Beranda blog Halaman 312

Engkau Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

ANAS bin Malik berkisah, bahwa seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kiamat terjadi?” Beliau balik bertanya, “Apa yang telah kaupersiapkan untuknya?”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak menyiapkan puasa yang banyak, tidak juga sedekah. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama yang kaucintai.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Cinta memang ajaib. Karenanya seseorang rela berkorban dan menempuh marabahaya. Energi cinta akan mendorongnya melakukan hal hal menakjubkan. Hanya saja, seberapa berharga perjuangannya itu ditentukan oleh apa dan siapa yang dicintainya.

Ketika yang dicintainya hanya bagian dari dunia yang fana, maka keajaibannya pun fana dan mudah berubah. Lihatlah orang-orang yang jatuh cinta kepada kekasihnya, dan betapa menakjubkan apa yang bisa mereka perbuat. Namun, belum lagi kekaguman kita pudar, mereka telah mencaci-maki kekasihnya itu dan meninggalkannya. Bagaimana bisa? Ya, karena seluruh unsur dalam cintanya adalah fana.

Akan tetapi, cinta seorang muslim kepada Allah dan Rasul-Nya memiliki sifat yang khusus. Cintanya bersemi dari benih iman, dipupuk dengan amal shalih, dan akhirnya berbuah ridha. Allah berfirman:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. al-Fajr: 27-30)

Dikisahkan bahwa Rabi’ah Al-‘Adawiyah (w. 180 H) sering mengulang-ulang bait syair ini: “Engkau mendurhakai Tuhanmu, namun menampakkan kecintaan kepada-Nya. Ini adalah perbuatan yang mustahil dan sangat mengherankan. Jika saja cintamu memang tulus, pasti engkau menaati-Nya, karena sesungguhnya pecinta itu pasti patuh kepada yang dicintainya.” (Dari: Mukhtashar Syu’abul Iman).

Benar, setiap pecinta pasti tunduk kepada yang dicintainya. Hatinya bergemuruh oleh keinginan membahagiakan kekasihnya. Ia khawatir kekasihnya marah dan bersedih. Maka, diturutinya permintaan-permintaannya, walau berat dan butuh pengorbanan besar.

Jika seseorang tulus mencintai Tuhannya, pasti ia akan “menjinakkan diri” kepada segala perintah dan larangan-Nya. Ada dikatakan, “Siapa mencintai sesuatu, dia menjadi budaknya.” Maka, kecintaan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendorongnya mengamalkan syariat. Demikianlah, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, ia selalu bersama yang dicintainya.

Lebih jauh, hadits di atas ternyata menyiratkan rahasia lain. Dalam riwayat Bukhari-Muslim, di belakang hadits ini Anas bin Malik berkomentar, “Kami tidak pernah bergembira – setelah mengenal Islam – melebihi kegembiraan kami terhadap sabda Nabi: ‘engkau bersama yang kaucintai’. Saya mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan ‘Umar. Maka, saya berharap bisa bersama mereka walau pun saya tidak bisa beramal seperti mereka.” Subhanallah!

Betapa ruginya orang-orang yang hidupnya dibangun diatas kebencian kepada Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan para Sahabat yang telah dipersaksikan surga oleh Rasulullah. Bersama siapakah kelak mereka di akhirat? Dimana pulakah tempatnya? Na’udzu billah.

Mereka pasti bersama orang-orang yang juga membenci dan memusuhi para Sahabat agung itu. Bukankah Allah telah menetapkan keridhaan-Nya kepada mereka di dalam Al-Qur’an? Allah berfirman,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, untuk selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Lalu, atas dasar apa mereka melaknatnya? Apakah mereka hendak mengatakan ayat ini palsu dan ditambahkan belakangan untuk melegitimasi keutamaan para Sahabat? Sekali lagi, na’udzu billah!

Ironisnya, ada sebagian orang yang merasa kurang afdal sebelum fasih melaknat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ‘Umar bin Al-Khattab, dua mertua dan khalifah Rasulullah; atau menodai kehormatan ‘Utsman bin ‘Affan, Sahabat yang dua kali menjadi menantu Rasulullah. Mereka menyebut dirinya pecinta Ahlul Bait, namun sebenarnya justru pelaknat Ahlul Bait.

Tidakkah mereka membaca sejarah, bahwa generasi awal Ahlul Bait sendiri menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang sekarang dilaknat oleh para Ahlul Bait gadungan itu? Diantara putra ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri selain Fathimah) terdapat nama Abu Bakar dan ‘Umar. Nama-nama ini juga terdapat diantara putra Al-Hasan dan Al-Husain. Bahkan, ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Husain menamai putrinya dengan ‘Aisyah!

Apakah Rasulullah salah memilih sahabat dekat dan menantu? Jika benar mereka adalah orang-orang yang hina, bagaimana mungkin Allah tidak memberitahu beliau, padahal seluruh tanda-tanda kiamat yang jauh maupun dekat pun telah diberitahukan-Nya?

Apa pula rahasia di balik pemberian nama-nama Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah, oleh Ahlul Bait sendiri kepada putra-putri mereka di masa itu? Apakah mereka ber-taqiyyah (pura-pura) karena takut? Bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan ‘Ali adalah orang yang paling pemberani, demikian pula putra-putranya?

Tidak ada jawaban lain, kecuali karena mereka cinta dan kagum kepada Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah. Karena setiap orang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya, maka bila kelak Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah dimasukkan ke surga, kita sudah tahu kemana perginya orang-orang yang di dunia ini membenci dan mencaci-maki mereka. Jelasnya, dua pihak yang bermusuhan ini tidak akan Allah kumpulkan menjadi satu. Na’udzu billah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Besyukurlah karena Berada di Lingkungan Pendidikan Pesantren

MEDAN (Hidayatullah.or.id) – Bersyukurlah bagi kita yang berada di lingkungan pesantren karena bisa belajar Islam dan menjaga agama. Sungguh senang rasanya masih bisa melihat ratusan generasi muda seusia SMP dan SMA memiliki semangat berIslam menempa diri di pondok pesantren. 

Demikian disampaikan oleh Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah Ust. Ir. H. Syamsuddin MM, saat memberikan taushiyah subuh di hadapan para santri Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, beberapa waktu lalu. 

“Meskipun kalian dalam keadaan ngantuk berat selepas shalat tahajjud, kalian masih tetap bersemangat untuk mujahadah melawan rasa kantuk demi melaksanakan kewajiban shalat shubuh berjamaah di masjid yang sangat indah dan sejuk ini,” sambung Syamsuddin, Senin, 8 Rajab 1444 (31/1/2023).

“Sungguh ini adalah suatu hal sangat patut untuk disyukuri karena tidak semua anak muda bisa seperti kalian ini. Karena disaat yang sama banyak anak anak muda dikampung kampung maupun di kota kota  tidak ada yang bangun untuk sholat Subuh berjamaah seperti kalian. Bahkan lebih memilih untuk tidur mendengkur di rumah,” puji Syamsuddin.

Itupun masih mending, kata dia, karena ada sangat banyak anak muda saat akhir pekan atau malam Minggu,  yang berkeliaran atau nongkrong di pinggir jalan ,di kafe-kafe , nongkrong di warung kopi, campur aduk antara laki laki dan perempuan. Mereka melek hingga dini hari bahkan sampai pagi dengan menghisap rokok, atau bisa jadi menenggak minuman keras. .

“Mereka menghabiskan uang, menghabiskan waktu yang sangat tidak ada gunanya bahkan merugikan kesehatan dan tak jarang ada yang berujung pada pergaulan bebas yang merusak kehormatan dan tentu menghancurkan nama baik keluarga apatah lagi menghancurkan masa depan mereka sendiri,” katanya.

Maka, terang Syamsuddin, disaat kalian menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan ini, mestinya kalian  bersyukur, karena  itu artinya Allah SWT telah menjadikan kalian sebagai hamba pilihan-Nya. Demikian nasehat Syamsuddin kepada para santri itu.

“Para santri juga harus berterimakasih kepaya Abi dan Umminya yang telah memilihkan untuk kalian lembaga pendidikan yang tepat  yaitu di pesantren,” imbuhnya 

Syamsuddin menjabarkan, bentuk terimakasih itu harus diwujudkan pada saat santri menjalani masa masa liburan di rumah, baik liburan semester serta liburan hari besar lainnya, di mana mereka menunjukkan perubahan sebagai hasil daripada proses  pendidikan di pondok pesantren ini.  

“Tetaplah rajin shalat berjamaah ke masjid ketika liburan di rumah. Apalagi kalian para santri, harus merasa bangga menjadi anak muda yang shaleh dengan menunjukkan akhlak yang mulia, membantu orangtua, mengajak orang orang yang ada di dalam lingkungan keluarga besar kalian dengan cara membangunkan ummi dan Abi kalian untuk diajak shalat berjamaah di masjid,” demikian pesan Syamsuddin.

Menurut Syamsuddin, usia remaja adalah usia mencari jati diri. Salah dalam memilih teman pergaulan atau salah dalam memilih lingkungan serta salah dalam memilih lembaga pendidikan, akan berakibat fatal dan merugikan anak itu sendiri serta keluarga mereka.

“Para orangtua juga semestinya bersyukur dan bangga dengan anak anak mereka yang mengenyam pendidikan di pesantren, karena anak anak mereka bisa diselamatkan dari pergaulan bebas,” demikian kata Syamsuddin lagi.

Beliau bercerita bahwa baru-baru ini Indonesia dihebohkan oleh pemberitaan tentang kerusakan moral remaja dan pelajar Indonesia yang kian kritis dimana ribuan pelajar SMP/ SMA di Jawa Timur yang meminta dispensasi KUA untuk melakukan pernikahan dini karena akibat para pelajar itu sudah hamil duluan diluar nikah akibat pergaulan yang terlalu bebas.

“Telah banyak terjadi  kehamilan diluar nikah dengan jumlah ribuan dikalangan remaja pelajar yang  terjadi di banyak kota,” katanya menjelaskan seraya menyebut Yogjakarta, Madiun dan Tangerang Selatan adalah termasuk kota yang angka kehamilan remaja / pelajarnya paling tinggi sebagaimana dinukil media. 

Tidak hanya berdampak pada peningkatan permohonan dispensasi nikah usia dini, hamil diluar nikah juga berdampak pada meningkatnya angka aborsi dikalangan remaja /pelajar.

Bahkan tidak hanya seks bebas, hamil diluar nikah, serta aborsi. Banyak para pelajar dan remaja Indonesia yang juga terjerat narkoba. 

Maka, kata beliau, langkah para orangtua untuk menyekolahkan anak mereka di pondok pesantren adalah pilihan yang sangat tepat demi menyelamatkan putra-putri mereka dari bencana dekadensi moral serta untuk menyiapkan generasi unggul di masa depan.*/Khoirul Anam

Dai Harus Menampilkan Diri Seindah dan Sebaik Mungkin

NAMLEA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, mengatakan seorang dai harus menampilkan diri seindah dan sebaik mungkin.

“Karena ini membawa nama Islam yang indah dan bersih. Meskipun kita masih miskin tapi jangan menampilkan diri kumuh, tidak bersemangat,” kata Aziz.

Hal itu disampaikan Aziz saat memberi pencerahan kelembagaan jelang penutupan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Provinsi Maluku yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, Ahad, 7 Rajab 1444 (29/1/2023).

Aziz mengimbuhkan dakwah Islam sebagai kebenaran hakiki harus disampaikan dengan cara yang benar. Dalam pada itu ia menekankan pentingnya konsolidasi jatidiri dan organisasi dalam menguatkan dakwah.

Menurutnya, Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah memiliki fungsi membuat konsep-konsep perjuangan dan membantu Pemimpin Umum untuk konsolidasi organisasi. Sederhananya, kata dia, Wantim sebagai Wakil Pemimpin Umum untuk mengarahkan Dewan Pengurus Pusat, Dewan Mudzkarah, Dewan Murabbi Pusat.

Ia lantas menjelaskan mengapa Wantim turun ke daerah acara Rakerwil. Tujuannya, terang dia, adalah untuk konsolidasi jatidiri Hidayatullah. Jatidiri Hidayatullah ada 6 yaitu manhaj Sistematika Wahyu (SW), Imamah Jamaah, Harakah Jihadiyah, Jamaah min jamaatil muslimin, Ahlus sunnah wal jamaah, dan Washathiah.

“Jatidiri adalah alamat atau khittah yang membedakan dengan harakah atau ormas lain. Maka penting untuk Hidayatullah merumuskan jatidirinya agar istiqamah dan bisa diwariskan kepada generasi pelanjut,” katanya.

Aziz menyebutkan, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Abdullah Said pernah mengatakan jika tidak ada manhaj SW maka tidak perlu ada Hidayatullah karena itu hanya memperbanyak harakah yang sudah ada. Menurut dia, selama Abdullah Said masih hidup, ada dua tema yang sering menjadi stressing dari jatidiri Hidayatullah yaitu manhaj Sistematika Wahyu dan imamah jamaah.

“Salah satu kebijakan atau ijtihad Abdullah Said terkait jihad adalah dengan statemen bahwa beliau tidak miliki harta pribadi yang diwariskan kepada keluarga anak istri. Semua lebur, all out dalam perjuangan. Inilah bagian dari pemikiran jihad Abdullah Said yang luar biasa,” katanya.

Menurut Aziz, ada dua dimensi SW sebagai konsepsi dan terapan sebagaimana yang sering disampaikan Pemimpin Umum. SW sebagai konsepsi adalah pertanggungjawaban ilmiah dengan dasar dalil yang jelas dari al Qur’an, Sunnah, dan pendapat ulama yang memperkuat manhaj SW.

SW sebagai terapan dalam pelaksanaan yang salah satu wujudnya adalah dalam imamah jamaah. Contohnya, Abdullah Said sering mengumpulkan kadernya di bulan Muharam di Gunung Tembak untuk laporan perkembangan dakwah dari daerah dan memberikan penguatan manhaj kepada para kader.

Jika ada pertanyaaan, kapan dimulai kepemimpinan dalam Islam? Maka jawabannya, menurut Aziz, adalah sejak turunnya surat al ‘Alaq yang membentuk seseorang beriman untuk taat kepada Allah SWT dan Muhammad Rasulullah.

“Berislam memang bisa sendiri atau tidak berjamaah tapi tidak banyak yang dihasilkan dari kerja sendiri. Karena dakwah, ibadah, dan syariat Islam harus dilakukan secara berjamaah agar memiliki kekuatan dan banyak yang bisa dilakukan dalam berislam,” katanya.

Pada kesempatan itu Aziz juga memaparkan 6 pilar penting dalam konsolidasi dan tertib organisasi yaitu aspek administrasi, regulasi, manajemen, kepemimpinan (leadership), pelaksanaan (actuating), dan sistem evaluasi (controlling).

Menurutnya, kepemimpinan adalah bagian yang amat penting untuk menggerakkan orang atau memberikan semangat.

“Pemimpin sebagai sumber energi, inspirasi, dan motivasi bagi anggotanya. Seorang pemimpin adalah orang yang patut diteladani, punya kepekaan perasaan dengan sering memberikan hadiah atau shadaqah. Memberikan sentuhan kepada anggota agar bersemangat dan senang dalam ketaatan,” katanya.

Yang juga tak kalah penting adalah kultur organisasi. Dia mengatakan, salah satu kultur Hidayatullah adalah melayani tamu.

“Maka di Hidayatullah harus ada guest house untuk melayani tamu-tamu yang datang. Ini banyak hadist dan teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, seorang dia hendaknya terus menghidupkan GNH atau Gerakan Nawafil Hidayatullah sebagai sistem spritual untuk membangun amal disiplin untuk penguatan spritual.

“Maka seluruh kader dan pengurus Hidayatullah harus disiplin dan konsisten dalam pelaksanaan GNH. Meliputi shalat berjamaah, shalat sunnah rawatib, membaca al Qur’an, infak, dan dakwah fardiyah,” tandasnya.(ybh/hidayatullah.or.id)

Prof Dr Fuad Abdo Al-Soufi Silaturrahim ke Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tokoh pendidik dan dai internasional Syeikh Prof. Dr. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi melakukan kunjungan silaturrahim ke Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak I No.14, Otista, Polonia, Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Jum’at, 5 Rajab 1444 (27/1/2023).

Kedatangan Prof. Dr. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi yang didampingi pelajar Indonesia di IIUM Malaysia, Rasfiuddin Sabaruddin ,S.Sy.,M.IRK, diterima dengan hangat oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, yang didampingi Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dzikrullah W. Pramudya serta turut hadir Direktur Hidayatullah Institute Muzakkir Usman Asyari, S.S. M.Ed.

Dalam kunjungannya tersebut, Prof. Dr. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi mengatakan merasa sangat bahagia bisa berkunjung dan bertaaruf lebih dalam dengan Hidayatullah.

Silaturrahim berlangsung hangat yang membincangkan banyak hal, selain bertukar informasi dan pengalaman masing masing. Pada kesempatan itu Prof. Dr. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi memuji kiprah dan peran Hidayatullah dalam memajukan pendidikan dengan tagline-nya “pendidikan berbasis Tauhid”.

Ia pun mendalami lebih jauh berkenaan dengan pengembangan SDM yang ada di Hidayatullah, khususnya para anak mudanya, dengan cara memaksimalkan pengelolaan asrama yang ada.

“Pengelolaan Perguruan Tinggi Hidayatullah yang berasrama ini sangat baik,” katanya.

Ia lantas membandingkan dengan universitas yang ada baik di dalam maupun di luar negeri yang waktu belajar di kampus hanya 4 sampai 5 jam sehari. Sementara, kita bersama santri kita dan mahasiswa itu sampai 24 jam. Sehingga, terangnya, pendidikan ala pesantren lebih dapat diharapkan melahirkan sumber daya insani sebagaimana diharapkan.

“Dengan perbedaan masa interaksi tersebut, maka lebih layak dan pantas lagi kita jadikan mereka (santri/ mahasantri) menjadi orang yang seperti diharapkan di masa depannya,” katanya.

Prof. Dr. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi pun mendorong adanya bimbingan intensif bagi para musyrif secara berjelanjutan di lingkungan Hidayatullah. Dia pun mengaku siap untuk mendukung, memfasilitasi, bahkan siap menjadi pemateri dimana ia juga memiliki latar belakang di bidang tersebut.

Lebih jauh ia juga memandang perlunya ada kelas khusus (takhassus) baik dari jurusan pendidikan atau jurusan manajemen yang khusus berfokus pada pembahasan tentang manajemen pendidikan asrama.

“Sehingga, kita bisa melahirkan sendiri tenaga musyrif asrama yang diharapkan dan bisa mendidik para anak didik sesuai yang kita inginkan,” tandasnya. Silaturrahim ini kemdian ditutup dengan bertukar cinderamata.*/Yacong B. Halike

Rakerwil Hidayatullah Kepri Dihelat Ditengah Cuaca Ekstrim

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Di awal tahun 2023, DPW Hidayatullah Kepulauan Riau menghelat Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama dua hari, 28-30 Januari 2023 di aula Kampus Utama Hidayatullah Batam. 

Meski arus deras disertai gelombang tinggi di perairan Kepulauan Riau tidak menyurutkan semangat para pengurus DPD dan amal usaha serta organisasi pendukung di kab/kota se Kepri untuk hadir di acara rakerwil, tercatat hanya DPD Anambas yang tidak dapat hadir karena cuaca transportasi laut dihentikan sementara.

Rakerwil yang dihadiri utusan dari DPP Hidayatullah, Ust. Candra Kurnianto, ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Kepri, ustadz Khairul Amri dan jajaran manajemen BMH Kepri. Agenda rakerwil dibuka oleh sekjen DPP, ustadz Candra Kurnianto sementara amanat dari ketua umum Hidayatullah dibacakan oleh ustadz Jamaluddin Nur, perintis Hidayatullah Batam yang juga ketua pembina kampus utama Hidayatullah Batam.

Selama dua hari, kepala departemen dalam jajaran kepengurusan DPW Hidayatullah Kepri periode 2019-2024 memaparkan program kerja berdasarkan turunan program kerja yang dicetuskan oleh DPP Hidayatullah pada rakernas pekan lalu.

Ustadz Candra Kurnianto berpesan kepada seluruh kader di Kepri pada acara penutupan untuk terus meningkatkan soliditas dan menguatkan sinergi serta kolaborasi baik di lingkup internal maupun eksternal.

“Untuk kampus-kampus yang masih bersifat perintisan melakukan dan pengembangan hendaknya membuat master plan terlebih dahulu sebagai stimulan dan motivasi untuk mewujudkan kampus sebagai basis peradaban sebagai visi Hidayatullah,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, ketua DPW Hidayatullah, ust Darmansyah, berharap para pengurus DPD dan amal usaha serta organisasi pendukung untuk merealisasikan program kerja yang telah dicanangkan sesuai amanat rakernas Hidayatullah tahun 2023.

Rakerwil kali ini diselingi penggalan dana  untuk penyelesaian masjid Ar Riyadh di kampus Ummul Qura Pusat Hidayatullah Balikpapan dan kontribusi untuk perhelatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) yang rencananya akan digelar pada November tahun ini.*/Mujahid M. Salbu

Ketum Hadiri Tabligh Akbar dan Rakerwil Hidayatullah Jambi

MUARO JAMBI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, hadir di Muaro Jambi sebagai narasumber tabligh akbar yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Provinsi Jambi.

Tabligh akbar yang berlangsung di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Muaro Jambi ini sekaligus bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) tahun 2023 Hidayatullah Jambi yang berlangsung selama 2 hari dan dibuka pada Sabtu, 6 Rajab 1444 (28/01/2023).

Dalam sambutan dan taushiahnya, Ketua Umum menyampaikan peran penting Hidayatullah dalam berbagai bidang dengan jaringan organisasi dan pesantren di seluruh nusantara.

Di bidang pendidikan, kata dia, Hidayatullah hadir untuk menjadi wadah lahirnya generasi berkualitas dari aspek iman, ilmu dan amal.

“Menyelenggarakan pendidikan Integral berbasis tauhid yang mencakup aspek spiritual, intelektual, fisikal, sosial dan manajerial sehingga dapat melahirkan calon-calon pemimpin bangsa dan ummat yang unggul,” kata Nashirul

Ia menjelaskan, sistem pendidikan Hidayatullah diharapkan dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana diamanahkan konstitusi.

“Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan bertanggung jawab,” terangnya.

Beliau menyitir ayat al Qur’an dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 9 yang mengingatkan agar semua orangtua merasa kuatir dan cemas jika seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah, baik dari sisi iman, ilmu, fisik maupun materi.

“Santri-santri didorong untuk menguasai ilmu, sains dan teknologi setelah memilik iman yang kuat sehingga dapat menghadapi tantangan di era revoluai industry 4.0 ini,” imbuh Ketua Umum memberi motivasi.

Ketum menambahkan, Hidayatullah bersama segenap umat dengan beragam program keumatannya mendukung program pemerintah khususnya di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan kesehatan, serta menekankan pentingnya membangun jiwa anak bangsa khususnya di provinsi Jambi.

Acara Rakerwil Hidayatullah Jambi ini dibuka secara resmi oleh Bupati yang diwakili Asisten I Pemerinah Kabupaten Muaro Jambi Drs. Sukisno, MM.

Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Muaro Jambi ini menyampaikan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dengan ormas Hidayatullah.

Mewakili pemerintah, Sukisno juga menyampaikan apresiasi kepada Hidayatullah, khususnya di kabupaten Muaro Jambi yang telah berperan aktif bagi kemajuan daerah, terutama di bidang pendidikan.

“Dengan adanya lembaga pendidikan Islam Hidayatullah yang berkualitas menjadi alternatif dan pilihan utama bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya,” ungkapnya menyampaikan sambutan Bupati yang berhalangan hadir karena sedang beribadah umrah ke Baitullah.

Setelah membuka acara Rakerwil, Sukisno menyematkan tanda peserta Rakerwil kepada Ketua DPD Hidayatullah Batanghari dan Ketua DPD Muaro Jambi mewakili seluruh peserta yang terdiri dari seluruh pengurus DPW, DPD se Jambi, pengurus organisasi pendukung (Muslimat dan Pemuda Hidayatullah) serta amal usaha tingkat wilayah seperti Pondok Pesantren, Baitul Maal Hidayatullah dan lain-lain.

Sementara itu mewakili panitia dan tuan rumah penyelenggaraan Rakerwil, Ust. Arif Abidin, S.Pd.I, menyampaikan terimakasih dan rasa syukur atas digelarnya kegiatan Rakerwil di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Muaro Jambi ini.

Dia mengatakan Rakerwil ini terbilang istimewa sebab dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, yang sekaligus menjadi narasumber tabligh akbar.

“Rakerwil tahun ini sangat istimewa karena di hadiri langsung oleh Ketua Umum yang sekaligus mengisi acara tabligh akbar yang bertempat di Kampus Madya Hidyatullah Muaro Jambi,” kata Arif Abidin.

Acara ini juga di hadiri oleh Kadept Dikti dan Litbang DPP Drs. Miftahuddin M.Si, perwakilan dari Polres, Kodim Muaro Jambi, Camat, Kepala desa dan tokoh masyarakat kabupaten Muaro Jambi.*/Yacong B. Halike

Walikota Resmikan 3 Rumah Qur’an Hidayatullah di Halmahera Utara

HALMAHERA UTARA (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tidore Kepulauan yang juga Ketua Dewan Pembina Rumah Quran Hidauatullah Maluku Utara (Malut), Capt. H. Ali Ibrahim meresmikan peluncuran Rumah Quran Hidayatullah di Kabupaten Halmahera Utara pada Sabtu, 6 Rajab 1444 (28/01/2023).

Peresmian Rumah Quran ini ditandai dengan penyerahan 3 papan nama pada pembukaan Rakerwil dan peletakan batu pertama Asrama Putri Pesantren Ragaiyah Hidayatullah Halut. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program nasional Hidayatullah yaitu Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Quran (Grand MBA) .

Dalam sambutannya, Ali Ibrahim yang juga walikota Kota Tidore Kepulauan 2 periode ini mengajak, kepada semua pihak untuk sama sama membangun sarana dan prasana pendidikan yang religius.

“Mari kita bergandengan tangan dan beritikad membangun Asrama Putri Pondok Pesantren Ragaiyah Hidayatullah ini sebagai investasi kita di akhirat nanti, Marilah kita mendukung pengembangan sumberdaya manusia yang mengedepankan Ilmu Pengetahuan Agama,” tutur Ali.

Lebih lanjut, putra terbaik Tidore yang istiqamah menghatamkan Qur’an tiap 2 pekan ini berharap, dengan adanya rumah Quran ini dapat menjadi sarana dalam mempelajari, mendalami, dan mengamalkan Al Quranul Karim dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapan saya dengan hadirnya Rumah Quran ini kita dapat melahirkan generasi-generasi pencinta Quran di Halmahera Utara khususnya, bahkan pada umumnya di Provinsi Maluku Utara,” lanjut Ali.

KH Wahyu Rahman, Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah turut pula menyampaikan, Provinsi Maluku Utara telah banyak melahirkan generasi-generasi pencinta Al Quran. Ini dapat dilihat pada dilauncingnya 3 Rumah Quran di Halut.

“Sebuah kebanggan dan apresiasi bahwa di Maluku Utara telah banyak lahir para generasi muda pecinta Qur’an,” kata Wahyu.

Wahyu mengharapkan semoga program ini dapat menjadikan Maluku Utara sebagai provinsi yang senantiasa di berkahi oleh Allah SWT sehingga kedepannya lebih maju dan berkembang pesat,” tambahnya.

Kegiatan ini dihadiri Forkopimda Halmahera Utara, DPP, DMW, DPW, DPD, Ortom Hidayatullah Maluku Utara, pengelolah Rumah Quran se Provinsi Maluku Utara, serta masyarakat Halmahera Utara.*/Fadhlul Alul

Wakili Bupati, Kabag Kesra buka Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Maluku Utara

0

HALMAHERA UTARA (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan Rakerwil Hidayatullah Maluku Utara tahun 2023 baru saja usai yang digelar selama 3 hari berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Ragaiyah Hidayatullah, Desa Togoliua, Kabupaten Halmahera Utara (Halut) yang dibuka pada Sabtu, 6 Rajab 1444 (28/01/2023).

Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Malut itu dirangkai dengan launching Rumah Qur’an Halmahera Utara dan peletakan batu pertama pembangunan asrama putri pesantren Ragaiyah Hidayatulla Halut.

Dalam sambutannya, Bupati Halmahera utara yang diwakili oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Halmahera Utara, Rahman Saha, menyampaikan pentingnya kegiatan rakerwil ini untuk melahirkan ide dan gagasan kerja dalam rangka peningkatakan kerja dan kinerja sebuah organisasi. Selain itu Kabag Kesra Pemda Halut sekaligus membuka kegiatan Rakerwil DPW Hidayatullah Maluku Utara tahun 2023.

“Rapat kerja adalah sebuah momentum dimana ide-ide dan gagasan terbaik dituangkan untuk dirumuskan menjadi sebuah program kerja demi kemajuan dan perkembangan organisasi,” kata Rahman.

Lebih lanjut Rahman menyampaikan pesan Bupati agar kedepannya Pesantren Ragaiyah Hidayatullah Halut dapat menjadi pesantren terbaik di Halmahera Utara agar setiap anak Halut yang ingin ke pesantren tidak perlu jauh ke jawa lagi

“Bapak Bupati mengharapkan agar kita semua menjadikan pesantren ini sebagai pesantren terbaik di Halmahera Utara guna menjawab kebutuhan pendidikan agama bagi putra putri halut sehingga tidak perlu berangkat ke jawa lagi,” katanya.

Sementara itu, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang diwakili oleh K.H. Wahyu Rahman selaku Kadep Perekonomian menyampaikan rakerwil adalah agenda tahunan wajib yang unsur pesertanya adalah DPW, DMW, DPD dan ortom Hidayatullah.

Wahyu menyampaikan bahwa rakkerwil ini dalam rangka menyusun program kerja terbaik yang terukur, terperinci serta dapat dijalankan guna mengoptimalkan kehadiran Hidayatullah dalam membantu menjawab program-program pemerintah di masyarakat.

“Sebagai agenda wajib, maka rakerwil yang dihadiri oleh DPW, DMW, DPD dan Ortom Hidayatullah diharapkan mampu menjadi solusi persoalan keummatan dan membantu menjawab program pemerintah di masyarakat utamanya dalam hal pembinaan sosial dan keagamaan masyarakat,” kata Wahyu.

Adapun Kementrian Agama Halut yang diwakili oleh Rahman Hamsa selaku Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Halmahera Utara menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh kepada pesantren ini untuk maju dan berkembang lebih baik sehingga bisa menjadi wadah pendidikan agama bagi seluruh generasi muda halut.

“Marilah kita bersama membangun pesantren ini yang merupakan wadah pendidikan agar lebih maju dan berkembang lebih baik lagi,” katanya.

“Dukungan dan apresiasi bagi pesantren haruslah terus ditingkatkan guna hadirkan wadah pendidikan keagamaan sehingga dapat berjalan dengan baik,” kata Rahman menambahkan.

Kegiatan ini dirangkai pula dengan launching sejumlah Rumah Qur’an Hidayatullah Halmahera Utara yang diresmikan langsung oleh Capt. H. Ali Ibrahim selaku Ketua Dewan Pembina Rumah Qur’an Maluku Utara yang dalam sambutannya menyampaikan harapan hadirnya generasi Qur’an di Halmahera Utara.

“Saya berharap dengan Rumah Quran ini kita dapat melahirkan generasi-generasi pencinta Quran di Halmahera Utara, bahkan pada umumnya di Provinsi Maluku Utara,” kata Capt. Ali.

Peluncuran program ini ditandai dengan penyerahan papan nama rumah Qur’an dan pemberian dana pembinaan.

Rangkaian acara pembukaan rakerwil ini ditutup dengan kegiatan peletakan batu pertama pembangunan asrama santri putri pesantren Ragaiyah Hidayatullah Halut.*/Fadhlul Ambal

LBH Hidayatullah Papua Resmi Terbentuk dan Kukuhkan Pengurus Baru

KEEROM (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah Provinsi Papua resmi terbentuk yang dideklarasikan kemarin di Hotel Arso Grande, Yuwanaim, Kecamatan Arso, Kabupaten Keerom, Papua, Ahad, 7 Rajab 1444 (29/1/2023).

Lembar pengukuhan sebagai tanda resminya kehadiran LBH Hidayatullah Papua dibacakan oleh KH. Mualimin Amin, S.SosI, sebagai ketua DPW Hidayatullah Papua sekaligus Pembina LBH Hidayatullah Papua.

Sebanyak 7 orang dalam struktur pengurus dilantik langsung oleh Dr Dudung A Abdullah selaku Direktur LBH Hidayatullah Pusat yang juga Ketua Departemen Hukum dan Advokasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Acara pelantikan dan deklarasi ini menjadi rangkaian dengan penutupan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Papua yang diihadiri oleh perwakilan dai dari beberapa kabupaten seluruh Papua.

Adapun susunan struktur pengurus LBH Hidayatullah Papua adalah sebagai berikut, yaitu Pembina KH. Muallimin Amin, Sos.I, Pengawas KH. Al Jufri Muhammad.

Sementara, sebagai Direktur LBH Hidayatullah Papua diembah oleh Achid Prasetyo Jati, S.H.I, Wakil Direktur Bidang Litigasi Syaiful Azwar Anas, S.H, Wakil Direktur Bidang Non Litigasi, Andi Guntur Sayang, S.H, Wakil Dir Bidang Edukasi Abdul Sakir, S.Pd, dan Wakil Direktur Bidang Administrasi Hirwan, S.Pd.I.

Dr Dudung A Abdullah dalam sambutannya berharap dengan dideklarasikannya LB Hidayatullah Papua bisa menambah peran LBH Hidayatullah dalam membantu masyarakat luas untuk mendapatkan hak perlindungan hukumnya, termasuk saudara-saudara yang ada di Papua.

“Hadiran LBH Hidayatullah Papua diharapkan membantu penyelenggara negara dalam membangun negara hukum yang berkeadilan,” kata Dudung yang pada kesempatan tour ke Papua ini dibersamai rekan sejawatnya, advokat Ahmad Hidayatullah, MH.

Sementara Direktur LBH Hidayatullah Papua Achid Prasetyo Jati menyatakan kesiapannya dalam menjalankan amanah ini dan berharap dukungan semua pihak agar LBH Hidayatullah Papua dapat memberi maslahat secara luas.

“Saya beserta pengurus yang baru saja resmi dilantik sebagai pengurus LBH wilayah Hidayatullah Papua berkomitmen bahwa senantiasa bertawakal kepada Allah SWT serta berusaha dan berupaya untuk memberi pelayanan dan bantuan kepada para dai dan masayarakat yang membutuhkan bantuan hukum,” kata Achid.

Di kesempatan yang sama Ketua DPW Hidayatullah Papua yang juga pembina LBH Hidayatullah Papua KH. Muallimin Amin menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah atas dikukuhkannya LBH Hidayatullah di provinsi tersebut.

“Saya sangat senang dengan telah terbentuknya LBH Hidayatullah Papua. Semoga dengan adanya LBH Hidayatullah Papua ini bisa membantu edukasi dan advokasi hukum bagi masyarakat Papua terutama masyarakat tidak mampu,” tandasnya.*/Yacong B. Halike

Semarak Rakerwil Hidayatullah Maluku di Namlea Pulau Buru

0

PULAU BURU (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah untuk pertama kalinya, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Maluku dilaksanakan di Namlea. Namlea adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Buru, Maluku, Indonesia. Kecamatan Namlea juga merupakan ibukota dari Kabupaten Buru.

Perjalanan ke Namlea cukup jauh yaitu satu malam dengan naik kapal feri dari Ambon. Ada perjalanan pesawat tadi jadwalnya tidak menentu karena mungkin kurang penumpang.

Pembukaan Rakerwil yang cukup semarak ini dilaksanakan di Kampus Hidayatullah Pulau Buru pada Sabtu, 6 Rajab 1444 (28/1/2023). Hadir para pejabat dan tokoh masyarakat. Bupati diwakili oleh Asisten 1 Kabupaten Buru, Wakil Ketua DPRD, Kapolres, Dandim, pengurus MUI, Kementerian Agama, Rektor Universitas Iqra’ dan beberapa tokoh masyarakat hadir menyaksikan pembukaan Rakerwil.

Sebelum pembukaan Rakerwil dimulai dengan peletakan batu pertama, rencana pembangunan masjid Hidayatullah Pulau Buru. Masjid yang diharapkan menjadi pusat kegiatan ibadah dan pendidikan para santri untuk bisa nyaman beribadah dan belajar. Selama ini hanya mushola kecil yang sudah tidak lagi bissa menampung jumlah santri dan masyarakat yang shalat berjamaah.

Setelah acara peletakan batu pertama pembangunan masjid, dilanjutkan dengan lelang pembangunan masjid. Dengan motivasi iman dan fastabiqul khairat dari pembawa acara, terkumpul dana awal dari tamu undangan yang hadir berupa semen untuk pembangunan masjid sebesar 1070 (seribu tujuh puluh sak) semen. Jika diuangkan dengan harga semen 70 ribu per-sak maka terkumpul uang 74. 900 ribu rupiah.

Selanjutnya pembukaan Rakerwil dibuka secara resmi Asisten 1 Pulau Buru mewakili bupati yang sedang di luar kota. Asisten 1 sangat bangga dan senang dengan hadirnya Hidayatullah di Pulau Buru, dia sudah lama mendengar kiprah dakwah Hidayatullah di masyarakat. Beliau berharap Hidayatullah bisa menjadi lampu dakwah yang bisa menerangi dan memberikan dakwah kepada masyarakat, terutama di masyarakat terpencil yang jarang tersentuh dakwah.

Acara terakhir dalam pembukaan Rakerwil yaitu tabligh akbar yang diisi oleh Ustadz Dr. Abdul Aziz Kahar anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah. temanya Islam sebagai Rahmat, berkhitmat untuk Ummat dan bangsa.

Beliau merespon harapan dari bapak Asisten 1, bahwa Hidayatullah siap untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil dan itu menjadi pekerjaan yang terbiasa dilakukan oleh dai-dai Hidayatullah. Termasuk pembinaan masyarakat anismisme, muallaf.

Jauh hari sebelum Hidayatullah hadir di Maluku, Hidayatullah sudah hadir di Papua yang umat Islam minoritas. Alhamdulillah bisa diterima, eksis mendirikan Pesantren dengan areal tanah yang luas-luas. Apalagi di Pulau Buru, umat Islam mayoritas, sehingga tidak alasan untuk tidak sukses berdakwah dengan dukungan pemerintah, tokoh dan masyarakat.

Ustadz Abdul Aziz yang mantan anggota MPR selama tiga periode sangat memahami dinamika perpolitikan dan dakwah. Sehingga beliau berpesan untuk tidak mudah diprovokasi oleh perbedaan-perbedaan sehingga berpecah belah dan bermusuhan sesama umat Islam.

Perbedaan cara beribadah sudah terjadi sejak zaman dulu yang dalilnya sama-sama kuat. Dalam dalam praktiknya tidak perlu merasa paling benar dan menyalahkan golongan lain. Harus tetap santun dan bersatu, jangan mau dibentur-benturkan dengan kelompok lain.*/Abdul Ghofar Hadi