Beranda blog Halaman 157

Ukhuwah Islamiyah sebagai Modal Pembangunan Umat, Agama dan Bangsa

0

PERSAUDARAAN Islam atau ukhuwah Islamiyah telah lama menjadi fondasi penting dalam sejarah umat Muslim. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, ukhuwah di-highlight sebagai ikatan spiritual yang kokoh, melampaui batasan geografis, suku, dan bahasa. Ini adalah bentuk persaudaraan yang bersifat transnasional dan menyatukan seluruh umat Islam di bawah payung keyakinan yang sama.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks hari hari ini, ukhuwah Islamiyah berperan sebagai kekuatan riil yang mampu menjadi modal penting dalam membangun umat, agama, bangsa, dan negara kita.

Pada acara Halaqah Kubra Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Barat, dan Banten yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Qur’an Hidayaturrahman (PQH), Caringin, Ciawi, Bogor pada Ahad pagi, 11 Rabi’ul Awal 1446 H (15/9/2024), Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurahman Muhammad, menegaskan bahwa “kekuatan kita yang paling riil adalah ukhuwah.”

Pernyataan beliau ini menyiratkan pentingnya menjaga persatuan di antara umat Muslim sebagai modal utama dalam membangun kekuatan yang utuh, baik di ranah agama maupun kebangsaan.

Dasar dari Kekuatan Umat

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat: 10).

Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan di antara orang beriman merupakan perintah Allah, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah adalah bagian dari ketaatan kepada-Nya. Dalam konteks ini, ukhuwah Islamiyah tidak hanya berfungsi sebagai kohesi sosial, tetapi juga sebagai penguat moral dan spiritual umat Islam.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، م َثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Hadis Rasulullah SAW di atas juga menegaskan pentingnya ukhuwah. Beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan simpati mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dan demam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan yang saling terhubung secara emosional dan spiritual. Ketika satu bagian umat mengalami kesulitan, bagian lainnya harus turut membantu dan merasakan penderitaan tersebut. Prinsip inilah yang menjadi landasan penting bagi pembangunan umat dan bangsa.

Selain sebagai konsep keagamaan, ukhuwah juga berperan penting dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan. Di Indonesia, di mana keberagaman etnis, budaya, dan agama sangat tinggi, ukhuwah Islamiyah dapat menjadi jembatan yang menghubungkan umat Islam dengan komponen-komponen bangsa lainnya.

Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurahman Muhammad, menekankan bahwa kekuatan ukhuwah Islamiyah adalah modal sosial yang nyata bagi umat Islam. Di tengah tantangan modernisasi, globalisasi, dan masalah-masalah sosial lainnya, ukhuwah Islamiyah dapat menjadi penopang persatuan nasional. Ungkapan singkat beliau itu menegaskan bahwa persaudaraan adalah kunci dari kesatuan umat, yang pada gilirannya akan mendukung stabilitas bangsa dan negara.

Dalam konteks pembangunan negara, ukhuwah Islamiyah memberikan kontribusi besar melalui semangat gotong royong, solidaritas, dan rasa kebersamaan di kalangan umat Islam. Kebersamaan ini penting dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial-ekonomi yang semakin kompleks.

Solidaritas Islam juga telah terbukti memainkan peran besar dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, di mana tokoh-tokoh Muslim seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Hasyim Asy’ari menggalang kekuatan umat Islam untuk melawan penjajahan dengan semangat ukhuwah.

Pentingnya Ukhuwah

Al-Qur’an dan Hadis berulang kali menekankan pentingnya ukhuwah sebagai fondasi bagi kehidupan umat. Selain ayat yang telah disebutkan dalam QS. Al-Hujurat: 10, Al-Qur’an juga menyebutkan:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran: 103).

Ayat ini menggambarkan bagaimana umat Islam diikat oleh persaudaraan yang dilandasi oleh keimanan dan ketaatan kepada Allah. Tanpa ukhuwah, umat akan tercerai-berai dan lemah, sebagaimana yang terjadi pada masa sebelum Islam datang. Persaudaraan ini harus dipelihara dan diperkuat agar umat Islam tetap bersatu dalam menghadapi berbagai tantangan.

Hadis Rasulullah SAW juga banyak memberikan nasihat mengenai pentingnya menjaga persaudaraan. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.

Wejangan nabi kita ini menekankan bahwa iman seorang Muslim tidak sempurna kecuali jika dia memiliki cinta dan kepedulian yang tulus terhadap saudaranya. Ini adalah esensi dari ukhuwah, di mana setiap individu Muslim merasa terhubung dan bertanggung jawab satu sama lain.

Pada era modern seperti sekarang ini, umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan, baik di tingkat global maupun nasional. Konflik internal, perpecahan, dan lemahnya solidaritas sosial sering kali menjadi penghambat dalam pembangunan umat. Oleh karena itu, ukhuwah Islamiyah harus dijadikan sebagai solusi utama untuk mengatasi masalah-masalah ini.

Perasan spirit bahwa ukhuwah sebagai kekuatan riil menunjukkan bahwa persatuan di antara umat Islam adalah kunci untuk menghadapi berbagai krisis, baik itu krisis sosial, politik, maupun ekonomi. Dalam konteks Indonesia, di mana umat Islam merupakan mayoritas, ukhuwah Islamiyah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial dan nasional.

Ukhuwah juga relevan dalam konteks global, di mana umat Islam tersebar di berbagai negara dan menghadapi tantangan-tantangan yang berbeda. Dengan memperkuat ukhuwah, umat Islam dapat membangun solidaritas internasional yang lebih kuat, saling mendukung dalam menghadapi ketidakadilan, penindasan, dan tantangan-tantangan lainnya.

Modal Membangun Bangsa

Selain menjadi modal spiritual, ukhuwah Islamiyah juga memiliki dampak langsung dalam pembangunan bangsa. Ketika umat Islam bersatu, mereka dapat berkontribusi secara lebih efektif dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial. Ukhuwah mendorong munculnya rasa tanggung jawab kolektif untuk memajukan umat dan bangsa.

Dalam pada itu, ukhuwah Islamiyah dapat menjadi kekuatan penggerak bagi pembangunan yang berkelanjutan. Solidaritas di antara umat Islam akan memunculkan semangat gotong royong, yang pada gilirannya akan mempercepat proses pembangunan di berbagai sektor.

Misalnya, dalam bidang pendidikan, ukhuwah dapat mendorong kolaborasi antarlembaga pendidikan Islam untuk meningkatkan kualitas pendidikan umat. Di bidang ekonomi, ukhuwah dapat menggerakkan penguatan ekonomi umat melalui kerja sama bisnis syariah, koperasi, dan pengembangan wirausaha Muslim.

Ukhuwah Islamiyah bukan hanya konsep spiritual yang abstrak, tetapi merupakan kekuatan nyata yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan umat, agama, bangsa, dan negara. Seperti yang ditegaskan oleh KH Abdurahman Muhammad dalam Halaqah Kubra di Ciawi, Bogor, ukhuwah adalah kekuatan riil yang harus dijaga dan diperkuat oleh umat Islam.

Dengan menjadikan ukhuwah sebagai modal utama, umat Islam dapat menghadapi berbagai tantangan zaman, baik di tingkat lokal maupun global. Persaudaraan Islam yang kuat akan menjadi fondasi bagi persatuan umat, yang pada gilirannya akan mendukung pembangunan bangsa dan negara yang lebih baik.

Ukhuwah juga akan menguatkan hubungan antarumat, mengurangi perpecahan, dan meningkatkan solidaritas sosial. Inilah yang akan membawa umat Islam menuju kejayaan dan keberkahan, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Kaltim Komitmen Terus Kembangkan Dakwah dan Tarbiyah

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah terus berkomitmen dalam mengembangkan dakwah dan tarbiyah di Kalimantan Timur (Kaltim). Hal ini ditegaskan oleh Ketua Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Kaltim, Zulfahmi, dalam pidatonya pada acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur yang berlangsung di Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Samarinda, yang digelar selama 2 hari dibuka pada Jum’at, 23 Rabi’ul Awal 1446 (27/9/2024).

Dalam sambutannya, Zulfahmi mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian organisasi Pemuda Hidayatullah yang kini telah hadir di sepuluh titik kota dan kabupaten di Kalimantan Timur.

“Alhamdulillah saat ini Pemuda Hidayatullah sudah berada di 10 titik kota dan kabupaten di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran Pemuda Hidayatullah di berbagai daerah ini mencerminkan kuatnya tekad para pemuda dalam menyebarkan dakwah dan memperkokoh syiar Islam.

Sebagai organisasi yang berada di bawah naungan Hidayatullah, Zulfahmi menegaskan bahwa Pemuda Hidayatullah memiliki visi besar untuk membangun peradaban Islam di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur.

“Sebagai organisasi pendukung dari Hidayatullah yang memiliki visi membangun peradaban Islam, gerakan Pemuda Hidayatullah fokus pada kegiatan tarbiyah dan dakwah yang menyasar kalangan muda,” jelas Zulfahmi.

Lebih lanjut, Zulfahmi memaparkan berbagai program yang menjadi fokus utama organisasi. Salah satu kegiatan yang terus didorong adalah program pengajaran Al-Qur’an, di mana para pemuda Hidayatullah dilibatkan secara aktif untuk mengajar mengaji kepada masyarakat.

Program Pemuda Mengaji ini terang Zulfahmi diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat akhlak mulia di kalangan generasi muda.

Selain itu, program Gerakan Bersih-Bersih Masjid atau Geber Masjid juga menjadi salah satu inisiatif unggulan Pemuda Hidayatullah. Kegiatan ini dilakukan secara rutin di berbagai masjid di Kalimantan Timur, dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan rumah Allah.

“Kebersihan adalah bagian dari iman, dan melalui Gerakan Bersih-Bersih Masjid, kita berharap dapat mengajak para pemuda untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dengan menjadi pemakmur bumi dan pemakmur masjid sekaligus,” kata Zulfahmi dalam keterangannya kepada media ini.

Tidak hanya fokus pada kegiatan keagamaan, Pemuda Hidayatullah juga menyiapkan para pemuda untuk menjadi pemimpin masa depan melalui Leadership Training Center (LTC).

Zulfahmi menyampaikan bahwa LTC dirancang untuk membekali pemuda dengan keterampilan kepemimpinan yang Islami, sehingga mereka mampu menjadi agen perubahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

“Kita membutuhkan pemimpin muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral yang kuat. Melalui LTC, kami ingin mencetak generasi pemimpin yang berakhlakul karimah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Zulfahmi juga mengumumkan pencapaian terbaru Pemuda Hidayatullah di tahun 2024, yaitu pendirian Pesantren Mahasiswa Dai (Pesma Dai) di Samarinda.

“Tahun ini, Alhamdulillah, Pemuda Hidayatullah telah mendirikan Pesantren Mahasiswa Dai (Pesma Dai) di Samarinda. Wadah ini dihadirkan dalam rangka mencetak dai-dai muda dari kalangan mahasiswa” ungkapnya.

Menurut Zulfahmi, pendirian Pesma Dai ini merupakan langkah strategis dalam rangka menjawab kebutuhan akan dai-dai muda yang siap terjun ke masyarakat.

Kita memerlukan dai yang tidak hanya paham tentang ilmu agama, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik dan memahami tantangan zaman.

“Dengan adanya Pesma Dai, kita berharap dapat mencetak dai yang mampu membawa pesan-pesan Islam dengan cara yang relevan bagi generasi muda,” tambahnya.

