Beranda blog Halaman 146

Membangun Kekuatan Organisasi Islam Masa Depan: Menuju Peradaban Islam yang Relevan dan Berkesinambungan

0

DITENGAH perubahan dunia yang cepat, organisasi Islam dihadapkan pada tantangan untuk menata ulang dirinya agar relevan dan siap memimpin perubahan. Untuk mencapai hal ini, organisasi Islam harus menjadi pilar perubahan dalam berbagai aspek kehidupan—pendidikan, ekonomi, sosial, dakwah, politik, dan teknologi—dengan mengintegrasikan strategi dan fondasi yang kokoh di bawah aspek-aspek fundamental seperti kepemimpinan, pendanaan, struktur organisasi, program, regenerasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Melalui struktur yang agile, gerakan yang berbasis pada nilai-nilai Islam dan adaptasi terhadap perubahan, organisasi Islam dapat menjadi lokomotif perubahan yang paradigmatik dan membawa umat menuju peradaban yang lebih inklusif, seimbang, dan rahmatan lil ‘alamin. Tugas ini bukan sekadar adaptasi, tetapi upaya menyusun sebuah puzzle besar yang mampu menciptakan peradaban Islam yang relevan, dinamis, dan memimpin dalam berbagai bidang kehidupan sepanjang masa.

Pertama, Kepemimpinan: Visioner, Berintegritas, dan Kolaboratif

Kepemimpinan adalah fondasi utama yang akan menentukan arah organisasi Islam masa depan. Pemimpin masa kini dan masa depan diharapkan memiliki visi yang melampaui batasan waktu, berlandaskan nilai-nilai Islam yang mendorong kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan. Lebih dari itu, mereka harus mampu berkolaborasi lintas sektor, lintas keilmuan, dan lintas budaya.

Pemimpin ini haruslah sosok yang memiliki karakter : mujahid, yang berani memperjuangkan kebenaran selaras dengan visi dan misi yang diusung sebuah organisasi; mujtahid, yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, bahkan berfikir out of the box, karena kekuatan ruhiyahnya; dan mujaddid, yang mampu menyegarkan pemahaman Islam dan melakauan pembaharuan sesuai konteks zaman.

Kepemimpinan visioner juga menuntut kecakapan dalam mengambil keputusan strategis yang berlandaskan data, analisis mendalam, dan keterbukaan terhadap inovasi. Melalui sikap ini, pemimpin akan mampu menggerakkan organisasi dengan arah yang lebih relevan dan adaptif, memastikan bahwa setiap langkah organisasi Islam menjadi bagian dari solusi global. Pada saat bersamaan juga mendorong adanya kolaborasi dengan berbagai elemen.

Dengan demikian maka, pemimpin masa depan harus mampu menjawab tantangan di era digital dengan wawasan global dan pemahaman mendalam tentang budaya lokal. Mereka tidak hanya bertindak sebagai administrator, tetapi sebagai motivator yang mendorong inovasi, mengambil keputusan berbasis data, serta mampu menggerakkan organisasi untuk merespons perubahan dengan cepat. Mereka harus menguasai berbagai ilmu, baik agama maupun teknologi modern, untuk membentuk organisasi yang mampu bersaing dan bersinergi dalam tataran lokal maupun global.

Kedua, Pendanaan dan Dukungan Finansial: Membangun Ekosistem Ekonomi Mandiri

Pendanaan berkelanjutan menjadi salah satu kunci keberhasilan organisasi Islam masa depan. Untuk itu, pendekatan pendanaan perlu lebih kreatif dan mandiri, mengurangi ketergantungan pada donasi dan bantuan eksternal. Salah satu solusinya adalah mengoptimalkan aset wakaf dan zakat melalui sistem wakaf produktif yang dapat menghasilkan pendapatan jangka panjang. Pendekatan ini tidak hanya menopang stabilitas finansial organisasi tetapi juga mendukung program sosial dan ekonomi bagi umat.

Organisasi Islam juga perlu menjalin kemitraan dengan industri halal, fintech syariah, dan investasi yang beretika. Selain menghasilkan dana, ini akan membangun ekosistem ekonomi mandiri yang berbasis syariah, mendorong kesadaran umat untuk berkontribusi pada pembangunan umat secara keseluruhan. Sehingga pemberdayaan anggota melalui kegiatan ekonomi akan dapat berjalan optimal dan maksimal. Pada gilirannya anggoita-anggota yang berdaya ini akan memberikan kontribusi finansial juga bagi organisasi, karena mereka difasilitasi untuk berdaya.

Organasasi Islam juga dapat membentuk korporasi, dengan melakukan bisnis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Organisasi memiliki saham di Korporasi, dan mesti dikelola secara terpisah dari kegiatan organisasi. Dan dikelola oleh para profesional yang ahli dan kompeten dibidangnya. Sehingga organisasi akan mendapatkan deviden, setiap tahun untuk memperkuat finansial organisasi. 

Dengan kekuatan finansial yang stabil, organisasi Islam dapat mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk mendukung program-program transformasi sosial, dan selanjutnya tidak dapat “di atur” oleh pihak ekternal untuk berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik.

Ketiga, Struktur Organisasi: Menerapkan Agile Organization untuk Fleksibilitas

Organisasi masa depan memerlukan struktur yang fleksibel, adaptif, dan mampu bergerak cepat sesuai kebutuhan zaman. Model agile organization atau organisasi yang lincah memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan responsif terhadap perubahan eksternal. Struktur ini lebih horizontal dan tidak terlalu hierarkis, sehingga mendorong kolaborasi antar-tim dan inovasi yang lebih cepat.

Dalam konteks organisasi Islam, agile organization berarti setiap anggota yang berada dalam struktur organisasi diberdayakan untuk berperan aktif dan berpikir kritis sesuai dengan amanahnya. Dengan struktur yang lebih dinamis, organisasi dapat merespons dengan lebih efektif terhadap tantangan yang dihadapi umat, baik di bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi maupun  politik. Konsekwensinya organisasi harus berani memangkas struktur yang tidak fungsional.

Dengan demikian, Organisasi yang agile akan memberikan ruang untuk eksperimen dan inovasi yang terus-menerus, sehingga visi besar peradaban Islam dapat berkembang seiring dengan kebutuhan umat. Dibandingkan dengan organisasi yang gemuk dan tambun, selain tidak efisien juga menyebabkan gerakannya menjadi lamban dan tidak responsive.

Keempat, Gerakan dan Program: Berdampak, Relevan, dan Berkesinambungan

Program yang digerakkan oleh organisasi Islam masa depan harus berlandaskan pada pendekatan holistik yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga politik. Gerakan yang diciptakan harus memiliki orientasi yang terfokus namun berdampak luas dan berkelanjutan, sehingga menciptakan transformasi sosial yang nyata

Program dakwah perlu lebih inovatif dengan memanfaatkan teknologi, mengembangkan konten yang edukatif dan mudah diakses oleh masyarakat luas. Di bidang pendidikan, organisasi Islam bisa berperan sebagai pelopor dalam menciptakan sistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Islam yang implementatif..

