Beranda blog Halaman 61

Kejujuran dan Keberanian Warisan Nabi untuk Generasi Harapan Bangsa

0
Foto: Muhammad Zuhri Fadhlullah/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kejujuran menjadi pondasi yang tak tergantikan dalam kepemimpinan. Amanah itu, menurut Ust. H. Zainuddin Musaddad, M.A., adalah titipan agung yang tidak mampu dipikul oleh langit, bumi, dan gunung, namun disanggupi oleh manusia.

“Kejujuran menjadi amanah yang harus dijaga, sebab manusia ditugaskan memikul amanah yang ditolak langit, bumi, dan gunung. Dengan kejujuran, lahirlah generasi jawaban dan harapan bagi bangsa,” kata pria yang karib disapa Abah Zain ini.

Abah Zain menyampaikan refleksi itu dalam ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jakarta, Jl. Ampera Raya, Jakarta Selatan, Sabtu, 13 Rabi’ul Awal 1447 (6/9/2025).

Acara ini mengangkat tema “Spirit Maulid Nabi Muhammad SAW: Kejujuran & Keberanian” dan dihadiri oleh seluruh civitas akademika. Kegiatan juga dirangkai dengan pergantian Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Atta’lim Kampus IPDN.

Abah Zain membuka ceramah dengan menekankan pentingnya sholawat sebagai energi spiritual. Menurutnya, sholawat menghadirkan ketenangan, mengurangi stres, serta menjadikan ibadah, interaksi sosial, dan kehidupan keluarga terasa lebih nikmat.

“Sholawat adalah sumber energi yang menumbuhkan cinta kepada sunnah Rasulullah,” jelasnya.

Ia kemudian menguraikan teladan para sahabat Nabi sebagai contoh kejujuran yang membentuk pribadi mulia. Bilal bin Rabah, misalnya, dari seorang budak miskin dipercaya menjadi gubernur Mesir.

“Bilal membangun masyarakat dengan kejujuran,” ucapnya. Teladan lain adalah Saad al-Anshari, sahabat miskin yang diutus ke Suriah dan dikenal dengan gelar nuruz zaman atau cahaya zaman.

Kejujuran juga mengubah Umar bin Khattab dari pribadi keras menjadi sahabat mulia setelah tersentuh ayat Al-Qur’an.

Sedangkan Umar bin Abdul Aziz, hanya dalam tiga tahun kepemimpinan, berhasil membersihkan praktik korupsi dan menegakkan keadilan. “Semua itu berkat keberanian dan kejujuran,” tambahnya.

Menurut Abah Zain, kejujuran adalah pondasi yang lebih utama daripada kecerdasan. Kebiasaan sederhana untuk tidak berbohong, lanjutnya, akan membentuk pribadi yang berani, berwibawa, dan penuh berkah.

Foto: Muhammad Zuhri Fadhlullah/ Hidayatullah.or.id

Tanpa kejujuran, tegasnya, kepintaran justru dapat menjadi bencana. “Seribu orang pintar tidak berarti jika tanpa kejujuran,” terang Abah Zain yang juga Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah ini.

Pada kesempatan itu pesan khusus disampaikan kepada mahasiswa dan generasi muda agar tidak hanya berfokus pada kepintaran.

Ia menekankan bahwa kejujuran adalah energi yang menghidupkan, sementara keberanian adalah kekuatan yang menggerakkan. Pemimpin sejati, tegasnya, lahir dari kejujuran, bukan dari kepintaran semata.

“Jadilah generasi jujur dan berani, bukan hanya pintar,” pesannya.

Taushiyah Maulid Nabi tersebut ditutup Abah Zain dengan doa dan harapan agar Indonesia melahirkan pemimpin-pemimpin yang jujur dan berani.

Ia menegaskan, peringatan Maulid Nabi di IPDN ini tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga pengingat pentingnya nilai kejujuran dan keberanian sebagai dasar membangun bangsa serta relevan dalam membentuk generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dengan integritas dan keberanian moral.

“Warisan terbesar Rasulullah SAW adalah kejujuran. Kejujuran yang dipadukan dengan keberanian akan melahirkan pemimpin yang adil, berwibawa, dan membawa keberkahan,” pungkasnya.

Audit Halal di Empat Kota Korea, LPH Hidayatullah Tegaskan Peran Strategis

0

KOREA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah memperluas kiprahnya di tingkat internasional melalui rangkaian pemeriksaan halal di Korea Selatan. Langkah in didukung oleh peran HIDAKO sebagai jembatan komunikasi dan budaya.

Kehadiran keduanya memfasilitasi koordinasi hingga penyesuaian regulasi antarnegara. Inisiatif ini menegaskan peran strategis Indonesia dalam ekosistem halal dunia.

Selama empat hari, 1–4 September, tim melakukan audit di empat lokasi berbeda yaitu Seosan, Gimcheon, Nonsan, dan Hongcheon.

Kegiatan ini melibatkan pelaku usaha internasional untuk memastikan pemenuhan standar halal yang diakui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) maupun standar halal global.

Pemeriksaan dilakukan auditor senior LPH Hidayatullah, Gunardi Indrawan, dengan kehadiran Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal Thamrin, serta perwakilan resmi LPH Hidayatullah di Korea, HIDAKO (Hidayatullah Korea), Mr. Kangjae Lee. Sinergi lintas negara ini disebut sebagai bukti penting dalam membangun kepercayaan dunia terhadap produk halal.

Proses pemeriksaan mencakup pengecekan bahan baku, alur produksi, serta kelengkapan dokumen halal.

Dalam keterangannya, Muhammad Faisal menjelaskan, pemeriksaan di Korea ini merupakan bagian dari upaya LPH Hidayatullah untuk memperluas jaringan global dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat sertifikasi halal yang terpercaya.

“Kami ingin memastikan bahwa produk yang memasuki pasar halal Indonesia memiliki kualitas terbaik dan memenuhi standar yang berlaku,” kata Faisal.

Dukungan senada datang dari HIDAKO. Menurut Mr. Kangjae Lee, kerja sama dengan LPH Hidayatullah memberikan keyakinan tambahan bagi pelaku usaha Korea bahwa produk mereka telah memenuhi standar halal internasional.

“Kehadiran tim auditor dan pemeriksaan langsung ini memperkuat kepercayaan konsumen global terhadap kualitas produk,” ujar Mr. Kangjae Lee.

Gunardi Indrawan menambahkan apresiasi terhadap kesiapan pelaku usaha di Korea. Menurutnya, perusahaan-perusahaan di Korea menunjukkan kesigapan luar biasa dalam menyiapkan seluruh bahan, proses produksi, dan dokumen pendukung.

“Hal ini memudahkan tim kami memastikan terpenuhinya standar halal internasional,” ujarnya.

Pesantren Hidayatullah Sambut Hangat Kehadiran Kepala Kejaksaan Negeri Muaro Jambi

0

MUARO JAMBI (Hidayatullah.or.id) — Kejaksaan Negeri Muaro Jambi melaksanakan kegiatan bakti sosial di Pondok Pesantren Hidayatullah, sebuah agenda yang bertujuan mempererat hubungan silaturahmi antara institusi penegak hukum dan lembaga pendidikan keagamaan, Kamis, 12 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Muaro Jambi, Heru Anggoro, S.H., M.H., beserta istri dan jajaran pegawai kejaksaan. Turut hadir pula Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jambi, Ustaz Arif Abidin, yang menyambut rombongan dengan penuh kehangatan.

Dalam sambutannya, Heru Anggoro menekankan pentingnya hubungan berkesinambungan antara lembaga pesantren dengan kejaksaan. “Semoga terjalin silaturahmi yang berkelanjutan antara pesantren dan kejaksaan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan dorongan moral kepada para santri agar terus mengembangkan diri melalui pendidikan.

“Kami berharap para santri lebih giat dalam belajar, sehingga kelak mampu menjadi generasi yang berkontribusi positif bagi bangsa,” tambahnya.

Sementara itu, Ustaz Arif Abidin menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan Kejaksaan Negeri Muaro Jambi. Ia menegaskan bahwa kehadiran aparat negara di tengah-tengah santri memberikan semangat tersendiri bagi mereka.

“Kami berterima kasih atas kehadiran Bapak Kepala Kejaksaan Negeri Muaro Jambi beserta rombongan yang juga meluangkan waktu menyapa para santri binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Jambi,” ujarnya, dikutip laman Hidayatullahjambi.com.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Arif juga menyampaikan doa untuk keluarga besar Kejaksaan Negeri Muaro Jambi.

“Semoga keluarga Kejaksaan Negeri Jambi senantiasa dalam kesehatan, keberkahan, serta selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah dalam setiap menjalankan tugas sebagai abdi negara,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan bakti sosial ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh seluruh peserta. Sebagai wujud nyata kepedulian sosial, rombongan Kejaksaan Negeri Muaro Jambi menyerahkan sembako dan bingkisan kepada para santri. Penyerahan ini menjadi simbol perhatian sekaligus penguatan nilai kebersamaan antara masyarakat pesantren dan institusi kejaksaan.

Melalui agenda ini, kedua pihak menegaskan komitmen pentingnya membangun jembatan silaturahmi antara lembaga negara dan lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Keharmonisan tersebut diyakini dapat memberikan dampak positif dalam pembinaan generasi muda yang berkarakter dan berdaya saing.

Kerja Sama Hidayatullah–Korea Teguhkan Indonesia sebagai Pusat Halal Global

0

SEOUL (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah dan HIDAKO (Hidayatullah Korea) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah strategis memperkuat layanan pemeriksaan halal bagi produk-produk asal Korea yang diperjualbelikan di Indonesia, Kamis, 11 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, dan Direktur HIDAKO, Kangjae Lee, yang menegaskan komitmen bersama mendukung peningkatan jaminan produk halal di Indonesia.

Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, menekankan bahwa kerja sama ini menjadi jembatan penting dalam memastikan produk Korea memenuhi standar halal yang ditetapkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

“Produk Korea saat ini semakin diminati masyarakat Indonesia, mulai dari makanan, minuman, hingga kosmetik. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan kepastian halal kepada konsumen Muslim di Indonesia sehingga mereka merasa aman dan tenang,” ujarnya.

Direktur HIDAKO, Kangjae Lee, menyatakan MoU ini membuka peluang besar bagi produsen Korea untuk lebih mudah memasuki pasar Indonesia dengan nilai tambah berupa sertifikasi halal.

“Kami siap mendampingi produsen Korea dalam proses sertifikasi halal bersama LPH Hidayatullah. Dengan begitu, produk Korea dapat lebih dipercaya dan diterima oleh konsumen Indonesia,” jelasnya.

Salah satu poin penting kerja sama ini adalah keberadaan HIDAKO sebagai perwakilan resmi di Korea.

Lembaga tersebut berperan sebagai jembatan komunikasi antara produsen Korea dan LPH Hidayatullah, sehingga mampu mempercepat pelayanan serta meminimalisir kendala bahasa maupun budaya dalam proses sertifikasi halal.

Penandatanganan MoU ini juga sejalan dengan misi besar LPH Hidayatullah dalam mendukung target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat halal global. Melalui kerja sama internasional ini, Indonesia diharapkan semakin kuat sebagai rujukan utama dalam ekosistem halal dunia.

Sedekah Pohon dan Musyawarah Dai Terima Dukungan Donasi Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyalurkan bantuan donasi untuk dua program strategis sekaligus, yakni Sedekah Pohon dan Musyawarah Dai. Total dana yang terkumpul mencapai Rp83 juta hingga 3 September 2025 melalui kanal crowdfunding berbagikebaikan.or.id. Penyerahan simbolis dilakukan di Jakarta pada Kamis, 12 Rabi’ul Awal 1447 (4/9/2025).

Kepala Humas BMH Pusat, Mas Imam Nawawi, menyatakan bahwa dukungan masyarakat terhadap program ini memiliki arti penting bagi keberlanjutan dakwah dan kelestarian lingkungan.

“Tentu kita berharap bantuan ini bisa mendorong gerakan hijaukan bumi dan kuatkan dakwah di seluruh Nusantara,” ujarnya.

Program Sedekah Pohon dirancang sebagai langkah nyata dalam merespons isu lingkungan. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penghijauan kembali lahan-lahan gersang, tetapi juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian alam.

Selain itu, Musyawarah Dai diarahkan untuk memperkuat peran para dai di tengah masyarakat. Kehadiran dai dinilai strategis dalam membangun kesadaran umat, baik di bidang spiritualitas maupun sosial.

Sekretaris Panitia Musyawarah Nasional Hidayatullah, Adam Sukiman Langgu, mengapresiasi dukungan donatur.

“Terimakasih kepada segenap orang baik, para dermawan dan donatur. Donasi ini akan menjadi penguat aliran kebaikan di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Dengan adanya sinergi ini, program penghijauan dan penguatan dakwah diharapkan dapat terus berkembang. Dukungan masyarakat melalui donasi terbukti menjadi modal penting untuk menciptakan perubahan positif dan berkelanjutan.

Kolaborasi Keumatan Hidayatullah dan PLN Rencanakan Program Pemberdayaan

Foto: Sumaryadi/ Hidayatullahsulsel.or.id

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan melakukan pertemuan resmi dengan General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar), Ediansyah, di kantor PLN UID Sulselrabar, Makassar, Selasa, 9 Rabi’ul Awal 1447 (2/9/2025).

Pertemuan tersebut juga dihadiri Ketua YBM UID Sulselrabar dan Manager Unit Pelaksana Proyek Kelistrikan (UP2K) Sulselrabar.

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kedua lembaga untuk membangun kolaborasi yang berfokus pada peningkatan kualitas layanan masyarakat dan penguatan program keumatan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Nasri Bohari, menjelaskan bahwa audiensi ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama dalam program-program keumatan.

Dengan langkah awal ini, lanjut Nasri, diharapkan tercipta model kerja sama antara organisasi keagamaan dan institusi publik yang dapat diikuti di wilayah lain.

“Kami berharap dapat bersinergi dengan PLN, khususnya dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan sumber daya manusia,” ujarnya seperti dinukil dari laman resmi DPW Sulsel.

Ediansyah, GM PLN UID Sulselrabar, menyambut positif niat kerja sama tersebut. Ia mengungkapkan pengenalannya terhadap kiprah Hidayatullah telah berlangsung lama.

“Saya lahir di Balikpapan dan pernah menjadi pembaca setia majalah Hidayatullah. Saya sangat mengapresiasi kontribusi Hidayatullah, terutama dalam bidang dakwah di wilayah 3T,” kata Ediansyah.

Dalam rangka memastikan kelancaran kolaborasi, Ediansyah menghadirkan Ketua YBM UID Sulselrabar serta Manager UP2K. Ia menegaskan pentingnya membahas langkah konkret yang bisa dijalankan bersama.

“Kami ingin langsung membicarakan apa saja yang dapat kita kolaborasikan bersama, terutama untuk mendukung program keumatan,” jelasnya.

Diskusi antara kedua pihak menyoroti salah satu isu penting, yakni kebutuhan akses listrik di sejumlah cabang Hidayatullah yang belum teraliri listrik.

Menyikapi hal tersebut, Ediansyah menawarkan solusi pemanfaatan energi terbarukan. “PLN dapat menyediakan opsi solar panel dengan kapasitas minimum 900 KWh untuk menopang kebutuhan listrik di cabang-cabang tersebut,” ujarnya.

Pertemuan ini menghasilkan kesepahaman awal untuk menindaklanjuti kemitraan konkret. Bentuk kerja sama yang direncanakan mencakup dukungan terhadap program dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Kesepakatan ini menunjukkan komitmen kedua lembaga untuk menciptakan sinergi yang bermanfaat bagi publik.

Rombongan DPW Hidayatullah Sulsel yang hadir terdiri dari Ketua Ustadz Nasri Bohari, Sekretaris Ustadz Sumariadi, Bendahara Ustadz Kadir, perwakilan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ustadz Khairun, serta Ketua Departemen Perkaderan Ustadz Nashrullah.

Iri dan Dengki Penyakit Hati yang Hancurkan Amal Manusia

0

DARI Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اِياَّ كُم وَالحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَاْ كُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاْ كُلُ النَّارُ الحَطَبَ

“Jauhilah kalian akan hasad, karena sesungguhnya hasad itu bisa memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” (dalam lafadz lain: sebagaimana api membakar rumput kering) (HR. Abu Dawud).

Hasad atau dengki adalah dosa pertama kali yang terjadi pada kehidupan jin dan manusia. Awal ketika itu, Iblis diperintah Allah agar sujud kepada Adam.

Namun kedengkiannya mencegah dia mentaati perintah Allah karena menganggap dirinya yang tercipta dari api lebih mulia daripada Adam yang tercipta dari tanah.

Padahal yang benar; tanah lebih baik daripada api. Tanah adalah medium utama kehidupan makhluk. Kehidupan hewani dan nabati sangat bergantung darinya.

Tanah tempat munculnya mata air, tumbuhnya tanaman, tersedianya makanan binatang, dan tempat resapan kotoran. Semua berawal dari tanah dan kembali menjadi tanah. Tanah jelas lebih baik bahkan mahal, sedangkan api kadang bahaya, kadang gratis.

Pada awal kehidupan manusia, kejahatan pembunuhan yang dilakukan Qobil putra Adam alaihissalam terhadap Habil karena iri.

Qobil iri pada Habil yang istrinya lebih cantik dan persembahan qurbannya selalu diterima Allah.

Kasus kriminalitas awal timbul dari sifat iri. Maka perilaku hasad Iblis menjadi awal sumber fitnah dan kejahatan di kalangan manusia berikutnya. Siapa yang suka iri berarti persis Iblis.

Kaum yang dikenal pendengki sejak dulu hingga kini adalah Yahudi. Mereka iri karena Nabi akhir tidak dari Bani Isroil, tetapi dari Arab. Kedengkian mereka melahirkan dendam yang sulit padam.

Mereka iri melihat kaum muslimin mendapatkan hidayah, tunduk pada syari’at, sehingga enggan menerima dakwah Islam.

Sebaliknya, mereka membantai muslimin di Palestina, Afganistan, Iraq, dan lainnya, ingin menghilangkan keimanan dari dada kaum muslimin.

“Ataukah mereka iri kepada manusia yang Allah berikan kepada mereka sebagian karunia-Nya?” (An-Nisa’: 54)

Apa itu Hasad?

asad (iri, dengki) adalah kebencian melihat nikmat orang lain dan ingin nikmat itu lenyap lalu berpindah kepadanya.

Hasad adalah penyakit hati termasuk dosa besar, karena biasanya hanya menginginkan kenikmatan dunia semata, sebagaimana generasi iri terhadap Qorun. Iri adalah virus mematikan dan hanya bisa dihindari dengan menjauhinya.

Dengki berawal dari keburukan, berjalan pada kejahatan, dan berakhir penderitaan.

Orang pendengki sengsara, benci melihat orang lain senang, tersiksa mendengar sukses kawannya, jengkel melihat kompetitornya unggul.

Dengki menjadi penyakit manusia modern, memicu iri terhadap gaji tetangga, mobil baru, pangkat, atau rejeki orang lain.

Ibnu Rojab berkata: “Sifat dengki ada pada setiap manusia, yakni tidak ingin disaingi orang, ingin lebih dari orang lain. Namun orang terpuji tidak menampakkan atau membenarkan kedengkiannya. Orang tercela menampakkan irinya dengan usaha jahat.”