Acara Rakerwil II Pemuda Hidayatullah Kaltim ini dihadiri oleh puluhan kader Pemuda Hidayatullah dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Zulfahmi menyampaikan harapan agar Pemuda Hidayatullah terus berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara melalui dakwah dan pendidikan.

“Kami ingin Pemuda Hidayatullah menjadi garda terdepan dalam membangun peradaban Islam di Indonesia. Dengan semangat tarbiyah, dakwah, dan pengabdian, InsyaAllah kita akan mampu mewujudkan visi besar ini,” pungkasnya.

Selain membahas program-program kerja untuk tahun mendatang, Rakerwil juga menjadi ajang untuk memperkuat silaturahmi antaranggota dan memperkuat sinergi dalam menjalankan misi dakwah di wilayah ini.

Diskusi yang berlangsung dinamis menghasilkan berbagai gagasan inovatif, diharapkan mampu membawa dampak positif bagi kemajuan organisasi dan masyarakat Kalimantan Timur secara umum.*/Mukahfi

Muslimat Hidayatullah Peringati Hari Solidaritas Jilbab Sedunia di Bekasi

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kabupaten Bekasi memperingati Hari Solidaritas Jilbab Sedunia (HSJD) yang merupakan agenda tahunan Pengurus Pusat Mushida beberapa waktu lalu, Ahad, 25 Rabi’ul Awal 1446 (29/9/2024).

Kegiatan yang berlokasi di depan Rainbow Alamanda Regensi Bekasi pada ini dihadiri oleh muslimah dari berbagai kalangan yang berpartisipasi aktif dalam pembagian jilbab dan berbagai atribut Islami lainnya, seperti masker, gamis, kaos kaki, dan mushaf Al-Qur’an , kepada masyarakat umum.

“Kegiatan ini adalah bentuk dukungan dan syiar kepada masyarakat mengenai jilbab sebagai identitas seorang muslimah yang taat kepada hukum-hukum Islam dengan kesadaran penuh, bukan karena paksaan atau sekadar mengikuti tren,” ucap Ustadzah Sarah Zakiyah, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Mushida.

Ia menyebutkan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensyiarkan pentingnya berhijab bagi muslimah dari semua kalangan.

Kegiatan HSJD ini mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Para peserta dan penerima manfaat merasakan kebahagiaan, baik yang terlibat langsung dalam kegiatan maupun yang menjadi pendukung di belakang layar.

Namun, tingginya antusiasme masyarakat membuat barang-barang terutama mushaf Al-Qur’an yang dibagikan cepat habis, mengingat stok yang terbatas.

“Alhamdulillah, Kami sangat bersyukur melihat antusiasme masyarakat. Semoga kedepannya lebih banyak lagi donatur dan muhsinin yang berpartisipasi, agar kegiatan ini dapat terus berlangsung dan memberi manfaat yang lebih luas,” imbuhnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi dapat dilakukan lebih sering mengingat kebutuhan masyarakat yang sangat besar.

“Program seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Semoga semakin banyak pihak yang berpartisipasi serta semakin banyak yang terkumpul untuk dipublikasikan,” tutupnya.

Selain itu, acara ini juga bertepatan dengan halaqah gabungan Mushida yang berisi kajian oleh Ustadz MD Karyadi, LC, S.Pd.I. Bertempat di Masjid Baitul Makmur Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi Putri Bekasi dalam materinya, ia menyampaikan pesan spiritual tentang cinta dalam Islam.

“Semoga Allah menjadikan kita perantara untuk berbagi cinta-Nya kepada sesama makhluk-Nya. Karena sejatinya kita tercipta dengan cinta-Nya,” katanya.

“Bagi-bagi jilbab adalah di antara bentuk berbagi cinta. Mungkin ada yang ingin berjilbab tapi tidak mampu membeli atau sudah berjilbab tapi belum sesuai syar’i. Siapa yang mencintai pasti bahagia dan membahagiakan orang lain,” terang Karyadi.

“Sumber kerusakan lingkungan dan ketidaknyamanan hidup sejatinya karena ketiadaan cinta pada diri seseorang,” imbuh Karyadi. Karyadi menekankan pentingnya menumbuhkan cinta kepada Allah dan sesama manusia sebagai dasar kebahagiaan dan keharmonisan dalam hidup.

Hari Solidaritas Jilbab Sedunia ini bukan hanya menjadi ajang berbagi secara materi, tetapi juga momentum untuk mempererat ukhuwah dan memperkuat syiar Islam dengan cinta di Kabupaten Bekasi, terutama dalam hal komitmen berhijab sebagai identitas muslimah yang taat dan berakhlak mulia.*/Arsyis Musyahadah

Khidmat Peresmian Masjid Cheng Ho di Karo, Dibangun Kerjasama Hidayatullah dengan PITI

0

KARO (Hidayatullah.or.id) — Kapolresta Kabupaten Karo, AKBP Eko Yulianto, SH., S.Ik., MM., meresmikan Masjid Cheng Ho, sebuah masjid baru yang berdiri megah dengan perpaduan arsitektur Tiongkok dan ornamen Islam di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), Ahad, 25 Rabi’ul Awal 1446 (29/9/2024).

Acara peresmian ini berlangsung dengan khidmat, disaksikan oleh para tokoh masyarakat, pejabat setempat, serta ratusan warga.

Masjid yang dibangun atas inisiatif dr. Syahrial Mahal Purba ini berlokasi di kawasan Brastagi. Syahrial, yang juga pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Karo, bekerja sama dengan Hidayatullah dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) untuk merenovasi sebuah rumah menjadi masjid dengan desain yang unik dan khas.

Dalam sambutannya, Kapolresta Karo, AKBP Eko Yulianto, menekankan pentingnya masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pusat pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan.

