Beranda blog Halaman 142

Tragedi dan Upaya Bantuan untuk Korban Bencana Erupsi Gunung Lewotobi Lakilaki

0

FLORES TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Bencana alam kembali menguji ketabahan masyarakat Flores Timur. Dalam dentuman tak terelakkan dari Gunung Lewotobi Laki-Laki, di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), alam menyapa dengan kegagahan dan ketakutan, pada Senin dini hari, 2 Jumadil Awal 1446 (4/11/2024).

Di balik awan kelabu, tujuh desa bertarung untuk bertahan—Pululera, Nawokote, Hokeng Jaya, Klatanlo, Boru, Boru Kedang di Kecamatan Wulanggitang, dan Desa Dulipali di Ile Bura. Terdapat 10.295 jiwa, tersebar dalam 2.734 kepala keluarga, yang kini berdiri di tengah himpitan ancaman dan harapan.

Sebanyak 10 jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat erupsi Gunung Lewotobi Lakilaki ini. Dampak lainnya, di langit Flores, empat bandara terpaksa sunyi, yakni Bandara H Hasan Aroeboesman, Bandara Soa Bajawa, Gewayantana Larantuka, dan Frans Seda Maumere.

Tak ada suara pesawat yang membelah langit, hanya keheningan dan kecemasan yang mengisi udara. Sejak dua bulan terakhir, abu gunung telah memaksa para maskapai membatalkan penerbangan, mengutamakan keselamatan di atas segalanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Fredy Moat Aeng, menyampaikan bahwa korban-korban tersebut umumnya meninggal akibat tertimpa batu berukuran besar yang meluncur dari puncak gunung, merusak atap rumah warga di bawahnya. “Sebuah kejadian yang tak pernah bisa kita bayangkan,” ungkapnya.

Dampak dari erupsi ini juga meluas hingga mengganggu aktivitas penerbangan dengan penutupan sementara empat bandara di sekitarnya.

Di tengah kondisi ini, Kepala Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan NTT, Hairudin, menjelaskan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi dengan para relawan di lokasi bencana termasuk melakukan koordinasi menyiapkan mitigasi pasca bencana bersama tim Search and Rescue (SAR) Hidayatullah setempat.

“Kami ingin segera ke lokasi membawa tambahan relawan dan bantuan, namun masih menunggu jadwal kapal, karena tidak setiap hari ada,” ujar Hairudin, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Selasa.

Hairudin menambahkan, laporan dari relawan BMH di lokasi menyebutkan bahwa satu kecamatan terdampak berat, dengan rumah-rumah yang terkubur abu vulkanik, batuan, dan sebagian mengalami kerusakan akibat lahar panas.

“Masyarakat yang ingin membantu, saat ini para pengungsi membutuhkan pakaian dewasa, obat-obatan, popok bayi, perlengkapan wanita, makanan siap saji, masker, dan perlengkapan hunian sementara, seperti tenda,” tuturnya.

Situasi ini menjadi momen bagi seluruh masyarakat untuk menunjukkan kepedulian dengan mendukung dan membantu mereka yang terdampak, melalui bantuan maupun donasi yang diperlukan.*/Herim

Silaturrahim Kuatkan Jalinan Kolaborasi Antara Laznas Dewan Da’wah dan BMH

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Dewan Da’wah melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Pusat Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang berlokasi di Kalibata Office Park, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa, 3 Jumadil Awal 1446 (5/11/2024).

Kunjungan ini dihadiri oleh tujuh pengurus inti dari Laznas Dewan Da’wah dengan tujuan untuk berbagi pengalaman dan menjajaki peluang kolaborasi program antar-laznas.

Dirut Laznas Dewan Da’wah, Tjaturadi Walujo, menyampaikan, “Silaturrahmi dan kunjungan seperti ini memang menjadi agenda Laznas Dewan Da’wah. Sebelum ini kami juga datang ke RZ di Bandung, meskipun masih kita upayakan bisa rutin.”

