Beranda blog Halaman 115

Meraih Bahagia dengan Memaafkan dan Hati yang Bebas dari Kebencian

0

HIDUP ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membenci. Waktu terus berjalan, detik demi detik usia kita berkurang, dan setiap napas yang kita hirup membawa kita lebih dekat kepada ajal.

Lantas, mengapa kita harus mempersulit diri dengan membebani hati dengan kebencian?

Benci, iri, dan dengki adalah beban yang tak terlihat namun memiliki dampak luar biasa terhadap jiwa dan raga kita.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa sifat iri dan dengki hanyalah merusak hati serta hubungan antarsesama. Rasulullah SAW juga bersabda:

لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Kebencian bukan hanya menyakitkan bagi mereka yang menjadi sasaran, tetapi lebih dari itu, ia merusak kedamaian dalam diri kita sendiri.

Para peneliti dari Columbia University Irving Medical Center menemukan bahwa memendam perasaan marah dan benci secara terus-menerus memiliki dampak signifikan pada pembuluh darah, yang menjadikannya ‘kardiotoksik’.

Gangguan kesehatan akibat marah ini terjadi karena stres emosional yang ditimbulkan oleh kebencian memicu peningkatan hormon kortisol, yang jika dibiarkan dapat merusak sistem kekebalan tubuh.

Jangan Memperburuk Keadaan

Sebagai manusia, kita tentu pernah merasa sakit hati, kecewa, atau terluka oleh perbuatan orang lain. Namun, apakah menyimpan dendam akan mengobati luka itu? Nyatanya, tidak.

Justru, kebencian hanya memperburuk keadaan. Saat kita menyimpan benci, pikiran kita menjadi terfokus pada hal-hal negatif, sehingga menghalangi langkah kita menuju kebahagiaan dan ketenangan batin.

Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam gelapnya kebencian. Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri, mencintai, dan berbuat baik.

Jika kita menghabiskan waktu kita dengan rasa iri dan benci, maka kita melewatkan kesempatan berharga untuk merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Bukankah lebih indah jika sisa umur kita digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan menyenangkan hati?

Maafkanlah, bahkan jika sulit. Melepaskan kebencian bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tetapi karena kita memilih untuk membebaskan diri dari beban yang tidak perlu.

Saat kita memaafkan, kita membuka pintu kedamaian dalam hati dan memberi ruang bagi kebahagiaan untuk tumbuh. Penelitian oleh Tyler Vanderweele, profesor di Harvard T.H. Chan School of Public Health (2021), mengungkapkan dampak positif dari pemaafan terhadap kesehatan mental.

Temuan ini menegaskan bahwa praktik pemaafan, sebagaimana dianjurkan dalam Islam, dapat secara signifikan mengurangi tingkat kecemasan dan depresi. Lebih jauh, tindakan ini juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan mental secara keseluruhan.

Dalam konteks psikologi dan kesehatan masyarakat, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pemaafan (al ‘afwu) sebagai strategi efektif untuk mendukung kesehatan emosional dan memperkuat kualitas hidup.

Penemuan ini memberikan landasan ilmiah bagi intervensi berbasis pemaafan, yang dapat dimanfaatkan dalam terapi atau program kesehatan untuk mengatasi masalah psikologis yang umum terjadi.

Disinilah istimewanya ajaran Islam yang memerintahkan untuk memberi maaf. Waktu adalah anugerah yang tidak bisa kita putar kembali. Jangan sia-siakan dengan membenci. Isi hari-harimu dengan cinta, pengertian, dan keikhlasan.

Jadikan setiap momen sebagai ladang amal dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ingatlah firman-Nya:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ

“Barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Hati yang bersih dari iri dan benci adalah hati yang siap menerima limpahan rahmat dan karunia-Nya. Dalam kehidupan ini, tak ada yang lebih berharga daripada hidup dalam ketenangan batin.

Mulailah dari sekarang untuk melepaskan rasa benci yang membebani hatimu. Mulailah dari doa, introspeksi, dan usaha untuk memahami bahwa setiap manusia memiliki kelemahan, termasuk kita sendiri.

Hidup ini adalah perjalanan yang singkat dan penuh misteri. Maka, marilah kita jadikan perjalanan ini bermakna dengan menciptakan harmoni, menyebarkan kebaikan, dan menghindari segala sesuatu yang bisa merusak jiwa. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati terletak pada hati yang ikhlas dan bebas dari kebencian.*/Muhammad Anzar

Shalat Dhuha, Sunnah yang Sarat Keutamaan

0

SHALAT Dhuha, yang menjadi bagian akhir dari rangkaian tulisan Serial Hikmah Amalan Subuh, memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Namun, ada sedikit perbedaan pandangan mengenai hubungannya dengan shalat Isyraq.

Sebagian ulama, seperti Imam Al-Ghazali, memandang keduanya sebagai amalan yang berbeda. Menurutnya, shalat Isyraq adalah kesunnahan tersendiri yang tidak sama dengan shalat Dhuha. Sebaliknya, Imam Hakim dalam kitab Al-Mustadrak menyatakan bahwa keduanya merupakan shalat yang sama.

Perbedaan utama antara shalat Isyraq dan shalat Dhuha terletak pada jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan niatnya. Shalat Isyraq umumnya dilakukan dua rakaat, sementara shalat Dhuha dapat dilakukan mulai dari dua hingga dua belas rakaat.

Selain itu, shalat Isyraq dilakukan segera setelah shalat Subuh berjamaah dan dzikir, sedangkan shalat Dhuha tidak berkaitan langsung dengan shalat Subuh atau dzikir sebelumnya. Persamaannya adalah waktu pelaksanaan, yakni setelah matahari terbit hingga sebelum waktu Zuhur.

Makna dan Hukum Shalat Dhuha

Secara bahasa, “Dhuha” berarti awal siang hari atau pagi. Dalam istilah syariah, shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu tersebut.

Hukum shalat Dhuha adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan dan sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun hukumnya tidak wajib, shalat Dhuha memberikan keutamaan luar biasa bagi siapa saja yang melaksanakannya secara konsisten.

Pelaksanaan shalat Dhuha sangat fleksibel. Bisa dilakukan sebelum memulai aktivitas harian, di tempat kerja, sekolah, atau di sela-sela waktu luang.

Namun, bagi sebagian orang, menyempatkan waktu untuk melaksanakan shalat Dhuha di tengah kesibukan bukanlah hal mudah. Oleh karena itu, melaksanakannya merupakan sebuah anugerah dan kenikmatan tersendiri.

Keutamaan Shalat Dhuha

Ibadah sunnah ini tidak hanya menawarkan ketenangan jiwa, tetapi juga membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahan dalam hidup.

Sebagai amalan yang ringan namun kaya akan manfaat, shalat Dhuha memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam, yang sering kali dipandang sebagai cara untuk mengharmoniskan antara kebutuhan spiritual dan material.

Mengapa shalat Dhuha begitu istimewa? Apa saja hikmah yang terkandung di dalamnya? Dengan mengkaji dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, kita akan menggali lebih dalam tentang keutamaan shalat Dhuha, sekaligus memahami bagaimana ibadah ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan dengan Sang Pencipta di tengah ritme kehidupan yang penuh tantangan. Mari kita telusuri bersama!

1. Sebagai Pengganti Sedekah untuk Persendian

Shalat Dhuha berfungsi menggantikan kewajiban bersedekah untuk setiap persendian manusia yang berjumlah 360. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subḥānallāh) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan taḥmīd (alḥamdulillāh) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlīl (lā ilāha illallāh) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbīr (allāhu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma‘ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no. 720).

2. Mendapat Jaminan Kecukupan Rezeki

Keistimewaan lain shalat Dhuha adalah sebagai sarana untuk memperoleh kecukupan rezeki setiap hari. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Nu’aim bin Hammar Al-Ghothofaniy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi).

Banyak kisah nyata menceritakan pengalaman ruhani orang-orang yang istiqamah melaksanakan shalat Dhuha. Mereka kerap mendapatkan kemudahan rezeki atau pertolongan yang tak terduga.

3. Sebagai Shalat Awwabin

Melaksanakan shalat Dhuha secara konsisten menjadikan seseorang tergolong sebagai awwabin, yaitu orang yang kembali taat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa awwab berarti orang yang taat, atau kembali kepada ketaatan. Oleh karena itu, shalat Dhuha menjadi identitas bagi hamba yang istiqamah dalam ibadahnya.

Dengan demikian, shalat Dhuha bukan hanya sekadar ibadah sunnah, tetapi juga menjadi manifestasi ketaatan yang memberikan berbagai keutamaan duniawi dan ukhrawi. Mari kita jadikan shalat Dhuha sebagai bagian dari rutinitas harian kita untuk meraih ridha Allah dan keberkahan hidup.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Raker Gabungan 3 Daerah di Belopa Jaga Amanah dan Lanjutkan Perjuangan

0

LUWU (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pratama Pondok Pesantren Hidayatullah Belopa menjadi tuan rumah gelaran Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan DPD Hidayatullah Luwu, Palopo, dan Toraja Utara, digelar selama 2 hari yang dibuka pada Kamis, 9 Rajab 1446 (9/1/2025).

Acara ini momentum strategis untuk menyatukan visi dan merumuskan langkah-langkah nyata untuk masa kerja satu tahun kedepan demi memperkuat peran organisasi dalam dakwah dan pendidikan di Sulawesi Selatan.

Dalam pembukaan acara, Kepala Departemen Ekonomi dan Aset DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Imran Djufri, menyampaikan bahwa setiap program kerja yang dirumuskan bukanlah sekadar formalitas, melainkan amanah besar yang harus diwujudkan dengan komitmen dan kerja nyata.

“Rakerda ini dilaksanakan tentu karena kita akan bekerja. Ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dan melalui kerja-kerja itu, tentu kita akan menghasilkan karya,” tegasnya.

Imran juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan organisasi. Sebagai lembaga yang telah lama berkhidmat dalam dakwah dan pendidikan, terang dia, Hidayatullah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap kader dapat melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh pendahulu.

Hal ini, menurutnya, hanya dapat tercapai melalui kerja sama, konsolidasi jati diri, dan kesediaan setiap individu untuk mengambil peran aktif dalam organisasi.

Imran menekankan visi tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh organisasi modern, terutama yang berorientasi pada dakwah dan pendidikan. Baginya, keberlanjutan organisasi bukan hanya soal mempertahankan eksistensi, tetapi juga memastikan visi dan misi lembaga tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

“Dalam agenda Rakerda, keberlanjutan ini diwujudkan melalui perencanaan strategis yang matang, didukung oleh komitmen kuat dari seluruh kader,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at.

Sebagai kader yang telah mengabdikan diri selama lebih dari dua dekade, termasuk masa baktinya di Kalimantan Tengah pada periode 1997-2004, Imran Djufri memiliki pengalaman panjang dalam memimpin dan menggerakkan roda organisasi. Ia mengingatkan bahwa Rakerda adalah momen penting untuk menyusun program kerja yang realistis dan dapat diimplementasikan.

“Rakerda bukan sekadar rutinitas tahunan biasa. Di dalamnya menyiratkan harapan agar kader mau berkarya dengan segenap program kerja yang diamanahkan,” ujarnya, sambil menegaskan pentingnya transisi dari tahap perencanaan ke pelaksanaan.

Ide-ide cemerlang yang dirumuskan dalam forum Rakerda hanya akan menjadi wacana jika tidak ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret. Oleh karena itu, tegas dia, setiap peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam memastikan program kerja yang disusun benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Konsolidasi Jati Diri

Rakerda Gabungan ini juga menjadi ajang konsolidasi bagi para kader Hidayatullah di Luwu, Palopo, dan Toraja Utara. Dengan semangat persatuan dan kebersamaan, forum ini diharapkan mampu merumuskan langkah strategis untuk memperkuat dakwah dan pendidikan di wilayah tersebut.

Konsolidasi ini tidak hanya penting untuk menyatukan visi, tetapi juga untuk memperkuat hubungan antar-kader dan membangun sinergi yang lebih solid.

Kesuksesan acara ini juga tidak lepas dari peran tuan rumah, Kampus Pratama Pesantren Hidayatullah Belopa. Dalam apresiasinya, Ustadz Imran memuji pelayanan luar biasa yang diberikan tuan rumah.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Pesantren Hidayatullah Belopa, Abdullah, mengatakan komitmen untuk menjadi tuan rumah yang baik adalah cerminan dari semangat kebersamaan yang menjadi inti dari kegiatan ini. “Kami berusaha maksimal untuk memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.*/Ian Kassa

Beasiswa BMH Bengkulu Dukung Jalan Generasi Menuju Masa Depan Cemerlang

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) – Pendidikan adalah salah satu kunci utama untuk menciptakan generasi masa depan yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Sayangnya, akses terhadap pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga dhuafa di Indonesia.

Di tengah kenyataan tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) hadir sebagai salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan mendesak akan pendidikan berkualitas melalui program beasiswanya.

Pada tanggal 7 Januari 2025, BMH kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan bagi kalangan dhuafa dengan mengadakan acara bertajuk Berkah Beasiswa, Langkah Cemerlang Menuju Masa Depan di Bengkulu. Program ini sebuah langkah untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita mereka.

Hendrianto, Kepala Perwakilan Baitulmaal Hidayatullah Bengkulu, menjelaskan pentingnya program ini dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. “Berkah beasiswa langkah cemerlang menuju masa depan ini merupakan program BMH dalam mendukung pendidikan sumber daya insani menjadi generasi yang kuat dan mandiri,” ujar Hendrianto.

Ananda Ahmad Fauzan, salah satu penerima manfaat beasiswa ini, adalah contoh nyata bagaimana program ini mampu mengubah hidup seseorang.

“Saya ingin mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah dan ucapan terimakasih yang mendalam kepada kakak-kakak BMH atas dipilihnya saya sebagai penerima beasiswa. Saya merasa sangat beruntung dan senang sekali mendapatkan kesempatan ini. Semoga bantuan yang diberikan tidak hanya bermanfaat untuk saya dan teman-teman, tetapi juga menjadi pahala yang berlimpah bagi semuanya,” katanya.

Penyaluran beasiswa pendidikan adalah salah satu pilar utama yang terus digalakkan untuk memberikan dampak jangka panjang. Program ini tidak hanya memberikan bantuan finansial tetapi juga membangun kepercayaan diri para penerima manfaat untuk terus melangkah maju meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dengan menyasar anak-anak dari keluarga dhuafa, BMH ingin memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan memberikan dampak yang signifikan. Selain itu, program ini juga melibatkan masyarakat luas untuk berpartisipasi, baik melalui donasi maupun dukungan moral, sehingga tercipta ekosistem yang mendukung pendidikan inklusif.

Sebagai lembaga yang memiliki visi besar, kata Hendrianto, BMH memahami bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan memberikan hasil berlipat ganda di masa depan.

Hendrianto menambahkan bahwa BMH ingin memastikan para penerima beasiswa ini tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. Dengan demikian, efek dari program ini akan dirasakan lebih luas, tidak hanya oleh penerima manfaat tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.*/Novar Mandahari

Rakerwil Hidayatullah Sumut Garisbawahi Pentingnya Sinergi Antar Elemen Umat

0

DAIRI (Hidayatullah.or.id) — Di tengah sejuknya udara Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, berlangsung acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara yang dibuka pada Ahad, 5 Rajab 1446 (5/1/2025).

Acara ini sebagai momentum strategis untuk merumuskan langkah bersama menuju visi besar dan sebuah langkah konkret untuk menguatkan sinergi dan menyusun program strategis.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abu A’la Abdullah, M.HI, selaku pendamping Rakerwil utusan DPP Hidayatullah.

Dalam arahannya dalam pembukaan acara ini, Abu A’la menyampaikan pentingnya sinergi antar elemen umat dan menekankan bahwa visi organisasi Hidayatullah adalah terbangunnya peradaban Islam yang agung.

Ia menjelaskan bahwa visi ini hanya dapat diwujudkan dengan kehadiran Hidayatullah sebagai wadah berjamaah untuk amal saleh, pendidikan untuk generasi unggul, dakwah sebagai rahmatan lil ‘alamin, serta pelayanan dan pemberdayaan umat.

Dalam sambutannya, Abu A’la juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara Hidayatullah dengan pemerintah dan masyarakat.

“Kami menyadari bahwa visi, misi, dan berbagai program Hidayatullah hanya dapat diwujudkan dengan sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, Hidayatullah mendukung visi misi pemerintahan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, dengan pembangunan berkelanjutan,” ujar beliau.

Tema yang diusung dalam Rakerwil kali ini, “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Sentralisasi, Standardisasi, dan Integrasi Sistemik,” mencerminkan semangat bersama untuk memperkuat tata kelola organisasi.

Melalui tema ini, terang dia, Hidayatullah berkomitmen untuk menciptakan sistem yang lebih terstandar, tersentralisasi, dan terintegrasi hingga tahun 2025.

Peluncuran Program Dai Berdaya

Salah satu momen penting dalam Rakerwil ini adalah peluncuran Program Dai Berdaya oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH). Program ini bertujuan mendukung kiprah dai yang bertugas di pedalaman dengan memberikan tambahan modal usaha untuk meningkatkan kemandirian mereka.

Sebagai langkah awal, bantuan modal usaha diserahkan kepada lima dai di berbagai wilayah Sumatera Utara, termasuk usaha ternak ayam kampung, kebun jagung, cabe hijau, kedai gorengan, dan tanaman kopi.

Kepala Perwakilan BMH Sumut, Muhammad Nuh, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menguatkan usaha dai sekaligus mendukung kemandirian mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Kami yakin dukungan ini sangat bermanfaat bagi para dai untuk menghidupkan dakwah di daerahnya masing-masing. Ini adalah upaya kami memaksimalkan dana zakat dan sedekah agar menjadi instrumen kemandirian,” ujar Nuh.

Program Dai Berdaya mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kasi Bimas Islam Kemenag Dairi, H. Lindung Kaloko, S.Ag., MM, menyebutnya sebagai langkah bijak yang menjadi teladan.

Para penerima manfaat program juga mengungkapkan rasa syukur mereka. Zulfan Zebua, salah satu penerima manfaat, mengatakan, “Melalui BMH, Allah kirim bantuan. Semoga menjadi wasilah berkah bagi para donatur.”

Program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membangun optimisme dan semangat baru di kalangan dai. Taklim Nasution, penerima bantuan untuk usaha kedai gorengan, menyatakan bahwa bantuan tersebut menjadi motivasi untuk meningkatkan kemandirian pesantren di daerahnya.*/Herim

Rakerwil DIY-Jateng Bagsel Rajut Kehangatan Harmoni Kuatkan Gerakan Dakwah di Era Society 5.0

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana yang penuh kehangatan dan semangat kebersamaan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Istimewa Yogyakarta–Jawa Tengah Bagian Selatan (DIY-Jateng Bagsel) menggelar seminar peradaban bertema “Strategi Kaderisasi Gerakan Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di Era Society 5.0”.

Bertempat di Auditorium Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta pada Sabtu, 4 Rajab 1446 H (4/1/2025), acara ini menjadi ajang pertemuan inspiratif bagi tokoh-tokoh dari berbagai organisasi Islam.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagsel. Menghadirkan pembicara dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah, Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah DIY, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) DIY, acara ini sukses menarik lebih dari 500 peserta yang memenuhi auditorium.

Dr. Nashirul Haq, Lc. MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah, membuka diskusi dengan pemaparan yang menekankan bahwa kaderisasi dalam gerakan dakwah adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan pengorbanan besar.

Menurut Nashirul, kaderisasi gerakan dakwah tidak bisa dilakukan dengan singkat, tapi butuh proses panjang seperti halnya kaderisasi yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul.

“Saya sangat yakin, proses kaderisasi akan berjalan dan berhasil jika para pengkader memberikan pengarahan dan perhatian khusus kepada sasarannya,” tutur Nashirul.

Dr. Yayan Suryana, M.Ag., Wakil Ketua PW Muhammadiyah DIY, sebagai pembicara kedua, menyoroti pentingnya transformasi dakwah di era digital.

Menurut Yayan, hari ini keberadaan media sosial memberikan pengaruh sangat besar terhadap perubahan dan juga cara pandang masyarakat. “Maka dibutuhkan nilai-nilai kultural melalui rasionalisasi terhadap kader dakwah,” ujarnya.

Sementara itu, Drs. H. Masruri, Ketua DDII DIY, dalam paparannya yang filosofis, menyebutkan bahwa dakwah adalah naluri alami manusia.

“Dakwah itu naluri setiap manusia, karena hakikatnya manusia memiliki dorongan untuk menyampaikan gagasan apa yang menjadi pemikiran dan keyakinan dalam dirinya. Bisa berasal dari pemikiran positif maupun negatif. Sehingga hari ini ada pegiat dakwah yang saya pikir sudah keluar dari spirit kenabian,” urainya.

Sebagai pembicara pamungkas, Dr. Muhajir, M.Si., Sekretaris PWNU DIY, memaparkan pengalaman panjang NU dalam melibatkan kader untuk memperkuat persatuan umat.

“Menjadi kader itu harus totalitas dan harus bisa memperkuat persatuan, sehingga permasalahan yang ada dalam diri organisasi bisa segera terpecahkan, termasuk juga permasalahan yang ada di masyarakat. Itu sudah dilakukan oleh para kyai NU sejak sebelum Indonesia merdeka,” ujar Muhajir.

Muhajir juga menyoroti pentingnya silaturahmi dan solidaritas dalam menjaga keberlangsungan dakwah. “Silaturahmi dan perkuat solidaritas antar pengurus yang telah kami lakukan, hal ini memberikan spirit dan juga kekuatan tersendiri dalam dakwah,” katanya.

“Termasuk kami silaturahmi dengan Muhammadiyah. Coba cek di kampus-kampus milik Muhammadiyah, saya pastikan sebagian guru dan dosennya adalah warga NU,” ujarnya menambahkan, diselingi kelakar yang mengundang gelak tawa dan tepuk tangan dari peserta.

Dialog hangat yang terjadi sepanjang acara merefleksikan semangat persatuan yang tinggi, di mana setiap organisasi saling berbagi pengalaman, strategi, dan inspirasi untuk masa depan dakwah yang lebih baik.*/Haris Munandar

Kehadiran Pimpinan Ormas Islam Semarakkan Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta tidak hanya menjadi ajang pembahasan program kerja, tetapi juga mempertegas peran strategis ormas Islam dalam memperkuat persatuan dan kerukunan bangsa melalui sinergi yang kokoh.

Semangat kebersamaan ini ditandai dengan kehadiran para pimpinan organisasi Islam tingkat wilayah dalam pembukaan Rakerwil yang turut menyemarakkan acara ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Sabtu, 4 Rajab 1446 (4/1/2025).

Dibuka dengan seminar kebangsaan bertema “Merawat Persatuan dan Kerukunan Bangsa dalam Bingkai Dakwah Wasathiyah”, Rakerwil yang kelima ini dihadiri oleh jajaran pimpinan organisasi masyarakat Islam di Jakarta.

Turut hadir perwakilan dari Syarikat Islam, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Al-Jam’iyatul Washliyah, Persatuan Ummat Islam (PUI), Persatuan Islam (Persis), Mathla’ul Anwar, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Ittihadiyah, Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), dan Wahdah Islamiyah.

Kemudian hadir juga perwakilan Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ittihadul Muballighin Wal Muballighot, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Silaturahim Haji dan Umrah Indonesia (SAHI), Rabithah Alawiyah, dan Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCMI). Tidak ketinggalan, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah turut memberikan apresiasi dan ucapan selamat atas terselenggaranya Rakerwil ini.

Eratkan Silaturahim Antar Ormas

Ketua DPW Hidayatullah Jakarta, Muhammad Isnaini, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung acara ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh ormas Islam yang hadir dan memberikan dukungannya. Ini adalah simbol nyata dari kuatnya ukhuwah Islamiyah di Jakarta. Semoga jalinan silaturrahim ini terus terjaga dalam upaya kita bersama merawat persatuan dan kerukunan bangsa,” ujar Isnaini kepada media ini.

Isnaini juga menekankan pentingnya tema seminar kebangsaan yang dirangkai dalam pembukaan Rakerwil ini. Menurutnya, konsep dakwah wasathiyah menjadi kunci dalam membangun bangsa yang harmonis di tengah keberagaman.

“Dakwah wasathiyah adalah transformasi pesan jalan tengah yang menegaskan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Dalam bingkai ini, kita dapat menyatukan langkah untuk menjaga kebersamaan dalam dekapan ukhuwah Islamiyah,” tambahnya.

Seminar kebangsaan yang menjadi pembuka acara Rakerwil ini menghadirkan pembicara H. Anies Rasyid Baswedan, S. E., M. P. P., Ph. D (Gubernur DKI Jakarta 2017-2022), KH. Yusuf Aman, MA (Wakil Ketua MUI DKJ), Ust. Muzakkir Usman Asyari, M.Ed, Ph.D (Direktur Hidayatullah Institute), dan moderator Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah periode 2020-2023).

Narasumber mengupas relevansi dakwah wasathiyah dalam menjawab tantangan sosial dan kebangsaan. Para peserta yang hadir dari beragam ormas Islam menyepakati pentingnya kolaborasi strategis untuk menciptakan ruang dialog yang sehat dan produktif di tengah masyarakat.

Seminar ini juga menjadi ruang refleksi bagi peran ormas Islam dalam menjaga persatuan bangsa, terutama di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.

Pembicara menekankan bahwa dakwah dan peran ormas Islam harus mampu menjembatani perbedaan dengan menampilkan wajah Islam yang berakhlak, jujur, dan solutif terhadap permasalahan kebangsaan.

Lebih jauh Isnaini menyampaikan, selain sebagai forum silaturahim, Rakerwil ini juga menjadi momentum bagi DPW Hidayatullah Jakarta untuk merancang program kerja yang berorientasi pada penguatan ukhuwah Islamiyah dan pembangunan masyarakat yang berkeadaban.

“Program-program yang disusun dalam Rakerwil ini diharapkan mampu mengakomodasi berbagai tantangan sosial yang dihadapi oleh umat Islam di Jakarta, seperti pendidikan, ekonomi umat, dan penguatan moral generasi muda,” katanya.

Isnaini menegaskan bahwa kolaborasi antarormas adalah kunci keberhasilan program-program tersebut. “Kami percaya bahwa kolaborasi adalah langkah terbaik untuk memastikan program yang dirancang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas,” tegasnya.

Selain itu, Isnaini menambahkan, Rakerwil Hidayatullah Jakarta kelima ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Islam di Jakarta tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada kualitas sinergi dan kerjasama antarormas yang terjalin erat.

“Semoga semangat ini terus berlanjut, menjadi inspirasi bagi seluruh umat Islam di Indonesia untuk bersama-sama merawat persatuan dan kerukunan bangsa,” imbuh Isnaini memungkasi.*/Arbani Santoso

Bagaimana Idealnya Agility Organisasi Dakwah di Era Perubahan Cepat

0

BAGI pegiat bisnis dan organisasi, kata “agility” termasuk akrab dalam benak. Agility tidak saja soal ketangkasan individu semata, tetapi juga organisasi, termasuk yang bergerak di bidang dakwah.

Satu hal yang paling mudah kita cermati, organisasi dakwah harus mampu meresepon perubahan yang dinamis dengan cepat dan fleksibel. Organisasi dakwah tidak bisa bergerak “nyaman” dengan gaya lama.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, agility adalah kemampuan sebuah organisasi untuk beradaptasi secara cepat dan efisien terhadap perubahan, baik yang berasal dari dalam maupun luar organisasi.

Di era yang serba cepat ini, organisasi dakwah membutuhkan agility sebagai kemampuan utama untuk menghadapi isu-isu kontemporer yang kompleks seperti Islamofobia, pergeseran nilai sosial, dan tantangan media digital.

Isu-isu ini tidak hanya memengaruhi persepsi masyarakat tentang Islam tetapi juga memengaruhi pola pikir umat, terutama generasi muda yang sangat terpapar pada narasi global.

Jika organisasi dakwah tidak mampu bergerak dengan cepat dan responsif, mereka berisiko kehilangan relevansi dan gagal menjadi pembimbing yang dibutuhkan umat dalam menjawab berbagai tantangan ini. Dalam konteks ini, agility menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.

Dampak

Respons yang lambat dari organisasi dakwah terhadap perubahan sosial dan teknologi dapat berdampak pada hilangnya kepercayaan dan keterlibatan umat.

Sebagai contoh, ketika narasi islamofobia menyebar luas di media sosial, tidak adanya tanggapan yang cepat dan strategis dari organisasi dakwah memungkinkan narasi tersebut mengakar tanpa perlawanan yang berarti.

Di sisi lain, pergeseran nilai sosial yang mengarah pada individualisme dan materialisme membutuhkan pendekatan dakwah yang lebih relevan dan terhubung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tanpa kemampuan beradaptasi, organisasi dakwah akan tertinggal, sementara umat mencari panduan dari sumber-sumber yang tidak selalu dapat dipercaya.

Dr. Aidh al-Qarni adalah contoh ulama kontemporer yang menggunakan agility dalam menyampaikan dakwah melalui berbagai medium modern.

Bukunya, La Tahzan, menjadi fenomena global karena berhasil merespons kebutuhan umat untuk mendapatkan inspirasi hidup yang relevan dengan tantangan modern.

Dengan agility, ia tidak hanya menyampaikan pesan dakwah tetapi juga menjawab keresahan umat di era modern.

Sekarang apa lagi produk dakwah yang relevan dan menjawab keresahan umat? Artinya, kita punya peluang sekaligus tantangan untuk memberikan jalan keluar.

Agility juga menjadi kunci untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai alat dakwah yang efektif.

Media digital kini menjadi ruang utama diskusi, informasi, dan edukasi bagi mayoritas umat, terutama generasi muda.

Momentum

Jika organisasi dakwah tidak mampu masuk ke ruang ini dengan strategi yang kreatif dan relevan, mereka akan kehilangan momentum dalam menjangkau audiens yang kritis dan dinamis.

Dalam kasus Hidayatullah, posisi majalah Suara Hidayatullah menarik untuk jadi tinjauan. Apakah akan terus bertahan dengan gaya cetak atau kita bertransformasi ke ranah digital. Kajian bisa segera diupayakan, plus langkah-langkah strategis yang relevan.

Dengan memiliki agility, organisasi dakwah dapat dengan cepat merancang program, merespons isu, dan membangun narasi positif yang tidak hanya memengaruhi umat tetapi juga masyarakat global.

Inilah saatnya organisasi dakwah bergerak cepat, terorganisasi, dan adaptif agar tetap menjadi mercusuar kebaikan di tengah dunia yang terus berubah.

Agility dalam konteks organisasi massa Islam atau dakwah bukan hanya tentang kecepatan adaptasi, tetapi juga tentang kemampuan untuk tetap relevan, progresif, dan memberikan dampak nyata di tengah tantangan zaman.

Sejarah membuktikan bahwa agility adalah elemen krusial bagi organisasi massa Islam untuk bertahan dan berkembang di tengah tantangan zaman.

Pada masa Rasulullah SAW, strategi dakwah menunjukkan fleksibilitas dan relevansi yang luar biasa. Ketika dakwah di Makkah menghadapi tekanan dari kaum Quraisy, Rasulullah SAW mengadaptasi pendekatannya dengan hijrah ke Madinah, membangun masyarakat berbasis nilai Islam, dan menyusun Piagam Madinah sebagai bentuk kerangka sosial-politik yang progresif.

Keputusan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap situasi, tetapi juga menghasilkan dampak nyata berupa stabilitas umat Islam yang berkontribusi pada perkembangan dakwah di masa selanjutnya.

Periode kejayaan peradaban Islam pada era Abbasiyah juga memberikan bukti pentingnya agility dalam organisasi Islam.

Dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat saat itu, umat Islam tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi pelopor kemajuan di berbagai bidang, termasuk kedokteran, matematika, dan filsafat.

Khalifah Abbasiyah menunjukkan kemampuan untuk tetap relevan dengan mendukung pengumpulan dan penerjemahan karya-karya besar dunia ke dalam bahasa Arab, yang menjadikan Islam sebagai pusat peradaban global.

Keberhasilan ini hanya mungkin dicapai dengan sikap progresif yang terorganisasi.

Catatan

Di era modern, agility tetap relevan untuk menjawab tantangan kontemporer.

Organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana agility memungkinkan mereka tetap relevan di tengah perubahan sosial, politik, dan teknologi.

Muhammadiyah, misalnya, tidak hanya bergerak di bidang dakwah, tetapi juga dalam pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, dengan memanfaatkan teknologi untuk memperluas dampaknya.

Sementara itu, NU menunjukkan adaptasi yang progresif dengan mengusung “Humanitarian Islam” sebagai respons terhadap kebutuhan menjaga tradisi lokal sekaligus relevan di tengah globalisasi.

Dalam konteks produktivitas publikasi, NU kini patut berbangga dengan adanya NU Online. Situs yang berdiri sejak 2003 itu terus bergerak maju. NU Online telah menggunakan big data, algoritma media sosial dan analisis tren digital dalam memahami kebutuhan audiens.

Secara berkelanjutan NU Online juga bergerak cepat mengembangkan kapasitas dai agar melek teknologi. Lebih jauh NU online terus berupaya menjadi web keislaman yang otoritatif.

Dengan demikian, jika relevansi sudah jadi kesadaran penggerak utama organisasi, maka kebijakan yang memungkinkan peningkatan eksponensial tentang kemampuan yang memberikan dampak nyata benar-benar akan diupayakan.

Mulai dari penguatan leadership kader, empati untuk mendukung budaya desain thinking, hingga kultur organisasi yang kian adaptif, progresif dan solutif.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Shalat Isyraq, Meraih Manfaat dan Berkah Pagi dalam Langkah Istiqamah

0

TENTU suatu amalan akan luar biasa keutamaannya jika dilaksanakan secara yakin, ikhlas, dan konsisten setiap hari. Semakin besar keutamaannya maka semakin berat godaan dan tantangan untuk melaksanakannya. Termasuk melaksanakan shalat Isyraq secara istiqamah setiap hari.

Arti Isyraq ialah “terbit” dan yang dimaksudkannya adalah terbitnya matahari. Namun shalat isyraq tidak boleh dilaksanakan bersamaan dengan terbit matahari. Karena karena menunaikan shalat pas matahari terbit hukumnya haram atau termasuk waktu yang haram untuk shalat. Rasulullah SAW bersabda terkait hal ini:

صَلِّ صَلاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيِ شَيْطَانِ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Laksanakan shalat subuh, kemudian berhentilah dari shalat sampai terbitnya matahari dan hingga matahari meninggi; karena ia terbit saat terbit di antara dua tanduk setan, dan saat itulah orang-orang kafir sujud kepadanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memberi pemahaman mendalam pada kita mengenai waktu-waktu yang dimakruhkan untuk beribadah, termasuk larangan melaksanakan shalat pada saat-saat tertentu, seperti saat matahari sedang terbit, berada di tengah langit, atau menjelang terbenam.

Larangan ini bertujuan untuk menghindari keserupaan dengan praktik ibadah kaum musyrik yang memuja matahari pada waktu-waktu tersebut, serta menjaga kemurnian akidah umat Islam.

Ibnu Rusyd mengatakan dalam kitab Bidayatul al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid bahwa jumhur ulama sepakat untuk tiga waktu yang dilarang salat, yakni ketika matahari sedang terbit, ketika matahari sedang terbenam, dan waktu setelah salat subuh sampai matahari terbit.

Adapun mengapa tiga waktu tersebut dilarang melaksanakan shalat, Ibnu Qudamah dalam kitab karyanya, Mukhtashar Minhajul Qashidin, disebutkan menyebutkan tiga rahasia larangan tersebut, yaitu:

Alasan pertama, menghindarkan dari menyerupai orang-orang yang menyembah matahari. Meskipun secara niat pasti berbeda, tapi sebagai bentuk kehati-hatian dari prasangka dan fitnah di kalangan masyarakat awam maka dilarang shalat saat matahari terbit.

Alasan kedua, sebagai bentuk peringatan keras untuk tidak sujud kepada tanduk setan. Sebab saat matahari terbit, di atas ufuk dan ketika akan terbenam selalu syetan mengiringinya dengan setia. Istilah anak sekarang syetan selalu “nebeng’ kepada matahari di tiga waktu tersebut. Shalat di tiga waktu tersebut dikhawatirkan menyembah syetan yang senantiasa mengiringi matahari.

Alasan ketiga, seperti dijelaskan Ibnu Qudamah, meskipun di tiga waktu tersebut dilarang untuk melaksanakan shalat tapi ibadah yang lain tidak larang. Seperti berdzikir, membaca al-Qur’an, bershadaqah, berdoa. Agar orang-orang beriman tidak bosan dengan ibadah shalat dan bisa beralih kepada bentuk ibadah yang lain.

Maka shalat Isyraq ditunaikan setelah matahari terbit ukuran satu tombak 2.5 meter jika dilihat dari kondisi matahari. Jika tidak memungkinkan melihat matahari maka bisa diperkirakan waktu antara 10-15 menit setelah matahari terbit.

Dalam tata cara shalat Isyraq atau disebut juga dengan shalat sunnah syuruq, itu sama saja seperti pelaksanaan shalat sunnah biasa. Perbedaannya hanya masalah niat saat takbiratul ihram.

Tidak mudah bisa bertahan duduk di masjid dari shalat Shubuh berjamaah hingga melaksanakan shalat Isyraq, jika bukan karena motivasi untuk mengikuti sunnah Rasulullah. Perlu ada tekat kuat untuk

Shalat Isyraq juga menjadi penanda untuk mengawali aktivitas pagi hari dengan kebaikan yang disempurnakan. Tidak semua orang bisa melaksanakannya, apalagi jika ada tuntutan masuk kerja atau sekolah masuk pagi-pagi, sehingga harus lebih cepat keluar dari masjid setelah shalat Shubuh berjamaah.

Beberapa Tips

Pagi hari adalah waktu yang penuh berkah, saat aktivitas kehidupan baru dimulai dengan harapan dan semangat. Di antara amal istimewa yang dapat mendatangkan keberkahan pagi adalah melaksanakan shalat Isyraq dengan keutamaannya yang besar, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah.

Namun, untuk melaksanakan shalat Isyraq dengan istiqamah tentu membutuhkan usaha dan persiapan. Sebelum masuk ke pembahasan tentang tips mudah melaksanakan shalat Isyraq, penting bagi kita untuk memahami betapa besar manfaat dan keutamaannya. Pemahaman ini menjadi dasar motivasi agar hati lebih tertarik dan bersemangat menjalankannya.

Langkah awal adalah dengan membaca dan memahami keutamaan serta tata cara shalat Isyraq. Bacalah literatur atau dengarkan kajian dari para ulama, ustadz, dan dai yang menjelaskan tentang shalat Isyraq. Pengetahuan ini akan menambah wawasan, juga menguatkan keyakinan akan keutamaannya.

Kedua, tumbuhkan motivasi diri. Ingatlah bahwa motivasi terbaik datang dari dalam diri sendiri. Renungkan, mengapa kita harus melaksanakan shalat Isyraq? Apa manfaatnya untuk kehidupan dunia dan akhirat? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu menumbuhkan semangat ibadah.

Selanjutnya, carilah lingkungan yang mendukung. Berada di tengah jamaah masjid atau komunitas yang memiliki kebiasaan baik dapat memotivasi kita untuk ikut melakukannya.

Biasanya, masjid yang aktif mengadakan kajian bakda Subuh atau halaqah akan membantu kita mengisi waktu hingga tiba waktu Isyraq. Hal ini penting agar waktu menunggu tidak terasa berat, sekaligus menjadi ladang amal tambahan dengan dzikir pagi, membaca Al-Qur’an, atau mengikuti majelis ilmu.

Tidak kalah penting, siapkan sarana pendukung seperti buku dzikir pagi dan mushaf Al-Qur’an untuk menemani waktu menunggu. Terakhir, libatkan keluarga dan sahabat dalam perjalanan ini.

Doa dan dukungan dari orang-orang terdekat kita dapat menjadi penguat langkah dalam melaksanakan shalat Isyraq secara konsisten. Dengan niat tulus dan usaha sungguh-sungguh, semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan berkah pagi melalui shalat Isyraq.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Meneladani Nabi Menggapai Keberkahan Pagi Melalui Shalat Isyraq

0

RANGKAIAN amalan yang memiliki keutamaan di pagi hari berikutnya adalah shalat isyraq. Sebelumnya, di awali shalat tahajjud, istighfar di waktu sahur, shalat sunnah sebelum shubuh. Lalu, shalat shubuh berjamaah di masjid, membaca al-Qur’an, wirid pagi, shadaqah shubuh kemudian disempurnakan dengan shalat isyraq’.

Memang sekilas berat dan harus lama duduk di masjid, tapi kalau sudah mencoba beberapa kali secara konsisten menjadi ringan bahkan berubah menjadi berat untuk meninggalkannya. Awalnya berat karena banyak godaan dan alasan, setelah shalat shubuh berjamaah di masjid.

Jika mengikuti nafsu, maunya kita melanjutkan mimpi dengan tidur pagi. Padahal secara dampak sebagaimana temuan para ahli, tidur pagi adalah waktu yang berbahaya bagi kesehatan, secara syariat juga termasuk yang dimakruhkan. Sekilas nikmat dan bisa menjadi kecanduan tidur pagi, namun dampak negatif tidak sederhana bagi kesehatan jasmani dan ruhani.

Tidur adalah salah satu kenikmatan yang besar, banyak manfaat dari tidur untuk mensegarkan tubuh. Tidur sebagai kebutuhan tubuh, jika tidak bisa tidur atau kesulitan tidur maka akan tersiksa dan mengundang penyakit lain.

Meski demikian tidur ada waktunya tersendiri untuk istirahat. Ada beberapa waktu yang dilarang untuk tidur, yaitu setelah shalat shubuh dan setelah shalat Ashar.

Mengenai mudharat tidur pagi, ulama dan pemikir Syaikh Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i al-Dimashqi, atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, mengatakan:

وَمِنَ المكْرُوْهِ عِنْدَهُمْ : النَّوْمُ بَيْنَ صَلاَةِ الصُّبْحِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ فَإِنَّهُ وَقْتٌ غَنِيْمَةٌ

“Di antara hal yang makruh menurut para ulama adalah tidur setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit karena waktu tersebut adalah waktu memanen ghonimah (waktu meraih kebaikan yang banyak)” (Madarijus Salikin, 1: 369)

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menekankan keutamaannya dengan mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi dengan sanad hasan)

Dari hadits ini sudah jelas bahwa hendaknya kita tidak kembali melanjutkan mimpi tidur di malam hari dengan tidur pagi. Bersiaplah menyambut hari yang Allah janjikan keberkahan di dalamnya. Secara hukum fiqih memang bukan haram, tapi bisa tergolong makruh karena merugikan dirinya sendiri.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan “Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan. Tidur pagi juga Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat.” (Zaadul Ma’ad, 4/222)

Beliau juga mengibaratkan bahwa pagi harinya seseorang itu diibaratkan seperti masa mudanya dan akhir hari seseorang itu diibaratkan seperti masa tuanya. Jika di masa muda, bermalasan-malasan, itu akan mempengaruhi masa tua.

Apalagi, tidur setelah shalat shubuh akan membuat badan lemas, tak bergairah, malas untuk melakukan hal-hal bermanfaat serta menyebabkan terbuangnya waktu di hari itu.

Hal yang pasti dari tidur pagi adalah menjauhkan dari umat yang didoakan oleh Rasulullah setiap pagi untuk mendapatkan berkah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dikemukakan sebelumnya.

Sebagian setelah shalat shubuh, ingin baring-baring bersama istri dan itu bagian dari waktu yang nikmat bersama pasangan. Sebagian ada yang buru-buru untuk berangkat kerja pagi-pagi karena jam kerjanya yang masuk pagi atau tempat kerjanya jauh sehingga menuntut berangkat lebih awal. Artinya banyak pilihan dan alasan untuk cepat keluar dari masjid setelah shalat shubuh berjamaah.

Namun ada sunnah shalat isyraq yang dituntunkan dan diteladankan oleh Rasulullah. Shalat sunnah hanya dua rakat, tapi waktunya harus menunggu di masjid setelah shalat shubuh berjamah.

Hadist dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Meskipun ada sebagian ulama yang memperdebatkan pahala dari shalat isyraq ini yang terlalu besar sebagai shalat sunnah. Namun tidak ada yang mempertanyakan bahwa shalat isyraq adalah bagian rangkaian ibadah sunnah yang dilakukan Rasulullah di waktu pagi setelah shalat shubuh berjamaah di masjid.

Motivasi mengikuti dan meneladani sunnah Rasulullah menjadi hal yang terpenting, tentang apapun pahala atau imbalannya menjadi bonus terbaik atas kecintaan kepada Rasulullah. Fokusnya pada meneladani, bukan kepada pahalanya maka Allah akan memberikan yang terbaik.

Dalam hadist di atas, juga harus dipahami bahwa shalat Isyraq adalah satu rangkaian dari shalat shubuh berjamaah di masjid. Artinya syarat pertama untuk shalat Isyraq adalah dimulai dengan shalat shubuh berjamaah di masjid bukan shalat shubuh sendirian, atau berjamaah tapi hanya bersama istri di rumah saja.

Selanjutnya syarat kedua shalat shubuh Isyraq, dalam hadist di atas adalah dzikir. Banyak amalan dzikir yang bisa dilakukan untuk menunggu waktu antara shalat shubuh dan shalat Isyraq, yaitu dzikir itu sendiri, bertasbih, beristighfar, bershalawat, membaca wirid pagi, berdoa, membaca, menghafal atau murajaah al-Qur’an, ikut kajian atau halaqah. Banyak pilihan dan amalan yang bisa dilakukan untuk menunggu waktu Isyraq.

Ada dua pilihan hidup di pagi hari setelah shalat shubuh berjamaah di masjid, kembali tidur untuk melanjutkan mimpi atau bangun tidur untuk mewujudkan mimpi. Yaitu memulai dengan ketaatan ibadah sunnah, amal ibadah dan amal sholeh.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah