Beranda blog Halaman 134

Semangat Berbagi Pantulkan Cahaya Harapan Ditengah Puing Rumah Guru Ngaji

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Matahari pagi di Jalan Pipa Utama, Sari Rejo, Medan Polonia, menyinari puing-puing rumah Ibu Salamah yang dilanda musibah kebakaran pada Ahad, 15 Jumadil Awal 1446 (17/11/2024). Tragedi ini memusnahkan separuh rumahnya, peralatan masak, dan motor yang menjadi andalan keluarga.

Namun, di tengah duka tersebut, terpancar secercah harapan melalui aksi solidaritas para santri Rumah Quran An Nur Al-Barokah yang menyerahkan bantuan hasil sedekah mereka pada 23 November 2024.

Penyerahan bantuan dipimpin oleh Lukman, Kepala Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara, bersama Ibu Susi Ritonga, guru Rumah Quran An Nur. Dengan penuh semangat, para santri menyerahkan bantuan langsung di lokasi rumah yang terbakar.

“Kami ingin menanamkan semangat peduli kepada santri sejak dini, karena kepedulian adalah bagian dari adab Islam,” ungkap Ibu Susi, menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui keterlibatan langsung dalam aksi sosial.

Ibu Salamah, seorang guru ngaji yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar anak-anak RA Abdurrahman dan memberikan pelajaran Al-Qur’an di rumahnya, menyambut bantuan ini dengan haru.

“Semoga Allah membalas sedekah adik-adik ini dengan pahala dan keberkahan ilmu,” ucapnya penuh syukur. Bantuan tersebut menjadi langkah awal bagi Ibu Salamah untuk memulihkan rumahnya dan melanjutkan aktivitas mengajarnya.

Lukman, mewakili BMH, menyampaikan bahwa momen-momen seperti ini menegaskan pentingnya peran lembaga sosial dalam merespons kebutuhan masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini tidak hanya meringankan duka Ibu Salamah, tetapi juga membangun semangatnya untuk terus mengajar,” ujarnya.

Sebagai lembaga amil zakat nasional, BMH berkomitmen untuk menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, serta sedekah demi membantu masyarakat yang membutuhkan.

Lebih dari itu, aksi ini membawa pesan moral mendalam bagi para santri Rumah Quran An Nur. Mereka belajar bahwa berbagi adalah wujud konkret kepedulian, bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai Islam, sekaligus sarana untuk membangun solidaritas dalam masyarakat. “Kami ingin menanamkan nilai bahwa kepedulian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim,” tambah Lukman.

Di balik duka, musibah ini menjadi pengingat akan nilai sedekah, infak, dan zakat sebagai jembatan untuk membangun kebersamaan. Dalam Islam, tindakan ini tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga manifestasi cinta kasih terhadap sesama.*/Herim

Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid

0

PADA hakekatnya semua perintah Allah dan Rasulullah memiliki banyak faedah bagi orang-orang yang mentaatinya. Termasuk perintah shalat subuh berjamaah di masjid yang sarat dengan faedah, meski faedah di bawah ini tidak menjadi tujuan utama dalam beribadah. Faedah ini bagian dari bonus dari sebuah ketaatan yang berdasar kepada keimanan dan kecintaan.

Pertama, mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat

Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik terutama di wilayah perkotaan, nyaris tidak ada perbedaan siang dan malam karena cahaya listrik menerangi semua sudut-sudut kota.

Cahaya yang Allah janjikan di hari kiamat tentu lebih terang ribuan kali lipat dibandingkan cahaya listrik ataupun cahaya matahari di dunia. Bagi orang-orang yang memenangkan dirinya untuk bangun dan melangkahkan kaki ke masjid dengan menerobos gelapnya malam menjelang pagi maka ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala  dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kedua, mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya

Sebagaimana dipahami bahwa tidak mudah untuk melakukan shalat malam atau Tahajjud sepenuh malam. Beberapa alasan yang menjadikan shalat Tahajjud berat salah satunya aktivitas siang hari yang melelahkan dan menguras energi.

Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa didapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:

مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه

“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

Ketiga, berada dalam jaminan AllahTa’ala

Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla.

Dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)

Keempat, jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat

Bagaimana rasanya sedang rajin-rajinnya kerja dilihat oleh bos? Tentu senang dan bangga diri. Shalat Subuh berjamaah dipesaksikan malaikat dan tentu malaikat sambil mencatat sebagai sebuah kebaikan.

Ketika malaikat sebagai makhluk yang tidak pernah durhaka menjadi saksi kebaikan maka mempermudah di hari pertanggungjawaban di akherat nanti.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kelima, keselamatan dari siksa Neraka

Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Subhanallah, ini informasi langsung dari Rasulullah yang memberikan kabar gembira kepada para pejuang shalat Subuh dan Ashar berjamaah.

