Beranda blog Halaman 303

Kolaborasi Bangun Sumber Daya Insani di Wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Assisstant Manager of Strategic, Policy and Evaluation Mustahik Empowerment Program Division YBM BRILiaN, Ahmad Qosim, mengatakan pihaknya mengedepankan kerja kolaborasi teirutama untuk membangun sumber daya insani di kawasan daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

“YBM BRILiaN mengedepankan kerja kolaborasi. Bagi kami kerjasama program merupakan suatu keniscayaan demi mencapai sinergitas dan pemberdayaan yang maksimal,” kata Ahmad.

Demikian disampaikan Ahmad dalam sambutannya pada pembukaan Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dai Tangguh membangun negeri hasil kolaborasi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN di Aula Abdullah Said, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Senin, 21 Sya’ban 1444 (13/3/2023).

Lebih jauh, pihak YBM BRILiaN menyoroti jumlah buta aksara dan buta bacaan Al-Qur’an di pedalaman Indonesia terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

“Wilayah 3T dan perbatasan, memang menjadi skala prioritas utama kami. Ini urgent menyasar ke titik-titik yang belum tersentuh jadi perhatian bersama,” ungkapnya.

Ahmad menyebut jalinan kolaborasi yang dilakukan bersama BMH tak lain sebagai bentuk tanggung jawab bersama sebagai LAZ yang mendapat mandat publik.

Sebagai bagian dari BUMN dan Baznas, kata Ahmad, YBM BRILiaN punya prinsip dengan jorgon aman syar’i, aman regulasi dan aman NKRI.

Ahmad mengatakan sebuah pekerjaan disebut penting karena peran dampaknya bagi peningkatan kualitas kehidupan orang banyak. Maka keterlibatan para dai ini menjadi penting bagi sesama manusia.

“Bagi kami para asatidz orang-orang terpilih, yang kehadirannya kami harapkan menjadi kunci dan ujung tombak program dakwah di lapangan,” tegasnya.

Sekedar informasi Worskhop dan Bimtek ini dibagi ke beberapa sesi dengan 8 pemateri utama. Diantaranya pembekalan dari Ketua MUI Bidang Dakwah, KH Cholil Nafis, Dr. Muhammad Suaib Tahir, M.A. dari staf ahli bidang pencegahan BNPT, penulis ternama, Kang Maman Suherman, sampai pemerhati media.*/Azim Arrasyid

Inilah 4 hal Penting Diperhatikan untuk Sukses Dakwah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dai Tangguh membangun negeri hasil kolaborasi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN resmi dimulai bertempat di Aula Abdullah Said, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Senin, 21 Sya’ban 1444 (13/3/2023).

Dalam sambutannya pada pembukaan workshop dan bimbingan teknis Dai Tangguh ini, Direktur Utama BMH, Supendi, menyebutkan 4 hal penting yang perlu diperhatikan untuk suksesnya dakwah.

“Berbicara soal sukses dakwah, maka tidak lepas dari empat hal,” kata Supendi.

Hal Pertama, adalah dai. Menurutnya, dai adalah kunci sebab ia menjadi transformator untuk sampainya pesan dakwah Islam.

Lebih dari itu, kata Supendi, bicara dai maka itu berkaitan dengan kapasitas, keterampilan.

Kemudian perihal penting Kedua untuk sukses dakwah adalah objek dakwah. Menurutnya, dai harus memahami objek dakwah serta mesti dapat menyesuaikan diri secara proporsional.

“Saya kira ada banyak macamnya, tentunya dai yang di pedalaman dan diperkotaan berbeda tantangannya,” katanya.

Lalu, yang Ketiga, adalah materi dakwah. Menurut Supendi, materi dakwah memiliki tantangannya sendiri sebab diperlukan kemampuan menelaah objek dakwah baik terkait latar belakang, karakter, tradisi, dan juga kecakapan komunikasi sesuai dengan kapasitasnya.

“Materi dakwah bagaimana kita bisa punya pilihan materi dakwah yang mudah diterima, mudah dipahami oleh objek dakwah kita, serta bagaimana kita bisa berdakwah yang menyejukkan, yang menentramkan,” katanya.

Dan, perihal Keempat, adalah media dakwah. Ihwal terakhir ini, kata Supendi, erat sekali kaitannya dengan kontekstualisasi dakwah yang hendaknya selaras dengan perkembangan teknologi.

“Dengan era keterbukaan informasi seperti sekarang, maka media dakwah itu sangat beragam dan terbuka lebar. Tentu ini berkaitan juga dengan metode dakwah, pasti berbeda antara dakwah online dan offline,” imbuhnya.

Supendi berharap semoga acara ini lancar sukses dan para dai sepulang dari kegiatan ini membawa oleh oleh sebagai bekal menuju ladang dakwah yang sudah di depan mata.

Workshop dan bimbingan teknis Dai Tangguh diikuti oleh 24 dai dari Sabang sampai Merauke ini mengangkat tema “Memberi Makna Untuk Indonesia”.

Lebih jauh Supendi menyampaikan tujuan utama dari forum mulia seperti ini tak lain adalah memberikan sarana dai untuk mengasah diri, mengupgrade diri. “Sebab kita melihat, tantangan dunia dakwah semakin hari kian sangat bermacam jenisnya,” katanya.

Karena itu, jelas Supendi, dai harus mampu beradabtasi menghadapi berbagai situasi dan kondisi dakwah di lapangan. Sehingga perlu pembekelaan yang memadai, punya strategi dakwah yang bermacam, termasuk seni komunikasi yang mudah diterima dan bisa dipahami.

“Insyallah semua akan dijawab melalui forum workshop dan bimtek ini, berbagai narasumber akan memberikan pandangan perspektif sesuai dengan bidang keahliannya,” tandasnya.*/Azim Arrasyid, Yacong B. Halike

Workshop Dai Tangguh BMH Hadirkan Instruktur Syahadah Standardisasi Dai MUI

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH bersama YBM-BRILiaN gelar Workshop dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dai Tangguh yang digelar selama 3 hari di dipusatkan di Pesantren Hidayatullah Depok.

Dalam sesi perdana usia pembukaan acara pagi ini, workhshop ini menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis. Beliau juga merupakan instruktur Syahadah Standardisasi Dai (SSD) Majelis Ulama Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, KH Cholil Nafis menyampaikan materi perihal bagaimana mampu bersikap pertengahan (wasathiyah) dalam dakwah.

“Sebagai dai kita harus punya sikap wasathiyah, pertengahan, jangan ekstrem, baik ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Di tengah-tengah, adil dan seimbang, tawazun, serta tasamuh (toleransi),” ungkapnya.

Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah Depok ini mengatakan bagaimanapun masyarakat tetap melihat dai sebagai orang yang diikuti.

“Oleh karena itu pastikan bersikap adil. Dan, perhatikan betul soal kepantasan. Jangan mentang-mentang dakwah lalu tidak peduli soal kepantasan dan kapasitas umat yang menjadi objek dakwahnya,” urainya.

Lebih jauh pria yang menyandang gelar alumni terbaik dari Pesantren Sidogiri itu mengatakan bahwa dai adalah opinion leader.

“Jadi harus luas wawasan keislaman dan kebangsaan,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin, mengatakan workshop dai yang dihadiri oleh 34 dai dari seluruh Indonesia mulai Aceh hingga Papua ini dipusatkan di Pesantren Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini terang dia dalam rangka kuatkan kiprah dai dengan memberikan bekal keilmuan, wawasan dan skil uptodate seiring dengan perkembangan dan tantangan dakwah yang kian kompleks.

Direktur Utama Laznas BMH, Supendi mengatakan bahwa workshop ini bermaksud menjadikan dai kian progresif dalam dakwah, santun dan tentu saja mampu memberi warna kemajuan bagi masyarakat di pedesaan dan pedalaman.

“Dalam tiga hari workshop para dai akan mendapat bekal bagaimana berperan sebagai dai yang mampu membawa kemajuan masyarakat,” ungkapnya.*/Yacong B. Halike

Siapkan Dai Progresif, Laznas BMH Gelar Workshop Bimtek Dai Tangguh

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH bersama YBM-BRILiaN kuatkan kiprah dai dengan memberikan bekal keilmuan, wawasan dan skil uptodate seiring dengan perkembangan dan tantangan dakwah yang kian kompleks.

Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin, mengatakan workshop dai yang dihadiri oleh 34 dai dari seluruh Indonesia mulai Aceh hingga Papua dipusatkan di Pesantren Hidayatullah Depok.

“Alhamdulillah hari ini dibuka workshop dai yang dihadiri oleh 34 dai dari seluruh Indonesia, Aceh hingga Papua yang dipusatkan di Pesantren Hidayatullah Depok,” katanya.

Hadir sebagai narasumber para tokoh, seperti dari MUI, KH. Cholil Nafis, dan lainnya. Zainal Abidin menyebutkan acara berlangsung selama 3 hari mulai 13 sampai 15 Maret 2023.

Direktur Utama Laznas BMH, Supendi mengatakan bahwa workshop ini bermaksud menjadikan dai kian progresif dalam dakwah, santun dan tentu saja mampu memberi warna kemajuan bagi masyarakat di pedesaan dan pedalaman.

“Dalam tiga hari workshop para dai akan mendapat bekal bagaimana berperan sebagai dai yang mampu membawa kemajuan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam sesi perdana yang diisi oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, para dai mendapat materi perihal bagaimana mampu bersikap pertengahan (wasathiyah) dalam dakwah.

“Sebagai dai kita harus punya sikap wasathiyah, pertengahan, jangan ekstrem, baik ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Di tengah-tengah, adil dan seimbang, tawazun, serta tasamuh (toleransi),” ungkapnya.

Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah Depok yang juga instruktur Syahadah Standardisasi Dai (SSD) Majelis Ulama Indonesia ini mengatakan bagaimanapun masyarakat tetap melihat dai sebagai orang yang diikuti.

“Oleh karena itu pastikan bersikap adil. Dan, perhatikan betul soal kepantasan. Jangan mentang-mentang dakwah lalu tidak peduli soal kepantasan dan kapasitas umat yang menjadi objek dakwahnya,” urainya.

Lebih jauh pria yang menyandang gelar alumni terbaik dari Pesantren Sidogiri itu mengatakan bahwa dai adalah opinion leader.

“Jadi harus luas wawasan keislaman dan kebangsaan,” tegasnya.*/Herim

Masuki 5 Tahun Kedua, Rakornas LBH Hidayatullah Kuatkan Kiprah dan Penataan Organisasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar intensif sehari secara hybrid diikuti oleh seluruh pengurus LBH Hidayatullah se-Indonesia berpusat acara di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak I/14. Otista, Polonia, Jakarta, Ahad, 19 Sya’ban 1444 (12/3/2023).

Pembukaan Rakornas oleh Kabid Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo sekaligus juga dihadiri oleh Pembina LBH Hidayatullah Muhammad Arfan AU.

Asih Subagyo dalam sambutannya berharap LBH Hidayatullah tetap berjalan sesuai ciri khasnya dalam mendampingi dai dan ulama bersinergi dengan elemen masyarakat yang lain untuk membangun negara hukum yang berkeadilan.

“Rakornas ini juga diharapkan sebagai alat untuk mensukseskan empat kata kunci program yakni legislasi, edukasi, advokasi, dan rehabilitasi,” kata Asih.

Dalam pada itu, Asih mendorong LBH Hidayatullah harus tetap menjadi kepanjangan tangan organisasi Hidayatullah dalam memberi layanan hukum sebagai media dakwah di tengah masyarakat. “LBH Hidayatullah adalah media dakwah,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur LBH Hidayatullah Pusat, Dr. Dudung A. Abdullah, dalam sambutannya di kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa Rakornas ini adalah satu langkah menguatkan kiprah dan memantapkan penataan organisasi LBH Hidayatullah.

Dudung menyebutkan, pada 5 tahun kedua LBH Hidayatullah yang didirikan pada tahun 2016 sudah melewati masa perintisan 5 tahun pertama.

“Sekarang lima tahun kedua adalah penataan organisasi dan lima tahun ketiga nanti adalah masa pengembangan organisasi,” katanya.

Dalam perlangkahan berikutnya, lanjut Dudung, LBH Hidayatullah diharapkan menjadi salah satu lembaga hukum yang turut serta membangun negara hukum yang berkeadilan melalui mekanisme pendampingan dai dan ulama untuk mendapatkan keadilan.

Total peserta yang hadir sebanyak 44 orang yang merupakan perwakilan dari 14 LBH wilayah provinsi yang telah terbentuk serta dari pusat konsultasi hukum Muslimat Hidayatullah.*/Yacong B. Halike

Semarak Halaqah Gabungan dan Tarhib Ramadhan Hidayatullah Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Semarak kebersamaan begitu terasa dalam gelaran Halaqah Gabungan dan Tarhib Ramadhan Hidayatullah Depok yang digelar dalam 2 sesi hari ini di Masjid Ummul Quro, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad, 19 Sya’ban 1444 (12/3/2023).

Sesi pertama helatan ini digelar usai shalat zhuhur yang menghadirkan narasumber Pembina Yayasan Hidayatullah Depok Ust. H. Drs. Wahyu Rahman, ME, yang membahas topik “Tips dan Strategi Mencapai Target Sukses Ramadhan” diikuti oleh warga dan jamaah.

Dalam Taujih yang disampaikannya, Ust Wahyu Rahman mengajak meneladani pola kesiapsiagaan Nabi dan para sahabatnya dalam menghadapi bulan suci Ramadhan.

“Bahkan mereka sudah siap siaga sejak bulan Rajab. Ada keinginan yang kuat sekali dan luar biasa untuk sukses ibadah Ramadhan,” katanya.

Oleh sebab itu, Wahyu menukaskan, sudah selayaknya kita sebagai umat Rasulullah meneladani apa yang sudah ditunjukkan olehnya dan antusiame para sahabat Nabi dalam mempersiapkan diri dan menjalani shiyam Ramadhan.

“Dengan banyaknya kebaikan Ramadhan, maka hendaknya ini mendorong kita mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik,” katanya.

Kelangkaan berbagai keistimewaan yang ditawarkan oleh bulan suci Ramadhan jangan sampai terlewatkan begitu saja. “Jangan sampai sama seperti Ramadhan sebelum sebelumnya, minimal ada peningkatan kualitas ruhiyah,” imbuhnya.

Karenanya, kata Rahman, dibutuhkan komitmen yang tak biasa. Maka pekerjaan yang paling penting dan mendasar di bulan Ramadhan secara garis besar, menurut Wahyu, ada 2 hal.

Kedua pekerjaan utama tersebut ia tarik dari intisari sebuah pesan Rasulallah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim (muttafaqqun alaih) yang berbunyi: ”Siapa yang melakukan qiyam di bulan Ramadhan karena motivasi iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. Pekerjaan Pertama, adalah shiyaam. Pekerjaan kedua, adalah qiyaam.

Wahyu menjelaskan, shiyaam adalah puasa dengan kualitas terbaik atau puasa khusus. Bukan puasanya orang umum atau tingkatan puasa Ramadhan yang biasa biasa saja, seperti disinyalir Al Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang 3 tingkatan orang berpuasa.

Adapun qiyaam, jelas Wahyu, adalah pekerjaan yang berfokus pada penguatan kualitas shalat, utamanya menghidupkan sepanjang malam malam Ramadhan dengan tarawih dan tahajjud.

Mengutip dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyaj Al-Kuwaitiyyah, Ust. Wahyu menjabarkan bahwa qiyaam bermakna menyibukkan sebagian besar malam Ramadhan dengan ibadah shalat, membaca Al-Qur’an, mendengarkan hadist, bertasbih atau bersalawat untuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

“Menghidupkan malam malam Ramadhan dengan shalat lail. Bangun di malam hari. Termasuk shalat tarawih. Dengan shalat mampu meningkatkan kualitas ruhiyah kita, bahkan dengan shalat ini Allah berikan ampunan,” katanya.

Dia menegaskan, shalat yang benar penuh khusyuk akan menjauhkan kita dari perbuatan keji (fahsya) dan menghindarkan perbuatan yang terlarang (munkar). Ia menyebutkan tantangan perbuatan fahsya adalah gadget yang memiliki dua mata pisau.

“Gagdet ini jika digunakan dengan baik bisa menyelamatkan, tapi kalau salah gunakan bisa menenggelamkan,” katanya sambil mengingatkan bahwa harus ada komitmen dari awal untuk sukses Ramadhan.

“Perencanaan sukses Ramadhan dari awal harus baik. Untuk mencapai goal dari Ramadhan yaitu takwa, kita harus berkomitmen sejak awal,” tandasnya.

Sesi II Halaqah Gabungan dan Tarhib Ramadhan Hidayatullah Depok ini menghadirkan narasumber Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Ust. Moh. Sholeh Utsman, M.I.Kom yang membahas topik “Generasi Muda yang Dirindukan dan Dinanti nanti Umat”, digelar usai shalat ashar.

Panitia acara yang juga Ketua DPD Hidayatullah Depok Ust. Hafid Bahar, MM, mengatakan Sesi II ini secara khusus diikuti oleh kader muda dari tingkat SMP dan SMA hingga mahasiswa serta kader Ula DPD Hidayatullah Depok.

“Harapannya, saat pulang kampung dalam suasana Ramadhan nanti, para generasi muda ini tetap membawa nilai nilai kelembagaan di mana pun berada seperti menegakkan shalat lima waktu berjamaah dan menjaga gerakan ibadah nawafil Hidayatullah,” imbuhnya menandaskan.*/Yacong B. Halike

Menyongsong Ramadhan, Bercermin pada Madrasah Kehidupan

0

SELAMA sebulan kita ditarbiyah bulan Rajab, disamping kita dipersegar ingatan kita tentang peristiwa isra dan mikraj yang menghasilkan kewajiban shalat dari 50 kali sehari semalam menjadi 5 kali sehari semalam. Demikian pula kita ditraining dengan bulan Sya’ban yang artinya cabang. Jika kita berbuat kebaikan di bulan ini akan mengajak kebaikan yang lain (kebaikan yang beranak-pinak).

Sebentar lagi kita memasuki bulan mubarak yang dirindukan kehadirannya oleh orang-orang shalih. Kita tidak tahu, sudah berapa kali kita berpuasa sepanjang hayat kita ? Apakah puasa demi puasa yang kita lakukan secara rutin hanya sebatas rutinitas belaka atau memberikan dampak yang signifikan (atsarun fa’aal) pada penataan ulang (rekonstruksi) pola pikir dan sikap kita ?.

لِكُلِّ عبادةٍ مِن العبادات الصَّحِيحَة اثار فَعّال لِتَقْويم القائِم بها

“Setiap ibadah yang dikerjakan dengan benar sejatinya memberikan efek yang signifikan untuk meluruskan pola pikir dan sikap pelakunya

Para ulama salaf memandang bulan Rajab & Sya’ban bagaikan seorang atletik yang mendekati garis finish, sehingga segala potensi yang dimilikinya dikerahkan/dimobilisir secara msksimal untuk mengungguli atletik yang lain. Dengan harapan besar menjadi pemenang. Ternyata, kemenangan itu diraih tidak secara gratis. Harus dikejar dan diperjuangkan.

Pujangga Arab mengatakan :

بقَدْر ما تتَعَنّى تَناَلُ ما تَتَمَنَّى

Cita-cita, harapan itu akan bisa terwujud berbanding lurus dengan kelelahan dalam memburunya

Allah SWT memberi nama Ramadhan, sesungguhnya menggambarkan esensi (hakikatnya). Arti kebahasaan Ramadhan adalah panas yang terik. Karena, bulan hijriyah yang kesembilan ini datang pada musim kemarau yang siangnya lebih lama dari waktu malamnya. Orang-orang Arab berharap bahwa bekal sebulan ini cukup untuk membakar dosa-dosa yang menempel disela-sela perjalanan setahun.

Jika dicermati setidaknya ada delapan pelajaran penting (dirasah asasiyyah) yang telah kita serap dari Madrasah Ramadhan: 

Pertama:  kita menyadari bahwa Allah selalu membersamai kita. 

Di bulan Ramadhan, saat berpuasa, meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air setetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah.

Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski shubuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga pantang berbuka.

Kita takut dengan ancaman Allah ketika berbuka tanpa udzur syar’i,  sebagaimana hadits berikut :

مَنْ أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذُرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa yang berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa sebab dispensasi yang diberikan oleh Allah Swt, maka tidak dapat diganti sekalipun ia berpuasa seumur hidupnya.” (HR: Ath Thayalisi, Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al Baihaqi, dari Abu Hurairah dan dari Ibnu Masud secara mauquf).

Sungguh luar biasa pendidikan ini. Puasa Ramadhan telah menyadarkan dan memberi kita pelajaran akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya. Inilah level keimanan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan.

أنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّهُ يَرَاكَ

“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.” (HR: Muslim).

Kita merasakan musyahadatullah dan muraqabatullah. Dan kedua potensi keimanan tersebut mustahil kita peroleh tanpa diawali dengan mujahadah dalam beribadah, baik ibadah mahdhah dan ibadah muamalah. Di mana pun kita berada; Di kantor, di pasar, di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada istri/suami.

Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri, para pengusaha, politisi, guru, penulis, pekerja profesional, dll tak ada yang korupsi, karena sadar berapa pun satu rupiah uang diambil adalah dilihat oleh Allah.

Kita sadar dari lubuk hati sendiri, bahwa kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali di mata Allah Swt. Allah berfirman :

وَاَسِرُّوۡا قَوۡلَـكُمۡ اَوِ اجۡهَرُوۡا بِهٖؕ اِنَّهٗ عَلِيۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS : Al-Mulk : 13).

Kedua, kita menyadari bahwa kewajiban didahulukan baru mendapatkan hak. 

Banyak orang yang hanya pandai menuntut hak, insentif,  bisyarah, mukafaah, – dan itu tidak dilarang – tapi sangat disayangkan, ia tak pandai menunaikan kewajiban.

Orang yang sukses adalah orang mau  melaksanakan kewajiban secara tuntas, baru setelah itu mendapatkan hak. Puasa benar-benar mencerahkan kita semua akan adanya hukum kausalitas (hak dan kewajiban ini).

Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa.

Allah berfirman :

وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS: Al-Baqarah (2) : 186).

Inilah jalan yang lurus, benar dan logis. Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silakan untuk minta tolong (isti’anah) dan berdoa kepada-Nya. Banyak orang yang tak malu, minta masuk surga tapi shalat lailnya bolong-bolong, lebih banyak membuka whatsapp daripada membaca Al Quran.

Banyak orang meminta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah untuk ibadah dan halaqah (thalabul ‘ilmi) tidak kunjung datang. Bahkan, sering absen. Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada-Nya. Saat miskin, kuat saat taqarrub ilallah. Ketika kaya, jarang kelihatan di masjid.

Nabi bersabda :

تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ

“Ingatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.” (HR. Ahmad)..

Ketiga, kita menyadari bahwa hidup berjamaah adalah indah dan berkah. 

Puasa Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi sangat ringan, yang rumit menjadi sederhana.

Bukankah berpuasa itu sebenarnya berat ? Bukankah sebenarnya shalat Tarawih, shalat tahajjud itu berat ? Namun, karena kita lakukan berjamaah (bersama-sama) maka menjadi terasa sangat ringan dan indah sekali. Inilah ajaran berjamaah.

Kita umat Islam ini adalah umat yang satu. Andaikan semangat dan spirit kebersamaan ini benar-benar kita wujudkan maka kita pasti menjadi umat yang paling baik, kuat dan hebat, tak mungkin tertandingi.

Apa yang tak bisa dilakukan umat Islam ini andaikan bersatu padu ? Tapi sebaliknya, ketika kita tidak bersatu padu, bercerai berai, karena faktor beda suku, bahasa, organisasi, partai, mazhab, maka inilah musibah.

Apa yang bisa kita lakukan dengan jumlah 1,6 milyar saat saudara-saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi yang kecil itu? Demikian pula nasib minoritas di belahan dunia yang lain. Kita hanya bisa kaget-kaget saja. Padahal kaum Yahudi sudah setengah abad berbuat biadab seperti itu dan menguasai Masjidil Aqsha.

Puasa Ramadhan hendaknya segera menyadarkan kita semua untuk berjamaah secara benar. Yaitu berjamaah atas dasar Islam. Bukan berjamaah atas dasar organisasi, partai, suku atau bangsa. Kita boleh saja memiliki suku, bangsa, bahasa, organisasi, mazhab, partai yang berbeda-beda, tapi kita semua haruslah berjamaah dan bersatu padu di bawah ikatan Islam.

Bukankah saat Ramadhan kita kompak berpuasa dan beribadah, meskipun kita memiliki suku yang berbeda, bangsa yang berbeda, organisasi yang berbeda, partai yang berbeda ?

Marilah kita buang fanatisme sempit, pikiran yang jumud, egoisme sektoral,  yang membuat umat Islam bercerai berai. Mari kita masuk dalam ikatan Islam yang utuh dan satu, utamanya setelah Ramadhan meninggalkan kita.

Nabi bersabda :

وَكُونُوا عِبَادَ الله إخْوَاناً

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (HR.  Muslim).

Keempat, kita menyadari bahwa kesulitan membawa kemudahan. 

Perjuangan membawa kemenangan. Kesedihan mendatangkan kebahagiaan. Puasa mendatangkan kenikmatan berbuka dan menghadirkan hari raya. Inilah kaidah penting yang harus kita camkan.

Siapa saja yang ingin sukses, tidaklah mungkin tidak menghadapi kesulitan. Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan. Bahkan kesulitan adalah bagian dari kesuksesan.

Puasa mengajarkan kita semua, tak mungkin bisa merasakan nikmatnya berbuka dan hari raya kecuali yang telah berpuasa dengan baik. Wahai anak-anak, para pemuda, yang yatim dan yang papa, yang sedang sakit dan yang lemah, jangan anggap kesulitan itu rintangan.

Sesungguhnya kesulitan adalah tangga manis untuk mengantarkan kita menjadi juara. Keberhasilan itu harus dibayar dengan darah dan air mata. Harap senang ada ujian, sebentar lagi kita akan naik kelas.

Allah berfirman :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ  

“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS: Al-Insyrah : 5-8).

Kelima, kita menyadari bahwa Allah sangat mencintai kita semua. 

Kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ini. Allah menganugerahkan Ramadhan yang penuh berkah sebagai madrasah. Allah telah membuka pintu-pintu Surga. Allah telah menutup semua pintu neraka. Syetan-syetan diikat dan pahala dilipat gandakan dengan melimpah ruah. Lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan telah dianugerahkan. Inilah kecintaan Allah kepada kita umat Nabi Muhammad yang beriman, bukan kepada umat sebelum kita.

Keenam, kita menyadari bahwa dalam hidup ini hendaknya saling cinta mencintai. 

Madrasah dan pelajaran Ramadhan telah mengajarkan kita empati dan berbagi terhadap sesama. Kita berpuasa tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja.

Sementara ada di antara kita yang berpuasa tapi tak ada makanan untuk berbuka dan tanpa batas waktu karena memang tak ada. Itulah maka di bulan Ramadhan kita gemar memberi.

Dan di akhir Ramadhan kita diwajibkan menunaikan zakat fitrah, untuk kaum fakir dan miskin. Jadi, puasa mengajarkan kita semua untuk saling berbagi dan cintai mencintai.

Nabi ﷺ bersabda :

لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤمِنُوا ، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ،. (رواه مسلم)

“Tidaklah kamu masuk Surga sehingga kamu beriman kepada Allah, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling cinta mencintai.” (HR. Muslim).

Ketujuh, kita menyadari bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah sementara (mata’).

Puasa selama Ramadhan memberi kita pelajaran bahwa lapar dan kenyang di dunia ini tidaklah lama. Makanan dan minuman terasa nikmat bila masih di atas tenggorokan. Tapi kalau sudah kita telan, maka tak terasa lagi aromanya. Oleh karena itu yang kaya di dunia ini adalah sementara. Yang sehat, yang cantik, yang muda, semua sementara. Pejabat  saja ada masa pensiunnya. Apalagi kehidupan di dunia ini bersifat khayali.

Sesungguhnya kehidupan akhirat itulah yang hakiki.  Dan semua fatamorgana itu menjadi sia-sia, bahkan menjadi sumber malapetaka, bila tidak dilandasi dengan agama yang baik.

Kedelapan, kita menyadari sepenuhnya bahwa hakikat diri kita adalah jiwa, bukan jasad. 

Pujangga Arab berkata :

ياخادِم الجِسم كم تسعى لخِدمتِه # اتطلبُ الربح ممّا فيه خسران
اقبلْ على النفس فاستكمِل فضائلَها # فانت بالنّفسِ
لا بالجِسْم اِنسانُ

Wahai kamu yang selalu mengurus badanmu
Betapa banyak usaha yang kamu lakukan
Apakah kamu mencari keuntungan dari sesuatu yang jelas kerugiannya.
Perhatikan jiwamu dan sempurnakan krutamaannya
Sebab kamu disebut manusia dengan jiwa, bukan karena tubuh jasmanimu

Pujangga Mesir, Syauqi Bek berkata pula :

مَتى يبْلغ البُنيان يومًا تمامَه # اذا كُنت تبنِيه وَغَيْرُك يهْدِمُ
فَلَوْ الفُ بانٍ خلفَهُم هادِمٌ كَفَى # فكَيْف ببَانٍ خلفَه اَلْفُ هادِمٍ

Kapan bangunan bisa sempurna.
Bila kalian membangun, sedangkan selainmu merobohkan ?

Jika ada seribu pembangun satu merobohkan, cukuplah sudah. Bagaimana jadinya jika satu membangun, seribu yang merobohkan?

Madrasah puasa Ramadhan telah menyadarkan kita bahwa tubuh ini hanyalah rangka atau rumah belaka. Hakekat manusia adalah jiwa atau ruuhnya, bukan badannya.

Cepat atau lambat tubuh ini pasti akan kita tinggalkan. Dan kalau sudah kita tinggalkan maka tak bernilai sama sekali. Kematian adalah terpisahnya jasad dari ruh. Manusia yang ruhaniyahnya keropos sesungguhnya ia telah mati (hatinya).

Maka betapa merugi orang yang hanya sibuk mengurusi kesehatan jasmaninya saja, sementara ruh dan jiwa tak pernah diberikan haknya. Betapa buruknya orang yang hanya sibuk makan dan minum hingga tak peduli halal dan haram, padahal jasmani  ini bakal dikubur dan dijadikan santapan cacing dan binatang yang ada dalam tanah. Puasa Ramadhan memberi kita pelajaran bahwa jiwa inilah yang terpenting. Ruh inilah yang tetap ada dan bakal mendapatkan balasan.

Nabi ﷺ bersabda :

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم. (رواه مسلم).

“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kamu dan juga tidak melihat kepada rupa-rupa kamu. Tetapi Allah melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu.” (HR: Muslim).

Kalau pada hari ini ada di antara kita yang sedang sakit, itu tak mengapa. Kalau ada yang hartanya berkurang, tak mengapa. Kalau ada yang matanya mulai rabun, telinganya tuli, dan giginya mulai hilang, tak mengapa. Tak perlu bersedih. Karena pada dasarnya memang badan ini semuanya takkan bergerak sama sekali. Saat itu tak perlu khawatir.

Di mana pun kita meninggal dunia, maka tubuh ini pasti ada yang mengurusnya. Ada yang memandikannya, ada yang mengafaninya, ada yang menshalatinya dan ada yang menguburnya. Itulah urusan dan nasib tubuh kita.

Yang cantik, yang kaya, yang sehat sama. Akhirnya bercampur dengan tanah dan jadi makanan binatang-binatang di dalamnya. Apakah urusan selesai ? Tidak. Yang mati hanya tubuh kita. Tapi ruh kita, jiwa kita masih ada. Di situlah babak kehidupan yang sejati (hakiki) dimulai.

Tak ada sandiwara dan tak ada basa basi. Yang dipanggil bukan lagi jasmani ini, tapi jiwa yang berada di dalam tubuh ini. Yang baik mendapatkan kebaikannya dan yang buruk mendapatkan keburukannya.

Mudah-mudahan kita semua ini menjadi pribadi yang lebih baik dan kelak dipanggil oleh Allah dengan panggilan :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr : 27-30)..*/ 

*) Ust. H. Sholih Hasyim S.Sos.I., penulis adalah Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Tutup Training Kepemimpinan Hidayatullah Institute, Inilah Pesan Pemimpin Umum

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad menutup helatan kegiatan Training Kepemimpinan Hidayatullah Institute (HI) yang diikuti ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah angkatan I di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Jum’at petang, 18 Sya’ban 1444 (10/3/2023).

Dalam arahannya pada penutupan acara tersebut, guru yang karib disapa Ustadz Rahman ini menyampaikan beberapa pesan diantaranya adalah seorang pemimpin, pada level apapun, harus memiliki kekuatan mental dan spiritual. 

“Para pemimpin harus kuat mental, sebab pemimpin itu penjaga agama dan mengatur kehidupan,” katanya. 

Menjabarkan hal tersebut, Ustadz Rahman lalu menukil ungkapan Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al iqthisad Fi Al I’tiqad bahwa  agama dan negara memiliki kaitan yang sangat erat dimana imam (pemimpin) adalah penjaganya.

“Agama tanpa penjaga maka akan sia sia. Maka para peserta jika kembali ke daerah harus dibawa semangat kepemimpinannya dan menjaga agama, mendidik mereka supaya mereka shalat dengan benar,” katanya. 

Kesiagaan pemimpin dalam menjaga agama dan kehidupan sangat luas bahkan pada hal hal yang mungkin tampak sederhana seperti urusan kebersihan lingkungan. 

“Maka jika kita pemimpin di manapun berada, kalau agama disia-siakan harus direspon. Lingkungan yang bersih, tertib, itu adalah menjaga agama. Menjaga muamalah,” katanya mencontohkan. 

Tugas kepemimpinan tersebut setarikan nafas dengan apa yang menjadi tugas para Nabi. Ia menyebutkan, diutusnya para Nabi ke alam semesta hanya untuk dua hal. Pertama, untuk mendidik manusia agar sampai kalimat Laa Ilaaha Illallah baik melalui dakwah maupun taklim.

“Agar Islam menjadi prinsip hidup sehingga manusia memiliki akhlak sempurna yaitu akhlak Al Quran,” imbuhnya. Kemudian, yang Kedua, diutusnya para Nabi ke alam semesta, adalah untuk melahirkan pemimpin. 

Pada kesempatan tersebut Pemimpin Umum mengapresiasi Hidayatullah Institute atas pelatihan berjenjang dan berkelanjutan ini yang menurutnya akan mendukung penguatan kapasitas dan kapabilitas para pengurus daerah agar memiliki kemampuan leadership.

“Memimpin itu tidak mudah, seperti dalam memutuskan kebijakan karena mengambil keputusan tidaklah mudah dikarenakan harus memiliki mental pemimpin. Seorang pemimpin selalu berfokus bagaimana melahirkan gagasan, dari gagasan melahirkan konsep dan dari konsep melahirkan gerakan,” tandasnya.

Penutupan ini juga dihadiri oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, serta sejumlah jajaran DPP Hidayatullah lainnya seperti Kabid Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Asih Subagyo, Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Shohibul Anwar, dan Ketua Departemen Sumberdaya Insani Muhammad Arfan AU.

Hadir pula Direktur Hidayatullah Institute (HI) Muzakkir Usman Asyari dan Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi..*/Amanji Kefron Abdullah

Ketua Umum Apresiasi DPD Peserta Training Kepemimpinan Angkatan Pertama

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, mengapresiasi peserta Training Kepemimpinan Hidayatullah Institute (HI) yang diikuti Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) angkatan I yang digelar di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta.

“Suatu apresiasi kepada para pengurus DPD yang telah semangat dan mendapatkan materi yang baik. Tentunya ini merupakan kesempatan memperkaya materi keilmuan,” katanya ketika memberikan sambutan pada penutupan pelatihan itu di Aula Orny Loebis, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Jl. Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, Jum’at petang, 18 Sya’ban 1444 (10/3/2023).

Ketua Umum mengatakan pelatihan ini memang diperlukan, karena, katanya, terkadang ada hal hal yang sederhana dalam aktifitas kehidpan apalagi dalam memimpin organisasi namun sering kali diabaikan.

Pada kesempatan tersebut ia menekankan pentingnya pemahaman serta kemampuan praktik manajerial yang di dalamnya tidak saja mengenai mengelola manusia melainkan juga melakukan pola transformasi kepemimpinan yang memadakukan aspek profetik dan profesional.

“Kita telah merasakan betapa keteladanan nabi dalam menjalankan dakwah sesungguhnya banyak dipakai ilmu manajemen moderen sekarang,” katanya.

Oleh sebab itu ia berharap para peserta pelatihan kepemimpinan ketua DPD Hidayatullah angkatan pertama ini semakin mantap dan percaya diri dalam menjalankan amanahnya. Sejalan itu, langkah yang ditapaki hendaknua dilandasi nawaitu yang tulus untuk beramal ikhlas dan bekerja keras sehingga dapat menjalankan amanah dengan tuntas.

Disamping itu, pemimpin penting menyadari bahwa selalu ada risiko dalam kehidupan ini, demikian pula dalam menjalankan tugas memimpin bahkan pada level paling rendah sekalipun. “Bahkan memimpin diri sendiri agar menjadi pribadi yang baik bukan tanpa risiko. Namun peluang tidak bisa disergap jika tidak memiliki nyali menghadapi risiko,” ungkapnya.

Masih dalam sambutannya, Nashirul mengutarakan pentingnya komunikasi yang dalam kepemimpinan. Karenanya, disinilah pentingnya dihadirkan forum musyawarah selain juga kultur interaksi yang dibangun secara interpersonal.

“Komunikasi yang sunnah sering kita abaikan padahal seringkali dicontohkan Nabi. Misalnya bagaimana seorang pemimpin itu mengisnpirasi bukan mengintimidasi,” terangnya seraya menambahkan komunikasi yang baik itu adalah bagaimana memerintah dengan bertanya dan komunikan yang baik adalah yang mampu memahami komunikasi yang tak terucap.

Pada kesempatan tersebut ia berpesan kepada peserta yang akan kembali ke tempat tugas agat tidak berhenti belajar dan mengembangkan kapasitas diri dalam berbagai aspeknya.

“Materi pemantik yang telah didapatkan harus terus dikembangkan untuk melawan tantangan zaman. Karena jika lambat kita berinovasi, maka akan mati seperti Nokia,” tandasnya.

Penutupan ini juga dihadiri oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad serta sejumlah jajaran DPP Hidayatullah seperti Kabid Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Asih Subagyo, Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Shohibul Anwar, dan Ketua Departemen Sumberdaya Insani Muhammad Arfan AU. Hadir pula Direktur Hidayatullah Institute (HI) Muzakkir Usman Asyari dan Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Imam Nawawi.*/Amanji Kefron Abdullah

BMH Resmikan Rumah Layak Huni untuk Mualaf Tanjung Gundap Kepri

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Para mualaf di kampung Tanjung Gundap, Batam, menyambut bahagia peresmian rumah layak huni bantuan dari para donatur melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kepulauan Riau, Jumat, 18 Sya’ban 1444 (10/3/2023).

Sejak mengalami penggusuran dari pemukiman sebelumnya yang dijadikan pabrik, para mualaf menempati rumah yang jauh dari kelayakan. Mak Enon (60 tahun) tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat acara serah terima rumah layak huni yang telah lama dinantikannya.

“Mak sangat senang, tidur senang, tak ada lagi air hujan yang bocor kalau hujan, anak-anak cucu juga senang main di rumah, sampaikan terima kasih dari mak untuk yang memberi bantuan,” tutur Mak Enon penuh haru.

Satu unit rumah layak huni diserahkan oleh General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy kepada sesepuh muslim mualaf Tanjung Gundap, bapak Malisa (65 tahun) yang disaksikan ketua RW setempat dan para mualaf.

Abdul Aziz mengatakan pengadaan rumah layak huni ini sebagai bentuk perhatian BMH Kepri terhadap para mualaf yang sangat membutuhkan rumah.

“Semoga semakin banyak donatur yang membantu sehingga warga lain juga dapat tinggal di rumah yang layak huni,” kata Abdul Aziz dalam sambutannya.

Di kampung mualaf Tanjung Gundap terdapat 4 KK lagi yang menanti bantuan dari para muhsinin, karena kondisi rumah mereka yang dibangun dari sisa-sisa bongkaran dari penggusuran sebelumnya sangat tidak layak.

Menurut Muhammad Sudirman yang telah memiliki dua orang anak, jika tengah malam turun hujan, ia bersama istri dan anak-anaknya terpaksa bangun dan duduk di tempat yang tidak terkena air sambil menunggu hujan reda.*/Mujahid M. Salbu