Beranda blog Halaman 224

Penyaluran 100 Kg Beras untuk Santri Pesantren Rimba Maluku Utara

0

HALMUT (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH kian memperkuat komitmennya dalam mendukung pendidikan di berbagai pesantren di seluruh Indonesia. Kali ini, BMH Maluku Utara menggelar program penyaluran 100 Kg beras untuk para santri di Pesantren Rimba, yang berlokasi di kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur (Halmut), Maluku Utara, Kamis, 6 Rajab 1445 (18/1/24).

Kepedulian ini bertujuan untuk memberikan dukungan kepada para santri dan asatidz (pendidik) yang sepenuhnya mengabdikan diri dalam bidang agama dan pendidikan.

Dengan terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, diharapkan semangat para santri dalam menuntut ilmu dan semangat para asatidz dalam mengajarkan ilmu agama akan tetap terjaga.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Maluku Utara, Hamir Tono, menjelaskan, “Program penyaluran beras untuk santri ini telah berjalan dengan baik berkat antusiasme para donatur, dan beras ini telah disalurkan ke pesantren binaan BMH di 5 kabupaten di Maluku Utara.”

Ustadz Ismail, salah satu pengurus Pondok Pesantren Rimba, mengucapkan rasa terima kasih.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada BMH Perwakilan Maluku Utara atas dukungan dan bantuannya,” katanya.

Ismail mengatakan, bantuan berupa bahan pokok seperti ini sangat diharapkan untuk konsumsi santri, termasuk yang sedang menimba ilmu dan sebagai penghafal Quran. “Sebagian dari mereka adalah yatim dan dhuafa,” jelasnya.

Kepedulian dan dukungan dari BMH dan para donatur menjadi pendorong utama dalam menjaga kelangsungan pendidikan di pesantren-pesantren, yang merupakan tempat para generasi bangsa menimba ilmu agama dan pengetahuan.

“Terlebih di Pesantren Rimba, yang menjadi wadah masyarakat pedalaman mendapatkan pencerahan. Diharapkan, program-program seperti ini dapat terus berlanjut untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan para santri di seluruh Indonesia,” pungkas Tono.*/Herim

BMH Harus Jadi Lembaga Filantropi Melekat dengan Detak Kemajuan Umat

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Pusat menggelar Rapat Kerja di Cijeruk, Bogor, pada tanggal 17-19 Januari 2024. Rakerpus ini dihadiri oleh segenap pengurus, direksi, dan kepala departemen serta kepala divisi BMH di Jakarta.

Rakerpus dibuka oleh Anggota Dewan Pembina BMH, Ust. Marwan Mujahidin, M. Sust. Dalam sambutannya, Marwan menekankan bahwa BMH harus menjadi lembaga filantropi yang unggul.

“BMH harus mampu menjadi lembaga filantropi yang unggul, baik dari segi kualitas program, manajemen, maupun sumber daya manusia. Kita punya misi bagaimana menjadi Laz berbasis ormas rujukan,” ujar Marwan.

Marwan juga mengingatkan bahwa BMH tidak hadir dalam rangka menjadi industri filantropi, tetapi lembaga filantropi yang melekat dengan detak kemajuan umat.

“BMH harus hadir untuk membantu umat yang membutuhkan, baik di dalam maupun luar negeri,” tegas Marwan.

Oleh karena itu, Marwan mendorong BMH untuk semakin ekspansif dalam sinergi dan kolaborasi, baik secara nasional maupun internasional.

“BMH harus mampu bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik lembaga filantropi, pemerintah, maupun swasta,” kata Marwan.

Rakernas BMH Pusat ini berlangsung selama tiga hari. Dalam raker tersebut, dibahas berbagai hal terkait program kerja BMH untuk tahun 2024.*/Herim

[Khutbah Jum’at] Spiritualitas yang Menggerakkan dan Membebaskan

0

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

Dalam perspektif agama-agama, Indonesia adalah negara yang dimiliki umat Islam. Artinya, umat Islam adalah pemilik sebenarnya dari negara Indonesia.

Jumlah populasi Muslim mencapai 85% dari jumlah penduduk Indonesia sehingga merupakan mayoritas dan karena itu keberadaannya harus diutamakan.

Lebih dari itu, sepanjang dalam sejarah kemerdekaan dan bahkan masa penjajahan, umat Islam mengambil peran sentral dalam perjuangan sehingga Indonesia menjadi negara yang merdeka.

Karena itu, di masa penjajahan hingga sampai kemerdekaan, yang disebut “pahlawan” adalah kalangan dengan latar belakang ulama atau santri dan secara umum beragama Islam.

Tetapi apa yang sekarang terjadi dengan umat Islam di Indonesia? Apakah posisinya sebagai pemilik negera ini, umat Islam telah mendapatkan keadilan secara ekonomi dan juga politik?

Jumlah penduduk miskin mencapai 27,74 juta jiwa atau 10,70% dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut Menteri PPN, sejak September 2016, termasuk kategori miskin jika penghasilan perkapita kurang dari batas garis kemiskinan, Rp. 361.990.

Selain itu, bagaimana dengan individu yang berpenghasilan Rp.400.000 atau Rp.500.000 per bulan? Bukankah dengan nominal seperti itu sulit juga untuk memenuhi kebutuhan? Jika penghasilan tersebut dimasukkan dalam kategori miskin, berapa jumlah orang miskin di Indonesia?

Jika kita masukkan standar kemiskinan World Bank sebesar US$ 2 (setara Rp. 32.000,-), maka terdapat 100 juta lebih orang miskin di Indonesia, dan itu tentulah umat Islam.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

World Bank lewat laporan bertajuk Indonesia’s Rising Divide menyebutkan empat hal yang mendorong ketimpangan di Indonesia yang berpotensi mempengaruhi kehidupan warganya berikut generasi penerus masa depan.

Masalah pertama adalah ketimpangan kesempatan yang memperkecil peluang sukses anak-anak dari keluarga miskin. Dengan terbatasnya sumber daya, mereka berpotensi mengalami stunting atau kekurangan gizi.

Persoalan kedua adalah ketimpangan upah dalam dunia kerja. Mereka yang punya kecakapan tinggi akan digaji besar sekali. Sebaliknya, yang kurang cakap akan terjebak dalam pekerjaan informal, bergaji kecil.

Persoalan ketiga adalah guncangan, misalnya PHK dan bencana alam. Apabila hal itu terjadi, rumah tangga yang tergolong miskin dan rentan miskin, dan itu adalah umat Islam, akan rentan ambruk.

Persoalan keempat adalah pemusatan kekayaan yang tinggi. Sebanyak 10 persen orang kaya memiliki 77 persen seluruh kekayaan negara.

Pundi-pundi uang yang didapat dari aset finansial dan fisik mengalir hanya ke kantong para orang kaya sehingga penghasilan yang didapat lebih besar.

Tercatat pula bahwa kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Hal itu membuat peringkat ketimpangan ekonomi Indonesia berada di posisi enam terburuk di dunia.

Ketimpangan yang luar biasa ini tak hanya memperlambat pengentasan masyarakat dari kemiskinan, tetapi juga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengancam kohesi sosial dan itu berarti ancaman terhadap integritas bangsa menuju disintegrasi. Bila hal itu terjadi maka tidak ada yang tersisa dari negara ini.

Kondisi yang tidak kalah memprihatinkannya juga terjadi di bidang politik dan pemerintahan. Era saat ini menawarkan keterbukaan tetapi juga kekonyolan yang luar biasa.

Semua pihak mampu mengekspresikan hak-hak politiknya, tetapi juga pada pertarungan yang konyol, di mana para politisi harus melalui “perjudian” dengan mengundang para botoh atau penyandang dana yang akan memeras sumberdaya jika jagonya berkuasa.

Gelanggang politik Indonesia saat ini tak ubahnya seperti kubangan lumpur dengan penuh air keruh. Sulit menemukan tokoh-tokoh yang awalnya memiliki integritas moral akan keluar dengan tetap bersih. Apa yang terjadi adalah, mereka tersandera oleh jaringan korupsi yang sistemik dalam politik di Indonesia.

Dengan posisinya sebagai penentu kebijakan yang mendapat mandat dari umat, seharusnya mampu memberikan contoh dan manfaat secara signifikan bagi masyarakat, tetapi justru menambah penderitaan rakyat.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

Rusaknya moral elit pemimpin negara memiliki dampak serius bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Konflik horizontal terjadi karena elit mengeksploitasi ‘kekalahan’ dan juga ‘ketidaktahuan’ umat.

Hingga akhirnya di tengah situasi yang begitu carut-sengkarut ini, pesimisme masyarakat kemudian dengan cepat menjalar. Tidak ada lagi yang mereka harapkan dari para elit untuk menyelesaikan kondisi yang terjadi.

Bagi kita, segala peristiwa politik yang dihadirkan oleh elit negara ini menjadi tanda yang sangat jelas bahwa Indonesia, dan bisa saja dunia Islam saat ini, betul-betul dalam krisis kepemimpinan yang luar biasa.

Kondisi internal umat Islam sendiri pada dasarnya telah tumbuh kelas menengah baru yang educated, secara ekonomi mampu, yang memiliki dorongan kuat untuk menjadi masyarakat yang religious.

Pada tahap tertentu bahkan memiliki antusiasme dalam perjuangan dan kesiapan untuk berkorban yang tampaknya lebih bisa diharapkan dari tokoh dan ‘ulama’ konvensional yang tidak terbebas dari beban pretensial.

Persoalan besarnya adalah belum adanya kepemimpinan Islam dalam skala nasional, sehingga mampu mengkonsolidasikan kekuatan mereka.

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, kita diberikan kesempatan umur oleh Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan Rajab 1445 Hijriah. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam setiap masuknya bulan Rajab sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad sering berdoa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

Ya Allah, Ya Allah berkahilah kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Bulan Rajab adalah bulan di mana kita sebagaimana do’a Rasulullah SAW memasuki masa persiapan untuk bertemu dengan mulia dan yang dirindukan yaitu bulan Ramadhan.

Adalah hal lumrah bagi kita pada untuk menjadikan bulan Rajab sebagai titik di mana kita memulai satu demi satu, langkah demi langkah, untuk terus naik hingga akhirnya kita mampu merengguk suatu puncak kenikmatan spiritual pada bulan ramadhan.

Selain daripada itu, sejarah yang agung mencatat bahwa pada bulan Rajab terjadi pembebasan Al-Quds oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

Bulan ini adalah saat di mana kita harus mampu mengeskalasi kondisi spiritualitas kita menjadi energi besar yang mampu menggerakkan kita untuk membebaskan segala persoalan yang sudah khatib sampaikan sebelumnya.

Sebagaimana Salahuddin Al Ayyubi yang mampu membebaskan Al-Quds sebab telah sampainya kebersihan hati karena spiritualitasnya, maka kita juga harus mampu mencapai derajat itu.

Aktivitas ruhiyah kita harus mampu meraup cahaya langit dan bumi yang Allah ciptakan, sehingga kita mampu menjadi mercusuar bagi umat.

ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS: An-Nur 35)

Hadirin jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah

Akhirnya, puncak dari aktivitas ruhiyyah yang direpresentasikan dalam ibadah adalah hadirnya cahaya dalam hati dan diri kita yang mampu mencerahkan, menggerakkan, dan membebaskan. Semoga kita semua mampu mencapai derajat itu, Aamin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Hafalan, Level Berpikir Paling Dasar atau Paling Rendah?

0

“BAGI orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis ‘kunci jawaban’, bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dan lain-lain semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.”

Demikian sebagian resume buku Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners?” (mengapa orang-orang Asia kalah kreatif dibanding orang-orang Barat). Terbit tahun 2001 silam dan menjadi best-seller meskipun kontroversial.

Menurut Profesor Kwang, karena berbasis hafalan maka murid-murid di sekolah Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apa pun).

Basis hafalan itu pula yang menjadikan para pelajar Asia bisa menjuarai berbagai Olimpiade Fisika dan Matematika, namun hampir tidak ada orang Asia yang meraih Nobel atau hadiah internasional lain yang berbasis inovasi dan kreativitas.

Untuk itu, Profesor Kwang menyarankan agar sekolah-sekolah di Asia tidak menjejali murid-muridnya dengan hafalan, apalagi Matematika. Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya. Menurutnya, untuk apa diciptakan kalkulator jika jawaban dari operasi perkalian harus dihafalkan?

Gagasan Profesor Kwang ini, atau penulis dan pemikir lain yang sehaluan dengannya, sering dipopulerkan dalam berbagai pelatihan dan pertemuan pendidikan. Hafalan dikesankan sebagai sesuatu yang buruk, membunuh kreativitas, dan bertentangan dengan hakikat pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.

Jika ide ini diterapkan untuk mata pelajaran (mapel) sains dan sosial, tampaknya cukup relevan. Tetapi, lain jika diterapkan pada mapel-mapel keagamaan semisal Al-Qur’an, hadits, dan fiqh. Sayangnya, sebagian orang tidak berhati-hati dan mencoba mengaplikasikannya terhadap seluruh jenis ilmu atau mapel tanpa terkecuali.

Bila kita teliti seksama, hierarki keterampilan berpikir dalam khazanah Barat disebut Taksonomi Bloom yang dirumuskan oleh Benjamin Samuel Bloom (1933-1999) dan timnya pada 1956. Taksonomi tersebut kemudian direvisi oleh Lorin Anderson (mantan murid Bloom) dan tim pada 1990-an.

Dalam versi barunya, ranah kognitif memuat enam level berpikir yaitu Remembering (mengingat), Understanding (memahami), Applying (menerapkan), Analyzing (menganalisis), Evaluating (mengevaluasi), Creating (menciptakan). Para guru biasa menyebutnya dengan C1 sampai C6, yaitu Cognitive level 1 sampai 6.

Dalam khazanah Islam, ide serupa sebenarnya sudah sangat lama dikenalkan, jauh sebelum Bloom. Hampir satu milenium lalu Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) menyatakan:

“Ketahuilah bahwa semua yang telah kami sebutkan dalam pemaparan tentang akidah seyogyanya diberikan kepada anak-anak sejak awal masa pertumbuhannya, yakni agar mereka menghafalkannya secara sempurna. Kemudian, sedikit demi sedikit maknanya akan tersingkap saat mereka telah beranjak dewasa. Awal mulanya adalah: hafalan (al-hifzh), kemudian pemahaman (al-fahm), kemudian kepercayaan (al-i’tiqad), keyakinan (al-iiqan), dan pembenaran (at-tashdiq). Semua ini bisa terwujud pada anak-anak dengan tanpa memerlukan bukti argumen.” (Ihya ‘Ulumiddin, I/94).

Menurut beliau, menghafal adalah landasan ilmu dalam Islam. Hal ini sangat wajar mengingat ilmu-ilmu Islam berpijak kepada kaidah atau aksioma yang permanen dan tidak berubah sepanjang masa.

Menghafal informasi-informasi dasar menjadi sangat penting, karena seluruh bangunan ilmu dan amal akan ditegakkan di atasnya. Berbeda dengan ilmu-ilmu sekuler yang spekulatif dan relatif, di mana perkembangan penemuan manusia maupun dinamika zaman bisa membalikkannya hingga 180 derajat. Misalnya, dulu Galileo Galilei (1564-1642 M) pernah membalikkan teori Geosentris menjadi Heliosentris.

Di Indonesia sendiri, pada Era 80-an para siswa biasa diminta menghafal nama-nama menteri kabinet. Sekarang, semua itu sudah tidak ada relevansinya lagi. Tampaknya, karakteristik ilmu-ilmu sekuler yang berubah-ubah itu turut menyumbang anggapan bahwa hafalan tidak penting.

Namun, sebagai muslim, kita mendapati Al-Qur’an yang tidak pernah berubah dan hadits-hadits Nabi yang telah dibukukan dengan sangat teliti. Sekali kita menghafalnya ia tetap relevan di mana saja, kapan saja. Hukum-hukum pokok dalam Islam juga bersifat permanen, seperti haramnya perzinaan, khamer, homoseksual, dsb.

Sikap kita terhadap “metode belajar dengan menghafal” juga tercermin dalam istilah yang digunakan. Jika sebagian praktisi pendidikan sekuler menganggap hafalan sebagai level berpikir “paling rendah”, maka Al-Ghazali menunjukkan bahwa ia adalah level berpikir “paling dasar”. Istilah pertama bernada negatif, adapun yang kedua positif.

Istilah “paling dasar” berarti harus ada, tidak bisa dinafikan, seperti pondasi bagi rumah. Sedangkan istilah “paling rendah” mencirikan sindiran bernada mencemooh.

Namun, Al-Ghazali juga menunjukkan bahwa menghafal adalah permulaan. Murid harus dibimbing memasuki level berikutnya, yaitu pemahaman. Ironis jika ia menghafal Al-Qur’an 30 juz namun samasekali tidak mengerti maknanya. Ironis pula jika ia menghafal rumus-rumus Matematika namun tidak paham bagaimana menggunakannya.

Setelah tahap pemahaman, ia harus diantarkan kepada level selanjutnya yaitu percaya dan yakin. Pembuktian-pembuktian melalui praktek, pembiasaan, diskusi, pengujian, dan seterusnya akan membawanya untuk yakin dan percaya bahwa semua yang diketahuinya itu benar. Dan, pada klimaksnya ia akan mencapai level tashdiq atau pembenaran.

Tashdiq artinya seluruh dirinya sudah menjadi bukti kebenaran dari ilmunya baik dari segi pikiran, perasaan, perkataan, maupun perbuatan. Inilah level kognisi tertinggi dalam “Taksonomi Al-Ghazali”, di mana ia dimulai dari hafalan dan berpuncak pada terintegrasinya ilmu ke dalam totalitas perilaku pemiliknya. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur

Laznas BMH Serap Gagasan dan Masalah Tata Kelola Zakat di Forum bersama Kemenag

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) hadir dalam forum yang dihadiri oleh peserta dari Kementerian Agama (Kemenag) Pusat, Kemenag Provinsi, Kemenag Kota, Kemenag Kabupaten, dan seluruh Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang beroperasi di Provinsi Banten, Rabu, 5 Rajab 1445 (17/1/2024).

Dalam momen itu hadir Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, S.Ag., MM. yang memberikan penguatan sekaligus menyampaikan pesan penting tentang pentingnya sinergi dan peningkatan ilmu dalam program pendayagunaan zakat.

Prof Waryono menekankan bahwa sinergi adalah kunci utama dalam mencapai keberhasilan dalam program pendayagunaan zakat.

Dalam pidato pada acara yang berlangsung di Desa Ciladaeun, Gedong, Kabupaten Lebak, Banten, beliau menyatakan, “Sinergi adalah Energi.”

Hal ini menggarisbawahi betapa pentingnya kerjasama antara berbagai pihak, termasuk Kemenag dan LAZ, untuk mencapai tujuan bersama dalam mengelola zakat dengan efektif.

Selain itu, Prof Waryono juga mengingatkan peserta forum tentang pentingnya ilmu dalam pendayagunaan zakat.

Beliau mengutip kata-kata sahabat Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, “Tiap-tiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan tanpa ilmu maka pekerjaannya itu tertolak dan tidak diterima Allah.”

Dengan demikian, Prof Waryono mendorong setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan zakat untuk terus memperbanyak ilmu agar dapat menjalankan tugas dengan baik.

Dalam diskusi lebih lanjut, Prof Waryono juga mengungkapkan beberapa program penting yang dijalankan oleh Kemenag Pusat, salah satunya adalah program Kampung Zakat.

Program ini memiliki durasi waktu sekitar 3 tahun, setelah itu akan mendirikan Kampung Zakat baru di tempat lain.

Prof Waryono menegaskan bahwa salah satu titik tekan dalam program pendayagunaan adalah pentingnya memiliki target peningkatan jumlah mustahiq tiap tahun.

Forum yang dihadiri oleh berbagai pihak ini diharapkan dapat menjadi wadah yang efektif untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi dalam meningkatkan efektivitas program pendayagunaan zakat di Provinsi Banten.

Kepala BMH Perwakilan Banten, Bati Andalo, menyampaikan dengan sinergi dan peningkatan ilmu, diharapkan program-program zakat dapat semakin memberikan dampak positif bagi masyarakat yang membutuhkan.

“BMH sangat mengapresiasi program Kemenag RI ini terutama adanya agenda Diskusi Evaluasi Strategis Pemberdayaan Kampung Zakat yang selama ini telah berjalan secara sinergis,” tutup Bati Andalo.*/Herim

Pemilu 2024 Tinggal Menghitung Hari, Hidayatullah Imbau Utamakan Kearifan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemilihan Umum (Pemilu) untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif/ Wakil Rakyat (Pileg) tinggal menghitung hari menuju hari pencoblosan pada 14 Februari 2024. Hidayatullah pun menyampakan imbauan untuk menyambut hajatan politik lima tahunan tersebut dengan mengedepankan sikap arif.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq Marling, MA, menyampaikan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Hidayatullah sebagai elemen penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia berkewajiban mewarnai pembangunan karakter bangsa dengan nilai-nilai Islam yang kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin di segala bidang, termasuk politiik.

“Untuk itu, kami mengajak semua pihak untuk merayakan pesta demokrasi ini dengan gembira, berkompetisi secara sehat, mengusung narasi dan diksi yang mencerdaskan. Mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik,” kata Nashirul.

Imbauan dan ajakan itu disampaikan Nashirul saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Bengkulu selama 3 hari yang dibuka pada Sabtu, 1 Rajab 1445 (13/1/2023).

Nashirul menegaskan, sebagai organisasi Islam yang berkomitmen merajut ukhuwah dan kerukunan bangsa, Hidayatullah mengambil posisi yang tegas untuk tidak terlibat pada politik praktis dalam mendukung partai tertentu.

Kendati demikian, ia menekankan, Hidayatullah mengusung politik silaturrahim serta memberi kebebasan kepada anggota sebagai warga negara untuk terlibat bahkan harus memilih yang terbaik pada pemilihan umum (pemilu) sesuai dengan kriteria calon yang telah digariskan.

“Hidayatullah mengedepankan politik silaturrahim, yaitu membangun kerja sama dan sinergi berbagai komponen bangsa dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar untuk kemuliaan dan kemajuan umat dan bangsa,” katanya.

Nashirul menambahkan, kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, sportif, jujur, adil, dan cerdas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban.

“Hindari kecurangan, cegah money politic, jauhi sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama,” tutupnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Standardisasi Muallim dan Pengajar Qur’an dengan Metode Al Hidayah

0

TEGAL (Hidayatullah.or.id) -– Departemen Pendidikan & Kepesantrenan bersama dengan Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jateng berkolaborasi menyelenggarakan acara daurah atau pelatihan peningkatan mutu penguasaan ilmu Al Qur’an.

Kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan perpaduan Upgrading Guru Al Hidayah dan Daurah Muallim, dengan mengusung tema “Standardisasi Muallim dan Pengajar Qur’an dengan Metode Al Hidayah”.

Acara yang diselenggarakan awal tahun, 23-24 Jumadil Akhir 1445 (5-6/1/2024), ini bertempat di Aula Kampus Hidayatullah Tegal, Desa Surabayan, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Diikuti lebih dari 40 Peserta yang terdiri dari 9 Sekolah Hidayatullah dan RQH pengguna Metode Al Hidayah di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Sebagai narasumber utama dalam daurah ini, Ustadz Zainun Nasich, M.Pd.I, adalah merupakan Penyusun Metode Al Hidayah sekaligus Pengurus BKPTQ (Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an) DPP Hidayatullah.

Peserta kegiatan ini sangat beragam, mulai dari Guru yang sudah bersertifikat Pengajar Al Hidayah, Guru yang baru mengenal metode Al Hidayah, bahkan ada sebagian yang sama sekali belum mengenal metode ini, terutama dari Mu’alim RQH.

Dengan kondisi tersebut narasumber mencoba untuk mengekplorasi materi dari hal yang mendasar, mulai pengenalan metode Al Hidayah, sampai penerapan untuk semua usia dan jenjang pendidikan.

Sedangkan bagi yang sudah mengenal dan mengetahui Al Hidayah kegiatan tersebut bisa menjadi sarana penyegaran metode ini.*/Imam Suja’i

Nashirul Haq Dorong Peningkatan Mutu Akademik dan Penguasaan Bahasa Asing

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq Marling, MA, mendorong penguatan mutu akademik dan penguasaan bahasa asing di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim).

Hal itu ditekankan dia dalam sambutannya saat membuka Rapat Pleno Laporan Akhir Tahun 2023 dan Program Kerja 2024 Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan di Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa, 5 Rajab 1445 H (16/1/2024).

“Perkuat pendidikan berbasis karakter dan meningkatkan keunggulan akademik yang relevan dengan dunia pesantren,” katanya, seraya juga mendorong Kampus Induk Hidayatullah memperkuat kompetensi bahasa asing para peserta didiknya.

Selain itu, ia juga mendorong Kampus Induk Hidayatullah mampu mencetak kader-kader wirausahawan/ pebisnis/ pengusaha.

Dalam sambutannya itu, Nashirul mengapresiasi perkembangan Kampus Induk Hidayatullah di bawah pengelolaan YPPH Balikpapan.

“Saya ingin menyampaikan apresiasi yang besar tentunya kepada seluruh pengurus di bawah bimbingan Pemimpin Umum dan pembimbing atas prestasi dan pencapaian yang kita sama saksikan,” ujarnya.

Pada sisi lain, Dr Nashirul juga menyampaikan evaluasinya untuk para pengurus YPPH Balikpapan.

Ada sejumlah masukan yang ia berikan kepada para pengurus YPPH Balikpapan. Di antaranya terkait pendidikan, dakwah, dan ekonomi.

Rapat Pleno itu diikuti lima bidang di bawah YPPH (Sekretariat, Bendahara, Bidang I, Bidang II, dan Bidang III), serta sekitar 13 yayasan mandiri yang dinaungi YPPH Balikpapan.

Rapat Pleno YPPH Balikpapan ini mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.* (SKR/MCU)

Hidayatullah Takalar Komit Penguatan Organisasi dan Dakwah

0

TAKALAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Takalar menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) membahas, mengevaluasi, dan mengagendakan program strategis 2024 guna menguatkan tata kelola organisasi dan layanan gerakan mainstream dakwah dan tarbiyah, Rabu, 28 Jumadil Akhir 1445 (10/1/2024).

Rakerda tersebut, menurut Ketua DPD Hidayatullah Takalar, Baharuddin Jabbar, sebagai bentuk upaya untuk terus bergerak melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Gerakan ini di Takalar ini sudah berjalan tiga tahun,” jelas Baharuddin.

Kata Baharuddin, gerakan di tahun pertama dimulai dengan menghadirkan pondok pesantren sebagai basis pergerakan atau pusat gerakan dakwah.

“Tentunya dengan mengupayakan legalitas dan asset berupa akta ikrar wakaf, izin operasional pondok dan akta pendirian yayasan,” imbuh Baharuddin.

Di tahun kedua, urainya, upaya pembangunan infrastruktur pendidikan dan dakwah juga penguatan sumber daya insani (SDI).

Berikutnya, di tahun ketiga, Hidayatullah Takalar berupaya fokus kepada pendidikan, dengan mulai membuka penerimaan santri secara resmi dan melakukan proses pendidikan yang lebih serius lagi.

“Di tahun keempat ini DPD Takalar berkomitmen untuk penguatan organisasi dan ekspansi dakwah dengan membangun sinergi dengan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah,” tegasnya.

Hingga saat ini DPD Hidayatullah Takalar telah hadir di masyarakat dengan membangun mesjid di empat kecamatan, mengelola lima majelis taklim halaqah Qur’an dan dua Rumah Tahfidzul Qur’an.

Bendahara DPW Hidayatullah Sulsel Ustad Kadir SPd hadir sebagi pendamping Rakerda.

Dalam sambutannya mewakili Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Kadir menyampaikan bahwa pentingnya menguatkan konsolidasi jati diri, Organisasi dan wawasan.

“Penguatan ini dianggap penting karena menjadi landasan akan terwujudnya standarisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik,” ujar Kadir.

Jika tuntas jati diri, tambahnya, maka yang lain akan terasa mudah dan lapang.

“Harapannya adalah apa yang telah diprogramkan dapat dijalankan dengan baik dan mencapai hasil sebagaimana yang diinginkan,” tukasnya.*/Mansyur

Menebar Kebaikan dan Kasih Sayang ke Anak Yatim Dhuafa di Totosan

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) terus menjalankan misi mulia. Terbaru BMH realisasikan kepedulian terhadap anak-anak yatim dan dhuafa di Desa Totosan, Kecamatan Batang Batang, Sumenep, Madura, Selasa, 27 Jumadil Akhir 1445 (9/1/2024).

Di sana ada 35 anak yatim piatu merasakan sentuhan kasih sayang dan kehangatan dari umat melalui BMH.

Kegiatan ini diawali dengan sesi mengaji bersama, di mana para anak yatim piatu dapat belajar agama dan meningkatkan kualitas keimanannya. Setelah itu, mereka berdoa bersama untuk kebahagiaan dan kesuksesan di masa depan.

Tidak hanya memberikan porsi spiritual, Laznas BMH juga mengajak anak-anak tersebut untuk menikmati makan siang bersama.

“Suasana kebersamaan yang penuh keceriaan terpancar dari wajah-wajah anak-anak yatim piatu ini, yang begitu berterima kasih atas kehadiran dan dukungan dari Laznas BMH,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim.

Salah seorang anak yatim piatu, Halimatus Zahro, mengungkapkan rasa terimakasihnya, “Terimakasih kakak dari BMH yang telah berbagi bersama kami.”

Ungkapan simpel ini menggambarkan betapa kehadiran Laznas BMH memberikan kebahagiaan dan harapan bagi anak-anak yang mungkin dalam keterbatasan mereka masih tetap semangat meniti kehidupan.

“Laznas BMH terus berkomitmen untuk menyebarkan kebaikan dan kasih sayang kepada mereka yang membutuhkan, khususnya kepada anak-anak yatim piatu, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan cinta, semangat, dan keyakinan dalam meraih masa depan yang lebih baik,” tutup Imam Muslim.*/Herim