“Masjid merupakan sarana yang fundamental untuk membentuk karakter beriman dan bertaqwa (Imtaq). Keberadaan masjid sangat krusial, tidak hanya untuk ibadah tetapi juga untuk pendidikan Islam dan kegiatan sosial,” ujarnya.

Dr. Syahrial Purba, selaku wakif dan Ketua Panitia Pembangunan, menambahkan bahwa masjid ini diharapkan menjadi pusat kajian Islam yang mendalam, sekaligus menjadi wadah silaturahmi umat.

“Masjid ini terbuka bagi siapa saja, baik warga Brastagi maupun para musafir, untuk beribadah, mengadakan pengajian, atau kegiatan lainnya,” katanya.

Sehingga dengan begitu, lanjut Syahrial, wawasan umat atau masyarakat tentang Islam menjadi lebih luas, memiki akhlak yang mulia serta menghadirkan suasana yang sejuk di tengah tengah masyarakat.

Acara peresmian masjid dirangkai dengan Tabligh Akbar yang dihadiri oleh sekitar 800 jamaah. Turut hadir dalam acara tersebut, pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Karo, perwakilan dari Kemenag Kabupaten Karo, Sugono, serta beberapa anggota DPR dan pemerintah setempat.

Peresmian Masjid Cheng Ho menjadi simbol sinergi antara berbagai elemen masyarakat, yang diharapkan dapat terus mempererat hubungan sosial dan spiritual di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Karo.*/Khoirul Anam

Jejak Prestasi Ahmad Aufa Ditengah Keseharian sebagai Santri Ponpes Hidayatullah Depok

0

SORE hari di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, begitu damai. Sehabis menunaikan shalat Asar berjamaah dan dzikir sore At-Tawajjuhat bersama santri lainnya, Ahmad Aufa bergegas kembali ke asramanya. Di sana, dia bersiap untuk kegiatan rutinnya yang lain.

Dengan sigap, Aufa mengenakan celana panjang tracksuit hitam dan kaos senada, dia bersiap untuk beraktifitas di sore hari yang cerah itu.

“Mau olahraga dulu,” katanya ringan, dengan senyum yang selalu mengiringi, seperti yang diungkapkannya kepada media ini beberapa waktu lalu.

Sosok remaja ini terlihat begitu penuh semangat. Usai melakukan pemanasan ringan, Aufa mulai berlari kecil mengelilingi area pesantren. Tak sendirian, beberapa temannya juga melakukan aktivitas serupa—ada yang berlari, ada pula yang berlatih baris-berbaris.

Di sudut-sudut lain, tampak ada juga santri yang lain asyik bermain bola, sementara beberapa memilih duduk santai di saung-saung kecil, membaca buku dengan tenang di tengah suasana pesantren yang hijau dan menyejukkan.

Tempaan di Pondok

Itulah potret keseharian di Pondok Pesantren Hidayatullah, sebuah lembaga pendidikan yang terletak di Kalimulya, Cilodong. Meski jadwal aktivitas di pesantren padat, dari mulai ibadah, pelajaran agama, hingga kegiatan keterampilan, santri-santri seperti Aufa tetap mampu membagi waktu antara belajar dan bermain.

Dalam 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan, mereka tak pernah lepas dari disiplin yang tinggi. Namun di balik itu semua, selalu ada ruang untuk merasakan kebebasan dalam kegiatan rekreasi dan olahraga.

Bagi Aufa, yang duduk di bangku kelas 7 SMP Integral Hidayatullah Depok, mengatur waktu bukanlah hal yang sulit. Meskipun harus mengikuti jadwal pesantren yang ketat, dia tetap bisa membagi waktu dengan baik untuk belajar, menghafal Al-Qur’an, serta mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang ia gemari.

Ketika ditanya bagaimana caranya menjaga keseimbangan antara belajar dan bermain, Aufa menjawab dengan rendah hati, “Saya belajar seperti teman teman lainnya”

Aufa, anak kedua dari pasangan Mahmud dan Delih ini, telah menorehkan capaian dalam impiannya. Baru-baru ini, dia berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara I pada Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (PENTAS PAI) Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2024.

Kompetisi itu berlangsung di Kota Tasikmalaya pada 6-7 September lalu, dan Aufa keluar sebagai juara dalam kategori MHQ (Musabaqah Hifzil Qur’an) Putra. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunannya selama ini membuahkan hasil yang gemilang.

Pada Senin, 23 September 2024, dalam sebuah acara di Lapangan Apel Balai Kota Depok, Wali Kota Depok Mohammad Idris secara langsung memberikan apresiasi kepada Aufa atas prestasinya.

Dalam momen tersebut, turut hadir Penjabat Sekretaris Daerah Kota Depok, Nina Suzana, dan Kepala Dinas Pendidikan, Siti Chaerijah Aurijah, yang juga memberikan dukungan moral kepada para pemenang.

“Alhamdulillah senang banget bisa ketemu walikota dan ini pengalaman pertama bertemu beliau,” ujar Aufa dengan mata berbinar.

Sebagai seorang pelajar, Aufa sadar bahwa prestasi tidak datang dengan mudah. Di balik kemenangan itu, ada kerja keras, doa, serta dedikasi yang besar. Ketika berbicara tentang metode belajarnya, Aufa mengatakan bahwa rahasianya adalah konsistensi.

“Saya belajar dari setiap kesalahan dan pengalaman,” katanya. Menurut Aufa, setiap kegagalan bukanlah akhir, melainkan pelajaran berharga yang dapat membuatnya semakin baik di masa depan.

Kesehariannya di pesantren tidak semata-mata dihabiskan untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an. Aufa, yang sudah hafal lebih dari 7 juz Al-Qur’an, juga aktif mengikuti berbagai perlombaan.

