Beranda blog Halaman 664

Memberikan yang Terbaik untuk Masyarakat

0
Oleh Dr H Abdul Mannan*
Oleh Dr H Abdul Mannan*

NABI Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik–baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (Riwayat Thabrani).

Redaksi Hadits di atas sangat sederhana, tapi berat dalam aksi. Kata manfaat mengandung makna yang sangat dalam. Apalagi manfaat dalam kaitan hidup bermasyarakat.

Makna manfaat berarti suatu nilai positif seseorang yang ditransfer kepada publik atau lingkungan dimana ia berinteraksi. Nilai positif adalah dambaan bagi semua orang yang berpikiran positif pula. Dan, tiada manusia yang tidak mendambakan nilai–nilai positif dalam hidup dan kehidupan.

Al-Qur`an adalah sebagai pedoman hidup umat manusia dan nabi serta rasul sebagai pelaksana dalam membangun masyarakat. Oleh karena itu, atas dasar fungsi kenabian dan kerasulan Muhammad SAW yang berdimensi kepemimpinan memberikan suatu statement bahwa sebaik–baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Dengan demikian, seruan tersebut berdimensi kemaslahatan umat manusia agar dapat menciptakan suatu masyarakat yang saling membangun dalam kebersamaan hidup berdasarkan nilai–nilai ajaran Allah.

Lantas, apakah semua manusia menghendaki aturan hidup dan kehidupan yang datangnya dari Allah? Secara ideal adalah semua manusia berlapang dada dan berkemauan untuk melaksanakan ajaran Allah yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul. Tetapi realitas sejarah manusia menunjukkan bahwa mayoritas umat manusia enggan menerima ajaran-Nya.

Sejak Nabi Adam alaihisalam hingga saat ini dan sampai akhir zaman, bahwa manusia saling tarik menarik dalam kebenaran dan kejahatan.

Para nabi dan rasul sengaja diutus oleh Allah untuk mengarahkan semua manusia pada zamannya agar hidup di bawah naungan ajaran Allah. Dan, keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah diutus untuk kaumnya sejak zamannya hingga akhir zaman untuk umat seluruh dunia.

Ajaran yang diwahyukan Allah kepadanya tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Sebab itu, Nabi Muhammad SAW konsen terhadap pembangunan manusia yang berdimensi kepemimpinan. Rumus menejemen modern juga mengatakan bahwa pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang berkemampuan melahirkan pelanjut kepemimpinannya.

Dengan demikian, misi perjuangan hidup dan kehidupan yang senantiasa melestarikan lingkungan dengan nilai-nilai positif berdasarkan ajaran Allah akan berlanjut hingga akhir zaman.

Sekarang, kita hidup jauh berselang dari zaman Rasulullah SAW. Namun, kita beriman kepadanya bahwa ia seorang nabi dan rasul penuntun umat manusia menuju sukses di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai hal tersebut lahannya adalah membangun peradaban manusia atas dasar ajaran Allah yaitu Islam. Konsep peradaban Islam adalah al-Qur`an dan as-Sunnah.

Kini, kita menyaksikan peradaban manusia yang jauh dari ajaran Islam. Dengan segala dalih bahwa al-Qur’an sebagai wahyu sudah tidak up to date, sehingga harus direvisi. Akhirnya, umat Islam berkutat seputar dialog non produktif, yang berujung tidak sempat berkarya demi kemaslahatan umat.

Di sisi lain, umat manusia yang tidak beriman kepada al-Qur’an dan as-Sunnah terus menggulirkan isu-isu negatif tentang Islam. Misalnya, Islam literal adalah sarang teroris dan Islam liberal adalah pemersatu umat manusia.

Dalam kondisi degradasi keimanan seperti ini, maka hendaknya di antara kita ada yang bangkit memberikan pencerahan kepada umat. Marilah kita berikan sesuatu yang terbaik menurut ajaran Islam demi kemaslahatan bangsa dan negara. *
*Penulis adalah Ketua Umum PP Hidayatullah

Dewan Syura: Jangan Lupakan Piagam Gunung Tembak

Ustadz Hamim Thohari saat memberikan taushiah / FOTO: Masykur
Ustadz Hamim Thohari saat memberikan taushiah / FOTO: Masykur

Hidayatullah.or.id — Sejak acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah bulan Juni 2013 lalu, seluruh kader dan jamaah Hidayatullah kini memiliki Piagam Gunung Tembak.

Sebuah piagam kesepakatan yang berisi seruan untuk menegakkan peradaban Islam dengan memakmurkan masjid, menuntut ilmu, bersilaturrahim, berjiwa sosial, mendirikan shalat berjamaah, tawadhu’, berdakwah, dan menjadi teladan yang baik di masyarakat.

