AdvertisementAdvertisement

Upgrading Pengurus SAR Hidayatullah Perkuat Sistem Alur Komando dalam Mitigasi Krisis

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Guna meningkatkan efektivitas manajerial dan ketangkasan operasional di lapangan, SAR Hidayatullah menyelenggarakan acara Upgrading Pengurus yang berlangsung selama dua hari, dimulai pada hari ini, Sabtu, 10 Ramadhan 1447 (28/2/2026). Berlangsung secara hibryd, kegiatan ini mengusung tema sentral “Taat Komando, Tanpa Tapi, Tanpa Nanti,” sebagai manifestasi dari komitmen lembaga dalam mewujudkan kedisiplinan tinggi dalam setiap misi kemanusiaan.

Acara dibuka dengan pengarahan dari Pembina SAR Hidayatullah, Abbas Usman. Ia menekankan bahwa keberhasilan operasi Search and Rescue (SAR) tidak hanya bertumpu pada kemampuan fisik, melainkan pada ketepatan koordinasi dan kepatuhan terhadap hierarki.

“Koordinasi dan taat komando adalah fondasi dari setiap keselamatan operasi. Tanpa struktur koordinasi yang jelas, niat baik untuk menolong bisa menjadi beban bagi tim lain di lapangan,” tegas Abbas Usman.

Abbas memaparkan secara komprehensif mengenai penerapan Prosedur Standar Operasional (SOP) Tanggap Darurat Bencana (TDB) versi 2.0 yang kini menjadi panduan lapangan utama.

Dia menjelaskan bahwa setiap pergerakan personil harus didasarkan pada data yang terverifikasi secara ketat. Menurut Abbas, manajemen krisis modern menuntut validitas informasi agar keputusan strategis yang diambil tepat sasaran.

Dalam paparannya, Abbas merujuk pada pentingnya peran Pusat Informasi Nasional (PIN) SARHID sebagai filter utama informasi. “Semua informasi masuk harus melalui pintu gerbang PIN SARHID. Tidak ada pergerakan tanpa validasi,” katanya.

Hal ini, jelasnya, dimaksudkan untuk menghindari simpang siur data yang sering terjadi saat fase awal bencana, di mana sumber informasi bisa berasal dari laporan langsung warga lokal maupun data sekunder dari Basarnas, BMKG, BNPB, dan media sosial.

Tantangan Kebencanaan di Masa Depan

Senada dengan hal tersebut, Ketua SAR Hidayatullah Pusat, Alfarabi Nurkarim Enta, menjelaskan mekanisme penetapan status TDB. Keputusan strategis ini tidak diambil secara sepihak, melainkan melalui sinergi antara komando operasi dan dukungan logistik.

“Penetapan status TDB secara resmi dinyatakan melalui keputusan bersama antara Ketua SAR Hidayatullah dan Ketua BMH Pusat,” kata Alfarabi. Menurutnya, koordinasi lintas lembaga ini krusial untuk memastikan bahwa setiap unit yang diterjunkan memiliki dukungan pendanaan dan logistik yang memadai di lapangan.

Setelah status TDB ditetapkan, alur koordinasi beralih pada fase teknis. Alfarabi menegaskan bahwa pengendalian teknis sepenuhnya berada di bawah kendali Kepala Divisi Operasi. “Kadiv Operasi bertanggung jawab menerjemahkan keputusan strategis menjadi pergerakan unit di lapangan,” terangnya.

Alfarabi menyebutkan, pergerakan tersebut mencakup mobilisasi “Empat Pilar” SAR Hidayatullah, yang terdiri dari Team Advance sebagai perintis, PW SAR/SRU untuk pencarian dan pertolongan, DPW/DPD untuk koordinasi wilayah, serta BMH Perwakilan untuk dukungan logistik dan pendanaan lokal.

Dia menambahkan, kegiatan upgrading ini diharapkan mampu melahirkan pengurus yang tidak hanya responsif, tetapi juga sistematis dalam bekerja.

“Dengan semangat ‘Taat Komando, Tanpa Tapi, Tanpa Nanti,’ SAR Hidayatullah berkomitmen terus memantapkan langkah sebagai lembaga kemanusiaan yang tangguh, teruji, dan profesional dalam menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan,” pungkasnya.

Selain aspek operasional di lapangan, agenda upgrading hari pertama ini juga menghadirkan Sekretaris SAR Hidayatullah, Tafdhilul Umam. Ia menyampaikan materi vital mengenai penguatan sistem keanggotaan dan Kartu Tanda Anggota (KTA) SAR Hidayatullah.

Tafdhilul menekankan bahwa profesionalisme personil harus tersertifikasi dan terdata secara digital untuk mempermudah pemetaan kompetensi anggota di seluruh Indonesia. Sistem keanggotaan yang rapi dianggap sebagai bagian dari pendukung utama kelancaran rantai komando.

Di penghujung sesi pertama, para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai “Ringkasan Alur TDB” yang menjadi siklus kerja organisasi saat bencana terjadi. Siklus ini dimulai dari penerimaan informasi, validasi oleh PIN SARHID, penetapan keputusan oleh pimpinan, pengambilalihan kendali teknis oleh Kadiv Operasi, hingga aksi mobilisasi unit-unit terkait. Target akhir dari seluruh rangkaian ini adalah berdirinya Posko Bencana yang berfungsi sebagai titik fokus manajemen operasi terpusat.

Reporter: Iyan Antonov
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Mengapa Mengejar Ampunan di Bulan Ramadhan?

DALAM riuh rendah dunia yang kian bising oleh narasi materialisme, manusia modern seringkali kehilangan satu hal yang paling esensial:...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img