Beranda blog Halaman 671

Santri Hidayatullah Kendari yang Keracunan Telah Pulih

0

santri keracunanHIDORID — Sebanyak 13 orang santri putri Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara, yang sebelumnya dilaporkan media lokal keracunan makanan, saat ini keadaannya pulih serta sudah sehat dan telah meninggalkan rumah sakit kembali ke pesantren

Demikian disampaikan pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari Ustadz Ghiro Amrullah kepada media ini, Selasa.

“Alhamdulillah, sudah kembali semua dalam keadaan sehat. Ada beberapa santri yang masih perlu perawatan jalan,” kata Ghiro kepada Hidorid, Selasa (12/11/2013)

Sebagaimana dikabarkan Kendari Post (Jawa Pos Group) Pondok Pesantren Hidayatullah Putri Kendari mendadak riuh, Sabtu (9/11) pagi lalu. Pemicunya, puluhan santri di pondok itu mendadak lemas, sakit perut, mual dan muntah bahkan ada yang pingsan.

Mereka mengaku mengalami keracunan setelah menyantap makanan sumbangan yang diberikan seorang dermawan. 13 orang diantaranya bahkan terpaksa dilarikan ke UGD RSUD Abunawas Kendari untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Santri di pondok kami sebanyak 86 orang. Semua makan, tapi hanya sebagian yang keracunan. Makanan itu, sumbangan dari luar secara pribadi bukan lembaga. Tapi tidak tahu siapa namanya. Penyumbang juga sudah pernah bawa makanan. Jadi kami pikir aman,” ungkap Ghro Nasrullah, Kepala SMA dan sekaligus pembimbing pesantren dikutip Kendari News, akhir pekan lalu (9/11).

Pihak RSUD Abunawas menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, para santri keracunan karena makanan. Olehnya itu, pihaknya melakukan perawatan dengan memberikan obat penetralisir. Namun, dokter belum bisa memastikan jenis keracunan yang dialami.

“Guna mengetahui itu, makanya kami perlu mengambil setiap jenis makanan itu sebagai sampel untuk diperiksa di laboratorium. Apakah dalam makanan itu mengandung bakteri, basi atau ada zat beracun,” jelas dr. Yayang Aditya Dewi, dokter umum RSUD Abunawas yang menangani para pasien.

Polres Kendari telah mengetahui tentang kasus keracunan tersebut. “Kami masih melakukan penyelidikan siapa pelakunya. Termasuk apakah makanan itu, sengaja diberikan dalam kondisi basi atau beracun,” ungkap AKP Agung Basuki, Kasatreskrim Polres Kendari melalui Kanit Reskrim, Ipda Abdul Haris. (ybh/hio/kn)

Peringati Hari Pahlawan, Siswa Sekolah Hidayatullah Berbagi Kasih dengan Veteran Perang

veteran with ya bunayyaHIDORID — Penghargaan terhadap para pahlawan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Memperingati Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November, para siswa KB TK Yaa Bunayya Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya diajak berbagi kasih dengan para veteran perang.

Sedikitnya 30 siswa KB TK Ya Bunayya, Kamis (07/11/2013) lalu, mendatangi Kantor Legiun Veteran Republik Indonesia di Jalan Rajawali Surabaya, Jawa Timur.

Mukari, salah satu pejuang veteran bercerita banyak hal saat berjuang memertahankan Kota Surabaya. Semangat heroisme itu begitu kentara melalui mimik wajahnya ketika bercerita.

Meski sudah sepuh dan mengalami keterbatasan fisik, para veteran itu tetap dengan penuh semangat menceritakan pengalaman mereka pada masa revolusi fisik dulu.

“Anak-anak harus meneruskan perjuangan di masa kemerdekaan ini. Merdeka.. Merdeka… Merdeka,“ teriak Mukari disambut teriakan merdeka dari para siswa Ya Bunayya.

Joan Muslim Firdaus, salah satu siswa KB TK Yaa Bunayya mengaku senang bisa mendengar cerita para pejuang veteran ini. Ia bercita-cita ingin meneruskan perjuangan para veteran lewat hal lain. “Aku ingin menjadi pahlawan insinyur,” katanya polos.

Kepala KB TK Ya Bunayya, Tutwuryandini menuturkan, kegiatan tersebut sebagai upaya mengenalkan sejarah di Indonesia kepada siswa. “Pengenalan ini didapatkan anak-anak lewat cerita dari para veteran,” jelasnya.

