Beranda blog Halaman 657

Hidayatullah Karawang Soal Pencemaran Lingkungan

0
Pertemuan mediasi antara pemerintah, LSM ForkadasC+, dan pihak-pihak terkait / net
Pertemuan mediasi antara pemerintah, LSM ForkadasC+, dan pihak-pihak terkait / net

Hidayatullah.or.id — Ketua Yayasan Ummul Quro Pesantren Hidayatullah Karawang, Jawa Barat, Ahmad, menuturkan, pihaknya tidak mengetahui sumbangan yang diberikan oleh pihak tertentu berupa pasir yang berasal dari sebuah perusahaan di Karawang, adalah limbah B3 yang berbahaya bagi manusia.

“Kami menerima saja sumbangan tersebut karena memang kami sangat membutuhkan pasir tersebut untuk pengurukan tanah pesantren. Sebelumnya memang diberitahukan pasir tersebut adalah limbah perusahaan dan menurutnya aman untuk dijadikan urug tanah,” ujar Ahmad seperti dilansir laman Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (ForkadasC+), awal Februari ini.

Pihaknya menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tak tahu menahu jika pasir yang dimanfaatkan untuk menguruk tanah sebagai cikal mendirikan gedung asrama santri itu ternyata mengandung bahan-bahan berbahaya. “Tidak tahu sama sekali,” katanya.

Media lokal Karawang memuat berita soal pencemaran lingkungan tersebut / ist
Media lokal Karawang memuat berita soal pencemaran lingkungan tersebut / ist

Dalam pemberitaan di salah satu media lokal di Karawang, ditegaskan di sana bahwa Pondok Pesantren Hidayatullah merasa ditipu dengan pemberian pasir. Ahmad mengatakan pihaknya menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan introspeksi dan pelajaran penting agar tak terulang di kemudian hari.

sebagaimana diwartakan, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Karawang gelar melalkukan mediasi untuk menindak lanjuti kasus dugaan pencemaran lingkungan menggunakan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Kampung Benggol, RT 04/01, Desa Tegal Sawah Kecamatan Karawang Timur, tadi pukul 14.00 WIB, di Gedung Aula BPLHD Karawang.

BPLH Karawang melakukan mediasi bertujuan untuk mencari jalan keluar permasalahan pencemaran lingkungan di Kampung Benggol dimaksud. Dalam mediasi BPLH mengundang Forum Komunikasi Daerah Sungai Citarum (forkadasC+), Kepala Yayasan Ummul Quro Ponpes Hidayatullah, Lurah Desa Tegal Sawah, dan Camat Karawang Timur, sreta pihak PT. Tochu Silika Indonesia selaku pemilik limbah B3.

Dilaporkan bahwa limbah B3 itu berjenis pasir poundry, sisa olahan peleburan biji besi baja dan zat itu mengandung logam berat yang dapat mencemari air tanah. Limbah berjenis pasir itu digunakan sebagai pengurugan tanah untuk pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah, yang dibangun oleh Yayasan Ummul Quro.

Dalam mediasi tersebut, Kepala Bidang Pengawasan Dampak Lingkungan BPLHD Karawang, Neneng mengungkapkan, sesuai dengan aturan Limbah B3 jenis pasir poundry itu tidak dapat digunakan pengurugan tanah. Diperlukan penanganan atau pengolahan khusus agar tidak berdampak pada lingkungan hidup. Hal itu sesuai dengan amanat Undang-Undang tentang lingkungan hidup.

Diungkap lebih lanjut, pihaknya telah melayangkan surat panggilan untuk kepentingan pemeriksanaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di BPLHD Karawang.

Berdasarkan penuturan Neneng, diduga kuat limbah B3 jenis pasir poundry itu dibawa oleh PT Tochu, yang belakangan diketahui milik investor Jepang, berlokasi di Kawasan Industri Mitra Karawang. Perusahaan tersebut bergerak dibidang pembuatan dan pengembangan pasir resin dan pasir poundry.

“Aktifitas pengurugan tanah menggunakan limbah B3 jenis pasir poundry itu telah menyalahi aturan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang pengelolaan bahan berbahaya dan limbah beracun. Sangsi yang dikenakan cukup berat berupa denda dan bahkan mencabut izin usaha perusahaan tersebut,” ungkapnya.

Lurah Desa Tegal Sawah Suhending juga mengungkapkan, pihaknya merasa kecolongan atas pencemaran lingkungan di wilayahnya.

“Saya merasa kecolongan atas pengurugan tanah di Pondok Pesantren Hidayatullah ini. Memang sebelumnya pihak dari Yayasan Ummul Quro sudah memberikan surat tentang amdalnya, karena memang saya tidak memahami isi amdal itu saya tidak terlalu menghiraukannya. Akan tetapi ternyata dari BPLHD menyatakan limbah B3 dan berbahaya bagi masyarakat, saya sudah menyuruh Yayasan Ummul Quro untuk menghentikan pengurugannya,” ujarnya.

Sebelumnya, temuan tersebut didapatkan forkadasC+ (Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum), yang berbasis di Karawang.

“Setelah kita coba cek ternyata memang pengurugan tersebut sudah menyalahi aturan karena memakai limbah B3. Limbah beracun yang digunakan untuk pengurugan itu jenis pasir poundry adalah pasir bekas digunakan olahan peleburan atau pengolahan besi baja, dan limbah itu mengandung logam berat,” Kata Ketua Harian forkadasC+ Hendro Wibowo seperti dilansir di laman resminya.

Perusahaan pemanfaat limbah itu, kata Hendro, harus memiliki ijin dari Kementrian Lingkungan Hidup. Dampak yang ditimbulkan dari pasir poundry tersebut timbulnya berbagai penyakit seperti iritasi pada mata, menganggu syaraf, bisa menurunkan berat badan, bila terhirup bisa mengakibatkan gangguan pernapasan dan bisa mengakibatkan kelainan genetik. (yfs/hio)

Munas V Syabab Hidayatullah Bidik Militansi Kader

Logo Syabab Hidayatullah / ist
Logo Syabab Hidayatullah / ist

Hidayatullah.or.id -– Syabab (Pemuda) Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-V di Jakarta, 28 Februari – 3 Maret 2014, dengan mengusung tema ‘Transformasi Idealisme Gerakan Pemuda Menuju Indonesia Bermartabat’.

Ketua Steering Committee Munas V Syabab Hidayatullah, Ahmad Suhardi, mengatakan, ada kecenderungan regresif yang dialami umumnya gerakan pemuda Indonesia dewasa ini. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

“Founding father kita selalu sejalan antara konsep dan aktualisasi. Hari ini Pemuda Hidayatullah dituntut untuk merevitalisasi kultur tersebut. Maka, bagi kita, lecutan kalimat ‘dari gagasan ke gerakan’ adalah sebuah keharusan,” kata Suhardi dalam keterangannya kepada media ini, Sabtu (22/02/2014) lalu.

Dikatakan Suhardi, pemuda hari ini perlu mereposisi diri dari yang sebelumnya kaya wacana menjadi sekaligus pelaksana, dengan tidak berlepas diri dari mainstream gerakan organisasi induk. Hal ini juga sebagai evaluasi bagi institusinya yang menurutnya masih perlu banyak berbenah.

Syabab Hidayatullah diharapkan menjadi wadah transformasi dan distribusi kader ke berbagai sektor formal dan informal sesuai dengan kapasitas masing-masing kader. Untuk itu, jelas Suhardi, instrumen dasar dari organisasi ini dituntut untuk terus belajar, bahkan kepada gerakan kepemudaan lain yang lebih dulu ada.

Dijelaskan Suhardi, topik tema sengaja dipilih sebagai penegasan bahwa Syabab Hidayatullah adalah wadah gerakan kaum muda Islam yang juga memiliki visi kebangsaan yang relijius.

“Syabab Hidayatullah adalah gerakan Islam arus tengah (al-tawassuth), sebagaimana organisasi induknya, yang kemudian diharapkan dapat mengakomodasi semua perbedaan atau khilafiyah yang terjadi di tengah-tengah umat Islam,” ucapnya.

Sebagai wadah kaum muda ormas Hidayatullah, Syabab Hidayatullah, kata Suhardi, tentu tak boleh melupakan kultur induknya yang dirintis oleh anak-anak muda Indonesia yang dikenal militan, progresif, relijius, dan memiliki visi kebangsaan yang kental.

“Untuk itu, fokus gerakan Syabab Hidayatullah ke depan salah satunya yang mendasar adalah membidik militansi dan progresifitas kader,” terang Suhardi yang juga instrukutur Grand MBA Pusat ini.

Ditegaskan Suhardi bahwa perubahan adalah keniscayaan. Untuk itu, ia pun berharap pada Munas V Syabab Hidayatullah ini dapat dirumuskan suatu formulasi baru untuk kontinuitas dan harmonisasi organisasi kepemudaan ini.

“Formulasi baru akan membuat suasana senantiasa dinamis. Reformasi struktur tentu perlu, dan lebih dari itu, juga penting dilakukan reformasi kultur. Ini tentu membutuhkan kontribusi kita semua,” ujarnya.

Selaku panitia, pihaknya mengharapkan kehadiran semua pengurus inti wilayah dan daerah Syabab Hidayatullah dari seluruh Indonesia untuk sama-sama mensukseskan helatan akbar 3 tahunan ini. (ybh/hio)

Menjejaki Spirit Kewartawanan Perintis Hidayatullah Media

Ketua Bidang Humas PP Hidayatullah, Mahladi Murni, menerima kunjungan Ponpes Hidayatullah Khusnul Khotimah / SKR
Ketua Bidang Humas PP Hidayatullah, Mahladi Murni, menerima kunjungan Ponpes Hidayatullah Khusnul Khotimah / SKR

Hidayatullah.or.id — Pemimpin Redaksi (Pimred) Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Mahladi meyakini, untuk memulai membuat sebuah media tak harus bermodal anggaran besar. Dia mencontohkan media-media di bawah naungan KMH yang diawali dengan dana minim. Dari kecil lalu perlahan terus berkembang.

Di awal-awal perintisan, majalah Suara Hidayatullah yang kini sudah berusia 26 tahun ini mengerahkan segenap waktu dan tenaga yang dirintis oleh para santri senior Hidayatullah.

“Santri-santri itu kadang-kadang tidurnya itu sebentar sekali. Dulu mereka tidak digaji. Mereka cuma transkip dari ceramah ustadz. Bahkan di antara mereka ada yang pingsan sambil mentranskip itu,” ungkapnya saat menerima kunjungan studi banding para awak majalah Husnul Khotimah di kantor KMH, Jalan Cipinang Cempedak 1/14, Polonia, Jakarta Timur, Selasa, (18/02/2014).

Seharusnya ketiadaan modal besar bukan jadi penghalang. Mahladi menyarankan, agar para pengelola majalah Husnul Khotimah memulai mengembangkan medianya dengan tampilan yang sederhana dahulu. Sebab, jika langsung dengan penampilan yang mewah, tentu berbiaya lebih besar.

“Mulailah dari sesuatu yang sederhana dulu. Yang penting istiqomah, jangan pernah tidak terbit, terbitnya tepat waktu. Yang penting itu. Ketika kita sudah punya laba, baru kita pelan-pelan memperlihatkan kualitas lainnya,” imbuhnya.

Mahladi menambahkan, dakwah pesantren melalui jurnalistik merupakan pekerjaan yang besar. Sehingga, dalam menggarapnya pun harus berpikiran luas, tidak setengah-setengah.*

Sebanyak 33 orang dari Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat menyambangi kantor redaksi Kelompok Media Hidayatullah (KMH) di Polonia, Jakarta Timur, Selasa, (18/o2/2014) kemarin.

Kepala Divisi Humas dan Dakwah PP Husnul Khotimah Drs Diding Tarmidi datang didampingi Pimpinan Redaksi (Pimred) majalah Husnul Khotimah Sanwani dan sekretaris majalah Haris Setiadi. Didampingi pula pimred sebelumnya Apriadi, serta Nono Sudana dan Ahmad Alfian Dzulfikar, keduanya staf pesantren.

Hadir pula puluhan santri yang juga kru majalah tersebut. Selain bersilaturahim, mereka melakukan studi banding tentang manajemen pengelolaan media dakwah Islam berbasis majalah dan online.

“Majalah Husnul Khotimah, majalah ini baru berusia 6 tahun, baru mulai tahun 2008. Sehingga perlu banyak studi banding, melihat majalah-majalah lain yang usianya lebih dahulu daripada kami,” ujar Sanwani dalam sambutannnya.

Rombongan ini diterima Pemimpin Redaksi (Pemred) KMH Mahladi, Pemred majalah Suara Hidayatullah Dadang Kusmayadi dan segenap jajarannya. Hadir pula staf Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YWASH) Mamik Hidayat.

“Kami yang pertama ingin belajar kepada majalah (Suara) Hidayatullah bagaimana mengelola majalah, tadinya majalah komunitas kemudian bisa berkembang menjadi majalah yang tersebar luas,” tambah Sanwani.

Di antara yang mereka pelajari mulai proses perencanaan sebuah majalah, naik cetak, sampai penyebarannya.

“Kemudian bisa sampai meyakinkan masyarakat bisa tahu membeli majalah ini gitu,” ujar Sanwani.

Mahladi mengatakan, dalam penggarapan sebuah majalah, ada proses-proses yang harus dilalui. Mulai rapat perencanaan hingga rapat evaluasi. Adapun di antara hambatan saat hendak memenuhi target deadline, adalah situasi kepepet.

“Yang harus kita bunuh kepepet itu,” ujarnya berpesan.

Majalah Suara Hidayatullah sendiri, katanya, adalah majalah yang dibuat oleh ormas Hidayatullah untuk umum.

“Jadi bukan majalah internal,” ujarnya memperkenalkan majalah tersebut kepada para tamu.

Sehingga majalah ini, lanjutnya, tidak hanya dibaca oleh orang-orang Hidayatullah. Tapi juga dibaca oleh saudara-saudara di Tarbiyah, Salafi, HTI, NU, dan sebagainya.

“Itu untuk merangkul semua kalangan tadi. Majalah ini tidak kepunyaan pribadi, jadi tidak menghidupkan untuk seseorang. Laba terbesar majalah ini untuk membesarkan organisasi,” ungkapnya.

Untuk Semua Kalangan

Seorang pengurus majalah Husnul Khotimah lantas bertanya, dalam rubrikasi, apa yang harus didobrak, mengingat majalah tersebut masih muda dan bersifat internal pesantren.

Mahladi menjawab bahwa sebaiknya sebuah majalah diterbitkan untuk umum, tak sebatas kalangan tersendiri.

“Kalau ada majalah hanya untuk kelompok dia saja, itu mempersempit. Orientasi kita kepada pasar,” jelasnya.

Meski begitu, majalah bukan berarti mengikuti pasar sepenuhnya. Harus punya koridor, tapi jangan dipersempit falsafahnya. Tidak menerima semua keinginan pembaca.

“Bisa kebablasan,” dalihnya.

Dadang Kusmayadi menjelaskan sejarah singkat majalah Suara Hidayatullah. Majalah ini telah berusia 26 tahun. Berawal dari keberadaan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang didirikan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said.

“Almarhum Abdullah Said mendirikan pesantren pada tahun 1970. Baru beberapa tahun kemudian, karena dakwahnya semakin banyak, makin diminati, sehingga ada inisiatif dari pengurus Pesantren Hidayatullah untuk merangkum, mencatat hasil ceramah-ceramahnya. Kemudian dicetak dalam bentuk buletin,” tutur Dadang.

Dari buletin itu, lanjutnya, majalah Suara Hidayatullah mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. Dalam perjalanannya, pengerjaannya pindah ke Surabaya dan kini berpusat di Jakarta.

Selain membahas majalah, Husnul Khotimah juga menanyakan soal penggarapan media online. Khususnya situs Hidayatullah.com di bawah naungan KMH.

Sanwani pun menyampaikan terima kasih atas studi banding yang berlangsung sejam lebih ini.

“Terima kasih atas ilmu telah diberikan kepada kami. (Mulai) semangat menjalankan majalah, kemudian beberapa masalah teknis di lapangan. Mudah-mudahan silaturahmi tidak sampai di sini saja,” pungkasnya.

Di akhir acara, diadakan serah terima cinderamata dari Majalah Husnul Khotimah kepada Suara Hidayatullah, dan sebaliknya. (Hidcom)

Hidayatullah Sumsel Gelar Kegiatan Roadshow Dakwah

Taushiah anggota Dewan Syura Hidayatullah Ustadz Akib Junaid
Taushiah anggota Dewan Syura Hidayatullah Ustadz Akib Junaid
Melakukan taaruf dengan jamaah masjid yang disambangi
Melakukan taaruf dengan jamaah masjid yang disambangi
Pengurus PW Hidayatullah Sumsel berfoto bersama Ustadz Akib Junaid (peci hitam)
Pengurus PW Hidayatullah Sumsel berfoto bersama Ustadz Akib Junaid (peci hitam)
Disela-sela kegiatan roaadshow juga diselingi diskusi
Disela-sela kegiatan roaadshow juga diselingi diskusi
Santri putri Ponpes Hidayatullah Palembang menyimak taushiah
Santri putri Ponpes Hidayatullah Palembang menyimak taushiah

Hidayatullah.or.id — Gerakan utama (mainstream) Hidayatullah adalah dakwah dan pendidikan (tarbiyah). Di bidang dakwah, Hidayatullah secara kontinyu telah menyebarkan dai-dainya hingga ke daerah minoritas dan pedalaman.

Selain itu Hidayatullah telah menyelenggarakan sejumlah program seperti bina akidah, Grand MBA, dan Pos MTQ (Majelis Taklim al-Quran) bagi masyarakat umum baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan.

Berkenaan dengan itu, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sumatera Selatan (Sumsel) bekerjasama dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Palembang, mengadakan roadshow dakwah selama 4 hari mulai tanggal 14-17 Pebruari 2014 yang diadakan di beberapa tempat.

Bertindak sebagai pemateri dalam setiap acara tersebut Ustadz Akib Junaid yang merupakan anggota Dewan Syura Hidayatullah dari Jakarta.

Roadshow dakwah yang berlangsung khidmat dan semarak ini dilaksanakan di beberapa tempat seperti di Masjid Nurul Huda Dekranasda Jakabaring, Komplek PT Perta-Samtan Gas Sungai Gerong, Masjid Darur Rahmah Komperta Sungai Gerong, Masjid Darur Ridwan Komperta Plaju, Masjid Al-Mukminun Sungai Pinang Rambutan, dan Masjid Al-Amin Tanjung Marbu.

Dalam kegiatan roadshow tersebut, Hidayatullah Sumsel mengunjungi masjid-masjid yang ada di wilayah Sumatera Selatan. Adapun kegiatannya adalah melakukan taaruf, bersilaturrahim dengan jamaah masjid setempat, dan membangun koordinasi dan relasi dakwah.

