HIDORID — Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengadakan training akidah dan penguatan manhaj untuk kader-kader Hidayatullah di NTB. Acara yang diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari seluruh Pesantren Hidayatullah se-NTB.
Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari sejak Jumat-Ahad (27-29/12/2013) bertempat di Pesantren Ishlahul Ummah, Kampus Hidayatullah, Sambelie, Kabupaten Lombok Timur.
Ustadz Zulkifli, SE, MM, salah seorang dari instruktur, menyatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menguatkan semangat dakwah para da’I dalam ikhtiar Hidayatullah untuk membangun NTB melalui peran mereka di dunia dakwah dan pendidikan.
“Para Kader Hidayatullah harus memberi manfaat di mana mereka berada dan sebagai apa mereka di tengah-tengah masyarakat, sehingga Hidayatullah sebagai salah satu Ormas Islam dirasakan manfaatnya di tengah-tengah ummat,” ujarnya.
Salah seorang peserta dari Gunung Sari, Lombok Barat, Ustadz Muhammad,S.Ag menggambarkan kesannya selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Dalam suasana libur ini, kita berkumpul bersama menguatkan semangat dakwah kita sebagai kader Hidayatullah. Ini luar biasa, mudah-mudahan saya bisa mengaplikasikannya di tengah ummat,” ungkapnya.
Kegiatan penguatan manhaj diikuti oleh alumni Marhalah Ula (Basic Training) Hidayatullah sedangkan peserta training akidah adalah calon-calon peserta Marhalah Ula.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap musim liburan sekolah. (zul/ybh/hio)
HIDORID — Mulai tahun ini Pusat Pendidikan Anak Shalih (PPAS) Yayasan Ar-Risalah Pondok Pesantren Hidayatullah Kediri, Jawa Timur, menyelenggarakan program Tahfidzul Qur’an (lembaga penghafal Al-Qur’an) untuk para santri di mana pesertanya sebelumnya harus melalui seleksi.
Pembimbing utama Lembaga Tahfidzul Qur’an Yayasan Ar-Risalah Hidayatullah Kediri, Ustadz Mujahid, mengatakan program pendidikan Al Qur’an PPAS Yayasan Ar-Risalah Hidayatullah Kediri sebagai pembelajaran awal bagi para santri untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an.
“Bukan cuma hafal saja, santri juga di tuntut mampu menghafal dengan bacaan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bacaan Al-Qur’an,” kata Ustadz Mujahid, ditulis Selasa (31/12/2013).
Ia menambahkan, program tahfidzul Qur’an yang mulai digalakkan lembaganya termasuk terbilang lambat diselenggarakan pihaknya. Sebab, kata dia, seperti yang telah banyak diketahui di berbagai pondok pesantren lainnya, fokus pendalaman Kitab Suci ini sudah menjadi rutinitas untuk mengisi kegiatan pondok pesantren.
Ia menegaskan, program tahfidzul qur’an ini juga menjadi program utama dari Yayasan Ar – Risalah Hidayatullah Kediri.
Lebih jauh Ustadz Mujahid menerangkan, PPAS Ar-Risalah Hidayatullah Kediri dengan segala aspek perkembangannya bukan tanpa maksud untuk melaksanakan program ini. Menurut beliau, tujuan dari pada program tahfidzul qur’an ini yaitu untuk mencetak para santri sebagai kader-kader yang memiliki jiwa yang tangguh, akal yang jernih, dan mampu menjadi dai pembangunan di masyarakatnya.
“Semoga program tahfidzul qur’an ini mampu meningkatkan kualitas para santri agar nantinya bisa menjadi imam-imam yang unggul dan ber-akhlaq mulia,” tandasnya. (hdk/hio/ybh)
Ahmad Ghozi Fidinillah (tengah) bersama peserta lainnya
HIDORID – Satu lagi anak bangsa yang menoreh prestasi di dunia internasional. Ahmad Ghozi Fidinillah siswa SD Integral Luqman al Hakim Hidayatullah Jember memperoleh medali perak Olimpiade Matematika Internasional yang berlangsung diFilipina, belum lama ini.
Lomba ini diikuti oleh 234 peserta dari 16 negara ini Ghozi masuk tim Indonesia setelah lolos seleksi dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, propinsi dan tingkat nasional.
Kini sekolah dan orangtua ikut berbangga atas pencapain prestasi yang diperoleh Ghozi.
“Alhamdulillah saya bangga dua kali, pertama karena Ghozi juara dan yang kedua karena dia telah mewakili sekolah Islam, Ia telah mengharumkan agama dan bangsanya, “ujar Siti Nurul Hasanah, Ibunda Ghozi pada hidayatullah.com.
Menurut Nurul, tahun ini peserta olimpiade yang perwakilan Muslim yang mewakili Indonesia sudah meningkat. Biasanya peserta yang Muslim sangat sedikit.
Perwakilan Indonesia yang Muslim ada tiga dari delapan delegasi Indonesia yang ikut Olimpiade di Philipina.
“Biasanya peserta yang Muslim sangat sedikit, tapi alhamulillah tahun ini siswa yang Muslim sudah banyak,”tutur Nurul.
Sebagai seorang ibu, Nurul bangga anaknya ikut mengharumkan nama Islam dan Indonesia. Menurutnya ia mempersiapkan anaknya bukan untuk meraih prestasi, tetapi sebagai bagian dari perjuangannya sebagai umat Islam.
“Ini bagian dari perjuangan saya sebagai umat Islam, saya ingin anak-anak mengharumkan nama Islam lewat prestasi matematika,” ucap Nurul.
Dengan semangat prestasi untuk agama, ibu tujuh orang anak initelah menghantarkan empat anaknya menjuarai olimpiade matematika di tingkat nasional maupun internasional.
Atas kesuksesan diraih anak-anaknya, kini ia ingin berbagi dengan yang lain dengan membuka kelas khusus bimbingan matematika untuk olimpiade dan kelas reguler dikediamannya. (Hidcom)
Ustadz Khairil Baits (berkacamata) dalam sebuah kesempatan menguji mahasiswa
HIDORID — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyelenggarakan kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) yang diikuti oleh segenap santri mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar hingga Madrasah Aliyah (MA) atau tingkat menengah atas.
Ketua Pimpinan Pusat Hidayatullah Bidang Organisasai dan Politik, Ir. Khairil Baits, mendorong kegiatan ini dapat terus dilanggengkan, tidak hanya di Sultra, tapi di kampus-kampus Hidayatullah lainnya di Indonesia. Dari kegiatan edukatif ini Khairil berharap akan lahir santri kader Hidayatullah multi potensi yang tajam spiritualnya, kuat fisiknya, serta cerdas emosionalnya.
Hal itu diungkapkan Ustadz Khairil saat menutup kegiatan tahunan tersebut dalam kesempatannya melakukan silaturrahim dakwah dan koordinasi ke Provinsi Sultra tersebut.
Ustadz Khairil Baits dalam sambutannya mengharapkan agar santri yang berhasil meraih prestasi agar terus dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Serta tidak lekas berpuas diri dengan capaian-capaian yang telah diraih.
“Hidayatullah Sultra akan terus berkibar dengan prestasi dan amal shalih. Santri Hidayatullah harus terus berprestasi baik di sekolah, di masjid, dan lingkungan masyarakat dengan menjunjung semangat ukhuwah Islamiah,” kata Ustadz Khairil saat menutup acara ini, Sabtu malam (27/12/2013) lalu.
Kata Khairil, siapa yang berprestasi dengan kerja untuk amal baktinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menebar manfaat untuk segenap manusia dengan potensi yang dimilikinya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.
Sementara itu, Koordinator Porseni Hidayatullah Sultra 2013, Giroh Amrullah, menjelaskan, jenis kegiatan yang diperlombakan oleh para santri tidak hanya berupa kegiatan fisik, tetapi memperlombakan kegiatan yang sifatnya moral edukatif lainnya seperti lomba qiraah, tahfidzul Qur’an, cerdas cermat, dan sebagainya.
Giroh menambahkan, tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut yakni untuk memantapkan spiritual dan mentalitas secara akademik para santri serta dalam rangka mempererat tali silaturrahim antar sesama santri di seluruh Sultra.
“Dari kegiatan ini kami berharap peserta tidak hanya kuat secara fisik tapi juga kuat dalam spiritual,” paparnya.
Dewan Pendidikan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara menutup Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) antar santri Hidayatullah se-Sultra di halaman Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, Jalan Jenderal Ahmad Nasution Nomor 8, Sabtu (27/12/2013) malam. (hio/ybh)
HIDORID — Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan, menggelar pengkaderan melalui diklat dasar atau Daurah Marhalah ‘Ula di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, BTP, selama 3 hari, Jumat-Minggu (27-29/12/2013) lalu.
Peserta dauroh berasal dari kader, simpatisan, dan warga Hidayatullah dari wilayah Makassar, Barru, dan Bantaeng. Daurah berjenjang tersebut merupakan tahapan pengkaderan Hidayatullah untuk melahirkan kader dakwah unggul dan berkarakter.
Ketua Steering Committe Daurah Marhalah ‘Ula Hidayatullah Makassar, Ustadz Burhanuddin, mengatakan marhalah ini diselenggarakan untuk setiap pribadi yang ingin menjadi bagian dari komunitas dakwah Hidayatullah. Dauroh ini sebagai metode untuk memahami dan mendalami pedoman dan ciri khas Hidayatullah melalui konsepnya yang dikenal dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).
“Pengurus Hidayatullah memastikan daurah yang dilaksanakan ini semata-mata untuk memahamkan manhaj Hidayatullah yang diyakini sebagai manhaj nubuwwah sebagai visi perjuangan dalam membangun umat dan meretas peradaban mulia, bukan untuk membangun egoisme organisasi,” jelas Ustadz Burhanuddin.
Ustadz Burhanuddin menerangkan pihaknya berharap peserta yang telah mengikuti daurah harus memiliki karakter yang bersahabat dengan Qur’an, berahlak mulia, berkarakter rahmatan, dan gemar menunaikan Qiyamul lail (shalat malam).
Sehingga, tegas dia, dengan amalan tersebut diharapkan kader Hidayatullah akan menjadi teladan dan berperan aktif bagi perbaikan pola pikir dan akhlak masyarakat. Dalam kiprahnya, Hidayatullah di Sulsel telah memiliki kampus dan pesantren hampir di semua kabupaten/kota, kecuali Toraja.
Kegiatan serupa baru-baru ini juga telah diadakan di Kabupaten Luwu dan Bone. Dalam daurah peserta diberikan materi yang menjadi metode dakwah Hidayatullah dalam membangun pribadi jamaah/warga dan peradaban Islam. (fir/hio/ybh)
HIDORID — Meski dilanda ketidakstabilan ekonomi, para pelajar Indonesia di Timur Tengah, khususnya Yaman dan Sudan, tetap konsisten menuntut ilmu. Bagi mereka, naiknya kurs dolar maupun harga-harga barang dan jasa tak menyurutkan semangat belajar.
“Alhamdulillah tetap semangat karena ini termasuk jihad. Seandainya (ekonomi) itu menjadi sebuah alasan untuk tidak semangat dalam belajar, seharusnya musim dingin yang sedang berlangsung ini sudah cukup membuat kita untuk down (turun semangat),” ujar Abdul Mannan Hajar, mahasiswa Universitas Yemenia kepada Hidayatullah.com via surat elektronik, Jumat, 24 Shafar 1435 H (27/12/2013).
Menurut mahasiswa asal Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini, pilihan menuntut ilmu di negeri yang jauh dari kampung halaman sudah dipertimbangkan baik-baik sebelumnya. Apa pun yang terjadi harus siap diterima.
“Ke sini kan sudah harus siap segalanya. Mau belajar jauh-jauh ke negeri orang, berarti harus siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di sini karena ini sebuah konsekuensi,” tegas pria asli Makassar ini.
Semangat senada disampaikan Muzhirul Haq, mahasiswa jurusan hadits di Al-Iman University, Sana’a, yang sudah sekitar 6 tahun menetap di Yaman.
“Kurs boleh turun naik, tapi semangat belajar harus naik terus,” ujar alumnus Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur ini.
Di Sudan, Fathi Farhat mengemukakan optimisme yang sama. Menurut mahasiswa Ma’had Lugho Arobiyyah Wa Dirosatil Islamiyah Li Annatiqin Ghoiru Arob, Hajj Yusuf, Khartoum ini, pantang surut hanya gara-gara kurs dolar. Pesan serupa diserukan buat rekan-rekannya di luar negeri.
“Alhamdulillah semangat. Ibarat jebur sumur, mending sekalian minum. Tetap belajar meski dolar menggubar. Gubar, terpedo padang pasir,” aku pria yang belum lama ini menikahi seorang Muslimah asal Mojokerto, Jawa Timur.
Faiz Ahmad Kholis, mahasiswa semester 1 International University of Africa segendang sepenarian dengan Farhat. Faiz mengaku rugi jika sudah jauh-jauh meninggalkan Tanah Air namun harus mundur hanya gara-gara ekonomi.
“Harus tetap semangat, karena sama di Indonesia juga lagi susah. Susah ke luar negeri harus ada yang dihasilkan, yaitu belajar dan belajar. Baru nanti sukses, sukses dunia dan akhirat,” tegas lajang asal Dumai, Kepulauan Riau yang mengambil jurusan Syari’ah (Dirosat Islamiyah) ini.
Diberitakan sebelumnya oleh Hidayatullah.com, melejitnya kurs dolar berpengaruh pada tabungan rupiah para pelajar Indonesia di Timur Tengah, khususnya Yaman dan Sudan. Mereka “kehilangan” nilai uang hampir 50 persen, dan harus menjerit dengan segala keterbatasan ekonomi. Apalagi yang masih mengandalkan kiriman dari Tanah Air.* (Hidcom)
Pembukaan Raker Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar /CODC
HIDORID — Dalam rangka mendukung dan mengoptimalkan peran dai/muballigh di setiap aktifitas dakwahnya, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar mendidirikan Persaudaraan Dai Nusantara atau Pos Dai untuk wilayah selatan Provinsi Sulawesi tersebut.
Hal itu dikatakan Media Relation Yayasan Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar Firmansyah Lafiri. Kata Lafiri, peresmian Pos Dai Sulawesi Selatan itu terbentuk bertepatan dengan rotasi pengurus Yayasan Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar.
Sekedar diketahui, Yayasan Al Bayan pengelola Pesantren Hidayatullah Makassar memiliki struktur kepengurusan baru mulai bulan Desember. Yayasan Al Bayan kini dipimpin ketua Sarmadani dan Sekretaris Muh Arfah.
Tindaklanjut dari terbentuknya pengurus baru tersebut, digelar Rapat Kerja (Raker) yayasan yang digelar di Aula Pesantren Hidayatullah, kawasan BTP Makassar, Rabu (25/12).
Hadir membuka raker tersebut, Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Makassar Aziz Qahhar Mudzakkar. Dalam sambutannya anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sulsel tersebut mengharapkan pengurus baru agar lebih responsif terhadap perubahan dan kebutuhan masyarakat yang cepat dan meningkat.
“Hidayatullah Makassar beberapa tahun belakangan ini dianggap jalan di tempat karena dinamika internal dibanding harapan masyarakat terhadap lembaga pendidikan dan dakwah ini lebih tinggi sekarang. Realitas ini yang patut menjadi motivasi bagi pengurus baru,” kata Ustadz Aziz.
Dari raker tersebut, pengurus baru Yayasan Pesantren Hidayatullah menetapkan satu tekad baru yakni Unggul dan Berkarakter untuk menjadi lima besar Kampus Utama Hidayatullah sebagai miniatur peradaban Islam.
“Untuk membangun peradaban Islam yang mulia maka titik tolaknya adalah dengan mengentalkan kultur dan tradisi keilmuan yang berlandaskan tauhid,” kata Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Abdul Majid yang juga hadir dalam raker itu.
Sementara itu, dibentuknya wadah pemberdayaan dai bernama Pos Dai menurut Ketua Pos Dai Sulsel Ust Qadir al Qitri untuk mem-back up aktivitas dan kebutuhan dakwah di Sulsel.
“Bentuknya mulai dari pengiriman dai ke pelosok, kajian islam, memfasilitasi para pelaku dakwah dengann memberikan kafalah (insentif) bagi para dai,” jelasnya di warkop Teras Ukhuwah Ponpes Hidayatullah BTP Makassar.
Melalui Pos Dai pula akan membantu menyalurkan bantuan dari masyarakat untuk dakwah. “Misalnya bantuan kendaraan untuk digunakan bagi dai yang berdakwah di daerah,” urainya.
Lembaga yang terbentuk mulai November lalu tersebut dibentuk untuk lebih mengorganisir dan memenej dakwah dan para pelakunya.
“Supaya dakwah dan syiar Islam lebih terorganisir dan masalah para pelaku dakwah di lapangan bisa dicarikan solusi,” tambahnya.
Untuk semakin mengembangkan kemampuan dan wawasan para dai, Pos Dai juga akan secara periodik menyelenggarakan pelatihan, seminar, tablik akbar, pelatihan penyelenggaraan jenezah, pelatihan qira’ah/tajwid al Quran.
“Kami membuka diri kepada pelaku dakwah dan organisasi Islam secara umum,” ucap pengasuh rubrik konsultasi zakat di Tribun Timur ini. Pos Dai menyiapkan dai untuk pengajian-pengajian baik oleh masyarakat maupun majelis taklim. “Kami juga melayani konsultasi syariah melalui SMS di 085255799111,” jelas Qadir. (ttn/ybh/hio)
Sejumlah anak-anak binaan Ponpes Hidayatullah Pulau Sebatik/ FOTO: Ainuddin Chalik
HIDORID — Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan program pesantren perbatasan di beberapa wilayah Tanah Air. Sebab, pembangunan di wilayah perbatasan dinilai masih belum memadai.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Ace Saepuddin mengatakan, latar belakang pengembangan program pesantren perbatasan ini sebagai bentuk penguatan nilai-nilai keagamaan. Selain itu, untuk menjaga rasa nasionalisme santri yang berasal dari wilayah perbatasan tersebut.
“Tahun ini adalah tahun keempat pengembangan porgram pesantren perbatasan. Saat ini, pengembangan program ini sudah berjalan di enam wilayah di daerah perbatasan,” kata Ace, Senin (23/12) lalu.
Di antaranya, dia menjelaskan, di Pulau Sebatik yang berada di perbatasan Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia, dan di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Di pulau ini telah terdapat Pondok Pesantren Hidayatullah di bilangan Sungai Nyamuk dekat daerah Bambangan menunju pelabuhan.
Juga, di wilayah Sabang, Aceh, yang berbatasan dengan Laut India dan Thailand-Malaysia. Kemudian, di wilayah Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan dengan Timor Leste dan di Merauke, Papua, yang berbatasan dengan Papua Nugini.
“Saat ini, Kemenag tengah fokus mengembangkan pesantren perbatasan di Pulau Parit di Kabupaten Karimun yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura,” jelas Ace.
