Beranda blog Halaman 675

Nikah dan Bersibak Jalan untuk Mandiri

0

Ust Abdullah Sa'idUstadz Abdullah Said ingin lebih mengeratkan hubungannya dengan Pak Haji, panggilan Haji Muhammad Rasyid, sehingga menikahi putrinya  yang masih belia, Nuraini Rasyid.  Diadakan pada hari Ahad 26 Agustus 1973 dengan pembawa nasihat pernikahan K.H.Ahmad Marzuki Hasan, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros Sulawesi Selatan yang sengaja diterbangkan dari Makassar. Pernikahan itu merupakan langkah terobosan di Balikpapan karena pengantinnya tidak bersanding dan tamu laki-laki dipisah dengan tamu wanita.

Namun diluar dugaan pasca pernikahan. terjadi hubungan yang kurang harmonis antara sang Ustadz dengan Pak Haji yang sudah berstatus mertua mengakibatkan anaknya juga  tidak berani mendekat. Diantara penyebab ketidak harmonisan itu , Pak Haji menginginkan santri-santri yang semakin hari semakin banyak itu  dipungut pembayaran untuk tinggal dan belajar,  karena memerlukan biaya konsumsi yang tidak sedikit. “Jangan digratiskan terus, karena kalau kamu menggunakan cara gratis untuk seterusnya itu namanya sama dengan bunuh diri”.

Disini letak perbedaan pandangan antara H. Muhammad Rasyid dengan Ustadz Abdullah Said. Menurut pendapat Ustadz Abdullah Said yang disampaikan kepada H. Muh. Rasyid, “Kalau menurut saya, calon-calon kader pejuang yang ditampung ini kalau kita menampung dengan penuh ketulusan dan keikhlasan akan mendatangkan berkah sekaligus rezeki yang banyak, yakin saja Pak Haji !”.  Pendpat seperti ini tidak dapat diterima  oleh Pak Haji Muhammad Rasyid.  Jadi dialog yang terjadi saat itu tidak seperti sebelumnya dimana Pak Haji mudah menerima saran-saran yang diajukan Ustadz. Kini dialog yang terjadi bukan lagi pembicaraan antara  pengurus dengan Ustadznya, tapi antara mertua dan menantunya.

Ditambah lagi dengan ulah sang menantu  yang sering memberi jawaban yang bernada nakal seperti kalau ditanya, “Bagaimana memberi makan kepada anak-anak sebanyak itu?” dijawab bahwa, “Kita masakkan saja Pak Haji, kemudian  ditaruh di piring dan dipersilahkan makan”.  Itu adalah jawaban yang penuh kedongkolan yang sepertinya memang mencari gara-gara. Karena sang Ustadz memang dari semula  tidak menginginkan anak-anak santri itu dipungut bayaran, karena yakin sekali bahwa rezekinya pasti didatangkan oleh Allah SWT.

Dan memang sudah sering terbukti, hanya Pak Haji sangat sulit mengakui.  Lain halnya dengan Ibu Haji, yakin sekali tentang keberkahan yang dirasakan selama menampung santri-santri. Ustadz Abdullah Said juga sudah pernah mengingatkan bahwa, “Rahasia  kemajuan perusahaan  Pak Haji ini, salahsatunya adalah karena adanya anak-anak santri yang ditampung”. Yang memang terbukti usaha itu semakin hari semakin melejit sampai mencapai puncak. Tapi rupanya Pak Haji sulit memahami kalau kemajuan usahanya itu ada hubungannya dengan anak-anak yang ditampung.

Rupanya memang sulit dipertemukan pandangan sosial dengan pandangan bisnis yang selalu berhitung untung rugi secara materi. Ujung dari ketidaksepahaman itu yang semakin hari semakin menajam yang sepertinya tidak dapat lagi ditumpulkan, adalah perceraian. Ustadz Abdullah Said mengambil keputusan untuk bercerai dengan Haji Muhammad Rasyid yang  tidak dapat disangkal jasa-jasanya didalam menopang langkah awal berdirinya sebuah lembaga pendidian Islam yang bernama pesantren yang pertama di Balikpapan.