Dalam sektor ekonomi, organisasi Islam dapat mendirikan platform pemberdayaan ekonomi umat, seperti koperasi syariah, platform e-commerce halal, atau lembaga keuangan mikro syariah. Program-program ini tidak hanya mendorong kesejahteraan ekonomi tetapi juga membangun ketahanan finansial umat. Gerakan di bidang sosial dan politik, juga harus diarahkan untuk menciptakan perubahan positif yang meluas dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Program-program harus di desain untuk mendekatkan dengan kebutuhan umat. Perhatian kepada gen-Z misalnya menjadi point penting yang mesti diprioritaskan. Sehingga program yang dihadirkan akan mewakili kepentingan mereka, misalkan dengan menghadirkan program terkait dengan :  pemanfaatan teknologi dan digitalaisasi, entrepreneurship, pengembangan skill, seni, olahraga dan lain sebagainya.

Dengan demikian maka, Inovasi dan kreatifitas dalam menyusun program menjadi kunci dan sangat menentukan sebuah organisasi akan menjadi gerakan untuk merealisasikan seluruh visi dan misinya.

Kelima, Regenerasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia: Mencetak Pemimpin Masa Depan

Regenerasi adalah aspek kritis untuk menjaga keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang. Proses kaderisasi harus dilakukan dengan sistematis, untuk menciptakan generasi penerus yang siap melanjutkan misi organisasi dengan visi yang segar dan relevan. Pendidikan yang holistik dan pembinaan karakter yang kuat sangat penting dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang berkompeten. Sehingga, regenerasi yang berkesinambungan adalah kunci untuk memastikan keberlanjutan organisasi Islam.

Organisasi harus memiliki strategi yang matang dalam melakukan rejuvenasi untuk mencetak pemimpin-pemimpin masa depan, yang bukan hanya berkompeten tetapi juga memiliki integritas dan wawasan luas. Program kaderisasi yang berfokus pada pengembangan intelektual, ruhiyah, dan emosional perlu menjadi prioritas utama.

Generasi muda harus didorong untuk memahami isu-isu global, seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan transformasi digital, serta dilatih untuk berpikir kritis dan inovatif. Dengan begitu, mereka akan siap memimpin organisasi Islam masa depan dalam menghadapi berbagai tantangan global dan berperan aktif sebagai agen perubahan yang membawa manfaat bagi umat.

Oleh karenanya, adanya pelatihan berkelanjutan dalam bidang ilmu agama, teknologi, manajemen, dan keterampilan sosial lainnya harus menjadi bagian dari program pengembangan sumber daya manusia. Dalam hal ini, program mentoring dan pelatihan kepemimpinan yang terstruktur akan memainkan peran penting. Selain itu, organisasi Islam harus menciptakan iklim kerja yang mendorong kreativitas dan inovasi, di mana setiap individu merasa dihargai dan diberdayakan.

Keenam, Pioneer Perubahan Paradigmatik dalam Berbagai Bidang

Organisasi Islam masa depan harus menjadi motor perubahan paradigmatik dalam masyarakat, melampaui sekadar aktivitas dakwah konvensional. Dalam sektor pendidikan, organisasi Islam harus mampu menghadirkan model pendidikan holistik yang menyatukan ilmu pengetahuan modern dengan pemahaman agama yang mendalam. Ini akan mencetak generasi yang mampu bersaing di level global namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam.

Dalam aspek ekonomi, organisasi Islam dapat memperkenalkan konsep ekonomi berbasis keadilan, transparansi, dan keberlanjutan. Ekonomi syariah yang inklusif dapat menjadi solusi bagi ketimpangan ekonomi global. Di bidang sosial, organisasi Islam harus aktif memperjuangkan hak-hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kesejahteraan masyarakat.

Di dunia dakwah, pendekatan yang digunakan harus lebih terbuka, inklusif, dan bersifat dialogis, sehingga Islam dapat dilihat sebagai solusi bagi permasalahan global. Teknologi digital juga harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan membangun komunitas global yang solid. Di bidang sosial, organisasi dapat menciptakan program yang mendorong inklusivitas dan keadilan sosial, baik dalam hal pelayanan kesehatan, panti-panti sosial, bantuan kemanusiaan, hingga pemberdayaan komunitas.

Dalam hal politik, organisasi Islam yang agile tidak akan terjebak dalam arus politik praktis pragmatis, akan tetapi memilih jalan high politic, sehingga berani menyuarakan keadilan dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, memperjuangkan hak-hak umat Islam dengan cara yang konstruktif dan dialogis, serta memberikan solusi problematika keummatan. Di bidang teknologi, organisasi dapat berkontribusi pada pengembangan solusi teknologi berbasis syariah, dari big data, kecerdasan buatan, hingga fintech syariah, yang menjawab kebutuhan umat di era digital.[]

Bagaimana Menyusun Puzzle Menuju Big Picture Peradaban Islam Masa Depan ?

Semua elemen di atas adalah potongan-potongan puzzle yang jika disusun dengan baik akan membentuk gambaran besar peradaban Islam masa depan. Peradaban ini akan menjadi solusi atas berbagai tantangan global—membangun dunia yang lebih adil, sejahtera, dan harmonis. Organisasi Islam yang tangguh, dengan kepemimpinan yang visioner, pendanaan yang berkelanjutan, struktur yang fleksibel, dan program yang berdampak, akan mampu menjadi pionir dan lokomotif perubahan di tingkat lokal maupun global.

Peradaban Islam masa depan bukanlah sesuatu yang utopis atau hanya sebuah angan-angan. Dengan kesiapan yang matang, adaptasi yang baik terhadap perubahan zaman, dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai Islam, organisasi Islam masa depan dapat menghadirkan peradaban yang relevan dan unggul di sepanjang masa. Organisasi Islam inilah yang akan membawa Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin, sebuah peradaban yang memberikan keberkahan bagi seluruh umat manusia, lintas zaman, dan lintas batas.

Inilah puzzle besar semua organisasi Islam yang harus disusun dengan visi dan kerja sama seta kolaborasi, agar organisasi Islam tidak hanya bertahan, tetapi juga unggul dan menjadi pusat perubahan. Dengan demikian, peradaban Islam dapat terus beradaptasi dan berkontribusi dalam dunia yang terus berubah, menghadirkan nilai-nilai universal Islam sebagai solusi untuk permasalahan kemanusiaan global.

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Meraih Keberkahan Ilahi di Pagi Hari, Refleksi Perjalanan Menuju Fajar

0

KETIKA penulis mendapatkan tugas ke kota dan jadwalnya setelah Shubuh. Karena jarak ke kota cukup jauh yaitu sekitar 30 kilo meter, maka, berangkat lebih awal yaitu minimal satu jam sebelum Shubuh, bahkan lebih awal agar tidak terburu-buru meski sebenarnya tidak ada kemacetan.

Dalam perjalanan akhir malam menjelang Shubuh itu, karena cukup pelan dan menikmati suasana sepi di jalan. Terlihat sosok-sosok pengendara motor dengan keranjang besar di belakangnya dan menarik ada lampu senter terikat di kepalanya.

Biasanya senter kepala atau headlamp, dipakai oleh kalangan para pendaki gunung dan penjelajah gua karena kepraktisannya. Atau pekerja-pekerja di tempat gelap dan memerlukan pencahayaan khusus.

