MANUSIA yang kuat, hanyalah kala keheningan, saat semua terlelap, ia terbangun, rukuk dan sujud kepada-Nya.
Orang-orang yang seperti itu setidaknya mengerti bagaimana memanfaatkan waktu. Bahkan ada harapan, cita-cita, dan pengaduan masalah yang ditumpahkan kepada Tuhan Semesta Alam.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk bangun pada sebagian malam agar mendapatkan tambahan (kebaikan) agar diri kita mendapatkan tempat yang terbaik dan terpuji di sisi-Nya.
Namun, perkara ini bukan semata soal kemampuan menahan kantuk, bukan semata soal lelah tidaknya tubuh dan pikiran. Tetapi juga pertolongan-Nya, yang dengan itu pula Allah memuji manusia-manusia itu.
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 17-18).
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan:
“Tak ada satu pun malam yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan shalat walaupun hanya beberapa raka’at saja. Sungguh sangat beruntung hamba-hamba yang Allah mudahkan dirinya bangun kemudian tahajjud di sebagian malam”
Lantas siang harinya ia melakukan yang terbaik pada apa yang menjadi amanah, tanggungjawab, profesi, atau pun passion-nya yang bermanfaat. Sungguh, itulah manusia paling bahagia di muka bumi ini.
Tinggal, bagaimana sekarang diri ini merasakan a perintah Allah yang sangat spesial ini. Semoga Allah senantiasa mampukan kita untuk menjalankan-Nya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Aula II Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Baitul Wakaf bersama BMH dan didukung DPP Hidayatullah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Waqf Economy, Selasa (14/1/2020).
Ketua Panitia FGD Asih Subagyo dalam sambutannya menjelaskan bahwa FGD Ini dimaksudkan untuk memanfaatkan peluang wakaf secara lebih maksimal dan optimal.
“Kita berharap FGD ini dapat menjadikan wakaf sebagai kekuatan ekonomi umat secara lebih konkret, sehingga ke depan banyak problem ekonomi, pendidikan, dan sosial dapat diretas dari gerakan wakaf di Indonesia, bukan lagi wacana tetapi aksi nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. DR. Nashirul Haq, MA, menyatakan bahwa forum seperti ini penting diselenggarakan dan dimaksimalkan untuk mendorong terwujudnya peradaban Islam.
“FGD ini adalah momen yang mahal, karena terbilang jarang secara serius kita dapat membahas wakaf, terlebih jika kita ingin membangun peradaban Islam di tengah-tengah kehidupan umat,” katanya.
“Dan, masalah wakaf ini harus mendapat perhatian serius kita bersama, terlebih kalau berbicara wakaf di negara-negara Islam, Indonesia masih butuh perjuangan lebih serius,” terangnya melanjutkan.
FGD kali ini mengundang dua narasumber, yakni Prof. Adj. Sr Dr Mohd Mazlan dari Universitas Teknologi Malaysia dan Presiden Badan Wakaf Internasional (BWI) Dato’ Abu Ubaidah Bin Kemin.
“Kita berharap FGD ini dapat menghasilkan konsep dan strategi baru untuk menumbuhkan gerakan wakaf di Indonesia yang lebih progressif dalam upaya ikut serta mendorong terwujudnya masyarakat beradab, maju dan sejahtera,” tutup Asih Subagyo yang juga Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah ini. (Imam Nawawi)
BETAPA banyak orang yang tidak begitu yakin dengan kehidupan akhirat, bahkan ada yang menolak sama sekali keberadaan akhirat di masa mendatang. Tetapi sadarkah kita bahwa sesungguhnya manusia dalam upaya apapun adalah dalam menyiapkan akhir yang baik.
Bukankah saat seorang pelajar tekun dalam menuntut ilmu, disiplin dalam pembelajaran adalah dalam rangka meraih masa depan (akhir) yang baik?
Perhatikan pula apa yang menjadi motivasi pejabat negara korupsi? Akhir. Ya, dia ingin sebelum masa jabatannya berakhir mendapatkan banyak simpanan harta yang memadai, sehingga bisa kembali ikut kompetisi dan menjadi pejabat lagi.
Terus seperti itu, sampai tibalah masa dimana penjara menyeret jiwa dan raganya justru di masa ketika akhir itu diharapkan bahagia, yakni kala umur tak lagi muda. Artinya, manusia sadar bahwa akhir, besok, masa depan atau apapun istilahnya adalah lebih patut diperjuangkan.
Lantas mengapa saat ajaran Islam ini hadir, lengkap dengan sosok teladan yang konkret hati kita masih ragu dengan akhirat?
Mengapa hati dan akal masih saja menghendaki kehidupan dunia, kehidupan kini yang fana dan sudah pasti akan berakhir?
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadîd [57]:20).
Ayat itu menuntun para sahabat Nabi Muhammad ﷺ sama sekali tidak ambisius terhadap kehidupan dunia. Mereka lebih memilih berjuang menggapai kebahagiaan hidup di akhirat, yang abadi, bukan tempat berbangga-bangga yang penuh kepalsuan.
Maka, saat harta, kedudukan menghampiri kehidupan mereka, hati mereka sama sekali tidak berubah menjadi tamak dan menjadi pemuja harta dunia. Sebab mereka sadar, itu hanyalah kesenangan sementara.
“Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya?” (QS. Al-An’âm [6]:32).
Dengan demikian untuk apa hati kita gelisah, sibuk, gembira, bahkan berbangga-bangga dengan urusan dunia.
Sebuah alam kehidupan yang Allah tegaskan tak lebih dari tempat bermain dan bersenda gurau.
Mari lihat alam akhirat dengan memupuk kebaikan dalam diri sampai menjadi insan yang bertaqwa. Sungguh hanya itulah cara terbaik hidup bahagia, selamat, dan sukses sejati.
Sukses yang akan menjadikan hati ini ridha dengan ketetapan-Nya, sehingga tidak ada yang menjajah akal dan hati kita dari konsisten, komitmen dan istiqomah beribadah hanya kepada-Nya.
PULANG PISAU (Hidayatullah.or.id) -– Lazismu bersama pengurus PD Muhammadiyah Pulang Pisau (Pulpis) silaturahmi ke Panti Asuhan ‘Maqommamahmuda’ milik kampus Pondok Pesantren Hidayatullah yang berada di Desa Anjir, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Jum’at (10/1/2020).
Ketua Lazismu Pulang Pisau Achmat Husen yang hadir bersama pengurus dan tim relawan Lazismu diterima dengan sangat ramah oleh Pimpinan Pondok dan para santri yang ada disana.
Pada kesempatan itu Lazismu juga memberikan bantuan konsumsi sembako dan beberapa alat tulis untuk para santri.
Achmat Husen mengatakan ini merupakan pentasyarufan amanah dari muzakki dan donatur yang telah menitipkan zakat, infaq dan sedekahnya melalui Lazismu, dan merupakan salah satu Program dari Lazismu Pulang Pisau yaitu berbagi kepada kaum dhuafa, yatim piatu dan peduli pendidikan
“Terima kasih kepada para donatur atas kepercayaannya kepada Lazismu Pulang Pisau. Dan amanah ini kami salurkan kepada yang berhak, semoga sedikit meringankan beban dan dapat bermanfaat. Mari ringankan beban mereka, maka Allah akan meringankan bebanmu baik di dunia maupun akherat,” ungkapnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah dan Panti Asuhan ‘Maqommamahmuda” Sujarwanto yang akrab dipanggil Ustadz Anto ini bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Lazismu Pulang Pisau yang telah peduli terhadap kehadiran Pondok Pesantren Hidayatullah Pulang Pisau.
“Semoga Lazismu semakin berkah dan berjaya,” katanya
Sujarwanto berharap ke depan dapat bersinergi dengan Lazismu Pulang Pisau, dengan saling berbagi informasi jika ada anak-anak Yatim atau dhuafa yang perlu pendidikan dan asuhan.
“Untuk mewujudkan generasi penerus yang pejuang diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak,” tambahnya.
Pondok Pesantren ini dirintis di Pulang Pisau sejak tahun 2007, dan berdiri tahun 2014. Saat ini telah ada belasan anak asuh yang terdiri dari santri yatim dan dhuafa, yang selama ini ditanggung oleh pihak Pondok Pesantren.
kegiatan belajar di Pondok Pesantren ini selain ada kegiatan rutin seperti membaca Qur’an, praktek shalat, kultum dan kegiatan lainnya, ada juga kegiatan harian santri Grand MBA, salah satu metode pengajaran terjemah Qur’an Lafdziyah yang dilakukan setiap hari. (Bonni/menara62).
PASANGKAYU (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Imran M. Djufri, S.Pd.I mengatakan pihaknya akan terus melakukan penguatan struktutral dan konsolidasi organisasi dalam rangka pemantapan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah.
Hal itu disampaikan dia dalam sambutannya di pembukaan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Barat yang digelar di Hotel Multazam, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar, Sabtu (11/1/2019).
“Sejatinya rapat adalah membuat program kerja yang sesuai potensi serta mengerjakan semua yang menjadi kesepakatan di dalamnya,” kata Imran.
Rakerwil Hidayatullah Sulbar ke-5 kali ini dilaksanakan di Hotel Multazam Pasangkayu selama dua hari, dimulai Sabtu dan Ahad tanggal 11 Januari ini.
Rakerwil dihadiri enam fungsionaris DPD yang ada di Sulawesi Barat yakni Kabupaten Mamuju, Majene, Mamuju Tengah, Pasangkayu dan DPD Kabupaten Mamasa.
Rakerwil terakhir kalinya dalam periode kepengurusan 2015–2020 ini mengambil tema Konsolidasi Wilayah untuk Pencapaian Target Organisasi.
Kepala Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasrif Amin, M.Pd.I, yang membuka acara tersebut mengatakan tema yang diangkat dalam Rakerwil Hidayatullah Sulbar ini sesuai dengan konsolidasi skala nasional yang memprioritaskan program program utama organisasi dalam merealisasikan visi.
Menurut Tasyrif, setidaknya rapat ini harus menghasilkan tiga bahan; laporan kerja 2019, program kerja tahun 2020 dan APBO tahun 2020. Untuk itu ia meminta memaksimalkan rapat karena sejatinya orang beriman itu menurutnya sangat rapi pekerjaannya.
“Tahajjud yang kita lakukan semalam adalah media permohonan kepada Allah dan hari ini kita bermusyawarah untuk itu keluarkan semua ide ide yang kita miliki agar melahirkan keputusan lalu kita serahkan kepada Allah agar mendapatkan bimbingan atas program yang kita rapatkan,” kata Tasyrif Amin.
Ia juga mengingatkan bahwa salah satu wujud ikhtiar adalah musyawarah. Maka dari itu, pesannya, bermusyawarahlah secara maksimal dan jangan pernah ragu atas pertolongan orang orang beriman dan terutama pertolongan Allah ta’ala.
Disadari dalam menjalankan dinamika organisasi biasa didapati terdapat miss komunikasi atau berbeda pendapat, namun ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah yang diamanah sebagai pendamping Rakerwil itu mengingatkan untuk melapangkan hati dan kejernihan fikiran.
“Semua dinamika yang kita lalui adalah bagian dari proses dan masih jauh dari tujuan tapi setidaknya memiliki arah yang jelas sesuai visi lembaga,” imbuhnya.
“Kita harus selalu ingat dalam membangun kinerja kepemimpinan yang baik idealnya memiliki tiga bingkai atau pilar, yang pertama adalah ideologisasi, regulasi dan uswah,” tambahnya.
Dijelaskan, ideologisasi adalah bagaimana semua orang faham terhadap apa yang ia lakukan sehingga ia hadir karena memahami konsep dan ini bisa dibangun melalui halaqah. Proses tazkiyah ini juga bisa didapat melalui halaqah.
“Kalau halaqah itu berjalan dengan baik maka beberapa persoalan teknis bisa melebur dengan sendirinya. Sebaliknya jika halaqah tidak jalan berarti dakwah fardhiyah juga tidak jalan, gerakan infaq juga tidak jalan dan semuanya tidak akan jalan,” katanya.
Meskipun tingginya ideologi seseorang kalau tidak diikat dengan regulasi maka akan nihil, maka disinilah dibutuhkan butuh penguatan regulasi.
“Dan uswah atau keteladanan menjadi faktor utamanya, sehingga selama dalam perjalanan mengemban misi dakwah interaksi antar sesama akan terbangun dengan penuh harmoni dalam bingkai watawa saubil haq watawa saubil shabr,” pungkas Taysrif.*/Muhammad Bashori
TIDAK sedikit orang beranggapan bahwa kematian adalah akhir dari kesuksesan seseorang. Terlebih kala dikaitkan dengan harta benda yang ditinggalkan. Namun, Islam tidaklah memandang demikian, orang sukses bisa berlanjut sampai ke akhirat.
Abdurrahman bin Auf misalnya, beliau tidak saja kaya raya di dunia, tetapi juga akan hidup bahagia di dalam surga. Mengapa, karena kekayaan yang digenggamnya tak menghalanginya mengingat mati, mengingat masa sulit perjuangan para sahabat Nabi, sehingga tak sempat dirinya berpikir bagaimana terus mengejar kekayaan. Justru kekayaan yang ada itu ia serahkan untuk Islam.
Demikian pula dengan putri Rasulullah 9 Fathimah Radhiyallahu anha, beliau rela hidup dengan kerja keras, hingga melepuh dua tapak tangannya di dunia, bahkan enggan meminta pertolongan dan bantuan dari sang ayah yang sejatinya bisa memberikan apa yang dibutuhkannya. Semua itu dijalani dengan ringan hati, mengapa, ada kematian yang akan mengakhiri perjuangan hidup yang sedemikian itu.
Hal ini menunjukkan bahwa kematian sejatinya adalah gerbang penentuan. Mereka yang ingin kematian menjadi gerbang indah maka bagiamanapun kondisinya di dunia, itu tidak akan pernah mengguncangkan imannya, apalagi sampai tercerabut sampai akar-akarnya.
Tetapi, orang yang melalaikan kematian, menjauhi dengan terus berpacu mengejar kekayaan dunia, maka ia akan mudah menggadaikan apapun yang dimilikinya, termasuk iman demi kenikmatan semu kehidupan dunia ini.
Orang-orang yang seperti itu yang tidak saja akan merugi di akhirat. Di dunia pun ia sudah kehilangan kesehatan berpikirnya, kehilangan kesehatan berakhlaknya, sehingga yang dilakukan dan diucapkan hanyalah kesia-siaan dan kebathilan demi kebathilan.
Oleh karena itu, islam mendorong umatnya untuk mengingat mati. Menurut Ustadz Omar Mita, mengingat mati bukanlah anjuran, melainkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seberapa sering seseorang mengignat mati, sepanjang itu Allah akan berikan pahala. Bahkan, setelah kematian itu, Allah akan sempurnakan pahala-pahala mereka yang menjaga diri kerusakan berpikir dan perilaku.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185].
Mari garisbawahi, “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” Jadi, orang yang sukses selamanya itu ada dan mereka adalah orang yang Allah masukkan ke dalam surga-Nya.
Dalam pandangan materialisme, kala Muhammad belum menjadi Nabi, beliau dikatakan sukses karena berlimpah harta. Sedangkan ketika menjadi Nabi, semua kekayaan itu ludes untuk perjuangan. Tetapi, tidak dalam pandangan Islam. Ketiadaan harta karena berjuang di jalan Allah, itu adalah kemuliaan yang harus diperjuangkan untuk mendapatkan sukses yang abadi, sukses selamanya.
Tentu saja, satu di antara strategi agar diri dapat terus fokus pada kesehatan komprehensif dan kesuksesan selamanya, mengingat mati adalah jalan terbaik.
Mengingat mati bukan soal putus asa lalu menguras energi untuk berjuang. Sebaliknya, mengingat mati untuk menjadikan pikiran sehat, stabil, dan progressif, sehingga tak ada kesempatan diri mengeluh, lemah, dan malas. Tetapi sebaliknya, semakin ringan dan bergairah mengisi hidup ini dengan kebaikan terbaik yang bisa dilakukan.
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.” (HR. Thabrani dan Hakim).
Jadi, mengingat mati adalah tradisi orang-orang sehat dan cerdas. Maka kita pun harus melakukannya agar terhindar dari penyakit dan kebodohan.
Suatu hari ada seseorang datang menjumpai Nabi, lantas bertanya. “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR Ibnu Majah).
Dengan kata lain, semakin seseorang mengejar dunia untuk gengsi, berbangga-banggaan, maka semakin dekatlah ia dengan sakitnya akal, rasa, dan imajinasi kemudian sangat dekat kematian hati. Akibatnya ia tidak akan lagi mengerti mana halal, mana haram, semua dihantam.
Tetapi, semakin seseorang sering mengingat mati akan semakin hidup hatinya dan cerdas akalnya, sehingga tidak ada yang ia pilih di dalam kehidupan ini, selain menyiapkan bekal dengan amal-amal sholeh. Inilah orang yang di dunia pikiran dan perilakunya sehat, dan kesuksesan di dunia akan berlanjut hingga ke akhirat. Kematian menjadi momentum yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Allahu a’lam.*
KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Gotong royong salah satu warisan peninggalan pendahulu yang di era modern sangat jarang dijumpai di kota kota besar dan desa. Namun lain halnya dengan Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kodim 1417 Kendari bersama warga binaan terus menghidupkan budaya gotong royong tersebut.
Seperti terlihat pada kegiatan beberapa waktu lalu Babinsa Koramil 1417-07 Unaaha, Pelda Rusli, memimpin anggota Koramilnya bersama masyarakat Kecamatan Tonggauna sekitar 215 orang bergotong royong melakukan pengecoran masjid Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah yang terletak di Desa Puosu, Kecamatan Tonggauna, Kabupaten Konawe.
Komandan Kodim 1417/Kendari Kolonel Inf Drs Alamsyah M.Si menjelaskan, kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan Babinsa jajaran Kodim Kendari merupakan bentuk pembinaan teritorial.
Menurut Komandan Kodim 1417/Kendari Kolonel Inf Drs Alamsyah, Babinsa harus kita dukung sepenuh hati dan didasari dengan rasa ikhlas, tulus dan berbuat yang terbaik untuk rakyat, serta rasa tanggung jawab terhadap tugas.
“Kehadiran Babinsa dengan karya karyanya di tengah-tengah masyarakat binaannya harus bernilai poin plus, sehingga dapat berfaedah bagi masyarakat binaannya,” Kata Dandim di sela kerja bakti gotong rotong pengecoran masjid, Sabtu lalu.
“Melalui kegiatan gotong royong ini diharapkan kedekatan antara Babinsa dengan masyarakat menjadi lebih harmonis,” lanjut Dandim.
Selain itu juga, kehadiran Babinsa ikut membantu warga, yang merupakan bentuk wujud kemanunggalan TNI dan rakyat. Dengan kehadiran Babinsa menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan bagi masyarakat, pungkas Dandim.
Senada yang di sampaikan Muhammad Arsyad, pengurus Masjid Kampus Hidayatullah Konawe, mengatakan kehadiran TNI dalam hal ini Babinsa Koramil Unaaha membuat kami sangat terbantu .
“Bapak Babinsa menggerakkan warga bergotong-royong dan berjibaku bersama warga melakukan pengecoran masjid. Mereka bekerja dengan semangat dan tidak kenal lelah dibawah teriknya matahari sembari bercanda ria dengan warga,” tutur Arsyad.
Ucapan terima kasih di sampaikan Arsyad kepada seluruh warga dan bapak Babinsa yang telah membantu proses pembangunan masjid. Semoga mendapat syafaat dan bernilai ibadah,” ucap Arsyad mendoakan.
Kegiatan tersebut merupakan peran Babinsa dilapangan untuk mendukung berjalannya Program Satuan Kewilayahan (Kowil). */Kodim 1417/ Kendari
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka mengasah kepedulian, TK Ya Bunayya dan SD Integral Hidayatullah Depok menggelar dongeng dan galang dana untuk korban bencana banjir Jabodetabek dan Banten, Jum’at (10/1/2020).
Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama dengan Laznas BMH yang akan langsung disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pendongeng dalam even itu, Kak Faqih, mengatakan kepada seluruh murid bahwa dengan uang jajan pun kita bisa mendapatkan pahala.
“Bagaimana caranya yaitu dengan menyisihkan sebagian untuk membantu saudara kita yang kesulitan,” katanya.
Kepala sekolah SD Integral Hidayatullah Depok, Abdurrahman Hakim mengatakan bahwa even ini merupakan implementasi dari pendidikan untuk mengasah kepekaan dan kepedulian sosial.
“Pendidikan hakekatnya adalah menyadarkan jiwa untuk hadir turut serta mengatasi permasalahan yang terjadi,” ingatnya.
Abdurrahman Hakim mengatakan, dongeng dan galang dana ini adalah salah satu bentuknya agar seluruh murid mengerti bahwa ada saudara kita yang membutuhkan dan dengan yang kita miliki kita menyisihkan untuk mereka.
“Ini juga bagian dari implementasi ajaran Islam untuk senantiasa gemar bersedekah,” urainya. (imn/bmh)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Reboan DPP Hidayatullah menggelar diskusi awal tahun 2020 dengan tema “Peluang dan Tantangan IoT (Internet of Things) dalam Pengembangan Ekonomi Umat”. Kegiatan itu diadakan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Rabu (8/1/2020).
Hadir sebagai nara sumber adalah IoT Innovation Program Manager PT XL Axiata Tbk, Novi Arian ST, MSC.
“Sebenarnya omongan industri 4.0 itu sudah sering kita dengar, tapi orang gak tahu apa sih. Ilustrasinya cukup banyak, bagaimana orang bicara blockchain tapi belum bisa menjelaskan secara tuntas, termasuk artificial intelligent,” terangnya mengawali paparan.
IoT pada dasarnya diawali oleh perkembangan internet yang kemudian masuk dalam wilayah-wilayah kebutuhan manusia dalam banyak hal. “Namun di Indonesia, penerapannya belum masif,” ujarnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.
Ia menyebutkan, secara angka, penduduk Indonesia itu sejumlah 132 juta jiwa telah memiliki akses ke internet.
“Artinya sudah lebih dari separuh terkoneksi, di mana mereka tersambung ke informasi luas, termasuk temuan-temuan baru, sehingga sangat kaya informasi. Dan, 130 juta jiwa terkoneksi ke media sosial dengan akses terbesar melalui smartphone sebesar 177,9 juta,” imbuhnya.
Jika memerhatikan data lebih lanjut, menurut alumnus UI itu, internet telah menghubungkan manusia tidak saja komunikasi tapi juga transaksi keuangan.
“Jika umat hadir di sini, misalnya jualan online atau ekonomi secara umum, peluangnya masih cukup besar,” tegasnya.
Tantangan umat saat ini adalah bagaimana bisa dengan segera melakukan akselerasi menguasai apa itu yang ada dalam industri 4.0.
“Industri 4.0 merupakan gabungan dari beragam teknologi. Positif sekaligus ada dampak yang harus dihadapi, seperti banyak pengangguran, banyak pekerjaan yang hilang, tapi ada muncul pekerjaan baru,” ulasnya.
Tantangan itu secara lebih konkret menghendaki umat untuk lebih kolaboratif dan total fokus.
“Di era 4.0, kita masuk era digital technopreneur. Jadi bukan lagi entrepreneur atau technopreneur. Tetapi digital technopreneur yang artinya orang harus mampu menggunakan teknologi online, yang butuh kreativitas, teknologi informasi, marketing, analisis dan lain sebagainya. Jadi memang butuh kehati-hatian dan tidak bisa sendirian, maka kini disebut era kolaborasi, duduk bareng,” urainya.
Dalam praktiknya, IoT kini sudah masuk ke wilayah peternakan, seperti ayam, kambing, sapi, bahkan hidroponik. Teknologi ini mampu meningkatkan ketelitian dalam kebutuhan proses yang berkualitas tanpa harus lagi menggunakan tenaga manusia.
“Jika ini disadari dengan baik, maka umat Islam akan unggul dan dapat menguasai ekonomi di era 4.0, setidaknya tidak tertinggal jauh dari perkembangan yang terus melaju kencang,” tutupnya. (Republika)
BERAU (Hidayatullah.or.id) — Menjadi muslim yang baik dengan terus berupaya mencapai ketakwaan dengan ibadah ritual maupun sosial. Hal tersebut sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT agar kita mencari wasilah untuk sampai pada derajat takwa.
Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH DR Nashirul Haq, MA, saat menyampaikan sambutan pengarahan dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakorwil) Hidayatullah Kalimantan Timur di Kampus Madya Hidayatullah Berau, Kaltim, Rabu (08/01/2020).
“Allah menyuruh kita untuk mencari wasilah dalam rangka mencapai ketakwaan, baik ibadah ritual maupun sosial,” kata beliau seraya menukil Al Qur’an surah Al Maidah ayat 35.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”.
Ia mengimbuhkan, Hidayatullah adalah salah satu wasilah untuk melakukan ibadah sosial kepada umat melalui berbagai jenis program kegiatan khususnya melalui tarbiyah dan dakwah.
“Untuk melanjutkan misi kenabian, Hidayatullah menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus gerakan. Karenanya semua kebijakan dan program harus membawa misi tarbiyah dan dakwah,” ujarnya.
Di hadapan segenap pengurus DPW Hidayatullah dan DPD Hidayatullah se Kaltim, beliau mengajak semua harus mengikuti proses tarbiyah, mulai usia anak-anak dan santri hingga orang dewasa demi meningkatkan kualitas diri secara spiritual (ruhiyah), intelektual (‘aqliyah), dan profesionalitas.
“Setiap kader adalah dai yang berkewajiban mengemban misi dakwah kapan dan di mana pun berada,” katanya.
Ia mengingatkan, dai yang juga berperan sebagai pemimpin (informal leader), harus memiliki dua syarat yaitu integritas dan kapabilitas. Yakni dia hendaklah mempunyai kemampuan memimpin dan sifat amanah.
“Karenanya lebih mudah menjadi anggota yang baik dibanding menjadi pemimpin yang baik,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut ia juga memaparkan keputusan kebijakan dan program Hidayatullah selama ini yang memiliki 4 target umum yaitu Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM, Kaderisasi dan rekruitmen anggota, Penguatan sistem dan Kemandirian ekonomi dan keuangan.
Rakerwil Hidayatullah Kaltim 2020 mengangkat tema “Konsolidasi Wilayah untuk Pencapaian Target Organisasi” yang dijadwalkan berlangsung selama 3 hari ini dihadiri oleh pengurus DPW, DPD, organisasi pendukung, amal usaha dan badan usaha Hidayatullah. (ybh/hio)