AdvertisementAdvertisement

Dari Mimbar ke Layar, Abdul Ghofar Hadi Dorong Dai Muda Hidupkan Dakwah Lewat Tulisan

Content Partner

JAKARTA (hidayatullah.or.id) — Dakwah tidak selalu harus disampaikan dari atas mimbar dan di hadapan ribuan jamaah. Di era digital, sebuah tulisan yang baik dapat menjadi jalan dakwah yang menjangkau pembaca jauh lebih luas.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si saat menjadi narasumber dalam kegiatan Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah (M3H) yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Abdul Ghofar Hadi atau dengan sapaan akrab AGH mendorong para dai muda untuk tidak hanya mempersiapkan diri menjadi penceramah, tetapi juga membangun kemampuan menulis sebagai bagian dari keterampilan dakwah.

“Kita mungkin belum bisa berdiri di mimbar besar di hadapan ribuan pasang mata. Namun, dari sebilah pena, tulisan kita bisa menembus dada ribuan pembaca,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan menulis merupakan salah satu bekal penting bagi dai muda. Tulisan memungkinkan gagasan dan pesan dakwah terus dibaca, dibagikan, dan menjangkau masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.

“Karena itu, mari menulis. Jadikan tulisan sebagai bagian dari dakwah kita. Tulis sesuatu yang bisa mencerahkan dan menerangi jalan umat ini,” pesannya.

Dai Harus Kuat Membaca

AGH mengatakan kemampuan menulis tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan membaca. Seorang dai, menurutnya, harus memiliki daya baca yang kuat agar memiliki wawasan luas dan mampu memahami persoalan umat.

“Dai itu harus kuat membaca. Banyaklah membaca buku, supaya wawasan kita semakin luas. Ketika kita hadir di masjid dan di tengah umat, kita tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga bisa memberikan solusi dan pencerahan,” jelas AGH.

Ia menilai masyarakat saat ini menghadapi persoalan yang semakin beragam. Karena itu, dai perlu memiliki pengetahuan yang cukup agar dakwah yang disampaikan tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi mampu memberikan perspektif dan jawaban terhadap persoalan kehidupan.

Membaca dan menulis, lanjut AGH, merupakan dua keterampilan yang perlu berjalan beriringan. Membaca memperkaya gagasan, sementara menulis menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan tersebut kepada masyarakat.

Dakwah Menjangkau Lebih Luas

Menurut AGH, ruang dakwah saat ini telah berkembang. Masjid dan mimbar tetap menjadi ruang penting dalam menyampaikan dakwah, tetapi perkembangan teknologi menghadirkan ruang baru yang tidak kalah strategis.

Layar telepon pintar, media sosial, portal berita, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Karena itu, dai muda perlu mampu memanfaatkan perkembangan tersebut untuk memperluas jangkauan dakwah.

“Jangan berpikir bahwa dakwah itu hanya ketika kita berdiri di mimbar. Ketika kita menulis sesuatu yang baik, kemudian dibaca banyak orang dan memberikan manfaat, itu juga bagian dari dakwah,” katanya.

Ia mendorong para peserta M3H untuk mulai membiasakan diri menulis, meskipun dimulai dari tulisan-tulisan sederhana.

“Tidak perlu menunggu tulisan kita sempurna. Mulailah menulis. Yang penting ada gagasan yang baik, ada ilmu yang kita bagikan, dan ada manfaat yang bisa dirasakan oleh pembaca,” ujar AGH memberi semangat para dai muda

Dakwah yang Menyejukkan

Selain kemampuan membaca dan menulis, AGH mengingatkan agar dai muda menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan tidak mudah membawa umat pada perdebatan perkara-perkara yang tidak prinsip.

“Jadilah dai yang menyejukkan. Jangan sampai dakwah justru membuat umat terpecah karena persoalan yang remeh atau hal-hal yang bukan prinsip dalam Islam,” pesannya.

Menurutnya, dai memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persaudaraan umat. Pesan dakwah hendaknya disampaikan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan cara yang dapat diterima oleh masyarakat.

Mental Kuat dan Ikhlas

Abdul Ghofar juga mengingatkan para dai muda untuk mempersiapkan mental dan menjaga keikhlasan.

“Jalan dakwah itu tidak ringan. Ada banyak tantangan dan ujian. Para nabi juga mengalami berbagai ujian ketika menyampaikan risalah Islam. Karena itu, seorang dai harus memiliki mental yang kuat dan menjaga keikhlasannya,” tuturnya.

Ia berharap para peserta M3H tidak hanya memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga memiliki keteguhan dalam menjalani proses dakwah.

Akhlak Adalah Keteladanan

Hal lain yang tidak kalah penting, kata Abdul Ghofar, adalah menjaga akhlak dan adab ketika berada di tengah umat.

“Dai itu bukan hanya didengar, tetapi juga dilihat dan diperhatikan. Karena itu, perilaku, ucapan, dan penampilan kita harus dijaga. Semua itu ikut menentukan keberhasilan dakwah,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat akan melihat kesesuaian antara pesan yang disampaikan seorang dai dengan perilaku sehari-harinya.

“Kita punya role model, yaitu Rasulullah. Maka yang kita tampilkan kepada umat bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga bagaimana kita bersikap dan berperilaku,” lanjutnya.

Menyiapkan Dai Muda

Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah yang digagas DPW Hidayatullah DKI Jakarta menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri dalam aktivitas dakwah.

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi, S.Th.I., M.Pd, mengatakan program tersebut diarahkan untuk menyiapkan dai muda yang memiliki kapasitas keilmuan, kemampuan komunikasi, serta kesiapan untuk hadir di tengah masyarakat.

“Dakwah membutuhkan kader-kader muda yang siap hadir dan berkhidmat di tengah umat. Melalui Madrasah Muballigh Muda ini, kita ingin memberikan bekal agar mereka tidak hanya mampu menyampaikan pesan dakwah, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

M3H tidak hanya memberikan pembekalan terkait khutbah dan ceramah, tetapi juga mengembangkan kemampuan public speaking, storytelling, bahasa tubuh, dakwah berbasis kebutuhan masyarakat, hingga pemanfaatan media digital.

Melalui program tersebut, Hidayatullah DKI Jakarta berharap lahir dai muda yang mampu memanfaatkan berbagai ruang dakwah dari masjid hingga layar digital.

Reporter: Fadhel Firdaus
Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Jawab Kebutuhan Dai Masjid Ibukota, Hidayatullah DKI Jakarta Luncurkan Madrasah Muballigh Muda

JAKARTA (hidayatullah.or.id) — Menjawab kebutuhan dai muda yang mampu hadir di tengah dinamika masyarakat perkotaan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW)...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img