Setelah mengamati agak cermat, ternyata mereka adalah para pemulung yang sedang bergerilya mencari sampah-sampah berharga di tempat-tempat sampah pinggir jalan.

Mereka karena menyisir satu persatu tempat sampah yang terletak di pinggir-pinggir jalan berjarak per seratus meter di sebelah kanan dan kiri jalan. Menggunakan headlamp karena mereka harus memilah dan memilih satu persatu sampah-sampah bertumpuk itu, tidak semua tentu bisa diambil dan dijual.

Sampah ibarat harta karun di mata pemulung, mereka seperti penambang emas yang harus memakai headlamp. Tentu mereka harus teliti memilih antara kerikil, pasir, tanah dan butiran emas yang bercampur menjadi satu, sehingga harus cermat, cepat dan memakai lampu senter di kepalanya.

Mereka berlomba satu dengan yang lain untuk memperebutkan sampah. Terlambat satu menit maka bisa kesalib temannya dan melayang rezekinya, di sinilah diperlukan kejelian dan kecermatan di tengah gelapnya malam.

Pemerintah setempat memang menganjurkan kepada masyarakat untuk membuat sampah di malam hari agar pagi hari sudah bisa diangkut dengan truk-truk oleh petugas. Diharapkan suasana kota dipagi hingga sore hari nampak bersih dan tidak ada pemandangan sampah-sampah yang menumpuk dan bahu di pinggir jalan. Bahkan ada regulasi tentang sanksi hukuman atau denda bagi masyarakat yang membuang sampah di pagi atau siang hari.

Di situlah, akhirnya, para pemulung-pemulung cerdas (memakai lampu center di kepala) dan memulai petualangannya mencari sampah sejak dini hari. Jika lambat atau didahului oleh pencari sampah sebelumnya maka bisa dipastikan tidak mendapatkan sampah-sampah yang bisa diolah dan dijual kembali.

Menarik dan menjadi bahan perenungan, bahwa untuk mendapatkan sampah yang baik (maksudnya layak diolah dan laku dijual kembali) mereka harus berjuang sejak sebelum Shubuh bahkan ada yang sejak tengah malam.

Menjemput rezeki harus sejak pagi, meski hanya sampah-sampah di pinggir-pinggir jalan. Seharusnya menjemput ampunan, keberkahan, pahala, rahmat Allah juga harus lebih semangat.

Pagi adalah awal kehidupan yang Allah berikan kepada manusia. Awal memulai aktivitas di dunia dengan ragam profesi dan macam-macam pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Ada yang sebagian beraktifitas langsung bekerja, sebagian dengan beribadah, ada juga dengan belajar. Semua tergantung dari profesi, obsesi, orientasi, fase dan kebutuhannya masing-masing.

Manusia juga memaknai awal pagi juga berbeda-beda. Ada yang memulai pagi pada pukul 05.00 atau ketika matahari terbit, ada yang memulai setelah matahari terbit yaitu pukul 07.00.

Ada juga yang memulai agak siang, entah karena malam begadang atau kebiasaan yaitu memulai kehidupan pagi pukul 09.00 terutama saat weekend Sabtu Ahad atau hari libur. Namun ada juga yang memulai pagi lebih dini yaitu pukul 02.00 atau 03.00 dengan beribadah shalat lail.

Pagi hari menjadi awal kesibukan dan kemacetan di jalan-jalan terutama di kota-kota besar. Sebagian manusia harus keluar rumah untuk memulai aktivitasnya. Baik, berangkat sekolah, mulai kerja, olah raga, belanja, semua tumpah ruah di jalanan pada pagi hari.

Doa Rasulullah Bagi Umatnya

Islam sebagai agama yang sempurna, sangat memperhatikan setiap detik waktu termasuk pagi hari. Banyak amalan yang dianjurkan ditunaikan pada pagi hari, baik dalam al-Qur’an dan Hadist. Salah satunya, pagi hari mendatangkan keberkahan.

Rasulullah SAW sendiri yang secara langsung mendoakan umatnya agar mendapatkan keberkahan di waktu pagi. Dan sudah pasti doa Rasulullah diijabah Allah SWT.

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya

Berkah (البركة) secara bahasa mempunyai beberapa makna. PertamaAl-Luzum (اللزوم) yakni sesuatu yang tetap dan bertahan. Sehingga mempunyai satu akar kata dengan Al-Birkah (البركة) yaitu danau atau kolam. Berkah diumpamakan dengan kolam tempat berkumpulnya air, maksudnya tetapnya kebaikan pada sesuatu tersebut.

Makna Kedua, berkah mempunyai makna An-Nama’ wa Ziyadah (النماء والزيادة) yaitu sesuatu yang tumbuh dan bertambah. Adapun tabrik adalah doa meminta berkah. Ketiga, berkah berati juga As-Sa’adah (السعادة) yaitu kebahagiaan. Maka segala sesuatu yang berkah adalah yang dapat mendatangkan kebahagian bagi pemiliknya. Keberkahan adalah kebaikan yang banyak

Keberkahan waktu dengan banyaknya amal shalih yang dapat dikerjakan, berkahnya ilmu dengan  mengamalkan dan menyebarkannya, berkahnya harta dengan sikap qana’ahnya, berkahnya anak dengan shalih dan berbaktinya mereka, berkahnya istri dengan shalihah, patuh taatnya kepada suaminya, serta dapat mentarbiyyah anaknya dengan baik dan seterusnya.

Doa Rasulullah tentu diperuntukkan bagi umatnya yang mengisi waktu paginya dengan ketaatan, ibadah dan amal sholeh. Bukan umat manusia yang masih tidur hingga siang hari, bukan juga bagi hamba yang mengisi pagi dengan tidur karena begadang seusai nonton bola atau main game. Tidak juga bagi orang-orang yang pagi hari sudah disibukkan dengan urusan dunia dan melalaikan kewajibannya sebagai hamba untuk shalat Shubuh.

Adakah yang lebih penting dari keberkahan dalam hidup ini? Seharusnya sebagai umat Islam yang mengakui Muhammad sebagai nabi, rasul, dan teladan maka harus mengejar dan semangat untuk mendapatkan bagian dari doa Rasulullah di pagi hari yaitu keberkahan. Mengejar keberkahan dengan menjalankan ketaatan yang diperintahkan Allah dan diteladankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Ketua DPD Hidayatullah Lingga Luncurkan Buku dan Workshop Menggali Warisan Budaya Lokal

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Lingga, M. Hamka Syaifuddin, baru saja meluncurkan buku karyanya dalam sebuah acara yang juga menyertakan workshop bertajuk “Eksplorasi Budaya Lokal Lingga Melalui Media Digital”, Sabtu, 23 Rabiul Akhir 1446 (26/10/2024).

Acara ini berlangsung di Aula SMAN 1 Lingga dan bertujuan menggali potensi para penulis muda di Kabupaten Lingga, sekaligus mempromosikan kekayaan budaya lokal melalui media digital.

Dalam sambutannya, Hamka menegaskan pentingnya peran literasi dan eksplorasi budaya lokal sebagai sarana untuk mendorong kreativitas generasi muda di Lingga.

“Kami ingin memberikan ruang bagi para pemuda untuk mengembangkan keterampilan menulis dan mengenal lebih dalam tentang budaya lokal melalui platform digital,” ujarnya.

