BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024), diwarnai oleh gelaran Seminar Pendidikan Nasional bertajuk Membangun Pendidikan Profetik, dan Profesional Melalui Inovasi dan Digitalisasi.
Hadir sebagai pembicara dalam seminar yang digelar di pusat Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, dan CEO Orbit Edutech, M. Andy Zaky.
Dalam paparannya, Solehuddin menyitir al-Qur’an surat Ali Imron [3] ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
Berdasarkan ayat ini, jelas rektor UPI ini, umat Islam harus memantaskan diri sebagai umat terbaik. Untuk itulah perlu pendidikan yang profetik.
Sementara itu Nashirul Haq mengatakan, pendidikan yang diberlakukan di Hidayatullah adalah pendidikan berbasis tauhid sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Adapun pemateri ketiga, Andy Zaky, memaparkan tentang bagaimana para pendidik menyikapi perkembangan teknologi digital yang tak bisa dihindari.
Seminar berlangsung sejak pagi hingga menjelang waktu dhuhur di Grand Asrilia Hotel, Bandung.
Selain dihadiri seluruh peserta Rakernas Hidayatullah, juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan tokoh lokal, di antaranya sejarawan Islam, Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Rektor UICM, Dr. Ir. H. Asep Najmuddin, M.P, dan Ketua APTISI Jawa Barat, Prof. Dr. Ali Abdurahman, S.H, MH.
Di samping itu hadir juga utusan dari ormas-ormas Islam, ormas kepemudaan, ormas kewanitaan, dan organisasi mahasiswa.*/Mahladi
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah (Rakernas) di Hotel Grand Asrilia Bandung, Jawa Barat, pada Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024).
Dalam sambutannya, Nashirul secara filosofis menyampaikan bahwa gelaran Rakernas di Kota Kembang ini dan kehadiran para peserta mengikuti agenda tahunan di Jawa Barat ini memiliki tiga tujuan utama, sebagaimana dilakukan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, yaitu menebarkan salam (afsus salaam), mempererat silaturahim (wasilul arham), dan memberi makan (wa’ath’imuth tho’aam).
Filosofi ini, imbuh Nashirul, hendaknya menjiwai bagi segenap kader Hidayatullah dalam menjalankan aktivitas organisasi yang dilandasi semangat untuk menghadirkan kebaikan dan meluaskan kemaslahatan bagi kehidupan.
“Alhamdulillah kami hadir di Jabar untuk melakukan tiga hal ini sebagaimana dilakukan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Wa’ath’imuth tho’aam ini yang belum maksimal, justru kami yang diberikan makan oleh bapak sekalian,” katanya.
Selain itu, dia menyebut Rakernas ini sebagai momen untuk semakin menyerap energi Ilahi agar rapat menghasilkan sesuatu yang berharga.
“Kami menganjurkan kepada peserta untuk menghidupkan malam malam dengan tahajjud agar rapat kerja ini betul-betul melahirkan program kerja yang terilhami dari langit, insya Allah,” katanya.
Dipilihnya Bandung sebagai lokasi Rakernas tidak terlepas dari nilai historis dan simbolis kota tersebut. Kota berjuluk Bumi Parahyangan yang dikenal dengan keindahan dan kelembutannya ini diharapkan mampu menyemai semangat kehangatan, kelembutan, dan kesantunan kepada peserta Rakernas.
Nashirul pun dengan setengah bercanda, berharap para peserta dapat membawa kelembutan ini ke kehidupan pribadi mereka, khususnya dalam hubungan keluarga.
“Dengan menyerap spirit Parahyangan, para peserta kembali ke tempat tugas pasca Rakernas dengan membawa kehangatan, kelembutan, kesantunan, semakin ramah, semakin penyayang, terutama kepada istri, karena sudah ter-sibghah dengan hawa Bandung,” imbuhnya hangat.
Menampakkan Ajaran Islam
Lebih jauh Nashirul dalam sambutannya menyampaikan visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang mengusung nilai nilai kasih sayang dan kebaikan untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin).
“Hidayatullah memiliki visi membangun peradaban Islam. Artinya, menghadirkan nilai nilai agung ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia sebagai rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, mencakup aspek ritual dan sosial. Menurutnya, tantangan utama umat Islam saat ini adalah menampilkan keagungan ajaran Islam yang luhur di tengah stigma yang sering kali tidak adil.
“Karena kita meyakini Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tapi juga ajaran sosial. Dan, inilah yang masih perlu kita zahirkan, perlu kita nampakkan, kita wujudkan dalam kehidupan kita sebagai rahmatan lil alamiin,” tegasnya.
Upaya ini, lanjut dia, membutuhkan sinergi lintas sektoral, termasuk pemerintah dan masyarakat. Nashirul menekankan pentingnya kerja sama ini untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yaitu negeri yang berdaulat, mandiri, adil, dan sejahtera di bawah naungan rahmat Allah.