Bahaya Hasad

Hadits ini menunjukkan bahayanya hasad yang bisa menggunduli amal dan wajib dijauhi. Lafadz hadits menggunakan Majaz Isti’aroh, seolah menghidupkan api yang mati. Hasad merusak, melibas habis kebaikan hamba, seperti api melahap kayu hingga menjadi abu dan debu.

Tiga kelompok pendengki:

  1. Pendengki ingin menghilangkan nikmat orang lain dengan trik jahat: mulai dari raut kecut, ghibah, desas-desus fitnah, adu domba, provokasi, hingga mencelakai, santet, atau membunuh.
  2. Pendengki tanpa niat menghilangkan nikmat, hanya meratapi diri sendiri, sakit hati melihat rejeki orang lain. Tercela karena menyalahkan kehendak Allah.
  3. Iri namun mendorong diri berbuat baik: melawan hasad dengan cinta, sombong dengan tawadhu’, cela dengan nasehat, kedholiman dengan keadilan.

Golongan ini langka dan ada pada mukmin sejati. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah sempurna iman seorang di antara kalian sehingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Golongan manusia sebagai obyek iri dengki:

  1. Iri pada orang berbuat baik dengan hartanya, ingin bisa berbuat baik jika memiliki harta. Sama dengan kelompok pertama.
  2. Iri pada orang berbuat buruk dengan hartanya, ingin bermaksiat jika diberi harta. Sama buruknya.
  3. Iri pada orang berbuat baik meski hartanya minim, ingin berbuat baik juga. Sama baiknya.
  4. Celaka: tidak punya harta, iri ingin berbuat jahat pada sesama melarat.
Tashfiyyah dari Hasad

Seorang cerdas menghilangkan kejelekan akhlak sebelum menghiasi diri dengan kebaikan. Percuma mengisi gelas kotor dengan minuman lezat. Salah satu tashfiyah adalah menjauhi hasad. Percuma amal ibadah banyak jika dilahap sifat dengki.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Ada tiga hal yang seorang pun tidak bisa selamat darinya; thiyaroh, persangkaan, dan dengki.” Sahabat bertanya: “Siapa yang bisa selamat ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Jika engkau menganggap sial jangan kembali, jika berprasangka jangan kau benarkan, jika iri jangan melanggar.” (HR. Abdur Rozaq)

“Setiap anak Adam itu mempunyai sifat hasad, dan tidaklah kedengkiannya membahayakannya selama tidak ia ucapkan dengan lisan dan tidak dilakukan dengan tangan.” (HR. Abu Nu’aim)

Hasad berbeda dengan ghibtoh: hasad ingin hilangnya nikmat orang lain, sedangkan ghibtoh ingin memiliki kebaikan sama seperti orang lain. Misal ingin menjadi ulama, hartawan, atau naik haji seperti orang lain.

Iri yang dibolehkan hanya dalam ilmu dan ibadah:

“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua perkara; seorang yang Allah beri ilmu Al-Qur’an lalu melaksanakannya, dan seseorang yang Allah beri harta lalu ia infaqkan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Jambore Nasional ISCH III, Maluku Utara Ukir Sejarah dengan Enam Kemenangan

0

NASIONAL.NEWS – Kontingen Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah asal Maluku Utara berhasil mencatat prestasi gemilang dalam perhelatan Jambore Nasional Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III yang berlangsung pada 21–25 Agustus 2025 lalu di Bumi Perkemahan Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Ajang bergengsi lima tahunan ini diikuti oleh lebih dari dua ribuan anggota pramuka dari berbagai daerah di Indonesia. Dari kompetisi tersebut, kontingen Maluku Utara mampu membawa pulang enam piala kemenangan dari berbagai kategori lomba. Capaian ini menempatkan Maluku Utara sebagai salah satu kontingen yang menonjol dalam gelaran tahun ini.

Adapun prestasi yang diraih meliputi Juara 1 lomba Sandi Morse tingkat nasional, Juara 3 Semaphore Dance nasional, Juara 1 Regu Terbersih dan Disiplin, Juara 2 Tapak Kemah tingkat Penggalang, Juara 3 Tapak Kemah tingkat Siaga, serta Juara 1 Regu Religius.

