Beranda blog Halaman 397

Jangan Retak Perahuku

0

Oleh Dzulkifli M. Salbu

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Setiap metafora yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dipastikan sarat dengan makna, sebab salah satu keistemewaan yang Allah titipkan pada lisan beliau yang mulia adalah “ِجَوَامِعُ الكَلِم” yaitu ungkapan yang tidak bertele-tele, bernilai sastra tinggi, tapi dengan kedalaman makna yang membumi, hingga mudah difahami.

Pesan universal dari Hadits di atas adalah, Nabi menghendaki, ending perjalanan kapal itu dapat berlabuh di dermaga dengan selamat, maka segenap upaya dikerahkan agar kapal tak karam di tengah samudra.

Selanjutnya dengan sangat indah, Nabi menggambarkan secara rinci kondisi kapal, mulai dari posisi penumpang (ada yang berada di dek atas dan dek bawah), kebutuhan primer penumpang (air), posisi air (di atas), upaya normatif yang dilakukan penumpang dek bawah untuk memperoleh air (naik ke atas), tindakan menyimpang yang mungkin dilakukan oleh penumpang dek bawah untuk mendapatkan air (membocorkan perahu), alasan membocorkan perahu (tidak ingin mengganggu penumpang dek atas) dan akibat membocorkan perahu (semua tenggelam).

Analogi detail di atas, disamping mengantarkan kita pada satu titik yang terang tentang pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar, juga menggoda imajinasi kita untuk berada pada titik yang lain, role of leader! Masalah kepemimpinan!

Majas ini mengisaratkan, bahwa seorang pemimpin harus membuka telinga, agar dapat mendengar jerit kehausan penumpang dek bawah, membuka mata agar bisa melihat dan tahu kebutuhan mereka, membuka hati agar hadir getar cinta di antara mereka, membuka pikiran untuk dapat menemukan solusi dari masalah mereka, dan turun ke bawah agar terbangun chemistry (kedekatan emosional).

The Power of Chemistry, adalah hubungan unik penuh energi, yang tak dibatasi hitungan untung rugi, yang tak disekat basa-basi dan kalkulasi, seseorang akan memimpin dengan hati, bukan dengan ambisi dan iming-iming materi.

Saat Umar manjadi khalifah, Madinah pernah dilanda kelaparan, dan tak terlihat tanda-tanda akan berakhir, dengan ksatria Umar berkata, “seluruh anggota keluargaku, tak kuperkenankan makan daging, sampai kelaparan di Kota Madinah berakhir”, chemistry bisa menghadirkan pengorbanan tanpa batas.

Air adalah simbol kehidupan dan kesejahteraan, tempatnya di atas, tugas pemimpin memastikan air itu mengalir ke bawah, membasahi dahaga penumpang, tanpa disumbat oleh like and dislike (suka atau tidak suka), memastikan dengan data akurat, bukan dengan ilusi dan halusinasi, kira-kira dan barangkali, apalagi sekedar bisik-bisik tetangga, agar kesejahteraan terdistribusi dengan tepat, tanpa menunggu upaya normatif penumpang naik ke atas.

Karena tak mustahil, di antara mereka ada yang telah renta, tulangnya sudah rapuh, tak sanggup lagi menopang tubuhnya, apalagi untuk menapaki tangga ikhtiar, jalan terakhir mereka adalah tindakan menyimpang membocori perahu, dan itu tragedi.

Membocori perahu adalah kesalahan fatal, apapun asumsi yang menyertainya, logis dan masuk akal sekalipun, mungkin mereka beralasan, tak ingin mengusik yang di atas, tugas pemimpin dan penumpang lain tetap harus mencegahnya.

Hidayatullah adalah perahu kita, yang sedang melintasi samudra perjuangan, akan berhadapan dengan badai dan gelombang, yang mungkin lebih dahsyat diseparoh abad selanjutnya. Kita semua adalah penumpangnya, dengannya kita ingin berlabuh di dermaga, jangan sampai karena kepentingan sesaat, akibatnya tak ada yang selamat.

Seorang seniman berkata dalam penggalan syairnya:

Perahu Negeriku
Perahu Bangsaku
Jangan retak dindingmu

*) Dzulkifli M. Salbu, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan

Ukhuwah sebagai Entitas

0

Oleh Dzulkifli M. Salbu*

NABI MUHAMMAD Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dinobatkan sebagai tokoh paling sukses sepanjang masa, baik oleh pengikutnya ataupun yang bukan. Michael H. Hart yang non Muslim, dalam bukunya “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” menempatkan beliau pada urutan teratas.

Fakta ini menyisakan pertanyaan kecil, apa indikator paling riil dan konkrit dari kesuksesan beliau. Tentu bukan karena jumlah pengikut, sebab Al Quran secara implisit telah membantah hal itu, setidaknya dalam kasus perang Hunain, untuk tidak bangga dengan angka. Juga bukan pada kemampuan agitasi beliau, sebab faktanya, paman beliau pun “tak berhasil” beliau pengaruhi.

Ada banyak variabel yang bisa jadi jawaban pertanyaan di atas, namun bila mencermati realitas sejarah, maka pilihan kita akan jatuh pada ukhuwah, dan itu akan mengeliminasi faktor yang lain, meskipun juga fundamental.

Kehadiran beliau berhasil menutup jurang disparitas antara borjuis dan proletar, memaksa bangsawan duduk bersanding dengan budak, hal yang mustahal terjadi di zaman jahiliyah.

Perang antar qabilah, yang telah lama berlangsung, diganti dengan perang hadiah, yang dilakukan tanpa berhitung, yang mereka berikan bukan hanya harta, nyawa sekalipun akan dipertaruhkan, demi tersemainya ukhuwah diantara mereka, contoh paling spektakuler tergambar dalam perang Yarmuk.

Semua ini, adalah fakta penegas, bahwa ukhuwah merupakan simbol kesuksesan beliau, yang dengan mudah disentuh dan difahami dengan pendekatan logika sejarah.

Hidayatullah menetapkan jati diri dalam enam poin, dari Sistimatika Wahyu sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, ahlussunnah wal jamaa’ah; Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, Imamah Jama’ah, Jama’atun minal Muslimin dan Wasathiyah.

Jika ukhuwah adalah anak emas dalam khazanah Islam, kenapa dia luput dalam Jatidiri Hidayatullah, apakah tercecer dari ingatan? Atau dianggap anak bawang? Tentu saja tidak, jika jatidiri Hidayatullah adalah identitas, maka ukhuwah adalah entitas, yang lahir normal tanpa caesar dari rahim setiap kader, yang memahami sistimatika wahyu dengan benar.

Substansi Al Alaq ayat 1-5 mengandung kesadaran primordial tentang hakikat ketuhanan dan akan melahirkan kepekaan sosial sebagai buah kesadaran tentang hakikat kemanusiaan, dan ini harus berjalan seiring, itu sebabnya Nabi dengan tegas menjadikan ukhuwah sebagai ukuran keimanan: “Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya sendiri”.

Maka kader Hidayatullah yang masih berat menerima kekurangan dan kesalahan kawan, sebagai bumbu penyedap rasa persaudaraan, bisa jadi karena belum memahami esensi jatidiri Hidayatullah dengan tuntas.

Orang bijak berkata, “jangan hapus persaudaraan karena kesalahan kawan, tapi hapuslah kesalahan kawan demi persaudaraan”

*)Dzulkifli M. Salbu, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan

Hidayatullah dan Butterfly Effect

Oleh Asih Subagyo*

SERINGKALI kita tidak menyadari bahwa perbuatan kecil yang kita lakukan, akan memberikan dampak terhadap kejadian yang lebih besar di lain tempat dan di waktu yang berbeda pula. Seolah tidak ada keterkaitan.

Padahal sesungguhnya selalu ada saling keterhubungan satu dengan yang lain itu, apapun bentuknya. Hal ini dijelaskan secara ilmiah oleh Edward Norton Lorenz (1917-2008), seorang Ahli Meteorologi, berkebangasaan Amerika dalam penelitiannya tahun 1961.

Selayaknya penelitian, tentu dilalukan berulang-ulang, sampai menemukan hasil yang optimal. Sehingga usahanya dalam melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial taklinear dengan komputer.

Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (…,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi.

Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali. [wikipedia]

Pada 29 Desember 1972, Lorenz berpidato di Pertemuan ke-139 The American Association for the Advancement of Science di Washington DC, Amerika Serikat. Atas saran rekannya Philip Merilees, mengusulkan judul “Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?” (“Apakah kepakan sayap kupu-kupu di Brasil menyulut angin ribut di Texas?”).

Inilah yang kemudian disebut dengan efek kupu-kupu atau butterfly effect tersebut. Dari teori yang awalnya disematkan untuk peramalan cuaca tersebut, pada perkembangan selanjutnya, digunakan untuk berbagai hal, termasuk adanya teori kekacauan, ekonomi dan lain sebagainya, termasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait dengan teori kekacauan tersebut, nasihat Lorenz cukup menarik yang diringkas dalam sebuah kalimat yang apik. ”Kekacauan: Keadaan saat ini menentukan masa depan. Namun perkiraan saat ini tidak menentukan masa depan.”

Artinya masa depan itu ditentukan karya-karya yang dibangun pada saat ini, bukan hanya narasi semata. Meskipun narasi bisa memetakan dan merancang masa depan, akan tetapi itu bukan faktor yang determinan, sebab yang paling utama adalah karya nyata itu sendiri. Namun jika narasi dan karya menjadi satu tarikan nafas, maka ini yang akan men-drive masa depan.

Rachel Mans McKenny menyatakan bahwa, “The Butterfly Effect is an unconventional tale of self-discovery, navigating relationships, and how sometimes it takes stepping outside of our comfort zone to find what we need the most”. (The Butterfly Effect adalah kisah yang tidak biasa tentang penemuan diri, menavigasi hubungan, dan bagaimana terkadang kita perlu melangkah keluar dari zona nyaman kita untuk menemukan apa yang paling kita butuhkan).

Kepak Sayap Gunung Tembak

Meski tidak diteorikan, sesungguhnya jejak KH Abdullah Said Rahimullah, merupakan kepak-kepak yang mengkonfirmasi adanya butterfly effect dari organisasi bernama Hidayatullah. Gunung Tembak, merupakan titik tolak dari kepakan Hidayatullah bermula.

Meski sebelumnya diawali dari kepakan aktifitas di Karangsari, Karang Rejo, Karang Bugis dan seputaran Kota Balikpapan, saat yang bersamaan Lorenz mempresentasikan paper-nya itu. Secara linier tidak ada hubungannya, tetapi secara tak linier bisa saling terhubung.

Kerja-kerja menggali empang, merintis pepohonan, menggali pokok-pokok pohon ulin yang keras dan kokoh akarnya, berkebun, bertukang dan aktifitas kecil lainnya, dengan sarana yang tidak memadai, dengan makanan yang seadanya, dengan bekal ilmu yang sangat terbatas, maka saat itu bisa jadi tidak dihitung dan diperhitungkan. Akan tetapi proses terus dilakukan.

Allahuyarham selalu memberi motivasi santri dan warga saat kerjabakti itu. Seringkali beliau membersamai dalam kerja-kerja fisik itu dengan menyemangati dengan teriakan Soviet akan hancur, PBB akan datang ke sini, dlsb yang kemudian hari berbagai pernyataan tersebut terbukti.

Namun, memang tidak berhenti kepada kerja-kerja fisik, retorika dan teriakan slogan semata sebagaimana tersebut di atas. Akan tetapi juga dibarengi dengan kedisplinan tingga untuk melaksanan Ibadah dengan kualitas dan yang maksimal. Terutama berkenaan dengan penegakan shalat wajib dan sunnah, terlebih sholat tahajud (qiyamul lail), menjadikan kepak yang ada di Gunung Tembak ini, mampu menyebar ke seluruh Nusantara.

Hal tersebut, juga diterapkan saat pengiriman santri untuk mengembangkan cabang di daerah-daerah rintisan baru. Pesan allahuyarham yang sangat terkenal adalah,”Allah yang ada di Gunung Tembak, adalah Allah SWT yang sama di tempat tugasmu, jadi jika Allah menolong kita di Gunung Tembak, juga akan menolongmudi tempat tugas”.

Selain hal di atas, satu hal yang seragam adalah komitmen untuk memberdayakan kaum dhuafa’ dan mustadha’fin.

Hal di atas, jika dihubungkan secara linear, terlihat tidak ada kaitannya dengan apa yang terjadi dengan bangsa dan dunia saat itu dan masa kini. Akan tetapi sebagaimana teori Lorenz, pasti kepakan santri-santri di Gunung Tembak itu, memberikan andil terhadap perubahan dunia. Setidaknya dari Gunung Tembak itu, kepak sayapnya telah tersebar di 34 Propinsi, 374 Kab/Kota dengan ratusan Pesantren, panti asuhan, retail, serta berbagai amal usaha dan badan usaha se-Indonesia, dan (mudah-mudahan atas izin Allah) merambah ke berbagai penjuru dunia.

Jika kupu-kupu yang umurnya sangat pendek saja; bisa jadi hanya berumur satu bulan atau beberapa hari saja, bisa menyebabkan perubahan signifikan, bukan karena dari keindahan warna-warninya sayapnya, akan tetapi melalui kepak sayapnya. Maka, sebaran kader yang telah ditempa dengan berbagai dinamika kehidupan serta bekal keilmuan, ketrampilan dan ruhiyah yang memadai, tentu akan lebih dahsyat lagi efeknya.

Dengan demikian maka, konsekwensi logisnya, dari masing-masing titik sebaran itu, pasti akan terus berkepak dalam dakwah, tarbiyah dan pemberdayaan umat, yang sudah barang tentu akan mempengaruhi peradaban dunia. Kendati hal itu dilakukan di remote area, di daerah-daerah terluar, terdalam, terpencil, tertinggal dan terasing.

Oleh karenanya, jangan berhenti berkepak, dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun juga! Sebab Allah SWT pasti akan membalasnya, sebagaimana dalam firmannya :

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8). Wallahu A’lam

*) Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah

Muharram Momentum Rekatkan Ukhuwah Antar Ormas Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta menggelar acara Webinar Peradaban Islam bersama Ketua ketua Ormas Islam DKI Jakarta bertajuk “Bagimu Bangsa dan Negeri Bakti Kami Setelah Ujian Pandemi” bertepatan dengan bulan Muharram dan bulan HUT RI ke-76 digelar secara virtual yang disiarkan secaar langsung di channel Gardakota TV, Selasa malam, 8 Muharram 1443 (17/8/2021).

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ust Muhammad Isnaini dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini dalam rangka mengeratkan persaudaraan antar sesama organisasi massa Islam.

Selain itu, sebagai shahibul hajat, kegiatan webinar ini juga sebagai momentum untuk menyerap hikmah semangat Hijriyah dimana saat ini umat Islam sedunia telah memasuki awal Muharram.

Selain itu, lanjut Isnaini, acara ini juga menjadi salah tau rangkaian refleksi untuk milad 50 tahun Hidayatyullah yang bertepatan dengan peringatan Dirgahayu Republik Indonenesia yang ke-76.

Olehnya, untuk peringatan hal tersebut, DPW Hidayatullah DKI Jakarta menyelenggarakan sejumlah kegiatan diantaranya Kibar Bendera Merdeka yang berlangsung di rooftop Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, beberapa perlombaan dan webinar peradaban Islam ini.

“Terima kasih yang sebesar besarnya atas kehadiran para ketua ketua ormas Islam DKI Jakarta yang membersamai agenda ini,” kata Isnaini.

Menurut Isnaini, Hidayatullah harus terus belajar sampai kapanpun termasuk pada kesempatan milad setengah abad Hidayatullah. Oleh karena itu, Hidayatullah akan selalu siap untuk menyerap berbagai masukan dan inspirasi dari ormas senior yang lebih dulu ada.

“Kami sebagai yunior bersiap dan sangat berkepentingan untuk berguru kepada para senior. Termasuk kepada spesial dan terimakasih kepada KH Astamar yang saat berkoordinasi dengan beliau, beliau memberikan saran berkaitan dengan tema malam ini,” kata Isnaini.

Isnaini mengatakan, pergerakan atau organisasi yang lebih dulu hadir telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Hidayatullah, tambah Isnaini, berkepentingan untuk banyak menyerap ilmu dari para senior.

“Kami sadar dan kami yakin betul bahwa dari sisi usia banyak organisasi massa yang jauh lebih senior dan jauh lebih tua dibandingkan dengan Hidayatullah dan tentu sudah banyak sekali memberikan kontribusi terbaiknya bagi negeri ini,” kata Isnaini.

Dia berharap, semoga dari forum webinar ini akan melahirkan ide dan banyak gagasan cemerlang yang kemudian dapat dieksekusi bersama untuk selanjutnya menjadi solusi atas beragam problem yang tengah dihadapi umat, bangsa, negara bahkan dunia.

“Semoga masa mendatang dapat juga dirumuskan bagaimana pemajuan pendidikan, bagaimana melakukan recovery pasca pandemi dan menawarkan rancang bangun sebagai blue print langkah kita ke depan,” tukasnya seraya berdoa semoga ormas Islam dapat terus berkontribusi untuk Jakarta sebagai semboyannya.

“Maju kotanya, bahagia warganya, dan berkah untuk semua,” pungkasnya dalam sambutanya dalam acara yang dimoderatori oleh Chairman Salam Institute Suhardi Sukiman ini.

Hadir dalam kesempatan webinar para tokoh yang juga pimpinan organisasi Islam se-DKI Jakarta yaitu Ketua DPW PUI DKI Jakarta KH Gunadi, S.T.,MM, Ketua DPW IKADI DKI Jakarta Dr H Attabik Luthfi, MA, Ketua DPW Muhammadiyah DKI Jakarta KH Sun’an Miskan, Lc, Sekretaris PW Al Washliyah DKI Jakarta KH Hendra Gunawan Thaher.

Turut hadir juga memberikan brainstorming Ketua DMW Hidayatullah DKI Jakarta Ust Muhammadilis Karyadi, DPW Serikat Islam DKI Jakarta KH. Ahmad Astamar, Ketua Wahdah Islamiyah DKI Jakarta KH. Ilham Jaya, Ketua DDII DKI Jakarta KH Ahmad Murjoko, Ketua DPW Ittihadul Muballighin DKI Jakarta KH. Drs. Ningram Abdullah, dan Pengurus Al Irsyad DKI Jakarta KH Mansyur Alkatiri. (ybh/hio)

Keharuan Mutiara Hikmah Juara 1 Lomba Karya Tulis Nasional

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Santriwati Pondok Quran Hidayaturrahman (PQH), Mutiara Hikmah Fajar, berhasil memenangkan lomba karya tulis yang digelar oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida) dalam rangka memperingati 50 Tahun Hidayatullah.
Mutiara Hikmah Fajar yang masih duduk dibangku SMA ini berhasil menyabet gelar Juara 1 dengan karya tulis berjudul “Perjalanan Meniti Keikhlasan”.

Memenangi perlombaan even tingkat nasional ini tentu bukan perkara gampang karena Mutiara harus berkompetisi dengan ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia.

Namun, berkat kerja keras, doa dan usahanya yang sungguh sungguh, Mutiara berhasil keluar menjadi penulis terbaik nasional pada kategori tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Sederajat se-Indonesia.

Dan, ternyata, Mutiara punya cerita menarik berkenaan pencapaiannya ini. Dia mengaku baru bisa mempersiapkan karyanya hanya 2 hari sebelum batas akhir penyerahan dan penjurian.

“Baru sempat diselesaikan 2 hari sebelum dikirim ke panitia Milad 50 Tahun Hidayatullah dengan sebanyak 7 halaman,” kata Mutiara kepada media Pondokquran.org beberapa waktu lalu.

Proses seleksi dan penjurian pun berjalan untuk menentukan siapa penulis terbaik dari seluruh santri tingkat SMA sederajat Hidayatullah se-Indonesia dan Alhamdulillah, Mutiara santri PQH menjadi yang terbaik.

Saat ditanya apa pesan ayahnya kepadanya semasa hidup, gadis yatim sejak usia kecil ini tiba tiba menundukkan kepala dan dengan lirih berusaha mengucapkan sesuatu. Mutiara tak mampu menahan tumpahan air matanya.

Seraya menyeka air yang berlinang dari kelopak matanya dan suara yang sedikit tertahan, Mutiara menyandungkan doa untuk sang ayah; “Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afi Wa’fu ‘anhu, Yaaa Rabb ampunilah Abiku, maafkan dosa dan khilafnya”.

Salah seorang pengurus PQH, Ustadz Irwan Harun, mengatakan Mutiara termasuk santriwati yang memiliki bakat dalam tulis menulis yang selalu dilatih dengan mengikuti berbagai pelatihan atau perlombaan yang ada.

“Masya Allah ini adalah artikel yang kesekian kalinya ananda tuangkan dengan pena di atas selembar kertas putih. Mengisyaratkan putih hati dan pikirannya saat kata demi kata dirangkai menjadi satu kalimat penuh makna tersirat,” kata Ust Irwan yang juga sahabat ayahnya.

Menurut Ust Irwan, ananda Mutiara Hikmah, sesuai namanya, tersimpan mutiara kata dalam setiap kalimat yang ia goreskan. Mutiara itu sudah berproses sejak Sekolah dasar (SD), usia amat sangat dini yang sebagian besar anak seusianya cenderung lebih banyak bermain.

“Sejak Sekolah Dasar ananda sudah biasa menulis artikel 2 hingga 3 lembar. Allahu Akbar,” kata Ust Irwan.

Ust Irwan mengatakan, Mutiara bahkan secara aktif menuangkan pikiran dan gagasannya melalui tulisan. Lalu tulisan tangannya telah selesai dituangkan ke lember kertas itu dikumpulkan kepada gurunya di pesantren.

Ust Irwan berharap Mutiara dapat terus mengembangkan bakatnya dengan banyak membaca, belajar dan terus berlatih. Raihan juara yang berhasil dicapai harus menjadi modal motivasi untuk terus berkarya. “InsyaAllah ada jalan terbaik untuk mewujudkan cita citanya menjadi seorang penulis, Allahumma Aamiin Yaa Rabbana,” pungkasnya. (zayn)

Pesantren Hidayatullah dari “Sarang Laba-laba” hingga “Sarang Lebah”

Oleh KH Muhammad Syakir Syafi’i*

DALAM Bab I Pasal 1 Pedoman Dasar Organisasi (PDO) disebutkan bahwa Hidayatullah adalah organisasi yang berbadan hukum perkumpulan, dan merupakan kelanjutan dari Pesantren Hidayatullah dan cabang-cabangnya yang didirikan pertama kali oleh Ustadz Abdullah Said pada hari Senin, tanggal 1 Muharram 1393 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1973. Sehingga, pada bulan Muharram 1443 ini, Hidayatullah telah genap berusia 50 tahun.

Dalam sejarah perintisan dan penyebarannya, Hidayatullah identik dengan pesantren. Dapat dikatakan, eksistensi Hidayatullah di semua jaringan, baik di tingkat pusat, wilayah maupun daerah, diawali dengan pendirian sebuah pesantren.

Pada umumnya, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan penting moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. (Zamakhsyari Dhofier: Tradisi Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1994).

Namun, bagi Hidayatullah, Pesantren memiliki makna historis dan sekaligus filosofis yang lebih luas, lebih dari sekadar sebagai lembaga pendidikan sebagaimana dikenal pada umumnya.

Simbolisasi Gerakan

Allahuyarham Ust Abdullah Said, dalam berkomunikasi dengan para santri atau pun masyarakat secara umum, dikenal sebagai sosok guru dan pemimpin yang sangat kaya dengan bahasa-bahasa simbolik. Beliau sering melontarkan istilah-istilah yang bukan dalam arti sebenarnya, tapi merupakan simbol dari makna lain yang beliau maksudkan.

Bahasa simbolik biasanya digunakan untuk memudahkan pemahaman bagi para pendengar dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pikiran dan kehidupan mereka.

Pada periode awal pendirian pesantren, beliau menyebut Pesantren Hidayatullah sebagai “sarang laba-laba”. Sebutan tersebut merupakan bahasa simbolik yang diinspirasi oleh sejarah perjalanan hijrah Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq, dari Makkah menuju Madinah (Yatsrib).

Disebutkan bahwa dalam perjalanan hijrah, dimana beliau berada dalam target pengejaran dan pembunuhan oleh kaum Quraisy, beliau bersembunyi di gua Tsur dengan ditemani oleh sahabatnya. Beliau berdua akhirnya selamat.

Para pengejar yang sudah berada di depan mulut gua tidak jadi masuk ke dalamnya, karena di mulut gua ada sarang laba-laba yang masih utuh dan tidak rusak. Para pengejar berkesimpulan, bahwa Rasul dan sahabatnya itu tidak mungkin bersembunyi di dalamnya karena adanya sarang laba-laba yang masih utuh itu. Dengan ijin Allah, sarang laba-laba telah menjadi sebab selamatnya beliau dari operasi jahat tersebut.

Pesantren Hidayatullah disimbolisasi dengan sarang laba-laba, karena bentuk kelembagaan pesantren diikhtiarkan dapat menjadi sarana perlindungan (dari Allah) bagi misi gerakan beliau yang sebenarnya, yaitu upaya mewujudkan ajaran Islam secara kaffah, sebagai rahmat bagi segenap alam.

Pada dekade tahun 1970 dan 1980-an, sudah jamak dipahami bahwa rezim Orde Baru acapkali menaruh kecurigaan dan bertindak represif terhadap gerakan-gerakan keislaman yang muncul. Aroma islamophobia dan stigmatisasi pada gerakan-gerakan keislaman, berhembus dengan kuat.

Keberadaan pesantren sebagai soko-guru lembaga pendidikan di Indonesia, serta kondisi sosio-politik yang berkembang pada dekade tersebut, telah menjadi salah-satu pertimbangan bagi Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said dalam mendirikan Pesantren Hidayatullah.

Karena itulah, hingga akhir tahun 1990-an, Hidayatullah lebih dikenal sebagai pesantren daripada sebagai gerakan keislaman (harakah islamiyah) secara umum.

Hingga pada tahun 2000, Hidayatullah secara resmi mendeklarasikan diri sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, dengan visi gerakan “Membangun Peradaban Islam”.

Transformasi gerakan dari lembaga sosial menjadi organisasi kemasyarakatan telah menempatkan organisasi Hidayatullah sebagai organisasi induk, sedangkan Pesantren Hidayatullah menjadi salah-satu saja dari amal usahanya yang beraneka ragam.

Hal yang menarik di awal periode ini ialah, bahwa upaya untuk menyukseskan program konsolidasi dan sosialisasi tentang eksistensi. Hidayatullah sebagai ormas beserta amal-usahanya, Pesantren Hidayatullah disimbolisasi dengan “sarang lebah”. Simbolisasi demikian dipandang memiliki pengaruh yang kuat dalam komunikasi untuk suatu agenda transformasi atau perubahan.

Al-Quran juga banyak menggunakan bahasa simbolik, yang salah-satu bentuknya disebut tasybih-tamtsiliy (perumpamaan). Kita mendapati perumpamaan-perumpaman yang sangat beragam dalam al-Quran.

Sehingga, sejumlah ulama ada yang menyusun kitab secara khusus dengan topik mengenai perumpamaan-perumpamaan dalam al-Quran. Misalnya “al-Amtsal fil-Quranil Karim”, karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Di antara bentuk perumpamaan dalam al-Quran ada yang kemudian dijadikan nama surah, yaitu surah al-‘Ankabut (laba-laba) dan surah an-Nahl (lebah).

Dalam al-Quran disebutkan, lebah adalah binatang penghasil madu yang sangat besar manfaatnya bagi manusia (QS. an-Nahl: 69). Bahkan, di surga nanti, orang beriman dan bertakwa akan mendapatkan balasan sungai-sungai yang airnya berupa madu (QS. Muhammad: 15).

Dengan simbolisasi sebagai “sarang lebah” berarti Pesantren Hidayatullah telah menetapkan positioning-nya yang otentik. Ia tidak hanya menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bagi perkembangan hati dan pikiran manusia, tapi sekaligus sebagai obat yang membangun sistem imunitas dan membawa kesembuhan bagi manusia dari berbagai penyakit kehidupan.

Dalam hadis juga disebutkan tentang perumpaman orang mukmin sebagai lebah; bahwa lebah hanya makan dari yang serba baik (saripati bunga), menghasilkan sesuatu yang serba baik (madu), dan ketika hinggap di dahan, ia tidak pernah mematahkan dan merusaknya (H.R. Ahmad).

Demikianlah perumpaman orang mukmin, dan demikian pula simbol dari sikap, peran dan kontribusi yang harus diperankan oleh Pesantren Hidayatullah sebagai “sarang lebah”.

Peranan Pesantren Hidayatullah

Selain memiliki PDO, Hidayatullah juga menetapkan sejumlah Peraturan Organisasi (PO) yang mengatur banyak hal demi terwujudnya tata kelola organisasi dan amal-amal usahanya secara profetik dan profesional. Salah-satu PO yang telah ditetapkan adalah PO tentang Pesantren Hidayatullah No. 3 Tahun 2015, yang merupakan perubahan dari PO sebelumnya.

Dalam PO tersebut disebutkan bahwa visi Pesantren Hidayatullah ialah “Terwujudnya Miniatur Peradaban Islam”. Dan, guna mewujudkan visi di atas, Pesantreh Hidayatullah menjalankan sejumlah misi, yaitu: (a) mewujudkan masyarakat berjamaah, bersyariah, unggul dan berpengaruh; (b) menggerakkan dakwah dan rekrutmen anggota; (c) menyelenggrakan pendidikan integral berbasis tauhid; (d) menyelenggakan pasar syariah dan ekonomi keummatan yang berdaya saing; (e) memberdayakan kaum dhuafa dan mustadhafin; (f) mengembangkan lingkungan kampus yang alami, ilmiah dan islamiah.

Selain visi dan misi Pesantren Hidayatullah di atas, PO No. 3 Tahun 2015 juga menetapkan fungsi Pesantren Hidayatullah, yaitu sebagai: (a) Kampus peragaan syariat Islam, (b) Kampus dakwah dan rekrutmen anggota, (c) Kampus pendidikan dan perkaderan, (d) kampus pemberdayaan ekonomi, (e) kampus peduli dhu’afa dan mustadh’afin.

Alhamdulillah, ratusan jumlah Pesantren Hidayatullah yang telah tersebar dari Aceh sampai Papua, telah turut berkiprah dan bersinergi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana dicita-citakan oleh para ulama dan tokoh-tokoh pendiri bangsa.

*) KH MUHAMMAD SYAKIR SYAFI’I, penulis adalah Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah

Memaknai Sejarah 50 Tahun Hidayatullah

HIDAYATULLAH didirikan 50 tahun yang lalu, tepatnya 1 Muharam 1393 H di Balikpapan oleh Ustadz Abdullah Said. Seiring dengan perjalanan waktu setengah abad, telah banyak pencapaian yang dihasilkan. Hidayatullah selalu berusaha menjadi bagian dari organisasi massa Islam yang aktif melakukan pencerahan umat dengan tarbiyah dan dakwah.

Kemudian penting memaknai sejarah 50 tahun Hidayatullah agar ada kesinambungan sejarah dari generasi ke generasi Hidayatullah. Ada transformasi idealisme, nilai-nilai dari pendiri dan perintis Hidayatullah kepada generasi pelanjut.

Pertama, sejarah bukan hanya foto, video atau peninggalan-peninggalan barang masa lalu. Meski semua juga penting untuk terus dijaga keberadaannya sebagai simbol pengingat, tapi sejarah itu realitas yang terus-menerus bergerak dan tidak berujung.

Menarasikan sejarah dalam konteks kekinian dan mengaktualisasi nilai-nilai dalam sejarah itu sangat penting sehingga sejarah ini akan terus bergerak mencatatkan dirinya dengan tinta emas.

Memaknai sejarah Hidayatullah ini hidup bukan dengan menghidupkan kembali pendirinya ustadz Abdullah Said, itu tidak mungkin. Tapi dengan cara mempraktikkan pesan-pesan moral, nilai-nilai prinsip dan ajaran-ajaran kebaikan yang telah dilakukan para pendiri Hidayatullah

Kedua, bicara sejarah bukan hanya bernostalgia dengan melankolis dengan masa lalu. Terkadang ada yang memaknai sejarah sebagai bahan guyonan atau lelucon. Mungkin ini cara menghilangkan kenangan sejarah pahit masa lalu.

Ada juga yang berhalunisasi untuk mengulang romantisme masa lalu sebagai bentuk pelarian dari tekanan tidak bisa beradaptasi dengan realitas perubahan dan perkembangan zaman.

Penting memaknai sejarah dengan menggali mentalitas para pelaku sejarah masa lalu. Ini penggalian makna dibalik peristiwa sejarah.

Contoh sejarah penugasan para santri awal ke daerah-daerah yang belum dikenal. Mengapa mereka bisa taat dan berhasil? Karena ada mentalitas dari para kader untuk berkorban. Sehingga saat mendapatkan perintah tugas ke daerah maka tidak mengenal menawar apalagi menolak. Meski kondisi istri baru melahirkan, baru pindah rumah, pengantin baru atau kondisi-kondisi yang memerlukan pengorbanan.

Pengalaman-pengalaman ruhani dari para kader awal Hidayatullah perlu digali dalam merintis Hidayatullah baru di daerah terpencil. Bagaimana dalam kondisi sangat darurat, terintimidasi, terancam jiwanya atau terjepit kemudian datang pertongan Allah. Meski sifatnya spritual tapi ini pengalaman nyata yang bisa diulangi lagi oleh semua kader dalam konteks dan zaman yang berbeda.

Ketiga, kesadaran sejarah secara obyektif juga penting bagi generasi pelanjut. Sejarah adalah sunnatullah yang bersifat kausalitas atau sebab akibat. Bahwa kalau melakukan begini maka akan begini, jika tidak melakukan hal itu maka berakibat begitu.

Ternyata sejarah adalah karunia dari Tuhan yang paling dekat dengan kita untuk mengajari manusia bagaimana bertingkah-laku dalam kehidupannya dengan banyak contoh sejarah manusia. Sebagaimana Alah berfirman dalam al Qur’an surat an Nahl ayat 16, “Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Dalam al Qur’an sebagai kitab suci banyak menceritakan sejarah umat-umat terdahulu, baik yang taat kepada Allah maupun yang ingkar. Allah juga menceritakan akibat dari masing-masing perbuatan mereka.

Sejarah dalam al Qur’an bukan dongeng semata sebagaimana orang-orang kafir yang tidak mempercayai kesucian al Qur’an. Sejarah dalam al Qur’an adalah pelajaran kehidupan manusia dengan kausalitas yang terjadi. Cerita di al Qur’an bukan peristiwa sejarah biasa tapi penuh makna dan pelajaran bagi orang-orang beriman.

Memaknai sejarah itu sangat penting sebagaimana pentingnya membuat sejarah dalam kehidupan kita dengan prestasi dan kontribusi terbaik bagi Islam dan kaum muslimin dalam berbagai aspek kehidupan sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Di Hidayatullah berserakan cerita dari pelaku sejarah Hidayatullah yang belum terdokumentasikan dengan baik. Padahal jika dikumpulkan dan dirangkai dalam ensiklopedi sejarah perjalanan Hidayatullah 50 tahun dari semua daerah dan kader yang menjadi pelaku sejarah maka menjadi karya luar biasa untuk generasi berikutnya.

Kesadaran sejarah sangat penting untuk menjadi rujukan perlangkahan ke depan. Sejarah Hidayatullah akan terus bergerak dari masa lalu, masa kini dan masa mendatang dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Di mulai dari sejarah-sejarah kecil dan sederhana akan terangkai dengan sejarah kecil lainnya. Maka Hidayatullah akan men-sejarah di hati generasi dan umat Islam secara keseluruhan.

UST ABDUL GHOFAR HADI

Menggelorakan Konsolidasi

Oleh Imam Nawawi*

TIDAK bisa kita pungkiri bahwa hati ini sangat bahagia, bersyukur dan optimis akan masa depan umat seiring dengan diperingatinya Milad ke 50 Tahun Hidayatullah.

Namun, sejatinya momentum tersebut merupakan satu pengingat bahwa spirit jihad (kesungguhan) khususnya bagi kaum muda harus lebih dikonsolidasikan.

Kata konsolidasi sebagaimana belakangan sering didengungkan dalam beragam forum kelembagaan baik formal maupun informal dan nonformal memainkan peran strategis bagi eksistensi, kelangsungan dan pengembangan gerakan organisasi.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ustadz DR. Nashriul Haq, MA dalam pembekalan dan pembukaan Rakornas BMH secara hybrid, Rabu, 9 Muharram 1443 H (18/8/2021) menegaskan perihal betapa konsolidasi ini amat penting.

“Konsolidasi ini penting. Eksistensi dan keberlangsungan lembaga sebuah organisasi, apalagi sebuah harakah, seperti Hidayatullah, sangat ditentukan oleh sejauh mana ia bisa melakukan konsolidasi. Kalau konsolidasi dilakukan, diperkuat, maka ia akan bertahan, akan berlanjut. Tapi kalau konsolidasi ini diabaikan, maka keberlangsungan sebuah lembaga itu akan terancam”

Fokus Jangka Panjang

Ketika konsolidasi yang ada, meliputi konsolidasi idiil, organisasi dan wawasan, berjalan dengan baik, maka soliditas tim akan sangat kuat, sehingga dapat unggul di dalam menghadapi beragam tantangan dan rintangan pergerakan.

Di sini setiap kader perlahan akan mulai paham tentang fokus jangka panjang gerakan Hidayatullah membangun peradaban Islam.

Bahwa di dalam upaya membangun peradaban Islam, mainstream organisasi berupa dakwah dan tarbiyah merupakan satu fokus jangka panjang yang harus digeluti dengan sebaik-baiknya, sehingga ke depan lahir generasi Muslim yang unggul dan membawa kemajuan bagi umat, bangsa dan negara.

Sebagaimana diingatkan oleh Ustadz Nashirul bahwa, Ustadz Abdullah Said selaku pendiri lembaga ini fokus membangun kader dai, mengembangkan pesantren dan menerapkan tantan nilai kehidupan berkampus yang benar-benar bernafaskan Islam.

“Maka beliau (Ustadz Abdullah Said) itu, tidak terlalu sibuk merespon kejadian-kejadian yang muncul. Beliau konsen membangun pesantren, melahirkan kader dai dan mengantarkan kehidupan pesantren sebagai miniatur peradaban Islam,” papar Ustadz Nashirul dalam kesempatan itu.

Maka, seperti itulah fokus yang harus kita miliki sebagai kader penerus perjuangan peradaban ini.

Jika tidak, maka kader akan terkecoh oleh segala macam kejadian, isu dan pemberitaan yang melelahkan dan tanpa sadar menguras energi namun tidak berdampak produktif apapun, baik dalam hal pembangunan kapasitas diri lebih-lebih percepatan kemajuan organisasi.

Oleh karena itu, penting kita camkan benar-benar pesan dari Ustadz Abdullah Said bahwa idealnya kader-kader ini mampu membuat irama sendiri dalam kehidupan ini, sehingga khalayak mengikuti kita. Bukan sebaliknya yang terjadi. Kita yang terus menari di atas irama dan gendang orang lain.

Langkah itu amat penting untuk mewujudkan peradaban Islam. Perlu fokus, kesabaran dan konsistensi tinggi. Sebagaimana pesan Al-Quran kepada kita semua.

“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 42).

Oleh karena itu, di sinilah pentingnya konsolidasi bagi kemajuan organisasi sehingga tetap memiliki daya fokus yang tinggi serta produktivitas yang progresif bagi kelangsungan lembaga dalam upaya melahirkan kader-kader terbaik melalui gerakan mainstrem dakwah dan tarbiyah. Allahu a’lam.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah

HUT RI ke-76, Keluarga Besar Brimob Baksos di Ponpes Hidayatullah Jayapura

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) – Meriahkan HUT RI yang ke-76 Tahun, Sakanta Cycling Club bersama Keluarga Besar Brimob melaksanakan bakti sosial (baksos) di Pondok Pesantren Hidayatullah Holte Camp Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Provinsi Papua, Ahad, 6 Muharram 1443 (15/08/2021).

Kegiatan bakti sosial tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Sakanta AKP Basri dan dampingi oleh pengurus Sakanta dengan pelaksanaan kegiatan diawali dengan gowes bersama pengurus Sakanta Cycling Club dan keluarga besar Brimob dengan route Mako Brimob Kota Raja tujuan Pondok Pesantren Hidayatullah Holte Camp.

Ketua Pengurus Sakanta AKP Basri, ketika dikofirmasi mengatakan, kegiatan baksos dan gowes bersama ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-76 Tahun dan peringatan Tahun Baru Islam 1443 H.

“Pada hari ini kami menyerahkan bantuan sosial berupa beras, mie instan, minyak goreng dan telur kepada Pondok Pesantren Hidayatullah yang di terima langsung oleh Ustadz Teguh selaku pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah,” katanya.

Diharapkan dengan adanya bantuan sosial ini dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari bagi para santri dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Kami berpesan, jangan dilihat dari besar atau kecilnya bantuan sosial ini namun yang lebih terpenting adalah wujud kepedulian diantara sesama harus tetap dibangun,” tambahnya.

Ustadz Teguh selaku pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Holte Camp dalam kesempatan tersebut mengucapkan terima kasih banyak karena dalam suasana pandemi Covid-19 ini terus terjalin sinergi ditandai dengan adanya bantuan yang diberikan tersebut.

“Kami berharap semoga tetap terjalin hubungan silaturahim antara pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura dan Keluarga Besar Brimob,” kata Ust Teguh seraya menambahkan pihaknya mendoakan khususnya anggota Brimob Polda Papua agar senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dimanapun bertugas. (ybh/hio)

Yayasan Peradaban Islam Loteng Groundbreaking Ponpes Tahfidz Quran Hidayatullah

LOMBOK TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Peradaban Islam (YPI) yang membawahi Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah (Loteng) melakukan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk pembangunan pesantren tahfidzul Qur’an itu yang berlokasi di Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, pada Selasa, 1 Muharram 1443 (10/8/2021).

Peletakan batu pertama ini bertepatan juga dengan peringatan 50 tahun usia Hidayatullah berdasarkan hitungan tahun Hijriah, tanggal 1 Muharram 1443 H bertepatan dengan 10 Agustus 2021.

Momentum setengah abad Hidayatullah yang diperingati Hidayatullah NTB ini menjadi khidmat dimana acara tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh besar NTB diantaranya Kepala Badan Kesbangpoldagri NTB Lalu Abdul Wahid, MH sekaligus mewakili Gubernur Nusa Tenggara Barat.

Dalam sambutannya, Lalu Abdul Wahid menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pewakaf tanah untuk lokasi pembangunan pesantren YPI Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah ini.

“Beliau (pewakaf) ini mendapatkan hidayah” ujarnya sambil berkelakar. “Para pengelola yang masih muda-muda ini, memberikan saya keyakinan kesuksesan pembangunan pondok pesantren ini,” lanjut Wahid.

Lokasi pembangunan YPI Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah ini merupakan tanah wakaf dari salah seorang warga Dusun Olor Agung, Desa Labulia, bernama Haji Jamil.

Dalam perencanaan konstruksi yang telah dicanangkan, di atas lahan wakaf seluas setengah hektar ini akan didirikan Pesantren Penghafal Quran Hidayatullah dan Ma’had Aly Plus.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ust Ismuji dan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah NTB Ustadz Muslihuddin Mustakim, perwakilan Kemenag Lombok Tengah, Kepala Desa Labulia, dan para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Desa Labulia.

Hal ini menjadi momen istimewa juga sebab acara ini turut dihadiri Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri, TGH. Muharar Mahfudz, juga turut menghadiri acara tersebut sekaligus memberikan tausiyah.

TGH. Muharrar Mahfudz dalam tausiyahnya mengingatkan janji Allah swt kepada siapa saja yang berwakaf akan mendapatkan ganjaran pahala jariyah yang akan terus mengalir meski nyawa telah berpisah dengan raga.

“Ditempat ini akan penuh dengan aktivitas kebaikan, termasuk orang menghafal Quran,” jelas TGH. Muharrar.

Sebelumnya, Sekretaris Yayasan Peradaban Islam Hidayatullah Labulia Lombok Tengah, Ust Muhammad Syamsul Bahri dalam sambutannya menceritakan proses awal hingga terjadinya ikrar wakaf.

“Kami tidak menyangka, bantuan Allah ta’ala akan diberikan di tempat yang sangat strategis ini yakni dekat dengan Jalan By Pass BIL. Setelah sebelumnya kami terus berupaya untuk bisa mendirikan Pondok Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Lombok Tengah,” kata Syamsul Bahri.

Insya Allah, Syamsul mengimbuhkan, pihaknya akan berupaya memenuhi harapan Haji Jamil selaku pewakaf agar tempat ini menjadi tempat belajar agama, tempat menghafal Al Qur’an, dan akan didirikan Ma’had Aly Plus.

Di akhir acara, dilakukan peletakan batu pertama Masjid Haji Jamil dan Gedung Pendidikan Dr. KH. Abdul Manan. Sejak tanah wakaf ini dikelola, kegiatan pendidikan di lokasi pembangunan telah dimulai dengan diadakannya pendidikan tahfidz dan pengajian Al Qur’an dengan menggunakan rumah-rumah bambu sederhana.

Ketua YPI Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah Ust Muhammad Fahrurrozi mengatakan setiap bulan juga diadakan pembinaan guru ngaji binaan YPI se-Lombok Tengah.

Fahrurrozi berharap kepada ummat Islam, para dermawan, orang baik dimanapun berada, dengan peletakan batu pertama ini pertanda gema kebaikan dan amal shaleh terbuka luas bagi semua untuk ikut patungan membangun mewujudkan pesantren Qur’an ini.

“Mari bergabung bersama kami mengukir sejarah dan amal jariyah yang tak kan pernah berhenti mengalirkan pahala kebaikan,” tambah Fahrurrozi.

Kegiatan ini berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19, undangan terbatas serta seluruh undangan maupun santri yang hadir diarahkan untuk memakai masker dan terlebih dahulu mencuci tangan dengan sabun di tempat yang telah disediakan oleh panitia. (ybh/hio)