
JAKARTA (hidayatullah.or.id) — Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H. berhasil menempati peringkat kelima dalam ajang penghargaan hukum yang digelar Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026). Beliau menjadi salah satu dari 27 perorangan dan lembaga penegak hukum yang dinilai paling berintegritas dalam membela kaum dhuafa serta masyarakat miskin.
Acara yang mengangkat tema “Penguatan Misi Keumatan dan Sinergitas MUI dengan Penegak Hukum untuk Advokasi dan Perlindungan Hukum Bagi Kelompok Dhuafa dan Masyarakat Miskin” ini turut mengumumkan penerima penghargaan kategori perorangan.
Gambaran dan Makna Kegiatan
Seusai menerima penghargaan, Dudung Amadung Abdullah yang juga Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi memberikan pandangannya mengenai arti penting dari kegiatan apresiasi yang diinisiasi oleh MUI ini. Menurutnya, setidaknya ada tiga poin penting yang tergambar dari momentum ini.
“Pertama, ini merupakan bentuk keseriusan para ulama dalam mendorong terbangunnya negara hukum yang berkeadilan dengan memberikan apresiasi kepada para pejuang keadilan yang konsen mendampingi masyarakat miskin dan dhuafa, mereka yang selama ini kurang memiliki akses keadilan,” ujar Dudung.
Kedua, lanjut Dudung yang lebih akrab dengan sapaan Abah Dudung, acara ini memberikan penguatan moril kepada para pejuang keadilan bahwa mereka tidak sendirian dalam memperjuangkan hak-hak orang miskin dan dhuafa untuk mendapatkan keadilan.
“Ketiga, bagi masyarakat miskin dan dhuafa yang sedang berhadapan dengan hukum, momen ini membawa angin segar bahwa ke depan akan banyak tangan yang turut memperjuangkan akses keadilan bagi mereka,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Abah Dudung juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mengusulkan saya sebagai nominator. Terima kasih kepada DPP Hidayatullah yang memberikan rekomendasi, jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia, Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, LBH Hidayatullah, Muslimat Dewan Dakwah, MUI Papua Barat Daya, Ikadi Maluku Utara, STIE Hidayatullah, Cordova Peradaban Mulia Tangerang, Kibar Cendekia Muda Bandung, Ulil Amri Kupang, Ma’had Aisyah, Serikat Pekerja Nasional, serta para tokoh dan guru di seluruh Indonesia,” ungkapnya penuh takzim.
Menutup keterangannya kepada media ini, Abah Dudung menaruh harapan besar bagi masa depan peradilan di Indonesia agar semakin berpihak pada kaum lemah.
“Penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah amanah besar untuk terus konsisten di jalur pengabdian. Harapan terbesar saya, momentum ini mampu melahirkan komitmen kolektif yang jauh lebih kuat untuk membela mereka yang terpinggirkan,” ujar Abah Dudung.
Ia menegaskan pentingnya pemerataan akses hukum agar asas keadilan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Jangan sampai keadilan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berpunya. Semoga ke depan, semakin banyak ‘tangan-tangan’ penolong yang tulus bergerak bersama, memastikan bahwa setiap warga negara, tidak terkecuali kaum dhuafa yang sedang mencari keadilan tidak lagi merasa berjuang sendirian,” pungkasnya.