Mari perhatikan Hadits berikut:

عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم

Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”(HR. Muslim)

Tips Shalat Subuh Berjamaah di Masjid

Dengan berderet banyaknya keutamaan shalat Subuh berjamaah, tentu tidak perlu motivasi lain tapi memerlukan langkah-langkah tehnis untuk bisa melaksanakan shalat Subuh berjamaah dengan istiqomah. Terkadang keinginan atau kemauan kuat tapi masih kesulitan untuk melaksanakannya.

Berikut ini beberapa tips untuk mencari tuntunan tehnisnya:

  • Berusaha mempelajari dari buku, video kajian, kisah-kisah untuk menguatkan keyakinan tentang keutamaan shalat Subuh berjamaah. Ini penting sebagai iqra’ atau membaca, semakin banyak informasi kebaikan maka semakin menguatkan keyakinan.
  • Memiliki tekad dalam diri sendiri dan meyakinkan diri untuk bisa melaksanakannya secara konsisten. Niat yang kuat menjadi kunci sebuah amal, karena dengan niat kuat maka ada tekad untuk berusaha sekuat tenaga melaksanakan ibadah tersebut.
  • Menyampaikan kepada istri dan anak jika telah berkeluarga, atau ayah ibu tentang tekad tersebut, agar mendapatkan doa dan dukungan. Ini bukan lebay, tapi hal yang sederhana ini sangat mendukung niat-niat yang baik. Jika orang-orang atau kultur di rumah mengkondisikan untuk bangun tidur lebih awal dan ada kesepemahaman untuk saling mengingatkan maka menjadi mudah. Sebaliknya jika rumah kulturnya begadang malam dan bangun siang, rasanya berat juga untuk menjadi konsistensi shalat subuh berjamaah.
  • Mengikuti komunitas atau kelompok pejuang shalat Subuh berjamaah yang ada di sekitar tempat tinggal atau  masjidnya. Ini penting untuk mencari lingkungan yang baik dan mendukung.
  • Jika belum ada komunitas maka cari teman, saudara atau tetangga yang sudah terbiasa shalat Subuh berjamaah, sebagai mentor, menasehati dan memotivasi. Sebagaimana Rasulullah sampaikan bahwa seseorang itu tergantung agama temannya.
  • Mengubah jadwal tidur untuk tidak terlalu malam, memasang alarm dan memasang tekad yang kuat. Pola tidur yang kemalaman, sering begadang, ngobrol atau kerja hingga larut malam, itu semua perlu ada evaluasi untuk memudahkan bahwa
  • Jika bangun shalat Subuh berjamaah berat, masih ngantuk dan ingin tidur lagi maka ingatlah bahwa suatu saat nanti akan ditidurkan selamanya. Rezeki paling indah adalah bisa bangun pagi dan melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan shalat subuh beerjamaah.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Layaknya Lilin yang Menyinari, Peringatan Hari Guru di Konsel Sajikan Dongeng Inspiratif

0

KONSEL (Hidayatullah.or.id) — Suara ceria anak-anak memenuhi ruang kelas SDN 2 Laeya di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulawesi Tenggara menyelenggarakan acara istimewa yang menghadirkan Kak Rubi, seorang pendongeng terkenal.

Dengan gaya bercerita yang memikat, Kak Rubi membawa anak-anak menyelami dunia dongeng, menyampaikan nilai-nilai kehidupan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.

Melalui cerita, Kak Rubi mengajarkan penghormatan terhadap guru, yang diibaratkannya sebagai lilin yang “rela membakar dirinya untuk menerangi orang lain.” Pesan tersebut menggugah emosi para siswa dan mengingatkan mereka akan dedikasi para guru yang tak kenal lelah mendidik generasi penerus bangsa.

Acara ini adalah bentuk apresiasi mendalam kepada para guru yang sering disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa.” Kepala Sekolah SDN 2 Laeya, Ibu Nuraidah, menyampaikan rasa syukur atas program ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa-siswa kami. Mereka tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Armin, Ketua Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, menegaskan pentingnya menghargai peran guru dalam kehidupan bangsa.

“Guru adalah ujung tombak dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Armin, menggarisbawahi peran vital mereka dalam membangun karakter generasi muda.

Menurut Armin, program seperti ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi pekerti luhur. “Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang peduli dan berempati terhadap sesama,” tambahnya.

Kegiatan ini adalah bagian dari program Indonesia Bercerita yang diinisiasi oleh BMH, sebuah upaya untuk mengedukasi dan memperkuat karakter anak-anak melalui pendekatan cerita.

Dongeng adalah media pendidikan yang efektif. Dalam konteks Hari Guru Nasional, dongeng digunakan untuk mengenalkan anak-anak pada nilai-nilai moral seperti rasa syukur, hormat kepada guru, dan kepedulian sosial. Pendekatan ini, yang menggabungkan pendidikan dan seni bercerita, menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mendalam.

Selain menyampaikan penghormatan terhadap guru, acara ini juga dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Anak-anak diajak untuk memahami pentingnya berbagi, terutama melalui edukasi tentang sedekah.

Kak Rubi dengan lihai menyisipkan pesan moral dalam dongeng-dongengnya, memberikan inspirasi kepada anak-anak untuk menjadi individu yang peduli dan berempati terhadap sesama.*/Herim

Refleksi Hari Guru dan ‘Cubitan’ yang Meneguhkan Jalan Menuju Masa Depan

0
Ilustrasi kegiatan belajar di sekolah dasar (Foto: Dreamlab Ai/hidayatullah.or.id)

MASA sekolah adalah waktu penuh warna—kenangan yang tersimpan erat, berlapis nostalgia. Masa ini adalah kaleidoskop antara keceriaan dan tantangan, antara teman yang membawa tawa dan guru yang terkadang membawa cubitan. Namun, semua itu, dengan cara yang tak selalu mudah dijelaskan, membentuk siapa kita hari ini.

Ketika saya mengingat masa-masa itu, terbayang jelas suasana sekolah dasar sekitar tahun 1969. Kepala sekolah kami, Pak Suharsono, adalah sosok yang gagah.

Posturnya tinggi besar, rambutnya hitam pekat selalu disisir rapi ke belakang, dan keningnya yang lebar seakan menjadi layar tempat kami melihat wibawa seorang pemimpin. Pakaiannya rapi, sepatunya selalu mengilap. Pada setiap upacara Senin pagi, suara besarnya memenuhi udara, namun memberikan rasa nyaman—bukan ketakutan.

Di sisi lain, ada Pak Muji, guru seni menggambar. Ah, siapa yang bisa melupakan beliau? Dengan tubuhnya yang tinggi kurus dan sepeda ontel hitamnya yang mengilap, ia tampak seperti Mr. Bean yang kebetulan tinggal di kampung kami.

Beliau adalah maestro seni dalam cara yang sederhana namun memikat. Teknik menggambarnya? Sederhana saja, tapi membekas. “Untuk menggambar ayam, mulailah dengan dua telur,” katanya.

Satu telur besar untuk tubuh, satu lagi untuk kepala. Hubungkan dengan garis, tambahkan paruh, jengger, dan bulu-bulu, dan lihatlah: seekor ayam muncul di kertas kami! Cara beliau mengajar membuat seni terasa mudah dan menyenangkan, bahkan untuk yang berbakat menggambar tahu isi seperti saya.

Namun, di balik tawa dan kemudahan, ada ketegasan yang datang dari guru seperti Bu Jati. Guru Ilmu Bumi ini adalah sosok mungil dengan semangat sebesar gunung. “Kalau salah jawab, siap-siap ya!” katanya, dan cubitan di pinggang adalah hukuman standar. Sadis? Mungkin. Tapi di balik itu, ada pelajaran tentang ketelitian yang tertanam di hati kami.

Lanjut ke masa SMP, saya pindah ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) Mamba’ul Ma’arif yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, sebuah institusi yang penuh kharisma. Saat itu, pondok ini dipimpin oleh KH. Shohib Bisri, pelanjut dan pemangku pondok dzurriyat pendiri pesantren ini, KH. Bisri Syansuri,

Kepala sekolah kami, KH. Muhammad Iskandar, adalah figur yang disegani. Beliau adalah ayah dari Muhaimin Iskandar, yang kini dikenal sebagai Ketua Umum PKB. Muhaimin adalah teman saya selama enam tahun. Di lingkungan ini, guru-guru bukan hanya pengajar, tetapi panutan dengan ilmu agama yang mendalam.

Ada Pak Romli, guru matematika yang mengajarkan logaritma, sinus, kosinus, hingga cara mengukur ketinggian menggunakan busur. Sosok beliau sangat khas: kulit hitam legam, rambut disisir rapi ke belakang dengan minyak, kening mengilap, dan baju safari tebal. Namun, cara mengajarnya sering membuat kami “berkeringat dingin.”

Tidak bisa menjawab soal? Siap-siap wajah dihias bedak debu kapur tulis. Tapi di sisi lain, siapa yang bisa menyaingi beliau dalam keahlian membaca kitab kuning seperti Alfiyah Ibnu Malik? Sosok ini adalah kombinasi unik antara intelektual matematis dan ulama tradisional.

Tidak kalah menarik adalah Pak Fatih, guru seni kaligrafi. Dengan tubuh besar, rambut ikal panjang, dan gaya nyentrik, ia seperti seniman yang tersasar ke pondok pesantren. Saat acara besar, beliau mengarahkan kami membuat dekorasi megah penuh kaligrafi yang memukau.

Atau Pak Abdus Shomad, guru Bahasa Indonesia, yang dengan gayanya yang santai dan menyenangkan, mengenalkan puisi, pantun, dan seni sastra lainnya. “Tulis apa yang kamu rasakan, jangan takut salah,” katanya, dan dari situ kami belajar bahwa sastra adalah tentang ekspresi, bukan sekadar aturan.

Ada pula Pak Hamdan, guru tata bahasa Arab, yang konon sepupu dari penyanyi legendaris Jamal Mirdad. Selain tampan, beliau punya keahlian luar biasa dalam ilmu nahwu dan sharaf. Dari beliau, kami belajar bagaimana satu kata dalam bahasa Arab bisa berubah bentuk dan makna, memberikan fondasi kuat bagi pemahaman Al-Qur’an.

Namun, yang membuat sekolah ini istimewa bukan hanya para guru. Itu juga tentang interaksi di antara kami, para murid. Seperti ketua kelas saya yang kerap mendoakan agar Pak Romli sakit perut, hanya agar pelajaran matematika batal. Atau teman yang lebih senang menggambar “tahu isi” ketimbang ayam, dan tentu saja, obrolan ringan di sela-sela keseriusan belajar.

Kiprah yang Abadi

Mengapa kenangan masa sekolah begitu abadi? Mungkin karena pada masa itu, segala sesuatu terasa lebih intens—baik rasa hormat, tawa, maupun rasa takut.

Guru-guru zaman dulu mengajarkan kita bukan hanya ilmu, tetapi juga karakter. Dengan jeweran, cubitan, atau bedak kapur, mereka mengajarkan disiplin, ketekunan, dan ketangguhan. Tidak ada dendam, hanya rasa syukur yang tertinggal.

Kini, di era modern, cara mengajar tentu berubah. Tidak ada lagi jeweran atau kapur melayang. Guru lebih berperan sebagai fasilitator, dan pendekatan emosional menjadi lebih penting. Namun, semangat mendidik tetaplah sama: membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter.

Seperti kalimat terkenal dari Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.

Guru-guru saya adalah pejuang yang memegang “senjata” ini dengan penuh dedikasi, bahkan jika caranya terkadang terasa keras. Mereka mengajarkan kami untuk tidak menyerah, untuk terus belajar, dan untuk menghormati ilmu di atas segalanya.

Dan jika saya bisa kembali ke masa itu, saya akan berkata pada Pak Romli, Bu Jati, Pak Muji, dan semua guru saya: “Terima kasih telah membentuk kami menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa kalian, tidak ada saya yang hari ini. Selamat Hari Guru!

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis adalah guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh di Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Pesantren Kilat Birrul Walidain Bagikan Inspirasi Menggapai Bahagia di Usia Senja

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka membekali para orang lanjut usia (lansia) untuk menjalani masa senja dengan kebahagiaan dan kebermaknaan, Pesantren Kilat (Sanlat) Birrul Walidain bertema “Bahagia di Usia Senja Bersama Menuju Surga” diselenggarakan oleh Departemen Sosial Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah.

Bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), kegiatan ini berlangsung di Aula Ar-Ribath, Pondok Bambu, Jakarta Timur, pada Sabtu, 21 Jumadil Awal 1446 (23/11/2024).

Sanlat ini dipandu oleh Ustaz Shohibul Anwar, Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah. Ia menyampaikan materi secara interaktif dengan pendekatan visual menggunakan slide, metode yang diapresiasi oleh peserta yang mayoritas adalah kalangan lansia.

Ustaz Shohibul menekankan pentingnya untuk menginternalisasi makna kebahagiaan melalui pemikiran positif dan amal kebaikan yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Ustaz Shohibul menjelaskan, usia senja adalah masa keemasan untuk memperbanyak amal dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Pikiran yang positif akan melahirkan hati yang tenang, dan dari hati yang tenang akan tumbuh perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah.

Masa tua sering dianggap sebagai fase pasif, namun Sanlat ini menegaskan sebaliknya. Islam memandang usia senja sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui refleksi dan amal.

Menurut ajaran Islam, bahagia di usia senja tidak hanya berarti hidup dalam kedamaian, tetapi juga menyiapkan diri menuju surga melalui amal yang berkesinambungan.

Sanlat ini juga menjadi bukti bahwa lansia tetap memiliki potensi besar untuk berkarya dan berkontribusi di lingkungan keluarga serta masyarakat.

Dengan pendekatan yang humanis dan penuh empati, acara ini membuka cakrawala baru bagi lansia untuk memandang masa tua sebagai fase produktif, baik secara spiritual maupun sosial.

Peserta dengan penuh antusias terlibat dalam setiap sesi, menanyakan hal-hal yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.*/Deden Sugianto

Bu Sariana, Pemulung yang Hidup dengan Cahaya Al-Qur’an

0
Ilustrasi ibu mengaji (Foto: Dreamlab Ai/hidayatullah.or.id)

ADA nama yang selalu mengendap di ingatan saya, tak peduli berapa lama waktu berlalu. Nama itu adalah Bu Sariana. Bukan karena kekayaannya, bukan pula karena jabatan atau pengaruh besar yang ia miliki.

Sebaliknya, Bu Sariana adalah simbol kesederhanaan yang begitu kuat hingga sulit dilupakan. Ia adalah seorang ibu rumah tangga miskin, seorang pemulung yang tinggal di balik hiruk pikuk dekat Bandara Sepinggan, Balikpapan.

Rumah Bu Sariana—jika itu bisa disebut rumah—terbuat dari kardus dan barang-barang bekas yang ia kumpulkan. Berada tepat di belakang landasan pacu, tempat itu penuh bising suara pesawat yang lepas landas dan mendarat setiap harinya.

Namun, di tengah keterbatasan tersebut, ada satu hal yang membuatnya berbeda, yaitu kecintaannya pada Al-Qur’an. Ia adalah peserta paling rajin dalam kajian Al-Qur’an pekanan yang kami adakan.

“Kalau sudah jadwal ngaji, saya libur memulung,” ujarnya suatu ketika. Ucapan itu diiringi senyum sederhana yang membuat saya kagum. Bayangkan, seorang pemulung yang penghasilannya bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, rela meliburkan diri demi belajar mengaji. Tentu saja, ini adalah pemandangan yang jarang sekali saya temui.

Semangat yang Menginspirasi

Bu Sariana berasal dari suku Buton. Kulitnya hitam legam, bercahaya karena sinar matahari yang menyentuhnya setiap hari. Pekerjaan memulung yang ia jalani memaksa dirinya berteman dengan kotoran dan panas terik. Namun, ada hal yang selalu ia bawa kemanapun: dua setel pakaian.

Setelan pertama adalah pakaian kerjanya—lusuh dan penuh noda. Setelan kedua adalah pakaian bersih lengkap dengan mukena. Saban waktu ketika azan berkumandang, ia menghentikan pekerjaannya, mencari masjid terdekat, mandi di kamar mandi masjid, dan mengganti pakaian sebelum bergabung dalam salat berjamaah. Sikapnya ini adalah bentuk penghormatan yang luar biasa terhadap Allah dan dirinya sendiri.

Ketekunan Bu Sariana juga tercermin dari kegigihannya mengikuti kajian meski lokasi sering berpindah-pindah. Dari Kelurahan Teritip, Aji Raden, Manggar hingga Sepinggan, perjalanan yang bisa mencapai 30 kilometer itu tak pernah menjadi halangan baginya.

Jika ibu-ibu lain datang menggunakan sepeda motor, Bu Sariana hanya mengandalkan angkutan kota. “Saya nggak punya motor. Naik angkot saja murah dan pas jalurnya,” katanya sambil tersenyum.

Setiap kajian, tuan rumah biasanya menyediakan minuman dan camilan sederhana. Namun, ketika tiba giliran Bu Sariana menjadi tuan rumah, para jamaah sepakat untuk tidak membebaninya.

Kami bergantian membawa makanan dan minuman agar ia tidak perlu memikirkan biaya. Meski begitu, ia tetap berusaha menyuguhkan sesuatu, sekecil apapun itu. “Ya, kalau nggak ngasih apa-apa kan malu,” ujarnya.

Ada satu cerita yang sangat membekas di hati saya. Suatu hari, saat memulung, ia menemukan makanan sisa yang masih terlihat bersih. Tanpa ragu, ia mengambil dan memakannya karena lapar. “Kalau saya lapar, dan ada sisa makanan dibuang, saya lihat masih layak dimakan, ya saya makan,” ucapnya polos.

Kalimat itu menembus batin saya, menyadarkan bahwa di balik kehidupan yang keras, Bu Sariana tetap menerima takdirnya dengan hati lapang.

Keistimewaan lain yang saya lihat adalah sikap ibu-ibu jamaah yang begitu menjaga perasaan Bu Sariana. Mereka tidak hanya menjadi rekan kajian, tetapi juga sahabat yang penuh empati. Solidaritas mereka menjadikan komunitas ini bertahan bertahun-tahun.

Setiap pertemuan selalu diisi dengan kebahagiaan sederhana, tidak peduli perbedaan latar belakang sosial yang mencolok di antara kami.

Namun, waktu tak dapat dihentikan. Pada tahun 2007, saya dengan memboyong keluarga harus meninggalkan Balikpapan dan pindah tugas ke Medan.

Hingga saat ini, saya tak tahu bagaimana kabar Bu Sariana. Yang jelas, ia pasti sudah jauh lebih tua, mungkin dengan kerutan-kerutan baru yang menghiasi wajahnya. Tetapi nama dan semangatnya tak pernah hilang dari ingatan saya.

