Beranda blog Halaman 199

Halal Bihalal Kader Hidayatullah Jabar Ajak Kolaborasi dan Sinergi

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat menggelar acara Halal Bihalal dengan tema “Membaca Goepolitik Jawa Barat untuk Khidmat Lebih Baik kepada Rakyat” di Kampus 2 Yayasan Hayatan Thayyibah Hidayatullah Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 3 Dzulqaidah 1445 (11/5/2024) lalu.

Acara yang diikuti oleh DPW, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), amal usaha, orpen, dan para aktivis Hidayatullah se-Jabar ini bertujuan untuk merajut dan menguatkan hati.

“Alhamdulillah, DMW, para pengurus DPD, amal usaha, orpen dan aktivis Hidayatullah se-Jabar bisa hadir di tempat yang indah dan sejuk ini,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Jabar, Hidayatullah, MAg dalam sambutannya.

“Tiada lain tujuan acara ini yaitu untuk merajut dan menguatkan hati, mengikis thagha dan egosentris kita agar kembali kepada fitrah,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa keberadaan para aktivis di Hidayatullah semata-mata untuk berjuang meninggikan kalimat Allah.

“Karena itu, mari berikan karya terbaik kita di manapun dan kapan pun bertugas,” pungkas Hidayatullah.

Pada kesempatan itu hadir Dzikrullah W. Pramudya, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah.

Ia menyampaikan capaian Hidayatullah pada 50 tahun pertama. Menurutnya, Hidayatullah telah memberikan solusi bagi banyak masalah di tengah masyarakat. “Seperti masalah ekonomi, keluarga, bertetangga dan lain sebagainaya berupa komunitas Islam,” ujar Dzikrullah.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa Hidayatullah 50 tahun kedua akan ditandai dengan cara pandang yang baru dan lebih segar lagi.

“Kita berkolaborasi, berta’awun dengan elemen yang lain karena cita-cita yang sama, penguasaan wilayah, melebarkan sayap dan menjadikan kawasan Asia Tenggara ini menjadi kawasan Muslim, serta penguasaan ilmu dan teknologi yang baru,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut Dzikrullah, yang juga salah satu perintis Yayasan Hayatan Thayyibah Hidayatullah Bandung pada tahun 1991 ini, kampus-kampus Hidayatullah yang ada nanti agenda utamanya yaitu menyiapkan pemuda-pemuda calon pemimpin masa depan dengan kurikulum yang lebih berkemajuan.

“Kita buat terobosan kurikulum yang berkemajuan, apalagi disemangati dengan tradisi kerja lapangan di Hidayatullah yang luar biasa, maka setiap kader harus lebih siap dilempar ke mana saja untuk tugas dakwah, seperti ke luar negeri,” pungkasnya.

Dalam acara itu, hadir pula Aep Nurdin, S.Ag, MSi, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, dan Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum, Ketua Bidang Tarbiyah PP Persis.

Aep mengajak ormas Islam seperti Hidayatullah untuk membangun sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah Jabar. “Insya Allah, banyak hal yang bisa kita bangun, kita kerjakan bersama untuk umat ini,” kata Aep.

Senada dengan Aep, Tiar Anwar Bachtiar pun mengajak Hidayatullah untuk bersinergi dengan Persis. “Beda karakter Persis yang lebih banyak di tatar Sunda dengan Hidayatullah,” ujar Tiar.

Menurutnya, kader Hidayatullah terkenal berani berdakwah ke pedalaman. Karena itu, bisa bersinergi dengan Persis untuk berdakwah di pelosok Jawa Barat.

Acara ini dimeriahkan juga oleh kegiatan bekam, fasdu, totok saraf, dan bazar. Bahkan, peserta bisa menikmati Niroga, yaitu minuman rempah-rempahan yang kaya khasiatnya.*/(ybh/hidayatullah.or.id)

Membumikan Jatidiri Organisasi: Pondasi Menuju Peradaban Islam

0

DI TENGAH hiruk pikuknya kehidupan modern, sebagian organisasi Islam hadir sebagai penjaga keberkahan dan keadilan bagi umatnya. Namun, keberadaan mereka bukan semata-mata tentang mempertahankan diri agar tetap eksis, tetapi tentang menjadi panggung bagi peradaban Islam yang makmur, dinamis dan berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal itu, organisasi Islam harus mampu membumikan jatidiri mereka, membiarkannya tidak hanya menjadi wacana kosong, melainkan menjadi dasar yang mempengaruhi  sekaligus menjadi energi penggerak di setiap tindakan dan keputusan yang diambil.

Jatidiri organisasi dalam perspektif Islam adalah cerminan dari ajaran-ajaran agung yang terkandung dalam kitab suci, al-Qur’an, dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia bukanlah sekadar kumpulan kata-kata indah yang terpampang di dinding atau terdengar dalam pidato-pidato, tetapi adalah inti yang menghidupkan setiap aspek keberadaan organisasi.

Jatidiri ini menjadi nafas, menjadi semangat, dan menjadi kompas yang membimbing langkah organisasi dalam mengemban tugas mulianya.Sehingga jatidiri tak ubahnya bagaikan DNA yang menjiwai setiap gerak langkah kader dan struktur organisasi.