Sama seperti program pesantren perbatasan lainnya. Di wilayah Karimun ini pemerintah daerah (pemda) bertugas menyediakan lahan 10 hektare, sedangkan Kemenag menyiapkan dana awal Rp 2,5 miliar untuk pembangunan pesantren perbatasan.
Kemenag juga menyiapkan tenaga pendukung pengembangan pesantren perbatasan yang diambil dari santri berprestari dan santri yang lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka akan menjadi guru agama sekaligus pendamping pengembangan pertanian.
Ace mengungkapkan, saat ini enam program pengembangan pesantren perbatasan sudah menunjukkan hasil yang cukup membanggakan.
“Yang paling maju ada di Kaltim, di sana tidak hanya pesantren, tapi juga ada pendidikan formal,” jelasnya. Sebagian besar santri di sana adalah anak para pekerja sawit yang kurang mendapat akses pendidikan formal.
Menurut Ace, program ini juga ingin menepis pandangan orang yang menganggap tidak penting pendidikan agama di perbatasan.
Padahal, pendidikan pesantren dapat menggembleng karakter keislaman maupun kebangsaan. Dengan demikian, nasionalisme siswa dan santri yang berada di perbatasan semakin tumbuh.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun Afrizal mengatakan, pengembangan pesantren perbatasan, khususnya di wilayah Pulau Parit, Kabupaten Karimun, akan dapat menjaga wilayah ini dari berbagai nilai negatif dari luar Indonesia.
“Wilayah kami berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Sering kali wilayah perbatasan ini menjadi akses mudah masuknya nilai buruk dari luar,” ujar Afrizal dirilis laman Kemenag.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah di Pulau Sebatik, Ustadz Sudirman Ahmad, mengatakan pesantrennya kini terus menyelenggarakan pembinaan kemasyarakatan untuk anak-anak perbatasan baik dengan pendidikan TK/TPA dan sederajat. Sudirman menambahkan, pondok pesantrennya yang berada di tapal batas antara Indonesia dan Malaysia ini membina juga sejumlah anak anak TKI yang bekerja di jiran. (ant/kem/hio)
HIDORID — Ratusan anggota Annisa Hidayatullah, organisasi pelajar remaja putri yang berada di bawah koordinasi Muslimat Hidayatullah, mengikuti kegiatan bertajuk “Training Aqidah dan Marhalah Ula”, yang diselenggarakan di Komplek Hijau Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara, 17-18 Desemer 2013 lalu.
Kegiatan yang berlangsung semarak dengan menghadirkan pembicara kondang ini mengangkat tema “Be Good Muslimah Forever and Everywhere”. Materi Training ini berkisar tentang Fiqih Pergiliran Zaman, Ma’rifatullah, Ma’rifatul Insan, dan Ma’rifatul Alam.
Penyajian materi menggunakan multiMedia serta diselingi degan game islami educatif rekreatif. Acara ini diikuti oleh 200 orang peserta dari utusan Annisa Hidayatullah Se-Sumatera Utara. Acara ini kemudian ditutup dengan kegiatan OutBond
serta Muhasabah.
Dalam sambutannya Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara (PW Mushida Sumut), Dra. Sri Rifiana, mengatakan setiap wanita Muslim memiliki peran dan tanggungjawab yang sama dalam mengemban amanah dakwah Islam kapan dan di mana pun berada. Mengutip hadits Rasulullah diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, dijelaskannya bahwa masing-masing kita adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
“Rasulullah telah menetapkan tanggung jawab terhadap laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dalam kapasitas sebagai pemimpin yang berbeda di dalam sebuah keluarga. Suami sebagai pemimpin bertugas mengendalikan arah rumah tangga serta menjamin kebutuhan hidup sehari-hari (seperti makanan, minuman dan pakaian) serta bertanggung jawab penuh atas berjalannya seluruh fungsi-fungsi keluarga. Suami pula yang bertugas sebagai benteng dalam kehidupan bermasyarakat,” jelas Sri Rifiana.