Kehidupan yang Ikhlas

Saat ini, setiap kali saya merenungkan perjalanan hidup, Bu Sariana sering muncul dalam benak saya. Ia adalah contoh nyata bagaimana kekayaan sejati bukan terletak pada harta, melainkan pada hati yang lapang. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan hidup dapat menjadi pijakan untuk mendekat kepada Tuhan.

Demikianlah Al-Qur’an itu, jikalau sudah menyentuh kalbu manusia, maka ia bisa menggugah dan membangkitkan jiwa untuk menjadi merdeka, tenang, tenteram, dan bahagia.

Al-Qur’an telah membentuk Bu Sariana menjadi pribadi yang tangguh. Ia tidak terkungkung oleh dunia, pangkat, jabatan, atau status sosial. Dunia baginya hanyalah sementara, dan ia telah membuktikan bahwa iman bisa menjadikan segalanya terlihat kecil.

Hingga kini, saya selalu bertanya-tanya, apa kabar Bu Sariana, sang pemulung yang rajin mengaji itu? Semoga ia tetap selalu dalam lindungan Allah Ta’ala, diberikan kebahagiaan meski dalam keterbatasan.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis adalah guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh di Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Lailatul Ijtima’ dan Kemah Dai Hidayatullah se-Pulau Lombok Perkokoh Semangat Dakwah

0

LOMBOK TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, rangkaian acara Lailatul Ijtima’ dan Kemah Dai Hidayatullah se-Pulau Lombok yang diselenggarakan pada 21-22 Jumadil Awal 1446 (23-24/11/2024) telah berlangsung dengan sukses.

Kegiatan ini, yang merupakan inisiatif Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkokoh semangat dakwah para dai di Pulau Lombok.

Acara yang dihelat di lahan perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Timur, seluas lima hektare di Dusun Batu Tenteng, Desa Belanting, Kecamatan Sambalia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki nilai strategis.

Dengan tema “Rekatkan Jamaah, Kuatkan Imamah, dan Gencarkan Ekspansi”, kegiatan ini sekaligus sebagai upaya memantapkan visi membangun peradaban Islam yang kokoh.

Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ust. H. Muslihudin Mustaqim, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi dan kebersamaan dalam dakwah.

“Dakwah yang solid dan sinergis adalah kunci keberhasilan membangun peradaban Islam. Kita harus terus menjaga semangat ini meski dihadapkan pada berbagai tantangan,” kata Muslihudin, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 23 Jumadil Awal 1446 (25/11/2024).

Sebagaimana tema yang diusung, acara ini berfokus pada tiga pilar utama: mempererat jamaah, memperkuat kepemimpinan, dan menggencarkan ekspansi dakwah.

Muslihudin menyampaikan, lailatul Ijtima’ dan kemah dai ini memberikan refleksi tentang pentingnya kolaborasi, kepemimpinan, dan keberlanjutan dakwah. Di tengah arus kehidupan modern saat ini yang membawa berbagai tantangan, kegiatan ini menurutnya menjadi peneguh gerakan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan sinergi seluruh elemen umat Islam.

“Sebagai sebuah pergerakan dakwah, Hidayatullah dengan visi membangun peradaban Islam mengajarkan bahwa kekuatan umat terletak pada soliditas dan kejelasan arah kepemimpinan. Oleh karena itu, melalui kegiatan seperti ini, spirit untuk terus menanamkan nilai-nilai Islam di masyarakat dapat terus dijaga dan diperkuat,” kata Muslihudin.

Melalui semangat yang tercermin dari acara ini, Muslihudin berharap, kegiatan ini menjadi pijakan menuju langkah yang lebih besar dalam menebar kebaikan, memperkuat ukhuwah, dan membangun peradaban Islam yang harmonis.

Disamping itu, para dai diharapkan dapat terus melangkah maju, menghadirkan solusi bagi masyarakat, dan menjadi teladan dalam membangun peradaban yang lebih baik.

“Dengan keyakinan yang kuat, keberanian, dan kerja sama yang erat dengan berbagai elemen umat, masa depan dakwah Islam di Pulau Lombok dan wilayah lainnya dapat terus berkembang sesuai dengan harapan,” tambahnya menandaskan.

Dakwah Tanpa Kenal Lelah

Salah satu momen berharga dalam acara ini adalah taujih dari Ust. H. Amin Mahmud, anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, yang disampaikan secara daring. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya keteguhan hati seorang dai.

“Sebagai dai, tidak ada kata lelah dan menyerah dalam menegakkan agama Islam,” ujarnya dengan penuh semangat.

Amin juga membagikan cerita perjuangannya dalam berdakwah sejak tahun 1971. Kisah-kisah yang disampaikan dengan gaya ringan dan menghibur itu tak hanya mengundang gelak tawa, tetapi juga membakar semangat para peserta untuk tetap istiqamah dalam menebarkan nilai-nilai Islam.

Dalam sesi diskusi dan arahan, Ketua Dewan Murobbi Wilayah NTB, Ustaz Ismuji, menekankan pentingnya kolaborasi antara dai untuk menghadapi dinamika dakwah yang semakin kompleks. “Tantangan dakwah hari ini tidak bisa dihadapi sendiri. Jamaah adalah kekuatan kita, dan imamah adalah pemandu jalan kita,” tuturnya.

Diskusi tersebut menghasilkan berbagai gagasan dan beragam pandangan yang mengarah pada satu muara yakni memperkuat peran dai di masyarakat, termasuk penguatan pendidikan Islam, pemberdayaan ekonomi umat, dan perluasan jaringan dakwah ke daerah-daerah terpencil.

Apresiasi Peran Semua Pihak

Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Panitia menyampaikan rasa terima kasih kepada DPD Hidayatullah Lombok Timur, Yayasan Pesantren Hidayatullah Sambalia, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), serta semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini.

“Jazakumullah khairan katsira untuk seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini,” ungkap salah satu panitia dengan penuh rasa syukur.

Momentum ini juga ditutup dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) penugasan kepada kader-kader dai tangguh Hidayatullah NTB. Hal ini menandai komitmen organisasi untuk terus melahirkan dai yang siap berdakwah di berbagai pelosok negeri, membawa pesan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. (ybh/hidayatullah.or.id)

Training Kader Muda Hidayatullah Jakarta Ikhtiar Lahirkan Generasi Pemakmur Bumi

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Pondok Qur’an Hidayaturrahman (PQH) Hidayatullah Ciawi, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta telah menyelenggarakan Training Kader Muda berupa Daurah Marhalah Ula (DMU) pada 20-22 Jumadil Awal 1446 (22-24/11/2024).

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis organisasi Hidayatullah dalam membangun generasi muda yang berintegritas, berkarakter Islami, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

Menurut Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Muhammad Isnaeni, DMU merupakan tahapan resmi bagi siapa saja yang ingin menjadi kader pejuang dakwah Hidayatullah.

“Namun, untuk menjadi anggota Hidayatullah, cukup dengan mematuhi tata tertib keanggotaan dan tunduk pada hukum yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Isnaeni.

Isnaini juga menambahkan bahwa setiap anggota Hidayatullah dianjurkan untuk mengikuti pembinaan atau pengajian yang diadakan di pesantren maupun Rumah Qur’an Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

Hidayatullah menyadari bahwa pelatihan seperti DMU hanyalah langkah awal dalam perjalanan panjang menjadi kader yang tangguh. Oleh karena itu, terang Isnaini, pembinaan berkelanjutan menjadi bagian integral dari sistem pengkaderan organisasi ini.

Melalui DMU dan program-program sejenis, Isnaini mengatakan, Hidayatullah menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga menjadi pemakmur bumi yang memiliki kepekaan terhadap tantangan zaman.

“Dengan berpegang pada manhaj Sistematika Wahyu dan semangat keindonesiaan, Hidayatullah berharap khususnya dari Jakarta ini lahir pemimpin masa depan yang mampu menjawab kebutuhan umat sekaligus menjadi pemakmur bumi sebagai rahmatan lil ‘alamiin,” tandas Isnaini yang menukil Al Qur’an surah Hud ayat 61.

Tanamkan Nilai Sistematika Wahyu

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh peserta dari berbagai unsur, baik individu maupun amal usaha Hidayatullah, yang berasal dari Jabodetabek. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pendekatan dakwah yang ditawarkan oleh organisasi ini, yaitu Manhaj Sistematika Wahyu.

Ketua Departemen Perkaderan Hidayatullah DKI Jakarta, Ust. Munawir Baddu, menegaskan bahwa pendekatan ini didasarkan pada dalil yang syar’i dan bertujuan untuk merawat dan menumbuhkembangkan peradaban Islam yang berlandaskan wahyu.

“Manhaj Sistematika Wahyu menjadi manhaj yang sesuai dengan dalil yang syar’i dan dapat dipertanggungjawabkan untuk kembali mewujudkan peradaban Islam,” jelas Munawir.

Dengan pemahaman struktur sistematika wahyu ini, terang Munawir, Hidayatullah mengajak generasi muda untuk tidak hanya memahami agama secara ritualistik, tetapi juga menjadikannya panduan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

DMU kali ini memberikan perhatian khusus kepada peserta dari kalangan Generasi Z. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat Gen Z adalah kelompok generasi yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan.

Mereka tumbuh di era digital yang penuh tantangan sekaligus peluang, sehingga membutuhkan bimbingan nilai-nilai yang kuat untuk menjawab berbagai persoalan modern,” jelas Munawir.

Harapannya, lanjut dia, dari kalangan inilah nanti lahir para kader pemimpin di organisasi yang telah berdiri lebih dari 50 tahun ini.

Dengan mengintegrasikan pendekatan tradisional berbasis ajaran agama dan pemahaman kontemporer, Hidayatullah berupaya mempersiapkan Gen Z untuk menjadi pemimpin visioner dan juga memiliki moralitas dan komitmen yang tinggi terhadap pembangunan masyarakat.

Dijelaskan Munawir, salah satu nilai yang ditekankan dalam DMU adalah harmoni antara dakwah dan wawasan nusantara. Hidayatullah menanamkan kepada para kadernya bahwa pengabdian kepada agama tidak pernah lepas dari kontribusi kepada bangsa dan negara.

Sebagai organisasi, keseimbangan gerakan Hidayatullah antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial menjadi modal utama dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, harmonis, religius, dan berdaya saing global.

“Prinsip ini sesuai dengan cita-cita Hidayatullah yang menempatkan dakwah sebagai jalan untuk memperkuat persatuan dalam bingkai NKRI,” tegas Munawir memungkasi.*/Adam Sukiman

Panitia Rakernas Hidayatullah Undang Pangdam III/Siliwangi dan Kapolda Jabar

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id)— Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah ke-V harapannya berlangsung sukses dan aman. Oleh karena itu, panitia pelaksana terus melakukan persiapan terkait dengan hal tersebut.

Rakernas Hidayatullah ke-V tahun 2024, akan berlangsung di Grand Asrilia Hotel, Bandung, pada tanggal 28-30 Jumadil Awal 1446 atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024.

Agar pelaksanaan Rakernas berjalan lancar, maka surat izin dan undangan ke berbagai pihak pun disampaikan, seperti ke Pangdam III/Siliwangi, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Dadang Arif Abdurahman, dan Kapolda Jabar, Irjen Pol Dr. Akhmad Wiyagus, S.IK., M.Si., M.M.

“Alhamdulillah, surat izin sekaligus undangan untuk Pangdam III/Siliwangi sudah kami sampaikan, semoga beliau bisa hadir di acara Rakernas,” ujar ketua pelaksana Rakernas, Hidayatullah, S.H.I, M.Ag.

“Kami juga telah menyampaikan surat izin dan juga mengundang Kapolda Jabar untuk hadir di acara Rakernas Hidayatullah,” imbuhnya.

Menurut Hidayatullah, yang juga menjabat Ketua DPW Hidayatullah Jabar, upaya-upaya ini dilakukan agar kegiatan Rakernas berjalan aman, tertib dan sukses.

Rakernas yang kerap dilakukan setiap awal tahun bertujuan untuk menyusun rancangan program dan kegiatan yang akan diimplementasikan selama satu tahun ke depan.

Acara nasional ini mengusung tema besar “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,” sebagai langkah konkret Hidayatullah untuk memperkuat fondasi organisasi dan meningkatkan profesionalitas seluruh elemen dalam tubuhnya.

Tema besar Rakernas tahun ini merupakan refleksi dari semangat konsolidasi yang tengah digaungkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Tema ini mencakup tiga pilar penting, yaitu jatidiri, organisasi, dan wawasan.*/Dadang Kusmayadi

Inisiatif Atasi Keterbatasan Ruang Belajar di Panti Asuhan Raudhatul Jannah Tarakan

0

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Keterbatasan ruang belajar adalah salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh 50 santri di Panti Asuhan Raudhatul Jannah, Tarakan, Kalimantan Utara. Dengan ruang yang kecil dan sempit, kenyamanan belajar sering kali terabaikan, sehingga proses pendidikan tidak berjalan optimal.

Namun, harapan mulai terwujud melalui inisiatif dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan kualitas fasilitas belajar mereka.

Pada Ahad, 22 Jumadil Awal 1446 (24/11/2024), BMH menyalurkan sejumlah material bangunan untuk mendukung renovasi ruang belajar di panti tersebut. Bantuan ini mencakup semen, besi, pasir, koral, tanah timbunan, dan batu bata.

Dengan adanya bantuan ini, proses renovasi menjadi lebih terstruktur dan terarah untuk menciptakan ruang belajar yang lebih layak dan nyaman.

“Alhamdulillah, dengan bantuan dari BMH, impian kami untuk menyediakan ruang belajar yang lebih luas dan nyaman insha Allah segera terwujud,*” ungkap Ruhama Abdul Malik, Pengurus Panti Raudhatul Jannah.

Kenyamanan dalam belajar bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan psikologis yang memengaruhi semangat dan fokus anak-anak. Renovasi ruang belajar di Panti Asuhan Raudhatul Jannah adalah contoh nyata bagaimana dukungan zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi solusi berkelanjutan.

“Terima kasih banyak kepada BMH dan para donatur yang terus mendukung kami. Semoga Allah membalas kebaikan ini dengan pahala yang berlipat ganda,*” tambah Ruhama.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara, menegaskan pentingnya pengelolaan dana zakat yang berfokus pada keberlanjutan.

“Setiap rupiah yang disalurkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih cerah bagi para santri,” jelasnya menutup.*/Herim