
LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed., menegaskan bahwa sebagai organisasi yang berbasis kader, Hidayatullah dituntut mampu berperan sebagai lokomotif intelektual bagi kemajuan bangsa. Menurutnya, posisi tersebut menempatkan Hidayatullah tidak hanya sebagai pelaku dakwah dan pendidikan, tetapi juga sebagai pusat gagasan yang berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Penegasan tersebut disampaikan Dr. Muzakkir Usman saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung yang berlangsung pada Sabtu dan Ahad, 19-20 Sya’ban 1447 (7–8/2/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus 1 Pesantren Hidayatullah Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, dan menjadi forum tahunan tingkat wilayah untuk melakukan konsolidasi organisasi secara menyeluruh.
Rakerwil Hidayatullah Lampung dihadiri secara langsung oleh jajaran pengurus DPW, Dewan Murobbi Wilayah, pimpinan Dewan Pengurus Daerah, serta pengelola unit amal usaha Hidayatullah dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Selain kehadiran luring tersebut, Muzakkir Usman juga mengikuti rangkaian kegiatan secara daring untuk menyampaikan arahan strategis dari tingkat pusat.
Dalam pemaparannya, Dr. Muzakkir Usman menyampaikan pandangan mengenai peran strategis Hidayatullah dalam konteks kebangsaan. Ia menyatakan bahwa organisasi kader seperti Hidayatullah harus mengambil posisi aktif dalam membangun Indonesia dengan pendekatan intelektual yang selaras dengan nilai agama dan konstitusi negara.
“Hidayatullah harus menjadi pusat pemikiran dalam membangun Indonesia dalam bingkai agama dan konstitusi,” katan Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bidang Pendidikan ini.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kontribusi tersebut harus diwujudkan melalui solusi yang relevan dan berdampak luas. Menurutnya, upaya pembangunan tidak cukup dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan yang terencana dan adaptif.
“Kita harus turut menghadirkan solusi pencapaian yang efektif, efisien, adaptif, kolaboratif, dan berdampak luas untuk Indonesia yang berperadaban,” tegasnya.
Arahan tersebut mendapat tanggapan dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung, KH Nur Yahya Asa. Dalam laporan dan sambutannya, ia menekankan bahwa kekuatan organisasi tidak semata-mata terletak pada struktur kelembagaan, melainkan pada kualitas hubungan spiritual dan kebersamaan antaranggota. Ia menyampaikan bahwa arah pengelolaan organisasi ke depan bertumpu pada dua pilar utama, yakni harmonisasi dan dinamisasi.
KH Nur Yahya Asa menegaskan pentingnya membangun soliditas tim melalui penguatan spiritualitas dan kebiasaan saling mendoakan.
“Maka, Dewan Pengurus Wilayah, Daerah, dan Amal Usaha Hidayatullah harus berusaha membangun soliditas tim dengan cara meningkatkan kualitas spiritual kita dan saling mendoakan ikhwah kita,” kata Nur Yahya.
Dalam suasana yang reflektif, pria kelahiran Cilacap ini juga menekankan peran doa dalam kehidupan berjamaah. Menurutnya, kebersamaan spiritual harus mencakup seluruh anggota, termasuk mereka yang jarang berinteraksi secara langsung.


“Kita sebut nama saudara kita dalam doa-doa kita, bahkan saudara kita yang tidak dekat dengan kita harus lebih sering lagi kita sebut dalam doa kita,” katanya. Ia menambahkan bahwa dengan harmonisasi dan dinamisasi dalam berjamaah, pelaksanaan amanah organisasi dapat berjalan dengan lebih nyaman dan terarah.
“Dengan harmonisasi dan dinamisasi dalam kehidupan berjamaah, maka kita akan nyaman dalam bekerja dan menjalankan amanah ini menuju Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh,” ungkapnya.
Rakerwil Hidayatullah Lampung 2026 mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.”
Melalui forum ini, dirumuskan sejumlah keputusan strategis, antara lain penguatan sistem pendidikan terintegrasi, digitalisasi pengelolaan amal usaha, serta peningkatan peran kader dalam pemberdayaan ekonomi umat di seluruh wilayah Lampung.
Menutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta Rakerwil menyatakan komitmen untuk membawa hasil musyawarah dan semangat harmonisasi ke wilayah masing-masing. Komitmen tersebut diarahkan agar setiap amanah organisasi dijalankan secara profesional dengan landasan ukhuwah Islamiyah yang kuat dan berkesinambungan.