Juga terpaksa bercerai dengan istrinya, Nuraini Rasyid tanpa dukhul. Karena menurut Ustadz Abdullah Said sang anak dilarang disentuh sebelum mengikuti keinginan Pak Haji. Ustadz Abdullah Said berusaha untuk mampu menahan diri untuk tidak meyentuhnya selama hampir satu tahun lamanya.  Akhirnya sampailah pada puncak ketegangan  dimana perpisahan sulit dihindari. Dari mulut Pak Haji keluar kata-kata sinis, “ Tinggalkanlah tempat ini tapi yakinlah bahwa pekerjaanmu itu tidak dapat berlanjut. Potong jari tangan saya kalau dapat berlanjut, dimana kamu ambil uang untuk melanjutkannya”.  Ucapan ini dijadikan cemeti oleh Sang Ustadz untuk dapat lebih mempercepat  perjalanannya menuju  cita-cita.

Sebenarnya di balik rasa benci Haji Muhammad Rasyid kepada Ustadz Abdullah Said ada juga terselip rasa kagumnya. Karena sebelum Uastadz Abdullah Said nikah dengan anaknya pada waktu istri Pak Haji kena sakit, ada gangguan pada otaknya  yang sulit disembuhkan sehingga harus dibawa ke Jogjakarta dan dokter-dokter di Jogja menyarankan agar berobat di Amerika,  pada waktu itu Pak Haji sudah kebingungan.

Tapi demi kesembuhan istri apa boleh buat, kalau memang harus diberangkatkan ke Amerika. Pak Haji tidak persoalkan berapapun biaya yang harus dikeluarkan.  Namun ada saran dari Ustadz Abdullah Said agar sebelum diberangkatkan ke Amerika kita shalat lail bersama dulu tiga malam berturut-turut untuk meminta pertolongan dari Allah SWT. Karena bagi Allah tidak ada yang sulit. Setelah hal itu dilakukan ternyata ada keajaiban, penyakit istrinya yang sulit disembuhkan itu dan harus dibawa ke Amerika untuk disembuhkan, dapat sembuh total.

Pada waktu Pak Haji melihat keajaiban itu, dengan tidak berfikir panjang lagi seluruh tempat dan bangunan yang ada diatasnya di Gunung Sari yang sekarang bernilai milyaran rupiah, diserahkan kepada Ustadz Abdullah Said didepan notaris. Tetapi sang Ustadz tidak pernah menuntut. Menyinggung-nyinggungpun dengan maksud ingin mengupayakan menjadi miliknya tidak pernah. Padahal rumah dan tempat yang diserahkan itu bernilai milyaran rupiah. Kalau dia ingin menuntut pemilikan harta itu sangat wajar ditinjau dari sudut hukum. Karena penyerahannya dilakukan di depan notaris.

Namun setelah muncul kebencian, keajaiban yang disaksikan secara langsung itu tidaklah membuatnya lunak untuk kembali menjalin hubungan baik dengan Ustadz yang telah menjadi menantunya itu. Sang istrilah yang menderita batin. Setelah mengalami kesembuhan dari gangguan yang ada pada otaknya timbul lagi penyakit baru berupa tumor pada tangannya. Menurut pengakuan Ibu Haji , “Ini adalah akibat tekanan bathin melihat ketidak harmonisan antara Pak Haji dengan menantunya”. Demikian disampaikan kepada Manandring AG, kemanakannya.

Karena Ibu Haji sendiri sangat mencintai menantunya yang Ustadz itu. Dia tidak tega melihat menantu yang disayanginya itu diperlakukan seperti itu. Apalagi dia merasakan sekali jasa-jasanya pada waktu kena penyakit yang sulit disembuhkan dan Ustadz berhasil menyembuhkan lewat do’ dan munajat.

Lebih meyakinkan lagi adanya keberkahan itu karena sejak Ustadz Abdullah Said meninggalkan tempat itu,  perusahaan yang dikelolanya merosot terus menerus. Setelah lama menderita sakit Ibu Haji akhirnya meninggal dunia.

Sejatinya, Inilah Pekerjaan Terberat Kita!

0

3d-character-31UNSUR dalam diri manusia ada dua yaitu jasmani dan ruhani. Keduanya adalah potensi yang diberikan oleh Allah untuk manusia dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Jasmani dan ruhani ini juga sebagai dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa dinamakan manusia kalau tidak memiliki ruhani dan begitu sebaliknya.

Kedua unsur tersebut memiliki kebutuhan dan pekerjaan yang berbeda. Kebutuhan jasmani adalah makanan dan minuman yang bergizi untuk memberikan energi atau kekuatan. Jika tidak dipenuhi maka akan kelaparan, muncul penyakit maag dan tidak mampu beraktifitas.

Jenis makanan jasmani harus halal dan baik bagi kesehatan. Artinya, ada batasan, yang tujuan dari pembatasan itu adalah untuk kebaikan dan keselamatan manusia sendiri.

Adapun pekerjaan jasmani adalah melakukan aktifitas-aktifitas lahiriyah untuk menjadi khalifatullah. Jasmani ini yang bekerja dengan tangan, kaki, pikiran, badan dalam bingkai kerja-kerja dakwah, tarbiyah dan amal shaleh yang lain.

Kemudian unsur kedua adalah ruhani yang berpusat pada hati yang memiliki kebutuhan spritual dengan ibadah, berdzikir, membaca al-Qur’an dan amalan-amalan yang lain.

Kebutuhan ini sebenarnya fitrah yang dimiliki oleh semua orang tapi tidak semua orang bisa merasakan kelaparan ruhani ketika hatinya terlanjur tertutup atau terkotori oleh dosa-dosa. Namun akibat yang ditimbulkan dari ruhani yang kelaparan adalah karakter emosional, temperamental dan mudah melakukan kemaksiatan.

Selanjutnya masalah pekerjaan hati adalah ikhlas yang terwujud dengan sikap sabar dan syukur. Hati yang ikhlas adalah penentuan pekerjaan jasmani dan ruhani itu bernilai di hadapan Allah.

Pekerjaan-pekerjaan jasmani sejatinya hanya berbuah kelelahan dan mungkin sedikit sekali kekayaan -dibandingkan kekayaan Allah Ta’ala- kalau tidak ada keikhlasan di dalamnya.

Ketika hati tidak ikhlas berarti ada perselingkuhan hati kepada selain Allah. Itu artinya syirik. Entah karena ingin dipuji (riya’), untuk kepentingan duniawi atau kesyirikan yang nyata.

Sehingga, pekerjaan ruhani berupa amal ibadah dan amal shaleh akan menjadi bumerang yang tidak berbuah pahala tapi kemurkaan dari Allah karena adanya kesyirikan tersebut.

Ikhlas adalah pekerjaan paling berat bagi hati. Sehingga pantas hanya orang ikhlas saja yang tidak bisa diganggu oleh setan laknatullah. Jangankan menggoda, untuk mendekat saja, setan tidak berani kepada orang-orang yang ikhlas.

Namun, di lain pihak, hati ini juga memerlukan apresiasi atau bahasa umumnya motivasi dalam bentuk pujian. Apresiasi bisa menjadi penyemangat untuk melakukan sebuah amal dalam rangka meningkatkan kinerja.

Penulis cukup tersentak, ketika ada beberapa teman yang sudah merasa telah bekerja keras dan begitu yang penulis perhatikan. Tapi tiba-tiba muncul sebuah pernyataan, yang sengaja atau tidak, mengatakan seolah-olah mereka tidak ada kontribusi dan tidak bekerja. Plus, ditambah lagi dibandingkan dengan beberapa teman yang selalu mendapat apresiasi padahal belum banyak juga yang dikerja.

Mereka down dan tidak bersemangat untuk bekerja lagi. Sebenarnya sikap seperti itu juga kekanak-kanakan. Tetapi sikap orang yang tidak menghargai pekerjaan orang lain meski hanya sebuah apresiasi juga bukan sikap orang yang dewasa.

Penulis kemudian jadi termenung, di mana sebenarnya titik temu antara ikhlas dan apresiasi. Orang ikhlas memang tidak memerlukan apresiasi dari siapapun selain dari Allah Subhanahu wata’ala. Apresiasi dari Allah melebihi apapun bentuk apresiasi. Meskipun tidak langsung dirasakan dan tidak kelihatan wujudnya, tetapi apresiasi itu nyata dan pasti adanya.

Namun, secara manusiawi untuk orang-orang awam atau pemula yang memerlukan motivasi, maka apresiasi adalah jembatan menuju keikhlasan.