Ia melanjutkan, adapun istri berperan sebagai pelaksana teknis tersedianya kebutuhan hidup keluarga serta penanggung jawab harian atas terselenggaranya segala sesuatu yang memungkinkan fungsi-fungsi keluarga tersebut dapat dicapai.
Berjalan-tidaknya fungsi-fungsi keluarga secara adil dan memadai merupakan indikasi tercapai-tidaknya keharmonisan dalam keluarga, jelas beliau.
Namun, tambah dia, ibarat mengayuh perahu, keduanya harus saling kompak dan bekerjasama agar biduk rumah tangga tidak terbalik. Fungsi-fungsi keluarga yang dimaksud adalah fungsi reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi, sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang), rekreasi, dan fungsi religi (keagamaan).
Rifiana mengutarakan, tugas utama serang istri secara umum ada dua: (1) sebagai Ibu, yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi reproduksi serta fungsi edukasi; (2) sebagai pengatur rumah tangga, yang berkaitan dengan pemenuhan fungsi-fungsi keluarga yang lainnya.
Kegiatan training dan marhalah tersebut meneluarkan kesimpulan kepada peserta bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, peran seorang ibu sangat besar dalam mewarnai dan membentuk dinamika zaman. Lahirya generasi-generasi bangsa yang unggul, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, bervisi kemanusiaan, beretos kerja andal, dan berwawasan luas, tidak luput dari sentuhan peran seorang ibu.
Ibulah orang yang pertama kali memperkenalkan, mensosialisasikan, menanamkan, dan mengakarkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan, pengetahuan, dan keterampilan dasar, serta nilai-nilai luhur lainnya kepada seorang anak.
Dengan kata lain, peran ibu sebagai pencerah peradaban, ”pusat” pembentukan nilai, atau “patokan” penafsiran makna kehidupan, tak seorang pun menyangsikannya. Namun, seiring gerak roda peradaban, peran ibu sebagai pencerah peradaban bakal menemui tantangan yang semakin berat.
Setidaknya ada dua tantangan mendasar yang harus dihadapi oleh seorang ibu di tengah dinamika peradaban global. Pertama, tantangan internal dalam lingkungan keluarga yang harus tetap menjadi sosok feminin yang lembut, penuh perhatian dan kasih sayang, serta sarat sentuhan cinta yang tulus kepada suami dan anak-anak. Kedua, tantangan eksternal di luar kehidupan rumah tangga seiring tuntutan zaman yang semakin terbuka terhadap masuknya nilai-nilai global yang menuntut dirinya untuk bersikap maskulin.
Dalam menyikapi dan menyiasati dua tantangan mendasar itu, Mushida Sumut menyerukan setiap ibu dan wanita dituntut untuk semakin memaksimalkan perannya, memberdayakan potensi dirinya sehingga mampu tampil feminin dan maskulin sekaligus dalam menerjemahkan dan menginternalisasi selera zaman yang mustahil dihindarinya sebagai seorang ibu yang hidup pada era globalisasi.
Ini artinya, fitrah seorang ibu tidak hanya “dicairkan” dalam lingkup domestik, tetapi juga harus ditebarkan pada ranah publik, seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya masalah-masalah yang harus diatasi.
Peran ibu dalam mengokohkan ketahanan keluarga adalah tugas yang berat, namun karena Allah menciptakan perempuan sebagai ibu untuk memelihara kehidupan, ketahanan untuk memelihara kehidupan sudah built in dalam diri ibu. Hanya, apakah para ibu menyadari potensinya atau tidak.