Bagi kader dan jamaah Hidayatullah, Piagam Gunung Tembak tentunya bukan sekedar simbol yang menghiasi penutupan gawe besar seperti Silatnas lalu. Tapi ia adalah spirit yang menjadi energi dalam setiap perlangkahan dakwah di seluruh penjuru nusantara.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Syura Hidayatullah, K.H. Hamim Thohari, ketika menyampaikan taushiyah di hadapan peserta Training Marhalah Wustha hari ini yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Kalimantan Timur, 8-11 Januari 2014.

“Hendaknya hal ini menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai ada diantara kita yang lupa dengan Piagam Gunung Tembak,” ucap Hamim yang lebih karib disapa ustadz ini.

“Kita telah berbuat dzalim jika ada diantara kita yang tidak pernah lagi menengok apa isi piagam tersebut. Ia adalah janji sekaligus kontrak kita bersama dalam dakwah menegakkan peradaban Islam,” lanjut beliau.

Beliau menegaskan, jika kita sendiri tidak mengindahkan hasil kesepakatan sendiri, maka Bagaimana kita bisa berharap agar umat juga peduli dengan urusan dakwah ini.

Kehadiran Ustadz Hamim di acara pembukaan marhalah ini sekaligus menjadi narasumber pertama di acara yang digelar selama 4 hari di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kaltim.

Masih menurut Hamim, Gunung Tembak adalah akar sejarah dari perjuangan dakwah Hidayatullah. Itu juga yang menjadi alasan mengapa piagam yang dicetus lalu dinamai Piagam Gunung Tembak. Sebagai contoh, Muhammadiyah meskipun kini kian berkembang pesat di sejumlah daerah. Tetap saja Muhammadiyah tidak bisa melepaskan jati dirinya yang lahir di kota Jogjakarta. Sebagaimana juga Nahdhatul Ulama yang kental dengan celupan dari Jawa Timur.

Untuk itu, terang beliau, Gunung Tembak adalah milik semua kader Hidayatullah. Dari sanalah seluruh juru dakwah –pada awalnya- ditembakkan ke seluruh penjuru nusantara.

Sementara itu dalam momen yang sama, Hamzah Akbar, Ketua PW Hidayatullah Kaltim mengajak seluruh peserta untuk memperbanyak syukur atas kegiatan Training Marhalah Wustha ini.
Hamzah menuturkan, training Marhalah Wustha sebagai langkah dakwah yang sangat strategis dalam mengawali gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di tahun 2014.

“Semoga dari acara ini lahir para ideolog-ideolog Muslim yang siap mentransformasikan dan mendakwahkan nilai-nilai agama Islam ke tengah umat, khususnya medan dakwah Kalimantan Timur,” ucap Hamzah semangat.

Menurut Hamzah, kebutuhan umat hari ini tidak berbanding dengan para juru dakwah dan ideolog Muslim yang siap terjun ke lapangan. Untuk itu Hamzah berharap agar para alumni Training Marhalah Wustha bisa menjadi jawaban akan kebutuhan dakwah di tengah umat.

Training Marhalah Wustha ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai utusan daerah se-Kalimantan Timur seperti dari Tarakan, Nunukan, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, Samarinda, Balikpapan, dan lainnya. Juga diikuti sebanyak 7 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISD) Balikpapan.*

________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media langsung dari arena acara

Dunia Islam Punya Potensi 150 Juta Akademisi, Indonesia 32 Juta

0
IST
IST

Hidayatullah.or.id — Persentase akademisi di dunia Islam, yang populasinya saat ini mencapai 1,5 miliar jiwa dan tersebar di 50 negara, mencapai 10 persen atau sekitar 150 juta. Demikian dikatakan profesor riset bidang sistem informasi spasial di Badan Informasi Geospasial (BIG), Fahmi Amhar, di Jakarta.

“Di Indonesia estimasi kalangan akademisi mencapai 13,28 persen dari total populasi atau sekitar 32 juta jiwa,” kata Fahmi Amhar belum lama ini.

Dia mengatakan potensi sumber daya intelektual di dunia Islam ini semakin tampak dengan munculnya beberapa gagasan yang berkaitan dengan pembangunan peradaban Islam.

“Mereka telah mengusulkan banyak sekali solusi dalam topik-topik seperti politik global dan dampaknya terhadap dunia Islam yang mencakup geopolitik, hubungan internasional, interdependensi antarnegara hingga isu militer dan keamanan,” jelas Fahmi.

Selain itu para ilmuwan Islam di dunia juga membahas isu ekonomi, kesehatan dan keamanan pangan, energi dan sumber daya alam, masalah perempuan dan keluarga serta pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi, tambahnya.

Namun demikian, menurut dia, hasil pemikiran para ilmuan tersebut masih parsial sehingga topik yang dibahas berhenti pada teori dan konsep sehingga belum mampu menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya.

“Pendidikan yang fokus hanya pada bidang kajian yang sempit justru kehilangan konteks atau kerangka berpikir yang melingkupi persoalan tersebut,” ujar Fahmi.

Dia mengatakan permasalahan di dunia Islam seperti ekonomi yang terpuruk, degradasi moral masyarakat, pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang tertinggal telah dibahas dan diupayakan penyelesaiannya melalui perdagangan, sekolah-sekolah Islam, beasiswa ke perguruan-perguruan tinggi internasional.