Anak-anak dan para santri, untuk bisa memotivasi diri tanpa apresiasi dari orang lain adalah pekerjaan yang berat.

Bukankah para psikolog mengajarkan untuk sering mengapresiasi para anak dengan pujian positif agar terangsang potensi positifnya. Wallahu a’lam bish shawwab. 

________________

*ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah dosen STIS Hidayatullah Balikpapan dan penulis buku.

Gerakan Reformasi Pendidikan Islam

0

ZAMAN Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), para pemuda mampu memegang posisi strategis untuk penguatan dan kemajuan dakwah Islam. Di antara mereka ada yang ahli dalam bidang tulis-menulis, strategi perang, juga ahli dalam berdakwah.

Zaid bin Tsabit adalah sosok sekretaris muda yang expert. Kemudian Usamah bin Zaid pernah memimpin pasukan militer di usianya yang baru 18 tahun. Termasuk Mush’ab bin Umair yang mampu merangkul pendudk Yatsrib untuk menerima Islam beberapa tahun sebelum masa hijrah tiba.

Fakta sejarah itu kini terkesan seperti dongeng. Sebab pemuda hari ini rasanya tidak sedikitpun menunjukkan adanya satu kemiripan dengan apa yang terjadi pada pemuda di zaman Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) atau pun di zaman masa Peradaban Islam memimpin dunia. Kala Islam menguasai peradaban dunia pemuda-pemuda Muslim tampil brilian di berbagai bidang.

Di bidang kedokteran ada Ibn Sina yang menguasai ilmu kedokteran di usianya yang baru 18 tahun dengan karya tulisnya yang tidak kurang dari 450 judul. Kemudian Fakhrudin Al-Razi, sosok ilmuwan Muslim yang tak pernah berhenti belajar kecuali dalam dua kesempatan; ketika menikah dan ketika ayahnya meninggal dunia. Al-Razi menulis tidak kurang dari 120 judul buku dari berbagai disiplin ilmu. Demikian pula dengan Imam Syafi’i, Imam Madzhab yang hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun.

Konstruk Pendidikan Islam

Menagapa pemuda di kala itu begitu cemerlang, sementara hari ini pemuda nampaknya lebih cenderung pragmatis dan hedonis?

Harus diakui dan diyakini bahwa kepeloporan pemuda zaman itu dengan ragam prestasinya tidak lepas dari keyakinan, keakraban, kontinuitas mereka dalam berinteraksi dengan al-Qur’an dan orang-orang sholeh.

Interaksi yang dilakukan secara tekun dan sungguh-sungguh itu menjadikan mereka senantiasa terinspirasi untuk menemukan satu jawaban, solusi atas problematika yang dihadapi umat. Semakin muncul masalah semakin kreatif mereka belajar dan berpikir untuk menemukan solusi.

Bahkan di antaranya ada yang pemikirannya melintasi zaman dan usianya sendiri. Imam Syafi’i adalah sosok ilmuwan yang berhasil mengamankan studi Islam (Ushufl Fiqh) dari kerancuan pemikiran dengan kitab Al-Risalah-nya.

Konstruk ilmu ushul fiqh yang dirancang oleh pemuda yang ketika kecil menulis pelajaran di tulang unta dan pelepah daun kurma itu menjadi benteng yang sangat kuat terhadap otensitas epistemologi Islam, sehingga gempuran orientalisme yang muncul berabad-abad setelah wafatnya hingga hari ini tak sedikit pun mampu menembusnya.

Semua itu tidak lain karena interaksi mereka dengan al-Qur’an yang sedemikian intens. Umumnya ulama zaman itu telah menghafal al-Qur’an sejak usia anak-anak. Kemudian mereka meyakini sepenuh hati isi al-Qur’an yang dibuktikannya dengan rasa cinta membacanya. Imam Syafi’i ketika Ramadhan mampu menghatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali, yang semua dibaca justru ketika beliau sedang sholat.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa dasar yang menjadi pemicu dan pemacu lahirnya generasi muda yang sangat expert di berbagai bidang itu tidak lain adalah karena konstruk pendidikan Islam yang berdasar dan beroirientasi hanya kepada al-Qur’an dan sunnah.

Model Pendidikan Islam

Tidak ada yang keliru sebenarnya dengan apa yang telah dijalankan selama ini dari beragam model dan bentuk pendidikan Islam. Semua bertujuan ingin mencetak generasi rabbani. Namun adalah satu langkah yang bijaksana jika kita kembali menengok sejarah sendiri untuk kemudian menata ulang masa depan pendidikan Islam tanah air.

Satu hal pokok yang mesti menjadi perhatian dan prioritas pendidikan Islam hari ini adalah terlaksananya pendidikan Islam yang berbasis dan berorientasi kepada al-Qur’an semata. Dengan cara seperti itu maka peserta didik dan pendidik sekaligus akan tertantang untuk menemukan solusi kunci dari problematika kontemporer.

Al-Qur’an pun tidak akan lagi hanya dijadikan sebagai bahan bacaan semata. Tetapi lebih jauh akan menjadi sumber inspirasi yang akan mengundang lahirnya ide-ide kreatif, solutif, dan fundamental guna memberikan satu tawaran alternatif berupa perbaikan kondisi bangsa dan negara. Dan, wacana akan hal tersebut sejatinya telah dipaparkan secara gamblang dalam sejarah peradaban Islam.

Sekarang bergantung kepada umat Islam sendiri. Apakah ingin tetap bertahan dengan model pendidikan yang selama ini telah berjalan. Atau ingin benar-benar menerapkan satu konsep pendidikan Islam ideal sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang dibuktikan oleh generasi gemilang pada tujuh abad pertama Islam jaya.

Solusi Problem Pemuda

Pendidikan Islam sudah seharusnya menemukan jati dirinya. Sebuah pendidikan yang mampu mempersiapkan hadirnya generasi unggul yang siap melanjutkan estafet perjuangan menegakkan kebenaran.

Jika kita cermati secara seksama, kondisi umum pemuda hari ini yang cenderung pragmatis-hedonis tidak lain dan tidak bukan karena jarak yang sangat jauh antara jiwa, pikiran dan hati mereka terhadap al-Qur’an yang mengajarkan keluhuran akhlak dan budi. Hal itu menjadikan mereka asing dengan masjid, kebaikan, dan tentu dengan ilmu. Apa yang ada pada mayoritas pemuda hari ini tidak lebih dari hanya sebuah skill teknis semata.

Mereka masih jauh dari budaya berpikir dan berkarya secara hakiki. Sekolah tidak lain hanya menjadi tempat pelarian sementara untuk menutupi kemalasan mereka dalam hidup. Hal ini bisa dibuktikan dengan maraknya pemuda dan pelajar yang terjerat kasus narkoba, pergaulan bebas, dan beragam bentuk kriminalitas lainnya.

Reformasi pendidikan Islam dengan kembali menjadikan al-Qur’an sebagai basis dan orientasi pendidikan tanah air dipastikan akan memberikan satu jawaban konkrit atas krisis yang melanda negeri ini. Logikanya sederhana, jika di masa lalu bisa diwujudkan mengapa sekarang tidak!*

_____________

BANGUN BUMIGIRI, penulis adalah peneliti di Institute for Islamic Civilization Studies and Development (Inisiasi) Hidayatullah yang aktif mengisi kajian Gaya Hidup Muslim (GHM) dan rubrik Jendela Keluarga di www.hidayatullah.com.

“Perkuat Peran, Islam Jangan Sampai Terasing Di Negeri Sendiri”

0

wisudawan2Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia. Namun umat Islam justru seperti terasing di negerinya sendiri. Itu terjadi karena umat Islam sekarang masih sering kalah bersaing dalam pembangunan bangsa dan negeri ini.

“Islam yang besar, terasing di negerinya sendiri. Itu karena Islam tidak mempunyai peran di dalam rumahnya sendiri,” kata Menteri Agama Suryadharma Ali dalam Halal Bi Halal dan Silaturahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alim Ulama dan Tokoh Masyarakat di Garut, Jawa Barat, Minggu (01/09) lalu.

“Untuk itu, kita harus melakukan introspeksi diri,” tegas Menag. Menag memandang pertemuan ini sangat positif untuk melihat di manakah posisi umat Islam, khususnya di Garut, saat ini?

“Pertemuan ini penting untuk melihat kekuatan dan kelemahan kita saat ini sehingga dapat kita kembangkan untuk kemajuan umat Islam ke depan,” tutur Menag.

Menag menyayangkan kumpulnya umat Islam Indonesia saat ini, baru sekedar kumpul secara fisik. Menurutnya, ini koreksi yang harus dipahami secara bersama.

“Selama ini, pikiran kita tercerai berai, tujuan kita tercerai berai, target yang ingin dicapai juga berbeda-beda,” sesal Menag.

Untuk itu, Menag mengajak semua pihak untuk menggalakkan ukhwah Islamiyah, demi tercapainya kesejahteraan ummat. Menag mengapresiasi kontribusi yang selama ini sudah diberikan oleh para alim ulama dan pengasuh pesantren di Indonesia, dan khususnya di Garut.

“Apa yang sudah dilakukan para alim ulama sudah sangat luar biasa. Namun, nyatanya masih saja ada masyarakat yang tidak tersentuh dakwahnya. Maka sebaiknya kita mengintrospeksi diri,” ujar Menag.

Dikatakan Menag, mayoritas penduduk Kabupaten Garut beragama Islam, banyak pondok pesantrennya, namun kenapa aliran-aliran sesat tumbuh subur? Lantas, bagaimana dengan kota yang pondok pesantrennya sedikit?.

“Bukankah dengan banyaknya santri dan mahasiswa yang bisa diajak berdakwah, justru dakwah itu dapat lebih mudah dijalankan?” tanya Menag. “Kita harus melakukan introspeksi diri,” tambah Menag. (kem/hio/ybh)

Muslimin Kupang Galang Dana dan Tablig Akbar Peduli Mesir

0

tablig_akbar_medanMasyarakat Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berhimpun dalam komunitas bersama digagas Hidayatullah Kota Kupang bersama MKS Group, Aqso Working Group, Wahdah Islamiah, dan Dewan Da’wah Islamiah (DDII) menggelar Tablig Akbar dan Penggalangan Dana Solidaritas Kemanusian untuk Mesir di Masjid Raya Nuru Sa’adah, Kupang, beberapa waktu lalu.

Ketua Panitia Pelaksana Saiful Bahri dalam sambutannya mengaku prihatin terhadap perang saudara di Mesir akibat krisis politik yang sedang berjalan. Menurut dia, rakyat Mesir mendapat dukungan dan rasa persaudaraan dari umat Islam.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT H Abdul Kadir Makarim mendukung aksi penggalangan Dana itu demi meningkatkan rasa solidaritas kita. “Saya harap  kita semua sudah mengetahui bagaiaman kondisi terakhir disana,” maka kita harus ada rasa sosial.

Sementara itu, Ust. H. Ridwan Hamidi mengatakan, umat Islam Indonesia harus belajar dari Mesir. Perang Mesir begitu besar, sejak 22 Maret 1946 hingga saat ini terus menelan korban akibat kepentingan politik kelompok atau negera tertentu.

Mesir sejatinya belum merdeka, meski tampaknya sudah merdeka. Hal ini disebabkan masih bercokolnya kepentingan negera tertentu di negara tersebut, kata Alumni International Islamic Univercity Madinah dan Dosen UGM itu. (ybh/hio/bah)

Dari Surabaya Hingga Meluas ke Seantero Jawa Timur

0

HIDORID — Berikut ini video dokumenter sejarah berdiri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Dari Surabaya kemudian Hidayatullah meluaskan dakwahnya hingga menjelajah ke berbagai wilayah di Jawa Timur.

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”2XeiXKbz5cI”][/youtube]

[SURAT PEMBACA] Dusta Miss World dan Kapitalisasi Perempuan

0

Assalamu’alaikum Wr Wb

Sikap seorang muslim sejati seharusnya bersuara satu tidak ada pilihan lain, bahwa acara Miss World di Indonesia wajib ditolak. Diantara alasannya adalah sebagai berikut:

1. Kapitalisasi Perempuan

Kontes kecantikan menjadikan perempuan dan tubuhnya dieksploitasi sebagai barang dagangan alat promosi industri rating media, industri alat komestik dan industri fashion di atas penggung, catwalk, majalah, Koran, dan televisi yang martabat perempuan.

2. Dusta Konsep 3 B

Brain (kecerdasan), Beauty (Kecantikan) dan Behaviour (Kepribadian) hanya polesan, terbukti tidak ada kontestan yang fisiknya kurang. Maka mendukung ajang ini sama saja dengan melanggengkan penjualan tubuh perempuan dan pembiaran Dusta 3B.

3. Kampanye Liberalisasi Budaya

Posisi Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, juga tren dewasa ini bahwa Indonesia menjadi “kiblat” dunia Islam. Bukan “Kiblat prestasi” tapi akan jadi “Kiblat Liberalisasi” rendahan.

4. Motif Eksploitasi Ekonomi terselubung

Populasi 235 juta penduduk negeri ini adalah market menggiurkan bagi penjualan berbagai komoditi. Pemegang hak siar malam final Miss World yang di Indonesia di tangan MNC, dipastikan akan meraup pundi-pundi rupiah dari para pemasang iklan yang mengerubutinya.

5. Kedok Pariwisata

Indonesia sudah cukup dikenal dengan kekayaan dan keindahan alamnya, tanpa harus menjual tubuh wanita! Lagi pula apa artinya mengenalkan Indonesia kalau dilakukan dengan cara merusak negeri ini.

6. Ajang Arus Penyesatan

Adanya pengaburan opini seolah-olah kontes tersebut akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Misal opini bahwa kontestan Miss World disyaratkan melakukan aksi sosial/kemanusiaan. Aksi sosial bisa dilakukan tanpa harus melalui kontes ini.

7. Membawa Negara Tunduk pada Korporasi

Bila dengan berbagai penolakan yang ada pemerintah tetap ijinkan, berarti menegaskan pemerintah tidak peduli, gagal menjaga moralitas bangsa dari bahaya liberalism budaya. dan “tunduk” di bawah pengaruh pemilik korporasi, tidak melindungi rakyat

“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digulung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].

Siapapun yang sedang melihat larangan Allah diterjang, agama-Nya ditinggalkan, sunnah Rasul-Nya dijauhi, namun hatinya dingin dan lisannya terkunci, adalah tidak tersisa agama dan kebaikan padanya. Orang tersebut seakan setan bisu (dari menyuarakan kebenaran) sebagaimana orang yang menyuarakan kebatilan adalah setan berbicara. (Ibnu Qoyyim alJauziyah).

Apakah kita rela memiliki identitas sebagai setan bisu?

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Ma’rifaturrizza

Ibu Rumah Tangga, Jl Perum Pandean, Sooko Gg VII/28 Mojokerto

Hidayatullah Tegaskan Miss World Bukan Budaya Bangsa

0

Kamis, 05 September 2013 13:37

Ketua Biro Humas PP Hidayatulllah Mahladi Murni, menegaskan bahwa perhelatan kontes Miss World 2013 yang rencanannya akan digelar di Indonesia bulan September ini bukanlah budaya bangsa sehingga harus ditolak. Hal itu ia tegaskan dalam pertemuan bersama pimpinan ormas-ormas Islam di kantor Kantor Pusat Hizbut Tahrir Indonesia: Crown Palace A25, Jl Prof. Soepomo No. 231, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Berikut pernyatannya:

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”luItEg0D99s”][/youtube]

Piagam Gunung Tembak untuk Semua umat Islam

0

Ormas Hidayatullah telah mencetuskan konsensus bernama Piagam Gunung Tembak untuk menjadi perhatian seluruh kader dan jamaah. Isinya adalah seruan untuk menegakkan peradaban Islam dengan memakmurkan masjid, menuntut ilmu, bersilaturrahim, berjiwa sosial, mendirikan shalat berjamaah, tawadhu’, berdakwah, menjadi teladan yang baik di masyarakat.

Kendati dicetuskan pada momentum Silatnas Hidayatullah 2013 lalu di hadapan ribuan kader yang hadir, sejatinya piagam ini harus dipraktikkan juga oleh semua komponen umat Islam.

“Sebab inilah nilai-nilai yang dulu juga telah dibangun Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam membangun masyararak berperadaban mulia,” kata Ketua PP Hidayatullah Ustadz Tasyrif Amin kepada Hidayatullah.or.id, Rabu (04/09/2013).

Memakmurkan masjid dan menuntut ilmu adalah kewajiban umat Islam. Sholat berjamaah untuk laki-laki pun demikian. Inilah standar masyarakat yang telah dibangun oleh Nabi, ini harus ditegakkan dan dijaga.

Kata Ustadz Tasyrif, umat Islam dituntut untuk memahami dan mempraktikkan agamanya. Itulah mengapa pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat, termasuk di dalamnya adalah kewajiban setiap muslim untuk meneladankan ajaran Islam sebagai agama yang penuh rahmat.

“Di dalam Islam, misalnya, perempuan harus memakai jilab. Ini juga harus diteladankan dengan baik oleh seluruh orang yang mengaku berislam, bukan hanya kader Hidayatullah,” ujarnya.

Ustadz Tasyrif menyatakan kesyukuran atas terus tersosialisasikannya piagam itu dalam rangka menegakkan nilai-nilai peradaban mulia. Piagam Gunung Tembak, kata dia, sejatinya untuk semua orang beriman agar bersama-sama berpadu menegakkan peradaban Islam di mana pun mereka berada.

“Sosialisasi Piagam Gunung Tembak harus terus digalakkan dan kemudian diimplementasi. Gerakan kembali ke masjid adalah sentral dari pesan piagam tersebut,” ujar beliau seraya menyebutkan akan ada penguatan secara formal pada acar Rapat Pleno Hidayatullah akhir November mendatang untuk seluruh pengurus.

Ustadz Tasyrif menjelaskan lahirnya piagam ini adalah dalam rangka mengkontekstualisasi apa yang telah dijalankan oleh Rasulullah di masa lalu yang gemilang membangun masyarakat beradab.

“Selanjutnya kepada seluruh dai dan muballigh tidak boleh istirahat untuk selalu mentrasformasikan nilai kebajikan tersebut demi lahirnya masyarakat Muslim yang beradabab dan berkasih sayang,” tandasnya.

Berikut ini isi lengkap Piagam Gunung Tembak yang diputuskan dan dibacakan pada momentum Silaturrahim Nasional Hidayatullah di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, akhir Juni lalu (24/06/2013):

 

Bismillaahirrahmanirrahiim

1. Bahwa membangun Peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman.

2. Bahwa pusat Peradaban Islam adalah masjid. Oleh karena itu, setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat.

3. Bahwa setiap kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil, terutama qiyamul lail, membaca al-Qur’an dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syari’ah.

4. Bahwa setiap kader Hidayatullah adalah generasi Rabbani yang wajib menghidupkan majelis ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam. Oleh karena itu kader Hidayatullah wajib berhalaqah sebagai sarana untuk melakukan transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial.

5. Bahwa kader Hidayatullah harus menjadi generasi yang berkarakter, peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu’, militan, qana’ah, wara’ dan mengutamakan kehidupan akhirat.

6. Bahwa setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat. Untuk itu setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

 

Gunung Tembak, 24 Juni 2013

Miss World Secara Ide Kita Tolak, Apalagi Pelaksanaannya

0

Sekretaris Jenderal Muslimat Hidayatullah (Mushida), Ir. Amalia Husna Bahar, M.Pd.I, menegaskan bahwa dari sis ide penyelenggeraan Miss World 2013 yang akan digelar di Indonesia bulan September mendatang sudah tertolak, apalagi pelaksanaannya.

“Secara ide saja Miss World itu kita tolak, secara fisik atau pelaksanaannya pun kita tegas mengecam agar tidak digelar,” kata Amalia Husna kepada Hidayatullah.or.id kepada media ini, Rabu (04/09/2013).

Amalia bahkan menyebut penyelenggaraan Miss World tidak memberi manfaat sama sekali bagi keberlangsungan kehidupan bangsa selain hanya sebuah aksi ekploitasi manusia berkedok kontes dunia.

“Sama sekali tidak penting. Yang diuntungkan hanya segelintir pebisnis dan dalam waktu yang sama dampak buruknya meluas dan berkepanjangan,” tukas dia.

Lebih lanjut, Amalia menyeru memantapkan ketahanan keluarga setiap keluarga Muslim untuk membendung berbagai pengaruh buruk dari sistem kehidupan sosial yang ada saat ini.

“Ketahanan dalam melawan berbagai perang budaya hari ini berawal dari keluarga. Dari keluarga kepada jamaah atau komunitas, di sini peran penting muslimat. Peran itu dipelihara, dikoordinasi dalam sebuah kepimpinan yang bermuara pada ketaatan dan syariat,” tandasnya.