JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sejak awal tahun 2021 ini, lembaga layanan kesehatan Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) terus melakukan pembenahan, penguatan mutu, pemantapan standar dan mengangkat beragam program yang diharapkan manfaatnya semakin besar menyasar khalayak yang lebih luas.
Setalian dengan itu, pembina IMS, Marwan Mujahidin, mendorong agar kiprah IMS terus diteguhkan dengan mengusung spirit pengabdian keummatan yang penuh dedikasi dan loyalitas tinggi.
“Setap amanah yang kita pikul adalah tanggung jawab yang besar dan pastinya akan dimintai pertanggung jawaban,” kata Marwan dalam kegiatan sosialisasi struktur baru pengurus IMS yang diadakan di salah satu meeting room Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, beberapa waktu lalu (5/2/2021).
Lebih lanjut, Marwan menyampaikan bahwasanya ketika kita sudah diberikan amanah, maka seketika itu sudah harus ditanamkan dalam dalam bahwa tugas ini adalah momentum festival amal shaleh yang harus disegerakan.
“Setiap amanah adalah kesempatan fastabiqul khairat bagi yang memikul amanah tersebut, kita berlomba lomba dalam kebaikan. Maka, bergeraklah,” tukasnya.
Dia pula mengajak segenap pengurus IMS untuk melihat ke dalam dengan kembali memantapkan niat dan dan meneguhkan visi berkhidmat kepada umat di bidang kesehatan melalui IMS. Dia menegaskan, IMS adalah ladang dalam meluaskan dakwah sehingga di sana dibutuhkan ketahanan diri dan mentalitas pejuang.
“Mainstream dan spirit perjuangan harus terus dibangun. Tanamkan di dalam jiwa bahwa IMS ini adalah bagian dari gerakan dakwah dan saya adalah pelaku atau orang yang sedang berjuang dalam dakwah dan sekali lagi yakinkan pada diri kita bahwa IMS ini ada nilai dakwah di sana,” katanya.
Karena itu, Marwan melanjutkan, wawasan idiil, wawasan keislaman dan kelembagaan perlu selalu disegar-segarkan agar orientasi kerja kerja keumatan IMS ini senantiasa terjaga dengan baik.
Dikatakan dia, sebagaimana dalam sistem penugasan di Hidayatullah, IMS tidak memandatori tugas berdasarkan kemampuan sumber daya insani semata, atau hanya pertimbangan kehebatan intelektual atau kemampuan skil praktisnya. Namun lebih dari sekedar itu, yang paling utama adalah aspek integritas, moralitas dan kapabilitas.
“Jadi, kalau ada perombakan struktur yang tadinya jadi ketua tiba-tiba jadi angota, tidak usah galau. Tidak usah resah dan tidak usah merana. Kembalikan kepada visi dan tujuan awal di IMS yaitu untuk berjuang dalam dakwah,” ucapnya.
Marwan menambahkan, pengalaman adalah bagian depan sejarah dan kalian sedang ada di depan sejarah. Maka dari itu buatlah sejarah yang baik, baik dikenang, dicontoh, dan selalu dirindukan keberadaannya.
“Boleh bersedih tapi sedih perjuangan, boleh menagis tapi tangisan perjuangan dan sejatinya alur perjuangan itu terus jalan, terus maju, bukan berhenti lalu jatuh,” imbuhnya seraya menukil Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 2 sebagai jawaban atas setiap perjuangan. “Jangan takut, jangan risau selama Al-Qur’an masih menjadi pegangan,” tandasnya.*/Alamsyah Jilpi
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Drs Wahyu Rahman, MM, mengatakan kemandirian ekonomi merupakan salah satu pilar penting yang akan menopang dalam melejitkan mainstream gerakan dakwah dan pendidikan. Karena itu, Hidayatullah akan menguatkan usaha ekonomi jamaah melalui kemudahan akses permodalan.
“Sesungguhnya perekonomian merupakan instrumen yang sangat penting, hal itu dikarenakan dimensi ekonomi merupakan sebuah pilar menuju hidup sejahtera,” kata Wahyu Rahman.
Hal itu disampaikan dia dalam sambutannya dalam Rapat Konsolidasi bertempat di Aula Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu (10/2/2021).
Rapat yang menangkat tema “Membangun Komitmen Menuju Kemandirian Ekonomi Jamaah dan Organisasi” ini dihadiri seluruh perwakilan bidang ekonomi Dewan pengurus Wilayah (DPW) secara daring dan ketua departemen ekonomi secara luring.
Karena urgensinya sebagai pilar yang dipandang amat penting dalam menopang gerakan dakwah dan upaya penguatan kemandirian serta meningkatkan kesejahteraan anggota, maka Wahyu menekankan pentingnya penyusunan program perekonomian yang berkelanjutan dan diharapkan berdampak luas bagi lembaga.
Wahyu mengatakan, pihaknya di bidang perekonomian akan terus berupaya agar visi kemandirian ekonomi umat ini segera terwujud.
“Kita akan terus berupaya menjadikan setiap anggota dan jamaah mandiri ekonominya agar dapat berkontribusi secara optimal untuk peran kebaikan yang lebih luas,” ucap Wahyu.
Dan, dia menambahkan, salah satu upaya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi ialah memberikan edukasi kepada warga maupun jamaah Hidayatullah kepada akses permodalan serta mengoptimalkan usaha ekonomi keumatan berbasis komunitas melalui koperasi nasional.
Wahyu menjelaskan, pihaknya akan berupaya mendorong setiap anggota, jamaah dan organisasi melalui edukasi dan akses permodalan dalam rangka peningkatan kemandirian dan kesejahteraan.
“Selain itu juga kita akan berupaya mengoptimalkan usaha ekonomi keumatan melalui koperasi nasional sehingga apa yang menjadi target kita yaitu terwujudnya kemandirian jamaah dan organisasi menuju tegaknya peradaban Islam dapat segera terwujud,” pungkas Wahyu.
Hidayatullah sendiri telah memiliki sejumlah balai usaha mandiri terpadu bernama Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) sebagai lembaga keuangan mikro beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang tersebar di kota kota besar di Indonesia seperti Depok, Kudus, Surabaya, Batam, Balikpapan dan sebagainya.
Selain berfungsi menghimpun dan menyalurkan dana kepada anggota, BTH ini kedepannya diharapkan akan semakin luas melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi jamaah.
Dalam kesempatan rapat koordinasi tersebut hadir Ketua Departemen Produksi dan Jasa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Miftahurrahman, Ketua Departemen Keuangan Saiful Anwar, Ketua Departemen Aset Ruhyadi dan sejumlah undangan lainnya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan tim kelompok kerja (pokja) pusat dalam menderivasi program ekonomi, yang, salah satunya, kata Wahyu, dengan pembentukan BTH di daerah daerah dan sebagai pusat kordinasi dan kepemimpinan yang berskala nasional sehingga proses standarisasi dan sentralisasi manajemen kerja seluruh BTH akan lebih baik.*/Amanji
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”(QS. Saba : 15).
Merujuk tafsir Jalalain, tafsir ayat tersebut: (Sesungguhnya bagi kaum Saba) lafal Saba dapat dibaca dengan memakai harakat tanwin pada akhirnya atau bisa juga tidak.
Saba adalah nama suatu kabilah bangsa Arab yang diambil dari nenek moyang mereka (di tempat kediaman mereka) di negeri Yaman (ada tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan Allah SWT (yaitu dua buah kebun). Lafal ‘jannataani’ ini menjadi badal dari lafal aayatun (di sebelah kanan dan di sebelah kiri) lembah tempat mereka tinggal.
Dan dikatakan kepada mereka, (“Makanlah oleh kalian dari rezeki Rabb kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Nya”) atas apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada kalian berupa nikmat-nikmat yang ada di negeri Saba.
(Negeri kalian, adalah negeri yang baik) tidak ada tanah yang tandus, tidak ada nyamuk, tidak ada lalat, tidak ada lalat pengisap darah, tidak ada kalajengking dan tidak ada ular.
Seandainya ada orang asing lewat ke negeri itu dan pada bajunya terdapat kutu, maka kutu itu otomatis akan mati karena harum dan bersihnya udara negeri Saba. (Dan) Allah (Rabb Yang Maha Pengampun.).
Negeri Saba termasuk negeri yang bersejarah. Dikepalai oleh seorang wanita yang terkenal adil, Ratu Balqis. Negeri tersebut dijadikan nama surat Al Quran.
Kemakmuran negeri Saba digambarkan oleh Al Quran, yang dijadikan impian pendiri negeri kita, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri makmur, mendapatkan ampunan Rabb yang Maha Pengampun).
Imam Qatadah menceritakan betapa makmur negeri Saba dan alangkah sejahtera penduduknya. Jika seorang wanita keluar untuk membuang hajat dan membawa keranjang di atas kepala, maka ketika kembali keranjangnya dipenuhi buah-buahan yang bermacam-macam.
Kemakmuran negeri disebabkan oleh pusaka nenek moyang berupa bendungan monumental, Ma’rib. Bendungan itulah yang mengairi sawah, ladang dan pemukiman warga. Itulah yang menjadikan tanah mereka subur.
Berkat kesuburan tanah, penduduk Saba hidup serba kecukupan. Mereka bisa tidur nyenyak, sandang dan pakaian yang cukup, tidak kekurangan makanan. Bahkan cuacanya sejuk, sehingga tidak ada kutu, kecoa, ulat, nyamuk, dan binatang kecil lainnya.
Kondisi alam itulah yang memanjakan kehidupan mereka. Mereka makan sedia selalu. Sehingga mereka bosan dengan menu yang bervariasi itu sebagaimana umat nabi Musa yang bosan dengan menu manna dan salwa yang menempel di bebatuan di Padang Sahara Tih selama 40 tahun.
Ketika utusan Allah SWT diutus untuk memperingatkan kaum Saba untuk bersyukur atas karunia yang diberikan oleh-Nya dan menjaga warisan nenek moyang mereka, tetapi mereka enggan dan tidak menghiraukannya.
Bahkan, elite negeri bekerjasama dengan penguasa untuk melubangi bendungan Ma’rib untuk mengairi proyek perumahan mereka. Sehingga, tempat resapan air hilang, dan terjadilah erosi.
Pada akhirnya bendungan tersebut jebol dan terjadilah banjir besar (sailal ‘arimi). Berubalah tanah yang subur menjadi gersang. Hanya tumbuh pohon cemara dan bidara. Sehingga kehancuran negeri Saba menjadi buah bibir bangsa Arab yang menggambar negeri yang semula makmur menjadi porak poranda, dengan mengatakan, tafarraquu bi aydi Saba (mereka becerai-berai bagaikan tangan-tangan Saba).
Allah SWT berfirman pada Surat Saba’: 16
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.
SUKOLILO (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Nanang Nurpatria, M.Pd.I, mendorong terus dilakukannya pengukuhan mutu dan dan kualitas pendidikan integral berbasis Tauhid dengan menelurkan inovasi pengajaran yang dapat mengakselerasi kapasitas peserta didik.
“Inovasi ini kunci agar kita tidak berada di zona nyaman. Artinya, harus selalu ada upaya untuk bergerak melakukan penyegaran atau pembaharuan metodolgi terutama dalam teknik pengajaran,” kata Nurpatria.
Demikian itu disampaikan Nurpatria saat menjadi pemateri dalam Webinar MKKSI Depdik Hidayatullah Jawa Tengah mengangkat tema “Peluang dan Tantangan Pengembangan SIBT di Jawa Tengah” berepisenter secara offline di Rumah Qur’an Hidayatullah Sukolilo, Pati, Rabu (3/2/2021)
Nurpatria mengemukakan, manifestasi dari perintah iqra’ dalam surah Al Qur’an yang kali pertama turun itu adalah seruan untuk melakukan pembacaan berbagai fenomena dan memikirkan inovasi dengan menyusun langkah-langkah sistematis sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi.
Ia pun mendorong penguatan dakwah di bidang pendidikan dengan menekankan pentingnya penyelenggara kependidikan meluruskan niat perjuangan melahirkan generasi terbaik untuk menggapai ridha Allah. Dalam pada itu, ia berpesan kepada mengenal kata lelah untuk berinovasi dan ekspansi.
“Tidak ada kata lelah untuk ekspansi. Terus saja kita gelorakan pengembangan pendidikan integral dibarengi pengelolaan manajemen yang baik sangat diperlukan sehingga menghasilkan pendidikan berkualitas dan merata di masa yang akan datang, khususnya di Hidayatullah Jawa Tengah,” tekannya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Departemen Pendidikan Hidayatullah Jawa Tengah, Ust. Usman Wakimin, M. PI, terselenggaranya acara ini dalam rangka meningkatkan kinerja penyelenggara dan kepala sekolah Integral Hidayatullah Se Jawa Tengah dalam menghadapi masa depan yang tidak menentu.
Wakimin menerangkan, pendidikan identik dengan ide-ide cemerlang berupa inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan. Untuk itu, lanjut dia, kegiatan upgrading seperti webinar yang diselenggarakan pihaknya ini diharapkan semakin melejitkan kiprah pelayanan kependidikan Hidayatullah Jawa Tengah secara lebih luas.
“Maka dibutuhkan sumber daya insani yang mumpuni untuk mengelola lembaga pendidikan. Salah satunya dengan melakukan upgrading bagi pengelola, seperti yang kita lakukan saat ini,” imbuh Wakimin.
Seminar intensif sehari ini dilaksanakan secara online dengan episenster offline di Kampus Hidayatullah II Pati, tepatnya di Desa Nganggasan, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, Jawa Tengah dan diikuti oleh seluruh Kepala Sekolah Hidayatullah Jawa Tengah.
Penyelenggaraan ini seminar online ini didukung oleh BMH, DPD Hidayatullah Pati, Yayasan An-Najah dan Sekolah Integral Hidayatullah Pati.*/Yusran Yauma
TIMIKA (Hidayatullah.or.id) – Prajurit Brigade Infanteri (Brigif) R 20/IJK/3 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) mengadakan bantuan sosial kepada Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Provinsi Papua. Bantuan tersebut berupa batako sebanyak 1.538 buah untuk membantu dalam pembangunan masjid di Pesantren Hidayatullah Timika, Sabtu (06/02/2021).
Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian prajurit Brigif R 20/IJK/3 Kostrad kepada masyarakat, dengan adanya hal ini kemanunggalan TNI dengan masyarakat akan tetap terjaga, terutama di daerah Timika.
“Kita Harus senantiasa berbuat yang terbaik semampu kita, sehingga dapat memberi dampak yang positif bagi lingkungan,” kata Danbrigif R 20/IJK/3 Kostrad Kolonel Inf Widyanto.
Juga terlihat respon yang antusias santri dan masyarakat saat membantu menurunkan batako dari truk Brigif R 20/IJK/3 Kostrad.
Sementara itu, pimpinan pesantren Hidayatullah Timika yang beralamat di Jalan Poros Mapurujaya, KM 09, Mwapi, Mimika, Kabupaten Mimika, Ustadz Al Djufri Muhammad, menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Brigif R 20/IJK/3 Kostrad atas kepeduliannya selama ini.
“Kami berterimakasih kepada Brigif R 20/IJK/3 Kostrad yang tidak henti- hentinya membantu kami dalam segala hal. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada satuan Brigif R 20/IJK/3 Kostrad dalam mengemban tugasnya,” ujar Ustadz Djufri.*/
GROBOGAN (Hidayatullah.or.id) — Satuan respon tanggap bencana, Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah, melakukan aksi tanggap darurat bencana longsor yang melanda sejumlah titik di Jawa Tengah diantaranya Dusun Ngulakan, Desa Sumberjatipohon, Kabupaten Grobogan, Sabtu (6/2/2021).
Seperti dketahui, musibah demi musibah melanda negeri kita. Kali kini menyapa Jawa Tengah, tepatnya di beberapa titik, seperti di Semarang, Kendal dan Grobogan.
Satuan respon bencana TASK Hidayatullah yang terdiri dari Depos Hidayatullah, BMH dan SAR Hidayatullah secara simultan gerak bareng melakukan mitigasi dengan mendirikan posko relawan dan mendistribusikan bantuan tanggap darurat.
Dalam aksi kemanusiaan ini, TASK Hidayatullah melibatkan warga yang terdampak banjir dalam tugas-tugas kerelawanan. Di antaranya adalah Bu Yanu.
Bu Yanu salah satu kordinator relawan di Semarang yang juga salah satu korban banjir di Sawahbesar 6, Gayamsari mengapresiasi kepedulian tim yang mendatangi kompleks mereka.
“Semoga perhatian kepada warga yang sedang diuji banjir bisa membuat mereka lebih sabar,” ujarnya menyemangati warga lainnya di saat penyerahan bantuan.
Demikian juga di Desa Putat Gede, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, tim berhasil membantu evakuasi salah satu warga lansia, Mbah Juwariyah.
“Mbah Juwariyah merupakan seorang yang hidup sebatangkara. Saat ini dirawat oleh tetangganya bernama Ibu Surti,” tutur Koordinator BMH Gerai Kendal, Mufti dalam rilis yang diterima media ini.
Sedang di Grobogan, Tim berhasil membantu salah satu warga korban longsor, di Dusun Ngulakan, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan atas nama rumah bapak Isman (90).
Beberapa hari kedepan, tim masih terus bergerak untuk membantu masyarakat yang masih membutuhkan uluran tangan dan perhatian kita semua, seperti memantau persediaan sembako di dapur-dapur umum warga untuk disuplai sembako dari amanah para donatur.
Selain mengerahkan tenaga untuk membantu memulihkan rumah yang terdampak tanah longsor, tim juga menyalurkan bantuan berupa sembako untuk keluarga yang tertimpa musibah.
Kejadian longsor Grobogan ini diakibatkan karena hujan yang mengguyur wilayah desa sumberjatipohon sejak malam menyebabkan tanah longsor menimpa rumah bagian belakang bagian dapur dan kamar mandi. (ybh/hio)
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Seorang muhsinin yang juga pejabat Notaris & PPAT di Manokwari Papua Barat H. Suyanto, SH, MKn, MH mewakafkan kendaraan mobilnya untuk dijadikan oeprasional dakwah Ponpes Hidayatullah Manokwari Papua Barat.
Kendaraan Mobil ini diserahkan langsung oleh H. Suyanto dan diterima oleh Ust. Muhammad Sanusi, S.Pd.I sebagai Bendahara Yayasan Ponpes Hidayatullah Manokwari di Manokwari, Jum’at (5/2/2021).
Haji Suyanto yang juga seorang notaris mengatakan bahwa kendaraan mobilnya ini adalah kendaraan yang sangat berharga miliknya. Sebab, lanjutnya, kendaraan ini memiliki nilai historis dalam hidup dirinya terutama dalam karier mulai sebelum ia menjadi anggota DPR periode lalu sampai menjadi notaris.
“Sayang kalau dijual, sebab manfaatnya kurang. Maka kendaraan ini saya wakafkan ke Yayasan Ponpes Hidayatullah Manokwari untuk operasional dakwah,” katanya.
Selain untuk keperluan operasional dakwah para dai, Suyanto mengatakan, mobil ini dapat juga digunakan untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat sehingga meningkatkan pelayanan kepada ummat. “Insya Allah, berkah,” imbuhnya.
Sementara itu, Bendahara Yayasan Ponpes Hidayatullah Manokwari, Ust Muhammad Sanusi, S.Pd.I mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih dan senang sekali atas dukungan yang diberikan.
“Kami sangat berterima kasih dan bersyukur dengan dukungan yang diberikan oleh Haji Suyanto dan keluarga. Armada dakwah ini akan kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk kegiatan dan kemaslahatan umat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, banyak manfaat yang diperoleh dengan adanya mobil dakwah ini. Selain para dai semakin mudah untuk berkoordinasi, ketika melakukan aktivitas dakwah ke daerah, fasilitas ini dapat semakin meningkatkan mobilitas para dai juga semakin memudahkan untuk membawa bekal sebagai sarana dakwah. Apalagi menjelang Ramadhan seperti ini.
“Para dai juga tidak takut kehujanan ketika melakukan perjalanan dakwah di daerah dan perkampungan,” terang ustadz dari Subang, Jawa Barat, tersebut.
Hadir dalam acara penyerahan dan syukuran ketua Badan Pembina Hidayatullah Manokwari Ust Hasdar Ambal, S.Pd.I beserta jajaran dan Anggota Pembina Yayasan Sulton, S.Pd.I.*/Miftah
SAAT itu masih awal pagi ketika saya sedang bersiap untuk menarikan jemari untuk jejak pikiran dalam tablet yang setia menemani hari-hariku, Kamis (4/2) . Namun, tiba-tiba, Ustadz Asih Subagyo menelponku.
“Mas Imam, datang ya, ke Cipinang, sebelum dhuhur,” kata beliau dengan semangat. Saya pun tidak menjawab selain dua kata, “Siap, Ustadz.”
Pendek kata, tepat jam 10.00 WIB saya sudah tiba di ruangan yang baru saja direnovasi di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta Timur itu.
Begitu melihatku berjalan, Ustadz Asih melambaikan tangan sebagai tanda, di sini tempat kita silaturrahim, berbincang dan berbagi cerita. Saya pun mendekat dan duduk di depan beliau yang memang tak pernah mengalami penurunan semangat serta optimisme.
Baca Aturan
Singkat cerita, seringkali masalah yang tampak runyam di permukaan itu disebabkan kita sendiri tidak pernah atau tidak mau membaca aturan yang sudah ada. Akibatnya, perasaan yang dominan dan rasa enak tidak enak. Padahal, sebuah aturan sudah semestinya ditegakkan.
“Bagaimana mau ditegakkan kalau dibaca saja tidak. Mungkin dibaca, tapi belum paham. Di sini baru bertanya, berkonsultasi,” tegas Ustadz Asih.
“Masih ada orang yang bertanya perihal A, B, dan C, tapi tidak membaca regulasi yang ada. Maka jawaban saya sederhana, saya tanya balik, sudah baca belum. Katanya, belum! Saya langsung sampaikan, baca dulu, kalau tidak paham baru konsultasi,” imbuh beliau dengan gaya khasnya.
Hidayatullah Institute
Dalam hati saya berpikir, benar sekali, kerapkali kita terseret keadaan lantas lupa untuk mendalami dengan benar regulasi yang telah ditetapkan. Di sini tradisi membaca dan terus membaca harus benar-benar dihidupkan.
Dan, Ustadz Asih tidak sedang berbicara regulasi sekedar dibaca, tetapi juga gagasan harus dilandasi oleh sebuah naskah ilmiah. Hidayatullah Institute misalnya, adalah satu bentuk bukti terkini dari beliau, bahwa idealnya sebuah gagasan dilandasi naskah ilmiah.
“Saya dididik oleh Ketum kita, Ustadz Nashirul. Bahwa gagasan ini (Hidayatullah Institute) harus dilandasi naskah ilmiah. Maka saya borong beberapa buku yang perlu jadi referensi, dibaca, didalami, hingga akhirnya jadilah uraian ilmiah dalam masalah ini,” urainya.
“Saya baca ini semua, saya amati perlahan-lahan. Alhamdulillah akhirnya jadilah konsep ini (Hidayatullah Institut),” tegasnya.
Spirit Pemuda
Esok harinya, tepatnya hari ini (Jumat, 5/2) saya menyambar satu buku di rak buku yang ada di rumah, “Mencetak Kader” judulnya.
Saya pun membuka halaman demi halaman. Dari bagaimana tradisi Ustadz Abdullah Said, kesan Ustadz Fauzil Adhim terhadap Ustadz Abdullah Said, hingga Latar Belakang Pesantren Hidayatullah didirikan.
Dalam hal tradisi, Ustadz Abdullah Said telah memberikan keteladanan luar biasa dalam hal membaca. Beliau adalah kutu buku yang dalam setiap hari, dalam setiap perjalanan tidak mencari kecuali buku-buku yang bisa dilahap. Ini berarti, kader muda Hidayatullah idealnya seperti ini, minimal.
Kemudian, beliau juga selalu ceramah alias dakwah. Dan, ceramahnya, kata Ustadz Fauzil Adhim memang hadir dari pancaran jiwa, bukan sebuah retorika yang dilatih sedemikian rupa. Semangat yang menyala-nyala itu memang lahir dari pancaran jiwanya.
Lebih dari sekedar ceramah, semangat Ustadz Abdullalh Said dalam dakwah adalah kaffatan linnas dan rahmatan lil ‘alamin. Ini berarti, kader muda Hidayatullah mesti memahami bahwa lembaga ini adalah sarana untuk kita berlatih dan melatih diri berkasih sayang kepada segenap umat manusia.
Dan, ada satu ungkapan penting dari Ustadz Fauzil Adhim perlu kita renungkan, yang tertuang dalam buku Mencetak Kader halaman 342.
“Hari ini setiap pertemuan masih disertai dengan doa yang tulus, sambutan yang bersahaja dan penuh kegembiraan, serta rumah-rumah yang senantiasa terbuka seperti menyambut anak kandungnya yang lama tidak pulang. Tetapi saya tidak tahu seperti apa Gunung Tembak dua puluh tahun yang akan datang.”
Saya pun terkejut dengan ungkapan di atas. Bahwa tidak ada jaminan apa yang telah diperjuangkan oleh Ustadz Abdullah Said akan terus terjaga dengan baik.
Wajah Penuh Kasih dan Sayang
Di sinilah lagi-lagi, generasi muda lembaga ini akan sadar dan antusias dengan masalah ini hanya jika mereka mengetahui, membaca, dan menyampaikannya kepada yang lainnya. Jika tidak, kepala yang banyak diisi informasi sampah di era digital akan menjadikan kita salah menempatkan maslaah utama dengan masalah yang sebenarnya sama sekali bukan masalah.
Terakhir dan ini sangat penting bagi segenap kaum muda Hidayatullah untuk dipahami yakni latar belakang didirikannya Pesantren Hidayatullah yang relevansinya sangat dekat dengan tugas utama Pemuda Hidayatullah dalam dakwah keummatan.
Pertama bahwa posisi dan kualitas umat Islam di seluruh dunia sangat tidak menguntungkan. Insha Allah ini akan kita jawab dengan langkah nyata dengan gelaran ToT instruktur LTC pada medio hingga akhir Februari tahun ini. Semoga Allah mudahkan.
Kedua, harga dan nilai benda terlalu tinggi melebihi segalanya, jadi ancaman serius. Ini adalah seperti ungkapan Nabi, banyak dari umat ini yang terkena virus wahn (cinta dunia dan takut mati).
Ketiga, Dekadensi moral yang begitu bengis menjadi ancaman generasi muda.
Tiga tantangan itu masih berlangsung hingga hari ini. Dan, Pemuda Hidayatullah akan sukses tampil sebagai problem solver manakala berhasil membangun tradisi membaca, berdakwah dan menjadikan segenap rantai kegiatan di lembaga ini sebagai sarana menajamkan semangat untuk berkasih sayang kepada segenap umat manusia.
Kata Ustadz Abdullah Said, “Sama sekali kita tidak boleh menganggap lawan hanya karena gara-gara dia dan mereka tidak dalam satu kelompok tertentu. Dimanapun dia berada, dia manusia dan kita harus menganggap dan melihat mereka sebagai objek dakwah kita, objek untuk turut mendapat dan kebagian apa yang ada di dalam Islam. Dan berbicara tentang apa yang ada di dalam Islam, sesuatu yang sifat dan bentuknya adalah rahmatan. Sekali lagi rahmatan. Kasih dan sayang.”
Jadi, mari pupuk tali persaudaraan di antara kita. Perkuat budaya membaca yang memang satu sisi perintah Islam dan sisi lain telah diteladankan oleh pendiri lembaga ini. Kemudian, terus berlatih bagaimana berkasih sayang kepada sesama kader dan anggota, lalu kita pancarkan ke luar, berkasih sayang dengan segenap ummat manusia. Allahu a’lam.
IMAM NAWAWI,penulis adalah Ketua Umum Pemuda Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Dr H Nashirul Haq mengemukakan bahwasanya Islam adalah agama yang memuliakan ilmu pengetahuan, mencerahkan akal pikiran dan jiwa manusia.
Sehingga dengan itu, ajaran Islam melingkupi segenap aspek kehidupan manusia termasuk dalam pengembangan sumber daya insani melalui pendidikan di universitas perguruan tinggi.
Dengan melandaskan amaliyah pemajuan pendidikan pada dustur Ilahi yakni Al Qur’an dan Sunnah, dia mengungkapkan setidaknya ada 5 profil ideal output pendidikan universitas pesantren.
“Al Qur’an adalah sumber Ilmu yang diajarkan oleh Allah Wahyu harus dibuktikan kemukjizatannya dengan ilmu pengetahuan. Membaca ayat qauliyah dan kauniyah wasilah melahirkan kesadaran bertauhid,” katanya dalam webinar Majelis Virtual Majalah Gontor (MVMG) Gontornews.com yang mengangkat tema “Universitas Pesantren: Tantangan dan Harapan” pada Selasa (2/2/2021).
Dia menjelaskan, pembacaan qauliyah dan kauniyah yang dilakukan seorang muslim harus didasarkan karena Bismirrab sehingga melahirkan ilmu yang memberi manfaat dan maslahat, demikian pula pada pemantapan universitas sebagai wasilah pengembangan ilmu dalam segala bidang.
Pada kesempatan tersebut, Nashirul mengantar materinya dengan mengutarakan tentang kejayaan universitas Islam masa silam. Pada abad pertengahan, umpamanya, ketika belum ada peradaban di dunia yang mengenal sistem pendidikan tinggi, para ilmuwan muslim sukses merintis lahirnya universitas (jami’ah).
“Peradaban Islam tampil sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan ketika Eropa dan Barat masih dalam kegelapan. Alumninya mewariskan karya-karya besar dan penemuan-penemuan ilmiah yang dikembangkan oleh para ilmuwan sesudahnya. Alumninya menjadi inspirator, pelopor dan pemimpin gerakan pembaharuan di dunia Islam dari masa ke masa,” katanya.
Fakta-fakta kejayaan itu ditandai misalnya dengan eksistensi Universitas Al-Qarawiyyin sebagai universitas pertama berada di Kota Fez, Maroko, didirikan pada 859 M yang merupakan perguruan tinggi tertua dan pertama di dunia yang menawarkan gelar kesarjanaan.
Ada juga berbagai universitas tertua lainnya, sebutlah diantaranya Universitas Al-Azhar di Mesir yang berdiri tahun 969 M, Universitas Sankore di Timbuktu, Mali, yang berdiri tahun 989 M.
Bahkan pada abad ke-12 mahasiswanya mencapai 25 ribu dari sekitar 100 ribu jiwa penduduk Timbuktu. Lalu ada Universitas Az Zaituna di Tunisia yang bediri tahun 737 M/120 H dan Universitas Az Nizamiyah di Baghdad yang hadir pada tahun 1065 M/457 H.
“Dan, cikal bakal semua Universitas tersebut berawal dari kegiatan belajar dan diskusi di masjid,” kata Nashirul.
Universitas tersebut sukses melahirkan tokoh ilmuan dan cendekiawan muslim berpengaruh dengan 5 profil output menonjol dari mereka. Kelima output ideal dari gemblengan pendidikan tersebut, menurut Nashirul, merupakan main value yang harus dimiliki oleh Universitas Pesantren masa kini.
Kelima profil output ideal Universitas Pesantren menurut Nashirul tersebut adalah, pertama, Tsabit fii manhaj ثابت في المنهج, yakni memiliki keistiqamahan dalam berpegang teguh terhadap manhaj Islami, memiliki pemahaman aqidah yang benar dan kokoh sebagaimana manhaj salafus shalih.
Selain itu, manhaj Islami akan mengantar mereka memiliki cara pandang dan perilaku Qur’an, ikhlas dan tekun dalam menjalankan ibadah kepada Allah serta aktif berdakwah sesuai dengan Manhaj Nabawi juga memiliki komitmen untuk berislam secara kaffah dan berjuang secara berjamaah.
Kedua, ‘alimun bi diin عالم بالدين, profil lulusan yang memiliki pemahaman keislaman yang baik, memahami perkara ushul dalam agama beserta dalil, memahami perkara furu’ dalam agama beserta dalil Al-Quran dan sunnah. Dengannya, ia juga memiliki kemampuan membaca dan memahami teks berbahasa Arab.
“Cakap menulis bahasa Arab, mampu membuat ungkapan keseharian berbahasa Arab. Hafal Al Qur’an minimal 5 juz’, mampu membaca Al Qur’an dengan mahraj dan tajwid yang benar serta hafal dan memahami beberapa hadits,” katanya.
Output ketiga adalah Qo’id Lil Mujtama’ قائد للمجتمع, yaitu memiliki karakter kepemimpinan. Karakter tersebut berkelindan sehingga ia memiliki visi peradaban Islam, siap memimpin secara struktural dan kultural, menjadi uswah dan qudwah hasanah.
“Memiliki skills dan kemampuan manajerial, memiliki wawasan kebangsaan, mampu membangun jaringan. Memiliki pengaruh pada seluruh lapisan masyarakat, memiliki wawasan pergerakan Islam di dalam dan luar negeri serta memiliki jiwa entrepreneurship,” imbuhnya.
Output keempat adalah Mutqin fil ‘amal متقن في العمل, yakni mampu mewujudkan professionalitas dalam menjalankan tugas sesuai keahliannya. Ia memiliki kompetensi sesuai dengan prodi secara professional dan mampu mengembangkan profesi yang dimiliki. .
Dan, output ideal kelima adalah Mujahid fii sabilillah جاهد في سبيل الله, yakni memiliki karakter yang kuat dan kokoh sebagai mujahid. Memiliki idealisme, kesadaran, tanggung jawab dan pengorbanan untuk membela Islam dan kaum muslimin. Juga memiliki kesiapan mental, fisik dan ketrampilan untuk memperjuangkan Islam.
“Memiliki semangat dalam mencari ilmu, memiliki karakter disiplin dan tidak menya-nyiakan waktu dan memiliki kemampuan leadership,” tukasnya.
Menutup uraiannya, Nashirul memberikan sejumlah saran dalam rangka memajukan pendidikan Islam melalui Universitas Pesantren. Diantaranya ia mengusulkan pengembangan Universitas Pesantren dengan melakukan pembaruan dan pengembangan kurikulum melalui dua pendekatan secara simultan yaitu memperkuat kajian atau studi keislaman dan mengembangkan disiplin ilmu-ilmu umum yang strategis.
Ia juga mendorong penguatan struktur organisasi yang ditempuh melalui peningkatan kapasitas dan perbaikan tata kelola kelembagaan, peningkatan sarana dan prasasarana seperti gedung, ruang kuliah, kantor serta penyediaan fasilitas pendukung berupa perpustakaan, laboratorium, jaringan internet dan lain sebagainya.
Lebih jauh, Nashirul juga memberikan saran mengembangkan kerja sama antarlembaga baik antar-universitas dalam maupun luar negeri dengan memperkuat pengembangan program akademik, transmisi dan diseminasi ilmu pengetahuan serta penguatan metodologi riset melalui pertukaran tenaga akademik, kerja sama penelitian, dan penerbitan jurnal ilmiah nasional dan internasional.
“Juga yang tidak kalah penting adalah investasi pendidikan tinggi yang memberi manfaat yang besar dan luas yang salah satu sasarannya adalah peningkatan kualitas SDM dosen baik kualifikasi, kompetensi, dan produktivitas penelitian, pengembangan riset dan inovasi,” imbuhnya.
Ditandaskan dia, Universitas Pesantren harus berorientasi melahirkan Sarjana Kader dan Leader yang senafas dengan sistem pendidikan Universitas Pesantren yang menganut sistem tarbiyah yang meliputi aspek ruhiyah, ilmiyah, jasadiyah, ijtima’iyah, dan qiyadiyah serta dosen yang tidak saja berperan sebagai pengajar tetapi sekaligus sebagai murobbi mu’allim (keilmuan), muaddib (akhlak), mursyid (ibadah) dan mudarrib (profesionalitas).
Turut menjadi narasumber dalam majelis yang juga disiarkan secara live streaming Youtube tersebut Guru Besar Filsafar Islam yang juga Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phill, Rektor Universitas Cordova Dr Zulkifli Muhadi, SH, MM, dan dipandu Luqman Hakim Arifin selaku redaktur Majalah Gontor.(ybh/hio)
TELUK BINTUNI (Hidayatullah.or.id) — Meski pandemi masih berlanjut hingga saat ini, komitmen Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat untuk terus berkontribusi dalam dakwah di Wilayah Papua Barat tak surut. Hal itu dibuktikan dengan dikirimnya dua tenaga dai muda ke KabupatenTeluk Bintuni, Senin (01/02/2021).
Pengiriman dai tersebut untuk mendukung menguatkan kiprah dakwah Hidayatullah yang telah berjalan di kawasan itu. Berlokasi di kawasan kepala burung, Pulau Papua, Teluk Bintuni merupakan wilayah terluas di Papua Barat.
Tidak saja masyhur dengan letak geografisnya yang membetang luas, Teluk Bintuni juga diketahui memiliki potensi besar dan menyimpan segudang kekayaan alam, dari pemandangan indah, hingga hasil bumi.
Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, kedua dai muda tersebut dilepas oleh Ust Miftahudin, S.H.I selaku Sekertaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat.
“Sudah menjadi komitmen kami untuk terus konsisten mengirimkan dai ke daerah-daerah. Mengajar di sana, khususnya daerah pedalaman. Memberi pencerahan kepada masyarakat. Karena nyatanya, masih banyak masyarakat yang belum tersentuh,” terang Miftahudin.
Kedua kader dai muda yang ditugaskan tersebut adalah Ustadz Nasirudin Albani dan Ustadz Anggun. Keduanya adalah peserta Nikah Mubarakah yang dilangsungkan di Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, bulan Desember lalu (23/12/2020).
Kedua dai yang dikirim ke Teluk Bintuni ini pun menyambut antusias penugasan tersebut. Berbekal ketaatan dan keyakinan akan pertolongan dari Allah SWT, mereka berangkat dengan langkah yang mantap.
“Ini adalah tugas dari organisasi, sudah menjadi kultur yang melekat bagi Kader Hidayatullah. Tidak ada yang saya pikirkan selain taat, karena ini yang harus dilakukan sebagai anak muda, untuk keluar dari zona aman dan nyaman,” tukas Nasirudin Albani saat pelepasan dirinya.
Harapan besar DPW Hidayatullah Papua Barat dengan ditugaskannya tenaga dai ini, optimisme masyarakat dalam menjalani ajaran Islam kembali. “Sehingga terus bersemangat melakukan gerakan-gerakan positif dan produktif, termasuk perbaikan ekonomi umat. Minimal untuk lingkup kecil, keluarga,” pungkas Miftahudin.*/ Refra