Beranda blog Halaman 650

Pilih Ijtihad, Tarjih atau Taqlid?

ijtihadMUSLIM di mana saja, di sepanjang sejarah ada yang malas menuntut ilmu, sehingga ia tetap berada dalam alam kebodohan. Ada yang berusaha untuk keluar dari alam kebodohan ini dengan menuntut ilmu.

Dari orang-orang yang memiliki kesadaran ini, ada yang memiliki kemampuan tinggi, kesempatan dan kesungguhan ada yang memiliki kesempatan terbatas, kemampuan terbatas. Hasilnya dari para penuntut ilmu itu pun Allah menganugarahi kadar ilmu dan kemampuan yang berbeda-beda.

Mujtahid Mutlak

Mereka yang memperoleh tingkatan paling tinggi dalam dunia keilmuan, khususnya berkenaan dengan syariat disebut sebagai mujtahid mutlak, atau mufti mustaqil (independen) Artinya, tidak terikat dengan madzhab. Bahkan mujtahid inilah perintis madzhab. Mereka tidak hanya memiliki produk pemikiran yang berupa fiqih, tapi mereka juga menciptakan metode dalam menggali hukum-hukum syariat dari dalilnya. Orang-orang khusus ini semisal Imam Madzhab 4 serta ulama mujtahid mutlak lainnya, semisal Al Auza’i, At Tsauri, Al Laits juga 4 al Khulafa’ ar Rasyidun.

Mujtahid Madzhab

Selanjutnya tingkatan di bawah mujathid mutlak adalah mujtahid madzhab atau mujtahid mutlak ghairu mustaqil (tidak independen), yakni ulama yang tidak taklid kepada imamnya, baik dalam pendapat atau dalilnya namun tetap menisbatkan kepada imam karena masih mengikuti metode ijithad imam. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

Mereka meski tidak bermadzhab kepada hasil ijtihad imam, namun mereka masih mengikuti metode imam karena tidak mampu menciptakan metode sendiri sehingga mereka masih berada dalam lingkupan madzhab.

Ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Imam Al Muzani dan Al Buwaithi. Di kalangan muta’akhirin Imam As Suyuthi juga mengaku sampai pada derajat ini (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Mufti golongan inilah yang relevan bagi mereka perkataan Imam As Syafi’i yang melarang taklid, baik kepada beliau maupun kepada para imam lainnya, sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

Dalam madzhab Hanafi, ulama yang sampai dalam tingkatan ini adalah Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang merupakan murid Imam Abu Hanifah. (lihat, Syarh ‘Ala Jami’ As Shaghir Al Laknawi, 1/7)

Dalam madzhab Maliki ulama yang sampai pada derajat ini adalah Imam Ibnu Qasim dan Asyhab. Sebagaiamana sebelumnya Imam As Syafi’i, Ibnu Qasim dan Asyhab sama-sama menjadi murid Imam Malik, namun Imam As Syafi’i naik kemampuannya menjadi mujtahid mutlak dengan metode tersendiri, sedangkan kedua teman beliau posisinya adalah mujtahid madzhab dalam madzhab Maliki. (lihat, Nail Ibtihaj, hal. 441)

Dalam Madzhab Hanbali yang menyatakan sampai pada derajat ini adalah Qadhi Abu Ali Al Hasyimi juga Qadhi Abu Ya’la. (lihat, Sifat Al Fatwa, Ibnu Hamdan, hal. 17)

Ashab Al Wujuh

Di bawah para ulama mujtahid madzhab ada ulama ashab al wujuh, yakni mereka yang taqlid kepada imam dalam masalah syara’, baik dalam dalil maupun ushul Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disimpulkan imam dengan menyimpulkan dan menkiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (lihat Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Dari para ulama yang mencapai derajat ini adalah Imam Al Qaffal dan Imam Abu Hamid atau Ahmad bin Bisyr bin Amir, mufti Syafi’iyyah di Bashrah, sebagaimana disebutkan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al Qurdi. (lihat, Mukhtashar Al Fawaid Al Makiyyah, hal.53)

Dalam madzhab Hanafi, Abu Bakr Al Jashas digolongkan dalam kelompok ini. (lihat, Syarh Al Laknawi li Al Jami’ As Shaghir, 8/1)

Mujtahid Tarjih

Golongan ini juga disebut sebagai mujtahid fatwa, termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat ashab al wujuh, namun menguasai madzhab imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Perlu diketahui, dengan adanya mufti-mufti yang berada di atas tingkatan ini, dalam madzhab sudah banyak terjadi khilaf, baik antara imam dengan mujtahid madzhab juga disebabkan perbedaan kesimpulan para ashab al wujuh terhadap pendapat imam. Disinilah ulama pada tingkatan ini berperan untuk mentarjih.

Dalam madzhab As Syafi’i, mereka yang berada dalam tingkatan ini Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi (lihat, An Nihayah, hal. 7 dan Al Bughyah, hal. 7)

Hal ini nampak dalam corak karya Ar Rafi’i seperti Al Aziz fi Syarh Al Wajiz, juga karya Imam An Nawawi seperti Raudhah At Thalibin dan Minhaj At Thalibin. Sehingga bagi para penuntut ilmu jika ingin mengetahu perkara yang rajih dalam madzhab bisa merujuk kepada buku-buku tersebut.

Dalam madzhab Hanafi, para ulama yang masuk dalam tingkatan ini adalah Imam Al Qaduri.

Mufti Muqallid

Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit. Namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang-cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Jika tidak menemui nuqilan dalam madzhab, maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa, kecuali jika mereka memandang bahwa masalahnya sama dengan apa yang nash madzhab, boleh ia mengkiyaskannya. Namun, menurut Imam Al Haramain, kasus demikian jarang ditemui. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

Namun tentunya tidak boleh berfatwa dengan semua pendapat tanpa melihat mana yang rajih menurut madzhab. Syeikh Ba’ alawi menilai orang yang demikian sebagai orang yang bodoh dan menyelisihi ijma. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 9)

Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ar Ramli termasuk kelompok mufti muqallid, walau sebagian berpendapat bahwa mereka juga melakukan tarjih dalam beberapa masalah. (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Jika demikian, para mufti yang berada di jajaran ini akan banyak berinteraksi dengan pendapat-pendapat para mujtahid fatwa, yang telah menjelaskan pendapat rajih dalam madzhab.

Ibnu Hajar Al Haitami sendiri merupakan ulama muta’akhhirin rujukan pengikut Syafi’iyah Hijaz, Yaman, Syam, India serta Indonesia sedangkan Imam Ar Ramli merupakan rujukan Syafi’iyah Mesir.

Ulama di Atas Mufti Muqallid Harus Menguasai Ilmu yang Dimiliki Mufti Muqallid

Dalam tingkatan keilmuan, para mufti muaqallid adalah ulama yang tingkatan kemampuannya paling rendah. Otomatis para ulama yang berada di atas tingkatan ini menguasai telah menguasai ilmu para mufti muqallid, sebagaimana disebutkan oleh Imam An Nawawi bahwa para mufti selain mufti mustaqil, yang telah disebutkan di atas termasuk mufti muntasib, semuanya harus menguasai apa yang dikuasai oleh mufti muqallid. Barangsiapa berfatwa sedangkan belum memenuhi syarat di atas, maka ia telah menjerumuskan diri kepada hal yang amat besar! (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Nah, untuk sampai kepada kelompok yang paling akhir ini, yang kemampuannanya setaraf, atau sedikit di bawah Ibnu Hajar Al Haitami atau Imam Ar Ramli yang keduanya adalah faqih muhaddits perlu mujahadah yang luar biasa.

Dan dengan kemampuan kita kini, kita tinggal melihat posisi kita dalam tingkatan para pununtut ilmu di atas, apakah satu kelas dengan Imam As Syafi’i dan ulama mujtahid mutlak lainnya, atau sekelas Imam Al Muzani, atau Imam An Nawawi atau setaraf dengan Imam Ar Ramli yang merupakan ulama muqallid.

Nah, apakah kita mau ijtihad secara independen, atau berijtihad dalam madzhab, tarjih, atau memilih taqlid? Semuanya membutuhkan kemampuan dan mujahadah yang amat luar biasa, lebih-lebih sampai pada tingakatan ijtihad.*/
____________
SHOLAH SALIM, penulis adalah penuntut ilmu dan sekaligus kontributor di www.hidayatullah.com

 

 

Anomali Kartini dan Teladan Inspiratif Shahabiyah

muslimahAPRIL identik dengan Hari Kartini. Seorang pahlawan wanita yang dianggap berjasa dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan Indonesia.

Ya, walaupun istri dari RMAA Singgih Djojo Adhiningrat ini sudah meninggal 17 September 1904 silam, namanya tak ikut tenggelam. Gelar sebagai pejuang emansipasi membuatnya tak pernah mati.

Padahal —tanpa bermaksud menggugat jasanya— Kartini sejatinya hanya dikenal dari buku karya JH Abendanon berjudul Door Duisternis Tot Licht atau terjemahan Indonesianya Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armijn Pane.

Apa yang dilakukan Kartini baru sebatas wacana, belum pada tingkatan aksi. Entahlah, jika tanpa bukti buku itu, apakah nama Kartini akan harum mewangi, atau bahkan layak menyandang gelar pahlawan sejati.

Pasalnya, aksi nyatanya di bidang pendidikan, politik atau sosial tak pernah terungkap. Barangkali karena umurnya yang pendek. Ya, belum usai gagasannya untuk memajukan pendidikan kaum perempuan, Allah SWT memanggil-Nya pada usia 25 tahun. Saat itu cahaya hidayah juga sedang menggelora berkat pertemuan singkatnya dengan KH Sholeh Darat.

Sepeninggal Kartini, barulah didirikan sekolah wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Sekolah itu bernama “Sekolah Kartini”.

Menyembunyikan Kodrat

Berkat jejak gagasannya berupa kumpulan surat kepada sahabat-sahabatnya, Kartini ditasbihkan sebagai ikon pejuang emansipasi. Ironis, gelar itu disematkan justru ketika buah pikirannya ditafsirkan jauh melenceng dari kehendak Kartini. Apa yang diperjuangkannya sangat bertentangan dengan nafas emansipasi itu sendiri.

Kartini sama sekali tidak hendak menyetarakan perempuan dengan laki-laki sama persis sebagaimana yang dipahami kebanyakan perempuan masa kini. Sebaliknya, Kartini menghendaki penguatan peran perempuan sebagaimana kodratnya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak-anaknya di rumah.

Yang diinginkan Kartini adalah para perempuan mendapat akses pendidikan agar kelak mampu menjalankan kedua fungsi utamanya itu dengan sempurna. Hal ini tampak jelas dalam kutipan salah satu suratnya berikut:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Tapi lihatlah saat ini, pemikiran Kartini telah ditafsirkan kebablasan. Setelah akses pendidikan dimiliki kaum perempuan, mereka lantas menuntut lebih dari itu. Gelar, titel dan ijazah pendidikan tinggi telah menuntut perempuan untuk digaji berupa materi. Akhirnya kaum perempuan menyembunyikan kodratnya dan menyulap diri layaknya laki-laki, yakni bekerja demi materi.

Jika Kartini masih hidup, niscaya air matanya tak akan berhenti mengalir melihat kiprah perempuan masa kini yang semakin mengingkari fitrahnya.

Perempuan yang semakin malu mengakui profesinya sebagai ibu rumah tangga dan minder hanya karena tak bekerja. Perempuan yang enggan taat pada suaminya dengan alasan kesetaraan. Perempuan yang lebih bangga menjanda, menjadi single parent atau lajang mandiri. Perempuan yang dieksploitasi habis-habisan di berbagai lapangan kehidupan dengan mengabaikan tugas utamanya di rumah.

Shahabiyah Teladan Inspiratif

Tanpa mengerdilkan jasa-jasa Kartini, rekam jejak perjuangan para shahabiyah dan Muslimah generasi terdahulu jauh lebih dasyat. Gagasan dan jasa-jasa mereka begitu membumi dan inspiratif. Tak akan ada habisnya mengisahkan keunggulan generasi Muslimah mulia itu.

Contohnya Khadijah ra. Perempuan cantik dan kaya raya ini banyak dilirik pembesar Quraish untuk dipersunting, namun lebih rela dinikahi pemuda miskin bernama Muhammad.

Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun karena pengorbanannya yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasullulah SAW.

Sampai-sampai Rasul pun memuji: “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan darinyalah aku mendapatkan keturunan.”

Begitulah Khadijjah, istri sejati, Muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam. Adakah perempuan masa kini yang menyamai pengabdiannya?

Begitupun Aisyah ra, salah seorang istri Nabi dan juga cendekiawan muda. Para sahabat banyak mendulang ilmu dari beliau. Aisyah dikenal cerdas dan pandai sehingga menjadikannya termasuk al-mukatsirin (orang yang terbanyak meriwayatkan hadits).

Muslimah yang wafat pada usia 63 tahun ini telah meriwayatkan 2.210 hadits dari Rasulullah SAW. Di antaranya, 297 hadits tersebut dalam kitab shahihain dan yang mencapai derajat muttafaq ‘alaih 174 hadits. Duhai, adakah Muslimah masa kini yang mampu menandingi hafalannya di bidang hadits ini?

Adapula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi pada Perang Yarmuk. Perang antara kaum Muslimin melawan pasukan Romawi (Bizantium), negara super power saat itu, terjadi pada 13 H/ 634 M. Dalam perang besar itu Asma binti Yazid bersama kaum Mukminah lainnya berada di barisan belakang laki-laki.

Mereka mengerahkan segenap kekuatan untuk menyuplai persenjataan, memberi minum, mengurus yang terluka, dan mengobarkan semangat jihad.

Tak hanya itu, berbekal tiang kemah, Asma menyusup ke tengah-tengah medan tempur dan menyerang musuh yang ada di kanan dan kirinya, hingga berhasil membunuh sembilan tentara Romawi. Tak layakkah perempuan ini menjadi inspirasi bagi kejayaan perempuan masa kini?

Satu lagi adalah Fatimah, istri Khalifah Umar bin Abdul Azis. Ia rela menanggalkan kemewahan mengikuti jejak suaminya untuk hidup bersahaja karena takut kepada Allah SWT.

Ya, sebelum menjadi Khalifah, mereka hidup berkecukupan. Namun karena takut korupsi atau memanfaatkan harta rakyat, Umar bin Abdul Azis menolak fasilitas negara.

Fatimah pun ikhlas hidup serba terbatas. Padahal ia punya pilihan jika tak ingin ikut menderita. Begitu sederhananya mereka, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat islam kala itu.

Dikisahkan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui Khalifah. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat wanita cantik dengan pakaian sederhana sedang memperhatikan seseorang yang memperbaiki pagar rumah yang rusak itu.

Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita itu adalah Fatimah, istri sang Amirul Mukminin. Tamu itu pun menegur, “Ya Sayyidati, mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumahmu?”. Seraya tersenyum Fatimah menjawab, “Dia adalah Amirul Mukminin yang sedang engkau cari” Subhanallah, hampir mustahil menemukan “Fatimah-Fatimah” seperti ini di zaman sekarang.

Masih banyak shahabiyah dan juga muslimah sesudah era Rasulullah SAW lainnya yang layak dijadikan ikon pejuang perempuan. Semoga kita mampu meneladani para Kartini tanpa konde tersebut. Wallahuálam.
_______________
KHOLDA NAAJIYAH, penulis adalah santri Pondok Pesantren Hidayatullah

 

 

Dai Wajib Internalisasi dan Transformasikan Al Qur’an

Al Qur'an Al Karim / NET
Al Qur’an Al Karim / NET

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah Abdurrahman Muhammad mengingatkan para kader Hidayatullah dan dai pada umumnya untuk selalu memperbaiki tilawah (bacaan) Al Qur’an. Tak semata membaca, tapi juga ada proses internalisasi dan transformasi di dalamnya.

Beliau menegaskan bahwa hal pertama yang harus dievaluasi oleh setiap dai adalah memperhatikan interaksinya dengan al-Qur’an apakah sudah baik atau tidak. Selain tilawah (membaca al-Qur’an) secara intens, para dai dituntut agar mempelajari sekaligus mengamalkan isi al-Qur’an tersebut.

“Semuanya harus diupayakan secara sungguh-sungguh. Mulai dari memperhatikan cara mengaji hingga mengamalkannya. Sebagai wujud mujahadah maksimal dalam urusan (dakwah) ini,” kata beliau pada kegiatan Silaturahim Da’i Hidayatullah di Pare-Pare, Sulawesi Selatan (Sulsel), belum lama ini.

Bagi orang beriman, kata beliau, tak ada jalan lain kecuali menekuni jalan terjal dakwah. Inilah jalan kemuliaan yang ditawarkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Untuk itu Allah menawarkan Rahman dan Rahim-Nya lewat sarana ibadah dan taqarrub yang dilakukan oleh seorang hamba.

“Di sana ada jaminan qaulan tsaqilan (perkataan yang berbobot) lewat ibadah shalat lail. Juga kekuatan ruh serta spirit yang hebat jika ia benar-benar membaca dan mentadabburi al-Qur’an dengan benar,” terang Abdurrahman.

Sebaliknya, ketika tilawah dan ibadah seorang hamba tidak beres, dijamin ia langsung tumbang saat menghadapi tantangan dalam berdakwah.

“Baru bertemu sedikit masalah, sudah mengeluh kesana kemari,” sindir Abdurrahman mengingatkan.

Dalam urusan orang beriman, terangnya, puncak seluruh amalan adalah jihad. Jika spirit jihad (haqqa jihadihi) sudah terpancang kokoh dalam jiwa, niscaya akan menggerakkan seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam setiap amalan dan kebaikannya. Termasuk dalam perkara berdakwah.

Dengan semangat jihad, diharapkan lahir da’i da’i yang tangguh di lapangan. Tentunya tidak hanya dengan modal semangat. Sebab sebelumnya mereka telah tercerahkan dengan tilawah yang benar (haqqa tilawatihi) dan senantiasa punya sandaran yang kuat kepada Allah (haqqa tuqatihi).

“Tidak boleh loyo dalam berdakwah. Setiap da’i harus punya semangat jihad dalam segala urusannya. Di sana ada janji tentang surga Firdaus,” pungkas Abdurrahman yang diiringi pekikan takbir dari seluruh peserta. */ Masykur Abu Jaulah

Tiga Fase Berislam untuk Rengkuh Manisnya Iman

Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad / DOC
Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad / DOC

Hidayatullah.or.id — Ada tiga fase metodologi berislam yang harus ada dan sempurna dalam setiap pribadi Muslim. Dengan fase tersebut, niscaya orang itu bisa mencicipi manisnya iman dalam jiwa. Tiga fase tersebut yaitu adanya haqqa tilawatihi, haqqa tuqatihi, dan haqqa jihadihi.

Mutiara nasihat ini hadir dalam uraian panjang lebar Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah pada kegiatan Silaturahim Da’i Hidayatullah di Pare-Pare, Sulawesi Selatan (Sulsel), pertengahan April lalu.

Selain diniatkan silaturahim, kegiatan yang digagas oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulsel ini juga menjadi ajang pengembangan kualitas da’i dalam berdakwah.

“Sebagai ujung tombak kebenaran, sudah sepantasnya para da’i senantiasa meng-upgrade diri,” ujar Ketua Departemen Dakwah PW Hidayatullah Sulsel, Sumaryadi. Kali ini kegiatan tersebut mengambil tema besar “Mengokohkan Dakwah Sebagai Mainstream Perjuangan”.

Sementara itu, masih dalam uraiannya, Bapak Pimpinan, demikian beliau karib disapa, menegaskan bahwa hal pertama yang harus dievaluasi oleh setiap dai adalah memperhatikan interaksinya dengan al-Qur’an. Selain tilawah (membaca al-Qur’an) secara intens, para da’i dituntut agar mempelajari sekaligus mengamalkan isi al-Qur’an tersebut.

Lebih jauh Pimpinan Umum Hidayatullah juga mengingatkan jika sebenarnya perintah yang diinginkan adalah “haqqa tilawatihi”.

“Semuanya harus diupayakan secara sungguh-sungguh. Mulai dari memperhatikan cara mengaji hingga mengamalkannya. Sebagai wujud mujahadah maksimal dalam urusan (dakwah) ini,” ucap Bapak Pimpinan.

Untuk itu selain menggiatkan program Gran MBA (Gerakan Mengajar dan Belajar al-Qur’an) sebagai salah satu program unggulan Hidayatullah, Pimpinan juga meminta setiap dai agar berperan aktif di tengah masyarakat dalam memberantas buta huruf al-Qur’an. Hari ini realitas umat Islam, di antara mereka ada ratusan bahkan ribuan orang yang belum mampu baca tulis al-Qur’an.

“Lalu apa yang ingin ditegakkan dari syariat Islam. Sedang umat Islam sendiri masih jauh dari pedoman hidupnya selama ini,” tegas ustadz kelahiran Kota Pare-Pare tersebut.

Di hadapan puluhan peserta Silaturahim Da’i, tak lupa Abdurrahman mengingatkan pentingya mendidik anak berbasis al-Qur’an. Menurutnya, lemahnya umat Islam tak lepas dari hilangnya ruh al-Qur’an dalam karakter pendidikan generasi muda umat Islam.

“Perjuangan ini sangat panjang. Terkadang perubahan itu bahkan memerlukan waktu beratus-ratus tahun lamanya,” ucap Abdurrahman menerangkan.

Terkait itu, Abdurrahman mencontohkan upaya penaklukan Konstantinopel, sebagai ikon kejayaan Romawi Timur masa tersebut. Menurutnya, hal itu tidak terjadi serta merta atau secara instan begitu saja oleh Sultan al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel.

Sebab, lanjutnya, upaya itu telah diawali sejak masa sahabat dan para tabi’in jauh-jauh hari sebelumnya. Sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang mampu menaklukkan Konstantinopel dan sebaik-baik panglima pasukan adalah yang memimpin pasukan penaklukan tersebut. Demikian Nabi menggugah semangat para sahabatnya saat itu.

Selanjutnya, ketika haqqa tilawatihi sudah benar, dengan sendirinya ia melahirkan kekuatan takwa (haqqa tuqatihi). Tanda sederhana jika bacaan al-Qur’an itu bagus terlihat dari bagusnya dzikir dan ibadahnya. Rukuk dan sujudnya kian mantap.

“Sungguh ironis jika ada mujahid dakwah atau mengaku aktifis Islam, sedang tilawah al-Qur’an dan ibadahnya tidak beres,” papar Abdurrahman.

“Apanya yang mau ditolong oleh Allah, sedang shalat lail dan nawafil (sunnahnya) masih bolong-bolong,” imbuhnya kembali.

Beliau mengimbuhkan, dalam urusan orang beriman, puncak seluruh amalan adalah jihad. Jika spirit jihad (haqqa jihadihi) sudah terpancang kokoh dalam jiwa, niscaya akan menggerakkan seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam setiap amalan dan kebaikannya. Termasuk dalam perkara berdakwah.

“Dengan semangat jihad, diharapkan lahir da’i da’i yang tangguh di lapangan. Tentunya tidak hanya dengan modal semangat,” tandasnya. */ Masykur Abu Jaulah

Hidayatullah Training Center Intensifkan Upgrading Dai

Penutupan upgrading di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat / SKR ALJIHAD
Penutupan upgrading di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat / SKR ALJIHAD

Hidayatullah.or.id –- Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” yang berlangsung pada Kamis-Ahad (17-20/4/2014) telah usai. Sekjen Pimpinan Pusat Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah menutup acara ini di Masjid Ummul Quraa, Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Hidayatullah Training Center (HiTC) penyelenggara kegiatan dalam penutupan acara ini berkomitmen untuk terus mengintensifkan upgrading kualitas dan kompetensi dai ini guna memaksimalkan peran dai nusantara sebagai mitra pembinaan umat dalam membangun bangsa.

Acara penutupan ini dirangkai dengan pemberian apresiasi kepada 5 orang “dai juara”. Mereka dinilai yang terbaik dari 60-an dai Indonesia peserta pelatihan gelaran Hidayatullah Training Center (HiTC) ini.

Tampil sebagai Juara I Muhammad Sholeh Usman, dai asal Kalimantan Timur. Menyusul Juara II Dwi Subagio (Sulawesi Utara) dan Juara III Muhammad Sanusi (Papua Barat). Juara Harapan I dan Harapan II masing-masing diraih Syaiful Bahri (Nusa Tenggara Timur) dan Faturrahman (Jogjakarta).

Abu A’la dalam sambutannya mengatakan, pemberian apresiasi tersebut merupakan sesuatu yang lumrah. “Karena kita bukan makhluk halus, (tapi) makhluk nyata, memang penilaian yang zohir (jelas. Red) dibutuhkan,” ujarnya.

Baginya, penilaian ini mengandung filosofi tersendiri. Misalnya, para peserta pelatihan yang tidak juara tidak bisa memprotes. Mereka harus ikhlas menerima keputusan dewan penilai, sebab posisi mereka sebagai “makmum”.

Begitu pula, tambah Abu A’la, ketika para dai kembali ke daerah. Saat jadi imam, merekalah yang menilai para jamaah (makmum). Namun, sistem penilaian tidak boleh menuruti selera masing-masing individu. Harus ada standar penilaiannya.

“Sebenarnya kalau mau lebih sempurna semuanya saling menilai,” ujarnya dari atas mimbar.

Abu A’la berharap, para dai tersebut mampu memahami dan mengamalkan materi-materi pelatihan secara baik. Sehingga, saat mereka kembali ke tempat tugas di daerah atau wilayah masing-masing, bisa menjadi contoh bagi umat.

“Kita semuanya posisinya sama. Menjadi makmum dan juga menjadi pemimpin. Pada saat menjadi makmum dinilai oleh pemimpinnya. Sebaliknya, saat menjadi pemimpin dinilai oleh makmumnya,” ujarnya.

Memancing Dai untuk Sadar

Direktur HiTC Ir Khairil Baits mengatakan, para dai Indonesia diharapkan memiliki kesadaran akan beratnya beban yang mereka emban.

Untuk memunculkan itu, katanya, “Tidak ada jalan lain kecuali kita melakukan upgrading.”

Meski demikian, menurut Khairil, pelatihan tersebut tidak serta merta menyelesaikan masalah di medan dakwah. Namun, pelatihan ini sebagai pancingan atau motivasi bagi para dai untuk selalu meningkatkan kualitas diri masing-masing.

“Agar tidak berhenti untuk meng-upgrade dirinya, dan memotivasi kawan-kawan (dai) di daerah,” pesannya.

Panitia penjuri, Ir Ahkam Sumadiana mengatakan, penilaian ini berdasarkan sejumlah item. Di antaranya yaitu kedisiplinan atau kehadiran peserta selama pelatihan, makalah yang dibuat, laporan kinerja dakwah selama ini, dan tes-tes khusus.

“Mudah-mudahan niat kita dengan penilaian ini disikapi sebagai upaya untuk memotivasi, baik yang disebutkan namanya (para juara. Red) atau yang belum disebutkan namanya, bisa berbuat lebih maksimal lagi dalam perjalanan (dakwah) kita di daerah,” ujar Sekjen HiTC Naspi Arsyad berharap.

Khairil Baits menyampaikan permohonan maaf jika ada kekurangan dalam pelatihan tersebut. Ke depan, jangkauan pelatihan akan diperluas, tak sebatas untuk para dai. Agar pengelolaan dakwah khususnya di Hidayatullah menjadi lebih baik.

“Lebih jauh bagaimana umat semakin mempercayai,” harapnya.

Mengakhiri acara itu, Abu A’la berpesan agar para dai terus menekuni al-Qur’an sebagai pedoman, serta menjaga ibadah wajib dan sunnahnya.

“Juga bekerja dengan prinsip-prinsip manajemen yang rapi, dengan prinsip-prinsip kerja yang bagus,” ujarnya.

“Kita bersyukur pada Allah, training sudah berjalan dengan baik. Kembali(lah) ke tempat tugas dengan lebih semangat. Mari kita tutup dan akhiri training dengan sama-sama membaca alhamdulillah. Allahu Akbar,” pungkasnya diiringi pekikan takbir hadirin.

Para “dai juara” mendapatkan hadiah berupa bingkisan yang disponsori Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Usai acara, mereka dijamu sarapan di kediaman anggota DPD RI asal Sulawesi Selatan Abdul Aziz Kahar.*/ Muh. Abdus Syakur

Budaya Kerja Bakti Bangun Semangat Berkarya

Mencangkul yang dalam / ABU JAULAH
Mencangkul yang dalam / ABU JAULAH
Bibit pisang yang ditanam. Setiap halaqah dapat jatah 2 pohon. / ABU JAULAH
Bibit pisang yang ditanam. Setiap halaqah dapat jatah 2 pohon. / ABU JAULAH
Rekat sejenak di balik rerimbunan pohon di Gunung Binjai / ABU JAULAH
Rekat sejenak di balik rerimbunan pohon di Gunung Binjai / ABU JAULAH

Hidayatullah.or.id — Bagi warga Hidayatullah Kampus Gunung Tembak, hari Ahad adalah hari kebersamaan seluruh warga. Sudah menjadi rahasia umum, setiap hari Ahad pagi, setiap warga pesantren dihimbau untuk tidak mengadakan kegiatan di luar kampus hingga siang hari.

Proyek yang digarap pada hari Ahad pun beragam. Mulai dari mengecor bangunan, mencangkul dan meratakan jalanan umum, hingga membersihkan parit sekeliling kampus dan perumahan warga.

“Proyeknya fleksibel saja, sesuai dengan kebutuhan yang lagi mendesak,” ujar Kepala Departemen Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, H Sugiono.

Tak terkecuali Ahad kemarin (20/04/2014), puluhan warga pesantren kembali turun kerja bakti. Hari itu proyek kerja bakti difokuskan di lokasi perkebunan milik pesantren di areal Gunung Binjai.

Gunung Binjai berjarak sekitar 9 kilometer dari kampus utama Hidayatullah Gunung Tembak. Alias 3 kilometer arah barat dari lokasi Bumi Tahfidz Ahlus Shuffah, Balikpapan. Di sana, para warga diminta oleh Departemen Kampus untuk menyelesaikan proyek penanaman pohon pisang di lokasi perkebunan.

Dengan pembagian kelompok Halaqah Tarbiyah yang ada, menjadikan setiap warga hanya dibebani menanam 2 batang pisang saja. Tak heran sebab jumlah halaqah yang ada di kampus Gunung Tembak mencapai 16 halaqah (kelompok). Sedang setiap halaqah tersebut rata-rata terdiri dari 15 orang.

“Sebuah kerja cerdas dan efektif,” puji Ketua PP Hidayatullah Muhammaad Musyaafir yang sedang bertamu di Gunung Tembak. Menurutnya, pekerjaan itu menjadi ringan dan sederhana, meski sesungguhnya ia termasuk pekerjaan besar.
“Kalau mau dihitung, seluruhnya bisa mencapai 500-an pohon pisang,” imbuh Musyaafir kagum saat berbincang dengan media ini di lokasi kerja bakti.

Sebagai tambahan, saat ini Pesantren Hidayatullah memiliki areal perkebunan total seluas 12 hektar. Sebagian besar lokasi tersebut telah ditanami dengan ribuan pohon karet. Sedianya, sambil menunggu bantuan bibit karet dari Departemen Pertanian Kota Balikpapan, lokasi seluas 2 hektar tersebut lalu ditanami dengan pohon pisang terlebih dahulu.

“Selama ini kita bekerja sama dengan pihak Departemen Pertanian Balikpapan,” ujar Sugiono tersenyum. Sugiono menambahkan, setahun yang lalu Hidayatullah bahkan mendapat bantuan sebanyak 2000 batang (stek) bibit karet.

Bagi warga dan santri Hidayatullah, program kerja bakti bukanlah suatu hal yang baru. Tradisi positif ini telah ada sejak awal masa perintisan Pesantren Hidayatullah. Berawal dari hutan belantara, Pesantren Hidayatullah bahkan boleh dikata tumbuh dan berkembang dengan modal semangat kerja bakti saja.

“Tak ada yang menyangka pesantren ini bisa berkembang seperti sekarang,” tutur Hasyim HS, salah seorang pendiri Pesantren Hidayatullah mengenang.

“Sejak dulu pekerjaan utama kita hanya shalat, belajar, dan kerja bakti setiap waktu. Itu saja, tidak ada yang lain,” papar ustadz jebolan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo tersebut.

Waktu terus berputar, tak terasa Hidayatullah sudah mencapai usia 40 tahun lebih. Kini budaya kerja bakti telah menjadi karakter warga dan santri Hidayatullah.

“Terkesan kerja bakti itu alami dan sederhana, tapi sebenarnya ia menyimpan spirit yang sangat kuat,” ungkap Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah (YPH) Balikpapan, Zainuddin Musaddad.

Menurut Zainuddin, ada nilai dan spirit yang mahal dari kegiatan kerja bakti tersebut. Di sana ada tautan silaturahim dan ukhuwah di antara warga dan santri. Ada pelajaran tentang etos kerja dan semangat berkarya.

“Jangan sekali-kali ada santri yang malas-malasan ikut kerja bakti. Sebab ada pelajaran berharga yang itu tidak bisa diraih lewat bangku kelas semata,” Pungkas Zainuddin semangat. */ Masykur Abu Jaulah

“Umrah Ideologis itu Membawa Misi Keummatan”

Ketum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan, saat menyampaikan tauhsiahnya di Madinah
Ketum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan, saat menyampaikan tauhsiahnya di Madinah / MDH

Hidayatullah.or.id — Ibadah umrah yang dilakukan oleh sebagian umat Islam memiliki makna tersendiri di benak Dr H Abdul Mannan, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah. Baginya, ibadah umrah memiliki kekuatan besar dalam perjuangan umat Islam.

“Umrah ‘ideologis’ beda dengan umrah biasa. Umrah ideologis itu membawa misi keumatan berupa doa untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin,” kata Abdul Mannan.

Hal tersebut disampaikan beliau pada pembekalan akhir kepada jamaah umrah menjelang keberangkatan menuju kota suci Makkah dari Madinah, Kamis (17/4/2014) malam lalu.

“Makanya, kita harus memprioritaskan doa-doa kita untuk terbangunnya peradaban Islam, kalau bisa melebihi doa-doa untuk diri pribadi dan keluarga. Karena kalau berdoa untuk umat maka keluarga kita juga masuk di dalamnya,” lanjutnya.

Abdul Mannan juga menegaskan pentingnya peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah selama di tanah suci.

Beliau berharap, kekuatan ibadah tersebut bisa dibawa ke Tanah Air sebagai bekal tambahan dalam mengemban amanah sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.

Ikut dalam umrah ‘ideologis’ ini sekitar 43 da’i dari berbagai daerah se-Indonesia. Umrah ini merupakan program religi untuk para dai yang disponsori oleh salah seorang Muhsinin di Jakarta.

“Alhamdulillah, (jumlah) kami sekitar 43 orang yang ikut umrah. Ada yang dari Aceh, Depok, Surabaya, NTT, dan Papua juga. Semuanya ditanggung oleh satu orang,” terang Ustadz Nurdin, seorang dai asal Kupang, NTT. */ Diinul Haq

Pakar Pendidikan Saudi Kunjungi Hidayatullah Jogja

Pakar pendidikan dari Riyadh, Saudi Arabia, Syeikh Dr. Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy saat berbicara di hadapan santri dan warga Ponpes Hidayatullah Jogjakarta / YAYAN
Pakar pendidikan dari Riyadh, Saudi Arabia, Syeikh Dr. Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy saat berbicara di hadapan santri dan warga Ponpes Hidayatullah Jogjakarta / YAYAN

Hidayatullah.or.id — Tugas besar sebagai Muslim adalah berdakwah di mana saja dan kapan saja. Demikian salah satu pesan pakar pendidikan dari Riyadh, Saudi Arabia, Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy di hadapan santri Pesantren Hidayatullah Jogjakarta. Kehadiran Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy disambut antusias oleh para santri, belum lama ini.

Dalam diskusinya dengan para santri dan sejumlah civitas akademik pesantren, ia berpesan tiga hal yang wajib dilakukan oleh umat Islam sebagai generasi penerus perjuangan Islam.

Pertama, sebagai generasi Muslim harus mempelajari ilmu agama dengan baik.

Kedua, setiap orang Muslim mempunyai kewajiban untuk berdakwah di manapun dan kapanpun berada, karena hal itu merupakan implementasi dari iman dan takwa kita kepada Allah.

Ketiga, generasi Muslim mempunyai peran penting untuk perjuangan Islam ke depan, sehingga generasi Muslim harus terus belajar memahami Islam dengan baik dan mendakwahkannya.

“Tentunya hal ini dapat dilakukan dengan memahami al-Qur’an dan al-Hadits serta memahami sejarah perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam,” ujarnya.

Setelah diskusi ia menyempatkan diri melihat kegiatan pembelajaran di Sekolah Menengah Integral (SMI) dan SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Seperti diketahui, selain dikenal ahli pendidikan, Syeikh Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy juga dikenal penulis buku yang produktif.

Bukunya berjudul “Anakku, Aku Bangga Padamu” (Akafa Press) dan “Perang Melawan Syahwat” (Daar an-Naba) telah banyak beredar di Indonesia. (Yayan/Jogjakarta)

Puluhan Dai Hidayatullah Nusantara Ikuti Psikotest

Pembukaan acara Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun  Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat / SKR
Pembukaan acara Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat / SKR

Hidayatullah.or.id — Sebanyak 60 dai utusan Pengurus Wikayah (PW) Hidayatullah se-Indonesia mengikuti Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat. Pelatihan yang berlangsung di Aula Hidayatullah Training Center (HiTC) ini digelar selama lima hari ini dibuka pada Rabu, 17 Jumadil Akhir 1435 H (16/4/2014) malam.

Kamis (17/4/2014) paginya, para peserta pelatihan langsung mengikuti tes psikologi (psikotest) yang ditangani empat orang tenaga ahli dari lembaga resmi yang telah dikontrak. Pantauan hidayatullah.com di tempat acara, para dai dibagi dalam dua ruangan berbeda.

Direktur HiTC Ir Khairil Baits mengatakan, pelatihan tersebut merupakan upaya peningkatan kualitas para dai Indonesia. Dari sini mereka diharapkan memahami dan memiliki tiga kompetensi.

Pertama, kata Khairil, pemahaman dan penerapan kandungan al-Qur’an sebagai pedoman beragama. Kedua, pemahaman terhadap manajemen bermasyarakat dan berorganisasi. Ketiga, kemampuan mewujudkan agenda-agenda dakwah yang telah dicanangkan.

“Inilah yang menjadi tugas utama kita,” ujar Khairil dalam sambutannya pada malam pembukaan acara di aula Pesantren Hidayatullah Depok.

Khairil mengatakan, HiTC akan terus melakukan berbagai program-program pelatihan para dai. Dengan begitu, diharapkan mereka terus beregenerasi.

Bertolak dari Al-Qur’an

Pelatihan ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah. Dalam sambutannya, Abu A’la mengatakan, ide pelaksanaan pelatihan tersebut bertolak dari al-Qur’an Surat al-Anfal ayat 60.

Dalam ayat tersebut, jelasnya, terdapat perintah untuk mempersiapkan segala kemampuan untuk menghadapi orang-orang kafir.

“Jadi kita (para dai. Red) harus selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang besar,” ujar Abu A’la, yang hadir mewakili Ketua Umum Dr Abdul Mannan.

Di antara kemampuan yang harus dipersiapkan itu, menurutnya, adalah spiritual, intelektual, dan profesionalisme. Kesemua itu harus terpenuhi oleh para dai secara menyeluruh.

Abu A’la mengatakan, ada alasan tersendiri dipilihnya pesantren sebagai lokasi pelatihan. Dulu, acara-acara serupa sering diadakan di luar pesantren. Namun rupanya suasananya tidak kondusif bagi para dai.

“Dulu sering, (tapi) shalat berjamaahnya tidak bisa tenang, acaranya juga tidak tenang. Sehingga kembali ke markas perjuangan kita yaitu kampus (pesantren. Red),” jelasnya.

Abu A’la mengatakan, dia pernah berdiskusi dengan seorang tokoh nasional. Dari diskusi tersebut, dihasilkan rumusan aspek-aspek penting dalam perjuangan. Yaitu ide, konsep, jaringan, dan teknologi. Para dai pun ditantang untuk memenuhi semua aspek tersebut.

“Kita ditantang dan memang tidak gampang. Mudah-mudahan teman-teman peserta (pelatihan) semuanya menjadi peserta yang terbaik dalam segala aspek dalam perjuangan,” pungkas Abu A’la, lantas membuka pelatihan tersebut dengan basmalah diiringi takbir.

Usai acara pembukaan, acara langsung beranjak ke materi pertama dengan tema “Budaya Organisasi Imamah”. Materi ini dibawakan oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad, dengan pembawa acara Ketua Departemen Perkaderan Ir Ahkam Sumadiana.

Ustadz Abdurrahman mengatakan, dalam Islam terdapat budaya kepemimpinan. Seorang pemimpin Islam, ujarnya, harus bisa mempengaruhi jamaahnya, serta rajin-rajin keluyuran memantau kondisi umat.

“Kita ini sebagai pemimpin semua, bagaimana kita memiliki budaya (keluyuran) itu,” pesannya.

Pelatihan ini akan berakhir pada Ahad (20/4/2014) mendatang. Pelatihan pertama telah berlangsung pada pertengahan Januari lalu. Para pesertanya adalah perwakilan Pimpinan Daerah dan Pimpinan Wilayah Hidayatullah se-Tanah Air.* (Skr aljihad)

Ibadah yang Benar Lahirkan Muslim Enerjik lagi Santun

Kaum muslimin melaksanakan sholat hingga ke kapal-kapal nelayan / IST
Kaum muslimin melaksanakan sholat hingga ke kapal-kapal nelayan / IST

Hidayatullah.or.id — Ustadz Ismail Mappiasse mengingatkan bahwa orang yang mengaku Muslim, khususnya bagi kader Hidayatullah, seharusnya tidak mudah mengeluh dan tak pula kikir (pelit). Karena ibadah yang dilakukan seorang Muslim sejatinya menghantarnya menjadi manusia enerjik dan berkarakter mulia.

Sebaliknya, setiap orang yang mengaku Muslim harus selalu bergairah, penuh semangat, santun, serta gemar membantu serta senantiasa menyayangi saudara-saudaranya sesama Muslim dan manusia sekitarnya.

Hal itu disampaikan Ustadz Ismail saat melaporkan perjalanan dakwahnya usai shalat Magrib di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Kamis (17/04/2014) malam. Ismail bersama puluhan dai lainnya sedang mengikuti upgrading dan training kepemimpinan yang digelar di kota ini.

“Kalau masih ada orang Islam yang suka mengeluh, suka sekali menyalahkan, berarti sholatnya belum benar karena itu semua adalah perbuatan keji. Orang yang sholatnya benar tidak akan melakukan kemungkaran,” kata Ustadz Ismail di hadapan para santri dan jamaah.

Secara umum telah dipahami bahwa shalat merupakan ibadah wajib bagi kaum Muslimin 5 waktu dalam sehari. Mengutip ayat Al Qur’an Surah Al Ankabut ayat 45, Ismail menegaskan kembali firman Allah Ta’ala bahwa sesungguhnya shalat adalah pencegah bagi orang beriman dari melakukan keji dan mungkar.

Perbuatan fahisyah dan munkar yang dimaksud ayat tersebut sebagaimana dalam tafsir ulama, jelas Ismail, adalah perbuatan buruk suka mengeluh, sombong, malas, pelit atau sekke’, berzina, berbuat kasar, dengki, marah, membunuh jiwa, dan perbuatan jelek lainnya yang bertentangan dengan fitrah kemanusiawiaan kita.

Namun kenyataannya, ujar Ismail, banyak dari kita kaum Muslimin yang rutin sholat lima waktu tetapi tidak jua ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kondisi ini boleh jadi karena shalat kita bukanlah shalat yang dimaksud yaitu yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

“Sholat tidak berefek karena kita sholat hanya sekedar sholat, tidak mengerti esensi dari ibadah yang dilakukan,” kata Ismail yang pernah menjadi dai di Kapal Pelni selama sebulan lebih berlayar di laut dari satu kota ke wilayah lainnya.

Atas realitas tersebut, Ismail mengingatkan kepada kaum Muslimin khususnya kader Hidayatullah, agar tidak berhenti belajar mendalami segenap ajaran Islam mulai dari masalah ibadah hingga muamalah. Dengan demikian, segala tindak tanduk kita sebagai orang beriman tidak keluar dari koridor yang telah dituntunkan oleh Tuhan.

Ustadz yang saat ini bertugas di Kalimantan Utara ini menambahkan jamaah Hidayatullah harus bersyukur atas anugerah dari-Nya berupa kampus-kampus Hidayatullah sebagai miniuatur peragaan ajaran Islam yang menentramkan.

“Dengan lingkungan islami seperti ini, kita bisa dengan nikmat menjalankan ibadah sholat berjamaah. Kampus yang tersuasana seperti ini menjadi wadah kita untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala, ini yang harus kita syukuri,” tandasnya.

Sekedar diketahui, sebanyak 60 dai utusan Pengurus Wikayah (PW) Hidayatullah se-Indonesia mengikuti Training (Pelatihan) Kepemimpinan II “Membangun Leadership dan Managerial Skill Leader” di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Pelatihan yang berlangsung di Aula Hidayatullah Training Center (HiTC) ini digelar oleh Departemen Organisasi dan Politik PP Hidayatullah bekerjasama dengan HiTC selama lima hari ini dibuka pada Rabu, 17 Jumadil Akhir 1435 H (16/4/2014) malam. (ybh/hio)