Beranda blog Halaman 225

Rakerwil Bengkulu Ketum Tekankan Kolektifitas, Sinkronisasi dan Koordinasi Gerakan

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Nashirul Haq Marling, MA, hadir membersamai kegiatan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Bengkulu selama 3 hari yang dibuka pada Sabtu, 1 Rajab 1445 (13/1/2023).

Dalam arahannya sekaligus membuka acara tersebut, Nashirul menekankan perlunya kerja kerja kolektif dengan terus melakukan peningkatkan koordinasi gerakan dan sinkronisasi antaranggota organisasi guna mengoptimalkan pelaksanaan program-program Hidayatullah secara efektif.

“Kehadiran unsur DPD, Organisasi Pendukung, amal usaha dan badan usaha dalam Rakerwil ini dalam rangka terbangunnya kerjasama secara kolektif, sinkronisasi dan koordinasi demi terlaksananya program kerja DPW yang disepakati,” katanya.

Sementara, katanya melanjutkan, Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping bertugas untuk memastikan bahwa seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil dalam Rakerwil sejalan dengan hasil keputusan Sidang Pleno, Musyawarah Majelis Syura serta kesepakatan Rapat Kerja Nasional 2023 yang lalu.

Sebagaimana biasa, Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, unsur Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD), dan unsur Organisasi Pendukung (Pengurus Wilayah Pemuda dan Pengurus Wilayah Muslimat).

Rakerwil juga dipesertai oleh unsur amal usaha tingkat wilayah (seperti BMH Perwakilan, Pondok Pesantren-Kampus Madya, Pos Dai, SAR, dll), juga badan usaha, serta unsur Dewan Pengurus Pusat.

Ia menjelaskan, selain menetapkan program kerja, Rapat Kerja Wilayah juga momen yang tepat untuk melakukan evaluasi tahunan agar kekurangan dan kekhilafan pada tahun berjalan dapat diperbaiki di tahun berikutnya.

Setelah pelaksanaan Rakerwil ini, Nashirul mendorong agar seluruh DPD, amal usaha dan badan usaha dapat menuangkan lebih lanjut dalam program kerja terperinci, terukur, dan dapat dinilai secara kuantitatif.

“Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan, kinerja yang dicapai, dan prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah Ta’ala, bahkan disaksikan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan orang-orang beriman kelak di akhirat,” katanya, seraya menyitir Al Qur’an surah At-Taubah ayat 105.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,” nukilnya.

Ia menegaskan pentingnya kolektifitas, sinkronisasi, dan koordinasi gerakan dalam menjalankan program organisasi. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan Hidayatullah dalam mencapai tujuan-tujuannya diantaranya sangat tergantung pada sinergi dan kerjasama yang baik antaranggota.

Momentun Rakerwil juga membahas strategi implementasi program, peningkatan kapasitas anggota, serta upaya untuk lebih terlibat dalam pemberdayaan dan layanan masyarakat.

Selain itu, ada pula sesi pembahasan tentang upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan dakwah di tengah masyarakat.

Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu, Ust. Ahmad Suhail, menyampaikan dari Rakerwil ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dan semangat bergerak bersama demi kemajuan organisasi ke depan.

Menurutnya, dengan musyawarah dan kolaborasi yang lebih erat, diharapkan Hidayatullah mampu memberikan kontribusi positif yang lebih besar dalam menjalankan program mainstream dakwah dan tarbiyah yang lebih baik.

Apresiasi Mitra Zakat

Pada kesempatan tersebut, dilakukan penyerahan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kantor Perwakilan Bengkulu kepada sebanyak 4 Mitra Zakat (MZ) yang selama ini menjadi mitra kerja dalam pengembangan layanan di kawasan itu.

Penyerahan piagam disaksikan langsung oleh Ust. H. Nashirul Haq Marling, MA yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina BMH.

Kepala Kantor Laznas BMH Bengkulu, Mohammad Irwan, menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada empat Mitra Zakat yang telah berperan aktif dalam mendukung misi Laznas BMH di wilayah tersebut.

“Apresiasi ini adalah bentuk pengakuan atas kerjasama yang erat dan kontribusi yang luar biasa dari para Mitra Zakat dalam pengembangan layanan dan program BMH di Bengkulu. Kami berharap piagam penghargaan ini dapat menjadi semangat tambahan untuk terus berkhidmat dan berkolaborasi dalam memberikan manfaat bagi umat,” ungkap Mohammad Irwan.

Empat Mitra Zakat yang mendapatkan penghargaan ini telah terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk program-program sosial, pendidikan, kesehatan, dan bantuan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan. Keberhasilan pelaksanaan program ini tidak terlepas dari dukungan penuh dan kolaborasi yang baik antara Laznas BMH dan Mitra Zakat.

Irwan berharap bahwa apresiasi ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan atas kinerja para Mitra Zakat, tetapi juga sebagai dorongan positif agar semakin banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan amil zakat dan berkontribusi dalam mengembangkan dan memberdayakan umat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kapolres Sapa Santri Ar Rohmah Putra Hidayatullah Malang

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Malang, AKBP Putu Kholis Aryana, meluangkan waktu menyapa santri Yayasan Pondok Pesantren Ar Rohmah Putra Hidayatullah dalam Forum Jumat Curhat, Jum’at, 30 Jumadil Akhir 1445 (12/1/2024).

Kedatangan Kapolres beserta rombongan disambut hangat di Aula Rapat LPI Ar-Rohmah Putra. Acara dibuka oleh Ustadz Fahmi, kepala SMA Ar-Rohmah Putra, yang kemudian diikuti oleh sambutan pertama dari Kapolres Malang.

Berikutnya sambutan kedua dari Pembina LPI Ar-Rohmah Putra, K.H. Dr. Ali Imron, M.A. Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang memberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung antara peserta dan tamu.

Kegiatan ini dihadiri juga oleh segenap santri, pengasuh Lembaga Pendidikan Islam Ar Rohmah, serta pejabat utama Polres Malang dan Muspika Kecamatan Dau.

Di hadapan para santri dan hadirin, Kapolres Putu Kholis Aryana menyampaikan bahwa program Jumat Curhat tidak hanya sekadar silaturahmi, melainkan sebagai bentuk kepedulian kepolisian terhadap aspirasi, usulan, dan keluhan masyarakat, termasuk dari kalangan pondok pesantren.

“Kami bersilaturahmi ke pondok-pondok pesantren di Kabupaten Malang, mohon masukan dari para kiai untuk menjaga situasi wilayah Kabupaten Malang yang aman dan kondusif,” kata Kapolres AKBP Putu Kholis.

Dalam forum ini, berbagai isu dibahas, salah satunya adalah pemanfaatan gawai atau ponsel oleh para santri. Pengasuh Pondok Pesantren Ar Rohmah menyampaikan keprihatinan terkait penggunaan media sosial dan game online.

Kapolres Malang menanggapi dengan mengimbau para santri untuk bijak memanfaatkan teknologi, khususnya dalam bermedia sosial, guna membatasi dampak negatif seperti pornografi, judi online, dan kekerasan terhadap anak.

“Terkait kemajuan teknologi, kita harus membentengi anak-anak dengan kegiatan positif seperti pelajaran ekstrakurikuler untuk mendeteksi dan membatasi penggunaan handphone,” kata AKBP Putu Kholis Aryana.

Dengan adanya Forum Jumat Curhat ini, diharapkan interaksi positif antara kepolisian dan masyarakat terus terjalin, menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bersinergi dalam menanggulangi berbagai tantangan di era teknologi saat ini. (ybh/hio)

Training Hukum bagi Dai dan Guru se-Sulbar Tekankan Bijak Bermedia Sosial

0

MAJENE (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah (LBHH), Dr. Dudung A. Abdullah, menjadi narasumber dalam acara Training Hukum bagi Dai dan Guru se-Sulbar yang digelar dalam rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) bertajuk “Menjadi Guru dan Dai Cerdas Hukum, Antisipasi Pelanggaran Hukum dalam Proses Pembinaan Ummat” di Kota Mejene, Sabtu, 1 Rajab 1445 H (13/1/2024).

Pada kesempatan tersebut Dudung menekankan pentingnya pemahaman terhadap peraturan undang undang sehingga mengarahkan penggunaan media sosial yang lebih bijaksana agar tidak terjerembab pada kasus hukum atau terperosok pada delik pidana.

Dudung menguatkan pemaparannya dengan menyajikan muatan dan substansi daripada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Undang Undang Nomor 1 Tahun 2024 ini merupakan materi perubahan atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang juga menjadi perubahan yang ketiga,” katanya.

Dalam paparannya, Dudung menyampaikan pentingnya pemahaman terhadap peraturan hukum terkini, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat.

Ia menyoroti beberapa poin kunci yang diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024, termasuk aspek perubahan dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008.

Selain membahas aspek hukum, Dudung juga memberikan penekanan pada kewaspadaan dalam bermedia sosial. Menurutnya, masyarakat perlu cerdas dalam menggunakan platform media sosial agar tidak terperosok pada delik pidana yang dapat berujung pada masalah hukum serius.

“Dalam era digital ini, bermedia sosial merupakan kegiatan sehari-hari bagi banyak orang. Namun, kita perlu ingat bahwa setiap tindakan di dunia maya juga memiliki konsekuensi hukum. Oleh karena itu, kecerdasan dalam bermedia sosial menjadi kunci untuk menghindari permasalahan hukum yang tidak diinginkan,” ungkap Dudung.

Selain itu, ia juga memberikan pesan khusus kepada para dai dan guru untuk bijak dalam menggunakan teknologi. Menurutnya, para pemuka agama dan pendidik memiliki peran penting dalam membimbing umatnya agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan teknologi.

“Dai dan guru memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umatnya, termasuk dalam penggunaan teknologi. Kita perlu bersama-sama memastikan bahwa teknologi digunakan secara bijak dan bertanggung jawab,” imbuhnya.

Dudung menekankan bahwa dalam perkembangan zaman, aturan hukum terus berubah, dan masyarakat harus bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut. Karenanya, training hukum menjadi wadah efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita bersama.

Sekretaris DPW Hidayatullah Sulbar Drs. Massiara mengatakan Training Hukum bagi Dai dan Guru se-Sulbar ini diadakan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat khususnya guru dan dai di lingkungan Hidayatullah Sulbar terkait perubahan hukum terbaru di bidang teknologi dan informasi.

“Kegiatan ini sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan hukum terkini. Training hukum menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan zaman, terutama dalam konteks perubahan regulasi hukum terbaru,” kata Massiara dalam keterangannya.

Ia mengungkapkan bahwa acara tersebut memiliki tujuan utama untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat mengenai perubahan-perubahan hukum yang terjadi.

Ia juga mengapresiasi peran LBH Hidayatullah dalam membantu masyarakat memahami hak-hak dan kewajiban mereka, serta memberikan bimbingan hukum yang diperlukan. Menurutnya, pemahaman hukum yang baik sangat penting bagi setiap individu agar dapat menjalani tugas sehari-hari dengan aman dan terlindungi.

Massiara juga menyambut baik fokus acara yang tidak hanya membahas aspek hukum secara umum, tetapi juga menyoroti perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial. Menurutnya, pemahaman terhadap peraturan hukum terkait teknologi menjadi hal yang krusial di era digital ini.

“Kita tidak hanya harus paham aturan hukum secara umum, tetapi juga harus cerdas dalam menggunakan teknologi. Training ini memberikan pemahaman yang komprehensif untuk melibatkan guru dan dai Hidayatulllah khususnya di Sulbar dalam dunia digital dengan bijak,” tambahnya.

Acara training hukum ini dihadiri oleh guru dan dai perwakilan dari berbagai daerah di Sulbar. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat Sulawesi Barat dapat lebih proaktif dalam mengikuti perkembangan hukum dan teknologi, serta menjalani kehidupan sehari-hari dengan pemahaman hukum yang lebih baik. (ybh/hidayatullah.or.id)

Bahagianya Para Janda dan Lansia di Mojokerto Terima Bantuan Paket Sembako

0

MOJOKERTO (Hiayatullah.or.id) — Pada hari yang penuh berkah Jumat, 30 Jumadil Akhir 1445 (12/1/2025), Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Mojokerto mengulurkan tangan kepada para janda dan lansia di Desa Gembongan Wetan, Kecamatan Gedeq, Mojokerto.

Kelompok rentan ini telah lama menjadi masyarakat asuhan BMH di bawah pengawasan pengasuh Rumah Qur’an Hidayatullah. Mereka adalah individu yang rata-rata menghadapi kendala ekonomi dan menjalani kehidupan sendirian.

Mbah Iyan, Bu Sholiha, dan Bu Sundari, di antara mereka yang menerima bantuan berupa paket sembako, merasa sangat berbunga-bunga dan senantiasa bersyukur.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, mengatakan bantuan ini bukan hanya sekadar sumbangan, tetapi juga merupakan penambah kebutuhan sehari-hari mereka.

“Mereka dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada Laznas BMH dan semua donatur yang telah memberikan bantuan ini,” terang Imam Muslim.

Tindakan kebaikan seperti ini adalah bukti konkret kebaikan zakat, infak dan sedekah yang dipercayakan umat melalui Laznas BMH.

Oleh sebab itu, Laznas BMH berkomitmen untuk terus mendukung mereka yang memerlukan bantuan, dan kisah ini adalah pengingat bahwa setiap bantuan, sekecil apapun, dapat memiliki dampak besar dalam kehidupan orang lain.

“Semoga tindakan ini menginspirasi lebih banyak orang untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama,” tutup Imam Muslim.*/Herim

Semangat Berdakwah, Begini Perjuangan Ustadz Faris Bangun Pesantren di Pedalaman

0

MENJADI dai adalah pilihan luar biasa. Karena dalam dakwah penuh makna dan dedikasi.

Meskipun tidak selalu mendapat pengakuan formal seperti pahlawan. Para dai bekerja tanpa henti dalam misi dakwah untuk membimbing dan mendidik masyarakat, membawa terang ke pelosok negeri, mencerdaskan anak bangsa.

Dan, karena perjalanan itu adalah langkah mulia, seorang dai tidaklah mudah dalam menekuni jalan Nubuwwah.

Mereka sering dihadapkan pada berbagai rintangan dan cobaan, terutama ketika mereka bekerja di pedalaman. Salah satu contoh inspiratif adalah kisah Ustadz Faris, yang telah berjuang membangun pesantren di Kabupaten Langkat selama lima tahun terakhir.

Kisah Ustadz Faris

Tahun 2018 adalah tahun bersejarah bagi Ustaz Faris. Dia mendapatkan tugas baru untuk berdakwah di Langkat, meninggalkan Pulau Nias sebagai tempat tugas sebelumnya.

Tugasnya di Langkat tidak hanya mencakup tugas-tugas umum seperti menjadi khotib, imam sholat, mengajar ngaji, dan lainnya, tetapi juga membangun sebuah pesantren.

Dan, tantangannya, pesantren ini harus dimulai dari nol, tanpa ada bekal modal dalam bentuk kapital.

Langkat memiliki banyak pesantren dan sekolah agama, serta tokoh agama dan ulama yang sudah mapan.

Oleh karena itu, membangun pesantren di sana adalah sebuah tantangan besar yang memerlukan upaya dan pengorbanan yang luar biasa.

Ustadz Faris mulai dengan mencari lokasi yang sesuai untuk pesantren. Dia menemukan tanah wakaf yang sudah lama tidak terurus di Kampung Lalang, Desa Pekan Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Namun, lahan tersebut penuh semak dan memiliki lereng curam.

Dalam perjalanan menggarap tanah tersebut, Ustadz Faris aktif menjalin hubungan dengan masyarakat setempat melalui silaturahim, baik secara fisik maupun melalui media sosial.

Silaturahim adalah salah satu kunci sukses dalam mendirikan pesantren ini. Mereka menyampaikan cita-cita mereka untuk membangun pesantren secara bertahap dengan bahasa yang sederhana, dan dukungan pun mulai mengalir, meskipun sederhana.

Pada akhirnya, Allah mengabulkan harapan mereka dan memberikan bantuan. Bangunan-bangunan mulai berdiri di lahan tersebut, termasuk masjid, sekolah, asrama, rumah pengasuh, dan saung belajar. Pesantren ini diberi nama Pesantren Darul Fatah Hidayatullah.

Tantangan belum melandai, meski bangunan sudah berdiri, keberlanjutan pesantren masih bergantung pada bantuan dan dukungan dari pihak lain untuk kebutuhan sehari-hari, seperti logistik. Hal ini adalah cerminan nyata dari pertolongan Allah.

Selain berhasil membangun pesantren, Ustadz Faris juga telah berhasil mendidik 55 santri putra dan putri, dengan 17 di antaranya tinggal di asrama tanpa biaya alias gratis.

Perjuangan Ustaz Faris ini adalah contoh luar biasa dari semangat berdakwah dan membangun pesantren di pedalaman.

Tantangan dan kesulitan yang dia hadapi menjadi refleksi perjuangan yang tidak mudah, tetapi hasilnya sangat memuaskan dalam membimbing generasi muda dan masyarakat setempat menuju jalan yang benar.

Untuk meringkankan beban Faris menjadi guru ngaji dan dai di masyarakat, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) pun secara rutin memberikan bantuan.

Kepala BMH Perwakilan Sumut, Lukman Thalib, mengatakan Laznas BMH hadir menguatkan dakwah di pedalaman melalui pesantren dengan bekerjasama dengan dai-dai pedalaman.

“Dari dana zakat, infak dan sedekah, cahaya Islam terus memendar dengan kiprah tak kenal lelah para dai dalam berdakwah,” tutup Lukman.*/Herim

Tuan Rumah Rakerwil Sulbar, Wakil Bupati Majene Apresiasi Kehadiran Hidayatullah untuk Masyarakat

0

MAJENE (Hidayatullah.or.id) – Kabupaten Majene menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) selama 3 hari yang digelar di Hotel Nusabila Majene, Jalan Jenderal Sudirman, Lembang, Baurung, Kecamatan Banggae Timur, dibuka pada Sabtu, 30 Jumadil Akhir 1445 (12/1/2024).

Wakili Bupati Majene Arismunandar Kalma, S.STP., M.M yang membuka Rakerwil Hidayatullah Sulbar ini menyampaikan apresiasi atas kiprah dan kehadiran Hidayatullah di masyarakat.

“Masyarakat Kabupaten Majene sangat merasakan kehadiran program Hidayatullah,” kata Arismunandar dalam sambutannya.

Wakil Bupati mengatakan, kiprah dan kehadiran Hidayatullah itu berdasar dari interaksi pemerintah dalam program sinergi dan layanan di masyarakat yang dilakukan Hidayatullah semisal Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH).

Arismunandar berharap Hidayatullah terus memantapkan kiprahnya di Sulawesi Barat dan secara khusus di Kabupaten Majene.

“Hadirnya Hidayatullah di kabupaten merupakan berkah tersendiri. Selain program sinergi dakwah juga bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan,” katanya.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW)Hidayatullah Sulbar Drs. H. Mardhatillah, melaporkan bahwa Hidayatullah sudah hadir di 6 kabupaten dengan semua program layanan masyarakat.

Layanan masyarakat itu alan terus dikuatkan, kata Mardhatillah. Dia menyebutkan program itu diantaranya layanan sosial, pendidikan, dan amal amal usaha milik organisasi.

Mardhatillah mengatakan kesemua layanan itu sejalan dengan visi misi pembangunan daerah dimana semuanya berorientasi kepada pembangunan daerah dalam bidang mental spiritual anak bangsa.

“Makanya kami buka rumah rumah Qur’an sebagai upaya membentengi aqidah anak anak,” katanya, sembari menyebutkan Hidayatullah telah banyak aktif menangkal ajaran ajaran menyimpang di tengah kehidupan beragama.

Kemenag dan Arahan Pendamping

Pada kesempatan tersebut turut hadir Kepala Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) Kemenag Majene, rs. H. Darmawan, M.Pd.I. Ia juga didapuk untuk memberikan penguatan kepada peserta Rakerwil.

Dalam sambutannya, Kasubag TU Kemenag Kabupaten Majene ini menyebutkan pada tahun 1992 silam sempat beberapa kali mendengarkan langsung ceramah yang menggugah oleh pendiri Hidayatullah almarhum Ustadz Abdullah Said di Hidayatullah Karang Bugis.

“Jadi, saya sudak cukup lama mengenal Hidayatullah,” katanya.

Menurutnya, hubungan Hidayatullah dengan Kementerian Agama sangat dekat dan familiar dengan program program keumatannya.

“Kami berharap kepada Hidayatullah agar bisa terprogram dan dinamis dakwahnya,” tandasnya.

Pesan dan harapan Kasubag TU Kemenag Kabupaten Majenel itu juga dikuatkan oleh arahan dari Ketua Departemen Hukum DPP Hidayatullah Dr. Dudung A. Abdullah, MH, selaku pendamping Rakerwil.

Pada kesempatan itu, Dudung mengingatkan kepada kader bahwa Hidayatullah adalah bagian dari elemen penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, Hidayatullah berkewajiban mewarnai pembangunan karakter bangsa dengan nilai-nilai Islam yang kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin di segala bidang, termasuk politiik.

“Hidayatullah mengusung politik silaturrahim, yakni menjadi tali perekat kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat dalam mengikat ukhuwah dan menyatukan kekuatan bangsa,” kata Dudung.

Rakerwil Hidayatullah Sulbar dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, unsur Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD), unsur Organisasi Pendukung (Pengurus Wilayah Pemuda dan Pengurus Wilayah Muslimat).

Hadir pula unsur amal usaha Hidayatullah tingkat wilayah (BMH Perwakilan, Pondok Pesantren-Kampus Madya, Pos Dai, SAR, dll), juga badan usaha, serta unsur Dewan Pengurus Pusat.

Rakerwil itu mengusung tema besar yaitu “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Sentralisasi, Standardisasi, dan Integrasi Sistemik. (ybh/hidayatullah.or.id)

Penyerahan Bantuan Sumur Bor untuk Pesantren Al-Islah Bani Menoy Lebak

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Ruswandi, seorang pimpinan pesantren, selalu merasa prihatin dengan kondisi para santrinya di Pesantren Al-Islah Bani Menoy, yang terletak di Kampung Kadugede, Desa Mekarsari, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Pasalnya mereka menghadapi masalah serius, yaitu tidak ada akses air bersih yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, berwudhu, dan minum.

Kata Ruswandi, kondisi sulit ini memaksa para santri untuk berjalan hampir dua kilometer ke sebuah kubangan sawah jika ingin mandi. Jalanan curam dan berlumpur membuat perjalanan itu tidak hanya merepotkan, tetapi juga berbahaya.

“Situasi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang nyata,” ungkap Ruswandi, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 30 Jumadil Akhir 1445 (12/1/2024).

Tidak hanya itu, untuk memiliki persediaan air saat malam hari, mereka harus mengangkut air dengan motor pada sore hari. Ruswandi dengan tekun mengerahkan usaha untuk memenuhi kebutuhan air para santri, tetapi ini menjadi tugas yang semakin sulit.

Namun, harapan dan kebutuhan para santri kini telah terpenuhi. Berkat bantuan sumur bor yang disalurkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Banten, para santri kini memiliki akses mudah ke air bersih.

Ruswandi mengungkapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah, setelah adanya sumur bor, santri kami kini dapat mandi dan berwudhu dengan lebih mudah. Terima kasih kepada para donatur BMH yang telah memberikan bantuan ini. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlimpah.”

Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Perwakilan Banten, menyatakan, “Program sumur bor ini akan terus kami lanjutkan. Karena masih banyak masyarakat, terutama pesantren di pedalaman, yang belum memiliki akses yang memadai ke air bersih.”

Bantuan ini bukan hanya mengatasi masalah kekurangan air, tetapi juga memberikan harapan dan kenyamanan kepada para santri, membantu mereka dalam perjalanan pendidikan dan ibadah mereka.

“Inilah bagian dari bukti ‘keajaiban’ zakat, infak dan sedekah yang umat Islam salurkan melalui BMH,” tutup Roni.*/Herim

Pj Gubernur, Sukiman Azmy dan Wahyu Rahman Bagikan Spirit di Rakerwil NTB

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Bupati Kabupaten Lombok Timur periode 2008-2013 dan 2018-2023, Kolonel Caj (Purn) Drs. H. M. Sukiman Azmy, M.M., menghadiri pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu, 1 Rajab 1445 (13/1/2024).

Pada kesempatan tersebut hadir juga Ketua Bidang (Kabid) Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs Wahyu Rahman, MM yang mendampingi Rakerwil NTB.

Selain itu, hadir pula PJ Gubernur yang diwakili oleh Kesbangpol NTB Ruslan Gani, SH, M.Hum yang sekaligus membuka secara resmi Rakerwil Hidayatullah NTB yang digelar di Kota Mataram ini.

Ruslan Gani dalam sambutannya membuka acara menyampaikan apresiasi atas gerakan dakwah dn pendidikan Hidayatullah di NTB yang menurutnya sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ruslan juga berpesan bahwa tahun 2024 adalah tahun politik. Karena itu, kata dia, hendaknya Hidayatullah memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya binaan Hidayatullah agar menggunakan hak pilihnya masin masing.

“Mari selalu bersama sama menjaga kondusifitas di tahun politik dan jangan lupa gunakan hak politiknya,” pesan Ruslan.

Setelah Rakerwil dibuka secara resmi, Bupati Kabupaten Lombok Timur periode 2008-2013 dan 2018-2023, Sukiman Azmy, diminta untuk memberi pencerahan kepada peserta Rakerwil.

Sukiman dalam arahannya menyampaikan pentingnya silaturahim kepada seluruh lapisan masyarakat, pada semua golongan dan kepada semua tuan guru yang cukup banyak di NTB.

“Silaturrahim ini kunci agar ukhuwah sebagai wujud ruhamau bainahum, berkasih sayang dengan sesama, dapat terwujud di tengah umat. Jika simpul ukhuwah umat di NTB ini menyatu maka Islam akan kuat dan kokoh,” kata Sukiman.

Sukiman juga menguatkan tema Rakerwil 2024 “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik”. Menurutnya, bahwa dengan sistem pengelolaan organisasi yamg tersentral maka organisasi akan solid dan kuat.

Konsolidasi Organisasi

Pada kesempatan yang sama, Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah Wahyu Rahman menyampaikan bahwa pada acara Rapat Kerja Wilayah ini dilakukan konsolidasi, koordinasi, sosialisasi dan evaluasi serta merumuskan program-program yang akan dikerjakan dalam tahun 2024 nanti.

“Semua ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shaleh secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur,” kata Wahyu.

Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, unsur Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD), unsur Organisasi Pendukung (Pengurus Wilayah Pemuda dan Pengurus Wilayah Muslimat), unsur amal usaha tingkat wilayah (seperti BMH Perwakilan, Pondok Pesantren-Kampus Madya, Pos Dai, SAR, dll), juga badan usaha, serta unsur Dewan Pengurus Pusat.

Dia menjelaskan, kehadiran unsur DPD, Organisasi Pendukung, amal usaha dan badan usaha dalam Rakerwil ini dalam rangka terbangunnya kerjasama secara kolektif, sinkronisasi dan koordinasi demi terlaksananya program kerja DPW yang disepakati.

Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping, terang dia, bertugas untuk memastikan bahwa seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil dalam Rakerwil sejalan dengan hasil keputusan Sidang Pleno, Musyawarah Majelis Syura serta kesepakatan Rapat Kerja Nasional 2023 yang lalu.

Pada kesempatan itu Wahyu juga berpesan pentingnya keterlibatan warga Hidayatullah dalam menjaga harmoni bangsa.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lanjut Wahyu, Hidayatullah sebagai elemen penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia berkewajiban mewarnai pembangunan karakter bangsa dengan nilai-nilai Islam yang kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin di segala bidang, termasuk politiik.

“Hidayatullah mengedepankan politik silaturrahim, yaitu membangun kerja sama dan sinergi berbagai komponen bangsa dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar untuk kemuliaan dan kemajuan umat dan bangsa,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk menghadapi Pemilu mendatang dengan gembira, berkompetisi secara sehat, mengusung narasi dan diksi yang mencerdaskan. Mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik.

Dia menegaskan, kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, sportif, jujur, adil, dan cerdas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban.

“Hindari kecurangan, cegah money politic, jauhi sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama,” katanya, yang membacakan arahan tertulis Ketua Umum DPP Hidayatullah untuk Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah IV 2024.

Lebih jauh, Wahyu juga menyampaikan arahan Hidayatullah dalam menghadapi situasi global saat ini, khususnya terkait tragedi kemanusiaan di Palestina.

Hidayatullah menyerukan kepada warga dunia yang memiliki hati nurani, untuk bersatu menghentikan penjajahan Zionis Israel, serta mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina demi mendapatkan kembali hak-hak mereka.

“Menyerukan umat Islam untuk mendukung sepenuhnya pembebasan Masjid al Aqsa, Kota Baitul Maqdis, dan Tanah Palestina yang dirampas. Dukungan kita dalam bentuk doa, donasi harta, aksi bela Palestina dan upaya diplomasi. Pembelaan dan perjuangan kita tanpa batas, tanpa tapi dan tanpa henti hingga Palestina Merdeka,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

[Khutbah Jum’at] Dua Jalan Meraih Predikat Husnul Khotimah

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Sepuluh sampai 15 menit ke depan, khatib mengajak para jamaah untuk menyimak dan merenungi khutbah Jumat yang berjudul 2 jalan husnul khotimah. Judul tersebut kami ketengahkan sebagai respon dari kondisi yang kita hadapi akhir-akhir ini.

Kita sedang dihadapkan pada kondisi abu-abu. Kita mengetahui, bahwa warna abu-abu adalah gabungan antara warna putih dan hitam.

Boleh jadi ada kondisi yang awalnya kita lihat putih ternyata adalah hitam, dan boleh jadi kita berada dalam kondisi yang kita lihat hitam teryata adalah putih.

Padahal jika keimanan dan ketaqwaan itu bertahta dalam diri kita maka mudah bagi kita untuk melihat yang putih itu putih dan yang hitam itu hitam.

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Makna pertama dari husnul khotimah atau meninggal dengan akhir yang baik, baik sedang mengucapkan kalimah thoyyibah atau pun sedang melakukan perbuatan baik atau perintah Allah. Yang bahkan meninggal dalam kondisi husnul khotimah adalah perintah dari Allah Jalla Jalaluhu. Dalam Firmannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS 3 : 102)

Meninggal dalam keadaan Islam adalah husnul khotimah. Namun menjadi sangat sulit karena kematian adalah perkara rahasia mengenai tempat dan waktu. Seandainya telah diketahui kapan dan di mana kematian manusia, maka meninggal di Masjidil Haram ketika bersujud adalah yang paling dinantikan.

Makna kedua dari husnul khotimah adalah kebaikan menjadikan penutup dari segala amalnya, sebagaimana hadits Nabi SAW,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)

Pada hadist yang lain Nabi SAW juga bersabda

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ

(Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan jadikan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikan sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat). (HR Ibnu As-Sunni).

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Agar bukan hanya kematian kita adalah husnul khotimah namun juga setiap keputusan kita dalam melakukan amal juga berakhir Husnul khotimah maka ada 2 jalan yang dapat kita latihkan:

Pertama, berlomba dalam kebaikan

Di antara cara Qurani untuk meninggal dalam keadaan Islam atau agar amal kita baik sampai akhir adalah jika ada peluang kebaikan, maka berlombalah.

Dalam Al Qur’an Surat kedua ayat 148 Allah berfirman “Fastabiqul khairat”. Dalam Fiqh kita kenal kaidah, “Mendahulukan orang lain dalam kebaikan yang bernilai Ibadah hukumnya Makruh. Maka Allah membenci orang mendahulukan orang lain dalam kebaikan?, jawabannya adalah “Fastabiqul khairat”.

Suatu saat Umar bin Khattab mendengar Utsman bin Affan berinfaq sepertiga dari hartanya, maka Umar pun mengkonfirmasi hal tersebut kepada Rasullullah dan dibenarkan oleh beliau.

Maka Umar mengatakan “saksikan wahai Rasulullah aku infakkan setengah dari pada hartaku”. Setelah Umar, Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar yang telah berinfaq, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?, dan kemudian dijawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk keluargaku”. Artinya Abu Bakar menginfakkan keseluruhan dari hartanya. Demikianlah orang sholeh terdahulu berlomba di dalam kebaikan.

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Jalan kedua, bersegera menuju ampunan

Manusia identik dengan dosa dan maksiat, namun jika ingin Husnul khatimah bersegeralah menuju ampunan Allah. Pertama, dengan cara beristighfar dan bertaubat, Kedua, dengan cara melakukan kebaikan yang memang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan maksiat yang terlanjur dilakukan.

Abu Hudzaifah bin Utbah ketika perang Badar hampir berkecamuk membantah perkataan Rasulullah. Beliau berpesan agar para sahabat tidak membunuh Abbas bin Abdul Muthalib karena beliau adalah paman Nabi yang terpaksa ikut berperang.

Namun Abu Huzaifah berkata “jika aku bertemu dengannya pasti akan aku babat dengan pedang”. Hal ini membuat Rasulullah berkata “apakah pantas jika paman Nabi dibabat dengan pedang?”.

Abu Hudzaifah menyadari kesalahannya lantas berjanji “aku selalu dihantui kesalahan ini, ini tak akan terampuni kecuali jika aku menebusnya dengan mati syahid”.

Dan sejarah mencatat bahwa Abu Hudzaifah menemui syahidnya di perang Yamamah, In Sha’a Allah husnul Khotimah.

Akhirnya, semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk berlomba jika ada peluang kebaikan di hadapan mata. Dan bersegera menuju ampunan Allah jika terlanjur melakukan dosa maksiat, amin yaa Rabbal ‘Alamin,

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Mewaspadai Kemegahan yang Kosong dari Keutamaan

SEORANG Ahli Hikmah bertamu ke rumah seseorang. Ia mendapati rumahnya begitu mengkilat dengan aneka perabotan baru dan karpet-karpet yang indah. Sayang, pemiliknya tidak memiliki keutamaan pribadi sedikit pun.

Maka, Ahli Hikmah itu pun meludah tepat di wajah sang tuan rumah. Orang itu terkejut dan bertanya, “Kekurangajaran macam apa ini?”

Ahli Hikmah menjawab, “Inilah hikmah! Meludah itu mestinya di tempat yang paling hina dari sebuah rumah, dan aku tidak mendapati yang lebih hina di rumah ini melebihi engkau!”

Anekdot tersebut dikutip Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam pembukaan kitab adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah (tangga menuju kemuliaan syariat).

Beliau hendak mengingatkan bahwa kemegahan sejati adalah sifat yang melekat pada pribadi seseorang, bukan pada barang-barang yang disimpan dan dimiliki, atau tampilan luar dan gebyar fisik material, atau atribut dan status artifisial yang disematkan belakangan.

Betapa banyak orang yang tubuhnya dibalut pakaian bernilai jutaan rupiah, namun akhlaknya tidak lebih dari manusia primitif yang baru keluar dari gua-gua prasejarah. Tidak sedikit sosok yang menyandang atribut-atribut kehormatan, namun perilakunya sangat memalukan dan menjadi bahan ejekan.

Sudah berulangkali kita menjadi saksi dari tokoh-tokoh yang menyandang segenap jabatan, gelar, dan kedudukan sangat tinggi di masyarakat; namun sepak-terjangnya membuat kita menyesal telah menempatkan mereka pada posisi-posisi tersebut.

Bila saja tersedia mekanisme darurat untuk mencabut mandat mereka, kita pasti bersedia melakukannya tanpa berpikir dua kali.

Mungkin, kemegahan jabatan yang mereka sandang kosong dari keutamaan sejati dalam diri pemiliknya, sehingga hanya menjadi sarana untuk menyiarkan aib pribadi mereka seluas-luasnya.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita bahwa takwa itu ada “di sini”, seraya menunjuk ke dadanya (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Beliau hendak menegaskan bahwa nilai diri seseorang terletak pada sesuatu yang benar-benar bersemayam di dalam jiwanya, bukan pada apa yang ditempelkan di luarnya.

Menurut Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, hadits tersebut menunjukkan bahwa bukan amalan-amalan lahiriah yang menyebabkan diraihnya predikat takwa, akan tetapi perasaan dan niat yang terbetik di dalam hati seperti takut kepada Allah, ta’zhim kepada keagungan-Nya, dan merasa diawasi oleh-Nya.

Sangat wajar pula jika Allah menyatakan bahwa pakaian takwa itu jauh lebih baik, meski pada saat bersamaan kita juga diisyaratkan untuk menutup aurat dengan sempurna.

Allah berfirman, “Hai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS al-A’raf: 26).

Imam Ibnu Katsir menyitir pandangan sejumlah ulama’ perihal makna “pakaian takwa” tersebut. Menurut Ibnu ‘Abbas, maknanya adalah amal shalih. Dalam riwayat lain, beliau menjelaskan maksudnya adalah tanda-tanda perilaku yang bagus di wajah seseorang.

Menurut ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (atba’ tabi’in, w. 182 H), maknanya adalah orang itu merasa takut kepada Allah sehingga menutup auratnya.

Dengan kata lain, cara berpakaian yang mencerminkan ketakwaan adalah yang secara hukum memenuhi kriteria menutup aurat secara sempurna, dan di saat bersamaan dibarengi tindak-tanduk yang baik atau amal shalih. Itulah “pakaian takwa”.

Keduanya tidak boleh dipisah-pisahkan, karena akan merusak makna dan maksud sebenarnya. Tidak bisa disebut mengenakan pakaian takwa jika seseorang hanya menutup auratnya sementara perilakunya jauh dari syariat. Sebaliknya, tidak disebut memakai pakaian takwa pula jika akhlaknya bagus namun belum menutup auratnya dengan sempurna.

Kita kadang mendengar cerita bernada sinis yang mempertentangkan keduanya. Sebagian orang yang tidak menyukai jilbab dengan nyinyir mengumbar kisah kehidupan sebagian wanita berjilbab yang “nakal” dalam arti sebenarnya. Di saat bersamaan dia menyanjung wanita-wanita tidak berjilbab yang santun, cerdas, dan baik hati.

Bagaimana sebenarnya kita memahami persoalan ini?

Ayat 26 dalam surah al-A’raf di muka memberikan sebuah gambaran yang jelas. Bahwa keduanya tidak boleh dipertentangkan, sebab seharusnya keduanya ada bersamaan. Jika tidak, pasti ada masalah di sana.

Wanita berjilbab yang berperilaku bejat dan rusak, atau wanita tidak berjilbab yang baik dan santun, sama-sama belum mengenakan pakaian takwa. Inilah salah satu wujud kemegahan yang kosong dari keutamaan itu.

Berakhlak mulia adalah kemegahan karena ia adalah syiar seorang muslim, tapi meninggalkan syariat menutup aurat bukan keutamaan. Berjilbab juga kemegahan karena ia pun syiar orang beriman, tapi berakhlak buruk jelas bukan keutamaan.

Menyandang gelar Syaikh, Habib, Ustadz, Ajengan, atau Kyai juga bagian dari kemegahan, sebab kedudukan ulama sangat tinggi di mata Allah.

Namun, atribut-atribut itu hanya akan menjadi aib bila tidak dibarengi keutamaan sejati di dalam diri penyandangnya. Hal ini sebetulnya juga bisa diberlakukan untuk semua status terhormat yang ada, entah terkait urusan duniawi maupun ukhrawi.

Sebagai muslim, kita boleh menyandang kemegahan kemegahan yang diizinkan syariat, namun kita pun harus berupaya mengisi diri dengan keutamaan-keutamaan. Jika tidak, segenap kemegahan itu akan menjadi pintu kehinaan belaka. Na’udzu billah! Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah dai dan guru ngaji