Lingga, yang dikenal dengan julukan “Negeri Bunda Tanah Melayu,” memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan dan kebudayaan. Pada masa kejayaannya, Kesultanan Melayu Lingga menitikberatkan perhatian pada peningkatan kualitas pendidikan masyarakatnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil dalam bentuk pencapaian literasi yang tinggi dan pemeliharaan warisan budaya. Hamka mengungkapkan bahwa hingga kini masih dapat ditemukan karya-karya orisinal ulama Lingga yang tersimpan dengan baik sebagai bukti kemajuan literasi di masa lampau.

“Lingga zaman dulu tidak sekedar maju peradaban dan budayanya saja, tetapi juga di bidang literasi. Bukti nyata saat ini adalah masih adanya karya-karya ulama-ulama Lingga yang orisinal tersimpan dengan baik, sehingga sebagai generasi sekarang perlu kita gali kembali spirit itu untuk dijadikan pedoman,” paparnya.

Menurutnya, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mengenai pemahaman yang lebih dalam terhadap identitas dan warisan budaya. Dengan mengangkat kembali semangat literasi yang pernah tumbuh subur di Lingga, Hamka berharap generasi muda saat ini mampu menjadikannya sebagai pedoman dan inspirasi dalam pengembangan diri.

Memperkenalkan Budaya Lokal Melalui Media Digital

Workshop ini menghadirkan dua narasumber yaitu M. Fadlilah, seorang penulis buku dan pegiat sejarah serta budaya, dan Rahul Priambudi, seorang konten kreator muda dari Kabupaten Lingga.

Kedua narasumber memberikan pandangan tentang pentingnya media digital sebagai sarana untuk mendokumentasikan dan mempromosikan budaya lokal.

Dalam era digital, keduanya berpandangan, media sosial dan platform digital lainnya menjadi alat yang efektif untuk menjangkau khalayak luas dan memperkenalkan keunikan budaya daerah kepada dunia luar.

Peluncuran buku dan workshop ini dinilai merupakan langkah awal yang strategis untuk mendorong lahirnya penulis-penulis muda di Lingga yang mampu mengekspresikan ide dan gagasan mereka secara kreatif. Selain itu, acara ini diharapkan dapat memperkenalkan budaya lokal Lingga kepada masyarakat yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Inisiatif ini juga meneguhkan upaya bahwa literasi budaya lokal tidak hanya penting untuk dilestarikan, tetapi juga untuk dipromosikan secara aktif. Melalui media digital, kekayaan budaya Lingga dipandang bisa lebih mudah diakses oleh generasi muda yang sudah akrab dengan teknologi.

“Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen konten yang berkualitas, yang dapat mengangkat warisan budaya daerah ke kancah global,” imbuh Rahul .

Salah satu peserta workshop, Diva Najwa, menyatakan kepuasannya setelah mengikuti acara ini. “Saya merasa senang dapat belajar tentang penulisan dan bagaimana mengangkat budaya Lingga ke media digital,” katanya. Baginya, pelatihan semacam ini membekali generasi muda dengan keterampilan yang relevan di era digital.

Pendekatan ini diharapkan mampu memacu semangat generasi muda lainnya untuk berperan aktif dalam menjaga kekayaan budaya lokal yang merupakan bagian penting dari identitas bangsa. (ybh/hidayatullah.or.id)

Islam sebagai Jalan Hidup Melampaui Keyakinan Batin Menuju Pengamalan Nyata

0

ISLAM bukan agama kebatinan yang hanya sekedar pengakuan atau kepercayaan dalam hati. Berislam tidak cukup hanya dengan hati, istilahnya yang penting “eling” atau ingat.

Anehnya, orang-orang yang melaksanakan Islam dalam kebatinan dianggap punya kedudukan lebih tinggi dan mulia. Padahal Nabi Muhammad sebagai orang yang paling mulia tidak mencontohkan Islam dengan hanya kebatinan tapi harus dengan beramal dengan ibadah dan kesholehah.

Islam juga bukan hanya pemikiran. Artinya Islam bukan hanya untuk konsumsi otak, sekedar menjadi pengetahuan, sebab Islam bukan hanya ilmu atau islamologi.

Setelah mengkaji dan diskusi panjang tentang Islam bahkan tak jarang hingga larut malam, seharusnya masih ada tahapan berikutnya yaitu beramal.

Islam adalah agama amal. Artinya, Islam menuntut kepada umatnya untuk membuktikan keimanan, keislaman, dan pengetahuannya dengan beramal, berbuat, berperilaku sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah.

Iman  bukan  sekedar  meyakini  adanya  Allah  SwT  dengan  segala  keesaan-Nya,  tetapi  iman  juga  berkaitan  dengan  segala  kebajikan  yang  ada  di  muka  bumi  ini dengan beramal sholeh.

Setidaknya ada tiga ayat dalam al-Qur’an yang Allah mempertegas tentang pahala terbaik bagi orang-orang yang beramal adalah surga dengan ampunan, keridhoaan, dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.

أَو۟لَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (QS. Ali Imron: 136)

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَنُبَوِّئَنَّهُم مِّنَ ٱلْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal” (QS. Al Ankabut: 58)

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُۥ وَأَوْرَثَنَا ٱلْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ

“Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal” (QS. Az Zumar: 74)

Tiga ayat di atas, Allah menegaskan di setiap akhir ayat tentang nikmatnya pahala orang yang beramal yaitu surga dengan segala kenikmatannya. Nikmatnya beramal bukan pada sisi materi duniawi tapi sisi ruhiyah atau ruhani.

Bahkan, kenikmatan itu di sempurnakan di surga nanti. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat, didengar, dirasakan bahkan tidak bisa dibayangkan sama sekali selama di dunia.

Nikmatnya Islam itu dengan mengamalkan ajaran Islam. Nikmatnya shalat dengan melaksanakan shalat, nikmatnya al-Qur’an dengan membaca dan mengamalkan isinya, nikmatnya berdzikir ya dengan bedzikir, nikmatnya haji dan umrah dengan berangkat ke tanah suci. Nikmatnya berzakat, infak dan shadaqah juga dengan mengamalkannya secara konsisten.

Setinggi apapun ilmunya tentang shalat tapi jika tidak pernah shalat, atau hanya kadang-kadang saja shalat, maka tidak pernah merasakan nikmatnya shalat. Demikian ibadah-ibadah yang lain juga begitu, mengharuskan amal secara konsisten.

Beramal yang dimaksud di sini adalah yang sudah terlandasi oleh iman yang ikhlas karena Allah dan terbingkai dengan ilmu sebagaimana Rasulullah ajarkan. Itulah dua syarat mutlak harus dipenuhi untuk merasakan nikmat beramal. Adapun besarnya nikmat beramal selaras dengan tingkat kesulitan, tantangan, dan godaannya yang berat.

Bukan amal seperti rutinitas, kebiasaan atau amal seremonial yang sepi dari makna. Terkadang banyak orang beramal tapi sekedar ritual mengikuti orang-orang terdahulu tapi tidak dilandasi dengan keimanan dan keilmuan yang memadai.

Kenikmatan surga memang tidak otomatis diberikan kepada orang-orang beramal ibadah ataupun beramal sholeh. Namun ada kebijakan Allah yaitu Rahmat Allah, sebagaimana Rasulullah sampaikan dalam sebuah hadist.

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (Muttafaqun ‘alaih. Dikeluarkan oleh Al Bukhari (5349) dan Muslim (2816) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Orang beriman harus meningkatkan doa dan mujahadahnya bukan pada orientasi nikmat-nikmat yang bersifat materi, uang, atau kekayaan. Memang itu juga penting, tapi doa dan mujahadah yang lebih berkelas dan keren yaitu doa mendapatkan Rahmat, ampunan, dan keberkahan hidup. Doa  diberikan kenikmatan dalam beramal, kenikmatan dalam ketaatan kepada Allah, kenikmatan dalam beribadah.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Khutbah Jum’at Wasekjend DPP Hidayatullah Tandai Penggunaan Kembali Masjid Ummul Qura Depok Pasca Renovasi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Masjid Ummul Qura Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, resmi digunakan kembali setelah mengalami renovasi dan perluasan yang memakan waktu kurang lebih 2 tahun yang ditandai dengan pelaksanaan shalat Jum’at yang menghadirkan khatib Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghaffar Hadi, S.Pd.I, M.Pd.I, Jum’at, 22 Rabiul Akhir 1446 (25/10/2024).

Setelah melalui proses renovasi dan pengembangan konstruksi yang signifikan, Masjid Ummul Qura siap digunakan sebagai pusat kegiatan ibadah dan dakwah bagi para santri serta masyarakat sekitar. Renovasi yang telah mengubah masjid menjadi bangunan berlantai dua ini, membawa atmosfer baru yang penuh harapan bagi umat Islam di sekitarnya.

Penggunaan resmi kembali masjid ini dilaksanakan pada hari Jumat siang, ditandai dengan shalat Jumat pertama. Suasana terasa khidmat saat suara adzan berkumandang, yang pada kesempatan itu dikumandangkan dengan syahdu oleh Rajaie Rasyiduddin, seorang santri kelas XII dari pondok tersebut.

Suasana pun semakin sakral ketika Ustadz Abdul Ghaffar Hadi, naik mimbar untuk menyampaikan khutbah Jumat. Dalam khutbahnya, Ustadz Abdul Ghaffar menekankan pentingnya membangun dan memakmurkan masjid, baik dengan harta, tenaga, maupun doa.

“Orang yang membangun masjid akan dibangunkan kembali serupa oleh Allah di Jannah-Nya,” katanya yang mengutip hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Ustadz Abdul Ghaffar menjelaskan, membangun masjid memiliki nilai keutamaan yang besar dalam ajaran Islam, bahkan jika kontribusinya hanya berupa tambahan yang sangat kecil sekalipun.

Ulama menafsirkan hadis riwayat Ibnu Majah yang telah dibacakan itu bahwa seseorang yang menambahkan bagian kecil pada pembangunan masjid, meskipun ukurannya hanya seukuran tempat burung bertelur, akan tetap mendapatkan pahala yang sama seperti membangun keseluruhan masjid.

Kontribusi kecil ini mencakup segala bentuk tambahan yang diperlukan untuk menyempurnakan bangunan masjid, mulai dari batu bata hingga elemen-elemen lainnya.

Secara keseluruhan, kontribusi kecil dari banyak orang dapat menghasilkan sebuah masjid yang lengkap, yaitu bangunan yang menjadi tempat umat Islam melaksanakan ibadah shalat dan kegiatan keagamaan lainnya. Pembangunan masjid, dalam hal ini, bukan hanya soal ukuran fisik bangunan, tetapi makna spiritualnya sebagai rumah Allah yang akan selalu memfasilitasi peribadatan umat.

Ustadz Abdul Ghaffar juga mengisahkan sebuah cerita inspiratif mengenai Abu Bakar Ash Shiddiq. Suatu ketika, Abu Bakar bertanya kepada Aisyah tentang amalan Rasulullah yang belum pernah ia kerjakan.

Aisyah menjawab bahwa semua amalan Rasulullah sudah pernah Abu Bakar lakukan, kecuali satu: memberikan makanan kepada seorang pengemis Yahudi buta di sudut pasar Madinah. Kisah ini disampaikan dengan tujuan memotivasi para jamaah untuk terus berbuat baik, tidak hanya dalam lingkup ibadah tetapi juga dalam hal kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Setelah khutbah, para jamaah melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Suasana penuh keheningan dan ketenangan memenuhi ruangan masjid, dipimpin oleh Ust. Aminullah Al Hafidz, salah satu imam rawatib yang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dari Surat Ibrahim ayat 35-41 serta Surat Ad-Duha pada rakaat kedua.

Ratusan jamaah, terdiri dari para santri, asatidz, mahasiswa, warga, dan masyarakat sekitar, memenuhi masjid dengan semangat baru yang penuh syukur.

Setelah prosesi ibadah selesai, beberapa santri yang hadir turut memberikan kesan positif mereka mengenai masjid baru ini. Rajwal (16 tahun) dan Hisyam (16 tahun), dua santri dari Sekolah Pemimpin di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, dengan antusias menyampaikan rasa senang dan syukurnya.

“Saya sangat senang dengan masjid yang baru ini, suasananya juga berbeda dari sebelum renovasi,” kata Rajwal yang diamini rekannya.

Proses renovasi dan pengembangan masjid ini bukan hanya sekadar peningkatan fisik bangunan, tetapi juga sebuah langkah signifikan untuk mempersiapkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pendidikan, dan dakwah. Hal ini ditegaskan oleh Ust. Hafid Bahar, MM, Ketua Panitia Pembangunan Renovasi Masjid Ummul Qura.

“Kami bersyukur pada Allah, pada hari ini Masjid Ummul Qura mulai dipakai dan akan dipakai seterusnya. Masjid ini akan dipakai, insya Allah, sebagai pusat ibadah, pusat ubudiyah, pusat tarbiyah, bahkan pusat dakwah. Semoga cahaya masjid ini bisa menyinarkan untuk umat, para santri, dan lain sebagainya,” kata Ust. Hafid Bahar.

Ustadz Hafid juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung renovasi ini. “Terima kasih para donatur, muhsinin, dan muhsinat, yang telah menyumbangsih dalam pembangunan masjid ini, baik berupa ide/gagasan, maupun finansial. Baik yang terlibat langsung maupun yang tidak langsung,” tambahnya.

Pembangunan Masjid Ummul Qura di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ini tidak hanya menjadi simbol kemegahan arsitektur, tetapi juga lambang persatuan dan kesinambungan dakwah dan pendidikan Islam.

Dalam lingkup pondok pesantren, masjid selalu menjadi pusat kegiatan utama, tempat para santri mendapatkan pendidikan agama yang mendalam dan mempraktikkan ajaran Islam dalam kesehariannya.

Oleh karena itu, renovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas bangunan fisik, tetapi juga mempertegas komitmen pondok pesantren untuk terus mendidik generasi yang taat beragama, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat luas.

(Laporan dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Membangun Kepercayaan Umat Melalui Literasi Program yang Berkualitas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperkuat dan memperdalam kepercayaan umat terhadap program-program Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Master Class Empowerment Training diadakan di Jakarta pada tanggal 21-22 Rabiul Akhir 1446/ 24-25 Oktober 2024.