Dalam kunjungannya ke Sumatera Selatan, Ustadz Akib Junaid juga dijadwalkan untuk mengisi ceramah agama yang diperuntukkan bagi para santri baik putra maupun putri di Pesantren Hidayatullah di Sumsel.

Pesantren Hidayatullah Sumsel merupakan salah satu dari jaringan Hidayatullah yang memiliki 322 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Di samping dihuni santri, pesantren-pesantren tersebut juga ditempati para guru, pengasuh, pengelola, dan jamaah Hidayatullah yang berkeinginan menetap di sekitar Pesantren.

Karena itu, pesantren-pesantren Hidayatullah, selain berfungsi sebagai tempat mendalami ilmu agama (wajib ‘ain/di¬ni-yah) dan ilmu umum (wajib kifayah), juga berfungsi sebagai miniatur peradaban Islam. (QAA/hio)

Hidayatullah Medan Bangun Sekolah Senilai 1,4 Miliar

Suasana kerjabakti pengecoran awal gedung Madrasah Aliyah Ponpes Hidayatullah Medan / CHA
Suasana kerjabakti pengecoran awal gedung Madrasah Aliyah Ponpes Hidayatullah Medan / CHA

Hidayatullah.or.id — Karena jumlah santri yang semakin banyak dan di waktu yang sama fasilitas infrastruktur seperti gedung sekolah belum mamadai, maka Pesantren Hidayatullah Medan akan mendirikan gedung sekolah untuk santri Madrasah Aliyah.

“Saat ini pembangunan sudah mulai berjalan. Ini terbilang mendesak karena santri yang kami tampung semakin banyak sementara ruang pendidikan, khususnya untuk Aliyah, masih apa adanya,” kata Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam, dalam pernyataannya kepada media ini, Jum’at (21/02/2014).

Ia menjelaskan, salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan adalah membenahi keberadaan sarana dan sarana pendidikan agar mencukupi dan layak pakai. Sehingga proses belajar-mengajar berjalan dengan baik dan lancar serta menelurkan output yang berdaya saing.

Kondisi faktual saat ini, gedung sekolah Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang ada masih sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan ruang belajar bagi seluruh santri.

Chorul membeberkan, kini santri yang dibina sudah mencapai jumlah 500 orang lebih, mulai dari tingkat Ibtida’iyyah, Tsanawiyah, Aliyah, dan Tadribuddu’aat. Sebagian besar santri yang diterima adalah dari kalangan dhuafa dan terlantar sehingga sama sekali tidak dipungut biaya.

“Sebagian santri masih harus menggunakan gazebo, masjid, mushalla putri, bahkan beranda asrama untuk tempat belajar mereka,” kata Choirul

“Alhamdulillah, berkat bantuan dari seorang dermawan, pembangunan Gedung Madrasah Aliyah itu sudah dimulai pengerjaannya,” lanjut Choirul.

Chorul menjelaskan, ruang kelas yang direncanakan akan dibangun adalah 6 lokal dengan dua lantai itu ditaksir akan menelan biaya Rp. 1,4 Miliar.

Hingga saat ini pembangunan ruang kelas tersebut telah mencapai 40 persen. Namun karena keterbatasan dana sehingga pekerjaan pembangunan gedung madrasah Aliyah tersebut saat ini terhenti.

Sehubungan dengan hal tersebut, pihaknya mengajak seluruh komponen masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun perorangan untuk berfastabiqulkhoirat, menyisihkan sebahagian rezeki yang Allah berikan untuk membantu menyelesaikan pembangunan Madarsah tersebut.(hdm/ybh)

Hidayatullah Harap MUI Terus Eratkan Ukhuwah Umat

logo muiHidayatullah.or.id — Sekretaris Jenderal PP Hidayatullah Abu A’la Abdullah, mengharapkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang baru, KH. Din Syamsuddin dapat semakin mengakurkan dan mengeratkan ukhuwah Islamiyah kelompok-kelompok kaum Muslimin di Indonesia. Termasuk di dalamnya mulai memikirkan penyatuan penentuan awal Ramadhan dan 2 Hari ‘Ied.

Terkait penetapan Hari Raya Idul Fitri yang kerap kali berbeda, Abu menambahkan hal itu menjadi tantangan bagi Din. Dia berharap MUI mendorong agar awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri bisa dirayakan bersama-sama.

“Muhammadiyah selama ini keukeuh sekali. Sebenarnya banyak pihak sudah mendukung agar hari raya dilaksanakan pada satu hari yang sama. Ini tantangan, kalau (Din) bisa bisa menyatukan ini, luar biasa,” kata Abu A’la Abdullah dikutip juga HU Republika, Rabu (19/02/2014) lalu.

Selain itu, Abdullah juga berharap Din mulai mengurangi untuk mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait politik praktis.

“Pak Din kan vokal sekali. Namun, sebagai ketua MUI baru beliau sudah menjadi bapak umat Islam Indonesia. Beliau harus bisa ngemong umat Islam dari manapun latar belakangnya,” ujar Abdullah.

Menurut Abu, masih ada sejumlah isu keumatan yang perlu dibenahi dan didorong Din, seperti jilbab Polwan, masalah kehalalan produk bagi konsumen Muslim, dan kegiatan dakwah di pedalaman. Menurut Abu, upaya menggiatkan dakwah ke pedalaman perlu didukung dan diutamakan.

Abu mengatakan pemahaman masyarakat di pedesaan mengenai Islam masih sangat minim. Mereka memahami Islam secara sederhana. Wawasan kegolongan pun masih tinggi.

“Membangun umat dengan pemahaman seperti ini sulit. Konsep pendidikan Islam, mulai dari akhlak, ibadah dan syariah harus lengkap,” ujarnya.

Abu mengaku senang dengan terpilihnya ketua PP Muhammadiyah tersebut sebagai ketua MUI. Dia berharap Din bisa terus merangkul semua golongan, terutama golongan Nahdiyin. Dengan posisi sebagai ketua MUI Din diharapkan menjadi pihak yang netral.

Din menggantikan KH Sahal Mahfudz yang meninggal dunia pada Jumat, 24 Januari 2014. Keputusan penggantian ditetapkan pada rapat pimpinan MUI yang diselenggarakan pada Selasa (18/2) lalu. (REP/HIO)

Agar Pintu-pintu Kebaikan Berlimpah

0
Oleh Masykur Abu Jaulah*
Oleh Masykur Abu Jaulah*

SUATU hari, aku bersimpuh di pelataran Masjid al-Haram sambil menikmati munajat kepada Allah. Demikian Aidh al-Qarni menuangkan kisahnya dalam karya monumental, La Tahzan. Kala itu kota Makkah sedang dipanggang oleh terik matahari. Kira-kira waktu Dzuhur masih tersisa satu jam lagi.

Tiba-tiba, seorang laki-laki tua melintas di hadapanku. Kedua tangannya memegang gelas-gelas berisikan air Zam-zam. Tampak jemari keriput itu menggenggam erat. Seolah ingin memastikan, tak ada air yang tumpah dari wadah yang berbahan plastik itu.

Dengan santun, ia lalu menghampiri setiap manusia yang ada di sekelilingnya. Menawarkan seteguk air Zam-zam segar di siang hari yang terik. Demikian seterusnya, pria sepuh itu tak henti membasuh leher-leher tamu Baitullah dengan air Zam-zam.

Serta merta orang-orang di sekitarnya turut menatap perbuatan orang itu. Seolah ikut menunggu, kapan kemuliaan itu datang menghampiri mereka. Meneguk air Zam-zam yang mulia dari sodoran laki-laki berhati mulia itu.

Tak jauh darinya, aku hanya bisa membatin. Aidh al-Qarni meneruskan ceritanya. Aku terpana melihatnya tersenyum ketika menawarkan segelas air Zam-zam. Serta menyaksikan senyum itu kembali mengembang lebar kala orang-orang berterima kasih kepadanya.

Sungguh, meraup kebaikan itu sangatlah mudah bagi orang-orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah. Sebagaimana orang-orang ihsan itu sangatlah banyak di sekitar kita. Semuanya berpulang kepada Allah sebagai Pemilik seluruh kemuliaan di jagat raya.

Bagi orang beriman, tanda kebagusan iman itu, salah satunya terpancar lewat kecintaan kepada kebaikan. Mereka senantiasa menyukai kebaikan dan berharap kebaikan itu juga ada pada saudaranya yang lain. Sebaliknya mereka benci dan turut merasakan lara kala keburukan itu menimpa saudaranya.

Sejatinya, perbuatan baik itu meruahi kehidupan orang-orang beriman. Begitu banyak kebaikan dan sejatinya peluang berbuat ihsan itu selalu ada di hadapan kita. Hanya satu soalan lagi, sudahkah kita benar-benar bermohon kepada Allah agar dimudahkan melakukan kebaikan-kebaikan yang berlimpah itu. Sebab kebaikan serta kemudahan itu hanya milik Allah semata. Dia memberikan hidayah-Nya kepada siapa yang Dia kenan untuk ditunjuki.

Sahabat, mari sejenak menengok lembaran sejarah. Di sana orang-orang shalih terdahulu (salaf shalih) berbaris rapi dengan kumpulan prestasi kebaikan mereka.

Kita awali dengan sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu. Pemilik gelar ash-Shiddiq ini rela menghabiskan harta demi tegaknya syariat Islam.

Ada putra al-Khaththab, di malam yang dingin lagi pekat, ia justru memilih keluar rumah untuk berpatroli sendirian. Selain memastikan keamanan warganya, Umar juga khawatir jikalau di antara penduduk kota Madinah ada yang masih berbelit kelaparan di saat yang lain sedang menikmati tidur pulasnya.

Juga ada Abdullah bin al-Mubarak Rahimahullahu. Seorang tabi’in yang terkenal dengan berbagai kemuliaan jiwa yang melekat. Salah satunya, ia pernah membatalkan niatan berhaji yang direncanakan sejak awal. Ibnu al-Mubarak tak ingin ada anak tetangganya yang meringis kelaparan. Untuk itu, seluruh tabungan hajinya ludes demi menyenangkan hati sang tetangga.

Terakhir, tentu saja, jangan lupakan kisah laki-laki sepuh di atas. Jiwa yang mulia itu lalu memilih kebaikan dengan cara tersendiri. “Hanya” memberi minum sekumpulan jamaah di Masjid al-Haram. Masing-masing diberi segelas air Zam-zam segar, sambil tersenyum ramah.

Jika pintu-pintu kebaikan itu benar-benar melimpah. Lalu apa sebenarnya yang menghalangi diri ini dalam mengerjakan kebaikan? Mengapa terkadang ada waktu yang berlalu, ada hari yang terlewatkan tanpa ada kebaikan yang kita lakukan?

Sungguh, jiwa yang nista ini harus mengaku dan memohon ampun di hadapan Allah. Betapa ia seringkali lalai dari bersyukur kepada Allah. Dirinya berbalut nikmat tapi ia lupa akan titah Sang Pemberi nikmat. Nastaghfirullah wa natubu ilaihi.*
__________________
MASYKUR ABU JAULAH, Penulis adalah dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Kaltim.

Hidayatullah Yogya Kerjabakti Bersihkan Debu Kelud

Suasana kerjabakti membersihkan kampus Pesantren Hidayatullah Yogyakarta pasca terkena dampak letusan Gunung Kelud / HIDY
Suasana kerjabakti membersihkan kampus Pesantren Hidayatullah Yogyakarta pasca terkena dampak letusan Gunung Kelud / HIDY

Hidayatullah.or.id — Dengan perlengkapan pompa air, ember, cangkul, dan lain sebagainya pengasuh, guru, santri, dan TIM SAR Hidayatullah DIY membantu membersihkan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah yang terkeda dampak debu vulkanik Gunung Kelud.

Mereka bahu membahu membersikan lingkungan pesantren yang di dalamnya ada KB-TK IT Yaa Bunayya, SDIT Hidayatullah, MTs-MA Hidayatullah.

Selama 2 hari ini, Jumat dan Sabtu lalu, kegiatan belajar dan mengajar diliburkan oleh pihak Yayasan As-Sakinah Yogyakarta, tempat bernaungnya lembaga pendidikan Pesantren Hidayatullah di Sleman, dikarenakan adanya dampak abu vulkanik dari Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur.

Kepala sekolah Ustadz Subhan Birori mengatakan ada beberapa agenda yang diundur pelaksanaannya karena dampak abu vulkanik letusan Gunung Kelud tersebut, di antaranya acara Gugus Donoharjo dan acara Latihan Ujian Nasional untuk kelas VI yang rencananya akan dilaksanakan.

“Terimakasih kepada TIM SAR Hidayatullah DIY yang sudah membantu kami membersihkan sekolah,” ujar Nur Kholiq, selaku komandan pada kegiatan ini.

Nur Kholiq berharap upaya kita membangun peradaban Islam ini bisa menjadi amal shalih yang kelak akan menolong diri kita dan tentu juga keluarga kita. (hidy/hio)

Ukhuwah Modal Penting Tegakkan Peradaban Islam

Ustadz Nursyamsa Hadits saat menyampaikan taushiahnya / SKR ALJIHAD
Ustadz Nursyamsa Hadits saat menyampaikan taushiahnya / SKR ALJIHAD

Hidayatullah.or.id -– Umat Islam diserukan memperkuat jaringan dan persaudaraan, sebab keduanya sangat penting. Dalam bisnis minimarket misalnya, semakin kuat jaringan, semakin banyak konsumen diraup. Ukhuwah Islamiyah jangan mau kalah dengan bisnis minimarket.

Pesan ini disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Drs Nursyamsa Hadis saat berbicara pada Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu (15/02/2014).

“Sesuatu yang mahal dari sisi bisnis itu jaringan. Dengan jaringan yang dibuat tentu saja dapat meraup konsumen sebanyak-banyaknya. Menyebut Indomaret misalnya, saya kira di antara santri tidak ada yang tidak kenal. Betapa kuat jaringan itu,” ujarnya di depan ratusan santri dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi hidayatullah.

Nursyamsa mengatakan, ukhuwah Islamiyah saat ini harus dipertahankan dan diperkuat. Bagi para generasi muda, ke depannya jaringan persaudaraan mereka akan menjadi modal perjuangan Islam. Termasuk dari sisi ekonomi.

“Bangun persaudaraan yang bagus. Karena kita tidak akan tahu jadi apa kita semua ke depan. Dan pasti akan menyebar,” ujar mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Kalimantan Timur (Kaltim) ini.

Nursyamsa mengatakan, banyak indikator sederhana akan kondisi ukhuwah Islamiyah saat ini. Di pesantren misalnya, biasanya para santri rajin berbagi makanan bahkan saling meminjamkan pakaian kepada sesamanya. Jika ada santri yang kikir, akan dijauhi kawan-kawannya.

“Ini menunjukkan sifat kikir akan menghalangi terbangunnya sifat persaudaraan di antara sesama,” jelasnya.

Jika berbagi makanan saja kikir, lanjutnya, tentu akan sulit terbangun persaudaraan dalam lingkup yang lebih besar lagi. Apalagi jika sudah berbicara membangun peradaban Islam dan negara yang lebih baik.

“Bagaimana membangun ukhwah, sebetulnya itu buah dari proses pembinaan keimanan, proses membangun aqidah yang benar. Proses itulah yang dibangun oleh manhaj di Hidayatullah. Al-‘Alaq melahirkan pernyataan tauhid,” ujarnya.

Dalam konteks al-‘Alaq, jelasnya, umat Islam harus mengikuti hanya apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi apa yang dilarang. Serta menjadikan Muhammad sebagai tokoh idola dan panutan.

“Refleksinya, bagaimana sikap kita terhadap al-Qur’an. Kalau kau mau jadi orang hebat: bacalah al-Qur’an, zikir yang bagus,” pesannya.

Dia mengatakan, persaudaraan akan lahir pelan-pelan. Maka harus dibangun sejak dini dan di berbagai lini. Di sekolah misalnya, bagaimana para guru membangun keakraban dengan para murid.

“Guru yang baik adalah guru yang bisa berbaur dengan murid-muridnya. Kita harus lihat pekerjaan kita itu dalam dimensi ukhuwah. (Memandang murid) itu adalah anak-anak kita. Ini hanya bisa terbangun jika kita memiliki ideologi yang benar,” pesannya. (skr/hio)

Hidayatullah Sinergis Pemerintah Bangun Sorong

0
Rakerwil Hidayatullah Papua Barat 2013 / IST
Rakerwil Hidayatullah Papua Barat 2013 / IST

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah adalah salah satu organisasi masyarakat (ormas) turut serta berperan aktif dalam mendukung program pembangunan pemerintah dalam mengembangkan Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat secara umum.

Demikian dikatakan Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Abu Ala Abdullah, saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) IV Hidyatullah Papua Barat beberapa waktu lalu, ditulis Selasa (18/02/2013).

Abdullah mengatakan, Hidayatullah selalu memberikan dukungan terhadap pemerintah dalam bidang apa saja, tak terkecuali pada bidang politik. Meski tak akan terlibat dalam kancah politik praktis, Abdullah menegaskan bahwa Hidayatullah mendukung penyelenggaraan sistem politik yang berkemanusiaan, berkemajuan, beradab, serta menjunjung tinggi nilai nilai Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Abdullah juga mendorong kader-kader Hidayatullah di Papua Barat untuk terus membangun tradisi mulia sebagaimana telah diserukan dalam Piagam Gunung Tembak pada Silatnas Hidayatullah 2013 lalu.

Di mana pun berada, kata Abdullah, kader Hidayatullah harus selalu menjaga adab-adab Islam dan memberi manfaat kepada orang lain serta mempraktikkan Islam yang penuh kasih sayang (rahmatan lil ‘alamiin) kepada masyarakat di sekitarnya tanpa memandang suku, ras, dan agamanya.

“Peran pembangunan Hidayatullah sudah banyak dirasakan masyarakat terutama di bidang pendidikan dan ekonomi, namun tentu kita boleh lekas berpuas diri. Sebab membangun peradaban mulia ini membutuhkan loyalitas, konsistensi, dan terpenting adalah kebersamaan,” kata beliau.

Dengan mendirikan sejumlah pesantren di tiap daerah di Papua Barat, Hidayatullah tidak asing lagi di masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan dan dakwah keummatan merupakan peran nyata Hidayatullah dalam pembangunan daerah dari aspek pengembangan sumber daya manusia dan kultur bangsa.

Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Papua Barat menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) IV yang berlangsung di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong, Papua Barat di bilangan Kampung Salahk. Rakerwil ini dihadiri oleh puluhan pengurus daerah Hidayatullah Papua Barat. Acara ini juga dibarengi dengan kegiatan training Marhalah untuk kader Hidayatullah di wilayah itu. (ybh/hio)