Beranda blog Halaman 135

Santri Rumah Qur’an Jannatul Firdaus Siap Jadi Hafidzah Tangguh dengan Tapak Suci

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang duduk mengaji di depan mushaf. Di Rumah Qur’an Jannatul Firdaus, Perumahan Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, para santri diajak mengasah keterampilan hidup yang mendukung keseimbangan fisik dan mental. Salah satunya adalah latihan pencak silat Tapak Suci yang rutin digelar setiap Sabtu.

“Tapak Suci gerakan-gerakannya cukup mudah dipelajari oleh para santri,” ujar Wisnu Hidayat, pelatih silat di Rumah Qur’an, seperti dalam keterangan kepada media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).

Keterampilan bela diri ini menjadi bekal penting bagi para santri, termasuk para muslimah, untuk menjaga diri sekaligus membangun kepercayaan diri.

Enjelita Sari, 14 tahun, seorang hafidzah dengan hafalan 4 juz, mengaku senang mengikuti latihan ini.

“Penting bisa silat bagi muslimah untuk jaga diri,” katanya.

Senada dengan itu, Oktavia Nur Hanifah, yang telah menghafal 7 juz Al-Qur’an, menambahkan bahwa keterampilan bela diri adalah bagian dari karakter seorang muslimah yang kuat.

“Allah mencintai hamba-Nya yang kuat,” ujarnya dengan penuh semangat.

Latihan silat ini adalah bagian dari upaya Laznas BMH untuk mencetak generasi muda yang unggul, tidak hanya dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga dalam membangun karakter tangguh dan tangkas.

“Kegiatan ini sejalan dengan visi BMH untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang cerdas dan kuat melalui zakat, infak, dan sedekah,” jelas Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten (23/11).

Program ini bukan sekadar olahraga. Tapak Suci memberikan pondasi mental yang kokoh bagi para santri untuk menghadapi tantangan zaman.

Melalui dukungan dari zakat, infak, dan sedekah, BMH memastikan generasi muda muslim memiliki bekal untuk menjadi pemimpin masa depan yang berdaya saing tinggi.

Di balik hafalan Al-Qur’an mereka, ada semangat perjuangan. Bukan hanya menjadi pribadi yang cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh dalam menghadapi kehidupan. Inilah langkah nyata zakat yang membangun Indonesia.*/Herim

PT Lintas Mediatama Dukung Sukseskan Rakernas Hidayatullah ke-V di Bandung

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat, khususnya panitia Rapat Kerja Nasional (Rakernas) melakukan kunjungan silaturahim ke kantor PT. Lintas Mediatama (LIMA) di Jalan Cipunagara No. 16 Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, belum lama ini.

Sebagaimana diketahui bahwa Hidayatullah Jawa Barat akan menjadi tuan rumah Rakernas Hidayatullah Tahun 2024, yang akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.

Pada kunjungan tersebut Asep Juhana (Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jabar), Abdul Wahid (Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Jabar), Hasby Al-Faruqi (Bendahara DPW Hidayatullah Jabar), Tajuddin (seksi Humas dan Pusdok Rakernas), dan Ismatullah (seksi Humas dan Pusdok Rakernas) hadir bertujuan menjajaki peluang kerjasama dalam mensukseskan Rakernas Hidayatullah ke-V.

Mereka diterima oleh Aisya Yanti, Sekretaris Yayasan. “Insya Allah, kalau untuk syiar program sosial dan dakwah kami bisa bersinergi,” ujar Aisya Yanti.

Menurut Aisya, saat ini PT. Lintas Mediatama (LIMA) sedang membuat dua bentuk kegiatan, yaitu bisnis dan dakwah.

“Kalau bisnis yang murni ada perusahaan, sedangkan untuk dakwah kami punya yayasan sebagai media untuk memberikan kebermanfaatan kepada umat secara langsung,” paparnya.

Sementara itu, Abdul Wahid menyatakan, “Alhamdulillah, kami diterima dengan baik dan menyampaikan rencana program sinergi syiar dakwah, melalui publikasi PT. Lintas Mediatama,” ujar Abdul Wahid.

“Insya Allah, ucapan selamat dan sukses Rakernas Hidayatullah ke-V akan ditayangkan melalui videotron outdoor di tempat strategis di kota Bandung,” imbuh Wahid.

Asep Juhana pun turut menyampaikan kegiatan Rakernas. Menurutnya, Rakernas tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga akan disemarakkan dengan acara Seminar Nasional Pendidikan, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas khidmat Hidayatullah untuk umat.

“Pada acara Seminar Nasional Pendidikan ini, kami akan mengundang pejabat, ulama, ormas Islam, cendekiawan, guru, dosen, mahasiswa, pengusaha, dan tokoh,” kata Asep Juhana.

“Insya Allah, Pak Menag Prof Nasaruddin Umar, Wamen Dikdasmen Prof Atif Latipulhayat, dan Rektor UPI Prof Solehuddin akan hadir,” pungkas Asep Juhana.*/Dadang Kusmayadi

Ketua Umum DPP Hidayatullah Hadiri Forum Majelis Ilmuwan Nusantara ke-2 di Negeri Perlis

KANGAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, menghadiri Persidangan Ilmuwan Nusantara (MIN) ke-2 yang digelar selama 2 hari oleh Jabatan Mufti Perlis di Kangar, Negeri Perlis, Malaysia, 12-13 Jumadil Awal 1446 (14-15//11/2024) lalu.

Konferensi yang mengambil tema “Kedudukan Agama dan Budaya” ini dibuka secara resmi oleh Raja Muda Perlis Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail di Komplek Dewan Undangan Negeri Perlis.

Forum ini diinisiasi dan dipimpin oleh Mufti Perlis SS Dato Prof. Dr. Mohd. Asri Zainal Abidin dan dihadiri 30 peserta dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja.

Selain Nashirul Haq, hadir bersama delegasi dari Indonesia antara lain Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Tarjih, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar dan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) Dr. H. Jeje Zainuddin.

Dalam forum yang diikuti oleh para ulama dan cendekiawan dari berbagai negara ini, Nashirul Haq menyampaikan klasifikasi budaya, tradisi, dan adat istiadat dari sudut pandang Islam. Dia menggarisbawahi relevansi nilai-nilai Islam dalam menyikapi keberagaman budaya lokal dan global.

Nashirul Haq mengidentifikasi tiga kategori utama budaya dalam Islam yaitu, Pertama, budaya yang sesuai dengan Islam. Budaya ini dianggap selaras dengan ajaran Islam dan karenanya perlu dipertahankan.

Kedua, budaya yang bertentangan dengan Islam. Budaya semacam ini dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam sehingga harus ditinggalkan.

Ketiga, lanjut Nashirul, adalah budaya yang bersifat netral, yakni tradisi yang tidak diperintahkan maupun dilarang dalam Islam. Budaya ini, menurutnya, diperbolehkan, terutama apabila mengandung kemaslahatan.

“Pertama, sesuai dengan Islam sehingga perlu dipertahankan. Kedua, bertentangan dengan Islam sehingga harus ditinggalkan. Ketiga, tidak ada perintah maupun larangan dalam Islam sehingga dibolehkan. Terutama jika mengandung maslahat,” jelasnya, seraya menekankan prinsip maslahat sebagai kriteria penting dalam menentukan penerimaan suatu budaya.

Lebih lanjut, Nashirul Haq mendorong upaya islamisasi budaya melalui pendekatan penanaman sunnah di masyarakat.

“Kita perlu menanamkan sunnah seperti memberi salam, silaturahim, tolong menolong, dan sebagainya agar mengakar menjadi budaya di masyarakat kita,” tegasnya.

Dalam pada itu, dia menekankan pentingnya membangun budaya berbasis nilai-nilai Islam yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga transformatif.

Nashirul menambahkan, forum ini sangat positif dalam upaya rekonsiliasi antara ajaran agama dan kearifan lokal, di mana nilai Islam dapat berfungsi sebagai dasar etis dalam membangun harmoni sosial.

Sebagai informasi, di kawasan yang sama, Konferensi Majelis Ilmuwan Nusantara ke-1 diadakan pada bulan Februari 2024 lalu dengan tema; Manhaj Sunnah Menyatakan Umat.*/A Ruways

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Sulbar Gaungkan Tri Sukses dan Penyebaran Gagasan Peradaban Islam

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Momentum Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Barat dimanfaatkan oleh Ketua Departemen Organisasi dan Pengembangan Jaringan Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, menyampaikan arahan yang menggarisbawahi pentingnya peran pemuda dalam penyebaran ide dan gagasan peradaban Islam.

Dalam era yang semakin kompleks seperti saat ini, Haniffudin menekankan bahwa Pemuda Hidayatullah harus memainkan perannya dengan lebih terbuka untuk membangun sinergi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Dia menegaskan, gerakan Hidayatullah, yang berpegang pada visi “Membangun Peradaban Islam” dengan manhaj Sistematika Wahyu, ditantang untuk menarasikan konsep tersebut dalam bahasa yang lebih universal.

“Menjadikan narasi teologis simbolik sebagai bahasa publik yang rasional adalah kunci untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama kepada mereka yang belum memahami atau salah paham tentang Islam,” kata Haniffudin, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Dia menjelaskan, Pemuda Hidayatullah sebagai entitas muda dan komunitas epistemik mesti berfokus pada penyebaran ide-ide besar membangun peradaban Islam dengan cakupan luas melalui bahasa universal dan rasional sehingga mampu menjadi diskursus publik yang menjangkau khalayak umum.

Namun, sayangnya, Menurut Hanif, narasi publik yang diusung oleh Pemuda Hidayatullah selama ini tampak lebih terpusat pada penyampaian informasi yang bersifat internal, seperti laporan kegiatan seremonial dan hal serupa lainnya.

Fenomena ini, terang dia, menunjukkan adanya jarak antara idealitas gerakan Islam yang diharapkan dengan praktik yang berlangsung.

Sebagai sebuah entitas yang mengusung misi Islam, terang dia, Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab serius sebagai corong peradaban yang secara konsisten mengangkat kemuliaan ajaran Islam, sebagaimana tersurat dalam struktur sistematika wahyu.

“Visi gerakan membangun peradaban Islam menuntut kita untuk tidak sekadar berkutat pada ranah internal, tetapi juga mampu menjadikan ajaran Islam sebagai narasi intelektual yang berkontribusi pada ruang publik dan membangun peradaban yang holistik,” katanya.

Mencapai Tri Sukses

Dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Sulawesi Barat pada Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22 November 2024), Haniffudin menyerukan pentingnya kolaborasi dengan organisasi kepemudaan Islam lainnya.

Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat dakwah dan mengatasi berbagai tantangan keumatan. “Silaturrahim antar organisasi Islam harus terus dijaga, tanpa melulu membesar-besarkan perbedaan,” tambahnya, via daring.

Disamping itu, untuk mendukung visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam, Haniffudin merumuskan tiga rencana aksi strategis atau “Tri Sukses” yang menjadi panduan Pemuda Hidayatullah menuju Indonesia 2045.

Pertama, sukses organisasi. Dia menjelaskan, keberhasilan organisasi memerlukan tertib administrasi, kaderisasi yang sistematis, dakwah yang efektif, serta dukungan penuh dari organisasi induk dan amal usaha.

“Dengan struktur yang rapi dan fungsional, Pemuda Hidayatullah dapat menjadi platform yang kokoh untuk memberdayakan umat,” katanya.

Kedua, sukses sumber daya manusia, yang menuntut Pemuda Hidayatullah harus menguasai isu-isu terkini melalui literasi yang kuat, memperkuat ibadah, dan membangun karakter unggul.

“Setiap kader harus memiliki lebih dari satu keahlian. Skill ganda adalah kebutuhan untuk menghadapi tantangan masa depan,” ungkap Haniffudin. Selain itu, amal saleh yang dilakukan dengan keikhlasan adalah bagian integral dari pengembangan diri sebagai kader Islami.

Ketiga, sukses Indonesia. Visi besar ini melibatkan upaya memasuki berbagai sektor strategis, baik swasta maupun pemerintahan. Hal ini mencakup membangun jaringan yang luas dan merekrut sumber daya manusia berkualitas untuk memperkuat posisi umat Islam di berbagai instansi.

Haniffudin mengakhiri sambutannya dengan harapan besar agar Pemuda Hidayatullah menjadi motor penggerak peradaban Islam yang berkelanjutan. Dengan dedikasi, strategi, dan kolaborasi, Pemuda Hidayatullah diharapkan mampu menjadi pelopor transformasi umat menuju masa depan yang gemilang

Pada kesempatan tersebut hadir didampingi jajarannya Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. H. Mardhatillah, yang sekaligus membuka acara tersebut. Hadir juga Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulbar, Muhammad Rifal, bersama sejumlah jajarannya serta tampak juga unsur perwakilan amal dan badan usaha Hiayatullah Sulbar lainnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Komitmen untuk Pendidikan Qur’ani dengan Bangun Ruang Tahfidz di Towuti

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali membuktikan dedikasinya dalam mendukung pengembangan generasi muda yang berkarakter Qur’ani. Kali ini, Laznas BMH memulai pembangunan ruang kelas tahfidz di Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Danau Tondano, Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.

Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama dan juga simbol sinergi antara lembaga zakat, masyarakat, dan para pendidik.

Proyek ini mencakup pembangunan gedung dua lantai seluas 210 meter persegi yang dirancang sebagai ruang belajar yang nyaman bagi santri. Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menegaskan bahwa pembangunan fisik gedung ini guna menghadirkan sarana untuk mendukung proses belajar-mengajar secara maksimal.

“Diawali dengan basmalah, dan diakhiri dengan hamdalah. Semoga dengan sinergi semua pihak, pembangunan ini bisa berjalan lancar,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Mukhsin, Kepala Sekolah SMP-SMA Daarul Ilmi Towuti, mengungkapkan rasa syukur atas perhatian Laznas BMH terhadap kebutuhan pendidikan pesantren. Selama ini, para santri harus menghadapi keterbatasan fasilitas, namun semangat belajar mereka tetap tinggi.

Kehadiran ruang kelas baru diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan belajar, tetapi juga memacu motivasi santri untuk lebih giat mendalami ilmu agama. “Santri sudah menunjukkan semangat belajar yang tinggi, meski fasilitas yang ada masih terbatas,” katanya.

Sinergi dan Harapan

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah Towuti, Ust. H. Irwan Mujahid, menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH atas kontribusinya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik. Ia juga mengingatkan para santri untuk memanfaatkan peluang ini secara maksimal.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,”* ujarnya, penuh harap agar ruang kelas baru menjadi pemantik semangat belajar dan berprestasi bagi santri.

Pondok Pesantren Ahlusshuffah Hidayatullah Towuti adalah salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara lembaga zakat, pendidik, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan signifikan.

Dengan dimulainya pembangunan ini, optimisme pun menguat bahwa generasi Qur’ani yang dilahirkan di pesantren ini akan menjadi pilar penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam.*/Herim

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Lokal melalui Budidaya Lobster dan Lele

0

PATI (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali meneguhkan perannya dalam memberdayakan masyarakat melalui program inovatif yang berbasis pada potensi lokal.

Di Pati, Jawa Tengah, BMH memulai inisiatif budidaya lobster dan lele yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat sekaligus menjadi teladan pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Muhammad Bahri, Koordinator BMH Gerai Pati, menjelaskan bahwa langkah ini didasarkan pada potensi besar sektor perikanan di wilayah tersebut.

“Kami melihat potensi besar di bidang perikanan, khususnya budidaya lobster dan lele. Dengan memberikan bantuan benih dan pendampingan, kami berharap masyarakat bisa mandiri secara ekonomi,” ujar Bahri, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Program ini dimulai dengan penebaran 2.000 benih lobster dan lele di kolam milik Bapak Dio, seorang warga Pati yang menjadi penerima manfaat pertama.

Dengan penuh syukur, Dio mengungkapkan bantuan BMH ini menjadi titik terang baginya untuk memulai usaha yang telah lama diimpikan. “Saya sudah lama ingin mengembangkan usaha budidaya ini, tapi terkendala modal,” katanya.

Program ini tidak berhenti hanya pada penyerahan bantuan. Pendampingan berkelanjutan menjadi aspek penting dalam memastikan keberhasilan para penerima manfaat. Pendekatan ini mencakup pelatihan pengelolaan keuangan, teknik pemasaran, hingga pengolahan produk turunan.

Menurut Bahri, pihaknya ingin para penerima manfaat tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pelaku usaha yang mandiri. Dengan nilai tambah dari produk olahan, diharapkan pendapatan mereka bisa meningkat.

Dia menambahkan, pendekatan holistik yang melibatkan pelatihan keterampilan, pengembangan wawasan bisnis, dan peningkatan kapasitas produksi menjadi ciri khas program ini. Dalam jangka panjang, pendekatan semacam ini dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan bantuan konvensional.

Budidaya perikanan, seperti lobster dan lele, selain menawarkan peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kualitas hidup keluarga penerima manfaat. Disamping itu, jika ini diintegrasikan dengan program pengolahan produk turunan seperti abon lele atau lobster beku, dampaknya dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Pendekatan ini selaras dengan visi pembangunan ekonomi inklusif berbasis lokal yang dicanangkan oleh banyak lembaga penggerak ekonomi sosial. Melalui program ini, BMH berharap dapat menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan,” ujar Bahri memungkasi.*/Herim

Rumah Qur’an Jannatul Firdaus Oase Pendidikan Qur’ani di Tengah Harapan Besar

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Di sudut kecil Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Cikasungka, berdiri sebuah lembaga yang menjadi titik terang pendidikan agama, yakni Rumah Qur’an Jannatul Firdaus. Tempat ini telah menjadi oase bagi anak-anak yang ingin mendalami dan menghafal Al-Qur’an.

Namun, di balik semangat dan perjuangannya, rumah Qur’an ini menyimpan tantangan besar untuk terus bertahan dan berkembang. Didirikan pada tahun 2020 oleh seorang dai tangguh bernama Muhammad Naim, Rumah Qur’an Jannatul Firdaus beroperasi dengan dukungan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Pria kelahiran Cilacap ini telah mengabdikan dirinya untuk dakwah sejak 1990, menghabiskan sebagian besar waktunya di Kalimantan Timur sebelum akhirnya ditempatkan di Banten.

“Keberadaan rumah Qur’an ini sangat diharapkan masyarakat,” ujar Naim, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Namun, lanjutnya, kapasitas rumah Qur’an yang terbatas menjadi kendala utama. Saat ini, hanya 30 santri yang dapat ditampung, sedangkan minat masyarakat sangat besar. Banyak orang tua harus menelan kekecewaan karena anak-anak mereka tidak bisa bergabung akibat keterbatasan tempat.

“Kami sebenarnya sudah memiliki lahan untuk membangun asrama baru,” jelas Naim. Namun, kendala utama adalah kurangnya dana. Harapan ini tidak hanya mencerminkan kebutuhan infrastruktur, tetapi juga visi besar Naim untuk menciptakan generasi muda yang Qur’ani dan berakhlak mulia.

“Kami ingin rumah Qur’an ini menjadi pusat pendidikan agama yang berkualitas,” tambahnya. Dengan visi tersebut, ia berharap dapat memberikan pendidikan Al-Qur’an yang tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam yang mendalam pada generasi penerus.

Dalam keterbatasannya, mereka tetap berupaya memberikan yang terbaik. Seperti yang diungkapkan Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani, “Mari bersama BMH kita dukung kiprah dai tangguh ini. Semoga harapannya untuk memperluas rumah Qur’an segera terwujud.”

Dengan pendidikan yang memadukan hafalan dan pemahaman nilai-nilai agama, anak-anak yang lahir dari Rumah Qur’an Jannatul Firdaus diharapkan menjadi generasi penerus yang berkontribusi positif bagi umat dan bangsa.

Rumah Qur’an Jannatul Firdaus adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, meski penuh tantangan. Dukungan masyarakat, baik dalam bentuk materi maupun moral, adalah kunci untuk membuka masa depan yang lebih cerah bagi para santri yang penuh harapan ini.

“Mari bersama-sama kita dukung perjuangan ini,” ujar Roni Hayani.*/Herim

Jalan Kebaikan Membangun Generasi Qur’ani Melalui Dauroh Tahfidz

0

PANDEGLANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam membangun bangsa yang berakar pada nilai-nilai kebaikan, jalan kebajikan selalu terbuka lebar. Salah satu institusi yang tak henti berkontribusi dalam upaya ini Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH). Dengan komitmen kuat, BMH terus mendukung program-program yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya melalui pendidikan berbasis Qur’an.

Salah satu wujud konkret dari komitmen ini adalah dukungan BMH terhadap pelaksanaan Dauroh Santri Tahfidz Darul Futonah di Kampung Mangkubumi, Desa Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Program ini telah berjalan sejak 11 November 2024 dan akan berakhir pada 11 Desember 2024.

Dauroh ini merupakan program ketiga yang diadakan oleh Pesantren Tahfidz Darul Futonah dalam satu tahun terakhir. Tujuan utama kegiatan ini adalah percepatan hafalan Al-Qur’an melalui metode intensif, memberikan kesempatan kepada para santri untuk fokus memperdalam hafalan dalam waktu yang relatif singkat.

“Tujuan utama dari dauroh ini adalah percepatan hafalan para santri. Dan, bagi kami dukungan dari BMH sangat berarti bagi keberlanjutan program ini,” ujar Ustadz Zulfikar Subang, pengurus pesantren tersebut, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Pemilihan Pondok Pesantren sebagai lokasi kegiatan ini juga didasarkan pada alasan strategis. Dengan memanfaatkan fasilitas pesantren, program ini menjadi lebih hemat anggaran, sehingga dana yang tersedia dapat dialokasikan secara optimal untuk kebutuhan inti program. Pendekatan ekonomis ini merupakan salah satu bentuk akuntabilitas BMH dalam mengelola dana umat.

BMH memandang pentingnya membentuk generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman hidup. Komitmen ini diwujudkan melalui sinergi dengan berbagai institusi pendidikan, termasuk Pesantren Tahfidz Darul Futonah.

“Semoga Dauroh ini memberikan manfaat yang besar bagi para santri dan masyarakat luas,” ungkap Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten.

Menurut Roni, program ini diharapkan dapat mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang unggul dan berdaya saing di masa depan. Dengan bekal spiritual yang kuat, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, baik sebagai pemimpin maupun sebagai panutan.*/Herim

Harmoni Rihlah Pesmadai di Kaki Gunung Integrasikan Akademik dan Spiritual

0

GOWA (Hidayatullah.or.id) — Saat kebanyakan mahasiswa memilih menghabiskan akhir pekan dengan bersantai di kafe atau pusat perbelanjaan, sekelompok mahasiswa Pesmadai (Pesantren Mahasiswa Dai) justru memilih cara yang berbeda.

Mereka memutuskan untuk “kabur” sejenak dari hiruk pikuk kota dan menginap di Masjid Nurul A’la, Pondok Pesantren Ashabul Jannah-Bolangi Gowa.

Selama dua hari, para mahasiswa ini ikut merasakan kehidupan sehari-hari di pesantren.

Mereka bangun sejak dini hari untuk shalat berjamaah, mengikuti majelis taklim, dan terlibat dalam kegiatan membersihkan masjid.

“Kegiatan rutin mabit dan bersih bersih masjid ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujar Rachmat Ghafur Hamran, Sekretaris Pesmadai Makassar.

“Selain bisa mendekatkan diri kepada Allah, kami juga bisa belajar banyak hal dari para santri,” lanjutnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 20 Jumadil Awal 1446 (22/11/2024).

Ketenangan di Kaki Gunung

Pemilihan Pondok Pesantren Ashabul Jannah-Bolangi Gowa sebagai tujuan wisata religi bukan tanpa alasan. Letaknya yang berada di ketinggian membuat suasana di sekitar pondok pesantren menjadi sangat tenang dan nyaman.

“Dari sini, kita bisa melihat pemandangan kota Makassar yang indah di malam hari,” kata Ghafur. Para mahasiswa juga melalukan pembersihan di lingkungan masjid.

Kegiatan membersihkan masjid yang dilakukan oleh para mahasiswa ini melampaui sekadar tindakan fisik membersihkan tempat ibadah. Aktivitas ini dapat dimaknai sebagai manifestasi nilai-nilai kebajikan yang mencerminkan tanggung jawab sosial, kesadaran spiritual, dan komitmen moral.

Dalam kerangka filosofis, tindakan ini menunjukkan harmoni antara etika individual dan kewajiban kolektif, di mana kebersihan fisik masjid menjadi simbol dari upaya menjaga kesucian ruang spiritual.

Lebih jauh, partisipasi mahasiswa dalam kegiatan semacam ini mengindikasikan adanya internalisasi nilai-nilai luhur, seperti solidaritas, keikhlasan, dan penghormatan terhadap tempat ibadah sebagai pusat kehidupan religius komunitas.

“Dengan demikian kita harapkan kegiatan ini tidak hanya memperkuat hubungan sosial antarindividu, tetapi juga meneguhkan identitas moral yang berakar pada prinsip-prinsip pengabdian dan pelayanan,” katanya.

Kegiatan dilakukan oleh para mahasiswa Pesmadai yang didukung BMH ini sejalan dengan tujuan utama dari komunitas ini, yaitu menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan spiritual.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memperhatikan pengembangan diri secara spiritual,” ujar Ghafur.*/Herim

Solidaritas di Kampung Baru dan Argosari Gembirakan Lansia dan Dhuafa

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Udara pagi di Balikpapan dan Kutai Kartanegara (Kukar) terasa hangat pagi itu, Senin, 16 Jumadil Awal 1446 (18/11/2024). Bukan hanya karena mentari mulai bersinar, tetapi juga karena wajah penuh syukur para lansia dan dhuafa di Kampung Baru dan Argosar.

Hari itu Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Gerakan Nikmatnya Berbagi (GNB) menghadirkan secercah harapan melalui distribusi 70 paket sembako.

Kampung Baru dan Argosari dipilih bukan tanpa alasan. Kedua wilayah ini dihuni masyarakat yang sebagian besar hidup dalam keterbatasan. Bantuan berupa paket sembako ini menjadi jawaban atas kebutuhan dasar mereka yang sering kali sulit terpenuhi. Tiap paket berisi bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula, yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat kurang mampu.

Amrullah, koordinator lansia binaan di Kampung Baru, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

Menurut Achmad Rifai, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan (Prodaya) BMH Kaltim, inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat rentan. “Kami melihat semangat luar biasa di mata mereka. Ini bukti bahwa sedikit kepedulian bisa mengubah banyak hal,” jelas Rifai.

Program ini menyuntikkan harapan baru dan menjadi oase yang menyegarkan di tengah gersangnya tantangan hidup. BMH, dia menambahkan, terus berupaya menjembatani kesenjangan sosial dengan menghadirkan program-program berbasis kemanusiaan. Distribusi sembako ini adalah salah satu dari sekian banyak program mereka yang dirancang untuk memberdayakan masyarakat.*/Herim