“Tapi dunia Islam belum melihat ujung dari benang kusut permasalahan-permasalahan ini,” kata Fahmi.

Menurut dia, sekulerisme dan liberalisme menjadi paham yang menghalangi intelektual Muslim dunia untuk merumuskan penyelesaian yang menyeluruh dan tuntas atas permasalahan-permasalahan masyarakat tersebut.

Sekulerisme melahirkan manusia-manusia sombong yang menganggap dirinya lebih tahu daripada Tuhan yang menciptakan alam semesta sehingga Islam terpisah dari kehidupan dan urusan masyarakat. Sementara liberalisme telah menjauhkan manusia dari aturan-aturan Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan.

Intelektual Muslim seharusnya mengintegrasikan dan menyinergikan sistem dan hukum Islam dalam setiap upaya ilmiah mereka untuk menyelesaikan masalah masyarakat hingga pada level dunia, tandas Fahmi. (antara)

Kemenpera Teruskan Pembangunan Rusunawa untuk Pondok Pesantren

0
Kemenpera Djan Faridz
Kemenpera Djan Faridz

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren merupakan sarana pendidikan tertua di Indonesia. Sayangnya masih banyak lembaga pendidikan para santri itu kondisinya mengenaskan. Karena itulah pondok pesantren menjadi perhatian khusus Kementerian Perumahan Rakyat untuk diperbaiki menjadi lebih layak huni dan bagus.

“Pendidikan pondok pesantren sudah ada sejak jaman penjajahan. Saat ini kita punya 27 ribu ponpes di seluruh Indonesia. Kondisi asramanya jauh dari layak huni,” kata Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dalam siaran pers yang diterima media, Selasa (7/1) kemarin.

Djan mengaku telah berkeliling Indonesia untuk melihat kondisi pesantren dari dekat. Saat baru ditunjuk sebagai menteri, dia langsung turun ke ponpes-ponpes di seluruh pelosok daerah.

“Ternyata kondisinya masih banyak yang memprihatinkan. Kamar tidurnya sempit, ruangan kecil diisi banyak santri. Mereka tidur umpel-umpelan. Bayangkan, ukuran 3 x 4 meter persegi diisi 20 santri,” papar Djan.

Ia pernah mendapati sebuah pesantren dengan jumlah santri mencapai 18 ribu. Mck-nya di empang. Itu pun harus antri. Tidur, tempat sholat dan tempat berlajarnya di musholla. Mereka juga tidak dipungut bayaran. Hebatnya dalam sehari mereka dapat makan sampai 3 kali. “Nah, Kalau bukan pemerintah yang memerhatikan pondok pesantren, siapa lagi,” ujarnya.

Anggaran untuk perbaikan pondok pesantren pun sangat minim. Sebelum jadi menteri perumahan, lanjut Djan, anggaran setahun hanya cukup untuk perbaikan 8 pondok pesantren. Djan pun berusaha meyakinkan Presiden SBY bahwa pendidikan pesantren harus mendapat perhatian ekstra. Upayanya berhasil.

Sejak 2012, anggaran bantuan pembangunan pondok pesantren berupa Rusunawa yang semula hanya cukup untuk 8 ponpes, melesat menjadi 300 pembangunan Rusunawa pesantren. Yang semula anggarannya hanya Rp 900 miliar di 2011, di 2014 mencapai Rp 4,6 triliun.”Insya Allah di 2014 bertambah menjadi 400 pesantren,” ujar Djan.

Menurut Djan, pendidikan pesantren itu, selain murah, sebenarnya kualitas pendidikannya tak kalah bagus dengan pendidikan formal.

“Karena itu kita bantu pembangunan pondokannya berupa Rusunawa. Dengan kualitas pondokan yang bagus akan meningkatkan pendidikan yang bagus pula. Meski pendidikannya masih berpegang pada tradisi, tapi lebih terlihat moderen,” jelasnya.

Untuk keseluruhan Jawa Timur Djan mengungkapkan akan dibangun 175 twinblok dengan nilai mencapai Rp 600 miliar. (pr/hio)

Ustadz Lathif Usman: Mengabdi di Hidayatullah Sebagai Pengawal

Ustadz Latif (depan kedua dari kiri) bersama sejumlah pengurus berfoto dengan Presiden SBY
Ustadz Latif (depan kedua dari kiri) bersama sejumlah pengurus berfoto dengan Presiden SBY

Hidayatullah.or.id — Siapa yang tak kenal Ustadz Abdul Latif Usman? Di kalangan Hidayatullah, beliau termasuk ustadz senior. Tapi adakah yang tahu jabatan beliau selama ini? Ustadz Latif, demikian biasa dipanggil, mengaku dirinya selama di lembaga menjadi pengawal.