Dalam kesempatan tersebut, Tjaturadi memperkenalkan salah satu pengurusnya, Ust. Idris Yusuf, yang merupakan kader Dewan Da’wah dengan pengalaman dakwah di berbagai daerah, termasuk di Seram Bagian Selatan.

BMH menyambut kunjungan tersebut dengan formasi empat pimpinan, yaitu Dirut BMH Supendi, Sekretaris Eksekutif Tri Winarno, Dirut Prodaya Syamsuddin, serta Kepala Humas Imam Nawawi. Pertemuan berlangsung hangat dengan diskusi yang intensif mengenai peluang sinergi program.

Dalam pertemuan ini, Supendi juga menjelaskan sejarah BMH sebagai Laznas yang berawal dari gerakan sosial Hidayatullah melalui pendirian Pesantren Hidayatullah di Balikpapan.

“Insha Allah, ke depan BMH yang akan berkunjung ke Laznas Dewan Da’wah, belajar dan menimba pengalaman dari Laz ormas yang senior di negeri ini,” ungkap Supendi, menegaskan harapannya untuk memperkuat hubungan antar lembaga zakat di Indonesia.*/Herim

Membedah Pemikiran Kabid PPO Tentang Organisasi di Era Digital

0

DALAM dunia organisasi modern, dinamika perubahan yang terjadi memerlukan sikap proaktif dan adaptif dari semua elemen organisasi. Ustadz Asih Subagyo telah memberikan beberapa pandangan signifikan mengenai hal ini.

Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini orangnya ramah, gemar membagikan pengalaman dan pemikiran, serta yang paling penting, tekun sekali dalam menulis.

Bahkan belakangan, dalam kondisi sakit, pemikirannya tetap aktif dan terus mengajak semua pihak progresif memikirkan keberlanjutan organisasi.

Salah satu ulasan penting Ust. Asih adalah tentang model organisasi yang relevan di era digital. Kader yang menempa diri di Hidayatullah Yogyakarta itu mengusulkan beberapa langkah.

Pertama, organisasi harus fleksibel dan adaptif. Kedua, organisasi harus fokus pada pengembangan diri. Ketiga, organisasi perlu merumuskan tuuan yang (lebih) jelas dan tentu saja wajib impactful. Keempat, akrab dengan teknologi. Kemudian kelima, organisasi mesti bisa inklusif dan beragam.

Memang Ust. Asih dalam memberikan poin itu tidak memberikan uraian lengkap. Mungkin kalau mau dirinci, artikelnya pasti akan sangat panjang. Walakin, dari sana kita bisa mulai untuk mengambil titik start, apa yang harus kita pikirkan dan rumuskan untuk menjalankan organisasi ke depan selalu dan tetap bahkan semakin relevan.

Tidak Mudah

Hari Mantik dalam makalah berjudul “Mencermati Era Digital dalam Organisasi” menulis dalam abstraknya, “Creating an organization in the information age is not as simple as we imagine.

Kalau kita tarik ke usulan Ust. Asih, maka jelas 5 poin usulan itu harus mendapat perhatian memadai dari semua penggerak organisasi. Abai mengurai langkah berbasis 5 langkah itu, akibatnya tidak main-main.

Sisi paling simpel, jam kerja. Bagi generasi dahulu, itu sebuah kebaikan yang perlu. Namun, bagi generasi sekarang era sudah berubah.

Jika para senior organisasi tidak update dalam perkara ini, “benturan” yang kontraproduktif tidak terhindarkan. Kalau itu dipaksakan, maka impact hadirnya organisasi bagi kader Milenial dan Gen-Z jelas tidak menguntungkan. Mereka boleh jadi berpikir, zaman seperti sekarang kok masih begitu.

Terlebih kalau di kantor ternyata tidak mendorong produktivitas kerja. Orang sibuk ngobrol tanpa bingkai tema dan target yang jelas. Tentu akan sangat tidak nyaman bagi generasi Milenial dan generasi Z.

Meskipun ini bisa jadi bahan untuk diperdalam dalam diskusi, setidaknya itulah fenomena yang terjadi. Sekarang sudah mulai masuk budaya kerja dengan nuansa “home and amunsement.”

Suatu budaya yang menghendaki ruang kerja fleksibel, jadwal fleksibel, perangkat dan teknologi yang memadai, serta pentingnya keseimbangan kerja dan hidup.

Dalam beberapa kasus, kita menemukan kader organisasi sulit maksimal dalam amanah pergerakan (sebagai pemuda) ketika ia harus juga menjalani fungsi profesional dengan baik. Tambah leader di lapangan profesional tidak mengerti, apa urgensi kader muda aktif sebagai pemuda yang memang perlu menempa diri dalam dunia pergerakan.

Transformasi

Walaupun soal itu tampak serius, sebenarnya organisasi butuh kesiapan pola transformasi. Mempertahankan nilai adalah keniscayaan, tetapi mentransformasikan pada generasi yang menghadapi tantangan tidak sama dengan pendahlunya adalah langkah sangat penting dan mendesak.

Terlebih kala memperhatikan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Semua itu harus menjadi sebuah ladang yang telah kita siapkan pola transformasinya dengan baik, sehingga peningkatan kinerja organisasi melesat positif, pada saat yang sama nilai-nilai prinsip semakin mengakar dalam kehidupan nyata.

Sebuah ungkapan menyebut, “Transforming an organization requires more than just changing the structure” (Mengubah suatu organisasi tidak selalu dilakukan dengan mengubah strukturnya). Kita butuh cara baru melakukan transformasi nilai dan kemajuan secara lebih relevan.

Langkah yang sangat dibutuhkan sekarang memang kemampuan setiap penentu organisasi mampu berpikir visioner sekaligus fleksibel dalam konsep implementasi program. Orientasinya bukan lagi “kerapian” model seragam era orde baru (kalau mau pinjam istilah yang mudah).

Akan tetapi lebih kepada kesepaduan tim (shaf) yang secara fisik mungkin tidak satu ruangan, tapi secara tujuan proses yang ditetapkan memungkinkan satu sama lain terus terhubung dan mendekati tujuan bahkan visi yang dicanangkan.

Langkah ini akan memungkinkan organisasi menjadi inklusif dan beragam sangat terbuka. Lebih-lebih kalau kita ingin memfokuskan juga pada agenda rekrutmen kader, pembinaan dan upgrading kader, yang mana cara berpikir kaum muda era sekarang benar-benar terbuka, sangat fleksibel dan sangat enjoy sebagai warga “negara” digital.

Terakhir, transformasi organisasi bukan sekadar tuntutan zaman, tetapi juga investasi jangka panjang yang akan mengokohkan organisasi dalam menghadapi tantangan masa depan. Saya ingin mengutip penuh tulisan Ust. Asih di ujung artikel itu.

“Masa depan organisasi terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, memanfaatkan teknologi, dan memberikan nilai yang relevan bagi generasi muda. Sehingga menjadi magnet yang dapat menarik dengan kuat keterlibatan gen-Z dan generasi susudahnya menjadi mesin penggerak utama bagi kemajuan dan keberlangsungan organisasi yang sesuai dengan jamannya”.

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), saat ini Sekretaris Perkaderan DPP Hidayatullah

Berau Tuan Rumah DMW Istimewa Dua Wilayah, Tingkatkan Sinergi Dakwah di Perbatasan

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Kabupaten Berau memang istimewa yang berada di perbatasan Kalimantan Utara dengan Kalimantan Timur. Sebagai kabupaten paling jauh dari Balikpapan di wilayah Kaltim dan dekat dengan Ibu Kota Kalimantan Utara, Bulungan, wajar Berau menjadi titik sepakatnya dua pihak untuk sinergi, menggelar Daurah Marhalah Wustho (DMW) secara gabungan.

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Kaltim, Muhammad Fathun Qarib, menyebutkan acara DMW di Berau ini adalah yang keenam telah DPW Hidyatullah Kaltim selenggarakan. Namun, agenda terakhir ini adalah yang pertama digelar secara gabungan bersama DPW Hidayatullah Kaltara.

“Ini menjadi keistimewaan dari gelaran DMW Berau,” terang Fathun Qarib, seperti dalam keterangannya diterimaa media ini, Senin, 2 Jumadil Awal 1446 (4/11/2024).

Selain itu, Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Muhammad Shaleh Usman, menimpali bahwa kampus Hidayatullah Berau ini juga punya keistimewaan lain, yaitu kampus Hidayatullah tertua setelah Gunung Tembak.

“Masya Allah, Pesantren Hidayatullah Berau ini kalau tidak dikatakan seratus persen hampir semua menerapkan spirit Gunung Tembak. Masya Allah, luar biasa. Betul-betul hampir sama dengan Gunung Tembak, dari sisi kultur maupun penataan tata ruangnya,” sambung Shaleh Usman.

Berau memang memiliki daya tarik tersendiri sebagai cabang dari Pesantren Hidayatullah. Kader-kader muda dari Balikpapan dan daerah lain, seperti merasa rugi jika ada agenda di Berau dan tidak terpanggil untuk hadir.

Terbukti ada 61 peserta DMW hadir dengan antusiasme tinggi. “Lima peserta mampu menuntaskan sesi post test dengan jawaban memuaskan dan 3 orang memberikan jawaban dengan sempurna. Ini membahagiakan kami semua,” ujar Fathun Qarib menerangkan.

Puncaknya para kader yang telah mengikuti DMW di Berau ini benar-benar membawa semangat progresivitas dakwah dari para pendahulu Hidayatullah. Terlebih mereka berkesempatan hadir ke Berau yang penuh keistimewaan.

“Insha Allah kami siap menjadi kader yang mampu mentransformasikan jati diri kepada umat dan bangsa,” tegas seorang peserta, Safriadi, penuh percaya diri.*/Herim

Adanya Sumur Bor Bantu Mengatasi Krisis Air Bersih Ponpes di Klaseman Gending

0

PROBOLINGGO (Hidayatullah.or.id) — Air bersih merupakan kebutuhan fundamental bagi kehidupan manusia, tetapi akses terhadapnya masih menjadi tantangan di banyak wilayah terpencil. Inisiatif pembangunan sumur bor oleh lembaga sosial menjadi solusi yang sangat relevan dalam memenuhi kebutuhan ini.

Dengan menyediakan sumber air bersih yang layak konsumsi, pembangunan sumur bor tidak hanya mendukung keberlangsungan hidup dan kesehatan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah yang mengalami kesulitan akses air.

Menurut Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Jawa Timur, dampak positif dari pembangunan sumur bor sangat dirasakan oleh komunitas, terutama di Pesantren Motivator Qur’an Darussalam, Desa Klaseman, Kecamatan Gending, Probolinggo.

“Dengan hadirnya sumur bor, harapan untuk kehidupan yang lebih baik dapat diwujudkan, mengubah masa depan mereka yang selama ini bergulat dengan krisis air. Alhamdulillah itu yang BMH berhasil wujudkan di Pesantren Motivator Qur’an Darussalam, di Desa Klaseman, Kecamatan Gending, Probolinggo,” ujar Imam Muslim, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 2 Jumadil Awal 1446 (4/11/2024).

Sebelum tersedianya sumur bor, warga pesantren harus bergantung pada air dari tambak udang di sekitar area pesantren.

Keberadaan sumur bor baru ini memberikan ketenangan bagi para santri dalam memenuhi kebutuhan air mereka, sebagaimana disampaikan Khairiyah, seorang santri yang hafal 30 Juz.

“Sekarang kami para santri tidak perlu khawatir untuk mendapatkan air bersih, sudah ada sumur bor. Alhamdulillah, terimakasih kakak-kakak dari BMH,” ungkap Khairiyah dengan penuh syukur.

Program ini juga menunjukkan peran penting zakat, infak, dan sedekah dalam mendukung inisiatif sosial yang berkelanjutan. “Dengan kekuatan zakat, infak, dan sedekah, insha Allah kita bisa hadirkan kebahagiaan serupa di tempat krisis air bersih lainnya,” tambah Imam Muslim, mengindikasikan bahwa BMH berkomitmen untuk melanjutkan program ini ke wilayah lain di Jawa Timur.

Inisiatif ini, terang dia menambahkan, sebagai upaya meneguhkan bahwa sinergi masyarakat dalam berderma dapat menciptakan perubahan nyata dan berkelanjutan bagi wilayah-wilayah yang terdampak krisis air.*/Herim

Refleksi DMW Kaltim – Kaltara Kokohkan Identitas Kader dalam Membangun Peradaban

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 61 kader Hidayatullah dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara berpartisipasi dalam kegiatan Daurah Marhalah Wustha yang diadakan di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Berau.

Diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, kegiatan ini berlangsung selama empat hari, dari 27 hingga 30 Rabiul Akhir 1446 H (31 Oktober – 3 November 2024).

Mengusung tema “Transformasi Jati Diri Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam,” acara ini bertujuan mengokohkan identitas dan memperkuat peran strategis para kader sebagai pondasi dalam membangun peradaban Islam yang berkelanjutan.

Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Muhammad Shaleh Utsman, S.S, M.I.Kom, yang membuka acara, menekankan urgensi pembinaan kader sebagai pilar utama organisasi.

Dalam pidatonya, Ustadz Shaleh mengingatkan, “Kader itu adalah penggerak inti organisasi. Jika pertumbuhan kader meningkat tetapi kualitasnya tidak, maka yang terjadi adalah kerusakan”. Dia menekankan, pertumbuhan organisasi harus berimbang antara kuantitas dan kualitas kader.

Selain itu, Shaleh menyampaikan pentingnya rasa syukur dan pengorbanan dalam perjuangan kader. Menyinggung dedikasi beberapa kader di daerah yang harus bekerja ekstra, seperti jasa pengecatan pagar, untuk mencukupi kebutuhan mereka.

“Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur,” katanya berpesan, mengajak peserta untuk mengapresiasi dan menghargai setiap nikmat dan kesempatan yang diberikan.

Sebagai pesan penutup, Shaleh mengajak para kader untuk menjadi pengikut yang setia kepada pemimpin mereka. “Kita semua yang ada ini adalah makmum dari seorang pemimpin. Pastikan posisi kita sebagai makmum yang baik,” imbuhnya, menegaskan pentingnya sinergi dan harmoni dalam menjalankan visi besar organisasi.

Acara pembukaan juga dihadiri oleh Ust. Drs. H. Zainuddin Musaddad, M.A. (Anggota Dewan Murobbi Pusat), Ustadz Uswandi, S.HI (Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur), Ustadz Khirson Sulaiman, S.Pd.I (Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Utara), Ustadz H. Jamiruddin, S.Pd.I (Ketua DMW Hidayatullah Kalimantan Utara), Ustadz Adri Al Amin, S.Pd.I (Ketua KM Hidayatullah Berau), Ustadz Fathun Qarib (Ketua Departemen Perkaderan Hidayatullah Kalimantan Timur), dan Ustadz Jumardi Sukma (Ketua Departemen Perkaderan Hidayatullah Kalimantan Utara).*/Herim

Kokohkan Peran dan Semangat Amil Zakat untuk Membangun Umat dan Bangsa

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dalam setiap perkumpulan, keberadaan visi yang jelas menjadi faktor krusial yang dapat menentukan seberapa besar kekuatan dan dampak yang dihasilkan. Berbeda dari sekadar kelompok biasa, para amil zakat memiliki peran khusus dalam membangun umat dan bangsa melalui zakat, infak, dan sedekah.

Menyadari akan tanggung jawab yang tidak ringan ini, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulawesi Selatan mengadakan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) untuk memperkuat kebersamaan dan komitmen para amil dalam menjalankan amanah tersebut.

Kadir, Kepala BMH Sulawesi Selatan, menegaskan pentingnya kekompakan dalam bekerja. Dia mengatakan, amil bukan perkumpulan biasa, tapi berhimpunnya kita semua, sebagai amil adalah dalam rangka memberi dampak kebaikan bagi semua.

“Zakat, infak, dan sedekah adalah amanah pembangunan umat dan bangsa. Karena itu, fokus membangun kultur kerja kompak bagi amil zakat adalah keniscayaan”, katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 2 Jumadil Awal 1446 (4/11/2024).

Kegiatan MABIT ini tidak hanya memperkuat aspek intelektual dan fisik, tetapi juga memperdalam spiritualitas para amil melalui sholat berjamaah, tahajud, dan tahsin.

“Saya senang sekali mengikuti kegiatan ini. Karena sisi spiritual mendapat porsi utama. Mulai sholat berjamaah dan juga sholat tahajud, saya rasakan sangat nikmat sekali,” ungkap salah satu amil, Aditiya.

Pada hari kedua, berbagai permainan tim diadakan untuk mempererat kerja sama, termasuk permainan tradisional patappe dan kontestasi bola yang melibatkan peserta dalam membangun sinergi.

Setiap sesi diakhiri dengan refleksi yang dipimpin oleh Ust. Rahim Mayau dari Pesantren Lorong Raudah Indonesia, yang mengingatkan bahwa kekuatan kolaborasi dimulai dari fokus pada tugas masing-masing.

“Untuk tujuan-tujuan besar selalu dimulai dari merencanakan, melaksanakan, monitoring, dan evaluasi. Jika fokus, maka tujuan besar organisasi akan mudah tercapai karena saling berkolaborasi dan memberikan kontribusi,” kata Rahim.*/Herim

Dukungan Insentif bagi Guru Upaya Kokohkan Pendidikan Al-Qur’an di Bontang

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperkuat pendidikan berbasis Al-Qur’an, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) memberikan insentif kepada 44 guru di Rumah Quran Hidayatullah, Kota Bontang, Kaltim, Ahad, 1 Jumadil Awal 1446 (3/11/2024).

Program ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi para pengajar sekaligus dukungan konkret bagi keberlanjutan pendidikan Al-Qur’an di wilayah tersebut. Bantuan insentif diharapkan dapat meningkatkan motivasi para guru serta meringankan beban ekonomi mereka.

“Alhamdulillah, semoga keberadaan Rumah Qur’an Hidayatullah di Bontang dan wilayah kepulauan dapat melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang berkualitas,” ujar Koordinator BMH Gerai Bontang, Agus Suwandi.

Uswandi menambahkan, dengan program intensif ini guru dapat semakin terbantu sisi kesejahteraannya sehingga anak-anak bisa maksimal dalam pembelajaran. “Kita tahu saat ini, menjadi guru bukanlah perkara yang mudah,” imbuhnya.

Hamidah, sebagai perwakilan pengurus dan guru di Rumah Quran Hidayatullah, menyampaikan rasa syukur, “Jazakumullah khairan kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan para donatur atas bantuan insentif yang diberikan setiap akhir bulan. Semoga apa yang bapak ibu infakkan menjadi amal jariyah yang dicatat di sisi Allah, serta menjadi pemberat timbangan kebaikan di Yaumil Akhir,” ungkapnya haru.

Program insentif ini memiliki nilai luhur, di mana setiap ayat yang diajarkan para guru merupakan upaya membentuk generasi cinta Al-Qur’an dan berakhlak mulia.

“Melalui dukungan seperti ini, BMH dan para donatur memastikan bahwa mereka yang berjuang di garda terdepan pendidikan agama mendapatkan penghargaan yang pantas,” kata Uswandi.

Bantuan ini terang dia tidak hanya sekadar upaya untuk meringankan beban ekonomi para pengajar, tetapi juga memberikan semangat yang besar bagi mereka untuk terus berkhidmat dalam menyebarkan ilmu Al-Qur’an, menjadikan program ini sebagai ladang pahala tanpa henti.*/Herim

Sumur Bor di Ponpes Al Ishlah As Suyuthi dan Upaya Berkelanjutan Tingkatan Kualitas Hidup Santri

0

KEDIRI (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) meresmikan sumur bor ke-174 di Pondok Pesantren Al Ishlah As Suyuthi, Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Inisiatif ini dilakukan dengan dukungan zakat, infak, dan sedekah yang diberikan oleh para donatur, bertujuan untuk menyediakan akses air bersih bagi lebih dari 750 santri yang tinggal di pesantren tersebut.

Keberadaan sumur bor ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan harian para santri, seperti mandi, wudhu, mencuci, dan konsumsi air minum, yang secara tidak langsung berperan penting dalam menunjang kegiatan ibadah dan pendidikan mereka.

Santri kelas 10, Ahmad Zaka Maulana Rosyad, yang telah menghafal 4 juz Al-Qur’an, mengungkapkan rasa syukur atas adanya fasilitas tersebut.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada kakak-kakak dari BMH. Dengan adanya sumur ini, kami lebih mudah mendapatkan air untuk berbagai keperluan,” katanya.

Selain itu, BMH turut menyalurkan Al-Qur’an untuk mendukung program tahfidz di pesantren, sebagai bagian dari visi BMH untuk menguatkan pendidikan agama di lingkungan pesantren.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menegaskan bahwa pembangunan sumur bor ini merupakan bukti nyata komitmen BMH dalam mendukung penyediaan fasilitas dasar di lingkungan pesantren.

“Sumur bor ini adalah bagian dari komitmen BMH untuk mendukung fasilitas dasar di lingkungan pesantren. Kami berharap, program ini menjadi solusi untuk mencukupi kebutuhan air bersih para santri dan mendukung mereka dalam menjalankan ibadah dan kegiatan belajar,” katanya, seraya menambahkan inisiatif ini ingin menguatkan dampak positif yang berkelanjutan dari dana zakat, infak, dan sedekah dalam meningkatkan kualitas hidup dan pendidikan di lingkungan pesantren.*/Herim

Sinergi Multi-Lembaga dalam Pemberdayaan Berkelanjutan Melalui Program Kampung Zakat

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag), Baznas, dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Sulawesi Tenggara meresmikan Program Kampung Zakat di Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Ahad, 1 Jumadil Awal 1446 (3/11/2024).

Program ini diinisiasi sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan zakat yang berkelanjutan dan terstruktur.

Dalam acara tersebut, hadir sejumlah tokoh, termasuk Asisten I Setda Kota Kendari, Ketua Baznas Provinsi dan Kota Kendari, Pejabat Kanwil Kementerian Agama, serta pengurus lembaga amil zakat dan tokoh masyarakat lainnya.

Kepala Kanwil Kemenag Sultra, H. Muhamad Saleh, mengapresiasi kolaborasi antar-lembaga yang berhasil menjalankan program ini.

“Program Kampung Zakat ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sultra,” kata Saleh.

Saleh menyebutkan, ini adalah Kampung Zakat ketiga di provinsi ini, setelah Desa Puubunga (Kolaka) dan Desa Lapolea (Muna Barat).

“Target ke depannya adalah setiap kabupaten/kota di Sultra memiliki satu Kampung Zakat sebagai pilot project,” katanya menambahkan.

Selain itu, Prof. Dr. Waryono AG, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, menekankan tanggung jawab sosial program ini dalam pengentasan kemiskinan.

“Karena basis program ini adalah zakat, kita memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memastikan warga mendapatkan kecukupan pangan, gizi, dan kebutuhan dasar lainnya,” ujarnya.

Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, Armin, juga menyatakan optimismenya terkait dampak positif dari partisipasi BMH dalam program ini.

“BMH siap berkontribusi lebih besar dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat di Kampung Zakat ini agar manfaat zakat dapat dirasakan secara lebih luas,” ungkapnya.

Program Kampung Zakat di Sulawesi Tenggara ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam upaya memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan, menurunkan angka kemiskinan, serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga.*/Herim