Tatkala ibu bisa memerankan tugasnya dengan baik, sehingga terbina keluarga yang berkualitas secara utuh dan menyeluruh, Allah telah menjanjikan imbalan-Nya. Dalam mengokohkan ketahanan keluarga, berangkat dari keikhlasan, kesabaran dan keluasan ilmu, ibu harus siap memberikan keteladanan, membimbing, memotivasi, mensupport terhadap kebaikan dan bersama-sama memecahkan masalah keluarga dengan upaya dan doa, demikian rekomendasi Mushida Sumut untuk Annisa Hidayatullah. (hm/hio/ybh)
HIDORID — Dalam rangka bina lingkungan, PT. Angkasa Pura (II) Bandar Udara Sultan Taha Jambi menggelar kegiatan peresmian bantuan dua lokal gedung sekolah di Pondok Pesantren Hidayatullah Muara Jambi Bukit Baling, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini juga daihadiri oleh Bupati Muara Jambi H. Burhanuddin Mahir, SH, Kemenag Muara Jambi beserta unsur Muspida Kabupaten Muaro Jambi berserta ratusan undangan lainnya.
Direktur Keuangan Pusat PT. Angkasa Pura (II) Laurensius Manurung dalam sambutannya menyampaikan, bahwa bantuan dua lokal gedung sekolah tersebut merupakan hibah dari PT Angkasa Pura II.
“Bantuan ini merupakan bina Lingkungan berupa dana hibah yang dibangunkan gedung dengan nilai Rp. 221, 4 juta, untuk Pondok Pesantren Hidayatullah di Muara Jambi ini,” jelas Bendahara Pusat angkasa Pura II Senin (23/12) lalu.
Laurensius juga mengatakan, keberadaan Angkasa Pura II di Jambi sejak empat tahun, telah menyalurkan dana sebesar Rp. 2,6 M, dari Rp. 372, M anggaran yang ada.
“Kami ingin berpartisipasi dengan lingkungan, di mana kami hardir masyarakatnya harus sejahtera bersama-sama, “ujarnya.
Ia juga berharap dengan dibangunnya dua ruang kelas sekolah tersebut dapat mencerdaskan masyarakat di lingkungan pesantren dan sekitarnya menjadi lebih cerdas dan termandirikan.
“Kita berharap dengan dibanguannya dua ruangan kelas masyarakat di sini terutama anak usia sekolah, akan bermanfaat bagi warga sekitar lingkungan pesantren dan ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Sementara Bupati Muara Jambi H. Burhanuddin Mahir, dalam sambutannya mengatakan sangat memuji apa yang di lakukan oleh PT. Angkasa Pura II. Apa yang telah dilaksanakan oleh perusahaan pengelola bandara ini, kata bupati, patut dicontoh oleh perusahaan lain yang sudah lama bercokol di Kabupaten Mura Jambi.
“Apa yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura patut di contoh oleh perusahaan lain yang belum memberikan kontribusi sama sekali bagi pembangunan di Jambi,” jelas Burhanudin.
Ia juga mengatakan ada 14 perusahaan sawit dan tidak kurang 130 tower telekomunikasi di wilayahnya tapi belum ada yang memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat sekitar.
“Satu tower itu itu bisa menghasilkan laba hingga triliunan rupiah, tapi mereka tak memberikan kontribusi yang berarti untuk sama-sama membangun Muara Jambi,” kata dia.
Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Jambi, Muhammad Ali Imron S.Pdi, dalam sambutannya mengatakan kepedulian PT. Angkasa Pura II, Jambi diharapkan dapat menambah semangat belajar bagi anak didik dengan fasilitas gedung yang memadai.
“Dengan bantuan gedung baru, para guru dan siswa siswi di sini dapat lebih semangat dalam melakukan proses belajar mengajar,” ujarnya.
Ia juga berharap gedung yang sudah dirancang dengan kontruksi dua tingkat tersebut kedepannya bisa di tambah lagi.
“Kedepan bangunan dua lokal ini bis ditambah lagi di bagian atasnya, ” harapnya. (Kiriman Al Fatih Aulia, PW Hidayatullah Jambi)