“Sejak dulu tugas saya ini jadi pengawal, mulai pimpinan (pertama, Allahuyarham Ustadz Abdullah Said) hingga pimpinan sekarang (Ustadz Abdurrahman Muhammad),” ujar Ustadz Latif di depan para jamaah usai shalat shubuh di Masjid Ummul Quro, Komplek Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Beliau berkisah, ada kesan-kesan tersendiri khususnya saat mengawal Ustadz Abdurrahman. Misalnya, Ustadz Latif kerap dikira pimpinan Hidayatullah oleh orang-orang yang belum mengenal keduanya dengan baik.

“Saat kami (saya, Red) mengawal beliau (pimpinan) ke Pakistan, di markas sebuah harakah besar, kami yang dikira sebagai pimpinan Hidayatullah,” tuturnya.

Hal ini, menurut Ustadz Latif, karena penampilan keduanya yang berbeda. Seperti diketahui, saat bepergian Ustadz Abdurrahman kerap “berseragam” khas; peci hitam, baju koko, dengan sorban merah disampir di bahu, serta celana panjang di atas mata kaki. Sementara Ustadz Latif, “seragam” khasnya adalah peci putih dan gamis putih panjang layaknya orang Arab.

“Karena penampilan beliau yang begitu, dan penampilan kami yang begini, maka kami yang dikira pimpinan Hidayatullah,” ujar Ustadz Latif disambut senyum jamaah.

Dalam hal ini, beliau menyebut dirinya bisa “mengalahkan” bapak pimpinan. Namun, beliau mengakui belum bisa “mengalahkan” Ketua Umum (Ketum) PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan.

“Tapi ada satu yang bisa kami kalahkan beliau,” ujar Ustadz Latif.

Beliau berkisah lagi, suatu ketika pernah mengawal Ustadz Mannan ke suatu tempat selama beberapa hari. Saat Ketum menanyakan makanan yang hendak disantap, Ustadz Latif menjawab “sate”.

Makan yang kedua kalinya, ditanya lagi apa yang mau dimakan, jawabnya sate lagi. Ketum meladeni.

Ketiga kalinya, “Mau makan apa?” tanya Ketum.

“Sate!” jawab Ustadz Latif dengan mantapnya.

Demikian seterusnya, tawaran dan jawaban yang sama hingga makan keempat, kelima, bahkan keenam. Setiap tawaran makan, Ustadz Latif selalu menjawab “sate”.

Tapi rupanya pada “tantangan” sate yang terakhir ini, Ketum sudah tak sanggup meladeni sang pengawal.

“Di sinilah kami berhasil mengalahkan Ustadz Mannan,” seloroh Ustadz Latif lagi-lagi disambut tawa ringan jamaah. (Liputan Skr aljihad, wartawan portal nasional Hidayatullah.com).

Hindari Mudharat, Pesantren Hidayatullah Minta Lokalisasi di Bintan Ditutup

0
Salah satu pantai di Pulau Bintang / Kompasiana
Salah satu pantai di Pulau Bintang / Kompasiana

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan Meydi meminta lokalisasi di Bintan ditutup karena dinilai akan sangat banyak sisi mudharat (buurknya) dan rentan menjadi tempat penyebaran HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Menurut Meydi, penyebaran semakin berkembang di tengah masyarakat Bintan, salah satu lokasi penyebarannya melalui tempat-tempat lokalisasi. Untuk itu, ia meminta pemerintah menutup lokalisasi yang terdapat di dua lokasi di Bintan yakni Bukit Senyum dan Toapaya.

“Berangkat dari kekhawatiran kita, setiap tahun semakin berkembang virus HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat. Salah satu faktor yang mendukung penyebarannya adalah di tempat-tempat lokalisasi,” kata Meydi saat berkunjung ke Haluan Kepri, Jumat (3/1) lalu.

Dia menyampaikan, diperlukan campur tangan pemerintah sebagai pemangku kekuasaan dan yang memiliki kewenangan menutup lokalisasi tersebut.

“Kalau hanya sekedar sosialisasi saja itu sudah sering dilakukan. Tapi tetap saja banyak. Solusi konkretnya pemerintah harus menutup tempat lokalisasi,” katanya.

Menurutnya, Bintan perlu belajar dari beberapa pemerintah daerah di Indonesia yang serius menangani persoalan ini dengan menutup lokalisasi yang ada di daerahnya.

“Belajar dari beberapa daerah seperti di Pekanbaru, lokalisasi sudah ditutup dan dijadikan perumahan oleh pemerintah di sana. Tentunya sangat ironis kalau ini (lokalisasi) terus berkembang di Bintan ini,” katanya.

“Ini suara kami. Harapan kami, ada respon dari pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. Dengan berkembangnya Bintan, jangan sampai lokalisasi dan HIV/AIDS juga ikut berkembang,” katanya.

Meydi mengatakan tidak ada aturan, baik undang-undang atau aturan lainnya, yang melegalkan lokalisasi di suatu daerah. “Miris rasanya Bintan dan Tanjungpinang yang mayoritas masyarakat dan pemimpinnya Islam, tempat maksiat berkembang dengan subur,” katanya.

