Rais ‘Aam Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad pada acara halaqoh kubro kader Hidayatullah se-kota Samarinda pada 7 Juni lalu yang berlangsung di Ponpes Rahmatullah Lempake Samarinda dalam tausyiahnya menyampaikan “,Halaqoh itu bukan bikinan ORMAS (Hidayatullah, Pen). Halaqoh itu sunnah Rasul. Nabi menata ummat ini mulai dari halaqoh untuk diantaranya mengeratkan ukhuwah sebagaimana tema acara ini Bersama Kader, Eratkan Ukhuwah, Besarkan Peran, Mewujudkan Perubahan Menuju Peradaban Islam. Semuanya ini tak akan bisa dilakukan tanpa saffan ka’annahum bun-yanum marsus (QS.61: 4) maka itu dirakit supaya betul-betul semua urusan itu mudah karena ada manajemen kepemimpinan yang baik. Nah inilah pentingnya yanga namanya halaqoh”.
Halaqoh, yang secara etimologi berarti lingkaran, merupakan metode pendidikan Islam yang berakar kuat pada tradisi Rasulullah SAW. Di rumah Dar Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, beliau mengumpulkan para sahabat untuk membacakan ayat-ayat Allah dan menjelaskan maknanya.
Bagi pejuang dakwah, halaqoh bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah kebutuhan untuk mendapatkan bimbingan (hidayah) sebagaimana janji Allah dalam QS. Al-Ankabuut (29): 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.
Hal ini juga ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas bahwa esensi pendidikan Islam adalah ta’dib, yaitu pembentukan manusia beradab secara menyeluruh yang melibatkan harmonisasi antara tubuh, akal, dan jiwa. Halaqoh menjadi wadah penta’diban ini, di mana ilmu tidak hanya ditransfer secara informasi (ta’lim), tetapi diinternalisasi sebagai karakter melalui bimbingan seorang Murabbi.
Halaqoh sebagai Sarana Pembentukan Karakter Integral
Seorang pejuang dakwah dituntut memiliki profil yang tangguh. Halaqoh didesain untuk menyentuh tiga aspek utama manusia secara seimbang: ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah. Dimensi Ruhiyah (Spiritual): Menanamkan ketauhidan yang murni sesuai pesan Luqman kepada anaknya dalam QS. Luqman (31): 13 agar tidak mempersekutukan Allah. Tujuannya adalah melahirkan pribadi yang rajin beribadah karena menyadari tujuan penciptaannya, yakni semata-mata untuk mengabdi kepada Allah (QS. Adz-Dzariyaat: 56).
Dimensi Fikriyah (Intelektual): Mencetak sosok Ulul Albab yang mampu memikirkan keagungan Allah melalui fenomena alam dan ayat-ayat-Nya (QS. Ali Imran: 190-191). Musthafa Masyhur menyatakan bahwa seorang pejuang dakwah harus memiliki argumen yang kuat dari Al-Qur’an, Hadits, dan Sirah Nabawiyah untuk memperkuat pembicaraannya.
Dimensi Jasadiyah (Fisik): Menyiapkan fisik yang kuat sebagai bentuk kesiapan menghadapi tantangan dakwah yang berat.
Proses ini bertujuan membentuk karakter 5M: Mu’min (beriman), Mushlih (perbaikan), Mujahid (pejuang), Muta’awin (bekerja sama), dan Mutqin (profesional). Tokoh seperti Imam Al-Ghazali dan Ibn Miskawaih menempatkan akhlak dan spiritualitas sebagai inti dari pendidikan sejati, yang di dalam halaqoh diwujudkan melalui pembinaan karakter tersebut.
Pilar-Pilar Kekuatan: Ukhuwah dan Tadarruj
Halaqoh dibangun di atas rukun-rukun yang kokoh: Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami), dan Takaful (saling menanggung beban). Ikatan ini menjadikan halaqoh sebagai perisai dari sikap hedonisme dan apatisme. Hasan Langgulung melihat ini sebagai upaya membentuk insan kamil yang seimbang secara ruhani dan sosial.
Metode yang digunakan adalah tadarruj (bertahap), meniru pola Rasulullah SAW dalam mendidik sahabat sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaan. Ibnul Atsir menjelaskan bahwa konsep Rabbani merujuk pada seorang alim yang mengajarkan ilmu dari yang sederhana sebelum yang kompleks. Rasulullah SAW bersabda, “Adabani Rabbii fa ahsana ta’dibi” (Tuhanku telah mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan), yang menjadi landasan bahwa pendidikan adalah proses panjang penanaman nilai.
Peran Murabbi dan Profesionalitas Dakwah
Keberhasilan halaqoh sangat bergantung pada sosok Murabbi yang inspiratif. Satria Hadi Lubis menekankan pentingnya Murabbi untuk selalu mempersiapkan materi secara prima agar mad’u tidak merasa bosan dan tetap bertambah wawasannya.
Tanpa persiapan, penyampaian akan terasa hambar dan monoton. Murabbi juga dituntut untuk rapi dalam segala urusan, sesuai pesan Musthafa Masyhur agar da’i mencatat poin-poin yang akan dibicarakan agar tidak ada instruksi penting yang terlupakan.
Tanggung jawab dakwah adalah amanah bagi setiap individu. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat”. Halaqoh mempersiapkan kader agar siap mengemban tugas ini di tengah masyarakat, baik sebagai ahli ilmu maupun sebagai teladan akhlak mulia agar tidak terjerumus pada sifat sombong (QS. Luqman: 18).
Halaqoh sebagai Kebutuhan Mutlak
Pada akhirnya, halaqoh bagi pejuang dakwah seperti kader Hidayatullah adalah sarana untuk mengembalikan para kader kepada fitrahnya dan mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Melalui integrasi ilmu dan amal, halaqoh mencetak pejuang dakwah yang tidak hanya mahir berbicara, tetapi menjadi representasi Islam sebagai kekuatan moral dan sosial yang adaptif terhadap tantangan zaman. Tanpa halaqoh, pejuang dakwah akan kehilangan kompas spiritualnya; namun dengan halaqoh, setiap langkah perjuangan akan senantiasa terbimbing oleh petunjuk Qur’ani.
Ulasan singkat ini kian meneguhkan bagi kader Hidayatullah untuk secara saksama dan bersungguh-sungguh menjaga terlaksananya halaqah sebagaimana arahan dari Rais ‘Aam pada awal tulisan ini. Konsistensi berhalaqoh menjadi jembatan utama terbangunnya jamaah Hidayatullah sebagai ka’annahum bun-yanum marsus
“seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh” yang ditandai dengan kader-kadernya; terbangunnya persatuan yang solid, keteraturan dan kedisiplinan serta lahirnya kekuatan tanpa celah. Profil kader seperti inilah yang diharapkan mampu mengambil bagian secara efektif dalam membangun peradaban Islam.
Nursyamsa Hadis adalah anggota Murobbi Nasional Hidayatullah.






