Beranda blog Halaman 478

Rabbana, Jadikanlah Ilmu yang Kami Pelajari Bermanfaat

0

ADA banyak buku. Ada banyak ilmu. Keduanya ada di sekeliling manusia. Banyak ilmu bisa didapat lewat buku. Untuk itu sebagian menjuluki buku sebagai jendela dunia.

Namun, tak semua buku bisa memberi ilmu. Ada buku hanya bersifat hiburan atau selingan saja. Ada juga buku malah mengajarkan kepada keburukan. Tentu seperti itu yang didapat bukan ilmu bermanfaat. Bahkan nirfaidah.

Pun dengan ilmu, tak semua juga mesti lewat buku. Buku hanya satu sarana menimba ilmu. Selebihnya, ada ratusan pintu-pintu lainnya yang bisa menawarkan ilmu. Setiap jengkal dari seluruh jagat raya bahkan menjadi alamat ilmu. Sebagai pertanda kebesaran Allah, Pencipta semesta. Di sana ada potret keagungan Sang Khaliq sekaligus keterbatasan manusia sebagai makhluk.

Hal ini pernah diungkap oleh Aidh al-Qarni, penulis buku La Tahzan. Ia menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Perpustakaan Kongres, Washington, Amerika. Kabarnya, itulah perpustakaan terbesar di dunia saat ini.

Buku-buku di perpustakaan itu disebut nyaris setinggi gunung. Tumpukannya mencapai koleksi ratusan ribu buku. Dari ilmu-ilmu modern sampai literatur dan manuskrip kuno.

Usai berpenat-penat dalam pencarian setetes ilmu. Sebakda berpayah-payah dalam pendakian. Lalu apa yang didapatkan oleh orang itu? Adakah sejumput barakah ilmu tersebut dirasakan? Benarkah ada manfaat yang didapat?

Sebab, nyatanya, buku setumpuk bak gunung pun bukan jaminan ilmu itu lantas beroleh rahmat-Nya. Bisa saja, pengetahuan manusia bertambah tapi kian menjauhkan dirinya dari hidayah.

Bagi orang beriman, ilmu ialah sarana. Sebab ilmu yang dikejar hingga berpeluh keringat bukanlah tujuan akhir. Ibarat halte kendaraan, ada terminal berikutnya yang mesti dituju sebagai perhentian akhir. Bahwa setelah berilmu ya beramal.

Setelah beramal masih ada keikhlasan yang perlu dijaga. Hingga benar-benar semuanya bersih. Lillahi Ta’ala semata demi menggapai ridha-Nya. Itulah puncak kebahagiaan hakiki manusia.

Jadi rupanya usai mengetahui atau memahami sesuatu masih ada kewajiban lain yang menanti. Yakni mengerjakan perintah itu atau menjauhi larangannya. Ahli hadits, Imam al-Bukhari memberi penamaan khusus dalam karyanya. Bab al-ilmu qablal qauli wal amali.

Al-Qur’an juga memberi isyarat demikian. Ada begitu banyak ayat yang menerangkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu. Sekaligus peringatan sekira ilmu itu diabaikan begitu saja.

Firman Allah:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al-Mujadilah [58]: 11).

Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff [37]: 2-3).

Ilmu yang disanjung sedemikian tinggi, bahkan ditambah dengan beberapa derajat kemuliaan yang tak dimiliki selainnya, seketika bisa nyungsep menjadi orang-orang yang dihinakan. Hal itu tak lain gara-gara persoalan ilmu yang tak sebanding dengan perilaku dan akhlaknya. Saat itu, manusia mendapat sematan gelar, sebagai seburuk-buruk binatang. Ia dianggap begitu dekat dengan ilmu dan kebenaran namun sedikit pun ia tak mendapat hidayah.

Lihatlah bagaimana seekor keledai yang setiap waktu disibukkan lalu lalang memikul beban kitab di pundaknya.

Allah berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Jumuah [62]: 5).

Inilah tragedi ilmu. Bencana itu menimpa saat pengetahuan baru secuil tapi dirinya telah sombong hingga lupa daratan. Saat ilmunya yang seujung kuku namun sudah melenakan dirinya dari beribadah kepada Allah. Semua karunia Allah dinikmati sepuasnya tapi giliran diminta mensyukurinya, tiba-tiba ia enggan dengan sejuta alasan dibuatnya.

Rabbana, jadikanlah ilmu yang kami pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang membuat kami semakin takut kepada-Mu. Ilmu yang membuat kami bisa menolong sesama manusia dan menegakkan agama-Mu.

Karunikan hidayah dan rahmat-Mu ya Allah. Jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur atas segala curahan nikmat dan kasih sayang-Mu selama ini.

MASYKUR SUYUTHI

Kuliah Perdana, Ketum Tandai Dimulainya Sekolah Dai Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah (DPP) KH DR Nashirul Haq menjadi narasumber kuliah perdana sekaligus menandai dimulainya program Sekolah Dai Hidayatullah di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Dalam pidatonya, ia menyampaikan pentingnya peran dakwah dalam membangun bangsa dan memajukan umat. Menurutnya, dakwah yang paling efektif adalah keteladanan seperti Nabi juga memberikan keteladanan.

“Tugas dai adalah mencerahkan, mencerdaskan, mendidik ummat, dan memberi solusi kepada mereka. Orang yang mengajak ke jalan Allah memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi-Nya. Karenanya kita bersyukur ditakdirkan berada di jalan dakwah,” katanya di Aula Baitul Karim, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin.

Beliau menerangkan, dakwah adalah misi kerasulan Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam. Karenanya, Hidayatullah menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus utama (mainstream) gerakan.

“Inilah yang menjadikan peran dai sangat menentukan dalam membangun Indonesia yang maju dan bermartabat,” imbuhnya.

Dai sebagai guru dan pemimpin, harus selalu terdepan dalam kebaikan dan memberi keteladanan kepada ummat. Hal inilah, tegasnya, yang menjadi kunci sukses dalam berdakwah.

“Setiap dai harus selalu melakukan muhasabah, meluruskan niat dan meningkatkan kualitas diri,” pesannya di hadapan puluhan calon dai-dai muda.

Beliau mengemukakan, dalam surah Al Muddattsir, Allah mengingatkan bahwa tujuan dakwah adalah untuk mengagungkan kebesaran Allah.

Karenanya, dai harus mensucikan dirinya lahir dan bathin, menjauhi dosa, tidak berorientasi materi dan selalu sabar dalam menghadapi berbagai tantangan.

Beliau mengatakan bahwa inti dakwah adalah mengajak orang dalam kebaikan. Seraya itu, seorang dai selalu berupaya sungguh-sungguh beramal sholeh sebagai buah keteladanan serta bangga mendeklarasikan diri bahwa kita adalah muslim. (ybh/hio)

Upaya Melahirkan Generasi Berkualitas Melalui Pendidikan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah sebagai organisasi berbasis kader berupaya melahirkan generasi yang berkualitas melalui berbagai wadah, khususnya melalui pendidikan (tarbiyah).

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah KH DR Nashirul Haq, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah yang digelar di Aula Karim, Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Sabtu (04/01/2020).

Pendidikan yang dimaksud, lanjut beliau, adalah pembentukan pribadi muslim yang utuh dalam semua aspek yang meliputi; ruhiyah (spiritual), aqliyah (intelektual), jasadiyah (fisik), ijtima’iyah (sosial) dan qiyadiyah (kepemimpinan).

“Semua aspek ini diintegrasikan dalam sistem pendidikan Hidayatullah,” imbuhnya seraya menambahkan tarbiyah dan dakwah sebagai misi kerasulan Muhammad SAW menjadi mainstream atau arus utama gerakan Hidayatullah.

Beliau menjelaskan, proses tarbiyah yang dianut Hidayatullah berdasarkan Surah Al Jumu’ah ayat 2 yang dimulai dari fase Tilawah, Tazkiyah dan Ta’lim. Hal itulah yang menurutnya sebagai konsep tarbiyah yang terbukti melahirkan generasi terbaik sejak zaman Nabi Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. Al Jumu’ah: 2)

Karenanya, lanjutnya, Hidayatullah melakukan standarisasi sistem perkaderan dan pembinaan adab secara nasional sesuai dengan tema Rakornas kali ini. Harapannya agar semua lembaga pendidikan Hidayatullah memiliki sistem perkaderan yang terstandar.

Adapun sistem perkaderannya meliputi materi, metode dan guru. Ketiganya, terangnya, merujuk kepada Pra-Wahyu dan Sistematika Wahyu (tartib nuzuli) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah.

“Materi, metode dan guru sebagai murobbi harus menyatu dalam sebuah sistem pendidikan dan perkaderan sehingga dapat melahirkan output berkualitas,” katanya.

Dalam pada itu, beliau juga menerangkan, bahwa dalam organisasi sistem pendidikan adalah hal yang sangat penting dan dapat menentukan kualitas sebuah organisasi. Maka ia menjelaskan pentingnya memerhatikan peserta didik.

“Semua kebutuhan peserta didik harus diperhatikan, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki,” pungkasnya.

Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)selama tiga hari yang digelar di Jakarta.

Rakornas Pendidikan Hidayatullah yang mengangkat tema “Sukses Standardisasi Sistem Pengkaderan dan Pembinaan Adab” ini berlangsung selama 3 hari mulai Sabtu 4 Januari 2020 sampai Senin 6 Januari 2020.*/Amanji Kefron/ YBH

Pengkaderan Terbaik dengan Sistem Pendidikan Integral

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, Tasyrif Amin, mengajak melakukan pengkaderan terbaik kepada segenap peserta didik dengan penyelenggaraan pendidikan integral berbasis Tauhid yang terukur, maju dan unggul.

Menurutnya, sistem pendidikan Hidayatullah harus terus berkembang seiring dengan perkembangan kemajuan zaman. Dia menjelaskan bahwa pendidikan Hidayatullah adalah pendidikan yang tidak dikotomis berfokus pada satu hal saja namun pendidikan yang integral atau menyeluruh.

“Ada beberapa ilmu-llmu dasar yang harus diperhatikan, salah satunya ialah ilmu eksakta,” katanya dikala menyampaikan pengarahan dalam Rakornas Hidayatullah di Jakarta, Sabtu (04//1/2020).

raker

Tasyrif menjelaskan, pendidikan Hidayatullah yang sejatihnya adalah pendidikan yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Karena itu, terang dia, sudah sepantasnya Hidayatullah ikut ambil andil dalam kemajuan pendidikan negeri.

Tasyrif mengatakan bahwa santri Hidayatullah dalam harapan output pendidikanya, tidak hanya bisa ilmu eksakta saja, atau tidak hanya mahir dalam hafal Al Quran saja.

“Tapi Kader Hidayatullah dibentuk dan diajarkan untuk bisa hapal Al Quran dan juga mengusasai pendidikan eksakta,” imbuhnya.

Dia menerangkan, Hidayatullah adalah pendidikan yang akan terus berfokus membentuk peserta didik yang menguasai bidang ilmu tentang hal-hal yang bersifat konkret diringi dengan kecakapan dalam penguasaan Al Quran.

“Kita bisa bayangkan bagaimana jika ada banyak santri didik yang selain ilmuan, juga pencinta dan penghafal Al-Quran,” ungkap beliau.

Tasyrif juga mengajak utuk terus menerus berlomba dalam kebaikan membangun pendidikan Hidayatullah di seluruh Indonesia bahkan mengembangkannya ke seluruh dunia.

“Mari, selain membangun gedung betingkat. Kita bangun juga pendidikan untuk membangun negeri,” pungkanya.*/Amanji Kefron

Pimpinan Umum Hidayatullah Kunjungi Hidayatullah Polewali

0

POLEWALI (Hidayatullah.or.id) — Di tengah agenda dan padatnya kesibukannya, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, melakukan anjangsana silaturrahim ke kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Polewali, Sabtu (04/01/2020).

“Sudah lama saya tidak bersilaturahmi ke sini,” ungkapnya.

Di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Polewali, Pimpinan Umum dan rombongan disambut oleh Ketua Departemen Organisasi DPW Hidayatullah Sulbar, Abdurrahman, dan juga Taufik Malik, Ketua DPD Hidayatullah Polewali bersama stafnya.

Selain untuk berkunjung ke Kampus Hidayatullah Polewali, Pimpinan Umum juga mendatangi beberapa lokasi perkebunan di Polewali. Hal ini dilakukan dalam rangka menjajaki upaya pengembangan ekonomi di bidang pertanian.

“Kita perlu menjadikan Sulsel dan Sulbar, sebagai sentra ekonomi untuk menyanggah ekonomi Ibu Kota negara di Kaltim nanti,” ungkap beliau.

Sebelum berangkat ke Polewali, pagi tadi, ia juga sempat berdisuksi dengan Ketua DPW Hidyatullah Sulsel Drs Mardhatillah, tentang bagaimana kesiapan ekonomi Sulsel menghadapi perpindahan ibukota negara nanti.

“Hidayatullah Sulsel dan Sulbar harus bisa mengambil manfaat dari perpindahan ibukota negara ke Kaltim,” ungkap beliau.*/Sarmadani

Hidayatullah Gelar Rakornas Pendidikan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Memasuki awal tahun 2020, Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar di Jakarta. Rakornas Pendidikan Hidayatullah ini akan berlangsung selama 3 hari mulai Sabtu 4 Januari 2020 sampai Senin 6 Januari 2020.

Iwan Ruswanda, salah satu panitia Rakornas menjelaskan bahwa perwakilan peserta yang hadir 40 perwakilan yang terbagi dalam beberapa wilayah.

“Setiap perwakilan DPW (Dewan Pengurus Wilayah) sebanyak 32 perwakilan dan kampus utama 7 perwakilan serta satu perwakilan dari kampus induk, ” jelas Iwan Ruswanda saat ditemui media ini.

Rakornas yang rutin diadakan setiap tahun ini akan membahas beberapa hal mengenai pencapaian kinerja setiap daerah di bidang pendidikan.

“Ada penyampaian tiap-tiap daerah dan akan ditanggapi oleh pengurus pusat, lalu akan ada koordinasi juga. Jadi, jika daerah yang kesulitan atau butuh tanggapan, bisa bertannya ke forum,” terang Iwan

Iwan Juga memberikan keterangan bahwa pada Rakornas kali ini, akan ada beberapa program nasional pendidikan yang akan diberlakukan dikarenakan Hidayatullah sadar akan kemajuan zaman.

“Nanti bakal ada pengajuan program pendidikan, untuk keseluruhan daerah”

Supriyadi yang merupakan salah satu pendiri SAR Nasional Hidayatullah dalam sambutannya menjelaskan bahwa sesungguhnya sistem pendidikan Hidayatullah merupakan kekuatan organisir yang sangat baik.

Para Peserta Rakornas Pendidikan Hidayatullah/Amanji Kefron

“Hidayatullah ini membuat salut dengan sistem pengkaderan anggotanya dengan kemampuan pemimpinnya yang sangat terorganisir,” jelas Supriyadi yang juga merupakan senior di lingkungan Pramuka.

Supriyadi juga menjelaskan bahwa sistem pendidikan Pandu Hidayatullah yang khas dari yang ada pada umumnya bukanlah sebuah masalah di dunia Pramuka.

“Dalam Sako juga mengurus perbedaan sistem. Hidayatullah dengan sistem yang unik dan mempunyai ciri khas bukanlah sebuah masalah untuk tetap diterima,” pungkasnya.

TASK Hidayatullah Siaga Bantu Korban Banjir Jabodetabek

JABODETABEK (Hidayatullah.OR.ID) – Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah yang terdiri dari relawan BMH, SAR Hidayatullah, IMS, Syabab Hidayatullah, DPW dan DPD Hidayatullah se-Jabodebek, serta Pos Dai terus siaga membantu penanggulangan banjir yang melanda wilayah Jabodebek.

Pada Kamis (02/01/2020), misalnya TASK kembali melakukan evakuasi terhadap warga Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, yang terdampak banjir.

Pada hari kedua aksi, salah satu tim dari TASK kembali berfokus di Kampung Pulo.

Pembina SAR Hidayatullah Saharuddin Yusuf mengatakan, sebagaimana janjinya bahwa ia dan TASK akan selalu siap turun ke lapangan dan tidak akan berhenti sebelum keadaan terlihat membaik.

“Kita akan selalu siaga dan terus bekerja, hingga keadaan sudah membaik,” jelasnya.

Di antara warga Kampung Melayu ada yang dilarikan ke Rumah sakit Herlina oleh TASK Hidayatullah setelah dievakuasi.

Menurut Sawal, salah satu relawan TASK, warga yang mereka evakuasi didiagnosis terkena tekanan darah tinggi dan saat relawan TASK tiba di lokasi korban, kondisi warga tersebut menuntut untuk segera dilarikan ke rumah sakit.

“Diagnosis awal darah tinggi, kondisinya cukup memprihatinkan. Harus segera dibawa ke rumah sakit,” ucap Sawal kepada hidayatullah.com di lokasi, Kamis.

Walaupun banjir perlahan surut, masih banyak warga yang lebih memilih untuk tetap mengungsi ketimbang kembali ke rumah.

“Lebih baik tunggu bener-bener reda,” jelas Dian, salah seorang warga setempat.

Dian juga menjelaskan bahwa banyak sekali warga yang kehilangan sepeda motor.

“Kemaren-kemaren mah banjir cuma di jalan, sekarang masuk ke perumahan dan sampai leher, motor juga ikut hanyut.”

Warga juga memberikan ucapan terima kasih kepada relawan TASK Hidayatullah yang telah mengevakuasi dia.

“Saya makasih banyak deh sama Tim SAR ini,” kata seorang ibu warga Kampung Melayu.

Selain di Jakarta, TASK Hidayatullah juga melakukan evakuasi di Bekasi, Jawa Barat. Diketahui, hujan ekstrem yang terjadi pada Selasa (31/12/2019) hingga Rabu (01/01/2020) menyebabkan terjadinya banjir besar di wilayah Jabodetabek hingga saat ini.*/Amanji Kefron

BMOIWI Ajak Cegah Meluasnya Pengaruh Negatif LGBT

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI), Dr Sabriati Aziz, mengajak masyarakat untuk mencegah meluasnya pengaruh negatif perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Dan kita semua harus mencegah tumbuh dan perkembangan (LGBT) tersebut,” ujarnya kepada hidayatullah.com Jakarta, Senin (30/12/2019).

Disamping itu, pihaknya mendukung upaya elemen masyarakat untuk mengembalikan kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender kembali kepada fitrah kemanusiaan.

Menurut Sabriati Aziz, perilaku LGBT jelas-jelas bertentangan dengan Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila dan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan adanya upaya pihak-pihak yang memaksakan dan mempropagandakan LGBT, maka akan berhadapan dengan Pancasila.

Sebelumnya, Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia berupaya untuk mengembalikan kelompok LGBT kepada fitrah kemanusiaan. Upaya tersebut antara lain dengan meluncurkan buku “Transformasi Menuju Fitrah” : LGBT Dalam Perspektif Keindonesiaan di Aula INSISTS, Jl Kalibata Utara II, No 84 Jakarta Selatan, Ahad (29/12/2019).

Sabriati mengatakan, BMOIWI sangat mengapresiasi kehadiran buku buku “Transformasi Menuju Fitrah” itu. Karena ternyata, kata dia, pengidap LGBT yang sudah semakin marak, secara empirik bisa disembuhkan.

“BMOIWI menyambut baik dan akan terus menyebarkan buku tersebut dan memaksimalkan jaringan ormas Islam untuk melakukan edukasi kepada masyarakat,” ujar aktivis Muslimat Hidayatullah (Mushida) ini.

Akhir Tahun, BMH Gelar Jambore Anak Sholeh

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Akhir 2019, tepatnya Jumat sampai Senin, 28-30 Desember 2019, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama DPW Hidayatullah Jabodebek (Jakarta Bogor Depok Bekasi), didukung oleh SAR Hidayatullah menggelar Jambore Anak Sholeh. Tempatnya di Pesantren Hidayaturrahman Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Sebanyak 170 santri yang berasal dari pesantren binaan BMH se-Jabodebek aktif mengikuti rangkaian acara yang dilaksanakan di lapangan maupun di ruangan.

Ketua Panitia Jambore Anak Sholeh, Saharuddin mengatakan, jambore ini merupakan program untuk membentuk mental dan memberikan pengalaman lebih luas kepada para santri.

“Kegiatan ini sangat penting bukan sekedar mengisi liburan, tetapi pembekalan langsung dari sisi kehidupan bahkan kala terjadi bencana. Sehingga, setelah lulus nanti, mereka tak sekadar pandai berdakwah dengan lisan, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat,” kata Saharuddin melalui rilis yang diterima redaksi.

Ia menambahkan, pada acara yang berlangsung siang dan malam itu, seluruh santri mendapatkan beragam pembelajaran dan pengalaman. Mulai dari team work, perlombaan, mulai dari lomba hafalan, lomba pidato, lomba adzan, hingga lomba futsal.

Sesi pamungkas dari kegiatan ini adalah training Santri Siaga Bencana. Tepatnya, bagaimana bersikap dan bertindak kala terjadi kebakaran.

“Diharapkan, para santri dapat mengerti lingkungan. Sehingga, ketika terjadi bencana, mereka dapat berkontribusi dan memberikan bantuan bagi masyarakat. Dalam kesempatan latihan kali ini, kala terjadi bencana kebakaran,” tutur Saharuddin.

Sementara itu, Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin menjelaskan, program ini sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri para santri.

“Jadi kala nanti bermasyarakat, mereka punya rasa percaya diri dan menguasai skill tertentu seperti bisa bersikap dan bertindak tenang saat terjadi bencana. Ini merupakan hal yang amat dibutuhkan. Semoga mereka menjadi insan-insan yang bermanfaat banyak bagi masyarakat,” tuturnya.

Mengapa Terkadang Begitu Berat Hadir Berhalaqah?

0

Oleh Sarah Zakiyah

BAJU dan jilbab biru wanita itu sudah tampak kusut. Berkali-kali ia mengusap wajahnya yang berminyak, tas ransel yang memuat berbagai keperluannya sejak pagi seakan tak mampu lagi ia bawa.

Kumandang azan asar telah dilewatinya dengan munajat. Kini, ia harus membawa tas itu lagi ke suatu tempat yang ia namakan dengan lingkaran surga.

Ya, hari itu adalah hari yang terpadat baginya. Berat rasanya langkah kaki menjejakkan bumi menuju rumah salah satu sahabat surganya. Entah, berapa ratus kali istighfar ia ucapkan, agar langkah itu menjadi ringan.

Ia bayangkan wajah-wajah riang yang akan menyambutnya, persiapan tuan rumah yang maksimal menjamu saudaranya.

Seketika, dadanya menjadi lapang, senyumnya menghiasi wajah, dan tangannya bergegas menghidupkan motornya.

Rutinitas pekanan yang masyhur disebut halaqah, adalah satu kewajiban berat yang jika tidak ada motivasi dari dalam diri, kegiatan ini tidak akan terlaksana.

Amanah sebagai ibu telah banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Apalagi jika memiliki amanah di luar rumah. Sore adalah waktu yang dinanti untuk sekadar meluruskan kaki sambil menikmati teh panas hingga gelap menyelimuti bumi.

Seringkali alasan yang dianggap benar menjadikan kehadiran di halaqah adalah hal yang pantas dimaklumi. Padahal, alasan-alasan tersebut semakin hari semakin melepaskan simpul-simpul keimanannya.

Sahabat Muadz bin Jabal pernah mengatakan kepada Al-aswad bin Hilal, “Duduklah bersama kami, kita beriman sejenak,” ajakan ini bukan berarti Muadz dan temannya tidak beriman. Tapi, Muadz mengajak untuk bersama memperbaharui keimanan.

Imam Bukhori menyebutkan kisah Muadz itu secara muallaq setelah beliau mengatakan, sesungguhnya iman itu bertambah dan berkurang, lalu beliau mencantumkan ayat

[لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ] {الفتح:4}
“Agar mereka menambahkan keimanan bersama keimanan mereka”

[وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا] {المدَّثر:31}
Agar orang-orang yang beriman bertambah keimanannya”

[أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا] {التوبة:124}
“Siapakah di antara kalian yang bertambah keimanannya dengan ini”

Ya, iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang ketika melakukan kemaksiatan.

Bertambah jika teman-teman di sekelilingnya saling mendukung dan menasihati dalam kebaikan, kebenaran, dan kesabaran. Berkurang jika teman-teman di sekelilingnya membawanya ke dalam syahwat dan syubhat.

Berhalaqah adalah salah satu cara memperbaharui keimanan dan menepis ego demi kepentingan pribadi. Betapa kebahagiaan akan dirasakan ketika berhasil mengalahkan keinginan diri demi untuk hadir bertatap muka dengan saudara-saudara seiman. Betapa bahagia ketika dapat mendaras Al-Quran walaupun hanya satu ayat.

Selain itu, berhalaqah sama dengan berpartisipasi dalam menyambung keteladanan sejarah. Rasulullah SAW dari awal mula dakwah, menjadikan pertemuan-pertemuan intensif sebagai waktu untuk menanamkan bibit-bibit kekaderan di hati para assaabiquunal awwaluun.

Karenanya, halaqah menjadi kebiasaan para sahabat, yang dibanggakan Rasulullah SAW.

“Apa yang mendorong kalian duduk seperti ini?” tanya Beliau suatu waktu. Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.”

Maka Rasulullah bertanya kembali, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu.”

Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya aku bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat” (H.R Muslim dari Muawiyah)

Semoga catatan kecil ini menjadi motivasi diri untuk hadir dalam lingkaran surga. Aamiin

*) Sarah Zakiyah, penulis adalah Ketua Bidang Organisasi dan Annisa Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah. Dikutip dari website Mushida.org