AdvertisementAdvertisement

Abadikan Harta Benda Duniawi Agar Bersama Selamanya

Content Partner

BILA kita membaca sejarah Mesir Kuno, kita akan mendapati bagaimana para Fir’aun sangat memuja kekayaan dan kerajaan duniawi. Bahkan, sampai mati pun mereka seolah enggan berpisah dengannya.

Maka, peti mati mereka dilapisi emas lengkap dengan segala atribut kebesarannya selama berkuasa.

Ruang-ruang pemakaman meraka pun dipenuhi dengan benda-benda kesayangannya semasa hidup, termasuk emas, perak, batu-batu mulia, bahkan madu!

Mereka menyangka bahwa dengan begitu harta dan kekuasaan mereka akan abadi, selama jasad mereka masih utuh. Tubuh mereka pun diawetkan sedemikian rupa dalam bentuk mumi.

Dengan menyertakan semua harta itu di kuburan, mereka pikir akan menjadi bekal yang cukup untuk menghadapi alam sesudah kematian.

Mereka tidak sadar, bahwa justru dengan menguburnya seperti itu maka seluruhnya menjadi sia-sia dan tetap tertinggal di dunia ini, tidak terbawa ke akhirat walau sedikit pun.

Sebab, sifat dunia seisinya adalah fana. Ia mudah rusak, begeser, berganti. Betapa cepat bahagia berubah menjadi nestapa, seperti langit terang yang tiba-tiba menjadi gelap di musim hujan.

Tentu saja, harta benda duniawi pun bersifat fana. Bahkan, sebelum harta benda yang kita sayangi itu berubah, seringkali perasaan kita sendiri terhadapnya telah berganti. Daya tariknya tiba-tiba meluntur, dan semuanya tertinggal bagai onggokan sampah tak berharga.

Akan tetapi, dunia seisinya adalah sarana yang disediakan Allah sebagai jembatan menuju perjumpaan dengan-Nya di akhirat. Oleh karenanya, Allah menyediakan cara-cara untuk membuatnya abadi, sesuai sifat akhirat yang juga abadi. Setelah dunia diubah menjadi abadi, barulah ia siap untuk dibawa mengarungi kehidupan yang kekal dan menjadi milik kita yang sebenarnya.

Dikisahkan bahwa suatu ketika ‘Abdullah bin Syikhir (seorang Sahabat) menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saat itu beliau sedang membaca surah Alhakumut takastur. Beliau bersabda, “Anak Adam berkata: ‘Hartaku! Hartaku!’”

Beliau melanjutkan, “Wahai anak Adam, bukankah hartamu sebenarnya hanyalah apa yang engkau makan lalu kauhabiskan, atau (baju) yang engkau pakai lalu kaurusakkan, atau engkau sedekahkan lalu kauabadikan untuk akhiratmu?” (Riwayat Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa rezeki kita yang sebenar-benarnya hanyalah apa yang diizinkan oleh Allah untuk kita nikmati, misalnya dengan cara dimakan, dipakai, atau disedekahkan. Di luar itu, apapun yang ada di tangan kita pada dasarnya bukan milik kita. Ia titipan Allah untuk diberikan kepada hamba-Nya yang lain.

Dengan demikian, kita hanya diperankan sebagai penyalur atas karunia-karunia tsb. Cepat atau lambat, ia akan diedarkan kembali.

Maka, ada diantara kita yang melepaskannya dengan rela hati, seperti untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan, atau infaq fi sabilillah. Tetapi, ada juga yang enggan melepasnya sehingga Allah mengambilnya secara paksa.

Sungguh, Dialah Penguasa langit dan bumi, sehingga tidak ada sesuatu pun yang sanggup menghalangi-Nya. Allah punya berjuta-juta cara untuk mengambilnya kembali dari kita, baik kita merelakannya atau tidak.

Kita pasti tahu bahwa sebanyak apapun makanan yang dimiliki seseorang, ia hanya mampu menghabiskan seukuran perutnya. Milik siapakah apa yang masih tersisa? Belum tentu ia bisa mencicipinya.

Bukankah ada orang-orang yang simpanannya melimpah, namun Allah mencegahnya untuk ikut menikmati akibat terkena hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung?

Secara kasat mata, harta itu miliknya tetapi sebenarnya bukan. Justru ia sedang bersusah payah mengumpulkan dan menyalurkan hak milik orang lain, seperti dokter, perawat, apoteker, terapis, dsb. Inilah siklus yang tak terhindarkan.

Maka, jika Anda ingin benar-benar memiliki dan menikmati seluruh harta yang telah Anda kumpulkan dengan susah payah, bersedekahlah! Berzakatlah! Dengan itu, ia akan abadi.

Tidak akan ada seorang pun yang bisa mencuri dan menggugatnya lagi. Allah pasti menjaganya dengan aman, dan kelak membalas ketulusan Anda dengan berlipat ganda.

Allah berfirman,

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ

“Tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Allah sebenarnya Maha Kaya, dan seluruh alam raya ini pun milik-Nya. Meski demikian, Dia mendorong kita untuk bersedekah dengan seolah-olah meminjamkan apa yang ada di tangan kita kepada-Nya, agar kelak Dia mengembalikannya dengan yang lebih baik.

Diceritakan bahwa ada seseorang yang sangat gemar bersedekah. Tidak ada peluang sekecil apa pun untuk bersedekah, melainkan ia pasti berusaha menyalurkan apa yang dimilikinya.

Ketika ditanya mengapa ia berbuat demikian, dengan setengah bercanda ia menjawab, “Saya sangat mencintai harta saya. Oleh karena itu, saya tidak akan membiarkannya tertinggal di dunia ini. Saya akan membawa seluruhnya ke akhirat.”

Sebaliknya bila kita pelit, sekilas tindakan itu terkesan menyayangi diri sendiri dengan membiarkan apa yang kita miliki tetap ada di tangan. Namun, pada kenyataannya kita telah menzaliminya.

Allah berfirman,

هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَآءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ وَٱللَّهُ ٱلْغَنِىُّ وَأَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ ۚ

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Allah Maha Kaya sedangkan kalian adalah orang-orang yang fakir.” (QS. Muhammad: 38).

Jadi, abadikanlah harta yang Anda cintai di dunia ini, dengan cara menzakati dan menginfakkannya, agar ia tetap bersama Anda sampai di akhirat nanti. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah guru dan pengurus Ar Rohmah Hidayatullah Malang

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

FGD Mushida Perkuat Pola Pembinaan Ditengah Dinamika dan Tantangan Zaman

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ayat suci Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 104 mengingatkan umat tentang pentingnya menyeru kepada kebajikan, menyuruh...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img