
BONTANG (Hidayatullah.or.id)— Di tengah tantangan pendidikan modern dan derasnya arus digitalisasi, kabar membanggakan datang dari Kota Bontang, Kalimantan Timur. Muhammad Fadil, siswa kelas VI MI Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang, berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an melalui Program Takhassus Tahfizul Qur’an yang dikembangkan madrasah tersebut.
Capaian istimewa itu dikukuhkan dalam kegiatan Khatmil Qur’an wa al-Imtihan yang berlangsung di Aula Usman Palese, Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Rabu (3/6/2026). Keberhasilan Fadil menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an yang terencana, konsisten, dan didukung lingkungan yang kondusif mampu melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an sejak usia dini.
Putra pasangan Marwan B. Nawer dan Marniati itu telah menunjukkan ketertarikannya terhadap Al-Qur’an sejak awal menempuh pendidikan di MI Ar-Riyadh. Untuk mengembangkan potensinya, ia mengikuti Program Takhassus Tahfizul Qur’an, sebuah program pembinaan intensif yang dirancang bagi peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan menghafal Al-Qur’an hingga 30 juz.
Dalam proses pembinaannya, para siswa tidak hanya ditargetkan menyelesaikan hafalan, tetapi juga dibekali kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar melalui Metode Al-Hidayah. Setelah itu, mereka menjalani setoran hafalan dan murojaah secara rutin, baik di lingkungan madrasah maupun di rumah dengan pendampingan orang tua.
Sebagai bagian dari evaluasi akhir, Fadil mengikuti ujian hafalan secara terbuka dengan metode bil ghaib di hadapan tim penguji, orang tua, dan tamu undangan. Ujian berlangsung sejak pagi hingga menjelang Zuhur untuk mengukur kualitas hafalan, ketepatan bacaan, serta kekuatan murojaah yang telah dibangun selama masa pembelajaran.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, bersama jajaran pembina, pengawas, dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Fadil.
“Masya Allah, masih usia MI tetapi kemampuan hafalan dan bacaannya sudah sangat baik. Ini merupakan capaian yang patut disyukuri dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Firdaus Darwin, menegaskan bahwa keberhasilan melahirkan penghafal Al-Qur’an tidak terlepas dari sinergi antara sekolah, guru, dan keluarga.
“Melahirkan penghafal Al-Qur’an memerlukan sistem yang terintegrasi antara sekolah, guru, dan keluarga. Ketika ketiganya berjalan seiring, proses menjaga hafalan dapat berlangsung lebih kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Menurut Firdaus, Program Takhassus Tahfizul Qur’an tidak hanya bertujuan menambah jumlah hafalan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik melalui kedisiplinan, ketekunan, serta kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Prestasi Muhammad Fadil menambah daftar capaian pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penguatan karakter dan kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat ditanamkan sejak usia dini melalui sistem pendidikan yang terarah, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh unsur pendidikan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, hadirnya hafiz Al-Qur’an dari kalangan pelajar sekolah dasar menjadi kabar yang membawa optimisme. Dari Bontang untuk Indonesia, prestasi Muhammad Fadil menjadi inspirasi bahwa investasi terbaik dalam pendidikan adalah melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu, kuat dalam akhlak, dan dekat dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.