Acara ini mengangkat tema “8 Step To Create High Value & Impactful Program” dan dihadiri oleh para utusan amil dari berbagai kantor perwakilan penjuru Indonesia.

Program ini dirancang untuk membekali para amil Prodaya (Program dan Pemberdayaan) BMH dengan keterampilan menyusun program yang bernilai serta memiliki dampak yang besar dan terukur bagi masyarakat.

Dalam salah satu sesi pada rangkaian pelatihan ini, Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat, hadir sebagai narasumber yang membahas topik literasi program zakat. Dia menggarisbawahi pentingnya keterampilan menulis bagi para amil.

Nawawi menekankan bahwa menulis bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan sebuah alat strategis dalam membangun kepercayaan umat yang menjadi landasan utama keberlanjutan program-program BMH.

“Menulis, termasuk dalam bentuk berita, adalah cara kita melaporkan implementasi program yang didukung oleh umat. Pemberitaan yang baik dapat mendorong donatur untuk terus berkontribusi dan memperkuat loyalitas mereka terhadap program yang kita tawarkan,” kata Nawawi, seperti pada keterangan diterima media ini, Jum’at, 22 Rabiul Akhir 1446 (25/10/2024).

Selain aspek keterampilan, Nawawi juga menekankan pentingnya transparansi dalam pemberitaan yang disampaikan kepada umat. Berita program yang jujur dan transparan akan memperkuat kepercayaan donatur, yang pada akhirnya dapat meningkatkan retensi dukungan mereka.

Transparansi ini dijelaskan dia menjadi unsur krusial dalam era di mana publik menuntut akuntabilitas yang tinggi dari lembaga-lembaga sosial. Oleh sebab itu, tegasnya, pelatihan keterampilan menulis untuk para amil BMH menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat citra dan kredibilitas lembaga.

Salah seorang peserta pelatihan, Ali Imron, seorang amil dari Palu, Sulawesi Tengah, mengaku bahwa pelatihan ini memberinya dorongan untuk lebih bersemangat dalam mengirimkan berita yang berdampak positif bagi BMH.

“Saya bertekad untuk menghasilkan tulisan yang lebih bermakna,” ujarnya.

Senada dengan Imron, dalam sharing session bersama narasumber, Bashori peserta dari Sulawesi Selatan menyampaikan komitmennya seraya menukaskan bahwa keberhasilan BMH dalam membina hubungan dengan donatur juga tergantung pada kelengkapan dan akurasi informasi yang disampaikan.

“Saya ingin memastikan bahwa umat mendapatkan informasi yang lengkap dan terpercaya tentang program yang kami jalankan, karena memang benar, berita adalah sarana terbaik untuk menjadikan umat tahu apa yang BMH lakukan dalam hal implementasi program,” tekad Bashori.

Di tengah dinamika sosial yang menuntut peningkatan transparansi dan akuntabilitas lembaga sosial, inisiatif BMH ini mencerminkan komitmen kuat terhadap tanggung jawab moral dan profesional sebagai lembaga yang terpercaya di mata umat.

Dengan pelatihan keterampilan menulis ini, BMH berharap agar para amil Prodaya dapat lebih optimal dalam menyajikan laporan program yang kredibel, relevan, dan inspiratif, yang pada akhirnya mendukung misi sosial BMH dalam pemberdayaan masyarakat di seluruh Indonesia.*/Herim

Kegiatan DMW Jatim Langkah Membangun Peradaban Melalui Transformasi Jatidiri

0

GRESIK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur (Jatim) sukses selenggarakan program latihan kaderisasi Daurah Marhalah Wustho (DMW) bertema “Transformasi Jatidiri Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam”. Acara yang berlangsung pada 14-17 Rabiul Akhir 1446 / 17-20 Oktober 2024 di Gresik, Jawa Timur, ini diikuti oleh kader dan utusan dai dari berbagai daerah di Jatim dalam rangka memperkuat keilmuan islam, dakwah, dan wawasan nusantara di kalangan anggotanya.

Kegiatan ini dinilai merupakan langkah strategis yang sangat relevan bagi Hidayatullah untuk menjawab tantangan dakwah dalam konteks modern Indonesia. Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Shaleh Usman, menekankan pentingnya acara ini sebagai sarana membentuk kader yang bijaksana dan responsif.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para kader dan dai bisa memperdalam pemahaman mereka tentang organisasi dan kebangsaan, sehingga mereka mampu menjalankan dakwah dengan lebih bijaksana dan efektif di masyarakat,” ujar Shaleh Usman.

Dia menyampaikan, peran Hidayatullah dalam menyebarkan dakwah dan membangun peradaban Islam ini tidak hanya mencakup penguatan spiritual individu, tetapi juga penguatan komunal dalam bingkai keorganisasian yang terstruktur.

Berbagai materi dan pelatihan yang disampaikan dalam daurah ini bertujuan memperkaya perspektif para kader mengenai peran mereka dalam pembangunan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, lanjut Shaleh, diharapkan setiap kader memiliki kapasitas untuk berkontribusi secara signifikan dalam mewujudkan misi besar organisasi, yaitu “Indonesia Emas 2045”.

Lebih jauh Shaleh menguraikan, bahwa transformasi ini bukan hanya berkaitan dengan individu, tetapi merupakan upaya kolektif untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan, di mana para dai dan kader menjadi agen transformasi di lapangan.

Daurah ini imbuh dia mempertegas komitmen Hidayatullah untuk melahirkan pemimpin yang tidak hanya cakap secara keilmuan, tetapi juga tangguh dalam prinsip keislaman dan kebangsaan.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) turut mendukung kegiatan ini sebagai wujud sinergi program dakwah dengan pemberdayaan umat melalui dana zakat dan sedekah dalam rangka mendukung berbagai program pendidikan dan dakwah pelayanan umat yang dilaksanakan.*/Herim

Merajut Masa Depan, Peran Vital Santri Membangun Negeri melalui Ilmu dan Kebaikan

0

PEKALONGAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam semarak peringatan Hari Santri Nasional pada 24 Oktober 2024, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kantor Perwakilan Pekalongan melangsungkan acara puncak perayaan dengan pembagian hadiah dan bingkisan untuk santri yatim dhuafa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan yang mengedepankan semangat berbagi dalam rangka membangun generasi santri yang unggul, berintegritas, dan memiliki kecintaan tinggi terhadap tanah air.

Santri, khususnya dari kalangan yatim dan dhuafa, sering kali menghadapi keterbatasan dalam akses pendidikan. Karena itu, acara yang diadakan oleh BMH ini sebagai upaya meneguhkan dukungan bagi santri dalam meringankan beban dan menginspirasi mereka untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu.

Seperti yang disampaikan Rijal, salah seorang santri penerima bantuan, “Dengan bantuan ini, saya merasa sangat terbantu dan semakin bersemangat dalam menuntut ilmu,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 22 Rabiul Akhir 1446 (25/10/2024).

Aziz Firmansyah dari BMH Pekalongan mengingatkan akan peran fundamental santri dalam membangun negeri ini. “Adek-adek santri harus terus semangat menjadi pelopor kebaikan. Santri adalah generasi penerus para kiyai dan ulama di negeri ini, dan jihad santri saat ini adalah menuntut ilmu sebaik dan sebanyak mungkin.”

Dia menegaskan pentingnya kontribusi santri dalam upaya melestarikan nilai-nilai perjuangan dan kebaikan yang telah diajarkan para ulama terdahulu. Tanggung jawab untuk memimpin dan menjaga keberlanjutan nilai luhur agama dan negara menjadi landasan kokoh bagi santri dalam melaksanakan jihad intelektual mereka.

Acara ini dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni santri, seperti pembacaan puisi, balas pantun, dan permainan sambung kata. Melalui seni, santri dapat mengembangkan kemampuan komunikasi dan kreativitas yang merupakan keterampilan penting dalam menghadapi tantangan modern. Seni menjadi alat untuk menanamkan nilai moral dan budaya, yang berperan penting dalam pendidikan karakter.

Pembagian bingkisan kepada santri yatim dhuafa dalam acara ini merupakan bagian dari program “Ekspedisi Kebaikan” yang diinisiasi oleh BMH. Program ini, jelas Aziz, menandakan bahwa kepedulian sosial terhadap kelompok marginal, khususnya yatim dhuafa, haruslah menjadi agenda prioritas.

Peringatan Hari Santri Nasional melalui kegiatan seperti ini, bagi Aziz, bukan hanya untuk merayakan eksistensi santri, melainkan juga untuk mengokohkan peran mereka sebagai pionir kebaikan yang terus mendorong transformasi sosial.

“Mereka diharapkan menjadi individu yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kepekaan sosial tinggi yang akan membawa perubahan nyata di masa depan,” imbuhnya menukaskan.*/Herim

Semarak Sanhida U-Fest HSN 2024 Hidayatullah Depok, Ada Pesan Penting dari Bunda Aisah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Acara puncak Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) kembali dirayakan dengan penuh semangat di Sekolah Pemimpin Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Selasa, 19 Rabiul Akhir 1446 (22/10/2024). Acara ini mengusung tema yang relevan dengan dinamika zaman, yaitu “Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan.”

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingat jasa para santri dan ulama dalam perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya melalui Resolusi Jihad yang diprakarsai oleh ulama besar Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari.

Dalam kesempatan tersebut, acara difokuskan tidak hanya pada perayaan semata, tetapi juga untuk mendorong para santri agar tetap bersemangat dalam berbagai kegiatan mereka.

Lebih dari sekadar perayaan seremonial, Sanhida U-Fest HSN 2024 menjadi momen penting bagi generasi muda santri untuk terus menyongsong masa depan dengan keyakinan akan pentingnya peran mereka dalam masyarakat dan agama.

Acara dimulai dengan penuh khidmat di Aula Sekolah Pemimpin Ma’had Hidayatullah Depok. Pembacaan kalam ilahi oleh Ahmad Aufa, santri kelas VIII SMP Integral Hidayatullah Depok, membuka jalannya acara.

Ahmad Aufa, yang juga merupakan juara dalam lomba Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) tingkat provinsi, menampilkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang menambah suasana penuh spiritualitas.

Setelah pembacaan kalam ilahi, acara dilanjutkan dengan penampilan lagu Hari Santri oleh santri kelas XI. Mars himne ini tidak hanya menambah kemeriahan acara, tetapi juga menggugah semangat para peserta untuk selalu mengingat pentingnya santri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Penampilan Seni dan Olahraga Santri

Tak hanya menampilkan sisi religius, peringatan Hari Santri di Hidayatullah Depok juga diwarnai dengan berbagai penampilan seni dan olahraga. Para santri SMP dan SMA mempersembahkan aksi bela diri Taekwondo yang memukau.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa santri Hidayatullah Depok tidak hanya unggul dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam pembentukan fisik dan karakter yang kuat. Sejalan dengan ajaran Islam, kesempurnaan seorang Muslim tercermin dari kecerdasan, akhlak, dan kekuatan fisik yang seimbang.

Acara juga diisi dengan pengumuman pemenang kompetisi Sanhida U-Fest HSN 2024, sebuah kompetisi antar-santri dalam rangka memeriahkan HSN, oleh Ust. Amin Fawaid.

Kompetisi yang dilombakan meliputi berbagai cabang lomba, baik dalam bidang agama, seni, maupun olahraga, yang diharapkan mampu mengasah kemampuan santri dalam berbagai bidang kehidupan.

Kepala Multimedia Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Makhfudzin, dalam kesempatan berbeda menyampaikan peringatan Hari Santri tahun ini juga menjadi kesempatan untuk menampilkan hasil karya kreatif para santri Hidayatullah Depok. Sebuah video hasil karya santri SMP dan SMA yang diproduksi secara mandiri ditayangkan. Videonya di sini.

“Karya santri ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya mampu menghafal kitab suci dan menjalankan ibadah, tetapi juga berkontribusi dalam bidang kreativitas dan teknologi,” kata Makhfudzin.

Pemutaran video ini menjadi simbol pentingnya kreativitas dan inovasi di kalangan santri. Dengan keterampilan di bidang media dan teknologi, terang Makhfudzin, para santri menunjukkan bahwa mereka siap merengkuh masa depan dengan bekal kemampuan yang relevan dengan tuntutan zaman.

Pesan Bunda Aisah

Di penghujung pembukaan acara puncak ini, Ustadz Hafid Bahar membacakan doa sebagai penutup sesi pertama. Doa tersebut menjadi ungkapan syukur atas kelancaran acara dan sebagai pengingat untuk selalu memohon perlindungan dan bimbingan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh Bunda Hj. Siti Aisah, yang dimoderatori oleh Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), Imam Nawawi, yang juga Kepala Humas BMH Pusat.

Dalam tausiyahnya, Bunda Aisah yang dikenal sebagai pengusaha sukses ini menekankan peran penting santri dalam kehidupan bangsa serta pentingnya peran pengusaha dalam Islam. Ia memberikan nasihat yang mendalam mengenai pentingnya usaha dan akhlak yang mulia.

“Cita-cita itu harus diwujudkan dengan usaha dan kerja keras. Kalau hanya sekadar berkata, ‘aku ingin,’ namun tidak disertai dengan tindakan nyata, itu hanya omong kosong saja,” ujar Bunda Hj. Siti Aisah.

Bunda Hj. Siti Aisah menegaskan bahwa dalam Islam, amal dan usaha merupakan bagian tak terpisahkan dari proses mencapai tujuan hidup yang baik dan mulia.

Lebih lanjut, Bunda Aisah juga memberikan pandangan mengenai kehidupan pengusaha dalam Islam. Menurutnya, “Hidup kita itu harus diatur. Pengusaha itu lebih banyak aturannya daripada karyawan. Jika tidak mau hidup kita diatur, maka hidup kita akan berantakan.”

Bunda Aisah yang juga Advisory Board Vanilla Hijab ini menekankan pentingnya adab dan ilmu dalam kehidupan. “Akhlak tanpa adab itu kurang, apalagi adab tanpa ilmu, itu sangat kurang sekali,” katanya berpesan kepada ratusan santri yang memadai aula utama gedung Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok ini.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 300 peserta, yang terdiri dari santri SMP dan SMA putra-putri, serta para guru dan ustadz-ustadzah. Selain itu, pemenang lomba dari kompetisi Sanhida U Fest juga turut hadir sebagai tamu kehormatan. Rangkaian acara ini bisa Anda tonton di siaran live steaming channel Hidayatullah Depok, atau, klik di sini.

(Laporan dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Merengkuh Berkah Bahagia dalam Keterpaduan Iman dan Amal Kita

0

ULAMA Ahlussunnah telah melakukan ijma’ atau kesepakatan bahwa definisi iman adalah keyakinan, ucapan, dan amal. Keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amal dengan perbuatan.

Imam Syafi’i –rahimahullah- berkata: “Dan konsensus dari para sahabat dan para tabi’in dan siapa saja setelah mereka, dan orang-orang yang telah kami kenal, mereka berkata: “Iman itu, ucapan, amal dan niat, tidak sempurna satu dari ketiganya kecuali dengan yang lainnya”. Selesai. (Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al Lalikai: 5/956 nomor: 1593, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyah: 7/209)

Beriman  dan  beramal  shaleh  merupakan  satu  kesatuan  yang  tidak  dapat  dipisahkan  antara keduanya.  Ketiadaan salah satunya menjadikan tidak ada artinya yang lain. Iman akan mendorong orang untuk beramal sholeh dan tidak dinilai amal sholeh yang dikerjakan tanpa landasan iman.

Jika iman tanpa amal sholeh, sebenarnya bukan iman tapi hanya pengakuan iman atau pengetahuan tentang iman tapi belum diakui keimanannya. Mungkin bisa dikatakan “Seperti orang beriman, mirip-mirip orang beriman, pura-pura beriman, iman formalitas atau iman impoten (tak berdaya).”

Jika beramal sholeh tanpa dilandasi oleh iman maka tidak bernilai di hadapan Allah. Mungkin dinilai perbuatan baik menurut pandangan manusia biasa, tapi tidak bernilai pahala dan tidak berbuah surga.

Iman yang benar pasti melahirkan kebahagiaan dan mendorong beramal untuk bergerak melakukan amal kebaikan, baik amal ibadah kepada Allah dan amal sholeh kepada sesama manusia. Sebab iman adalah keyakinan terhadap sebuah kebenaran dan kebaikan yang pasti membawa kepada keselamatan dunia akherat.

Keyakinan tersebut secara otomatis memotivasi dan menggerakan dirinya untuk mengamalkan keimanannya, bahkan mengajak dan memperjuangkan keimanannya dengan segala konsekwensi atau resikonya.

Bahkan, orang beriman akan merasa rugi atau ada rasa bersalah jika tidak mengajak orang lain untuk beriman. Mengajak orang lain dalam keimanan adalah bagian dari amal iman. Jadi iman tidak mungkin hanya diam atau hanya dalam pemahaman dan pengakuan saja.

Demikian juga amal sholeh itu buah dari iman, tidak mungkin tumbuh kesadaran untuk beramal sholeh secara konsisten jika tidak didasari oleh iman yang kuat. Amal sholeh tanpa keimanan akan rapuh, hambar dan mudah layu. Karena dipastikan ada kepentingan yang tidak kekal dan tidak ada sandaran yang kuat.

Amal sholeh tanpa iman akan sia-sia dan tidak bernilai sama sekali di hadapan Allah seperti debu yang berterbangan. Sebagaimana Allah firmankan dalam surat Furqan ayat 23:

وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

Artinya: Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

Seorang  mukmin  yang  ingin  hidupnya  baik  haruslah  beriman  dan  beramal  shalih.  Dua syarat amal  shalih diterima oleh Allah adalah  amal  yang  sesuai  dengan  perintah  Allah  SwT  dan  sesuai  dengan  tuntunan  Nabi  Muhammad  ﷺ. 

Amal  ibadah  tidak  akan  diterima  melainkan  sesuai  dengan  apa  yang  dituntunkan  Rasulullah  ﷺ.  Bahkan  amalan-amalan  yang  dikerjakan  tanpa  adanya  petunjuk  dari  Rasulullah  ﷺ  akan  membuat  pelakunya  semakin  jauh  dari  Allah.

Ibnu  Rajab  Al-Hambali  mengatakan;  ‘’Sebagaimana  halnya  bahwa  setiap  amal  yang  tidak  diniatkan  karena  wajah  Allah  SwT  maka  pelakunya  tidak  mendapatkan  pahala,  maka  demikian  pula  setiap  amalan  yang  bukan  perintah  Allah  dan  Rasul-Nya  adalah  tertolak  atas  pelakunya,  dan  setiap  orang  yang  mengada-ada  dalam  urusan  agama  yang  tidak  diperkenankan  Allah  dan  Rasul-Nya  maka  itu  bukan  termasuk  agama  sedikit  pun.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Iman  tanpa  amal  itu  hampa  sedangkan  amal  tanpa  iman  itu percuma.  Iman  adalah  fondasi  sedangkan  amal  adalah  implementasi. Tidak mungkin iman dan amal dipisahkan, tidak mungkin iman tanpa amal dan dipastikan itu bukan iman tapi baru pengakuan. Sebaliknya amal tanpa didasari oleh iman maka terhitung sia-sia atau nihil nilai di hadapan Allah.

Iman  dan  amal  shalih  merupakan  syarat  pokok  untuk  mewujudkan  kehidupan  yang  baik,  dan  keduanya  menjadi  modal  utama  bagi  setiap  muslim. 

Ketika keduanya menyatu secara padu dan konsisten maka Allah akan memberikan balasan pahala yang luar biasa. Sebagaimana di banyak ayat  Al-Qur’an, di antaranya:

وَاَ مَّا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  وَعَمِلُوا  الصّٰلِحٰتِ  فَيُوَفِّيْهِمْ  اُجُوْرَهُمْ  ۗ وَ  اللّٰهُ  لَا  يُحِبُّ  الظّٰلِمِيْنَ

“Dan  adapun  orang  yang  beriman  dan  melakukan  kebajikan,  maka  Dia  akan  memberikan  pahala  kepada  mereka  dengan  sempurna.  Dan  Allah  tidak  menyukai  orang  dzalim.”  (QS: Ali ‘Imran  [3]:  57)

اِنَّ  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  وَ  عَمِلُوا  الصّٰلِحٰتِ  يَهْدِيْهِمْ  رَبُّهُمْ  بِاِ يْمَا نِهِمْ  ۚ تَجْرِ يْ  مِنْ  تَحْتِهِمُ  الْاَ نْهٰرُ  فِيْ  جَنّٰتِ  النَّعِيْمِ

“Sesungguhnya  orang-orang  yang  beriman  dan  mengerjakan  kebajikan,  niscaya  diberi  petunjuk  oleh  Tuhan  karena  keimanannya.  Mereka  di  dalam  surga  yang  penuh  kenikmatan,  mengalir  di  bawahnya  sungai-sungai.”  (QS: Yunus  [10]:  9)

Luar biasa dan tidak tanggung-tanggung Allah memberikan balasan kepada orang beriman dan beramal sholeh. Inilah yang menjadi motivasi besar bagi orang yang benar-benar beriman, inilah yang mendorong untuk mengaktualisasikan keimanannya dalam bentuk amal sholeh.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah