Beranda blog Halaman 126

Bu Sariana, Pemulung yang Hidup dengan Cahaya Al-Qur’an

0
Ilustrasi ibu mengaji (Foto: Dreamlab Ai/hidayatullah.or.id)

ADA nama yang selalu mengendap di ingatan saya, tak peduli berapa lama waktu berlalu. Nama itu adalah Bu Sariana. Bukan karena kekayaannya, bukan pula karena jabatan atau pengaruh besar yang ia miliki.

Sebaliknya, Bu Sariana adalah simbol kesederhanaan yang begitu kuat hingga sulit dilupakan. Ia adalah seorang ibu rumah tangga miskin, seorang pemulung yang tinggal di balik hiruk pikuk dekat Bandara Sepinggan, Balikpapan.

Rumah Bu Sariana—jika itu bisa disebut rumah—terbuat dari kardus dan barang-barang bekas yang ia kumpulkan. Berada tepat di belakang landasan pacu, tempat itu penuh bising suara pesawat yang lepas landas dan mendarat setiap harinya.

Namun, di tengah keterbatasan tersebut, ada satu hal yang membuatnya berbeda, yaitu kecintaannya pada Al-Qur’an. Ia adalah peserta paling rajin dalam kajian Al-Qur’an pekanan yang kami adakan.

“Kalau sudah jadwal ngaji, saya libur memulung,” ujarnya suatu ketika. Ucapan itu diiringi senyum sederhana yang membuat saya kagum. Bayangkan, seorang pemulung yang penghasilannya bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, rela meliburkan diri demi belajar mengaji. Tentu saja, ini adalah pemandangan yang jarang sekali saya temui.

Semangat yang Menginspirasi

Bu Sariana berasal dari suku Buton. Kulitnya hitam legam, bercahaya karena sinar matahari yang menyentuhnya setiap hari. Pekerjaan memulung yang ia jalani memaksa dirinya berteman dengan kotoran dan panas terik. Namun, ada hal yang selalu ia bawa kemanapun: dua setel pakaian.

Setelan pertama adalah pakaian kerjanya—lusuh dan penuh noda. Setelan kedua adalah pakaian bersih lengkap dengan mukena. Saban waktu ketika azan berkumandang, ia menghentikan pekerjaannya, mencari masjid terdekat, mandi di kamar mandi masjid, dan mengganti pakaian sebelum bergabung dalam salat berjamaah. Sikapnya ini adalah bentuk penghormatan yang luar biasa terhadap Allah dan dirinya sendiri.

Ketekunan Bu Sariana juga tercermin dari kegigihannya mengikuti kajian meski lokasi sering berpindah-pindah. Dari Kelurahan Teritip, Aji Raden, Manggar hingga Sepinggan, perjalanan yang bisa mencapai 30 kilometer itu tak pernah menjadi halangan baginya.

Jika ibu-ibu lain datang menggunakan sepeda motor, Bu Sariana hanya mengandalkan angkutan kota. “Saya nggak punya motor. Naik angkot saja murah dan pas jalurnya,” katanya sambil tersenyum.

Setiap kajian, tuan rumah biasanya menyediakan minuman dan camilan sederhana. Namun, ketika tiba giliran Bu Sariana menjadi tuan rumah, para jamaah sepakat untuk tidak membebaninya.

Kami bergantian membawa makanan dan minuman agar ia tidak perlu memikirkan biaya. Meski begitu, ia tetap berusaha menyuguhkan sesuatu, sekecil apapun itu. “Ya, kalau nggak ngasih apa-apa kan malu,” ujarnya.

Ada satu cerita yang sangat membekas di hati saya. Suatu hari, saat memulung, ia menemukan makanan sisa yang masih terlihat bersih. Tanpa ragu, ia mengambil dan memakannya karena lapar. “Kalau saya lapar, dan ada sisa makanan dibuang, saya lihat masih layak dimakan, ya saya makan,” ucapnya polos.

Kalimat itu menembus batin saya, menyadarkan bahwa di balik kehidupan yang keras, Bu Sariana tetap menerima takdirnya dengan hati lapang.

Keistimewaan lain yang saya lihat adalah sikap ibu-ibu jamaah yang begitu menjaga perasaan Bu Sariana. Mereka tidak hanya menjadi rekan kajian, tetapi juga sahabat yang penuh empati. Solidaritas mereka menjadikan komunitas ini bertahan bertahun-tahun.

Setiap pertemuan selalu diisi dengan kebahagiaan sederhana, tidak peduli perbedaan latar belakang sosial yang mencolok di antara kami.

Namun, waktu tak dapat dihentikan. Pada tahun 2007, saya dengan memboyong keluarga harus meninggalkan Balikpapan dan pindah tugas ke Medan.

Hingga saat ini, saya tak tahu bagaimana kabar Bu Sariana. Yang jelas, ia pasti sudah jauh lebih tua, mungkin dengan kerutan-kerutan baru yang menghiasi wajahnya. Tetapi nama dan semangatnya tak pernah hilang dari ingatan saya.

Kehidupan yang Ikhlas

Saat ini, setiap kali saya merenungkan perjalanan hidup, Bu Sariana sering muncul dalam benak saya. Ia adalah contoh nyata bagaimana kekayaan sejati bukan terletak pada harta, melainkan pada hati yang lapang. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan hidup dapat menjadi pijakan untuk mendekat kepada Tuhan.

Demikianlah Al-Qur’an itu, jikalau sudah menyentuh kalbu manusia, maka ia bisa menggugah dan membangkitkan jiwa untuk menjadi merdeka, tenang, tenteram, dan bahagia.

Al-Qur’an telah membentuk Bu Sariana menjadi pribadi yang tangguh. Ia tidak terkungkung oleh dunia, pangkat, jabatan, atau status sosial. Dunia baginya hanyalah sementara, dan ia telah membuktikan bahwa iman bisa menjadikan segalanya terlihat kecil.

Hingga kini, saya selalu bertanya-tanya, apa kabar Bu Sariana, sang pemulung yang rajin mengaji itu? Semoga ia tetap selalu dalam lindungan Allah Ta’ala, diberikan kebahagiaan meski dalam keterbatasan.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis adalah guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh di Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Lailatul Ijtima’ dan Kemah Dai Hidayatullah se-Pulau Lombok Perkokoh Semangat Dakwah

0

LOMBOK TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, rangkaian acara Lailatul Ijtima’ dan Kemah Dai Hidayatullah se-Pulau Lombok yang diselenggarakan pada 21-22 Jumadil Awal 1446 (23-24/11/2024) telah berlangsung dengan sukses.

Kegiatan ini, yang merupakan inisiatif Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkokoh semangat dakwah para dai di Pulau Lombok.

Acara yang dihelat di lahan perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Timur, seluas lima hektare di Dusun Batu Tenteng, Desa Belanting, Kecamatan Sambalia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki nilai strategis.

Dengan tema “Rekatkan Jamaah, Kuatkan Imamah, dan Gencarkan Ekspansi”, kegiatan ini sekaligus sebagai upaya memantapkan visi membangun peradaban Islam yang kokoh.

Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ust. H. Muslihudin Mustaqim, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi dan kebersamaan dalam dakwah.

“Dakwah yang solid dan sinergis adalah kunci keberhasilan membangun peradaban Islam. Kita harus terus menjaga semangat ini meski dihadapkan pada berbagai tantangan,” kata Muslihudin, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).

Sebagaimana tema yang diusung, acara ini berfokus pada tiga pilar utama: mempererat jamaah, memperkuat kepemimpinan, dan menggencarkan ekspansi dakwah.

Muslihudin menyampaikan, lailatul Ijtima’ dan kemah dai ini memberikan refleksi tentang pentingnya kolaborasi, kepemimpinan, dan keberlanjutan dakwah. Di tengah arus kehidupan modern saat ini yang membawa berbagai tantangan, kegiatan ini menurutnya menjadi peneguh gerakan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan sinergi seluruh elemen umat Islam.

“Sebagai sebuah pergerakan dakwah, Hidayatullah dengan visi membangun peradaban Islam mengajarkan bahwa kekuatan umat terletak pada soliditas dan kejelasan arah kepemimpinan. Oleh karena itu, melalui kegiatan seperti ini, spirit untuk terus menanamkan nilai-nilai Islam di masyarakat dapat terus dijaga dan diperkuat,” kata Muslihudin.

Melalui semangat yang tercermin dari acara ini, Muslihudin berharap, kegiatan ini menjadi pijakan menuju langkah yang lebih besar dalam menebar kebaikan, memperkuat ukhuwah, dan membangun peradaban Islam yang harmonis.

