Beranda blog Halaman 604

Sukseskan Munas Hidayatullah, Mushida Lomba Kebersihan

0

kampus hidayatullah gunung tembaklHidayatullah.or.id — Guna mensukseskan Munas Hidayatullah ke-4, Muslimat Hidayatullah (Mushida) Gunung Tembak, Balikpapan mengadakan lomba kebersihan rumah di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Balikpapan, Ahad (25/10/2015).

Lomba yang diprakarsai oleh Departemen Sosial Mushida ini melibatkan seluruh ibu-ibu yang mendiami Ponpes Hidayatullah kampus Gunung Tembak.

Diketahui, dengan luas areal sekitar 120 hektar lebih, warga Ponpes Hidayatullah saat ini mendiami tiga lingkungan Rukun Tetangga (RT). Yaitu RT. 25, RT. 26, dan RT. 27. Semuanya tergabung dalam kelurahan Teritip, Balikpapan.

“Kami berharap dengan lomba kebersihan ini, setidaknya Mushida mengambil peran dalam sukses acara Munas Hidayatullah mendatang,” ujar Maryam, Ketua Departemen Sosial, Mushida Gunung Tembak.

Uniknya, beberapa hari jelang penilaian oleh tim juri, ibu-ibu warga sengaja diberi berkesempatan untuk berbenah dan mempercantik rumah masing-masing.

Untuk itu, Mushida bekerjasama dengan Departemen Pendidikan, memanfaatkan jasa para santri dalam membantu bersih-bersih rumah dan lingkungan sekitar.

Sejumlah santri lalu terlihat turut membantu warga. Mulai dari mengecat dinding rumah, memangkas rumput pekarangan yang meninggi, hingga membersihkan parit di sekeliling rumah.

Ibarat hubungan mutualisme, para santri terlihat girang bekerja. Sebab biasanya mereka akan disuguhi dengan berbagai kue dan penganan ringan usai membantu.

“Iya, tadi saya bersama kawan membantu menyapu halaman rumah warga,” ujar Ahmad, santri Madrasah Tsanawiyah, tersenyum.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Hidayatullah Balikpapan, Zainuddin Musaddad memberi apresiasi dan dukungan penuh kepada program lomba kebersihan Mushida tersebut.

Menurut Zainuddin, kebersihan adalah cermin dari hati dan kondisi keimanan seseorang. Kebersihan rumah dan lingkungan bukan semata karena ada acara Munas atau kunjungan tamu.

“Selain karena acara Munas dan menyambut tamu, yang terpenting adalah sebab kebersihan itu adalah bagian dari iman,” papar Zainuddin di hadapan ibu-ibu, dalam satu kesempatan pengajian.*/Kiriman Sri Hartati, pengajar STIS Hidayatullah Putri, Balikpapan.

Kader Luncurkan Novel dengan Unsur Latar Hidayatullah

0

launching-buku-novel pemburu hidayatullahHidayatullah.or.id — Mushola putri Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan menjadi saksi diluncurkannya novel karya asli Gunung Tembak. Judul buku tersebut yaitu Pemburu-pemburu Hidayah dengan unsur latar cerita (setting) Pesantren Hidayatullah.

Disebut karya asli Gunung Tembak karena penulis, setting, dan karakter tokoh cerita didalamnya adalah santri Hidayatullah Gunung Tembak.

Peluncuran buku dengan seremoni sederhana ini diikuti oleh seluruh santri putri belum lama ini. Launching langsung dilakukan oleh penulisnya Abdul Ghofar Hadi yang juga telah menerbitkan tiga buku sebelumnya.

Dalam pernyataannya, penulis yang juga Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Balikpapan ini mengaku sempat ragu untuk menulis novel. Pasalnya, jelas dia, kesan tulisan fiksi itu sia sia dan tidak menarik.

Namun karena kegemaran penulis, membaca novel, dan seringnya melihat orang orang di bandara atau pesawat yang asyik membaca novel, akhirnya dorongan menulis novel ini tidak bisa dibendung.

“Bahkan novel ini sebenarnya belum intinya. Sebab awalnya akan bercerita tentang kisah cinta santri yang suci, terkait seluk beluk pernikahan mubarakah di Hidayatullah Balikpapan. Namun, karena novel ini sudah tebal yaitu 478 halaman, akhirnya dibuat dwilogi. Insyaallah akan diteruskan edisi berikutnya,” kata Ghofar.

Ghofar mengatakan ingin mengisi kekosongan media dakwah Hidayatullah melalui menulis novel. Sebenarnya, kata dia, sudah banyak buku karya para ustadz yang menjelaskan sejarah, konsep, dan kekhasan di Hidayatullah. Tapi menurutnya sebagian santri dan jamaah agak sulit mencerna dan memahami. Sehingga lahirlah novel ini.

Ghofar menulis novel ini berangkat dari pengalamannya menjadi santri, pengasuh, kepala asrama di putra maupun putri. Berkat pengalaman dan berbagai pembelajaran hidup yang telah dilaluinya, hal ini kemudian turut memperkaya novel.

Ustadz Abdul Ghofar Hadi menyampaikan bahwa menjadi santri Hidayatullah itu hebat luar biasa manfaatnya. Dari proses pendidikan, guncangan dan hasil nya. Maka agar kehebatan santri Hidayatullah bisa menginspirasi orang banyak sehingga perlu diabadikan dalam bentuk buku agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas dan generasi pelanjut.

“Kalau cerita cerita santri ini sekedar diceramahkan di masjid maka yang menikmati adalah jamaah yang hadir, itupun terbatas jumlahnya dan daya ingatnya. Sehingga akhirnya hilang tanpa bekas cerita penuh hikmah dari para santri Hidayatullah,” tukasnya.

Resensi

Judul: Pemburu-Pemburu Hidayah
Penulis: Abdul Ghofar Hadi
Penerbit: Mujahid Press, Bandung
Cetakan: Ke-1, September 2015
Tebal: 490 halaman.

Novel ini menceritakan perjalanan para santri di Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Tentu novel ini tidak bisa mengungkap semua mutiara-mutiara yang terpendam di Pesantren Hidayatullah, namun insyaAllah memberikan inspirasi bagi pembaca.

Para santri yang datang dari berbagai daerah dan dengan latar belakang berbeda-beda. Mereka semua dianggap santri-santri ‘kiriman Allah’. Artinya mereka adalah orang-orang dikehendaki mendapatkan hidayah

Pada awalnya mereka sangat kagum karena kondisi lingkungan islami seperti terasa seperti di dunia lain, ibadahnya sangat ketat, teman dari seluruh nusantara. Namun selanjutnya penulis, Abdul Ghofar Hadi, dan teman-temannya mengalami keguncangan karena lebih sering kerja keras daripada belajar di kelas dan dan banyak aturan.

Kemudian dari disitulah mereka mendapatkan pencerahan tentang sami’na wa atho’na atau kami dengar dan kami taat. Itulah ternyata kunci rahasia untuk bisa bertahan dan berhasil menjadi santri di Pesantran Hidayah.

Petualangan mereka menjadi santri di Pesantren Hidayah penuh dengan liku-liku yang asyik, menegangkan dan sarat dengan hikmah. Seperti bagaimana menundukkan mimbar yang sakral, cerita hantu baru, jalinan cinta santri yang berujung kepada hukuman untuk mendapatkan pensucian, cara mengikis kesombongan, membangun orientasi hidup, virus gajah, mimbar sakral, akhir laga el-clasico dan banyak lagi cerita kehidupan santri.

Kemudian kehidupan di asrama putri juga tidak kalah seru cerita kehidupan mereka. Ada kisah jin aneh, handuk hallo kitty, sepasang kaus kaki, ikan jari dan suksesi ala santri putri.

Setelah beberapa tahun ditempa, mereka mendapatkan Hidayah sehingga cita-cita dan orientasi hidupnya berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain yaitu tugas dakwah Islam ke daerah sebelum menikah. Mereka ingin menebarkan Hidayah Islam ke seluruh umat manusia di seluruh pelosok dunia.

Dalam novel banyak kata-kata nasehat yang menjadi inspirasi bagi para penuntut ilmu dan orang-orang yang sedang memburu hidayah. Bahasa yang digunakan juga cukup populer sehingga mudah dicerna. Kendati cukup tebal, novel ini tepat menjadi salah satu karya referensial yang mengungkap banyak hal tentang Pesantren Hidayatullah.

Redaksi Hidayatullah.or.id merekomendasikan buku novel ini kepada Anda semua. Tidak saja sarat nilai kesejarahan, novel ini sesungguhnya merupakan rangkaian fakta yang terjadi dan dialami sendiri oleh penulis yang disajikan dengan prosa novela yang menggugah bahkan terkadang tak terduga. (ybh/hio)

Santri Hidayatullah Shalat Minta Hujan Bersama TNI Kodam IV

0
KHUSYUK: Ribuan jamaah melaksanakan solat Istisqo di Lapangan Makodam IV/ Mulawarman pada Rabu (28/10). Para jamaah pun memanjatkan doa memohon kepada Allah SWT agar Kota Balikpapan segera hujan. FOTO: ANGGI PRADITHA/KALTIM POST
KHUSYUK: Ribuan jamaah melaksanakan solat Istisqo di Lapangan Makodam IV/ Mulawarman pada Rabu (28/10). Para jamaah pun memanjatkan doa memohon kepada Allah SWT agar Kota Balikpapan segera hujan. FOTO: ANGGI PRADITHA/KALTIM POST

Hidayatullah.or.id — Santri dan warga Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak mengikuti shalat istisqa meminta hujan di di Lapangan Markas Kodam VI/ Mulawarman, kemarin (28/10), ribuan jamaah memanjatkan doa dengan khusyuk. Mereka memohon agar hujan segera datang di Balikpapan.

Di Lapangan Makodam, KH Fajar Ali dari MUI dan dihadiri oleh ratusan santri dan warga dari Pesantren Hidayatullah memimpin 4.500 jamaah untuk salat meminta hujan, diawali salat Duha. Jamaah adalah anggota TNI AD, santri dari Pesantren Hidayatullah dan masyarakat setempat.

Persiapan Keberangkatan Shalat Istisqa ke Markas Kodam Balikpapan. By Febrian Wardhana
Persiapan Keberangkatan Shalat Istisqa ke Markas Kodam Balikpapan. By Febrian Wardhana
Persiapan Keberangkatan Shalat Istisqa ke Markas Kodam Balikpapan. By Febrian Wardhana
Persiapan Keberangkatan Shalat Istisqa ke Markas Kodam Balikpapan. By Febrian Wardhana
Persiapan Keberangkatan Shalat Istisqa ke Markas Kodam Balikpapan. By Febrian Wardhana
Persiapan Keberangkatan Shalat Istisqa ke Markas Kodam Balikpapan. By Febrian Wardhana

Kolonel Kavaleri Ana Supriatna, Irdam VI/Mlw, mengatakan, kegiatan tersebut serentak di seluruh Indonesia. Bertujuan meminta hujan segera diturunkan.

Memang, sepanjang hari yang bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, beberapa daerah di Tanah Air mengadakan salat Istisqa.

Alhamdulillah, berkat kuasa-Nya, pada malam hari Rabu tersebut hujan turun deras di bilangan Balikpapan dan sekitarnya. Curah hujan yang tinggi cukup membuat tanah dan tumbuhan menjadi segar.

Pantauan media ini, hingga hari Ahad awal November ini sejumlah daerah di Kalimantan Timur pun basah. Di Samarinda, Kutai Kartanegara dan sekitarnya, hujan mengguyur dengan intensitas sedang.

Namun, beberapa daerah di luar Kaltim seperti Jakarta masih kekeringan. Tak disinggahi hujan selama beberapa bulan. Kita berdoa semoga masyarakat Indonesia yang masih mengalami kekeringan tetap mendapatkan limpahan rahmat dari Allah Ta’ala, Aamiin. (ybh/hio)

Gemar Silaturrahim, Ustadz Usman Palese Mau Ikut Munas

Almarhum Ustadz Usman Palese (berkopiah putih) saat bersilaturrahim dengan dai di Manokwari, Provinsi Papua / DOK
Almarhum Ustadz Usman Palese (berkopiah putih) saat bersilaturrahim dengan dai di Manokwari, Provinsi Papua / DOK

Hidayatullah.or.id — Dua pekan sebelum Musyawarah Nasional Hidayatullah di Balikpapan digelar, almarhum Ustadz Usman Palese telah memesan tiket pesawat untuk hadir di perhelatan akbar lima tahunan tersebut.

Meski tubuhnya ketika itu sudah amat lemah dan selera makan sudah menurun, semangat beliau untuk bertemu saudara-saudara seperjuangan tetap membara. Beliau memang dikenal sebagai dai yang gemar silaturrahim.

Beliau sempat menghubungi ketua Yayasan Hidayatullah Depok yang juga muridnya, Ustadz Wahyu Rahman, dan meminta tolong agar segera dibelikan tiket pesawat agar bisa ikut acara Munas.

“Beliau minta berangkat tanggal empat,” jelas Ustadz Wahyu Rahman.

Namun, belum sempat tiket itu dibelikan, tiket lain telah juga datang kepada beliau, yakni tiket menuju balik papan yang sesungguhnya. Tiket menuju Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam salah satu ceramahnya yang sempat direkam redaksi Hidayatullah.or.id yang disampaikan beliau pada hari Kamis selepas dzuhur tanggal 17 Februari 2011, Ustadz Usman Palese berpesan bahwa kematian adalah sebuah kepastian.

Maka dari itu, kata belaiu, kita perlu untuk selalu bersiap diri, sebab kematian datang tidak pernah ada yang tahu masanya. Kematian adalah dzikir yang hendaknya harus terus diingat.

Pesan tersebut belaiu sampaikan usai menyalatkan jenazah almarhumah Euis Tejaningsih (38 tahun) istri dari Ustadz Suyudi As’ad, santri senior di Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, hari Kamis tahun 2011 silam.

Ustadz Utsman melanjutkan, orang orang yang sejak awal telah mempersiapkan diri menghadapi kematian serta sudah terlatih dalam menghadapi berbagai macam musibah dan cobaan Tuhan dalam hidup, maka tatkala kematian itu suatu saat benar benar datang, maka ia bukanlah sesuatu yang harus disedihkan.

“Kematian adalah nasehat. Ia datang sekehendak Allah tanpa kita tahu kapan dan bagaimana,” kata Ustadz Usman.

Selamat jalan Ustad kami. Semoga segala perjuanganmu menjadi sebab kecintaan Allah SWT kepadamu, dan Allah SWT memasukkanmu ke dalam Surga-Nya bersama para suhada pembela agamamu. Amin. (Mahladi/Ainuddin)

Sambut Munas IV Hidayatullah, Syabab Gelar Seminar Nasional

seminar syabab hidayatullah riau 2015Hidayatullah.or.id — Diperlukan kesatupaduan gerak semua elemen umat dalam rangka menyongsong lahirnya Indonesia kuat dan berperadaban mulia. Sehingga kemudian upaya integrasi nasional akan mewujudkan keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara.

Demikian kesimpulan mengemuka dalam acara Seminar Nasional Kepemudaan yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Syabab (Pemuda) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) berlangsung di Abdullah Said Hall Komplek Pesanten Hidayatullah Batam, Kepri, Ahad pekan lalu.

Seminar nasional kepemudaan ini merupakan rangkaian acara menyongsong Musyawarah Nasional IV Hidayatullah yang akan digelar awal November mendatang di Balikpapan.

Seminar nasional sehari ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen massa baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, perwakilan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP), dan sejumlah perwakilan unsur Muspida Kota Batam.

Mengusung tema “Menyongsong Kepemimpinan Nasional Berinegritas”, seminar ini membahas sekelumit masalah kebangsaan dan kaitannya dengan peran-peran kepemudaan dengan sekaligus menilik momentum pesta demokrasi yang akan digelar serentak tidak lama lagi.

Hadir sebagai narasumber seminar ini yakni anggota DPD RI Kepulauan Riau Hardi S Hood, anggota Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah Nashirul Haq, Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatulah Kepulauan Riau Jamaluddin Nur dan dipandu oleh Sekjen PP Syabab Hidayatullah Suhardi Soekiman.

Sedianya seminar ini dibuka oleh keynote speaker Wakil Ketua DPD RI Prof. DR. Farouk Muhammad. Diketahui tokoh nasional ini adalah akademisi pernah menjabat Rektor Universitas Bung Karno dan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Namun jelang hari H, Farouk yang juga Sekretaris Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Pertahanan dan Keamanan ini menginformasikan kepada panitia melalui surat resmi tidak bisa hadir karena mendadak harus menggantikan Ketua DPD RI memimpin rapat persiapan Sidang Paripurna di Senayan.

Pembicara Hardi S Hood dalam pemaparannya mengatakan salah satu tantangan besar yang dihadapi anak muda kendatipun hal ini masih dianggap biasa, adanya gejala diantara kalangan pemuda yang adiksi internet.

Hardi mengemukakan dampak dari gejala adiksi ini. Dia mencontohkan, Tiongkok (Cina) diperkirakan memiliki sekitar 24 juta “web junkie” atau pecandu internet dari sekitar 649 juta populasi online di negeri itu. Mirisnya, kata Hardi, pencandu internet ini adalah anak-anak muda.

Biasanya pecandu internet ini sering menghabiskan waktu di dunia maya yang akhirnya melewatkan sekolah, atau bahkan jarang meninggalkan kamar tidur karena sibuk beraktivitas di ranah internet.

Tak heran, kata Hardi, di Tiongkok banyak bermunculan klinik dan pusat pelatihan ala militer untuk mengakomodir para pecandu internet yang ingin rehabilitasi.

Serupa di Jepang, jelas Hardi, mengutip suatu sumber terkonfirmasi, pusat-pusat rehabilitasi didirikan menyusul laporan yang menyebutkan bahwa ratusan ribu remaja di negeri sakura telah kecanduan akut dunia nyata dan lebih giat berinternet dengan tujuan yang tidak produktif seperti game dan sejenisnya.

“Bukan tidak mungkin gejala serupa juga terjadi di Indonesia, bahkan itu sangat mungkin. Kalau pemuda tidak segera mengambil peran aktif dan produktif, maka anak-anak muda bangsa ini bisa jadi hanya menjadi konsumen pasif,” kata Hardi.

Setali tiga uang dengannya, Nashirul Haq menilai kepemimpinan yang berintegritas harus dimulai dari menyiapkan dan serta membangun pribadi sumber daya manusianya. Karenanya, kata Nashirul, peran lembaga pendidikan menentukan dalam melahirkan pemimpin yang berintegritas.

“Dengan terbangunnya budaya ilmu dan tegaknya iman yang zero interest selain mengharap ridha Allah Ta’ala, maka kita bisa mengatasi berbagai macam persoalan bangsa. Karena itu dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan yang baik, diharapkan bisa membantu pemerintah untuk melahirkan pemimpin bangsa yang beriman dan berakhlak baik,” jelas Nashirul.

Sementara pemaparan Jamaluddin Nur yang didapuk menjadi pembicara pamungkas seminar ini menitikberatkan pembahasannya pada figur pemuda pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said.

Menurut Jamaluddin, apabila menelaah sejarah pergerakan serta kiprahnya, Abdullah Said merupakan tokoh Islam kontemporer dengan ide Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) yang digagasnya yang berlandas pada konsepsi propetik diutusnya Muhammad sebagai nabi. Konsepsi itu yakni, jelas dia, adanya spirit menjadi umat penyelaras yang dengannya berlangsung secara sinergis peran pengabdian keummatan dan kebangsaan sekaligus.

“Almarhum Abdullah Said, menurut saya, adalah salah satu tokoh teladan inspiratif yang relatif secara konfrehensif mampu memanifestasi ide Islam berperadaban yang digagasnya seraya merelasikannya dengan realitas kemajemukan. Tentu tetap ada kekurangan, tetapi setidaknya beliau telah menunjukkan bahwa beginilah Man of Action itu,” ujarnya.

Menurut Jamaluddin, menyongsong lahirnya kepemimpinan nasional berintegritas bukanlah ilusi. Hanya saja, menurut dia, harapan-harapan tersebut tidak boleh berhenti semata wacana di permukaan.

Karenanya, Jamaluddin berharap pemuda Indonesia, khsusunya pemuda Islam, harus melakukan apa yang disebutnya sebagai demonstrasi kultural. Yakni, jelas dia, adanya upaya peragaan secara massif menegakkan nilai-nilai luhur moralitas.

“Pemuda harus melakukan demonstrasi kultural yang disana kemudian terperaga apa yang saya sebut dengan demonstrasi spiritual, demonstrasi intelektual, dan demonstrasi sosial,” kata Jamaluddin.

Sekjen PP Syabab Hidayatullah Suhardi Soekiman yang memandu seminar ini memungkasi bahwa Hidayatullah yang telah memasuki usia lebih dari empat dekade memiliki banyak tantangan di masa mendatang.

Tidak saja internal, tetapi juga Hidayatullah harus mampu merespon dan mensolusi berbagai dinamika eksternal. Sehingga diharapkan pada Munas IV Hidayatullah ini dapat ditelurkan beragam rekomendasi yang bernilai maslahah untuk umat.

“Lebih dari itu, problem-problem kebangsaan yang terus mendera menjadi tantangan generasi muda hari ini. Tidak sederhana memang, tapi bagaimanapun sebagai pelanjut estafeta kepemimpinan ini harus dihadapi,” ujar Suhardi.

Ketua PW Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau Zaenal Arifin mengatakan acara seminar ini akan terus ditindaklanjuti pihaknya diantaranya akan menggelar dialog kepemudaan dan berbagai program lainnya di wilayah tersebut. (ybh/hio)

Ustadz Usman Palese Wafat, Ormas Hidayatullah Berduka

Almarhum Ustadz Usman Palese / Photo Credit: Abdul Syakur
Almarhum Ustadz Usman Palese / Photo Credit: Muhammad Abdul Syakur

Hidayatullah.or.id — Jelang pelaksanaan Munas IV, keluarga besar Hidayatullah dirundung duka. Salah seorang perintis Hidayatullah, Ustadz Usman Palese berpulang ke Rahmatullah, Selasa (27/10/2015) pagi dinihari, pada usia 70 tahun.

Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, sang ustadz menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sekitar pukul 01.45 WIB.

Sebelumnya, Ustadz Usman dirawat intensif di RS tersebut sejak Senin (26/10/2015) sekitar pukul 12.31 WIB. Bahkan sempat masuk ruang ICU.

Menurut putra kedua almarhum, Fadli Usman, dari keterangan dokter saat itu, di kepala Ustadz Usman ada pendarahan. Tapi kondisinya masih sadar.

“Cuma di kepala saja, ada pendarahan, mungkin saraf kali, mungkin pernah jatuh dimana gitu pas kita nggak tahu,” ujar Fadli.

Beberapa tahun belakangan ini, Ustadz Usman mengalami penurunan kesehatan yang kompleks. “Faktor usia,” tambah Fadli.

Jenazah disemayamkan di kediamannya, kompleks Pesantren Hidayatullah Depok, Jl Raya Kalimulya, Cilodong. Belaiu dimakamkan di Pemakaman Umum Kalimulya, dekat pesantren. Sejumlah pelayat berdatangan dari Depok, Jakarta dan beberapa daerah; seperti Balikpapan.

Lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan tahun 1945, almarhum Usman Palese meninggalkan 1 istri, Nur Hudayah Yusuf (55) dan 6 putra-putri, yaitu Kholid Usman (40), Fadli Usman (37), Abbas Usman (36), Farid Usman (34), dan kembar Faizah (31)-Fauziah (31).

Selain Farid -yang tengah berada di Balikpapan, semua anak almarhum berkumpul di Depok sejak Senin melepas beliau ke pemakaman.

Luwes tapi Tegas

Semasa hidupnya, Usman merupakan sahabat Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said.

“Beliau bersama Abdullah Said ke Jawa untuk menemui ulama sebelum berdirinya Hidayatullah,” terang Kholid.

Dalam dakwahnya, Ustadz Usman dikenal luwes, lembut, namun tegas. Prinsip tersebut seringkali ia pesankan kepada para kadernya untuk dijaga.

Menurut Ustadz Usman, dai harus bisa menempatkan diri secara proporsional dan bersikap profesional kapan dan di mana pun.

Profesional yakni dai harus memiliki keandalan serta kepandaian khusus untuk menjalankannya karena profesi ini bersentuhan langsung dengan umat. Adapun proporsional, dai mesti bisa menempatkan diri dengan seimbang dan memiliki kecakapan sosial.

Contohnya, adakalanya seorang pendakwah menghadapi para pejabat negara. Saat begitu, dai tidak boleh sembarang bersikap, ada trik dan tips khususnya. Setidaknya, hal yang perlu dilakukannya adalah bersikap luwes tapi tegas.

Hal itu dikatakannya kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan V Hidayatullah Training Center (HiTC) di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, 29 Oktober 2014 lalu.

Dalam ceramah usai shalat Shubuh itu, Ustadz Usman mencontohkan sikap luwes yang dimaksud. Misalnya, kata dia, dai tidak melulu memakai baju koko.

“Sekarang bagaimana kita kalau ke kantor-kantor pemerintah jangan pakai baju koko. Pakai baju berkerah (kemeja, red),” ujarnya

Misalnya pula, kata dia, seorang dai pandai-pandai menempatkan suasana dalam pembicaraan. Ada saat serius, ada saat bercanda.

Meski luwes, menurutnya, seorang dai sepatutnya bersikap tegas, termasuk saat di rumah para pejabat.

“Jadi kita di sana siap meniru (luwes, red), siap menahan kalau nggak perlu (akan sesuatu),” pesan anggota Majelis Pertimbangan Pusat Hidayatullah ini.

Keluwesan dalam berdakwah, diakui Dzikrullah, yang pernah bersama almarhum.

“Saya terkagum-kagum pada kemampuan bahasa Minang yang cepat dikuasai Ustadz Usman Palese rahimahullah. Begitu juga pendekatannya yang luwes di kalangan ninik mamak, ulama dan cerdik pandai Minangkabau,” ujar Dzikrullah.

Usman Palese juga berpesan agar para dai tidak lepas dari wirid. “Wirid itu andalan, warisan dari nabi-nabi,” ujarnya kala itu.

Ustadz Usman terakhir membaktikan diri sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat Hidayatullah. Ia juga masih tercatat sebagai dosen di STIE Hidayatullah Depok.* (Skr/Hidcom)

TNI Latih PBB Santri Pesantren Hidayatullah Jayapura

Babinsa Koramil 1701-22Muara Tami Latih PBB Santri Pesantren Hidayatullah Jayapura (1) Babinsa Koramil 1701-22Muara Tami Latih PBB Santri Pesantren Hidayatullah Jayapura (2)Hidayatullah.or.id — Dalam rangka menanamkan disiplin dan cinta tanah air sejak dini, Bintara Pembina Desa Komando Rayon Militer (Babinsa Koramil) 1701-22/ Muara Tami memberikan pelatihan Peraturan Baris Berbaris (PBB) kepada santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, Papua, yang terdiri dari siswa SD, SMP dan SMA yang dipimpin langsung oleh Danramil Muara Tami Lettu Inf S. Kadir.

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap hari Sabtu pagi dan telah dimasukkan dalam jadwal pelajaran ekstrakulikuler di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Kampung Holtekamp Distrik Muara Tami Kabupaten Jayapura.

Bertindak sebagai pelatih adalah Serda Saharuddin yang merupakan Babinsa Kampung Holtekamp serta didampingi oleh Ustad Maryudi Kurnia, SPdi selaku guru pendamping Yayasan Hidayatullah dan Lettu Inf. S. Kadir selaku Danramil 1701-23/Muara Tami.

Danramil Muara Tami Lettu Inf S. Kadir menyampaikan pelatihan ini merupakan program binter yang dilaksanakan oleh Koramil Muara Tami yang bertujuan melatih disiplin dan cinta tanah air kepada generasi muda dalam hal ini santri Pondok Pesantren Hidayatullah. Selain PBB santri juga diberikan materi 4 pilar kebangsaan dan Bela negara, demikian ungkapnya.

Ustad Maryudi Kurnia sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh TNI untuk melatih PBB santri. Beliau sangat berterima kasih dan berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan sehingga santri menjadi mahir PBB dan punya jiwa yang nasionalis yang tinggi. (mil/ybh)

Bankaltim HUT ke-50 Tahun di Ponpes Hidayatullah Bontang

0

Bankaltim Syukuran HUT ke-50 Tahun di Ponpes Hidayatullah BontangHidayatullah.or.id — Semarak kemeriahan Hari Ulang Tahun (HUT) Bankaltim ke-50 tahun menular hingga ke Kota Bontang. Berbagai macam kegiatan pun digelar Bankaltim cabang Bontang di tahun emasnya tersebut, mulai dari donor darah, bakti sosial, resepsi dan syukuran bersama nasabah, hingga gathering family.

Rangkaian kegiatan yang mengambil tema ‘Sinergitas di Tahun Emas’ ini diawali dengan donor darah. Acara yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Bontang ini dilaksanakan Senin, 12 Oktober lalu dengan mendapatkan 30 kantong darah.

Esok harinya, Selasa (13/10) Bankaltim cabang Bontang menggelar anjangsana dan bakti sosial Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang yang beralamat di Jl Imam Bonjol, Gunung Sari, Bontang Utara.

Menurut Pimpinan BPD Kaltim Cabang Bontang Sayid M Hanafiah, kegiatan anjangsana dan bakti sosial ini sebagai ungkapan syukur dan berbagi kepada pihak-pihak yang membutuhkan di usia Bankaltim yang sudah memasuki 50 tahun.

“Ini bentuk ucapan syukur kami atas usia ke-50 tahun, kami berusaha membagi rezeki yang didapat kepada adik-adik yang kurang mampu,” tambah Sayid.

Selain kedua acara tersebut, Sayid melanjutkan, Bankaltim memberikan pelayanan berupa resepsi atau syukuran bersama nasabah yang bertransaksi di Kantor Bankaltim Cabang Bontang pada Kamis, 15 Oktober. Para nasabah disediakan makanan ringan sembari menunggu bertransaksi di Bankaltim saat itu.

“Nasabah adalah bagian dari Bankaltim, makanya kami sengaja menyediakan makanan saat mereka bertransaksi,” imbuh dia.

Terpisah, Wali Kota Bontang, Adi Darma mengapresiasi Bankaltim cabang Bontang. Pasalnya, selama ini, bank pelat merah tersebut memberikan dampak positif bagi pertumbuhan, perekonomian serta pembangunan di Kota Taman. Bahkan, kehadiran Bank BPD Kaltim juga menjadi salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Menurut Adi Darma, kehadiran lembaga keuangan bank seperti Bank Kaltim cabang Bontang merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan ekonomi masyarakat. Sebagai bank pemerintah, Wali Kota meminta agar Bank Kaltim cabang Bontang memberikan porsi keberpihakan yang lebih besar bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Peranan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sangat besar dalam mendukung stabil dan mampu memperkuat perekonomian nasional, tak terkecuali di Kota Bontang.

Senada dengan itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Ustadz Muhammad Nurdin AR, dalam kesempatan tersebut mengatakan Bank Kaltim tidak saja telah berkontribusi dalam mendukung perkembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga telah turut menjadi perusahaan daerah pemerintah yang berkontribusi positif terhadap berbagai program sosial Pesantren Hidayatullah Bontang.

“Mewakili keluarga besar Pesantren Hidayatullah Bontang, kami memberi apresiasi yang tinggi kepada Bank Kaltim khususnya cabang Bontang yang telah mendukung upaya pemberdayaan ekonomo dan menopang penyelenggaran program sosial masyarakat yang membutuhkan,” kata Ustadz Muhammad Nurdin.

Sekadar informasi, BPD Kaltim atau Bankaltim sebagai salah satu Perusahaan Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Kaltim yang didirikan 14 Oktober 1965 tepat pada tanggal 14 Oktober 2015 kemarin merayakan hari ulang tahun ke-50 tahun. (klik/ybh)

Selamat Hari Santri Nasional

0

selamat hari santri nasional 22 oktoberHARI INI, 22 Oktober 2015 media ramai bicara santri, karena memang sejak era Presiden Jokowi hari ini ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Sebagai orang yang pernah jadi santri saya melihat ini suatu ‘keuntungan’ tersendiri, meski sebenarnya kontribusi santri terhadap negeri ini telah jauh terdedikasikan jauh sebelum Republik ini berdiri.

Tetapi biarlah ini menjadi dari fakta sejarah indah tentang pelajar Islam, khususon para santri. Baiklah saya akan bicara tentang santri sebatas pada apa yang pernah saya alami. Pertamakali saya disebut santri ketika resmi ikut mengaji di madrasah di kampung saya di Jember Jawa Timur.

“Makanan santri” kala itu adalah ngaji Al-Qur’an, ngaji kitab, manaqiban, serokalan, barzanjian, sholat berjama’ah, belajar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), sampai belajar tentang hitungan hari, yang hingga kini kuingat seperti, “Aboge ahad pono jaah pon jasa pahing, daltu ge kamis legi wan nen won jangah giyo”.  Itu semua ada maknanya dalam hitungan hari dalam filsafat Jawa. Untuk menjelaksan maknanya, yaitu tadi, saya hanya ingat syi’irnya saja, karena memang dilagukan.

Selain itu, ustadz saya dulu di madrasah, Ustadz Jami’an namanya menanamkan kepada para santrinya tentang pentingnya adab, terutama kepada guru dan ilmu (tentu nomor satu terhadap orang tua). Beragam kisah takzimnya murid kepada guru pun sering sekali diperdengarkan, agar saya bersama teman-teman santri lainnya bisa meneladaninya.

Tentang seperti apa takzim itu, tweet Ustadz Fauzil Adhim yang baru 3 hari lalu saya bertemu beliau di Pesantren Hidayatullah Depok saya pikir sangat membantu menjelaskan. Berikut tweet beliau tentang pentingnya adab seorang santri terhadap guru dan ilmu.

“Ini kisah masyhur KH. Munawwir Krapyak. Suatu saat beliau jumpai seorang #santri kurang sopan meletakkan Al-Qur’an. Seketika dipulangkan, >> > padahal #santri tersebut sudah hafal 25 juz. Tapi su’ul adab terhadap Al-Qur’an itu berat. Inilah penjagaan akhlak santri di masa lalu.

Kisah KH. Munawwir Krapyak ini hanyalah satu dari sekian banyak pelajaran tentang #santri di masa lalu. Ini pula yang perlu kita perhatikan. Sebaliknya, kita jumpai sangat banyak teladan tentang kesabaran menghadapi #santri bengal, tetapi masih menunjukkan kemauan untuk baik.

Tak sedikit #santri yang sangat nakal, kelak menjadi sosok yang sangat ‘alim. Selain sabarnya Kyai, juga ada adab terhadap ilmu & ulama. Ada pelajaran besar dari urutan belajar para #santri masa dulu. Adab dulu, adab terus, baru ilmu. Adab itu termasuk terhadap ilmu & ulama.

Tinggi ilmu rendah adab sangat berbahaya. Ini dapat menjadi pintu kehancuran, meskipun ia memiliki keluasan wawasan agama. #santri ”

Saya masih ingat, ada teman yang langsung dihukum rotan hanya karena dia membawa Al-Qur’an dengan cara ditenteng. “Wus diajari, nek nggowo Al-Qur’an itu kudu dicekel nang dodo, ojo koyok nggowo buku utowo Qur’an ngunu iku. Angkat sarungmu, cetat, cetat, cetat (bunyi rotan menghantam betis),” begitulah kira-kira kalimat dari guruku mengingatkan.

Selain itu, sholat berjama’ah. Zaman itu, saya punya kartu tanda hadir sholat berjama’ah yang disebut dengan istilah Pepel. Jika dhuhur dan ashar tidak ke masjid, sudah barang tentu ustadz akan tahu, karena Pepel-nya tidak ada. Jika tidak ada, panggil dan rotan lagi hehe. Tapi tradisi saya kecil di madrasah ini membantuku saat belajar di Pesantren Hidayatullah yang memang standar nilai utamanya ya sholat berjama’ah.

Keajaiban

Santri itu kalau dalam pandangan teori saintifik Barat pasti dipandang tidak keren. Meski sejarahnya ya santri juga yang bisa ngusir penjajah Belanda. Tetapi, inilah fakta, santri itu selalu memiliki keajaiban.

Seperti yang terjadi pada temen saya waktu jadi santri di Pesantren Hidayatullah Kutai Kartanegara. Ada namanya Agus Kumala. Anak dari ujung kampung, jauh dari kota, eh kini bisa lanjut studi S2 ekonomi Islam di Pakistan. Aneh bukan. Padahal, kalau dirununt dari sejarahnya, gak mungkin deh ada jalurnya kesana.

Gimana coba, hari-hari kerjanya angkat semen, cetak batako. Pagi dan sore cuman bersihin masjid. Udah itu malam ngaji eh tidur. Besok bangun, tanam singkong, siang dikit angkat semen lagi. Tetapi inilah fakta santri. Selalu ada dan memiliki keajaiban tersendiri. Sekarang, setiap ada buku baru dia tak pernah lupa email ke saya file pdf-nya. Subhanallah.

Lebih ajaib lagi Ibn Hajar Al-Asqalani yang tumbuh menjadi ulama besar dalam sejarahnya bukan termasuk ‘santri’ cemeerlang. Tetapi karena ketakziman luar biasa terhadap sang guru dan ilmu, dalam keputusasaan ia justru menemukan ilham yang mencerahkan.

Sayangnya, keajaibanku sebagai santri gak keren-keren amat, jadi malu kalau dishare juga di sini, hehe. Tetapi, sebagai sebuah pesan untuk bersama mencerdaskan bangsa, santri itu bukan semata bagian fundamen dari negeri ini, santri itu melekat kuat tradisi ilmu dalam Islam, dimana ilmu tak semata dihafal, tetapi dihormati dan diamalkan dengan sekuat tenaga memuliakan guru.

Pada akhirnya, kita berharap di tangan santrilah peradaban Islam di Indonesia ini bisa diwujudkan. Dan, kepada seluruh santri se-Indonesia, saya memohon untuk turut serta mendoakan Musyawarah Nasional Hidayatullah IV di Balikpapan yang mengangkat tema Membangun Moralitas Bangsa Menuju Kesejahteraan Umat. Di Hari Santri Nasional mari hidupkan kembali tradisi ilmu, tradisi adab untuk Indonesia yang maju, adil, makmur dan beradab.*/Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Muharram Education Fair Dipuji sebagai Wahana Pembelajaran

0
muharram education fair 1437 - 2015 (2)
Anggota Dewan Syura Hidayatullah, Drs Nursyamsa Hadits, berbincang santai dengan Wakil Walikota Depok KH Idris Abdul Somad, disela-sela pembukaan acara Muharram Education Fair (MEF) 1437-2015 di Komplek Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.
muharram education fair 1437 - 2015 (1)
Wakil Walikota Depok KH Idris Abdul Somad membuka gelaran MEF 2015 di Kota Depok

Hidayatullah.or.id — Pemerintah Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan Muharram Education Fair (MEF) yang kali ini kembali digelar di Kota Depok untuk kali ketiga sejak digagas sejak 2013 lalu.

Wakil Walikota Depok Idris Abdul Somad saat membuka acara ini memuji kegiatan MEF dan mengatakan sangat mendukung program edukatif ini.

“Saya atas nama pribadi dan atas nama pemerintah menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan Muharram Education Fair ini,” kata Idris saat membuka acara yang digelar intensif selama 2 hari ini di Komplek Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad (17/10/2015).

Idris mengatakan, selain sebagai media pembelajaran dan membangun kompetensi siswa/siswi, MEF juga merupakan wahana pendidikan bagi anak anak kita lewat beragam hobi, seni, dan hal hal yang memang disukai anak anak.

Diketahui, dalam ajang MEF yang digelar dalam rangka merayakan Tahun Baru Islam Hijriyah ini digelar berbagai cabang perlombaan untuk segala tingkatan baik SD, SMP, maupun SMA atau sederajat.

Ragam pertandingan diantaranya lomba cerdas cermat, lomba tahfidzul Qur’an, lomba pidato bilingual Arab dan Inggris, futsal, nasyid, dan sebagainya. Juga ada kegiatan pameran pendidikan berupa stand-stand dan sejumlah kegiatan outdoor yang menghibur untuk siswa dan wali siswa.

Pada kesempatan tersebut Idris juga menyampaikan sejumlah prestasi yang telah berhasil diraih oleh Kota Depok khususnya di bidang pendidikan.

Namun demikian, ia juga mengakui masih terdapat banyak kekurangan yang mesti dituntaskan seperti upaya peningkatan kualitas pendidikan dari sisi sarana dan prasarana.

Idris mengemukakan tantangan yang cukup berat dihadapi lembaga pendidikan khususnya di Kota Depok adalah pengawasan dan kontrol sosial, terutama dalam mengantisipasi merebaknya peredaran narkoba.

“Anak anak sekolah di Depok ini khusunya tingkat SLTA atau SMA tatangannya semakin berat lagi karena adanya data tingkat penggunaan narkoba yang pada tahun 2013 hanya sekitar 260 kasus, tahun 2014 meningkat menjadi 300 kasus. Ini merupakan tantangan bagi kita sebagai sebuah kota kecil di tengah-tengah kota metropolitan lainnya,” kata Wakil Walikota.

Dengan luas 200,29 kilo meter persegi, Depok sejatinya adalah kota kecil. Namun, kata Idris, tingkat pertumbuhan penduduk kota ini terus meningkat. Bahkan data terakhir yang hanya 3,4 persen pertahun, sekarang sudah 4,2 persen pertahun pertambahan tingkat penduduknya.

“Nah, ini juga merupakan tantangan bagi Depok ke depan bahwa kita harus memberdayakan kekuatan sumber daya manusia (SDM),” kata Idris.

Dia menambahkan lebih dari 1.700.000 total penduduk kota Depok mayoritas adalah usia produktif antara 14 hingga 59 tahun. Bahkan, sebutnya, 70 persen dari mereka adalah anak anak muda.

“Kegiatan Muharram Education Fair ini semoga dapat menjadi wahana pembelajaran untuk lahirnya sumber daya manusia yang kuat dan berdaya,” pungkasnya.

Muharram Education Fair merupakan ajang tahunan yang digagas pertama kali oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat. Tahun ini merupakan kali ketiga kegiatan ini digelar sejak dihelat tahun 2013 lalu yang kala itu dibuka oleh Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail.

Pantauan di lokasi‎ acara, tampak beberapa titik stand yang memajang profile pendidikan khususnya institusi yang ada di lingkungan Pesantren Hidayatullah Depok. Selain itu juga ramai lapak-lapak kuliner yang umumnya diniagakan oleh wali siswa dan sebagainya. (ybh/hio)