Dia juga tercatat sebagai juara dalam beberapa kompetisi lain, termasuk Juara II Festival Zafest di Margonda pada Maret 2024 dan masuk 10 besar dalam Seleksi Nasional Cabang 3 Juz di Ciawi, Bogor. Tak hanya itu, Aufa juga pernah meraih Juara I Lomba MHQ Pentas Seni PAI Tingkat Depok.

Setiap kali mengikuti perlombaan, Aufa tidak hanya membawa pulang piala, tetapi juga pengalaman berharga. Baginya, mengikuti lomba adalah kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman baru dari berbagai daerah, serta memperluas wawasan. “Saya senang ikut lomba karena bisa dapat teman baru,” ujar Aufa sambil tersenyum.

Selain itu, menurutnya, fasilitas yang diberikan oleh penyelenggara lomba juga menjadi salah satu hal yang menyenangkan. Setiap kali bertanding, ia mendapat fasilitas mulai dari makan, akomodasi, transportasi, hingga penginapan di hotel.

Di balik pencapaiannya, Aufa tak pernah lupa untuk terus memotivasi dirinya dan teman-temannya. Baginya, kunci kesuksesan terletak pada semangat yang tak pernah padam.

“Jangan berputus asa, tetap coba lagi, dan banyakin pengalaman,” ujar Aufa. Bagi dia, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Pondok Pesantren Hidayatullah menjadi tempat yang subur bagi santri-santri seperti Aufa untuk tumbuh dan berkembang, baik dalam segi keilmuan maupun spiritual.

Di sini, para santri diajarkan untuk disiplin dalam segala hal, mulai dari waktu shalat, belajar, hingga waktu untuk berolahraga. Di tengah kesibukan mereka, pesantren tetap memberikan ruang bagi setiap santri untuk mengejar minat dan bakatnya masing-masing.

Pendidikan pesantren diharapkan terus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga berprestasi di bidang lain. Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan integral sangatlah penting.

Di sinilah, selain mendalami ilmu agama, santri juga diajarkan tentang keterampilan hidup, seperti manajemen waktu, disiplin, serta tanggung jawab. (ybh/hidayatullah.or.id)

(Laporan Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024, berkontribusi dalam artikel ini)

Peradaban Islam Menegasi Keangkuhan dan Mengangkat Martabat Manusia

0

DALAM perjalanan hidup manusia, sering kali kita terjebak dalam rasa bangga atas kekuatan, kecerdasan, atau kedudukan yang kita miliki. Namun, Allah SWT mengingatkan melalui berbagai ayat dalam Al-Qur’an bahwa manusia, sesungguhnya, berasal dari asal yang hina dan tidak pantas berbangga diri. Salah satu pengingat penting tentang asal-usul dan keterbatasan manusia terletak pada Surah An-Nahl ayat 4, yang berbunyi:

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ

“Dia menciptakan manusia dari air mani, maka tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (QS. An-Nahl: 4)

Ayat ini memuat hikmah tentang hakikat penciptaan manusia. Dalam perspektif Islam, kebesaran dan kekuasaan manusia adalah hal yang relatif, terbatas pada apa yang Allah kehendaki.

Kesombongan yang muncul akibat merasa diri kuat, pintar, cerdas, atau berkuasa sesungguhnya merupakan bentuk pengingkaran terhadap asal-usul penciptaan yang rendah.

Manusia seringkali melupakan asal-usul penciptaannya. Berasal dari air mani, suatu substansi yang rendah dan hina, manusia kemudian dikaruniai bentuk yang sempurna dan kemampuan berpikir.

Namun, seiring bertambahnya pengetahuan, kekuasaan, dan kedudukan, banyak yang terjebak dalam kesombongan. Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap kebesaran Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Keangkuhan membuat manusia lupa akan hakikat dirinya dan menciptakan ilusi bahwa kekuatan dan kekuasaan berada dalam genggamannya. Padahal, semua yang dimiliki oleh manusia, baik itu pengetahuan, kekayaan, atau kekuasaan, hanyalah titipan dari Allah SWT.

Karenanya, sejak awal Allah SWT menyerukan manusia agar mengenali dirinya yang hina dan membesarkan nama Allah yang Maha Menciptakan. Surah Al-Alaq, yang terdiri dari ayat-ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga mengandung pesan yang sejalan dengan peringatan dalam Surah An-Nahl ayat 4. Dalam ayat-ayat pertama ini, Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5)

Ayat-ayat dari surah yang pertama turun ini menegaskan bahwa sumber segala ilmu pengetahuan adalah Allah SWT. Ilmu yang dimiliki manusia, walaupun dapat membawanya kepada berbagai pencapaian, tidak boleh menjadikannya sombong.

Sebaliknya, ilmu tersebut seharusnya menjadi sarana bagi manusia untuk lebih mengenal kebesaran Allah SWT dan menyadari kelemahannya sebagai makhluk ciptaan.

Peradaban Islam

Visi Hidayatullah yang ingin membangun peradaban Islam sejalan dengan spirit Ilahi ini. Diantara muatan inti dari peradaban Islam adalah mengabarkan dan memperingatkan manusia untuk selalu merendahkan diri di hadapan Allah dan rendah hati terhadap sesama makhluk hidup.

Dalam Islam, konsep tawadhu (rendah hati) ini adalah menegasikan keangkuhan dalam diri dan menjadi kunci untuk menciptakan harmoni, baik antara manusia dengan Allah, maupun antar sesama manusia.

Kesombongan manusia sering kali menjadi sumber konflik dan ketidakharmonisan. Dengan merendahkan diri di hadapan Allah, kita diingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini, termasuk kekuasaan dan pengetahuan, hanya milik Allah.

Nilai nilai agung ajaran Islam ini juga menjadi dasar bagi visi membangun peradaban yang damai dan seimbang serta mengangkat harkat dan martabat manusia, di mana ia tidak hanya menjunjung tinggi ilmu dan kekuasaan, tetapi juga berusaha untuk menciptakan kebahagiaan sejati dengan bersikap rendah hati.

Merendahkan diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran akan hakikat diri sebagai makhluk yang lemah di hadapan kekuasaan Sang Pencipta. Dalam kehidupan sosial, sifat rendah hati menjadikan manusia lebih mudah berempati, bersikap adil, dan tidak merasa lebih baik dari orang lain. Inilah kunci kebahagiaan sejati yang diajarkan oleh Islam.

Melalui Surah An-Nahl ayat 4 dan Surah Al-Alaq ayat 1-5, Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu menyadari asal-usul kita yang lemah dan hina, tidak sombong dengan ilmu atau kekuasaan, dan senantiasa mengagungkan Allah sebagai satu-satunya sumber kekuasaan dan pengetahuan.

Kalam Ilahi di atas mengirimkan pesan penting yang sejalan dengan visi besar membangun peradaban Islam yang harmoni, penuh dengan sikap rendah hati, dan menjauhkan diri dari keangkuhan.[]

*) Ust. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Lawatan Simpul Sinergi Ekspedisi Kebaikan Zakat Menyapa Mualaf Selat Kongki

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Perjalanan jauh dan ombak yang menantang tak menyurutkan semangat tim dan relawan simpul sinergi BMH Perwakilan Kepulauan Riau (Kepri) dalam lawatan ekspedisi kebaikan zakat untuk mengantarkan kebahagiaan bagi warga mualaf di Selat Kongki, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), Ahad, 25 Rabi’ul Awal 1446 (29/9/2024).

Cuaca terik dan kondisi laut yang cukup berombak tak menghalangi perjalanan baik ini, mengantarkan bantuan untuk mualaf Kongki hasil sinergi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan YBM BRILiaN.

“Alhamdulillah, perjalanan lima jam dari Batam ke Lingga, kemudian Lingga ke Selat Kongki pulang pergi 3 jam-an telah berhasil kami lalui,” ungkap Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Muhammad Fatahillah, dengan wajah berseri.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh warga Selat Kongki. Abdullah (40), Ketua RT setempat, ungkapkan rasa bahagia dan terima kasihnya atas perhatian BMH kepada masyarakat mualaf di sana.

“Sudah cukup lama belum ada silaturahmi dari BMH,” ujar Abdullah. “Terima kasih banyak karena BMH telah memberi perhatian besar kepada masyarakat mualaf Kongki, seperti pendirian masjid, sumur bor, hingga rumah Qur’an.”

Ustaz Awalin, dai tangguh BMH di Daik, Lingga, turut merasa gembira melihat perkembangan pesat anak-anak mualaf dalam belajar Al-Qur’an. “Tiga anak maju dan menunjukkan kemampuan mereka membaca Al-Qur’an. Ternyata telah berkembang pesat,” ucapnya semringah.

Pada kesempatan tersebut, BMH-YBM BRILiaN memberikan bantuan berupa sembako, susu, dan snack untuk anak-anak mualaf Selat Kongki yang berada di Desa Pena’ah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian BMH dan YBM BRILiaN terhadap masyarakat mualaf di Selat Kongki.

“Semoga bantuan ini dapat membantu meringankan beban mereka dan memberikan semangat untuk terus belajar dan berkembang,” tutup Fatahillah.*/Herim

Ikhtiar Jadikan RQH Sudarmi sebagai Pusat Pendidikan Putra Putri Bangsa Cinta Al-Qur’an

0

PEMALANG (Hidayatullah.or.id) — Canda tawa riuh rendah menyambut kedatangan Bunda Sudarmi dan rombongan dari DKI Jakarta di Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Bunda Sudarmi, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jum’at, 23 Rabi’ul Awal 1446 (27/9/2024).

Kunjungan sang wakif ini bukan sekadar silaturahmi biasa, tetapi juga membawa semangat dan motivasi bagi 85 santri yang sedang menimba ilmu di sana.

Acara yang dimulai siang hari itu semakin meriah dengan adanya kuis interaktif seputar materi keislaman. Para santri tampak antusias menjawab pertanyaan, menciptakan suasana kebersamaan yang penuh kehangatan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bunda Sudarmi dan keluarga atas wakaf yang telah diberikan,” ujar Alimin, Koordinator Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Jawa Tengah, Mitra Zakat Pemalang. “Semoga amal baik ini mendapatkan balasan yang berlipat ganda,” sambungnya.

Alimin juga menambahkan, “Dukungan dari semua pihak sangat kami butuhkan untuk mengembangkan RQH ini ke depannya.”

Pada kesempatan tersebut Bunda Sudarmi menyampaikan, RQH Bunda Sudarmi diharapkan bukan sekadar tempat belajar Al-Qur’an, tetapi juga wadah untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia.

Di sini, harapnya menambahkan, para santri tidak hanya diajarkan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga dibekali dengan nilai-nilai keislaman yang luhur.

Bunda Sudarmi menyampaikan harapannya agar RQH ini semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Semoga RQH semakin maju, anak-anak yang belajar di sini tetap semangat dan makin banyak belajar. Sehingga kehadiran RQH di lingkungan ini semakin dirasakan manfaatnya,” ucapnya penuh optimisme.

Kehadiran RQH Bunda Sudarmi menjadi oase di tengah arus modernisasi yang kadang menggerus nilai-nilai keagamaan. Di tempat ini, generasi muda dibimbing untuk mencintai Al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga kelak, mereka tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa,” harap Alimin.*/Herim

Kolaborasi Klinik Utama Hidayatullah Hadirkan Layanan Pengobatan Gratis di Sukadami

0

CIKARANG (Hidayatullah.or.id) – Sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, Klinik Utama Hidayatullah kolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) gelar kegiatan layanan pengobatan gratis bagi warga RT 7 RW 04, Sukadami, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 24 Rabi’ul Awal 1446 (28/9/2024).

Dalam kegiatan yang dihadiri sedikitnya 100 orang ini, masyarakat mendapatkan layanan medical check-up dari dokter serta pemeriksaan lab metabolik yang mencakup tes gula darah, asam urat, dan kolesterol.

Acara ini menjadi titik awal yang penting dalam proses pembukaan Klinik Utama Hidayatullah, yang diharapkan nantinya akan berkembang menjadi Rumah Sakit Pratama di bawah naungan Hidayatullah.

Syamsuddin, selaku Direktur Prodaya BMH, dalam sambutannya menyampaikan harapan besar terkait masa depan klinik ini.

“Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan menjadi awal pembukaan Klinik Utama Hidayatullah yang insyaAllah nantinya akan menjadi rumah sakit pertama di Hidayatullah,” ujarnya. Syamsudin juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada warga setempat yang begitu antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan sosial ini tidak hanya mengundang perhatian warga, tetapi juga dukungan dari tokoh masyarakat setempat. Ketua RT 07, Pak Epson, turut memberikan apresiasinya terhadap inisiatif pengobatan gratis ini.

“Saya mewakili masyarakat menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas adanya kegiatan layanan ini, sehingga warga saya bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” ungkapnya.

Epson menutup sambutannya dengan harapan agar Klinik Utama Hidayatullah dapat segera beroperasi dan memberikan layanan kesehatan yang optimal, terutama bagi warga RT 07 dan RW 04 Sukadami, Cikarang Selatan.

Kenalkan Klinik Utama Hidayatullah

Layanan pengobatan gratis ini juga merupakan ajang pengenalan bagi masyarakat terhadap Klinik Utama Hidayatullah, yang di masa depan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Salah satu pendiri Klinik Utama Hidayatullah, drg. Fathul Adhim M.K.M, menyampaikan harapannya agar klinik tersebut segera dibuka untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat.

“Bapak dan Ibu, mohon doanya agar klinik kami bisa segera buka dan di kemudian hari dapat memberikan manfaat untuk Bapak Ibu sekalian,” ucap drg. Fathul.

Ia menambahkan bahwa kegiatan pengobatan gratis ini merupakan langkah awal menuju peresmian Klinik Utama Hidayatullah.

“Kegiatan ini insyaAllah menjadi titik awal kami dalam upaya pembukaan klinik. Kami juga memohon doa dari Bapak Ibu semua, semoga setelah berdirinya klinik ini, kami dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, yakni mendirikan Rumah Sakit Hidayatullah,” katanya.

Dengan rampungnya kegiatan ini, diharapkan langkah berikutnya adalah percepatan pembukaan Klinik Utama Hidayatullah sebagai pusat pelayanan kesehatan yang lebih luas, tidak hanya dalam skala RT atau RW, tetapi juga untuk masyarakat Cikarang dan sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, terang drg. Fathul, Klinik Utama Hidayatullah diharapkan dapat berkembang menjadi rumah sakit yang modern dan berkualitas, mampu memberikan layanan kesehatan dengan standar tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Keterlibatan berbagai pihak dalam pendirian klinik ini turut mendapat perhatian. Bapak Gaib, salah satu donatur yang terlibat dalam proses pembangunan Klinik Utama Hidayatullah, merasa senang melihat antusiasme warga dalam memanfaatkan layanan pengobatan gratis.

“Saya cukup senang para warga bisa ikut layanan pengobatan gratis ini, yang artinya insyaAllah klinik ini setelah nanti dibuka tentu dapat memberikan lebih banyak manfaat untuk para warga sekalian, khususnya warga RW 04 Sukadami,” ujarnya dalam sambutan singkatnya.

Warga setempat merespons kegiatan ini dengan penuh rasa syukur. Wahyu Endang, seorang ibu salah satu pasien yang hadir, dengan wajah sumringah menyampaikan bahwa dirinya sangat terbantu oleh layanan ini.

“Ini saya kebetulan lagi banyak nyeri di punggung, terus kepala saya lagi pusing. Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan ini, keluhan saya bisa tertangani,” ujarnya.

Ia juga menambahkan harapannya agar Klinik Utama Hidayatullah segera beroperasi. “Semoga Klinik Utama Hidayatullah bisa segera dibuka. Saya berharap banget, Pak,” kata Wahyu Endang menandaskan. */Ridho Muhammad Fatihuddin

Buka Kursus Muballigh Profesional, Nursyamsa Hadis Pesan Dakwah Menebar Nikmatnya Iman dan Amal Shaleh

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Kabid Dakwan Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. H. Drs. Nursyamsa Hadis, membuka kegiatan untuk pekan pertama dari dua rangkaian acara Kursus Muballigh Profesional Angkatan IV yang digelar Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, Sabtu, 24 Rabi’ul Awal 1446 (28/9/2024).

Dalam sambutannya sebelum membuka acara, Ust. Nursyamsa Hadis memulai dengan memperkenalkan Hidayatullah kepada para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Dia menyampaikan pengingat tentang pentingnya misi dakwah Islam yang diemban setiap muslim.

“Dalam tradisi Hidayatullah, selalu dipesankan bahwa tidak semata kita mengerjakan shalat dan menikmatinya, tetapi bagaimana agar orang-orang yang belum shalat juga bisa shalat dan menikmati shalatnya,” ujarnya.

Nursyamsa menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama Muslim yakni bagaimana ibadah yang kita nikmati tidak hanya menjadi kebahagiaan pribadi, melainkan menjadi misi kolektif untuk mengajak orang lain merasakan kenikmatan yang sama.

Ust. Nursyamsa melanjutkan dengan menekankan bahwa iman dan amal shaleh tidak boleh dinikmati sendiri. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral untuk berbagi kenikmatan spiritual ini dengan orang lain.

“Iman dan amal shaleh yang kita nikmati tidak boleh dinikmati sendiri, kita harus mengajak orang lain untuk juga merasakannya,” tegasnya, merujuk pada peran dakwah sebagai sarana untuk menyebarkan kebenaran Islam, di mana setiap orang yang merasakan kedamaian dalam keimanan dan amal shaleh wajib berbagi dengan orang-orang di sekitarnya.

Spirit Surah Al Ashr

Dalam taujihnya tersebut, Ust. Nursyamsa mengutip Surah Al Ashr, salah satu surah pendek namun penuh hikmah di dalam Al-Qur’an.

“Surah Al Ashr menegaskan tentang tiga orang yang tidak akan merugi yaitu orang beriman, orang yang beramal shaleh, dan yang berdakwah mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran,” paparnya.

Surah ini terang dia mengajarkan bahwa selain beriman dan beramal shaleh, umat Islam juga harus berdakwah, saling menasihati dalam kebenaran, dan bersabar dalam menjalankan tugas dakwah.

Di dalam pesan-pesan dakwah ini, kesabaran menjadi kunci penting. Ust. Nursyamsa menegaskan bahwa berdakwah harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran, tanpa paksaan atau kekerasan.

“Berdakwah harus penuh kesabaran, jangan dengan paksaan dan main pukul. Hidayah itu otoritasnya Allah, kita hanya diperintah untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan,” katanya.

Dalam Islam, tugas seorang da’i hanyalah menyampaikan risalah dan mengingatkan umat. Hidayah, atau petunjuk, adalah hak prerogatif Allah. Oleh karena itu, setiap muballigh harus bersikap bijak dalam berdakwah, menghindari sikap memaksa yang justru dapat menjauhkan orang dari ajaran Islam.

Keimanan yang kuat, lanjut Ust. Nursyamsa, adalah dasar dari segala aktivitas seorang Muslim, termasuk dalam berdakwah.

“Kita harus terus menerus membangun kualitas keimanan kita yang dengan itu kemudian menggerakkan seluruh aktivitas kita, karena imanlah yang menyebabkan kita berkumpul di sini,” jelasnya.

Keimanan menjadi penggerak utama, yang tidak hanya mengarahkan pribadi Muslim untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menuntunnya dalam setiap langkah kehidupan, termasuk dalam tugas menyebarkan kebaikan melalui dakwah.

Sebagai contoh, Ust. Nursyamsa mengingatkan kembali perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mendakwahkan Islam kepada pamannya, Abu Thalib, yang hingga akhir hayatnya tidak menerima Islam. “Kurang apa coba usaha nabi terhadap pamannya agar masuk Islam, sampai kemudian Nabi ditegur oleh Allah,” katanya.

Perjalanan perikehidupan Nabi itu, jelasnya, adalah pelajaran penting bagi para dai, bahwa hidayah bukan sesuatu yang dapat dipaksakan, dan meski telah berusaha sebaik mungkin, hasil akhir tetap berada di tangan Allah. Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya kesabaran dalam dakwah dan pengamalan prinsip ‘watawa saubil haq watawa saubil sabr’—saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al Ashr.

Sebagai bagian dari misi dakwah yang telah menjadi bagian dari hidup seorang Muslim, Nursyamsa mengajak para peserta kursus muballigh untuk meneguhkan kembali komitmen mereka.

“Karena dakwah sudah pekerjaan kita, maka mari kita tegaskan, kita proklamirkan bersama-sama, bahwa aku hari ini kian meneguhkan sikapku bahwa inilah tujuan hidupku,” ujarnya.

Tanggung Jawab Sosial

Dalam pada itu, Nursyamsa menjelaskan, dakwah adalah upaya untuk mentransformasikan kebaikan yang telah dinikmati menjadi sesuatu yang juga dapat dirasakan oleh orang lain.

“Dakwah ini adalah tugas kita. Kita sudah melaksanakan ibadah dan seterusnya, maka tugas kita berikutnya adalah mentransformasikan sehingga apa yang telah kita nikmati ini dapat juga dinikmati oleh orang lain,” jelasnya.

Gerakan dakwah yang mulia ini, dijelaskan dia, adalah bentuk tanggung jawab sosial yang harus diemban oleh setiap Muslim, terutama para muballigh yang menjadi ujung tombak dalam menyebarkan ajaran Islam.

Ust. Nursyamsa juga mengingatkan kembali visi besar pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, yang berkeyakinan bahwa para dai harus disebar seluas-luasnya di seluruh nusantara.

“Itulah mengapa pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, berpandangan bahwa dai harus disebar seluas-luasnya di seluruh nusantara. Karenanya, Korps Muballigh Hidayatullah berkewajiban untuk terus melahirkan kader dai dan melakukan pengorganisasian dakwah,” terangnya.

Dalam penutupan sambutannya, Ust. Nursyamsa memberikan pesan tentang makna hidup dan tujuan akhir manusia.

Kehidupan di dunia, terang dia, hanyalah sementara, dan yang menjadi pemenang sejati adalah mereka yang berhasil menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan menyebarkan kebaikan melalui dakwah.

“Hidup kita ini sementara saja. Jangan kita menjadi orang yang gagal, (kita) harus menjadi orang yang berhasil karena dengan kita dipilih hidup ini berarti sudah pemenang,” katanya.

Dia menekankan pentingnya mengelola kondisi keimanan dan amal agar terus berada di jalur yang benar hingga akhirnya setiap Muslim bisa berdiri dengan bangga di hadapan Allah.

“Bagaimana mengelola kondisi agar kita terus menang sampai kemudian kelak kita berdiri tegak di hadapan Allah yang memanggil kita dengan panggilan yang mesra, ‘Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah’,” ujarnya, seraya menyebut panggilan mesra ini adalah panggilan kemuliaan bagi jiwa yang tenang, yang telah menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam berdakwah. (ybh/hidayatullah.or.id)