Ketua Kontingen Maluku Utara, Kak Ahmad Nashirul Haq atau Kak Irul, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas keberhasilan tersebut.

“Alhamdulillah, ini buah dari kerja keras semua pihak—anak-anak, para pembina, orang tua, dan dukungan dari pemerintah daerah,” ujar Kak Irul.

Kak Irul menegaskan bahwa kemenangan ini diharapkan mampu mendorong semangat generasi muda Maluku Utara untuk terus berprestasi.

Lebih lanjut, Kak Irul menambahkan bahwa kemenangan ini memiliki makna lebih dari sekadar kompetisi.

“Ini bukan hanya tentang prestasi, tapi tentang membangun karakter generasi muda yang tangguh, bertanggung jawab, dan cinta dakwah,” katanya.

Apresiasi juga datang dari Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Nur Kholis, yang sebelumnya turut melepas keberangkatan kontingen. Ia menilai pencapaian ini sebagai cerminan dari dedikasi yang kuat dalam proses pembinaan.

“Enam piala yang berhasil dibawa pulang adalah bukti bahwa anak-anak kita mampu bersaing secara nasional dan menunjukkan karakter Islami yang tangguh, kreatif, dan berakhlak mulia,” tutur Nur Kholis.

Menurutnya, prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama Maluku Utara, tetapi juga memberikan motivasi bagi seluruh unit pendidikan Hidayatullah di daerah tersebut untuk terus memperkuat gerakan kepanduan.

“Semoga ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk memperluas kontribusi dalam mencetak generasi emas Indonesia 2045,” imbuhnya.

ISCH III sendiri merupakan ajang nasional yang diselenggarakan rutin setiap lima tahun oleh Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan kompetisi, tetapi juga bertujuan membina mental, spiritual, dan kebangsaan para peserta dalam semangat ukhuwah islamiyah dan nasionalisme.

Dengan keberhasilan ini, kontingen Maluku Utara menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang mampu berkontribusi signifikan dalam pembinaan generasi muda melalui gerakan pramuka Islami.

Gubernur Pramono Terima Audiensi Panitia Munas VI Hidayatullah di Jakarta

0
Foto: Abu Ibrahim Langgu/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menerima kunjungan silaturrahim sekaligus audiensi Panitia Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah di Kantor Gubernur, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 8 Rabiul Awal 1447 (1/9/2025).

Pertemuan ini berlangsung dalam suasana formal yang diwarnai diskusi mengenai peran dakwah, pendidikan, dan pembangunan kota.

Rombongan panitia Munas terdiri dari jajaran Steering Committee, yaitu Abu A’la Abdullah, Nursyamsa Hadis, dan Wahyu Rahman, serta Organizing Committee yang diwakili Marwan Mujahidin, Paryadi Abdul Ghofar, Muhammad Isnaini, dan Adam Sukiman.

Mereka menyampaikan agenda organisasi kepada Gubernur, termasuk laporan persiapan Munas VI Hidayatullah yang dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Oktober 2025 di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Nursyamsa Hadis menyampaikan terima kasih atas kesediaan Gubernur meluangkan waktu di tengah kesibukan dan dinamika kota.

Ia menegaskan bahwa Hidayatullah akan menggelar Munas VI sebagai ajang konsolidasi dakwah nasional. “Kita doakan semoga Jakarta semakin maju sebagai kota global yang berperadaban,” ujar Nursyamsa.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Pramono yang terus berupaya mendorong kesejahteraan, membuka akses ekonomi secara merata, membangun kota berkelanjutan, serta memperkuat konektivitas antar sektor.

Nursyamsa menyampaikan harapan agar Gubernur dapat hadir dan memberikan sambutan pada Munas mendatang. Kehadiran tersebut diharapkan menjadi penguatan moral bagi para dai Hidayatullah yang selama ini aktif menggerakkan dakwah di seluruh Indonesia.