“Tidak ada ajaran yang seramah dengan Islam, sedamai dengan Islam, yang setoleran dengan Islam. Cuma, umat Islam itu ikhlas tidak mau pujungan (carper). Sehingga, kadang kadang umat Islam justru dianggap intoleran dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Karena itu, untuk mewujudkan visi misi Hidayatullah dalam membangun peradaban mulia ini, terang Nashirul, maka harus bersinergi dan berkolaborasi dengan seluruh komponen bangsa dan umat terutama pemerintah dan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Nashirul menyapa segenap tokoh, undangan unsur pemerintah, para akademisi, para pimpinan ormas, dan peserta Rakernas yang hadir dari seluruh penjuru Tanah Air, termasuk hadirin perwakilan luar negeri yaitu Turki, Malaysia, Filipina, dan Arab Saudi.
Nashirul membuka secara resmi Rakernas ke-V tahun 2024 Hidayatullah ini dengan diawali pembacaan puisi:
Jauh pulau dari Malaka Pergi haji ke kota Makkah Dengan Bismillah Rakernas dibuka Semoga semuanya mendapat berkah
Dia pun meminta doa dan dukungan dari semuanya dalam membersamai gerak langkah Hidayatullah berkhidmat untuk agama, umat, bangsa, dan negara.
Hidayatullah sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap pengembangan umat dan bangsa, jelasnya, senantiasa membuka diri untuk bersinergi dengan berbagai pihak.
“Hidayatullah terbuka melakukan sinergi dengan pemerintah, membangun kemitraan dan kolaborasi dengan masyarakat dan semua elemen umat dan bangsa dengan mewujudkan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang berdaulat, mandiri, adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat dibawah naungan dan ridha kasih sayang Allah Ta’ala,” tandasnya.
Usia pembukaan, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Hidayatullah dan Bank Syariah Indonesia (BSI) tentang pemanfaatan layanan jasa dan produk perbankan berlandaskan prinsip syariah. (ybh/hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah setelah mencermati dengan seksama, menjiwai, dan juga melihat komitmen kepemimpinan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam banyak kesempatan terutama dalam konsistensi pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina, maka Hidayatullah menyatakan mendukung visi misi pemerintah Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, pembangunan berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pemeliharaan lingkungan hidup.
“Sebenarnya dari dulu kita dukung. Cuma baru dibilang, karena selama ini ikhlas saja kita,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, di depan peserta saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Bandung, Jawa Barat, Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024).
Nashirul Haq mengatakan, Hidayatullah telah mencermati beberapa visi pemerintahan Kabinet Merah Putih, yang pertama, adalah visi mengokohkan ideologi dan jatidiri bangsa.
“Ini yang penting. Pancasila ini ideologi dan jatidiri (bangsa) (yang) kalau tidak dikuatkan maka Indonesia ini akan mengalami goncangan moral dan intervensi asing akan semakin kuat,” imbuhnya.
Goncangan itu, terang dia, akan terjadi apabila Pancasila sebagai ideologi dan jatidiri bangsa tidak dikuatkan yang diserao dari nilai nilai Islam.
Nashirul juga mencermati visi pemerintah dalam mendorong kemandirian dengan swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru, meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, kewirausahaan, industri kreatif, dan pengembangan infrastruktur.
Selain itu, pemerintah Presiden Prabowo Subianto juga mengusung visi memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan. Juga berkomitmen melanjutkan hilirisasi, pemerataam ekonomi, pemberantasan kemiskinan, reformasi politik, hukum, dan pemberantasan korupsi.
Nashirul melihat, juga adanya upaya penyelarasan kehidupan yang harmonis lingkungan, alam, dan budaya menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Dalam banyak forum, Presiden Prabowo juga menunjukkan jiwa patriotiknya dan menegaskan berbagai komitmen penting antara lain kedaulatan nasional, ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, dan mewujudkan pemerintahan yang bersih, termasuk penegasan sikap Indonesia terhadap isu Palestina.
“Inilah yang menjadi alasan Hidayatullah mendukung sepenuhnya pemerintahan Bapak Prabowo Gibran dan siap berkolaborasi dengan Kabinet Merah Putih dalam berkontribusi membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat,” kata Nashirul.
Dia menegaskan, dukungan ini diiringi dengan kontribusi yang substansial berupa masukan, konsep, dan pemikiran kritis, terutama dalam bidang yang telah menjadi concen Hidayatullah selama ini. Menurutnya, kritik dan koreksi menjadi elemen integral dalam proses pemerintahan.
“Tapi, tentu, selain kita mendukung dan siap berkolaborasi, kita juga siap untuk memberikan masukan, konsep, dan pemikiran terutama pada bidang yang selama ini digeluti oleh Hidayatullah. Dan, kita juga siap untuk memberikan kritik dan koreksi dalam bingkai amar ma’ru nahi munkar dengan cara yang bijak,” imbuhnya.