Ponpes Hidayatullah Bintan, kata dia, kerap melakukan pengajian di salah satu lokalisasi yang ada di Bintan, namun menurutnya hal itu tidakl cukup jika pemerintah tidak ikut campur tangan. Pemerintah diminta mengambil tindakan tegas dan serius terhadap penyebaran HIV di masyarakat. (hk/ybh/hio)

Hidayatullah Dukung Gagasan Kembangkan Pesantren Berwawasan Bahari

0
Kekayaan maritim Indonesia
Kekayaan maritim Indonesia

Hidayatullah.or.id — Potensi perikanan dan maritim Indonesia, merupakan sumber ekonomi masyarakat di kepulauan dan pesisir. Dari sinilah masyarakat muslim hadir membentuk komunitas pesantren pesisir di beberapa wilayah kelautan dan kepulauan di tanah air.

Dari sinilah pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memandang perlu memperkuat komunitas pesantren berwawasan bahari di Indonesia.

“Potensi lokal pesantren di wilayah maritim ini perlu dikembangkan dan dibantu,” ujar Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Ace Saepudin, beberapa waktu lalu.

Menurut Ace pentingnya pengembangan pesantren bahari dikarenakan dari komunitas pesantren pesisir inilah masyarakat muslim tradisional menjaga potensi kelautan. Dengan pengembangan pesantren bahari ini, tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman agama masyarakat pesisir. Tapi juga berbagai pengetahuan potensi ekonomi dan perikanan disana.

Ace mengungkapkan, Kemenag akan bekerjasama dengan Fakultas Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. “Beberapa dosen pun akan diajak ke beberapa pesantren pesisir melihat potensi perikanan dan tambak yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ini kata Ace sekaligus transfer pengetahuan antara akademisi ke masyarakat pesisir. Agar ilmu kelautan dan perikanan langsung bisa dirasakan pesantren pesisir.

Saat ini, kata Ace, setidaknya sudah 120 pesantren yang tergabung di pesantren bahari. Beberapa pesantren bahari tersebut terdapat di wilayah, pantai utara Jawa Tengah dan Timur, dan wilayah pesisir dan kepulauan di Gorontalo. Kedepan ia pun berharap ada kerjasama yang terus menerus bersama dengan pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengelolaan perikanan lebih jauh.

Ia mengungkapkan, Pesantren Bahari merupakan Ponpes yang letak geografisnya berada tidak jauh dari laut atau yang memiliki kegiatan produksi di bidang kelautan dan perikanan serta melaksanakan pelatihan kelautan dan perikanan, baik formal maupun non formal. Saat ini sudah ada sebuah komunitas pesantren bahari yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Pesantren Bahari (FSPB).

Hidayatullah kini telah menjadi salah satu pioner pesantren bahari itu dengan terlibat aktif dalam program pengembangan sumberdaya manusia kelautan dan perikanan dalam meningkatkan kemampuan anggota masyarakat, khususnya pelaku utama kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Pesantren Hidayatullah Balikpapan dirangkul oleh KKP dalam sinergi program unggulan pembentukan dan pengembangan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) di kota tersebut.

Belum lama ini bersama dengan RM Torani digelar pelatihan pengelolaan tataboga ikan bandeng yang dilaksanakan secara paralel sebanyak 2 angkatan yaitu angkatan 5 dan 6 sejak Agustus 2013 dengan jumlah peserta 20 orang masing-masing angkatan berjumlah 10 orang yang seluruhnya berasal dari Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.

Program diantaranya melatih peserta dapat membuat bandeng tanpa duri, membuat bakso bandeng, nugget bandeng dan bandeng crispy juga dibekali dengan materi PMMT untuk mengetahui mutu ikan dan penanganannya, mengemas produk olahan bandeng, pemasaran hasil olahan bandeng dan kewirausahaan.

Pelatihan pengolahan dan pemasaran ikan bandeng ini dilaksanakan di salah satu lokasi milik Torani Food Restoran yang juga sebagai lokasi P2MKP dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta pelatihan terhadap pengolahan bandeng tanpa duri dan diversifikasi olahannya. (rep/hio/ybh)

Lewati Medan Sulit, Tembus Bone Marawa untuk Serahkan Wakaf Qur’an

mamuju (1)Hidayatullah.or.id — Dai Hidayatullah yang berada di bawah koordinasi Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Mamuju Tengah menembus wilayah minoritas bernama Dusun Rio yang penduduknya 100 persen Muslim namun namun masih rentan mengalami pendangkalan aqidah. Hidayatullah menembus daerah ini guna menyampaikan amanah wakaf Qur’an dari umat.

Dusun Rio yang berada di desa Bone Marawa yang berada sekitar 30 kilometer dari kota Kecamatan Rio Pakava ke arah tenggara dan berbatasan dengan hutan lindung itu tidak seperti layaknya dusun kebanyakan.

Dari ibukota kecataman menuju dusun ini bisa menghabiskan waktu hingga 3 jam. Sepeda motor yang sudah dirancang khusus atau mobil double handle pun hanya bisa sampai di ujung dusun Lalundu 6. Selebihnya harus gerak jalan.

Jalan kaki diawali dengan lintasan jembatan gantung pertama, yang baru kali pertama mungkin bisa membuat bergidik serem sambil menikmati pemandangan hutan yang memisah dusun Rio dengan desa Bone Marawa.

Selesai tantangan pertama, selanjutnya menyusuri derasnya sungai kecil berbatu di lembah dengan rimbunan hutan yang masih asli. Tetapi melintasi jembatan gantung kedua setelah melalui sungai kecil dan jalan mendaki yang terjal akan menjadi pelengkap amal jariyah dai yang bertugas di wilayah suku Tado ini.

Jembatan gantung ini terbuat dari selembar papan yang sudah tidak utuh lagi, diikat kawat seperlunya terbentang sepanjang 40 meter dan menggantung di atas derasnya sungai pegunungan seolah menjadi syarat untuk setiap pengunjung atau warga yang akan masuk ke dusun Rio.

Pemerintah melalui program transmigrasi sosial, membuatkan rumah sebanyak 50 buah di dusun ini, namun karena penduduknya yang sebelumnya perambah hutan dan berpindah-pindah alias nodamen, akhirnya mereka kini lebih suka kembali ke kebun-kebun mereka dan menetap di sana.

Melewati jembatan gantung
Melewati jembatan gantung

Kini tinggal 24 warga yang mendiami rumah pemukiman, sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia. Tentunya kondisi ini menyulitkan kami berkomunikasi kecuali saat ada warga yang memahami percakapan ini, itupun dengan dialeg yang belum akrab di telinga kami.

Butuh kesabaran mengajarkan Al-Qur’an di dusun yang dikelilingi bukit tinggi ini. Selain belum mampu baca tulis Qur’an, rata-rata warganya tuna aksara.

“Saat berkunjung ke dusun ini, kami hanya mendapati dua anak kecil di dusun ini. Selebihnya anak-anak lain bersama-sama membantu menanam padi gunung di kebun seorang guru sekolahnya,” kata Ketua PD Hidayatullah Mamuju Tengah yang juga kontributor portal nasional Hidayatullah.com, Muhammad Bashori, yang melaporkan langsung perjalanannya ke media ini melalui surat elektronik, Rabu kemarin.

Menurut pengakuan salah seorang wali murid di dusun Rio, sudah tiga bulan anak-anak mereka tidak sekolah tanpa memberikan alasan yang jelas. Bahkan sudah dua Jum’at terakhir mereka harus shalat Dhuhur di rumah masing-masing karena seseorang yang mereka angkat sebagai imam yang juga khatib harus bermalam di lahannya menunggui tanaman dari gangguan hama dan hewan liar.

Sebenarnya beberapa upaya peningkatan ekonomi sudah mulai berjalan, di antaranya kelompok ternak kambing. Meski menemui jalan buntu untuk pemasarannya yang terkendala jarak dan transportasi.

“Dakwah di pedalaman seperti ini memang dibutuhkan dai yang mampu dari segala hal, fisik, mental spiritual ataupun secara ekonomi,” ungkap Abdy Roziqin, dai yang menetap di Desa Pantolobete.

Roziqin mengisahkan kalau ia akan khutbah di pedalaman-pedalaman, harus berangkat di awal pagi. Selain membutuhkan waktu yang lama untuk menjangkaunya, sebelum memasuki shalat Ju’mat harus keliling ke semua rumah-rumah penduduk memberikan pengumuman. Talau tidak diberitahu, mereka mengira tidak ada dai yang datang dan memilih shalat dhuhur di rumah masing-masing.

Kondisi Dusun Owu yang berada di Desa Pantolobete sedikit berbeda dengan Dusun Rio. Faktor akses jalanan yang sudah terbuka, Owu bersebelahan dengan lokasi transmigrasi yang warganya berasal dari Jawa dan Sulawesi Selatan.

Dari pembauran masyarakat multi adat itu kini Owu mengalami perubahan yang cukup baik. Terbukanya sarana pendidikan dan fasilitas umum serta adanya beberapa warga yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren merupakan pintu gerbang masuknya dakwah Islam.

Sejak adanya program wakaf Qur’an dari Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah (YWASH) kini kegiatan belajar baca tulis Qur’an dan majelis-majelis taklim mulai aktif meski masih berjalan seadanya.

Tim pengantar wakaf mencoba menerjang arus sungai
Tim pengantar wakaf mencoba menerjang arus sungai

“Terkadang kami harus datang membawa pakaian-pakaian layak pakai dari kota, atau memborong toko yang sedang mengobral pakaian stok lama untuk dibagikan usai taklim di daerah binaan seperti ini,” papar Roziqin memberikan kiat dakwahnya agar menarik jamaah.

Menurut penuturan kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Rio Pakava, Muhammad Halimi, S.Ag., ia bersyukur sejak lima tahun terakhir nuansa dakwah mulai menggeliat. Ditambah dai-dai yang ikhlas berdakwah di sini dan dilengkapi gerakan wakaf Qur’an dari Hidayatullah membuat lengkaplah kesyukurannya.

Meski di wilayah kerjanya sudah ada tiga pesantren yang juga turut memberikan pencerahan ke masyarakat, namun pihaknya masih menaruh harapan besar kepada YWASH untuk melakukan pembinaan di wilayah kecamatan yang diantarai provinsi Sulawesi Barat untuk menuju ke kabupatennya ini.

“Mudah-mudahan kerjasama wakaf Qur’an dengan Hidayatullah ini berlanjut sampai ke program pembinaan,” harap pria asal Demak ini. (bas/hio/ybh)

Hidayatullah Maksimalkan Wakaf Umat untuk Dakwah dan Pemberdayaan

0
Tanah wakaf / Ilustrasi
Tanah wakaf / Ilustrasi

Hidayatullah.or.id — Ormas Islam Hidayatullah terus mengembangkan potensi wakaf keummatan untuk menggenjot kiprah dakwah, pendidikan dan pemberdayaan sosial persyarikatan ini. Kepala Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Tasyrif Amin mengatakan banyak pondok pesantren dikelola oleh ormas Hidayatullah berasal dari wakaf.

Khusus wakaf uang, jelas Tasyrif, pengelolaannya diserahkan kepada Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Mal Hidayatullah (Laznas BMH).

Laznas BMH merupakan lembaga legal nasional yang menerima wakaf, mayoritas berupa benda, seperti tanah dan bangunan. Tasyrif menuturkan, kendala wakaf tanah adalah soal sertifikasi. Rata-rata tanah yang mereka terima di daerah belum memiliki sertifikat.

“Sebelum bisa kami gunakan, tanah yang diwakafkan harus kami urus sertifikatnya,” kata Tasyrif seperti juga dikutip Republika, beberapa saat lalu.

Sementara, wakaf uang yang diserahkan masyarakat ke Laznas BMH juga diputar untuk kegiatan usaha keummatan dan pemberdayaan, seperti bantuan dana wirausaha dan minimarket.

“Kami berusaha profesional dan terbuka seperti lembaga-lembaga serupa milik organisasi Islam lain,” ujar Tasyrif. Kendati demikian, beliau mengatakan belum mendata sepenuhnya berapa jumlah wakaf uang yang sudah diserahkan masyarakat ke Hidayatullah.

Tasyrif memperkirakan wakaf uang masih sedikit. Sebab, sebagian besar wakaf yang Hidayatullah dapatkan merupakan wakaf berupa benda, baik bangunan maupun tanah.

Sementara itu, dalam pernyatannya belum lama ini Badan Wakaf Indonesia (BWI) akan mempercepat pertumbuhan wakaf uang. Menurut Wakil Ketua BWI Mustafa Edwin Nasution, potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 3 triliun, namun yang tergali masih sangat kecil.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, BWI baru memperoleh Rp 3,7 miliar. Ini tergolong kecil. “Hanya sepersepuluh dari potensi yang ada,” kata Mustafa akhir tahun lalu. Dana ini digunakan untuk membantu pendidikan taman kanak-kanak di berbagai perkampungan.

Alokasi lainnya adalah pembangunan rumah sakit ibu dan anak di Serang, Provinsi Banten. BWI berencana meningkatkan penghimpunan dengan menggiatkan pengelolaan wakaf melalui baitul maal wa tamwil (BMT). Alternatif lainnya lewat koperasi jasa keuangan syariah.

Belum lama ini, BWI baru melakukan uji kelaikan dan kepatutan 38 BMT yang akan menjadi pengelola wakaf uang. Dari target 100 BMT, lembaga ini baru menyetujui delapan unit. Ada syarat ketat yang diterapkan pada BMT yang akan mengelola wakaf uang.

Di antara syaratnya, memiliki aset minimal Rp 3 miliar, sudah beroperasi minimal lima tahun, dan hasil pengelolaan BMT sudah bisa dilihat. BWI menargetkan 100 BMT yang menjadi pengelola wakaf uang bisa terwujud tahun depan.

Jika total anggota 100 BMT itu mencapai 500 ribu orang dan setiap orang berwakaf Rp 1.000 per hari maka terkumpul Rp 1 miliar hanya dalam dua hari. “Hal terpenting, BMT bisa mengelolanya dengan amanat. Ini langkah memakmurkan masyarakat,” kata Mustafa.

BMT yang dipilih tersebar di berbagai wilayah agar wakaf uang mampu melahirkan kemakmuran lebih luas. “Jadi, konsepnya pengembangan komunitas,” kata Mustafa. BWI berperan memastikan pengelolaan wakaf uang sesuai syariat dan transparan.

Mustafa mengatakan, uang wakaf tidak boleh habis, seperti halnya benda wakaf lainnya. Maka, pengelolanya pun tidak boleh sembarangan. Ia juga mengatakan, kesiapan masyarakat mengelola wakaf uang masih menjadi kendala. Ini yang harus segera diatasi BWI. (rep/ybh/hio)

Ahli Tahajjud Memiliki Wajah “Menawan”

H. Uti Konsen
H. Uti Konsen

SUDAH pasti orang yang bertahajjud, bukan bertujuan untuk memiliki wajah yang menawan. Kalaupun itu terjadi adalah semata-mata karunia Allah yang diberikan oleh Allah di dunia ini kepada hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah bertahajjud, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah saw dan rombongan hijrah dari Mekah sampai di Madinah, mereka disambut dan dielu–elukan oleh masyarakat. Diantara yang hadir adalah Abdullah bin Salam yang waktu itu belum memeluk Islam. Ia berkata, “Ketika aku menatap wajahnya, tergambar bahwa ia bukanlah orang yang pernah berbohong”.

Kalimat yang pertama-tama diucapkan oleh beliau saat tiba di Madinah, ‘Wahai manusia, tebarkanlah ucapan salam, berikanlah makanan, bersilaturrahmilah dan salat malamlah ketika orang sedang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan sejahtera“ (HR.Ibnu Majah, Al Hakim, dan Tirmizi).

Umar bin Khattab RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa salat malam, dan salat itu dilakukannya dengan baik, maka Allah memuliakannya dengan sembilan perkara lima di dunia dan empat di akhirat. Diantara lima perkara yang di dunia ini ialah
Tampak bekas ketaatannya pada wajahnya. Dalam hadis lain yang senada Rasul saw bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat tahajjud, maka wajahnya akan terlihat elok di siang hari.“

Ada orang bertanya kepada imam Al Hasan Al Barsi, ulama kharismatik Damaskus waktu itu, “Kenapa wajah ahli tahajjud tampak menawan?“ Beliau menjawab, “Tidak usah heran, karena ketika malam ia berduaan dengan Allah, lalu Allah memancarkan nur-Nya kepada si Abid itu.“

Dikisahkan, kalau orang menatap wajah Al Hasan Al Basri, maka selama seminggu membuat khusyuk mereka beribadah. Hal ini tidak heran, sebab Rasulullah saw menegaskan, menatap wajah ulama akhirat itu menuai kebaikan, seperti membangkitkan semangat untuk beribadah.

Allahuyarham KH. Abdullah Said, pendiri Ponpes Hidayatullah Balikpapan, yang digelari Dai Tahajjud, karena dalam setiap ceramahnya selalu mengangkat Tahajjud, menantang siapapun yang belum salat lail untuk salat lail. Bisa dibuktikan secara lahiriyah. “Coba salat lail tujuh malam berturut-turut,” kata beliau.

Sebelum salat lail, silakan berfoto dulu. Setelah salat lail berturut-turut itu, berfoto lagi. Lihat bedanya, pasti wajah akan kelihatan bersinar. Jangankan wajah kita, rumah ahli Tahajjud juga akan bersinar. Rasulullah saw dalam satu hadis menegaskan kurang lebih, “Rumah yang didalamnya didirikan salat tahajjud akan bercahaya dilihat oleh penghuni langit.“

Seorang santriwati di Ponpes Hidayatullah Balikpapan yang wajahnya dianggap jelek oleh ibunya, bisa menikah dengan seorang pemuda ganteng. Ibunya heran dan berdecak kagum dengan berkata, “Pintar betul orang pesantren membuat orang laku”. Dijawab oleh KH. Abdullah Said, “Itu bukan kepintaran orang pesantren, tapi karena pengaruh salat lail. Di wajah santriwati itu ada sebuah cahaya yang bersinar sehingga orang melihatnya cantik. Selain itu tentu karena doa-doanya ketika salat lail, makbul”.

Seorang wartawan ke Bangkok. Ia dikenal pengamal Tahajjud. Ketika berdiri di depan hotel untuk mencari taksi mencari Rumah Makan Muslim, tanpa diduga disapa oleh seorang sopir “Are you Moslem?“ Padahal sang Wartawan itu tidak memakai peci, sebagai salah satu identitas Muslim.

Ketika ditanya kepada sang sopir, dimana ia tahu bahwa dirinya Muslim? Sang sopir itu menjawab, pada wajahnya terpancar sinar seorang Ahli Ibadah. Masya Allah.

Diantara keistimewaan Tahajjud, menurut pengalaman seorang ahli Tahajjud. Pada wajahnya memancarkan cahaya keimanan, perkataannya dituruti oleh orang lain, analisa tulisannya tajam dan akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalnya.
Ibnu Al Hajj berkata, “Diantara manfaat Tahajjud, pertama menggugurkan dosa, kedua menyinari kuburan, ketiga mencerahkan wajah dan keempat membugarkan tubuh.“ Wallahualam.*

 

____________________

USTADZ H. UTI KONSEN, penulis adalah dai dan tokoh masyarakat Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat