Beranda blog Halaman 136

Shalat Subuh Berjamaah sebagai Barometer Kebangkitan Umat Islam

0
Ilsutrasi shalat subuh berjamaah di masjid (Foto: Ai/ Hidayatullah.or.id)

SAHABAT Khalid bin Walid seorang paling perang Islam yang tidak pernah merasakan kekalahan dalam perang. Salah satu rahasianya adalah beliau tidak mau memulai perang kecuali setelah melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hal itu ia lakukan agar tidak tertinggal shalat subuh. Ia sangat paham bahwa shalat subuh memiliki keutamaan yang begitu besar bagi umat Islam.

Sahabat Umar bin Khatab berkata, “Sungguh, ikut serta dalam shalat subuh berjamaah itu lebih baik bagi saya dari pada shalat malam.” Beliau menyatakan hal tersebut karena ada sahabat yang shalat lail semalam suntuk tapi akhirnya tertidur sehingga tidak shalat subuh berjamaah di masjid.

Ada pengalaman menarik dari seorang ulama besar Pakistan, Syaikh Maulana Tariq Jamil ketika pergi berdakwah di negeri Jordania, tepatnya di daerah perbatasan Jordania-Israel.

Sampai di daerah perbatasan, ketika rombongannya Syaikh Maulana Tariq Jamil selesai menunaikan shalat subuh di salah satu masjid di dekat perbatasan, tiba-tiba seorang tentara Israel dari luar melihat ke arah dalam Masjid.

Setelah melihat sebentar lalu tentara Israel itu langsung pergi. Maka Syaikh Maulana Tariq Jamil menghampiri tentara Israel itu dan bertanya apa yang dia tadi lakukan.

“Apa yang sedang kalian perhatikan dari kami?” Tanya Syekh

“Saya hanya ingin melihat berapa jumlah orang Islam yang hadir shalat subuh di Masjid,” kata tentara Israel itu.

Syaikh Maulana Tariq Jamil sambil keheranan bertanya kembali “kenapa dengan shalat subuh kami?” 

Tentara Israel pun menjawab “di dalam kitab kami tertulis ‘Jika diseluruh dunia jumlah orang Islam yang hadir untuk shalat subuh berjamaah di masjid sama banyak dengan jumlah jamaah shalat Jumat, maka saat itu Israel akan hancur.’ tetapi ketika tadi saya lihat di masjid jumlah orang Islam yang datang untuk shalat subuh berjamaah masih sedikit, maka hati saya tenang, karena umat Islam pasti tidak bisa kalahkan kami.” 

Perdana Menteri Negara Israel  illegal yang Bernama Golde Meir tahun 1948 menyatakan, “kami tidak takut kepada kaum muslimin. Kami takuti adalah ketika kaum muslimin shalat subuh berjamaah di mesjid sama jumlah jamaahnya dengan jamaah shlat Jumat”.

Begitulah, ternyata shalat subuh berjamaah di masjid itu sumber utama kekuatan umat Islam.

Orang zionis saja mengakui dan meyakini tentang kehebatan shalat subuh berjamaah sehingga menjadikan mereka khawatir bahkan ketakutan.

Shalat subuh berjamaah di masjid menjadi barometer yang jelas dan pasti dari sebuah kekuatan umat Islam yang akan bisa mengalahkan musuh sekuat apapun, termasuk Zionis Yahudi Israel.

Palestina hingga hari ini masih bertahan dari penjajahan Yahudi Israel, meski sudah puluhan tahun dijajah, diboikot, diintimidasi, serta mengalami penghancuran dan genosida. Bahkan, 400 hari terakhir ini masih bertahan dari gempuran negara-negara yang mendukung zionis.

Salah satu rahasia pertahanan Palestina adalah pola seleksi tantara Brigade Al Qassam yang ketat. Yaitu, salah satu syaratnyanya mendapat izin dari ketua masjid di tempat tinggalnya dengan pengesahan individu itu tidak meninggalkan shalat subuh berjamaah minimal selama tiga bulan terakhir berturut-turut.

Orang orang yang konsisten melaksanakan shalat subuh berjamaah memiliki kekuatan spiritual lebih atau di atas rata-rata. Mereka juga memiliki gairah dan kekuatan yang mampu mengalahkan kemalasannya untuk memenangkan panggilan ketaatan kepada Allah.

Jika umat Islam banyak konsisten melaksanakan shalat subuh berjamaah maka akan tersusun kekuatan yang luar biasa. Inilah yang menakutkan musuh-musuh yang ingin menghancurkan Islam.

Namun, anehnya, sebagian besar umat Islam masih tidak menyadari dan dininabobokan dengan tidur nyenyaknya sehingga lalai shalat subuh berjamaah. Sebagian masih berpolemik terhadap perbedaan hukum fikih sunnah dan mubahnya shalat berjamaah di masjid.

Sebagian umat Islam memang kesulitan mengalahkan rasa kantuk dan dingin. Karena belum memprioritaskan shalat subuh berjamaah sebagai ibadah yang dipersiapkan dan diutamakan untuk dilaksanakan secara konsisten.  

Shalat subuh berjamaah di masjid adalah standar tinggi dari keimanan seseorang dan sebuah komunitas. Tidak semua orang bisa menjalankannya secara istiqamah karena memerlukan perjuangan yang tidak mudah untuk shalat subuh berjamaah.

Buktinya tidak banyak yang hadir, ada yang hadir tetapi tidak setiap hari, bahkan ada yang tidak hadir sama sekali. Ini membuktikan bahwa shalat subuh berjamaah termasuk ibadah yang sangat berat.

Kenikmatan Shalat Subuh Berjamaah

Bisa bangun shalat subuh berjamaah adalah kenikmatan yang luar biasa karena berarti kita terpilih dari sekian banyak hamba Allah yang tertidur terlelap tidak bangun untuk shalat subuh berjamaah. Bersyukur bisa memilih terbaik, di antara hamba-hamba yang bangun di waktu subuh tapi hatinya tidak memilih dan tergerak hatinya untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.     

Padahal shalat subuh berjamaah hanya dua rakaat dan tidak ada kegiatan tambahan yang harus diikuti seperti khutbah di shalat Jumat. Namun, faktanya, jumlah jamaah shalat subuh berjamaah relatif lebih sedikit dibandingkan dengan salat fardu lainnya, apalagi dengan shalat Jumat.

Keutamaan shalat Subuh berjamaah, salah satunya dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al Isra’ ayat 78 sebagai berikut:

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)

Subhanallah, betapa bahagianya ketika melaksanakan kebaikan dan ketaatan dipersaksikan oleh malaikat. Tentu bukan hanya dipersaksikan tapi dicatat sebagai amal kebaikan. Begitulah kedudukan shalat subuh berjamaah, seharusnya itu menjadi motivasi yang kuat untuk konsisten.  

Alhamdulillah, saat ini mulai marak gerakan shalat subuh berjamaah dalam beberapa tahun terakhir ini. Komunitas subuh berjamaah, pejuang subuh, ada juga subuh berjamaah keliling juga banyak terbentuk di kota-kota besar.

Tentu gerakan dan komunitas tersebut berangkat dari kesadaran dan motivasi untuk mengajak masyarakat bisa menghidupkan shalat subuh berjamaah. Istilahnya memasyarakatkan shalat subuh berjamaah. Banyak kreatifitas yang dilakukan oleh komunitas shalat subuh berjamaah, menyiapkan sarapan, kopi, kue dan bersepeda bersama ke masjid.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Hidayatullah Songsong 2025 dengan Strategi Prioritas dan Sistem Berdaya Guna

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sidang Pleno Hidayatullah tahun 2024 telah ditutup pada Rabu sore, 18 Jumadil Awal 1446 (20/11/2024) oleh Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah drg. Fathul Adhim, M.KM. Sejumlah program untuk tahun 2025 telah disusun, sedang program tahun 2024 telah dievaluasi. Ini adalah sidang pleno terakhir tahun 2024.

Dalam sambutan penutupnya, Fathul Adhim mengungkapkan rasa syukur karena sidang pleno selama dua hari berjalan lancar. Semua bidang, mulai dari tarbiyah, dakwah dan pelayanan umat, pembinaan dan pengembangan organisasi, perekonomian, kebendaharaan, dan kesekretarian, telah memaparkan rencana programnya.

Hanya saja, Fathul mengingatkan, sisa pengabdian pada periode 2020-2025 ini tinggal satu tahun lagi. Karena itu, program-program yang perlu mendapat perhatian lebih adalah program prioritas.

“Setiap bidang harus menentukan program prioritas apa yang harus dilakukan pada 2025 mendatang dan fokus untuk menyukseskan program tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya legacy (warisan) yang bisa diberikan untuk kepengurusan periode berikutnya.

Salah satu warisan yang penting, kata Nashirul, adalah sistem yang baik.

“Jika sistem yang baik sudah berhasil kita susun dan mampu kita terapkan, maka sistem tersebut bisa dilanjutkan oleh pengurus pada periode berikutnya,” jelas Nashirul.

Memang, infrastruktur bisa menjadi salah satu legacy yang bisa dimanfaatkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Namun, jelas Nashirul, infrastruktur yang tidak dikelola dengan sistem yang baik, bisa menjadi “berhala” baru yang akan menghambat gerakan organisasi.

Sidang pleno terakhir di tahun 2024 ini diikuti oleh seluruh pengurus DPP Hidayatullah, baik bidang, departemen, biro, dan badan, serta seluruh anggota Majelis Mudzakarah Hidayatullah.

Sehari sebelum Sidang Pleno, tepatnya pada Senin, 16 Jumadil Awal 1446 (18/11/2024), digelar pula Rapat Pleno yang dihadiri seluruh pengurus DPP Hidayatullah yang berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta.*/Adam Sukiman

[KHUTBAH JUM’AT] Bahaya Judi Online dan Tanggung Jawab Kita sebagai Umat Islam

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajarannya hingga hari akhir.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini kita membahas persoalan yang kian meresahkan umat, yaitu judi. Judi, baik online maupun offline, merupakan masalah serius yang merusak moral individu, keluarga, dan bahkan tatanan sosial.

Data terbaru yang disampaikan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bahwa mereka telah melakukan pemblokiran terhadap 5,1 juta situs atau konten perjudian sejak 2017, termasuk sebanyak 3,5 juta yang diblokir sepanjang tahun 2024. Namun setiap harinya ratusan situs baru bermunculan, membuktikan bahwa masalah ini lebih dari sekadar tantangan teknologi; ini adalah krisis moral.

Perjudian ini memupuk budaya ketergantungan pada keberuntungan, bukan usaha. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kerja keras, doa, dan tawakal.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa judi adalah perbuatan setan. Kerugian dan kehancuran pasti mengikuti siapa saja yang terjerumus ke dalamnya.

Tafsir Al-Muyassar menegaskan, sesungguhnya semua itu merupakan perbuatan dosa dan tipu daya yang dibuat indah oleh setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan dosa tersebut, mudah-mudahan kalian akan meraih keberuntungan dengan memperoleh surga.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti memblokir situs-situs judi online.

Namun, ini saja tidak cukup. Satu situs diblokir, seribu situs baru bermunculan. Persoalannya bukan hanya soal teknologi, tetapi mindset dan moralitas individu.

Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto baru-baru ini mengungkapkan bahwa 4.000 prajurit TNI terlibat dalam judi online.

Menurut beliau, salah satu faktor penyebab utama mereka terjerumus ke dalam praktik ini adalah kebiasaan mereka menggunakan gawai atau handphone secara berlebihan selama waktu luang.

Kebiasaan tersebut membuka peluang untuk mengakses berbagai platform perjudian online yang semakin mudah dijangkau. Ini menjadi bukti nyata bahwa masalah sebenarnya ada pada kerapuhan mental dan lemahnya spiritualitas.

Temuan ini juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dalam menangani masalah perjudian yang sangat merusak.

Fenomena ini sekaligus menjadi alarm bagi upaya peningkatan pengawasan serta edukasi terkait dampak negatif judi online.

Betapa buruk judi dan betapa kita harus segera kembali kepada Allah telah disabdakan oleh Rasulullah SAW.

مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ

“Barangsiapa yang berkata kepada temannya, ‘Mari kita berjudi,’ maka hendaklah ia bersedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa bahkan ajakan untuk berjudi sudah dianggap sebagai dosa yang harus ditebus dengan sedekah.

Lebih baik sedekah daripada berjudi. Judi hasilnya pun meresahkan. Sedangkan sedekah sudah pasti baik bagi dunia dan akhirat kita.

Oleh karena itu, membaca yang dapat menjadikan hati kita tunduk kepada kehendak Allah, termasuk menjauhi judi adalah kebutuhan mendasar kita semua.

Terlebih kalau kita ingat bahwa setiap pilihan pikiran, ucapan dan tindakan kita, kelak akan Allah minta pertanggungjawabannya dari kita semua.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Islam memandang pentingnya membangun mindset berbasis nilai-nilai spiritual. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal.” (HR. Tirmidzi)

Di antara hal yang akan ditanyakan adalah bagaimana kita menggunakan waktu dan harta. Judi, baik online maupun offline, adalah pemborosan keduanya.

Oleh karena itu, menangani judi online harus dilakukan secara komprehensif. Pemerintah, lembaga zakat, dan dai harus bersinergi.

Dai memiliki peran strategis dalam membangun mindset umat dan menyampaikan pesan-pesan agama. Dengan menyadarkan masyarakat, mereka dapat menjauhi perilaku buruk seperti judi.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Mari kita jauhi judi dalam bentuk apapun, termasuk judi online.

Mari kita perkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sebagai pondasi utama kita dalam mengarungi kehidupan yang sementara ini.

Selanjutnya, mari kita kembangkan budaya literasi yang kokoh di berbagai lingkungan—mulai dari rumah tangga, komunitas sekitar, hingga masjid—sebagai pusat pembelajaran dan transformasi sosial.

Di samping itu, mari bersama sama kita tingkatkan kualitas ibadah kita, baik dalam bentuk ritual maupun amal sosial, dengan tujuan memperkuat ketakwaan dan kontribusi nyata bagi sesama.

Semoga kita dapat mempergubakan waktu dan harta yang telah dianugerahkan dengan bijaksana untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat, baik secara individu maupun kolektif.

Semoga dengan langkah-langkah ini, Allah ﷻ senantiasa melindungi kita dari berbagai keburukan dan menganugerahkan keberkahan yang melimpah dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik darinya.”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Jawab Tantangan Zaman, Hidayatullah Bentuk Tim Penyelaras Buku Tarbiyah dan Sistem Pendidikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menguatkan relevansi lembaga pendidikan yang berkesesuaian dengan manhaj Sistematika Wahyu, baik kurikulum, sistem, pola asuh, guru, dan pengasuhnya, serta sarana dan pra sarana penunjangnya, Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah membentuk Tim Penyelaras Buku Tarbiyah dan Buku Sistem Pendidikan.

Inisiatif ini merupakan lanjutan dari usaha yang telah dilakukan sebelumnya oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam menyusun pedoman tersebut secara lengkap.

Koordinator Tim Penyelaras Buku Sistem Pendidikan Hidayatullah Dr. Nanang Noerpatria menekankan pentingnya penyelarasan ini, sebab, tarbiyah yang dilakukan hendaknya mampu menjawab tantangan zaman.

Karena itu, cakupan di dalam pedoman ini mulai dari kurikulum pendidikan dan sarana penunjangnya harus menjawab tantangan zaman. Karena itu, kehadiran tim ini dalam rangka menguatkan upaya tersebut.

“Secara periodik memang ini selalu ditinjau ulang untuk memastikan bahwa muatannya aktual, relevan, dan berkesesuian. Telaah atau peninjauan misalnya setiap 10 tahun. Bahkan, bisa lebih cepat sesuai kebutuhan zaman,” kata Nanang yang ditemui media ini disela sela Rapat Pleno DPP Hidayatullah di Jakarta, Rabu, 18 Jumadil Ula 1446 (20/11/2024).

Nanang menyebutkan, konsep buku tarbiyah dan sistem pendidikan ini dulu namanya Buku Induk Pendidikan Hidayatullah. Setelah lebih dari satu dekade penerapannya, pada tahun 2022 buku ini kembali diperkuat melalui proses brainstorming. Kini, penyelarasan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan untuk memastikan keberlanjutan konsep ini.

“Dan untuk tiga bulan ini dibentuk tim penyelarasan untuk memastikan bahwa konsep ini selalu relevan dan berkesesuaian dengan manhaj Sistematika Wahyu, baik kurikulum, sistem, pola asuh, guru, dan pengasuhnya, serta sarana dan pra sarana penunjangnya,” katanya.

Kata Nanang, ketika berbicara sistem pendidikan maka kita bicara mengenai manajemen dan pembelajaran. Adapun sistem inti (core system) dalam proses ini adalah kurikulum.

“Kurikulum harus mampu menjawab tantangan yang ada. Maka, fokus kita dalam penguatan sistem ini adalah menyoroti degradasi moral, karakter peserta didik, dan kemampuan output dari peserta didik dalam berdaya saing,” terang Nanang.

Dalam kerangka kerja tim ini, penyelarasan buku pendidikan mencakup empat kecerdasan utama, yauitu Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adversity Quotient (AQ).

Yang menarik, Nanang menekankan pentingnya AQ, atau kecerdasan menghadapi kesulitan. Menurutnya, kurikulum pendidikan harus dirancang untuk membangun resiliensi, optimisme, dan kemampuan bertahan dalam tekanan. Hal ini, lanjutnya, akan membentuk daya saing yang kokoh pada diri peserta didik.

“Konsep ini menekankan sekali pada adversity dimana kurikulum pendidikan perlu untuk melihat lebih luas pada aspek personal dari peserta didik seperti bagaimana ia harus optimis, survive, memiliki kecakapan resiliensi, jujur, dan lainnya. Melihat juga aspek bahwa pesrta didik harus kuat menghadapi tekanan, nanti ini yang membentuk daya saing,” jelasnya.

Nanang memperkenalkan konsep prophet optimism sebagai karakter utama yang diharapkan dari hasil tarbiyah ini. Ia menjelaskan, prophet optimism ini seperti dicontohkan para Nabi yang teguh dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dengan menyandarkan dirinya pada Allah.

“Prophet optimism ini karakter dasar dalam Islam dan ini yang berupaya diaktualisasikan Hidayatullah untuk melahirkan sumber daya manusia yang cemerlang, kita menyebutnya insan rabbani,” imbuh ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Kadepdikdasmen) DPP Hidayatullah ini.

Optimisme kenabian ini tidak hanya sekadar sikap mental, tetapi menjadi landasan bagi insan pendidikan untuk terus berusaha dan tidak pantang menyerah dalam menghadapi perubahan dan tantangan global. Karakter ini, menurut Nanang, merupakan refleksi dari knowledge dan values yang menyatu dalam diri individu.

Selain mengedepankan nilai-nilai spiritual dan moral, Hidayatullah juga merancang sistem pendidikan yang memenuhi kebutuhan abad ke-21. Dalam konsep tarbiyah ini, tatanan kurikulum mengintegrasikan empat kemampuan utama yang dikenal dengan istilah 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), communication (komunikasi), dan collaboration (cakap kerjasama).

Nanang menjelaskan, penerapan 4C ini menempatkan sistem pendidikan Hidayatullah sebagai model yang tidak hanya berorientasi pada nilai-nilai spiritual, tetapi juga pada keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan dunia modern.

“Dengan demikian, peserta didik mampu memahami prinsip-prinsip Islam dan juga memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikannya dalam konteks global sekaligus.” imbuhnya.

Lebih jauh Nanang menjelaskan langkah penyelarasan Buku Tarbiyah dan Sistem Pendidikan Hidayatullah merupakan ikhtiar sungguh sungguh menjaga relevansi dan keberlanjutan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam.

Hal itu, lanjut dia, karena sistem pendidikan yang dibangun Hidayatullah berupaya untuk melakukan pembentukan karakter yang kuat, resiliensi, bekal daya saing tinggi, dan yang tak kalah penting berorientasi hasil akademik yang baik.

“Dengan konsep yang berkesesuaian dengan prinsip manhaj Sistematika Wahyu, kita berupaya memajukan pendidikan Islam yang selalu relevan, mampu menjadi solusi atas tantangan global, serta pembinaan untuk mencetak generasi insan rabbani yang unggul dan kompetitif,” pungkasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Seminar Parenting di Bumi Lancang Kuning Telaah Pentingnya Pendidikan Qur’ani dalam Keluarga

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat peran keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Riau menggelar seminar parenting bertajuk Membumikan Al-Qur’an di Bumi Lancang Kuning.

Seminar ini berlangsung di Perpustakaan Soeman HS, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Selasa, 17 Jumadil Awal 1446 H (19/11/2024).

Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH), Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), dan berbagai elemen lainnya.

Seminar ini menelaah urgensi peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada anak-anak, khususnya dalam pembentukan karakter yang tangguh dan berbasis nilai spirituak. Di tengah era modern yang sarat tantangan, seminar ini menjadi forum penting bagi orang tua untuk menggali ilmu dan inspirasi dalam mendidik generasi Qurani.

Acara tersebut menghadirkan pembicara utama, KH Anwari Hambali dari Balikpapan, yang dikenal dengan keahliannya dalam penggalian hikmah Al-Qur’an.

Dalam pemaparannya, KH Anwari menekankan bahwa peran orang tua adalah fondasi utama dalam membangun karakter anak yang berbasis nilai-nilai Qurani. Menurutnya, dalam era digital ini, tantangan yang dihadapi keluarga semakin kompleks.

“Orangtua harus menjadi teladan yang nyata bagi anak-anak mereka. Nilai-nilai Al-Qur’an ini harus diajarkan dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya mengenal Al-Qur’an secara teoritis, tetapi juga menghayatinya dalam tindakan,” ujar KH Anwari Hambali.

Seminar parenting ini memberikan pemahaman teoritis yang mengedepankan langkah praktis sehingga diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu poin penting yang disampaikan dalam seminar ini adalah pentingnya konsistensi orang tua dalam membangun kebiasaan baik.

Selain itu, kajian ini juga menyoroti pentingnya keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi pengaruh negatif teknologi dan informasi yang tak terkendali.

Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Riau, Ust Muhammad Ihsan Taufik, menyampaikan bahwa pendidikan berbasis nilai Al-Qur’an sangat relevan di era globalisasi.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membantu orang tua lebih optimal dalam menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an. Di era ini, anak-anak sering kali tidak siap berinteraksi dengan perkembangan teknologi tanpa bekal nilai-nilai yang kuat,” ungkapnya.

Dari kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi orang tua di Riau untuk lebih aktif dalam mendidik anak-anak mereka.

“Mendidik generasi Qurani bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan niat yang kuat dan dukungan lingkungan, ini adalah misi yang sangat mungkin diwujudkan,” tuturnya.

Seminar ini dihadiri oleh ratusan orang tua dari berbagai kalangan yang menunjukkan antusiasme tinggi untuk memperdalam wawasan mereka dalam mendidik anak-anak.

Selain menghadirkan pembicara inspiratif, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan Nanda Najah, seorang hafidz Qur’an yang pernah menjadi finalis Hafidz RCTI 2019.

Kehadiran Nanda Najah memberikan motivasi tambahan kepada para peserta, khususnya para ibu, bahwa dengan pendidikan yang tepat, anak-anak mereka dapat menjadi generasi Qurani yang membanggakan.

Kepala BMH Perwakilan Riau, Robi Setiawan, dalam sambutannya, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap penguatan peran keluarga dalam membangun generasi yang tangguh.

“Ini adalah langkah kecil untuk membangun keluarga yang kokoh dengan Al-Qur’an sebagai pijakan utama. Jika setiap keluarga mampu menjalankan peran ini, maka dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat secara luas,” tegasnya.

Dia menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan Qurani. Dia berharap seminar ini menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar untuk membumikan Al-Qur’an di Bumi Lancang Kuning, julukan Provinsi Riau.*/Hery Kusmirah

Kuatkan Ketakwaan Lewat Gotong Royong dan Peduli Kesehatan di Ngasinan

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Dusun Ngasinan, Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang kembali menjadi lokasi kegiatan kolaboratif yang digelar simpul sinergi bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Ahad, 15 Jumadil Awal 1446 (17/11/2024).

Warga dusun menyambut hangat kegiatan bertajuk “Meraih Ketakwaan dengan Menjaga Kesehatan dan Peduli Sesama” yang mengusung nilai-nilai gotong royong dengan simpul sinergi antar berbagai elemen masyarakat.

Menurut Wahyu Krisyadi, perwakilan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Tengah, suasana keakraban yang tercipta sangat terasa.

“Setiap kali ke sini, nuansa gotong royong benar-benar terasa. Ada semangat untuk saling bersama. Terimakasih warga yang sudah menerima kami dengan senang hati,” ungkapnya.

Gotong royong yang terlihat di Dusun Ngasinan ini mengalirkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Keterlibatan berbagai pihak dalam acara ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

“Ada semangat untuk saling bersama,” kata Wahyu, seraya menekankan agar kerja sama dengan lintas komunitas ini dapat membangun ketangguhan sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam dan budaya lokal.

Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama antara Majelis Ta’lim Millatul Jannah, Masjid Baiturrahim Banyumanik, Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), PosDai , Masjid Al Barokah Ngasinan, dan BMH.

Ketua Majelis Ta’lim Millatul Jannah, Ibu Estining Wiji, mengatakan sinergi berbagai pihak ini mengalirkan semangat pentingnya kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.

“Alhamdulillah, kolaborasi itu indah dan meringankan. Terimakasih kepada warga Ngasinan yang sudah berkenan menerima kami untuk bersilaturahim. Semoga ke depan bisa terus saling bekerjasama. Juga kepada kawan-kawan mitra kolaborasi, terimakasih atas kerjasama ini,” tuturnya.

Tidak hanya memberikan layanan kesehatan gratis, sembako, dan bazar pakaian murah, kegiatan ini juga menyisipkan nilai edukasi tentang pentingnya sedekah. Salah satu penerima manfaat, Ibu Umi, mengungkapkan kebahagiaannya.

Umi mengaku senang dengan kegiatan ini karena dia bisa cek kesehatan gratis, bawa pulang sembako, dan pakaian murah meriah. Tapi yang membuatnya lebih bersyukur lagi, ternyata panitia mengajarkan untuk sedekah.

“Barang-barang yang kami bawa pulang ini tidak kami beli, tapi kami berinfaq untuk kas masjid. Wah, ini bagus konsepnya. Kami sudah senang dapat sembako, pakaian, kesehatan dicek, malah tambah dapat pahala lagi karena sudah berinfaq untuk masjid. Alhamdulillah banget ini,” ujarnya penuh rasa syukur.

Salah satu aspek utama kegiatan ini adalah sosialisasi kesehatan oleh Fakultas Kesehatan Unimus. Koordinator baksos kesehatan, dr Nabil menyampaikan harapannya agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan, khususnya terkait penyakit gula darah dan tekanan darah tinggi.

Dokter muda ini juga menyampaikan terimakasih kepada warga Ngasinan dan kawan-kawan panitia yang sudah memfasilitasi kegiatan ini.

“Harapannya dengan sosialisasi pengabdian masyarakat dari Unimus ini, tentang penyakit gula darah dan darah tinggi, bisa menjadi bekal dan pengetahuan tambahan untuk masyarakat. Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya,” pungkas dr Nabil.*/Yusran Yauma

Pengurus MUI Baubau Dikukuhkan, Sinergi Bangun Peradaban Bangsa yang Religius dan Harmonis

0

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Aula Palagimata Kantor Walikota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi tempat istimewa dalam acara Sarasehan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Baubau, belum lama ini, Sabtu, 14 Jumadil Awal 1446 H (16/11/2024).

Acara ini sekaligus menjadi momen pengukuhan kepengurusan baru MUI Baubau, yang menyinergikan antara ulama dan pemerintah daerah untuk membangun masyarakat yang religius dan harmonis.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Penjabat (Pj) Walikota Baubau, Dr. H. Muh. Rasman Manafi, S.P., M.Si., yang menyampaikan pesan penting terkait peran strategis MUI. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa MUI harus menjadi garda depan dalam menjaga nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus MUI Kota Baubau. Amanah kita adalah menjaga warga kita, membuat nyaman negeri kita, termasuk memberikan pertimbangan kebijakan kepada pemerintah. Peran ini tentu sangat diharapkan,” ungkap Dr. Muh. Rasman.

Ia pun menekankan akan kebutuhan mendesak untuk menghadirkan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah (umara) dan ulama dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, berakhlak mulia, dan religius khususnya di kawasan ini.

Kepemimpinan Baru MUI Kota Baubau

Dalam pengukuhan ini, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A. terpilih secara aklamasi sebagai Ketua MUI Kota Baubau untuk periode 2024-2029.

Dalam pidato perdananya sebagai Ketua MUI, KH. Abdul Rasyid menegaskan pentingnya selalu merawat ukhuwah islamiyah sebagai landasan kerja MUI.

“Kolaborasi yang solid antara ulama dan umara adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat Islami yang harmonis. Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk terus berdakwah dengan pendekatan yang relevan,” tegasnya.

Ditengah dinamika kehidupan umat dan bangsa dewasa ini, KH. Abdul Rasyid mengingatkan bahwa tantangan dakwah hendaknya melibatkan penyampaian nilai-nilai agama yang relevan dengan dinamika sosial, budaya, dan teknologi.

MUI Kota Baubau di bawah kepemimpinan KH. Abdul Rasyid diharapkan dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan kontemporer.

“Kita perlu terus belajar dari pengalaman, memperkuat dakwah yang strategis dan inovatif. Dengan demikian, kita mampu menjadi agen perubahan di masyarakat,” pungkas KH. Abdul Rasyid.

Acara ini mengusung tema “Sinergitas Ulama dan Umara dalam Membangun Peradaban Bangsa yang Religius dan Harmonis”. Tema ini merefleksikan visi besar MUI Kota Baubau untuk memadukan kebijakan pemerintah dengan panduan moral ulama.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya berdampak pada pembentukan kebijakan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan spiritual dan sosial masyarakat.

Menurut Ketua Pelaksana, Drs. Abdul Muttalib, tema ini dirancang untuk menyoroti urgensi penguatan sinergi lintas sektor. “Kerjasama antara ulama dan umara harus diwujudkan melalui program kerja yang konkret dan berkesinambungan,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama,Ust. Abd Syukur, S.Sos.I., Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Kepton, dikukuhkan sebagai anggota Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat. Pengukuhan ini menambah semangat baru bagi MUI dalam memperkuat program dakwah di Kota Baubau dan Kepulauan Buton.

Dalam wawancara singkat, Ust. Abd Syukur menyatakan posisi ini merupakan amanah besar. “Kami berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan dakwah, menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat dengan cara yang bijaksana dan aplikatif,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh tokoh lainnya seperti sejumlah anggota DPRD Kota Baubau, pejabat pemerintah kota, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Baubau H. Mansur, pimpinan organisasi masyarakat Islam, serta pimpinan pondok pesantren*/Noer Akbar

Mengukir Asa di Desa Sapikerep, Dukungan untuk Para Mualaf dan Lansia

0

PROBOLINGGO (Hidayatullah.or.id) —Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menebar kebaikan. Kali ini, giliran para mualaf, janda, dan lansia di Dusun 1 Tambak, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo yang mendapatkan perhatian.

BMH menyalurkan mukena baru sebagai bentuk dukungan terhadap perjalanan spiritual mereka.

Dusun yang dulu mayoritas beragama Hindu ini kini mulai berwarna Islam. Kehadiran para mualaf membawa semangat baru. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan ibadah.

“Alhamdulillah, mukenah ini sangat berarti bagi kami,” ungkap Yusrifah, salah satu penerima, seperti dalam keterangan yang diterima media ini, Selasa, 17 Jumadil Awal 1446 (19/11/2024).

Senyum sumringah merekah di wajahnya saat menerima mukenah baru. “Rasanya seperti mendapatkan hadiah istimewa.”

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, mengungkapkan bahwa penyaluran mukenah ini merupakan wujud kepedulian BMH terhadap para mualaf.

“Kami ingin mereka merasa nyaman dan khusyuk dalam menjalankan ibadah,” ujarnya.

Muslim mengimbuhkan, penyaluran mukenah ini adalah bentuk dukungan moral bagi para mualaf yang sedang berjuang memperkuat imannya.

BMH berharap, dengan adanya bantuan ini, semangat mereka untuk belajar agama akan semakin berkobar.*/Herim

Kolaborasi Kebaikan Bantu Atasi Kesulitan Air Bersih di Kaki Bukit Seloliman

0

MOJOKERTO (Hiayatullah.or.id) — Di kaki Bukit Seloliman, sebuah harapan baru sedang tumbuh, merekah. Sekian lama masyarakat setempat, termasuk para santri kesulitan mengakses air bersih.

Selama beberapa hari ini suara mesin bor menembus kesunyian, mengiringi semangat para pekerja yang tengah berjuang merampungkan proyek wakaf sumur bor di Yayasan Madyan Hidayatullah Trawas, Mojokerto, Jawa Timur.

Proyek pembangunan fisik ini sebuah upaya menyulap setetes air menjadi berkah yang mengalir tak terhentikan.

PBB telah menetapkan bahwa kesehatan tidak sebatas fisik, tetapi juga mental, sosial dan spiritual. Namun, bagaimanapun kebutuhan air bersih adalah hal mendasar untuk kesehatan semuanya.

Wajar jika semua tak sabar menantikan air bersih mengalir, menyudahi cerita susah mendapatkan air bersih.

Bagi mereka, sumur bor ini simbol harapan akan hidup yang lebih baik, sehat dan tentu saja untuk masa depan yang lebih baik.

“Dulu, kami kesulitan sekali mendapatkan air bersih,” ujar Ustadz Fadhillah Ikhsan, pengasuh pondok pesantren.

“Setiap hari harus bolak-balik mencari air di sumber yang jauh. Dengan adanya sumur bor ini, kami bisa lebih fokus pada kegiatan belajar dan ibadah.”

Senyum merekah di wajah Ustadz Fadhillah saat membayangkan wajah-wajah santri yang akan berseri-seri menikmati kesegaran air bersih.

“Terima kasih kepada semua donatur yang telah mewujudkan mimpi kami. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda,” ucapnya khusyuk.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menambahkan, “Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian kita terhadap sesama dapat mengubah hidup banyak orang,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 16 Jumadil Awal 1446 (18/11/2024).

Kata dia, kebaikan zakat, infak dan sedekah melalui BMH telah mengubah kehidupan santri. Setetes demi setetes, harapan terus mengalir, seiring dengan aliran air yang kelak akan membasahi tanah kering di sekitar pesantren.

“Air adalah sumber kehidupan, dan dengan menyediakan akses air bersih, kita telah ikut serta dalam membangun masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda,” imbuhnya.

Tamnpak di sela-sela kesibukan pembangunan sumur bor air bersih, terdengar gelak tawa anak-anak yang bermain air di sekitar lokasi proyek.*/Herim

Duduk Merapat dalam Majelis Ilmu, Membudayakan Adab dan Mendekatkan Keberkahan

0

MAJELIS ilmu adalah salah satu institusi paling mulia dalam tradisi Islam. Dalam sebuah majelis ilmu, para jamaah berkumpul untuk mendengar, menyimak, dan memahami ayat-ayat Allah serta sabda Rasulullah ﷺ.

Forum seperti ini menjadi wadah transfer ilmu, ruang untuk mendapatkan keberkahan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, gejala yang kita saksikan belakangan ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam menjaga adab-adab majelis, salah satunya adalah kebiasaan duduk renggang dan berjauhan.

Fenomena ini terjadi di masjid masjid dan mushalla kita baik di kota maupun di pedesaan, di mana sebagian jamaah memilih duduk di pojokan, berjauhan, bahkan ada yang melakukan hal-hal yang mengurangi kekhidmatan majelis, seperti mengobrol sendiri atau menyemburkan asap sigaret dari mulut yang boleh jadi amat mengganggu jamaah lainnya.

Fenomena ini penting kita tinjau kembali. Islam sangat menekankan pentingnya adab dalam bermajelis, termasuk merapatkan duduk di dalamnya sebagai etika pemuliaan terhadap tempat yang memiliki dasar syar’i yang kuat.

Merapatkan duduk dalam majelis ilmu menunjukkan bentuk penghormatan kepada ilmu dan guru, serta menjadi sarana mendekatkan hati, menguatkan persaudaraan, dan meraih rahmat Allah.

Al-Qur’an dan hadits memberikan landasan yang jelas tentang keutamaan menghadiri majelis ilmu dan menjaga adabnya. Allah berfirman dalam surah Al-Mujadilah ayat 11:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa adab dalam majelis, termasuk merapatkan dan melapangkan ruang bagi orang lain, adalah bagian dari keimanan dan akan mendapatkan balasan berupa kelapangan dari Allah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ menekankan keutamaan menghadiri majelis ilmu di masjid. Ketenangan dan rahmat hanya dapat dirasakan jika jamaah menjaga kekhidmatan majelis, termasuk dengan duduk merapat, tidak menyebar secara tidak teratur, dan fokus dalam menyimak.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan pentingnya merapatkan saf, termasuk dalam konteks shalat dan pertemuan, dengan bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ : ( اسْتَوُوا , وَلا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memegang pundak-pundak kami sebelum salat, dan beliau bersabda: luruskan (shaf) dan jangan bengkok, sehingga hati-hati kalian nantinya akan bengkok (berselisih) pula” (HR. Muslim)

Meskipun hadits ini secara khusus berbicara tentang saf shalat, prinsipnya relevan untuk majelis ilmu. Duduk berjauhan tanpa alasan yang jelas dapat menciptakan jarak fisik dan emosional di antara jamaah, yang justru membuka ruang bagi bisikan setan berupa gangguan konsentrasi atau sikap acuh tak acuh terhadap ilmu yang sedang disampaikan.

Era Penuh Distraksi

Kondisi saat ini, di mana banyak orang mudah terdistraksi oleh gawai, push notification media sosial, percakapan pribadi, atau hal-hal lain, menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kekhidmatan majelis ilmu.

Majelis ilmu adalah tempat yang seharusnya menjadi zona bebas gangguan, di mana jamaah bisa fokus mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan pemahaman agama.

Namun, sayangnya, kita sering melihat jamaah, atau mungkin kita sendiri, yang lebih sibuk dengan ponsel atau bahkan berbincang-bincang selama kajian berlangsung.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa adab dalam majelis mencerminkan penghormatan kepada ilmu. Beliau bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Jalan ilmu ini mencakup kesiapan lahir dan batin untuk menerima ilmu, termasuk melalui sikap duduk yang tertib, rapi, dan rapat. Sikap ini juga menunjukkan kebersamaan dalam mencari ilmu, sehingga keberkahan yang turun dapat dirasakan bersama.

Selain itu, para ulama salaf memberikan teladan dalam menghormati majelis ilmu. Mereka duduk merapat yang menunjukkan sikap penuh perhatian. Imam Malik, misalnya, sangat menghormati majelis hingga beliau enggan berbicara kecuali dengan penuh keseriusan dan fokus.

Begitu pula dengan para sahabat Rasulullah ﷺ yang selalu duduk rapat saat mendengar sabda Rasulullah ﷺ, seolah-olah burung bisa bertengger di atas kepala mereka karena begitu tenangnya suasana.

Meraih Keberkahan dan Menghidupkan Tradisi

Sejatinya majelis ilmu adalah forum sakral yang terhormat, tempat di mana hati yang tercerai-berai disatukan, keimanan diperkuat, dan ukhuwah Islamiyah dipupuk. Dengan duduk rapat, jamaah menciptakan suasana kekompakan yang mendukung penyampaian dan penerimaan ilmu.

Dalam hubungan sosial, duduk bersama tanpa celah juga menghilangkan rasa eksklusivitas yang kadang muncul karena jarak fisik.

Adab dalam majelis ilmu hendaknya dihidupkan kembali sebagai bagian dari khazanah Islam yang agung. Tradisi ini mengejawantah kultur dalam transformasi ilmu pengetahuan yang berupaya menjaga warisan adab Islami yang sudah dijalankan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabiut tabi’in, dan ulama-ulama terdahulu. Dengan meneladani mereka, kita berupaya menghidupkan sunnah dan memperkuat hubungan kita dengan Allah dan sesama Muslim.

Mari kita hidupkan kembali tradisi mulia ini, termasuk di masjid-masjid atau mushalla kita di perkotaan maupun pedesaan. Mari jadikan majelis ilmu sebagai tempat kudus yang penuh dengan orang dan juga dengan adab. Dengan cara ini, kita menjaga tradisi keilmuan Islam dan menyebarkan rahmat dan keberkahan di tengah masyarakat.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkan dan menghidupkan tradisi bermajelis sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para pendahulu kita. Wallahu a’lam bishawab.*/Adam Sukiman