Disamping itu, para dai diharapkan dapat terus melangkah maju, menghadirkan solusi bagi masyarakat, dan menjadi teladan dalam membangun peradaban yang lebih baik.

“Dengan keyakinan yang kuat, keberanian, dan kerja sama yang erat dengan berbagai elemen umat, masa depan dakwah Islam di Pulau Lombok dan wilayah lainnya dapat terus berkembang sesuai dengan harapan,” tambahnya menandaskan.

Dakwah Tanpa Kenal Lelah

Salah satu momen berharga dalam acara ini adalah taujih dari Ust. H. Amin Mahmud, anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, yang disampaikan secara daring. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya keteguhan hati seorang dai.

“Sebagai dai, tidak ada kata lelah dan menyerah dalam menegakkan agama Islam,” ujarnya dengan penuh semangat.

Amin juga membagikan cerita perjuangannya dalam berdakwah sejak tahun 1971. Kisah-kisah yang disampaikan dengan gaya ringan dan menghibur itu tak hanya mengundang gelak tawa, tetapi juga membakar semangat para peserta untuk tetap istiqamah dalam menebarkan nilai-nilai Islam.

Dalam sesi diskusi dan arahan, Ketua Dewan Murobbi Wilayah NTB, Ustaz Ismuji, menekankan pentingnya kolaborasi antara dai untuk menghadapi dinamika dakwah yang semakin kompleks. “Tantangan dakwah hari ini tidak bisa dihadapi sendiri. Jamaah adalah kekuatan kita, dan imamah adalah pemandu jalan kita,” tuturnya.

Diskusi tersebut menghasilkan berbagai gagasan dan beragam pandangan yang mengarah pada satu muara yakni memperkuat peran dai di masyarakat, termasuk penguatan pendidikan Islam, pemberdayaan ekonomi umat, dan perluasan jaringan dakwah ke daerah-daerah terpencil.

Apresiasi Peran Semua Pihak

Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Panitia menyampaikan rasa terima kasih kepada DPD Hidayatullah Lombok Timur, Yayasan Pesantren Hidayatullah Sambalia, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), serta semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini.

“Jazakumullah khairan katsira untuk seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini,” ungkap salah satu panitia dengan penuh rasa syukur.

Momentum ini juga ditutup dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) penugasan kepada kader-kader dai tangguh Hidayatullah NTB. Hal ini menandai komitmen organisasi untuk terus melahirkan dai yang siap berdakwah di berbagai pelosok negeri, membawa pesan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. (ybh/hidayatullah.or.id)

Training Kader Muda Hidayatullah Jakarta Ikhtiar Lahirkan Generasi Pemakmur Bumi

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Pondok Qur’an Hidayaturrahman (PQH) Hidayatullah Ciawi, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta telah menyelenggarakan Training Kader Muda berupa Daurah Marhalah Ula (DMU) pada 20-22 Jumadil Awal 1446 (22-24/11/2024).

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis organisasi Hidayatullah dalam membangun generasi muda yang berintegritas, berkarakter Islami, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

Menurut Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Muhammad Isnaeni, DMU merupakan tahapan resmi bagi siapa saja yang ingin menjadi kader pejuang dakwah Hidayatullah.

“Namun, untuk menjadi anggota Hidayatullah, cukup dengan mematuhi tata tertib keanggotaan dan tunduk pada hukum yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Isnaeni.

Isnaini juga menambahkan bahwa setiap anggota Hidayatullah dianjurkan untuk mengikuti pembinaan atau pengajian yang diadakan di pesantren maupun Rumah Qur’an Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

Hidayatullah menyadari bahwa pelatihan seperti DMU hanyalah langkah awal dalam perjalanan panjang menjadi kader yang tangguh. Oleh karena itu, terang Isnaini, pembinaan berkelanjutan menjadi bagian integral dari sistem pengkaderan organisasi ini.

Melalui DMU dan program-program sejenis, Isnaini mengatakan, Hidayatullah menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga menjadi pemakmur bumi yang memiliki kepekaan terhadap tantangan zaman.

“Dengan berpegang pada manhaj Sistematika Wahyu dan semangat keindonesiaan, Hidayatullah berharap khususnya dari Jakarta ini lahir pemimpin masa depan yang mampu menjawab kebutuhan umat sekaligus menjadi pemakmur bumi sebagai rahmatan lil ‘alamiin,” tandas Isnaini yang menukil Al Qur’an surah Hud ayat 61.

Tanamkan Nilai Sistematika Wahyu

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh peserta dari berbagai unsur, baik individu maupun amal usaha Hidayatullah, yang berasal dari Jabodetabek. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pendekatan dakwah yang ditawarkan oleh organisasi ini, yaitu Manhaj Sistematika Wahyu.

Ketua Departemen Perkaderan Hidayatullah DKI Jakarta, Ust. Munawir Baddu, menegaskan bahwa pendekatan ini didasarkan pada dalil yang syar’i dan bertujuan untuk merawat dan menumbuhkembangkan peradaban Islam yang berlandaskan wahyu.

“Manhaj Sistematika Wahyu menjadi manhaj yang sesuai dengan dalil yang syar’i dan dapat dipertanggungjawabkan untuk kembali mewujudkan peradaban Islam,” jelas Munawir.

Dengan pemahaman struktur sistematika wahyu ini, terang Munawir, Hidayatullah mengajak generasi muda untuk tidak hanya memahami agama secara ritualistik, tetapi juga menjadikannya panduan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

DMU kali ini memberikan perhatian khusus kepada peserta dari kalangan Generasi Z. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat Gen Z adalah kelompok generasi yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan.

Mereka tumbuh di era digital yang penuh tantangan sekaligus peluang, sehingga membutuhkan bimbingan nilai-nilai yang kuat untuk menjawab berbagai persoalan modern,” jelas Munawir.

Harapannya, lanjut dia, dari kalangan inilah nanti lahir para kader pemimpin di organisasi yang telah berdiri lebih dari 50 tahun ini.

Dengan mengintegrasikan pendekatan tradisional berbasis ajaran agama dan pemahaman kontemporer, Hidayatullah berupaya mempersiapkan Gen Z untuk menjadi pemimpin visioner dan juga memiliki moralitas dan komitmen yang tinggi terhadap pembangunan masyarakat.

Dijelaskan Munawir, salah satu nilai yang ditekankan dalam DMU adalah harmoni antara dakwah dan wawasan nusantara. Hidayatullah menanamkan kepada para kadernya bahwa pengabdian kepada agama tidak pernah lepas dari kontribusi kepada bangsa dan negara.

Sebagai organisasi, keseimbangan gerakan Hidayatullah antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial menjadi modal utama dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, harmonis, religius, dan berdaya saing global.

“Prinsip ini sesuai dengan cita-cita Hidayatullah yang menempatkan dakwah sebagai jalan untuk memperkuat persatuan dalam bingkai NKRI,” tegas Munawir memungkasi.*/Adam Sukiman

Panitia Rakernas Hidayatullah Undang Pangdam III/Siliwangi dan Kapolda Jabar

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id)— Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah ke-V harapannya berlangsung sukses dan aman. Oleh karena itu, panitia pelaksana terus melakukan persiapan terkait dengan hal tersebut.

Rakernas Hidayatullah ke-V tahun 2024, akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.

Agar pelaksanaan Rakernas berjalan lancar, maka surat izin dan undangan ke berbagai pihak pun disampaikan, seperti ke Pangdam III/Siliwangi, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Dadang Arif Abdurahman, dan Kapolda Jabar, Irjen Pol Dr. Akhmad Wiyagus, S.IK., M.Si., M.M.

“Alhamdulillah, surat izin sekaligus undangan untuk Pangdam III/Siliwangi sudah kami sampaikan, semoga beliau bisa hadir di acara Rakernas,” ujar ketua pelaksana Rakernas, Hidayatullah, S.H.I, M.Ag.

“Kami juga telah menyampaikan surat izin dan juga mengundang Kapolda Jabar untuk hadir di acara Rakernas Hidayatullah,” imbuhnya.

Menurut Hidayatullah, yang juga menjabat Ketua DPW Hidayatullah Jabar, upaya-upaya ini dilakukan agar kegiatan Rakernas berjalan aman, tertib dan sukses.

Rakernas yang kerap dilakukan setiap awal tahun bertujuan untuk menyusun rancangan program dan kegiatan yang akan diimplementasikan selama satu tahun ke depan.

Acara nasional ini mengusung tema besar “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,” sebagai langkah konkret Hidayatullah untuk memperkuat fondasi organisasi dan meningkatkan profesionalitas seluruh elemen dalam tubuhnya.

Tema besar Rakernas tahun ini merupakan refleksi dari semangat konsolidasi yang tengah digaungkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Tema ini mencakup tiga pilar penting, yaitu jatidiri, organisasi, dan wawasan.*/Dadang Kusmayadi

Inisiatif Atasi Keterbatasan Ruang Belajar di Panti Asuhan Raudhatul Jannah Tarakan

0

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Keterbatasan ruang belajar adalah salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh 50 santri di Panti Asuhan Raudhatul Jannah, Tarakan, Kalimantan Utara. Dengan ruang yang kecil dan sempit, kenyamanan belajar sering kali terabaikan, sehingga proses pendidikan tidak berjalan optimal.

Namun, harapan mulai terwujud melalui inisiatif dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan kualitas fasilitas belajar mereka.

Pada Ahad, 22 Jumadil Awal 1446 (24/11/2024), BMH menyalurkan sejumlah material bangunan untuk mendukung renovasi ruang belajar di panti tersebut. Bantuan ini mencakup semen, besi, pasir, koral, tanah timbunan, dan batu bata.

Dengan adanya bantuan ini, proses renovasi menjadi lebih terstruktur dan terarah untuk menciptakan ruang belajar yang lebih layak dan nyaman.

“Alhamdulillah, dengan bantuan dari BMH, impian kami untuk menyediakan ruang belajar yang lebih luas dan nyaman insha Allah segera terwujud,*” ungkap Ruhama Abdul Malik, Pengurus Panti Raudhatul Jannah.

Kenyamanan dalam belajar bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan psikologis yang memengaruhi semangat dan fokus anak-anak. Renovasi ruang belajar di Panti Asuhan Raudhatul Jannah adalah contoh nyata bagaimana dukungan zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi solusi berkelanjutan.

“Terima kasih banyak kepada BMH dan para donatur yang terus mendukung kami. Semoga Allah membalas kebaikan ini dengan pahala yang berlipat ganda,*” tambah Ruhama.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara, menegaskan pentingnya pengelolaan dana zakat yang berfokus pada keberlanjutan.

“Setiap rupiah yang disalurkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih cerah bagi para santri,” jelasnya menutup.*/Herim

Santri Rumah Qur’an Jannatul Firdaus Siap Jadi Hafidzah Tangguh dengan Tapak Suci

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang duduk mengaji di depan mushaf. Di Rumah Qur’an Jannatul Firdaus, Perumahan Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, para santri diajak mengasah keterampilan hidup yang mendukung keseimbangan fisik dan mental. Salah satunya adalah latihan pencak silat Tapak Suci yang rutin digelar setiap Sabtu.

“Tapak Suci gerakan-gerakannya cukup mudah dipelajari oleh para santri,” ujar Wisnu Hidayat, pelatih silat di Rumah Qur’an, seperti dalam keterangan kepada media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).

Keterampilan bela diri ini menjadi bekal penting bagi para santri, termasuk para muslimah, untuk menjaga diri sekaligus membangun kepercayaan diri.

Enjelita Sari, 14 tahun, seorang hafidzah dengan hafalan 4 juz, mengaku senang mengikuti latihan ini.

“Penting bisa silat bagi muslimah untuk jaga diri,” katanya.

Senada dengan itu, Oktavia Nur Hanifah, yang telah menghafal 7 juz Al-Qur’an, menambahkan bahwa keterampilan bela diri adalah bagian dari karakter seorang muslimah yang kuat.

“Allah mencintai hamba-Nya yang kuat,” ujarnya dengan penuh semangat.

Latihan silat ini adalah bagian dari upaya Laznas BMH untuk mencetak generasi muda yang unggul, tidak hanya dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga dalam membangun karakter tangguh dan tangkas.

“Kegiatan ini sejalan dengan visi BMH untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang cerdas dan kuat melalui zakat, infak, dan sedekah,” jelas Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten (23/11).

Program ini bukan sekadar olahraga. Tapak Suci memberikan pondasi mental yang kokoh bagi para santri untuk menghadapi tantangan zaman.

Melalui dukungan dari zakat, infak, dan sedekah, BMH memastikan generasi muda muslim memiliki bekal untuk menjadi pemimpin masa depan yang berdaya saing tinggi.

Di balik hafalan Al-Qur’an mereka, ada semangat perjuangan. Bukan hanya menjadi pribadi yang cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh dalam menghadapi kehidupan. Inilah langkah nyata zakat yang membangun Indonesia.*/Herim

PT Lintas Mediatama Dukung Sukseskan Rakernas Hidayatullah ke-V di Bandung

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, khususnya panitia Rapat Kerja Nasional (Rakernas) melakukan kunjungan silaturahim ke kantor PT. Lintas Mediatama (LIMA) di Jalan Cipunagara No. 16 Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, belum lama ini.

Sebagaimana diketahui bahwa Hidayatullah Jawa Barat akan menjadi tuan rumah Rakernas Hidayatullah Tahun 2024, yang akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.

Pada kunjungan tersebut Asep Juhana (Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jabar), Abdul Wahid (Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Jabar), Hasby Al-Faruqi (Bendahara DPW Hidayatullah Jabar), Tajuddin (seksi Humas dan Pusdok Rakernas), dan Ismatullah (seksi Humas dan Pusdok Rakernas) hadir bertujuan menjajaki peluang kerjasama dalam mensukseskan Rakernas Hidayatullah ke-V.

Mereka diterima oleh Aisya Yanti, Sekretaris Yayasan. “Insya Allah, kalau untuk syiar program sosial dan dakwah kami bisa bersinergi,” ujar Aisya Yanti.

Menurut Aisya, saat ini PT. Lintas Mediatama (LIMA) sedang membuat dua bentuk kegiatan, yaitu bisnis dan dakwah.

“Kalau bisnis yang murni ada perusahaan, sedangkan untuk dakwah kami punya yayasan sebagai media untuk memberikan kebermanfaatan kepada umat secara langsung,” paparnya.

Sementara itu, Abdul Wahid menyatakan, “Alhamdulillah, kami diterima dengan baik dan menyampaikan rencana program sinergi syiar dakwah, melalui publikasi PT. Lintas Mediatama,” ujar Abdul Wahid.

“Insya Allah, ucapan selamat dan sukses Rakernas Hidayatullah ke-V akan ditayangkan melalui videotron outdoor di tempat strategis di kota Bandung,” imbuh Wahid.

Asep Juhana pun turut menyampaikan kegiatan Rakernas. Menurutnya, Rakernas tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga akan disemarakkan dengan acara Seminar Nasional Pendidikan, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas khidmat Hidayatullah untuk umat.

“Pada acara Seminar Nasional Pendidikan ini, kami akan mengundang pejabat, ulama, ormas Islam, cendekiawan, guru, dosen, mahasiswa, pengusaha, dan tokoh,” kata Asep Juhana.

“Insya Allah, Pak Menag Prof Nasaruddin Umar, Wamen Dikdasmen Prof Atif Latipulhayat, dan Rektor UPI Prof Solehuddin akan hadir,” pungkas Asep Juhana.*/Dadang Kusmayadi

Ketua Umum DPP Hidayatullah Hadiri Forum Majelis Ilmuwan Nusantara ke-2 di Negeri Perlis

KANGAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, menghadiri Persidangan Ilmuwan Nusantara (MIN) ke-2 yang digelar selama 2 hari oleh Jabatan Mufti Perlis di Kangar, Negeri Perlis, Malaysia, 12-13 Jumadil Awal 1446 (14-15//11/2024) lalu.

Konferensi yang mengambil tema “Kedudukan Agama dan Budaya” ini dibuka secara resmi oleh Raja Muda Perlis Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail di Komplek Dewan Undangan Negeri Perlis.

Forum ini diinisiasi dan dipimpin oleh Mufti Perlis SS Dato Prof. Dr. Mohd. Asri Zainal Abidin dan dihadiri 30 peserta dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja.

Selain Nashirul Haq, hadir bersama delegasi dari Indonesia antara lain Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Tarjih, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar dan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) Dr. H. Jeje Zainuddin.

Dalam forum yang diikuti oleh para ulama dan cendekiawan dari berbagai negara ini, Nashirul Haq menyampaikan klasifikasi budaya, tradisi, dan adat istiadat dari sudut pandang Islam. Dia menggarisbawahi relevansi nilai-nilai Islam dalam menyikapi keberagaman budaya lokal dan global.

Nashirul Haq mengidentifikasi tiga kategori utama budaya dalam Islam yaitu, Pertama, budaya yang sesuai dengan Islam. Budaya ini dianggap selaras dengan ajaran Islam dan karenanya perlu dipertahankan.

Kedua, budaya yang bertentangan dengan Islam. Budaya semacam ini dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam sehingga harus ditinggalkan.

Ketiga, lanjut Nashirul, adalah budaya yang bersifat netral, yakni tradisi yang tidak diperintahkan maupun dilarang dalam Islam. Budaya ini, menurutnya, diperbolehkan, terutama apabila mengandung kemaslahatan.

“Pertama, sesuai dengan Islam sehingga perlu dipertahankan. Kedua, bertentangan dengan Islam sehingga harus ditinggalkan. Ketiga, tidak ada perintah maupun larangan dalam Islam sehingga dibolehkan. Terutama jika mengandung maslahat,” jelasnya, seraya menekankan prinsip maslahat sebagai kriteria penting dalam menentukan penerimaan suatu budaya.

Lebih lanjut, Nashirul Haq mendorong upaya islamisasi budaya melalui pendekatan penanaman sunnah di masyarakat.

“Kita perlu menanamkan sunnah seperti memberi salam, silaturahim, tolong menolong, dan sebagainya agar mengakar menjadi budaya di masyarakat kita,” tegasnya.

Dalam pada itu, dia menekankan pentingnya membangun budaya berbasis nilai-nilai Islam yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga transformatif.

Nashirul menambahkan, forum ini sangat positif dalam upaya rekonsiliasi antara ajaran agama dan kearifan lokal, di mana nilai Islam dapat berfungsi sebagai dasar etis dalam membangun harmoni sosial.

Sebagai informasi, di kawasan yang sama, Konferensi Majelis Ilmuwan Nusantara ke-1 diadakan pada bulan Februari 2024 lalu dengan tema; Manhaj Sunnah Menyatakan Umat.*/A Ruways

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Sulbar Gaungkan Tri Sukses dan Penyebaran Gagasan Peradaban Islam

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Momentum Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Barat dimanfaatkan oleh Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, menyampaikan arahan yang menggarisbawahi pentingnya peran pemuda dalam penyebaran ide dan gagasan peradaban Islam.

Dalam era yang semakin kompleks seperti saat ini, Haniffudin menekankan bahwa Pemuda Hidayatullah harus memainkan perannya dengan lebih terbuka untuk membangun sinergi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Dia menegaskan, gerakan Hidayatullah, yang berpegang pada visi “Membangun Peradaban Islam” dengan manhaj Sistematika Wahyu, ditantang untuk menarasikan konsep tersebut dalam bahasa yang lebih universal.

“Menjadikan narasi teologis simbolik sebagai bahasa publik yang rasional adalah kunci untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama kepada mereka yang belum memahami atau salah paham tentang Islam,” kata Haniffudin, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Dia menjelaskan, Pemuda Hidayatullah sebagai entitas muda dan komunitas epistemik mesti berfokus pada penyebaran ide-ide besar membangun peradaban Islam dengan cakupan luas melalui bahasa universal dan rasional sehingga mampu menjadi diskursus publik yang menjangkau khalayak umum.

Namun, sayangnya, Menurut Hanif, narasi publik yang diusung oleh Pemuda Hidayatullah selama ini tampak lebih terpusat pada penyampaian informasi yang bersifat internal, seperti laporan kegiatan seremonial dan hal serupa lainnya.

Fenomena ini, terang dia, menunjukkan adanya jarak antara idealitas gerakan Islam yang diharapkan dengan praktik yang berlangsung.

Sebagai sebuah entitas yang mengusung misi Islam, terang dia, Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab serius sebagai corong peradaban yang secara konsisten mengangkat kemuliaan ajaran Islam, sebagaimana tersurat dalam struktur sistematika wahyu.

“Visi gerakan membangun peradaban Islam menuntut kita untuk tidak sekadar berkutat pada ranah internal, tetapi juga mampu menjadikan ajaran Islam sebagai narasi intelektual yang berkontribusi pada ruang publik dan membangun peradaban yang holistik,” katanya.

Mencapai Tri Sukses

Dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Barat pada Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22 November 2024), Haniffudin menyerukan pentingnya kolaborasi dengan organisasi kepemudaan Islam lainnya.

Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat dakwah dan mengatasi berbagai tantangan keumatan. “Silaturrahim antar organisasi Islam harus terus dijaga, tanpa melulu membesar-besarkan perbedaan,” tambahnya, via daring.

Disamping itu, untuk mendukung visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam, Haniffudin merumuskan tiga rencana aksi strategis atau “Tri Sukses” yang menjadi panduan Pemuda Hidayatullah menuju Indonesia 2045.

Pertama, sukses organisasi. Dia menjelaskan, keberhasilan organisasi memerlukan tertib administrasi, kaderisasi yang sistematis, dakwah yang efektif, serta dukungan penuh dari organisasi induk dan amal usaha.

“Dengan struktur yang rapi dan fungsional, Pemuda Hidayatullah dapat menjadi platform yang kokoh untuk memberdayakan umat,” katanya.

Kedua, sukses sumber daya manusia, yang menuntut Pemuda Hidayatullah harus menguasai isu-isu terkini melalui literasi yang kuat, memperkuat ibadah, dan membangun karakter unggul.

“Setiap kader harus memiliki lebih dari satu keahlian. Skill ganda adalah kebutuhan untuk menghadapi tantangan masa depan,” ungkap Haniffudin. Selain itu, amal saleh yang dilakukan dengan keikhlasan adalah bagian integral dari pengembangan diri sebagai kader Islami.

Ketiga, sukses Indonesia. Visi besar ini melibatkan upaya memasuki berbagai sektor strategis, baik swasta maupun pemerintahan. Hal ini mencakup membangun jaringan yang luas dan merekrut sumber daya manusia berkualitas untuk memperkuat posisi umat Islam di berbagai instansi.

Haniffudin mengakhiri sambutannya dengan harapan besar agar Pemuda Hidayatullah menjadi motor penggerak peradaban Islam yang berkelanjutan. Dengan dedikasi, strategi, dan kolaborasi, Pemuda Hidayatullah diharapkan mampu menjadi pelopor transformasi umat menuju masa depan yang gemilang

Pada kesempatan tersebut hadir didampingi jajarannya Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. H. Mardhatillah, yang sekaligus membuka acara tersebut. Hadir juga Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulbar, Muhammad Rifal, bersama sejumlah jajarannya serta tampak juga unsur perwakilan amal dan badan usaha Hiayatullah Sulbar lainnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Komitmen untuk Pendidikan Qur’ani dengan Bangun Ruang Tahfidz di Towuti

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali membuktikan dedikasinya dalam mendukung pengembangan generasi muda yang berkarakter Qur’ani. Kali ini, Laznas BMH memulai pembangunan ruang kelas tahfidz di Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Danau Tondano, Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.

Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama dan juga simbol sinergi antara lembaga zakat, masyarakat, dan para pendidik.

Proyek ini mencakup pembangunan gedung dua lantai seluas 210 meter persegi yang dirancang sebagai ruang belajar yang nyaman bagi santri. Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menegaskan bahwa pembangunan fisik gedung ini guna menghadirkan sarana untuk mendukung proses belajar-mengajar secara maksimal.

“Diawali dengan basmalah, dan diakhiri dengan hamdalah. Semoga dengan sinergi semua pihak, pembangunan ini bisa berjalan lancar,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Mukhsin, Kepala Sekolah SMP-SMA Daarul Ilmi Towuti, mengungkapkan rasa syukur atas perhatian Laznas BMH terhadap kebutuhan pendidikan pesantren. Selama ini, para santri harus menghadapi keterbatasan fasilitas, namun semangat belajar mereka tetap tinggi.

Kehadiran ruang kelas baru diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan belajar, tetapi juga memacu motivasi santri untuk lebih giat mendalami ilmu agama. “Santri sudah menunjukkan semangat belajar yang tinggi, meski fasilitas yang ada masih terbatas,” katanya.

Sinergi dan Harapan

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah Towuti, Ust. H. Irwan Mujahid, menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH atas kontribusinya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. Ia juga mengingatkan para santri untuk memanfaatkan peluang ini secara maksimal.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,”* ujarnya, penuh harap agar ruang kelas baru menjadi pemantik semangat belajar dan berprestasi bagi santri.

Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah Towuti adalah salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara lembaga zakat, pendidik, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan signifikan.

Dengan dimulainya pembangunan ini, optimisme pun menguat bahwa generasi Qur’ani yang dilahirkan di pesantren ini akan menjadi pilar penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam.*/Herim