AdvertisementAdvertisement

Hidayatullah Tegaskan Indonesia sebagai Daarud Da’wah yang Harus Dijaga Bersama

Content Partner

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc membuka acara Workshop Pekaderan Nasional di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta sekaligus peluncuran buku terbitan Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota pada Senin, 27 April 2026 (Foto: Qoim Biamrillah Tumiran/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa Indonesia harus diposisikan sebagai daarud da’wah dalam arah gerakan organisasi. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Workshop Perkaderan Nasional yang digelar Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 9 Zulkaidah 1447 H (27/4/2026).

Forum yang berlangsung selama lima hari tersebut diarahkan sebagai ruang konsolidasi nasional untuk memperkuat sistem rekrutmen, pembinaan anggota, dan kaderisasi di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. Agenda itu mengusung tema “Akselerasi Rekrutmen, Pembinaan, dan Kaderisasi dengan Konsolidasi Jatidiri, Transformasi Gerakan Berjuta Dampak.”

Dalam sambutannya, Naspi menekankan bahwa percepatan gerakan organisasi harus tetap bertumpu pada fondasi ideologis yang jelas serta memiliki relevansi kuat dengan konteks kebangsaan Indonesia.

“NKRI ini adalah daarud da’wah dan itu dipertegas di Halaqah Ahwa kemarin di Balikpapan bagaimana kita memposisikan NKRI ini sebagai daarud da’wah sebagai warisan ulama-ulama kita di Indonesia ini,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pandangan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi yang telah dirumuskan dalam Rakernas 2008 di Kepulauan Riau. Dalam konteks itu, Hidayatullah memandang keberadaan Indonesia sebagai ruang dakwah yang harus dijaga bersama melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Sebagai bentuk peneguhan identitas kebangsaan, Naspi menginstruksikan agar simbol Merah Putih hadir dalam seluruh kegiatan organisasi, mulai dari tingkat pusat hingga unit amal usaha di daerah.

Selain menegaskan identitas nasional, ia juga menyoroti kebutuhan transformasi gerakan agar lebih terbuka terhadap perubahan. Menurutnya, Hidayatullah perlu keluar dari pola eksklusivitas menuju model gerakan yang lebih inklusif.

Untuk mencapai target “berjuta dampak”, Naspi menetapkan empat pilar utama gerakan, yakni responsif, masif, inovatif, dan adaptif.

“Merespon secara cepat tapi berbasis data, berbasis solusi dan berbasis bijaksana. Artinya, ketika Hidayatullah merespon maka tiga ini harus menjadi bingkainya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perluasan dakwah, pembaruan metode, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan menjadi bagian penting dalam agenda transformasi organisasi ke depan.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan peluncuran buku “Hikmah & Refleksi Ramadhan” yang merupakan kumpulan tulisan dari jajaran Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah yang terbit di hidayatullah.or.id selama bulan suci Ramadhan 1447 lalu.

Reporter: Ainuddin Chalik
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Naspi Arsyad Ungkap Strategi Akselerasi Nasional Menuju Transformasi Gerakan Berjuta Dampak

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Bidang Perkaderan & Pembinaan Anggota Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Workshop Pekaderan Nasional yang diselenggarakan selama...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img