JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kelompok Kerja (Pokja) Rekrutmen Anggota Hidayatullah menyerahkan laporan kerja kepada Ketua Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah saat Rapat Pleno DPP di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Senin, 16 Jumadil Awal 1446 (18/11/2024).
Laporan berupa resume hasil kerja pokja dan buku berjudul Menggagas Konsep Rekrutmen Anggota Hidayatullah tersebut diserahkan oleh ketua pokja, Nursyamsa Hadis, didampingi anggota pokja, Mahladi Murni dan Iwan Abdullah.
Laporan ini diterima oleh Ketum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, serta Sekjen DPP Hidayatullah, Candra Kurnianto, dan disaksikan semua pengurus DPP Hidayatullah.
“Alhamdulillah Pokja Rekrutmen Anggota ini, meskipun jumlahnya sedikit, namun kerjanya baik, dan bisa menyelesaikan tugas lebih cepat dari target waktu yang ditentukan,” ungkap Nashirul saat menerima laporan tersebut.
Selanjutnya, ketua pokja, Nursyamsa, menjelaskan kepada Hidayatullah.or.id bahwa laporan pokja mengupas soal konsep rekrutmen anggota yang selama ini sudah berjalan, implementasi konsep dan kendalanya, masukan dari para pihak untuk perbaikan konsep, dan rekomendasi-rekomendasi.
Pokja sendiri, menurut Nursyamsa, telah menggelar pertemuan sebanyak 25 kali. Ia berharap rekomendasi-rekomendasi pokja bisa direalisasikan pada periode kepengurusan DPP selanjutnya, bahkan bila memungkinkan sebagian rekomendasi bisa dilaksanakan tahun 2025 mendatang.
Hanya saja, jelas Nursyamsa lagi, kerja pokja rekrutmen anggota perlu ditindaklanjuti dengan perumusan pola pembinaan anggota. Sebab, jika rekomendasi pokja rekrutmen anggota telah dijalankan dengan baik, dan Allah Ta’ala menakdirkan jumlah anggota Hidayatullah bertambah banyak, sementara pola pembinaan tidak disempurnakan, maka organisasi bisa kewalahan.
Selain itu, ungkap Nursyamsa, pelaksanaan dari rekomendasi ini perlu keseriusan semua pihak. Sebab, potensi rekrutmen Hidayatullah sangat besar. Potensi ini baru bisa tergarap dengan baik bila semua komponen di Hidayatullah bergerak serentak, bersinergi, dan saling mendukung satu sama lain.*/Adam Sukiman
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, menutup rangkaian acara Pelatihan Intensif Talenta Muda Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang berlangsung selama empat hari di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Ahad malam, 15 Jumadil Awal 1446 (17/11/2024).
Dalam sambutannya, Ketua Umum Hidayatullah, Nashirul Haq menyampaikan apresiasinya terhadap pola pelatihan ini. Dia mendorong pola serupa diterapkan lebih luas dalam organisasi untuk memperkuat regenerasi kepemimpinan berbasis nilai Islam.
“Seperti yang dilaporkan tadi, rata-rata usia peserta adalah dua puluh tahunan. Dalam usia seperti itu, mereka perlu diberi beban ilmu dan tanggung jawab,” ungkapnya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pembinaan sistematis bagi generasi muda dengan mencontohkan fase kehidupan Rasulullah SAW. “Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik langsung Rasulullah sejak kecil hingga usia empat puluh tahun. Ini adalah proses tarbiyah yang penuh makna,” tambahnya.
Menurutnya, pembinaan seperti ini penting karena pemimpin sejati tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses pembentukan dan pengembangan yang terstruktur. “Ketika seorang individu memiliki potensi, maka pelatihan dan pembentukan yang tepat akan melejitkan talenta tersebut,” tegasnya.
Belajar dari Generasi Pendiri Hidayatullah
Masih dalam kesempatan yang sama, Ustadz Nashirul juga mengingatkan kembali kepada sejarah Hidayatullah yang lahir dari semangat dan karya anak muda.
“Pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, bersama rekan-rekannya yang berusia dua puluh tahun hingga dua puluh lima tahun tahun, mampu melahirkan karya besar yang terus kita nikmati hingga hari ini. Artinya, Hidayatullah ini lahir dari anak muda,” jelasnya.
Dia mengimbuhkan pelatihan ini sejalan dengan visi besar Hidayatullah 2023-2025 yang menekankan redesain organisasional dan inovasi dalam berbagai bidang. Salah satu fokusnya adalah memunculkan generasi muda dalam posisi strategis kepemimpinan.
Sebagai ilustrasi, Ustadz Nashirul menyebut nama Muhammad Al-Fatih, pemimpin muda yang menaklukkan Konstantinopel. “Masa kecilnya mungkin sedikit nakal dalam tanda petik, tetapi dengan didikan yang benar, ia mampu menjadi pemimpin besar yang mewujudkan mimpi Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam,” urainya.
Sebagai penutup, Nashirul memberikan motivasi kepada para peserta seraya menegaskan bahwa talenta besar akan berkembang sempurna dengan pembinaan yang tepat.
“Kalian adalah aset umat yang sangat berharga. Jadilah pemimpin yang berorientasi pada visi jangka panjang, melayani masyarakat, dan menjaga amanah Allah Ta’ala,” katanya.
Dengan semangat yang terpancar dari pelatihan ini, Muslimat Hidayatullah sekali lagi membuktikan komitmennya dalam mencetak pemimpin muda yang siap menghadapi tantangan zaman dengan solusi visioner. “Kepemimpinan bukanlah tujuan akhir, tetapi jalan panjang menuju perbaikan umat secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Pelatihan 32 Jam dengan Metode Komprehensif
Acara penutupan ini tidak hanya menjadi momentum evaluasi, tetapi juga refleksi terhadap upaya pembinaan generasi pemimpin muda Muslimah yang bertumpu pada nilai-nilai profetik, inovatif, dan kolaboratif.
Pelatihan ini dirancang dengan model pembelajaran beragam, termasuk lecturing, presentasi, diskusi kelompok (LCD), dan sesi berbagi pengalaman.
Direktur Hidayatullah Institute (HI) Muzakkir Usman Asyari, Ph.D, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini berlangsung dari pukul 07.00 hingga 21.00 selama empat hari dengan total waktu pelatihan mencapai 32 jam.
Adapun materi yang diberikan meliputi empat modul utama yaitu Muslimah dan Kepemimpinan Islam yang menekankan peran perempuan dalam kerangka kepemimpinan berbasis Al-Qur’an, Desain Organisasi dan Pemetaan Wilayah sebagai langkah strategis dalam memahami potensi dan tantangan daerah, Ideasi yang bertujuan mengasah kreativitas dan inovasi para peserta, dan Komunikasi dan Networking, penting untuk membangun jejaring luas yang berdaya guna bagi dakwah.
Menurut Muzakkir, capaian peserta angkatan ini sangat membanggakan. “Alhamdulillah, angkatan ini berhasil mempertahankan kedisiplinan 100 persen seperti senior mereka di angkatan pertama,” ujarnya.
Dia menyebutkan, nilai rata-rata peserta pada tes akhir mencapai 66 dengan skor tertinggi 83, capaian yang dinilai luar biasa mengingat rata-rata usia peserta adalah 20 tahunan.
Pelatihan ini adalah sebuah langkah nyata dalam membangun generasi pemimpin Muslimah yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, visi strategis, dan kemampuan kolaboratif. Dengan fondasi nilai profetik, tambahnya, para peserta diharapkan mampu menjadi agent of change yang membawa dampak luas bagi umat.*/Darwiwing
BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Baubau menjadi tuan rumah penyelenggaraan Dauroh Marhalah Ula (DMU) Hidayatullah Zona wilayah Kepulauan Buton (Kepton) yang berlangsung pada 13-15 Jumadil Awal 1446H (15-17 November 2024).
Kegiatan ini mengusung tema yang visioner, “Transformasi Manhaj Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam,” dengan misi memperkuat pemahaman manhaj serta komitmen kader dalam upaya mewujudkan transformasi peradaban Islam.
Sebagai tonggak utama dalam jenjang perkaderan Hidayatullah, kegiatan ini menyasar kader-kader muda yang diharapkan menjadi penggerak perubahan masyarakat berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Ustaz Ahmad Syahroni, M.Pd., membuka acara dengan menekankan pentingnya kualitas kader sebagai inti keberhasilan dakwah.
“Untuk memperbaiki diri, keluarga, institusi, dan umat, kuncinya adalah manhaj Sistematika Wahyu sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam merubah umat,” katanya, menegaskan manhaj sebagai pijakan aplikatif dalam segala aspek kehidupan mencakup tatanan yang dimulai dari pembinaan individu hingga transformasi masyarakat luas.
Pelaksanaan DMU bertujuan menjadi katalisator perubahan yang berkesinambungan. Menurut Ustaz Ghiro Amrullah, S.Sos.I., Ketua Panitia Wilayah, kegiatan ini terbagi menjadi dua zona, yaitu Zona Daratan di Kendari dan Zona Kepulauan di Baubau.
“Alhamdulillah, kami bangga agenda Dauroh Marhalah Ula tahun ini terlaksana dengan baik. Semoga menjadi gerbang jenjang perkaderan formal bagi kader-kader pelanjut gerakan dakwah Hidayatullah di Sultra,” ujarnya.
Dauroh Marhalah Ula melibatkan partisipasi yang meluas, mencakup pengurus, warga, dewan guru, karyawan, hingga santri tingkat akhir. Di Zona Kepton, terdapat 19 peserta ikhwan dan 35 peserta akhwat, sementara Zona Daratan diikuti oleh 18 peserta ikhwan dan 43 peserta akhwat.
Transformasi peradaban Islam sebagaimana diusung dalam tema dauroh tidak terlepas dari pendekatan manhaj Sistematika Wahyu. Pendekatan ini bertumpu pada prinsip bahwa perubahan dimulai dari pemahaman mendalam terhadap wahyu Allah sebagai pedoman hidup. Dalam pada itu, kegiatan dauroh bertujuan menanamkan tiga pilar utama yaitu tarbiyah (pendidikan), tazkiyah (penyucian jiwa), dan da’wah (penyebaran kebaikan).
Instruktur yang terlibat dalam kegiatan ini berasal dari DPW, DMW, PW Muslimat Hidayatullah (Mushida), dan MMW Sultra. Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam upaya membentuk kader yang memiliki wawasan luas serta kemampuan praktis dalam memimpin perubahan.
Sejalan dengan hal ini, Hidayatullah juga mengadakan halaqah kader mingguan sebagai tindak lanjut dauroh untuk mendalami gerakan manhajiyah secara sistematis.
Ustaz Ahmad Syahroni menekankan pentingnya kesinambungan program ini, *“Melalui dauroh ini, peserta diharapkan dapat memperdalam pengetahuan dan keterampilan untuk berkontribusi dalam gerakan Hidayatullah”.
Pendidikan berbasis manhaj Sistematika Wahyu tidak hanya mengedepankan aspek spiritual, tetapi juga mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Hal ini relevan dengan pandangan tokoh pendidikan Islam modern, seperti Syed Naquib al-Attas, yang menyatakan, “Pendidikan sejati adalah proses pengenalan dan internalisasi adab, yang mengarahkan manusia kepada harmoni dengan tatanan Ilahi.”
Dalam ejawantah penyelenggaraan DMU, pendidikan ini diwujudkan melalui sesi-sesi pelatihan yang meliputi aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan kepemimpinan. Fokusnya adalah membentuk kader yang tidak hanya memahami Islam secara konseptual tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan Hidayatullah memandang visi peradaban Islam sebagai integrasi nilai-nilai spiritual dan sosial. Oleh karena itu, DMU menjadi sarana strategis untuk memupuk solidaritas kader dalam mewujudkan visi tersebut. “Dauroh ini diharapkan melahirkan kader-kader yang lebih siap dan kompeten dalam menjalankan misi besar organisasi,” kata Ghiroh.
Kegiatan seperti DMU juga mengingatkan pada model dakwah Rasulullah yang mengedepankan pendekatan dakwah bilhal atau dakwah melalui tindakan nyata. Model ini menuntut kesesuaian antara ajaran Islam dan perilaku praktis para kader, sehingga Islam dapat tercermin secara aplikatif dalam kehidupan masyarakat.
“Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun, yang menekankan pentingnya pembangunan masyarakat berbasis pada prinsip keadilan dan solidaritas,” imbuhnya.
Dengan terselenggaranya DMU ini, dia menambahkan, harapan besar tergantung pada generasi penerus Hidayatullah. Mereka adalah agen perubahan yang diharapkan mampu melanjutkan estafet perjuangan, tidak hanya untuk kebaikan umat, tetapi juga untuk kemaslahatan seluruh manusia.*/Noer Akbar
TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Selama empat hari berturut-turut, 12-15 Jumadil Awal 1446 (14-17/11/2024), Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tarakan menjadi pusat kegiatan Jambore Pramuka Wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Kegiatan ini diadakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kaltara bekerjasama dengan Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Daerah Hidayatullah Kaltara.
Dengan mengusung konsep yang memadukan pendidikan nonformal dan nilai-nilai luhur kepramukaan, jambore ini menghadirkan ragam aktivitas seperti tali-temali, korve tenda, jelajah alam, olahraga, hingga kegiatan spiritual yang memberikan pengalaman mendalam bagi para peserta.
Sekretaris Jenderal Pimpinan Satuan Komunitas Nasional (Pinsakonas) Pramuka Hidayatullah, Kak Haji Abdul Malik, menyampaikan bahwa pembinaan Pramuka memiliki dasar yang kuat dalam mengembangkan kecerdasan multidimensional, yang dirangkum dalam konsep SESOSIF: spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
“Melalui kegiatan Jambore Sako Pramuka Hidayatullah Kaltara ini, semoga kelak lahir generasi yang memiliki bekal kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik, serta menjunjung tinggi ajaran Islam yang membawa nilai kaffatan linnas—rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya.
Kecerdasan spiritual, menurut Kak Malik, tidak hanya mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap kekayaan spiritual manusia. Ini menjadi landasan kuat untuk membentuk generasi yang tidak hanya berilmu tetapi juga berkarakter.
Dalam ejawantah nilai nilai mulia ini, jelasnya, kaffatan linnas mengisyaratkan komitmen untuk membawa manfaat universal yang merefleksikan pentingnya ajaran Islam yang bersifat aplikatif.
Pramuka bukan hanya ajang rekreasi, melainkan medium transformasi yang mencetak karakter bangsa melalui pembelajaran bersama. “Jalan mencerdaskan bangsa begitu luas, seluas hamparan bumi itu sendiri. Tidak hanya melalui kelas formal, tetapi juga melalui pengalaman nyata di lapangan,” ujarnya.
Jambore ini juga menjadi momentum pengintegrasian antara nilai kepramukaan dengan ajaran Islam. Dalam salah satu sesinya, para peserta diajak untuk merefleksikan ajaran Islam yang bersifat rahmatan lil ‘alamin ke dalam aktivitas sehari-hari, seperti melalui kepedulian sosial dan sikap saling membantu.
Karena itu, Kak Malik berharap, kegiatan ini menjadi refleksi nyata bahwa pendidikan berbasis pengalaman lapangan mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kokoh secara moral.
“Pembinaan yang menyeimbangkan aspek spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik merupakan pondasi strategis untuk mencetak generasi emas yang siap menghadapi tantangan global,” imbuhnya.
Dia menambahkan, kegiatan ini telah menjadi medium untuk menanamkan nilai tersebut, menjadikan setiap peserta tidak hanya berkompeten tetapi juga diharapkan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Antuasiasme Peserta dan Dukungan BMH
Kegiatan ini tak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menyemai rasa persaudaraan yang mendalam. Ahmad, peserta asal Pulau Sebatik, menyampaikan kebahagiaannya.
“Alhamdulillah, saya sangat senang bisa bertemu teman-teman dari seluruh Kalimantan Utara di sini. Banyak sekali kegiatan seru yang kita ikuti bersama. Rasanya seperti punya keluarga baru,” kata Ahmad.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH). Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Noer Komara, menegaskan komitmennya terhadap upaya mencerdaskan generasi bangsa.
“Laznas BMH memandang semua hal yang memungkinkan anak bangsa maju, punya wawasan, pengalaman progresif, dan cerdas selalu akan didukung, termasuk Jambore se-Kaltara yang diikuti oleh 645 santri ini,” tuturnya.
Komara menambahkan bahwa nilai-nilai yang diajarkan dalam Pramuka seperti disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter bangsa.
“Pramuka mengajarkan nilai-nilai luhur yang membentuk anak menjadi pribadi mandiri, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)
AMALAN pagi berikutnya setelah shalat sunnah fajar adalah shalat shubuh berjamaah di masjid. Sebelumnya telah diterangkan keutamaan shalat sunnah qabliyah shubuh yang lebih baik daripada dunia beserta isinya.
Shalat subuh berjamaah di masjid adalah amalan yang tidak ringan, tidak semua orang bisa melaksanakan secara istiqamah. Perlu tekad kuat, kerja keras dan tentu munajat kepada Allah SWT.
Setan-pun berupaya semaksimal mungkin untuk menghalangi orang orang beriman bisa bangun pagi dan berangkat ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.
Diceritakan dalam sebuah kisah hikmah tentang sosok pemuda yang shaleh. Madinah sedang dingin pada shubuh itu. Gelap menyelimuti jalanan yang lengang, hanya cahaya bintang yang menari-nari di atas langit.
Tampaklah seorang pemuda, hatinya penuh rindu. Ia bersiap untuk pergi ke Masjid Nabawi, tempat di mana ia merasa damai bersama Tuhannya. Pemuda itu dikenal shalih, kecintaannya pada masjid seakan tak pernah surut.
Setelah berwudhu dan mengenakan pakaian bersih, ia melangkah keluar. Hawa dingin menyengat kulitnya, namun semangatnya untuk shalat berjamaah tak tergoyahkan.
Namun, di tengah jalan yang gelap, langkahnya terhenti mendadak. Kaki tergelincir. Tubuhnya terjerembab ke dalam genangan air berlumpur. Pakaiannya basah, kotor. Ia bangkit, mengusap debu, dan memutuskan kembali ke rumah untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, dengan pakaian bersih, ia kembali menyusuri jalan yang sama. Gelap masih menyelimuti. Namun, takdir seolah sedang mengujinya. Untuk kedua kalinya, ia terjatuh di tempat yang sama.
Kali ini lebih basah, lebih kotor. Pemuda itu terdiam sesaat, namun tak menyerah. Ia pulang lagi, mengganti pakaiannya, lalu berangkat sekali lagi.
Ketika ia melangkah untuk ketiga kalinya, sesuatu berbeda. Di ujung jalan, ia melihat cahaya samar mendekat. Seorang kakek tua, membawa lampu, muncul dari kegelapan. “Dari mana Anda?” tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Sang kakek menjawab lembut, “Aku melihatmu jatuh dua kali. Aku datang untuk menerangi jalanmu.”
Pemuda itu tersenyum penuh syukur. Mereka berjalan bersama menuju Masjid Nabawi. Setibanya di masjid, pemuda itu mengajak sang kakek untuk shalat berjamaah. Tapi ajakan itu ditolak dengan halus. Rasa heran mulai menyelimuti pemuda itu. “Kenapa Anda tidak mau shalat bersama saya?”
Sang kakek terdiam sesaat sebelum menjawab, “Karena aku bukan manusia. Aku adalah iblis.”
Pemuda itu terpaku. Tubuhnya bergetar. Udara dingin terasa menusuk lebih dalam. “Kenapa kau membantuku?” tanyanya akhirnya, suaranya hampir berbisik.
Iblis menjawab dengan lirih namun tegas, “Aku yang menjatuhkanmu tadi. Aku berharap kau menyerah, berhenti berangkat ke masjid. Tapi kau tidak menyerah”.
“Pertama kali kau jatuh dan kembali, Allah mengampuni seluruh dosamu. Ketika kau jatuh kedua kalinya dan tetap kembali, Allah mengampuni dosa keluargamu. Aku takut jika aku menjatuhkanmu lagi, Allah akan mengampuni seluruh dosa penduduk kampungmu. Maka aku pastikan kau tiba di masjid tanpa halangan.”
Itulah kisah seorang pemuda shalih yang berusaha istiqamah melangkahkan kakinya menuju rumah Allah untuk beribadah kepada-Nya.
Meski belum diketahui keshahihan dan sumber otentiknya, kisah ini mensinyalir betapa dahsyatnya usaha setan mencegah kita merebut keutamaan shalat shubuh. Seperti juga telah diingatkan Rasulullah SAW:
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang lelaki yang tidur semalaman sampai waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Laki-laki itu telah dikencingi setan pada kedua telinganya.’—atau beliau bersabda, ‘Pada telinganya—‘.” (Muttafaqun ‘alaih)
Shubuh adalah awal dari kemenangan orang beriman, maka yang pertama harus dikalahkan adalah rasa kantuk sendiri, rasa malas atau kebiasaan mau menunda-nunda.
Kalau dapat menaklukkan kebiasaan tersebut dan bisa shalat shubuh berjamaah di masjid maka itu awal pagi yang baik untuk memulai hari dengan baik. Selanjutnya, akan diiringi banyak kebaikan sepanjang hari.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.” Rasulullah menjelaskan, barangsiapa yang tidak bangun di pagi hari,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian saat tidur dengan tiga ikatan ia akan membisikkan kepadamu bahwa malam masih panjang, jika ia terbangun lalu berdzikir pada Allah lepaslah satu ikatan, jika ia berwudlu maka lepaslah dua ikatan, dan jika ia melanjutkan dengan sholat, maka lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga pada pagi harinya ia mulai dengan penuh kesemangatan dan jiwanya pun sehat, namun jika tidak, maka dia akan memasuki waktu pagi dengan jiwa yang keji dan penuh kemalasan.” [HR Bukhari]
Sangat beruntung sekali orang yang bisa bangun di waktu shubuh lalu bisa melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid. Bisa mengalahkan setan dengan melepaskan tiga ikatan yang menghalangi manusia menjalankan ketaatan di waktu shubuh. Tidak mudah bisa terbebas dari jeratan setan karena godaan membawa kesenangan yaitu tidur pagi hingga siang bolong.
Bangun shalat shubuh adalah kenikmatan luar biasa yang tidak diberikan kepada orang-orang biasa. Karena bisa terpilih dari sekian hamba yang terlelap tidak bisa bangun dari tidurnya.
Terpilih juga dari banyak hamba yang bangun shubuh tapi tidak tergerak hatinya menuju panggilan Allah untuk melaksanakan shalat shubuh. Dari sekian yang melaksanakan shalat shubuh, tidak semua tergerak melangkahkan kaki ke rumah Allah (masjid) untuk shalat shubuh berjamaah.
Betapa banyak orang yang terlelap tidurnya dan tidak bisa shalat shubuh, berapa banyak orang yang matanya sudah terbuka dan terjaga tapi mendengar panggilan adzan “hayya alash sholah” (ayo shalat) tapi hatinya tidak terpanggil.
Maka, kenikmatan besar luar biasa, jika bisa bangun tidur di waktu shubuh dan terpanggil melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid. Harus disyukuri, agar bisa istiqamah dan Allah menambah kenikmatan ketaatan tersebut.
Rasulullah bersabda dalam hadist dari Abu Hurairah:
ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا، ولقد هممتُ أن آمُرَ المؤذِّن فيُقيم، ثم آخُذَ شُعلاً من النار، فأحرِّقَ على من لا يخرج إلى الصلاة بعد
“Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Shalat (di masjid)” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)
Hadist di atas memiliki beberapa pelajaran: Pertama, untuk menghilangkan sifat munafik dengan shalat Shubuh berjamaah. Munafik adalah sifat yang paling dibenci oleh Allah dan diancam di akherat nanti dimasukkan di dasarnya neraka.
Sebenarnya, mengerjakan semua shalat itu berat bagi orang munafik. Pekerjaan paling berat bagi orang munafik adalah shalat, apalagi harus lima kali sehari dan berjamaah lagi di masjid.
Karena, pada dasarnya, orang munafik itu malas untuk mengerjakan shalat. Mengapa malas, karena tidak yakin 100% tentang janji Allah dan Rasulullah. Mengapa mereka tetap shalat, karena takut juga dibilang kafir oleh orang-orang di sekitarnya.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allâh, dan Allâh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allâh Azza wa Jalla kecuali sedikit sekali” [QS. An-Nisaa:142]
Shalat shubuh berjamaah di masjid adalah shalat yang berat bagi orang munafik. Karena ini waktu yang paling enak, nikmat, dan nyenyak untuk tidur dengan mimpi-mimpi indahnya. Apalagi sebelumnya begadang dengan makan yang kenyang maka semakin berat dan banyak alasan bagi orang munafik untuk ke masjid.
Waktu shubuh tidak bisa berpura-pura rajin, terlalu berat untuk terus bersandiwara setiap waktu shubuh. Inilah yang menjadikan berat bagi orang-orang munafik untuk shalat shubuh berjamaah di masjid.
Kedua, banyak keutamaan dan kebaikan shubuh berjamaah di masjid yang Allah rahasiakan. Jika Allah buka sedikit saja, maka orang akan berlomba dan berusaha sekuat tenaga meskipun harus dengan merangkak. Bagi orang munafik atau orang yang kurang yakin dengan janji Allah, tentu tidak menarik kebaikan yang tidak kelihatan oleh mata mereka.
Sebagaimana diketahui bahwa shalat subuh adalah shalat yang paling sulit ditunaikan, karena subuh adalah saat masih gelap dan dingin. Jika shalat subuh bisa ditunaikan maka shalat lainnya pastilah akan mudah ditunaikan.
Ketiga, Rasulullah mengancam membakar rumah bagi orang yang tidak ke masjid, saking pentingnya shalat berjamaah. Ini bentuk keseriusan terhadap orang-orang yang melalaikan shalat shubuh berjamaah di masjid dan memilih tinggal di rumah.
Mungkin lebih baik terbakar rumahnya di dunia dibandingkan terbakar dengan api neraka di akherat karena melalaikan kewajiban shalat shubuh.
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperkuat dan mengharmoniskan gerakan dakwah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk semakin menyinergikan langkah-langkah dakwah di tengah-tengah dinamika umat Islam saat ini.
Acara ini berlangsung pada Sabtu, 14 Jumadil Awal 1446 (16/11/2024) di Pondok Pesantren Tahfidz Global Hidayatullah Jayakarta, Jl. Assyafi’iyah No.12, RT.3/RW.3, Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Dalam forum ini, hadir pengurus DPD dan jaringan badan dan amal usaha Hidayatullah se-Jakarta yang memberikan pandangan yang tajam dan relevan mengenai pentingnya harmonisasi serta integrasi dalam dakwah, pembinaan, dan tarbiyah.
Ketua DPW Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, Ust Muhammad Isnaeni, dalam sambutannya menekankan pentingnya harmonisasi dan integrasi dalam berbagai usaha yang telah dilakukan oleh Hidayatullah.
Menurutnya, gerakan dakwah yang dilakukan termasuk oleh organisasi ini seharusnya tidak berhenti hanya pada tahap penyampaian pesan. Sebaliknya, harus ada kelanjutan yang lebih sistematis berupa pembinaan umat yang bersifat komprehensif.
“Pentingnya harmonisasi dan integrasi ini agar khidmat keumatan yang telah dilakukan oleh setiap amal usaha Hidayatullah tidak berhenti begitu saja, akan tetapi dilanjutkan dengan pembinaan Islam secara komprehensif,” ujarnya.
Isnaini menekankan pentingnya keberlanjutan dalam setiap langkah dakwah yang diambil, sehingga tidak hanya menjadi momen instan, melainkan dapat menciptakan perubahan jangka panjang dalam masyarakat.
Mantan Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah ini juga menegaskan bahwa tidaklah cukup jika sebuah amal usaha berhenti pada dakwah semata, tanpa disertai dengan upaya untuk menjaga kesinambungan pembinaan umat.
“Sangat naif jika ada suatu amal usaha berhenti sampai tahap melakukan khidmat dakwah tanpa dilanjutkan dengan sistem pembinaan yang sustainable. Olehnya, kita harus punya kesadaran kolektif agar bagaimana harmonisasi dalam hal pembinaan, dakwah dan tarbiyah,” tegasnya.
Dalam kerangka ini, menurut Isnaini, kesadaran kolektif menjadi kunci untuk mencapai tujuan besar dari dakwah yang bukan hanya bersifat transendental, melainkan juga transformatif.
Tantangan Pembinaan dan Pendidikan Al-Qur’an
Diskusi semakin mendalam ketika Ust Iwan Abdullah, Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, memaparkan data yang cukup menggugah terkait rendahnya tingkat kemampuan membaca Al-Qur’an di Indonesia.
Mengutip penelitian dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Iwan mengungkapkan bahwa sekitar 65% masyarakat Muslim Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Hal ini, lanjut dia, menunjukkan tantangan besar dalam gerakan dakwah yakni masih lebarnya kesenjangan dalam pemahaman dan kemampuan membaca Al-Qur’an.
Dengan data ini, jelas terlihat bahwa fokus dakwah Hidayatullah seharusnya tidak hanya terbatas pada kegiatan sosial, melainkan juga pada pendidikan Al-Qur’an yang menjadi dasar utama dalam membentuk karakter umat yang Qur’ani.
“Gerakan pembinaan yang berbasis pada literasi Al-Qur’an menjadi salah satu prioritas dalam memperkokoh pondasi gerakan dakwah,” kata Iwan, seraya menyebut ada tiga model gerakan sebagai modal untuk melakukan gerakan dakwah yang bisa dilakukan oleh semua yaitu Grand MBA sambil memperluas jangkauan dakwahnya yang tidak sekedar jadi panti, dakwah fardiyah, dan gerakan membuka cabang Hidayatullah hingga tingkat kecamatan.
Pada kesempatan ini, hadir pula Dirut Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Supendi, yang memberikan perspektif penting dalam perencanaan dakwah yang lebih tepat sasaran.
Menurutnya, dua hal yang sangat mendesak untuk diperhatikan dalam gerakan dakwah yaitu leveling sasaran dakwah dan pentingnya memberikan value dalam rekrutmen.
“Perlunya leveling sasaran dakwah agar sesuai atau tepat sasaran, dan kedua, pentingnya ada value yang ditawarkan dalam konteks rekrutmen agar umat tertarik berkiprah untuk agama, bangsa, dan negara bersama Hidayatullah,” ujar Supendi.
Dalam hal ini, Supendi menekankan pentingnya strategi yang tepat dalam menentukan target dakwah, sehingga tidak hanya tercapai efektivitas dalam menyampaikan pesan, tetapi juga relevansi dalam menjangkau kelompok yang membutuhkan.
Selain itu, terkait rekrutmen, ia juga menekankan bahwa umat harus ditawari nilai-nilai yang bisa memberi kontribusi signifikan bagi agama, bangsa, dan negara, yang akan menarik lebih banyak individu untuk terlibat dalam gerakan dakwah ini.
Dengan mencermati pandangan-pandangan yang disampaikan dalam FGD ini, Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Jakarta, Anregutta Ust Munawwir Baddu, selaku pemandu acara FGD ini menarik benang merah diantaranya bahwa untuk memajukan dakwah termasuk di kota metropolitan ini, sebuah pendekatan terpadu sangat diperlukan.
Pendekatan itu mulai dari harmonisasi antara berbagai sektor, seperti dakwah, tarbiyah, dan pembinaan, hingga penyesuaian sasaran dakwah yang lebih efektif dan terarah.
“Setiap kita yang terlibat dalam gerakan dakwah ini harus memiliki kesadaran bersama tentang pentingnya keberlanjutan dalam proses pembinaan umat. Ini bukan hanya tugas bagi lembaga secara institusional, namun juga bagi setiap kader dakwah yang memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan perubahan yang holistik di masyarakat,” kata Munawwir.
Melalui upaya ini, jelas Munawwir, Hidayatullah berharap dapat menghadirkan gerakan dakwah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, dengan mengoptimalkan potensi setiap kader yang ada.
Dengan begitu, dakwah yang dilakukan tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga pada aspek spiritual yang lebih mendalam, sehingga dapat membawa umat kepada kehidupan yang selaras dengan ajaran Islam yang sebenar-benarnya.
Munawwir berharap, semoga melalui diskusi ini, setiap kader Hidayatullah diingatkan untuk tidak hanya fokus pada dakwah fardiyah semata, tetapi juga untuk menjaga kesinambungan melalui pembinaan yang terstruktur.
“Ini adalah langkah besar menuju tercapainya dakwah yang lebih inovatif, kolaboratif, dan yang paling penting, sustainable dalam menghadapi tantangan zaman,” tandasnya, menutup forum pertemuan ini yang dilanjutkan dengan ramah tamah.*/Adam Sukiman
JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinisi Papua menggelar pelatihan peningkatan (upgrading) dakwah di kawasan melalui kegiatan Daurah Marhalah Wustha (DMW) yang digelar selama 3 hari berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura yang dibuka pada Rabu, 11 Jumadil Awal 1446 (13/11/2024).
Puluhan peserta perwakilan dari berbagai penjuru Papua, seperti Merauke, Timika, Waropen, Serui, Sentani, dan Jayapura, berpartisipasi dalam kegiatan yang berlangsung di Jayapura pada 13-15 November 2024 ini.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Papua, Ust Musmulyadi, mengatakan kegiatan ini menjadi agenda strategis Hidayatullah dalam untuk memperkokoh kapasitas dan kapabilitas dai dalam mengemban misi dakwah yang inklusif di tanah Papua.
Ustadz Musmulyadi menegaskan bahwa kegiatan ini sebuah upaya sistematis dalam menginternalisasi nilai-nilai Islam yang bersifat kaffatan linnas (untuk seluruh umat manusia) serta mengaktualisasikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).
“Kegiatan ini juga merefleksikan komitmen Hidayatullah khususnya di Papua ini dalam membangun dakwah yang bersifat dialogis dan kontekstual,” kata Musmulyadi kepada media ini.
Di tengah keberagaman budaya dan keyakinan masyarakat Papua, jelas dia, pendekatan dakwah yang menekankan harmoni dan nilai-nilai universal Islam menjadi semakin relevan.
Oleh karena itu, lanjut Musmulyadi, DMW berfungsi sebagai ruang transformasi intelektual sekaligus spiritual bagi para dai, sehingga mereka mampu memahami konteks sosial-budaya masyarakat Papua secara mendalam dan menyampaikan risalah Islam dengan bijaksana.
Sebagai bagian dari upaya penguatan dakwah di Papua, Musmulyadi menegaskan DMW juga memainkan peran penting dalam menanamkan kemampuan komunikasi dan strategi dakwah yang adaptif. Dengan demikian, para dai dibekali dengan pemahaman keilmuan yang mendalam serta keterampilan praktis untuk menghadapi tantangan dakwah di era modern.
Ustadz Musmulyadi menekankan pentingnya aspek kapabilitas ini sebagai elemen kunci dalam memastikan dakwah dapat merangkul berbagai lapisan masyarakat tanpa kehilangan esensi spiritualnya.
“Hidayatullah, termasuk di Papua, mempertegas visinya untuk menjadikan Islam sebagai solusi atas berbagai persoalan umat, sembari tetap menjaga harmoni dan keberagaman yang menjadi ciri khas masyarakat Papua. Upaya ini merupakan refleksi nyata dari semangat transformasi dakwah berbasis nilai-nilai kemanusiaan universal,” imbuhya.
Dalam Daurah Marhalah Wustha ini, aspek moderasi atau wasathiyah menjadi salah satu nilai utama yang ditekankan. Ditekankan, moderasi dalam dakwah bukan hanya menjadi pilihan strategis, tetapi juga kebutuhan mendesak di tengah dinamika keberagaman sosial dan budaya Papua.
“Para peserta diajarkan untuk memandang perbedaan dengan kebijaksanaan, sehingga dakwah yang dihadirkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dari latar belakang berbeda,” kata Musmulyadi.
Prinsip moderasi ini, terang Musmulyadi menambahkan, sejalan dengan esensi dakwah Islam yang rahmatan lil’alamin, yaitu menghadirkan solusi dan perubahan dengan pendekatan yang inklusif dan adaptif.
“Dalam kerangka dinamika kawasan Papua, yang dikenal dengan keberagaman etnis dan agama, pendekatan dakwah yang moderat mampu merajut harmoni sosial, sekaligus menjaga keutuhan nilai-nilai keislaman,” tandasnya.
Sebagai jenjang penting dalam sistem perkaderan Hidayatullah, Daurah Marhalah Wustha juga bertujuan membekali peserta dengan pemahaman yang lebih mendalam terhadap ideologi, sejarah, dan metode dakwah yang berbasis nilai-nilai Islam.
Menurut Ust Muhammad Shaleh Usman, Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, sikap ketegaran dan keberanian menjadi karakter yang wajib dimiliki setiap kader.
“Kita harus tegar dan berani dalam berjuang menegakkan kalimat Allah, dan juga harus bisa menjadi teladan atau penggerak sesuai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW,” tegasnya, yang hadir di Jayapura sebagai pemateri utama.
Pelaksanaan Daurah Marhalah Wustha dipandangnya menjadi langkah signifikan untuk menghadapi tantangan dakwah di Papua, yang tidak jarang diwarnai oleh persoalan sosial dan keterbatasan sumber daya. Namun, kegiatan ini juga membuka harapan besar akan lahirnya kader-kader muda yang mampu menjadi penggerak perubahan.
Para peserta diharapkan dapat mengaktualisasikan nilai-nilai yang mereka pelajari ke dalam praktik nyata di tengah masyarakat. “Islam harus tercermin dalam tingkah laku kita, sehingga bisa menampilkan Islam secara aplikatif, bukan sekadar teori saja,” kata Shaleh.
Salah satu peserta, Bani Putra Ramadhan dari Waropen, mengungkapkan pesan dan kesannya terhadap kegiatan ini yang baginya memuat tiga aspek inti yaitu pembangunan jejaring dakwah yang kokoh, penguatan pemahaman kelembagaan, serta revitalisasi motivasi spiritual.
“Saya mendapatkan banyak sekali ilmu dan wawasan, terutama dari perjuangan orang-orang dulu. Alhamdulillah, kegiatan ini bisa terlaksana dengan lancar. Saya juga mendapatkan tiga hal berharga, yaitu kesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan para ustadz dan teman-teman seperjuangan, menambah wawasan tentang kelembagaan Hidayatullah, dan mendapatkan motivasi untuk terus berjuang menegakkan kalimat Allah,” katanya. (ybh/hidayatullah.or.id)
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Papua Barat dan Papua Barat Daya menggelar Upgrading Murabbi Halaqah Wustha selama 3 hari di Kampus Madya Pondok Pesantren Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, dibuka pada Jum’at, 13 Jumadil Awal 1446 (15/11/2024).
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Dewan Murabbi Pusat, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd.I. Sebagai pembicara utama, Ustaz Tasyrif memberikan kajian intensif tentang 60 Jadwal Bayani, yang menjadi landasan penting bagi pemahaman Manhaj Hidayatullah.
Tasyrif menekankan bahwa murabbi memiliki peran sentral dalam sistem pembinaan kader Hidayatullah yang tidak hanya bertugas membimbing kader secara intelektual, tetapi juga mendidik secara emosional dan spiritual.
“Semangat untuk belajar dan berbagi harus selalu menjadi prinsip dasar setiap murabbi. Hanya dengan cara inilah kita bisa mencetak generasi dakwah yang unggul,” katanya berpesan.
Sementara itu panitia yag juga Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Papua Barat, Burhanuddin, mengatakan melalui pelatihan ini, para murabbi diharapkan dapat lebih memahami peran strategis mereka sebagai agent of change. Pembinaan kader yang terstruktur dan berbasis manhaj merupakan kunci utama dalam membangun komunitas dakwah yang tangguh dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Burhanuddin menggarisbawahi pentingnya aplikasi dan penguasaan manhaj sebagai fondasi utama bagi kader dalam membangun kapasitas intelektual dan spiritual seperti ditekankan pemateri. “Beliau memberikan spirit perjuangan bagi kader-kader Hidayatullah yang ada di ujung timur Indonesia,” ungkapnya.
Burhanuddin menjelaskan pelatihan ini sebagai rangkaian upgrading dai untuk terus melahirkan generasi murabbi yang kompeten dan berdedikasi. Hal ini penting, sebab, terang dia, dengan landasan ilmu yang kokoh, murabbi dapat menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat Qur’ani.
“Seperti yang sering ditegaskan dalam Manhaj Hidayatullah, bahwa dakwah tidak hanya berbasis pada penyampaian pesan, tetapi juga melalui keteladanan nyata,” katanya.
Burhanuddin menambahkan, pelatihan yang berlangsung ini diharapkan memberikan dampak positif bagi perkembangan dakwah di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Para murabbi tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 20 murabbi perwakilan dari berbagai daerah di Papua Barat dan Papua Barat Daya menghadiri kegiatan ini, termasuk para ketua Dewan Pengurus Wilayah dari Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Hasanuddin Ali, salah seorang peserta, mengungkapkan antusiasmenya terhadap pelatihan ini. Menurut Hasanuddin, partisipasi dalam kegiatan ini memberi peluang yang sangat berharga untuk memperkaya wawasan dan kompetensi peserta.
“Pengetahuan yang diperoleh memiliki relevansi strategis dalam mendukung pengembangan kualitas diri, khususnya dalam kapasitas saya sebagai seorang murabbi, yang bertanggung jawab terhadap pembinaan individu secara holistik,” kata Hasanuddin.
Dengan demikian, Hasanuddin menambahkan, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman teoritis, tetapi juga memperkuat kemampuan praktis dalam menjalankan peran tersebut secara lebih efektif.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman manhaj dan membangun sinergi antara para murabbi. Diskusi yang berlangsung selama acara menjadi wadah pertukaran gagasan yang konstruktif, sehingga setiap peserta dapat membawa inspirasi baru ke daerah masing-masing.*/Herim
SERANG (Hidayatullah.or.id) — Kehidupan seorang dai tidak hanya terbatas pada kemampuannya berdakwah di tengah masyarakat, tetapi juga dituntut untuk mampu membina keluarga yang harmonis dan Islami.
Dengan latar belakang tersebut, Halaqah Usrah Dai se-Banten digelar bertempat di Salsabila Tahfidz Boarding School, Jalan Jagarayu, Dalung, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, Sabtu, 14 Jumadil Awal 1446 (16/11/2024).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para dai untuk memperkuat visi bersama dalam membangun keluarga yang kokoh sebagai basis peradaban Islam.
Acara ini mengusung tema “Menyatukan Visi, Menjalin Harmoni, Mewujudkan Peradaban Islam”, dengan dukungan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH). Tema ini relevan dengan kebutuhan para dai untuk menjaga keseimbangan antara tugas dakwah di luar rumah dan tanggung jawab dalam menciptakan rumah tangga yang Islami.
Dalam sambutannya, Maratus Sa’adah, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Banten, menekankan pentingnya keselarasan dalam keluarga kader. Ia mengatakan, dengan tema yang diangkat, kita berharap keluarga para kader bisa selaras antara suami dan istri untuk mewujudkan generasi yang Islami sesuai tuntunan Al-Quran.
Halaqah usroh ini menurut Maratus Sa’adah memiliki makna sebagai wadah bagi para dai daiyah untuk memperkuat komitmen dalam berdakwah. Lebih dari itu, acara ini juga berfungsi sebagai ajang silaturahmi dan peningkatan kualitas ilmu pengetahuan.
“Sebagaimana diungkapkan dalam tema acara, penyatuan visi dan harmoni dalam keluarga adalah langkah awal untuk mewujudkan peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Kegiatan ini, Maratus Sa’adah menambahkan, mengingatkan bahwa kesuksesan dakwah tidak hanya diukur dari jumlah jamaah yang mendengarkan, tetapi juga dari kemampuan dai untuk menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan keluarga.
“Sebuah keluarga yang Islami, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Quran akan menjadi teladan nyata bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan semangat seperti ini, halaqah usroh ini menjadi bagian penting dari upaya membangun peradaban yang kokoh dan gemilang di masa depan,” katanya.
Sebagai pemateri utama, Ustadz H. Hamim Tohari memberikan penekanan pada pentingnya komunikasi dan kejujuran dalam keluarga.
“Hendaknya pasangan suami istri saling jujur dan menjaga komunikasi yang baik. Jangan risau dengan ketidaksempurnaan pasangan, karena kita memang bukan makhluk yang sempurna,” katanya, yang menekankan bahwa harmoni dalam rumah tangga tidak tercipta dari kesempurnaan, melainkan dari usaha untuk saling memahami dan melengkapi.
Acara ini mendapat sambutan positif dari peserta. Abdul Kodir, seorang peserta dari Tangerang Selatan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan kesempatan berharga untuk memperluas wawasan sekaligus mempererat hubungan sosial di antara peserta.
Bagi Abdul, pemilihan lokasi semacam itu tidak hanya memberikan ruang yang lebih kondusif bagi anak-anak untuk bermain dengan aman, tetapi juga memungkinkan peserta dewasa untuk fokus secara optimal terhadap penyampaian materi kajian.
Selain itu, BMH Banten memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, sebagaimana disampaikan oleh Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten.
“BMH mensupport kegiatan tersebut secara penuh. Saat agenda berlangsung ada berbagai macam doorprize untuk para peserta. Semoga semakin memotivasi untuk terus aktif mengikuti halaqah usroh agar terus semangat dalam berdakwah.” tuturnya.*/Herim
PONOROGO (Hidayatullah.or.r.id) — Kebahagiaan mendalam tengah dirasakan oleh warga pedalaman di Desa Jonggol, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur. Pada Kamis, 12 Jumadil Awal 1446 (14/11/2024), Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) memberi bantuan berupa mukena baru kepada ibu-ibu di desa tersebut.
Meski terdengar sederhana, mukena ini menjadi simbol besar yang melampaui nilai materialnya. Dalam kehidupan mereka yang jauh dari pusat kota, mengganti mukena lama dengan yang baru adalah kemewahan tersendiri.
Menurut Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, bantuan mukena ini semakin memperkuat hubungan spiritual masyarakat.
“BMH berharap ini mendorong semangat ibu-ibu di desa dalam salat semakin kuat. Mukena baru ini bukan sebatas pakaian ibadah, tapi juga penyambung hati untuk semakin iman dan takwa,” ungkapnya.
Imam menjelaskan, melalui bantuan ini, warga Desa Jonggol tidak hanya mendapatkan mukena baru, tetapi juga merasakan kehadiran kasih sayang yang nyata. Mukena tersebut menjadi pengingat bahwa dalam Islam, berbagi adalah perintah yang mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mempererat ukhuwah antarumat.*/Herim