Beranda blog Halaman 608

Pemkot Komitmen Bangun Ponpes Hidayatullah Bontang

0
Walikota Bontang Adi Darma / Bontang Post
Walikota Bontang Adi Darma / Bontang Post

Hidayatullah.or.id — Wali Kota Bontang Adi Darma berjanji akan membangun sekolah dan asrama Pondok Pesantren Hidayatullah dengan konstruksi tiga lantai pascakebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu.

Menurut Adi Darma saat mengunjungi Ponpes Hidayatullah di Bontang, pekan lalu, sejak awal Ponpes Hidayatullah telah masuk dalam perencanaan pembangunan sekolah swasta oleh Dinas Pekerjaan Umum untuk membangun pondasi di beberapa petak asrama putri dan bangunan kayu yang sudah tidak layak lagi.

“Kalau memang itu bisa kita lakukan, kenapa tidak. Dan kalaupun 2016 nanti hanya bisa dua tingkat dulu, ya kita bangun, selanjutnya kita akan buat lantai tiganya nanti,” katanya dikutip kantor berita Antara.

Namun, menurut Adi Darma, hingga saat ini pemkot masih menunggu usulan pengurus pesantren. Meskipun pembangunan pesantren atau sekolah swasta tidak masuk dalam infrastruktur pemerintah, namun dalam regulasi hibah telah diatur.

Ia berharap pihak pesantren segera mengirimkan surat permohonan agar alokasi anggaran pembangunan dapat diusulkan pada APBD 2016.

“Kami tinggal tunggu permohonan dari pihak pesantren. setelah itu tim dari Dinas PU akan turun ke lapangan untuk mengukur dan menghitung volume pembangunannya,” jelasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Adi Darma mengunjungi lokasi kebakaran asrama putri Ponpes Hidayatullah untuk memberikan bantuan pakaian dan buku. (hio/ybh)

Teladan Figur Nabi Sulaiman Membangun Peradaban Mulia

peradaban islam ilustrasiHidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dalam taushiahnya disela acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Hidayatullah di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau baru baru ini, mengutip hikmah dari sejarah figur Nabi Sulaiman Alaihissalam dalam membangun sumber daya yang seturut dengan spirit Islam untuk membangun peradaban mulia.

Diantara serpihan mutiara hikmah dari sejarah Nabi Sulaiman yang dijelaskan Ustadz Abdurrahman adalah kita harus menjadi umat pengayom, penuh kasih, dan tidak mengecilkan apapun potensi yang ada.

“Berikan rasa aman kepada siapapun, sampai “semut” sekalipun. Jangan anggap enteng karena dia “kecil”,” kata Ustadz Abdurrahman seraya menamsilkan semut yang kecil dengan segala hal yang mungkin dianggap sepele dan tidak berguna dalam perjalanan hidup kita.

Beliau juga menuturkan hikmah kisah figur Nabi Sulaiman lainnya, yakni ketegasan yang dipadu dengan kebijaksanaan. Hal ini kemudian melahirkan budaya disiplin yang tinggi.

“Jangan ada anggota yang “bergerak” tanpa izin, karenanya ketika seekor burung Hud-hud tidak terlihat dalam sebuah forum, langsung diancam (oleh Nabi Sulaiman),” lanjut beliau.

Karena itu, Nabi Sulaiman pun menerapkan aturan yang cukup ketat dalam rangka menegakan kedisiplinan tersebut. Kalau ada yang berpotensi melanggar akan diingatkan bahkan dihukum apabila terbukti melanggar.

Dari kisah tersebut juga mengandung intisari penting tentang pentingnya kesadaran diri mencakup potensi, kemampuan, dan peran. Sehingga kemudian akan melahirkan sikap yang tidak emosional atau reaksioner.

Ustadz Abdurrahman lalu mengajak untuk sama mencermati penjelasan Ratu Balqis kepada stafnya sebagaimana ternukil dalam Al Qur’an surah An Naml [27]: 34, dimana salah satu hikmahnya jika kita melawan arus besar, akan dibinasakan dan orang-orang mulia akan dihinakan.

“Intinya, jangan pernah melawan arus besar. Pandai-pandailah mengukur diri, kita sering merasa besar, karena terkurung oleh tempurung,” ungkap beliau mengingatkan.

“Demonstrasi dan semacamnya yang kita kenal sekarang ini, guna melawan arus besar tanpa mengukur diri, bukanlah peradaban Islam. Yang baru kena gas air mata sudah melempem, apa lagi kalau lebih dari itu,” pungkasnya.

Pimpinan Pusat Hidayatullah menggelar acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang dihadiri oleh unsur pengurus Hidayatullah mulai dari PW, Ortom, dan sebagainya. Acara ini digelar guna membahas dan mensosialisasikan hal-hal penting lainnya dalam rangka persiapan menghadapi kegiatan Musyawarah Nasional ke-IV Hidayatullah di Balikpapan, November mendatang. (ybh/hio)

Pesantren dan Madrasah Jadi Oase Masyarakat Perkotaan

0
Suasaan pengajian sebelum berbuka puasa di Yayasan Marhamah Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur
Suasaan pengajian sebelum berbuka puasa di Yayasan Marhamah Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur

Hidayatullah.or.,id – Keberadaan lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren dan madrasah yang mampu tumbuh pesat di tengah masyarakat perkotaan patut menjadi kebanggaan. Demikian dikatakan Menteri Agama Lukman Hakin Saifuddin.

“Saat ini trend-nya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain sebagainya, keberadaan lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan seperti pesantren dan madrasah menjadi semacam oase baru masyarakat perkotaan,” kata Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutan tertulisnya di Jakarta dikutip laman Kemenag, Selasa (8/9).

Menang, dalam laman Kemenag yang dikutip Rabu mengatakan fenomena ini tentu menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan eksistensi lembaga pendidikan Islam kedepan.

“Ke depan, pesantren yang berada di perkotaan tantangannya semakin besar hal ini seiring tuntutan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan dalam konteks persaingan modernisasi dan globalisasi,” ujar Menag.

Menag berharap, sebagai lembaga tafaqquh fiddin, dalam konteks pesantren perkotaan, pesantren dapat menjadi pusat konsultasi keagamaan yang berbasis rahmatan lil ‘alamin.
“Pondok pesantren dapat mengajarkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah,” ucapnya. (ybh/hio)

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1436 Hijriyah

0

Berikut ini naskah khutbah Idul Adha 1436 Hijriyah rilis PP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin. File dalam bentuk PDF, sehingga pastikan di komputer anda telah terinstal aplikasi  “Acrobat Reader” untuk dapat membaca file. Terima kasih.

DOWNLOAD

Buletin Hidayatullah Edisi September 2015

cover bulhid September 2015BACA dan ikuti berita lengkap Buletin Hidayatullah edisi September 2015 dengan tampilan layout yang lebih fresh. Bagi yang belum mendapatkan filenya dapat mengunduhnya di sini.

BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome atau Baidu Sparkketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BACA BULETIN HIDAYATULLAH SEPTEMBER 2015, KLIK DI SINI!

LIPIA Buka Peluang Kerjasama dengan Hidayatullah

lipia jakartaHidayatullah.or.id — Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang berada di bawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh, Saudi Arabia, membuka peluang kerjasama bidang pendidikan dengan ormas Hidayatullah.

Hal itu disampaikan oleh Dekan Diploma LIPIA Syaikh Sulaiman ibn Ali ar-Rayyis saat berkunjung secara khusus ke Pesantren Hidayatullah Balikpapan untuk mengadakan muqabalah (tes wawancara) kepada sejumlah santri Hidayatullah Balikpapan, akhir Agustus (22/08/2015) lalu.

Syaikh Sulaiman berharap ada jalinan kerjasama yang lebih intens antara LIPIA Jakarta dan Hidayatullah dalam mengembangkan pengajaran bahasa Arab.

“LIPIA membuka diri untuk menampung mahasiswa yang ingin memperdalam bahasa Arab dan ilmu keislaman lainnya.” Ucap Sulaiman seperti rilis yang diterima redaksi dikirim Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan (LPP) Hidayatullah Balikpapan, Abdul Ghofar Hadi, belum lama ini.

Di hadapan warga Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Sulaiman menyatakan bahwa sejak awal berdiri LIPIA telah berkomitmen untuk mengajarkan bahasa Arab sebagai kontribusi LIPIA terhadap perkembangan dakwah dan pendidikan di Indonesia.

“Bahasa Arab bukan sekedar bahasa persatuan umat Islam, tapi juga sebagai bahasa al-Qur’an dan jati diri agama Islam,” ungkap Syaikh Sulaiman didampingi Umar Makka, Lc, M.Pd.I yang juga dosen pengajar di LIPIA.

Dalam kunjungan sehari tersebut, Sulaiman juga menyampaikan apresiasi atas upaya Pesantren Hidayatullah yang dinilainya concern dengan pembinaan masyarakat melalui program dakwah dan tarbiyah.

Lebih jauh, Sulaiman juga menerangkan secara ringkas profil program Diploma Pendidikan yang kini dikepalainya di LIPIA Jakarta.

Menurut Sulaiman, program Diploma lebih khusus akan mempelajari metode pengajaran bahasa Arab dan bukan sekedar belajar dasar bahasa Arab seperti tingkatan I’dad Lughawi (persiapan bahasa Arab) atau Takmili (penyempurnaan bahasa Arab).

Untuk itu, kelas Diploma mempersyaratkan program tersebut khusus bagi dosen bahasa Arab atau guru-guru yang telah mengajar bahasa Arab sebelumnya.

Sedianya perkuliahan akan berlangsung selama setahun dengan perkuliahan intensif lima hari dalam sepekan. “Calon mahasiswa dipersyaratkan sudah punya pengalaman mengajar bahasa Arab sebelumnya” Imbuh Sulaiman.

Sekedar informasi, sebanyak 11 orang santri putra-putri Hidayatullah Balikpapan dinyatakan lulus untuk melanjutkan pendidikan di Progam Diploma Pendidikan di perguruan tinggi yang banyak melahirkan orang-orang besar di Indonesia ini. */ Masykur

Spirit Nubuwwah Lahirkan Semangat Kemenangan

hidayatullah syuro di batamHidayatullah.or.id — Sejarah Islam, yang dimulai dari perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam (nubuwwah), dilanjutkan dengan para Sahabat, lalu tabiin, tabiit tabiin, dan para Salafus Shaleh, tak bisa dipungkiri mampu memberikan spirit perjuangan bagi kaum Muslim.

Demikian juga perjalanan sejarah Hidayatullah, dari awal hingga sekarang ini, harus mampu memberikan semangat kepada generasi sekarang dan generasi selanjutnya.

Demikian tauhsiah disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad saat pembukaan sidang pleno Majelis Syuro Hidayatullah di Batam, Selasa, 8 Oktober 2015.

“Kalimat inilah yang dibawa oleh Nabi Musa AS ketika disuruh oleh Allah Subhahnahu Wata’ala untuk menghadap Fir’aun, raja yang mengaku dirinya Tuhan. Siapa yang lebih ditakuti di dunia ini kecuali Fir’aun? Namun, dengan kalimat La ilaa ha illalah, Nabi Musa AS mampu mengalahkan Fir’aun,” kata beliau.

Sejarah Hidayatullah dari awal hingga sekarang juga telah membuktikan hal tersebut. Keyakinan yang teguh bahwa jalan dakwah yang ditempuh sekarang ini adalah jalan yang benar, membuat Hidayatullah bisa bertahan, bahkan terus bakembang hingga seperti sekarang ini, ujarnya.

Sejarah juga mencatat bahwa dalam perjalanannya, Hidayatullah selalu didekatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada begitu banyak persoalan dunia. Persoalan-persoalan ini akan selalu mengiringi perjalanan Hidayatullah dan seluruh kaum Muslim di dunia hingga akhir zaman.

Saking banyaknya masalah tersebut, kata Ustadz Abdurrahman Muhammad, setiap kali mata kita berkdip, masalah baru telah muncul.

Bellaiu mengutip salah satu Hadits Nabi yang mengatakan, “Katakanlah Laa ilaaha illallah, pasti menang.”

“Kita harus mampu mewariskan spirit tersebut kepada generasi yang akan datang. Ini tantangan kita ke depan,” pungkas beliau.*Mahladi

Mewaspadai Inkonsistensi

inconsistentSESUNGGUHNYA syariat yang diturunkan oleh Allah Ta’aala kepada kita ada yang bersifat Ibadah yaumiyah (ibadah harian), seperti shalat fardhu.

Ada ibadah usbuiyah (ibadah pekanan), puasa hari Senin dan Kamis. Lalu ibadah syahriyah (ibadah bulanan), seperti puasa pada hari-hari putih untuk menghilangkan kedengkian hati. Dilakukan pada tanggal 13, 14, 15, pada bulan Qamariyah.

Kemudian ada yang dinamakan ibadah ‘amiyah (ibadah tahunan) seperti puasa Ramadhan. Dan ada pula ibadah marrotan fil ‘umri (ibadah sekali seumur hidup) yakni  melakukan ibadah haji.

Semua ibadah yang kita lakukan bertujuan agar dalam kehidupan kita terwujud ritme spiritual yang konstan. Sehingga seluruh rangkaian kehidupan ini kita persembahkan untuk Allah Ta’aala dan dalam rangka mengagungkan syi’ar-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengagungkan Allah adalah orang yang paling bertakwa hatinya (QS. Al Hajj (22) : 32).

Jadi, seluruh rangkaian ibadah yang kita lakukan adalah sebagai wasilatut taqarrub, tabattul, tawajjuh ilallah. Media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai terjadi ibadah yang kita lakukan sebagai wasilatut taba’ud ‘anillah (media untuk menjauhkan diri kita kepada Allah).

Sebagaimana iblis, ia sudah mencapai ma’rifat kepada Allah Ta’aala, tetapi membangkang perintah Allah, mengajak jauh dari-Nya. Ma’rifat yang melahirkan kedurhakaan. Sejak saat itu iblis divonis oleh Allah termasuk makhluk yang kafir (QS. Al Baqarah (2) : 34). Setelah menyembelih hewan kurban, kita juga disunnahkan untuk mengumandangkan takbir.

Daging dan darah hewan kurban itu tidak sampai kepada Allah. Yang sampai kepada Allah hanyalah niat ikhlas kalian. Begitulah Allah tundukkan hewan kurban itu kepada kalian agar kalian selalu mentauhidkan Allah sesuai dengan cara-cara yang diajarkan kepada kalian. Wahai Muhammad, gembirakanlah hati orang-orang yang melakukan ibadah haji dengan ikhlas (QS. Al Hajj (22) : 37)

Demikian pula setelah Allah menjelaskan kewajiban puasa, Allah mengakhiri firman-Nya:

Hendaklah engkau sempurnakan bilangan (puasa itu) dan besarkanlah Allah atas petunjuk-Nya padamu supaya kalian bersyukur (QS. Al Baqarah (2) : 185).

Merujuk ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran fundamental bahwa setelah menunaikan ibadah puasa dengan sempurna, kita harus membesarkan, mengagungkan, menomorsatukan Allah Ta’aala dan bersyukur kepada-Nya.

Demikian pula, bahwa dalam kehidupan keseharian muslim kita mulai (start) dari takbir dan kita akhiri (finish) dengan tasyakur. Kita kuatkan hablun minallahi dan kita akhiri dengan berbagi kebahagiaan dengan sesama (hablun minannasi).

Takbir artinya menghujamkan di dalam hati, ucapan, dan aktifitas kita, bahwa Allah Ta’aala yang Maha Besar. Dan mengecilkan selain Allah. Allah adalah Al Khaliq (Pencipta). Manusia adalah al Makhluq (yang diciptakan). Allah adalah al ‘Alim (Maha ‘Alim), sedangkan manusia adalah jahil (bodoh). Allah adalah al-Akrom (Maha Mulia), sedangkan manusia adalah dzalil (hina). Allah adalah Al Haq (Maha Benar). Sedangkan manusia adalah mahallul khothoi wan nisyan (tempat salah dan lupa).

Dalam ibadah shaum, takbir kita cerminkan dengan mengelola dan mengecilkan hawa nafsu. Atau menghidupkan kebesaran Allah di dalam hati kita. Ketika membaca Al-Quran, kita mengecilkan semua kalam manusia. Dan hanya membesarkan kalamullah (firman Allah) dan kalimatullah (tulisan Allah).

Ketika kita berdiri shalat malam, kita kecilkan seluruh urusan dunia. Dan hanya membesarkan, memandang penting perintah Allah. Kita bangun malam sekalipun dalam kondisi enak-enaknya tidur. Seluruh ibadah kita adalah bertujuan mengagungkan Asma Allah. Dan mengecilkan makhluk-Nya. Wajah kita yang paling kita hormati, hanya kita tundukkan kepada Allah Ta’aala.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah shoum, kita masih diperintahkan oleh Allah untuk bertakbir. Bukankah dalam shiyam dan qiyam Ramadhan kita sudah membesarkan Allah Ta’aala?. Bukankah pada malam ‘Idul Fitri kita sudah dianjurkan untuk mengumandangkan takbir?. Mengapa kita harus bertakbir lagi, membesarkan Allah Ta’aala?.

Allah Maha Tahu, kita sering bertakbir dalam ibadah mahdhah kita. Tetapi, kita melupakan Allah (tidak bertakbir) dalam ibadah mu’amalah dan mu’asyarah kita. Kita bertakbir di rumah Allah, tetapi kita tidak bertakbir di rumah tangga kita sendiri.

Kita bertakbir dalam ibadah ritual, formal, tetapi kita tidak bertakbir dalam ibadah sosial kita. Kebanyakan manusia menceraikan Allah dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, dll. Kita siap dikomando Allah ketika kita shalat, tetapi kita melupakan Allah ketika kita di pasar, mall, halte, gedung parlemen, tempat rekreasi. Bahkan, sangat ironis, kita bersama Allah ketika bersama-sama, tetapi kita menipu Allah ketika kita sendiri.

Di masjid kita Agungkan Allah, di luar masjid kita agungkan hawa nafsu, ambisi, kekuasaan, kepentingan pribadi, ilmu dan pengaruh kita. Sehingga, kita ganti kesucian takbir dengan kotoran takabbur. Kita ganti sikap tawadhu’ dengan congkak. Kita ganti akhlakul karimah dengan al akhlakul mazmumah (akhlak yang tercela). Kita ganti kesucian hati dengan kekotoran hati. Kita ganti persahabatan dengan permusuhan. Kita ganti yang ma’ruf (kebaikan yang dikenali hati) dengan mungkar (kejelekan yang diingkari hati).

Ketika kita duduk di kantor, kita campakkan perintah-perintah Allah Ta’aala. Kursi, posisi, komisi, yang seharusnya kita gunakan untuk memakmurkan negara, melayani rakyat, membela yang lemah, menyantuni yang memerlukan pertolongan, kita manfaatkan untuk memperkaya diri. Mempertahankan status quo.

Kita bangga kalau kita menyalahgunakan fasilitas kantor. Kita bangga jika melihat rakyat yang kita layani merengek-rengek, bersimpuh, berdesak-desakan memohon belas kasihan kita. Kita besar kepala ketika banyak orang yang memuji kita. Kita benci orang yang mengingatkan kita, sekalipun benar.

Kita bangga jika dengan –sedikit kecerdikan dan rekayasa– kita sukses menumpuk keuntungan dan pundi-pundi kekayaan, sekalipun harus mengorbankan orang lain. Kita tersenyum di atas penderitaan orang banyak. Kita senang, berbahagia di atas penderitaan sebangsa dan setanah air. Di kantor, kita singkirkan takbir, dan kita agungkan takabur.

Ketika kita bersaing merebut pasar dan konsumen, ketika kita menjalankan bisnis, seakan-akan Allah Ta’aala absen di dalam hati nurani kita. Kita menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan, sekalipun harus menyengsarakan orang lain, mematikan pasar pihak lain.

Berkorban sekecil mungkin, untuk memperoleh bonus sebesar-besarnya. Inilah teori dan praktek ekonomi kapitalis. Kita lupakan Allah setelah bulan puasa. Kita balas dendam setelah lapar berpuasa. Kita lupa terhadap syariat Allah Ta’aala, bahkan kita abaikan suara hati kita sendiri. Karena, di depan mata akan terpampang simbol kekayaan dan kemewahan.

Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa urusan harta kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahuinya (QS. Al Baqarah (2) : 188).

Menakar Kualitas Takbir Kita

Di tengah-tengah masyarakat kita tidak lagi mendengar taujih Ilahi yang mengajarkan kejujuran, keimurnian niat, kasih sayang, amal shalih. Sebaliknya, dengan setia kita mengamini petunjuk iblis untuk melakukan penipuan, kemunafikan, dan kekerasan hati, dan penindasan.

Kita meremehkan keadilan dan kita kedepankan kezaliman. Allah yang kita besarkan dalam doa dan shalat kita, ternyata kita lupakan dalam realitas kehidupan kita sehari-hari. Dalam puasa kita menahan diri dari memakan makanan dan minum minuman yang halal, tetapi kita berbuka dengan makanan dan minuman yang haram.

Bibir kita kering karena kehausan, perut kita kempes karena menahan lapar, tetapi tangan-tangan kita kotor karena menjahili orang lain. Anggota satu tubuh digunakan dengan perbuatan yang kontradiktif. Kita fasih membaca al Quran, mengaji, tetapi fasih pula menggunjing saudara kita.

Di masjid kita bertakbir, di tengah pergaulan kita takabur. Di tempat ibadah kita bersyukur, di tengah kehidupan individu, keluarga, sosial, kita kufur nikmat. Orang lain melihat inkonsistensi dalam sikap kita. Banyak orang yang khusyu’ shalatnya, khusyu’ pula merampas hak orang lain, memalsukan angaka-angka.

Banyak orang yang puasa, tetapi dia juga melakukan kezaliman, membunuh, menjuluki orang lain dengan julukan jelek. Banyak orang puasa, bagus ketika menjadi pemimpin, tetapi berubah sikapnya ketika turun dari jabatan. Banyak orang yang puasa, siap sukses, tetapi tidak siap menderita.

Ya Allah, ampuni kesalahan, kealpaan, kelalaian, kekhilafan kami. Wahai Zat yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Kami mohon pertolongan dan petunjuk-MU, agar kami dapat melanjutkan takbir dalam ibadah kita, menuju menggemakan takbir dalam seluruh aspek kehidupan kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

Setelah perintah takbir kita disuruh tasyakur. Takbir (Membesarkan Allah) dirangkaikan dengan bersyukur terhadap karunia dan nikmat-Nya. Setelah kita takbir disusul dengan salam. Untuk membuktikan bahwa kecintaan Allah kepada kita, dengan indikator lingkungan sosial at home dengan keberadaan kita.

Dengan bertakbir, lingkungan terdekat kita tidak kita pandang sebagai ancaman, rivalitas, tetapi kita persepsikan sebagai mitra, anugerah, yang kita syukuri. Dengan bertakbir kita memiliki gambaran positif terhadap diri kita dan orang lain. Sehingga kita dilantik oleh Allah menjadi shalih ritual dan shalih sosial. Orang shalih adalah orang yang menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak anak Adam (al Qoim bi huquqillah wal qoim bi huquqil adami), meminjam istilah tafsir Ash Showi.

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) menegakkan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (QS. An Nur (24) : 37).

Komponen Tasyakur

Menurut Imam Al Ghozali bahwa ada tiga komponen tasyakur.  Yaitu, ‘ilmu, hal dan amal shalih.

Komponen Pertama : ‘Ilmu. Dengan bekal ini menunjukkan kesadaran yang mendalam kepada kita betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita.

Sejak fase kehidupan kita berupa janin, dihindarkan dari panas, dingin, dan gangguan suara, dijamin rizki kita. Fase shoby (bayi), thifl (anak-anak), murahiq (remaja), khulah (dewasa), dan syaikh (usia lanjut). Allah-lah memberikan apa saja yang kita minta.

Allah telah memberikan kepada kalian apa saja yang kalian minta kepada-Nya. Jika kalian mau menghitung nikmat Allah, pasti kalian tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu berlaku zalim dan kufur (QS. Ibrahim (13) : 34).

Kita bersyukur kepada Allah Ta’aala karena kita menyayangi diri kita. Sedangkan diri ini diciptakan oleh Allah. Diri yang diciptakan oleh Allah, jika kita bisa menjadikan diri ini bersyukur dan beriman, Allah Ta’aala membeli diri kita dengan surga. Alangkah Rahman dan Rahimnya Allah.

Sungguh Allah membeli jiwa dan harta orang-orang mukmin dengan pahala surga (QS. At Taubah (9) : 111).

Kita ibarat tukang parkir. Kita memelihara titipan para pemilik mobil dengan sebaik-baiknya. Setelah selesai memarkirkan kendaraan, mobilnya diberikan kepada kita secara cuma-cuma (majjanan). Betapa dermawannya pemilik mobil itu. Allah Ta’aala lebih dermawan dari pada orang yang paling dermawan.

Atas rahman dan rahim Allah, kita bisa bertahan dan mempertahankan kehidupan sampai hari ini. Banyak saudara kita pada tahun yang lalu bersama kita, sekarang sudah kembali kepada-Nya. Berkat kasih dan sayang-Nya kita bisa beribadah, bekerja, dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab, melakukan aktifitas kita sehari-hari.

Banyak saudara kita pada saat ini tidak dapat berpisah dengan pembaringannya karena diuji dengan sakit. Banyak anak-anak cerdas yang tidak melanjutkan kuliah. Banyak bayi mungil yang kehilangan dekapan kasih sayang ibunya, karena tidak bisa meninggalkan rumah majikannya.

Dan hanya dengan pertolongan Allah Ta’aala jua kita bisa berpuasa, beribadah, bertakbir, dan bersyukur kepada-Nya.

Sekiranya bukan karena karunia dan belas kasih Allah kepada kalian selamanya tidak seorang pun diantara kalian selamat dari gangguan setan (QS. An Nur (24) : 21).

Komponen Kedua : Yaitu, Hal. Mencerminkan sikap kita terhadap nikmat Allah.    Kita bersikap senang karena Allah yang selalu menolong kita pada saat yang kita perlukan.

Sepatutnya semua kebaikan yang diberikan kepada kita, kita balas. Jika kita tidak mampu, minimal kita selalu menyebut pemberiannya. Kita bersyukur kepada Allah Ta’aala karena Dia yang mengantarkan diri kita hingga sekarang ini. Dengan keadaan seperti ini. Di tempat yang penuh barakah ini.

Hendaklah kamu (berbahagia) bila memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri (suami) mukmin yang membantumu dalam urusan akhirat (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Komponen Ketiga : Amal shalih. Amal diwujudkan dalam seluruh anggota tubuh kita. Anggota badan kita diberdayakan untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Anggota badan kita digunakan untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan Sang Pemberi. Jika diri kita enggan beribadah, berarti kita tidak menyayangi pemberian-Nya.

Menurut Imam Al Ghozali bersyukur adalah: Menggunakan nikat-nikmat Allah untuk mentaati-Nya serta menjaga agar tidak menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk berbuat maksiat kepada-Nya (Ihya : 4, 72).

Kita disebut bersyukur jika posisi, harta, ilmu, pengaruh, tenaga, yang kita miliki dikelola sebaik mungkin untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Allah akan meminta pertannggungjawaban, masa muda kita habiskan untuk apa, harta yang kita miliki bersumber dari mana dan dibelanjakan untuk apa, umur yang kita habiskan dimanfaatkan untuk apa?.

Kemudian pada hari kiamat, kalian akan ditanyai tentang semua nikmat yang telah kalian terima di dunia ini secara rinci (QS. At Takatsur (102) : 8).

Allah mengajarkan sikap tasyakur yang benar kepada kita. Dan nikmat Tuhanmu, kabarkanlah (QS. Adz Dhuha (98) : 11).

Nikmat yang kita peroleh kita kabarkan. Agar orang lain ikut merasakannya. Jika kita berkuasa, kita melindungi (ngayomi), melayani (ngayahi), mengangkat derajat (ngajeni), merawat (ngopeni), masyarakat yang kita pimpin.

Jangan sampai kelebihan yang kita miliki ini digunakan untuk membodohi yang bodoh, menindas yang lemah, merampas hak-hak mereka dengan cara yang batil.

Jika kita berharta, kita usahakan agar orang-orang yang lemah (dhu’afa) dan tertindas (mustadh’afin) ikut tersenyum (wong cilik melu gemuyu). Kita belikan pakaian orang yang telanjang. Kita beri minum orang yang kehausan. Kita beri makan orang yang kelaparan. Kita beri pekerjaan orang yang terkena PHK. Dengan cara ini kita dinilai oleh Allah Ta’aala  menjadi orang kaya yang bersyukur.

Jika kita memiliki ilmu, kita semakin tawadhu. Dan kita manfaatkan ilmu kita untuk menerangi yang kegelapan, memandu orang yang tersesat, memberi petunjuk kepada orang yang kebingungan. Mencerdaskan orang yang bodoh. Kita tidak sekedar ada, tetapi hadir di tengah-tengah kehidupan.

Ketika Musa bertanya kepada Allah, Ya Rabb, dimanakah aku mencari-MU. Allah Ta’aala  menjawab, carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya terluka.

Jika kita memiliki titipan tenaga yang kuat, kita optimalkan untuk memapah orang yang lemah, menguatkan orang berjiwa kerdil, memagari agama Allah dari gangguan dan ancaman musu-musuh-Nya.

Kata ahli hikmah : Kualitas kita tidak ditentukan dari posisi dan pendapat kita, tetapi diukur dari peran penting dan kontribusi kita (al ‘ibratu la bil manashibi wa la bil wazhaaifi, walakin biddauri wal ‘atha’i).

Rasulullah Saw bersabda:

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Amal yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang yang beriman, mengenyangkan yang lapar, melepaskan kesulitan atau membayarkan hutang” (HR. Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Nashaihul ‘Ibad : 4).

Al Quran dimulai dengan  –Bismillah– dan ditutup dengan nama manusia (anNaas). Puasa Ramadhan dimulai dengan menahan makan dan minum ditutup dengan zakat fitrah. Shalat dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Bukankah itu semua menunjukkan bahwa amal seorang muslim selain diawali dengan takbir, dan diakhiri dengan tasyakur. Dimulai dengan membesarkan, mengagungkan, menomorsatukan Allah Ta’aala dan diakhiri dengan mendatangkan manfaat kepada semua manusia. Kaffatan linnas wa rahmatan lil ‘Alamin.

___________

USTADZ SHOLEH HASYIM, Penulis adalah anggota Dewan Syura PP Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah.

Ketum Buka Studium General STIE Hidayatullah Depok

stadiumHidayatullah.com — Ketua Umum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan, MM, membuka secara resmi perkuliahan perdana (studium general) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Kota Depok, Jawa Barat. Kuliah perdana ini mengusung tema “From Campus To be An Entrepreneuer” digelar di Aula STIE Hidayatullah, Depok, Sabtu (5/9/2015).

Stadium general terbuka ini menghadirkan pembicara yakni Vice President Head of Area Syariah II Yaya RC Pujiharto dan Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) Asih Subagyo.

Ketua Umum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan, MM, dalam sambutannya saat membuka perkuliahan perdana tahun akademik 2015/2016 ini, mengatakan setiap orang dituntut untuk mandiri lebih-lebih seorang mahasiswa.

Ustadz Abdul Mannan berseloroh, cacing saja yang hidup di tanah bisa hidup, apalagi seorang mahasiswa yang memiliki otak untuk berfikir, mestinya bisa lebih survive lebih dari sekedar seekor binatang melata.

“Rasulullah Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam sebelum menjadi Nabi bahkan telah ditempa untuk hidup mandiri. Nabi Muhammad melalui lima fase untuk menempa mental kewirausausahaannya,” kata beliau.

Fase pertama yang dilalui sosok Muhammad adalah masa keyatiman. Sifat anak yatim mendasar adalah manja atau bergantung pada orang lain. Tetapi Muhammad dengan keyatimannya, dia tidak manja. Justru pada fase ini Muhammad telah menjadi figur mandiri dengan bekerja keras sebagai pengembala.

“Saya bilang gila juga ini kita selalu impor sapi, nanti untuk Qurban juga begitu. Ini artinya bangsa Indonesia yatim mentalnya,” ungkapnya dengan nada berguyon.

Karenanya, menurut Ustadz Mannan, dengan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas, seharusnya bisa dipetakan mana wilayah di Indonesia yang cocok untuk peternakan seperti NTB, lalu dibuatlah peternakan luas di sana.

“Kalau Austalia bisa buat peternakan sapi dengan luas satu kampung, kita seharusnya bisa buat lebih dari itu,” ujarnya.

Beliau menjelaskan, yatim ada dua jenis. Yakni yaitm biologis dan yatim psikologis. Bangsa Indonesia saat ini, lanjutnya, masuk dalam kategori yatim psikologis karena ketergantungannya pada komoditi impor yang sebenarnya sangat mungkin dan mendukung untuk dihasilkan sendiri.

“Secara teritorial kita sudah merdeka, tapi secara mental belum merdeka,” imbuhnya.

Kata beliau, Rasulullah Muhammad adalah teladan manusia sukses sebagai wirausahawan berkarakter setelah melawati penempaan fase keyatiman, fase berdagang, fase berkhadijah, dan kemudian fase bergua Hira’.

Lebih jauh Ustadz Abdul Mannan mengingatkan bahwa perguruan tinggi Hidayatullah tidak semata berorientasi pada kuantitas mahasiswa, tetapi berfokus pada kualitas. Dia menegaskan, perkuliahan akan terus berlanjut kendati hanya ada segelintir mahasiswa berkualitas. Ketimbang banyak mahasiswa tapi bermental inferior.

“STIE Hidayatullah tidak prioritas pada mahasiswa yang kelihatannya cerdas dan pintar sekali tapi tidak beres mentalnya. Justru banyak yang keliahatan sepertinya buntu dan tidak mampu mengikuti perkuliahan tapi setelah lulus ternyata mampu bersaing dan kelihatan karyanya,” ujar beliau.

Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa STIE Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah lima waktu di masjid bahkan dianjurkan untuk bangun tahajjud setiap malam.

“Kalau ada mahasiswa yang tidak bangun tahajjud tiga kali berturut-turut, akan dikeluarkan,” imbuhnya bernada berguyon dengan tanpa bermaksud mengurangi penekanan pentingnya aturan tersebut.

Sementara itu, Vice President Head of Area Syariah II Yaya RC Pujiharto dalam pemaparannnya mendorong mahasiswa mendalami keilmuan dan praktis perbankan dan keuangan syariah.

Menurut Yaya, saat ini perbankan syariah membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki skill dan pengetahuan namun juga memiliki kecakapan syariah. Apalagi menurut dia kebutuhan SDM perbankan terus mengalami kelonjakan setiap tahunnya seiring kecenderungan positifnya pertumbuhan sektor ini.

Yaya mengakui perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi di ilmu ekonomi syariah belum cukup memenuhi kebutuhan pasar yang ada. Karenanya dia berharap STIE Hidayatullah dapat melahirkan tenaga-tenaga profesional di bidang keuangan syariah.

“Saya sangat appreciate. Sebab sedikit banyak saya juga banyak memonitor STIE Hidayatullah atau BMH secara keseluruhan. Dan, saya sangat kagum karena kalau saya perhatikan dan melihat program-programnya dan saya selalu dapat buletinnya segala macam, kesimpulan saya BMH adalah lembaga sosial yang sangat tangguh,” ujar Yaya.

Kata Yaya, sinergi dengan Laznas BMH yang memberi beasiswa sepenuhnya kepada mahasiswa STIE Hidayatullah adalah sinergi yang positif. Dia pun berharap program pengiriman dai dan tenaga profesional di bidang manajemen dan akuntansi lulusan STIE Hidayatullah dapat terus berkesinambungan.

“STIE Hidayatullah karena masih baru ke depan harus bisa lebih mengekspos bahwa kami adalah lembaga pendidikan yang berorietasi pada wiraswasta. Dengan begitu STIE Hidayatullah semakin eksponen dan secara spesifik STIE hidayatillah saya kira memang sangat khas,” pungkasnya. (ybh/hio)

Adi Sasono Dorong Syabab Hidayatullah Kuat Mandiri

adi sasono pp syabab dan adi sasonoadisasonoHidayatullah.or.id — Tokoh nasional yang juga mantan Menteri Koperasi dan UKM era Kabinet Reformasi, Adi Sasono, menerima kunjungan silaturrahim dan audiensi pengurus Pimpinan Pusat Syabab Hidayatullah di kantornya di Gedung Arthaloka Lt.9 Jalan Jenderal Sudirman Kav.2 Jakarta Pusat, Kamis.

Hadir dalam kesempatan silaturrahim tersebut Sekjen PP Syabab Hidayatullah Soehardi Soekiman, Kepala Biro Humas Ainuddin Chalik, dan Ketua PW Syabab Hidayatullah Jabodetabek, Mazlis Mustafa. Ketua PP Hidayatullah Asih Subagyo turut mendampingi anak-anak muda ini.

Dalam pengantarnya Syabab Hidayatullah mengutarakan terimakasih atas kesempatan audiensi yang diberikan, seraya mendoakan semoga salah satu tokoh penting gerakan reformasi ini tetap selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah Ta’ala.

Selain dalam rangka mengutarakan maksud untuk mengundang beliau menjadi pembicara dalam helatan acara seminar nasional yang rencananya akan digelar Syabab Hidayatullah bulan Oktober mendatang, rombongan Syabab Hidayatullah juga banyak menggali ilmu dan nasihat dari tokoh penggerak koperasi ini.

Dalam sambutannya, Adi Sasono mengingatkan bahwa anak muda adalah harapan umat dan bangsa. Beliau pun mendorong Syabab Hidayatullah untuk membangun semangat kemandirian. Karenanya, beliau mendorong kalangan muda untuk tidak berhenti berfikir kreatif untuk kemaslahatan banyak orang.

Ia mengingatkan, di masa orde baru, Islam kerap kali disingkirkan. Namun, sekarang ini umat Islam bisa berjuang tidak seperti masa lalu tanpa harus khawatir didiskriminasi.

“Secara umum, kita bisa leluasa berdakwah. Yang pakai kerudung juga sudah banyak di kampus-kampus. Kita harus meneruskan perjuagan pendahulu,” katanya.

Beliau menegaskan, masa depan kita tergantung kita, bukan tergantung orang lain. Kata beliau, kita bisa nggak mensyukuri nikmat dari perubahan zaman ini dengan cara berbuat nyata untuk melakukan perbaikan kekuatan kita.

“Di dunia ini tidak ada yang gratisan, kalau anda lemah ya ditindas. Kalau anda mau diadudoma, ya dilemahkan,” imbuhnya.

Dia menyebutkan, penjajah Belanda bahkan hanya ada 200.000 yang datang ke Indonesia sebagaimana statistik tahun 1930, dan saat itu rakyat kita sudah 60 juta.

“Tapi kenapa Belanda bisa menjajah kita. Karena politik devide et impera kan. (Doktrinnya) pecah belah dan kuasailah. Akhirnya kita malah berbarung sendiri. Kita dijajah karena kalah pinter,” ujarnya.

Jepang bisa dibilang tidak punya sumber daya apapun. Kolonial juga begitu, tanahnya sedikit. Tapi kata Adi Sasono, mereka bisa menjadi kekuatan ekonomi dunia.

“Jadi kita tidak usah nengok keluar, kita lihat ke dalam aja. Ke dalam kita memperkuat diri kita dengan landasan idelologis, ukhuwah, dan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi supaya kita bisa bersaing dengan orang lain. Anda tidak akan dikasih gratis untuk kemajuan anda,” pungkasnya. (ybh/hio)