Dengan demikian maka, jatidiri organisasi yang kokoh berakar pada budaya organisasi dalam perspektif Islam yang menjadi pedoman bagi organisasi itu sendiri. Budaya ini dibangun di atas nilai-nilai esensi yang telah dirumuskan dan menjadi platform organisasi. Sehingga, nilai-nilai ini menjadi landasan bagi setiap tindakan dan keputusan organisasi, memandu organisai dalam mencapai tujuannya dengan cara yang etis dan bertanggung jawab.

Membumikan Jatidiri: Dari Kata Menjadi Karya

Membumikan jatidiri organisasi bukanlah tugas yang mudah. Ia memerlukan kesadaran yang mendalam dari setiap kader, setiap pimpinan, dan setiap anggota organisasi.

Setiap individu harus menjadikan jatidiri sebagai bagian dari dirinya, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan sehari-hari. Mereka harus membiarkan nilai-nilai Islam meresapi setiap keputusan strategis, setiap interaksi dengan pemangku kepentingan, dan setiap kebijakan yang dibuat.

Sehinga, membumikan jatidiri organisasi bukan sekadar menghafal visi dan misi, ataupun kata-kata dan kalimat yang dirumuskan dalam rangkaian yang dinyatakan sebagai jatidiri, akan tetapi bagaimana mewujudkannya dalam tindakan nyata. Hal ini membutuhkan komitmen dan kerja keras dari seluruh anggota organisasi. Berikut beberapa langkah untuk membumikan jatidiri organisasi:

Pertama, Pendidikan dan Internalisasi: Proses transformasi nilai (value), menjadi hal yang dapat menjaga dan memastikan proses internalisasi jatdiri berjalan dengan baik. Oleh karenanya, memberikan pendidikan dan internalisasi nilai-nilai jatidiri organisasi kepada seluruh anggota, kader dan pengurus struktural organisasi menjadi sangat penting. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai program, seperti kajian, seminar, pelatihan, diskusi dan lain sebagainya.

Kedua, Penerapan Nilai-Nilai dalam Kebijakan dan Program: Implementasi jatidiri dalam setiap kebijakan dan program mesti dijaga keberlangsungannya. Sehingga, dengan menerapkan nilai-nilai jatidiri organisasi dalam setiap kebijakan dan program organisasi menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini memastikan bahwa semua kegiatan organisasi selaras dengan jati dirinya..

Ketiga, Pengembangan Budaya Organisasi yang Positif: Budaya organisasi itu tidak jumud (stagnan), namun terus dinamis. Sehingga, menciptakan budaya organisasi yang positif yang mendukung penerapan nilai-nilai jatidiri. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun lingkungan kerja yang saling menghormati, kolaboratif, dan terbuka.

Kempat, Memperkuat basis keilmuan Islam: Kader dan struktur organisasi harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam, baik dari segi aqidah, syariah, maupun akhlak. Hal ini menjadi landasan dalam merumuskan solusi nyata bagi problematika umat. Selain itu perlu juga meningkatkan skill dan juga managerial skill agar proses pembumian jati diri memiliki kerangka yang memadai

Kelima, Kepemimpinan dan Keteladanan, Kepemimpinan dan seluruh struktur diberbagai level harus memberikan contoh sekaligus role model, dalam membumikan jatidiri ini. Meraka itu adalah sosok-sosok yang menjadi teladan yang dapat dilihat oleh semua kader dan anggota, juga masyarakat umum, bagaimana jatidiri organisasi itu diterapkan dan menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari setiap individu dalam organisasi.

Keenam, Penguatan Sinergi dan Kolaborasi: Membangun sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat kiprah organisasi dalam membangun peradaban Islam. Konsekwensinya, Organisasi harus hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan solusi yang tepat. Kolaborasi dengan berbagai elemen umat menjadi kunci untuk membumikan jati diri.

Ketujuh, Penilaian dan Evaluasi: Tidak ada sebuah pekerjaan itu yann selalu berjalan mulus tanpa hambatan dan kendala. Disini diperlukan penilaian dan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa jatidiri organisasi benar-benar terbumikan dalam setiap aspek organisasi.

Dengan demikian, ketujuh hal tersebut di atas menjadi kunci utama dalam rangka membumikan jatidiri organisasi, selain juga beberapa hal lain yang dapat dikembangkan .

Jatidiri yang Membumi: Solusi Nyata Problematika Keummatan

Jatidiri organisasi yang membumi bukan hanya indah di atas kertas, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi problematika keummatan. Organisasi yang berjati diri Islam dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat, membantu menyelesaikan berbagai masalah dan problematika yang dihadapi umat Islam.

Adapun solusi nyata dalam menyelessaikan problematika keumatan sebagaimana dinyatakan di atas, dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, Menyebarkan Nilai-Nilai Islam: Organisasi dapat menyebarkan nilai-nilai Islam yang mulia kepada masyarakat. Nilai-nilai yang dirumuskan dalam jatidiri itulah yang kemudian didakwahkan sekaligus didesiminasi kepada masyarakat sehingga menjadi sebuah Gerakan.

Kedua, Memperkuat Ukhuwah Islamiyah: Organisasi dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah di kalangan umat Islam, membangun rasa persaudaraan dan saling membantu. Hal ini juga dijiwai dengan semangat wasathiyah (pertengahan) yang membawa kedamaian.

Ketiga, Menjadi teladan bagi umat: Organisasi dapat menunjukkan contoh nyata penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi inspirasi bagi umat. Praktik kehidupan yang berasal dari implementasi jatidir yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah, menjadi teladan yang nyata bagi umat.

Keempat, Memberikan solusi atas problematika keummatan: Organisasi dapat menjadi pelopor dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi umat, seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial.

Kelima, Membangun Peradaban Islam: Organisasi dapat berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang bermartabat, adil, dan sejahtera. Sebuah peradaban Islam yang merupakan manifestasi keimanan disetiap aspek kehidupan.

Dari kelima hal tersebut di atas, dimana kemampuan dalam membumikan jatidiri sesungguhnya merupakan solusi problematika umat. Sehingga dapat dikatakan bahwa, membumikan jatidiri organisasi bukan tugas yang mudah. Diperlukan komitmen, kerja keras, dan kolaborasi dari semua pihak. Dengan organisasi yang membumi, umat Islam dapat bersatu dan bersama-sama membangun peradaban Islam yang gemilang.

Penutup

Jatidiri organisasi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan harus terus diadaptasi dengan perubahan zaman. Organisasi harus terus belajar dan berkembang untuk tetap relevan dan efektif dalam menjawab kebutuhan umat Islam dan masyarakat.

Dengan demikian maka, membumikan jatidiri organisasi merupakan proses yang berkelanjutan. Diperlukan komitmen dan usaha keras dari seluruh anggota organisasi untuk mewujudkannya.

Jatidiri organisasi yang membumi bukan hanya membawa slogan indah, tetapi memberikan solusi nyata bagi problematika keummatan dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang gemilang. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Ketua Umum Buka Training Kepemimpinan Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, membuka Training Kepemimpinan Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah digelar Hidayatullah Institute (HI) dan Bidang Pembinaan Dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah bertajuk “Kepemimpinan Manhaji: Menjadi Pemimpin yang Visioner dan Progresif” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista Polonia, Jatinegara, Jakarta, Senin, 5 Dzulqaidah 1445 (13/5/2024).

Training kepemimpinan yang diikuti 37 peserta ini bertujuan membekali pengetahuan kepemimpinan Islam dan model kepemimpinan Hidayatullah, serta membekali peserta berkenaan dengan pengetahuan desain, perencanaan strategis organisasi dan transformasi organisasi.

Peserta juga akan dibekali pengetahuan dan keterampilan project management, mempelajari keterampilan networking, dan membekali peserta berupa pengetahuan dan keterampilan manajemen tim kerja.

Diharapkan dari kegiatan yang digelar selama 5 hari ini, Senin-Jum’at, 13-17 Mei 2024, melahirkan profil output peserta yang memiliki pemahaman tentang fungsi dan model kepemimpinan dalam Islam, pemahaman tentang kepemimpinan Hidayatullah, dan pemahaman tentang desain dan perencanaan strategis organisasi.

Selain itu, juga melahirkan profil yang memiliki keterampilan tentang pembuatan sebuah project management, kemampuan keterampilan meyakinkan third party untuk berkolaborasi dalam sebuah program kegiatan, dan keterampilan mengelola tim kerja berbasis nilai nilai profetik. (Yoga Agus Yulianto/hidayatullah.or.id)

Menjadi Institusi Bereputasi Global, STIE Hidayatullah Jalin Kerjasama dengan International Open University

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menjalin kerjasama dengan International Open University (IOU) yang ditandai dengan penandatanganan lembar Memorandum Kesepahaman (MoU) dalam forum pertemuan resmi bertajuk Virtual MoU Signing Ceremony pada Sabtu, 3 Dzulqaidah 1445 (11/5/2024).

Virtual MoU signing kerjasama ini dihadiri oleh petinggi institusi STIE Hidayatullah dan IOU yang merupakan perguruan tinggi swasta berkantor pusat di Republik Gambia yang menyelenggarakan pendidikan tinggi program Diploma, Sarjana, Magister, Doktor dan Sertifikasi serta kursus online.

Hadir pada kesempatan itu Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam, SE, M.Ak, yang didampingi sejumlah jajarannya, Rektor IOU Prof. Dr. Bilal Philips, Wakil Rektor IOU Prof. Dr. Cherno Omar Barry, Kepala Departemen Islamic Economics, Banking and Finance (IEB) IOU Dr. Nissar Yatoo, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo M.Kom, dan sejumlah pihak terkait lainnya.

Adapun ruang lingkup kerjasama adalah para pihak sepakat untuk selenggarakan penelitian bersama dan program gelar ganda yang mencakup bidang studi yang disepakati bersama.

Program gelar ganda akan mencakup pertukaran mahasiswa dan dosen, serta kerjasama dalam penelitian pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik lainnya. Program penelitian bersama akan mencakup pertukaran artikel, kolaborasi penulis dan editor di jurnal para pihak.

Kolaborasi ini bertujuan untuk menjalin kerangka kerjasama antara STIE Hidayatullah dan IOU dalam pelaksanaan program yang memungkinkan mahasiswa menghabiskan sebagian masa studinya di STIE Hidayatullah dan Sebagian lagi di IOU, dengan kurikulum yang terintegrasi.

Kredit akademik yang diperoleh akan diakui oleh kedua institusi dan dihitung untuk kedua gelar tersebut. Para pihak juga akan berkolaborasi dalam pengembangan dan evaluasi kurikulum untuk memastikan relevansi dan kualitas program.

Demikian pula dalam penajaman kerjasama akademik dimana modul dan distribusi kursus akan disesuaikan untuk memfasilitasi penambahan pengetahuan dan pengalaman akademik yang kaya bagi mahasiswa.

Nota kesepahaman ini mulai berlaku pada tanggal penandatanganan dan berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. Nota kesepahaman ini akan diperpanjang untuk jangka waktu selanjutnya sebagaimana disepakati dan dapat diubah atau diperbarui melalui kesepakatan bersama anatara kedua belah pihak.

Bereputasi Internasional

Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam dalam sambutannya mengatakan pihaknya mendorong diri untuk menjadi institusi yang bereputasi global dengan menjaga kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami berharap melalui kerjasama ini kedua belah pihak dapat berbagi dan bersama-sama mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing demi kemajuan dan kejayaan Islam, Insya Allah,” katanya.

Dia menyebutkan STIE Hidayatullah saat ini menyelenggarakan dua program studi yaitu Manajemen dan Akuntansi dengan jumlah mahasiswa mencapai 1.121 orang.

“Kami mendorong diri untuk menjadi institusi yang bereputasi internasional dengan menjaga kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” terangnya.

STIE Hidayatullah berpegang teguh pada ISO dalam tata kelola manajemen dan administrasi serta standar akreditasi BAN-PT dalam penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal.

Dengan usaha yang tekun, program STIE Hidayatullah terakreditasi tinggi, dan akreditasi institusi tersebut otomatis diakui tanpa perlu audit dan kunjungan lapangan oleh asesor, karena civitas akademika yang disiplin dalam mengelola mutu universitas.

“Dan kami juga sedang dalam proses transisi dari sebuah institut menjadi universitas,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya telah mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi yang merupakan perpanjangan tangan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi, untuk menjamin kualitas lulusan sehingga mampu bersaing dengan lulusan dari universitas lain.

Dari segi penelitian, Saddam menambahkan, jurnal penelitian STIE Hidayatullah juga telah terakreditasi oleh SINTA, dan pada tahun mendatang pihaknya menargetkan dapat mengindeksnya baik di indeks nasional maupun internasional.

“Beberapa dosen kami juga telah melakukan penelitian yang dipublikasikan di jurnal internasional. Kerjasama ini sungguh memberikan manfaat yang sangat besar bagi kami dan kami berharap juga bagi Universitas Terbuka Internasional,” ujarnya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Diklat Depdik Jateng untuk Hadirkan Guru Profetik dan Profesional

SALATIGA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dasar, Menengah dan Kepesantrenan (Depdikdasmentren) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah baru-baru ini menggelar Diklat Guru Profesional Hidayatullah di Komplek SD Integral Kampus Hidayatullah Salatiga, 1-3 Dzulqaidah 1445 (9-11/5/2024).

Acara ini bertema “Menjadi Guru Hidayatullah yang Profetik dan Profesional” dan diikuti oleh 32 peserta guru baru dari berbagai sekolah Hidayatullah se-Jawa Tengah, mulai dari jenjang dasar hingga atas, dengan komposisi 10 peserta putra dan 22 peserta putri.

Acara dibuka oleh Usman Wakimin, M. Pd., selaku Ketua Depdikdasmentren DPW Hidayatullah Jawa Tengah. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya Diklat Guru Profesional yang telah dimulai sejak tahun 2004.

Kata dia, alumni-alumni Hidayatullah Jateng telah membuktikan kualitasnya dengan menduduki posisi penting di dalam organisasi, mulai dari pengurus DPW, DPD, hingga menjadi Kepala Sekolah. Dia juga menegaskan bahwa tantangan ke depan semakin menuntut kesiapan yang lebih baik dari setiap guru.

“Tujuan utama dari diklat ini adalah menciptakan guru yang memiliki dimensi profetik dan profesional. Dengan potensi keilmuan para peserta, narasumber dan panitia lebih berperan sebagai fasilitator untuk memastikan kedua tujuan ini tercapai dengan lancar,” katanya, seperti dilansir laman Hidayatullahjateng.id.

Indikator pencapaian dimensi profetik meliputi perubahan pola pikir dari pendidikan yang masih dikotomi menjadi pola pikir Pendidikan Berbasis Tauhid. Hal ini akan melahirkan manusia yang mampu mengemban amanah sebagai hamba Allah (Abdullah) dan khalifah fil ‘ardh.

Selain itu, terangnya, penerapan adab dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari juga menjadi indikator penting, baik dalam aspek individu maupun sebagai pendidik dan tenaga kependidikan. Peningkatan spiritualitas melalui Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) juga menjadi fokus utama dalam mencapai dimensi profetik.

Sementara itu, indikator pencapaian dimensi profesional mencakup kesadaran akan tugas pokok dan fungsi sebagai pendidik, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam mengemban amanah sebagai khalifah fil ‘ardh. Peningkatan wawasan dan keilmuan menjadi modal dasar dalam melaksanakan amanah sebagai pendidik.

Untuk mendukung pencapaian kedua tujuan tersebut, Tim Depdikdasmentren DPW Hidayatullah Jawa Tengah merancang jadwal diklat yang terstruktur dengan baik.

Begitupa narasumber dan materi yang disajikan dipilih secara cermat untuk memastikan bahwa konsep prinsip Pendidikan Berbasis Tauhid dan aspek teknisnya dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta, sehingga mewujudkan cita-cita memiliki Guru Hidayatullah yang memadukan dimensi profetik dan profesional.

Diklat Guru Profesional Hidayatullah Jawa Tengah merupakan langkah konkret dalam menghasilkan guru yang tidak hanya berkualitas secara profesional, tetapi juga memiliki dimensi profetik yang kuat.

Usman menambahkan, dengan kesadaran akan tugas pokok dan fungsi sebagai pendidik, serta peningkatan spiritualitas melalui Gerakan Nawafil Hidayatullah, diharapkan para peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu membawa manfaat bagi pendidikan di masa depan.*/Imam Sujai

Ikhtiar Wujudkan Pendidikan Berkualitas di Sulsel

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Departemen Tarbiyah dan Kepesantrenan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) menyelenggarakan focus group discution (FGD) di ruang rapat Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar, Sulsel, 1-2 Dzulqaidah 1445 (9-10/5/2024).

“Rekonstruksi dan standardisasi sekolah menjadi tema sentral diskusi yang disampaikan Kadep Dikdasmen DPP Hidayatullah Dr Nanang Nurpatria MPd dan Kadep Kepesantrenan DPP Hidayatullah Ustadz Muhammad Syakir Syafii,” jelas Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel H Dwi Subagyo.

FGD diikuti unsur Ketua Departemen Pendidikan DPD, pengurus Yayasan, dan Kepala Sekolah perwakilan Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Di akhir kegiatan FGD dilaksanakan penandatanganan kerjasama program standardisasi bahasa Inggris berstandar internasional dengan Penerbit Mentari Group.(Dwi)

Rumusan Hasil FGD Pendidikan 2024 Hidayatullah Sulsel

1.Tri program prioritas Depdik DPW Sulsel 2024
a. Standar SDI
b. Standar Finansial
c. Standar Pengelolaan

  1. Penetapan 4 Rayon MKKS PIBT Hidayatullah Sulsel.
    a. Rayon MKKS Luwu Raya (Luwu, Palopo, Lutra, Lutim) Koordinator : Ust. Jumawir
    b. Rayon MKKS Ajatapareng (Barru, Parepare, Sidrap, Pinrang, Enrekang) Koordinator: Abdul Djabbar
    c. Rayon MKKS Zona Selatan ( Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar Jeneponto, Bantaeng)
    Koordinator : Edi Qays, M.Si
    d Rayon MKKS Bosowasibuse ( Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Selayar) Koordinator : Ust. Ahmad Munsif, S.Pd
  2. Kegiatan MKKS Offline dilaksanakan per triwulan dan online setiap bulan.
  3. Merealisasikan Standar Bahasa (Arab dan Inggris) dengan pengadaan buku paket kerjasama dengan Deptren untuk Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dengan Penerbit Mentari Group.
  4. Menjadikan SD Integral Al Bayan sebagai Sister School dan sekolah Model jenjang Sekolah Dasar. (fir/hio)

Membedah Elemen Jurnalistik Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

0

BERITA atau artikel jurnalistik, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Elements of Journalism, memiliki tujuan yang bisa mempengaruhi kehidupan orang banyak. Sebab, tujuan jurnalistik, menurut keduanya, adalah memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk membuat keputusan terbaik tentang kehidupan mereka.

Terlebih lagi bagi para pembuat keputusan publik. Pengambilan keputusan yang baik, kata mereka, bergantung kepada orang-orang yang memiliki fakta yang dapat diandalkan dan akurat yang ditempatkan dalam konteks yang bermakna. Ini semua dimungkinkan bila kerja-kerja jurnalistik berkomitken pada warga dan khalayak luas.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel kemudian mengungkapkan 9 elemen dasar yang menjadi prinsip jurnalistik. Terakhir, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambahkan satu poin lagi dalam elemen dasar itu sehingga menjadi 10.

Berikut 10 elemen jurnalistik menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel:

  1. Jurnalistik berpihak pada kebenaran.
  2. Loyalitas kerja jurnalistik adalah kepada publik.
  3. Disiplin melakukan verifikasi.
  4. Menjaga independensi.
  5. Memantau kekuasaan secara independen. Artinya, “mengawasi segelintir orang yang berkuasa di masyarakat atas nama banyak orang untuk menjaga dari tirani”.
  6. Memberi ruang bagi publik untuk saling kritik dan berkompromi.
  7. Membuat hal penting menjadi menarik dan relevan. Artinya, jurnalistik harus mampu membuat daya tarik agar masyarakat peduli kepada hal-hal yang dianggap penting dan relevan untuk diperhatikan.
  8. Membuat berita komprehensif dan proporsional. Artinya, jurnalistik harus mampu menjadi peta bagi warga untuk menavigasi masyarakat.
  9. Wajib mendengarkan hati nurani sang pewarta. Sebab, dalam jurnalistik, wartawan diizinkan untuk menjalankan hati nurani pribadi mereka.
  10. Masyarakat juga harus memiliki tanggung jawab terhadap berita. Artinya, penulisan dan penyebaran berita bukan hanya tanggung jawab jurnalis.

Inilah 10 elemen jurnalistik menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Namun, kita tentu harus medudukkan 10 elemen ini kepada apa yang kita yakini.

Pada elemen pertama tentang kebenaran, misalnya. Sebagai seorang Muslim, kebenaran yang harus kita jadikan patokan tentu saja kebenaran menurut Islam, bukan sekadar kebenaran menurut publik.

Begitu pula pada elemen kedua, yakni kesetiaan tertinggi harus ditujukan kepada publik (warga). Elemen ini harus kita dudukkan pada tujuan dakwah, yakni mengubah masyarakat dari kegelapan (jahiliah) menjadi terang benderang (berperadaban mulia). Inilah yang menjadi kesetiaan utama seorang jurnalis Muslim.

Hal lain yang harus kita dudukkan secara tepat adalah istilah independensi. Istilah ini, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, berarti tidak tergoda oleh sumber, terintimidasi oleh kekuasaan, atau dikompromikan oleh kepentingan pribadi.

Namun, pada tingkat yang lebih dalam, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menginginkan agar jurnalistik bisa melampaui kelas atau status ekonomi, ras, etnis, agama, gender, atau egonya sendiri.

Bagi seorang Muslim, tak ada yang bisa menandingi kedudukan wahyu Ilahi. Artinya, independensi yang harus ia junjung tinggi tetap harus didudukkan di bawah wahyu Ilahi. Tak boleh menyelisihinya!

Yang menarik, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel berpendapat bahwa jurnalistik tidaklah netral. Tidak memihak bukanlah prinsip inti dari jurnalisme. Sebab, wartawan harus mengambil keputusan. Dia tidak dan tidak akan bisa objektif.

Untuk yang satu ini, yes!

*) Mahladi Murni, penulis adalah Pemimpin Redaksi Hidayatullah.or.id. Artikel ini telah terbit sebelumnya di laman pribadinya Mahladi.com dan direpublikasi di sini atas seizin yang bersangkutan.

Ukuran ‘Kesuksesan’ dan Target dalam Kehidupan

KEBERHASILAN menggapai sesuatu yang ditargetkan, sungguh itulah yang namanya ‘kesuksesan’. Maka kaidah tersebut berlaku pula untuk kebalikannya, bahwa seseorang akan dikatakan gagal, jika dia tidak berhasil meraih apa yang menjadi targetnya.

Berangkat pada rumusan sederhana di atas, maka kita tidak bisa membuat standar secara kaku, yang mutlak berlaku umum soal kriteria atau ukuran kesuksesan. Sebab masing-masing orang memiliki target yang sangat variatif.

Contoh sederhana yang sangat simpel, jika dalam sebuah kelas ada 25 murid, 5 diantaranya memiliki target menjadi juara kelas, ada pula yg targetnya sebatas masuk 5 besar, bahkan ada yang tidak mau pusing dia berada pada urutan ke berapa, sebab targetnya yang penting naik kelas.

Setelah ujian kenaikan kelas, sekalipun 5 murid yang punya target ranking 1 tetap masuk dalam daftar 5 besar teratas, tapi 4 diantaranya pasti kecewa, sebab mereka gagal meraih targetnya.

Sementara ada yang urutan ke 15 justru berpesta pora saking gembiranya, karena dia bisa mengalahkan beberapa murid yang lain, padahal targetnya biar nomor paling buncit, asal tetap naik kelas.

Berdasar pada ilustrasi di atas, maka tidak heran, jika banyak orang kaya, pintar, gagah, berpangkat dan sekian banyak kelebihan lain yang dia punya, tapi justru sering dilanda stres, galau gak karuan, dibanding orang biasa yang serba kekurangan, tapi mereka tetap enjoy menghadapi realitas hidupnya, karena sejak awal target capaiannya memang berbeda.

Namun, apa benar jika kemudian dalam hidup ini kita berprinsip yang kata orang mengalir saja seperti air, tidak usah punya target macam-macam, sehingga kita tidak perlu kecewa jika tidak berhasil mendapatkan apa yang ditargetkan?

Harus diingat, bahwa air pun pada prinsipnya tetap punya “target” dalam “hidupnya”, yakni selalu mencari tempat yang paling rendah.

Maka kesimpulannya, jika seseorang tidak memiliki target, maka sepanjang hidupnya tidak akan pernah menikmati kesuksesan, dan ujung-ujungnya, pasti akan menjadi orang yang akan direndahkan.

Untuk itulah, ada pepatah bijak yang mengatakan “gantungkan cita-citamu setinggi langit”, dalam arti dan pengertiannya, dalam hidup ini, seharusnya kita memiliki target setinggi-tingginya, agar nantinya tidak menjadi orang “rendahan” yang selalu direndahkan.[]

*) Ust. Akib Junaid Kahar, penulis adalah anggota Majelis Mudzakarah Hidayatullah

Kurikulum Integral Berbasis Tauhid Mampu Mewujudkan Tujuan Pendidikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida), Hani Akbar, mengatakan kurikulum integral berbasis Tauhid mampu mewujudkan tujuan pendidikan.

Hal itu disampaikan Hani saat menjadi penyaji dalam acara Webinar Pendidikan PP Mushida bertajuk “Kurikulum Integral Berbasis Tauhid dalam Pembelajaran” pada Sabtu, 3 Dzulqa’dah 1445 (11/5/2024).

“Kurikulum integral berbasis Tauhid adalah kurikulum yang bertujuan mengembangkan seluruh aspek ruhiyah, aqliyah, dan jismiyah dalam rangka membangun manusia menjadi hamba dan khalifah-Nya,” kata Hani sebagai pemateri pada acara yang dihadiri oleh Kepala Sekolah dan Guru PAUD Mushida se-Indonesia tersebut.

Menurut Hani, sejauh ini pendidikan Hidayatullah menerapkan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) karena kondisi dan permasalahan yang ada dalam pendidikan Indonesia saat ini yang sangat dipengaruhi oleh Barat. Sehingga melahirkan generasi yang jauh dari agama.

Untuk diketahui, fase pra tamyiz merupakan fase yang penting dalam kehidupan manusia. Fase ini merupakan pondasi yang sangat berperan bagi fase-fase berikutnya.

“Secara ilmiah, dilihat dari perkembangan otak, bahwa saat anak diajak bicara atau diperdengarkan asma-asma Allah, semua neuron atau sel saraf dapat tersambung dengan cepat,” urainya di hadapan peserta webinar yang terdiri dari lebih dari 300 partisipan.

Apa saja aspek yang dapat diintegrasikan? Diantaranya, sebut Hani, adalah integrasi keyakinan, pemikiran, dan perbuatan. Integrasi sumber pembelajaran yaitu aqidah, akhlak, dan syariah. Integrasi lingkungan belajar sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Adapun pendidikan integral berbasis Tauhid berdasarkan Sistematika Wahyu sebagai manhaj dengan menanamkan aqidah pada anak, mengenalkan hakikat Rabb, alam dan manusia,” imbuhnya.

Lebih jauh, Hani menjelaskan bahwa metode KIBT yang dilakukan setiap pembelajaran diawali dengan proses tilawah yang melahirkan kesadaran dalam bertauhid. Proses tazkiyah agar terhindari dari maksiat. Proses ta’limah dengan mengajarkan Qur’an dan sunnah yang melahirkan insan kamil.

“Sebagai guru, kita harus memperhatikan dan menjaga adab sebelum mengajar, istiqamah dalam beribadah, berdzikir, dan tilawah. Agar Allah memberikan ilmu sehingga kita bisa mendidik murid dengan baik,” imbaunya sebelum mengakhiri materi.

Hal ini sejalan dengan kata mutiara yang mengungkapkan bahwa:

الطَّرِيْقَةُ اَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ, وَالْمُدَرِّسُ اَهَمُّ مِنَ الطَّرِيْقَةُ, وَرُوْحُ الْمُدَرِّسُ اَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ نَفْسِهِ

“Metode itu lebih penting dari materi ajar, dan guru lebih penting dari metode, tetapi ruh (jiwa) seorang guru itu lebih penting dari guru itu sendiri.”

Dia menambahkan, ruh guru dapat diisi dengan ibadah nawafil seperti shalat lail dan tilawah Al-Qur’an. “Hal inilah yang menambah kualitas seorang pendidik,” tegasnya menandaskan.

Sementara itu, Ruspayanti, Ketua Departemen Pendidikan PP Mushida sekaligus penyelenggara webinar kali ini, menyampaikan kegiatan webinar ini digelar untuk menguatkan kolaborasi dan kesamaan persepsi dalam rangka memajukan pendidikan.

“Untuk memajukan pendidikan, kita tidak bisa berdiri sendiri. Mari kita saling bersinergi antar sekolah, keluarga, dan lingukungan,” kata Ruspayanti.

Dia berharap, semoga dari kegiatan ini akan melahirkan sumber daya pendidik yang mumpuni dalam rangka mengantar peserta didik menjadi pribadi yang baik guna mencapai tujuan pendidikan,

“Mengingat ruh guru adalah hal yang paling penting, semoga dengan adanya pencerahan atau pembinaan yang diberikan oleh guru, bisa mengantarkan anak-anak kepada tujuan pendidikan yang sesungguhnya,” tuturnya.*/Arsyis Musyahadah

Tetaplah Bersikap Adil Meskipun Sedang Benci

BILA rasa cinta telah menguasai hati, sederet keburukan bisa menjadi sekuntum keindahan. Namun, bila kebencian telah menggelapkan jiwa, segunung kelebihan pun bisa menjadi seonggok sampah menjijikkan.

Pada dua keadaan tersebut, manusia sering terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang salah. Mereka tercerabut dari obyektifitas, sikap adil, dan posisi pertengahan. Ada yang terjebak dalam fanatik buta. Ada pula yang terjerat dalam permusuhan liar.

