Beranda blog Halaman 296

Dakwah Denyut Kehidupan, Tak Berdakwah Berarti Tanda ‘Kematian’

TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Ust. Drs. H. Mardhatillah menyampaikan motivasi bahwa dakwah adalah merupakan denyut kehidupan sebagai penanda hidup atau “matinya” seseorang. Tidak berdakwah berarti tanda ia telah “mati”.

“Dakwah adalah denyut kehidupan, tak berdakwah berarti ‘mati’. Sebab seperti kata pemimpin umum Hidayatullah, dakwah adalah revolusi yang tidak pernah berhenti,” katanya dalam keterangannya pada helatan Halal Bihalal Syawal 1444 berlangsung di Masjid Al Aqsha, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tobadak, Sulbar, Jumat, 29 Syawal 1444 (19/5/2023).

Dalam arahan strategisnya, Mardhatillah menyebutkan bahwa sukses Ramadhan kita ada pada tiga (tri) sukses, yaitu; Sukses Ibadah, Sukses Tarbiyah, dan Sukses Pelayanan Umat. Dia menegaskan, ketiganya harus seiring sejalan.

“Memang tidak ringan tapi harus selalu ada upaya ke sana agar tri sukses ini betul betul menjadi kultur berlembaga, kultur berorganisasi, kultur bermasyarakat, kultur berbangsa dan bernegara, bahkan menjadi kultur kehidupan umat Islam dalam berkhidmat menghadirkan kedamaian dan mensejatehterakan dunia,” kata Mardhatillah.

Terutama dalam tarbiyah, menurut Mardhatillah, hendaknya ini senantiasa menjiwai semangat dakwah yang dilakukan setiap kader. Sehingga dengan demikian, dakwah selalu mendenyuti setiap aktifitas dan segala sendi kehidupan keseharian.

Selain itu penguatan silaturahim untuk menapaki sejarah selanjutnya untuk selanjutnya membuat karya lebih banyak. Menurutnya, setiap kesempatan mestilah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk ibadah. Sebab, terangnya, kita tidak ada jaminan akan dapat beribadah lebih baik lagi pada Ramadhan tahun depan.

Pada kesempatan tersebut juga hadir Ketua DMW Hidayatullah Sulawesi Barat Ust. Drs. Muhammad Naim Tahir yang juga pendamping pengurus Hidayatullah Mamuju Tengah.

Di sela acara silaturahim, pengurus kehadiran keluarga bapak Syamsuddin Daeng Awing untuk melakukan serah terima wakaf tanah miliknya yang diperuntukkan untuk pendidikan dan dakwah Islam di desa Tanakayang di bilangan KM 10, Kecamatan Budong Budong, Mamuju Tengah.*/Muhammad Bashori

Kemajuan Diraih dengan Kinerja dan Loyalitas Tinggi

TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — Selain menyandarkan semua orientasi pekerjaan yang dilakukan semata untuk meraih ridha Allah, kemajuan juga dapat diraih dengan maksimalnya kinerja yang ditopang dengan loyalitas tinggi.

Demikian dikemukakan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Mamuju Tengah, Syamsuddin, S. Sos, dalam helatan Halal Bihalal Syawal 1444 berlangsung di Masjid Al Aqsha, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tobadak, Sulbar, Jumat, 29 Syawal 1444 (19/5/2023).

“Saya sangat optimis perkembangan Hidayatullah di Mamuju Tengah akan lebih maju setelah ini. Hal itu akan mudah diraih dengan kinerja dan loyalitas tinggi,” katanya dihadapan hadapan hadirin halal bihalal diikuti kader dan jamaah Hidayatullah Kabupaten Mamuju Tengah ini.

Syamsuddin mengatakan, sebagai seorang muslim yang memiliki orientasi hidup bahagia berdimensi dunia dan akhirat, maka hendakya selalu optimis dalam menghadapi perkembangan kehidupan berorganisasi dengan program keumatan.

“Kita harus lebih bersemangat paska menjalani ibadah selama bulan Ramadhan sebelumnya,” katanya seraya meyakinkan bahwa pencapaian terbaik dari masa ke masa dalam meniti jalan perjuangan dakwah perlu menjadi ikhtiar bersama.

“Mungkin kemajuan itu bukan sekarang, tetapi harus ada keyakinan untuk memulainya bersama dengan memberikan layanan terbaik. Karena keberhasilan ini adalah keberhasilan jamaah bukan kehebatan ketua DPD,” imbuhnya menandaskan.

Dakwah adalah Denyut Kehidupan

Pada kesempatan tersebut forum silaturrahim halal bihalal ini mengundang ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Ust. Drs. H. Mardhatillah untuk memberikan tausiah.

Dalam arahan strategisnya, Mardhatillah menyebutkan bahwa sukses Ramadhan kita ada pada tiga (tri) sukses, yaitu; Sukses Ibadah, Sukses Tarbiyah, dan Sukses Pelayanan Umat.

“Ketiganya harus seiring sejalan. Memang tidak ringan tapi harus selalu ada upaya ke sana agar tri sukses ini betul betul menjadi kultur berlembaga, kultur berorganisasi, kultur bermasyarakat, kultur berbangsa dan bernegara, bahkan menjadi kultur kehidupan umat Islam dalam berkhidmat menghadirkan kedamaian dan mensejatehterakan dunia,” kata Mardhatillah dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id.

Terutama dalam tarbiyah, menurut Mardhatillah, hendaknya ini senantiasa menjiwai semangat dakwah yang dilakukan setiap kader. Sehingga dengan demikian, dakwah selalu mendenyuti setiap aktifitas dan segala sendi kehidupan keseharian.

“Dakwah adalah denyut kehidupan, tak berdakwah berarti mati. Sebab seperti kata pemimpin umum Hidayatullah, dakwah adalah revolusi yang tidak pernah berhenti,” imbuhnya.

Selain itu penguatan silaturahim untuk menapaki sejarah selanjutnya untuk selanjutnya membuat karya lebih banyak. Menurutnya, setiap kesempatan mestilah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk ibadah. Sebab, terangnya, kita tidak ada jaminan akan dapat beribadah lebih baik lagi pada Ramadhan tahun depan.

Pada kesempatan tersebut juga hadir Ketua DMW Hidayatullah Sulawesi Barat Ust. Drs. Muhammad Naim Tahir yang juga pendamping pengurus Hidayatullah Mamuju Tengah.

Di sela acara silaturahim, pengurus kehadiran keluarga bapak Syamsuddin Daeng Awing untuk melakukan serah terima wakaf tanah miliknya yang diperuntukkan untuk pendidikan dan dakwah Islam di desa Tanakayang di bilangan KM 10, Kecamatan Budong Budong, Mamuju Tengah.*/Muhammad Bashori

Menjadi Lulusan Ramadhan yang Bermutu

0

SUDAH sebulan kurang sehari kita berpisah dengan bulan agung Ramadhan. Pasca Ramadhan seolah-olah kita menemukan oase/telaga jernih di sela-sela perjalanan spiritual yang kita harapkan dapat membasahi kerongkongan ruhani kita yang kering. Sehingga lahirlah spirit dan komitmen yang terbarukan sebagai bekal untuk meneruskan perjalanan 11 bulan yang akan datang.

Betapa dahsyat efek ketaatan beribadah. Sebanyak apapun uang yang dimiliki tidak bisa membeli kebahagiaan yang dirasakan orang yang taat beribadah.

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٍ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.”. (QS. As-Sajdah 32: Ayat 17)..

Ahli hikmah berkata :

ليس العِيد مَن يلبس الجَديد انّما العِيد اذا كانت طاعتُه تزيد وعَن المعْصية بعيد

Bukanlah orang yang berlebaran itu yang memakai pakaian baru, hanyalah orang yang memaknai lebaran itu apabila ketaatannya bertambah dan dari perbuatan maksiat semakin menjauh.

Putra mahkota yang meninggalkan istana dan memilih hidup sederhana, Ibrahim Al Adzam berkata dalam sujud panjangnya :

نحن في لذة لو عرفها الملوك لجادلونا حقدا

Sesungguhnya kami dalam kelezatan ruhani yang membahagiakan, seandainya para raja di istana itu mengetahuinya mereka akan menguliti tubuh kami karena iri

Setelah itu kita merayakan kemenangan dalam menghadapi dominasi hawa nafsu. Dengan mengumandangkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir. Dengan tasbih kita disadarkan alangkah beratnya untuk mensucikan anggota tubuh dan hati kita dari dosa.

Dengan tahmid kita menyadari betapa sering kita tidak mensyukuri karunia Allah yang tidak terhitung banyaknya. Dengan banyak mengucapkan kalimat tahlil, iman merasuk didalam diri kita dan menggerakkannya untuk memperbanyak amal shalih. Dengan takbir kita menyadari alangkah agungnya Allah dan betapa kecil diri, pengaruh, dan kekuasaan kita.

Dengan hari raya kita mengumumkan bahwa kita berkomitmen baru untuk menjaga kesinambungan amal (istimrariyyatul amal).

Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Rajab Al-Hanbali :

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده

“Membiasakan puasa setelah puasa Ramadan merupakan tanda diterimanya amal puasa di bulan Ramadan. Sesungguhnya Allah jika menerima suatu amal dari seorang hamba, maka Allah memberinya taufik untuk melakukan amal soleh setelahnya.”

Syekh Ibnu Athaillah RA menyebut tanda-tanda penerimaan Allah SWT dalam hikmah berikut ini.


من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول

Siapa yang memetik buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amalnya.”

قلت ثمرة العمل ما ينشأ عنه من الفوائد الدينية والدنياوية. وذلك يدور على ثلاثة: حصول البشارة بزوال الخوف والحزن

“Menurut saya, buah amal itu adalah faidah keagamaan dan keduniaan apapun yang muncul dari amal tersebut. Buah dari amal itu hanya terdiri atas tiga bentuk: pertama, munculnya kebahagiaan karena sirnanya kekhawatiran dan kesedihan,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam)

Yang perlu diberi titik tekan pada penghujung bulan Syawal adalah mengapa Allah menurunkan Ramadhan dengan beragam fasilitasnya yang menggiurkan kepada kita ?. Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, syetan dibelenggu, Allah menurunkan lailatul qadar, Allah menyandarkan diri-Nya kepada ibadah puasa, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari minyak misik, orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, memperoleh pintu khusus di surga, Ar Rayyan, Malaikat bershalawat kepada orang yang berpuasa ketika berbuka.

Allah menjawab tujuan menurunkan syariat, pada surat an-Nisa.

يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمۡ وَيَهۡدِيَكُمۡ سُنَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَيَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ

“Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukkan jalan-jalan (kehidupan) orang yang sebelum kamu (para nabi dan orang-orang saleh) dan Dia menerima tobatmu. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 26).

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمًا

“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 27)..

Alquran menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut terjadi akibat manusia menuhankan hawa nafsu. Dengan mengikuti dan mematuhi hawa nafsunya, manusia melakukan Al-Fasad atau perusakan di bumi. Hal ini dijelaskan dalam tafsir Surah Ar-Rum Ayat 41.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Rum: 41)..

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini diterangkan bahwa telah terjadi al-fasad di daratan dan lautan. Al-Fasad adalah segala bentuk pelanggaran atas sistem atau hukum yang dibuat Allah, yang diterjemahkan dengan “perusakan.” Perusakan itu bisa berupa pencemaran alam sehingga tidak layak lagi didiami, atau bahkan penghancuran alam sehingga tidak bisa lagi dimanfaatkan.

Di daratan, misalnya, hancurnya flora dan fauna, dan di laut seperti rusaknya biota laut. Juga termasuk al-fasad adalah perampokan, perompakan, pembunuhan, pemberontakan, dan sebagainya. Perusakan itu terjadi akibat perilaku manusia, misalnya eksploitasi alam yang berlebihan, peperangan, percobaan senjata, dan sebagainya.

Perilaku semacam itu tidak mungkin dilakukan orang yang beriman dengan keimanan yang sesungguhnya karena ia tahu bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan nanti di depan Allah. Menuruti hawa nafsu hanya diikuti oleh anjing (QS. Al-Araf (7) : 176).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِئَايَٰتِنَا ۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”. (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176).

Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa tidak seluruh akibat buruk perusakan alam itu dirasakan oleh manusia, tetapi sebagiannya saja. Sebagian akibat buruk lainnya telah diatasi Allah, di antaranya dengan menyediakan sistem dalam alam yang dapat menetralisir atau memulihkan kerusakan alam.

Hal ini berarti bahwa Allah sayang kepada manusia. Seandainya Allah tidak sayang kepada manusia, dan tidak menyediakan sistem alam untuk memulihkan kerusakannya, maka pastilah manusia akan merasakan seluruh akibat perbuatan jahatnya. Seluruh alam ini akan rusak dan manusia tidak akan bisa lagi menghuni dan memanfaatkannya, sehingga mereka pun akan hancur.

وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا

“Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Fatir (35) : 45).

Dengan menimpakan kepada mereka sebagian akibat perusakan alam yang mereka lakukan, Allah berharap manusia akan sadar. Mereka tidak lagi merusak alam, tetapi memeliharanya. Mereka tidak lagi melanggar ekosistem yang dibuat Allah, tetapi mematuhinya. Mereka juga tidak lagi mengingkari dan menyekutukan Allah, tetapi mengimani-Nya.

Memang kemusyrikan itu suatu perbuatan dosa yang luar biasa besarnya dan hebat dampaknya sehingga sulit sekali dipertanggungjawabkan oleh pelakunya. Bahkan sulit dipanggul oleh alam, sebagaimana dinyatakan firman-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا

“hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu),” (QS. Maryam 19: Ayat 90)..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنۡهَا مَن لَّا يُؤۡمِنُ بِهَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ فَتَرۡدَىٰ

“Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa.””. (QS. Ta-Ha 20: Ayat 16)

Seluruh langit dan bumi adalah satu sistem yang bersatu di bawah perintah Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran bahwa semua yang ada dalam sistem ini diberikan untuk kepentingan hidup manusia, yang dilanjutkan dengan suatu peringatan spiritual untuk tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Sebagai khalifah, manusia harus mengikuti dan mematuhi semua hukum Allah, termasuk tidak melakukan kerusakan terhadap sumber daya alam yang ada. Mereka juga harus bertanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan di bumi ini. Bumi ditundukkan Allah untuk menjadi tempat kediaman manusia. Akan tetapi, alih-alih bersyukur, manusia malah menjadi makhluk yang paling banyak merusak keseimbangan alam.

Contoh yang merupakan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di Tanah Air karena ulah manusia adalah kebakaran hutan dan banjir. Dengan ditunjuknya manusia sebagai khalifah, di samping memperoleh hak untuk menggunakan apa yang ada di bumi, mereka juga memikul tanggung jawab yang berat dalam mengelolanya.

Dari sini terlihat pandangan Islam bahwa bumi memang diperuntukkan bagi manusia. Namun demikian, manusia tidak boleh memperlakukan bumi semaunya sendiri. Hal ini ditunjukkan oleh kata-kata bumi (453 kali) yang lebih banyak disebutkan dalam Alquran daripada langit atau surga (320 kali). Hal ini memberi kesan kuat tentang kebaikan dan kesucian bumi. Debu dapat menggantikan air dalam bersuci.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah SAW bersabda,

وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ

“Seluruh bumi dijadikan untukku sebagai tempat salat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521).

Al-Hallaj dalam sebuah sajaknya pernah menggubah hadist Nabi tersebut melalui keindahan kata-katanya:

الأرض مسجد، فعل الخير فيها صلاة، المسح على رأس اليتيم صلاة، رفع الظلم عند المظلوم صلاة

Bumi ini sejatinya masjid
Berlaku kebaikan merupakan shalat
Mengusap-usap kepala anak yatim merupakan shalat
Memerangi kezaliman yang dilakukan orang-orang zalim juga merupakan shalat

Ada semacam kesakralan dan kesucian dari bumi. Sehingga bumi merupakan tempat yang baik untuk memuja Tuhan, baik dalam upacara formal maupun dalam perikehidupan sehari-hari.
 
Dengan mengendalikan hawa nafsu, media untuk menetralisir bumi kepada kesuciannya agar menjadi pemukiman yang nyaman bagi penghuninya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ . وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَٰوةَ ٱلدُّنۡيَا. فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ . وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ. فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ .

“Maka adapun orang yang melampaui batas,”
“dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,”
“maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.”
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya. “maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).”

(QS. An-Nazi’at (79) : 37-41).

Dan firman-Nya pula :

وَجَزَيهُم بِمَا صَبَرُواْ جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera,”. (QS. Al-Insan 76: Ayat 12)

*). Ust. H. Sholih Hasyim, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus

MUI Tekankan Persatuan Bangsa Jelang Pemilu

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Halal Bihalal Kebangsaan di hotel Bidakara Jakarta, Kamis, 28 Syawal 1444 (18/5/23).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Panitia Pelaksana, KH M Cholil Nafis menyampaikan kepada seluruh undangan yang hadir, bahwa dalam halal bihalal ini diharapkan mampu memperkuat soliditas dan solidaritas persatuan bangsa menjelang tahun politik pada 2024 mendatang.

“Kita harapkan pertemuan malam hari ini adalah dari hati ke hati, anak-anak bangsa, tokoh-tokoh bangsa,” ujarnya seperti dilansir laman MUI.

“Malam hari ini kita akan mendengarkan tausiyah dari para tokoh, terkait bagaimana menjelang Pemilu ini agar enak dilihat dan enak juga dirasakan. Boleh menang salah satunya, tapi tidak boleh saling merendahkan, dan tujuan kita adalah soliditas dan solidaritas persatuan bangsa,” tuturnya.

Dia menjelaskan halal bihalal ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan MUI pada Syawal setiap tahunnya dalam rangka saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain.

Kiai Cholil Nafis menyebutkan, pada tahun ini agenda halal bi halal diselenggarakan dengan cara yang spesial.

“Kalau dulu halal bi halal dilakukan pascapemilihan kepemimpinan 1948, saat ini halal bi halal ini spesial, karena kita lakukan prapemilihan,” kata dia.

Agenda halal bihalal tersebut dihadiri juga Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. Nashirul Haq, MA, serta komponen bangsa lainnya mulai dari dewan pimpinan MUI, lembaga negara, ormas umat beragama, pemimpin partai, dan tokoh agama.

Adapun jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir antara lain Menkopolhukam Mahfud MD, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, dubes Mesir, Malaysia, Palestina, dan tamu undangan lainnya.

Pada akhir sambutannya, Kiai Cholil Nafis berharap halal bihal yang diselenggarakan dapat menyatukan visi, yaitu visi kesatuan bangsa.

Dia optimis halal bihalal bisa mempererat persatuan dan kesatuan umat di tengah panasnya konstelasi dan dinamika politik. Dia menilai hajatan pemilu selama ini kerap membelah persatuan umat. Karena itu, kegiatan halal bihalal ini menjadi penting untuk dilaksanakan.

“Kontelasi politik terus bergerak dan menghangat, kita melihat bagaimana persaingan calon, kita ingin persaingan itu dalam bingkai memajukan umat dan bangsa, ” kata dia.*/Dhea Oktaviana

Hadiri Halal Bihalal Hidayatullah Metro, Wakil Walikota Pesan Persatuan

METRO (Hidayatullah.or.id) — Wakil Walikota Metro, Provinsi Lampung, Drs. H. Qomaru Zaman, MA, menghadiri sekaligus membuka acara Silaturrahim dan Halal Bihalal yang digelar Yayasan Mutiara Ummat Metro Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Metro, Kamis, 28 Syawal 1444 (18/05/2023)

Halal bihalal sekaligus tabligh akbar bertema “Mempertahankan Nilai dan Spirit Kemuliaan Ramadan” ini digelar di Masjid Al-Jaiz, Jalan Cendana Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara.

Tabligh akbar menghadirkan narasumber dari Jakarta yaitu Ust. H. Akib Junaid, yang juga anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah.

Dalam sambutannya, Wakil Walikota Metro Qomaru Zaman mengajak masyarakat khususnya warga Hidayatullah untuk menguatkan persatuan dan kesatuan, terlebih lagi sebentar lagi kita akan memasuki tahun politik.

Qomaru mengingatkan hendaknya masyarakat menghindarkan diri dari upaya pecah belah dan adu domba oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu. ia menyeru untuk mengedepankan politik persatuan.

“Di tahun politik ini jangan terpengaruh dengan upaya yang tidak sehat yang dilakukan oleh oknum tertentu yang akan mengadu domba masyarakat,” katanya.

Disamping itu, Qomaru juga menyampaikan berbagai agenda pembangunan yang terus digalakkan oleh pemerintah kota. Salah satunya pihaknya akan memantapkan kualitas akses transportasi.

Dia mengatakan, ada beberapa ruas jalan yang akan diperbaiki pada bulan Juni hingga Agustus mendatang. Qomaru menyebutkan, Insya Allah bulan Juni ada 107 ruas jalan yang akan dibangun di Kota Metro.

Selain di Metro, pembangunan jalan juga menyasar hingga ke provinsi. Ia menyebutkan, pembangunan jalan ditambah 5 ruas jalan provinsi yang termasuk di jalan Pattimura, Kelurahan Banjarsari.

“Metro sampai hari ini 87 persen jalan dalam kondisi baik dan 13 persennya akan dibangun, jika tidak selesai akan dilakukan sampai bulan November 2023,” ujar Qomaru menandaskan sambil meminta doa dan dukungan dari masyarakat agar agenda pembangunan ini berjalan lancar.

Dukungan pemerintah

Sementara itu, Ketua Yayasan DPD Hidayatullah Metro Ust. Ahmad Syarif mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wakil Walikota Metro serta jajaran. Ahmad juga berharap kepada Pemerintah Kota Metro dapat terus bersinergi untuk membantu kemajuan pendidikan dan dakwah Islamiyah di kawasan itu.

Ahmad mengatakan, DPD hidayatullah Metro terus bergerak di bidang dakwah dan pendidikan. Kemudian pada tahun 2019 pihaknya diamanatkan untuk merintis cabang Rumah Quran di Kelurahan Yosorejo dan di Banjarsari yang diberikan oleh masyarakat.

“Amanah dari masyarakat itu berupa tanah beserta bangunannya untuk mendirikan pesantren ini serta kami ingin pemerintah memberikan kontribusi pendidikan bagi pesantren ini agar terus besinergi,” kata Ahmad yang juga ketua Yayasan Mutiara Ummat Metro yang dibawahi DPD Hidayatullah Metro.

Ahmad menambahkan, DPD Hidayatullah Metro dengan unit pendidikan yang dikelolanya kini menyelenggarakan pondok pesantren dan pendidikan mulai tingkat usia dini dan mempunyai fasilitas boarding school bagi tingkat SMP dan SMA.*/Khairul Sani

[Download Khutbah Jumat] Kesempurnaan Taqwa Sholihun Linafsi wa Mushlihun Lighairihi

PELAJARAN bagi kita bahwa jangan cepat menghibur diri, tidak boleh terlalu pagi merasa aman disaat sudah melaksanakan rangkaian ibadah kaitannya dengan ubudiah kita secara vertikal kepada Allah SWT.

Rangkaian ibadah yang kita lakukan itu baru disebut sebagai Sholihun Linafsihi baik untuk diri kita, pengabdian diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini belum cukup.

Untuk kesempurnaan takwa itu kita dituntut untuk memiliki sikap Muslihun Lighairihi, kita harus memiliki
kepedulian kepada orang lain, kita harus memperbaiki hubungan kita terhadap semua manusia.

Jadi kesempurnaan takwa itu harus dipastikan bahwa kita memiliki hubungan baik secara vertikal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan juga memiliki hubungan baik secara horizontal serta sesama manusia.

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Muh. Sholeh Usman, M.Kom, Unduh sekarang:

Silaturrahim Syawal Gabungan Jambi Sumsel dan Babel di Musirawas

0

MUSIRAWAS (Hidayatullah.or.id) — Unsur Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jambi beserta sejumlah kader dari provinsi ini menghadiri kegiatan Halal Bihalal dan Silaturrahim Syawal 1444 Gabungan di Kampus Hidayatullah Musirawas, Palembang, Sumatera Selatan.

Kegiatan yang rangkaian acaranya berlangsung selama 2 hari, 13-14 Mei 2023, ini merupakan acara sinergis 3 wilayah yaitu Hidayatullah Jambi, Hidayatullah Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung.

Hidayatullah Musirawas yang berlokasi di Jalan Poros SP3, Marga Baru, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musirawas, ini menjadi tuan rumah dari kegiatan ini.

Silaturrahim ini dihadiri oleh seluruh pengurus DPW, DPD, unsur amal Usaha dan BMH serta disemarakkan dengan kehadiran para dai yang datang dari berbagai daerah di tiga kawasan itu.

Acara semakin terasa istimewa dengan kehadiran narasumber yaitu anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust. H.M. Akib Junaid, MBA, dari Jakarta.

Silaturrahim Syawal ini menghadirkan pula narasumber Ketua DPW Hidayatullah Sumsel Ust. Lukman Hakim, M.HI, Ketua DPW Hidayatullah Jambi Ust. Aidil Abror Rams, S.Sos.I, Ketua DMW Sumsel, Babel & Jambi Ust. Djoko Mustafa, S.Sos.I, dan Anggota DMW Sumsel, Babel & Jambi Ust. Muhammad Jupri, S.Pd.

Selain itu kegiatan kultural seperti shalat lail berjamaah dan halaqoh Qur’an, juga dilaksanakan kegiatan silaturrahim tatap muka yang terangkai dengan ramah tamah yang penuh spirit persaudaraan, perjuangan, serta saling menguatkan dalam takwa dan kebaikan.*/Arif Abidin

150 Muhajirin Rohingya Tewas Akibat Topan Mocha di Myanmar

Tim penyelamat menyingkirkan pohon-pohon yang tumbang di jalan akibat terjangan badai (Zakir Hossain Chowdhury/Anadolu Agency)

RAKHINE (Hidayatullah.or.id) – Topan dahsyat Mocha pada hari Ahad (14/5/2023) menewaskan 150 warga Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, menurut sejumlah sumber Rohingya.

“Saya mendapat informasi dari kerabat saya di daerah bahwa hanya di dua desa di Sittwe (ibu kota Rakhine) sejauh ini 150 orang Rohingya telah tewas akibat Topan Mocha,” kata Mojib Ullah, seorang pemimpin Rohingya, kepada Anadolu melalui telepon pada hari Selasa, 26 Syawal 1444 (16/5/2023).

Jumlah korban tewas dikhawatirkan meningkat karena lebih banyak informasi dikumpulkan dari daerah-daerah lain yang dilanda topan di Rakhine, kata Ullah, yang merupakan direktur Komite Warisan Islam & Budaya Persatuan Rohingya Arakan (Rakhine).

Topan super, yang dikategorikan sebagai badai teratas oleh Amerika Serikat (AS), menghantam pelabuhan maritim tenggara Bangladesh di Cox’s Bazar dan negara bagian Rakhine Myanmar pada hari Ahad.

Ullah mengatakan topan itu merusak kamp-kamp pengungsi internal di Sittwe di mana hampir 140.000 Muhajirin Rohingya tinggal.

“Saya khawatir banyak yang mungkin tewas di kamp-kamp itu,” kata pemimpin Rohingya itu, seraya menambahkan bahwa akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mendapatkan jumlah lengkap korban.

Seorang warga Rohingya dari Sittwe, yang namanya tidak diungkapkan demi keselamatannya, mengklaim bahwa lebih dari 100 warga Rohingya telah tewas akibat topan dahsyat yang dia saksikan.

Penyintas Topan Mocha, begitu dia menyebut dirinya, mengungkapkan kekesalannya atas pemberitaan media yang menyebutkan warga yang tewas hanya enam orang di Myanmar.

“Bagaimana (bisa) media internasional mengonfirmasikan bahwa Mocha hanya menewaskan enam atau beberapa orang di Myanmar? Orang yang kami cintai tidak lagi bersama kami dan itu bukan lelucon. Realitaslah yang seharusnya menjadi sumber informasi,” ungkap warga Rohingya itu dalam pernyataan tertulis.

Dia menambahkan: “Saya bahkan belum bisa memastikan jumlah kematian yang sebenarnya. Saat ini lebih dari seratus mayat dari komunitas Rohingya saja di Sittwe ditemukan dan saya adalah saksi mata. Masih banyak anak-anak dan orang tua yang hilang.”

Dia menggarisbawahi ketidakberdayaan Muhajirin Rohingya yang menjadi korban topan di Myanmar. Ia juga menambahkan bahwa beberapa jembatan di titik masuk ke kamp pengungsi internal Rohingya hancur akibat topan.

“Belum ada pejabat yang mengunjungi kami atau sinyal seluler apa pun tersedia hingga Senin malam,” tambahnya.

Sejauh ini pemerintah Myanmar belum merilis konfirmasi resmi mengenai korban Muhajirin Rohingya di Sittwe. (Md Kamruzzaman | Anadolu Agency via SA)

Senantiasa Perbaiki Diri sebelum Mencerahkan Umat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Hendaknya setiap kader Hidayatullah senantiasa melakukan perbaikan diri, sebelum kemudian terjun ke gelanggang mencerahkan umat.

Demikian ditekankan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ustadz Dr Nashirul Haq Lc MA pada momentum Syawal 1444H.

“Melakukan internalisasi sebelum eksternalisasi, itulah kenapa Al-Muzzammil itu mendahului Al Muddatstsir. Dan kalau kita membaca penjelasan-penjelasan ulama, di sana dikatakan bahwa memang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sengaja melakukan tarbiyah ruhiyah Rasulullah dan para sahabat sebelum diberikan amanah dakwah yang lebih besar,” kata Ustadz Nashirul Haq.

Hal itu ia sampaikan sebagai pemateri halal bihalal Silaturrahim Syawal 1444 H di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jl Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 16 Syawal 1444 (7/5/2023).

Ia mengatakan, pada bulan Ramadan 1444H kita sudah full ber-“Al Muzzammil” dengan internalisasi spirit melalui berbagai ibadah.

Maka, sejak satu Syawal energi Al Muzzammil harus tersalurkan dengan tandang ke gelanggang, untuk mengajak khalayak luas agar turut merasakan keindahan dan kenikmatan ber-Islam.

“Dahsyat kalau kita membaca penjelasan ulama tentang surah Al Muzzammil ini. Jangan terlalu banyak dengan keluargamu, harus tandang ke gelanggang. Rasa-rasanya menggelora terus semangat berdakwah,” katanya.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Dr Nashirul Haq Lc MA pada acara halal bihalal silaturrahim Syawal 1444 di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 17 Syawal 1444 (7/5/2023).* [Foto: Istimewa/hidayatullah.or.id]
Pada kesempatan itu, Ustadz Nashirul atas nama pribadi dan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyampaikan ucapan mohon maaf lahir dan batin.

Ia pun mendoakan semoga amal ibadah Ramadhan yang telah dilakukan kaum Muslimin diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Semoga kita bertemu lagi pada kesempatan berikutnya dalam keadaannya lebih baik,” ujarnya.

Hadir pula narasumber lainnya yaitu Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. Fathul Adhim, dan Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. HM. Tasmin Latif.*/Ainuddin Chalik

Ketum DPP Hidayatullah: Jangan Baper Hadapi Politik, Rileks Saja

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, kondisi perpolitikan di Indonesia mulai menghangat. Pergesekan politik pun semakin terasa.

Menyikapi itu, Ketua Umum (Ketum) DPP Hidayatullah Ustadz Dr Nashirul Haq Lc MA mengimbau warga Hidayatullah agar bersikap rileks menghadapi dinamika politik.

Ustadz Nashirul Haq juga mengimbau warga Hidayatullah agar tidak membawa perasaan (baper) dalam menyikapi kondisi perpolitikan.

Sebab, menurutnya, kalau seseorang baper dalam berpolitik/menghadapi politik, bisa berpengaruh negatif terhadap kondisi psikologis. Hal ini berlaku bagi para pendukungnya politisi maupun para politisi.

“Penonton yang baper pasti akan stres. Jadi harus rileks menghadapi dinamika politik,” pesan Ketum DPP Hidayatullah.

Imbauan itu disampaikan Ustadz Nashirul Haq saat berceramah di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa bakda subuh, 18 Syawal 1444H (9/5/2023).

Dai yang juga salah seorang menantu dari Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said ini pun mengingatkan warga Hidayatullah terkait media sosial.

Diketahui, dinamika politik juga sangat terasa di dunia maya. Pro kontra warganet cukup meruncing pada berbagai unggahan dan komentar. Terutama terkait isu sejumlah sosok bakal calon presiden yang sedang viral saat ini.

Warganet Hidayatullah diimbau untuk tidak baperan pula menyikapi dinamika di medsos.

“Enda usah baper, siapkan mental aja,” pesannya.

“Hal-hal yang sifatnya politis ini kan dinamis,” tambahnya.

Lebih jauh, Ustadz Nashirul Haq mengimbau warga Hidayatullah tetap fokus menjalankan program-program arus utamanya, khususnya dakwah dan tarbiyah. “Enda ada stresnya itu,” imbuhnya.* (SKR/MCU)