Membuka Rakernas 2024 Hidayatullah, Nashirul meminta doa dan dukungan dari semuanya dalam membersamai gerak langkah Hidayatullah mengabdi berkhidmat untuk agama, umat, bangsa, dan negara.
“Hidayatullah terbuka melakukan sinergi dengan pemerintah, membangun kemitraan dan kolaborasi dengan masyarakat dan semua elemen umat dan bangsa dengan mewujudkan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang berdaulat, mandiri, adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat dibawah naungan dan ridha kasih sayang Allah Ta’ala,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)
DALAM tubuh manusia, kanker adalah salah satu penyakit yang paling menakutkan. Sebuah sel abnormal yang awalnya kecil dapat berkembang biak tanpa terkendali, lalu menyebar ke organ lain melalui proses yang dikenal sebagai metastasis. Metastasis, dalam konteks medis, merujuk pada penyebaran sel kanker dari tumor primer ke bagian tubuh lainnya. Proses ini sangat kompleks dan sering kali tidak terdeteksi hingga mencapai tahap yang lebih lanjut, di mana pengobatan menjadi semakin sulit dan tidak efektif.
Penyakit ini menjadi lebih sulit diatasi ketika sel kanker telah menyebar ke berbagai bagian tubuh, karena pengobatan tidak hanya harus fokus pada organ yang terkena, tetapi juga pada sumber utama penyakitnya. Bahkan, pada beberapa kasus, sulit menemukan primary tumor (penyebab utama), sehingga upaya pengobatan bisa salah arah dan memperburuk kondisi.
Organisasi, layaknya tubuh manusia, juga dapat mengalami “metastasis” dari masalah-masalah yang awalnya kecil. Sehingga, analogi di atas dapat diterapkan pada organisasi, terutama organisasi Islam, yang sering kali gagal mendeteksi masalah mendasar yang mengancam keberlangsungan dan efektivitas mereka. Jika tidak didiagnosis dengan benar, masalah ini dapat menyebar dan memengaruhi seluruh sistem organisasi, menyebabkan kemunduran bahkan kehancuran.
Diagnosis Superfisial: Melihat yang Terlihat
Proses diagnosa dalam organisasi mirip dengan prosedur medis untuk mendeteksi kanker. Dalam konteks ini, diagnosa harus dilakukan secara komprehensif dan terstruktur. Metode seperti model Weisbord dapat digunakan untuk mendiagnosa berbagai aspek organisasi—tujuan, struktur, penghargaan, mekanisme kerja, dan kepemimpinan—agar dapat menemukan kesenjangan antara dimensi formal dan informal organisasi.
Jika hanya fokus pada gejala atau masalah yang terlihat, organisasi berisiko mengabaikan faktor-faktor penyebab yang lebih mendasar. Misalnya, sebuah organisasi mungkin mengalami masalah keuangan bukan hanya karena pengelolaan dana yang buruk, tetapi juga karena kurangnya visi yang jelas atau budaya organisasi yang tidak mendukung inovasi.
Hal ini terjadi karena, Organisasi sering kali terjebak dalam penanganan masalah yang bersifat artefaktual, yaitu masalah yang tampak jelas dan langsung terlihat. Hal ini mirip dengan bagaimana pengobatan kanker sering kali hanya difokuskan pada tumor sekunder tanpa mengatasi tumor primer yang menjadi penyebab utama. Akibatnya, meskipun gejala-gejala di permukaan mungkin diatasi, akar permasalahan tetap ada dan bahkan dapat berkembang menjadi lebih parah..
Contoh lain misalnya, ketika sebuah organisasi mengalami pergantian kepemimpinan yang terpola secara periodik, respons umum biasanya adalah mencari pemimpin baru yang dianggap lebih kompeten dan memiliki kapasitas serta kapabiliras yang unggul. Namun, jika berhenti pada titik ini dan tidak dilakukan analisis mendalam dan komprehensip, bisa jadi masalahnya bukan pada individu pemimpin, tetapi pada sistem regenerasi, pola komunikasi, atau bahkan manhaj organisasi itu sendiri yang tidak relevan dengan zaman.
Metastasis dalam Organisasi
Dalam organisasi, “metastasis” terjadi ketika masalah utama (yang mungkin tersembunyi) menyebar dan menyebabkan kerusakan pada berbagai aspek lainnya. Sehingga, metastasis organisasional bukanlah sekadar persoalan teknis, melainkan tantangan filosofis yang mendalam. Organisasi sejati adalah organisasi yang mampu melakukan introspeksi fundamental, mengidentifikasi sel-sel patologis, dan melakukan regenerasi dengan kesadaran penuh.
Pertama, Masalah Konsep Dasar dan Jati Diri: Sebuah organisasi Islam mungkin terlihat sibuk dengan program-program yang “berjalan” di permukaan, tetapi kehilangan arah karena tidak memahami dengan jelas jati diri dan manhaj-nya. Misalnya, organisasi yang mengklaim berlandaskan pada Islam tetapi pola kerjanya lebih menyerupai perusahaan komersial atau partai politik atau bisa jadi dikelola secara amatiran yang tanpa sadar terjadi deviasi dari khiththahnya. Ketidaksesuaian ini dapat memunculkan ketidakpercayaan dan melemahkan solidaritas internal dan juga merambat ke public.
Kedua, Pola Transformasi yang Stagnan: Transformasi organisasi yang sehat memerlukan kemampuan untuk membaca zaman dan kebutuhan ummat. Jika organisasi terlalu kaku dan enggan berinovasi, stagnasi ini akan menyebar, memengaruhi program, sumber daya manusia, dan daya tariknya bagi generasi muda.
Ketiga, Implementasi yang Lemah: Organisasi mungkin memiliki visi-misi yang mulia, yang diikuti dengan narasi besar menyertainya. Tetapi dalam pelaksanaannya gagal menerjemahkannya menjadi langkah konkret yang relevan dan terukur. Akibatnya, berbagai bagian organisasi mulai kehilangan arah, menciptakan ketidakpastian dan lambat laun terjadi kerusakan sistemik.
Keberanian untuk Mendiagnosa: Menghadapi Ketakutan Akan Akar Masalah
Untuk mengatasi masalah metastasis ini, organisasi harus memiliki keberanian untuk melakukan diagnosa mendalam dan tidak takut menghadapi kenyataan yang mungkin sulit dan bisa menyababklam instabilitas dalam Orgaisasi. Ini berarti menggali lebih dalam dari sekedar masalah yang tampak di permukaan dan memahami akar penyebabnya, meskipun itu berarti harus melakukan perubahan yang signifikan pada konsep dasar dan manhaj yang selama ini dipegang.
Seperti dalam bidang onkologi, dimana dokter onkologi harus menemukan dan memahami tumor utama sebelum merencanakan pengobatan yang efektif, organisasi juga harus mampu melakukan diagnosa yang tepat sebelum dapat merencanakan solusi yang efektif. Ini melibatkan merancang tata laksana dan protokol yang terukur untuk memastikan semua aspek organisasi bekerja harmonis dan selaras dengan tujuan utama..
Pertama, Melakukan Diagnosis Menyeluruh: Organisasi harus berani mengidentifikasi kelemahan mendasar, bahkan jika itu berarti mengakui bahwa arah visi, nilai dasar, atau manhaj yang selama ini dijalankan perlu diperbaiki.
Kedua, Menggunakan Alat Diagnostik yang Tepat: Audit organisasi, survei internal, dan analisis SWOT yang mendalam dapat digunakan untuk mengungkap akar masalah. Pendekatan berbasis data, bukan asumsi, menjadi kunci.
Ketiga, Menggali Penyebab Primer: Fokus pada pertanyaan mendasar: Apakah organisasi benar-benar memahami perannya dalam konteks zaman? Apakah visi dan misinya berakar pada nilai-nilai Islam dan kebutuhan masyarakat.
Keempat, Desain Tata Laksana Terukur: Merancang protokol perbaikan yang sistematis, dimulai dari masalah utama hingga gejala permukaan.
Kelima, Transformasi Paradigma: Merevisi konsep dasar organisasi untuk memastikan keselarasan dengan visi Islam yang rahmatan lil alamin dan relevansi zaman.
Keenam, Peningkatan Kapasitas Kader: Membina kader agar memiliki kompetensi kepemimpinan dan spiritualitas yang seimbang.
Ketujuh, Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan: Membuat mekanisme evaluasi reguler untuk memastikan semua tindakan perbaikan berjalan sesuai rencana.
Treatment dan Tata Laksana yang Tepat
Sehingga, setelah diagnosa dilakukan dan menemukan akar masalahnya, maka langkah berikutnya adalah melakukan treatment dengan protrokol yang cermat dan tepat. Organisasi harus mampu merancang dan menerapkan strategi yang komprehensif dan berkesinambungan. Ini bukan hanya tentang memperbaiki masalah yang terlihat, tetapi juga menyelesaikan akar permasalahan yang mendasar.
Dengan pendekatan yang tepat, organisasi bisa menghindari bahaya metastasis dan memastikan keberlangsungan serta kesuksesan jangka panjang. Ini berarti tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan sehat dan kuat.
Pertama, Reformasi Paradigma: Jika akar masalah adalah ketidaksesuaian konsep dasar, maka organisasi perlu berani merumuskan ulang paradigma dan jati dirinya, dengan tetap berlandaskan prinsip-prinsip Islam.
Kedua, Restrukturisasi: Mengadopsi struktur yang lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan zaman, seperti menerapkan agile organization dan kepemimpinan yang visioner.