Foto: Abu Ibrahim Langgu/ Hidayatullah.or.id

Gubernur Pramono Anung dalam tanggapannya menyambut baik audiensi ini dan menyatakan kesediaannya memenuhi undangan panitia. Ia juga menegaskan penghargaan terhadap kontribusi Hidayatullah dalam kehidupan masyarakat serta kiprah para dai yang sejuk.

Menurutnya, organisasi ini memiliki ciri khas yang kuat melalui pengembangan pondok pesantren dan rumah Qur’an.

“Hidayatullah merupakan salah satu organisasi dakwah yang menyampaikan pesan-pesan dakwah dengan penuh keteduhan. Kita berharap Hidayatullah bisa semakin kuat dan berkembang dengan gerakan dakwah berbasis pondok pesantren dan rumah Qur’an,” ujar Pramono.

Pada kesempatan yang sama, Muhammad Isnaini selaku Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta memaparkan perkembangan Rumah Qur’an di wilayah ibu kota. Ia menyebutkan jumlahnya kini telah mencapai 158 titik.

“Keberadaan Rumah Qur’an ini sangat diterima oleh masyarakat karena setiap muslim membutuhkan,” kata Isnaini.

Ia berharap, pertemuan ini semakin mengeratkan sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat dalam memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus menjalin harmoni sosial.

Pertemuan Nasional Tokoh Agama dan Presiden Teguhkan Persatuan Bangsa

0
Foto: Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh lintas agama, pimpinan partai politik, serikat buruh, serta perwakilan organisasi pemuda lintas iman dalam agenda silaturahmi di Istana Negara, Jakarta, Senin, 8 Rabiul Awal 1447 (1/9/2025).

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan, dengan pembahasan menyangkut berbagai isu nasional yang tengah menjadi sorotan publik.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, didampingi Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto, turut hadir dalam forum tersebut. Kehadiran mereka mempertegas peran ormas keagamaan dalam memberikan kontribusi pemikiran untuk menjaga keutuhan bangsa.

Dalam diskusi yang terbuka, para tokoh menyampaikan aspirasi masyarakat. Beberapa isu strategis yang dibahas antara lain persoalan pajak yang dirasakan memberatkan rakyat, praktik korupsi, perilaku pejabat publik, hingga kenaikan tunjangan DPR. Seluruh isu tersebut dipandang sebagai tantangan serius yang memerlukan tanggapan bersama demi kepentingan bangsa.

Usai pertemuan, para pimpinan ormas keagamaan memberikan keterangan pers bersama terkait hasil pembicaraan dengan Presiden. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, mewakili jajaran tokoh agama, menegaskan bahwa forum tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan nasional.

“Kami semua bersepakat bahwa semua harus bersatu secara utuh untuk berjuang bersama, mengatasi tantangan bersama, dan terus-menerus memohon pertolongan Tuhan semoga segala ikhtiar yang dilakukan bangsa ini mendapatkan perlindungan dan kekuatan,” ujar Gus Yahya.

Ia menambahkan bahwa para tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk senantiasa mengingatkan Presiden dan seluruh perangkat pemerintahan agar tetap teguh dalam menjalankan cita-cita nasional sebagaimana termaktub dalam konstitusi dan nilai luhur bangsa.

Foto: Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr
Foto: Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr

Gus Yahya juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menginginkan pertemuan semacam ini dapat digelar secara rutin.

Hal itu dinilai penting sebagai wadah untuk mempertemukan aspirasi masyarakat sekaligus memperkuat konsolidasi antara pemerintah dan elemen masyarakat sipil.

Pertemuan di Istana Negara ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, pada Sabtu, 30 Agustus 2025, sejumlah pimpinan organisasi masyarakat Islam telah bertatap muka langsung dengan Kepala Negara di kediaman Presiden di Hambalang, Jawa Barat.

Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang intensif antara pemerintah dengan tokoh-tokoh keagamaan, sekaligus menegaskan pentingnya dialog dalam menjaga stabilitas sosial politik.

Pertemuan nasional tersebut memperlihatkan komitmen bersama antara pemerintah dan elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah dinamika sosial dan politik yang berkembang.