Tujuan lainnya, lanjut Tuti, untuk memberikan pembelajaran bahwa kemerdekaan yang dinikmati sekarang berasal dari perjuangan para veteran perang yang sekarang salah satunya berkumpul di Kantor Legiun Veteran di Surabaya.

Menurut Tuti, bersamaan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November sekaligus bertepatan dengan tahun baru Islam, siswa KB TK Yaa Bunayya ini memberikan bingkisan berupa sembako, sarung, serta santunan kepada para veteran.

“Ini sebagai wujud terima kasih siswa atas perjuangan para pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan yang kita nikmati bersama,” terangnya. (li/ybh/hio)

Komisi VIII DPR RI Kunjungi Pesantren Hidayatullah Manokwari

0
Saat berkunjung ke Ponpes Hidayatullah Manokwari
Saat berkunjung ke Ponpes Hidayatullah Manokwari

HIDORID — Dalam reses masa persidangan satu tahun sidang 2013–2014 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRI-RI) megirimkan 3 Tim Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR RI ke 3 (tiga) Provinsi di Indonesia, salah satunya adalah Provinsi Papua Barat.

Pada kesempatan kunjungan ke Papua Barat belum lama ini, rombongan komisi DPR RI berkunjung juga ke Pondok Pesantren Pesantren Hidayatullah Manokwari.

Tim yang beranggotakan 15 orang yang terdiri dari anggota bidang Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Penanggulangan Bencana, dan Badan Amil Zakat Nasional serta Badan Wakaf Indonesia ini dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Hj. Ledia Hanifa Amaliah, S.Si, M.psi.T.

Kedatangan tim dengan pesawat Sriwijaya pada hari Senin pagi disambut secara sederhana oleh Pemda Provinsi Papua Barat didampingi oleh Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, yang dilanjutkan Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dan Pemprov Papua Barat serta Stakeholder di Aston Niu Hotel Jl. Drs Esau Sesa Manokwari pada siang harinya.

Hari kedua kunjungan kerja Komisi VII DPR RI diawali ke Kampung Tanimbar Manokwari yang merupakan daerah langganan banjir, dilanjutkan ke Pulau Mansinam menggunakan speedboat untuk melihat pembangunan situs bersejarah masuknya injil di Manokwari dan Pondok Pesantren Hidayatullah yang terletak di Andai yang menjadi penutup kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di Manokwari. (ybh/hio/sh)

 

Dinilai Gagal, Pendidikan Perlu Terapkan Pola Kristalisasi Al Qur’an

0

HIDORID — Kurikulum pendidikan yang ada saat ini tidak sepunuhnya dapat diharapkan memenuhi harapan lahirnya peserta didik yang bermoral dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang.

Untuk itu pendidikan harus menerapkam pola pendidikan karakter dengan upaya kristalisasi terhadap nilai-nilai Al Qur’an kepada peserta didik dan segenap civitas lembaga pendidikan.

Demikian disampaikan Kepala Biro Litbang PP Hidayatullah Dr. Abdullah, dalam acara seminar pendidikan bertajuk “Mewujudkan Karakter Siswa Sebagai Pewaris Pemimpin Bangsa Melalui Gerakan One Day One Ayat” di aula utama Pusdiklat Hidayatullah Abdullah Said, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad lalu.

Menyoroti kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini, ditambah dengan data statistik hasil penelitian, dari mulai tawuran, seks bebas, serta narkoba. Abdullah memberikan solusi dengan mencontoh pola pembinaan karakter yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam terhadap para sahabat, yakni dengan melakukan kristalisasi Al-Quran secara kontinyu setiap hari.

“Program ini tentu perlu dukungan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” kata Abdullah di hadapan ratusan peserta seminar.

Pada kesempatan tersebut, tampil sebagai pembicara lainnya Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Ir. Herry Pansila, M.Sc

Ir. Herry Pansila, MSc dalam kesempatan itu menyampaikan pentingnya membangun karakter sebagai sebuah budaya. Herry banyak memberikan pengalaman sewaktu belajar di Negeri Belanda, bagaimana masyarakat di sana memiliki budaya yang positif padahal mereka kaum sekuler.

Acara yang dipandu oleh Ust. Lalu Mabrul, S.PdI, M.PdI dihadiri oleh ratusan guru dan praktisi pendidikan di wilayah Kota Depok dan sekitarnya. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir. Acara ini juga didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah. (ybh/hio)

Tabligh Akbar Muharram Sulbar, Naspi Asryad Ajak Teladani Figur Ibrahim

Ustadz Naspi Arsyad / IST
Ustadz Naspi Arsyad / IST

HIDORID — Ratusan undangan dan wali murid hadir dalam acara tablig akbar Muharram di Kampus Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Batat, Selasa. Tabligh Akbar yang menghadirkan pembicara Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri PP Hidayatullah Naspi Arsyad, itu sekaligus dalam rangka lelang pembangunan masjid dan Gedung Dakwah Center Ar-Risalah Hidayatulllah Mamuju.

“Berkumpulnya kita di sini lebih dari sekedar lelang bangunan Masjid Ar-Risalah yang juga berfungsi dakwah senter ini,” kata H. Nasfi Arsyad, Lc, saat menyampaikan taushiahnya.

Menyinggung rencana panitia yang akan melelang pembangunan ke semua undangan yang hadir.
Dalam tausiahnya, alumni Madrasah Aliyah (MA) Raadhiyatan Mardhiyah, Gunung Tembak, Balikpapan, angkatan ke-2, ini menekankan kepada hadirin untuk bertbuat sesuatu semata-mata karena Allah Ta’ala.

“Semua yang kita lakukan hendaknya diniatkan karena Allah semata. Allah Subhanahu wa taala akan mengganti dengan pahala dan keuntungan yang jauh lebih besar ketimbang kita berbuat diniatkan selain karena-Nya,” tuturnya.

Nampak hadirin menikmati tausiah yang sesekali diselipi humor dari ustadz yang selalu riang ini. Bahkan beberapa murid TK dan SD yang tidak mendapatkan tempat duduk dalam tenda di halaman SD itu tetap sabar menunggui, “sambil nunggu penyerahan hadiah” harap Aqila pemenang lomba doa keseharian tingkat TK.

Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatulah Mamuju di Jalan Abdul Syakur Nomor 2 Mamuju, dengan menggunakan tenda terowongan sebagian peserta membludak hingga menempati teras-teras sekolah dan masjid Nurul Ilmi.

Dalam rangka menyemarakkan tahun baru 1 Muharram 1435 Hijriyah, selama sepekan diadakan lomba hafalan hadits, hafalan doa keseharian, adzan, nasyid dan sholat berjamaah di kampus Hidayatullah Mamuju. Semua murid dari TK hingga SMP Integral Al-Furqon Hidayatullah Mamuju mengikuti materi lomba yang dikemas menyenangkan.

Ketua DPRD Propinsi Sulawesi Barat, Drs. H. Hamzah Hapati Hasan, M. Si yang akan hadir dalam acara tersebut mendadak batal karena harus ke Jakarta menghadap Kementerian Dalam Negeri. Hamzah Hapati dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan Masjid Ar-Risalah pada Jumat besok. Hal ini dikarenakan keinginan kuatnya untuk selalu terlibat di setiap kegiatan keagamaan di wilayahnya.

“Saya selalu terbuka untuk Hidayatullah apalagi kalau itu urusan ummat,” ungkap Hamzah Hapati Hasan saat melakukan kunjungan ke TK Nurul Huda Hidayatullah Taraillu beberapa waktu lalu.

Dai Harus Siap Menjadi Imam Shalat

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Naspi menekankan pentingngya seorang dai berbekal diri dengan kompetensi dasar. Kata dia, Wajib bagi semua dai, termasuk dai Hidayatullah, untuk siap menjadi imam di manapun saat shalat berjamaah. Sehingga baiknya kualitas bacaan serta amalan Al Quran seorang dai itu merupakan basis standar yang harus terpenuhi.

Dihadapan sedikitnya 500 jamaah yang hadir, Ustadz Naspi mengajak kaum Muslimin untuk meneladani perjalanan dakwah figur Nabi Ibrahim. Sosok petualang dakwah yang tak kenal lelah dengan kesabarannya menjadi senjata utamanya.

Momentum tahun baru Islam 1 Muharram, kata Naspi, harus menjadi hulu ledak perbaikan diri dan bangsa dalam rangka menyemai Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Aalamiin.

Dalam hal ini beliau merujuk pada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai sosok dai sekaligus kepala rumah tanggaa yang sukses mendidik generasinya menjadi pelanjut risalah perjuangan mengemban amanah dakwah. Dengan ketajaman spiritualnya, Ibrahim mendapat kasih sayang dari Allah di setiap langkahnya.

“Kita ingin seperti Nabi Ibrahim yang mendapat pertolongan Allah yang mendinginkan api saat beliau dibakar oleh Namrudz, tapi sudahkah cara kita sama seperti cara meyakini kebenaran Nabi Ibrahim itu,” ujar Ustadz Naspi mengingatkan.

PW Hidayatullah Sulawsei Barat menggelar acara Tabligh Akbar Muharram 1435 Hijriyah di Kmapus Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat. Disela-sela safari dakwahnya ke Sulawesi, Naspi Arsyad diundang juga hadir di Mamuju untuk mengisi acara tersebut.

Bagi kebanyakan awam di daratan Sulawesi meyakini, pantang memulai pekerjaan pada awal Muharram karena akan mendatangkan keburukan pagi pelanggarnya. Meski tidak ada yang getol mentransformasi keyakinan ini secara intens, namun di masyarakat sudah terlanjur melembaga ke dalam kehidupan dan turun temurun menjadi budaya.

Melihat fenomena yang keliru dari sudut pandang aqidah Islam yang benar, pengurus Pesantren Hidayatullah Mamuju memanfaatkan momen tahun baru 1435 Hijriyah ini untuk melakukan pencerahan melalui Pekan Muharram.

 

Laporan wartawan Hidayatullah.or.Id di Sulawesi Barat, Muhammad Bashori

Hidayatullah Mamuju Bangun Gedung Dakwah Ar Risalah

Jalan menuju kampus Hidayatullah Tobadak Mamuju
Jalan menuju kampus Hidayatullah Tobadak Mamuju

HIDORID — Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Mamuju, Sulawesi Barat, mendirikan Gedung Dakwah Ar-Risalah sekaligus menyatu dengan masjid kampus. Masjid berdaya tampung jamaah sholat sedikitnya 500 orang berlantai 2 itu kini sedang dikebut pembangunanya di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju..

Dalam rangkaian arsiteksinya areal Gedung Dakwah Ar Risalah Hidayatullah Mamuju ini akan terdapat fasilitas layanan ummat seperti perpustakaan, guest house, kantor konsultasi syariah dan parenting, Baitul Maal wa Tamwil (BMT), meeting room, dan ruang konvensional lainnya.

Masjid yang dibangun bergandengan dengan posisi Masjid Nurul Ilmi Pesantren Hidayatullah Mamuju itu menelan anggaran Rp. 1.247.000.000, pengerjaan pondasi dan tiang dimulai sejak sebulan lalu.

Ketua panitia pembangunan Drs. Abu Bakar Muis menjelaskan, pembangunan masjid dan gedung dakwah ini dilatari oleh selalu membludaknya jamaah sementara daya tampung masjid terbatas terutama pada hari Jumat.

Bahkan sebagian jamaah yang datang terlambat pada hari Jum’at terpaksa harus pulang mencari masjid lain. Biasanya, jika masjid kampus sudah penuh maka jamaah yang tidak tertampung segera menuju masjid lain yang ada di komplek pasar regional Mamuju yang berjarak sekitar 200 meter dari Pesantren Hidayatullah.

Kata Muis, selain ukurannya yang hanya 49 meter persegi, masjid Nurul Ilmi yang dimanfaatkan sekarang ini dibangun sejak tahun awal tahun 1994. Pada masa itu, terangnya, wilayah perintisan Hidayatullah Mamuju itu masih sangat sepi dari penduduk sehingga masjid pun terasa sangat luas.

Selain itu, ketidakcukupan kapasitas masjid karena membludaknya jamaah dipicu juga dengan meningkatnya jumlah penduduk di Jalan Abdul Syakur yang kini menjadi kawasan Pasar Regional Mamuju.

“Pembangunan masjid yang sekaligus sebagai Gedung Dakwah Ar-Risalah ini merupakan jawaban atas masalah keumatan di Mamuju. Diharapkan di masjid ini nantinya umat Islam bisa lebih nyaman beribadah dan menjadi wadah kajian keislaman,” terang Abu Bakar Muis.

Di sela-sela acara Tabligh Akbar pada Selasa (5/11) lalu, pihak panitia yang diwakili pembina Hidayatullah Mamuju H. Hajrul Malik, S.Ag. melelang pembangunan masjid dimulai dari pengadaan tiang beton, setiap tiangnya senilai Rp. 7.340.000.

Dari sekitar 500 jamaah tabligh akbar yang hadir terlelanglah enam buah tiang senilai Rp.44.040.000. Selain itu ada juga peserta dari wali murid TK dan SD Integral Al-Furqon yang bersedekah di luar perhitungan lelang dengan jumlah Rp. 3.000.000.

Kondisi masjid Nurul Ilmi, masjid lama yang masih digunakan untuk beraktifitas warga dan santri, saat ini semua sisi berandanya sudah dibongkar untuk pembuatan lubang pancang tiang. Sebanyak 20 lubang dengan kedalaman 2 meter lebih sudah menganga di sekitar masjid.

Akhirnya kondisi kampus yang luas kurang lebih 1.5 hektar nampak sesak dengan adanya pagar safety di lingkungan masjid Nurul Ilmi ini.

“Adanya pagar ini lebih menjamin keamanannya kepada murid-murid TK dan SD di pagi hari” imbuh Drs. Muhammad Naim ketua 1 pembangunan masjid.

Lebih jauh, Hajrul Malik yang juga anggota dewan di Kabupaten Mamuju ini memberikan harapan, kalau pihaknya dalam pengelolaan anggaran bantuan sarana ibadah akan ia prioritaskan hingga 100 juta rupiah.

Pembangunan masjid Ar-Risalah yang juga berfungsi sebagai Gedung Dakwah di Sulawesi Barat sebagaimana rencana panitia, diperkirakan selesai pengerjaannya di awal Muharram tahun depan mendatang.

Laporan wartawan Hidayatullah.or.Id di Sulawesi Barat, Muhammad Bashori

Fasilitas Sudah Tersedia, Santri Jangan Malas Menuntut Ilmu

0
Sejumlah ssiwa SD Hidayatullah Depok meramaikan ajang MEF 2013 berfoto bersama
Sejumlah ssiwa SD Hidayatullah Depok meramaikan ajang MEF 2013 berfoto bersama

HIDORID — Dengan ketersediaan fasilitas yang ada di setiap kampus, maka setiap siswa atau santri dituntut untuk belajar keras dan tidak ada alasan bagi mereka bermalas-malasan menuntut ilmu.

Demikian disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah Drs Nusyamsa Hadits, dalam acara gebyar MEF sambut tahun baru Islam 1 Muharram 1435 Hijriyah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat (02/11/2013).

Beliau menegaskan, dengan kemudahan mengakses berbagai penunjang kegiatan belajar dan alat peraga ilmu pengetahuan lainnya, output santri/siswa dari lembaga pendidilkan yang ada diharapkan akan lebih kompetitif, kapabel, serta memiliki kecakapan multidimensional dari aspek intelektual, skil fisikal, emosional, juga spiritual.

Melahirkan generasi kuat dan hebat dalam mengemban amanah dakwah dan kemaslahatan umat adalah tugas bersama-sama. Sehingga spirit Muharram ini harus dipahami sebagai momentum persatuan ke arah perbaikan yang terus menerus, kata Nursyamsa Hadits.

Bekas senator DPR RI yang sehari-hari tetap terlibat membina santri di Pesantren Hidayatullah Depok ini, mengatakan kesadaran berislam masyarakat dunia saat ini semakin menunjukkan angin segar. Termasuk keterlibatan parlemen di sejumlah negara yang telah mengakomodir hak-hak sipil warga Muslim.

“Ini menunjukkan bahwa Islam bukanlah ancaman bagi siapa pun, seperti kerap distigmatisasi media yang memang phobia terhadap ajaran Islam,” ujarnya seraya menyebut Turki yang telah mengesakan UU bolehnya anggota parlemen di negara itu mengenakan hijab.

Di hadapan ratusan siswa yang berasal dari berbagai sekolah di Kota Depok yang mengikuti helatan Muharram Education Fair (MEF) 2013, Nursyamsa menyerukan agar mereka tidak lekas berputus asa dalam meniti jalan meraih ilmu.

“Mumpung saudara-saudara masih muda, masih kuat, masih punya banyak waktu, semangatlah belajar. Tuntutlah ilmu yang bermanfaat yang akan membuat saudara berdaya guna untuk agama dan bangsa ini di masa mendatang,” pesan beliau mengakhiri sambutannya. (ybh/hio)

Gelar MEF 2013, Hidayatullah Depok Semarakkan Tahun Baru Islam

0
Pengasuh Pesantren Hidayatullah Depok Ustadz Nursyamsa Hadits bersama Walikota Depok Nur Mahmudi saat membuka MEF 2013
Pengasuh Pesantren Hidayatullah Depok Ustadz Nursyamsa Hadits bersama Walikota Depok Nur Mahmudi saat membuka MEF 2013

HIDORID — Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, menggelar kegiatan Muharram Education Fair (MEF) 2013 yang diikuti sedikitnya 400 siswa dari berbagai sekolah tingkat SD dan SMP di kota Depok.

MEF 2013 yang memperlombakan sejumlah kategori daya pikir, seni, dan olahraga, itu digelar Hidayatullah Depok untuk menyemarakkan datangnya tahun baru Islam yaitu 1 Muharram 1435 Hijriyyah yang jatuh pada hari ini, Senin sore.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam taushiah singkatnya usai shalat shubuh di Masjid Ummul Quro, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, mengatakan kegiatan-kegiatan semarak yang sarat dakwah untuk menyambut tahun baru Islam ini perlu digalakkan. Sebab, jelas dia, hari ini kalender hijriyah belum sepenuhnya menjadi mainstream.

“Kita berupaya untuk melawan mainstream hura-hura perayaan kalender masehi yang notabene merupakan bentuk hegemoni dan dominasi peradaban Barat terhadap peradaban Islam,” ujarnya.

Sehingga pada kesempatan itu beliau mengimbau kepada segenap masyarakat Muslim untuk mentradisikan menggunakan kalender hijriyah. Selain itu, ia mengajak kepada kaum Muslimin untuk menyambut tahun baru Islam dengan banyak-banyak memohom ampun kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sementara itu, dalam kesempatan pembukaan acara MEF 2013, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, mengajak kepada semua siswa Muslim untuk selalu mempelajari dan emahami sejarah peradaban Islam lebih dalam.

Upaya tersebut, kata Walikota, mesti didukung sekolah dengan para pendidik yang kompeten di bidangnya.

Imbauan itu diutarakan oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail di hadapan ratusan siswa dan hadirin dalam acara pembukaan kegiatan Muharram Education Fair (MEF) 2013 di Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (02/11/2013).

Walikota mengatakan, tahun baru Islam Hijriyah harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan dan pembaharuan diri. Dalam pada itu, pemahaman terhadap sejarah dakwah Islam diharapkan akan membentuk karakter siswa menjadi shalih dan kelak mendorong siswa untuk berkontribusi terhadap pembangunan.

“Jadi jangan sampai ada siswa yang tidak tahu atau tidak hafal nama-nama bulan hijriyah,” kata Nur Mahmudi di hadapan para siswa dari berbagai perwakilan sekolah di Kota Depok ini.

Nur Mahmudi menegaskan, pendidilan merupakan amanah agama dalam rangka membentuk karakter takwa dan kesantunan kepada umat. Pendidikan juga telah diakui senbagai salah satu hak kemanusian.

“Bahwa pendidikan harus diselenggarakan kepada seluruh umat manusia. Kita semua memiliki tanggung jawab bersama dalam hal ini bahkan kepada mereka yang memiliki keterbatasan kondisi fisik atau lemah dalam kapasitas berfikirnya,” ujar Nur.

Penyelenggaraan pendidikan, kata dia, tidak hanya dilakukan pemerintah. Tapi juga sangat mengharapkan partisasi masyarakat. Pemerintah jelas akan kewalahan dalam mengangani pendidikan nasional.

Oleh karena itu, lanjutnya, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara pendidikan khususnya di Kota Depok yang telah senantiasa meningkatkan kapasitas, kualitas, maupun jenis pendidikannya.

Muharram Education Fair (MEF) 2013 diselenggarakan dalam rangka menyambut tahun baru Islam dalam kalender Hijriyah yang jatuh para hari Selasa, 05 November 2013 masehi mendatang.
MEF 2013 diantaranya menggelar lomba tahfidzul Qur’an, cerdas cermat, pidato multi bahasa, nasyid, futsal, dan lain-lain. MEF 2013 tahun ini diikuti sedikitnya 400 peserta dari berbagai perwakilan sekolah di Depok.

“Jadikan MEF tahun ini sebagai momentum untuk mengeratkan silaturrahim. Serta sebagai ajang ekspresi untuk menumbuhkembangkan potensi putra putri kita dengan mengikuti aneka lomba,” tandas Nur Mahmudi.

Masyarakat Merindukan Kembali Kehidupan Islami di Dusun Muhajir

Desa Kalukku - Karossa, di wilayah ini dusun Muhajir berada
Desa Kalukku – Karossa, di wilayah ini dusun Muhajir berada

HIDORID — Jika dulu Anda pernah bepergian dari kota Mamuju menuju kota Palu di Sulawesi Tengah, melintas dengan jalur darat. Jangan heran jika kemudian Anda mendapati sebuah dusun yang banyak wanita-wanita berjilbab besar, dari usia kanak-kanak, remaja, hingga orangtua. Semua nampak nyaman mengenakan atribut keislaman pada kegiatannya sehari-hari.

Seandainya sempat mampir dan meluangkan waktu untuk sholat di musholla-musholla atau di masjid yang Anda temui di sepanjang jalan poros ini. Akan tampak pemandangan warga laki-lakinya berjamaah lima waktu dan dengan gampangnya meninggalkan semua rutinitas baik yang di sawah, kebun atau kios-kios milik mereka saat azan telah berkumandang.

Apabila Anda menemukan pemandangan tersebut, itu berarti Anda memasuki sebuah dusun bernama Muhajir, yang kini sedang berafiliasi menjadi sebuah desa di Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulbar.

Konon sebuah aib besar di masyarakat di dusun ini, kalau punya anak perempuan yang senang bergaul dengan lawan jenisnya.

“Meskipun waktu itu baru sepeda yang ada tetapi tidak ada muda-mudi berboncengan,” tutu Mansaeni, salah satu tokoh masyarakat warga dusun Muhajir yang berprofesi guru di tempat itu.

Kondisi tadi, menurut penuturan Mansaeni yang sejak tahun 2007 menjadi penyuluh sekolah itu, telah berlangsung sejak awal dibukanya dusun Muhajir pada awal-awal tahun 1960-an, hingga era 90-an suasana meneduhkan hati itu terlihat.

Namun, sejalan dengan perkembangan zaman, terlebih pada era teknologi informasi yang perkembangannya jauh lebih kencang dari laju kuda-kuda ternak warga dusun ini, membuat tetua kampung resah. Para perintis dusun Muhajir miris melihat anak cucunya mulai banyak mengalami pergeseran budaya.

Masih menurut Mansaeni, sejak awal tahun 1990, dusun yang ia tinggali itu mulai mengalami perubahan pada tradisi keislamannya, beberapa warga sedikit demi sedikit sibuk menunggui tanamannya di kebun dan bahkan mulai berani meninggalkan sholat berjamaah.

Bahkan yang membuat ia dan orangtua sedih ketika melihat gaya hidup bebas menggejala pada kaum mudanya, “Selain faktor terbukanya informasi, lemahnya iman sebagai filter dalam bergaul dan jarangnya kajian-kajian membuat kami kurang didengar nasihatnya,” ungkapnya dibarengi air muka yang keruh.

Umumnya orang Sulbar tahu kalau di Muhajir pada awalnya terkenal sebagai penghasil buah durian. Selain manis rasanya, buah durian di dusun Muhajir tidak mengenal musim. Berbuah sepanjang tahun, bedanya hanya akan berbuah lebih lebat pada musimnya.

Di luar musim durian, kini durian-durian manis itu sudah jarang lagi tergantung di pondok-pondok yang dibangun warga di sepanjang jalan poros, sebagaimana pengakuan beberapa warga. Sejumlah tetua yang kami temui, bahkan menyebut bisa jadi telah jarangnya buah durian di sini disebabkan karena berkurangnya rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan masuknya pengusaha perkebunan kelapa sawit yang membabi buta menggunduli semua pepohonan di ladang.

Diakui Jauhari, alumni pesantren yang kini mengajar di sebuah sekolah swasta di sana. Dia menyebutkan saat ini dirinya dan beberapa tokoh masyarakat sedang menggiatkan kembali majelis di empat dusun pemekaran.

“Kami harus mengandeng dai Hidayatullah, karena semangat teman-teman mengajari kami di pedalaman sangat tinggi sekali,” sambutnya.

Menyambut panggilan sinergi dakwah tersebut, Hidayatullah Sulbar cukup antusias. Mereka memandang, untuk membangun kembali kampung yang dulunya Islami ini harus dimulai dari membangun spiritualitas warganya, ini syarat mutlak.
“Makanya diharapkan dengan menghidupkan kembali majelis-majelis taklim ini merupakan upaya cerdas untuk mengembalikan tradisi yang pernah ada,” tutur sekretaris PW Hidayatullah Sulbar Anwar Baits, S.Pd saat mengisi taklim di Masjid Al-Muhajirin di Dusun Muhajir Timur, beberapa saat lalu.

Berjarak 30 kilometer dari ibukota Kabupaten Mamuju Tengah ke arah utara. Dusun Muhajir bertempat di jalur provinsi yang sudah beraspal, kondisi ini memudahkan akses dakwah ke dusun yang memiliki sebuah sekolah dasar yang semua siswinya berjilbab ini.*

Laporan langsung wartawan Hidayatullah.or.id di Mamuju, Muhammad Bashori

Memakmurkan Masjid Terminal Regional Kabupaten Mamuju

0
Sebuah masjid di terminal / IST
Sebuah masjid di terminal / IST

HIDORID — Sebuah masjid kecil yang sudah lama terbengkalai di komplek Terminal Regional Kabupaten Mamuju di bilangan Simbuang kini lebih “hidup”. Masjid yang bernama Al Muhajirin itu belum lama ini difungsikan kembali setelah sekian lama tal terurus.

“Al-Muhajirin sangat pas dengan kondisi masjid ini”, ungkap Hajrul Malik yang juga pemberi nama masjid ini. Hal itu diamini juga oleh seorang wakil rakyat juga aktif sholat berjamaah di masjid terminal jika dirinya tidak sibuk keluar daerah.

Geliat kembali masjid ini membuat lega para pejalan khususnya calon penumpang di Terminal Regional Kabupaten Mamuju tujuan Makassar dan kota lainnya di Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, bagi penumpang muslim khususnya, jadwal keberangkatan bus malam tujuan Makassar kebanyakan pada waktu shalat isya. Jadwal ini sangat menyulitkan dengan kondisi sarana ibadah yang tidak terawat.

Namun kini masjid berukuran 10×10 meter persegi bercat putih yang terletak di sisi barat terminal itu sudah berfungsi. Nampak fasilitas tempat wudhu di sebelah utara masjid dengan tower yang menyangga galon air berkapasitas 110 liter.

Kamar mandi dan toilet dibangun sebelah selatan masjid dan semuanya berjajar membujur persis di puncak bukit, sehingga di ruaangan masjid tidak memerlukan kipas angin atau air conditioner (ac).

“Fasilitas lengkap di sini, ini tidak perlu dipikirkan langsung saja dibersihkan” Ungkap Syaiful seorang jamaah masjid usai shalat subuh di masjid.

Pemanfaatannya hanya sebatas sholat lima waktu dan belum ada rencana untuk digunakan sholat jumat. Hal ini dikarenakan di sebelah barat masjid Al-Muhajirin juga ada masjid yang ditempati sholat Jumat sebagaimana 80 meter di sebelah timur terminal juga ada masjid. Selain itu dibutuhkan mediasi dan izin tertulis ke instansi terkait pelaksanaan sholat jumat.

Ditemui di ruang kerjanya, kepala Bidang Teknis Sarana dan Prasarana Terminal, Musrip AR Siga, menyebutkan kalau pihaknya belum berani memberikan izin secara tertulis untuk penggunaan masjid Al-Muhajirin.

“Secara resmi belum pernah diserahkan kepada pemerintah daerah sejak selesainya pekerjaan terminal ini akhir 2010 lalu” meski secara pribadi ia senang jika ada masyarakat yang sukarela memanfaatkan fasilitas umum ini.

Semua sarana di masjid Al-Muhajirin merupakan sumbangan jamaah. Dari kerjabakti, pengadaan balon lampu, alat-alat kebersihan hingga pemasangan instalasi listrik.

Semangat memakmurkan masjid ini datang juga dari beberapa pengelola travel yang berkantor di komplek terminal, kini pada jam-jam sholat sebagian pekerja mulai berdatangan.

“Semoga dengan aktifnya masjid ini kami lebih mudah untuk melakukan sholat berjamaah di sana, kufur nikmatlah kalau sampai tidak bersyukur atas berfungsinya fasilitas mahal di lingkungan kerja kita” harap Musrip.

Selain kegiatan shalat berjamaah, masjid ini akan menyelenggarakan kegiatan kajian keislaman seperti parenting, fiqih, dan pembelajaran Al Qur’an. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) telah melakukan kerjasama dengan Pesantren Hidayatullah setempat untuk kegiatan-kegiatan tersebut.

(Laporan wartawan Hidayatullah.or.id di Mamuju, Muhammad Bashori)