Ketiga, Peningkatan Kompetensi SDM: Melakukan pelatihan berkelanjutan dan menciptakan sistem regenerasi yang sehat untuk membangun kapasitas kepemimpinan yang relevan.
Keempat, Pengawasan Berkelanjutan: Membuat indikator kinerja organisasi yang dapat dievaluasi secara berkala untuk memastikan transformasi berjalan sesuai arah.
Kelima, Kolaborasi: Menggandeng mitra eksternal untuk membantu mempercepat transformasi, baik dalam aspek manajemen, teknologi, maupun penguatan program.
Belajar dari Kasus Metastasis
Metastasis dalam organisasi adalah analogi yang kuat untuk memahami bagaimana masalah mendasar dapat menyebar dan mempengaruhi berbagai aspek organisasi. Dengan keberanian untuk melakukan diagnosa mendalam dan penanganan yang tepat, organisasi dapat menyelesaikan masalah fundamental dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Sama seperti dalam dunia medis, pengobatan yang berhasil memerlukan pemahaman yang mendalam dan pendekatan yang komprehensif, organisasi juga harus mengadopsi pendekatan yang serupa untuk memastikan keberhasilannya di masa depan.
Sehingga, sebagaimana dalam onkologi, diagnosis yang salah atau pengobatan yang salah arah dapat memperburuk keadaan. Organisasi Islam harus belajar dari kasus metastasis untuk menyadari bahwa masalah yang terlihat hanyalah puncak gunung es. Perlu keberanian untuk menggali lebih dalam, memahami akar masalah, dan mengambil langkah tegas untuk menyelesaikannya.
Organisasi yang mampu mengatasi “metastasis” akan menjadi entitas yang sehat, tangguh, dan relevan dalam membangun peradaban Islam yang berkelanjutan. Sebaliknya, organisasi yang hanya fokus pada artefak dan gejala akan terjebak dalam siklus stagnasi, perlahan kehilangan esensinya, dan akhirnya tenggelam dalam sejarah. Wallahu a’lam.
*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring menggunakan handphone karena kendala kesehatan.
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Islam Hidayatullah menyatakan dukungan atas visi dan misi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan dukungan ini disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, saat pembukaan acara Rapat Kerja Nasional Hidayatullah (Rakernas) di Hotel Grand Asrilia Bandung, Jawa Barat, pada Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024).
“Dukungan ini kami berikan demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, pembangunan yang berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pemeliharaan lingkungan hidup,” jelas Nashirul.
Selain itu, ungkap Nashirul lagi, dalam berbagai forum, Presiden Prabowo telah menegaskan komitmen penting terkait kedaulatan nasional, ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, serta mewujudkan pemerintahan yang bersih.
Komitmen pemerintah yang tak kalah penting adalah sikap tegas dan dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya.
“Visi, misi, dan komitmen tersebut memberi harapan baru dan optimisme bahwa Insya Allah Indonesia akan lebih baik di masa yang akan datang,” kata Nashirul lagi.
Atas alasan itulah, Hidayatullah menyatakan dukungan sepenuhnya kepada pemerintahan Prabowo dan siap berkolaborasi dengan Kabinet Merah Putih dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.
Namun, tegas Nashirul, Hidayatullah juga akan memberikan saran dan kritik dengan cara yang bijak bila ada hal yang perlu diingatkan. “Hal ini perlu untuk menjaga agar Indonesia tetap berada pada jalur yang benar,” kata Nashirul.
Beberapa visi dan misi pemerintah Prabowo adalah mengokohkan ideologi dan jati diri bangsa; mendorong kemandirian melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi biru; meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, kewirausahaan, industri kreatif dan pengembangan infrastruktur; memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan; serta reformasi politik, hukum, birokrasi, dan pemberantasan korupsi.
Sedang visi Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam. Adapun beberapa misi Hidayatullah adalah menjalankan kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, secara profetik dan profesional; membangun sinergi dengan segenap komponen umat Islam dalam gerakan amar maruf nahi munkar; serta mengajak pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang bermartabat.*/Mahladi
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di lantai tiga Gedung Dakwah Kantor Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Makassar, sebuah inovasi pendidikan berbasis dakwah bernama Grand MBA Center diluncurkan, Sabtu, 28 Jumadil Awal 1446 (30/11/2024).
Acara peluncuran ini merupakan bagian dari pelatihan intensif bagi dai dan guru ngaji bertajuk Daurah Muallim Grand MBA, yang bertujuan memperkenalkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang lebih efektif dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Sulsel, Ust Reskyaman SW, menjelaskan Grand MBA atau Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an lahir sebagai wujud ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama melalui pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.
Inisiatif ini pertama kali diperkenalkan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah tahun 2001, dan sejak saat itu menjadi salah satu program unggulan lembaga untuk memajukan pendidikan Al Qur’an berbasis metodogi praktis.
“Metode ini dirancang untuk mempermudah proses pembelajaran, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang ingin mendalami Al-Qur’an,” kata Ust Reskyaman, seperti dalam keterangan diterima media ini, Sabtu.
Peluncuran Grand MBA Center ini mempertegas komitmen Hidayatullah dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
“Sebagai candradimuka bagi para dai dan guru ngaji, diharapkan Grand MBA Center ini aktif memfasilitasi transfer pengetahuan serta membangun ekosistem dakwah yang modern dan berkelanjutan,” jelas Reskyaman.
Sementara itu, Ustadz Muhdi Muhammad, instruktur nasional dari Tim Grand MBA, menekankan pentingnya pelatihan ini bagi para dai.
“Metode ini sebagai ikhtiar transformasi dakwah agar lebih adaptif dengan kebutuhan masyarakat modern,” ungkap Muhdi yang juga koordinator Rumah Qur’an Hidayatullah Nasional ini.
Dengan sinergi berbagai pihak, Muhdi berharap Grand MBA Center di Makassar ini menjadi pusat pengembangan inovasi pendidikan Al-Qur’an sehingga dakwah Islam senantiasa setarikan nafas dengan tradisi keluhurannya dan sejalan dengan kemajuan zaman.
Ketua DPD Hidayatullah Makassar, Dr. Nasrullah Sapa, Lc, menegaskan relevansi pendekatan baru ini dalam meningkatkan profesionalitas dakwah.
Menurutnya, dakwah hari ini perlu pendekatan baru, bisa beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang menghendaki fasilitas standar selain guru yang memang memiliki kapasitas.
“Jadi sangat cocok jika adanya Grand MBA Center sebagai langkah koordinasi, perencanaan, dan aktivitas gerakan, agar kerja keumatan ini benar-benar profesional,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta, termasuk guru-guru Al-Qur’an seperti Muhammad Fauzi Azzaini dari Taman Al-Qur’an Al Hidayah Moncong Loe, mengapresiasi kesederhanaan metode ini.
“Dari pengalaman mengikuti pelatihan, cara belajar ini lebih mudah, simple untuk dipelajari dan tetap mempertahankan pengulangan huruf bacaan untuk memastikan terserap dengan baik,” kata Fauzi.
Pelatihan dan peluncuran Grand MBA Center ini juga didukung penuh oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) bersama Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) dan jaringan sinergi lainnya dalam rangka memperkuat pendidikan berbasis Al-Qur’an, yang juga sejalan dengan cita-cita bangsa dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Hidayatullah 2024 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.
Tema ini, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, merupakan landasan yang konsisten dalam berbagai agenda organisasi selama periode kepengurusan 2020-2025.
Menurut Nashirul, fokus pada konsolidasi menjadi kunci bagi keberhasilan organisasi.
“Konsolidasi jati diri harus menjadi langkah awal. Sebab, jati diri adalah dasar, spirit, dan jiwa dalam menjalankan berbagai program,” tegasnya di depan seluruh peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 28 Jumadil Awal 1446 (30/11/2024).
Konsolidasi jati diri ini menurutnya menjadi fondasi utama yang tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga menjadi inspirasi organisasi dalam melaksanakan program yang berbasis ideologi.
Namun, ia mengingatkan, langkah konsolidasi ini tidak berhenti pada aspek jati diri. Nashirul menekankan perlunya konsolidasi organisasi sebagai upaya untuk mengintegrasikan ideologi ke dalam program-program yang operasional dan membumi.
“Agar membumi, perlu konsolidasi organisasi,” ujar Nashirul, seraya menekankan bahwa ideologi yang kokoh harus terhubung dengan mekanisme kerja yang efisien dan terorganisasi.
Selain jati diri dan organisasi, wawasan menjadi dimensi ketiga dalam tema besar Rakernas kali ini. Nashirul mencontohkan keberanian dan inovasi Umar bin Khaththab sebagai refleksi penting bagi kader Hidayatullah.
“Umar bin Khaththab mampu membuat banyak terobosan hanya dalam waktu dua tahun setelah Rasulullah wafat. Beliau tidak butuh waktu sampai 50 tahun seperti kita,” ujarnya.
Terobosan yang berhasil dilakukan Umar tersebut, lanjutnya, tak lain karena pribadi Umar memiliki wawasan keislaman yang sangat baik serta kemampuannya dalam beradaptasi dan menciptakan perubahan signifikan.*/Mahladi
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Hidayatullah saat ini sudah masuk 50 tahun kedua. Pada setengah abad kedua ini, menurut Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Drs Hamim Thohari M.Si, Hidayatullah harus berani tampil beda.
“Hidayatullah harus lebih terbuka. Harus inklusif!,” jelas Hamim di depan seluruh peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 28 Jumadil Awal 1446 (30/11/2024).
Hamim berharap gerak Hidayatullah ke depan bisa lebih cepat dari sebelumnya.
Sementara itu Ketua Dewan Murabbi Pusat, Dr. Tasyrif Amin, menjelaskan, tahun 2025 mendatang perkaderan Hidayatullah harus lebih ekspansif.
“Kami akan mempersiapkan murabbinya. Silahkan DPP membuat sebanyak mungkin halaqah,” jelas Tasyrif.
Karena itu para kader Hidayatullah, di bawah koordinasi Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota, harus lebih giat lagi mengajak masyarakat ikut terlibat dalam program-program Hidayatullah.
Perlu Konsolidasi
Tema Rakernas Hidayatullah kali ini adalah Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik.
Tema ini, menurut Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq dalam sambutannya, sama seperti tema Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah yang digelar di awal periode kepengurusan sekarang ini. Bahkan, tema itu pula yang diambil dalam setiap Rakernas pada periode ini.
Hal ini menandakan, menurut Nashirul, konsolidasi harus dilakukan terus menerus dan diharapkan selesai pada tahun 2025 kelak, yakni saat periode kepengurusan 2020-2025 berakhir. Jika konsolidasi sudah selesai, maka langkah ekspansi sebagai langkah selanjutnya, akan lebih mudah.
Konsolidasi jati diri, jelas Nashirul lagi, harus menjadi langkah awal. Sebab, jati diri adalah dasar, spirit, dan jiwa dalam menjalankan berbagai program.
Namun, konsolidasi jati diri saja tidak cukup. Sebab, jika hanya konsolidasi jati diri, program-program yang dicanangkan Hidayatullah hanya bersifat ideologis dan tidak membumi. Agar membumi, perlu konsolidasi organisasi.
Konsolidasi jati diri dan konsolidasi organisasi ternyata juga belum cukup. Masih perlu wawasan yang mampu membuat kader-kader Hidayatullah berani berkreasi dan berinovasi.
“Umar bin Khaththab mampu membuat banyak terobosan hanya dalam waktu dua tahun setelah Rasulullah wafat. Beliau tidak butuh waktu sampai 50 tahun seperti kita,” jelas Nashirul. Keberanian ini, lanjutnya, tak lain karena pribadi Umar memiliki wawasan keislaman yang sangat baik.*/Mahladi
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pada akhir tahun 2024, Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat sebagai tuan rumah.
Rakernas ini berlangsung selama tiga hari, pada 28-30 Jumadil Awal 1446 H atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024, bertempat di Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung.
Hotel megah yang berlokasi di Jalan Pelajar Pejuang, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung yang menjadi venua Rakernas Hidayatullah 2024 ini terbilang istimewa.
Grand Asrilia Hotel mengusung konsep syariah yang menjadikannya salah satu pilihan utama bagi wisatawan dan pelaku bisnis yang mengutamakan prinsip-prinsip Islam dalam aktivitas sehari-hari.
Salah satu aspek yang membedakan Grand Asrilia dari hotel lainnya adalah tekad pemiliknya, Asril Das, yang memiliki obsesi untuk menjadikan hotel ini sebagai hotel syariah terbesar di Indonesia. Keistimewaan ini tercermin dalam setiap detail layanan yang disediakan, mulai dari aspek pemenuhan kebutuhan pengunjung, hingga tata kelola operasional yang berlandaskan prinsip syariah.
Sebagai sebuah hotel syariah, Grand Asrilia tidak hanya menawarkan kenyamanan tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang berbeda. Semua fasilitas dan layanan yang ada di hotel ini mengedepankan nilai-nilai keislaman, termasuk pembatasan dalam hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti penyediaan alkohol atau hiburan yang tidak sesuai dengan norma syariah.
Selain itu, kebijakan operasional hotel ini mencakup pemberian ruang yang nyaman bagi pengunjung untuk beribadah, dengan menyediakan fasilitas seperti mushola yang mudah diakses.
Komitmen Sosial
Keistimewaan lain dari Grand Asrilia adalah peran aktifnya dalam penanggulangan pandemi Covid-19. Pada 24 Juni 2021, di tengah ketidakpastian dan ketakutan yang melanda dunia, terutama terkait penyebaran virus Corona, Grand Asrilia Hotel menjadi tempat pemulihan pertama bagi pasien Covid-19 di Kota Bandung.
Keputusan itu diambil setelah pemiliknya, Asril Das, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana banyak orang terkapar dan menunggu tempat perawatan yang terbatas di rumah sakit.
“Saya melihat di televisi, orang terkapar menunggu di ruang tunggu, tidak jelas sampai kapan mereka akan mendapatkan ruang perawatan. Di situlah saya berpikir, keluarga saya juga sempat bertanya, kasihan melihat orang-orang itu, saya jawab, iya kasihan,” ungkap Asril Das dalam wawancaranya seperti dikutip oleh Kliknusae.com pada 27 Juni 2021.
Pada saat itu, banyak hotel yang enggan membuka pintu bagi pasien isolasi mandiri karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus. Namun, Asril Das, meskipun awalnya merasa ragu karena pertimbangan psikologis, akhirnya memutuskan untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan menjadikan hotelnya sebagai pusat pemulihan bagi pasien Covid-19.
Sebagai hotel bintang empat, Grand Asrilia terus berkembang dan menawarkan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung. Dengan lokasinya yang hanya berjarak 20 menit berkendara dari Trans Studio Bandung, hotel ini menawarkan berbagai fasilitas unggulan, termasuk resepsionis yang tersedia 24 jam, kolam renang, dan Wi-Fi gratis di seluruh area.
Selain itu, hotel ini juga menyediakan kamar yang ramah bagi difabel, memastikan bahwa semua pengunjung dapat menikmati layanan dengan mudah.
Hotel ini juga dikenal karena ruang pertemuan yang luas dan lengkap, membuatnya menjadi pilihan ideal untuk berbagai acara, seperti konferensi, seminar, hingga rapat kerja seperti yang dilakukan oleh Hidayatullah.
Dengan segala fasilitas yang ditawarkan, Grand Asrilia menjawab kebutuhan masyarakat akan akomodasi yang tidak hanya nyaman, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut sebagai komitmen untuk membangun masa depan yang lebih baik melalui penerapan nilai-nilai syariah dalam industri perhotelan. (ybh/hidayatullah.or.id)
Kegiatan Halaqah Kader di Masjid ArRiyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, [Foto: SKR/MCU]
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Memasuki usia lebih dari 50 tahun, organisasi masyarakat (ormas) Islam Hidayatullah terus memantapkan perannya sebagai motor penggerak keumatan melalui tarbiyah dan dakwah.
Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd.I, kembali menegaskan inti perjuangan organisasi ini dengan menyoroti transformasi gerakan era modern di hadapan ratusan warga dan santri di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, pada Sabtu, 21 Jumadil Awal 1446 (23/11/2024).
Menurutnya, Hidayatullah mengalami pergeseran paradigmatik dalam cara memandang tempat tinggal kadernya. Dahulu, kampus menjadi pusat utama pergerakan dakwah. Kini, keberadaan fisik di kampus bukan lagi penentu utama.
“Yang menentukan adalah dia loyal dan ikut halaqah, memiliki murabbi yang membimbing dia dalam eksistensi sebagai kader dan jamaah Hidayatullah,” jelas Tasyrif.
Tasyrif menjelaskan, halaqah menjadi lokomotif transformasi Hidayatullah. Ustadz Tasyrif menegaskan pentingnya loyalitas kader terhadap halaqah sebagai bagian dari kepemimpinan kultural Hidayatullah.
“Meskipun tinggal di ujung Balikpapan, kalau dia istiqamah ikut halaqah, berarti secara kultural dia eksis melalui kepemimpinan kultural Hidayatullah dan secara infiradi dia istiqamah menegakkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH),” katanya.
Sebaliknya, mereka yang tinggal di lingkungan kampus tetapi tidak aktif dalam halaqah atau GNH akan dipertanyakan eksistensinya sebagai bagian dari organisasi. “Itulah konsekuensi keterbukaan lembaga,” tegas Ustadz Tasyrif.
Landasan pemikiran gerakan ini, terang dia, bersandar pada manhaj Nabawi, yang menekankan perlunya seorang Muslim memiliki murabbi atau pembimbing spiritual.
Dengan merujuk ayat 79 dari Surah Ali Imran, ia menjelaskan, masyarakat di Makkah dan Madinah disebut khaira ummah karena mereka terpimpin secara kultural dan struktural.
Menurutnya, pola pembinaan ini juga diilhami dari pengalaman Pemimpin Umum Hidayatullah saat melakukan ziarah ke Tanah Suci. Transformasi ini menciptakan pola dakwah dan tarbiyah yang menyesuaikan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Sebagai penutup, Tasyrif memaknai bahwa melalui tarbiyah dan dakwah yang inklusif, Hidayatullah tidak hanya mempertahankan relevansinya, tetapi juga memperluas dampak keumatannya.
Dia menegaskan, dengan halaqah sebagai lokomotif dan loyalitas kader sebagai fondasi, Hidayatullah berupaya meneguhkan bahwa nilai-nilai universal Islam tetap hidup di tengah modernitas.
Ustadz Tasyrif memandang halaqah sebagai sumber energi besar yang berpotensi mendukung ekspansi dakwah.
“Sekarang ini, energi yang dimiliki oleh halaqah masih energi internal. Bisa dibayangkan jika seluruh anggota halaqah yang telah dibina lalu ekspansi dakwah membangun gerakan keumatan,” ujarnya memungkasi.*/Abu Jaulah/MCU