Sudah tak terhitung lagi berapa kezaliman yang bermula dari kebencian. Tidak sedikit pula tindakan ngawur yang didorong cinta buta. Iblis adalah oknum nomer satu untuk kezaliman yang dilatarbelakangi kebencian ini.

Semata-mata karena membenci Adam, maka Iblis bersumpah menjerumuskan seluruh anak cucu Adam ke neraka. Padahal, apa salah keturunan Adam kepada Iblis? Bukankah ketika itu mereka belum dilahirkan? Namun, Iblis tidak butuh alasan untuk kezalimannya. Pokoknya, ia benci dan ingin mencelakakan. Titik!

Maka, kita diperintahkan berlaku adil semaksimal mungkin. Jangan sampai kebencian mendorong kita bertindak yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Itu sama saja dengan mengekor Iblis dan konco-konconya, padahal mereka musuh kita yang paling nyata.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan yang keji dan munkar. Andai bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tak seorang pun dari kalian bersih (dari yang keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nur: 21).

Jelas tidak gampang menahan diri dan tetap adil, obyektif, pertengahan manakala kita sedang mendongkol. Tapi, besarnya pahala juga ditentukan oleh besar-kecilnya kesulitan yang dihadapi.

Apalagi, sekarang bermacam-macam fitnah dan kabar burung sedemikian mudah di-forward dan copy-paste (copas) melalui internet, media sosial, dan fitur pesan cepat (instant messaging) seperti Whatsapp langsung di ujung jari kita.

Kita sering dibombardir oleh informasi-informasi yang telah dipelintir tanpa menyadari agenda tersembunyi di baliknya. Belakangan kita baru tahu bahwa ternyata semua itu hoax (kebohongan) atau salah.

Emosi kita diusik melalui gambar, video, dan narasi-narasi yang menghentak. Begitu kemarahan kita tersulut, provokasi pun disebar dan tiba-tiba kita telah terkepung kobaran api yang tidak diketahui mana pinggiran mana pula pusatnya.

Oleh karenanya, kita mendapati hadits ke-16 dalam Arba’in Nawawiyah berisi nasehat Rasulullah agar tidak mudah marah (laa taghdhob), dan beliau mengulanginya berkali-kali.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Pesan beliau dalam hadis ini sangat relevan pada hari-hari ini. Sekarang kita menjadi semakin paham pula mengapa hadits itu termasuk salah satu poros ajaran Islam (madaarul islam).

Jangan Gegabah

Alkisah, pada zaman Nabi, para Sahabat pernah hampir terprovokasi dan bertindak gegabah. Zaid bin Aslam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat berkumpul di Hudaibiyyah setelah kaum musyrikin Makkah menghalangi mereka mengunjungi Baitullah. Jelas saja mereka sedang jengkel.

Tiba-tiba, ada serombongan kaum musyrikin lain dari kawasan timur Jazirah Arab yang bermaksud menunaikan Umrah. Dulu, kaum musyrikin juga mengunjungi Baitullah, dengan mencampurkan ritual syirik ke dalam syariat haji.

Para Sahabat pun berkata, “Kita halangi saja mereka seperti teman-teman mereka menghalangi kita!” Namun, Allah tidak menyetujui rencana ini dan menurunkan ayat ke-2 dari surah al-Maidah (Tafsir Ibnu Katsir, II/12).

Di dalam ayat ke-2 dari surah al-Maidah itu, Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, jangan melanggar kehormatan Bulan-bulan Haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang Hadyu dan Qalaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Jangan sekali-kali kebencian(mu) kepada suatu kaum – karena mereka telah menghalangimu dari Masjidil Haram – mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS al-Maidah: 2).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, sebagai berikiut:

“Jangan sampai kebencian kalian kepada suatu kaum – yang telah menghalangi kalian dari Masjidil Haram, yaitu pada Tahun Perjanjian Hudaibiyah – menyeret kalian untuk bertindak aniaya dalam melaksanakan hukum Allah, sehingga kalian melakukan pembalasan kepada sebagian dari mereka secara zhalim dan melampaui batas. Akan tetapi, putuskan hukum sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kalian, yaitu berbuat adil kepada siapa saja.”

Perintah serupa diulang pada ayat ke-8 surah yang sama. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Menurut Imam Ibnu Katsir, maknanya adalah: “Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum menyeret kalian untuk meninggalkan sikap adil, sebab adil itu wajib atas siapa saja, terhadap siapa saja, dalam kondisi apa saja.”

Alhasil, meski kita tak menyukai figur, tokoh, gerakan, partai tertentu, dan lain sebagainya; jangan sampai kita terseret berbuat zalim dan aniaya, misalnya ikut serta menyebarkan informasi palsu, belum diverifikasi, atau fitnah.

Berhati-hatilah dan jangan mudah terprovokasi. Berusahalah bersikap adil, tenang, dan obyektif. Sungguh, keadilan itu lebih dekat kepada takwa, dan ketakwaan akan membawa kita ke surga. Wallahu a’lam.

*) Ust. H. M. Alimin Mukhtar, pengasuh Yayasan Pendidikan Islam Ar Rohmah Hidayatullah Malang