang manfaat khitan serta perawatan kesehatan pasca khitan agar tidak terjadi infeksi.

Thomas (40 tahun), seorang muallaf penerima manfaat khitan massal bersyukur dengan kegiatan sosial ini.

“Kami bersyukur dengan acara khitanan massal ini, alhamdulillahada saudara kami yang belum pernah berjumpa dengan kami tapi peduli dengan kesehatan kami disini,” ungkap Thomas.

Selain Papua, IMS yang merupakan lembaga kesehatan nasional dibawah ormas Islam Hidayatullah ini dalam waktu dekat juga akan melakukan khitanan massal mualaf di Kepualaun Mentawai, Sumatera Barat.

Menurut Humas IMS, Imron Faizin, IMS memang tengah fokus pada program khitanan massal muallaf.

“Banyak para mualaf dhuafa yang tersebar di Indonesia yang belum dikhitanan. Setelah masuk Islam, tentu khitan adalah hal yang wajib dilakukan. Sementara belum banyak lembaga sosial yang menggarap program khitan untuk para mualaf ini,” jelas Imron. (Ibnu Sumari)

Santri Hidayatullah Raih Award “BSM Santripreneur Award”

Santri Hidayatullah Raih Penghargaan “BSM Santripreneur Award 2015Hidayatullah.or.id – Sebanyak 30 santri mendapat award (penghargaan) dari PT. Bank Syariah Mandiri (BSM) dalam sebuah ajang bersejarah yang baru pertama kali diadakan di Indonesia yaitu “BSM Santripreneur Award 2015”, belum lama ini.

Diantara 30 santri yang memperoleh penghargaan “BSM Santripreneur Award”, ada 2 orang santri yang berasal dari Pondok Pesantren Hidayatullah yaitu Arif Budianto (Alumni SMP-SMA Ar-Rahmah Hidayatullah Malang) dan Uzroni Al-Fatih (Kepala Bagian Ekonomi Hidayatullah Cirebon). Keduanya masuk sebagai nomine dalam kategori industri perdagangan dan jasa yakni Arif (jasa konstruksi) dan Uzroni (peternakan dan aqiqah).

Ajang yang diprakarsai BSM bekerjasama dengan Rumah Enterpreneur Indonesia (REI) tersebut merupakan sebuah acara pemberian penghargaan entrepreneur kepada santri yang memiliki prestasi, menjadi pelopor dan teladan serta memiliki karya inovasi yang unggul dalam mengembangkan perekonomian bangsa Indonesia.

Santri yang menjadi nomine tersebut dipilih oleh para dewan juri dari 1220 peminat baik yang mendaftar melalui online maupun offline.

Dan, dari 30 nominasi tersebut dipilih sebanyak 3 santri favorit sebagai juara dan 15 santri sebagai nominator sesuai dengan kategori masing-masing. Di mana kategori dalam ajang BSM Santripreneur Award 2015 terbagi menjadi 3 yaitu usaha industri perdagangan dan jasa, usaha boga dan usaha kreatif.

Uzroni mengaku mengikuti ajang ini dalam rangka untuk memberikan motivasi kepada para santri, khususnya adek-adek santri di Hidayatullah bahwa santri itu tidak hanya mempelajari sebuah domain bidang ilmu saja tetapi harus memiliki kemapuan disiplin keilmuan lainnya, salah satunya yaitu enterpreneur (kewirausahaan,red).

“Dengan memiliki jiwa entrepreneur para santri diharapkan mampu untuk beraktualisasi dalam cakupan yang lebih luas. Karena itu, kami ingin para santri bisa mengikuti jejak kami sehingga mereka memiliki skill sebagai seorang entrepreneur,” kata Uzroni.

Sebagaimana diketahui, BSM bekerjasama dengan Rumah Enterpreneur Indonesia menyelenggarakan acara penganugerahan bagi para pemenang ajang BSM Santripreneur Award di Hotel Borobudur Jakarta Pusat, Kamis (31/12/2015) pagi. (Fazeri)

[FOTO] Bupati Serahkan Bantuan ke Kampus Menggala

0

Bupati Serahkan Bantuan ke Ponpes Hidayatullah MenggalaHidayatullah.or.id – Bupati Tulangbawang Hanan A Rozak menyerahkan bantuan CSR Bank Lampung secara simbolis berupa uang tunai sebesar Rp 100 juta kepada Pondok Pesantren Hidayatullah di Kecamatan Menggala, belum lama ini.

Menggala sendiri adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. (Endra)

Peletakan Batu Pertama Masjid Al–Muthadin Hidayatullah Kukar

0

kukar-Peletakan-Batu-PertamaHidayatullah.or.id – Pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayahtullah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sekaligus dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Muthadin di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Loa Kulu, Kalimantan Timur, Rabu (13/1/2016) pagi.

Prosesi peletakan batu pertama pembangunan Masjid dilakukan oleh Pj. Bupati Kutai Kartanegara H. Chairil Anwar di dampingi Camat Loa Kulu Agus Syarif dan Kepala Pondok Pesantren Hidayatullah Kutai Kartanegara Ustaz Nurdin.

Dalam arahannya, Chairil Anwar mengatakan bahwa perkembangan zaman terus berubah, peradaban umat manusia pun tumbuh dan berkembang tanpa titik final. Perkembangan teknologi yang tak dapat lagi di bendung, merubah pola fikir dan sikap masyarakat.

“Sungguh tepat jika kita menjadikan nilai-nilai Islam sebagai benteng diri, keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata tetapi menjadi tanggung jawab semua komponen masyarakat termasuk Hidayatullah dengan lembaga pendidikan pondok pesantren yang dimiliki.

Selain itu, juga ia merasa bahagia karena pada pelaksanaan musda kali ini dibarengi dengan peletakan baru pertama Masjid Al Muthadin di Pondok Pesantren Hidayatullah. Masjid tersebut merupakan sebuah masjid yang representatif bagi masyarakat dimana fungsinya sebagai pusat ibadah dan sentral kegiatan masyarakat.

Di akhir, ia berharap dengan berdirinya mesjid ini akan mampu memberikan warna dalam pembentukan insan-insan yang kuat serta menjadikan wadah untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan diantara seluruh warga masyarakat khususnya para santri dan santriwati yang menimba ilmu di pondok pesantren ini. (wn/hio)

Siaran Pers DPP Hidayatullah Tentang Bom Sarinah Jakarta

0

 

 

Nomor: 001/Humas/2016
Tanggal: 14 Januari 2016

Bismillahirrahmanirahim

Assalamualaikum Wr Wb

Kamis (14 Januari) siang ini kita telah dikejutkan oleh aksi terorisme sekelompok orang di pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Insiden itu telah memakan korban puluhan orang.

Terhadap insiden tersebut maka kami Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyatakan:
1. Mengecam tindakan terorisme tersebut, sebab telah menyebabkan ketakutan di tengah masyarakat dan amat berpotensi menimbulkan fitnah-fitnah baru yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat luas.

2. Meminta kepada aparat yang berwenang untuk segera mengusut pelaku beserta dalang di balik insiden tersebut dan memberikan hukuman setimpal kepada mereka. Namun, dalam proses pengusutan tersebut, hendaklah aparat keamanan bersikap adil dan tidak menimbulkan gejolak baru di tengah masyarakat.

3. Menghimbau kepada seluruh kaum Muslim agar lebih kuat berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi dan kejadian yang akan menjauhkan kita dari Islam.

Demikian pernyataan ini kami buat. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa menjaga kita dan negeri ini dari tindakan orang-orang yang akan membuat makar.

Kepala Biro Humas DPP Hidayatullah

Mahladi

Munas IV Muslimat Hidayatullah Komitmen Teguhkan Peran Ibu

IMG_20160107_110531Hidayatullah.or.id – Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Periode 2015-2020, Reni Susilowati, mengatakan Muslimat Hidayatullah (Mushida) berkomitmen terus meneguhkan peran ibu sebagai pilar utama tegaknya martabat bangsa dengan pertama-tama mengokohkan ketahanan keluarga.

Hal itu dikatakan Reni Susilowati saat menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Musyawarah Nasional IV Muslimat Hidayatullah di Aula Utama Lt. III Kampus Arrohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, Kamis (07/01/2015).

“Muslimat Hidayatullah harus terus memainkan peranannya dalam membangun ketahanan keluarga Indonesia di semua sektor,” kata Reni.

Dia menegaskan pembangunan bangsa Indonesia harus dilakukan secara fokus dan terarah. Tidak hanya konsen pembangunan fisik, melainkan juga melakukan pengembangan sumber daya manusua yang sinergis dan terpadu terutama melibatkan 3 unsur penting yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Menurut Reni, memperkuat ketahanan keluarga tidak cukup hanya ditopang dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu dilakukan melalui upaya program pemberdayaan ekonomi.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, yang membuka Munas IV Muslimat Hidayatullah ini menapresiasi peran Hidayatullah khususnya muslimat dalam membangun wilayah ini.

Gus Ipul mengatakan pihaknya siap mendukung program pemberdayaan yang sedang digalakkan Muslimat Hidayatullah khususnya di Jawa Timur. Diantaranya pemerintah provinsi bersedia mengucurkan bantuan pengembangan koperasi wanita.

Seperti diketahui, dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN saat ini, Pemprov Jawa Timur menggulirkan berbagai program penguatan ekonomis masyarakat salah satunya adalah program pengembangan koperasi wanita. Pengembangan koperasi wanita dilakukan melalui pelatihan, pendampingan serta sertifikasi.

“Khusus di Jawa Timur, kita dukung Muslimat Hidayatullah untuk melakukan pengembangan ekonomi melalui koperasi wanita,” kata Gus Ipul.

Gus Ipul menambahkan, dalam pengembangannya progra pemberdayaan ini penting pelaku koperasi dan UKMK memahami tekhnologi informasi, terutama internet. Kata dia, internet saat ini menjadi jendela bagi pemasaran produk yang murah, praktis, cepat dan memiliki daya jangkau yang sangat luas

Seperti diwarta media, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menunjuk Reni Susilowati Latip mengemban amanat sebagai Ketua Umum Muslimat Hidayatullah (Mushida) periode 2015-2020. Reni ditetapkan dan dilantik di arena Munas IV Mushida di Kota Malang, Jawa Timur.

Sesaat setelah dibacakan surat SK pengangkatannya oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Jum’at malam (8/01/2015), Reni sempat terhenyak beberapa waktu. Ketika dilantik pun ia kerapkali terlihat menyeka matanya dan dengan suara lirih mengikuti ikrar.

“Amanah ini sangat berat,” katanya kepada pewarta tidak lama setelah pelantikan itu.

Reni Susilowati Latip‎ lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada tahun 1969. Ibu yang diamanahi 3 orang anak ini adalah lulusan Universitas Airlangga Surabaya.
Kemudian Pascasarjana pada bidang Pendidikan Islam ia selesaikan di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor, Jawa Barat. Dan, saat ini Reni sedang menempuh program doktoral di almamater yang sama konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam.

Sehari-hari selain aktif menjadi tenaga ahli dan tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di sejumlah institusi pendidikan dasar dan menengah, Reni Susilowati pula menjadi Sekretaris II Badan Koordinasi Majelis Taklim Masji-Dewan Masjid Indonesia (BKMM-DMI).

Mantan Kepala Sekolah SD Integral Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, ini juga sebelumnya pernah mengemban tugas sebagai pengurus di Badan Musyawarah Organisasi Wanita Islam Indonesia (BMOIWI).

‎Terkait dengan amanah yang kembali diembannya ini, ibu asli Nganjuk ini mengatakan harapannya hanya satu yakni, “Ingin menjadikan diri dan Muslimat Hidayatullah lebih dekat pada Allah Subhanahu wata’ala,” katanya.

Reni mengatakan, salah satu rekomendasi Munas IV Mushida dalam rangka menguatkan komiten tersebut adalah memaksimalkan peran muslimat dalam membangun kultur yang dimulai dari rumah sebagai inti masyarakat Islam.

“Budaya bersih diri dan lingkungan, budaya salam, etika bertamu dan menerima tamu, budaya ilmu, budaya cinta lingkungan dan sebagainya merupakan kultur Islami yang harus menjadi ciri khas Muslimat Hidayatullah,” pungkasnya.

Amanat yang diembannya ini adalah masa bakti periode kedua bagi Reni Susilowati sebagai Ketua Umum Muslimat Hidayatullah. Sebelumnya ia mengamban amanah yang sama pada periode 2005-2015. (ybh/hio)

FOTO-FOTO DOKUMENTASI

Pembukaan Munas IV Muslimat Hidayatullah - Copy Munas IV Muslimat Hidayatullah Munas IV Muslimat Hidayatullah2 Munas IV Muslimat Hidayatullah3

Ketum Narasumber Bersama Rektor ITS dan Praktisi

Hidayatullah.or.id – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, MA, menjadi narasumber dalam acara seminar nasional kebangsaan bertema pendidikan di Kota Malang, Jawa Timur, belum lama ini (7/01/2015).

Seminar yang digelar sebagai rangkaian Munas IV Muslimat Hidayatullah itu mengusung tema “Pendidikan Putri Berkualitas Menjamin Lahirnya Generasi Robbani Calon Pemimpin Bangsa”. Seminar ini menghadirkan pembicara lainnya yaitu Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana M.Sc.ES.Ph.D dan akademisi yang juga praktisi pendidikan Prof Dr Imam Suprayogo.

Dalam pemaparannya Nashirul mengutarakan bahwa memilih pasangan pernikahan yang se-visi dalam rangka membangun keluarga yang tentram (sakinah), sarat cinta (mawaddah), dan penuh rahmat (rahmah), merupakan salah satu langkah ikhtiar dalam melahirkan gerenasi Rabbani.

Selain itu, lanjut dia, untuk meretas lahirnya generasi Rabbani, kata Nashirul, muslimat hendaknya meneladani para ibu-ibu muslimat terdahulu di zamannya masing-masing.

“Banyak tauladan perjuangan seorang ibu yang bisa kita contoh dalam melahirkan generasi Rabbani. Diantaranya kisah perjuangan ibunda Hajar, perjuangan Ibunda Khadhijah, perjuangan Ibunda Fatimah binti Muhammad, dan juga Ibunda-Ibunda para ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafii,” kata Nashirul.

Nashirul berharap, keberaan organisasi pendukung (open) Muslimat Hidayatullah ini bisa mewadahi para muslimat supaya dapat lebih optimal dalam membimbing generasi-generasi Islam menjadi generasi rabbani yang kelak turut berkontribusi secara berkelanjutan dalam membangun peradaban mulia dan meninggikan martabat bangsa.

Sementara itu, Prof Dr Imam Suprayogo, menambahkan bahwa kepribadian atau kultur yang menjadi kebiasan orangtua akan berpengaruh terhadap pola tumbah kembang anak di kemudian hari. Namun sayangnya ini tidak banyak disadari.

“Generasi Robbani dilahirkan dari keluarga yang sehat yaitu keluarga yang senantiasa menjaga kehormatannya, baik ayah maupun ibunya,” kata Imam Suprayogo.

Menurut Imam, lahirnya generasi Rabbani yang kokoh imannya dan kuat kepeduliannya tidak bisa instan atau sesingkat yang mungkin banyak orang pikirkan.

Melahirkan generasi Rabbani, lanjut Imam, memerlukan desain yang tidak sederhana karena tidak saja melibatkan sekolah sebagai medium pendidikan formal, melainkan juga menuntut adanya keterlibatan aktif banyak aspek. Tidak saja sehat fisiknya, melainkan sehat pula ruhaninya.

“Harus dimulai sejak awal bertemunya laki-laki dan perempuan yang sah menurut Islam dalam bingkai pernikahan,” kata dia.

Tokoh dibalik berbagai capaian prestisius perguruan tinggi UIN Malang ini mengutarakan, umat Islam sudah lama memimpikan penyelenggaran pendidikan Islam yang konfrehensif. Pendidikan Islam ini diharapkan mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia insan kamil yakni menjadi figur beriman, beramal saleh, serta akhlakul karimah.

Karena itu, menurut Imam, sejatinya pendidikan Islam adalah kebutuhan mutlak. Sebab itu masyarakat pun rela berkorban demi kelangsungan generasi bisa mendapatkan kepengasuhan dan pendidikan berkualitas yang dilandasi dengan asas-asas Islami.

Imam Suprayogo mengatakan hendaknya negara tidak mungkin mengabaikan lembaga pendidikan Islam apalagi melarangnya.

“Generasi Rabbani adalah harapan kita semua yang mudah-mudahan lahir dari sini,” kata Imam Suprayogo.

Senada dengan itu, Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) Prof. Ir. Joni Hermana M.Sc.ES.Ph.D, mengatakan orang tua adalah madarasah pendidikan pertama bagi anak-anaknya.

“Oleh karena itu, pembinaan generasi Robbani yang benar agamaanya dan berorientasi akhirat harus dimulai dari keluarga,” kata Joni Hermana.

Profesor Joni menegaskan, peran seorang ibu dalam keluarga sangat penting untuk membentengi generasi dari perang pemikiran dan hiruk pikuk fitnah akhir zaman yang sedang terjadi sekarang ini.

“Ada beberapa gejala yang tersusun sistematis untuk mencegah lahirnya generasi Rabbani, yaitu dijauhkannya para generasi Islam dari kitab suci Al-Qur’an, masjid dan llmu,” kata dia di hadapan ratusan peserta Munas IV Muslimat Hidayatullah.

Atas kepeduliannya terhadapa masalah generasi muda tersebut, pada akhir Agustus tahun lalu Joni Hermana meluncurkan “Gerakan Shalat Subuh Berjama’ah” di kampus yang ia pimpin.

Melalui “Gerakan Shalat Subuh Berjamaah”, Joni ingin mahasiswa mempunyai misi ketika kuliah. Sehingga kehidupan yang dijalani menjadi barokah.

“Ketika mereka kuliah itu sebenarnya ada misi, tidak sekedar mengejar duniawi seperti gelar atau pekerjaan, itu terlalu kecil,” ujarnya.

Menurut Joni Hermana, ada dimensi lain yang lebih luas, yakni dimensi akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa tujuan manusia diciptakan adalah semata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Karenanya, Joni Hermana mendorong Muslimat Hidayatullah terus menguatkan perannya dalam mengokohkan keluarga. (ybh/hio)

FOTO-FOTO:

Ketum DPP Hidayatullah Nashirul Haq

Imam Suprayogo Pegang Mic Pembicara Secara  Umum Seminar Rektor ITS Joni Hermana

 

Baitul Maal Hidayatullah Kembali Terima SK sebagai Laznas

15 Tahun Berdedikasi, BMH Kembali Terima SK sebagai LaznasHidayatullah.or.id – Baitul Maal Hidayatullah, lembaga amil zakat yang telah berkiprah sejak 2001 kembali dikukuhkan sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 425 Tahun 2015.

Surat Keputusan tersebut langsung diberikan oleh Direktur Pemberdayaan Zakat Kemenag RI Drs. Jaja Jaelani, MM, kepada Ketua Yayasan Baitul Maal Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, MM di lantai 9 Gedung Kemenag RI di Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta (11/1).

Jaja Jaelani dalam sambutannya berharap agar setelah diberikannya SK sebagai Laznas, BMH mampu mendorong terwujudnya optimalisasi dana zakat bagi pemberdayaan umat.

“Dengan diberikannya izin ini, kami berharap agar BMH mampu mewujudkan sinergi dengan muzakki, bagaimana masyarakat bisa menunaikan zakatnya kepada lembaga-lembaga berizin, sehingga dana zakat bisa dioptimalkan untuk umat,” ucapnya.

“Kami juga berharap, BMH sebagai Laznas yang telah mendapat kepercayaan publik agar lebih berupaya untuk semakin baik. Jadi, tolong jaga amanah masyarakat yang telah diberikan kepada BMH. Dan, tentu saja BMH harus semakin lebih baik dan lebih terpercaya lagi,” imbuhnya.

Sepanjang kiprahnya, Laznas BMH memiliki tiga program inti yang terus dikembangkan, yakni Dai Tangguh yang meliputi program penjaringan, pendidikan, penugasan dan pemberdayaan dai, hingga apresiasi berupa umroh dai untuk kategori dai pedalaman, perbatasan, terpencil, terjauh dan terluar dari wilayah NKRI.

Kemudian ada program Senyum Anak Indonesia. Program ini meliputi beasiswa berkah, santunan paket pendidikan. Dan, satu yang baru dimulai dengan bekerjasama dengan Pakar Psikologi Forensik Indonesia, Reza Indragiri Amriel adalah penaanganan anak korban kekerasan. “Dalam skala terbatas, program ini sudah berjalan dengan baik,” ungkap Kepala Humas BMH Imam Nawawi.

Terakhir adalah program Mandiri Terdepan. Program ini meliputi Kampung Berkah Mandiri, Dai Berdaya dan Keluarga Permata Idaman.

“Alhamdulillah dalam bulan ini, ada binaan BMH yang berhasil menyabet penghargaan dalam ajang Santripreneur yang diselenggarakan oleh Bank Syariah Mandiri,” ungkap Kepala Humas BMH Pusat Imam Nawawi.

“Dengan terbitnya SK BMH sebagai Laznas dari Kemenag ini, maka BMH resmi diakui pemerintah sebagai lembaga legal yang bisa menjadi mitra uma Islam dalam penunaian dana Zakat, Infak dan Shodaqoh untuk terwujudnya kecerdasan dan kesejahteraan umat,” ungkap Supendi selaku Direktur Utama Baitul Maal Hidayatullah (BMH). (ybh/hio)

Istri Pendiri Hidayatullah Silaturrahim ke Sumenep

Istri Pendiri Hidayatullah Silaturrahim ke Sumenep (2)
Ibu Aidha Chered (jilbab putih berkacamata) dan Ibu Hindun (jilbab kuning) bersama sejumlah santri dan muslimat Hidayatullah Sumenep / MNA
Istri Pendiri Hidayatullah Silaturrahim ke Sumenep (1)
Pengurus Hidayatullah Sumenep berfoto bersama dengan Ketua Umum Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad dan Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah Syamsuddin (keduanya diapit) / MNA

Hidayatullah.or.id – Dewan Penasehat Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida), Ibu Aidha Chered, yang juga istri pendiri Hidayatullah, almarhum Ustadz Abdullah Said, bersilaturrahim ke Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, Senin (11/01/2016).

Bersama sejumlah rombongan, beliau mampir bersilaturrahim dengan santri dan pengurus Kampus Hidayatullah Sumenep.

Kunjungan Aidha yang turut didampingi oleh Ibu Hindun (istri almarhum Ustadz Manshur Salbu – penulis buku “Mencetak Kader”), ini dilakukan setelah beliau sebelumnya menghadiri Musyawarah Nasional IV Muslimat Hidayatullah di Kota Malang yang digelar selama tiga hari.

Kendati sudah tidak muda lagi dan dengan sejumlah penyakit penuaan yang diidapnya, beliau tetap kuat berkeliling dari kesana-kemari tidak lain semata dalam rangka berbagi inspirasi dan untuk dakwah.

Aidha Chered juga  melakukan silaturrahim ke Pondok Pesantren Bayuanyar, Pamekasan, yang merupakan pesantren tenar dan populer di wilayah tersebut.

Cikal bakal Hidayatullah Sumenep sendiri sudah ada sejak 1996 yang kala itu dirintis oleh kader-kader awal Hidayatullah Jawa Timur yang ditugaskan membuka dakwah di sana.

Berawal dari sebuah rumah kontrakan yang ditempati sekitar 4 tahun, lalu membeli lahan di tengah kota yg kini memiliki luas sekitar 12.000 M2.
Saat ini Hidayatullah Sumenep dipimin oleh Ustadz Warsito.

Saat ini Hidayatullah Sumenep telah menyelenggarakan pendidikan TK dan SD dengan jumlah santri sekitar 400 orang dengan jumlah tenaga pendidik sekitar 40 staf.

Ustadz Warsito mengatakan, dalam tradisinya salah satu yang dijaga adalah silaturahmi ke berbagai pihak, baik individu maupun kelembagaan.
Salah satu hasil silaturrahim adalah brdirinya masjid permanen cukup megah yang disponsori oleh seorang pengusaha yang menelan biaya dana sebesar 1,4 Miliar.

“Dan, dengan donatur yang sama juga membebaskan lahan sebelah timur masjid seluas 1.000 M2 dengan harga 527 juta,” kata Warsito.

Dalam dialognya dengan pengurus Hidayatullah Sumenep, Ustadz Syamsuddin yang merupakan salah seorang perintis Hidayatullah Sumenep dan kini mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, mengingatkan agar terus menjaga kultur silaturrahim yang menjadi sarana dakwah Hidayatullah dimana-mana.

Sementara itu Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad yang turut hadir di kesempatan yang sama menambahkan bahwa dalam perjalanan dakwah, Allah Ta’ala acapkali memberikan kejutan-kejutan menyenangkan yang diantaranya dengan mengirimkan donatur untuk mendanai pembangunan masjid yang saat itu telah mnjadi kebutuhan mendesak pesantren.

Dalam kunjungan ini, Bunda Aidha Chered berpesan kepada ibu-ibu yang hadir menyambut beliau untuk mampu menjadi sosok penyemangat bagi suami, terutama dalam mengarungi perjalanan dakwah yang sarat tantangan ini.

Beliau menuturkan pengalaman pribadi saat menemani Ustadz Abdullah Said merintis Hidayatullah di Balikapapn sekitar 40 tahun silam.

“Kalau bukan karena ingin mendapatkan janji Allah yang lebih besar bagi seorang pejuang, maka susah untuk mendapati Hidayatullah semaju dan sebesar seperti sekarang ini,” pungkas Bunda Aidha mengingatkan. (ybh/hio)